Archive for the ‘Umum’ Category

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ


Kematian adalah satu perkara yang pasti akan menjemput manusia dimana pun ia berada. Tak seorang pun dapat mengelak darinya. Ketika tiba saatnya malakul-maut Izro’il menjemput, tak ada seorang pun yang bisa mencegahnya.  
Alloh swt berfirman: 
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

“Setiap jiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam sorga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185). 
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا 

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatimu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78). 
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ 

“Dan datanglah sakarotul-maut dengan sebenar-benarnya, itu adalah perkara yang kamu tidak bisa lari mengelak darinya.” (QS. Qof: 19). 
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11). 
Tidak sepatutnya seorang lalai dari mengingat sebuah nasihat terbesar dari Rosululloh saw, yaitu kematian. 
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ -يَعْنِي الْمَوْتَ 

“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur keni’matan dunia -ya’ni kematian.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i). 
Hikmah dari mengingat mati adalah agar seseorang mempersiapkan dirinya dengan amal sholeh untuk mendapatkan kebahagiaan di kehidupan berikutnya. 
Alloh swt berfirman: 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18). 
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). 
Rosululloh saw bersabda: 
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ 

“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Tirmidzi). 
Rosululloh saw bersabda: 
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfa’atkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sempitmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Hakim). 
Ibnu Umar ra berkata: 
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ 

“Jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu pagi (untuk beramal sholeh). Jika engkau berada di pagi hari janganlah menunggu sore hari. Manfa’atkanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, manfa’atkanlah masa hidupmu (dengan beramal sholeh) untuk masa matimu.” (HR. Bukhori). 
Ketika seorang meninggal tidaklah bermanfa’at baginya harta, anak-anak, dan keluarganya. Yang bermanfa’at baginya hanyalah amalannya. 
Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda: 
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ؛ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ؛ فَرَجَعَ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، رَجَعَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ 

“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. 

Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.” (Muttafaqun ‘alaih). 
Oleh karena itu, ketika Rosululloh saw ditanya oleh salah seorang sahabatnya: 

“Siapa orang yang terbaik .?” 

Beliau saw bersabda: 

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Busr). 
Rosululloh saw, mengajarkan agar seorang muslim dalam kehidupan dunia ini hendaknya seperti orang asing atau orang yang numpang lewat. Beliau saw bersabda: 
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau yang sedang numpang lewat.” 
Sesungguhnya kita milik Alloh .. 

Dan kepada-Nya kita paati kembali ..

Iklan

​7 SIFAT MUSLIM DALAM AL-FATIHAH 

AYAT 1

– Bismillah .. ucapan hati dan lisan dalam memulai setiap pekerjaan.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Alloh.
Alloh adalah ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrod (tunggal) dan mudhof (disandarkan) maka berma’na umum (semua nama-nama Alloh).
Seorang yang membaca Basmalah bertawassul dengan menyebutkan sifat rohmah. Karena sifat rohmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya kepada Alloh. Dan orang yang membaca Basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Alloh untuk memudahkan pekerjaanya dan amal-ibadahnya diterima oleh Alloh swt.

4 FUNGSI BASMALAH

– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
1_ Sebagai Niat yang mendatangkan semakin banyaknya pahala.
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
2_ Sebagai Dzikir mengingat Alloh dalam setiap saat dan waktu.
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
3_ Sebagai do’a menghilangkan kesulitan dan mendatangkan rohmat, berkah dan pertolongan Alloh.
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
4_ Sebagai sandaran pasti untuk perbuatan yang baik-baik.

AYAT 2.

Mengikat ni’mat-ni’mat Alloh dengan Hamdalah, bersyukur kepada-Nya.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
– Hamdalah .. Merupakan ungkapan pujian teragung dan terindah bagi Alloh, kesyukuran termulia yang menambah ni’mat dari Alloh dan inti do’a/permohonan/harapan insan yang akan dikabulkan oleh Alloh.
– Hamdalah .. Adalah ucapan kesyukuran hati dan lisan atas segala limpahan ni’mat yang diterima, dalam kehususan islam dan iman.
– Hamdalah .. Ialah do’a yang pasti ditunaikan Alloh dan dzkir yang membuat hati tentram, pikiran tenang dan hidup bahagia.
– Hamdalah .. Bagian dari tawakkal kepada Alloh yang atas pemeliharan-Nya sesorang tidak merasa hawatir dan takut pada hari-hari yang telah berlalu, sekarang dan akan datang.

4 MA’NA HAMDALAH

– الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
1_ Ungkapan segala pujian yang sempurna kepada Alloh.

– الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
2_ Ucapan kesyukuran yang menambah keni’matan dunia dan akhirat.

– الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
3_ Dzikir dan do’a yang mustajabah.

– الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
4_ Sandaran mutlak seorang hamba kepada Yang Maha Pemeliha.

AYAT 3.

– Berfikir positif terhadap Alloh dan berkasih sayang terhadap sesama.
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
– Arrohman dan Arrohim adalah bentuk rohmat Alloh, semua ketetapan rohmat Alloh itu baik untuk manusia.
“Kami tidak lain menurunkan al-Qur’an ini kepada kamu agar kamu menjadi susah.” (QS. 20:2).

– Alloh memberikan cobaan kepada hamba-hamba-NYA yang Sholeh, lalu Alloh berfirman kepada para malaikat-NYA:
“Tujuannya adalah agar AKU mendengar suaranya (do’a dan keluh-kesahnya).

– Rosululloh saw bersabda:
“Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke sorga kecuali telah aku perintahkan kalian denganya dan tiada suatu amalanpun yang mendekatkan ke neraka kecuali telah aku larang kalian darinya.
Sungguh salah seorang diantara kalian tidak akan lambat rizkinya, sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya.
Maka bertaqwalah kepada Alloh wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki.
Maka apabila salah seorang diantara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat, janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Alloh karena sesungguhnya keutamaan/karunia Alloh tidak akan didapat dengan maksiat.”

– Beliau saw juga bersabda:
“Jalan keluar dan kelapangan hati itu ada dalam keyakinan dan keridhoan hati, sedangkan keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan ketidaksukaan.”

AYAT 4.
Berorientasi dunia dan akhirat
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Rosululloh saw bersabda:

رَاغِمَةُ مَنْ كَانَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَ جَمَعَ لًهُ شَمْلَهُ أَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ
وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلًيْهِ شَمْلَهُ وَلًمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا اِلَّا مَاقَدَرَلًهُ

“Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, prioritasnya akhirat maka Alloh menjadikan kecukupan dihatinya, mengumpulkan (memudahkan) urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar). Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, prioritasnya dunia, maka Alloh menjadikan kemelaratan ada didepan mata, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kecuali sekedar yang ditentukan untuknya.” (HR Tirmidzi).

AYAT 5.
Bahagiakan hidup dengan ibadah dan do’a

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

– Kunci bahagia adalah ketenangan hati.
Hati tenang manakala gemar ibadah dan merasakan manisnya iman.
– Do’a adalah bentuk tawakal dan kepasrahan pada Sang Maha Kuasa.

AYAT 6.
Konsisten dalam komitmen

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

– Jalan hidup seorang muslim sudah terpampang di hadapan, termaktub dalam Al-Qur’an dan teraplikasikan secara nyata dalam diri Rosululloh.

AYAT 7.
Bercermin

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ 

– Ada 3 cermin kehidupan yang bisa digunakan. Kehidupan :

Cermin pertama, “orang-orang yang diberi ni’mat” dari golongan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’ dan Sholihin. Inilah peri kehidupan yang menuju kebahagiaan dunia akhirat.
Cermin kedua, “golongan yang dimurkai” dari kalangan Yahudi, yang tau kebenaran tapi sengaja mengingkari.
Cermin ketiga, “golongan yang tersesat” dari kalangan Nasrani, yang menjadikan Nabi sebagai tuhan.
Bercerminlah dari dua cermin ini, agar kita tidak menirunya. 

MAAFKANLAH ..!

MAAFKANLAH ..!

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Nabi Yûsuf as, menjawab kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya :
“Tidak apa-apa .. Hari ini kalian tidak terhina. Kalian aku maafkan karena alasan menghormati keturunan dan hak saudara. Aku akan memohon kepada Alloh agar memaafkan dan mengampuni kalian. Sesungguhnya Dia adalah pemilik kasih sayang yang amat luas.”
Hal ini merupakan sifat ihsan yang sangat tinggi, Beliau as memaafkan kedholiman saudara-saudaranya, tidak mencela, bahkan mendo’akan ampunan dan rohmat untuk mereka.

Berjanjilah kamu kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mencintai dan berkasih sayang kepada saudara-mukmin dan saudara muslimmu, berlaku lemah lembut terhadap mereka dan siapa pun, baik yang merahasiakan dan membongkar atau menunjukkan kebenciannya kepadamu, sebab mereka itu sesungguhnya hanya mengekpresikan rasa cinta yang mereka dustakan dengan kedengkian mereka atas kebodohannya.

Jika kamu membalas kedholiman mereka oleh sebab perbuatan yang mereka lakukan terhadapmu, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba Tuhan-Mu, sama seperti dirimu ..
Dan, jika kamu memaafkan mereka, maka sesungguhnya hanya Tuhan-mulah yang Maha Perkasa, sangat Bijaksana dalam setiap ketentuan yang Engkau buat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sampaikanlah -wahai Rosululloh- kepada orang-orang yang beriman -kepada Alloh dan mereka yang mengikutimu- hendaklah mereka memaafkan orang-orang -bodoh- yang tidak mempercayai adanya hari-hari pembalasan Alloh, karena -sesungguhnya- Dia akan membalas setiap kaum -dengan kebaikan dan keburukan- sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Jasiyah :14).

إِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan -menampilkan- yang lebih baik -yaitu budi pekerti yang baik, bersikap lapang dada dan berpaling dari mereka yang buruk dan perlakuan mereka yang menyakitkan dirimu itu-.
Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan -kedustaan dan buat-buatan mereka, maka kelak Kami akan membalaskan buatmu atas perbuatan mereka-.” (QS. Al-Mukminun : 96).

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf -mudah memaafkan di dalam menghadapi perlakuan mereka, dan janganlah engkau membalas perbuatan mereka- dan suruhlah orang mengerjakan makruf -perkara kebaikan dengan ucapan yang lembut dan sikap yang halus- serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh -janganlah engkau melayani kebodohan mereka-.” (QS. Al-A’rof :199).

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Dan -bagi- orang-orang yang menjauhi -atau ingin dijauhkan dari catatan hisab- dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji -dihari perhitungan nanti, ialah apabila mereka -dalam keadaan- marah -karena gangguan- mereka -cepat-cepat- memberi maaf.” (QS. Asy-Syuro : 37).

ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ
“Barang siapa memaafkan -orang yang berbuat dholim kepadanya- dan berbuat baik -kepada orang yang telah mendholiminya- maka pahalanya atas tanggungan Alloh -dan Alloh pasti akan membalas dengan sempurna pahalanya-.” (QS. Asy-Syuro : 40).

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Maha Suci Engkau -tidak sepatutnya kami akan menyanggah kehendak-Mu, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana -hingga tidak seorang pun yang lepas dari pengetahuan serta hikmah kebijaksanaan-Mu-.” (QS. Al-Baqoroh : 32).

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“-Tuhanku- Jika Engkau menyiksa mereka -orang-orang yang melakukan kekafiran di antara mereka-, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau .. -Engkau lah Yang Menguasai mereka, Engkau lah yang berhak memperlakukan mereka menurut apa yang Engkau kehendaki, tak ada yang bisa menghalang-halangi,- dan jika Engkau mengampuni mereka -orang-orang yang beriman di antara mereka-, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ma’idah :118).

رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ ۖ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ
“Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami .?
Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.
Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rohmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’rof : 55).

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
“-kepada- mereka, mudah-mudahan Alloh memaafkannya. Dan adalah Alloh Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’ : 99).
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
“Dan janganlah Engkau hinakan aku -dan janganlah Engkau jelekkan aku- pada hari semua manusia dibangkitkan,” (QS. As-syu’aro’ : 87).

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Tuhan kami .. Janganlah Engkau hukum kami
jika kami lupa atau kami tersalah ..

Tuhan kami .. Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami ..

Tuhan kami .. Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya ..

Beri ma’aflah kami .. Tutupilah kesalahan-kesalahan kami, dan rohmatilah kami. Engkaulah Penolong kami ..

Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (yang menutupi kebenaran dan mengingkari tuntunan-Mu).” (QS. Al-Baqoroh :286).

Ya Alloh .. kami benar-benar menyucikan-Mu dengan kesucian yang sesuai dengan Dzat-Mu .. Kami mengakui kelemahan kami dan tidak akan membantah-Mu. Tidak ada yang kami ketahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami .. Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana atas segala yang Engkau lakukan.

ADAB BERPAKAIAN DALAM ISLAM

Pengertian pakaian, syarat-syarat berpakaian, fungsi pakaian, warna pakaian yang disukai Rosululloh saw serta etika dalam berpakaian.

Orang Muslim meyakini bahwa berpakaian itu diperintahkan Alloh swt, seperti dalam firman-Nya:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.
Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’rof: 26).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.
“Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rof: 31).

Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Alloh swt, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah, ia pun mengikuti aturan yang ditetapkan Alloh swt dalam berpakaian.

Manusia dengan segala peradabannya memiliki naluri untuk mengembangkan apa yang ada, termasuk dalam perkembangan model pakaian. Tidak bisa dipungkiri lagi model pakaian yang ada di era globalisasi ini banyak menyadur dari dunia barat. Tapi umat Islam haruslah tetap bercermin terhadap syari’at Islam yang Rosululloh saw menjadi suri tauladannya, tidak mengabaikan apa yang menjadi batasan-batasan berpakaian sesuai syari’at Islam.

Dari Ibnu Abbas ra, Rosululloh saw bersabda:

الْبَسُوْمِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ؛
فَاِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِياَبِكُمْ, وَكَفِّنُوْافِيْهَا مَوْتاَكُمْ
“Pakailah pakaian berwarna putih, karena pakaian putih adalah pakaian yang  paling baik.
Dan kafanilah orang yang meninggal dengan kain putih.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Abu Rimtsah Rifaah at-taimiy ra, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ـ
 صَلَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَم ـ وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ أخْضَرَانِ.
“Aku pernah melihat Rosululloh saw. memakai dua baju yang hijau.” (HR.  Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Jabir ra, ia berkata:

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم دَخَلَ عَامَ الْفَتْحِ  مَكَّةَ وَعَلَيْهِ عِمَا مَةٌ سَوْدَاءُ
”Ketika Rosululloh saw memasuki kota makkah pada hari penaklukannya, beliau memakai sorban hitam.” (HR. Abu Daud).

Dari Abdul Aziz bin Abu Ruwad, dari Salim bin Abdulloh, dari ayahnya, dari Nabi saw bersabda:

الْإِسْبَالُ فِيْ الْاِزَارِوَالْقَمِيْصِ وَالْعِمَا مَةِ مِنْ جَرَّمِنْهَا شَيأخيَلاَءِ لَمْ يَنْظُرُاللهِ اَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ
”Hendaknya dipanjangkaan sarung, baju, dan sorban, barang siapa memanjangkan sesuatu darinya karena sombong, Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud).

Dari al-Barro bin Azib ra, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلًيْهِ وَسَلَمَ مَرْبُوْعًا
 وَلَقَدْ رَاَيْتُهُ فِيْ حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَاَيْتُ شَيْأً قَطُّ اَحْسَنَ مِنْهُ
“Tubuh Rosululloh saw. berukuran sedang, aku pernah melihat beliau mengenakan kain merah, dan belum pernah aku melihat orang yang lebih tampan dari beliau.” (HR. Abu Daud).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم قَالَ اِذَا اَنْتَعَلَ اَحَدْكُمْ فَلْيَبْدَأ بِا لْيَمِيْنِ وَإِذَانَزَعَ فَالْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ وَالْتَكُنُ الْيَمِنِى أَوْ لَهُماَ يُنْتَعَلُ وَآخِرَهُمَايُنْزَعُ
”Kalau kamu memakai sandal, pasang yang kanan terlebih dahulu tetapi kalau membukanya yang kiri buka dahulu, jadi yang kanan adalah pertama dipasang dan yang kiri terakhir dibuka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Pengertian pakaian :
Huruf lam  ل , ba’ ب dan sin  س adalah tiga huruf asli yang menunjuk pada pengertian tutup atau menutupi. Secara denotatif kata al-libas   الباس berarti pakaian yang dikenakan.

PENGERTIAN AUROT

Aurot adalah bagian tubuh yang tidak boleh dibuka untuk diperlihatkan, karena aurat adalah sesuatu yang harus dijaga dan ditutupi oleh setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan, maka ini adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan oleh setiap ummat Islam. Sesuatu yang baik akan tetap apik ketika dapat dijaga.
           

SYARAT BERPAKAIAN

Pakaian merupakan salah satu ni’mat dan penghormatan yang diberikan Alloh kepada anak cucu Adam. Barang siapa mensyukuri ni’mat ini, maka dia telah berada dalam batas-batas aturan yang diperbolehkan kepadanya.

Hukumnya wajib jika untuk menutupi aurat, hukumnya Sunnah jika dengan berpakaian itu menjadikannya lebih menarik dan indah dan Haram hukumnya karena ada larangan dari Rosululloh saw.

DUA MACAM PAKAIAN

Pakaian perempuan:
Adapun syarat  yang harus dipenuhi dalam mengenakan pakaian bagi perempuan, yaitu:
1.      Menutupi seluruh anggota tubuh kecuali bagian-bagian tertentu yang boleh diperlihatkan.
2.      Pakaian itu tidak menjadi fitnah pada dirinya.
3.      Pakaian itu tebal dan tidak transparan sehingga bagian dalam tubuh tidak terlihat.
4.      Pakaian tersebut tidak ketat atau sempit sehingga tidak membentuk lekukan-lekukan tubuh yang dapat menimbulkan daya rangsang bagi laki-laki.
5.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
6.      Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
7.      Tidak terlalu berlebihan atau mewah.

Pakaian laki-laki:
Mengenai pakaian laki-laki juga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Pakaian tidak terbuat dari sutera murni.
2.      Tidak berlebihan atau mewah.
3.      Tidak menyerupai pakaian wanita.
4.      Tidak memberikan gambaran bentuk tubuh atau aurot.
5.      Hendaknya panjang pakaian tidak melebihi kedua mata kaki.

FUNGSI PAKAIAN

1. Busana Sebagai Penutup Aurot.
Aurot dalam al-Qur’an disebut “sau’at” yang terambil dari kata sa’a, yasu’u yang berarti buruk, tidak menyenangkan. Kata ini sama ma’nanya dengan aurot yang terambil dari kata “aurot” yang berarti onar, aib tercela.
Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkannya buruk.
Tidak satu pun dari bagian tubuh yang buruk karena semuanya baik dan bermanfaat termasuk aurot. Tetapi bila dilihat orang, maka “keterlihatan” itulah yang buruk.

2. Fungsi Busana sebagai Perhiasan.
Perhiasan merupakan sesuatu yang dipakai untuk memperelok (memperindah). Tentunya pemakaiannya sendiri harus lebih dahulu menganggap bahwa perhiasan tersebut indah, kendati orang lain tidak menilai indah atau pada hakikatnya memang tidak indah.

Al-Qur’an tidak menjelaskan atau merinci apa yang disebut perhiasan, atau sesuatu yang elok/indah. Sebagian pakar menjelaskan bahwa sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian.
Kebebasan haruslah disertai tanggung jawab, karena keindahan harus menghasilkan kebebasan yang bertanggung jawab.
Tentu saja pendapat tersebut dapat diterima atau ditolak sekalipun keindahan merupakan dambaan manusia.
Namun harus diingat pula bahwa keindahan sangat relatif, tergantung dari sudut pandang masing-masing penilai.
Hakikat ini merupakan salah satu sebab mengapa al-Qur’ân tidak menjelaskan secara rinci apa yang dinilainya indah atau elok.

ETIKA BERPAKAIAN

Etika atau adat kebiasaan berhubungan erat dengan konsep penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Dalam berpakaian ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang muslim, diantaranya:
1.      Membaca do’a
2.      Disunnahkan untuk mendahulukan anggota tubuh yang bagian kanan dalam mengenakan pakaian.
3.      Memakai pakaian yang rapi dan sopan yang sesuai dengan tempat.
4.      Disunnahkan melepaskan pakaian dari sebelah kiri.

Jadi dalam mengenakan pakaian tidak hanya sekedar langsung memakai pakaian tersebut, melainkan ada beberapa aturan-aturan yang harus diperhatikan sebelumnya.

Sangat dianjurkan memakai pakaian dari sebelah kanan lalu sebelah kiri, dan melepaskannya dari sebelah kiri lalu kanan. Dan sebenarnya tidak hanya dalam hal berpakaian saja tapi dalam mengerjakan semua hal sanagat dianjurkan melakukannya dengan yang kanan terlebih dahulu, seperti, makan, wudlu’, hingga memakai sandal pun harus didahulukan yang kanan, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi tentang tata cara mengenakan sandal. Bahwa itu merupakan mengarahkan segala sesuatunya, menuju ke yang sebelah kanan. Dimana sebelah kanan, merupakan perlambang dari “Ash habul-yamin”, golongan kanan, atau golongan yang baik. Dan sebelah kiri umumnya adalah perlambang dari “Ash habush-shimal”, atau golongan kiri, atau golongan yang menjadi lawan dari baik.

Pahamilah perlambang “KANAN” dan “KIRI” ini, bahwa itu merupakan pemahaman secara tersirat, bahwa semua tindakan kita, laku kita, akhlak kita, haruslah diarahkan pada hal-hal yang baik, yaitu golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk Alloh swt dan Nabi Muhammad saw lalu mengerjakannya.

KEINDAHAN DAN KEBERSIHAN

Wahyu kedua yang dinilai oleh ulama sebagai ayat-ayat yang mengandung informasi pengangkatan Nabi Muhammad saw. sebagai Rosul antara lain menuntunnya agar menjaga dan terus-menerus meningkatkan kebersihan pakaiannya, Alloh swt berfirman:
“Dan pakaianmu bersihkanlah.“
(QS.74 al-Mudatstsir: 4).

Memang salah satu unsur mutlak keindahan adalah kerbersihan. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. senang memakai pakaian putih, bukan saja karena warna ini lebih sesuai dengan iklim Jazirah Arab yang panas, melainkan juga karena warna putih segera menampakkan kotoran, sehinga pemakaiannya akan segera terdorong untuk mengenakan pakaian lain yang bersih.

Nabi Muhammad saw juga sangat menyukai warna hijau karena warna ini merupakan warna pakaian disorga. Ada yang mengatakan bahwa memandang kehijauan dan air yang mengalir dapat menguatkan pengllihatan. Karena itulah, warna putih dan hijau menjadi warna yang paling dsukai oleh Rosululloh saw.

Wallohu A’lam

ADZAN SHUBUH

http://r4—sn-2uuxa3vh-n0cl.c.youtube.com/videoplayback?app=youtube_gdata&devkey=AX8iKz393pCCMUL6wqrPOZoO88HsQjpE1a8d1GxQnGDm&el=videos&upn=UqTPa3VliWw&uaopt=no-save&source=youtube&itag=18&id=2ab1aa6c6f15d300&ip=125.164.13.79&ipbits=0&expire=1404520133&sparams=expire,id,ip,ipbits,itag,source,uaopt,upn&signature=11C6D256BB9ED56B0CD0B1BB2C0150A9AE4214C2.63AC3613BA265CC31174835D1742EE4BE1338D6F&key=cms1&cms_redirect=yes&ms=au&mt=1404491159&mv=m&mws=yes

7 MANUSIA DALAM NAUNGAN ALLOH SWT

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh golongan yang dalam naungan Alloh pada hari yang tidak ada tempat bernaung, kecuali naungan-Nya,

1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang giat beribadah kepada Alloh.
3. Orang yang berdzikir kepada Alloh di tempat yang sunyi sampai air matanya mengalir karena rasa takutnya kepada Alloh.
4. Orang yang hatinya selalu terkait (terikat) dengan masjid saat ia keluar sampai kembali lagi masuk ke masjid.
5. Orang yang bershodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sehingga orang lain yang ada di kanan-kirinya tidak mengetahuinya.
6. Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, maka mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Alloh.
7. Lelaki yang diajak berbuat mesum (berzina) oleh wanita cantik, tetapi ia menolaknya dengan berkata:
“Aku takut kepada Alloh.”
(HR. Bukori)

Beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadits di atas:

1.      Seorang pemimpin (Imam) yang adil.
Pemimpin adil bukan hanya dicintai rakyatnya, melainkan dicintai pula oleh Alloh dan berhak mendapatkan naungan-Nya di hari kiamat nanti.
Pemimpin di sini bisa saja presiden, gubernur, bupati, camat, lurah atau kepala rumah tangga.
Karena setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai Alloh swt. Pertanggung jawabannya kelak.
Untuk itu, seorang pemimpin harus bertindak adil sehingga semua orang yang dipimpinya bisa merasakan pelayanan yang maksimal dan penegakan ketentuan yang benar.

2.      Pemuda maupun pemudi yang tumbuh dalam keadaan selalu beribadah kepada Alloh.
Jiwa seorang pemuda maupun pemudi cenderung suka ‘bersenang-senang’. Karena itu, jika ia ‘memaksa’ hati dan raganya untuk sibuk beribadah kepada-Nya, itu pertanda betapa kuat ketakwaan pada dirinya. Maka pantaslah baginya naungan Alloh swt kelak.
Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan.
Pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah adalah yang terselamatkan di hari kiamat.
Sebagaimana kisah Ashabul-Kahfi (Para pemuda Kahfi) yang menghindari kedholiman penguasa untuk menyelamatkan aqidah mereka.

3.      Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.
Berkata Imam Nawawi:
“Ma’nanya adalah sangat mencintai masjid dan selalu menjaga sholat jamaah di dalamnya. Dan ma’nanya bukanlah hanya duduk-duduk di masjid.”
Karena itu, siapa yang menjaga sholat jamaah di masjid, selalu merasa rindu dengan masjid, senantiasa rindu beribadah di dalamnya, bergembiralah … naungan Alloh swt akan ia dapatkan di hari kiamat nanti.

Orang yang tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal sholeh, terutama sholat fardhu berjama’ah. Hatinya selalu ‘risau’ bila jauh dari masjid, dan merasa sedih bila tak bisa mendatanginya di waktu-waktu sholat berjama’ah dan ketika majelis ta’lim diadakan.

4.      Dua orang yang saling mencintai karena Alloh swt dan berpisah karena Alloh swt.
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata:
“Maksudnya yaitu mereka berdua senantiasa dalam kecintaan karena agama. Mereka tidak memutus kecintaan itu karena alasan duniawi, baik mereka berkumpul berdekatan atau berpisah (bejauhan), sampai maut memisahkan mereka berdua.”
Inilah cinta yang dimiliki para pecinta di jalan-Nya. Cinta yang dibangun di atas kecintaan karena-Nya. Bukan cinta yang tumbuh karena tujuan duniawi dan jauh dari tendensi pribadi. “Berkumpul dan berpisah karena Alloh”

Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Alloh swt dan benci karena Alloh swt. Bila dua orang saling mencintai karena masing-masing selalu menjaga kecintaannya pada Alloh swt, bertemu dalam kerangka mengingat Alloh swt dan berpisah dengan tetap dalam dzkir kepada Alloh swt maka keduanya akan selamat di hari kiamat.

5.      Seorang lelaki yang diajak wanita cantik untuk berzina dan menjawab:
“Sesungguhnya aku takut kepada Alloh”.
Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam lah teladan terbaik dalam hal ini.

Coba kita bayangkan jika ada seorang pemuda, bukan tua renta, tinggal di tempat yang asing, jauh dari kampung halaman, dirayu seorang wanita cantik jelita, kaya raya dan berkedudukan tinggi di suatu tempat yang sepi ta’ada seorang pun kecuali mereka berdua, lantas apa yang akan terjadi .?
Bukankah Nabi Yusuf as bisa melewati ujian seperti ini .?

Karena itu, siapa yang mengalami peristiwa seperti yang beliau as alami, lalu ia berhasil melewatinya, berarti itu pertanda betapa kuat ketakwaan dan keimanan dirinya kepada Alloh swt. Maka pantaslah baginya naungan Alloh swt kelak.

Mungkin ada yang bertanya:
“Keutamaan ini bagi pria yang dirayu seorang wanita, bagaimana kalau wanita yang dirayu seorang pria, apakah ia mendapatkan pula keutamaan dalam hadits di atas .?“

Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa keutamaan dalam hadits di atas mencakup pria dan wanita. Beliau berkata:
“Karena sesungguhnya kejadian itu bisa saja terjadi pada perempuan yang diajak (berbuat zina) oleh seorang raja yang tampan, misalnya, lalu ia menolak ajakan tersebut karena takut kepada Alloh swt walaupun ia memiliki hasrat untuk itu.”
Alloh swt berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isro’ : 32)

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf as. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan karena tanda dari Alloh swt maka keduanya akan bermaksiat sehingga Yusuf berkata:
“Ya Alloh, lebih baik hamba dipenjara daripada harus bermaksiat kepadamu.”

6.      Shodaqoh secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tau apa yang dilakukan tangan kanan.

Sabda Nabi saw:
“Hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya”
maksudnya sangat merahasiakan shodaqoh dan menjauhkannya dari kemungkinan timbulnya riya’ (ingin dilihat dan dipuji)”.

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan menyembunyikan shodaqoh dibandingkan menampakkannya, kecuali jika tahu dengan menampakkannya mendorong orang lain untuk menirunya sedangkan ia bisa menjaga batinnya dari dorongan berbuat riya’.”

Imam An-Nawawi berkata:
“Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang keutamaan shodaqoh secara sembunyi-sembunyi.”
Para ulama berkata:
“Ini pada shodaqoh tathowu’ (bukan wajib). Sembunyi-sembunyi pada shodaqoh jenis ini lebih utama, sebab itu lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riya’.
Adapun zakat yang wajib, menampakkannya justru lebih utama.
Dan begitu pula dalam sholat. Menampakkan sholat-sholat yang wajib lebih utama (daripada menyembunyikannya) dan menyembunyikan sholat-sholat nafilah (tidak wajib)  lebih utama (daripada menampakkannya), berdasarkan sabda Nabi saw:
“Sholat yang paling utama adalah sholat seseorang di rumahnya, kecuali sholat yang wajib. ”
(HR. Muslim).

Amal yang disertai dengan keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal oleh Alloh swt. Keikhlasan adalah pekerjaan hati dan karenanya hanya orang-orang yang berilmu saja yang dapat melakukan dan hanya orang-orang yang bertaqwa saja yang tidak akan disesatkan oleh syaitan.

7.      Seseorang yang menangis karena Mengingat Alloh swt dan Rasa takut-Nya hanya kepada Alloh swt.
Inilah orang yang dalam hatinya terkumpul rasa takut dan cinta kepada-Nya. Inilah orang yang benar-benar mengikuti Nabi-Nya saw.

Alloh swt berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap-harap cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”
(QS. Al-Anbiya’ : 90)

Rosululloh saw bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Ada dua mata yang tidak akan dijilat api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Alloh dan mata yang terjaga di jalan Alloh.”
(HR. Tirmidzi)

Dzikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi makhluk hidup, ketika seseorang tidak lepas dari dzikir baik di siang maupun di malam hari maka seolah makhluk hidup yang selalu bisa bernafas bebas.

Mengingat Alloh swt hingga meneteskan air mata adalah sesuatu yang dicintai-Nya, ini adalah kehususan bagi orang yang hatinya telah dianugrahi hidayah oleh Alloh swt. Sebagaimana sabda Rosululloh saw
“Tanda Orang beriman, ketika mendengar kalimat Alloh maka bergetarlah hatinya dan ketika mendengar al-Qur’an maka bertambahlah iman mereka.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Semoga kita termasuk di dalamnya, yang pada hari kiamat kelak mendapatkan naungan Alloh swt. Dan semoga Alloh swt memudahkan kita melakukan ibadah-ibadah yang dapat mengantarkan kita kepada ridho-Nya. Amin ..

MANUSIA YANG TERBAIK

Paling tidak ada 3 ayat dalam Al-Qur’an yang diberitakan oleh Alloh swt yang berbeda tetapi mempunyai satu sudut persamaan yaitu tentang bagaimana menjadi pribadi yang unggul.

Yang pertama kita bisa lihat pada surat at-Tiin ayat 4 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk penamplian terbaik.”

Dalam ayat ini Alloh swt tidak menggunakan istilah “hasan” tetapi menggunakan istilah “ahsan” dan itu artinya adalah terbaik “the best” ..
Bukan sekadar baik tetapi terbaik, dari surat ini Alloh swt menciptakan manusia, aku, kamu dn kita semua dengan bentuk yang terbaik, bukan sekadar bentuk yang paling baik.

Jadi sebagai rasa syukur kita kepada Alloh swt, semestinya kita melakukan apa yang disebut “penampilan yang terbaik”, bukan hanya dari penampilan wajah tetapi sikap dan tingkah laku, kita harus berpenampilan yang terbaik seperti posisi tubuh dan ekspresi wajah yang menggambarkan sesorang yang memiliki “penampilan yang terbaik”.

Kemudian yang kedua pada surat Fushshilat ayat 33 :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapa yang paling baik perkataannya dari seorang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholeh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Dalam ayat ini terkandung ma’na bahwa pribadi yang baik itu memiliki “Sikap yang terbaik”. Bukan hanya berpenampilan yang terbaik akan tetapi juga harus bersikap yang terbaik sebagaimana seruan pada ayat tersebut.

Sikap terbaik disini terdiri dari dua hal:
Pertama, orang yang mempunyai sikap terbaik selalu berpikiran positive yaitu dengan memandang setiap peristiwa dari sisi yang tepat atau positive thinking.
Contohnya seorang juru foto walaupun obyek yang diphotonya bagus belum tentu hasilnya bagus karena di sini yang jadi kekuatan adalah sudut pandang. Disinilah pentingnya kita memandang sesuatu dari posisi yang tepat.
Itulah yg dikatakan Alloh swt di dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 191 :
“Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Yang kedua, orang yang memiliki “sikap” yang terbaik adalah bersifat proaktif.
Pada umumnya ketika seseorang di landa musibah, bukan tidak mungkin menghadapi musibah tersebut secara emosional, beda dengan orang yang berpikir proaktif, ketika dilanda musibah mereka tidak akan langsung memberikan respon secara emosional, mereka cara berpikirnya akan menggunakan hati nurani dn kedewasaanya untuk menghadapi berbagai macam persoalan. Jadi kesimpulan dari surat Fushshilat ayat 33 kita harus memiliki sikap yang tebaik dalam kehidupan tidak di dorong oleh nafsu dan emosional.

Dan yang ketiga menjadi pribadi yang baik menurut al-Qur’an surat al-Mulk ayat 2 :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah (Alloh) yang menjadikan mati dan hldup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling balk amalnya.
Dia Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Alloh swt tidak mengatakan “aktsaru amala”. Disini yg ditekankan bukan pada kuantitas perbuatan kita tetapi pada kualitas perbuatan kita, itu yg disebut mempunyai “Prestasi yg terbaik”. Jadi dalam ayat tersebut Alloh swt menekankan kita memiliki prestasi dari segi kualitas amal kita bukan dari banyaknya amal kita. Dari itu Alloh swt memerintahkan kita supaya menjadi orang yang di atas rata-rata bukan hanya rata-rata.  

Dari tiga ayat al-Qur’an di atas dapat di simpulkan untuk menjadi pribadi yang unggul itu harus mempunyai tiga hal yaitu:

1. Penampilan yang terbaik
2. Sikap yang tebaik
3. Prestasi yang terbaik

Semoga kita menjadi pribadi yang unggul, dari yang baik menjadi lebih baik sehingga menjadi yang terbaik.

Awan Tag