Archive for the ‘Tafsir Al-Qur’an’ Category

JALAN CINTA

JALAN CINTA

Kecenderungan cinta itu pada akhirnya menjadi sebab bertemunya satu dengan yang lain menjadi sepasang kekasih.

Rosululloh saw bersabda:
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Akhir dari semua itu tidaklah di dunia, akan tetapi sampai di pengadilan akherat kelak. Dimana seseorang akan dipertemukan dengan orang yang dicintainya pada hari kiamat. Bentuk pertemuan di akhirat itu pun tergantung pada cinta, kemana cinta itu telah dialamatkan.

Cinta adalah sumber gerakan dan faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Seseorang akan berbuat sesuai dengan kehendak cintanya atau demi mendapatkan cinta kekasihnya. Atas dasar cinta pula seseorang bergabung, berkelompok, atau saling mengidolakan satu sama lain.

Dari Sayyidina ‘Ali ra, Rosululloh saw bersabda:
وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kubur) bersama mereka.” (HR. Thobroni).

Oleh karenanya, hendaklah kita memperhatikan siapa yang kita cintai, atau yang kita idolakan .?
Terlalu besar resiko di akherat jika seseorang mengidolakan artis dan bintang film, bahkan orang kafir yang jelas-jelas menyebarkan kemungkaran atau tokoh-tokoh yang melakukan tindakan yang diancam dengan neraka.

NASEHAT CINTA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Alloh swt memerintahkan supaya kaum muslimin memelihara dan menjauhi perbuatan semua yang tidak halal yang akan membahayakan mereka di dunia dan membawa mereka ke neraka kelak.  

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” – (QS.3:131).

Diterangkan oleh Imam Hanafi, bahwa ayat ini mengandung ancaman yang sangat menakutkan, karena dalam ayat ini Alloh swt mengancam kaum muslimin akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir bila mereka tidak memelihara diri dari perbuatan yang dilarang-Nya.

Kemudian perintah tersebut diiringi lagi dengan perintah supaya kaum muslimin selalu taat dan patuh kepada perintah Alloh dan Rosul-Nya.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan taatilah Alloh dan Rosul, supaya kamu diberi rohmat.” – (QS.3:132).
Karena dengan menaati Alloh dan Rosul-Nya itulah mereka akan dapat limpahan rohmat daripada-Nya dan dapat hidup berbahagia di dunia dan di akhirat.

Lalu Alloh swt menyuruh supaya kaum muslimin bersegera meminta ampun kepada-Nya bila sewaktu-waktu jatuh ke jurang dosa dan maksiat, karena manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan.
Seorang muslim tidak akan mau mengerjakan perbuatan yang dilarang Alloh swt, tetapi kadang-kadang karena kuatnya godaan dan tipu daya setan dia terjerumus juga ke dalam jurang maksiat, kemudian dia sadar akan kesalahannya dan menyesal atas perbuatan itu lalu tobat dan mohon ampun kepada Alloh swt, maka Alloh swt akan mengampuni dosanya itu. Alloh adalah Maha Penerima tobat dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,” – (QS.3:133).

Bila seorang muslim selalu menaati perintah Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan bertobat bila terlanjur jatuh ke jurang dosa dan maksiat, maka Alloh akan mengampuni dosanya dan akan memasukkan nanti di akhirat ke dalam sorga yang amat luas sebagai balasan atas amal yang telah dikerjakannya di dunia, yaitu sorga yang disediakan-Nya husus untuk orang yang bertakwa kepada-Nya.

Alloh swt menjelaskan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa yaitu: 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) 1. orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan 2. orang-orang yang menahan amarahnya dan 3. memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” – (QS.3:134).

Orang yang selalu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kesempitan. Dalam keadaan berkecukupan dan dalam keadaan sempit ia tetap memberi nafkah sesuai dengan kesanggupannya.
Bernafkah itu tidak diharuskan dalam jumlah yang tertentu sehingga ada kesempatan bagi yang sempit untuk memberi nafkah.
Bershodaqoh itu boleh saja dengan pahala dan do’a, barang atau uang yang sedikit nilainya. karena itulah kesanggupan baru dapat diberikan dan tetap akan memperoleh pahala dari Alloh swt. 

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) 4. orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu 5. memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (dan tidak mengulangi lagi perbuatan itu), dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, selain daripada Alloh. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” – (QS.3:135).

Para muffassirin membedakan antara perbuatan keji (fahisyah) dengan menganiaya diri sendiri (dhulam).
Mereka mengatakan perbuatan keji ialah perbuatan yang bahayanya tidak saja menimpa orang yang berbuat dosa tetapi juga menimpa orang lain dan masyarakat, seperti berzina, berjudi, memfitnah dan sebagainya, perbuatan menganiaya diri sendiri seperti memakan makanan yang haram, memboroskan harta benda, menyia-nyiakannya dan sebagainya.
Dan menganiaya diri sendiri ialah berbuat dosa yang bahayanya terbatas pada orang yang mengerjakan saja. 

Demikianlah lima sifat di antara sifat-sifat orang yang bertakwa kepada Alloh swt yang harus dimiliki oleh setiap muslim.
Setiap muslim hendaknya berusaha agar terwujud di dalam dirinya kelima sifat itu dengan sempurna karena dengan memiliki sifat-sifat itu dia akan menjadi muslim sejati yang dapat memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan dapat pula memberi manfaat kepada orang lain dan lingkungannya. 

أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Robb-mereka dan sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” – (QS.3:136).

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat itu akan dibalas oleh Alloh swt dengan mengampuni dosanya dan menempatkannya di akhirat kelak di dalam sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya dan memang itulah ganjaran yang sebaik-baiknya bagi setiap orang yang beramal dan berusaha untuk memperbaiki dirinya dan umat Nabi Muhammad saw.

BERINFAK DIWAKTU LAPANG DAN SEMPIT

Termasuk perilaku orang bertakwa adalah berinfaq dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam keadaan lapang (berkecukupan) ataupun dalam keadaan sempit (kekurangan).
Mereka berusaha untuk selalu dapat membantu orang lain sesuai dengan kemampuan. Mereka tidak pernah melalaikan infaq meski terkadang mereka sendiri sedang kesulitan.

Rosululloh saw bersabda:
“Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir korma.” (HR. Muttafaq alaih).
 
Alloh memulai gambaran orang bertakwa dengan infaq karena dua hal berikut:
Pertama; infaq adalah kebalikan dari riba yang dilarang oleh ayat sebelumnya (QS. Ali Imron 130). Riba adalah pemerasan yang dilakukan oleh orang kaya terhadap orang yang membutuhkan pertolongan dengan memakan hartanya dari bayaran hutang yang berlipat ganda. Sedangkan infaq adalah sebuah pertolongan kepada orang yang membutuhkan tanpa imbalan.
Kedua; Sesungguhnya infaq adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan karena kecintaan manusia terhadap harta. Oleh karena itu, barangsiapa yang sanggup menginfakkan harta diwaktu lapang dan sempit, jelas menunjukkan sikap kepatuhan, ketundukkan hati, yang merupakan sebuah ketakwaan.
 
Anjuran dan perintah berinfaq pada waktu lapang adalah untuk menghilangkan perasaan sombong, rakus, aniaya, cinta yang berlebihan terhadap harta, dan lain-lain.
Sedangkan anjuran bershodaqoh di waktu sulit adalah untuk merobah sifat manusia yang lebih suka diberi dari pada memberi.

Sebenarnya sesusah apapun, manusia masih bisa memberikan harta yang paling berharga, ya’ni pahala walaupun sedikit. Dorongan ini ada pada diri setiap orang tetapi kadang-kadang tidak muncul. Untuk itu kecintaan dan kasih sayang hanya karena Alloh lah yang menumbuhkan kesadaran itu.
 

MENAHAN MARAH

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” – (QS.3:134).

Wal Kadhiminal-Ghoidlo.
Perilaku orang yang bertakwa yang dijanjikan oleh Alloh “sorga yang luasnya seluas langit dan bumi” adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya.

Kata “al-kadhimiin” berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah.
Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik.
 
Orang yang mampu menahan marah, oleh Nabi Muhammad saw disebut sebagai orang yang kuat. Beliau saw bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhori dan Muslim, dan Abu Daud).

Dalam hadits lain Nabi Muhammd juga bersabda:
“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Alloh akan memenuhi hatinya dengan keridhoan.”

Pengendalian nafsu adalah masalah penting, bahkan Alloh swt. menegaskan bahwa mengendalikan nafsu adalah jalan ke sorga.
Alloh swt berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya sorgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40-41).

Setiap manusia dihadapkan kepada dua kekuatan yang saling tarik-menarik:
Kekuatan takut kepada siksa Alloh dan kekuatan berharap rohmat Alloh swt. Bila takutnya kepada Alloh lebih kuat, maka ia akan mengendalikan nafsunya. Begitu nafsu dikendalikan, syetan tidak berdaya menggodanya. Ketika syetan tidak berdaya, maka amalnya akan selalu baik. 

MEMAAFKAN

Memaafkan berarti menghapuskan.
Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya.

Ini adalah jihad (perjuangan) untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.
 
Untuk memberikan dorongan kepada manusia agar mau memaafkan, Alloh swt berulang kali memerintahkannya di dalam al-Qur’an, antara lain:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” – (QS.7:199).

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” – (QS.15:85).

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأمُورِ

“Dan barangsiapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu, termasuk hal-hal yang diutamakan.” – (QS.42:43).

Sedangkan Rosululloh saw juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:
“Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Alloh swt akan mengampuninya saat ia kesukaran.”
“Dan orang yang memaafkan terhadap kedholiman, karena mengharapkan keridhoan Alloh swt, maka Alloh akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat.”

Nabi Muhammad saw sebagai “uswatun-hasanah”, adalah seseorang yang sangat pemaaf.
Sayyidah Aisyah ra. berkata:
“Aku belum pernah melihat Rosululloh saw membalas karena beliau dianiaya selama hukum Alloh tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama.”
 

BERBUAT IHSAN

Ini adalah tingkat yang lebih tinggi dari tiga perilaku takwa sebelumnya. Alloh mencintai orang yang berbuat ihsan dengan berbagai cara yang mungkin dilakukannya.
Dalam menafsirkan ayat ini Muhammad Rosyid Ridho mengemukakan suatu riwayat yang menggambarkan bahwa berbuat ihsan itu adalah sebagai puncak dari tiga sifat utama sebelumnya: Seorang budak melakukan sesuatu pelanggaran yang membuat tuannya sangat marah. Budak itu berkata kepada tuannya:
“Tuan .. Alloh swt berfirman: “wal kadhimiinal-ghoidho”
Maka tuannya menjawab:
“Aku telah menahan marahku.”
Budak itu berkata lagi:
“Alloh telah berfirman: “wal-‘afiina aninnaas”
Dijawab oleh tuannya:
“Kamu telah kumaafkan”
Budak itupun melanjutkan lagi, bahwa:
“Alloh telah berfirman: “wallohu yuhibbul muhsiniin”
Tuannya menjawab:
“Pergilah ..! Engkau merdeka karena Alloh.”
(Riwayat senada juga dikemukakan oleh Al-Maroghi dalam menafsirkan ayat ini).
 

ISTIGHFAR

Cepat menyadari kesalahan lalu beristighfar, perilaku ini menggambarkan bagaimana orang yang bertakwa menghadapi dirinya sendiri, yaitu bila dia, sengaja atau tidak, melakukan perbuatan dosa seperti, membunuh, memakan riba, korupsi, berzina, atau menganiaya diri sendiri seperti minum khomar, membuka aurat, tidak sholat, tidak berzakat, tidak berpuasa, tidak berhaji dan sebagainya, mereka langsung ingat Alloh, sehingga merasa malu dan takut kepada-Nya. Lalu ia cepat menyesali semua perbuatannya dan memohon ampun sambil bertekad melakukan kewajiban yang belum dilakukan dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang telah dilakukan itu.
 
Orang mukmin yang bertakwa setelah bertaubat tidak akan mengulang pelanggaran yang telah dilakukannya, karena ia akan selalu ingat dan takut kepada Alloh.
 
Dalam ayat ini Alloh juga menegaskan dua hal.
Pertama, Hanya Alloh lah tempat memohon ampunan, karena hanya Alloh juga yang mampu memberi ampunan.
Kedua, Ayat ini menunjukkan batapa Maha Pemaaf dan Pengampunnya Alloh.

Untuk mereka yang memenuhi lima kriteria diatas, Alloh menjanjikan balasan berupa ampunan, selamat dari siksaan, mendapat pahala yang besar, dan memperoleh sorga yang sangat luas dan menyenangkan. Itu semua adalah sebaik-baik balasan dan imbalan Alloh terhadap amal yang telah mereka lakukan.
 

Iklan

AYAT AYAT PILIHAN

SABAR DAN SHOLAT SEBAGAI PENOLONG

Jangan hanya menjadikan diri kalian muslim yang baik tetapi jadilah juga orang yang beriman, maka bertakwalah kepada Alloh dan ikutilah Rosululloh ..

Alloh swt berfirman:
 
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdo’a kepada Alloh, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan ridho-Nya.” (QS. al-Kahfi : 28).

Ayat diatas menuntut seseorang berbuat sabar duduk satu majlis bersama orang-orang ahli dzikir ..

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya, yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” – (QS.2:45).

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (di Hari Kiamat).” – (QS.2:46).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya, Alloh beserta orang-orang yang sabar.” – (QS.2:153).

TA’AT KEPADA ALLOH DAN ROSULULLOH

Alloh swt berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Alloh (ya’ni apa yang telah dibebankan oleh Alloh kepada kalian) dan taatlah kepada Rosul-Nya (ya’ni segala apa yang telah disampaikan oleh Rosul dari Alloh), jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rosul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Alloh) dengan terang (sejelas-jelasnya).” (At-Taghbun: 12).

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan ta’atilah Alloh dan Rosul (dalam setiap perintah dan larangan), supaya kamu diberi rohmat.” (Al-imron: 132).

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang (perintah) Alloh dan Rosul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina (mencapai puncak kehinaan).” (Al-Mujadilah: 20).

ۖ وَمَنْ يُشَاقِّ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Barangsiapa menentang Alloh dan Rosul-Nya (maka ia tidak akan terhindar dari siksa-Nya). Sesungguhnya (siksa Alloh benar-benar pasti akan terjadi, dan) Alloh sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr:4. dn Al-Anfal:13).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman (kepada Alloh, ikhlaskan dirimu kepada-Nya. Percayalah kepada Nabi Muhammad dan apa yang dibawa dalam al-Qur’ân yang diturunkan kepadanya, lalu laksanakanlah dan ikutilah sunnahnya),
Tetaplah beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan kepada kitab yang Alloh turunkan kepada Rosul-Nya serta kitab yang Alloh turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (An-Nisa’ : 136).

DO’A MALAIKAT UNTUK ORANG BERIMAN

Setelah Alloh swt mennjukkan kepada para malaikat bahwa Dia sangat benci orang-orang kafir, dan betapa cinta Alloh swt terhadap orang-orang beriman, maka keimanan kaum muslimin itu mngundang para malaikat mennjukkan betapa kasih sayangnya mereka terhadap kaum yang beriman, sehingga mereka mengajukan permohonan kepada Alloh swt.

Alloh swt mengisahkan hal tersebut melalui firman-Nya:

 الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا :

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ´Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih memuji Tuhan pemelihara mereka dan mereka senantiasa beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Tuhan kami, Engkau telah meliputi segala sesuatu dengan rohmat (bagi segala sesuatu) dan (Engkau mengetahui pula segala sesuatu dengan) ilmu-Mu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang telah bertaubat dan (dengan tulus) mengikuti jalan-Mu (yang lurus) dan hindarkanlah mereka dari siksaan neraka jahim (yang apinya menyala-nyala.)” (40:7)

 رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ´Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (40:8)

 وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (40:9)

SIFAT KIKIR DAN TAMAK

Sifat `syuh` merupakan tabiat manusia sebagaimana firman Alloh swt:
وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ

“Manusia itu menurut tabiatnya kikir.”
(QS. An-Nisa’: 128)

وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS.At-Taghobun: 16)

Rosululloh saw bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ:
أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا.

“Waspadalah sifat ‘syuh’ (tamak lagi pelit) karena sifat ‘syuh’ yang membinasakan orang-orang sebelum kalian.
Sifat itu memerintahkan mereka untuk bersifat bakhil (pelit), maka mereka pun bersifat bakhil.
Sifat itu memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan, maka mereka pun memutuskan hubungan kekerabatan.
Dan Sifat itu memerintahkan mereka berbuat dosa, maka mereka pun berbuat dosa”
(HR. Ahmad)

اَللَّهُمَّ قِنِيْ شُحَّ نَفْسِيْ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ.

“Ya Alloh, hilangkanlah dariku sifat pelit lagi tamak, dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung.”

AYAT AYAT SYAFA’AT

AYAT AYAT SYAFA’AT

Jika kita menginginkan Alloh swt memberikan rohmat dan manfa’at di dunia dan akhirat pada kita .. Maka ikhlaskan niat karena melaksanakan perintah Alloh swt dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw ..
Dan bersabarlah ..! karena, Alloh swt selalu memperhatikan setiap gerak dan diam kita untuk dianugerahi derajat yang tinggi dan pahala yang besar di sisi-Nya ..

Pada hari hisab, tak seorang pun yang mendapat syafa’at, kecuali orang yang mendapat izin dari Alloh karena adanya suatu perjanjian, Alloh swt berfirman:
لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا
“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam : 87).

Mereka manusia semuanya tidak dapat memberi syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah ya’ni kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan berkat pertolongan Alloh swt.

Maksud mengadakan perjanjian dengan Alloh adalah beriman (bersyahadat) dan bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan mengikuti sunnah Rosul-Nya. Iman kepada Alloh dan Rosul-Nya disebut oleh Alloh suatu perjanjian, karena Alloh swt berjanji dalam Kitab-Nya melalui lisan Rosul-Nya balasan yang baik bagi mereka.

*

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Alloh Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhoi perkataannya (ya’ni ucapan niat dan perbuatannya sesuai syari’at)” (QS. Thoha : 109).

Pada hari kiamat itu syafa’at dari seseorang menjadi tak berguna lagi, kecuali dari orang yang mendapat kemuliaan, izin dan perkenan dari Alloh untuk memberikan syafa’at mengucapkan kata syafa’at .. Hari itu syafa’at juga menjadi tak berguna lagi, kecuali bagi orang yang mendapat izin dari Sang Maha Pengasih untuk memperolehnya. Yaitu orang yang dahulunya beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya yang perkataan dan perbuatanya bertujuan mendapat ridho Alloh.

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Alloh mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi.” (QS. An-Najm : 26;

Banyak di antara malaikat di langit, kecuali sesudah mendapat izin dari Allah untuk diberikan kepada orang yang diperkenankan oleh Alloh.

Banyak di antara para Malaikat di langit yang sangat dimuliakan oleh Alloh di sisi-Nya. Meskipun derajatnya tinggi, mereka sama sekali tidak dapat memberi syafa’at sedikit pun kecuali sesudah mendapat izin dari Alloh untuk memberikan syafa’at bagi orang yang dikehendaki-Nya di antara orang-orang yang diridhoi-Nya ..

Di lain ayat Alloh swt berfirman: “.. dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh.” (QS. Al-Anbiya’ : 28).

Sudah kita maklumi bahwa syafa’at para malaikat itu baru ada setelah terlebih dahulu mendapat izin dari Alloh, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Alloh tanpa izin-Nya .?” (QS. Al-Baqoroh, 255).

*

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid mengucapkan kalimat La ilaha illalloh Muhammdurrosululloh) dan mereka meyakini (dalam hati yang diucapkan lisannya, merakalah yang akan dapat memberikan syafa’at terhadap orang-orang Mukmin yang dikehendaki oleh Alloh). (QS. Az-Zukhruf : 86).

*

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Alloh mengetahui segala sesuatu (seluruh keadaan dan perbuatan mereka, baik yang telah lalu maupun yang akan datang) dihadapan mereka dan yang di belakang mereka (ada malaikat), dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh (untuk mendapatkannya).” (QS. Al-Anbiya : 28).

Ayat diatas termasuk dalil adanya bahwa para malaikat dapat memberi syafa’at .. Atas ucapan orang yang ikhlas karena melaksanakan perintah Alloh dan amalnya yang mengikuti sunnah Rosul-Nya .. Alloh swt memberikan syafa’at melalui para malaikatnya sebagai ganjaran dari apa yang telah mereka kerjakan dan yang sedang mereka kerjakan ..

*

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ يَوْمَ لَا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Sesungguhnya hari keputusan (hari pengadilan antara orang yang berbuat kebenaran dan orang yang berbuat kebatilan), itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan.” (QS. Ad-Dukhon : 40-41).

Yang disebut karib ayat diatas, baik karib karena hubungan kerabat atau karib karena hubungan persahabatan yang dekat. Ia tidak akan dapat membelanya sedikit pun dari azab itu dan mereka tidak akan mendapat pertolongan maksudnya tidak dapat dicegah dari azab itu. Begitu juga seorang sekutu terhadap sekutu lainnya. Mereka pun tidak dapat menolong diri sendiri di hadapan Alloh swt.

إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
“kecuali orang yang diberi rohmat oleh Alloh Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Ad-Dukhon : 42).

Tetapi, orang-orang Mukmin yang memperoleh rohmat Alloh swt akan mendapat ampunan dan ridho-Nya untuk menerima syafaat, dan sebagian dari mereka dapat memberikan syafa’at kepada sebagian lainnya dengan seizin Alloh swt. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa Maha Menang di dalam pembalasan-Nya terhadap orang-orang kafir lagi Maha Penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Sedangkan terhadap orang-orang kafir Alloh swt menyatakan dengas tegas tidak ada pertolongan yang dapat menyelamatkan mereka :
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at. (baik dari kalangan malaikat, para Nabi atau pun orang-orang sholeh).” (QS. Al-Muddassir : 48).

Dan perkataan mereka pada hari itu digambarkan oleh Alloh swt:
وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ
“Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa (maka kami pun tidak mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan kami dari siksa, seperti yang kami duga sebelumnya).
فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ
“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun (tidak sebagaimana orang-orang Mukmin; mereka memiliki para Malaikat, para Nabi dan orang-orang Mukmin lainnya yang dapat memberi syafa’at kepada mereka).” (QS. Asy-Syu’aro’ : 99 -100).

*

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah (wahai Nabi Muhammad):
“Hanya kepunyaan Alloh syafa’at itu semuanya.
(Maksudnya, hak memberi segala macam syafa’at husus hanya milik Alloh. Tak seorang pun dapat memperolehnya dan tak seorang pun yang dapat memberikannya kecuali atas perkenan ridho-Nya).
Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (lalu Dia akan menghisab seluruh amal perbuatan kalian).” (QS. Az-Zumar : 44).

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak karena dicekam rasa takut) hingga (sesaknya sampai terasa) di kerongkongan dengan menahan (kedukaan penuh) kesedihan.
Orang-orang yang dholim tidak mempunyai teman setia seorangpun (yang dapat diterima syafaatnya), dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.
(Seandainya pun mereka memberi syafa’at, niscaya syafa’at mereka tidak akan diterima).“ (QS. Al-Mu’min : 18).

*

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Dan takutlah kamu (akan siksa Alloh) pada suatu hari ketika tidak seorang pun mampu menolong diri sendiri, dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa’at suatu syafa’at kepadanya dan tidak pula mereka akan ditolong.” (QS. Al-Baqoroh : 123).

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Dan jagalah dirimu dari (adzab) hari (perhitungan yang sangat mengerikan, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong (karena tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan siksa bagi orang yang mendapat siksa).” (QS. Al-Baqoroh : 48).

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ
“Orang-orang musyrik yang membuat-buat kebohongan tentang Alloh dengan kesyirikan itu menyembah berhala-berhala yang batil, yang tidak memberikan mudhorot atau pun manfa’at kepada mereka. Mereka berkata:
هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ
“Berhala-berhala itu akan memberi syafaat kepada kami di sisi Alloh di akherat nanti.”
قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Katakanlah kepada mereka, wahai Rosululloh:
“Apakah kalian memberitahukan kepada Allah tentang adanya sekutu bagi-Nya, yang tidak Dia ketahui keberadaannya di langit dan bumi. Allah Mahasuci dari sekutu dan dari prasangka serta peribadatan kalian kepada sekutu-sekutu itu.” (QS. Yunus : 18).

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami (dalam keadaan) sendiri-sendiri (terpisah dari keluarga, harta benda dan anak) sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya (dalam keadaan telanjang bulat dan masih belum disunatkan).
dan kamu tinggalkan (dunia) di belakangmu apa yang telah Kami anugrahkan kepadamu (berupa harta benda).
(dikatakan kepada mereka sebagai cemoohan) dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah (hilang) lenyap dari kamu apa yang dahulu (sewaktu hidup di dunia) kamu anggap (dapat memberikan syafa’atnya).” (QS. Al-An’am : 94).

وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا
“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman:
“Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan (dapat memberi syafa’at) itu.”
Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan.” (QS. Al-Kahf : 52).

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Ikutilah orang yang tiada minta balasan (atas misi risalah yang disampaikannya) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (dan mendatangkan kebaikan bagi kalian, jika kalian mengikuti petunjuk mereka, maka kalian akan memperoleh kebaikan dan kemenangan.)

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
(Lalu laki-laki itu berkata) :
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan aku (tidak ada yang mencegahku untuk menyembah-Nya, karena ada bukti-buktinya yang jelas, seharusnya kalian juga menyembah Dia)
dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan .?”

Setelah kita mengetahui ayat-ayat syafa’at .. Apakah layak kita menyembah tuhan-tuhan selain Alloh ..! Yang andaikan Dia berkehendak menimpakan keburukan kepada kita di dunia ini mau pun di akherat kelak, maka pertolongannya sudah tidak berguna lagi sedikit pun untuk menyelamatkan kita .?

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ
“Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Alloh, jika Dia Yang Maha Pemurah menghendaki kemudhorotan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfa’at sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku.” (QS. Ya Sin : 21-23).

ALLOH BERSUMPAH ATAS NAMA WAKTU DHUHA

PELAJARAN PENTING

Surat Adh-Dhuha memberikan pengajaran yang sangat mendalam tentang Berpikir Positif .. Di lain pihak, Sholat Sunnah Dhuha banyak dianggap sebagai Sholat Sunnah mohon rezki. Lantas apa hubungan Surat adh-Dhuha dan sholat dhuha .?

Arti dari Dhuha adalah saat matahari naik di pagi hari .. Oleh karena itu waktu ideal melaksanakan sholat Dhuha adalah ketika matahari naik sepenggalan atau seukuran bayangan tonggak berdiri, walaupun diperkenankan sejak mulai terbitnya matahari.

وَالضُّحَى
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

“dan demi malam, apabila telah sunyi.
Dan demi waktu matahari sepenggalan naik.” – (QS.93:1-2).

Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa sumpah Alloh swt yang tertulis dalam al-Qur’an, mengandung ma’na pengagungan.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sumpah Alloh dengan sebagian makhluk-Nya menunjukkan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar.

Menurut Muhammad Abduh, sumpah dengan dhuhâ (cahaya matahari di waktu pagi) dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya dan besarnya kadar keni’matan di dalamnya.

Itu erarti pada saat matahari naik di pagi hari (Dhuha) dan pada saat sunyinya malam (sepertiga malam) ada rahasia penting tentang ni’mat Alloh di dalamnya.

Mari kita renungkan satu persatu lanjutan ayat-ayatnya.

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

“Tuhanmu tiada meninggikan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,” – (QS.93:3).

Para mufassir sepakat bahwa latar belakang turunnya surat ini adalah keterlambatan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW Keadaan ini dirasakan berat oleh Rasul, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhan nya dan dibenci-Nya.

Ayat ini memberikan taujih (arahan) kepada Rasulullah saw agar tetap berpikir positif kepada Alloh, dan tidak menduga-duga hal negatif atau hal buruk seperti yang ada di pikiran orang-orang munafik dan musyrik.

“Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Alloh. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk …” (QS. 48:6).

Jika hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
Karena Alloh swt telah menjanjikan dalam al-Qur’an:

وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)” – (QS.93:4).

Sebab itu tetap berprasangka baiklah kepada Alloh swt, maka Dia akan memberikan karunia dan rohmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN PERNAH BERPUTUS ASA DARI ROHMAT ALLOH.
Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya Alloh mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa.”

Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan keni’matan akan Alloh berikan kepada kita di Hari Akhirat.
Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, akan dapat tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan beratnya kehidupan didunia.

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” – (QS.93:5).

Optimis dan yakin akan berjumpa Alloh di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira (terbayangkan), sungguh akan memuaskan hati kita.
Karunia Alloh kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Alloh di hari Akhirat yang jauh lebih luas dari lautan itu sendiri.

Bagaimana agar kita selalu berpikir positif .?
Ingatlah semua ni’mat-ni’mat Alloh yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى
وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى
وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu .?
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk .?
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan .?” – (QS.93:6-8).

Ingat, renungkan rasakan betapa luas ni’mat Alloh kepada kita .. Apa ni’mat Alloh yang paling Anda syukuri .?
Di antaranya adalah, Anda bisa melihat tulisan ini, yang melibatkan kerja milyaran sel, prajurit-prajurit Alloh swt.
Coba anda bayangkan bagaimana jika sel-sel itu tidak bekerja .?

Sebab itu hendaknya kita bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan.
Ni’mat sekecil apapun .! Dengan lisan ucapkan “Al-Hamdulillah”, disertai dengan pikiran dan perasaan kita.
Sampaikan rasa terima kasih tak berhingga seperti seorang pengemis yang berhari-hari kekurangan makan dan diberi makan oleh seorang kaya.
Atau seperti seorang pasien yang sudah berbulan-bulan menderita sakit dan disembuhkan dengan bantuan seorang dokter.

Yang Alloh berikan kepada kita lebih dari orang kaya dan dokter tersebut di atas, namun mengapa kita lupa mengucapkan terima kasih kepada-Nya .?
Pantas jika Alloh belum menambah ni’mat kepada kita, sementara ni’mat-ni’mat yang lalu saja belum kita syukuri sebagaimana mestinya.

Kalaupun ada kesulitan dan kekurangan dalam hidup kita, tetap saja karunia dan kelimpahan dari Alloh masih jauh lebih besar.
Lihatlah ke bawah, orang-orang yang lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita, lebih miskin dari kita.
Jangan selalu melihat ke atas. Melihat ke bawah akan menghaluskan jiwa, melembutkan perasaan, menghidupkan syukur dan mengobati stress, ketidak puasan dan putus asa.

Setelah bersyukur dengan lisan, pikiran dan perasaan, syukur berikutnya adalah syukur dengan ‘amal.

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” – (QS.93:9-10).

Seorang yang bersyukur akan memanfaatkan ni’mat-ni’mat yang diperolehnya untuk ibadah, amal sholih, dan perbuatan baik terhadap sesama.
“SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING BERMAFA’AT BAGI MANUSIA LAINNYA.”
Itulah yang dimaksud dalam ayat pamungkas surat ini :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap ni’mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” – (QS.93:11).

Wallohu a’lam bish-showab ….

KEUTAMAAN AL-FATIHAH

SURAT AL-FATIHAN ANUGRAH ALLOH YANG SANGAT BESAR

Alloh swt berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menganugrahkan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (yaitu surat al-Fatihah) dan (selain itu ada lagi surat-surat dan ayat-ayat) al-Qur’an yang agung.”
(QS. Al-Hijr: 87)

Ayat di atas mencerminkan betapa tinggi nilai surat al-Fatihah dibanding dengan surat-surat al-Qur’an lainnya.
Dalam hal ini Rosululloh saw bersabda:
“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Alloh tidak menurunkan di dalam Taurot, Injil maupun Zabur dan al-Qur’an suatu surat seperti as-Sab’ul-matsani (al-Fatihah).”
(HR. Tirmidzi).

Al-Qur’an adalah anugerah yang paling berharga bagi manusia, dan yang menerimanya pun manusia termulia, Rosululloh saw. bersabda:
“Sebaik-baik kamu adalah siapa yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Sayyidina Abu Bakar ra mengatakan:
“Siapa yang dianugerahi al-Qur’an kemudian menganggap ada seseorang yang dianugerahi keni’matan duniawi lebih utama darinya, maka dia telah meremehkan yang agung dan mengagungkan yang remeh.”

Sayyidina ‘Ali bin Abu Tholib ra mengatakan:

“Sesungguhnya aku telah mendengar Rosululloh saw bersabda bahwa Alloh swt berfirman:

“Aku membagi surat al-Fatihah menjadi dua bagian, setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, apa yang di mintanya akan Ku-perkenankan.”

Apabila ia membaca:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ۞

Alloh swt berfirman:

“Hamba-Ku memulai pekerja’annya dengan menyebut nama-Ku, maka menjadi kewajiban-Ku untuk menyempurnakan seluruh pekerja’annya serta memberkati seluruh ke’ada’annya”.

Apabila ia membaca:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞

Alloh swt menyambutnya dengan berfirman:

“Hamba-Ku mengetahui bahwa seluruh ni’mat yang dirasakannya bersumber dari-Ku, dan bahwa ia telah terhindar dari malapetaka karena kekuasa’an-Ku, Aku mempersaksikan kamu (hai para malaikat) bahwa Aku akan menganugerahkan kepadanya ni’mat-ni’mat di akhirat, disamping ni’mat-ni’mat duniawian dan akan Ku-hindarkan pula ia dari malapetaka ukhrowi dan duniawi”.

Apabila ia membaca:

الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ۞

Alloh swt menyambutnya dengan berfirman:

“Aku di akui oleh hamba-Ku sebagai Pembari rohmat dan sumber segala rohmat. Ku-persaksikan kamu (hai para malaikat) bahwa akan Ku-curahkan rohmat-Ku kepadanya sampai sempurna, dan akan Ku-perbanyak pula anugerah-Ku untuknya”.

Apabila ia membaca:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۞

Alloh swt menyambutnya dengan berfirman:

“Kupersaksikan kamu (hai para malaikat _ sebagaimana di akui oleh hamba-Ku) bahwa Akulah Raja, Pemilik hari Kemudian, maka pasti akan Ku-permudah baginya perhitungan pada hari itu, akan Ku-terima kebajikan-kebajikannya dan Ku-ampuni dosa-dosanya”.

Apabila ia membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Alloh swt menyambutnya dengan berfirman:

“Benar apa yang di ucapkan hamba-Ku, hanya Aku yang disembahnya. Ku-persaksikan kamu semua, akan Ku-beri ganjaran atas pengabdiannya, ganjaran yang menjadikan semua yang berbeda ibadah, dengannya ia akan merasa iri dengan ganjaran itu”.

Apabila ia membaca:

وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۞

Alloh swt berfirman:

“Kepada-Ku hamba-Ku meminta pertolongan dan perlindungan. Ku-pesaksikan kamu, pasti akan Ku-bantu ia dalam segala urusannya, akan Ku-tolong ia dalam segala kesulitannya, akan Ku-bimbing ia dalam sa’at-sa’at kritisnya”.

Apabila ia membaca:

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ۞

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ۞

Alloh swt menyambutnya dgn berfirman:

” Inilah perminta’an hamba-Ku, dan bagi hambaku apa yang dimintanya. Telah kuperkenankan bagi hamba-Ku perminta’annya, Ku-beri harapannya, dan Ku-tentramkan jiwanya dari segala yang menghawatirkannya”.

RAHASIA HURUF AL-FATIHAH

Penggalian rahasia surat al-Fatihah 7 ayat ini ditulis oleh Imam ar-Rozi, dalam Tafsir al-Kabirnya, beliau mengatakan:

“Apabila jumlah ayat surat al-Fatihah ini ada tujuh ayat, maka dari dua puluh delapan huruf Hijaiyyah, surat al-Fatihah tidak memuat hanya 7 huruf saja .. Tidak memuatnya 7 huruf, lantaran ke 7 huruf ini umumnya merupakan huruf awal atau menunjukkan kepada makna siksaan dan kehinaan ..

Seolah-olah Alloh swt, mengisyaratkan tidak dicantumkannya ke 7 huruf hijaiyah ini, diharapkan mereka yang membaca surat al-Fatihah akan terhindar dari siksaan dan celaan baik di dunia maupun di akhirat ..

Sedangkan ke 7 huruf hijaiyyah yang tidak tercantum dalam surat al-Fatihah adalah huruf-huruf tsa’, jim, kho’, za’, syin, dho’ dan fa’
.( ث , ج , خ , ز , ش , ظ , ف ).

1. Huruf TSA’ tidak tercantum dalam surat al-Fatihah karena merupakan huruf pertama dari kata “TSUBURO” yang berarti kebinasaan sebagaimana Alloh swt berfirman:

لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

“(Akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yg banyak.” (QS. Al-Furqon: 14).

2. Huruf JIM juga tidak dimuat lantaran merupakan huruf pertama dari neraka yang paling dahsyat siksanya yaitu JAHANNAM, sebagaimana Alloh swt berfirman:

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ

“Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang Telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.” (QS. Al-Hijr: 43).

3. Huruf KHO’ juga tidak tercantum dalam surat al-Fatihah karena merupakan huruf pertama dari kata al-KHIZYA yang artinya kerendahan, kehinaan, sebagaimana Alloh swt berfirman:

  إِنَّ الْخِزْىَ الْيَوْمَ وَالسُّوٓءَ عَلَى الْكٰفِرِينَ
 
“Sesungguhnya kehinaan dan azab hari Ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl: 27).

4. Huruf ZA’ dan SYIN juga tidak dicantumkan dalam surat al-Fatihah karena masing-masing merupakan huruf pertama dari kata ZAFIR yang berarti teriakan dan kata SYAHIQ yang berarti rintihan sebagaimana Alloh swt berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).” (QS. Hud: 106).

5. Huruf ZA’ juga tidak dicantumkan lantaran merupakan huruf pertama dari kata ZAQQUM yang berarti nama buah sebagai makanan penghuni neraka yang tumbuh di dasar neraka, di mana apabila buah tersebut dimakan, maka seluruh kulit dan dagingnya akan terkelupas saking panasnya. Sebagaimana Alloh swt berfirman:

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ طَعَامُ الأثِيمِ

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa.” (QS. Ad-Dukhon: 43-44).

6. Huruf DHO’ juga tidak dicantumkan karena merupakan salah satu huruf dari kata Ladho yang berarti api yang menyala-nyala sebagaimana firman-Nya:
كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَى نَزَّاعَةً لِلشَّوَى

“Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang mengelupas kulit kepala.” (QS. Al-Ma’rij: 15-16).

7. Terakhir, surat al-Fatihah juga tidak memuat huruf FA’ karena merupakan huruf pertama dari kata al-FIROQ yang berarti perpisahan, tidak mendapatkan pertolongan sebagaimana firman Alloh swt:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ

“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan.” (QS. Ar-Ruum: 14).

Mengakhiri ulasannya, Imam ar-Rozi mengatakan:
“Barangsiapa yang membaca surat al-Fatihah dengan keikhlasan, mengimaninya serta mengetahui rahasia kandungannya, maka ia akan selamat dari tujuh pintu siksa neraka Jahannam kelak.”

10 SIFAT KANDUNGAN AL-FATIHAH

Sebagian ulama berpendapat bahwa surat al-Fatihah memuat sepuluh sifat; lima sifat termasuk sifat Alloh, dan lima lagi sifat manusia.

Lima sifat Alloh swt yang termuat dalam surat al-Fatihah adalah:

1.      ARROHMAN (Maha Kasih), termaktub dalam ayat pertama, juga dalam ayat ke tiga.
2.      ARROHIM (Maha Sayang), termaktub dalam ayat pertama, Juga dalam ayat ke tiga.
3. AL-HAMDU (Maha Terpuji), termaktub dalam ayat kedua.
4.      ROBB (Maha Pemelihara), termaktub dalam ayat kedua.
5.      MALIK (Maha Raja pada hari-hari pembalasan), termaktub dalam ayat keempat.

Sedangkan lima sifat manusia yang disifati HABLUN-MINALLOH termaktub dalam surat al-Fatihah :

1.      UBUDIYAH (beribadah, tunduk, mengabdi) sebagaimana terkandung dalam ayat keempat.
“Hanya kepada-Mu kami beribadah, karena Engkau adalah Alloh yang harus disembah.”
2.      ISTI’ANAH (memohon perlindungan), sebagaimana terkandung dalam ayat keempat.
“Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, karena Engkau adalah Robb (Tuhan yang mengatur dan memelihara).”
3.      THOLABUL-HIDAYAH (meminta petunjuk), sebagaimana terkandung dalam ayat  keenam.
“Tunjukkan kami ke jalan yang lurus, karena Engkau Maha Rohman (Maha Kasih).”
4.      THOLABUL-ISTIQOMAH (meminta keteguhan keyakinan dan pendirian), sebagaimana terkandung dalam ayat ketujuh.
“Berikan kepada kami keteguhan berupa jalan orang-orang yang Engkau berikan keni’matan, bukan jalan orang-orang yang Engkau benci atau Engkau sesatkan karena Eukau Maha Rohim (Maha Sayang).”
5.      THOLABUN-NI’MAH (memohon ni’mat), sebagaimana terkandung dalam ayat ketujuh juga.
“Berikan kepada kami jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri ni’mat, karena Engkau adalah Tuhan Yang Merajai hari-hari pembalasan.”

Selain itu .. manusia terdiri dari lima unsur yang harus dapat ditundukkan dan ditaklukkan agar manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat:

1.      Badan (anggota tubuhnya).
2.      Nafsus-Syaithoniyyah (dirinya yang cenderung mengikuti syetan).
3.      Nafsus-Syahwatiyah (nafsu syahwatnya).
4.      Nafsul-Ghodhobiyah (nafsu yang cenderung untuk cepat marah).
5.      Aqli (akal pikirannya).

Kelima unsur yang terdapat pada diri manusia ini juga dapat ditundukkan dengan lima sifat Alloh yang tertera dalam surat al-Fatihah:

1.      Tubuh atau badan manusia sifatnya keras dan kasar. Maka ia harus ditundukkan dengan sesuatu  yang lebih keras, dengan jalan diberikan rasa takut akan datangnya sesuatu yang lebih kasar dan lebih keras sehingga dengan demikian, kekerasan tubuhnya ini berubah menjadi lemah dan tunduk  untuk melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sifat Alloh yang dapat menundukkan keras dan kasarnya anggota tubuh manusia ini adalah sifat al-Malik (Yang merajai pada hari-hari pembalasan).

2.      Kecenderungan manusia untuk mengikuti syetan (Nafsus-Syaithoniyah) condong pada pengerusakan juga dapat ditundukkan dengan jalan banyak berbuat kebaikan dan pemeliharaan yang berupakan nilai peneladanan dari sifat Robb, sehingga dengan demikian ia akan meninggalkan segala bentuk kemaksiatannya dan berbalik untuk selalu taat kepada Alloh.

3.      Kecenderungan syahwat binatangnya juga dapat ditundukkan dengan sifat ar-Rohim (Maha Sayang), bahwa Alloh Maha sayang kepada semua makhluknya. Oleh karena itu, tidaklah pantas manusia yang lemah ini untuk berbuat mengumbar syahwatnya, karena Alloh yang serba Maha saja maha sayang kepada semua makhluk-Nya. Dengan demikian, tumbuh rasa cinta dan sayang sehingga tidak mengumbar kecenderungan syahwatnya.

4.      Nafsu untuk selalu marah dan bertindak buas juga dapat ditutup dengan sifat ar-Rohman, bahwa Alloh Maha Kasih kepada seluruh makhluk-Nya .. maka alangkah sangat tidak pantas dan hina manusia yang lemah ini untuk bertindak mengumbar kemarahan dan tindakan buasnya.

5.      Akal manusia yang kadang ‘nakal’ juga dapat ditundukkan dengan nama Alloh, bahwa manusia harus ingat di atas dunia ini banyak hal yang tidak dapat diukur oleh akal manusia.
Karena itu, akal bukanlah Penghukum segala sesuatu, karena ia sangat terbatas dan sempit.
Karena akal adalah sesuatu yang terbatas, maka ia harus tunduk kepada Yang Tidak Terbatas ya’ni Alloh.
Dengan demikian, akal akan selalu tunduk di bawah kekuasaan Alloh, bukan sebaliknya. Dalam al-Qur’an misalnya dikatakan:
“Ingatlah ..! dengan jalan mengingat Alloh, hati dan pikiran akan tenang” (QS. Ar-Ra’du ayat 28).

Mengapa dalam surat al-Fatihah hanya memuat lima sifat Alloh saja .?
Tentu jawabannya, ada rahasia dan ma’na yang terselubung.
Di antaranya adalah seperti yang telah diuraikan diatas. Selain itu, rahasia lainnya mengapa hanya ada lima sifat Alloh yang tertuang dalam surat al-Fatihah ini adalah bahwa Islam dibangun dalam lima dasar kuat (rukun Islam).

Kelima unsur Islam tersebut adalah:

1.      Syahadat, kesaksian, bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Apabila diperhatikan dengan seksama, aspek syahadat ini merupakan penjelmaan dari nama Alloh. Bahwa dengan syahadat ini, Alloh hendak menguatkan bahwa ingat dengan Tuhan kalian manusia yang telah menjadikan dan menciptakan kalian beserta seluruh alam ini, ya’ni Alloh.

Mengenal Alloh adalah pokok pertama yang harus diketahui oleh seseorang yang baru masuk Islam. Oleh karena itu, orang yang akan masuk Islam diharuskan mengucapkan dua kalimah syahadat, sebagai pengajaran dan pelajaran bahwa Tuhannya itu adalah Alloh. Bahkan, bukan hanya mereka yang baru masuk Islam. Seorang muslim yang sudah lama dengan Islamnya pun tetap harus selalu mengingat Alloh.

2.      Mendirikan sholat.  Apabila diperhatikan, sholat juga merupakan penjelmaan dari sifat Robb. Kata Robb terambil dari kata at-tarbiyyah yang artinya pendidikan dan pelatihan. Manusia harus melatih, mendidik keimanannya dengan jalan melaksanakan sholat.
Sholat adalah upaya untuk melatih keimanan seseorang agar lebih mantap bahwa Alloh itu adalah Robb, Tuhan yang wajib disembah.
Karena sholat merupakan pelatihan dan pendidikan bagi keimanannya, maka dalam ajaran Islam, harus dilakukan minimal sehari semalam lima kali.

3.      Mengeluarkan zakat merupakan penjelmaan dari sifat ar-Rohman (Maha Pengasih). Dengan berzakat, hakikatnya melatih manusia untuk lebih menumbuhkan rasa kasihnya dengan sesama muslim lainnya yang membutuhkan pertolongan dan bantuan (fakir miskin). Dengan sering dikeluarkannya zakat, ajaran Islam bertujuan agar aspek kasihnya makin terasah dan terasuh.

4.      Puasa pada bulan Romadhon merupakan penjelmaan dari sifat ar-Rohim (Maha Sayang). Dengan berpuasa  pada bulan Romadhon, manusia dilatih untuk lebih menumbuhkan rasa sayangnya kepada sesama manusia lain. Dengan tidak makan dan minum seharian penuh, tentu diharapkan agar tumbuh rasa sayang kepada sesamanya yang boleh jadi rasa laparnya itu bukan sebulan sekali dalam setahun saja, akan tetapi tiap hari dan tiap detik.
Dengan merasakan rasa lapar itu, maka diharapkan tumbuh rasa sayang kepada sesama, sayang untuk membantu, menolong dan memberikan hak-haknya.

5.      Menunaikan ibadah haji. Dengan ibadah haji ini adalah penjelmaan dari sifat al-Malik (Yang Merajai hari-hari dunia dan pada hari kiamat). Karena, orang yang melakukan ibadah haji, hakikatnya adalah sedang berziarah ke alam akhirat. Ia pergi meninggalkan tempat tinggalnya, meninggalkan putra putri dan keluarganya juga meninggalkan seluruh hartanya. Pakaian, jabatan dan kedudukannya pun turut dilepaskan. Yang menempel pada dirinya hanyalah dua helai kain putih sebagai simbol kematian, kain kafan.

Tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting rambut, tidak boleh itu dan ini, karena hakikatnya ia sedang mati, dan sebagaimana layaknya orang mati, tidak dapat bergerak, tidak dapat memotong rambut dan lainnya.

Orang yang ibadah haji juga dilarang untuk bersepatu gagah, bersendal mewah, ia harus datang dengan kaki ‘telanjang’ tidak beralaskan. Kalau pun memakai alas kaki, tidak boleh menutup mata kakinya. Semua ini adalah gambaran dari hari kiamat kelak.

Dengan ibadah haji ini, manusia diasah untuk lebih mengingat bahwa Alloh itu al-Malik, yang menguasai dan merajai pada hari kiamat kelak, karenanya tidak boleh sombong dan tidak boleh berbuat sekehendak hatinya.

Selain rahasia di atas, rahasia lainnya dari lima sifat Alloh dalam surat al-Fatihah ini adalah
Bahwa panca indera manusia pun ada lima.

1.      Penglihatan (al-bashor), sebagaimana firman-Nya:
“Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai penglihatan”
2.      Pendengaran (as-sam’u), sebagaimana firmanNya:
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Alloh petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.
3.      Rasa (adz-dzauq), sebagaimana firmanNya:
“Makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholeh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
4.      Penciuman (asy-syamm), sebagaimana firmanNya:
“Tatkala kafilah itu Telah ke luar (dari negeri Mesir) Berkata ayah mereka: “Sesungguhnya Aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”.
5.      Sentuhan (al-lams), sebagaimana firmanNya:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”.

Dengan menyebut hanya lima sifat Alloh dalam surat al-Fatihah ini, disesuaikan dengan panca indera manusia yang lima ini. Dengan demikian, lima sifat Alloh ini dapat menjaga panca indera, sekaligus dapat menepis segala madhorot dan hal-hal negatif yang akan menimpa panca indera ini, tentunya apabila kelima sifat Alloh dipahami arti dan maksudnya dengan baik.

WAKTU

IMG-20130402-WA0001Alloh swt bersumpah dengan waktu:
وَالْعَصْرِ
“Demi waktu”

Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk berkumpul dn berbincang-bincang mengenai berbagai hal , dn tidak jarang perbincangan mereka itu terlontar kata-kata yg mempersalahkan waktu atau masa ..
“Waktu sial” demikian sering kali ucapan yg terdengar bila mereka gagal dn “Waktu baik” jika mereka berhasil ..

Alloh swt melalui sumpah-Nya:
“DEMI WAKTU” ..
Untuk membantah anggapan mereka ..
Tidak ada sesuatu yang dinamai waktu sial atau waktu mujur , semua waktu sama ..
Yg berpengaruh adalah kebaikan dn keburukan usaha seseorang ..
Dn inilah yg berperanan dalam baik atau buruknya kesudahan suatu pekerjaan ..

Waktu selalu bersifat netral ..
Waktu adalah milik Alloh ..
Di dalam waktu Alloh melaksanakan segala perbuatan-Nya .. Mencipta , memberi rizki , memuliakan dn menghinakan dn lain sebainya ..

Kalau demikian ..
Waktu tidak perlu dikutuk ..
Tidak boleh juga dinamai sial atau mujur ..
“Jangan mencerca waktu , karena Alloh adalah pemilik waktu..”

MANUSIA DALAM KERUGIAN

Alloh yang menciptakan manusia , memberitahukan kpd yg bersangkutan bahwa:
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia di dalam kerugian.”

Al-insan/manusia terambil dari akar kata yg dapat berarti gerak atau dinamisme , lupa , merasa bahagia atau senang ..
Ketiga arti ini menggambarkan sebagian dari sifat serta ciri khas manusia ..
Ia bergerak , seyogiyanya memiliki dinamisme ..
Ia mempunyai sifat lupa , seyogiyanya melupakan kesalahan-kesalahan orang lain ..
Ia juga memiliki rasa bahagia dn senang , seyogianya selalu berusaha memberi kesenangan dn kebahagiaan kpd diri , jenis-jenis manusia tanpa kecuali , dn mahluk-mahluk lainnya ..

Gabungan hurf “la dn fiy” la mengisaratkan sumpah dn fi mengandung ma’na wadah atau tempat ..
Dgn kata tersebut tergambar bahwa seluruh totalitas manusia berada di dalam satu wadah kerugian ..

Khusr mempunyai banyak arti , antara lain rugi , sesat , celaka , lemah , tipuan dn sebagainya yg mengarah kpd ma’na-ma’na negatif atau tidak di senangi oleh siapapun ..

Manusia di dalam dirinya seakan-akan diliputi kerugian dalam satu tempat atau wadah ..
Jika demikian waktu harus dimanfaatkan ..
Apabila waktu tidak di isi maka ia akan rugi ..
Bahkan kalau pun di isi tetapi dgn hal-hal yg negatif , maka manusia itulah yg diliputi oleh kerugian ..

Dari sini ditemukan sekian banyak hadits Nabi saw yg memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dn mengaturnya sebaik mungkin ..
“Dua ni’mat yang sering di sia-siakan banyak manusaia , kesehatan dn waktu ..”

ORANG-ORANG BERIMAN

Ayat yg lalu menegaskan bahwa semua manusia diliputi oleh kerugian yg besar dn beraneka ragam ..
Ayat ini mengecualikan meraka yg melakukan 4 kegiatan pokok yaitu:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal dengan amalan-amalan yang sholeh yang bermanfaat , serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran dan ketabahan.”

Iman sangat sulit digambarkan hakekatnya ..
Ia bisa dirasakan oleh seseorang , tetapi sulit melukiskan perasaan itu ..

Iman bagaikan rasa kagum atau cinta ..
Hanya di rasakan oleh pemiliknya ..
Dn dalam saat yg sama si pecinta atau pengagum selalu diliputi oleh tanda tanya:
” Apa gerangan sikap yg di cintai dn di kagumi ini terhadap diriku yg mengagumi dn mencintai ..?”

Seorang yg beriman , bagaikan sedang mendayung perahu di tengah samudra ..
Dgn ombak dn gelombangnya yg dahsyat dn bergemuruh ..
Pada saat berada ditengah samudra nampak nun jauh disana pulau yg dituju ..
Timbul dalam benak si pendayung suatu ketidak pastian yg menimbulkan tanda tanya :
“Apakah aku dapat tiba di pulau yg kutuju itu ..?”
Demikian itulah iman pada tahap-tahap pertama ..
Hal ini pernah di alami oleh Nabi Ibrohim as mengenai keimanan tentang hari kemudian ..
Gejolak hati beliau as yg diliputi oleh tanda tanya itu di ungkapkannya kpd Alloh:
(Bacalah Qs. 2:260)

Para ulama membagi ajaran agama kpd dua sisi; pengetahuan dn pengamalan ..
Aqidah yg di imani merupakan sisi pengetahuan , sedang syari’at merupakan sisi pengamalan ..
Atas dasar ini dapat di fahami “orang yang beriman” adalah yg memiliki pengetahuan mengenai kebenaran ..
Puncak kebenaran adalah pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama yg bersumber dari Alloh swt ..
Ini berarti sifat pertama yg dapat menyelamatkan seseorang dari kerugian adalah pengetahuan tentang kebenaran ..

ORANG-ORANG SHOLEH

Kata عمل ‘amal/pekerjaan , mengambarkan penggunaan daya manusia , daya pikir , fisik , hati , dan daya hidup yang dilakukan dengan sadar oleh manusia dan jin ..
Kata صالح sholeh lawan kata rusak .
Dengan demikian kata sholeh diartikan sebagai “tiadanya kerusakan”. kata ini diartikan juga “bermanfaat dan sesuai” ..

Amal sholeh adalah pekerjaan yang apabila dilakukan terhenti menjadi tiada , atau kerusakan (mudhorot) , akibat dari pekerjaan tersebut ..
Dengan dikerjakannya amal sholeh diperoleh manfa’at dan kesesuaian ..
Amal sholeh adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi , keluarga , kelompok dan manusia secara keseluruhan ..
Amal sholeh adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal , al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw ..

Melakukan suatu upaya agar nilai-nilai yang terdapat pada sesuatu tetap lestari , sehingga ia dapat berfungsi sebagaimana mestinya dinamakan “amal sholeh” ..
Apabila ada suatu nilai yang tidak terpenuhi , maka manusia dituntut agar membawa nilai yang hilang itu , dan -memasang-nya kembali agar dapat berfungsi ..
Katika itu , manusia tadi dinamakan telah melakukan ishlah ..

Setiap amal sholeh harus memiliki dua sisi ..
Sisi pertama: adalah wujud amal , yang biasanya terlihat di alam nyata ..
Di sini orang lain dapat memberikan penilaian sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya ..
Penilaian baik diberikan manakala kenyataan yang dilihatnya itu menghasilkan manfaat dan menolak mudhorot ..
Sisi kedua: adalah motif pekerjaan itu , sisi ini hanya Alloh swt yang dapat menilainya ..

Dari ‘Umar bin Khotthob ra, Rosululloh saw bersabda:
“Setiap pekerjaan sesuai dengan niatnya.”
(HR. Bukhori Muslim)

Dengan demikian lebih jauh kita dapat berkata bahwa di sisi Alloh swt, nilai suatu pekerjaan bukan semata-mata dari bentuk lahiriah yang tampak di alam nyata ..
Tetapi yang lebih penting adalah niat pelakunya ..
Karena itu dapat di mengerti mengapa kalimat “amal sholeh” banyak sekali digandengkan dengan “iman” , karena iman inilah yang menentukan arah dan niat seseorang ketika melakukan amal ..

Di samping itu tidak seorangpun manusia yang dapat memastikan diterima atau ditolaknya suatu amal , karena manusia hanya dapat melihat satu sisi dari amal itu , yaitu sisi yang nyata saja ..

Apabila sesorang telah mampu melakukan amal sholeh disertai dengan iman , maka ia telah memenuhi dua dari empat hal yang harus dipenuhinya dalam rangka membebaskan dirinya dari kerugian total ..
Namun dengan iman dan amal sholeh seseorang baru membebaskan dirinya dari setengah kerugian , ia masih mempunyai tugas dua hal lainnya agar ia benar-benar selamat , beruntung serta jauh dari segala kerugian ..
Yaitu: تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ..

WASIAT KEBENARAN

Kata تَوَاصَوْا menyuruh secara baik ..
Wasiat hendaknya dilakukan secara bersinambung bahkan mungkin juga yang menyampaikan melakukannya secara terus menerus dan tidak bosan-bosannya menyampaikan kandungan wasiat itu kepada yang diwasiati ..

Kata الْحَقِّ sesuatu yang mantab tidak berubah ..
Apapun yang terjadi , Alloh swt adalah puncak dari yang Haq , karena Dia tidak mengalami perubahan ..
Nilai-nilai agama juga haq , karena nilai-nilai tersebut harus selalu mantap tidak dapat diubah-ubah. ..
Sesuatu yang tidak berubah , sifatnya pasti , dan sesuatu yang pasti kebenarannya dari sisi bahwa ia tidak mengalami perubahan ..

Sebagian ulama’ memahami kata al-haq pada ayat ini dalam arti Alloh , ya’ni manusia hendaknya saling ingat-mengingatkan tentang wujud , kuasa , dan ke-esa-an Alloh swt , serta sifat-sifatnya yang lain ..
Ada juga yang berpendapat bahwa al-haq yang dimaksud adalah al-Qur’an , ini berdasar riwayat yang di sandarkan kepada Nabi Muhammad saw ..
Sebagian lagi memahami kata al-haq di sini sebagai sesuatu yang mantab , tidak berubah baik berupa ajaran agama yang benar , petunjuk akal yang pasti , maupun pandangan mata yang nyata tampak ..

Al-haq tentunya tidak secara mudah di ketahui atau diperoleh ..
Al-haq juga beraneka ragam , karena itu harus dicari dan dipelajari ..
Pandangan mata dan pikiran harus di arahkan kepada sumber-sumber ajaran agama , sebagaimana harus pula di arahkan juga kepada obyek-obyek yang diduga keras dapat menginformasikan haq (kebenaran) itu , dalam hal ini alam raya beserta mahluk yang menhuninya ..

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kata al-haq dapat mengandung arti pengetahuan ..
Ulama mengatakan:
Mencari kebenaran menghasilkan ilmu ..
Mencari keindahan menghasilkan seni ..
Mencari kebaikan menghasilkan etika ..

Saling berwasiat mengenai kebenaran yang di perintahkan ini mengandung ma’na bahwa seseorang berkewajiban untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain serata mengajarkannya kepada orang lain ..

Sesorang belum lagi terbebaskan dari kerugian bila sekedar beriman , beramal sholeh , dan mengetahui kebenaran itu untuk dirinya , tetapi ia berkewajiban pula untuk mengajarkannya kepa orang lain ..
Selanjutnya sekaligus syarat yang dapat membebaskan manusia dari kerugian total adalah saling wasiat-mewasiati mengenai kesabaran ..

WASIAT KESABARAN

Sabar dalah menahan kehendak nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik ..
Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok: Sabar jasmani dan rohani ..

Yang pertama: adalah kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh , seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan , atau sabar dalam peperangan membela kebenaran , termasuk juga sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani , seperti penyakit , penganiayaan dan semacamnya ..

Yang kedua: kesabaran rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada keburukan , seperti sabar menahan amarah , atau menahan nafsu seksual yang bukan pada tempatnya ..

Hampir seluruh keadaan dan situasi yang dihadapi manusia membutuhkan kesabaran , karena situasi dan keadaan tersebut tidak keluar dari dua kemungkinan ..

Yang pertama: sejalan dengan kecenderungan jiwanya , seperti ingin sehat , ingin kaya , meraih popularitan dan sebagainya ..
Disini kesabaran dituntut bukan saja guna memperoleh apa yang disenangi itu , tetapi juga ketika setelah memperolehnya ..
Pada saat itu manusia harus mampu menahan diri agar kecenderungan tersebut tidak mengantarkannya melampaui batas , sehingga membawanya hanyut terjerumus dalam bahaya ..

Yg kedua: tidak sejalan dengan kecenderungan jiwa manusia yang selalu ingin terbawa kepada debu tanah , ya’ni terbawa oleh panggilan yang rendah (bukah Ruh Ilahi) , yaitu kecenderungan yang berakibat malapetaka , berupa gangguan dari orang lain , keluarga atau harta benda ..
Disini manusia membutuhkan kesabaran dan kehendak yang kuat , dalam arti ia dituntut untuk menekan gejolak nafsunya , baik ia mampu membalas maupun ia tidak mampu ..

Kedua wasiat kebenaran dan kesabaran mengandung ma’na bahwa:
Kita dituntut mengembangkan kebenaran dalam diri kita masing-masing , kita pun di tuntut mengembangkannya pada diri orang lain ..

Manusia disamping sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial ..
Anda dituntut untuk memperhatikan saya , sebagaimana saya dituntut untuk memperhatikan anda ..
Saya berkewajiban mengingatkan anda , dan anda diharap menerima peringatan itu , tetapi di saat yang sama anda harus mengingatkan saya , dan saya pun dengan senang hati menerima peringatan anda ..

Kita semua dalam satu kesatuan , topang menopang dalam satu perjuangan serta dukung mendukung , karena kalau tidak , bukan hanya anda yang rugi , saya pun juga ikut rugi ..

Surat al-‘Asr ini secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengandalkan imannya saja , tetapi juga amal sholeh .. bahkan iman bersama amal sholeh pun masih belum cukup tanpa disertai ilmu , karena amal sholeh bukan asal beramal ..

Amal beraneka ragam , kali ini suatu amal dianjurkan , di kali lain diwajibkan , bahkan mungkin juga sebaliknya justru terlarang ..
Apabila suatu ketika kita hendak sholat , atau sedang sholat , tiba-tiba kita melihat suatu bahaya yang mungkin akan menimpa seseorang , maka ketika itu sholat harus kita tangguhkan , demi memelihara jiwa atau keselamatan orang tersebut ..

Sungguh indah ungkapan seorang ulama’ tentang keterkaitan antara iman dan ilmu:
“Ilmu memberi kekuatan yang menerangi jalan kita , dan iman menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiwa kita ..
Ilmu menciptakan alat-alat produksi dfan akselerasi , sedang iman menetapkan haluan yang dituju serta memelihara kehendak yang suci ..”

Sekali lagi , menurut surat al-‘Ashr ini , iman , amal sholeh dan ilmu pun masih belum memadai ..
Memang ada orang yang merasa cukup serta puas dengan ketiganya , tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan itu dapat menjerumuskannya , ada pula yang merasa jenuh ..
Oleh sebab itu ia perlu selalu menerima nasihat agar tabah , sabar sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman , amal dan pengetahuannya ..

Demikian surat al-‘Ashr memberi petunjik bagi manusia ..
Sungguh tepat pendapat Imam Syafi’i :
“Kalaulah manusia memikirkan kandungan surat ini , maka sesungguhnya cukuplah ia menjadi petunjuk bagi kehidupannya..”

Maha benar Alloh dengan segala firmannya .

HARI KIAMAT & HARI PENGADILAN

HARI KIAMAT

الْقَارِعَةُ
مَا الْقَارِعَةُ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ

“Hari kiamat itu akan datang , yang dinamai juga AL-QOORI’AH ..
Ia sangat sulit untuk untuk digambarkan , karena saking dahsyatnya ..
yaitu suara yang keras mengetuk dada sampai ke ulu hati hingga menggoncangkan akal pikiran dan sangat memekakkan telinga ..
Ketika itulah terjadi ketakutan dan kekalutan yang luar biasa ..
Berlarian kesana kemari saling tabrak dan tindih menindih ..

Apakah Al-QOORI’AH itu ..?
Ia sangat sulit kamu jangkau hakekatnya ..
Walaupun kamu berusaha sekuat kemampuanmu ..
Di sana terjadi hal-hal yang tidak dapat dicakup penjelasannya oleh bahasa manusia ..
Tidak juga dapat tergambar kedahsyatannya oleh nalar mereka ..
Suatu peristiwa yang besar dan mencekam ..

Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran , karena banyaknya dan bertumpuknya manusia serta lemahnya mereka , serta karena sebagian besar mereka terjerumus dalam api yang menyala-nyala ..

Dan gunung-gunung yang kamu lihat demikian kokoh dan tegar , menjadi seperti bulu-bulu yang demikian ringan , dan yang di hambur-hamburkan , bagian-bagiannya terpisah-pisah bertebangan bagaikan tertiup angin .. ”
(101:1-5)

HARI PENGADILAN

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ
نَارٌ حَامِيَةٌ

Ketika itu semua manusia akan di hadapkan pada satu pengadilan yang sangat teliti lagi adil ..
Amal-amal mereka akan di timbang dalam timbangan yang haq ..

Maka adapun orang-orang yang berat timbangan-timbangan kebaikannya maka tujuannya adalah tempat yang tinggi , dan dia berada dalam satu kehidupan yang memuaskan , hingga dia tidak mengharap lagi sesuatu yang lain ..

Dan orang-orang yang ringan timbangan-timbangan kebaikannya di bandingkan dengan timbangan kejahatannya , maka dia berada dalam satu kehidupan yang sangat buruk , dan tujuannya adalah neraraka Hawiyah ..

Dan apakah yang menjadikan kamu tahu ..
Walau kamu berusaha sekuat tenaga , apakah Hawiayah itu .?
Siapapun kamu tidak akan dapat menjangkau betapa dahsyat neraka Hawiyah itu ..
Sekedar untuk menggambarkan sekilas , sebatas yang kamu mengerti ..
Ia adalah api yang berkobar sangat besar lagi sangat panas , yang tingkat kepanasannya tidak akan pernah dicapai jenis api yang lain ..
Walaupum api yang lain itu terus-menerus menyala-nyala dan selalu diisi dengan bahan bakar ..”
(101: 6-11)

Amal kebaikan dan kejahatan , masing-masing orang ditimbang dengan ketepatan timbangan ..
Mana yang berat , itulah yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia ..

Awan Tag