Archive for the ‘QI SANAK’ Category

HARI JUM’AT

HARI JUM’AT

Jum’at adalah hari keenam dalam satu pekan. Kata Jumat diambil dari Bahasa Arab, Jumu’ah yang berarti ramai, yaitu ramai orang (kaum Muslim) di masjid karena pada hari Jumat umat Islam beribadah sholat Jum’at yang harus dilakukan di masjid secara berjamaah.

Nama lain lagi untuk hari ini adalah Sukro, yang diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti planet Venus, mirip dengan pengertian dalam bahasa-bahasa di Eropa.

Nama-nama hari dalam bahasa Indonesia semuanya diambil dari bahasa Arab, kecuali Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Minggu dari Domingo (Portugis). Sabtu dari “Sabbath”, hari ibadah Bani Israil.
1. Minggu = Ahad = Pertama = Hari Pertama
2. Senin = Itsnain = Dua = Hari Kedua
3. Selasa = Tsalatsa = Tiga = Hari Ketiga
4. Rabu = ‘Arba’ah = Empat = Hari Keempat
5. Kamis = Khomsah = Lima = Hari Kelima
6. Jumat = Jama’ah = Kumpulan = berkumpul di masjid/
7. Sabtu = Sabbat = hari ibadah Bani Israel.

Hari Jum’at adalah sayyidul ayyam, yaitu penghulu semua hari. Hari Jum’at mempunyai keistemewaan dibandingkan hari lain. Menurut sebagian riwayat, kata Jum’at diambil dari kata jama’a yang artinya “berkumpul”, yaitu hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rohmah.

Kata Jum’at juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan –sholat Jum’at. Itulah Asal Nama Hari Jumat.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya sholat Jum’at, yaitu sholat Zhuhur berjamaah pada hari Jum’at –dikenal juga dengan sebuta Jum’atan. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah.

Konon pada masa sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw , kaum Quraisy belum mengenal hari jum’at ..
Hari Jum’at dimasa Jahiliyah dikenal dengan nama الْعَرُوبَة al ‘arubah . karena mereka mengagungkannya , dan orang pertama yang menyebut al-‘arubah adalah seorang tokoh besar bangsa Arab bernama Ka’ab bin Luai ..
Pada hari ‘arubah itu , orang-orang Quraisy biasa berkumpul di tempatnya untuk mendengarkan apa saja yang disampaikan olehhnya ..
Suatu ketika ia ceramah seraya memberikan nasihat dan memerintahkan mereka untuk mengagungkan Tanah Haram , dan ia juga mengabarkan kepada mereka bahwa , dari sana akan ada Nabi yang diutus , dan ketika pada masanya sudah diutus kelak , ia memerintahkan kepada kaumnya untuk taat dan beriman kepada Nabi itu ..

Dari sini jelaslah bahwa hari Jum’at belum masyhur pada masa jahiliyah ..
Maka tepatlah yang diungkapkan oleh Ibnu Hazim rohimahulloh bahwa:
“Jum’at adalah nama Islami yang tidak dikenal pada masa jahiliyah. Pada masa itu, hari Jum’at dinamakan dengan al-‘arubah.”

HAKIKAT JUM’AT

Kata (الْجُمُْعَة) dalam bahasa Arab berasal dari kata (جَمَعَ الشَّيْءَ) yang berarti mengumpulkan sesuatu yang terpisah menjadi satu. Dan kata (الْجَمْعُ) bisa bermakna jama’ah, yakni kumpulan manusia. Dan Muzdalifah disebut (الْجَمْعُ) karena manusia (orang-orang yang berhaji) berkumpul di tempat tersebut. Demikian pula hari dikumpulkannya manusia pada hari kiamat disebut (يَوْم الْجَمْعِ).

Semua yang berasal dari kata ini, kembali kepada makna “mengumpulkan” atau “berkumpul”. Dan hari Jum’at –yang sebelumnya oleh orang-orang Arab disebut ‘Arubah- dinamakan (الْجُمُعَة) karena manusia (kaum muslimin) berkumpul untuk menunaikan sholat Jum’at. Kata (الْجُمُعَةُ) juga sering digunakan untuk mengungkapkan kata sholat yang dilakukan pada hari Jum’at (waktu Dhuhur).[1]

Yang dimaksud dengan Jum’at di sini, yaitu nama salah satu hari dari tujuh hari dalam satu pekan yang berada antara hari Kamis dan hari Sabtu. Hari Jum’at ini adalah hari yang agung dan termulia diantara hari-hari lain. Pada hari itu terdapat keistimewaan dan keutamaan serta keterkaitan dengan sebagian hukum-hukum dan adab-adab syari’at sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.

KEUTAMAAN HARI JUM’AT

Hari Jum’at memiliki beberapa keutamaan sebagaimana tertuang dalam beberapa hadits Nabi saw, diantaranya:

1. Hari Jum’at adalah hari yang paling utama diantara hari-hari lainnya.

2. Nabi Adam as diciptakan pada hari Jum’at dan pada hari ini pula diwafatkan.
Pada hari ini ia dimasukkan ke dalam sorga dan pada hari ini pula dikeluarkan dari sorga.

3. Hari kiamat akan terjadi pada hari Jum’at.
Abu Huroiroh ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقَوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَة .
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at; pada hari ini Adam diciptakan, pada hari ini (Adam Alaihissalam) dimasukkan ke dalam sorga, dan pada hari ini pula ia dikeluarkan dari sorga. Dan tidaklah kiamat akan terjadi kecuali pada hari ini (jum’at).” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Aus bin Aus ra dengan lafal:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ .
“Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at ; pada hari ini Adam diciptakan, pada hari ini pula ia dimatikan, pada hari ini ditiupkan sangkakala (tanda kiamat), dan pada hari ini pula hari kebangkitan.”

4. Hari Jum’at merupakan keistimewaan dan hidayah yang Alloh berikan kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat lain sebelumnya.

Abu Huroiroh ra, meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:

نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فَهَدَانَا اللهُ لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ هَدَانَا اللهُ لَهُ –قَالَ: يَوْمُ الْجُمْعَةِ-، فَالْيَوْمُ لَنَا وَغَداً لِلْيَهُوْدِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى.
“Kita adalah umat yang datang terakhir tapi paling awal datang pada hari kiamat, dan kita yang pertama kali masuk sorga, cuma mereka diberi Kitab sebelum kita sedangkan kita diberi Kitab setelah mereka.
Kemudian mereka berselisih, lalu Alloh memberi kita hidayah terhadap apa yang mereka perselisihkan. Inilah hari yang mereka perselisihkan, dan Alloh berikan hidayah berupa hari ini kepada kita.
Maka hari (Jum’at) ini untuk kita (ummat Islam), besok (Sabtu) untuk umat Yahudi dan lusa (Ahad) untuk umat Nasrani.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dari Hudzaifah ra dengan lafadz:

أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ اْلأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَاْلأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَاْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيَّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ.
“Alloh telah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jum’at, maka umat Yahudi memperoleh hari Sabtu, umat Nasrani memperoleh hari Ahad. Lalu Alloh mendatangkan kita dan memberi kita hidayah untuk memperoleh hari Jum’at.
Maka Alloh menjadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad, dan mereka (umat sebelum kita) berada di belakang kita pada hari kiamat. Kita datang paling akhir di dunia, tetapi paling awal datang di hari kiamat yang telah ditetapkan untuk mereka sebelum diciptakan seluruh makhluk” (HR. Muslim).

5. Pada hari Jum’at ini terdapat saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir-akhir siangnya setelah Ashar.

Berdasarkan riwayat dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيْفَةٌ.
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat, yaitu seorang muslim tidaklah ia berdiri sholat dan meminta kebaikan kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya.”
Lalu Beliau berkata:
”Dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Jabir ra, Nabi saw bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada saat-saat ini meminta sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya.
Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud).

PERKARA-PERKARA YANG DISYARI’ATKAN PADA HARI JUM’AT

Hari Jum’at, disamping memiliki keutamaan sebagaimana telah disebutkan di atas, Alloh swt telah menetapkan syari’at khusus untuk hari itu, yaitu:

1. Sholat Jum’at.

Mengenai sholat Jum’at ini akan dikupas beberapa hal berikut ini:
a). Kewajiban menunaikan sholat Jum’at.
Hal itu berdasarkan firman Alloh swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah : 9).

Kewajiban ini bersifat fardhu ‘ain atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali lima golongan yaitu:
1.hamba sahaya, 2.wanita, 3.anak kecil (yang belum baligh), 4.orang sakit dan 5.musafir.

Hal ini berdasarkan beberapa riwayat berikut.

Dari Thoriq bin Syihab ra, Nabi saw bersabda:

الْجُمْعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ.
“(Sholat) Jum’at itu adalah wajib atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali empat (golongan) yaitu: 1.hamba sahaya, 2.wanita, 3.anak kecil (yang belum baligh) atau 4.orang sakit.”
(HR. Abu Dawud, Daruquthni, Baihaqi, Hakim dan Abu Dawud).

Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمْعَةٌ
“Tidak ada kewajiban atas musafir (untuk menunaikan) sholat Jum’at.” (HR. Daruquthni).

b). Keutamaan menunaikan sholat Jum’at.
Tidaklah syari’at memerintahkan suatu perkara, melainkan diiringi dengan janji berupa balasan kebaikan, keutamaan dan pahala sebagai pendorong bagi orang-orang yang mau menunaikan perintah tersebut.
Nabi saw bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَخْلُوَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ.
“Barangsiapa mandi (sunnat) kemudian mendatangi (sholat) Jum’at, lalu ia sholat –sunnat- (sebelum imam datang) sekuat kemampuannya, kemudian diam (mendengarkan imam berkhuthbah) dengan seksama sampai selesai dari khuthbahnya, lalu sholat bersamanya, maka akan diampuni (dosanya) antara Jum’at tersebut dengan Jum’at lainnya (sebelumnya) ditambah tiga hari.” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lain Nabi saw bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.
“(Antara) sholat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Romadhon ke Romadhon, terdapat penghapus dosa-dosa, selama tidak melanggar dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

c). Ancaman terhadap orang yang meninggalkan sholat Jum’at.
Disamping menjelaskan tentang keutamaan menunaikan sholat Jum’at, syari’at juga menjelaskan ancaman terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at karena meremehkannya.
Dalam hal ini terdapat beberapa hadits dari Nabi Muhammad saw diantaranya:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِن الْغَافِلِيْنَ.
“Sungguh hendaknya orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jum’at atau (kalau tidak maka) Alloh akan mengunci hati-hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim).

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أَحْرَقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.
“Sunguh aku bertekad untuk memerintahkan seseorang mengimami sholat bagi manusia, kemudian aku bakar rumah orang-orang yang meninggalkan (sholat) Jum’at.” (HR. Muslim).

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُناً بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan sholat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, maka Alloh akan mengunci hatinya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali sholat Jum’at tanpa udzur, maka dia tercatat sebagai golongan orang-orang munafik.” (HR. Thobaroni).

d). Waktu pelaksanaannya.
Waktu pelaksanaannya adalah pada waktu Dhuhur, berdasarkan riwayat dari Anas ra:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ.
“Bahwa Nabi saw menunaikan sholat Jum’at ketika matahari tergelincir (yakni masuk waktu Dhuhur).” (HR. Bukhori).

Sebagian ulama membolehkan pelaksanaannya –beberapa saat- sebelum masuk waktu Dhuhur (sebelum matahari benar-benar tergelincir). Mereka berdalil dengan riwayat dari Jabir bin Abdulloh ra, ketika ia ditanya:
“Kapan Rosululloh saw menunaikan sholat Jum’at .?”
Dia menjawab:
”(Nabi saw) pernah menunaikan sholat Jum’at, kemudian (selesai sholat) kami pergi menuju onta-onta kami untuk mengistirahatkannya ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim).
Ini berarti Nabi saw pernah sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir. (wallohu a’lam bisshowab).

Kedua. Khuthbah Jum’at.

a). Hukumnya.
Khutbah Jum’at hukumnya wajib, karena Nabi saw tidak pernah meninggalkannya, dan berdasarkan keumuman sabda beliau saw:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.
“Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori).

Khuthbah Jum’at ini termasuk dalam rangkaian pelaksanaan sholat Jum’at yang dilakukan oleh Nabi saw dan beliau melakukannya sebelum sholat.

ADAB-ADAB HARI JUM’AT

Adab-adab hari Jum’at ini meliputi adab-adab hari Jum’at secara umum maupun yang bersifat khusus terkait dengan sholat dan khuthbah pada hari ini, diantaranya:

1. Mandi jum’at (seperti mandi junub).

Dari Abdulloh bin mas’ud ra, Nabi saw bersabda:

إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ.
“Jika seorang dari kalian ingin mendatangi (sholat) Jum’at, maka hendaklah dia mandi.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang baligh.” (HR. Muslim).

Sebagian ulama mewajibkan mandi Jum’at ini berdalil, diantaranya berdasarkan dengan dua hadits di atas. Dan sebagian berpendapat, bahwa mandi Jum’at adalah sunnah muakkadah, tidak wajib, berdalil dengan kisah Utsman bin Affan ra dan Umar ra, sebagaimana diceritakan oleh Abu Huroiroh ra:

بَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ دَخَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ فَعَرَضَ بِهِ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَأَخَّرُوْنَ بَعْدَ النِّدَاءِ؟! فَقَالَ عُثْمَانُ: يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، مَا زِدْتُ حِيْنَ سَمِعْتُ النِّدَاءَ أَنْ تَوَضَّأْتُ ثُمَّ أَقْبَلْتُ، فَقَالَ عُمَرُ: وَالْوُضُوْءُ أَيْضاً، أَلَمْ تَسْمَعُوْا رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ.
“Ketika Umar bin Khoththob berkhuthbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, seketika Utsman bin Affan masuk (masjid), karena itu Umar kemudian berkata:
”Apakah gerangan yang menyebabkan orang-orang terlambat (datang) setelah panggilan (adzan) .?”
Utsman ra menjawab:
”Wahai, Amirul Mukminin. Aku tidak lebih sedang berwudhu’ ketika aku mendengar panggilan (adzan), kemudian aku datang.”
Umar ra berkata:
”Cuma berwudhu .? Tidakkah engkau mendengar Rosululloh bersabda: ’Jika salah seorang dari kalian mendatangi (sholat) Jum’at, maka hendaklah dia mandi .?” (HR. Muslim).

Pada kisah tersebut Umar ra, tidak kemudian menyuruh Utsman ra mandi, tetapi membiarkannya dalam keadaannya, dan ini menunjukkan bahwa perintah dalam hadits-hadits di atas hanyalah bersifat anjuran.
Namun yang lebih selamat bagi kita, hendaknya kita mandi. Dengan demikian kita telah keluar dari perselisihan. (Wallahu a’lam).

Dan bagi wanita yang ingin ikut hadir dalam sholat Jum’at, juga dianjurkan untuk mandi, tetapi tidak memakai wewangian ketika keluar menuju masjid.

2. Memakai wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki.

Nabi saw bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يَفْرُقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.
“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, dan menggosok (badannya) dengan minyak (sabun dan semisalnya), atau memakai wewangian dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid) dan tidak memisahkan antara dua orang (melangkahi orang-orang yang sedang duduk), kemudian mengerjakan sholat sesuai kesanggupannya.” (HR. Muslim). “Kemudian diam seksama saat imam berkhuthbah, melainkan akan diampuni dosanya antara hari Jum’at tersebut dengan Jum’at yang lain (sebelumnya).” (HR. Bukhori).

Beliau saw juga bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ وَمَسَّ مِنْ طِيْبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَلَمْ يَتَخَطَّ أَعْنَاقَ النَّاسَ ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يَخْلُوَ مِنْ صَلاَتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ الَّتِيْ قَبْلَهَا.
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, memakai pakaiannya yang terbagus dan memakai wewangian jika punya, kemudian mendatangi (sholat) Jum’at tanpa melangkahi orang-orang (yang sedang duduk), kemudian sholat (sunnah mutlak*) sekuat kemampuan (yang Alloh berikan padanya), kemudian diam seksama apabila imamnya datang (untuk berkhuthbah) sampai selesai sholatnya, maka itu menjadi penghapus dosa-dosa antara hari Jum’at tersebut dengan Jum’at yang sebelumnya.”
*Ya’ni sholat sunnat mutlak sebelum datangnya imam, bukan sholat sunnah qobliyah (rowatib) Jum’at. Dan yang ada hanya sholat sunnah (rowatib) ba’diyah (setelah) Jum’at dua roka’at, atau empat roka’at atau maksimal enam roka’at.

3. Menyegerakan diri datang ke masjid sebelum tiba waktu sholat.

Nabi saw bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشاً أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
“Barangsiapa mandi pada hari jum’at seperti mandi junub kemudian bersegera (menuju masjid), maka seolah-olah berkurban dengan seekor unta; barangsiapa datang pada saat kedua, maka seolah-olah berkurban dengan seekor sapi; barangsiapa yang datang pada saat ketiga, maka seolah-olah berkurban dengan domba jantan (yang bertanduk besar); barangsiapa datang pada saat keempat, maka seolah-olah berkurban dengan seekor ayam; dan barangsiapa datang pada saat kelima, maka seolah-olah berkurban dengan sebutir telur; kemudian jika imam datang para malaikat hadir untuk mendengarkan peringatan (khutbah).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ طَوَوا الصُّحُفَ وَجَاؤُوا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
“Bila datang hari Jum’at, maka para malaikat (berdiri) di setiap pintu masjid mencatat yang datang pertama dan berikutnya. Kemudian bila imam duduk (di atas mimbar) mereka menutup lembaran-lembaran catatan tersebut, dan hadir mendengarkan peringatan (khuthbah).” (HR. Bukhori dan Muslim).

4. Berjalan menuju masjid dengan tenang dan perlahan (tidak terburu-buru).

Nabi saw bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالْوَقَارِ.
“Jika kalian mendengar iqomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan perlahan-lahan (tidak terburu-buru.” (HR. Abu Dawud).

5. Menunaikan sholat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid sebelum duduk, meskipun imam sedang berkhuthbah.

Nabi saw bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ.
“Jika seorang dari kalian masuk masjid, maka sholatlah dua roka’at sebelum ia duduk.” (HR. Bukhori dan Muslim).

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا.
“Jika seorang dari kalian datang (untuk) pada hari Jum’at sementara imam sedang berkhuthbah, maka sholatlah dua roka’at, dan ringankanlah sholat tersebut.” (HR. Bukhori dan Muslim).

6. Mendekati imam untuk mendengarkan khutbahnya.

Nabi saw bersabda:

احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوْا مِنَ اْلإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرُ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا.
“Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam (khotib), karena seseorang yang terus menjauh (dari imam), sehingga dia akan diakhirkan (masuk) ke dalam sorga miskipun ia (akan) memasukinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Dan ketika imam sedang berkhutbah, hendaknya seseorang mendengar dengan seksama, tidak berbicara dengan yang lain atau disibukkan dengan selain mendengar khutbah. Sebagaimana Nabi saw bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.
“Jika kamu berkata kepada temanmu “diam” ketika imam berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia (yakni rusak pahala Jum’atnya).” (HR. Bukhori dan Muslim).

7. Memperbanyak sholawat dan salam atas Nabi saw.

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ –إلى قوله- فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ؛ قَالَ: قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ –يَقُوْلُوْنَ: بَلَيْتَ؛ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ.
“Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at” -sampai sabdanya- “Maka perbanyaklah sholawat atasku pada hari ini, karena sholawat kalian akan disampaikan kepadaku.”
Para sahabat bertanya:
”Wahai Rosululloh, bagaimana sholawat kami akan disampaikan kepadamu, padahal engkau telah menjadi tanah .?”
Rosululloh menjawab:
”Sesungguhnya Alloh mengharamkan bumi (memakan) jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud).

8. Membaca Surat al-Kahfi.

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ.
“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya diantara dua Jum’at.” (HR. Hakim).

9. Memperbanyak do’a dengan mengharap saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir siang hari Jum’at setelah Ashar, sebagaimana dalam hadits yang telah lalu:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada jam-jam ini meminta sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya. Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar.”

Demikianlah ulasan seputar hari Jum’at. Mudah-mudahan menggugah kita untuk lebih menghormati dan mengagungkan hari ini dengan berbagai amalan yang disyari’atkan.
Wallohu a’lam bisshowab.

10. Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad saw.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبيِّ الأُمِّيِّ
Imam Ghozali pernah mengisahkan, ada seseorang melihat satu makhluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu ia bertanya ”Siapakah kamu .?”
“Aku amalan jelekmu.” jawab mahluk itu.
“Apa yang dapat menyelamatkan aku dari mu .?” Tanya al-Ghozali.
Jawab makhluk itu: “Sholawat kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana sabda beliau:
“Sholawat itu berada di atas cahaya, di atas shirot, barang siapa yang bersholawat kepadaku pada (malam atau hari) jum’at sebanyak delapan puluh kali, Alloh akan hapuskan dosa-dosanya selama delapan puluh tahun.”

Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, bab: Sholat Jum’at disebutkan bahwa, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan sholat ashar pada hari jum’at, lalu dia bersholawat
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا
sebelum berdiri dari tempat duduknya delapan puluh kali, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun, dan dicatat baginya pahala ibadah selama delapan puluh tahun.” (HR. Baihaqi).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:
“Barang siapa bersholawat kepadaku pada hari jum’at sebanyak delapan puluh kali, maka akan diampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun tahun.”
Seorang sahabat bertanya:
”Ya Rosulalloh, bagaimanakah sholawat yang engkau maksudkan itu .?”
Rosululloh saw menjawab, Bacalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍعَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبيِّ الأُمِّيِّ

JUM’AT ADALAH MILIKMU UNTUK NABIMU SAW

Bagi dunia mungkin kmu hanyalah seorang makhluk pada umumnya, tetapi bagi sang Nabi saw, kmu bisa jadi adalah kekasihnya, ummat dunia akhirat kesayangannya, sehingga kmu menjadi makhluk pilahan yg dicintai Alloh swt.

Malam ini dn sehari esok adalah milikmu untuk Nabimu saw, jangan sia-siakan bermajlis dn berdialog dgn bersholawat kepada beliau sebanyak-banyaknya ..

التَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهُ
.
Nabi Muhammad saw adalah manusia paling utama, sebaik-sebaik makhluk, pemimpin para Nabi dn Rosul .. Hari jum’at disebut oleh beliau saw `sayyidul-ayyam` (pemimpin hari).

Memperbanyak sholawat untuk beliau saw pada hari Jum’at yang menjadi sayyidul ayyam merupakan amal sholeh yang sangat afdhol .. Yang demikian itu menunjukkan kemuliaan pribadi beliau saw sebagai `sayyidul anam` (pemimpin manusia).

Hari Jum’at yang memiliki keistimewaan dibandingkan hari yang lain, dn melaksakan amal yang afdhol pada waktu yang afdhol untuk manusia yang paling agung diantara seluruh makhluk, tentu lebih utama, lebih mulia, dn lebih tinggi derajatnya disisi Alloh swt, daripada hari-hari dn waktu-waktu yang lain.

Iklan

04 QI SANAK

BELAJAR dari perumpamaan ALLOH .:
`MITSQOLA DZARROH`
Dari sesuatu terkecil yang bertujuan besar .. ketika lapang, banyak beramal sholeh, memaafkan kesalahan orang lain dan memperbanyak shodaqoh, sedangkan ketika sempit menahan diri dari perbuatan tercela, apabila melakukan kesalahan memohon ampunan kepada Alloh dan tidak meremehkan sedikitpun perkara ma’ruf (kebajikan) miskipun sangat kecil ..

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu, dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,” – (QS.3:133).

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” – (QS.3:134).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, selain daripada Alloh. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” – (QS.3:135).

أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Robb-mereka dan sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” – (QS.3:136).

YANG TERBAIK AGAMANYA

Alloh swt berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan siapakah .?
(Tidak seorang pun) yang lebih baik agamanya daripada orang yang niat ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia pun mengerjakan kebaikan (dengan mencontoh setiap gerak dn diam Nabi Muhammad saw) dan mengikuti agama Ibrohim yang lurus (agama tauhid) .?
Dan Alloh mengambil Ibrohim menjadi (kholilan) kesayangan-Nya.” (QS 4:125).

KEUTAMAAN SHOLAT MALAM dn MEMOHON AMPUNAN ALLOH

Dalam al-Qur’an Alloh swt memuji seseorang yang senantiasa sholat malam serta memohonkan ampunan bagi kaum muslimin dan muslimat. Alloh swt berfirman:

كَانُوا قَلِيلاً مِنْ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan (mereka berdo’a dengan mengucapkan, `Allohumaghfir Lana, Ya Alloh ampunilah kami)`. di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzariat:17-18).

Ibnu Abbas ra mengomentari dua ayat diatas, beliau berkata:
“Tak ada satu malam pun yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan sholat walaupun beberapa roka’at saja.” (Tafsir At-Thobari 8/197).

PELIT ITU LEMAH dn KIKIR ITU BURUK ..

Orang yang memberi adalah orang yang kuat, sedang sukses hanyalah milik orang yang sedang dalam puncak kekuatan.

يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan apa yang diberikan Alloh (berupa apa saja) kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (bakhil) itu baik bagi mereka, padahal (sesungguhnya bakhil itu tidak memberi manfaat dan kemuliaan bagi mereka, bahkan sangat) buruk bagi mereka.
Apa saja (harta) yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan (di lehernya, siksa itu akan selalu menyertai mereka) pada hari kiamat.
Milik Alloh-lah warisan (apa saja yang ada) di langit dan di bumi. Alloh Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. 3 : 180).

Semua makhluk di alam raya ini akan kembali kepada Alloh .. Dia-lah Pemilik semua makhluk .. Dia Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan dan akan memberi balasannya dengan seadil-adilnya.

ORANG-ORANG YANG MEWARISI SORGA FIRDAUS

1_ Orang yang sholatnya khusyu’
2_ Meninggalkan yang tidak bermanfaat
3_ Menjaga kemaluan kecuali kepada istri
4_ Orang yang amanah dan menepati janji
5_ Bekerja tidak melupakan zakat / shodaqoh
6_ Orang yang memelihara sholatnya rutin / istiqomah / kontinyu.

أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus.
Mereka kekal di dalamnya.” (QS. 23 : 1-11).

PERHITUNGAN ALLOH

Imam Muslim meriwayatkan melalui sahabat Nabi saw. Abu Huroiroh ra. bahwa ketika turun ayat 284 surat al-Baqoroh, yang menjelaskan; Alloh akan melakukan perhitungan terhadap apa yang diperbuat oleh manusia, baik oleh anggota tubuhnya maupun hatinya, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Maka sebagian sahabat mengeluh kepada Rosul saw. seraya berkata:
“Kami telah di bebani tugas yang tak mampu kami pikul.”
Maka Rosul saw. bersabda:
“Apakah kalian akan berucap seperti ucapan Bani Isro’il “kami mendengar tapi kami tidak memperkenankan .!”
Ucapkanlah:
وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖغُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Kami dengar dan kami ta’ati, ampunilah kami Wahai Tuhan kami, dan kepada Engkaulah kami kembali.”
Alloh swt menyambut permohonan mereka dan turunlah penjelasan melalui ayat 286,
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا
“Alloh tidak membebani sese’orang melainkan sesuai dengan kelapangan/kesanggupannya”.

Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang membaca dua ayat terahir (Surat al-Baqoroh. 285-286) di malam hari, maka kedua ayat itu dapat mencukupi/melindunginya.”
(HR. Muslim)

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ
وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا
رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Dalam riwayat lain disebutkan,
Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang membacanya di rumah selama tiga malam, maka setan tidak akan mendekatinya.”
(HR. Tirmidzi).

EDISI HUSUS

NIAT IKHLAS
          
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّه

Demi nama Alloh Yang Maha Pengasih tak pilih kasih lagi Yang Maha Penyayang tak pandang sayang.
Dengan niat ikhlas dalam hati melaksanakan perintah yang diridhoi Alloh dan mengikuti atau mencontoh setiap gerak dan diam Rosululloh, membuat segenap potensi tubuh kita berfungsi dengan baik.
Otak berkonsentrasi, mulut yang bersuara, telinga yang mendengar, mata yang melihat, kaki yang berjalan, tangan yang bekerja, paru-paru yang bernafas, dan lainnya yang kita gunakan.
Semua organ tubuh kita akan bekerja lebih barokah bila mampu beristiqomah niat dengan ikhlas.
Walau belum melaksanakannya itu pun Alloh sudah memberikan pahala, apalagi dapat mewujudkannya, pahala yang kita dapatkan akan berlipat-lipat untuk setiap amal kebaikan yang kita lakukan.

Melalui surat Al-Baqoroh ayat 112 ini Alloh swt. telah menjamin bahwa :
أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
“Barang siapa yang (niat dan tujuannya) menyerahkan diri kepada Alloh, sedangkan ia berbuat kebajikan (mereka pasti mendapat pahala tersebut dan Dia (Alloh) mengamankan mereka dari hal-hal yang mereka takuti),
فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ
Maka baginya pahala (yang besar lagi banyak) pada sisi Tuhannya
وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka (untuk menghadapi masa mendatang) dan ti­dak (pula) mereka bersedih hati (atas diri mereka untuk menghadapi kematiannya, dan tiada pula kesedihan bagi mereka atas masa lalu mereka).” (QS. Al-Baqoroh:112).

          

HADIAH TERBAIK

Alloh swt berfirman :

نْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

”Jika kalian menampakkan shodaqoh maka hal itu baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir (yang membutuhkan) maka hal itu lebih baik bagi kalian …” (QS: Al-Baqarah [2]: 271).

Alloh swt berfirman :

لَن تّنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَىْءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Alloh mengetahuinya.” (QS. Ali Imron [3]:92).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh bersabda:
”Ada seseorang mengatakan:
”Sungguh aku akan memberikan shodaqoh”
Di malam hari, ia keluar membawa shodaqoh dan memberikannya kepada seorang pencuri (tanpa diketahui). Pagi harinya, orang-orang membicarakan:
”Tadi malam, ada seorang pencuri mendapat shodaqoh.”
Orang itu mengatakan:
”Ya Alloh, hanya kepada-Mu segala pujian. Sungguh aku akan memberikan shodaqoh lagi.”

Di malam hari berikutnya, ia keluar membawa shodaqoh dan memberikannya kepada seorang wanita pelacur (tanpa diketahuinya). Pagi harinya, orang-orang membicarkan:
”Tadi malam,ada seorang wanita pelacur mendapat shodaqoh.”
Orang itu mengatakan:
”Ya Alloh, hanya kepada-Mu segala pujian. Sungguh aku akan memberikan shodaqoh lagi.”

Di malam hari ketiga, ia keluar membawa shodaqoh dan memberikannya kepada salah satu orang kaya (tanpa diketahui). Pagi harinya,orang-orang membicarakan:
”Tadi malam, ada orang kaya mendapat shodaqoh.”
Orang itu mengatakan:
”Ya Alloh, hanya kepada-Mu segala pujian. Untuk seorang pencuri,seorang pelacur dan orang kaya.”

Lalu orang itu didatangi dan dikatakan kepadanya:
”Adapun shodaqoh yang engkau berikan kepada si pencuri, mudah-mudahan dengan harta itu ia dapat menahan diri dari perbuatan mencuri.
Adapun shodaqoh yang engkau berikan kepada si pelacur, mudah-mudahan dengan harta itu ia kan menahan diri dari perbuatan zina.
Adapun shodaqoh yang engkau berikan kepada orang kaya, barangkali ia dapat mengambil pelajaran sehingga ia pun mau berinfak dari harta yang Alloh berikan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Mu’awiyah bin Haidah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya shodaqoh secara rahasia bisa meredam murka Tuhan tabaroka wa ta’ala.” (HR. Thobroni).

MENCINTAI SAUDARA MUKMIN

Demi karena melaksakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh saw.

Alloh swt berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang -terbaik yaitu harta yang paling- kamu cintai.
Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Alloh mengetahuinya” (QS. Ali ‘Imron [3]: 92).
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Apapun harta yang kalian infakkan maka Alloh pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39).

Rosululloh saw bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.”
لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.
“Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya.”
[HR. Bukhori dan Muslim].

Alloh swt juga memberi peringatan kepada setiap diri agar tidak saling menyakiti, bahkan mendapatkan ancaman sangsi yang berat, karena menyakiti orang mukmin sama dengan menyakiti Rosullolloh, dan menyakiti Rosululloh sama dengan menyakiti Alloh:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” – (QS. Al-Ahzab [33]: 58).

Sesungguhnya seseorang tidak akan bisa meraih apa yang ia cintai kecuali kalau ia mampu memberikan harta terbaik yang telah diberikan-Nya kepada kalian.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan apa yang ia harapkan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang ia benci.  
عَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 216).

DO’A QI SANAK

DO’A Q ISANAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى

“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha pengasih lagi Yang Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang di pilih-Nya.”

أَللَّهمَّ إِني أَسألُكَ بأني أَشْهَدُ أَنَّكَ أنْتَ اللَّهُ ، لا إِلهَ إِلا أَنتَ ، الأحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .

“Ya Alloh .. sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan bersaksi sesungguh-sunggunya bahwa Engkau adalah Alloh Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal dan Yang menjadi tempatku bergantung, Yang tak beranak dan tidak diperanakkan serta tak ada yang menyamai-Mu seorang pun, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ya Alloh .. kekasih-Mu bersabda:
– « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
“Sesungguhnya kamu bersama yang kamu cintai.”
فَإِنَّا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ رَسُولَكَ مُحَمَّد
Maka kami mencintai-Mu dan kami mencintai Rosul-Mu Muhammad
وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ وَعَلِى فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
Serta Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali, berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.”
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Ya Alloh .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta Rohmatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang khusus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..”

۩۞★ DO’A_DARI_LANGIT ★۞۩

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ
“Tuhan kami ..
Dan anugrahilah kami (kemampuan beramal sehingga kami dapat meraih)
apa yang telah Engkau janjikan kepada kami
dengan perantaraan Rosul-Rosul-Mu.
(antara lain kemenangan menghadapai
hawa nafsu kami, lawan-lawan kami,
mewarisi bumi dan
memasuki sorga dan lain-lain)
وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dan janganlah
Engkau hinakan kami di hari kiamat.
(dengan menuntut tanggung jawab
atas dosa dan kesalahan kami,
apalagi memasukkan kami ke neraka)
إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (bahkan Engkau menganugrahkan
anugrah yang melebihi janji-janjimu).” (3:194).

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Tuhan kami ,,
(Demi kasih sayang dan bimbingan-Mu)
Anugrahilah kami kebaikan di dunia ,,
dan kebaikan di akhirat ,,
dan peliharalah kami dari siksa neraka ..”
(2:201).

يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ اِغْفِرْلِي ذُنُوْبِى وَذُنُوْبَ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ
“Wahai Yang Maha Mulia, Wahai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosaku
dan dosa-dosa semua mukminin dan mukminat. Tidak ada yang dapat mengampuni
dosa-dosa kecuali Engkau.”

Bermacam-macam penafsiran ulama tentang makna “hasanah” di dunia dn “hasanah” di akhirat.
Adalah bijaksana memahaminya secara umum, bukan hanya dalam arti iman yg kukuh, sifat yg baik, kesehatan, rizki yg memuaskan, pasangan yg ideal, dn anak-anak yg sholeh, tetapi segala yg menyenangkan di dunia dn berakibat menyenangkan di hari kemudian.
Dn bukan pula hanya keterbatasan dari rasa takut di akhirat, hisab (perhitungan yg mudah, serta masuk sorga dan mendapat ridho-Nya, tetapi lebih dari itu, karena anugrah Alloh tidak terbatas.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Tuhan kami ,,
(Pemelihara lahir dan batin kami , jasmani dan rohani kami)
Tuangkanlah (secara penuh ke dalam jiwa kami) kesabaran (dan ketabahan menghadapi segala macam ujian) atas diri kami ,,
dan kokohkanlah (juga jiwa kami dari kelemahan menjadi kekuatan sehingga tidak berubah) pendirian kami ,,
dan menangkanlah kami terhadap orang-orang yang kafir (yang menutupi kebenaran dan mengingkari tuntunan-Mu).”
(2:250)

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ   
“Rosul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rosul-rosul-Nya.
(Mereka mengatakan):
“Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rosul-rosul-Nya”,
dan mereka mengatakan:
“Kami dengar dan kami ta’at.”
(Mereka berdo’a):
“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
(2:285).

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Tuhan kami ,,
Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah ..

Tuhan kami ,,
Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami ..

Tuhan kami ,,
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya ..

Beri ma’aflah kami ,,
Tutupilah kesalahan-kesalahan kami ,,
Dan rohmatilah kami ..

Engkaulah Penolong kami ,,
Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (yang menutupi kebenaran dan mengingkari tuntunan-Mu).”
(2:286).

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Tuhan kami ,,
Janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling (dari kebenaran menuju kesesatan) sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami ,,

dan karuniakanlah kepada kami rohmat (yang mencakup segala macam jenisnya, antara lain berupa kemantapan iman, ketenangan batin, kemudahan dalam nelaksanakan perintah dan menjauhi larangan, dan rohmat yang terus menerus tercurah) dari sisi-Mu, (yang sesuai dengan kekayaan dan kemurahan-Mu) ,,

karena sesungguhnya Engkau-lah al-Wahhab (Maha Pemberi walau tanpa di minta, bahkan terus menerus berkesinambungan tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawi maupun ukhrowi, yang sesungguhnya sangatlah kecil dan tiada artinya bagi-Mu, namun sangatlah besar dan agung bagiku) ..” (3:8).

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Tuhan kami ,,
Sesungguhnya kami telah beriman, (namun kami masih melakukan banyak dosa akibat kelemahan kami, akibat syahwat yang melekat pada diri kami, ditambah dengan rayuan nafsu dan setan) maka (karena itu Wahai Tuhan kami ..) ampunilah segala dosa-dosa kami (dan tutupilah aib dan kesalahan-kesalahn kami, hindarkan segala kekurangan yang dapat menimpa kami) serta peliharalah kami dari siksa neraka,” (3:16).

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
“Tuhan kami ,,
Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan (ya’ni kitab suci yang Engkau berikan kepada nabi-nabi terdahulu)
dan kami telah ikuti (sunnah) rasul, (yang Engkau utus kepada kami)
karena itu tetapkanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Alloh swt).” (3:53).

ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَاوَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Tuhan kami ,,
ampunilah dosa-dosa kami, (hususnya; antara lain yang dapat menyebabkan kami menderita kekalahan, kerugian atau tidak meraih sukses)
dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, (termasuk optimisme yang berlebihan, yang menjadikan kami tidak mempersiapkan diri menghadapi lawan)
dan tetapkanlah pendirian kami, (sehingga kami tidak merasa takut menghadapi tantangan, tidak juga berubah motifasi kami yang mengantar kepada keberhasilan)
dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (yang menutupi kebenaran dan mengingkari tuntunan-Mu).” (3:147).

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا
“Tuhan kami ,,
Sesungguhnya kami mendengar (seruan Nabi Muhammad saw) yang menyeru kepada iman ,,
“Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”,
maka kamipun beriman.
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ
Tuhan kami ,,
Ampunilah bagi kami dosa-dosa kami ,,
dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami ,,
dan matikanlah kami (dalam ke’ada’an berbakti kepada-Mu, sehingga kami dapat masuk ke sorga) beserta orang-orang yang berbakti.” (3:193).

Sebagian ulama’ memahami ma’na permohonan pertama adalah dosa besar, sedang yg kedua adalah dosa kecil, atau yg pertama berupa kedurhaka’an yg berbentuk keburukan, sedang yg kedua adalah kedurhaka’an yg berbentuk mengabaikan perintah melaksanakan kebajikan.
Ulama’ lain berpendapat bhw yg pertama adalah dosa antara manusia dgn Alloh swt, dn yg kedua antara manusia dgn manusia, yg pertama di hapus dn yg kedua ditutupi.
Alloh swt, menghapus dosa itu karena dosa yg dilakukan terhadap-Nya, sehingga dia berwenang penuh menghapusnya, sedang yg kedua merupakan hak manusia, dn ketika itu manusia punya wewenang mema’afkan atau tidak.
Jika dia enggan mema’afkan, maka dia dapat menuntut di hadapan Alloh swt, kecuali jika Alloh swt “menutup” dlm arti mengganti yg menuntut itu sesuatu yg menjadikan dia rela mema’afkan.

Imam al-Ghozali menjelaskan sifat Alloh swt, “Al-Muqsith” memberi ilustrasi dgn mengutip riwayat Abu Ya’la, al-Hakim dn disebut juga oleh Ibnu Katsir dlm tafsirnya, inti riwayat itu menyebutkan bhw:
Kelak dihari kemudian se’org teraniaya datang mengadukan sese’rang kpd Alloh swt, sambil menuntut haknya.
Tetapi krn yg mengadukan tdk memiliki ganjaran amal kebajikan yg dapat di alihkan kpd org teraniaya, dia meminta agr dosa yg teraniaya dipikul oleh yg menganiayanya.
Alloh swt, memerintahkan si penuntut melihat ke atas, yg dilihatnya ternyata adalah istana-istana berlian dn mutu manikam.
Si penuntut bertanya:
“Untuk siapa istana-isatana itu .?”
Alloh swt, menjawab:
“Untuk yang mampu membayar harganya .!”
Si penuntut kembali bertanya:
“Siapa yang mampu .?”
Alloh swt, menjawab:
“Engkau, dengan mema’afkan saudaramu ini.”

Demikian Alloh swt, yg bersifat al-Muqsith itu memutuskan perselisihan dgn hasil yg menyenangkan kedua belah fihak, krn yg menuntut ditutupi tuntutannya dgn memberi sorga, sedang yg dituntut juga bergembira krn dosanya ditutupi oleh Alloh swt, sehingga dia lepas dari tuntutan.
Wallohu A’lam bish-showab.

Setelah memohon pengampunan dlm ayat 193, kini dlm ayat 194 ini org-org beriman mengharapkan buah pengampunan itu dgn bermohon :

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Tuhan kami ,,
Dan anugrahilah kami (kemampuan beramal sehingga kami dapat meraih) apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu. (antara lain kemenangan menghadapai hawa nafsu kami, lawan-lawan kami, mewarisi bumi dan memasuki sorga dan lain-lain)

Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. (dengan menuntut tanggung jawab atas dosa dan kesalahan kami, apalagi memasukkan kami ke neraka)

Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (bahkan Engkau menganugrahkan anugrah yang melebihi janji-janjimu).” (3:194)

Do’a Nabi Adam as yang diabadikan oleh Alloh swt dalam al-Qur’an ..

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Tuhan kami ,,
Kami telah menganiaya diri kami sendiri, (akibat melanggar larangan-Mu, kami menyesal dan memohon ampun, jika Engkau tidak menganugrahi kami pertaubatan tentulah kami akan terus-menerus dalam kegelapan maksiat)
dan jika Engkau tidak mengampuni kami (ya’ni menghapus dosa yang kami lakukan) dan memberi rohmat kepada kami, niscaya (demi ke agungan-Mu) pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi.” (7:23).

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“Tuhan kami ,,
Curahkanlah (sebanyak mungkin) kesabaran (dan ketabahan yang mantab) kepada kami (dalam menghadapi aneka macam goda’an)
dan wafatkanlah kami (ketika tiba sa’at yang Engkau tentukan) dalam keadaan muslim (ya’ni berserah diri kepada-Mu).” (7:126).

عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا
“Hanya kepada Alloh kami bertawakkal ..!
(Menyerahkan segala perso’alan hidup mati kami, dan hanya kepada-Nya saja kami mengharap) ..

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Tuhan kami ..
(Engkau pemelihara dan penolong kami)
Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah (sasaran gangguan apalagi siksa) bagi kaum yang dholim (dan kami mohon lebih dari itu; selamatkanlah kami Wahai Tuhanku.)” (10:85).

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ
“Tuhanku ,,
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu (apapun) yang aku tiada mengetahui (tentang hakekat)nya (serta tidak juga mengetahui tentang boleh tidaknya sesuatu itu dimohonkan).
Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, (dengan menghapus dosa dan kesalahanku, yang lalu, sekarang dan di masa akan datang) dan (tidak) merohmatiku (dengan rohmat-Mu yang Maha Luas itu) niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.” (11:47).

إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء
“Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) do’a (yang aku panjatkan).” (14:39).

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
“Tuhanku ,,
(Yang selalu berbuat baik kepadaku)
Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan sholat (secara benar dan baik).
Tuhan kami ,, perkenankanlah do’aku.” (14:40).

03 QI SANAK

SHODAQOH RAHASIA DAN TERANG-TERANGAN

Alloh swt berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca Kitab Alloh -mengkaji dan mengamalkan pesan-pesannya-, dan mendirikan sholat -secara baik dan benar-.
dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka dengan cara rahasia -diam-diam- dan -maupun secara- terang-terangan, -banyak jumlahnya atau sedikit, dalam keadaan lapang atau sempit-,
Mereka -dengan amalan-amalan itu dengan tulus ikhlas mengharapkan perniagaan -dengan Alloh- yang -hasilnya- tidak akan pernah merugi,
Meraka -dengan amalan-amalan itu mengharap- agar Alloh menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun -segala kekhilafan- lagi Maha Mensyukuri -segala keta’atan-.” (QS. Fathir [35]:29-30).

Ayat di atas mendahulukan kata “sirron-rahasia” atau diam-diam, untuk mengisyaratkan shodaqoh pahala amal hasil perniagaan dengan Alloh swt.
Kemudian penyebutan kata “`alaa niyatan-terang-terangan” untuk mengisyaratkan shodaqoh harta benda hasil perniagaan dengan manusia.

Apabila seorang muslim tidak mampu menggabung shodaqoh secara “RAHASIA” dan “TERANG-TERANGAN” dari dirinya, paling tidak ia harus memberi warna spiritual dalam dirinya diantara salah satunya ..

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan shodaqoh-mu-, maka itu adalah baik sekali, -selama shodaqoh itu didasari keikhlasan dan bukan semata-mata memilih yang buruk untuk diberikan-.
Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu -karena ini mencegah lahirnya riya’ dan pamrih, serta lebih memelihara air muka yang menerima dan menghilangkan perasaan yang mengganggu hati dan pikiran yang pemberi-.
Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Alloh mengetahui, apa yang kamu kerjakan.” – (QS.2:271).

MANUSIA YANG PALING BERMANFAAT

“Tiap-tiap amalan ma’ruf -kebajikan- adalah shodaqoh .. Sesungguhnya di antara amalan ma’ruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkok kawanmu. (HR. Ahmad).

Dari Jabir ra, Rosululloh saw berasabda:

المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah.
Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi semua manusia.”
(HR. Thobroni dan Daruquthni).

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Rosululloh saw dan berkata:

يا رسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟
وأي الأعمال أحب إلى الله عز وجل ؟
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس ،
وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم ..

”Wahai Rosululloh, siapakah orang yang paling diicintai Alloh .?
Dan amal apakah yang paling dicintai Alloh .?”
Rosululloh saw menjawab:
”Orang yang paling dicintai Alloh adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Alloh adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim ..“
(HR. Thobroni).

TERPEDAYA KELALAIAN

Sikap angkuh dan masa bodoh manusia sebenarnya dipicu oleh kecintaannya yang sangat pada harta dan dunia ini .. Sehingga ia benar-benar merasa seolah-olah ia akan hidup selamanya ..

كَلاَّ بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

‘’Sekali-kali janganlah demikian ..
Sebenarnya kamu -hai manusia secara terus menerus- mencintai kehidupan dunia -yang cepat berahirnya- ..
Dan (kamu juga selalu) meninggalkan -amalan-amalan kehidupan- akhirat -yang dapat mengantar kamu hidup bahagia disana-.’’ (QS.75 : 20-21).

Manusia bersuka-ria dalam urusan dunianya .. Sehingga kecintaannya pada materi dan kebendaan menjadi sangat mengkristal dan sulit dikikis .. Inilah sebuah penyakit yang disinyalir Nabi Muhammad saw sebagai penyakit ‘’al-Wahn’’ yaitu mencintai dunia dan takut mati .. Bahkan mungkin ia berpikir akan hidup selama-lamanya .. Dan ketika saatnya kematian itu datang ia akan terperangah dan terkejut .. Karena ia benar-benar tak memperkirakan sebelumnya ..

HADIAH TERMAHAL

Shodaqoh termasuk amal ibadah yang paling mulia bagi kaum muslim, yaitu berupa menghadiahkan harta yang paling berharga ..
Dianggap mulia, karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pelaku masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun pelaku telah meninggal dunia ..
Bertambah banyak orang memberikan manfaat, bertambah pula pahalanya, terlebih bila yang memanfaatkan hasil ini orang yang berilmu dan ahli ibadah .. Alloh swt berfirmaan :

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

“Supaya Alloh memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yg lurus.”
(QS. Al-Fath: 2).

ALLOH AKAN MEMENUHI JANJINYA

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ

“Apa saja yang kamu nafkahkan, atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Alloh mengetahuinya ..”
– (QS.2:270).

Alloh swt mengabarkan bahwa ;
Bagaimanapun orang-orang yang berinfak itu menginfakkan hartanya ..
Orang-orang yang bershodaqoh itu menshodaqohkan hartanya .. dan
Orang-orang yang bernadzar itu menunaikan nadzarnya ..
Sesungguhnya Alloh mengetahui semua itu ..

Kandungan dari kabar tentang pengetahuan-Nya itu menunjukkan tentang adanya balasan disisi-Nya .. bahwa Alloh swt tidak akan melalaikannya walau seberat biji atom .. Alloh swt mengetahui apa yang terbesit dalam hati dari Niat yang baik maupun yang jelek ..

SHODAQOH SIRRIYYAH

Shodaqoh semuanya baik, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, TEGANTUNG NIAT kondisi orang yang bershodaqoh dan kepentingan proyek atau sasaran ..
Shodaqoh sirriyyah adalah shodaqoh yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, shodaqoh ini sangat utama karena lebih mendekati kemurnian ikhlas dan selamat dari sifat riya’.

Alloh swt berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu MENAMPAKKAN SHODAQOH (lahir), maka itu adalah BAIK SEKALI (selama shodaqoh itu didasari keikhlasan dan bukan semata-mata yang buruk untuk diberikan) ..
dan jika kamu MENYEMBUNYIKAN SHODAQOH (batin) dan kamu berikan kepada orang-orang fakir (yang membutuhkan) .. maka menyembunyikan itu LEBIH BAIK bagimu (karena ini lebih mencegah lahirnya riya’ dan pamrih).” (QS. Al-Baqoroh: 271).

“Berkata para Ulama bahwasanya:
“Rahasia penyebutan tangan kanan dan tangan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketahuinya shodaqoh ..
Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut, karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri ..
Ma’nanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang yang terjaga, maka dia tidak akan mengetahui apa yang dishodaqohkan oleh tangan kanan karena saking tersembunyinya.” (Imam Nawawi).

Perlu diketahui, bahwa yang paling utama untuk disembunyikan adalah shodaqoh pahala atau do’a (yang dirahasiakan) .. Hal ini, karena ada banyak jenis shodaqoh yang mau tidak mau harus ditampakkan, seperti membangun tempat ibadah, membangun sekolah, membangun jalan atau jembatan, membuat sumur, membekali orang mencari ilmu, dan membekali orang-orang yang bejihad dijalan Alloh.

Sedangkan menyembunyikan shodaqoh sirriyyah diantara hikmahnya adalah .. Untuk membekali saudara mukmin kita ketika dalam perjalanan panjangnya -alam barzakh- menuju kepada Alloh swt .. dimana seseorang sudah tidak bisa lagi berusaha dengan amalan apapun .. Sedangkan do’anya untuk menutupi aib-aib dan pengampunan dosa-dosa saudara kita tersebut ..
Sehingga shodaqohnya tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui bahkan oleh dirinya .. Inilah yang dimaksud oleh Rosululloh saw dalam sabdanya: “Seorang yang bershodaqoh dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Hal ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam berbuat ihsan kepada saudara mukmin kita ..

Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw memuji shodaqoh sirriyyah, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk 7 GOLONGAN YANG DI NAUNGI ALLOH SWT kelak pada hari kiamat ..

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh golongan yang dalam naungan Alloh pada hari yang tidak ada tempat bernaung, kecuali naungan-Nya,

1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang giat beribadah kepada Alloh.
3. Orang yang berdzikir kepada Alloh di tempat yang sunyi sampai air matanya mengalir karena rasa takutnya kepada Alloh.
4. Orang yang hatinya selalu terkait (terikat) dengan masjid saat ia keluar sampai kembali lagi masuk ke masjid.
5. ORANG YANG BERSHODAQOH DENGAN SEMBUNYI-SEMBUNYI SEHINGGA ORANG LAIN YANG ADA DIKANAN KIRINYA TIDAK MENGETAHUINYA.
6. Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, maka mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Alloh.
7. Lelaki yang diajak berbuat mesum (berzina) oleh wanita cantik, tetapi ia menolaknya dengan berkata:
“Aku takut kepada Alloh.”
(HR. Bukori)

Kesimpulannya .. luarbiasa hebatnya shodaqoh sirriyah .. khusus menjaga hati hanya kepada Alloh swt, meredam murka Alloh dan mendapat kedudukan tinggi di Yaumil-Akhir ..

ALLOH MAHA MENSYUKURI

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika kamu meminjamkan kepada Alloh, satu pinjaman yang baik ..
Secara ikhlas, walau sebagian harta yang berada dalam genggaman tanganmu ..
Niscaya Dia Yang Maha pemurah melipat gandakan ganjarannya bagi kamu ..
Paling sedikit sepuluh kali lipat dan dapat mencapai tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih ..
Di samping itu Dia mengampuni kamu ..
Ketahuilah bahwa ;
Alloh Maha berterima kasih dan Maha Penyantun ..
Sehingga Dia tidak menyegerakan hukuman bagi yang berdosa ..
Jangan dikira penangguhan siksa itu karena Dia tidak mengetahui atau tidak kuasa ..
Tidak .!
Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata ..
Maha Perkasa, tidak dapat terkalahkan dan tidak dapat di tampik kehendak-Nya ..
Lagi Maha Bijaksana dalam segala pengaturan-Nya.”
(QS. At-Taghobun [64]:17-18).

Alloh yang bersifat Syakur, Maha berterima kasih antara lain berarti :
Dia yang mengembangkan walau sedikit dari amalan hamba-Nya dan melipat gandakan pengembaliannya ..

Shodaqoh yang ikhlas, walau sebagian harta yang berada dalam genggaman tanganmu akan mendapatkan balasannya, seperti :
Tumbuhan yang “tumbuh subur” walau dengan sedikit air .. dan binatang yang “gemuk” walau dengan sedikit rumput ..
Keduanya juga di namai Syakur ..

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bershodaqoh dengan tulus, baik laki-laki maupun perempuan ..
Dan mereka meminjamkan kepada Alloh dengan pinjaman yang baik ..
Niscaya akan dilipat gandakan pembayarannya kepada mereka ..
Dan bagi mereka pahala yang mulia lagi banyak ..
Sangat menyenangkan dan memuaskannya”
(QS. Al-Hadid [57]:18).

Tulus ihklas merupakan syarat utama mengeluarkan shodaqoh ..
Jika tidak menekan secara sungguh-sungguh sifat kikir yang memang lumrah terdapat dalam setiap diri manusia, maka bershodaqoh tidak akan pernah mereka lakukan, karena kecondongan cinta mereka terhadapa dunia ..
Oleh karenanya Alloh swt memberikan imbalan balasan pahala yang berlipat ganda, pahala yang mulia, pahala yang menyenangkan, pahala yang memuaskan ..
Agar manusia tergerak untuk melaksanakannya ..
Janji Alloh sangatlah teguh .. dan janji Alloh pasti di tepati ..

JANJI ALLOH BAGI YANG BERSYUKUR

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya Aku -Alloh- bersumpah :
Demi kekuasaan-Ku, jika kamu bersyukur pasti Aku tambah ni’mat-na’mat-Ku kepada kamu, karena sungguh amat melimpah ni’mat-Ku .. Sebab itu barharaplah yang banyak dari-Ku dengan mensyukurinya ..
Dan jika kamu kufur, mengingkari ni’mat-ni’mat yang telah Aku anugrahkan, dengan tidak menggunakan dan memanfaatkan sebagaimana Aku kehendaki, maka akan aku kurangi ni’mat itu, bahkan kamu terancam mendapat siksa-Ku ..
Sungguh siksa-Ku dengan berkurang atau hilangnya ni’mat itu, atau jatuhnya petaka atas kamu , akan kamu rasakan amat pedih ..”
(QS. Ibrohim [14]:7).

Syukur antara lain bararti `membuka dan menampakkan` .. Lawannya adalah kufur ya’ni `menutup dan menyembunyikan` ..

Hakekat syukur adalah menampakkan ni’mat, antara lain menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang di kehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik ..

Orang bersyukur adalah yang menggunakan anugrah ni’mat sesuai dengan tujuan penganugrahannya ..
Ambillah sebagai contoh laut ..
Alloh menciptakan laut dan menundukkannya untuk di gunakan manusia dengan tujuan:

وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Agar kamu dapat memakan darinya daging ikan yang segar ..
Agar kamu mengeluarkan darinya perhiasan mutiara yang kamu pakai .. Agar kamu membuat bahtera-bahtera ..
Sehingga dapat melihat bahtera berlayar padanya ..
Dan agar kamu mencari karunia-Nya ..
Supaya kamu bersyukur ..”
(QS. Al-Hijr [16]:14)

Jika ini di fahami, maka mensyukuri ni’mat laut menuntut kerja keras, sehingga apa yang di sebut di atas akan dapat di raih ..
Dan perlu di ingat .!
Semakin giat seseorang bekerja, dan semakin bersahabat seseorang dengan lingkungannya .. Maka semakin banyak pula yang dapat dini’matinya ..
Demikian syukur menambah ni’mat ..

Di sisi lain ..
Diri manusia ..
Dalam perut bumi ..
Alam raya ..
Terdapat sekian banyak ni’mat Alloh yang terpendam ..
Ia harus di syukuri dalam arti di gali dan di nampakkan ..
Menutupinya atau dengan kata lain mengkufurinya, dapat mengundang kekurangan yang melahirkan kemiskinan, penyakit, rasa lapar, cemas dan takut ..

ANCAMAN ALLOH BAGI YANG MENIMBUN HARTA

Alloh swt berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang-orang yang menghimpun harta benda ..
Menyimpan emas dan perak ..
Dan tidak menafkahkan pada jalan yang sesuai ketentuan dan tuntunan Alloh ..
Maka gembirakanlah mereka, bahwa merka akan disiksa dengan siksa yang pedih ..

Siksa yang pedih itu terjadi ..
Pada hari dimana harta benda, emas dan perak yang mereka himpun tanpa menafkahkannya itu dipanaskan dalam neraka jahannam ..
Lalu disetrika dengannya ..
Di dahi mereka , yang selama ini angkuh dan bangga dengan harta itu ..
Juga membakar lambung mereka, yang seringkali kenyang dan dipenuhi oleh aneka keni’matan dari harta yang buruk itu ..
Dan demikian juga disetrika punggung mereka yang selama ini membelakangi tuntunan Alloh ..
Malaikat yang bertugas membakar dan menyiksa mereka berkata :
Inilah apa saja harta benda yang kamu simpan tanpa menafkahkan ..
Dan yang kamu hususkan untuk kepentingan diri kamu sendiri ..
Dengan melupakan fungsi sosial harta ..
Maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu ..”
(QS. At-Taubah [9]:34-35).

وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Para pendurhaka yang menghimpun harta benda, permata, emas dan perak itu, boleh jadi memiliki hiasan duniawi dan keni’matan yang menggiurkan ..
Ummat islam di ingatkan melalui Rosul saw yang menjadi pemimpin dan teladan bagi mereka ..
“Janganlah sekali-kali engkau arahkan kedua matamu dengan penuh antusias dan keinginan menggebu kepada apa yang telah Kami berikan berupa kenyamanan bermacam-macam kepada golongan-golongan tertentu dari mereka para pendurhaka ..
Karena kenyamanan tersebut hanyalah sebagai bunga kehidupan dunia belaka ..
Hiasan sementara yang segera akan layu dan punah ..

Kami berikan kenyamanan itu untuk Kami uji mereka dengannya ..
Apakah mereka mensyukuri anugrah dan karunia Alloh atau tidak ..
Alloh memiliki karunia yang jauh lebih baik dari apa yang diberikan-Nya kepada mereka itu ..
Dan ketahuilah .!
Karunia Tuhanmu yang di anugrahkan-Nya kepada mereka yang taat di dunia ini ..
Pasti akan di berikan-Nya kepadamu di akhirat nanti adalah lebih baik dan lebih kekal ..”
(QS. Thoha [20]:131).

Memanjangkan mata atau mengarahkan mata terhadap sesuatu , pertanda perhatian yang besar serta rasa kagum dan cinta kepadanya ..
Dari sini larangan di atas di fahami sebagai larangan untuk menaruh perhatian yang luar biasa dan keinginan yang mendalam serta rasa kagum terhadap hiasan dunia ..
Sehingga menjadikan mereka lupa negri akhirat dan melalaika tuntunan Alloh yang memberi anugrah ..

Sebenarnya apa pun yang diperoleh seseorang merupakan karunia yang bersumber dari Alloh swt ..
Akan tetapi yang diperoleh dengan cara haram pasti akan berdampak buruk bagi yang bersangkutan ..
Dan apa saja yang di anugrahkan Alloh benar-benar baik dan akn berdampak baik pula bagi yang memperolehnya secara halal ..

Inilah ujian Alloh ..
Berupa bunga kehidupan dunia ..

SHODAQOH PENGHAPUS DOSA

Alloh swt berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah shodaqoh dari sebagian harta mereka.
dengannya kamu membersihkan dan mensucikan mereka.
dan berdo’alah untuk mereka.
Sesungguhnya do’amu adalah ketenteraman jiwa bagi mereka.
Dan Alloh Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.” – (QS. At-Taubah [9]:103).

Asy-Sya’rowi memahami penyandaran harta kepada mereka “amwalihim” -HARTA MEREKA- bertujuan memberi rasa tenang kepada pemilik harta.
Tujuan penenangan itu adalah agar setiap orang giat mencari harta, karena jika seandainya apa yang dimiliki seseorang dari hasil usahanya hanya sebatas apa yang dibutuhkannya, maka ketika itu tidak akan lahir dorongan untuk melipat-gandakan upaya guna memperoleh harta melebihi kebutuhan. Dan ini pada akhirnya menjadikan mereka malas, sehingga orang yang benar-benar tidak mampu bekerja tidak akan memperoleh kebutuhan mereka.

Ulama memahami, kata “tuzakkihim” terambil dari kata “zakat” dan “tazkiyah” yang dapat berarti suci dan dapat juga berarti berkembang.
kata “tuthoh-hiruhum” dalam arti -membersihkan dosa mereka-, dan kata “tuzakkiihim” adalah -menghiasi jiwa mereka dengan aneka kebajikan-.
Sementara Asy-Sya’rowi memahami kata “tuthot-hiruhum wa tuzakkiihim” mencakup semua unsur yang terlibat dalam shodaqoh, ya’ni harta, pemberi dan penerima.

Memang boleh jadi ketika mengusahakan perolehan harta, seseorang melakukan sesuatu yang kurang wajar, dan menodai harta yang diperolehnya itu.
Dengan bershodaqoh, noda itu dikeluarkan dan harta yang berada padanya menjadi bersih.
Jiwa pemberinya pun menjadi suci dan hatinya tenang.

Dengan memeberikan shodaqoh kepada mereka, mereka akan merasa tenang, bahwa mereka akan selalu dibantu selama si pemberi memiliki kemampuan, dengan demikian ia akan ikut menjaga harta tersebut, dari sini lahir ketenangan bagi semua pihak termasuk pemberi shodaqoh.
Sehingga yang diberi pun menjadi bersih hatinya dari kedengkian terhadap si pemberi yang mengulurkan bantuan kepadanya, sekaligus memelihara dan membersihkan dirinya dari aib dan kotoran serta pemeliharaan.
Dengan demikian, shodaqoh membersihkan dan mengembangkan harta pemberi dan penerimanya.

Alloh swt berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Alloh menerima taubat dari hamba hamba-Nya .?
dan mengambil shodaqoh shodaqoh
dan bahwa Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]:104).

“Alloh MENERIMA tobat dari hamba hamba-Nya dan MENGAMBIL shodaqoh shodaqoh” kalimat ini mengisyaratkan bahwa kehidupan atau hubungan timbal balik ..
Memang dalam kehidupan nyata, hal tersebut seyogianya terjadi .. ya’ni sebanyak anda menerima sebanyak itu pula anda memberi.

“Sahabat Nabi Muhammad saw, Abdulloh ibnu Mas’ud menafsirkan kata “haqqo tuqootihi” -sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya- (QS.3:102) mengandung arti menta’ati Alloh swt dan tidak sekalipun durhaka .. mengingatnya dan tidak sesa’atpun lupa .. mensyukuri ni’mat-Nya dan tidak satupun yang di ingkari ..”

Memang jika memperhatikan kalimat “sebenar-benar taqwa kepada-Nya” terkesan bahwa kwtakwaan yang dituntut itu adalah yang sesuai dengan kebesaran, keagungan dan anugrah Alloh swt.
Disisi lain sunnatulloh serta hukum moral menunjukkan pada kita, menuntut kita untuk memberi sebanyak yang kita ambil.
Lebah memberi madu sebanyak yang sesuai dengan sari kembang yang dihisabnya.
Bulan memancarkan cahaya sebanyak yang sesuai dengan posisinya terhadap matahari.
Manusia terhadap Alloh pun seharusnya demikian .. sebanyak ni’mat-Nya sebanyak itu pula seharusnya pengabdian kepada-Nya .. Pahala sebanyak atau sebesar yang diberikan-Nya, sebanyak dan sebesr itu pula yang seharusnya dihadiahkan atau dishodaqohkannya.

Orang-orang yang telah menjalin perjanjian dengan Alloh swt, hendaklah selalu konsisten menyalurkan kewajibannya kepada mereka, membantu mereka agar menjadi sukses, sehingga agama mereka dapat terpelihara dan terlindungi dengan memberikan kemudahan-kemudahan baik dalam bentuk material -lahiriyah- dan immaterial -bathiniyah-. Seperti yang telah Alloh tegaskan dalam firman-Nya:

وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ

“Dan berikanlah kepada mereka HARTA ALLOH, yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. An-Nur [24]: 33).

Pengguna’an kata “harta Alloh” bertujuan untuk menanamkan rasa tenang bagi pemilik harta, bahwa apa yang diberikannya itu bersumber dari Alloh, akan tetapi diakui sebagai harta mereka.

Ayat an-Nur disini tujuannya antara lain adalah untuk mengingatkan semua pihak bahwa apa yang berada dalam genggaman tangan seseorang, baik ketika menerima maupun ketika memberinya, pada hakekatnya adalah milik Alloh swt.

Dengan demikian yang memberi tidak kikir atau berat hati, karena apa yang dia berikan bukanlah miliknya, dan yang menerima pun tidak harus kehilangan muka saat menerimanya, karena yang menyerahkan dan menyalurkannya adalah Alloh yang harta tersebut memang sesungguhnya berada dalam gudang simpanan Alloh swt .. dan ini pada gilirannya melahirkan kegiatan positif dan menjadikan si pemilik harta berkonsentrasi dalam usahanya, sehingga memproleh keuntungan yang lebih banyak.

Pemberian tersebut adalah “pinjaman” kepada Alloh:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bershodaqoh, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Alloh pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan pembayarannya kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid [57]:18).

Kembali kepada Firman-Nya: “Alloh mengambil shodaqoh-shodaqoh”
Merupakan dorongan kepada setiap orang untuk mengeluarkan shodaqoh “sirriyah” dengan ikhlas, ketulusan hati dan dari yang paling bersih, karena yang menerimanya dan menyimpannya adalah Alloh swt.
Bukankankah seseorang akan merasa bangga dan terhormat bila memberikan sesuatu lagi diterima secara langsung oleh fihak yang Sangat Terhormat .?
Bukankankah anda merasa berbahagia jika sumbangan anda diterima langsung oleh Kepala Negara .?

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupan kamu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kamu.” (QS. At-Taghobun [64]:16).

Dalam surat 9 ayat 103 Alloh swt menyatakan:
“Ambillah shodaqoh dari SEBAGIAN harta mereka.” Artinya Alloh tidak menuntut agar memberi semua harta yang dimiliki .. yang dituntut-Nya hanya sebagian, tetapi ganjaran yang dianugrahkan-Nya bukan hanya pelipat gandaan pahala harta yang disumbangkan itu, tetapi juga pengampunan dosa.

SEMUA MENYAKSIKAN

Alloh swt mendorong manusia untuk giat bekerja, sambil menenangkan mereka bahwa hasil usaha mereka adalah milik mereka, walau melebihi kebutuhan.
Selanjutnya menganjurkan siapa yang memiliki kelebihan dari kebutuhannya untuk memberi yang tidak mampu bekerja.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah -wahai Nabi Muhammad kepada ummatmu :
“Bekerjalah kamu -demi karena melaksanakan perintah Alloh semata, dengan aneka kebajikan dan amal sholeh yang bermanfaat, baik untuk diri dan masyarakat umum-.
Maka Alloh akan melihat, -menilai dan memberi ganjaran- amal kamu itu.
dan Rosul-Nya -Nabi Muhammad saw- serta orang orang mukmin -akan melihat dan menilainya juga, kemudian menyesuaikan perlakuan mereka dengan amal amal kamu itu-
dan kamu akan dikembalikan melalui kematian- kepada Alloh Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Lalu diberitakan-Nya kepada kamu- sangsi dan ganjaran atas- apa yang telah kamu kerjakan, -baik yang nampak ke permukaan maupun yang kamu sembunyikan dalam hati.” (QS. At-Taubah [9]:105).

Ayat ini berbicara tentang orang-orang khusus ..
Firman-Nya: “akan melihat amal kamu” ya’ni amal yang di dunia ini. Dan firman-Nya: “kamu akan dikembalikan” menunjik kepada hari kebangkitan nanti.

Seseorang akan mengetahui hakekat amal mereka kelak di hari kemudian .. Sebelum itu, didunia manusia secara umum hanya dapat melihat yang lahir dari amal-amal itu, bukan hakekatnya.

Ketika ayat ini menyatakan bahwa kaum mukminin akan melihat amal-amal tersebut, maka yang dimaksud dengan kaum mukminin yang yang melihat itu adalah mereka yang terpilih akan menjadi syuhada’ -saksi-saksi amal-. Serupa dengan firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

“Dan demikian -pula- Kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi-saksi atas -perbuatan manusia, dan agar Rosul -Nabi Muhammad saw- menjadi saksi atas -perbuatan kamu.” (QS. Al-Baqoroh [2]:143).

Dengan demikian ayat ini bermakna .. “Wahai Muhammad, katakanlah:
“Lakukanlah apa yang kamu kehendaki -baik atau buruk- karena Alloh akan menyaksikan hakekat amal kamu, dan disaksikan pula oleh Rosul dan orang mukmin yang pilihan ya’ni syuhada’ -saksi-saksi amal-, amal apapun yang kamu kerjakan -baik atau buruk ..
Maka hakekatnya -bukan yang nyata didunia ini- disaksikan oleh Alloh Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Kemudian Rosul-Nya dan orang-orang mukmin yang husus didunia ini, yaitu yang menjadi saksi-saksi amal manusia, lalu kamu semua dikembalikan kepada Alloh di hari kemudian, dan ketika itu kamu mengetahui hakekat amal kamu.”

Ayat ini bertujuan mendorong manusia untuk mawas diri, mengawasi amal-amal dan mengontrol nafsu dengan jalan mengendalikannya.
Setiap amal yang baik dan yang buruk, memiliki hakekat yang tidak dapat disembunyikan, dan mempunyai saksi-saksi yang mengetahui dan melihat hakekatnya, yaitu Rosul saw dan para saksi amal-amal dari kelompok kaum mukminin setelah Alloh swt.
Lalu Alloh swt akan membuka tabir yang menutupi mata mereka yang mengerjakan amal-amal tersebut pada hari kiamat, sehingga mereka pun akan mengetahui dan melihat hakekat amal mereka, sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari -hal- ini, maka Kami singkapkan tabir -yang menutupi- dirimu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” – (QS. Qof [50]:22).

Dari uraian ayat diatas terlihat bahwa kata “al-mukminun” bukan semua kaum mukminin, tetapi orang-orang husus yang berkedudukan sebagai syahid, ya’ni saksi-saksi amal manusia.

RAHASIA SHODAQOH

Bershodaqoh dalam kondisi sehat lebih utama daripada bershodaqoh ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya.
Abu Huroiroh ra meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi saw bertanya:
“Wahai Rosululloh, shodaqoh apa yang paling utama .?”
Beliau saw menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Engkau bershodaqoh dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan:
“Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.”
Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

KEUTAMAAN SHODAQOH TIDAK TERBATAS

Dari Abu Dzar ra.: Sejumlah orang sahabat Rosululloh saw. berkata kepada beliau:

أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .

“Wahai Rosululloh, para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan sholat sebagai mana kami Sholat, mereka mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sementara kami tidak bisa melakukannya).”
Beliau saw bersabda:
“Bukankah Alloh telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang kalian shodaqohkan .?”

• Sesungguhnya setiap tasbih (Subhaanalloh) adalah shodaqoh bagi kalian.
• Setiap takbir (Allohu Akbar) adalah shodaqoh bagi kalian.
• Setiap tahmid (Al-Hamdulillaah) adalah shodaqoh bagi kalian.
• Setiap tahlil (Laa Ilaaha Illallooh) adalah shodaqoh bagi kalian.
• Amar ma’ruf adalah shodaqoh.
• Nahi mungkar adalah shodaqoh.
• Dan bersetubuh (suami-istri) adalah shodaqoh.

Mereka bertanya:
“Wahai Rosulluloh, apakah diantara kami menyalurkan syahwatnya (kepada Istrinya) juga mendapat pahala .?”
Jawab Beliau saw:
“Tahukah kalian .. jika dia menyalurkannya kepada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa .?
Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal (dengan Istrinya), maka baginya adalah pahala.” (HR. Muslim).

Dari Abu Dzar ra. Rosululloh bersabda:
“ Setiap manusia diwajibkan shodaqoh setiap hari sejak terbitnya matahari.”
Para sahabat bertanya:
“Ya Rosululloh, dari mana kami bisa bershodaqoh .?”
Rosululloh saw menjawab:
“Pintu kebaikan begitu banyak
• Tasbih, tahmid, takbir, tahlil.
• Amar ma’ruf nahi mungkar.
• Menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dijalan.
• Memahamkan orang bisu.
• Menuntun orang buta.
• Menunjukan bagi orang yang meminta petunjuk sesuai dengan kebutuhannya.
• Membantu orang yang dirundung duka dan meminta pertolongan dengan usahamu.
•dan Menanggung/menolong orang yang lemah dengan kekuatan kedua lenganmu.
Semua itu merupakan shodaqoh darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Ibnu Hibban).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib atasnya shodaqoh setiap matahari terbit
• Engkau berbuat adil kepada dua orang yang bertikai adalah shodaqoh.
• Engkau menolong seseorang akan binatang kendaraannya dan engkau mengangkat barang-barang ke atas kendaraanya adalah shodaqoh.
• Kata-kata yang baik adalah shodaqoh.
• Tiap langkah yang engkau ayunkan untuk mengerjakan sholat adalah shodaqoh.
• Dan engkau menghilangkan bahaya dari jalan adalah shodaqoh.” (HR. Bukhori).

RAHASIA SHODAQOH

Hidup bukan hanya sekedar menarik nafas dan menghembuskan nafas .. Hidup adalah gerak, rasa, tau, ngerti, kehendak dan pilihan.
Manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya ia harus bantu-membantu, saling lengkap melengkapi, dan karena itu pula mereka harus beragam dan berbeda-beda, agar mereka saling membutuhkan.
Yang tidak mampu dalam satu bidang, dibantu oleh yang lain yang mumpuni, atau berlebih dibidang itu. Yang kuat membantu yang lemah .. Alloh berpesan kepada yang berharta agar tidak merasa berat membantu, karena apa yang dihadiahkan atau dishodaqohkan akan tumbuh berkembang dengan berlipat ganda ..

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh, adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji.
Alloh -terus-menerus- melipat-gandakan -ganjaran-, bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Alloh Maha Luas -karunia-Nya-, lagi Maha Mengetahui.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:261).

“Perumpamaan -keadaan yang sangat mengagumkan dari- orang-orang yang menafkahkan hartanya -dengan ikhlas untuk saudaranya muslimin muslimat dan mukminin mukminat, demi mengikuti Rosul- di jalan Alloh, adalah serupa -dengan keadaan yang sangat mengagumkan dari seorang petani yang menabur- benih. -Sebutir benih yang ditanamnya- menumbuhkan tujuh butir, dan pada setiap butir terdapat seratus biji.”

Dengan perumpamaan yang mengagumkan itu hendaknya manusia terdorong untuk beshodaqoh.
Bukankah jika ia menanam sebutir di tanah, tidak lama kemudian ia akan mendapatkan benih tumbuh berkembang sehingga menjadi tumbuhan yang menumbuhkan buah yang sangat banyak .?
Pertanyaannya .. Apakah keyakinanmu kepada tanah melebihi keyakinanmu kepada pencipta tanah ..?

Ayat ini menyebut angka 7, tidak harus dipahami dalam arti angka yang diatas 6 dan dibawah 8, serupa dengan istilah 1001 yang tidak berarti angka dibawah 1002 dan diatas 1000 .. Bahkan pelipat gandaan yang Alloh berikan itu tidak hanya 700 kali, tapi jauh lebih banyak dari pada itu.

“Alloh -terus menerus- melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. -jangan menduga Alloh tidak mampu memberi sebanyak mungkin ..
Bagaimana mungkin Alloh tidak mampu, bukankah- Alloh Maha Luas anugerah-Nya ..
-Jangan juga menduga Alloh tidak tau siapa yang Niat dengan tulus menshodaqohkan anugerah pahalanya untuk kaum mukminin dan muslimat yang diridhoi-Nya .. Yakinlah bahwa- Dia Maha Mengetahui.”

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh, kemudian mereka tidak mengiringi, apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya, dan dengan tidak mengganggu -menyakiti perasaan si penerima-, bagi mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.
Tidak ada kehawatiran terhadap diri mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:262).

Ayat ini menjelaskan salah satu sisi dari cara menginfakkan harta yang direstui Alloh swt, dan yang diperintahkan-Nya .. yaitu mereka tidak menyebut-nyebut ni’mat pemberiannya kepada yang diberi serta membanggakannya, sehingga yang diberi merasa malu dan hilang air mukanya dan tidak pula menyakiti hati orang yang diberinya.
Si pemberi dituntut untuk tidak melakukan kedua keburukan itu bukan hanya pada saat pemberian saja, tetapi juga dikemudian hari setelah masa yang berkepanjangan berlalu dari masa pemberian ..
Memang ada orang pada saat memberi, memberikannya secara tulus, bahkan mungkin rahasia, tetapi beberapa lama kemudian dia menceritakan pemberiannya kepada orang lain, yang mengakibatkan yang diberi merasa malu atau tersinggung perasaannya.

Firman-Nya: “Bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka, -bukan hanya ganjaran yang diperoleh, melainkan juga- tidak akan disentuh oleh rasa takut -ya’ni keresahan menyangkut masa depan- tidak pula akan bersedih hati -ya’ni keresahan akibat apa yang terjadi dimasa lalu.”

Tidak jarang orang yang akan bershodaqoh atau yang telah bershodaqoh mendapat bisikan, baik dari dalam dirinya atau dari orang lain, yang menganjurkannya untuk tidak bershodaqoh atau tidak terlalu banyak memberi, dengan alasan untuk memperoleh rasa `aman` dalam bidang materi menyangkut masa depan diri atau keluarganya.

Nah , salah satu aspek dari ma’na “Tidak ada kehawatiran atas mereka” adalah dari sisi `shodaqoh sirriyah, dengan menghadiahkan harta berupa pahala` menyangkut masa depan yang lebih jauh `akherat` mencakup janji anugerah rizki dari Alloh .. Sehingga mereka yang memberikan harta berupa pahala akan lebih terjaga dari dua keburukan menyebut-nyebut dan menyakiti yang menerima, “dan tidak pula mereka bersedih hati” akibat pemberian yang diberikannya itu, yang mungkin terbetik didalam benaknya bahwa sedikit atau banyak itu bukan pada tempatnya.

Sya’rowi al-Mutawalli mengemukakan rizki terbagi menjadi dua bentuk ..
Pertama, rizki dhohir perolehan sesuatu yang jelas, misalnya uang dan harta benda lainnya.
Kedua, rizki bathin, dalam bentuk pahala, keterhindaran dari hal-hal yang meresahkan, sehingga ia tidak perlu mengeluarkan biaya.

Memang seringkali atau kebanyakan orang hanya melihat rizki yang berbentuk perolehan dhohiriyah dan melupakan rizki yang berbentuk bathiniyah, dan hal inilah yang membuat orang banyak tertipu, sehingga lebih mengutamakan urusan dunia yang sepele, sementara melupakan urusan akherat yang lebih besar dan lebih utama nilainya di sisi Alloh swt.

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari shodaqoh, yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan -perasaan sipenerima-. Alloh Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:263).

“Perkataan yang baik” yang sesuai dengan budaya terpuji dalam suatu masyarakat adalah ucapan yang tidak menyakiti hati penerima atau peminta, seperti berkata “dasar peminta-minta”, maupun yang berkaitan dengan pemberi, misalnya dengan berkata “saya sedang sibuk”. Perkataan yang baik itu lebih baik walau tanpa memberi sesuatu, daripada memberi dengan menyakitkan hati yang diberi.

Demikian juga memberi ma’af kepada kepada peminta-minta yang tidak jarang menyakitkan hati pemberi, apalagi kalau si peminta-minta mendesak atau merengek-rengek, juga jauh lebih baik daripada memberi tetapi disertai dengan menyebut-nyebut dan menyakiti.
Ini karena memberi dengan menyakiti hati adalah aktifitas yang menggabung kebaikan dan keburukan, atau plus dan minus

Keburukan atau minus yang dilakukan lebih banyak dari plus yang diraih, sehingga hasil akhirnya adalah minus. Karena itu ucapan yang baik lebih terpuji daripada memberi dengan menyakitkan hati, karena yang pertama adalah plus dan yang kedua adalah minus.

“Alloh Maha Kaya” tidak butuh pada pemberian siapa pun. Alloh juga tidak butuh pada mereka yang menafkahkan hartanya untuk diberikan pada siapa pun makhluk-Nya. Alloh juga tidak menerima shodaqoh yang disertai dengan menyebut-nyebut dan menyakiti si penerima. Karena Alloh Maha Kaya, dan pada saat yang sama Alloh Maha Penyantun, senantiasa mencurahkan rohmat-Nya kepada orang-orang yang berkasih sayang terhadap sesama dengan memberi maaf serta memohonkan maaf atas kesalahan dan dosa mereka, sehingga tidak segera menjatuhkan sangsi atau tidak sama sekali menjatuhkan murka-Nya kepada siapa yang durhaka kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan [`ganjaran`] shodaqoh kamu, dengan menyebut-nyebutnya dan mengganggu -perasaan sipenerima-, seperti orang yang menafkahkan hartanya, karena riya’ kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Alloh dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu, seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu batu itu ditimpa hujan lebat, maka menjadilah dia bersih -tidak bertanah/berdebu-.
Mereka tidak menguasai sesuatu pun, dari apa yang mereka usahakan; dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:264).

Seperti yang terbaca diatas, ayat ini dimulai dengan panggilan mesra Ilahi “hai orang-orang yang beriman”. Panggilan mesra itu disusul dengan larangan “Jangan membatalkan [`ganjaran`] shodaqohmu”. Kata `ganjaran` tidak disebut dalam ayat ini untuk mengisyaratkan sesuatu yang tersembunyi atau yang dirahasiakan ya’ni `ganjaran` akherat yang telah dismpan oleh Alloh, dari yang telah kamu berikan kepada saudara muslimin dan muslimat serta mukminin dan mukminat.
Kalau kamu `membatalkan` bukan hanya `ganjaran` atau `hasil shodaqoh` itu `yang hilang` tetapi shodaqoh yang merupakan modal pun hilang tidak berbekas. Padahal tadinya modal itu ada, dan ganjarannya seharusnya juga ada, namun kini keduanya hilang lenyap.

Alloh bermaksud melipat-gandakannya, tetapi kamu sendiri yang melakukan sesuatu yang mengakibatkannya hilang lenyap, karena kamu “menyebut-nyebut dan mengganggu” perasaan si penerima. Jika kamu melakukan keburukan itu, maka jangan keberatan dengan hilangnya shodaqoh itu, karena keadaan kamu sama “seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya`” ingin mendapat pujian dan nama baik, “dan dia tidak beriman kepada Alloh dan hari kemudian.” Sungguh tercela sifat mereka.

Dua kelakuan buruk diatas dipersamakan dengan dua hal buruk ‘pamrih dan tidak beriman’. Memang orang yang pamrih melakukan sesuatu dengan tujuan mendapat pujian manusia, tidak wajar mendapat ganjaran `pujian` dari Alloh.
Jika ia menuntut ganjaran, hendaklah ia memintanya kepada siapa yang ia tujukan pekerjaan itu. Tidaklah benar meminta upah dari seseorang yang anda tidak bekerja untuknya. Orang yang pamrih hanyalah mereka yang mengharap upahnya di dunia ini.

jangan heran .. Orang yang bershodaqoh disertai “menyebut-nyebut dan mengganggu” atau menodai shodaqohnya dengan riya`, diibaratkan seperti meletakkan sesuatu diatas batu licin, “lalu batu itu tersiram hujan yang sangat lebat”.
Seandainya itu bukan batu licin -andaikan batu retak, berlubang, berpori-pori atau kasar- sedikit saja hujan bisa jadi masih ada tanah yang tersisa, tetapi batu itu halus dan licin, sedikit air saja sudah dapat membersihkannya, apalagi kalau “hujan itu sangat lebat, maka ia menjadi bersih” tidak meninggalkan sedikit pun tanah atau debu.

Pada ayat 261 yang lalu seorang yang tulus bershodaqoh diumpamakan seperti petani yang menanam satu butir benih di tanah yang subur, sehingga menghasilkan tujuh ratus butir, bahkan berlipat lebih dari pada itu, maka di ayat 264 ini, benih itu ditanam diatas batu, sehingga tidak dapat tumbuh bahkan benihnya hilang terbawa hujan.
Dengan demikian “mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan” ya’ni tidak mendapatkan sesuatu apa pun dari hasil shodaqohnya, dan memang “Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”, antara lain mereka yang mengkufuri ni’mat-Nya dan tidak mensyukuri-Nya.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya, karena mencari keridhoan Alloh, dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi, yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya, dua kali lipat -banyaknya-. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis -pun memadai-. Dan Alloh Maha Melihat, apa yang kamu perbuat.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:265).

1. مَرْضَاةِ اللَّهِ –
Keridloan Alloh, mengandung ma’na pengulangan, ya’ni berulang-ulangnya ridlo Alloh , sehingga menjadi mantab dan berkesinambungan.
2. تَثْبِيتًا –
Mengandung ma’na pengukuhan atau keteguhan jiwa mereka , ya’ni nafkah yang mereka berikan itu adalah dalam rangka mengasah dan mengasuh jiwa mereka .. Sehingga memperoleh kelapangan dada dan pemaafan terhadap gangguan dan kesalahan orang lain .. serta kesabaran dan keteguhan jiwa dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban agama ..
Ini karena mereka berhasil menundukkan nafsunya, dengan mengorbankan sebagian harta yang dimiliki .. Oleh karenanya mereka tidak akan menemukan banyak kesulitan mengarahkan dirinya menuju ke arah keluhuran budi dan keta’atan kepada Alloh swt ..

“Perumpamaan orang-orang yang membelajakan hartanya karena mencari keridhohan Alloh dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di daratan tinggi ..
Ia tidak membutuhkan bahkan tidak terpengaruh dengan air yang berada di daratan rendah, dan bisa jadi air dari bawah merusak akar tanaman, sehingga pohonnya tidak dapat tumbuh subur ..
Kebun itu disiram oleh hujan yang sangat lebat, yang tercurah secara langsung dari langit menimpa daun dan dahan, kemudian diserap tanah dan ditampung oleh akar-akarnya ..
Kalaupun hujan lebat tidak mengairinya, gerimis atau embun pun cukup memadai untuk pertumbuhannya .. Tidak heran jika hasil buahnya dua kali lipat ..
Demikian keadaan kebun itu, baik air yang diterimanya banyak maupun sedikit, selalu saja ia menghasilkan buah .. Demikian juga orang yang bershodaqoh selalu berbuah dengan buah yang baik ..” (Tafsir al-Mishbah)

Ayat ini memberi perumpamaan dalam hal menafkahkan harta dengan sebuah kebun, sedang ayat yang lalu mengibaratkan pemberian nafkah dengan sebutir benih, ini semua karena berbicara dengan tujuan pemberian shodaqoh guna memperoleh ridho Alloh yang terus berulang-ulang dan berkesinambungan.

Perumpamaan di ayat 265 ini ada dua tujuan utama dari mereka yang terpuji dengan membelanjakan harta dan pengukuhan jiwa dalam rangka pengendalian nafsu .. dari sini dapat dimengerti bahwa perumpamaan yang diberikannya adalah sesuatu yang jelas, yang telah memiliki akar yang tajam menghujam dalam ke tanah, berbuah banyak, dan memiliki air yang cukup. Sedangkan di ayat 261 yang lalu hanya berbicara tentang menafkahkan harta dijalan Alloh, tanpa menjelaskan tujuan seperti di ayat 265 ini.
Karena itu pula perumpamaan yang diberikan ayat 261 hanya dalam bentuk benih yang tentu masih memerlukan air, pupuk, perawatan dan lain sebagainya .. ya’ni pemeliharaan hubungan cinta dan kasih sayang antar sesama.

Dari sini dapat difahami bahwa tujuan ayat 261 adalah shodaqoh yang bersifat `sirriyah` tujuan shodaqoh husus, `hanya Alloh dan dirinya` .. ya’ni merahasiakan hadiah pemberian Alloh yang berupa pahala untuk orang-orang mukminin-mukminat dan muslimin-muslimat .. Nah , jika demikian .. maka shodaqoh sirriyah yang dihadiahkan kepada meraka, tentu saja memerlukan perhatian husus pula dalam pemeliharaannya `secara ekstra`.

Kalau demikian, maka hendakndaknya kamu sekalian menshodaqohkan hartamu dengan tulus dengan pemeliharaan mengendalikan nafsu yang optimal sambil mencari ridho Alloh ..
Ketahuilah bahwa :
اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Alloh Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
Kalau itu kamu abaikan, maka kamu akan mendapatkan kesulitan ..
kesulitan itu dilukiskan oleh ayat berikut ..

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Ayat ini dikemukakan dalam betuk pertanyaan :
“Apakah ada salah seorang di antara kamu -suka ..? memiliki kebun dengan hasil yang beraneka ragam- ada kurma dan anggur, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, -ya’ni memiliki sumber air yang cukup, dan dari dirinya-, bahkan segala macam buah-buahan -pun menyemarakkan isi kebun itu .. Pasti ia akan menjawab suka ..

Pemilik kebun mengalami usia lanjut, sehingga dia tidak lagi dapat bekerja sedangkan “dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil.”
Sungguh keadaan demikian menjadikan dia hanya dapat mengandalkan kebun itu .. tetapi tiba-tiba “kebun itu diterpa angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar”
Adakah yang ingin mengalami hal serupa .? Tentu tidak .! Jika demikian hindarilah memberi shodaqoh dengan pamrih, karena keadaannya kelak dihari kemudian serupa dengan itu.
Di dunia dia memiliki sesuatu yang dia shodaqohkan itu .. dan di akherat nanti dalam situasi yang sangat sulit, dia mengharap kiranya shodaqoh yang pernah diberikannya di dunia dapat dia peroleh ganjarannya .. tetapi ternyata dia tidak memperoleh sesuatu .. karena semua telah hancur dan punah oleh angin ribut yang membawa api itu ..
“Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu memikirkan-nya.” (QS. Al-Baqoroh [2]::266).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Ayat ini menguraikan dengan jelas dua macam shodaqoh .. Pertama diberikannya dalam bentuk immaterial ya’ni dari hasil amal ibadah. Kedua, material yang dikeluarkan dari hasil pengolahan bumi ..

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah yang baik-baik, sebagian dari hasil usaha kamu.”
Yang pertama adalah yang di shodaqohkan dari “yang baik-baik” tetapi tidak harus semuanya di shodaqohkan, cukup “sebagian” saja .. ada yang bentuk wajib ada yang bentuk anjuran atau sunnah. Selanjutnya yang di shodaqohkan itu adalah “dari hasil usaha kamu”.

Yang kedua, ”Dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi, untuk kamu.”
Tentu saja hasil usaha manusia bermacam-macam, bahkan dari hari ke hari muncul usaha-usaha baru yang belum dikenal sebelumnya, seperti usaha jasa dengan keaneka ragaman, semuanya dicakup oleh ayat ini, dan semuanya perlu dishodaqohkan sebagian darinya.

“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.
Dan ketahuilah, bahwa Alloh Maha Kaya, lagi Maha Terpuji.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:267).

WASPADAI BAHAYA SYETAN

Fakhisyah adalah segala sesuatu yang dihimpun oleh apa yang dianggap sangat buruk oleh akal sehat, agama, budaya dan naluri manusia.

Alloh swt berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syetan menjanjikan -menakut-nakuti- kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan -dan kikir- sedang Alloh menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Alloh Maha Luas -karunia-Nya-, lagi Maha Mengetahui.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:268).

Dalam kontek ayat diatas `fakhisyah` termasuk kikir, menyebut-nyebut kebaikan, menyakiti dan mengganggu dan sebagainya.
Kekikiran melahirkan sifat rakus dan enggan bershodaqoh, dan pada gilirannya menjadi lahan yang sangat subur bagi syetan untuk mengantar kepada aneka kejahatan.
Seorang yang memiliki kelebihan dan kikir, kekikirannya akan membuahkan iri hati, dengki anggota masyarakat, yang akan memancing syetan menyuruh dan mendorong anggota masyarakat untuk melakukan aneka kejahatan, seperti pencurian, peranpokan, pembunuhan dan sebagainya.

Memang untuk bershodaqoh dan menafkahkan harta di jalan Alloh, seringkali timbul bisikan melarang dan menakut-nakuti, sesungguhnya itu adalah ulah syetan agar manusia terjerumus dalam kemiskinan, miskin di dunia, yang berdampak miskin pula di akherat.

Apakah syetan itu .?
Anda tidak harus merujuk ke kamus-kamus bahasa, atau mencari kata-kata hikmah dan penjelasan dari siapa pun untuk mengetahui secara umum sifat-sifat syetan, karena kata itu telah difahami oleh manusia sebagai lambang kejahatan, atau bahkan wujud kejahatan, sehingga ia bagaikan sesuatu yang bersifat indrawi dan nyata, bukan imajinatif dan abstrak.

Namun demikian, para ilmuan berbeda pendapat tentang asal kata syetan dan hakekatnya.
Ada yang menduga bahwa kata `setan` atau `syetan` atau `syaithon`, dalam bahasa Arab terambil dari bahasa Ibrani yang berarti `lawan` atau `musuh`, alasannya antara lain adalah bahwa kata itu sudah dikenal dalam agama Yahudi yang lahir mendahului agama Kristen dan Islam, seperti diketahui.

Pakar-pakar bahasa Arab menyatakan, bahwa syetan merupakan bahasa Arab asli yang sudah sangat tua, dari kata-kata serupa yang digunakan oleh selain orang-orang Arab, ini dibuktikan dengan adanya selain kata Arab asli yang dapat dibentuk dengan bentuk kata `syaithon` `syathotho` `syautho` `syathona` yang mengandung ma’na-ma’na jauh, tersesat, berkobar, dan terbakar serta ekstrim, dan dalam arti-arti melakukan kebathilan atau kerusakan.

Quraisy Shihab berpendapat bahwa, beliau mendapat kesan dari sekian ayat al-Qur’an dan hadits, bahwa kata syetan tidak terbatas pada manusia dan jin, tetapi juga dapat berarti pelaku sesuatu yang buruk atau tidak menyenangkan, atau sesuatu yang buruk dan tercela.
Bukankah syetan merupakan lambang kejahatan dan keburukan .?

Jin dan makhluk halus yang diciptakan oleh Alloh dari api. Jin yang membangkang dan mengajak kepada kedurhakaan adalah satu jenis syetan.
Manusia yang durhaka dan mengajak kepada kedurhakaan juga di namai syetan.
Jadi syetan tidak selalu berupa jin, tetapi juga dari jenis manusia .. di sisi lain, syetan bukan sekedar durhaka atau kafir, tetapi sekaligus juga mengajak kepada kedurhakaan.

Asy-Sya’rowi al-Mutawalli mengemukakan dalam bukunya yang berjudul “Asy-syaithon wal Insan” mengatakan:
“Kita harus tau ada syetan-syetan dari jenis jin dan syetan-syetan dari jenis manusia. Kedua jenis itu dihimpun oleh sifat yang sama dan juga tugas yang sama, yaitu menyebarluaskan kedurhakaan dan pengerusakan di bumi. Syetan-syetan jin adalah mereka yang durhaka dari jenis jin yang membendung kebenaran dan mengajak kepada kekufuran. Syetan-syetan jenis manusia melaksanakan tugas yang sama.”

Yang dikemukakan ini berdasarkan firman Alloh swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan -dari golongan- manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” – (QS.6:112).

ORANG YANG MENDAPAT HIKMAH

Akal sehat menetapkan bahwa jalan yang baik dan jalan yang benar adalah jalan Alloh, karena itu yang menelusurinya mendapat ketentraman serta meraih peningkatan derajat-derajat menuju Tuhan .. Itulah sebuah pilihan yang bijaksana .. Hanya yang dianugerahi hikmah yang dapat memahami dan mengambil pilihan yang tepat.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

Siapa yang dianugerahi pengetahuan tentang kedua jalan itu, akan mampu memilih dan melaksanakannya serta mampu pula menghindar dari yang buruk ..
“Alloh menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, barang siapa saja yang dianugerahi al-hikmah itu, maka ia benar-benar telah diberi anugerah yang banyak.”
Sayang .. tidak semua menggunakan potensinya mengasah dan mengasuh jiwanya, sehingga tidak semua mau menggunakan akalnya untuk memahami pelajaran tentang hakekat ini.
“Hanya Ulil-Albab yang dapat mengambil pelajaran.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:269).

Al-Hikmah adalah `kendali` yang fungsinya mengantar kepada yang baik dan menghindarkan dari yang buruk .. Untuk mencapai maksud tersebut diperlukan pengetahuan dan kemampuan menerapkannya, dan sungguh beruntung orang-orang yang memperoleh Hikmah, dia mampu melihat jalan yang terbentang .. Jalan Alloh dan jalan syetan .. dan sungguh berbahagia lagi bijaksana yang mengetahui dan menerapkan yang baik dan benar.

Ulil-Albab adalah orang-orang yang mempunyai akal murni yang tidak diselubungi oleh `kulit` ya’ni `kabut ide` yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir memahami petunjuk-petunjuk Alloh, merenungkan ketetapan-ketetapan-Nya serta melaksanakannya .. itulah orang yang telah mendapat Hikmah.
Sedangkan yang menolaknya pasti ada kerancuan dalam cara berpikirnya, dan dia belum sampai pada tingkat memahami sesuatu, dia baru sampai pada permukaan masalah belum sampai pada kedalaman isinya .. Fenomena alam mungkin dapat ditangkap oleh yang berakal, tetapi hakekat fenomenanya hanya dapat terjangkau oleh Ulil-Albab.

MEMENUHI NADZAR

Alloh swt berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Apapun yang kamu nafkahkan -sedikit atau banyak berdasarkan kewajiban atau anjuran Alloh, atau- kewajiban yang kamu tetapkan sendiri atas dirimu, -maka yakinlah bahwa- Alloh mengetahuinya.
-Mengetahu motivasi, sikap, dan ucapan kamu, sebelum, ketika dan sesudah menshodaqohkan, kadar dan jenis shodaqohmu, demikian juga mengetahui sampai dimana ketulusan dan pelaksanaan nadzarmu.
Karena itu jangan menganiaya diri dengan melakukan sesuatu yang tidak baik, dan jangan juga bernadzar kemudian tidak melaksanakannya.
Bukankah kamu sendiri yang mewajibkannya atas dirimu .?
Jika itu terjadi, maka sungguh kamu termasuk orang yang berbuat dholim, dan -tidak ada penolong pun bagi orang-orang yang dholim.” (QS. Al-Baqoroh [2]:270).

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa yang bershodaqoh sesuai dengan tuntunan Alloh, serta memenuhi nadzar sebagaimana mestinya, akan memperoleh banyak penolong, sehingga jika Alloh tidak menolongnya melalui si A, maka melalui si B, C, dan lain-lain, dan kalau bukan melalui mereka maka Alloh sendiri yang akan turun tangan menolongnya dengan cara yang tidak terduga.

SHODAQOH YANG TAMPAK DAN RAHASIA

Keikhlasan memang sesuatu yang sangat rahasia bagi manusia, hanya Alloh yang mengetahui kadarnya, tetapi itu bukan berarti hanya bershodaqoh secara rahasia yang ikhlas .. yang terang-terangan pun keikhlasannya bisa juga tidak kurang atau bahkan bisa melebihi yang menyumbang dengan rahasia.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan shodaqoh-mu-, maka itu adalah baik sekali, -selama shodaqoh itu didasari keikhlasan dan bukan semata-mata memilih yang buruk untuk diberikan-.
Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu -karena ini mencegah lahirnya riya’ dan pamrih, serta lebih memelihara air muka yang menerima dan menghilangkan perasaan yang mengganggu hati dan pikiran yang memberi-.
Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Alloh mengetahui, apa yang kamu kerjakan.” – (QS. Al-Baqoroh [2]:271).

Ayat di atas mendahulukan kata “sirron-rahasia” atau diam-diam, untuk mengisyaratkan shodaqoh pahala amal hasil perniagaan dengan Alloh swt.
Kemudian penyebutan kata “`alaa niyatan-terang-teran­gan” untuk mengisyaratkan shodaqoh harta benda hasil perniagaan dengan manusia.

Apabila seorang muslim tidak mampu menggabung shodaqoh secara diam-diam “RAHASIA” dan “TERANG-TERANGAN” paling tidak ia harus mampu mengambil diantara salah satunya .. atau memberi warna spiritual dalam dirinya ..

HADIAH KEPADA ORANG KAFIR

Aneka tuntunan tentang membelajakan harta, nafkah dan shodaqoh telah dikemukakan pada ayat-ayat yang lalu .. kini tuntunan datang menyangkut hadiah kepada non muslim.
Ada yang menduga bahwa tuntunan memberi shodaqoh yang dikemukakan ayat-ayat yang lalu husus kepada orang-orang beriman dan hanya ditujukan kepada saudara seagama saja .. dan memang pada mulanya Nabi Muhammad saw memahaminya demikian.

Menurut riwayat para sahabat ra :
Nabi Muhammad saw tadinya memberi nafkah kepada fakir miskin dan penganut agama Yahudi dan Nasrani yang bertempat tinggal di Madinah.
Tetapi ketika semakin banyak kaum muslimin yang membutuhkan bantuan, apalagi sebagian mereka datang berhijrah ke Madinah tanpa membawa harta benda mereka yang berada di Makkah, atau membawanya tapi di rampas kaum musyrikin, maka Rosul saw menasehati yang berpunya agar tidak perlu membantu yang bukan muslim. Sikap Rosul saw itu diluruskan oleh ayat 272 ini.

Riwayat lain menyatakan :
Bahwasanya ada sekelompok sahabat Nabi Muhammad saw, penduduk Madinah yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan beberapa kelompok orang-orang Yahudi, enggan memberi bantuan kepada non muslim, dengan harapan kesulitan yang mereka hadapi mengantar mereka untuk meminta, dan pada gilirannya memeluk agama Islam, sikap semacam ini pun tidak diperkenankan.

Alloh swt berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk“ yang membuahkan pelaksanaan tuntunan Ilahi secara benar, engkau hanya sekedar menyampaikan petunjuk lisan dan dengan keteladan yang membuahkan pengetahuan.
”Akan tetapi Alloh-lah yang memberi petunjuk“ yang membuahkan pengamalan agama kepada ”siapa yang dikehendaki-Nya.” Berdasar pengetahuan-Nya tentang siapa yang ingin dan bersedia meraih petunjuk.

Jika demikian, jangan menjadikan bantuan apa pun bentuknya “materi atau non materi” sebagai cara untuk membujuk, menggiring atau memaksa orang lain memeluk agama islam.
Jangan juga menjadikan perbedaan agama sebagai alasan atau penghalang untuk tidak memberi hadiah, bantuan dan sumbangan kepada siapa pun yang butuh.

Sepenggal ayat 272 ini dijadikan dasar oleh ulama untuk menyatakan bolehnya bershodaqoh kepada non muslim yang bergaul dengan baik dengan kaum muslimin, serta tidak mengganggu kepentingan Islam.
Kalau kepada binatang saja kita dianjurkan untuk berbuat baik, maka apakah terhadap manusia terlarang .?
Bahwa dia kafir itu bukan urusan kita .. itu urusan Alloh, sebagaimana dinyatakan-Nya pada ayat ini.

Adapun soal hadiah, nafkah dan shodaqoh ..

وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

“Apa saja harta yang baik, yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, -selama kamu tulus dan berusaha mendapatkan ridho-Nya- ..
Sebab itu, janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhoan Alloh .. -bukan sesuatu yang bertentangan dengan ridho-Nya-.
Apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup.
Sedangkan kamu sedikitpun tidak akan di aniaya atau di rugikan, -bahkan kamu di untungkan.
Karena harta seseorang bukannya apa yang dimilikinya sekarang-.” (QS. Al-Baqoroh [2]:272).

Pada hakekatnya harta seseorang hanyalah titipan Ilahi -amanat- yang harus di jaga dan di pelihara sesuai kehendak pemilik harta.
Membelanjakan harta, berinfak dan bershodaqoh, hendaknya mencari ridho Alloh, bukan sesuatu yang bertantangan dengan ridlo-Nya.

Rosulloh saw bersabda:
“Harta seseorang, hanyalah apa yang di makan dan di habiskan .. Apa yang dia pakai dan dia lapukkan .. Apa yang dia shodaqohkan dengan tulus.”
Shodaqoh itu akan dia peroleh ganjarannya kelak di kemudian hari. Adapun makanan yang dia habiskan maka akan menjadi rizki orang atau mahluk lain. Demikian juga pakaian yang tidak lapuk akan digunakan oleh selainnya. Sedangkan yang dia shodaqohkan akan kekal ganjarannya hingga hari kiamat.

Karena itu kaum sufi bergembira manyambut peminta-minta sambil berkata:
“Selamat datang wahai yang membawa hartaku ke negri akhirat tanpa aku biayai.”

PRIORITAS SHODAQOH

Setelah menjelaskan siapa yang dapat diberi nafkah, ayat ini menekankan prioritas mereka :

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“-bershodaqohlah- Untuk orang-orang fakir -yang membutuhkan bantuan dan terutama yang disibukkan- oleh jihad di jalan Alloh, -sehingga mereka- tidak dapat memperoleh peluang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka- di muka bumi ..

-Mereka adalah orang-orang terhormat, bersih walau miskin, rapi walau sederhana, taat beragama, sangat menghargai diri mereka, dan demikian baik penampilannya sampai-sampai- orang tidak menyangka mereka orang yang tidak butuh, karena mereka memelihara diri mereka dari mengemis .. engkau kenal mereka dengan melihat tanda-tandanya ..
-orang yang tajam penglihatan dan pandangannya mengenal mereka .. Mereka terlihat khusyu’ dan sederhana, bahkan wajahnya pucat pasi, tetapi ketakwaannya menjadikan mereka penuh wibawa dan kehormatan, apalagi mereka tidak membuang air-muka dengan mendesak orang lain agar mereka diberi sesuatu .. Seandainya mereka meminta, maka permintaan itu bukan dengan memaksa, tetapi dengan cara yang sangat halus, yang tidak difahami kecuali orang-orang yang mengerti lagi pandai, atau orang-orang yang memiliki firasat yang tajam .. Mereka itulah salah satu kelompok yang perlu mendapat prioritas shodaqoh ..

Apakah yang harus dinafkahkan buat mereka .?
Mereka adalah orang-orang yang butuh, kalau demikian “Apa saja harta yang baik, yang kamu nafkahkan -dijalan Alloh- maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh [2]:273).

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Akhirnya .. kelompok ayat-ayat ini di akhiri dengan memuji yang memberi hadiah, sumbangan, nafkah dan shodaqoh dalam berbagai situasi dan keadaan.
“Di malam dan siang hari ..
Secara sembunyi dan terang-terangan ..
Banyak atau pun sedikit ..
Dalam keadaan lapang mau pun sempit ..
Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka ..
Selama mereka melaksanakan demi perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..
Tidak ada kehawatiran atas mereka .. dan tidak pula mereka bersedih hati ..
(QS. Al-Baqoroh [2]:274).

02 QI SANAK

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW

INILAH IHSAN

Pada suatu hari ketika Rosululloh saw di antara kaum muslimin, datang seseorang dan bertanya:
“Wahai Rosululloh, apakah Iman itu .?” Rosululloh saw bersabda:
“Yaitu engkau beriman kepada Alloh, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir.”

Orang itu bertanya lagi:
“Wahai Rosululloh, apakah Islam itu .?”
Rosululloh saw bersabda:
“Islam, yaitu engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan sholat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Romadhon.”

Orang itu kembali bertanya:
“Wahai Rosululloh, apakah Ihsan itu .?” Rosululloh saw bersabda:
“Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu.”

Orang itu bertanya lagi:
“Wahai Rosululloh, kapankah Hari Kiamat itu .?”
Rosululloh saw bersabda:
“Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya.
Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya.
Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya.
Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya.
Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Alloh.”
Lalu Rosululloh saw membaca Surat Luqman ayat 34:
“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat.
Dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.
Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.
Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rosululloh saw bersabda:
“Panggillah orang itu kembali .!”
Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rosululloh saw bersabda:
“Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka.”

(Hadits riwayat Muslim melalui jalur ‘Umar bin Khotthob dan Abu Huroiroh ra).

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as, telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu ..
Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah ke kota Madinah dan wafat di kota Madinah .. dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah AHMAD ..

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi kabar gembira dengan -datangnya- seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya AHMAD -Muhammad-.”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
“Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shof [61]:6).

Perlu diketahui, bahwa nama AHMAD yang dikemukakan al-Qur’an itu bukan sekedar nama .. Akan tetapi merupakan pemberian “kekhususan” dari Alloh swt bagi Nabi Muhammad saw, yang ada ma’na hikmah terkandung didalamnya.

Di dalam nama AHMAD huruf Arab أحمد jika ditulis secara terpisah melambangkan simbol gerakan sholat ..
Huruf Alif أ menggambarkan orang yang sedang berdiri.
Huruf Ha ح menggambarkan orang yang sedang rukuk.
Huruf Mim م menggambarkan orang yang sedang sujud.
Huruf Dal د   menggambarkan orang yang sedang duduk tahiyat.

Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama AHMAD .. secara Gramatika Arab, kata AHMAD itu termasuk sighot mubalaghoh -bentuk yang mempunyai arti banyak- dari kata “Hamdu” -memuji- .. Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi AHMAD, nama dari Nabi MUHAMMAD saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt. 

Nabi MUHAMMAD saw bersabda:
“Aku adalah AHMAD tanpa Mim م ”
AHMAD tanpa huruf Mim م akan mempunyai arti AHAD -Esa-, yang merupakan sifat Alloh yang sangat agung tempat bergantung.

Mim م yang merupakan simbol manusia -personifikasi- dan perwujudan bentuk dari sesuatu yang ghaib -manifestasi- ALLOH dalam diri Nabi MUHAMMAD saw .. pada hakikatnya adalah bayangan AHAD yang ada di alam semesta.

Mim م MUHAMMAD adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya .. Mim م MUHAMMAD adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih ALLOH dengan sang kekasihnya yang mutlak .. dengan kata lain, Nabi MUHAMMAD saw merupakan mediator antara makhluk dengan ALLOH swt. 

Menurut Dr Muhammad Iqbal seorang pemikir islam pakistan:
“MUHAMMAD benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” ALLOH dalam kehidupan manusia .. dialah “Dhohir”nya ALLOH .. dialah Syafi’ -yang memberikan syafa’at, pertolongan dan rekomendasi- antara makhluk dengan Tuhannya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran ALLOH dalam diri anda, hadirkan MUHAMMAD.
Ketika anda ingin disapa oleh ALLOH, sapalah MUHAMMAD ..
Ketika anda ingin dicintai ALLOH, cintailah MUHAMMAD ..”

“Apabila kamu benar-benar mencintai ALLOH, ikutilah AKU -Muhammad-, niscaya ALLOH cinta kepada kamu”

Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon kepada ALLOH swt untuk selalu bersamanya, di dunia dan di akherat .. seperti kata beliau saw “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Nama MUHAMMAD kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul -obyek- dari asal kata Hammada .. Menurut KH Ali Maksum rh, dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid pada huruf Mim mempunyai faedah Taksir -banyak- artinya adalah orang yang banyak dipuji .. Sejalan yang diperintahkan ALLOH swt dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya ALLOH dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi -MUHAMMAD- ..
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi -MUHAMMAD- dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56).

Disamping nama AHMAD yang mengandung simbol orang sholat .. Nama MUHAMMAD apabila ditulis dengan huruf Arab محمد juga berma’na .. menunjukan kerangka manusia ..
Huf Mim pertama م yang bundar menunjukan kepala manusia ..
Huruf Ha’ ح menunjukan dua tangan manusia.
Huruf Mim م yang kedua menunjukan tentang perut manusia.
Huruf dal د menunjukan kedua kaki manusia.

Nama MUHAMMAD yang melambangkan kerangka tersebut mengandung hikmah bahwa, kematian manusia akan menghancur lumatkan tulang-belulang dan seluruh jasadnya, akan tetapi kelak akan di susun kembali oleh ALLOH dalam bentuk semula seperti bentuk manusia .. Ini karena keagungan nama Nabi MUHAMMAD saw ..

Selain itu, ma’na-ma’na yang tersembunyi dalam kandungan setiap huruf-hurufnya kalimat nama محمد ..
Huruf Mim yang pertama mengandung ma’na Minnah -anugerah- .. ALLOH memberi anugerah kepada Nabi MUHAMMAD saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada seluruh makhluk-NYA.
Huruf Ha’ mengandung ma’na Hubbun -cinta- .. ALLOH mencintai Nabi MUHAMMAD saw dan umatnya melebihi cintanya kepada Nabi-nabi yang lain beserta umatnya.
Huruf Mim yang kedua mengandung ma’na Maghfirah -ampunan- .. ALLOH mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi MUHAMMAD saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang .. Nabi MUHAMMAD saw adalah Nabi yang ma’sum -terjaga dari melakukan dosa- .. Adapun umat beliau saw, bagi yang bertaubat, ALLOH mengampuni dosa-dosanya miskipun sebanyak butiran pasir dimuka bumi.
Huruf Dal mengandung ma’na Dawaamuddin -abadinya agama Islam- .. agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman, apabila agama Islam lenyap dari muka bumi, maka terjadilah kehancuran dunia -kiamat-.

Kesimpulannya adalah .. Sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengaku pemeluk agama Islam .. hendaknya sekali-kali jangan meninggalkan sholat .. karena sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi MUHAMMAD saw.

Apabila seseorang muslim sudah menjalankan sholat, zakat, puasa, haji -jika mampu- dan tuntunan Islam lainnya, maka dia termasuk orang yang beruntung yang dijanjikan ALLOH mendapatkan sorga ..

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH

Pada tanggal 12 Robiul-awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi, 14 abad yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan menyandang derajat KETERPUJIAN yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Manusia tersebut adalah AHMAD yang kemudian menyandang nilai-nilai yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar MUHAMMAD yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan USWATUN HASANAH bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta raya ini.

Kata MUHAMMAD apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah.
MUHAMMAD secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh ALLOH untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.

Abbas Mahmud al-Aqqod dalam kitabnya “Abqoriyat Muhammad” menjelaskan:
“Ada empat tipe manusia yaitu 1.Pemikir 2.pekerja 3.Seniman dan 4.Yang jiwanya selalu larut dalam ibadah.
Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat kecenderungan atau tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul dalam diri seseorang.
Namun yang mempelajari pribadi Nabi Muhammad saw akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau saw.”
Al-Qur’an telah menegaskan kemanusiaan Nabi Muhammad saw, diberbagai tempat dan Alloh memerintahkan menyampaikan hal itu kepada manusia dalam berbagai surat, antara lain:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا

Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rosul .?” (QS. Al-Isro’ [17]: 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau saw adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tetapi dari segi risalah dan hidayah-Nya, maka beliau adalah cahaya Alloh dan pelita yang amat terang.

Alloh swt menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا

“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.
Untuk menjadi penyeru pada agama Alloh dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya, bagi mereka karunia yang besar dari Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 45-47).

Alloh swt berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 15).
“Cahaya” dalam ayat ini adalah Rosululloh saw, sebagaimana al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau saw adalah juga cahaya.

Alloh swt berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya serta cahanya -al-Qur’an- yang telah Kami turunkan, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
At-Taghobun [64]: 8).

Alloh swt juga menentukan tugasnya kepada Nabi Muhammad saw:

لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“… Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang…” (QS. Ibrohim [14]: 1).

هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“-al-Qur’an- Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar -Ulul-Albab- orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” – (QS. Ibrohim [14]: 52).

Nabi Muhammad saw. menegaskan ma’na kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Alloh, dan mengajarkan agar seluruh umatnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan beliau saw yang telah diwahyukan oleh Alloh swt.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku; bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]:110).

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad saw merupakan pribadi manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia.
Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalah artikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya.
Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun.
Demikian dengan kita, diharapkan ketika dapat menyesuaikan diri dengan Nabi Muhammad, akan terjadi keserasian hubungan, maka akan menjadilah kita “Manusia Sempurna”.

Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Alloh swt itu sendiri. Apa yang diciptakan Alloh di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang .?” (QS. Al-Mulk [67]:3).

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya -dan tentu tidak juga Kami menciptakan kamu semua- sia-sia tanpa hikmah, yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.
-dan karenanya mereka berkata bahwa hidup akan berahir di dunia ini, tidak akan ada perhitungan, juga tidak ada sorga dan neraka-, maka celakalah orang-orang kafir -akibat dugaannya- itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shod [38]:27).

“Dan Kami tidak menciptaka langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS. Ad-Dukhon [44]:38).

Alloh swt menciptakan langit dan bumi juga segala yang ada diantara keduanya dengan tata aturan yang demikian rapi, indah serta harmonis, ini menunjukkan bahwa Alloh tidak bermain-main, tidak menciptakannya secara sia-sia tanpa arah dan tujuan yang benar.
Karena hal itu bukan permainan, bukan juga tanpa tujuan, maka pasti Alloh Yang Maha Kuasa ini membedakan antara yang berbuat baik dan buruk, lalu memberi ganjaran balasan sesuai amal perbuatan masing-masing.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“…Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]:191).

Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurna’an, baik sifat maupun bentuknya.
Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya.

Jadi suatu kesempurna’an adalah satu keseimbangan dan keharmonisan antara dua sifat atau unsur yang bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.

Nabi Muhammad saw, adalah sosok yang sangat sederhana dan sempurna, sehingga siapapun dan dari kalangan manapun akan mampu mencontoh setiap gerak dan diam beliau saw, karena beliau memang diciptaka sebagai teladan.
Bila yang meneladaninya dengan niat mengikuti beliau saw, maka niat meneladinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

Di dalam Al Qur’an, Alloh swt telah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh yang paling baik bagi ummat manusia pada saat ia masih hidup di atas dunia, yang menghendaki perjumpaan dengan Alloh swt kelak di hari akhir .. Hal ini sesuai dengan firman Alloh swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh -Nabi Muhammad- itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang senantiasa mengharapkan -rohmat kasih sayang- Alloh dan kebahagiaan Hari akhir dan berdzikir kepada Alloh sebanyak-banyaknya -baik dalam keadaan susah maupun senang-” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ayat ini berbicara tentang `uswah` yang dirangkai dengan kata `Rosululloh`
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh”.
Tidak mudah memisahkan atau memilah, mana pekerjaan mana ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai Rosul dan mana pula kedudukan-kedudukan lainya .. misalanya sebagai pemimpin ummat, lingkungan, keluarga atau sebagai suami dari istri-istrinya dan ayah bagi anak-anaknya .. Maka timbul pertanya’an ..!

Jika kepribadian Nabi Muhammad saw secara totalitasnya adalah teladan .. maka pakah itu berarti bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pribadi yang baik, benar dan lurus ini -diucapkan atau diperagakan- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya ..?
Jawabannya .. Selaku pribadi, hal ini dapat dibagi dalam dua kategori.

Pertama, kekhususan-kekhususan beliau saw yang tidak boleh dan atau tidak harus diteladani, karena kekhususan tersebut berkaitan dengan fungsi beliau sebagai seorang Rosul.
Misalnya kebolehan menghimpun lebih dari empat orang istri dalam saat yang sama, atau kewajiban sholat malam, atau larangan menerima zakat dan lain-lain.

Kedua, sebagai manusia biasa -terlepas dari kerosulannya- segala sesuatu yang bersumber dari pribadi beliau saw – dari setiap gerak dan diamnya- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya. Hal ini menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti “mana yang kamu dapat mengikuti maka lakukanlah.” karena semua adalah Uswatun Hasanah -contoh yang paling baik-. Bila mengikutinya dengan meneladani Nabi Muhammad maka niat mengikutinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

DI DALAM DIRI MANUSIA ADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rosululloh …” (QS. Al-Hujurot [49]:7).

Ayat ini bertujuan mendorong manusia untuk mawas diri dengan mengamati keagungan Rosul dan amal-amal beliau yang harus di tanam dalam hati dan diperagakan dalam kehidupnya dari waktu ke waktu, diantaranya yang memberi manfaat berupa rohmat kepada semua makhluk Alloh swt.

Alloh yang memiliki rohmat ta’terbatas, menjadikan Rosul “rohmatan lil’alamin” dan dalam diri manusia ada Rosul, ya’ni -unsur Muhammad ada dalam diri kita- maka sudah menjadi kelaziman bagi kita untuk memberikan rohmat itu kepada ummat Muhammad, khususnya saudara muslim kita .. karena “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya -sesama muslim- seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah -wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Nabi Muhammad saw adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Nabi Muhammad saw atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian dalam dirinya, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh”.

Sesungguhnya kalimat Syahadat tersebut mempunyai ma’na yang sangat dalam sekali, yaitu “saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi.” Secara hakikat, ma’na simbolis dari “wa asyhadu anna Muhammad Rosululloh” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan yang di firmankan Alloh swt :

NABI MUHAMMAD SAW ADALAH “AYAH” YANG SANGAT CINTA KEPADA ANAK-ANAKNYA

Alloh swt berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki -dewasa- di antara kamu tetapi dia adalah Rosululloh -bapak ummat yang membimbing mereka dan yang harus di agungkan serta dihormati- dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segalanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:40).

Ayat diatas menyebut “laki-laki” akan tetapi disusul dengan kalimat “Rosululloh” tidak lain untuk mengisyaratkan bahwa bukan berarti hubungan dengan wanita terputus. Nabi Muhammad saw, buat mereka adalah bapak ruhani, pembimbing, pemberi petunjuk, pelindung, dan penanggung jawab, dan pastinya beliau pula yang paling wajar mendapat penghormatan dan keta’atan dari anak-anaknya. Sungguh kasih sayangnya kepada ummat melebihi cinta dan kasih sayang orang tua kandung.

Ayat diatas merupakan penyempurnaan dan ketinggian beliau saw, sekaligus sebagai isyarat bahwa ketiadaan anak-anak beliau saw, merupakan hikmah yang telah ditetapkan Alloh swt, ya’ni agar beliau menjadi bapak teladan bagi ummatnya yang betakwa.

Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita yang baginya sangat berat dan menderita demi menanggung kita ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”

Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?

Beliau saw bersabda :
“Aku bagaikan seorang yang menyalakan api, setelah menyala menerangi sekeliling, laron mengitarinya dan terjerumus ke dalam api itu .. Kalian seperti itu, tetapi aku menghalangi kalian terjerumus ke api, tetapi sebagian kalian terjerumus juga.”
Beliau juga bersabda :
“Aku memegang ikat pinggang kalian, tetapi sebagian kalian terlepas dari pinggangku.”
Demikian Rosul saw mengilustrasikan diri beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui Abu Huroiroh ra.

Kalaulah beliau saw bersikap tegas agar mematuhi hukum-hukumnya, atau ada tuntunan yang sepintas terlihat sangat berat, maka ini tidak lain hanya untuk kemaslahatan ummatnya jua.
Sebenarnya hati beliau saw lebih dahulu teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang kita alami ..

Alloh swt berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Demi -kebesaran dan keagungan Tuhan- sesungguhnya telah datang kepada kamu -wahai seluruh manusia- seorang Rosul -pesuruh Alloh- dari diri kamu sendiri -yang mengenal kamu dan kamu mengenal dia, sangat- berat terasa olehnya apa yang telah menderitakan kamu -baik lahir maupun batin-,
Sangat menginginkan -keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan- bagi kamu semua, baik mukmin maupun kafir , dan- terhadap orang mukmin amat belas kasih lagi penyayang -buat mereka yang diharapkan suatu ketika akan beriman, bahkan kepada seluruh alam.
Jika mereka -memaksakan diri menentang fitrah mereka, sehingga- berpaling lagi enggan mengikuti tuntunanmu wahai Nabi Muhammad- maka katakanlah kepada mereka dan kepada selain mereka, sambil bermohon kepada Alloh-:
“Cukuplah -untuk segala urusanku- Alloh -Yang Maha Kuasa- bagiku.
-Dan yang akan membela dan menganugrahkan kepadaku kebutuhan dan harapanku-.
Tidak ada Tuhan yang menguasai alam raya, tumpuan semua makhluk serta wajib disembah- selain Dia.
Hanya kepada-Nya -bukan kepada yang selain-Nya- aku bertawakkal -berserah diri setelah aku berusaha sekuat kemampuanku-.
dan Dia adalah Tuhan Pemilik -Pencipta dan pengatur- ‘Arsy yang agung.”
(QS. At-Taubah [9]: 128-129).

Kata ANFUSAKUM memberi kesan bahwa Rosul adalah sejiwa dengan kamu, mengetahui detak-detik jantung kamu .. merasakan getaran jiwamu serta menyukai kamu sebagaimana apa yang disukainya ..
Demikian kesan yang terkandung dalam kalimat “seorang Rosul dari diri kamu sendiri” .. keberadaan Nabi Muhammad saw begitu dekat hadir dalam jiwa kamu ya’ni anak-anaknya, hususnya yang istiqomah meneruskan perjuangan beliau saw, merohmati kaum yang beriman.

Hal ini sejalan dengan fitrah kejadian manusia. Alloh swt berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

“-Dialah- Yang membuat sebaik baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan -sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaan-.
Dan Dia telah memulai penciptaan manusia -Adam as- dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari -sedikit- saripati air mani yang diremehkan -lemah tidak berdaya karena sedikitnya bila dilihat kadarnya atau menjijikkan bila dipandang-.
Kemudian -yang lebih hebat dari itu- Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam -tubuh-nya, ruh -dari-Nya,
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran -agar kamu dapat mendengar kebenaran-, dan penglihatan -agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya- dan hati -agar kamu dapat berfikir dan beriman-, -tetapi- sedikit sekali kamu bersyukur.
Namun banyak diantara kamu yang kufur, tidak memfungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Alloh kehedaki, tetapi memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya-.” – (QS. As-Sajadah[32]:7-9).

Kata AHSAN berarti membuat sesuatu menjadi baik .. Kebaikan sesuatu itu diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut dari sesuatu itu .. contoh :
Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk memotong .. Kursi yang baik adalah yang dapat diduduki dengan nyaman .. kendaraan yang baik adalah yang dapat mengantar pada tujuan .. Demikian seterusnya.

Ayat diatas menyatakan bahwa Alloh swt, telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik .. diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Malaikat diciptakan Alloh swt sebagai makhluk sempurna untuk tugas-tugas yang seharusnya mereka emban.
Masing-masing binatang telah diciptakan Alloh swt dengan sempurna untuk tujuan penciptaannya .. ada yang dapat dimakan, ada juga yang tidak .. ada yang jinak ada pula yang liar dan buas .. ada pula yang untuk keindahan dan hiburan,
Semua diciptakan sebaik-baiknya dan sempurna.

Manusia dan jin pun demikian .. hanya saja untuk makhluk mukallaf ini, Alloh swt memberi mereka tugas, dengan potensi sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing .. tetapi dalam saat yang sama, mereka diuji .. dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi, sehingga pada akhirnya manusia dan jin berpotensi untuk menjadi baik dan buruk.

Manusia dan jin yang mengabaikan potensi baiknya dan mengikuti potensi buruk, akan gagal dalam ujian dan itulah yang menjadi setan .. Sebaliknya adalah manusia yang ahsan yang berhasil lulus dalam ujian.

Demikian Alloh swt menciptakan semua makhluk dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya.
Dengan demikian tidaklah benar jika dikatakan bahwa manusia adalah makluk yang paling sempurna sebelum ia menjadi pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk Alloh swt.

Semua makhluk-Nya sempurna, manusia adalah makhluk yang ditundukkan kepadanya alam raya, sebagai sarana untuk mengemban tugasnya.
Manusia telah dimuliakan Alloh swt, tetapi bukan makhluk manusia ini yang termulia .. dalam kontek ini Alloh swt berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan dari siapa yang telah kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” – (QS. Al-Isro’ [17]:70).

Perhatikan ayat ini, tidak menyatakan: “melebihkan atas semua” tetapi “melibihkan atas kebanyakan” artinya manusia tertentu dari kebanyakan manusia yang di lebihkan oleh Alloh dengan sempurna.

Kata MIN RUCHIHI dari ruh-Nya, ya’ni ruh Alloh. ini bukan berarti ada “bagian” ruh Ilahi yang dianugrahkan kepada manusia .. karena Alloh tidak terbagi, tidak juga terdiri unsur-unsur .. DIA adalah SHOMAD Esa/Tunggal, tidak terbagi dan tidak berbilang .. yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya .. Penisbahan ruh itu kepada Alloh adalah penisbahan PEMULIAAN DAN PENGHORMATAN ayat ini bagaikan berkata: “Dia meniupkan kedalam tubuh manusia, ruh yang mulia dan terhormat dari ciptaan-Nya”

“Manusia terdiri dari tanah dan ruh Ilahi”
Karena tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam .. sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya .. ia butuh makan, minum, tidur, jaga, hubungan sex dll.

Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu .. walupun ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya .. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menghiasi manusia.

Dengan ruh manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi .. dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dll.

Itulah yang mengantar manusia menuju suatu realitas Yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir.
“Sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kembalinya segala sesuatu.” (QS.96:8).
“Hai manusia sesungguhnya engkau bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS.84:6).

Demikian manusia yang diciptakan Alloh swt, disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya.
Dengan gabungan unsur kejadiannya itu, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup dan berma’na, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi tanah dan dimensi matreal.

NABI MUHAMMAD SAW ROHMAT SEMESTA ALAM RAYA

Alloh swt berfirman:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu -wahai Nabi Muhammad- melainkan untuk -menjadi- rohmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung ma’na yang sangat luas.
Hanya dengan 5 -lima- kata .. Terdiri dari 25 -dua puluh lima- huruf.
Ayat ini menyebut 4 -empat- hal pokok :
1. Rosul -utusan Alloh- dalam hal ini Nabi Muhammad saw.
2. Yang mengutus Nabi Muhammad saw, dalam hal ini Alloh swt.
3. Yang diutus kepada mereka -al-’alamin-.
4. Risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, ya’ni “rohmat” yang sifatnya sangat besar.

Nabi Muhammad saw adalah rohmat .. bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran agama, tetapi sosok dan kepribadian beliau adalah cerminan rohmat ALLOH yang bersifat AR-ROHMAN dan ARROHIM yang dianugerahkan Alloh swt kepada beliau saw.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa:
“Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rohmat, tetapi sebaga rohmat atau angkau menjadi rohmat bagi seluruh alam”

Firman Alloh swt dalam surat Ali Imron 159
“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
Penggalan ayat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa Alloh swt sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana sabda beliau saw:
“Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.”

Kepribadian Nabi Muhammad saw dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Alloh limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu al-Qur’an, tetapi juga hati beliau disinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rohmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana pengakuan beliau saw adalah “rohmatun-muhdab” -rohmat yang dihadiahkan oleh Alloh kepada seluruh alam-.

Pemnbentukan kepribadian Nabi Muhammad saw, menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, gerak dan diam, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rohmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran islam yang beliau sampaikan, karena itu pula Nabi Muhammad adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-Qur’an sebagaimana dilukiskan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra.

Kata “alam” dalam arti kumpulan sejenis makhluk Alloh yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas .. Jadi ada alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan, alam tumbuhan dan bintang-bintang -planet-. Semua itu memperoleh rohmat dengan kehadiran Nabi Muhammad saw.

Dengan rohmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman, serta pengakuan atas wujud, hak, bakat dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar, menyangkut bimbingan, perlindungan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.

Jangankan manusia .. binatang dan tumbuhan pun memperoleh rohmat beliau saw.
Sebelum bangsa Eropa mengenal organesasi pecinta binatang, Nabi Muhammad saw telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang.

Banyak sekali pesan beliau saw, menyagkut hal ini, dimulai dari perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menyembeleh -HR Muslim-.
Beliau saw juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan, dan tidak pula melepaskannya untuk mencari makan sendiri. -HR Bukhori Muslim-.

Dalam ajaran Nabi Muhammad saw sebagai Rohmat itu, terlarang memetik bunga sebelum mekar, atau buah sebelum matang, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaan. .. … …. ….. …… ……. …….. ………

Kembang diciptakan antara lain agar mekar sehingga lebah datang menghisap sarinya dan mata menjadi senang memandangnya, disamping lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan pengobatan.

Bahkan benda-benda tak bernyawa pun mendapat kasih sayang beliau saw. Antara lain terlihat ketika beliau memnberi nama-nama bagi benda-benda husus beliau.
Pedang beliau saw diberi nama : dzul-fiqor
Perisai beliau saw diberi nama : dzul-fadhul
Pelana beliau saw diberi nama : ad-daj
Tikar beliau saw diberi nama : al-kuz
Cermin beliau saw diberi nama : al-midallah
Gelas minum beliau saw diberi nama : al-mamsyuk, dan lain-lain.
itu semua untuk mengesankan bahwa benda-benda tak bernyawa itu bagaikan memiliki kepribadian yang juga membutuhkan rohmat kasih sayang dan persahabatan.

TUGAS “ANAK” SEBAGAI PENERUS NABI MUHAMMAD SAW DENGAN MEMBERI ROHMAT KASIH SAYANG KEPADA SAUDARA MUKMIN

Alloh swt berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“Dan HAMBA-HAMBA ARROHMAN yang baik itu, -ialah- orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan lemah-lembut -dan rendah hati-.
Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, MEREKA MENGUCAPKAN SALAM -kata-kata yang mengandung keselamatan-.”
– (QS.25:63).

Mereka yang disifati sebagai hamba-hamba ar-Rohman adalah yang ta’at dan dipilih Alloh swt, yaitu yang ikhlas dan sabar serta berdzikir dan bersyukur dengan memberikan rohmat kasih sayang kepada saudara mukmin.

Salah satu dari sifat kelemah-lembutan dan kerendahan hati mereka adalah terhadap orang-orang jahil. “dan apabila ornag-orang jahil menyapa mereka” dengan sapaan tidak wajar atau yang mengandung amarah atau yang membuat sakit hati, “mereka berucap salam” ya’ni mereka membiarkan dan meninggalkannya, bahkan mereka berdo’a untuk keselamatan semua pihak.

Menurut Hujjatul-islam al-Ghozali:
Buah yang dihasilkan oleh peneladanan sifat ar-Rohman pada diri seseorang akan menjadikannya memercikkan rohmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Alloh yang lengah, dan ini mengantarnya mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Alloh secara lemah lembut, tidak dengan kekerasan.

Dia akan memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang -rohmat- serta menilai setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya bagaikan kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia dalam pertaubatannya tidak menyisihkan sedikit pun upaya memohonkan ampunan bagi orang lain seperti bagi dirinya sendiri.
“Mereka itulah orang-orang yang akan dibalas dengan martabat yang sangat tinggi karena kesabaran mereka” – (QS.25:75).

Seseorang yang menghayati bahwa Alloh adalah ar-Rohman -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan dunia- dan ar-Rohim -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan akhirat- akan berusaha memantapkan dirinya sifat rohmat dan kasih sayang sehingga menjadi ciri kepribadiannya.

Dia tidak akan ragu atau segan mencurahkan rohmat kasih sayang itu kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, ras maupun tingkat keimanan, dengan memberi rohmat kasih sayang, baik yang hidup maupun yang mati.

Dia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapapun dan dimanapun.

Kata SALAMAN terambil dari akar kata SALIMA yang ma’nanya berkisar pada KESELAMATAN dan keterhindaran dari segala yang tercela.
Keselamatan adalah batas antara keharmonisan, kedekatan dengan perpisahan serta rohmat dengan siksaan.

Ciri sifat kepribadian mereka yang kedua adalah:

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang-orang yang -penuh rohmat juga mereka yang senantiasa- memasuki malam hari -beribadah secara tulus-, demi untuk Tuhan -pemelihara- mereka -tanpa pamrih- dalam bersujud dan berdiri -sholat-.” – (QS.25:64).

Ayat diatas menyatakan betapa pentingnya mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan melakukan sholat malam, dalam satu riwayat dinyatakan bahwa siapa yang sholat sunnah dua roka’at setelah sholat isya’, maka telah dapat dinilai melaksanakan kandungan ayat ini.

Quraisy Syihab mengatakan bahwa, sifat pertama yang disandang oleh hamba-hamba Alloh itu yang disebut oleh ayat 63 adalah sifat mereka yang berkaitan dengan makhluk, sedang di ayat 64 ini adalah yang berkaitan dengan al-Kholiq. Ini mengisyaratkan pentingnya interaksi antar sesama makhluk serta pelunya mendahulukan kepentingan mereka dari pada ketaatan kepada Alloh yang bersifat sunnah.

MENGENAL PERINTAH ALLOH SWT

Alloh swt memerintahkan kepada kita agar meneladani Nabi Muhammad saw .. agar kita berpegang teguh bahkan meningkatkan pengetahuan tentang Alloh dan ke-Esa-an-Nya .. mengagungkan-Nya, sehingga hati selalu terbuka untuk menerima hidayah dan meningkat amal-amal kita.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah -berpegang teguhlah dengan pengetahuanmu-, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan -pengatur dan pengendali alam raya yang wajib disembah- melainkan Alloh ..
dan mohonlah ampunan bagi dosamu .. dan -ampunan dosa- bagi orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan ..
dan Alloh -senantiasa- mengetahui hilir-mudik kehidupan dunia kamu -dalam usaha kamu di dunia mengetahui pula waktu serta rinciannya- dan -mengetahui pula tempat- kediaman kamu -di akherat beserta rincian pahalanya- ..
-Alloh mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kamu, baik sewaktu kamu bergerak maupun diam, karena itu berhati-hatilah jangan sampai kamu durhaka sehingga dikunci mati hati kamu ..” – (QS.47:19).

Ayat diatas menuntut seseorang untuk mengetahui Alloh sekuat kemampuannya .. Mengenal-Nya dari dekat, dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta mempelajari pengenalan diri-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw, al-Qur’an yang terbaca dan terhampar.

Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu bukan sekedar pengetahuan tenteang sesuatu, tetapi ia adalah cahaya yang menghiasi hati seseorang dan mendorongnya untuk melakukan aktivitas positif sesuai dengan ilmunya itu, di sisi lain ia baru dinamai ilmu kalau bermanfaat, dengan demikian apabila pengetahuan tidak mengantar kepada amal yang bermanfaat, maka ia sama saja dengan kebodohan.

Pengetahuan tentang ke-Esa-an Alloh, mengantar kepada keyakinan tentang keniscayaan kiamat, karena Alloh adalah Wujud Yang Maha Sempurna. Dia tidak mungkin menyi-nyiakan amal seseorang, tidak mungkin juga merestui ketidak adilan.
Sedang kesempurnaan balasan dan ganjara di dunia ini, tidak dapat dicapai sehingga keadilan pun belum tegak, karena itu pula perlu ada hari selain hari duniawi untuk menyempurnakan dan menegakkannya.

Perintah memohonkan pengampunan bagi kaum mukminin dan mukminah mengisyaratkan perlunya memberi perhatian kepada pihak lain.
Seseorang hendaknya tidak hanya menyempurnakan diri, tetapi juga berusaha menyempurnakan dan membimbing dengan cinta dan kasih sayang kepada orang lain untuk menuju kesempurnaan hidup dunia dan akherat.

BERDZIKIR DENGAN DZIKIR YANG BANYAK

Laki-laki yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh .. Alloh telah menyediakan untuk tiap-tiap orang dari mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dzikir mengingat Alloh dengan hati dan menyebut dengan lisan, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, menghadirkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung ..

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari ..
Mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadhilah dan keutamaan ibadah tertentu .. maka pastinya akan menyebabkan ia lapang hatinya melakukan ibadah tersebut ..
Begitu pun orang yang mengetahui mengenai keutamaan dzikir (mengingat Alloh), ia akan terdorong untuk rajin dan istiqomah mengerjakan dzikir tersebut ..

Alloh swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan dengan lidahnya bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH ..”
Mengatakannya sebagai cerminan kepercayaan mereka tentang kekuasaan dan ke-Maha-Esa-an Alloh ..
Kemudian mereka sungguh-sungguh beristiqomah meneguhkan pendirian mereka dengan melaksanakan tuntunan-Nya ..
Maka akan turun malaikat-malaikat mengunjungi mereka dari waktu ke waktu secara bertahap hingga menjelang ajal, untuk meneguhkan hati mereka sambil berkata ..:
“Janganlah kamu takut menghadapi masa depan, dan janganlah kamu bersedih atas apa yang telah berlalu ..
Dan bergembiralah dengan perolehan sorga yang telah di janjikan Alloh melalui Nabi Muhammad kepada kamu.”

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Setalah para malaikat itu menenangkan orang-orang beriman ..
mereka melanjutkan bicara guna menunjukkan hubungan keakraban ..
Mereka berkata: ..
“Atas perintah Alloh kamilah yang menjadi pelindung-pelindung kamu ..
Yang sangat dekat kepada kamu dan selalu siap menolong dan membantu kamu dalam kehidupan dunia dan demikian juga di akhirat ..
Dan yakinlah bahwa bagi kamu di dalam sorga sana, apa pun yang kamu inginkan dari aneka keni’matan, dan bagi kamu juga di sana apa yang kamu minta ..
Itu sebagai hidangan pendahuluan bagi kamu sebelum anugrah lainnya yang lebih jauh daripada yang kamu angan-angankan ..

نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Semua itu adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” ..
(41:30-32).

Istiqomah ialah konsisten dan setia melaksanakan apa yang di ucapkan ..
Konsistensi dalam kepercayaan tentang ke-Esa-an Alloh serta konsekuensinya pengamalan hingga datangnya ajal ..
Dan itu memerlukan taufik, hidayah dan bantuan Alloh ..
Karena itu bermohonlah agar istiqomah tersebut tetap terus terpelihara .. ya’ni tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun, berhala, manusia, malaikat, iblis, setan, jin, binatang, benda dll ..
Ibadahpun tidak di lakukan dengan riya’, bahkan beramal sesuai yang di ridhoi-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya ..

Turunnya malaikat kepada seseorang dalam kehidupan ini di tandai dengan terbetiknya dalam hati yang bersangkutan atas dorongan untuk berbuat baik, serta adanya optimisme ..
Berbeda dengan peranan setan yang selalu mengajak kepada kedurhakaan dan menanamkan pesimisme dan keputus-asaan ..

Perlu di ketahui bahwa malaikat-malaikat yang dimaksud bukanlah malaikat pengawas manusia dalam kehidupan ini, atau malaikat pembawa rizki, tetapi malaikat husus yang ditugaskan Alloh mendukung dan menemani orang-orang beriman ..

Disebutkan dua macam pengabulan ..
Yang pertama:
Dengan menggunakan kalimat:
“Apa yang kamu inginkan”
Yang di inginkan adalah hal-hal yang terhampar dalam kenyataan ..
Bisa juga difahami dalam arti pengabulan keinginan syahwat jasmani dan tertuju kepada yang bersangkutan ..
Dan yang kedua:
“Apa yang kamu minta”
Adalah hal-hal yang terbetik dalam benak ..
Bisa juga di artikan permohonan apapun baik untuk diri sendiri maupun orang lain , baik berkaitan dengan syahwat jasmani maupun rohani ..

Sufyan ats-Tsaqofi pernah memohon kepada Nabi Muhammad saw untuk diberi jawaban yang menyeluruh tentang islam, sehingga dia tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain ..
Nabi saw menjawab singkat:
“Qul amantu billah tsumma istaqim – Ucapkanlah .! Aku beriman kepada Alloh , lalu konsistenlah.”
(HR. Muslim).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya, daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholeh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.41:33).

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan secara tulus dan benar bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH .. Pencipta, Pemelihara dan yang terus berbuat baik kepada kami adalah Alloh yang tiada Tuhan Penguasa Dan pengatur alam raya selain-Nya”
Kemudian miskipun berlalu sekian lama dari ucapan dan keyakinan itu, mereka tidak digoyahkan oleh aneka godaan, cobaan serta ujian dan mereka tetap istiqomah, bersungguh-sungguh konsisten dalam ucapan juga perbuatannya ..
Maka tidak ada kehawatiran atas mereka, dan tidak ada rasa takut menguasai jiwa mereka pada hal-hal yang bakal terjadi, betapapun hebatnya peristiwa itu ..
Dan mereka tiada pula berduka cita atas apa saja yang telah terjadi, betapapun besarnya yang terjadi ..
Ini di sebabkan karena hati mereka sudah demikian tenang dengan kehadiran Alloh bersama mereka ..

أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni sorga, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sebagai imbalan atas apa yang telah senantiasa mereka kerjakan ..”
(QS.46:13-14).

Kalimat: “ALLOHU ROBBI” merupakan sistem yang menyeluruh bagi kehidupan ..
Mencakup semua kegiatan dan arah ..
Semua gerak detak dan detik hati serta pikiran ..

“ALLOHU ROBBI” yang menegakkan tolak ukur bagi pikiran dan perasaan ..
Bagi manusia dan segala sesuatu ..
Bagi amal perbuatan dan peristiwa-peristiwa ..
Bagi hubungan-hubungan pada seluruh wujud ini ..
Sehingga hanya kepada-Nya tertuju suatu ibadah ..
Hanya kepada-Nya kita mengarah ..
Hanya kepada-Nya kita takut ..
Hanya kepada-Nya kita dapat mengandalkan ..

Tidak ada sesuatu dan perhitungan selain-Nya ..
Tidak ada rasa takut dan harapan terhadap selain-Nya ..
Sehingga semua kegiatan, pemikiran, pengagungan hanya tertuju kepada-Nya ..
Semua mengharapkan ridho hanya kepada-Nya ..
Tidak ada penyelesaian hukum kecuali dari-Nya ..
Tidak ada kekuasaan kecuali syari’at-Nya ..
Tidak ada petunjuk kecuali petunjuk-Nya ..

PENGERTIAN BAI’AT
      
AL-BAI’AH secara etimologis berasal dari kata “by‘a” menjadi -ba’a- yang berarti -menjual- .. BAI’AT adalah kata jadian yang mengandung arti “perjanjian” atau “janji setia” atau “saling berjanji dan saling setia”, karena dalam pelaksanaannya selalu melibatkan dua pihak secara sukarela .. BAI’AT juga berarti “berjabat tangan untuk bersedia menjawab akad transaksi barang atau hak dan kewajiban, saling setia dan taat” .. Bai’at juga dapat diartikan perjanjian, penyumpahan, pengukuhan, pengangkatan, penobatan.

Bai’at merupakan tiang pancang bagi sistem hukum dalam sejarah Islam pada zaman Rosululloh saw, bahkan bai’at mendahului pendirian suatu negara.
Bai’at merupakan dasar masyarakat politik Islam dan perangkat untuk menyatakan kelaziman kepada jalan dan syari’at Islam, bahkan bai’at merupakan sisi kegiatan politik paling menonjol yang dilakukan oleh umat islam pada saat itu.

Bai’at juga dikenal dengan suatu perjanjian atau sumpah setia untuk meyakinkan orang agar `orang itu berbuat yang baik lagi benar`sesuai tuntunan agama. juga untuk kepercanyaan seseorang atau masyarakat yang dibai’at oleh pemimpinnya dalam hal untuk memajukan agama dan meningkatkan iman dan taqwanya.

Ambillah contoh BAI’AT NABI MUHAMMAD SAW KEPADA PARA SAHABAT beliau ..

Suatu ketika Nabi Muhammad saw membai’at sahabat untuk tidak meminta kepada manusia secara mutlak.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِي قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ : أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ؟ وَكُنَّا حَدِيْثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا : قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَعَلاَمَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ : عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَتُطِيْعُوا وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً :
“وَلاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا”

Dari ‘Auf bin Maalik al-Asyja’iy berkata:
“Kami di sisi Rosulullalloh saw, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang. Maka Nabi berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Tatkala itu kami baru saja membai’at beliau. Maka kami berkata:
“Kami telah membai’at engkau wahai Rosululloh.”
Kemudian beliau berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Lalu beliau berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Maka kamipun membentangkan tangan-tangan kami dan kami berkata:
“Kami telah membai’at engkau wahai Rosululloh .. kami membai’at engkau -lagi- atas apa wahai Rosululloh .?”
Beliau berkata: “-Kalian membai’atku- atas kalian beribadah kepada Alloh dan kalian sama sekali tidak berbuat kesyirikan, untuk sholat lima waktu dan untuk tetap ta’at.”
dan beliau mengucapkan dengan pelan perkataan yang samar:
“Dan janganlah kalian meminta -balasan- apapun kepada manusia.” (HR. Muslim).

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. -bukan kepada selain Alloh dari kalangan makhluk-makhluk-Nya-.” (QS.94:8).
             
Dari hadits diatas bisa dipetik pengertian bahwa bagi masyarakat yang berbai’at itu harus memiliki pengetahuan, pengertian yang sefaham dengan pemimpinnya .. dalam hal agama islam kefahaman itu penting karena memahamkan orang itu sangat sulit .. agar segala sesuatunya atau perjanjiannya menjadi sesuatu yang baik dan benar yang akan mengantar kedua belah pihak atau masyarakat merasa tenang dan merasa puas dalam hatinya.
 
Hukum bai’at -janji setia- itu sendiri tidak hanya belaku untuk laki-laki saja, tetapi juga berlaku untuk perempuan-perempuan yang beriman .. Bebera ayat ayat al-Qur’an menjelaskan terjadinya hukum bai’at -janji setia- antara Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dan antara hamba dengan Tuhannya .. diantaranya :

“Sesungguhnya orang-orang yang يُبَايِعُونَكَ berjanji setia kepadamu, mereka berjanji setia kepada Alloh.
TANGAN ALLOH DI ATAS TANGAN MEREKA.”
(QS. Al-Fath [48]:10).

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu, perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan يُبَايِعْنَكَ JANJI SETIA kepadamu.”
(QS. Al-Mumtahanah [60]:12),

“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka يُبَايِعُونَكَ berjanji setia kepadamu.”
(QS. Al-Fath [48]:18).

BAI’AT PARA NABI

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan -ingatlah .!-, ketika Alloh mengambil perjanjian dari para Nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”
Alloh berfirman:
“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu .?”
Mereka menjawab: “Kami mengakui”
Alloh berfirman:
“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”  
(QS. Ali Imron [3]: 81).

Nabi Muhammad saw bersabda:
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ
“Aku adalah Sayyid -Pemimpin- manusia di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

‘Ali ibn Abu Tholib ra, dan Ibn ‘Abbas ra keduanya meriwayatkan bahawa Nabi saw bersabda:
“Alloh tidak pernah mengutus seorang Nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad saw.
Seandainya Muhammad saw diutus di masa hidup Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau dan mendukung beliau dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.”

Diriwayatkan bahawa ketika Alloh swt menciptakan Nur Nabi-Nabi, Alloh swt memerintahkan kepada mereka untuk memandang pada Nur Nabi Muhammad saw, lalu mereka melihat Nur beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Alloh swt membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata:
“Wahai Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya .?”
Alloh swt berfirman:
“Ini adalah cahaya dari Muhammad ibnu ‘Abdillah; jika kalian beriman padanya akan Aku jadikan kalian sebagai Nabi-Nabi.”
Mereka menjawab:
“Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.”
Alloh swt berfirman:
“Apakah Aku menjadi saksimu .?”
Mereka menjawab: “Ya..”
Alloh swt berfirman:
“Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai pengikat dirimu .?”
Mereka menjawab: “Kami setuju..”
Alloh swt berfirman:
“Maka saksikanlah -hai para Nabi-, dan Aku menjadi saksi -pula- bersamamu.”

Ma’na dari kalimat “Maka saksikanlah -hai para Nabi-, dan Aku menjadi saksi -pula- bersamamu.” bahwa janji Nabi-Nabi yang telah disepakati bersama itu telah dipersaksikan oleh masing-masing pihak, dan Alloh swt menjadi saksi pula atas ikrar mereka itu.

Disamping itu apabila terkemudian diutusnya mereka di dunia, dia yang telah mengambil perjanjian dengan Alloh swt, memberitahukan kepada ummatnya bahwa bilamana datang seorang Rosul yang bernama Ahmad -Muhammad- membenarkan kitab dan hikmah yang ada padanya, mereka akan beriman dengan dia dan akan menolongnya, mereka itu akan mempercayainya, meskipun mereka sendiri telah diberi Al-Kitab dan diberi pula hikmah, mereka tetap akan mempercayai dan mendukungnya.

Hal itu disebabkan karena maksud dari diutusnya Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul itu adalah satu. Yaitu menyampaikan ajaran Alloh swt. Oleh karena itu para Nabi dan Rosul itu harus menguatkan tolong-menolong.

Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi mengatakan:
“Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi saw dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-Nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam as hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau saw.

Jadi, sabda Nabi Muhammad saw:
“Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia”
bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya.”
Hal ini dijelaskan lebih jauh oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi:
Maysaro al-Dhobbi ra, berkata bahawa ia bertanya pada Nabi saw:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau saw menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”

Berpijak dari hal ini, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isro’ Mi’roj, saat mana para Nabi melakukan sholat berjama’ah di belakang beliau saw -yang bertindak selaku Imam-. Keunggulan beliau saw ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau saw.”

As-Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.”

Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi saw bersabda:
“Aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”

Dalam Shohih Muslim, Nabi saw bersabda bahwa Alloh swt telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun dan 1 hari di sisi Alloh adalah 50.000. tahun -dunia- sebelum Dia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Ummul-Kitab (induk Kitab), bahawa Nabi Muhammad saw adalah Penutup para Nabi.

Demikianlah Alloh swt telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi Muhammad saw sebelum penciptaan Nabi Adam as, bahkan sebelum menciptakan alam semesta. dan Alloh swt limpahkan barokah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad saw pada ‘Arsy-Nya, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Alloh -Yang Maha Agung lagi Yang Maha Kuasa yang menghimpun segala sifat terpuji- dan -demikian pula- malaikat-malaikat-Nya -yang merupakan mahluk-mahluk suci- bersholawat untuk Nabi.
-Alloh melimpahkan rohmat dan aneka anugrah kepada Nabi Muhammad saw, dan para malaikat bermohon kiranya dipertinggi lagi derajat dan dicurahkannya maghfiroh atas beliau saw, yang merupakan mahluk Alloh termulia dan paling banyak jasanya kepada ummat manusia dalam memperkenalkan Alloh swt, dan menunjukkan jalan lurus menuju kebahagia’an-.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

-Karena itu- Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu -semua- untuknya -dengan memohon kepada Alloh swt, kiranya sholawat kepada beliau saw lebih dicurahkan lagi, dan di samping itu wahai orang-orang yang beriman, hindarkanlah dari beliau saw, segala aib dan kekurangan, serta sebut-sebutlah keistimewa’an dan jasa-jasa beliau- dan bersalamlah yang sempurna -ya’ni ucapkankanlah salam penghormatan kepada beliau dan penuhi tuntunan beliau-.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Kata SHOLLU terambil dari kata SHOLAH yang berma’na “menyebut-nyebut yang baik serta ucapan yang mengandung kebajikan” dan tentu saja do’a dan curahan rohmat merupakan sebagian ma’nanya.
Sedangkan kata SALLIMU terambil dari kata SALAM yang terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf SIN LAM MIM ma’na dasar dari kata yang terangkai dari huruf-huruf ini adalah “luput dari kekurangan, kerusakan dan aib”.

Dari sini boleh jadi orang yang mengucapkan kata SELAMAT namun si pengucap tidak menginginkan terjadinya keselamatan atau tidak mengharap yang mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan, SALAM atau DAMAI semacam ini adalah ucapan salam atau damai PASIF.
Ada juga SALAM atau DAMAI POSITIF ketika anda mengucapkan selamat kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, maka ucapan itu adalah cermin dari keselamatan positif.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat, rohmat dan berkahmu pada pemimpin para utusan, pemimpin orang-orang yang bertaqwa dan pamungkas para Nabi.” (HR. Ibnu Majah).

BAI’AT MANUSIA DI ALAM RUH

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan -ingatlah .!-, ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka -seraya berfirman-: ‘Bukankah Aku ini Tuhan kamu’. Mereka menjawab: ‘Betul .! -Engkau Tuhan kami-, kami menjadi saksi’. -Kami lakukan yang demikian itu-, agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini’.” –
(QS. al-A’rof [7]:172).

Seperti dalam banyak hal, segala kejadian minimal memiliki dua dimensi yang saling berhimpitan, yaitu dimensi jasmaniah dan dimensi rohaniah. Ada dimensi fakta dan dimensi hikmah, atau ada yang menyebut hal tersurat dan hal yang tersirat. Kedua dimensi tersebut bersama-sama membentuk karakter dan tingkah laku manusia dalam tugasnya memenuhi hak Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Pertanggung jawaban manusia sebagai makhluk Tuhan sesungguhnya tidak saja baru dimulai ketika kita dilahirkan dari Rahim ibu, tetapi jauh sebelum itu, yaitu ketika ruh-ruh manusia (Bani Adam) di baiat oleh Allah untuk dipersaksikan terhadap keberadaan Allah sebagai Sang Kholik.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung sulbi orang tua mereka, kemudian meletakkannya di rahim ibu-ibu mereka sampai menjadikannya keturunan meraka manusia sempurna.
Dan Alloh mempersaksikan mereka putra-putra Adam serta mengambil kesaksian atas jiwa mereka sendiri, meminta pengakuan mereka masing-masing melalui potensi yang dianugrahkan Alloh kepada mereka, berupa hati akal mereka,
Seraya berfirman:
“Bukankah Aku Tuhan Pememelihara kamu .?”
Masing-masing jiwa mereka menjawab:
“Ya betul .! kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhanku dan aku menyaksilksikan pula bahwa Engkau Maha Esa.”
Seakan-akan ada yang bertanya:
“Mengapa Engkau lakukan ini Tuhanku .?”
Alloh menjawab:
“Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat, kamu yang mengingkari ke-Esaan-Ku tidak mengatakan: `sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap persaksian ke-Esaan Tuhan yang selalu berbuat baik ini, yang menghamparkan bukti ke-Esaan-Nya di alam raya dan pengutusan para Nabi dan Rosul`.”
(QS.7:172)
 
Ketika peristiwa yang terjadi di alam ruh itu diceritakan secara ilmiah dengan Firman-Nya, maka berarti dengan ayat ini Alloh swt tidak sekedar memberi kabar akan siapa sesungguhnya “Tuhan manusia” itu, namun juga menegaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ibunya di dunia, sesungguhnya telah melaksanakan bai’at kepada Tuhannya.
– “Bukankah Aku Tuhan kamu .?”, dan dia saat itu telah menjawab: “Ya betul .! Engkau Tuhanku dan aku menyaksikan.” –
Dengan perjanjian itu, supaya di hari kiamat manusia tidak bisa mengingkari dan berkata: “Sesungguhnya kami orang-orang yang lupa terhadap persaksian ini.” ^
 
Sungguh ini merupakan bagian keajaiban al-Qur’an, rahasia kejadian di alam ghaib yang terkuak dari lembar perjalanan hidup anak manusia. Dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya di alam ruh itu, peristiwa itu bukan sekedar perkenalan antara seorang hamba dengan Tuhannya saja, namun juga penegasan, bahwa Sang Pencipta dan Sang Pemelihara alam semesta ini adalah Alloh swt. Dengan ayat ini seharusnya manusia tidak ragu lagi, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Alloh swt. ^

inilah awal mula segala prilaku terhadap naik dan turunnya kadar ketauhidan manusia selalu dimonitoring, bahkan kemudian Alloh swt menguji kadar ketauhidan tersebut dengan menyatukan ruh-ruh manusia ke dalam sebuah jasad.

Mulai dari masa Pra-Dunia -alam arham-, yaitu ketika masa pembentukan jasad manusia di dalam rahim ibu, manusia terus menerus diberi pelajaran oleh Alloh lalu di uji. Setiap kali manusia lulus dalam setiap ujian, maka bertambahlah derajat ke tauhidannya satu derajat dan begitulah terus menerus hingga akhirnya manusia mulai masuk ke alam kubur -alam barzakh-.

Saat di alam kubur inilah segala pengujian atas ruh manusia kemudian dihentikan, dan saat-saat sakaratul maut merupakan ujian terakhir yang menentukan manusia apakah meninggal dalam keadaan “Khusnul Khotimah” atau “Su’ul Khotimah” .. Kemudian pada akhirnya manusia di wisuda pada masa Yaumul-Hisab dengan menerima ijazah dengan tangan kanan atau tangan kiri.

Ruh dan Jasad manusia memiliki kecenderungan sifat yang saling bertolak belakang .. Jasad berasal dari tanah dan cenderung untuk selalu luruh ke bawah berkelompok dengan komunitasnya di bumi, sedangkan ruh manusia akan cenderung naik ke atas menuju ke alam arwah dimana asal kejadiannya ruh diciptakan oleh Alloh swt.
Keduanya, ruh dan jasad akan saling berbaur dan berusaha saling mengendalikan satu sama lain .. Manusia yang jasadnya lebih berkuasa terhadap ruh akan senantiasa menyukai hal-hal keduniaan, cenderung mengikuti hawa nafsu yang rendah dan berderajat melata, sedangkan ruh manusia cenderung untuk kembali ke fitrahnya yaitu selalu berusaha kontak dengan Sang Maha Pencipta.
Karena makanan bagi ruh manusia adalah bukan makanan secara fisik, tetapi makanan bagi ruh manusia adalah cahaya ilahi yang hanya diperoleh jika ruh itu terkoneksi secara langsung ke sumber cahaya.

Maka untuk memperkuat ruh manusia agar mampu mengendalikan rekan kerjanya -jasad- adalah dengan mempekuat ruh .. Caranya adalah memperbanyak makanan ruh, yaitu dengan “Sholat”, sehingga ruh mempunyai asupan gizi yang lebih banyak dan pada akhirnya memiliki kedudukan yang lebih kuat dan mampu mengendalikan jasadnya, yang berarti pula mampu mengendalikan hawa nafsunya.
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari -perbuatan- perbuatan- keji dan mungkar.” (QS.29:45).

Dengan Shiyam -puasa, agar tubuh fisik tidak akan pernah mampu mempunyai cukup daya untuk mengendalikan ruh .. dengan mengamputasi kepemilikan fisik yaitu dengan melepaskan sebagian kepemilikan, zakat, shodaqoh kepada mereka yang membutuhkannya .. lebih lanjut dengan melakukan ibadah pamungkas yaitu “Haji”.
Dengan ibadah ini, upaya memperkuat ruh dan melemahkan jasad dilakukan secara serentak .. sehingga jika hakekat “ibadah haji” benar-benar telah dapat digapai, maka tugas ruh sebagai “Waliulloh” benar-benar bisa terlaksana dengan benar.

Semakin kuat ruh mengendalikan jasad, maka akan semakin terbuka hijab -penghalang- yang menutup penglihatan ruh atas petunjuk-petunjuk Alloh dan mengingatkan kembali atas “Janji sebelum segala janji” atau “Janji Tauhid” yang pernah di ikrarkan pada saat berada di alam arwah.
Dengan semakin terbukanya hijab maka manusia bisa kembali ke “track” asalnya dan akan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan “orang-orang yang memenuhi janji” .. Sehingga secara bersama-sama ruh dan jasad selalu berada dalam bimbingan Alloh swt. dengan pemeliharaan dan bimbingan belajar dari Alloh Sang pembuat soal-soal Ujian, maka ujian mana lagi yang tidak akan mampu diselesaikan dengan baik .?

BAI’AT BAPAK KEPADA ANAKNYA

Dalam suatu riwayat disebutkan dari Abu Rofi’, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

“Aku melihat Rosululloh shollallohu ‘alihi wasallam, mengumandangkan adzan pada telinganya Hasan dan Husain, ketika dilahirkan Fatimah.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy, Al-Baihaqy, Ath-Thobrony dan Al-Hakim).

Dari Husain bin Ali bin Abi Tholib ra, Nabi saw bersabda:
“Barang siapa mempunyai anak yang baru dilahirkan, bacakanlah ia adzan pada telinga yang kanan, dan iqomah pada yang kiri, tidak bisa diganggu oleh syetan.” (HR. Abu Ya`la).

Suatu kelaziman masyarakat Islam pada umumnya, apabila anak baru lahir dibacakan adzan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kirinya .. Inilah bai’at pertama ketika manusia mulai menghirup nafas segar di muka bumi, oleh seorang bapak ..

Mari kita perhatikan uraian kalimat-kalimat adzan dan iqomah dibisikkan .. :

ADZAN

اَللهُ أَكْبَرُ.. اَللهُ أَكْبَرُ.. اَللهُ أَكْبَرُ .. اَللهُ أَكْبَرُ ..

Wahai anakku ..
Dalam kehidupan ini hendaknya engkau senantiasa mengawalinya dengan mengagungkan Alloh Yang Maha Besar.
Karena segala sesuatu yang ada di alam raya ini adalah hasil karya Alloh Yang Maha Besar.
Hanya milik Alloh Yang Maha Besar pengetahuan yang maha luas.
Kenalilah Alloh Yang Maha Besar melalui Kitab-Nya dan yang terbentang di alam raya ..

Setelah engkau mengawali kehidupan dengan mengagungkan Allohu Akbar, maka tulus ikhlas kita ikrarkan dalam hati melalui pendengaranmu dari lisan bapakmu .. diri ini bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Alloh.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh .. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh ..

Ikrar ini adalah ikrar ketauhidan kita dihadapan Alloh.
Dengan itu kita menjalani kehidupan ini penuh kepastian, bahwa hanya Alloh-lah tujuan akhir dari kehidupan ini.

Risalah Alloh tidak diturunkan-Nya secara langsung kepada seluruh manusia didunia.
Tetapi Alloh menurunkan risalah-Nya melalui seseorang.
Dialah Muhammad .. Nabi dan Rosul yang dipilih oleh Alloh sebagai pembawa risalah dari langit melalui malaikat Jibril as.
Maka diri ini pun bersaksi dengan tulus ikhlas ..

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh .. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh ..

Wahai anakku ..
Apabila dikumandangkan panggilan Alloh ..

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Marilah sholat .. Marilah sholat ..

Maka bergegaslah melaksanakannya, jangan sekali-kali menunda-nundanya.
Ingatlah ..! Betapa agung nilai derajat sholat dihadapan Alloh.
Saking agungya perintah sholat ini, sehingga ia disampaikan secara langsung oleh Alloh kepada Nabi Muhammad tidak melalui malaikat Jibril as.
Maka sholat merupakan rukun Islam, dan kewajiban setiap pribadi muslim untuk istiqomah, sebagai identitas keimanan kita.
Bukan saat hidup saja kita harus sholat, bahkan saat matipun kita di sholatkan.
Betapa ruginya diri kita bila sampai meninggalkan sholat.

Apabila baik sholat kita, maka akan baik pula amalan-amalan kita .. Apabila buruk sholat kita maka akan buruk pula amalan-amalan kita.
Dalam kesempatan hidup ini, hendaknya kita selalu menegakkan sholat yang lima waktu dan yang sunah, hingga akhir hayat.
Dengan menegakkan sholat kita menuju kepada Alloh, -seakan- melihat Alloh dalam sholat, sebelum melihat Alloh kelak di akhirat.

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Marilah menuju kemenangan .. Marilah menuju kemenangan.

5 kali sehari kita diingatkan untuk selalu mencari kemenangan, keuntungan serta kebahagiaan, hanya dengan sholat kita dapat meraihnya.
Kemenangan bukanlah ketika tujuan tidak tercapai dalam waktu yang telah direncanakan, akan tetapi kemenangan adalah ketika kita dapat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

Alloh Maha Besar .. Alloh Maha Besar ..

Maha Besar Alloh, yang berhak memuliakan dan menghinakan hambanya ..
Dalam sholat kita berdialog dengan Alloh Yang Maha Besar.
Hendaknya kita dalam sholat maupun dalam dzikir, meresapi ada plus (+) dan minus (-).
Plus di sisi Alloh dan minus di sisi kita, sebagai hamba-Nya Yang Maha Besar.

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh …

Wahai anakku ..
Ingatlah ..! Akhir dari kehidupan kita jangan sampai melupakan Alloh yang tiada tuhan selain-Nya. Inilah kalimat yang harus selalu kita pegang teguh sampai akhir kehidupan.
Itulah hakekat ibadah -pengabdian- kepada Alloh ..

IQOMAH

Wahai anakku .. Apabila diserukan kalimat :

اَللهُ أَكْبَرُ .. اَللهُ أَكْبَرُ

Sedang engkau sibuk mengurusi harta duniawi, berhentilah sejenak, sambutlah seruan ini.
Istirahatkanlah badanmu dengan sholat, dan segeralah beramal baik, demi kepentingan dan keuntungan dirimu sendiri.

Apabila diserukan kalimat :

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Maka katakanlah “Aku mohon persaksian semua masyarakat langit dan bumi, bagiku di sisi Alloh kelak di hari kiamat bahwa: aku telah bersaksi
`Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh`..”

Apabila diserukan kalimat :

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Maka katakanlah : “Aku mohon persaksian dari para Nabi dan Rosul, -hususnya- Nabi Muhammad saw. kelak di hari kiamat, bahwa `Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh` ..”

Apabila diserukan kalimat :

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Sungguh Alloh telah memerintahkankan sholat bagi kalian, maka tegakkanlah sholat itu.

Apabila diserukan kalimat :

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Masuklah engkau dalam rohmat Alloh, maka tetaplah teguh melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh. dengan ikhlas hati, dan tetaplah lurus berjalan dimuka bumi menuju Ilahi.

Apabila diserukan kalimat :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

Maka “Bertaqwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlaq yang baik.”

Lalu seruan terahir kalimat:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Wahai anakku ..
Inilah amanat tujuh lapisan bumi dan langit, sudah berada dipundakmu, maka terserah engkau .. akan
Engkau laksanakan atau tidak .!

Tuhanku ..
Saksikanlah .. aku telah memberitahu anakku, dan telah menyampaikan amanat-Mu kepadanya ..
Maka terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahu ..

BAI’AT MANUSIA KEPADA ALLOH SWT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّه

AKU NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh.
Janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan Al-Qur’an.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya -selain- daripada Alloh .?
Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” – (QS.9:111).

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji -Alloh-, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu.” – (QS.9:112).

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Ayat Bai’at ini menjelaskan fungsi Rosululloh saw serta apa yang dituntut dari ummat manusia terhadap Alloh dan terhadap Rosul-Nya, maka ayat ini menguraikan sikap terpuji dari sekelompok manusia yang mendukung Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat yang mendukung beliau dan berjanji setia membela beliau sampai titik darah penghabisan atau selama nyawa masih dikandung badan ..

Ayat ini menyatakan:
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu -janji setia membela risalah yang engkau sampaikan- sebenarnya mereka BERJANJI KEPADA ALLOH ..”
-(Karena seluruh kegiatanmu baik ucapan maupun perbuatan adalah demi karena melaksanakan perintah Alloh dan demi karena sunnah Rosululloh)-
-(Karena biasanya yang melakukan janji setia atau persepakatan melakukannya dengan berjabat tangan, maka ayat ini melanjutkan)-
“TANGAN ALLOH -ya’ni kekuasaan, kekuatan dan anugrah-Nya- DI ATAS TANGAN MEREKA -Dia yang akan menyertai dan membantu yang berjaji itu-.
Barang siapa yang telah melanggar -janji setia itu-, maka akibat pelanggarannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, dan barang siapa menepati janjinya kepada Alloh -dengan menyempurnakan bai’atnya- maka Alloh akan menganugrahinya pahala yang agung -yang tidak terlukiskan keagungannya-.” – (QS.48:10)

Pengguna’an bentuk kata kerja “masa kini” pada firman-Nya يُبَايِعُونَكَ -berjanji setia- padahal peristiwa ini telah terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, adalah bertujuan menghadirkan peristiwa yang sangat mengagumkan itu ke benak ummat beliau saw di masa kini, agar dapat diteladani ..

BAI’AT YANG BAIK DIANTARA BAI’AT BAI’AT YANG PALING BAIK

Alloh swt berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
“Alloh memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak.
Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” – (QS.2:269).
وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“Dan berikanlah kepada mereka HARTA ALLOH, yang diberikan-Nya kepadamu.” – (QS.24:33).
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Alloh telah membeli -berjanji dengan janji yang pasti-.
-Menerima- dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan -memberikan- sorga untuk mereka.” – (QS.9:111).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولَا
“Aku ridho Alloh sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rosul ..”
إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku -kesemuanya- demi karena Alloh Pemelihara seluruh alam semesta raya.”
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sebenarnya mereka BERJANJI KEPADA ALLOH .. TANGAN ALLOH DI ATAS TANGAN MEREKA ”
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ .. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللَّهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh .. dan .. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh ..
Demi nama Alloh .. hanya kepada Alloh aku bertawakkal menyerahkan diri segala persoalan urusan dunia dan akhirat ..
Tiada daya untuk mendatangkan manfa’at .. dan tiada upaya untuk menolak mudhorot .. Melainkan atas pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung ..

“Allohu Robbi .. Nawaitu .. semua pahala amal kebajikan dalam hidupku yang telah Engkau tetapkan bagiku sejak lahir hingga ajalku, aku hadiahkan dan shodaqohkan kepada semua orang mukmin-mukminat dan muslimin-muslimat yang hidup masa sekarang hingga akhir zaman dan yang wafat saat sekarang hingga Nabi Adam as ..”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
Tuhan kami .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta
Rohamatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang husus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” – (QS.14:27).

Dengan memeberi hadiah pahala kesemua orang-orang mukmin-mukminat dan muslimin-muslimat , jiwa mereka akan merasa tenang, bahwa mereka akan merasa selalu dibantu selama si pemberi memiliki kemampuan, dengan demikian mereka akan ikut menjaga harta tersebut.

Dari sini lahirlah ketenangan bagi semua pihak termasuk si pemberi hadiah dan shodaqoh yang dijanjikan oleh Alloh pelipat-gandaan pahalanya, dan hal ini pada gilirannya melahirkan kegiatan positif dan menjadikan si pemilik pahala berkonsentrasi dalam usahanya untuk memproleh keuntungan yang lebih banyak.

ALLOH MENGAMBIL DAN MENERIMA SHODAQOH

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Alloh menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.
-Dan sebagai imbalannya-, Dia mengambil shodaqoh-shodaqoh -dari mereka-
Dan -ketahuilah- bahwa Alloh Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang.” (QS.9:104).

Nabi Muhammad saw mendapat perintah Alloh dari swt untuk disampaikan kepada ummatnya ..
Alloh swt berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah -atas nama Alloh- shodaqoh dari sebagian harta mereka.
Hendaknya mereka serahkan -dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan hati- dari sebagian harta mereka.
Dengannya -ya’ni harta yang engkau ambil itu- engkau membersihkan dan menyucikan jiwa mereka.
Dan berdo’alah untuk mereka -guna menunjukkan restumu terhadap mereka dan memohonkan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka-.
Sesungguhnya do’amu itu adalah sesuatu yang dapat menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan -sampaikanlah kepada mereka bahwa- Alloh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.9:103).

INGATKAN KAMI YA ROBB ..!

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا .. الْحُسْنَى .. وَزِيَادَةٌ ..
”Bagi orang-orang yang berbuat baik .. ada pahala yang paling baik .. dan tambahannya -yang terbaik- ..”. (QS. Yunus [10]: 26).

وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan .. akan kami tambahkan baginya kebaikan .. pada kebaikan itu -pahala yang sangat besar-.
Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syuro [42]: 23).

Ingatkan kami ya Alloh .. bahwa rohmat dan ridho-Mu lebih besar daripada dunia dan segala isinya yang akan kami tinggalkan pada waktu yang Engkau tetapkan ..

اللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ .. وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ .. وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ .. وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ
“Ya Alloh, aku mohon ridho sesudah keputusan-Mu .. kesejukan hidup setelah kematian .. kelezatan memandang wajah-Mu .. dan kerinduan berjumpa dengan-Mu ..” (HR. Ahmad).

Alloh swt berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا .. الْحُسْنَى .. وَزِيَادَةٌ .. وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik .. ada pahala yang lebih baik .. dan tambahannya ..
Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni sorga, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Yunus [10]: 26)

Alloh swt, menginformasikan bahwa orang-orang yang dapat memahami petunjuk dan mengambil manfaat dari petunjuk itu serta mengamalkannya .. Alloh swt akan memberikan pahala sesuai dengan amal perbuatan mereka, bahkan menganjurkan mereka agar lebih giat beramal kebaikan .. Alloh swt menjanjikan pahala sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus atau lebih banyak daripada itu.

Orang-orang yang melakukan amal yang baik akan mendapat imbalan pahala melebihi pahala yang seharusnya diterima .. Mereka itu akan menerima pahala yang lebih baik .. Mereka hidup bahagia, dari wajah mereka tampak cahaya yang berseri-seri, sedikit pun tidak terlihat kemurungan dan kemuraman lantaran mereka itu tidak merasa kecewa atas keyakinannya yang telah dipegang kuat-kuat, dan tidak merasa bersusah hati.

Dan mereka juga akan mendapat ZIADAH (tambahan) pahala lagi, yang tidak ternilai harganya, yaitu ridho Ilahi.
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan keridhoan Alloh adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang agung.” – (QS.9:72).
Sungguh tinggi kedudukan dan derajat mereka. Kedudukan ini adalah yang paling tinggi karena mereka mengetahui tujuan yang sebenarnya Pencipta alam semesta .. Ridho Alloh Yang Maha Mulia.

Kalimat “Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan.” Memberi kesan kecepatan langkah mereka, sehingga tidak dapat disusul oleh debu hitam. sebagaimana tergambar dalam surat ‘Abasa ayat 40 “Dan banyak muka pada hari itu tertutup debu ..”

Di akhir ayat ini Alloh swt. menegaskan bahwa “mereka inilah orang-orang yang berhak menjadi penghuni sorga” Mereka akan bertempat tinggal di dalamnya selama-lamanya. Di situlah mereka mengalami kebahagiaan yang abadi, karena tidak akan merasa bosan dan jemu akan keni’matan yang mereka rasakan dan tidak pula mereka takut akan berkurangnya keni’matan atau dikeluarkan dari sana.

SHODAQOH SIRRIYAH

Setiap orang pasti akan berusaha menjaga sesuatu yang dianggapnya berharga.
Ada orang yang menganggap bahwa emas, perak, berlian adalah harta yang paling berharga, maka ia akan berusaha menjaga menyimpannya di tempat yang aman.
Ada sebagian lagi yang menganggap binatang ternak, tanah dan ladang adalah harta yang paling berharga, maka ia merawatnya dengan penuh hati-hati lagi sepenuh hati.
Ada lagi anak sebagai harta yang paling berharga dalam hidupnya, maka ia akan berusaha melindungi dan menjaganya.
Dan istri juga adalah harta yang ta’ternilai, maka ia berdaya upaya memelihara dengan ekstra perhatian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Munafiqun: 9).

Begitulah seterusnya : rumah, kendaraan, perhiasan, pangkat, jabatan, kedudukan, penghormatan, dan segala sesuatu yang dianggap berharga, akan berusaha dilindungi, dijaga, dipelihara dan disimpan ditempat yang aman.

Sebagian besar manusia menganggap bahwa yang paling berharga hanyalah yang berkaitan dengan perkara dunia.
Sayangnya, tidak setiap orang mengetahui bahwa yang sesungguhnya paling berharga didunia ini adalah pahala.
Maka, pemeliharaan mutu ibadah dan perawatan, hendaknya lebih diutamakan, sebelum menjaga dan melindungi yang lainnya.
Karena kepemilikan apa pun di dunia ini tidak akan pernah mempunyai nilai apa-apa setelah seseorang meninggalkannya, jika tidak diiringi oleh ibadah yang bernilai pahala.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfaal [8]: 28).

Bagaimana Anda bisa meni’mati hasil yang baik bila tujuannya saja tidak tepat sasaran .?
Ibarat orang mau ke mall untuk berbelanja, bagaimana ia bisa belanja kalo yang dituju ternyata balai kota ..? Bukankah sangat jauh dari harapan …

Anda bekerja, lalu berpenghasilan, maka itulah yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya, baik dengan shodaqoh, infaq, zakat, amal jariyah, dsb.
Bukan bekerja dengan penghasilan yang setinggi-tingginya yang menjadi tujuan hidup Anda, yang kemudian malah terjebak dalam berbagai penyakit hati, kikir, sombong, ujub, riya’, dsb.
Pun demikian halnya dengan keluarga, teman dan lingkungan, semuanya hanya alat belaka.

Hanya berkat rohmat dari Alloh swt dan syafa’at Nabi Muhammad saw saja Anda mampu ikhlas melakukannya ..
Karena waktu Anda telah tiba .. maka memberikan harta hasil kerja Anda berupa pahala pada setiap saudara mukmin adalah hadiah yang ta’ternilai keutamaannya ..
Anda ta’kan dapat melukiskan betapa hebatnya bershodaqoh itu .. Anda boleh bersyukur merasa bahagia menjadi yang beruntung dengan hadiah untuk mereka itu ..

Anda sangatlah beruntung ..! Ya .. amat sangat beruntung .. Anda tidak akan dapat membayangkannya sama sekali betapa besar dan banyaknya keberuntungan itu ..
Tiada seorang pun yang akan dapat menghitungnya .. tiada sesuatu apapun yang dapat Anda tukarkan dengan harta ini dari mereka ..
dan tiada suatu apapun yang dapat Anda peroleh meskipun Anda beribadah dan berdo’a selama seribu tahun, maka Anda pun tetap tidak akan dapat memperoleh apa pun dari mereka .. kecuali hanya Alloh swt saja yang mampu membalasnya ..

Inilah hal terhebat yang pernah dapat Anda miliki di manapun di alam semesta .. Siapapun tidak dapat merempas atupun memilikinya .. karena ia disimpan oleh Alloh Yang Maha Memelihara .. Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana mengatur pembagian atas kehendak-Nya .. bahkan sebagian makhluk yang berkedudukan tinggi sangat iri kepada Anda .. Mereka sangat iri karena Anda berada di jalan menuju keberuntungan ridho-Nya .. sedangkan mereka masih tetap menjadi makhluk ahli ibadah saja atau hanya sebagai malaikat ..

Semua makhluk akan meninggal suatu saat .. tetapi jejak-jejak yang Anda tinggalkan tetap abadi tidak pernah mati ataupun musnah .. Bisa jadi mereka akan semakin turun, tetapi Anda tidak .. Anda akan terus naik ke atas melampaui mereka .. lebih tinggi daripada mereka .. menjadi semakin dimuliakan .. dan semakin berkilau ..

Anda akan memiliki apapun dan segalanya di sana .. Anda akan berada di sisi Alloh sebagai kekasihnya .. sedangkan mereka akan mencari Anda entah ke mana di dalam mencari .. untuk memperoleh penghargaan ini ..

Saat Anda membayangkannya .. wow ..! bagaimana Anda memenangkan undian senilai sebilyun ..? inilah perumpamaannya ..
Jika Anda tahu terlalu banyak, maka Anda mungkin akan tersiksa dan menderita .. Tetapi betapa beruntungnya Anda ..! Alloh swt hanya memberitahu sedikit hal saja kepada Anda.

Di antara makhluk seluruh alam semesta, Andalah yang terpilih, dan yang sangat beruntung .. Sungguh, Anda tidak tahu sampai saatnya tiba ..

Anda memang harus bekerja di dunia ini untuk Alloh saw dan Nabi saw, sehingga tak peduli seberapa banyak harta yang Anda berikan untuk kenyamanan mereka ketika Anda masih terbelenggu berada di dalam penjara dunia .. sementara mereka tidak dapat memberikan suatu apapun terhadap Anda ..

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. -bukan kepada selain Alloh dari kalangan makhluk-makhluk-Nya-.” (QS.94:8).
             

01 QI SANAK

KATA PENGANTAR

“…. jika kamu bersabar dan bertakwa
Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
(QS. Ali Imron [3]: 186).

Setiap orang muslim diantara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh saw tatkala beliau ditanya:
Siapakah orang yang paling baik itu .?
Beliau saw menjawab:
“Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Rosululloh saw telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, tidak seperti umur-umur umat sebelumnya. Akan tetapi Beliau saw telah menunjukkan kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu kalau dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya.

Dan inilah yang dinamakan dengan “Al-‘Amaal Al-Mudho’afah” (amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda) yang tentu saja tidak semua orang mengetahuinya.

Harapan kita agar setiap orang diantara kita menambah umurnya dengan amalan yang produktif dalam kehidupan dunia ini. Agar dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya.
Kita memilih dari amalan-amalan yang paling ringan dikerjakan oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain -hanya- mendapatkan ombaknya saja.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangan engkau jadikan hati kami `mempunyai sifat` dengki kepada orang-orang yang beriman. Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-hasyr [59]:10).

MUQODDIMAH

Kepada Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang kami menuju ridho-Nya .. Sesungguhnya segala pujaan dan pujian hanya milik Alloh.
Kami memuji dan memohon pertolongan-Nya .. Kami berlindung kepada Alloh swt. dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kami ..
Barang siapa yang diberi hidayah oleh Alloh swt, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya .. dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh swt, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk ..

Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya .. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imron [3]: 102).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Alloh menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Alloh memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan -menyeru- nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan -peliharalah- hubungan silaturrohmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa` [4]: 1).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan Katakanlah Perkataan yang benar, Niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan.
Barangsiapa ment’aati Alloh dan Rosul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw.
Dialah suri tauladan yang baik dan paling baik dari yang terbaik.

AMMA BA’DU

اَلنِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلِ فِيْهَا الصَّلاَحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلِ
“Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, hanya pada Niatlah benar atau rusaknya amalan.”

Ini adalah risalah singkat tentang pokok amal Islam dan hakikat Niat, Ibadah, Bai’at, Shodaqoh dan Do’a beserta dalil-dalilnya dari al-Qur’an al-’Adhim dan As-Sunnah asy-Syarifah .. Kami beri judul :
YANG BAIK DIANTARA YANG PALING BAIK

YANG PALING BAIK AGAMANYA

Alloh swt berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang Niat ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh ..?” (QS. An-Nisa’ [4]:125).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk beribadah -menyembah- Alloh dengan Niat ikhlas -memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan- agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]:5).

Dari ‘Umar bin Khotthob ra, Nabi Muhammad saw bersabda:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan Niat-Niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan …
Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya …
dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya …”
(HR. Bukhori, Muslim dan lain-lain).

Dari Abdulloh bin Abbas ra, Rosululloh saw bersabda :
“Sesunguhnya Alloh mencatat hasanat -kebaikan- dan sayyi’at -kejahatan-, kemudian menjelaskan keduanya.
Maka siapa yang berniat akan berbuat hasanat kemudian tidak dikerjakannya, Alloh mencatat untuknya satu hasanat, dan jika berniat kebaikan kemudian dikerjakan dicatat sepuluh hasanat mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu.
Dan apabila berniat akan berbuat sayyi’at dan tidak dikerjakan, Alloh mencatat baginya satu hasanat. Dan jika niat itu dilaksanakan, maka ditulis baginya satu sayyi’at.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

GENGGAM ERAT ERAT
JANGAN PERNAH KAU LEPASKAN

Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita dan terasa berat penderitaan kita baginya ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”

Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?

MULTI NIAT MULTI PAHALA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
“Aku Niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..”

NIAT KUNCI IBADAH

Paling tidak, ada dua kriteria tentang ibadah yang diterima oleh Alloh swt.
Pertama– melakukan suatu amal dengan Niat semata-mata hanya karena melaksanakan perintah Alloh swt, dengan mengharap ridlo-Nya.
Kedua– melakukan ibadah secara benar dan baik yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh saw.

Setiap ibadah yang dilakukan seseorang harus menghasilkan penilaian yang positif.
Jika Niat seseorang sudah benar, akan tetapi melakukan amalanya dengan cara yang tidak baik, ataupun sebaliknya, Niat seseorang sudah baik akan tetapi melakukan amalannya tidak benar, maka bisa jadi hal itu tidak diterima oleh Alloh swt.

Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena Niat, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil karena Niat ..

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal-amal perbuatan tergantung Niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”
(HR. Bukhori).

Niat adalah pokok pangkal sahnya suatu amalan dan ujung pencapaian tujuan ..
Maka hendaknya sebagai muslim yang baik senantiasa mengingat keutamaan niat disetiap gerak dan diam kita ..

NIAT ADALAH RUHNYA IBADAH

Ikhlas adalah beramal karena Alloh swt dan benar adalah sesuai dengan sunnah Rosululloh saw.
Adapun hakikat Niat adalah hasrat hati dalam menjalankan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Alloh swt, yaitu dengan memurnikan tujuan ibadahnya hanya untuk Alloh swt semata, tidak kepada selain-Nya.

Sebuah amal bisa memperoleh pahala yang berlipat karena kecermatan menata Niatnya. Selain meraih pahala yang berlipat, Niat yang benar akan melahirkan hasrat yang kuat untuk melakukan ketaatan secara maksimal, dan dapat mencegah seseorang merasa malu untuk melakukan maksiat.

Memperbanyak Niat melakukan kebaikan, sebab Rosululloh saw bersabda:
“Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya.” karena Niat adalah amaliah batin yang tidak satupun mahluk mengetahuinya, sedangkan amaliah lahir, dalam pelaksanaannya bisa saja diketahui orang lain yang berdampak ujub, riya’, sum’ah dll.
Maka amalan Niat dalam hati akan tetap lebih baik dan lebih besar pahalanya di sisi Alloh swt, walau pun dalam pelaksanaan lahirnya ada unsur-unsur yang lain.

Orang-orang yang beriman apabila melakukan suatu amal kebaikan .. Alloh swt melipat gandakan pahalanya menjadi sepuluh, tujuh-ratus hingga lebih banyak dari itu, tergantung dari kadar ketulusan niat dan benarnya dalam melaksanakan pekerjaan itu .. Rosululloh saw menegaskan dalam hal ini dengan sabdanya:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal-amal perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang -akan dibalas- berdasarkan apa yang dia Niatkan.” (HR. Bukhori).

“Niat seorang mukmin -secara ikhlas dalam hati- lebih baik daripada amalnya -pekerjaan dengan anggota badan-.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Robi’).

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian.” (HR. Muslim).

“Manusia dibangkitkan kembali -dari alam kubur- kelak sesuai dengan niat-niat mereka.”
(HR. Muslim).

RAHASIA MERAIH KEUTAMAAN DENGAN NIAT

Niat adalah kehendak, dan tujuan adalah ungkapan-ungkapan yang mempunyai satu arti, yaitu keadaan dari sifat hati yang mengandung kaitan antara ilmu dan amal. Ilmu terhadap Niat adalah seperti pendahuluan sedangkan syarat dan amal mengikutinya.

Niat adalah ibarat kehendak yang berada di tengah antara pengetahuan yang mendahuluinya dan amal yang menyusul. Maka ia mengetahui sesuatu, lalu timbul kehendaknya untuk beramal sesuai pengetahuannya.

Rosululloh saw bersabda:
“Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya dan Niat orang fasik lebih buruk daripada amalnya.”

Mengomentari hadits ini seorang ulama berpendapat bahwa setiap orang mukmin yang melakukan kebaikan, ia akan berniat untuk melakukan Niatnya yang lebih baik dari perbuatannya.
Niat orang mukmin melakukan kebaikan tidak akan pernah berahir. Sebaliknya ketika orang fasik melakukan keburukan, ia berniat melakukan yang lebih keburukan pun tidak terbatas.

Jika dibandingkan amal tanpa Niat dan Niat tanpa amal, maka tidaklah diragukan bahwa Niat tanpa amal lebih baik daripada amal tanpa Niat.
Jika amal yang mendahului Niat ditimbang dengan Niat yang didahului amal, maka Niat pun lebih baik, karena ia adalah kehendak yang timbul dari dasar pengetahuan dan ia lebih dekat pada hati.
Maka dalam setiap keadaan, Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya sebagaimana dikatakan oleh hadits diatas.

Menurut al-Imam Abdur Ro’uf al-Munawi :
“Niat orang mukmin lebih baik dari pada amalnya dan Niat orang fasik lebih buruk daripada amalnya.” diriwayatkan dari beberpa jalur sehingga dapat menutupi kekurangannya;
karena Alloh swt mengekalkan hamba-Nya di sorga bukan karna amalnya, namun karena Niatnya .. Sebab seandainya karena amal, ia akan berada di sorga sesuai dengan jangka waktu amal yang dilakukan berikut pelipat-gandaannya, namun kedudukannya melampaui semua itu karena Niatnya.
“IA BERNIAT MENTA’ATI ALLOH SELAMANYA DAN MENGIKUTI NABI MUHAMMAD SELAMANYA”
Demikian pula orang kafir, seandainya ia dibalas dengan amal perbuatannya, ia tidak akan layak kekal di neraka, namun sesuai dengan jangka waktu kekufurannya, tetapi karena ia berniat tetap dalam kekufuran selamanya, dan itulah yang menyebabkan kekekalannya di neraka.”

Ibnu Rojab mengomentari hadits diatas :
“Keutamaan tidaklah diraih dengan banyaknya amal badan, tetapi dengan keikhlasan hati dan benar caranya mengikuti sunnah, serta dengan banyaknya pengetahuan hati dan bayaknya niat dalam hati.
Jadi siapa yang paling mengetahui tentang perintah Alloh, agama-Nya, hukum-hukum-Nya, serta syari’at-Nya, dan dia paling takut kepada-Nya, paling mencintai-Nya, serta paling besar harapan kepada-Nya, maka dia lebih utama dibandingkan seseorang yang keadaannya tidak demikian, walaupun dia lebih banyak beramal dengan anggota badannya.”

Menurut Abul-Hakam ‘Umar bin Abdur Rohman bin Ahmad bin Ali al-Kirmani
“Niat orang mukmin lebih baik dari pada amalnya -yang tidak disertai niat” .. sebab kalau yang dimaksud .. “Niat orang mukmin lebih baik daripada amal -yang disertai niat” .. berarti sesuatu yang lebih baik dari dirinya sendiri adalah yang disertai yang lain.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw menyatakan “Niat orang mukmin lebih baik dari pada amal”, karena Niat adalah ibadah hati, sedangkan amal merupakan ibadah tubuh .. tentu saja amal hati lebih utama daripada amal tubuh .. tentu saja amal hati lebih berbekas dan lebih bermanfaat .. karena hati adalah pimpinan sedangkan tubuh adalah rakyat .. tentu saja amal pimpinan atau raja lebih mulia derjatnya dan lebih agung kedudukannya .. selain itu amal bersifat tebatas, sedangkan Niat tidak terbatas, sebab orang yang beriman berjanji mentaati Alloh swt dan Rosululloh saw sepanjang hidupnya.”

Bisa juga ma’nanya “Niat lebih baik daripada bagian yang berupa amal”, karena tidak dicampuri riya’, atau “Niat lebih baik daripada sejumlah kebaikan yang diwujudkan dalam amal” karena Niat perbuatan hati .. Sedangkan perbuatan yang paling mulia tentu derajatnya lebih mulia, karena tujuan ketaatan adalah menyinari hati, maka sinar dari Niat lebih terang karena merupakan sifatnya hati.

GIGITLAH NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH DENGAN GIGI GERAHAMMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله

Niat tidak cukup hanya berupa keinginan dalam hati .. tapi harus diikuti tindakan yang sungguh-sungguh dengan mencerminkan keinginannya ..
Niat .. eksistensinya tidak hanya berada di awal pekerjaan tapi tetap terus terjaga sampai akhir pekerjaan ..

Pernahkah anda mengikuti atau melihat lomba bawa kelereng dalam sendok yang digigit ..?
Jika anda hanya mengikuti, tanpa disertai usaha untuk membawanya secara hati-hati, dengan berjalan sembarangan atau bahkan berlari cepat, apa yang terjadi ..?
Kelerengnya pasti jatuh .. Dan anda dinyatakan gagal ..!
Demikian pula dengan niat .. jika anda niat hanya di awal saja, sementara di tengah perjalanan anda tidak menjaga niatnya .. bahkan anda sampai lupa sedang mengerjakan apa .. maka inipun tentu akan berakibat kegagalan ..

Sebelum berlomba kita harus mengerti benar aturan mainnya dan tau persis apa yang akan kita lakukan .. Dan tau pula hadiah yang bakal kita terima jika berhasil ..
Setelah perlombaan dimulai .. kita harus tetap sadar bahwa kita sedang mengikuti lomba kelereng dan harus sabar serta hati-hati membawanya sampai perlombaan selesai ..

Agar tetap dapat menghayati niat kita perlu memahami hakikatnya .. merasakan dengan penuh kesadaran dan meni’matinya dengan penuh harapan hadiah sorga ..

IBADAH MERUPAKAN KEBUTUHAN MANUSIA LEBIH DARI PADA KEWAJIBAN

Bagi seorang muslim, setiap amal yang dilakukanya tentu harus didasari pada ilmu, semakin banyak ilmu yang diketahui, dimengerti dan dipahami, akan mengantarkan seseorang dapat mewujudkan amal ibadah yang bisa mendekatkan dirinya kepada Alloh swt.

Ibadah adalah sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke Maha Sucian Alloh baik yang berupa perintah, larangan, anjuran maupun informasi-informasi, serta bersikap penuh kasih-sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

“Manusia diciptakan tiada lain hanya untuk beribadah kepada-Nya.”
ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya dilakukan sebagai wujud penghambaan kepada Alloh swt.

Maka seorang mukmin yang sejati ialah dia yang selalu sadar akan hakekat penciptaannya ini, dari kesadarannya ini memancar ke dalam cara berpikir dan prilaku kepribadiannya.

Setiap helai pemikiran, ucapan dan perilakunya mengandung ketundukan tulus kepada Alloh swt.
Mandi, berpakaian, makan, minum, olahraga, bekerja, tegur-sapa, berkeluarga dan seluruh aktifitas dima’nakan serupa dengan sholat, puasa, zakat dan ritual lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari.

Dengan begitu, tidak akan ada ruang, atau paling tidak sedikit ruang bagi aktifitas-aktifitas yang bukan ibadah.
Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan.

Jadi, nilai setiap aktifitas kita di hadapan Alloh swt tergantung pada pema’naannya secara filosofis, baik sebelum, sekarang maupun sesudah pelaksanaannya.
Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh saw:
“Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya.”

Jika dia beraktifitas dengan Niat rela untuk melaksanakan perintah Alloh swt dan Rosul-Nya saw, maka demikianlah Alloh dan Rosul akan menilainya.
Namun jika ia beraktifitas karena perkara duniawi atau karena menuruti kehendak nafsu pribadinya, maka nilai aktifitasnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja.

IBADAH HANYA UNTUK ALLOH

Alloh swt berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah–Ku.”
(QS.51:56).

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu -waktu- yang diyakini -ajal-.” (QS Al-Hijr [15]:99 )

Ibadah adalah menyembah, mengabdi dengan ta’at kepada Alloh swt, apabila seseorang menjadi “abdi” seorang hamba atau hamba sahaya tentu saja ia tidak memiliki sesuatu .. Apa yang dimilikinya adalah milik tuannya, dia adalah anak panah yang dapat digunakan tuannya untuk tujuan yang dikehendaki sang tuan, dan dalam saat yang sama dia juga harus mampu memberi aroma yang harum pada lingkungannya.

Pengabdian bukan hanya sekedar keta’atan dan ketundu’an, tetapi ia adalah satu bentuk ketundu’an dan keta’atan yang mencapai puncaknya, akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi, serta sebagai dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakekatnya.

Empat unsur pokok yang merupakan hakekat ibadah:
1. Si pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak memiliki sesuatu. Apa yang “dimiliknya” adalah milik tuannya.
2. Segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi.
3. Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya ia mengabdi.
4. Si pengabdi yakin bahwa jiwa raganya dikuasai oleh siapa yang dia mengabdi kepada-Nya.

Quraisy Shihab dalam tafsirnya berpendapat bahwa, ibadah atau pengabdian yang dimaksud dalam surat al-Fatihah ayat ke lima:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.”
Kalimat ini tidak terbatas pada hal-hal yang diungkapkan oleh ahli hukum islam “fiqih” ya’ni sholat, zakat, puasa, dan haji .. tapi mencakup segala macam aktifitas manusia, baik pasif maupun aktif, sepanjang tujuan dari setiap gerak dan langkah itu adalah Alloh swt. Sebagaimana tercermin dalam pernyataan yang di ajarkan oleh Alloh swt:

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku -kesemuanya- demi karena Alloh Pemelihara seluruh alam semesta raya.” (QS.[6]:162).

Kaum sufi menjelaskan bahwa ada perbedaan antara “ibadah”-pengabdian- dan “ubudiyah”-penghambaan diri- kepada Alloh swt.
Ibadah adalah melakukan hal-hal yang dapat membuat ridho Alloh .. sedang “ubudiyah” adalah meridhoi apa yang dilakukan Alloh swt.

Ibnu Sina membagi motifasi ibadah menjadi tiga :
1. Pertama yang terendah adalah karena takut akan siksa-Nya, di ibaratkan dengan seorang hamba sahaya yang melakukan aktifitas karena dorongan takut bila merasa dilihat oleh tuannya.
2. Karena mengharap sorga-Nya, ini diibaratkan sebagai pedagang yang tidak melakukan aktifitas kecuali guna meraih keuntungan.
3. Karena dorongan cinta, bagaikan Ibu terhadap bayinya. Inilah yang dinamakan ubudiyah.

Alloh swt berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh ..?” (QS. 4:125).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk -Niat- beribadah -menyembah- Alloh dengan ikhlas -memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan- agama dengan lurus.” (QS:98:5).

KEBERSAMAAN DALAM IBADAH

Alloh swt berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.” (QS.1:5)

Kata “kami” atau “kekamian” artinya “kebersamaan” yang digunakan ayat ini mengandung beberapa pesan :

1. Untuk menggambarkan bahwa ciri has ajaran islam adalah kebersamaan .. Seorang muslim harus selalu merasa bersama orang lain, tidak sendirian, atau dengan kata lain, setiap muslim harus memiliki kesadaran sosial.

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Hendaklah kamu selalu bersama-sama -bersama jama’ah- karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.”

Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya, sehingga setiap muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw: “bagaikan satu jasad yang merasakan keluhan, bila satu organ merasakan penderitaan.”

Kesadaran secara -khusus- akan kebersamaan -sesama saudara muslim- ini tidak terbatas hanya pada lahiriyahnya saja, akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah pada bathiniyahnya, karena “kekamian” disini secara bathin tidak bisa ditampakkan ke permukaan, karena menyangkut ibadah kepada Alloh swt .. Kesadaran tersebut wajib ditanamkan dalam kepribadiannya.

Secara -umum- kesadaran juga perlu ditanamkan dalam diri setiap pribadi muslim atas dasar prinsip bahwa seluruh manusia adalah satu kesatuan.
“Kamu semua berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah.”
Rasa inilah yang menghasilkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”

Seseorang yang diperkaya dengan kesadaran keterikatannya dengan sesamanya, tidak akan merasakan apa pun kecuali derita ummat manusia.
Ia akan berkawan dengan sahabat manusia, seperti pengetahuan, kesehatan, kemerdekaan, keadilan, keramahan dan sebagainya, dan dia akan bersetru dengan musuh manusia, seperti kebodohan penyakit, kemiskinan, prasangka, dan sebagainya.

2. Sesorang yang membaca “iyyaka na’budu” -Hanya kepada-Mu kami mengabdi- dengan menonjolkan kekamiannya, pada hakekatnya menanamkan kedalam jiwanya sambil mengadu kepada Tuhan bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih melum mencapai kesempurnaan .. Sholatnya nelum khusyu’, pikirannya masih melayang, ruku’ dan sujudnya belum sempurna, bacaan-bacaanya belum terhayati dan lain sebagainya.
Namun demikian ia seakan-akan berkata kepada Alloh :
“Ya Alloh .. Aku datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada aku .. Gabungkanlah ibadahku dengan ibadah mereka .. Agar Engkau menerima pula ibadahku ..”

Salah satu hakekat ibadah adalah menyadari bahwa apa yang berada dibawah genggaman tangan si pengabdi atau yang menjadi -miliknya- pada hakekatnya adalah milik siapa yang kepada-Nya ia mengabdi.

Dalam hal ini bagi pengucap: “iyyaka na’budu” -adalah hanya kepada Alloh-, jika demikian, maka si pengucap dengan menghayati ma’na ibadah yang diucapkannya itu, telah menjadikan diri dan segala apa yang berada dalam genggaman tangannya menjadi milik Alloh swt semata-mata, tidak sedikitpun yang tersisa .. Bukankah ia telah menyatakan “hanya kepada-Mu ..?”

Alloh “pemilik“ hari perhitungan, “Maliki yaumiddin” mempunyai kekuasaan, kemampuan dan wewenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya .. berbeda dengan kepemilikan manusia.
Nah , ketika kita berkata “iyyaka na’budu” arti pemilkan Alloh seperti yang tersebut diatas -pemilik mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, di kritik atau dikecam- .. karena kita telah menyatakan -dihadapan-Nya- “iyyaka” .. Lalu disni muncul kalimat “na’budu” -hanya kepada-Mu- .. ini berarti “penyerahan hak milik” .. Bukankah “na’budu” mengandung arti “kami milik-Mu .?”

Demikian “kehadiran diri” si pengabdi yang kecil, lemah, tidak berdaya ini, dan “kehadiran Alloh” Yang Maha Besar lagi Agung itu, dicakup oleh kalimat yang sungguh sangat singkat “iyyaka na’budu”, tetapi tidak heran karena ia adalah firman-Nya yang diajarkan untuk kita ucapkan sehari-hari.

WA IYYAKA NASTA’IN -Hanya kepadamu kami memohon pertolongan-.
Mengandung ma’na bahwa kepada selain Alloh, si pengucap tidak memohon pertolongan.

Penggalan ayat ini tidak bertentangan dengan sekian banyak ayat dan hadits yang memerintahkan manusia untuk saling tolong menolong, seperti firman-Nya:
“Tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa.” (QS.5:3)
Atau sabda Nabi Muhammad saw:
“Alloh akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.”
Ayat dan hadits ini tidak bertentangan dengan kandungan ayat 5 surat al-fatihah, yang membetasi permohonan bantuan hanya kepada Alloh semata .. ini karena ada pertolongan yang berada dalam wilayah kemampuan manusia, dan ada pula yang diluar batas wilayah kemampuannya.

Dalam kehidupan ini, ada yang dinamai hukum-hukum alam atau “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Alloh-, yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata, seperti hukum-hukum sebab dan akibat.

Manusia mengetahui sebagian dari hukum-hukum tersebut .. ambillah contoh seorang yang sakit, ia lazimnya dapat sembuh apabila berobat dan mengikuti saran dokter .. tetapi jangan diduga bahwa dokter atau obat yang diminum yang menyembuhkan penyakit yang diderita itu .. Tidak .! Yang menyembuhkan adalah Alloh swt.

Kenyataan menunjukkan bahwa sering kali dokter telah “menyerah” dalam mengobati seorang pasien, bahkan telah memperkirakan batas waktu kemampuannya bertahan hidup. Namun dugaan dokter tersebut meleset, bahkan si pasien tak lama kemudian segar-bugar.
Apa arti semua itu .? Apa yang terjadi bukan sesuatu yang lazim. Ia tidak berkaitan dengan hukum sebab akibat yang selama ini kita ketahui.

Jika demikian, dalam kehidupan kita disamping ada yang dinamai “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Ilahi yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata seperti hukum sebab-akibat, dan ada juga yang dinamai “innayatulloh” -pertolongan dan bimbingan Alloh diluar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Ini dalam bahasa al-Qur’an dinamai dengan “madad”. Hanya saja perlu diketahui bahwa “madad” itu pun datang setelah ada upaya sebelumnya dari manusia.

Berkenaan dengan sunnatulloh atau hukum alam seperti hukum sebab dan akibat ..
Siapakah yang mengaturnya ..? Siapakah yang menjadikan ..? Siapakah yang mewujudkannya ..?
Kesembuhan seorang penderita, apakah disebabkan oleh obat yang diminumnya atau petunjuk dokter yang dita’atinya ..? Keduanya tidak .!
Ucapan Nabi Ibrohim as yang diabadikan oleh al-Qur’an:
“Kalau aku sakit, maka Dia -Alloh- yang menyembuhkan aku.” (QS.26:80)

Manusia atau alat yang digunakan, seperti obat bagi kesembuhan atau senjata untuk kemenangan atau alat apa saja untuk mencapai tujuan, kesemuanya hanyalah “perantara-perantara” dan pada akhirnya adalah ALLOH ALQOWIYYUL -’ALIM -Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ini berarti kita dituntut, sebelum ke dokter agar terlebih dahulu menghadapkan wajah dan jiwa kepada Alloh swt, memohon kiranya Dia memberikan pertolongan berupa kemudahan kepada dokter agar dapat mendiagnosa penyakit dan memberi obat yang sesuai .. sambil mengharapkan pula agar obat yang diberikannya itu sesuai, sehingga penyakit yang dideritanya dapat sembuh.

Demikian juga sebelum melangkahkan kaki ke rumah teman untuk meminjam sesuatu, maka hadapkanlah jiwa kepada Alloh, semoga Dia memberi kemampuan kepada teman yang dituju untuk bisa membantu, dan semoga Alloh melunakkan hatinya, sehingga ia tergugah untuk meringankan beban kita .. Demikian seterusnya ..

Tidak ada alasan untuk meragukan adanya “innayatulloh” ini, karena tidak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dengan peristiwa yang terjadi berulang-ulang kali, selama kita percaya bahwa yang mewujudkannya adalah Alloh, Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Nah , kalau demikian halnya, maka menjadi sangat logis apabila ayat ke lima ini mengajarkan kepada kita untuk menegaskan “dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan, baik bantuan itu termasuk dalam hukum sebab dan akibat yang telah kita ketahui, atau “sunnatulloh”, maupun diluar “sunnatulloh” yang dinamai “innayatulloh”.

Namun sekali lagi harus di ingat bahwa pertolongan Alloh yang berada diluar wilayah hukum sebab-akibat itu tidak dapat terjadi atau diperoleh tanpa mengikuti petunjuk yang telah digariskan oleh Alloh swt dan Nabi Muhammad saw.
“Mintalah bantuan -kepada Alloh- melalui kesabaran dan sholat.” (QS.2:45).

Salah satu aspek kesabaran tersebut adalah kesabaran dan ketabahan dalam melaksanakan peranan yang dituntut dari si pemohon, ya’ni ketabahan dalam melaksanakan tugas atau menanggulangi problema.
Tetapi kerja keras dan ketabahan saja belum cukup untuk mencapai bantuan Ilahi .. masih dibutuhkan lagi sholat, baik dalam arti do’a maupun dalam arti gerak dan bacaan tertentu yang dimulai dengan tulus NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH ..

Kehidupan bermasyarakat yang sehat adalah pada saat setiap anggotanya betapa pun terdapat perbedaan pendapat, semua harus menghargai aturan yang berlaku.
Demikian juga semua indifidu harus menghargai aturan, kode etik, batasan serta memberikan cinta dan kasih sayang kepada indifidu yang lain atau anggota masyarakatnya .. Kalau ini dapat diwujudkan, maka syarat pertama dari “kehadiran Ilahi” terpenuhi .. Itulah bantuan Alloh yang didambakan datang melalui kerja sama antara manusia ..

Manusia ebagai makhluk sosial, setiap orang harus sadar bahwa ia bergantung kepada pihak lain, dimana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, atau usaha kelompoknya bahkan usaha bangsanya sendiri ..
“Hidup .. baru mungkin akan terasa nyaman apabila dibagi dan berbagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama ..”

Ayat lima ini mendahulukan “iyyaka na’budu” atas “iyyaka nasta’in” merupakan upaya ibadah mendekatkan diri kepada Alloh, lebih wajar untuk didahulukan daripada meminta pertolongan-nya.
Bukankah sebaiknya anda mendekat lebih dulu sebelum meminta ..?
Disisi lain ibadah dilakukan oleh yang bermohon, sedang meminta bantuan adalah mengajak fihak lain untuk ikut serta.
Memulai dengan upaya yang dilakukan sendiri, lebih wajar didahulukan daripada upaya meminta bantuan fihak lain.

Selanjutnya salah satu hal yang diharapkan bantuan-Nya adalah menyangkut -pahala- ibadah itu sendiri, sehingga menjadi sangat wajar menyebut ibadah terlebih dahulu yang merupakan tujuan .. Baru kemudian membulatkan tekad mewujudkannya agar dibantu antara lain dalam meraih kesempurna’an ibadah itu sendiri ..
Bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih belum mencapai kesempurna’an, maka ia datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada dirinya .. Sehingga Alloh menggabungkan ibadahnya dengan ibadah mereka .. Agar Alloh menerima pula ibadahnya ..

“Permohonan bantuan kepada Alloh adalah agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang bermohon dengan upaya sendiri.”

Awan Tag