Archive for the ‘Perhitungan’ Category

RAHASIA DIBALIK MA’NA HURUF HIJAIYAH

Dalam sebuah Hadits diriwayatkan:
“Seorang Yahudi mendatangi Rosululloh saw seraya bertanya:
“Apa ma’na huruf hijaiyah .?”

Rosululloh saw berkata kepada ‘Ali bin Abi Tholib ra:
“Jawablah pertanyaannya, wahai Ali .!” Kemudian Rosululloh saw berdo’a:
“Ya Alloh, jadikanlah dia berhasil dan bantulah dia.”

Ali berkata:
“Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama Alloh.”
Ia melanjutkan:

ا
ALIF – Ismulloh (nama Alloh), yang tiada Tuhan selain-Nya. Alloh itu Tunggal, Dialah Ilah Tuhan pencipta, Dia hidup berdiri sendiri dan Yang Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya, tidak bersekutu dengan yang lain. Dia Maha Esa.


BA’ – al Baqi’ (Maha Kekal) setelah musnahnya makhluk.


TA’ – at-Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari hamba-hamba-Nya.


TSA’ – ats-Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan hamba-hamba-Nya.


JIM – Jalla Tsana-uhu (Yang Maha Tinggi Pujian-Nya kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas.


CHA’ – al-Chaq, al-Chayyu, wal-Chalim (Yang Maha Benar, Maha Hidup, dan Maha Bijak).


KHO’ al-Khobir (Yang Maha Mengetahui) Sesungguhnya Alloh nelihat apa yang kalian kerjakan.


DAL – Dayyanu yaumiddin (Yang Mahakuasa di Hari Pembalasan).


DZAL – Dzul-Jalali wal-Ikrom (Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).


RO’ – ar-Ro’uf (Maha Sayang).


ZA’ – Zainul-Ma’bud (Kebanggaan Para Hamba).


SIN – as-Sami ul-Bashir (Maha Mendengar dan Maha Melihat).


SYIN – as-Syakur (Maha Berterimakasih kepada hamba-hamba-Nya).


SHOD – as-Shodiq (Maha Jujur -dipercaya-) dalam menepati janji. Sesungguhnya Alloh tidak mengingkari janji-Nya, Maha Benar penyaksian-Nya.


DLOT – ad-Dlor wan-Nafi’ (Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan Manfaat).


THO’ – at-Thohir wal-Muthohhir (Yang Maha Suci dan Menyucikan).

ظ
Dho’ – ad-Dhohir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya).


‘AIN – al-’Alim (Yang Maha Mengetahui) atas segala sesuatu).


GHIN – al-Ghiyats al-Mustaghitsin (Penolong bagi yang memohon pertolongan dan Pemberi Perlindungan).

ف
FA’ – al-Fattach (Yang Maha Membuka) yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.


QOF – al-Qodir al-Muqtadir (Yang Maha Kuasa atas makhluk-Nya).


KAF – al-Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding dengan-Nya).


LAM – al-Lathif (Maha Lembut) terhadap hamba-hamba-Nya dengan kelembutan yang terang dan yang tersembunyi.


MIM – Malik addun-ya wal-akhiroh (Pemilik dunia dan akhirat).

ن
NUN – an-Nur (Cahaya) cahaya langit dan bumi, dan cahaya hati orang-orang beriman.


WAWU – al-Wahid (Yang Maha Esa) dan tempat bergantung segala sesuatu.

ه
HA’ – al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk.

لآ
LAM ALIF – Lam tasydid dalam lafadz Alloh, menekankan keesaan Alloh, yang tiada sekutu bagi-Nya.


YA’ – Yadulloha basithun lil-kholqi (Tangan Alloh terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua keberadaan.

Rasulullah saw bersabda:
”Wahai Ali, ini adalah perkataan yang Alloh rela terhadapnya.”

Dalam riwayat dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah mendengar penjelasan Sayyidina ‘Ali ra.

Iklan

RAHASIA HURUF BASMALAH

IQRO’ ..! BISMI_ROBBIKA ..

“Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
(QS. 96: 1).
Demikian wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw di dalam gua Hiro’ 15 abad silam.
Wahyu ini sekaligus merupakan perintah Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh ummatnya untuk memulai segala aktivitanya.

Dalam praktek penyebaran Islam, Rosululloh saw kerap mengirimkan surat yang berisikan dakwah kepada raja-raja di berbagai negeri untuk beriman kepada ALLOH SWT, beliau saw selalu memulai suratnya dengan kalimat :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Demikian juga Nabi-nabi sebelumnya mengamalkan bacaan:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
dalam segala aktifitasnya.

Nabi Sulaiman as, memakai kalimat BISMILLAH ketika mengawali suratnya kepada Ratu Balqis di kerajaan Saba untuk tidak menyembah matahari, surat beliau as diabadikan oleh ALLOH SWT dalam al-Qur’an:
“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya isinya:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml : 30)

Di zaman Nabi Nuh as, saat banjir hebat terjadi, Nabi Nuh as memerintahkan para pengikutnya untuk menaiki perahu sambil berkata:
“Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Alloh di waktu berlayar
( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ )
dan berlabuhnya
( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )
(QS. Hud : 41).

Tidak hanya para Nabi dan Rosul, ummat-ummat sholeh terdahulu menggunakan kalimat BISMILLAH dalam setiap aktifitasnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rosululloh bersabda:
“Pada saat malam terjadinya Isro’ aku mencium bau harum, akupun bertanya:
“Ya Jibril, bau harum apakah ini .?”
Jibril as menjawab:
“Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithoh) dan anak-anaknya.”
Rosul saw bertanya:
“Bagaimana bisa .?”
Jibril as menjawab:
“Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh, dia mengambilnya dengan membaca: ”BISMILLAH”

Salah satu kriteria halal-haramnya daging hewan yang kita konsumsi adalah saat prosesi penyembelihan.
Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya Alloh hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Alloh…”. (QS. Al-Baqoroh : 173).

Hal ini menggambarkan apapun yang kita kerjakan dan kita perbuat selama pekerjaan itu baik maka sudah sepantasnya dimulai dengan BISMILLAH.
Pengucapan BISMILLAH, menggambarkan apa yang kita lalukan memiliki keterkaitan dengan ALLOH SWT.
Karena ucapan BISMILLAH “dengan nama ALLOH” bisa menjaga seseorang dari berbuat sesuatu yang menjerumuskan pada keburukan dalam perjalanannya. BISMILLAH bisa menjaga seseorang baik dari awal, ketika proses dan baik ketika akhirnya.

Dalam kitab tafsir Ma’riful Qur’an, Mufti Shofi Usmani mengungkapkan kata BISMILLAH terdiri dari 3 suku kata BA’, ISM dan ALLOH.

Huruf BA’ memiliki 3 konotasi dalam bahasa Arab,
Pertama, mengekspresikan kedekatan antara dua benda yang satu dengan lainnya hampir tidak memiliki jarak. Kedua, mencari pertolongan dari seseorang atau sesuatu. Ketiga, mencari barokah dari seseorang atau sesuatu.

Lafad ISM secara sederhana diartikan sebagai nama. Sedangkan lafad Alloh merupakan gabungan dari kata AL dan ILAH. Kata AL mempunya fungsi definitif dalam bahasa Arab yaitu untuk menunjukkan sesuatu yang khusus sedangkan kata ILAH mengandung arti sesuatu yang disembah.

Lafadh ALLOH juga mengacu kepada suatu dzat atau esensi yang tidak bisa dinisbahkan kepada yang lain melainkan hanya kepada Alloh sendiri.
Lafadh ALLOH juga merupakan bentuk tunggal yang tidak mempunyai bentuk dual atau jamak, hal ini untuk menguatkan ma’na keesaan pada ALLOH.

3 ma’na kalimat BISMILLAH dalam kaitannya dengan huruf BA’ yaitu: Pertama, dengan nama ALLOH. Kedua, dengan pertolongan nama ALLOH, ketiga, dengan barokah nama ALLOH.

Dari sini kita bisa menggambarkan betapa hebatnya ucapan BISMILLAH ketika memulai segala aktivitas, dengan mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Kita berharap senantiasa bersama dengan Alloh swt. selain itu kita berharap Alloh swt akan menolong dan memberikan keberkahan dalam proses pekerjaan yang kita lakukan, sehingga dapat melahirkan karya yang positif, hingga akhir menyelesaikan tugas-tugas kehidupan ini.

KEAGUNGAN BISMILLAH

Rosululloh saw bersabda:
“Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Alloh) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Alloh)”.

Secara bahasa akan kita dapatkan keagungan kalimat Bismillahirrohmanirrohim. didalamnya terdapat tiga rangkaian kata yang mengandung arti yang agung yaitu BI, ISM, dan ALLOH.

1. Huruf ba’ yang dibaca BI di sini mengandung dua arti:

Pertama: huruf BI yang diterjemahkan “dengan” menyimpan satu kata yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas dalam benak ketika mengucapkan basmalah, yaitu memulai .. Sehingga bismillah berarti “saya atau kami memulai dengan nama Alloh”.
Dengan demikian kalimat tersebut menjadi semacam do’a atau pernyataan dari pengucap. Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Alloh (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintah), “Mulailah aktifitasmu dengan nama Alloh .”.

Kedua: huruf BI yang diterjemahkan “dengan” itu, dikaitkan dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucap Basmalah seakan-akan berkata, “dengan kekuasaan Alloh dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana”.
Pengucapnya seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Alloh dan pertolongan-Nya, apa yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil .. Ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya .. tetapi pada saat yang sama –setelah menghayati arti basmalah ini– ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena ketika itu ia telah menyandarkan dirinya dan bermohon bantuan Alloh Yang Maha Kuasa itu.

2. Kata ISM setelah huruf BI, terambil dari kata “as-sumuw” yang berarti tinggi dan mulia atau dari kata “as-simah” yang berarti tanda .. Kata ini biasa diterjemahkan dengan nama. Nama disebut ISM, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.

Syaikh Al-Maroghi dalam tafsirnya menjelaskan dengan penyebutan nama di sini berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Alloh dan atas perintah-Nya bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.

Penyebutan nama Alloh diharapkan pekerjaan itu menjadi kekal disisi Alloh Yang Maha Kekal .. yang kita harapkan adalah agar pekerjaan yang kita lakukan serta ganjarannya menjadi kekal sampai hari kemudian.
Banyak pekerjaan yang dilakukan seseorang tetapi tidak mempunyai bekas apa-apa terhadap dirinya atau masyarakatnya, apalagi berbekas dan ditemui ganjarannya di hari kemudian ..

Demikianlah Alloh mentamsilkan perbuatan orang-orang yang kafir yang tidak dibarengi dengan keikhlasan kepada Alloh,
“Dan Kami hadapi hasil-hasil karya mereka (yang baik-baik itu), kemudian Kami jadikan ia (bagaikan) debu yang beterbangan (sia-sia belaka).” (QS 25: 23).

3. kata ALLOH, berakar dari kata “walaha” yang berarti mengherankan atau menakjubkan .. Jadi Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatan-Nya menakjubkan dan mengherankan .. Karena itu terdapat petunjuk yang menyatakan, “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Alloh dan jangan berfikir tentang Dzat-Nya”.

Sementara itu sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata ALLOH terambil dari kata “aliha–ya’lahu” yang berarti menuju dan bermohon .. Tuhan dinamai Alloh karena seluruh makhluk menuju serta bermohon kepada-Nya dalam memenuhi kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan mengabdi .. sehingga lafazh Alloh berarti “Dzat yang berhak disembah dan kepada-Nya tertuju segala pengabdian”.

Syaikh Sya’rawi al-Mutawalli, seorang guru besar pada universitas al-Azhar, ulama kontemporer dan pakar bahasa menyebutkan dalam tafsirnya tentang keistimewaan lafadz Alloh :
“Lafadz ALLOH selalu ada dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya dengan ucapan atau perbuatannya .. Kata ini selalu menunjuk kepada Dia yang diharapkan bantuan-Nya itu.

Perhaitkanlah kata Alloh .. Bila huruf pertamanya dihapus, maka ia akan terbaca LILLAH yang artinya “demi/karena Alloh” .. Bila satu huruf berikutnya dihapus, akan terbaca LAHU, yang artinya untuk-Nya .. Bila huruf berikutnya dihapus, maka ia akan tertulis huruf ha’ yang dapat dibaca HU (huwa) yang artinya “Dia” .. Jika memasukkan huruf pertama ya’ni huruf Alif yang dapat dibaca A, maka kita akan mendapat kesan bahwa itu merupakan bahasa “keluhan” setiap manusia (Ah/Aw/Aduh/dll) ketika mendapatkan sesuatu.

Apabila Anda berkata ALLOH maka akan terlintas atau seyogianya terlintas dalam benak Anda segala sifat kesempurnaan .. Dia Maha Kuat, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Berkreasi, Maha Indah, Maha Suci dan sebagainya .. Seseorang yang mempercayai Tuhan, pasti meyakini bahwa Tuhannya Maha Sempurna dalam segala hal, serta Maha Suci dari segala kekurangan.

Sifat-sifat Tuhan yang diperkenalkan cukup banyak .. Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa sifat (nama-nama) Tuhan berjumlah sembilan puluh sembilan nama (sifat).
Demikian banyak sifat (nama) Tuhan, namun yang terpilih dalam Basmalah hanya dua sifat, yaitu Ar-Rohman dan Ar-Rohim yang keduanya terambil dari akar kata yang sama. Agaknya sifat ini dipilih, karena sifat itulah yang paling dominan.

Dalam hal ini Alloh menegaskan :
“Rohmat-Ku mencakup segala sesuatu”. (QS 7: 156). Sebuah hadits Qudsi menyebutkan bahwa “Rohmat Alloh mengalahkan amarah-Nya.”

Kedua kata tersebut, Ar-Rohman dan Ar-Rohim, berakar dari kata Rahim yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, yang berarti peranakan atau kandungan .. Apabila disebut kata Rahim, maka yang terlintas di dalam benak adalah ibu dan anak, dan ketika dapat terbayang betapa besar kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya .. Tetapi, jangan disimpulkan bahwa sifat Rohmat Tuhan sepadan dengan sifat rohmat ibu.

Abu Huroiroh ra meriwayatkan sabda Rosululloh saw yang mendekatkan gambaran besarnya rohmat Tuhan .. Rosulullah saw bersabda:
“Alloh swt menjadikan rohmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi itu satu bagian.
Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (begitu ratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” (HR. Muslim).

Dalam ungkapan lainnya disebutkan bahwa kata Rohman adalah merupakan sifat kasih sayang Alloh kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya ..

Bukankah kita –dengan kasih sayang-Nya- telah diberikan kehidupan, diberikan kemudahan menghirup udara, kemudahan berjalan, berlari dan melakukan segala aktivitasnya, walaupun sangat sedikit dari kita mau merenungkan apalagi mensyukuri segala ni’mat tersebut .?
Alloh senantiasa memberikan kasih sayang-Nya kepada manusia sekalipun mereka ingkar kepada-Nya.

Sementara itu kara Rohim diberikan secara khusus oleh Alloh kelak dialam akhirat yaitu hanya bagi mereka yang beriman dan mensyukuri segala keni’matan yang telah dianugrahkan kepada mereka.
Kasih sayang-Nya secara khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdikan dirinya kepada Alloh dan yakin bahwa semua keni’matan adalah bersumber dari Alloh .. Bahkan yakin bahwa segala amal ibadahnya, perbuatan baiknya tidak akan menjamin akan dirinya masuk ke surga-Nya kecuali karena Rohmat-Nya.

Suatu kali Rosululloh saw berpesan kepada para sahabatnya:
“Bersegeralah kalian berbuat baik dan perkuatlah hubungan kepada Alloh. Dan ketahuilah bahwa amal kalian tidak menjamin kalian masuk sorga.”
Sambil terheran para sahabat bertanya:
“Termasuk Engkau wahai Rosululloh .”
Rosululloh saw menjawab:
“Betul, termasuk aku .. kecuali jika Alloh menganugrahkan rohmat-Nya dan karunia-Nya kepadaku.”

4 FUNGSI BASMALAH

– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
Sebagai Niat yang mendatangkan pahala ..
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
Sebagai Dzikir mengingat Alloh dalam setiap saat dan waktu ..
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
Sebagai do’a menghilangkan kesulitan dan mendatangkan keberkahan dan pertolongan Alloh ..
– بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..
Sebagai sandaran pasti untuk perbuatan yang baik-baik ..

RAHASIA HURUF BASMALAH

Seperti kebiasaan para ulama salaf dalam menulis setiap buku selalu mengetengahkan dan meletakkan basmalah بسم الله الرحمن الرحيم , Imam Ghozali juga mengawali dengan kalimat tersebut. Syekh Nawawi sebagai penjelas kitab beliau, turut mengulas dengan indah dan penuh pelajaran untuk kita.

Menurut Syekh Nawawi, kalimat Basmalah merupakan kesatuan dari empat kata yang berdiri secara berjajar: بسم , الله , الرحمن , الرحيم  Hal ini sebagai isyarat adanya pertolongan Alloh kepada para hamba-Nya yang beriman dari gangguan setan.
Sebagaimana yang dinformasikan al-Qur’an:

ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan, dan dari kiri mereka.
Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’rof: 17)

Berdasar ayat di atas, menurut Syekh Nawawi, dengan membaca Basmalah Alloh swt akan memberikan perlindungan dan pengayoman dari segala marabahaya dan rasa was-was, di samping itu, sebagai petunjuk bahwa kemaksiatan seseorang berporos pada empat hal: •Kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, •terang-terangan, •di waktu pagi, dan •di waktu siang. Dengan membaca Basmalah, dosa aneka kemaksiatan terhapus dan pupus berkat membaca Basmalah. ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ )

Di balik tiap huruf yang menempel pada kalimat Basmalah adalah: 

Pertama, Ba` : Baro-atulloh.
Artinya, jaminan keselamatan kepada orang-orang yang berbahagia dengan iman dalam dadanya. Dalam ma’na yang lebih dalam, orang beriman tidak boleh alpa dari membaca Basmalah dalam keadaaa apapun, selama perbuatan itu berada dalam kebaikan.

Kedua, Sîn : Satrulloh.
Artinya, perlindungan Alloh. Ma’na ini memberi penjelasan bahwa orang mukmin tidak pernah melewatkan tiap langkahnya dengan membaca Basmalah yang dengannya, kala ia bertemu orang yang melawan Alloh, ia berlindung dari kebodohannya.

Ketiga, Mîm : Mahabbattuhu.
Artinya, rasa cinta Alloh kepada seorang Muslim yang membaca Baslamah. Seseorang yang ingin memperoleh cinta Alloh, tentulah bibirnya tidak kering dari Basmalah.

Keempat, Alif : Ulfatuhu.
Artinya, keramahan Alloh. Alloh itu Maha Ramah, Maha Pengasih lagi Mahapenyayang. Keramahan Alloh akan semakin muncul kepada mereka yang membaca Basmalah.

Kelima, Lâm: Lathofatuhu.
Artinya, kelembutan Alloh. Hikmah di balik membaca Basmalah mendapat kenyamanan dan kelembutan dalam hatinya. Sikap dan sifat jelek akan hilang berganti kebaikan dan hati berhias kelembutan.

Keenam, Hâ` : Hidâyatuhu.
Artinya, petunjuk Alloh. Seseorang yang membaca Basmalah, akan terbimbing dan terarah dalam naungan hidayah.

Ketujuh, Ro` : Ridhwânuhu.
Artinya kerelaan Alloh. Ridho Alloh akan menempel pada sosok insan yang melafalkan Basmalah. Jika Alloh telah ridho pada seseorang, tidak ada lagi gunda dan gulana, karena ridho-Nya telah hinggap dalam diri. Pelaku maksiat pun yang membaca Basmalah dengan niat taubat kepada Alloh, maka bacaan tersebut menjadi jembatan ridho Alloh.

Kedelapan, cHâ : cHilmuhu.
Artinya Kesabaran Alloh. Hikmah ini memberi pelajaran tentang kesabaran Alloh pada orang-orang yang berdosa. Mereka yang berbuat aniaya, kedholiman, kegaduhan, keresahan yang merugikan umat manusia, akan tetap memperoleh kesabaran dari Alloh dengan bacaan Basmalah.

Kesembilan, Mîm : Minnatuhu.
Anugerah Alloh. Orang-orang beriman yang membaca Basmalah mendapat anugerah, kebajikan, dan anugerah Alloh. Oleh karenanya, setiap perbuatan dan perkataan yang diawali dengan Basmalah, menjadi berkah untuk semua.

Kesepuluh, Nûn : Nûrul Ma`rifah.
Artinya, cahaya pengetahuan. Dengan kata lain, kalimat basmalah mengandung unsur cahaya Ilahi. Dan cahaya itu diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Kesebelas, Yâ` : Yadulloh.
Artinya, tangan Alloh. Alloh memberikan penjagaan pada diri orang yang membaca Basmalah. Bacalah pada saat di rumah, di kendaraan, di tempat kerja, dan di mana saja. Dengan membaca Basmalah, Alloh turunkan penjagaan  dan perlindungan kepadanya.

DAHSYATNYA BASMALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Adalah bagian dari ayat yang ada dalam al-Qur’an, ia ialah kalam Alloh yang Maha Agung dan Maha Perkasa ..
Mungkin sebab minimnya pemahaman kita seputar ma’na بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ atau tidak tahunya kita akan kedahsyatan fungsinya, sehingga kita menyepelekan bacaan tersebut ..
Atau sewaktu kita membacanya tidak merasakan nuansa yang religious dan juga tidak merasakan kehadiran Alloh bersamanya .. Sebab saat kita lupa membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ di setiap memulai aktivitas dan kegiatan, kita tidak merasa ada sesuatu yang kurang atau ganjil ..

Padahal kalau kita simak bagaimana terjadinya perubahan fenomena alam saat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ itu turun, kita akan menjumpai betapa dahsyatnya kalimat tersebut, dan betapa pentingnya kalimat itu untuk diucapkan saat memulai segala aktivitas ..

Simaklah yang dikemukakan shahabat Rosul saw yang menceritakan terjadinya perubahan alam saat turun ayat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ..!

Jabir ra bin Abdulloh berkata:
“Saat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ turun
Mendung tebal bergeser dan bergerak ke arah timur
Angin pun terhenti
Air laut bergelora dan bergelombang
hewan-hewan mendengarkannya dengan seksama
Syetan-syetan dilempari bintang dari arah langit
Dan Alloh bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya
Tidaklah sesuatu diamalkan dengan menggunakan nama-Nya kecuali Alloh akan memberkahinya.”
(Tafsir Ibnu Katsir: 1/22 dan Fathul-Qodir: 1/18).

Lalu Sayyidah ‘Aisyah menguatkan apa yang dinyatakan Jabir ra di atas dengan perkataannya:
“Saat-Saat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ turun
Bergetarlah gunung-gunung sampai para penduduk Mekkah mendengar gemuruhnya ..
Mereka berkata:
‘Muhammad telah menyihir gunung-gunung’ ..
Lalu Alloh mengirim mendung tebal hingga menaungi para penduduk Mekkah ..
Lalu Rosul saw bersabda:
‘Barangsiapa membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ dengan keyakinan yang mantap, maka gunung-gunung akan bertasbih bersamanya ..
Hanya saja dia (manusia) tidak mendengar suara tasbihnya sama sekali.”
(HR. Abu Na’im dan Dailami)

Beberapa riwayat menjelaskan dahsyatnya lafadz بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ bila diucapkan oleh seorang mukmin dengan hati yang khusu’ dan yakin, sehingga ia bisa merasakan kebesaran cinta dan kasih sayang Alloh swt dan membenarkan sabda Rosul-Nya.
 
Walid Abdul Malih ra, berkata:
“Seorang lelaki pernah dibonceng Rosul di atas keledainya. Saat keledai itu tersandung, ia berkata:
‘Celakalah setan .!’
Rosul saw bersabda:
‘Janganlah berkata seperti itu sebab syetan akan membesar sampai sebesar rumah lalu berkata:
‘Aku telah membantingnya dengan kekuatanku’
Akan tetapi bacalah sebab bila kamu baca itu ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ) ia akan mengecil hingga sekecil lalat.”
(HR. Abu Daud dan Nasai).

Oleh sebab itu janganlah selalu mengaitkan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita atau musibah besar yang ada dengan ulah dan rekayasa setan .. Apalagi sampai meyakini bahwa setanlah sebagai pelaku utamanya .. Sebab perbuatan seperti itu seakan melupakan kekuasaan Alloh sebagai pengatur jagat raya ini. Sebab itu kita harus mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap kejadian, yang bisa mendekatkan diri kita pada Alloh dan semakin takut dengan adzab-Nya.

Setan yang berasal dari jin tidak bisa kita lihat bentuk aslinya .. Tapi sifat dan tabiat mereka hampir sama dengan sifat manusia .. Mereka bisa marah, sedih, senang atau gembira .. Mereka juga makan dan minum dan terkadang mereka juga bisa marah-marah ..

4 KEAGUNGAN BASMALAH

1. Keagungan Uluhiyyah (ketuhanan).
Semua makhluk bersandar, bergantung, dan memerlukan pertolongan-Nya.
Menyebut بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Berarti meyakini sepenuh hati, Alloh adalah sumber kehidupan, poros kebajikan, tujuan pengabdian, dan muara segala nilai keberkahan.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Memberikan motivasi dan spirit ketuhanan untuk ‘menghadirkan’ dan ‘mengikut-sertakan’ Tuhan dalam kehidupan kita.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Adalah gerbang menuju keikhlasan dan harapan mulia, ya’tu meraih mardhotillah (ridho Alloh).

Membiasakan membaca bismillah sama dengan belajar untuk tidak melupakan Alloh. Sebab lupa kepada Alloh merupakan penyakit hati yang dapat menyebabkan kefasikan dan hilangnya keberkahan hidup ini.

Bacalah ..!
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
dalam memulai setiap aktivitas
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Alloh. Sehingga Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hasyr [59]: 19).

2. Keagungan Rohmaniyyah (kasih).
Melafalkan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Merupakan do’a bagi setiap Muslim untuk memperoleh kasih-Nya dunia dan akhirat yang tak terbatas.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Menjadi pintu tercurahnya rohmat Alloh dalam menggapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
“Dan rohmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku akan tetapkan rohmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS Al-A’rof [7]: 156).

3. Keagungan Rohimiyyah (kasih sayang).
Jika kasih Alloh diberikan kepada semua makhluk-Nya, kasih sayang-Nya hanya diberikan kepada orang-orang Muslim, terutama di akhirat kelak.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Menumbuhkan keyakinan kasih sayang Alloh itu mengatasi segalanya, sehingga hanya Alloh-lah yang akan memberi pertolongan dan ampunan pada hari perhitungan (yaumul-hisab) nanti.

Dengan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Setiap Muslim diingatkan agar selalu memohon pertolongan

Dan beristighfar kepada-Nya karena Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

4. Keagungan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Tidak hanya karena ia merupakan salah satu ayat dari surat al-Fatihah, tapi juga induk al-Qur’an itu sendiri.

Dari Abu Huroiroh ra, Nabi Muhammad saw bersabda:
“Jika kamu membaca
Alhamdulillah,
Maka bacalah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
karena ia adalah ummul Quran (induk al-Qur’an) dan Assab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ya’ni al-Fatihah).
Sedangkan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
itu termasuk salah satu ayatnya.”
(HR. Daruqutni). 

Bismillah termasuk etika (adab) spiritual untuk ‘menyapa’ (dzikir) dan mengakrabkan diri (taqorrub) dengan Alloh swt.

Keagungan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
 juga tercermin dari esensi al-Asma’ al-Husna (ar-Rohman ar-Rohim) yang terkandung di dalamnya. Bahkan dua nama dan sifat utama Alloh ini sesungguhnya merupakan intisari dari al-Qur’an (rohmat).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Adalah bacaan yang ‘super-mulia’ sehingga Alloh swt memilihnya sebagai bacaan pembuka bagi Kitab Suci-Nya, alQ-ur’an.

Rosululloh saw bersabda:
“Segala sesuatu (aktivitas yang baik) yang tidak dimulai dengan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ akan terputus nilai keberkahannya.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Sebab itu hendaknya setiap muslim membiasakan membaca
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Di setiap do’a-do’a keseharian, diantaranya yang telah diajarkan oleh beliau saw dalam sabdanya:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بـ ” بسم الله ” فهو أبتر ” ، أي: ناقص البركة.

“Setiap perkara -gerak dan diam seorang muslim- yang tidak dimulai dengan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
maka ia akan terputus. -ya’ni kurang barokahnya-.” (HR. Ibnu HIbban).

Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ adalah demi mencari barokah dan ridho-Nya.

Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Alloh swt, seperti yang disebutkan hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa yang membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Alloh yang tidak akan bisa memudhorotkan bersama nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”
pada setiap hari di waktu subuh dan sore sebanyak tiga kali maka tidak akan memudhorotkan baginya sesuatu apa pun.”

BEBERAPA KEUTAMAAN BASMALAH

1. Basmalah sebagai pembukaan al-Qur’an.
Alloh ta’ala membuka kitab-Nya yang paling agung, yaitu al-Qur’an dengan lafadh Basmalah .. Demikian pula, semua surat dalam al-Qur’an diawali dengan basmalah, kecuali surat at-Taubah.

2. Rosululloh saw mengawali surat yang beliau kirim ke raja-raja, untuk mengajak mereka masuk islam, dengan lafadz Basmalah.

3. Basmalah merupakan isi surat yang dikirim oleh Nabi Sulaiman as kepada Ratu Balqis dari negri Saba’ yang ketika itu masih menyembah matahari.
Al-Qur’an menceritakan kisah mereka.

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Sang ratu berkata:
“Wahai para menteri, aku mendapatkan sepucuk surat yang mulia.
Surat itu dari Sulaiman, isinya Bismillahirrohmanirrohiim
Janganlah kalian bersikap sombong di hadapanku dan datanglah kepadaku dengan tunduk.
(QS. An-Naml: 29 – 31).

Tujuan utama Nabi Sulaiman as mengirim surat ini adalah untuk mengajak mereka masuk islam dan meninggalkan kekufurannya ..
Mengingat pentingnya tujuan ini, Nabi Sulaiman as mengawalinya dengan basmalah.

4. Bacaan Basmalah menjadi pemula untuk berbagai bentuk ibadah, seperti wudhu, atau mandi dan tayamum, menurut pendapat sebagian ulama.
Dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw bersabda:

لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْه

“Tidak ada wudhu’ bagi orang yang tidak menyebut nama Alloh (membaca Basmalah).”
(HR. Abu Daud).

Hadis ini berbicara tentang wudhu’, namun ulama mengqiyaskannya untuk mandi dan tayamum, karena semuanya adalah kegiatan bersuci.

5. Basmalah merupakan perlindungan dari setan ketika makan .. Orang yang makan atau minum dengan didahului membaca Basmalah sebelumnya maka setan tidak mampu untuk turut memakannya.

Dari sayyidah ‘Aisyah ra, Rosululloh saw bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Alloh swt. Jika ia lupa untuk menyebut nama Alloh Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa akhirohu (dengan nama Alloh pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Hudzaifah ra, Nabi saw bersabda.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

Sesungguhnya setan dibolehkan makan makanan yang tidak dibacakan nama Alloh ketika hendak dimakan. (HR. Abu Daud).

Umaiyah bin Makhsyi berkata:
“Saat Rosululloh saw sedang duduk, ada seorang laki-laki sedang makan dan tidak baca Bismillah sampai makannya hampir habis hanya tinggal satu suapan .. dia menyuapkan ke mulutnya, dengan membaca:
‘Bismillahi awwalahu wa akhirohu’
(Dengan nama Alloh di awal dan di akhirnya).
Maka tertawalah Rosululloh saw, dan bersabda:
‘Syetan masih terus makan bersamanya, tapi saat dia membaca Bismillah, setan pun langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya’.”
(HR. Abu Daud).

Wahsyi bin Harb berkata:
“Para sahabat mengadu pada Rosul saw:
‘Wahai Rosululloh, Kami telah makan, tapi kami tidak kenyang-keyang.’
Rosul saw bertanya:
‘Mungkin kalian makannya terpisah-pisah (tidak berkumpul) .?’
Mereka menjawab: ‘Ya’.
Rosul saw bersabda:
‘Maka berkumpullah kalian saat makan, dan bacalah Basmalah, niscaya Alloh akan memberkahi makanan kalian.”
(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

6. Basmalah merupakan penjagaan dari gangguan setan ketika berhubungan badan.
Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi saw bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa:
‘Dengan (menyebut) nama Alloh, …
اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Maka jika Alloh menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

7. Basmalah penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia .. kita tidak bisa melihat jin, namun jin bisa melihat kita dalam semua keadaan .. Tidak segan-segan, jin akan melihat dan mengganggu kita dalam posisi ketika tidak berbusana .. Untuk menanggulangi hal ini, Rosululloh saw mengajarkan agar ketika membuka pakaian, kita tidak lupa membaca Basmalah.

Dari Ali bin Abu Tholib ra, Nabi saw bersabda:

سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الخَلَاءَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ

“Penghalang antara mata jin dengan aurat anak keturunan Adam, apabila kalian masuk kamar kecil, ucapkanlah Bismillah.”
(HR. Tirmidzi).

Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
“Yang bisa menutupi aurat anak Adam (manusia) dari pandangan mata jin, saat hendak menanggalkan pakaiannya adalah membaca:
“Bismillahil-ladzi la ilaha illa huwa
(Dengan nama Alloh yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnus Sunni)

8. Basmalah penghalang setan untuk membuka tempat barang berharga .. Beberapa harta berharga yang kita simpan di malam hari, juga akan menjadi incaran setan .. dia berusaha mengganggu manusia dengan mengotori makanan atau mengambil barang berharga itu .. Untuk mengatasi hal ini, Rosululloh saw mengajari kita agar ketika menutup semua makanan dengan membaca Basmalah.

Rosululloh saw bersabda:

غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وأطفؤا السِّرَاجَ، فإن الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، ولا يَفْتَحُ بَابًا، ولا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لم يَجِدْ أحدكم إلا أَنْ يَعْرُضَ على إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ، فَلْيَفْعَلْ

“Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu api), karena sesungguhnya setan tidak mampu membuka geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan yang tertutup, bila engkau tidak mendapatkan tutup kecuali hanya dengan melintangkan di atas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Alloh, hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim).

9. Basmalah menghalangi setan menginap di dalam rumah .. Bacaan Basmalah diucapkan ketika masuk rumah, bisa menjadi penghalang bagi setan untuk ikut memasukinya atau menginap di dalamnya.

Dari Jabir bin Abdulloh ra, Nabi saw bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang masuk rumahnya dan dia mengingat nama Alloh ketika masuk dan ketika makan, maka setan akan berteriak:
‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam.’
Namun jika dia tidak mengingat Alloh ketika masuk maka setan mengatakan:
‘Kalian mendapatkan tempat menginap’
dan jika dia tidak mengingat nama Alloh ketika makan maka setan mengundang temannya:
‘Kalian mendapat jatah menginap dan makan malam’.”
(HR. Muslim).

10. Basmalah menjadi syarat halalnya hewan sembelihan .. Diantara keberkahan Basmalah, orang yang menyembelih binatang dengan menyebutnya, hewan sembelihannya bisa menjadi halal .. Sebaliknya, orang yang menyembelih binatang tanpa mengucapkan Basmalah, baik disengaja maupun lupa, sembelihannya batal, dan hewan itu tidak boleh dimakan .. Alloh swt berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Janganlah kalian makan (hewan) yang tidak disebutkan nama Alloh ketika menyembelihnya.
Itu sesuatu yang fasik (tidak halal).”
(QS. Al-An’am: 121).

11. Basmalah salah satu do’a perlindungan sian dan malam, dari ‘Utsman bin Affan ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang yang membaca do’a ini disaat sore tiba:

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

‘Dengan nama Alloh, yang dengan-Nya tidak akan bisa membahayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (tiga kali).
Maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai pagi hari, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari, maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai sore hari.”
(HR. Tirmidzi).

12. Basmalah perisai diri yang ampuh dari berbagai macam kejahatan dari hal-hal yang tidak kita inginkan saat kita berada di luar rumah.
Dari Anas bin Malik ra, Rasululloh saw bersabda:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ .. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللَّهِ

‘Bismillah .. aku bertawakkal pada Allah, tiada daya-upaya dan kekuatan kecuali bersama Alloh’
Maka dikatakan padanya:
‘Kamu telah tercukupi dan terlindungi’,
dan syetan pun akan menjauh darinya’.”
(HR. Abu Daud).

13. Basmalah obat mujarab “Setiap penyakit pasti ada obatnya” begitu Nabi saw memberitahukan pada kita .. mencari kesembuhan bila ada penyakit yang kita rasakan suatu kewajiban .. baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani.

Bacalah Basmalah saat berobat atau minum obat .. dengan membaca Basmalah berarti kita sudah melibatkan Alloh swt dalam mencari kesembuhan dan itulah unsur kesembuhan dalam komposisi obat, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abu Tholib ra.

“Bismillahi” adalah obat dari segala macam penyakit dan ialah unsur pokok dalam segala macam obat.
“Rohman” adalah penolong bagi setiap orang yang beriman kepada Alloh, dan nama tersebut tidak digunakan untuk menemani yang lainnya selain Alloh.
“Rohim” adalah penolong bagi orang yang bertaubat dan beriman pada Alloh serta beramal sholeh.”
(Tafsir al-Munir: 1/48).

AHMAD MUHAMAMMAD ROSULULLOH SAW

NAMA MUHAMMAD DAN AHMAD KUNCI AL-QUR’AN

Rosululloh saw mempunyai nama MUHAMMAD, dalam al-Qur’an, digunakan sebagai nama surat ke 47 yang berjumlah 38 ayat. dan kata AHMAD berada dalam surat ke 61 ayat ke 6.

Berdasarkan tabel bilangan prima dapat kita peroleh 16 angka pertama sebagai berikut:
2 3 5 7 11 13 17 19 23 29 31 37 41 43 •47 •53.
Ternyata 2 angka terakhir adalah angka 47 dan 53.

Seperti diketahui al-Qur’an memiliki angka keramat 19, angka ini diperoleh berdasarkan kalimat Basmalah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ yang bejumlah 19 huruf.

Jika kata MUHAMMAD dn AHMAD dihitung dengan huruf abajadun maka jumlah kata MUHAMMAD = 92 dan AHMAD = 53. Jika nominalnya ditambahkan maka = 9+2+5+3 = 19.

Mungkin anda akan bertanya mengapa angka keramat al-Qur’an 19 .?
Karena 19 merupakan awal angka 1 dan akhir angka 9. Angka yang terdiri dari 1-2-3-4-5-6-7-8-9.
Dan ini merupakan konsep Tuhan yang termaktub dalam al-Qur’an:
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dhohir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[QS 57:3]

Nilai MUHAMMAD = 92
dan nilai AHMAD = 53
sehingga MUHAMMAD + AHMAD =
92+53 = 145.
Kata AHMAD berada di surah 61 ayat 6 yang jika digabung menjadi 616.
Gabungan 145 dan 616 menjadi 145.616 = 19 x 7664

Surat MUHAMMAD urutan surat ke 47, jumlah ayat 38, yang jika digabung menjadi angka 4738.
Surat As-Shof dimana kata AHMAD disebut, merupakan surat ke 61 dengan jumlah ayat 14 yang jika digabung menjadi 6114.
Jika digabungkan menjadi 47386114 = 19 x 2494006

Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tanggal 20 bulan 04 tahun 571 Masehi. Jika dijumlahkan 2+0+0+4+5+7+1 = 19.
Sedangkan beliau saw menerima wahyu selama 22 tahun dimana 92+22 =114 Jumlah surat-surat dalam al-Qur’an.

MiSTERi ANGKA 12 DAN 3 PADA KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

Nabi Muhammad saw lahir pada tgl 12. Mengandung ma’na jumlah huruf dalam kalimat:
مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه

Bulan Arab yang ke 3 (Robi’ul-awwal). Berasal dari kata Robi’ (menetap) dan Awwal (pertama). Maksudnya, awal ditetapkan-Nya agama islam sebagai agama yang sempurna hingga akhir zaman.
Angka 3 didapatkan dari pelaksanaan ibadah haji di hari arofah, yaitu:
tanggal 9, dan bulan 12 Dzul-Hijjah =
9 + 1 + 2 = 12 yaitu 1+2 = 3.
Ritual ibadah yang menyempurnakan islamnya orang-orang beriman.
Sebagaimana telah di abadikan oleh Alloh swt dalam Kitab-Nya surat yang ke-5 ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“ …Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untuk kamu dan telah Aku cukupkan untuk kamu ni’mat-Ku dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu…”

Angka lahir 12=1+2= 3
Bulan Dzul-Hijjah waktu yg Alloh tetapkan untuk melaksanakan ibadah haji adalah urutan bulan yg ke 12. jika dibagi 3= 4
sehingga 3+4 adalah 7 yg merupakan jumlah kali yg diulang-ulang dalam ibadah haji;
Thowaf keliling ka’bah 7x putaran, Sa’i 7x lintasan, dan lempar jumroh dengan 7 buah batu kerikil pada 3 sumur ula, wustho dan aqobah. 7 x 3= 21 ya’ni 2+1 = 3.
Dan yang terakhir dari rangkaian aneka pekerjaan/ritual haji adalah Tahallul, sedikitnya memotong rambut sebanyak 3 helai.

Tentu saja misteri kandungan angka 12 dan 3 dan seterusnya hanya Alloh swt dan Rosululloh saw yang mengetahui .. Wallohu-a’lam ..

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as, telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu ..
Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah ke kota Madinah dan wafat di kota Madinah .. dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah AHMAD ..

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi kabar gembira dengan -datangnya- seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya AHMAD -Muhammad-.”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
“Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shof [61]:6).

Perlu diketahui, bahwa nama AHMAD yang dikemukakan al-Qur’an itu bukan sekedar nama .. Akan tetapi merupakan pemberian “kekhususan” dari Alloh swt bagi Nabi Muhammad saw, yang ada ma’na hikmah terkandung didalamnya.

Di dalam nama AHMAD huruf Arab أحمد jika ditulis secara terpisah melambangkan simbol gerakan sholat ..
Huruf Alif أ menggambarkan orang yang sedang berdiri.
Huruf Ha ح menggambarkan orang yang sedang rukuk.
Huruf Mim م menggambarkan orang yang sedang sujud.
Huruf Dal د   menggambarkan orang yang sedang duduk tahiyat.

Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama AHMAD .. secara Gramatika Arab, kata AHMAD itu termasuk sighot mubalaghoh -bentuk yang mempunyai arti banyak- dari kata “Hamdu” -memuji- .. Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi AHMAD, nama dari Nabi MUHAMMAD saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt. 

Nabi MUHAMMAD saw bersabda:
“Aku adalah AHMAD tanpa Mim م ”
AHMAD tanpa huruf Mim م akan mempunyai arti AHAD -Esa-, yang merupakan sifat Alloh yang sangat agung tempat bergantung.

Mim م yang merupakan simbol manusia -personifikasi- dan perwujudan bentuk dari sesuatu yang ghaib -manifestasi- ALLOH dalam diri Nabi MUHAMMAD saw .. pada hakikatnya adalah bayangan AHAD yang ada di alam semesta.

Mim م MUHAMMAD adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya .. Mim م MUHAMMAD adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih ALLOH dengan sang kekasihnya yang mutlak .. dengan kata lain, Nabi MUHAMMAD saw merupakan mediator antara makhluk dengan ALLOH swt. 

Menurut Dr Muhammad Iqbal seorang pemikir islam pakistan:
“MUHAMMAD benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” ALLOH dalam kehidupan manusia .. dialah “Dhohir”nya ALLOH .. dialah Syafi’ -yang memberikan syafa’at, pertolongan dan rekomendasi- antara makhluk dengan Tuhannya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran ALLOH dalam diri anda, hadirkan MUHAMMAD.
Ketika anda ingin disapa oleh ALLOH, sapalah MUHAMMAD ..
Ketika anda ingin dicintai ALLOH, cintailah MUHAMMAD ..”

“Apabila kamu benar-benar mencintai ALLOH, ikutilah AKU -Muhammad-, niscaya ALLOH cinta kepada kamu”

Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon kepada ALLOH swt untuk selalu bersamanya, di dunia dan di akherat .. seperti kata beliau saw “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Nama MUHAMMAD kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul -obyek- dari asal kata Hammada .. Menurut KH Ali Maksum rh, dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid pada huruf Mim mempunyai faedah Taksir -banyak- artinya adalah orang yang banyak dipuji .. Sejalan yang diperintahkan ALLOH swt dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya ALLOH dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi -MUHAMMAD- ..
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi -MUHAMMAD- dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56).

Disamping nama AHMAD yang mengandung simbol orang sholat .. Nama MUHAMMAD apabila ditulis dengan huruf Arab محمد juga berma’na .. menunjukan kerangka manusia ..
Huf Mim pertama م yang bundar menunjukan kepala manusia ..
Huruf Ha’ ح menunjukan dua tangan manusia.
Huruf Mim م yang kedua menunjukan tentang perut manusia.
Huruf dal د menunjukan kedua kaki manusia.

Nama MUHAMMAD yang melambangkan kerangka tersebut mengandung hikmah bahwa, kematian manusia akan menghancur lumatkan tulang-belulang dan seluruh jasadnya, akan tetapi kelak akan di susun kembali oleh ALLOH dalam bentuk semula seperti bentuk manusia .. Ini karena keagungan nama Nabi MUHAMMAD saw ..

Selain itu, ma’na-ma’na yang tersembunyi dalam kandungan setiap huruf-hurufnya kalimat nama محمد ..
Huruf Mim yang pertama mengandung ma’na Minnah -anugerah- .. ALLOH memberi anugerah kepada Nabi MUHAMMAD saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada seluruh makhluk-NYA.
Huruf Ha’ mengandung ma’na Hubbun -cinta- .. ALLOH mencintai Nabi MUHAMMAD saw dan umatnya melebihi cintanya kepada Nabi-nabi yang lain beserta umatnya.
Huruf Mim yang kedua mengandung ma’na Maghfirah -ampunan- .. ALLOH mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi MUHAMMAD saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang .. Nabi MUHAMMAD saw adalah Nabi yang ma’sum -terjaga dari melakukan dosa- .. Adapun umat beliau saw, bagi yang bertaubat, ALLOH mengampuni dosa-dosanya miskipun sebanyak butiran pasir dimuka bumi.
Huruf Dal mengandung ma’na Dawaamuddin -abadinya agama Islam- .. agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman, apabila agama Islam lenyap dari muka bumi, maka terjadilah kehancuran dunia -kiamat-.

Kesimpulannya adalah .. Sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengaku pemeluk agama Islam .. hendaknya sekali-kali jangan meninggalkan sholat .. karena sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi MUHAMMAD saw.

Apabila seseorang muslim sudah menjalankan sholat, zakat, puasa, haji -jika mampu- dan tuntunan Islam lainnya, maka dia termasuk orang yang beruntung yang dijanjikan ALLOH mendapatkan sorga ..

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH

Pada tanggal 12 Robiul-awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi, 14 abad yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan menyandang derajat KETERPUJIAN yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Manusia tersebut adalah AHMAD yang kemudian menyandang nilai-nilai yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar MUHAMMAD yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan USWATUN HASANAH bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta raya ini.

Kata MUHAMMAD apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah.
MUHAMMAD secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh ALLOH untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.

Abbas Mahmud al-Aqqod dalam kitabnya “Abqoriyat Muhammad” menjelaskan:
“Ada empat tipe manusia yaitu 1.Pemikir 2.pekerja 3.Seniman dan 4.Yang jiwanya selalu larut dalam ibadah.
Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat kecenderungan atau tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul dalam diri seseorang.
Namun yang mempelajari pribadi Nabi Muhammad saw akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau saw.”
Al-Qur’an telah menegaskan kemanusiaan Nabi Muhammad saw, diberbagai tempat dan Alloh memerintahkan menyampaikan hal itu kepada manusia dalam berbagai surat, antara lain:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا

Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rosul .?” (QS. Al-Isro’ [17]: 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau saw adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tetapi dari segi risalah dan hidayah-Nya, maka beliau adalah cahaya Alloh dan pelita yang amat terang.

Alloh swt menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا

“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.
Untuk menjadi penyeru pada agama Alloh dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya, bagi mereka karunia yang besar dari Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 45-47).

Alloh swt berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 15).
“Cahaya” dalam ayat ini adalah Rosululloh saw, sebagaimana al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau saw adalah juga cahaya.

Alloh swt berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya serta cahanya -al-Qur’an- yang telah Kami turunkan, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
At-Taghobun [64]: 8).

Alloh swt juga menentukan tugasnya kepada Nabi Muhammad saw:

لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“… Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang…” (QS. Ibrohim [14]: 1).

هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“-al-Qur’an- Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar -Ulul-Albab- orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” – (QS. Ibrohim [14]: 52).

Nabi Muhammad saw. menegaskan ma’na kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Alloh, dan mengajarkan agar seluruh umatnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan beliau saw yang telah diwahyukan oleh Alloh swt.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku; bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]:110).

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad saw merupakan pribadi manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia.
Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalah artikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya.
Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun.
Demikian dengan kita, diharapkan ketika dapat menyesuaikan diri dengan Nabi Muhammad, akan terjadi keserasian hubungan, maka akan menjadilah kita “Manusia Sempurna”.

Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Alloh swt itu sendiri. Apa yang diciptakan Alloh di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang .?” (QS. Al-Mulk [67]:3).

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya -dan tentu tidak juga Kami menciptakan kamu semua- sia-sia tanpa hikmah, yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.
-dan karenanya mereka berkata bahwa hidup akan berahir di dunia ini, tidak akan ada perhitungan, juga tidak ada sorga dan neraka-, maka celakalah orang-orang kafir -akibat dugaannya- itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shod [38]:27).

“Dan Kami tidak menciptaka langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS. Ad-Dukhon [44]:38).

Alloh swt menciptakan langit dan bumi juga segala yang ada diantara keduanya dengan tata aturan yang demikian rapi, indah serta harmonis, ini menunjukkan bahwa Alloh tidak bermain-main, tidak menciptakannya secara sia-sia tanpa arah dan tujuan yang benar.
Karena hal itu bukan permainan, bukan juga tanpa tujuan, maka pasti Alloh Yang Maha Kuasa ini membedakan antara yang berbuat baik dan buruk, lalu memberi ganjaran balasan sesuai amal perbuatan masing-masing.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“…Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]:191).

Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurna’an, baik sifat maupun bentuknya.
Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya.

Jadi suatu kesempurna’an adalah satu keseimbangan dan keharmonisan antara dua sifat atau unsur yang bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.

Nabi Muhammad saw, adalah sosok yang sangat sederhana dan sempurna, sehingga siapapun dan dari kalangan manapun akan mampu mencontoh setiap gerak dan diam beliau saw, karena beliau memang diciptaka sebagai teladan.
Bila yang meneladaninya dengan niat mengikuti beliau saw, maka niat meneladinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

Di dalam Al Qur’an, Alloh swt telah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh yang paling baik bagi ummat manusia pada saat ia masih hidup di atas dunia, yang menghendaki perjumpaan dengan Alloh swt kelak di hari akhir .. Hal ini sesuai dengan firman Alloh swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh -Nabi Muhammad- itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang senantiasa mengharapkan -rohmat kasih sayang- Alloh dan kebahagiaan Hari akhir dan berdzikir kepada Alloh sebanyak-banyaknya -baik dalam keadaan susah maupun senang-” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ayat ini berbicara tentang `uswah` yang dirangkai dengan kata `Rosululloh`
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh”.
Tidak mudah memisahkan atau memilah, mana pekerjaan mana ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai Rosul dan mana pula kedudukan-kedudukan lainya .. misalanya sebagai pemimpin ummat, lingkungan, keluarga atau sebagai suami dari istri-istrinya dan ayah bagi anak-anaknya .. Maka timbul pertanya’an ..!

Jika kepribadian Nabi Muhammad saw secara totalitasnya adalah teladan .. maka pakah itu berarti bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pribadi yang baik, benar dan lurus ini -diucapkan atau diperagakan- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya ..?
Jawabannya .. Selaku pribadi, hal ini dapat dibagi dalam dua kategori.

Pertama, kekhususan-kekhususan beliau saw yang tidak boleh dan atau tidak harus diteladani, karena kekhususan tersebut berkaitan dengan fungsi beliau sebagai seorang Rosul.
Misalnya kebolehan menghimpun lebih dari empat orang istri dalam saat yang sama, atau kewajiban sholat malam, atau larangan menerima zakat dan lain-lain.

Kedua, sebagai manusia biasa -terlepas dari kerosulannya- segala sesuatu yang bersumber dari pribadi beliau saw – dari setiap gerak dan diamnya- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya. Hal ini menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti “mana yang kamu dapat mengikuti maka lakukanlah.” karena semua adalah Uswatun Hasanah -contoh yang paling baik-. Bila mengikutinya dengan meneladani Nabi Muhammad maka niat mengikutinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

DI DALAM DIRI MANUSIA ADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rosululloh …” (QS. Al-Hujurot [49]:7).

Ayat ini bertujuan mendorong manusia untuk mawas diri dengan mengamati keagungan Rosul dan amal-amal beliau yang harus di tanam dalam hati dan diperagakan dalam kehidupnya dari waktu ke waktu, diantaranya yang memberi manfaat berupa rohmat kepada semua makhluk Alloh swt.

Alloh yang memiliki rohmat ta’terbatas, menjadikan Rosul “rohmatan lil’alamin” dan dalam diri manusia ada Rosul, ya’ni -unsur Muhammad ada dalam diri kita- maka sudah menjadi kelaziman bagi kita untuk memberikan rohmat itu kepada ummat Muhammad, khususnya saudara muslim kita .. karena “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya -sesama muslim- seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah -wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Nabi Muhammad saw adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Nabi Muhammad saw atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian dalam dirinya, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh”.

Sesungguhnya kalimat Syahadat tersebut mempunyai ma’na yang sangat dalam sekali, yaitu “saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi.” Secara hakikat, ma’na simbolis dari “wa asyhadu anna Muhammad Rosululloh” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan yang di firmankan Alloh swt :

NABI MUHAMMAD SAW ADALAH “AYAH” YANG SANGAT CINTA KEPADA ANAK-ANAKNYA

Alloh swt berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki -dewasa- di antara kamu tetapi dia adalah Rosululloh -bapak ummat yang membimbing mereka dan yang harus di agungkan serta dihormati- dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segalanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:40).

Ayat diatas menyebut “laki-laki” akan tetapi disusul dengan kalimat “Rosululloh” tidak lain untuk mengisyaratkan bahwa bukan berarti hubungan dengan wanita terputus. Nabi Muhammad saw, buat mereka adalah bapak ruhani, pembimbing, pemberi petunjuk, pelindung, dan penanggung jawab, dan pastinya beliau pula yang paling wajar mendapat penghormatan dan keta’atan dari anak-anaknya. Sungguh kasih sayangnya kepada ummat melebihi cinta dan kasih sayang orang tua kandung.

Ayat diatas merupakan penyempurnaan dan ketinggian beliau saw, sekaligus sebagai isyarat bahwa ketiadaan anak-anak beliau saw, merupakan hikmah yang telah ditetapkan Alloh swt, ya’ni agar beliau menjadi bapak teladan bagi ummatnya yang betakwa.

Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita yang baginya sangat berat dan menderita demi menanggung kita ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”

Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?

Beliau saw bersabda :
“Aku bagaikan seorang yang menyalakan api, setelah menyala menerangi sekeliling, laron mengitarinya dan terjerumus ke dalam api itu .. Kalian seperti itu, tetapi aku menghalangi kalian terjerumus ke api, tetapi sebagian kalian terjerumus juga.”
Beliau juga bersabda :
“Aku memegang ikat pinggang kalian, tetapi sebagian kalian terlepas dari pinggangku.”
Demikian Rosul saw mengilustrasikan diri beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui Abu Huroiroh ra.

Kalaulah beliau saw bersikap tegas agar mematuhi hukum-hukumnya, atau ada tuntunan yang sepintas terlihat sangat berat, maka ini tidak lain hanya untuk kemaslahatan ummatnya jua.
Sebenarnya hati beliau saw lebih dahulu teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang kita alami ..

Alloh swt berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Demi -kebesaran dan keagungan Tuhan- sesungguhnya telah datang kepada kamu -wahai seluruh manusia- seorang Rosul -pesuruh Alloh- dari diri kamu sendiri -yang mengenal kamu dan kamu mengenal dia, sangat- berat terasa olehnya apa yang telah menderitakan kamu -baik lahir maupun batin-,
Sangat menginginkan -keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan- bagi kamu semua, baik mukmin maupun kafir , dan- terhadap orang mukmin amat belas kasih lagi penyayang -buat mereka yang diharapkan suatu ketika akan beriman, bahkan kepada seluruh alam.
Jika mereka -memaksakan diri menentang fitrah mereka, sehingga- berpaling lagi enggan mengikuti tuntunanmu wahai Nabi Muhammad- maka katakanlah kepada mereka dan kepada selain mereka, sambil bermohon kepada Alloh-:
“Cukuplah -untuk segala urusanku- Alloh -Yang Maha Kuasa- bagiku.
-Dan yang akan membela dan menganugrahkan kepadaku kebutuhan dan harapanku-.
Tidak ada Tuhan yang menguasai alam raya, tumpuan semua makhluk serta wajib disembah- selain Dia.
Hanya kepada-Nya -bukan kepada yang selain-Nya- aku bertawakkal -berserah diri setelah aku berusaha sekuat kemampuanku-.
dan Dia adalah Tuhan Pemilik -Pencipta dan pengatur- ‘Arsy yang agung.”
(QS. At-Taubah [9]: 128-129).

Kata ANFUSAKUM memberi kesan bahwa Rosul adalah sejiwa dengan kamu, mengetahui detak-detik jantung kamu .. merasakan getaran jiwamu serta menyukai kamu sebagaimana apa yang disukainya ..
Demikian kesan yang terkandung dalam kalimat “seorang Rosul dari diri kamu sendiri” .. keberadaan Nabi Muhammad saw begitu dekat hadir dalam jiwa kamu ya’ni anak-anaknya, hususnya yang istiqomah meneruskan perjuangan beliau saw, merohmati kaum yang beriman.

Hal ini sejalan dengan fitrah kejadian manusia. Alloh swt berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

“-Dialah- Yang membuat sebaik baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan -sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaan-.
Dan Dia telah memulai penciptaan manusia -Adam as- dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari -sedikit- saripati air mani yang diremehkan -lemah tidak berdaya karena sedikitnya bila dilihat kadarnya atau menjijikkan bila dipandang-.
Kemudian -yang lebih hebat dari itu- Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam -tubuh-nya, ruh -dari-Nya,
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran -agar kamu dapat mendengar kebenaran-, dan penglihatan -agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya- dan hati -agar kamu dapat berfikir dan beriman-, -tetapi- sedikit sekali kamu bersyukur.
Namun banyak diantara kamu yang kufur, tidak memfungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Alloh kehedaki, tetapi memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya-.” – (QS. As-Sajadah[32]:7-9).

Kata AHSAN berarti membuat sesuatu menjadi baik .. Kebaikan sesuatu itu diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut dari sesuatu itu .. contoh :
Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk memotong .. Kursi yang baik adalah yang dapat diduduki dengan nyaman .. kendaraan yang baik adalah yang dapat mengantar pada tujuan .. Demikian seterusnya.

Ayat diatas menyatakan bahwa Alloh swt, telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik .. diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Malaikat diciptakan Alloh swt sebagai makhluk sempurna untuk tugas-tugas yang seharusnya mereka emban.
Masing-masing binatang telah diciptakan Alloh swt dengan sempurna untuk tujuan penciptaannya .. ada yang dapat dimakan, ada juga yang tidak .. ada yang jinak ada pula yang liar dan buas .. ada pula yang untuk keindahan dan hiburan,
Semua diciptakan sebaik-baiknya dan sempurna.

Manusia dan jin pun demikian .. hanya saja untuk makhluk mukallaf ini, Alloh swt memberi mereka tugas, dengan potensi sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing .. tetapi dalam saat yang sama, mereka diuji .. dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi, sehingga pada akhirnya manusia dan jin berpotensi untuk menjadi baik dan buruk.

Manusia dan jin yang mengabaikan potensi baiknya dan mengikuti potensi buruk, akan gagal dalam ujian dan itulah yang menjadi setan .. Sebaliknya adalah manusia yang ahsan yang berhasil lulus dalam ujian.

Demikian Alloh swt menciptakan semua makhluk dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya.
Dengan demikian tidaklah benar jika dikatakan bahwa manusia adalah makluk yang paling sempurna sebelum ia menjadi pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk Alloh swt.

Semua makhluk-Nya sempurna, manusia adalah makhluk yang ditundukkan kepadanya alam raya, sebagai sarana untuk mengemban tugasnya.
Manusia telah dimuliakan Alloh swt, tetapi bukan makhluk manusia ini yang termulia .. dalam kontek ini Alloh swt berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan dari siapa yang telah kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” – (QS. Al-Isro’ [17]:70).

Perhatikan ayat ini, tidak menyatakan: “melebihkan atas semua” tetapi “melibihkan atas kebanyakan” artinya manusia tertentu dari kebanyakan manusia yang di lebihkan oleh Alloh dengan sempurna.

Kata MIN RUCHIHI dari ruh-Nya, ya’ni ruh Alloh. ini bukan berarti ada “bagian” ruh Ilahi yang dianugrahkan kepada manusia .. karena Alloh tidak terbagi, tidak juga terdiri unsur-unsur .. DIA adalah SHOMAD Esa/Tunggal, tidak terbagi dan tidak berbilang .. yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya .. Penisbahan ruh itu kepada Alloh adalah penisbahan PEMULIAAN DAN PENGHORMATAN ayat ini bagaikan berkata: “Dia meniupkan kedalam tubuh manusia, ruh yang mulia dan terhormat dari ciptaan-Nya”

“Manusia terdiri dari tanah dan ruh Ilahi”
Karena tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam .. sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya .. ia butuh makan, minum, tidur, jaga, hubungan sex dll.

Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu .. walupun ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya .. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menghiasi manusia.

Dengan ruh manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi .. dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dll.

Itulah yang mengantar manusia menuju suatu realitas Yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir.
“Sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kembalinya segala sesuatu.” (QS.96:8).
“Hai manusia sesungguhnya engkau bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS.84:6).

Demikian manusia yang diciptakan Alloh swt, disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya.
Dengan gabungan unsur kejadiannya itu, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup dan berma’na, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi tanah dan dimensi matreal.

NABI MUHAMMAD SAW ROHMAT SEMESTA ALAM RAYA

Alloh swt berfirman:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu -wahai Nabi Muhammad- melainkan untuk -menjadi- rohmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung ma’na yang sangat luas.
Hanya dengan 5 -lima- kata .. Terdiri dari 25 -dua puluh lima- huruf.
Ayat ini menyebut 4 -empat- hal pokok :
1. Rosul -utusan Alloh- dalam hal ini Nabi Muhammad saw.
2. Yang mengutus Nabi Muhammad saw, dalam hal ini Alloh swt.
3. Yang diutus kepada mereka -al-’alamin-.
4. Risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, ya’ni “rohmat” yang sifatnya sangat besar.

Nabi Muhammad saw adalah rohmat .. bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran agama, tetapi sosok dan kepribadian beliau adalah cerminan rohmat ALLOH yang bersifat AR-ROHMAN dan ARROHIM yang dianugerahkan Alloh swt kepada beliau saw.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa:
“Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rohmat, tetapi sebaga rohmat atau angkau menjadi rohmat bagi seluruh alam”

Firman Alloh swt dalam surat Ali Imron 159
“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
Penggalan ayat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa Alloh swt sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana sabda beliau saw:
“Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.”

Kepribadian Nabi Muhammad saw dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Alloh limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu al-Qur’an, tetapi juga hati beliau disinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rohmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana pengakuan beliau saw adalah “rohmatun-muhdab” -rohmat yang dihadiahkan oleh Alloh kepada seluruh alam-.

Pemnbentukan kepribadian Nabi Muhammad saw, menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, gerak dan diam, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rohmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran islam yang beliau sampaikan, karena itu pula Nabi Muhammad adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-Qur’an sebagaimana dilukiskan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra.

Kata “alam” dalam arti kumpulan sejenis makhluk Alloh yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas .. Jadi ada alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan, alam tumbuhan dan bintang-bintang -planet-. Semua itu memperoleh rohmat dengan kehadiran Nabi Muhammad saw.

Dengan rohmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman, serta pengakuan atas wujud, hak, bakat dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar, menyangkut bimbingan, perlindungan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.

Jangankan manusia .. binatang dan tumbuhan pun memperoleh rohmat beliau saw.
Sebelum bangsa Eropa mengenal organesasi pecinta binatang, Nabi Muhammad saw telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang.

Banyak sekali pesan beliau saw, menyagkut hal ini, dimulai dari perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menyembeleh -HR Muslim-.
Beliau saw juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan, dan tidak pula melepaskannya untuk mencari makan sendiri. -HR Bukhori Muslim-.

Dalam ajaran Nabi Muhammad saw sebagai Rohmat itu, terlarang memetik bunga sebelum mekar, atau buah sebelum matang, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaan. .. … …. ….. …… ……. …….. ………

Kembang diciptakan antara lain agar mekar sehingga lebah datang menghisap sarinya dan mata menjadi senang memandangnya, disamping lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan pengobatan.

Bahkan benda-benda tak bernyawa pun mendapat kasih sayang beliau saw. Antara lain terlihat ketika beliau memnberi nama-nama bagi benda-benda husus beliau.
Pedang beliau saw diberi nama : dzul-fiqor
Perisai beliau saw diberi nama : dzul-fadhul
Pelana beliau saw diberi nama : ad-daj
Tikar beliau saw diberi nama : al-kuz
Cermin beliau saw diberi nama : al-midallah
Gelas minum beliau saw diberi nama : al-mamsyuk, dan lain-lain.
itu semua untuk mengesankan bahwa benda-benda tak bernyawa itu bagaikan memiliki kepribadian yang juga membutuhkan rohmat kasih sayang dan persahabatan.

TUGAS “ANAK” SEBAGAI PENERUS NABI MUHAMMAD SAW DENGAN MEMBERI ROHMAT KASIH SAYANG KEPADA SAUDARA MUKMIN

Alloh swt berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“Dan HAMBA-HAMBA ARROHMAN yang baik itu, -ialah- orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan lemah-lembut -dan rendah hati-.
Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, MEREKA MENGUCAPKAN SALAM -kata-kata yang mengandung keselamatan-.”
– (QS.25:63).

Mereka yang disifati sebagai hamba-hamba ar-Rohman adalah yang ta’at dan dipilih Alloh swt, yaitu yang ikhlas dan sabar serta berdzikir dan bersyukur dengan memberikan rohmat kasih sayang kepada saudara mukmin.

Salah satu dari sifat kelemah-lembutan dan kerendahan hati mereka adalah terhadap orang-orang jahil. “dan apabila ornag-orang jahil menyapa mereka” dengan sapaan tidak wajar atau yang mengandung amarah atau yang membuat sakit hati, “mereka berucap salam” ya’ni mereka membiarkan dan meninggalkannya, bahkan mereka berdo’a untuk keselamatan semua pihak.

Menurut Hujjatul-islam al-Ghozali:
Buah yang dihasilkan oleh peneladanan sifat ar-Rohman pada diri seseorang akan menjadikannya memercikkan rohmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Alloh yang lengah, dan ini mengantarnya mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Alloh secara lemah lembut, tidak dengan kekerasan.

Dia akan memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang -rohmat- serta menilai setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya bagaikan kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia dalam pertaubatannya tidak menyisihkan sedikit pun upaya memohonkan ampunan bagi orang lain seperti bagi dirinya sendiri.
“Mereka itulah orang-orang yang akan dibalas dengan martabat yang sangat tinggi karena kesabaran mereka” – (QS.25:75).

Seseorang yang menghayati bahwa Alloh adalah ar-Rohman -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan dunia- dan ar-Rohim -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan akhirat- akan berusaha memantapkan dirinya sifat rohmat dan kasih sayang sehingga menjadi ciri kepribadiannya.

Dia tidak akan ragu atau segan mencurahkan rohmat kasih sayang itu kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, ras maupun tingkat keimanan, dengan memberi rohmat kasih sayang, baik yang hidup maupun yang mati.

Dia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapapun dan dimanapun.

Kata SALAMAN terambil dari akar kata SALIMA yang ma’nanya berkisar pada KESELAMATAN dan keterhindaran dari segala yang tercela.
Keselamatan adalah batas antara keharmonisan, kedekatan dengan perpisahan serta rohmat dengan siksaan.

Ciri sifat kepribadian mereka yang kedua adalah:

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang-orang yang -penuh rohmat juga mereka yang senantiasa- memasuki malam hari -beribadah secara tulus-, demi untuk Tuhan -pemelihara- mereka -tanpa pamrih- dalam bersujud dan berdiri -sholat-.” – (QS.25:64).

Ayat diatas menyatakan betapa pentingnya mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan melakukan sholat malam, dalam satu riwayat dinyatakan bahwa siapa yang sholat sunnah dua roka’at setelah sholat isya’, maka telah dapat dinilai melaksanakan kandungan ayat ini.

Quraisy Syihab mengatakan bahwa, sifat pertama yang disandang oleh hamba-hamba Alloh itu yang disebut oleh ayat 63 adalah sifat mereka yang berkaitan dengan makhluk, sedang di ayat 64 ini adalah yang berkaitan dengan al-Kholiq. Ini mengisyaratkan pentingnya interaksi antar sesama makhluk serta pelunya mendahulukan kepentingan mereka dari pada ketaatan kepada Alloh yang bersifat sunnah.

BILANGAN 19 KUNCI AL-QUR’AN

  • 551441_647878298561113_1245169284_n

    Bilangan 19 adalah Jumlah Huruf yang terdapat pada kata BASMALAH

    ﺒﺴﻢ ﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻟﺮﺤﻴﻢ
    Jika di hitung, jumlah Huruf yang menyusun kata BASMALAH yaitu 19.
    19 ialah bilangan primer dalam system MATEMATIKA.
    Begitu juga, ternyata AL-QUR’AN pun membangun system matematikanya dengan bilangan tersebut.
    Dalam arti lain, bangunan matematika AL-QUR’AN adalah kata BASMALAH itu sendiri.

    Jika kita perhatikan angka 19 terdiri dari angka terkecil dan terbesar, yaitu angka 1 terkecil dan 9 terbesar.
    Untuk itu angka 19 mewakili seluruh bilangan dalam sistem matematika.

    Berikut diantara keistimewaan angka 19;

    19 X 1 = 19 (1+9) = 10 (1+0) = 1
    19 X 2 = 38 (3+8) = 11 (1+1) = 2
    19 X 3 = 57 (5+7) = 12 (1+2) = 3
    19 X 4 = 76 (7+6) = 13 (1+3) = 4
    19 X 5 = 95 (9+5) = 14 (1+4) = 5
    19 X 6 = 114 (1+1+4) = 6 = 6
    19 X 7 = 133 (1+3+3) = 7 = 7
    19 X 8 = 152 (1+5+2) = 8 = 8
    19 X 9 = 171 (1+7+1) = 9 = 9
    19 X 10 = 190 (1+9+0) = 10 (1+0) = 1
    19 X 11 = 209 (2+0+9) = 11 (1+1) = 2

    Begitu selanjutnya dimulai dari angka 1 dan berakhir pada angka 9, kemudian kembali lagi ke angka 1 dan berakhir pula di angka 9, dan seterusnya.

    Angka 19 adalah bilangan BASMALAH. Pertama kali Alloh swt menurunkan ayat dari AL-QUR’AN melalui malaikat Jibril as untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, adalah 19 kata, yaitu: surat AL-ALAQ dari ayat 1 sampai 5.
    Kemudian urutan surat tersebut dalam AL-QUR’AN adalah yang ke 19, jika di hitung dari akhir AL-QUR’AN.

    Angka 19 dalam BASMALAH dapat juga di URAIKAN sebagai berikut;
    * Kata ism (ﺍﺴﻢ) terulang dalam AL-QUR’AN sebanyak 19 kali (19 x 1)
    * Kata Alloh (ﷲ) terulang dalam AL-QUR’AN sebanyak 2698 kali (19 x 142)
    * Kata Rohman (ﺮﺤﻤﻦ) terulang dalam AL-QUR’AN sebanyak 57 kali (19 x 3)
    * Kata Rohim (ﺮﺤﻴﻢ) terulang dalam AL-QUR’AN sebanyak 114 kali (19 x 6)
    * Pengulangan Kalimat-kalimat di atas sebanyak 152 kali yaitu;
    (1 + 142 + 3 + 6 = 152)
    152 adalah hasil dari 19 x 8

Awan Tag