Archive for the ‘NABI MUHAMMAD SAW’ Category

AZIMAT WARISAN DARI NABI MUHAMMAD SAW

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN RAMBUT DAN KUKU NABI MUHAMMAD SAW

1. Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shohihnya pada Kitab al-libas (bab pakaian) dalam pasal berjudul “Tentang rambut abu-abu”, bahwasanya ‘Usman ibn Abdulloh ibn Mawhab ra mengatakan: “Keluargaku mengirim diriku pergi ke Ummu Salama dengan secangkir air. Ummu Salama membawa keluar suatu botol perak yang berisi sehelai rambut Nabi saw, dan biasanya jika seseorang memiliki penyakit mata atau kesehatannya terganggu, mereka mengirimkan secangkir air kepadanya (Ummu Salama) agar ia mengalirkan air itu lewat rambut tersebut (dan diminum). Kami biasa melihat ke botol perak itu dan berkata, ‘Aku melihat beberapa rambut kemerahan’”.

2. Anas ra berkata:
“Ketika Rosululloh saw mencukur kepalanya (setelah hajji), Abu Tholha adalah orang pertama yang mengambil rambutnya” (HR. Bukhori).

3. Anas ra juga berkata:
“Nabi saw melempar batu di al-Jamro, kemudian ber-qurban, dan menyuruh seorang tukang cukur untuk mencukur rambut beliau di bagian kanan lebih dulu, lalu memberikan rambut tersebut pada orang-orang” (HR. Muslim).

Dia (Anas ra) berkata:
“Tholha adalah orang yang membagi-bagikannya”. (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Dia (Anas ra) juga berkata:
“Ketika Rosululloh saw mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau saw memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda:
“Hai Anas, bawa ini ke Ummu Sulaim (ibunya).”
Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rosululloh saw berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau saw yang berasal dari sisi kiri kepala beliau saw, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (HR. Ahmad).

4. Ibn al-Sakan meriwayatkan lewat Sofwan ibn Hubairo dari ayah Sofwan: Tsabit al-Bunani berkata:
Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya):
“Ini adalah sehelai rambut Rasulullah saw. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku.”
Tsabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya.”

5. Abu Bakar ra berkata:
“Aku melihat Kholid ibn Walid meminta gombak (rambut bagian depan/ubun-ubun) Nabi saw, dan dia menerimanya. Dia biasa menaruhnya di atas matanya, dan kemudian menciumnya.”
Diketahui bahwa kemudian dia menaruhnya di qolansuwa (tutup kepala yang dikelilingi sorban) miliknya, dan selalu memenangkan perang.” (riwayat Al-Waqidi di Maghozi dan Ibn Hajar di Isaba).

Ibn Abi Zaid al-Qoirowani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata:
“Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qolansiyya yang berisi beberapa helai rambut Rosululloh saw, dan itulah yang dipakainya pada perang Yarmuk.

6. Ibn Sirin (seorang tabi’in) berkata:
“Sehelai rambut Nabi saw yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi.” (HR. Bukhori, Bayhaqi dalam Sunan Kubro, dan Ahmad).

7. Dalam Shohih Bukhori, vol 7, kitab 72, no. 784, Utsman bin Abdulloh ibn Mawhab berkata:
“Orang-orangku mengirim semangkuk air ke Ummu Salama.” Isra’il memberikan ukuran tiga jari yang menunjukkan kecilnya ukuran wadah yg berisi beberapa helai rambut Nabi saw.
Utsman menambahkan:
“Jika seseorang sakit karena suatu penyakit mata atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salama (dan dia akan mencelupkan rambut Nabi saw ke dalamnya dan air tersebut akan diminum).

Aku melihat ke wadah (yang berisi rambut Nabi saw) dan melihat beberapa helai rambut kemerahan di dalamnya.”

Hafiz Ibn Hajar dalam Fathul-Bari, Vol. 10, hlm, 353, mengatakan:
“Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi saw itu sebagai jiljalan dan botol itu disimpan di rumah Ummu Salama.”

Hafiz al-’Ayni berkata dalam ‘Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79:
“Ummu Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi saw dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Ummu Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Ummu Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal.”

8. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya (4:42) dari Abdulloh ibn Zaid ibn ‘Abd

Robih dengan sanad yang shohih seperti yang dinyatakan oleh Haitami dlm Majma’ al-Zawaid, bahwa Nabi saw memotong kukunya dan membagikannya ke orang-orang.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KERINGAT ROSULULLOH SAW

1. Anas bin Malik ra berkata:
“Nabi saw tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan keringatnya dalam suatu bejana. Nabi saw terbangun dan bertanya,
“Wahai Ummu Sulaim, apa yang kau lakukan .?”
Dia (Ummu Sulaim) menjawab:
“Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami dan itu adalah parfum terbaik.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Ketika Anas bin Malik ra, terbaring menjelang wafatnya dia menyuruh agar sebagian dari bejana itu digunakan saat upacara sebelum penguburannya, dan memang dipakai seperti yang ia suruh.” (HR. Bukhori).

Ibn Sirin juga diberikan sebagian dari bejana milik Ummu Sulaim. (HR. Ibn Sa’id)

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN SALIVA (AIR LUDAH SUCI) NABI SAW DAN AIR WUDHU’ BELIAU SAW

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang ini amatlah banyak. Antara lain dapat dilihat di karya Syaikhul Muhadditsiin Imam Ibn Hajar al-Asqolany, Fathul-Bari 1989 ed. 10:255-256.

1. Dalam riwayat Bukhori dan Muslim:
Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi saw untuk digunakan membasuh muka mereka.

Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim berkata:
“Riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihit-tabarruk bi atsaris-sholihin).

2. Nabi saw biasa menggunakan saliva-nya untuk menyembuhkan penyakit, saliva beliau dicampur dengan sedikit tanah, dan diikuti kata-kata.

“Bismillah, tanah dari bumi kita ditambah dengan air liur dari orang-orang yaqin di antara kita akan menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Nabi saw pernah menyuruh setiap orang di Madinah kemudian Makkah untuk membawa bayi-bayi mereka yang baru lahir, kepada siapa beliau saw membacakan do’a dan memasukkan campuran nafas dan ludah (nafs wa tifl) beliau ke dalam mulut bayi-bayi itu. Beliau kemudian memerintahkan pada ibu-ibu mereka untuk tidak menyusui sampai malam.
(HR. Bukhori, Abu Dawud, Ahmad, Bayhaqi dalam Dala’il Nubuwwah, Waqidi, dll).

Nama-nama lebih dari 100 orang Ansor dan Muhajirin yang menerima barokah khusus ini diketahui lengkap dengan isnadnya.

Iklan

SALAM ALLOH SWT KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

SALAM ALLOH SWT KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Dalam al-Qur’an Alloh swt mengisahkan, perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad saw dimana kala itu beliau saw berjumpa dengan Alloh swt.

وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى

“Sedang dia (Nabi Muhammad) berada di ufuk yang tinggi
dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi
maka jadilah dia dekat (kepada Alloh swt sejarak), dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi (dan berdialog langsung dengan-Nya).” – (QS.53:7-9).

Nabi Muhammad saw pun melakukan penghormatan bersujud dihadapan-Nya dengan berucap :
أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
“Segala Kehormatan, Keberkahan, Sholawat dan Kebaikan hanya milik Alloh saja.”

Lalu Alloh swt menyambut Nabi Muhammad saw dengan ucapan:
أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Salam-Ku kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Rohmat Alloh dan Berkah-Nya (untukmu).”

Begitu Nabi Muhammad saw mendapat sambutan istimewa sebagai penghormatan tertinggi dari Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, beliau saw pun menjawab :
أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Keselamatan atas kami (orang-orang mukmin) semua dan atas hamba-hamba Alloh yang Sholeh.”

Inilah keutamaan husus kecintaan dan kasih sayang yang dimiliki Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh Para Nabi dan Rosul lain. adalah beliau saw selalu ingat kepada kita ummatnya, yang belum pernah beliau lihat di alam dunia.

Itulah dari sekian banyak rahasia kisah didalam mi’roj yang wajib diyakini oleh setiap muslim diantaranya adalah sambutan Alloh swt terhadap Nabi Muhammad saw kekasih-Nya.

Oleh sebab itu, diantara salah satu hadiah terbesar yang diberikan Alloh swt kepada hamba-Nya yang mukmin adalah sholawat kepada Nabi Muhammad saw sewaktu di dalam sholat. Karena sholawat dalam sholat adalah menyampaikan ucapan salam, rohmat, barokah dan pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw.

أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Segala Kehormatan, Keberkahan, Sholawat dan Kebaikan hanya milik Alloh saja.
Salam kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Rohmat Alloh dan Berkah-Nya (untukmu).
Keselamatan atas kami (orang-orang mukmin) semua dan atas hamba-hamba Alloh yang Sholeh.
Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh.
Ya Alloh, curahkanlah sholawat, keselamatan dan keberkahan, kepada Sayyidina Muhammad dan kepada keluarga Sayyidina Muhammad, sebagaimana Engkau telah mencurahkan sholawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina Ibrohim dan keluarga Sayyidina Ibrohim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Sholawat kepada Nabi Muhammad merupakan hakekat sekaligus mengandung syari’at.

Pertama, disebut hakekat karena Alloh swt sendiri, dan para malaikatnya bersholawat kepada Nabi Muhammad. Dalam Firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
“Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat-Nya senantiasa bersholawat kepada Nabi.”

Kedua, mengandung syari’at karena Alloh swt memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan untuknya.”

RATAPAN MAHABBAH

Allohu Robbi .. kekasih-Mu bersabda:
– « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
“Sesungguhnya kamu bersama yang kamu cintai.”
فَإِنَّا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ رَسُولَكَ مُحَمَّد
Maka kami mencintai-Mu dan kami mencintai Rosul-Mu Muhammad
وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ وَعَلِى فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
Serta Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali, berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.”
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ وَأَذِقْنَا بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ لَذَّةَ وِصَالِهِ
“Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad semuanya.
Dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.
Dan anugerahilah kami kelezatan bertemu dengan beliau dengan keberkahan bersholawat kepadanya.
اَللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ مَعَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
Ya Alloh, aku mohon ridho sesudah keputusan-Mu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan berjumpa dengan-Mu bersama Rosul-Mu Muhammad.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Tuhan kami .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta Rohamatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang khusus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..”

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

PUJIAN ALLOH KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Di dalam al-Qur`an terdapat begitu banyak ayat pujian dan sanjungan Alloh swt kepada Sayyidina Muhammad saw .. Ibarat seorang professor yang membuat suatu karya yang monumental dan memuji hasil karyanya sendiri ..

Pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad menjadi tolak ukur pujian kita kepada beliau saw, sementara yang paling popular pujian Alloh swt di dalam al-Qur`an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau Muhammad memiliki budi pekerti yang sangat agung.” (Al-Qolam :4).

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah :128).

Perhatikanlah, Ketika menyifati Nabi Muhammad saw, Alloh swt berfirman:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Dan ketika menyifati Diri-Nya, Alloh juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Alloh `Maha Pengasih lagi Maha Penyayang` kepada manusia.” (Al-Boqoroh :143).

Diantara pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw yang termaktub dalam ayat diatas `pengasih dan penyayang`, Alloh swt tidak pernah menggunakan dua Nama-Nya tersebut untuk memuji seorang Nabi pun, kecuali untuk memuji Nabi Muhammad saw.

Diantara keistimewaan lain yang dimiliki Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh Para Nabi lain adalah; Alloh swt mengajarkan kepada kita untuk memanggil atau menyapa Nabi Muhammad saw dengan sopan dan adab yang tinggi. Alloh swt melarang kita memanggil namannya secara langsung seperti kita memanggil teman kita.

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul (Nabi Muhammad) diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” (An-Nur: 63).

Alloh swt sendiri dalam al-Qur’an memanggil Nabi Muhammad saw tidak secara langsung melainkan dengan lemah lembut atau dengan jabatan beliau, “wahai Rosul … wahai Nabi … wahai orang yang berselimut … dll”

Bahkan karena sangat memuliakan kekasih Nya, Alloh bersumpah dengan umur Nabi Muhammad saw :

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Demi Umurmu (wahai Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (Al-Hijr :72).
Para ahli tafsir sepakat, dalam ayat ini Alloh swt bersumpah dengan umur (masa hidup) Nabi Muhammad saw.

Tidak ada satu makhluk pun yang dapat merendahkan derajat Nabi Muhammad saw disisi Alloh swt :

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.“ (Al-Insyiroh :4).

Dalam tafsir al-Qur’an disebutkan : Maksudnya Alloh swt meeninggikan atau memuliakan sebutan nama Nabi Muhammad saw, di langit di kalangan para malaikat, di bumi di kalangan kaum mukminin dan di akhirat dengan memberinya maqom (kedudukan) al-Mahmud (tempat terpuji) dan berbagai kemuliaan lain. Wallohu a’lam…

“Allohu Robbi … melalui Sayyidina Muhammad cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian anugerah karunia -Mu yang terus menerus tak pernah putus, kumpulkanlah kami dengan Sayyidina Muhammad dan kekasih pilihan-Mu di setiap zaman.
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ
Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad … dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.”

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

ALLOH Yang Maha Tinggi mengistimewakan ummat islam dengan kesempurnaan sholawat kepada Nabi Muhammad

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Alloh swt Tuhan pemelihara alam semesta raya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Lalu Alloh swt mengajak para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Kemudian menyeru ummat yang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad
Setelah itu Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membalas sholawat mereka

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (at-Taubah : 103).

Nabi Muhammad pun bersholawat dengan do’a:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

“Tuhanku berilah ampunan dan berilah rohmat -kepada ummatku yang mukmin-,
dan hanya Engkau-lah pemberi rohmat yang paling baik.” (Al-Mu’minuun: 118).

Dan para malaikat pun ikut mendo’akan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw:

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنِ نِالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ج وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ج وَذَالِك هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Tuhan kami, maka masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang sholeh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan
dan orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min: 8-9).

Maka Alloh swt berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan
Kami pertemukan -kumpulkan- anak cucu mereka dengan mereka
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari masing-masing pahala amal mereka
-sebab- Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya -sewaktu mereka di dunia-.” (At-Thur: 21)

Ada dua pendapat ulama berkaitan ayat QS. At-Thur: 21 diatas :

Pertama, Bahwa Alloh swt memberikan keni’matan yang lebih kepada orang mukmin yang menduduki derajat yang tinggi di sorga, dimana Alloh kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya.
Sehingga Alloh swt mengangkat derajat penduduk sorga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi, agar lebih menyenangkan hati mereka, sedangkan Alloh swt tidak mengurangi sedikitpun kedudukan derajatnya.

Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk sorga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Alloh swt akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan orang tuanya, agar orang tua merasa lebih senang berkumpul dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat orang tua sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya, maka derajat orang tua akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dan berkumpul dengan anaknya cucunya.

Kedua, ayat diatas berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh, ia masih belum memiliki amal, sedangkan amalan memelihara dan merawat adalah milik ayah dan ibunnya. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Alloh mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.

Menurut hemat penulis kedua pendapat ini tidak berselisih jauh, sehingga boleh jadi ma’na ayat diatas mencakup kedua-duanya.

أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

MENGENAL SEJARAH AGAR TUMBUH CINTA

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.

Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).

Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.

Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”

Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ
“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)

BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.

“Tali keimanan yang paling kokoh adalah patuh karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).

Dalam sabda beliau saw yang lain:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).

Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas ra berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”

Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.

Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas ra melanjutkan:
“Sungguh aku mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar aku bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun aku tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

CINTA KEPADA NABI DAN PARA ULAMA

Alloh swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki (para Nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” – (QS.16:43).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi).

Meninggalnya seorang yang ‘alim akan menimbulkan bahaya bagi ummat, keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt, terlebih Rosululloh saw mengistilahkan para ulama’ dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLOH swt kecuali melalui keta’atan kepada Rosululloh saw.
Dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ROSULULLOH saw kecuali melalui keta’atan kepada ULAMA’, kepada hamba-hamba Alloh -yang ahli dalam perkara al-Qur’an, as-Sunnah.

Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya .?

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Jika mampu jadilah kamu orang berilmu
jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu
jika tidak mampu jadilah pencinta ulama’
jika tidak mampu janganlah kamu membenci ulama’.”

Seorang ulama di era setelah sahabat, Ikrimah rohimahulloh mengatakan:
“Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena siapa yang menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rosululloh saw.
Sebab kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para Nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.”

ULAMA PENERUS NABI DAN ROSUL

Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Tirmidzi).

Para ulama semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama ..

Di samping ulama sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rohmat dan pertolongan-Nya, Alloh swt juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syari’at terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi kaum muslimin. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi saw.

Dari Abdulloh bin ‘Amr ibnul ‘Ash ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Alloh tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Dari Abdulloh bin ‘Amr ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (HR. Hakim).

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt. Terlebih Rosululloh saw mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Tuhan mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para Nabi sedangkan para Nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Oleh sebab itu kita kaum muslimin wajib memuliakan ulama karena mereka adalah pewaris para Nabi, meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan ilmu dan warisan yang mereka bawa dari Rosululloh saw. Dan barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin.
Sebuah ungkapan mengatakan: “Kalau kita tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa lagi kita percaya .?” Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin menyelesaikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syari’at, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya kerusakan.

Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Alloh swt berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ
“Kemudian (Kami menjadikan orang-orang yang mengamalkan) kitab (Al-Qur’an yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami (mereka adalah dari umat ini).” (QS. Fathir: 32).

Mengomentari ayat diatas, Asy-Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan:
“Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu … dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para sahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Alloh telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Alloh swt menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat Nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.”

Ibnu Hajar rh mengatakan:
“Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama warotsatul anbiya (ulama adalah pewaris para Nabi).”

Rosululloh saw bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban).

Ulama mengatakan:
“Kebijaksanaan Alloh atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Alloh dan bentuk rohmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Alloh dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut Nabi dan Rosul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal sholih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para Nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Alloh telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Alloh merohmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan do’a-do’a yang barokah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Alloh melimpahkan rohmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.”

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهاَ دِيْنَهاَ
“Sesungguhnya Alloh akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbarui (mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing) agama umat ini.” (HR. Abu Dawud).

Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit yang menerangi jalan, dan bila kegelapan memenuhi cakrawala, maka manusia akan mengalami kebingungan dan kesesatan.

MAKNA HADITS ” JANGAN PUJI AKU SECARA BERLEBIHAN “

ALLOH swt MEMUJI NABI MUHAMMAD saw

Alloh swt memuji Nabi Muhammad saw dengan berfirman:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al-Insyiroh : 4)

Disamping itu Alloh juga menghibur Nabi Muhammad saw dengan memerintahkan kaum muslimin agar mentaati perintah beliau, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Muhammad).”
(QS. An-Nisa’ : 59).

Alloh swt sangat mengagungkan dan memuliakan Nabi Muhammad saw. dengan pujian yang tidak sesuatu pun akan dapat melampaui pujian-Nya, ini dinyatakan dalam firmannya:
إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS.Al-Qolam: 4)

Nabi Muhammad saw adalah sosok manusia yang dicipta secara khusus oleh Alloh swt. Ia dipilih dari seluruh makhluk untuk menjadi Nabi dan Rosul-Nya yang utama dan penghabisan. Ia diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak memiliki cacat atau cela sedikitpun.

Pada ayat yang lain, Alloh swt kembali memuji dan menyanjung sifat-sifatnya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah:128).

Dari ayat diatas, Alloh swt menjelaskan bahwa Rosululloh saw mempunyai tenggang rasa yang tinggi dan kepedulian yang sangat besar kepada semua umatnya.

Beliau saw merasa berat atas penderitaan yang kita alami. Beliau saw amat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kita semua. Beliau saw amat belas kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Tingginya pujian dan sanjungan Alloh swt bisa kita lihat dari pengujung ayat diatas, dimana Alloh swt menyematkan dua asma-Nya yang agung, Ar-Ro’uf (Dzat Yang Maha Pelimpah Kasih) dan Ar-Rohman (Dzat Yang Maha Pengasih) menjadi sifat pribadi Rosululloh saw.

Keagungan yang dimiliki oleh Rosululloh saw tidak hanya berupa keagungan budi pekerti tetapi juga keagungan fisik. Disamping aspek kejiwaannya yang sempurna, aspek fisik Rosululloh saw juga sempurna dan luar biasa. Tubuh beliau saw bercahaya, bersinar terang dan cerah. Beliau saw adalah nur yang sejati dan hakiki. Beliau saw adalah bulan purnama dan juga matahari yang selalu menyinari bumi.

Seorang sahabat, Hasan bin Tsabit melukiskan keagungan fisik Rosululloh dalam bait-bait syair berikut ini:

“Dan yang lebih indah dari engkau tidak pernah mata melihatnya sama sekali.
Dan yang lebih sempurna dari engkau tidak pernah ada wanita-wanita melahirkannya.
Engkau diciptakan lepas dari segala cela, seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana engkau kehendaki.”

Saam bin Hisyam bin Amr ra berkata kepada Sayyidah ‘Aisyah ra:
“Wahai Ummul Mukminin, beritahu aku tentang akhlak Rosululloh .?
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Apakah kamu membaca al-Qur’an .?”
Jawab Saam: “Iya”
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Sesungguhnya akhlak Rosululloh adalah al-Qur’an.” (HR. Ibnu Jarir, Abu Dawud dan Nasa’i)

Maha Suci Alloh dari sifat tercala yang telah memuji Rosul-Nya Nabi Muhammad saw, dengan pujian keagungan pribadinya.
Bagaimana mungkin seorang manusia dapat memuji Aklak beliau saw melampaui pujian Alloh swt .?
Bagaiman mungkin manusia dapat menguraikan pujian yang melebihi uraian al-Qur’an sebagai akhlak Nabi Muhammad saw .?

Al-Bushiri dalam Burdah bersya’ir:
“Dialah yang sempurna jiwa dan raganya, kemudian dipilih oleh Sang Pencipta makhluk sebagai Kekasih-Nya.
Tidak ada yang menandingi keindahan dan keelokannya.
Dia tidak ada duanya.
Mutiara keindahan yang ada padanya tidak pernah dimiliki siapapun.”

Sementara itu Sultan Abdul Hamid Khan bin Sultan Ahmad Khan menggubah syair berikut ini:
“(Nabi Muhammad saw) dialah segala pemilik keindahan.
Alloh swt yang menciptakannya.
Orang yang seperti dia tidak akan aku temukan di seluruh makhluk.”

Keagungan Rosululloh selain diakui oleh para sahabat dan seluruh umat muslim juga diakui oleh orang-orang non muslim, misalnya:

George Bernard Shaw (1856-1950): “Pribadi Muhammad (saw) sangat agung, aku mengaguminya dan aku penganut pandangan hidupnya. Sekiranya Nabi Muhammad (saw) dibangunkan di abad ini, niscaya dunia ini terhindar dari kesulitan dan bencana, dan manusia akan hidup aman dan tentram.”
(Riwayat Kehidupan Nabi besar Muhammad saw, Al-Hamid Al-Husaini).

Prof Montet:
“Ia (Nabi Muhammad saw) seorang mulia budi pekertinya, baik pergaulannya, manis tutur katanya, adil pertimbangannya, benar ucapannya dan serasi perbuatan dan perkataannya.”
(Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Moenawar Cholil).

Annie Bessant (1847-1933) dalam The Life and Teachings of Muhammad:
“Mustahil bagi siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad, hanya akan mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau (saw) adalah seorang Nabi terbesar dari Sang Pencipta.”
(Wawasan al-Qur’an, M. Quraish Shihab).

Michael H.Hart dalam bukunya yang berjudul The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History menempatkan Rosululloh saw pada urutan pertama diantara tokoh-tokoh dunia yang paling berpengaruh:
“Dialah (saw) satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik dititik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal dari keluarga sederhana, Muhammad (saw) menegakkan dan menyebarkan salah satu agama terbesar di dunia, agama Islam. Dan pada saat bersamaan, ia (saw) tampil sebagai pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini 13 abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta mengakar.”

PERINTAH ALLOH MEMUJI NABI MUHAMMAD

“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

ALLOH SWT MEMUJI NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt telah mengagungkan beliau saw, memuji beliau saw, menghormati beliau saw dan memuliakan beliau saw. Nama beliau saw diangkat tinggi-tinggi. Didudukkannya beliau saw dalam kedudukan yang tinggi.
Beliau saw adalah mutiara diantara pasir yang bertebaran. Beliau saw adalah permata di antara bebatuan berserakan.
Beliau saw memang manusia seperti kita, beliau saw makan, minum, menikah, pergi ke pasar, juga mengalami sakit dan seterusnya, tapi sejatinya beliau saw bukanlah manusia biasa, karena beliau saw Nabi dan Rosul. Beliau saw adalah manusia terbaik dan manusia pilihan diantara seluruh makhluk.

MAKNA HADIST ” JANGAN PUJI AKU SECARA BERLEBIHAN “

Sering kita mendengar propaganda yang melarang umat Islam memuji Nabi Muhammad saw. Di antara ucapan mereka yang tidak suka dengan amalan kita adalah, “Kita umat Islam tidak boleh mengkultuskan Rosululloh saw, tidak boleh memuji dan menyanjungnya secara berlebihan. Karena perbuatan itu merupakan bentuk kemusyrikan.

Mereka berpendapat seperti itu karena melihat hadist hanya sekilas teks sehingga terjadi pemahaman yang salah tentang itu. Rosululloh saw bersabda:
“Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Abduhu warosuluhu (hamba Alloh dan Rosul-Nya).”
(HR. Bukhori dan Ahmad).

Dari ucapan itu kita memahami, kalau memuji Nabi Muhammad itu menurut mereka adalah mengkultuskan atau mendewakan beliau saw. Sehingga mereka menganggap memuji-muji beliau (yang menurut mereka berlebihan) adalah termasuk musyrik.
Ini adalah tuduhan keji dan fitnah yang berat bagi para pecinta Nabi Muhammad saw. Orang-orang itu tidak mengetahui makna dan tujuan hadist, sehingga pemahamannya salah.

MEMUJI NABI MUHAMMAD SAW

NABI MUHAMMAD saw adalah yang paling agung dan mulia di antara seluruh manusia, sedangkan manusia yang paling mulia adalah yang paling taqwa.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.“ (QS. Hujurot :13).
Dan tentu saja Nabi Muhammad saw adalah yang paling taqwa di antara manusia.

Batasan memuji Nabi Muhammad saw yang tidak diperbolehkan adalah memuji seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan.

Nabi Isa as dipuji oleh ummat Nasrani sudah sangat melewati batas, menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan ya’ni disetarakan dengan Tuhan, bahkan menurut mereka, sebenarnya Yesus (Nabi Isa as) itu ya wujud Tuhan Alloh itu sendiri. Bedanya, Yesus itu Alloh yang ditampilkan dalam bentuk manusia.

Kalau Nabi Muhammad saw semua muslim sadar bahwa beliau itu Nabi dan Rosul Alloh, bukan Tuhan. Jadi mau dipuji setinggi langit pun kedudukan beliau saw ya tetap sebagai manusia.
Jadi kenapa harus takut syirik dengan memuji beliau saw dengan ungkapan sayidinna dan maulana… toh…! ummat beliau saw ga’ada yang mengkultuskan ke derajat Tuhan.

Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam sya’ir Burdahnya:
“Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka…
Pujilah beliau (Nabi Muhammad saw) sesukamu dengan sempurna…
Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya…
Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…
Karena sesungguhnya kemuliaan Rosululloh tidak ada batasnya…
Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya…”

PARA PENYA’IR MASA SAHABAT RA

Pada zaman Nabi saw. terdapat banyak penya’ir yang terkenal dan hebat datang kepada Rosulalloh saw. dan mempersembahkan kepada beliau saw berhalaman-halaman sya’ir mereka yang memuji dan mengagungkan beliau saw.

Didalam sya’irnya menceritakan mengenai dakwah dan peperangan yang beliau saw. pimpin serta sya’ir mengenai para sahabat. Ini dibuktikan dengan banyaknya sya’ir yang dikutip di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain.

Penyair-penyair tekenal mengagung-agungkan Rosulalloh saw dihadapan beliau saw dan para sahabat, tidak dilarang oleh Rosulalloh saw. dan tidak ada para sahabat yang mencela atau mengatakan hal tersebut berlebih-lebihan (ghuluw) dan sebagainya.

Rosululloh saw. amat menyenangi sya’ir yang indah, beliau saw bersabda:
“Terdapat hikmah didalam syair.”
(HR. Bukhori)

Paman Nabi saw al-‘Abbas ra mengarang sya’ir memuji kelahiran Nabi saw. diantara bait terjemahannya sebagai berikut:
“Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran cahaya sinar jalan yang terpimpin.”
(Imam as-Suyuti dalam Husnal-Maqosid dan Ibnu Katsir dalam kitab Maulid : 30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).

Ibnu Katsir menerangkan didalam kitabnya bahwa diantara para sahabat ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. memuji nama dan nasabnya serta membaca sya’ir mengenai diri beliau saw semasa peperangan Hunain untuk menambah semangat para sahabat ra dan menakutkan para musuh.

Pada hari itu beliau saw berkata:
“Aku adalah Rosululloh ..!
Ini bukanlah dusta.
Aku anak ‘Abdul Mutholib.”

Beliau saw. juga sering berkata:
“Akulah ash-habul-yamin yang terkemuka
Akulah khoirus-sabiqin
Akulah anak Adam yang paling bertaqwa
Dan paling mulia di sisi Alloh
Dan aku tidak sombong ..”
(Dalam Syarhul-Mawahib 1:62. dan (HR. At-Thobroni dan Al-Baihaqi didalam Dala’ilun Nubuwwah).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur, dan aku adalah orang pertama diberi syafa’at dan orang pertama pemberi syafa’at.”
(HR. Muslim dan Ahmad).

“Aku adalah sayyid semua manusia di hari kiamat.”
(HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

“Aku adalah sayyid (orang yang paling mulia) anak Adam di hari Kiamat nanti.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat di tanganku terdapat Liwaaul-Hamdi/panji pujian dan aku tidak sombong.
Tidak seorang Nabi pun pada hari itu baik Adam dan yang lainnya terkecuali dibawah naungan panji-panjiku dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur dan aku tidak sombong.”
(HR. Tirmidzi).

Masih banyak lagi kata-kata beliau saw. untuk dirinya. Kalau pujian-pujian ini semuanya dilarang maka tidak akan diucapkan dari lisan orang yang paling taqwa dan mulia Rosulalloh saw. serta dari lisan para sahabat yang ditujukan kepada beliau saw.

Hadits-hadits yang meriwayatkan pernyataan bahwa Rosulalloh saw sendiri yang menerangkan betapa mulia dan tingginya kedudukan beliau saw. disisi Alloh swt, itu tidak lain agar kita kaum muslimin dapat membedakan serta mengakui bahwa Alloh swt memberi kedudukan kepada Rosulalloh saw. paling tinggi dan mulia daripada makhluk-makhluk Alloh swt lainnya, dan sabda beliau tersebut sesuai dengan firman Alloh swt untuk beliau saw.
Dengan demikian kita tidak boleh menyamakan kedudukan dan kemuliaan beliau saw.dengan manusia biasa .!

Hasan bin Tsabit ia mendendangkan sya’ir yang bunyinya antara lain :
“Andalah (Rosulalloh saw) makhluk suci pilihan Alloh…
Andalah (Rosululloh saw) seorang Nabi dan keturunan terbaik Adam, keagungannya bagaikan ombak samudra… dan seterusnya…”
Beliau ra. sering melagukan dan membacakan sya’ir-sya’irnya didepan Sayyidul Mursalin Muhammad saw. dan didepan para sahabat beliau ra, dan tidak ada satupun yang mencela atau mengatakan berlebih-lebihan (ghuluw).

Tertera dibatu nisan Hasan ibnu Tsabit beliau menulis mengenai Nabi saw.:
“Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan didalam diriku, Aku hanya seorang yang telah hilang segala derita rasa,
Aku tidak akan berhenti daripada memujinya (nabi saw.), karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam sorga bersama-sama ‘Yang Terpilih’, yang daripadanya aku meng- harapkan syafa’at, dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu”.

Menurut riwayat yang berasal dari Abu Bakar Ibnul Anbari, ketika Ka’ab bin Zuhair dalam mendendangkan sya’ir pujiannya sampai kepada beliau saw.
“(Muhammad saw adalah) sinar cahaya yang menerangi dunia dan beliau laksana pedang Alloh yang ampuh terhunus. Sebagai tanda kegembiraan beliau saw., maka beliau saw menanggalkan kain burdahnya (kain penutup punggung) dan diberikan pada Ka’ab. Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pada masa kekuasaannya berusaha membeli burdah itu dari Ka’ab dengan harga 10.000 ribiu dirham, tetapi Ka’ab menolaknya. Setelah Ka’ab wafat, Mu’awiyyah membeli burdah pusaka Nabi saw. itu dari ahli waris Ka’ab dengan harga 20.000 ribu dirham.”

Banyak sekali hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi saw. tentang bagaimana mereka memuliakan dan mengagungkan Nabi saw. seperti Amr bin ‘Ash ra, Anas bin Malik ra, Usamah bin Syarik ra dan lain-lain. Semua pujian dan syair-syair ini tidak dilarang oleh beliau saw. Juga syair-syair tersebut boleh dilagukan dan diiringi dengan bermain gendang.

Seorang ahli hadits, Ibnu ‘Abbad telah memberikan fatwa tentang hadits Rosulalloh saw:
“Seorang wanita telah datang menemui Nabi saw diwaktu beliau saw. baru pulang dari medan peperangan, dan wanita itupun berkata:
“Ya Rosulalloh, aku telah bernadzar jika sekiranya, Alloh menghantarkan engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendang disebelahmu.”
Nabi saw pun bersabda:
“Tunaikanlah nadzarmu.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Dari Sayyidati ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw, telah membenarkannya untuk mengundang dua orang perempuan untuk menyanyi pada hari Raya, beliau saw memberitahu Abu Bakar ra:
“Biarkan mereka menyanyi karena untuk setiap ummat ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Maka berfikirlah… fahamilah… dgn pengertian yg mendalam… jangan menelan sebuah faham yg datang dari orang-orang jahil ..

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

ALLOH Yang Maha Tinggi mengistimewakan ummat islam dengan kesempurnaan sholawat kepada Nabi Muhammad

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Alloh swt Tuhan pemelihara alam semesta raya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Lalu Alloh swt mengajak para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Kemudian menyeru ummat yang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad
Setelah itu Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membalas sholawat mereka

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (at-Taubah : 103).

Nabi Muhammad pun berdo’a:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

“Tuhanku berilah ampunan dan berilah rohmat -kepada ummatku yang mukmin-,
dan hanya Engkau-lah pemberi rohmat yang paling baik.” (Al-Mu’minuun: 118).

Dan para malaikat serentak ikut mendo’akan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw:

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنِ نِالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ج وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ج وَذَالِك هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Tuhan kami, maka masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang sholeh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan
dan orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min: 8-9).

Maka Alloh swt berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan
Kami pertemukan -kumpulkan- anak cucu mereka dengan mereka
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari masing-masing pahala amal mereka
-sebab- Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya -sewaktu mereka di dunia-.” (At-Thur: 21)

Ada dua pendapat ulama berkaitan ayat QS. At-Thur: 21 diatas :

Pertama, Bahwa Alloh swt memberikan keni’matan yang lebih kepada orang mukmin yang menduduki derajat yang tinggi di sorga, dimana Alloh kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya.
Sehingga Alloh swt mengangkat derajat penduduk sorga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi, agar lebih menyenangkan hati mereka, sedangkan Alloh swt tidak mengurangi sedikitpun kedudukan derajatnya.

Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk sorga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Alloh swt akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan orang tuanya, agar orang tua merasa lebih senang berkumpul dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat orang tua sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya, maka derajat orang tua akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dan berkumpul dengan anaknya cucunya.

Kedua, ayat diatas berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh, ia masih belum memiliki amal, sedangkan amalan memelihara dan merawat adalah milik ayah dan ibunnya. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Alloh mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.

Menurut hemat penulis kedua pendapat ini tidak berselisih jauh, sehingga boleh jadi ma’na ayat diatas mencakup kedua-duanya.

أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

MENGENAL SEJARAH AGAR TUMBUH CINTA

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.

Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).

Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.

Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”

Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ
“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)

BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.

“Tali keimanan yang paling kokoh adalah; berloyal karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).

Dalam sabda beliau saw yang lain:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).

Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”

Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.

Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas melanjutkan:
“Sungguh kau mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

CINTA KEPADA NABI DAN PARA ULAMA’

Alloh swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki (para Nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” – (QS.16:43).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi).

Meninggalnya seorang yang ‘alim akan menimbulkan bahaya bagi ummat, keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt, terlebih Rosululloh saw mengistilahkan para ulama’ dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLOH swt kecuali melalui keta’atan kepada Rosululloh saw.
Dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ROSULULLOH saw kecuali melalui keta’atan kepada ULAMA’, kepada hamba-hamba Alloh -yang ahli dalam perkara al-Qur’an, as-Sunnah.

Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya .?

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Jika mampu jadilah kamu orang berilmu
jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu
jika tidak mampu jadilah pencinta ulama’
jika tidak mampu janganlah kamu membenci ulama’.”

Seorang ulama di era setelah sahabat, Ikrimah rohimahulloh mengatakan:
“Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena siapa yang menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rosululloh saw.
Sebab kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para Nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.”

MENGUNDANG KEHADIRAN MALAIKAT ROHMAT

Alloh swt menugaskan sebagian dari malaikatnya, bahkan yang termulia dari mereka para pemikul ‘Arsy, untuk memintakan ampunan bagi orang-orang beriman di muka bumi.

Alloh swt berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ العَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):
“Tuhan kami, rohmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mukmin : 7).

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللهَ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Alloh Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. As-Syuro : 5).

Istighfarnya para malaikat untuk kaum mukminin bukti bahwa malaikat lebih sayang kepada manusia daripada manusia kepada sesamanya. Bukan hanya istghfar, malaikat juga mendoakan kebaikan untuk mereka dengan rohmat, masuk sorga, dan agar dihindarkan dari keburukan-keburukan.

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn, yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana,” – (QS. Al-Mukmin : 8).

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu (hari kiamat), maka sesungguhnya, telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar’.” – (QS. Al-Mukmin : 9).

Berbeda dengan manusia, seringnya, sebagian manusia bermusuhan kepada sebagian yang lain. Sebagian mendo’akan keburukan atas lainnya. Bahkan, terkadang mendo’akan keburukan dirinya, istrinya, anaknya dan kadang juga orang tuanya ..

Maka tentunya, istighfar para malaikat memiliki keutamaan yang lebih tinggi daripada istighfar manusia untuk sesamanya. Istighfar para malaikat lebih kuat dikabulkan karena mereka mendo’akan dari tempat yang tidak dilihat dan tidak diketahui manusia yang dido’akannya. Dan do’a semaca ini, dalam hadits shohih, lebih kuat dikabulkan.

Dari Abu Darda’ ra, Nabi saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Alloh.
Di atas kepala orang muslim yang berdo’a tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya.
Setiap kali orang muslim itu mendo’akan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata:
“Amin (semoga Alloh mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim).

Ini tidak lain, karena malaikat melihat dosa-dosa yang dilakukan manusia dan mereka juga tahu dampak buruk akibat dari dosa-dosa tersebut. Sehingga istighfar untuk kaum mukminin yang lebih dahulu mereka lakukan, kemudian do’a-do’a kebaikan untuk mereka.

Di antara sebab supaya mendapat istghfar dari malaikat adalah menjenguk saudaranya sesama muslim. Bukan satu atau dua malaikat, tapi puluhan ribu malaikat memintakan ampunan untuknya.

Dari Ali bin Abi Tholib ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di sorga.” (HR. Tirmidzi).

Amalan ringan tapi memiliki keutamaan yang sangat luar biasa besar, ganjaran yang diperoleh ini karena seseorang telah menunjukkan sifat rohmat (kasih sayang) kepada sesamanya sehingga Alloh juga mencurahkan rohmat-Nya kepadanya.

Hal yang demikian itu juga telah ditegaskan Rosululloh saw, dalam sabdanya :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أهل الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهل السَّمَاء
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rohman (Alloh swt).
Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penghuni langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Ahmad).

Maka orang yang banyak memintakan ampunan ;
أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
dan mendo’akan kebaikan untuk saudara muslim yang seiman dengan menyarkan sholawat kepada Nabi Muhammad saw ;
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَيْنَا أُمَّتِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
tentu akan lebih banyak mendapatkan istighfar dan do’a kebaikan dari malaikat-malaikat Alloh swt.

Bahkan do’a seorang muslim untuk saudaranya tanpa diketahuinya tidak hanya diaminkan oleh Malaikat yang ada di sisinya. Alloh swt juga telah menyiapkan pahala melalui setiap mukmin yang dido’akan ampunan olehnya. Rosululloh saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk setiap orang beriman laki-laki dan perempuan maka Alloh mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.” (HR. Thobroni).

Masih pelit dan kikir untuk memberikan kebaikan kepada suadara muslim yang seiman .?
Masih enggan memintakan ampunan atas kesalahan-kesalahan saudara seislam dan seiman .?
Pikirkanlah ..!! dan Renungkanlah ….!!!!

ARTI NAMA AHMAD

Alloh swt berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ ۚ يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

”Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalowat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-Nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as telah memberi kabar kepada ummatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam.

Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Alloh swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Isra’il, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. As-Shof : 6).

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Alloh swt yang tentunya ada ma’na yang terkandung didalamnya.

Nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filosof tentang adanya gerakan dalam sholat.
Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri.
Huruf cha’ (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk.
Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud.
Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat sholat.

Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighot mubalaghoh (bentuk yang mempunyai arti banyak), dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad saw, nama dari Nabi Muhammad saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt. 

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)”
Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Alloh swt yang sangat unik.
Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Alloh swt dalam diri Nabi Muhammad saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta.
Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Alloh swt dengan sang kekasihnya yang mutlak.
Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw merupakan mediator antara makhluk dengan Kholiq (Yang Maha Pencipta). 

Menurut Iqbal seorang ulama pakistan mengatakan:
“Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Alloh swt dalam kehidupan manusia. Dialah “dhohir”nya Alloh; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Kholiqnya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran Alloh dalam diri anda, hadirkan Muhammad ketika anda ingin disapa oleh Alloh, sapalah Muhammad ketika anda ingin dicintai Alloh, cintailah Muhammad “Apabila kalian cinta kepada Alloh maka ikutilah aku (Muhammad) Alloh akan cinta kepada kalian.”
Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Seperti kata Nabi saw: “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad saw, Rosululloh saw juga mempunyai nama Muhammad saw. Nama ini pemberian dari Alloh swt yang dibisikkan malaikat Jibril as kepada Aminah ibunda Nabi saw.

Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Ali Maksum Krapyak Yogya dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rosululloh saw dengan membaca sholawat untuknya.

Nama Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  cha’ (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

Selain itu, ada juga ma’na-ma’na yang tersembunyi lagi. Yaitu:
Huruf mim menunjukan kata “Minnah” (anugerah). Alloh swt memberi anugerah kepada Rosululloh saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya.
Huruf cha’ menunjukan kata “Hubbun” (cinta). Alloh swt mencintai Nabi Muhammad saw dan ummatnya melebihi cintanya kepada Nabi dan Rosul yang lain beserta ummatnya.
Huruf mim yang kedua menunjukan kata “Maghfiroh” (ampunan). Alloh swt mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk ummatnya, maka  Alloh swt akan mengampuni dosa-dosa ummat Nabi Muhammad saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Alloh swt.
Huruf dal menunjukan kata “Dawaamuddin” (abadinya agama Islam). Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.

Kesimpulan dari semua ini, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah sholat. Sebab, sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-Nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw.
Jika seseorang sudah menjalankan sholat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan anugrah rohmat dan dimasukkannya oleh Alloh swt ke dalam sorga-Nya. Karena ummat Nabi Muhammad saw yang masuk ke sorga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian .?
Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka.

IKHLAS SHOLAT

Sebuah pengalaman Spiritual dalam iman seorang guru besar mengatakan bahwasanya di dalam setiap ibadah yang kita kerjakan harus bisa menyentuh dan memasuki dimensi spritual. Dimensi spiritual itu tidak lain adalah ihsan:
“An ta’budalloh ka annaka taroohu waillam yakun taroohu fainnahu yarooka”. Kita beribadah kepada Alloh seakan kita melihat-Nya, apabila kita tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita”.

Ulama-ulama dahulu sering berdebat seputar masalah “MELIHAT ALLOH” di akhirat nanti.
Menurut paham sebagian besar ulama, di akhirat nanti Alloh swt dapat dilihat, “yang tak dapat terlihat itu hanyalah yang tak mempunyai wujud”. Yang mempunyai wujud mesti dapat dilihat. Sedangkan Alloh swt “mempunyai wujud”.

Sementara argumen ulama yang lain, “Alloh swt tidak dapat dilihat” Argumen mereka, dikatakan “Alloh swt tak mengambil tempat dan dengan demikian tidak dapat dilihat karena yang dapat dilihat hanya yang mengambil tempat.”

Kedua paham yang saling bertolak belakang ini pun memakai dalil-dalil Al-Qur’an untuk menegaskan pendapatnya, di antaranya surat al-Qiyamah ayat 22-23 :
“Wajah-wajah orang mukmin pada waktu itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka nadhirah (melihat).”  
Menurut paham ulama yang pertama kata nadhirah dalam ayat itu harus diartikan melihat, bukan berpikir, sebab akhirat bukan tempat berpikir. Kata itu juga tidak bisa diartikan menunggu karena wujuh, ya’ni muka atau wajah, tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia.
Sedangkan menurut ulama kedua kata nadhoro harus di artikan menunggu. “nadhora bukan berarti ru’yah (Arab : Melihat),”
Itulah teolog-teolog dahulu, mereka punya argumen masing-masing untuk meneguhkan keyakinannya.

Tapi, yang lebih penting sebenarnya bukan bisa atau tidak bisanya kita melihat Tuhan di akhirat nanti, melainkan bagaimana di dalam setiap beribadah kita seakan-akan ada di hadapan-Nya, “melihat”-Nya, atau meyakini bahwa kita “dilihat-Nya”, supaya ibadah kita benar-benar bisa memasuki satu pengalaman spritual yang indah dan menakjubkan.

Misalnya, ketika kita berdzikir atau sholat. 
Sholat yang ihsan bisa membawa kita pada satu pengalaman yang sepenuhnya terjadi komunikasi dan dialog langsung dengan Alloh swt, yang pada akhirnya akan membekas pada hati dan akal pikiran kita, dan akan memberikan dorongan untuk mencegah dan menjauhi perbuatan keji dan munkar.

Sholat tanpa pengalaman spritual di dalamnya hanya akan menggugurkan kewajiban kita semata, tidak akan menjadi satu perisai untuk menghadapi perbuatan keji dan munkar. Sholat yang tidak mencapai ihsan tidak akan menimbulkan satu komitmen moral dan tindakan aktual dalam memperjuangkan kebenaran. 
Salah besar jika ada orang yang mengatakan bahwa sholat itu tidak penting .. Tetapi SHOLAT SANGATLAH PENTING.

Kata mereka yang lupa, “Yang penting adalah perjuangan membela golongan orang-orang kaum kecil,” Justru dengan sholat yang ihsan akan membimbing kita dalam perjuangan itu, supaya tidak anarkis dan brutal, kita akan dituntun oleh NAFSUL-MUTHMAINNAH.

An-Nafs Al-Muthmainnah artinya Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa mengingat Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa gemar berdekatan dengan Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam ketaatan kepada Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram baik ketika ditimpa musibah maupun mendapatkan ni’mat.

Jika mendapatkan musibah, ia ridho terhadap taqdir Alloh swt. Jika kehilangan sesuatu, ia tidak putus asa, dan jika ia mendapatkan ni’mat, ia tidak lupa daratan. Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam iman. Tidak tergoyahkan oleh keragu-raguan dan syubhat. Jiwa/nafsu yang rindu untuk bertemu dengan Tuhannya. 
Dan inilah jiwa/nafsu yang ketika wafat dikatakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (QS Al-Fajr: 27-28)

Pengalaman Iman akan membawa seseorang pada perkenalan dengan Alloh swt secara pribadi. Ia mengenal Alloh swt karena imannya sanggup membawanya pada “perjumpaan” dengan-Nya. Yang namanya pengalaman pastinya objektif, pengalaman iman pun seperti itu adanya, namun terjadi secara spiritual.

DUNIA SUFI

Puncak dari perjalanan iman yang bersifat spiritual yang ada di dunia yang fana ini adalah Pengalaman “PERJALANAN” Isro’ Mi’roj nya Nabi kita Muhammad saw dan kembalinya beliau saw ke dunia yang brutal ini. Itulah Rosul kita.

Kita tahu bahwa tujuan kita hidup di dunia ini ingin bertemu dengan Alloh swt, namun Rosululloh saw berbeda beliau saw kembali lagi ke dunia untuk memberikan pencerahan bagi umat manusia.
Seorang Sufi mengatan:
“Demi Alloh, seandainya aku Muhammad saw, aku tidak ingin kembali lagi ke dunia karena sudah bertemu dengan Tuhan, sedangkan Tuhan adalah tujuan terakhir hidupku, mengapa ketika aku sampai ke puncak tujuanku aku harus kembali lagi ke dunia yang fana ini.”

Kembalinya Rosululloh saw ini pun bisa kita pahami dari bahasa-bahasa beliau saw. Bahasa-bahasa hadits ini tidak membuat kita bingung tujuh lapis. Berbeda dengan bahasa para sufi, “Aku adalah al-Haqq,” kata al-Halaj.
Para sufi begitu asyik di dunianya yang telah “berjumpa” Alloh swt. Mereka mabuk dalam keindahan Alloh swt. Ketika mereka mabuk, mereka tidak mampu dan bisa kembali lagi ke dunia manusia; dalam pema’naan bahasa, mereka tak turun ke bahasa manusia biasa seperti kita.

Rosululloh tidak akan membingungkan umatnya.
Bahkan Beliau swt sendiri berkata dalam hadits shohih, “Saya bukan Tuhan dan Anak Tuhan”.
Kembalinya Rosululloh saw. ke dunia setelah bertemu dengan Tuhan mengisyaratkan bahwa pengalaman spiritual kita pun harus kembali membumi dalam kehidupan sehari-hari dengan terus menerus tak kenal lelah memperjuangkan kebajikan dan kebenaran.

Wallohu a’lam bish-showab.

MENGUNJUNGI ROSULULLOH SAW

Dari Ibnu Umar ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa yang datang menziarahi aku, niscaya aku punya hak atas Alloh sebagai pemberi syafa’at.”
(HR. Thobroni)

Alloh swt berfirman:

أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri (berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Dari Ibnu Umar ra Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menziarahiku sepeninggalku, seakan-akan ia menziarahi aku semasa aku masih hidup.”
(HR. Thobroni)

Beliau saw juga bersabda:
“Kehidupanku baik untuk kamu, maka bila aku wafat, wafatku baik untuk kamu, dipaparkan kepadaku amal-amal kamu, kalau kutemukan amal itu baik, aku memuji Alloh, dan bila buruk, aku beristighfar memohonkan pengampunan untuk kamu.”
(HR. Ibnu Sa’ad melalui Bakar bin Abdillah)

Dengan demikian permohonan ampunan Rosul saw kepada Alloh swt, bagi ummatnya ada, dan berlanjut terus, maka yang di tuntut dari diri kita yang hidup setelah masa Rosul saw, tidak lain kecuali menziarahi “Datang kepada beliau” dengan memohon ampun kepada Alloh swt dan mengikuti sunnah yang beliau saw tinggalkan buat kita seperti yang beliau saw nyatakan melalui Abu Huroiroh bahwa Rosululloh saw bersabda:
“Aku tinggalkan buat kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Alloh dan sunnahku, keduanya tidak terpisah hingga keduanya menemuiku di sorga.”
(HR. Al-Hakim)

Mengapa permohonan ampun Rosul saw kita butuhkan .?
1. Pelanggaran pada hukum yang telah ditetapkan Rosul saw mengandung pelecehan terhadap beliau saw, sehingga mereka harus memohon maaf kepada beliau saw dan beliau harus memaafkan.
2. Mereka yang melanggar itu tidak rela pada hukum yang ditetapkan Rosul saw, dan ini mengandung pembangkangan.
Karena itu taubat mereka harus disertai sesuatu yang membuktikan penyesalan mereka atas pembangkangan tersebut, maka mereka harus datang kepada Rosul saw.
3. Boleh jadi taubat mereka tidak sempurna atau mengandung kekurangan, maka dengan bergabungnya taubat mereka dengan permohonan ampun Rosul saw buat mereka, diharapkan mereka dapat memperoleh pengampunan Alloh swt.

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rosululloh saw menegaskan dengan sabdanya:
“Barang siapa memiliki kemudahan, namun tidak menziarahi aku, berarti ia sengaja menjauhi aku.”
(HR. Ibnu Hibban, Imam Malik, Ibnu ‘Adi, Imam ad-Daruquthni)

KISAH BADUWI BERZIARAH KE KUBUR NABI SAW

Sepeninggal Rosululloh saw , seorang Baduwi datang ke Madinah, ia bermaksud menjumpai beliau saw.
Sesampainya di Madinah, ia bertanya kepada sahabat yg dijumpainya, di mana ia bisa bertemu Rosululloh saw.
Tapi dikatakan kepadanya bahwa Rosululloh saw telah wafat, dn di makamkan di samping masjid , di kamar Sayyidati ‘Aisyah ra.

Mendengar berita tersebut, Badwi itu sangat bersedih, air matanya bercucuran, karena tidak sempat berjumpa dgn Rosululloh saw.
Segera ia menuju makam, di hadapan makam beliau saw, ia duduk bersimpuh, mengadukan dn mengutarakan kegelisahan dn kegundahan hatinya.
Dgn linangan air mata, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, engkau Rosul pilihan, makhluk paling mulia di sisi Alloh.
Aku datang untuk berjumpa denganmu untuk mengadukan segala penyesalanku dan kegundahan hatiku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku, namun engkau telah pergi meninggalkan kami.
Aku datang karena Alloh telah berfirman melalui lisanmu yang suci:
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri
(berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian, pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Kini aku datang kepadamu untuk mengadukan halku, penyesalanku atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat di masa laluku, agar engkau mohonkan ampunan kepada Alloh bagiku.”

Setelah mengadukan segala keluh kesah yg ada di hatinya, Badwi itu pun meninggalkan makam Rosululloh saw.

Ketika itu di Masjid Nabawi ada seorang sahabat Rosululloh saw tengah tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi Nabi saw.
Beliau saw bersabda:
“Wahai Fulan, bangunlah dan kejarlah orang yang tadi datang kepadaku.
Berikan kabar gembira kepadanya bahwa Alloh telah mendengar permohonannya dan Alloh telah mengampuninya atas segala kesalahan dan dosanya.”

Sahabat tadi terbangun seketika itu juga, tanpa berpikir panjang ia pun segera mengejar orang yang dikatakan Rosululloh saw dalam mimpinya.
Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud pun terlihat olehnya, sahabat itu memanggilnya dan menceritakan apa yang dipesankan Rosululloh saw dalam mimpinya.

Awan Tag