Archive for the ‘MUTIARA HADITS’ Category

ISTIGHFAR

ISTIGHFAR MEMOHON AMPUNAN DENGAN
KALIMAT TAUHID DAN SHOLAWAT

Sayyidina Abu Bakar as-shiddiq ra, seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang paling jujur diantara para sahabat, berkata:
“Aku mendengar dalam haji wada’, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ الله عَزَّ وجَلَّ قَدْ وَهَبَ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ عِنْدَ اْلإِسْتِغْفَارِ فَمَنِ اسْتَغْفَرَ بِنِـيَّةٍ صَادِقَةٍ غُفِرَ لَهُ وَمَنْ قَالَ لاَإِلهَ إِلاَّ الله رَجَحَ مِيْـزَانُهُ وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُنْتُ شَفِيْعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya Alloh ‘Azza wajalla memberikan anugrah (mengampuni kalian saat lerlanjur berbuat maksiat dan melebur) dosa–dosa kepada kalian ketika kalian istighfar, maka barang siapa beristighfar dengan niat yang sungguh, ia pasti mendapat ampunan.
Dan barang siapa mengucapkan لاإله إلا الله maka timbangannya akan unggul. dan barang siapa bersholawat atasku maka aku menjadi orang yang memberikan syafa’at kepadanya di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

ISTIGHFAR memiliki keutamaan yang agung dan sangat banyak sekali. Istighfar bisa menjadi sebab datangnya keberkahan pada rizki, keturunan, dan kekuatan. Istighfar juga menjadi sebab turunnya pertolongan Alloh dan solusi dari problematika yang dihadapi hamba. Cukup banyak nash dari al-Qur’an dan Hadits menerangkannya.

Perintah istighfar bukan saja ditujukan untuk dosa mustaghfir (orang yang beristighfar). Tapi juga diperintahkan untuk dimintakan bagi saudara seiman.

Alloh swt berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).

Alloh swt mengajarkan do’a kepada para Nabi dan Rosul yang diabadikan-Nya dalam al-Qur’an :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.” (QS. Ibrahim: 41).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Tuhanku, Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dholim (Kafir-Harbi) itu selain kebinasaan”.” (QS. Nuuh: 28).

Alloh mengabadikan sifat Ahlussunnah wal Jama’ah dalam al-Qur’an, yang salah satu sifat mereka suka mendo’akan kebaikan kepada saudara seiman mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman .. Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasy: 10).

KALIMAT TAUHID

LA ILAHA ILLALLOH لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ tidak ada sesembahan yang benar dan berhak disembah kecuali Alloh semata.

Kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ terdapat empat kata yaitu:
Kata Laa ( لآُ ) berarti menafikan, ya’ni meniadakan semua jenis sesembahan yang benar kecuali Alloh.
Kata ilaha ( إِلَهَ ) berarti sesuatu yang disembah.
Kata illa ( إِلاَّ ) berarti pengecualian.
Kata Alloh ( الله ) berarti tuhan/sesembahan yang benar.

Dengan demikian ma’na لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah menafikan segala sesembahan selain Alloh dan hanya menetapkan Alloh saja sebagai sesembahan yang benar .

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Alloh) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Alloh, itulah yang batil, dan sesungguhnya Alloh, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62).

Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.
Misalnya saja sholat, Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu’ .. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya.
Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini .. Kalimat لاإله إلا الله .. tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.

Oleh karena itu, para ulama telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat لاإله إلا الله .. Seperti yang telah ditegaskan oleh Alloh dalam surat Muhammad ayat 19 ..

Alloh swt berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
“Maka ketahuilah .. bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang Hak), melainkan Alloh …”
– (QS.47:19).

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh, maka dia masuk sorga.” (HR. Muslim).

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan لاإله إلا الله , dan dia berharap rodho Alloh dari ucapannya tersebut.” (HR Bukhori dan Muslim).

Yaitu mengiringi pengetahuan itu dengan melaksanakn perintah memohon ampunan Alloh atas dosa-dosanya disertai permohonan ampunan atas dosa-dosa orang-orang mukmin dan mukminat ..

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“… dan mohonlah ampunan bagi dosamu .. dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan …” – (QS.47:19).

Merekalah orang-orang yang beruntung mendapatkan syafaat Nabi Muhammad saw di hari akherat kelak, dalam hal ini Abu Huroiroh ra, menuturkan bahwa Rosululloh saw bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhori).

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi (orang yang mendapat syafa’at ialah) orang yang mengakui dengan benar (kalimat لاإله إلا الله ) dan mereka meyakini (dengan mengikuti perintahnya).” (QS. Az Zukhruf : 86)

“dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha, dan tempat tinggalmu.” – (QS.47:19).

Alloh swt berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui .?”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar [39] : 9)

Seorang ulama berkata:
“Ayat yang berbunyi :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
Pikirkanlah Huruf ف pada ayat 19 dalam surat Muhammad .. apa pendapatmu .!”

Adalah FA’ al-fashihah, artinya, jika engkau mengetahui hal ini, maka perhatikanlah bagaimana pandanganmu. Adapun pandangan di sini adalah pandangan dengan akal (pendapat), bukan dengan penglihatan (mata).

Ma’nanya di sini, perhatikanlah sesuatu yang dengan-nya kamu hadapi perintah ini .. Sebab perintah ini, ketika berkaitan dengan pribadi seorang manusia .. maka dia punya bagian dalam pelaksanaan .. Sehingga tawaran Alloh ini adalah perntah sekaligus peringatan .. seberapa jauh ketaatannya menyambut perintah Alloh pada dirinya, sehingga terwujudlah keridhoan dan kesiapan untuk menjalankan perintah ..

Artinya di sini, perintah tersebut tergantung kepada dua hal: `wahyu Alloh dan penyampaian Rosul pada ummat` .. Sehingga andaikata seseorang mendurhakai yang menyampaikan, tentulah keadaannya menjadi fasiq ..”

Maka, jelaslah bahwa di antara sebab paling utama untuk meraih derajat wali “orang yang dicintai Alloh” ini adalah senantiasa memeliha kesucian hati memurnikan iman kepada Alloh dan Rosul-Nya serta memelihara kebersihan dari pikiran kotor terhadap saudara seiman ..

Seorang bertanya kepada ulama :
”Bukankah kunci sorga adalah لاإله إلا الله .?”
Beliau menjawab:
”Ya betul .. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi .. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka .. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.”
Beliau mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah kalimat لا إله إلا الله محمد رسول الله ..”

Alloh swt berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:
“Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Alloh”
Dan Alloh mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya; dan Alloh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun [63] : 1).

Dari Mu’adz bin Jabal ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Alloh akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhori  no. 128).

Dari ayat dan Hadits diatas kita bisa mengambil kesimpulan yang maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat لا إله إلا الله محمد رسول الله ialah orang yang mencintai Alloh dan Rosul serta mencintai pula kaum mukminin dan muslimin dengan istghfar memohonkan ampunan kepada Alloh swt.

Minimal bacaan istighfar untuk kaum mukminin dan mukminat adalah bacaan kalimat:
• أَستَغْفِرُاللَّهَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Nabi Muhammad saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan maka Alloh mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.” (HR. al-Thobroni).

Dari Abu Darda’ ra, Nabi saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Alloh. Di atas kepala orang muslim yang berdo’a tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendo’akan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata:
‘Amin (semoga Alloh mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa’.” (HR. Muslim).

Keutamaan yang besar ini diberikan kepada mereka yang memiliki sifat rohmah kepada saudara seimannya, menginginan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Sehingga rohmah yang diberikannya kepada saudaranya seiman menjadikan rohmah dari Dzat yang dilangit turun kepadanya. Bahkan lebih dari itu, pahala melimpah sebanyak orang beriman yang mendapat kebaikan dari do’anya tersebut akan diperolehnya.

MENGUTIP PENDAPAT IBNU HAJAR TENTANG SYAFA’AT ROSULULLOH

Ketika Abu Huroiroh ra bertanya kepada Rosululloh tentang orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’at kelak di hari kiamat, maka Rosululloh saw bersabda :

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atku kelak di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan لا إله إلا الله ikhlas dari dalam hatinya atau dari dirinya.” (HR. Bukhori no. 99).

Dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqolany di dalam Fathul-Baari bisyarah Shohih Al-Bukhori bahwa, maksud dari hadits ini bukan hanya kalimat لا إله إلا الله saja namun yang dimaksud adalah
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Namun Rosululloh saw bersabda dan meringkasnya hanya dengan kalimat لا إله إلا الله saja.

Menurut Qi sanak Hadits diatas menjelaskan juga bahwa semakin kita mendalami dan memahami ma’na لا إله إلا الله محمد رسول الله , maka akan semakin cepat kita mendapkan syafa’at Nabi Muhammad saw, karena seluruh hakikat ibadah tiadalah berarti tanpa kalimat لا إله إلا الله محمد رسول الله yang merupakan permulaan iman dan tidak akan pernah ada akhirnya, ketika ia melakukan ibadah-ibadah yang lainnya seperti sholat, puasa, zakat dan haji kesemua itu hakikatnya adalah dalam keadaan islam dengan berkeyakinanan لا إله إلا الله محمد رسول الله .

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw juga memberi syafa’at kepada orang non muslim, orang munafik, para pendosa, sebagaimana beliau memberi syafa’at kepada para sholihin, sebagaimana Abu Tholib yang sebagian pendapat mengatakan bahwa ia telah wafat dalam keadaan di luar Islam, namun disyafa’ati oleh Nabi saw.

Sebagaimana riwayat Shohih Al-Bukhori dimana Abu Tholib berada di dalam jurang neraka namun Rosululloh saw memberinya syafa’at sehingga dia hanya berada di pinggir neraka, dan insya Alloh akan mendapatkan syafa’at lagi kelak di hari kiamat, karena disebutkan pula bahwa Abu Tholib wafat dalam keadaan Islam namun tidak mau mengucapkan لاإله إلا الله , bukan karena ia ingkar terhadap kalimat لاإله إلا الله akan tetapi karena ia khawatir jika mengucapakannya maka Rosululloh saw akan semakin dipersulit oleh kuffar quraisy di saat itu, maka Abu Tholib tidak mau mengucapkannya, padahal sudah diperintah oleh Rosululloh saw, dan menolak perintah Rosululloh saw adalah dosa yang sangat besar karena bisa menyebabkan sampai pada kekufuran, inilah dosa Abu Tholib, namun ia tetap disyafa’ati oleh Nabi Muhammad saw.

Rosululloh saw juga mensyafa’ati para pendosa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqolany di dalam Fathul-Baari bisyarah Shohih al-Bukhori bahwa, diantara mereka para pendosa ada yang telah masuk ke dalam neraka lalu dikeluarkan oleh Rosululloh saw, diantara mereka ada yang akan masuk neraka namun Rosululloh saw mensyafa’atinya sehingga tidak masuk ke dalam neraka, dan ada pula yang telah layak untuk masuk neraka namun dibatalkan karena syafa’at Nabi Muhammad saw, ada pula yang memang tidak masuk neraka namun ia menghadapi hisab yang sangat lama karena berat dan sulit kemudian dipermudah oleh Rosululloh saw dengan syafa’atnya, diantara mereka ada yang seharusnya menjalani hisab sebelum masuk ke sorga namun diberi syafa’at oleh Rosululloh saw sehingga tidak perlu dihisab lagi dan langsung memasuki sorga, ada juga yang telah masuk ke dalam sorga kemudian disyafa’ati oleh Rosululloh saw agar dinaikkan ke derajat yang lebih tinggi di sorga, beliaulah shohib as syafa’ah Nabi Muhammad saw.

Bersambung ..

Iklan

KELEMBUTAN ROSULULLOH  صلى الله عليه وسلم

KELEMBUTAN ROSULULLOH صلى الله عليه وسلم

Ibnu Abbas ra berkata:
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ … فَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Rosululloh صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang paling lembut … Bahkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhori).

GANJARAN YANG BERKESINAMBUNGAN

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.”
(HR. Muslim)

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

DENGKI DAN BURUK SANGKA

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Dengki menghancurkan kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu kering.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh.” (HR. Bukhori).

MENCINTAI NABI  صلى الله عليه وسلم
LEBIH DARI ORANG TUA DAN ANAK

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
“Maka demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya.” (HR. Bukhori).

Dari Anas ra, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya.” (HR. Bukhori).

Dari Anas ra, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori).

TIDAK MENYAKITI SAUDARANYA

Sahabat Abu Musa ra, bertanya kepada
Rosululloh صلى الله عليه وسلم :
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ
“Ya Rosulalloh, orang Islam bagaimanakah
yang paling utama .?”
Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjawab:
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Siapa saja kaum muslimin yang selamat
dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhori).

Dari Abdulloh bin ‘Amru ra, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir (yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori).

MEMEBERI MAKAN SAUDARANYA

Diantara sahabat ra, bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم :
أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ
“Islam manakah yang paling baik .?”.
Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhori).

MANISNYA IMAN

Dari Anas bin Malik ra, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:
1. Dijadikannya Alloh dan Rosul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya.
2. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Alloh.
3. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhori).

MALU BAGIAN DARI IMAN

Dari Abu Huroiroh ra, dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhori).

DO’A SEORANG MUSLIM

Keutamaan mendo’akan kebaikan untuk sesama mukmin tanpa sepengetahuannya.

Salah satu tanda eratnya persaudaraan dengan sesama muslim adalah mendo’akan muslim lainnya yang tidak berada di hadapannya, atau tanpa sepengetahuannya .. Saat seorang muslim mendo’akan muslim lainnya yang berada jauh dari tempatnya, tanpa sepengetahuannya, dengan do’a-do’a yang baik, niscaya do’a tersebut akan dikabulkan Alloh swt dan secara otomatis do’a tersebut juga untuk dirinya sendiri.

Dari Ummu Darda’ dan Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah do’a mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdo’a) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendo’akan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin .. dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hadits ini merupakan sebuah modal berharga bagi seorang muslim untuk banyak mendo’akan kebaikan bagi saudara-saudara mukmin mukminat seluruh jagad .. Selain mendapatkan pahala mendo’akan mereka, kita juga akan mendapatkan kebaikan dari do’a yang kita panjatkan tersebut.

Misalnya dengan do’a istighfar :

أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Aku memohon ampun kepada Alloh Yang Maha Agung untuk mukmin laki-laki dan mukmin perempuan.”

Mendo’akan kebaikan untuk sesama mukmin sama halnya dengan mendo’akan kebaikan untuk diri sendiri, sebagaimana dijelaskan di akhir hadits di atas .. Malaikat mengamini do’a kita dan Rosululloh saw menjamin bahwa Alloh swt akan mengabulkannya.

Dalam hadts yang lain Rosululloh saw bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendo’akan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim).

Mendo’akan sesama muslim tanpa sepengatahuan orangnya termasuk dari sunnah hasanah yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi dan Rosul, para ulama, para wali juga orang-orang sholeh dan yang mengikuti mereka .. Mereka senang kalau kaum muslimin dan mukminin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun menyertakan do’a untuk saudaranya di dalam setiap do’a mereka sendiri.

Dari anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda :
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

SAUDARA MUKMIN ADALAH CERMIN BAGI YANG LAINNYA

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (HR. Bukhori dan Abu Dâwud).

Coba kita perhatikan ketika kita melihat kaca, lalu melihat ada sesuatu yang kotor di tubuh kita di cermin tersebut, maka tentu kita akan bersihkan. Hasil cerminan itulah saudara kita. Jadi salinglah menghendaki kebaikan satu dan yang lain, bukan malah ingin mengotori.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.”

المؤمن مرآة أخيه، والمؤمن أخو المؤمن؛ يكف عليه ضيعته، ويحوطه من ورائه
“Seorang Mu’min adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Dia tidak merusak harta miliknya dan menjaga kepentingannya.”

من أكل بمسلم أكلة؛ فإن الله يطعمه مثلها من جهنم،
“Siapa yang mencari makan dengan (mengorbankan) seorang muslim, maka Alloh akan memberinya makan dengan yang semisal dari neraka Jahannam.
ومن كُسِيَ برجل مسلم، فإن الله عز وجل يكسوه من جهنم،
Dan siapa yang mencari pakaian dengan (mengorbankan) seorang muslim, sesungguhnya Alloh akan memberinya pakaian dari Jahannam.
ومن قام برجل مقام رياء وسمعة؛ فإن الله يقوم به مقام رياء وسمعة يوم القيامة
Dan siapa yang menempati suatu kedudukan dengan tujuan riya’ dan sum’ah, maka Alloh akan menempatkannya pada kedudukan orang yang riya’ dan sum’ah di hari kiamat.”

Hadits-hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam `Adabul Mufrod` dan Abu Dawud dalam `Al-Adab`.

Seorang Mukmin ketika menimbang saudaranya seperti ia sedang memandang di cermin, ya’ni ia melihat dirinya sendiri. Sehingga ia tidak suka menimpa saudaranya apa yang tidak ia suka jika menimpa dirinya. Hal ini seperti sabda Nabi shollallahu alaihi wa salam :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaqun alaih).

Seorang Mukmin ketika melihat aib saudaranya, hendaknya menutupi dan memperbaikinya dengan nasehat yang baik. Bukankah dirinya tidak suka jika aibnya tersebar di tengah masyarakat. Nabi saw bersabda :
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Alloh akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaqun alaih).

Seorang Mukmin tidak layak melakukan ghibah dibelakang saudaranya, karena ia berarti seperti memakan bangkai saudaranya. Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati .? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot : 12).

Seorang Mukmin tidak boleh mengambil harta saudaranya secara dholim, Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS. An-Nisaa’ : 29).

Apabila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri seserang, maka artinya jiwanya masih perlu untuk dibina .. Sebab hal tersebut selain merusak amal juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah dilakukannya.

Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita .. Oleh karena itu, Rosululloh saw menegaskan bahwa

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما
“Tiada dua orang yang saling mencintai karena Alloh ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya.” (HR. Bukhori).

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam .. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Alloh swt. Pintu-pintu sorga tertutup bagi mereka sebagaimana Rosululloh saw bersabda:

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا
“Pintu-pintu sorga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai .. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai .. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim).

Abu Darda’ ra berkata :
“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada shodaqoh dan puasa .?
(yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berbusuhan .. dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Bukhori).

SEORANG MUSLIM YANG BAIK

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain ..
Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendholimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rosululloh saw :
وكونوا عباد الله إخوانا
“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Seorang muslim yang baik tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.

Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih.
Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Alloh, kitab-Nya dan Rosul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tali persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang baik juga memiliki watak setia kepada saudaranya.
Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dholim atau di dholimi .. Pada saat berbuat dholim maka ia mencegah dan saat didholimi maka ia melakukan pembelaan.
Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok.
Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Alloh swt.

Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang baik akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya.
Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya.
Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang baik selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.

jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendo’akan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka).
Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian.

Dalam setiap kesempatan ia selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Alloh sebagaimana yang diinginkan Islam. Semoga Alloh senantiasa membekali kita dengan akhlak mulia.

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK

KARENA ALLOH

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa
Memberi karena Alloh
Menolak karena Alloh
Mencintai karena Alloh
Membenci karena Alloh, dan
Menikah karena Alloh
Maka sempurnalah imannya.”
(HR. Abu Dawud).

KEWAJIBAN SHODAQOH

Rosululloh saw bersabda:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ، يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ ، فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bershodaqoh setiap harinya mulai matahari terbit.
Berbuat adil antara dua orang adalah shodaqoh.
Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shodaqoh.
Berkata yang baik adalah shodaqoh.
Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah shodaqoh.
Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shodaqoh.”
(HR. Bukhori.)

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK

Rosululloh saw bersabda: :
“Barang siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Alloh akan memperhatikan kepentingannya.
Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan sesama muslim, maka Alloh akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan dihari kiamat.
Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Alloh akan menutupi kejelekannya dihari kiamat.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

HAK SEORANG MUSLIM

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Hak se’orang muslim terhadap se’orang muslim ada 6 perkara.
Lalu beliau saw ditanya:
“Apa yang 6 perkara itu, ya Rasululloh .?”
Jawab beliau:
1. Bila kamu bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya.
2. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
3. Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat.
4. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, do’akanlah semoga dia beroleh rohmat.
5. Bila dia sakit, kunjungilah dia.
6. Dan bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.”
(HR. Muslim).

MUSLIM YANG BERUNTUNG

Dari Abdulloh bin Amru bin Ash ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sungguh amat beruntunglah se’orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qona’ah (menerima) terhadap apa yang diberikan Alloh.”
(HR. Muslim).

BERSAMA YANG DICINTAI

Anas bin Malik ra menceritakan, bahwa suatu ketika dia bersama Nabi saw sedang keluar dari Masjid ada seorang Arab Badui di depan pintu masjid, yang bertanya kepada Rosululloh saw
“Kapankah hari kiamat terjadi .?”
Maka, Rosululloh saw bersabda kepadanya:
“Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya .?”
Ia menjawab:
“Kecintaan kepada Alloh dan Rosul-Nya.”
Nabi saw bersabda:
“Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”

Anas ra berkata:
“Tidaklah kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi saw,
“Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”
Maka aku mencintai Alloh, cinta Rosul-Nya, Abu Bakar dan Umar. Aku pun berharap akan bersama mereka di akhirat meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

ISTIQOMAH

Dari sayyidati ‘Aisyah ra Rosululloh saw bersabda:

خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ يَقُولُ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan, karena Alloh tidak akan bosan hingga kalian sendirilah yang bosan.
Dan amalan yang paling disukai Alloh adalah amalan yang terus-menerus/kontinyu dilakukan meskipun sedikit.”
(HR. Muslim).

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN

Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

Dari Ibn umar ra, Rosululloh saw bersabda :

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya.
Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.
Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.
Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya.
Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya.
Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggung jawaban) dari hal hal yang dipimpinnya.” (HR. Buchori dan muslim).

Penjelasan:

Pada dasarnya, hadis di atas berbicara tentang etika kepemimpinan dalam islam. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa etika paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggun jawab. Semua orang yang hidup di muka bumi ini disebut sebagai pemimpin. Karenanya, sebagai pemimpin, mereka semua memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

Seorang suami bertanggung jawab atas istrinya, seorang bapak bertangung jawab kepada anak-anaknya, seorang majikan betanggung jawab kepada pekerjanya, seorang atasan bertanggung jawab kepada bawahannya, dan seorang presiden, bupati, gubernur bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, dst.

Akan tetapi, tanggung jawab di sini bukan semata-mata berma’na melaksanakan tugas lalu setelah itu selesai dan tidak menyisakan dampak (atsar) bagi yang dipimpin. Melainkan lebih dari itu, yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih berarti upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpin.

Karena kata ro‘a sendiri secara bahasa berma’na gembala dan kata ro‘in berarti pengembala. Ibarat pengembala, ia harus merawat, memberi makan dan mencarikan tempat berteduh binatang gembalanya. Singkatnya, seorang penggembala bertanggung jawab untuk mensejahterakan binatang gembalanya.

Tapi cerita gembala hanyalah sebuah tamsil, dan manusia tentu berbeda dengan binatang, sehingga menggembala manusia tidak sama dengan menggembala binatang.

Anugerah akal budi yang diberikan Alloh kepada manusia merupakan kelebihan tersendiri bagi manusia untuk mengembalakan dirinya sendiri, tanpa harus mengantungkan hidupnya kepada penggembala lain.

Karenanya, pertama-tama yang disampaikan oleh hadis di atas adalah bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dirinya sendiri. Atau denga kata lain, seseorang mesti bertanggung jawab untuk mencari makan atau menghidupi dirinya sendiri, tanpa mengantungkan hidupnya kepada orang lain.

Dengan demikian, karena hakekat kepemimpinan adalah tanggung jawab dan wujud tanggung jawab adalah kesejahteraan, maka bila orang tua hanya sekedar memberi makan anak-anaknya tetapi tidak memenuhi standar gizi serta kebutuhan pendidikannya tidak dipenuhi, maka hal itu masih jauh dari ma’na tanggung jawab yang sebenarnya.

Demikian pula bila seorang majikan memberikan gaji prt (pekerja rumah tangga) di bawah standar ump (upah minimum provinsi), maka majikan tersebut belum bisa dikatakan bertanggung jawab. Begitu pula bila seorang pemimpin, katakanlah presiden, dalam memimpin negerinya hanya sebatas menjadi “pemerintah” saja, namun tidak ada upaya serius untuk mengangkat rakyatnya dari jurang kemiskinan menuju kesejahteraan, maka presiden tersebut belum bisa dikatakan telah bertanggung jawab. Karena tanggung jawab seorang presiden harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan kaum miskin, bukannya berpihak pada konglomerat dan teman-teman dekat. Oleh sebab itu, bila keadaan sebuah bangsa masih jauh dari standar kesejahteraan, maka tanggung jawab pemimpinnya masih perlu dipertanyakan.

LARANGAN BERSUMPAH BURUK

Sayyidah ‘Aisyah ra, menceritakan bahwa :
سَمِعَ رَسُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْتَ خُصُوْمِ بِ لْبَابِ عَا لِيَةِ اَصْوَاتُهُمَا وَاِذَا اَحَدَهُمَا يَسْتَوْضِعُ لْاَخَرُ وَيَسْتَرْفِقُهُ فِى شَىْءِ وَهُوَ يَقُوْلُ : وَاللهِ لاَ اَفْعَلُ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمَا رَسُوْلُ الله صَلَ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقَالَ : اَيْنَ الْمُتَاَ لِّىْ عَلَى اللهِ لاَ يَفْعَلُ الْمَعْرُوْفَ فَقَالَ : اَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ فَلَهُ اأىُّ ذٰلِكَ اَحَبُّ      ( متفق عليه )
“Rosululloh saw mendengar suara pertengkaran yang sangat keras di depan pintu, dimana salah seorang diantara keduanya itu meminta keringanan dan minta dikasihani dalam masalah hutang kepada yang lain, tetapi yang lain menjawab :
“Demi Alloh, aku tidak akan memenuhi permintaanmu.”
Kemudian Rosululloh keluar dan mendekati kedua orang itu lalu bertanya :
“Mana orang yang bersumpah dengan menyebut nama Alloh untuk tidak akan berbuat kebaikan .?”
Ia menjawab :
“Aku wahai Rosululloh“
Maka bagi orang itu apa saja yang ia sukai.” (Mutafaq ‘Alaih).

HAK SEORANG MUSLIM

Dari Abu Hurairoh, Rasululloh saw bersabda:
“Hak se’org muslim terhadap se’org muslim ada 6 perkara.
Lalu beliau ditanya:
“Apa yg 6 perkara itu, ya Rasululloh .?”
Jwb beliau:
1. Bila kmu bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kpd-nya.
2. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
3. Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat.
4. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, do’akanlah semoga dia beroleh rahmat.
5. Bila dia sakit, kunjungilah dia.
6. Dn bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.”
(HR. Muslim).

MUSLIM YANG BERUNTUNG

Rosululloh saw bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang beriman.
Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa mudhorat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Dari Abdulloh bin Amru bin Ash ra, Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh amat beruntunglah se’orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qona’ah (menerima) terhadap apa yang diberikan Alloh.” (HR. Muslim).

DO’A AGAR BERSAMA YANG DICINTAI

`
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى

“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha pengasih lagi Yang Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang di pilih-Nya.”

أَللَّهمَّ إِني أَسألُكَ بأني أَشْهَدُ أَنَّكَ أنْتَ اللَّهُ ، لا إِلهَ إِلا أَنتَ ، الأحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .

“Ya Alloh .. sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dengan bersaksi sesungguh-sunggunya bahwa Engkau adalah Alloh Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal dan Yang menjadi tempatku bergantung, Yang tak beranak dan tidak diperanakkan serta tak ada yang menyamai-Mu seorang pun, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ya Alloh .. kekasih-Mu bersabda:
« فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ »
“Sesungguhnya kamu bersama yang kamu cintai.”
فَإِنَّا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ رَسُولَكَ مُحَمَّد
Maka kami mencintai-Mu dan kami mencintai Rosul-Mu Muhammad
وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ وَعَلِى فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
Serta Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali, berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.”
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Ya Alloh .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta Rohmatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang khusus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..”

Do’a diatas berdasarkan riwayat hadits Bukhori Muslim, dari Anas bin Malik ra, dia menceritakan, bahwa suatu ketika dia bersama Nabi saw sedang keluar dari Masjid ada seorang Arab Badui di depan pintu masjid, yang bertanya kepada Rosululloh saw
“Kapankah hari kiamat terjadi .?”
Maka, Rosululloh saw bersabda kepadanya:
“Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya .?”
Ia menjawab:
“Kecintaan kepada Alloh dan Rosul-Nya.”
Nabi saw bersabda:
“Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”

Anas berkata:
“Tidaklah kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi saw,
“Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”
Maka aku mencintai Alloh, cinta Rosul-Nya, Abu Bakar dan Umar. Aku pun berharap akan bersama mereka di akherat meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

KEUTAMAAN DO’A UNTUK SAUDARA MUSLIM

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
”Ya Alloh, curahkanlah terus-menerus sholawat atas sayyidina Muhammad dan atas Ummat sayyidina Muhammad laki-laki dan wanita yang beriman.”

Rosululloh saw bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdo’a untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu’.”

SUNGGUH LUAR BIASA ISLAM ITU .. Jika seseorang berdo’a untuk saudaranya -do’a yang sama akan kembali kepadanya, bila do’a yang mohonkan itu tidak sepengetahuan orang yang ia do’akan, -maka peluang dikabulkan-Nya akan lebih besar dibandingkan hanya berdo’a untuk dirinya sendiri.

Mendo’akan sesama muslim tanpa sepengatahuannya termasuk dari `sunnah hasanah` yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi dan Rosul -‘alaihissalam- dan juga para ulama, para wali dan orang-orang sholeh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan seperti yang mereka mohonkan, sehingga merekapun dengan rela mengikut sertakan saudaranya di dalam do’a-do’a mereka ketika mereka berdo’a untuk diri mereka sendiri.

Dan inilah di antara sebab terbesar tumbuh kembangnya cinta dan kasih sayang kaum muslimin, serta menjadikan kesempuraan iman mereka, seperti yang telah dijelaskan oleh sahabat Anas bin Malik ra, bahwa Rosululloh saw bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Karenanya Alloh swt dan Rosul-Nya saw memotifasi kaum muslimin untuk senantiasa mendo’akan saudaranya, sampai-sampai Alloh swt mengutus malaikat khusus bertugas untuk meng’amin’kan setiap do’a seorang muslim untuk saudaranya dan sebagai balasannya malaikat husus itu pun diperintahkan oleh Alloh swt untuk mendo’akan orang yang berdo’a tersebut.

Seseorang yang mendapatkan do’a dari malaikat adalah termasuk orang yang beruntung, karena do’a malaikat mustajabah, terlebih lagi malaikat ini adalah malaikat yang diutus oleh Alloh swt secara husus. Maka kita bisa menyatakan bahwa mendo’akan sesama muslim tanpa sepengetahuannya termasuk dari do’a-do’a yang `insya Alloh` pasti diterima, karena Alloh sendiri yang menghendaki.

Alloh swt berfirman:
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Maka Alloh mempersatukan hati-hatimu, dan dengan ni’mat Alloh-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imron: 103).

Diantara do’a-do’a yang termaktub dalam al-Qur’an untuk saudara mukmin :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Tuhan kami .. ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (perhitungan).” (QS. Ibrohim: 41).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Tuhan kami .. ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman dalam hati kami.
Tuhan kami .. sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا
“Tuhanku .. ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.
Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dholim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh: 28).

Memohonkan ampunan untuk kaum mukminin adalah bagian dari mendo’akan kebaikan untuk mereka, ini merupakan hak persaudaraan seiman. Tentang keutamaan memohonkan ampunan untuk kaum mukminin ini Nabi saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Siapa yang beritighfar untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan maka Alloh mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.” (HR. Thobroni).

CINTA NABI MUHAMMAD SAW

Betapa cintanya Nabi Muhammad kepada ummatnya sampai-sampai menjelang wafat yang beliau pikirkan adalah ummatnya hingga keluar bisikan dari lisan beliau yang suci .. Ummatku .. Ummatku .. Ummatku ..
Bisikan beliau saw bukanlah bisikan sia-sia .. Bisikan beliau saw adalah bisikan cinta .. Bisikan kasih sayang .. Bisikan sholawat, keselamatan dan keberkahan .. Bisikan harapan kelak Alloh akan menghipun ummatnya di sorga bersamanya ..

Mencintai Nabi saw adalah pokok keimanan ..
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mencintai ummat Nabi saw, adalah cabangnya iman ..
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mencintai apa yang dicintai Nabi saw adalah puncak amalan ..
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِر
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu Uswatun-Hasanah (contoh terbaik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap rohmat Alloh dan kedatangan hari akherat dan dia banyak (berdzikr) menyebut Alloh.” (QS. al-Ahzab: 21).

Ya Alloh, curahkanlah terus menerus sholawat dan salam serta keberkahan kepada sayyidina Muhammad, dan bagi kami ummatnya sayyidina Muhammad ..
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَيْنَا أُمَّتِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Mudah-mudahan sholawat yang kami bisikkan melalui lisan kami .. merupakan ungkapan cinta paling suci dari hati kami kepadamu wahai Nabi Muhammad .. dan kepada ummat yang engkau cintai melalui bisikan terahirmu ..

PERUMPAMAAN PETUNJUK DAN ILMU

Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, Rosululloh saw. bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus oleh Alloh Azza wajalla untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu.
Perumpama’an seperti hujan yang turun ke bumi, ada tanah yang subur menyerap air itu, lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang rimbun.
Ada pula tanah yang keras yang menahan air, sehingga dengannya Alloh memberikan manfa’at kepada manusia, dengan air itu manusia bisa minum, menyiram tanaman dan beternak.
Ada pula hujan yang jatuh di tanah yang tandus yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan tanaman.
Itulah perumpama’an orang yang mempelajari agama Alloh ‘Azza wajalla melalui aku yang diutus oleh-Nya, kemudian dia memanfa’atkannya dengan memahami dan mengajarkannya.
Serta perumpama’an orang yang tidak berkeinginan untuk mempelajari agama Alloh dan tidak menerima petunjuk-Nya yang telah disampaikan kepadaku.”
(HR. Bukhori Muslim)

Awan Tag