Archive for the ‘JIKA TIDAK INGAT PASTI LUPA’ Category

KEAJAIBAN MEMBACA

“ KEAJAIBAN IQRO’ “

Pembahasan mengenai hidup dan kehidupan adalah suatu anugerah yang begitu besar dari Alloh swt dan ni’mat yang seharusnya disyukuri.
Warna warni kehidupan merupakan bagian yang tidak mungkin kita pisahkan dalam diri kita, kehidupan adalah masalah ghaib, yang nampaknya sukar untuk dijelaskan apa rahasia dibaliknya, hakikatnya belum bisa digali bahkan bisa jadi merupakan hayalan semata seperti dalam firman Alloh swt:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap (tubuh) yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” – (QS. 21:35)

Faktanya manusia sering kali dalam hidupnya seperti meraba–raba dalam kegelapan, hanya mengira–ngira dan tidak dapat memastikan dimana obyek yang akan di raba itu berada.
Mereka selalu diliputi perasaan tidak puas dan tidak senang mengerjakan satu pekerjaan atau hal–hal lainnya, segala sesuatu yang mereka kerjakan seolah tidak memberikan kepuasan yang memadai terhadap kehidupan mereka karena belum mengetahui aturan hidup.

Mereka mempunyai kecenderungan memilih hal–hal yang enak menurut selera mereka, mengapa demikian .? mungkin saja mereka tidak memiliki pengetahuan yaitu pengetahuan tentang tujuan hidup yang benar, memang tujuan hidup kita itu berbeda–beda, tetapi walau begitu ada satu tujuan yang benar–benar mengantarkan kita kepada kesempurnaan hidup yaitu tujuan mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menyikapi problema seperti ini bila kita telah mempunyai tujuan hidup, maka lebih lanjut kita harus mengetahui ataupun menciptakan arah, prinsip, bahkan tindakan yang jelas dalam menjalani kehidupan secara benar, baik dan tepat / pas.

Dari sini penulis ingin membawa para pembaca sedikit untuk mengikuti dan memahami atau bahkan merenungi dan mempunyai rasa kepekaan bahwa islam memberikan corak sebagai “aturan hidup” guna mengemudikan manusia kearah yang terbaik ( pada jalan yang benar ) kekayaan petunjuk dan syariat yang dimilikinya tidak terasa mengapung dan saling melengkapi tanpa ada pertentangan sekecil apapun.

Sekali lagi disini alur pembicaraan penulis agak berbeda yang memunculkan pertanyaan.
Bagaimana kita menjalani hidup ini dengan benar .?
Islam adalah agama Universal yang membangun keberadaannya dengan syariat yang seimbang dalam memahami suasana dan masa yang sedang dihadapi.
Memang kita tahu, kebebasan dan keterbatasan merupakan gejala yang selalu membayangi kehidupan manusia.
Islam tidak ingin menghapus secara paksa fitrah itu akan tetapi islam berupaya untuk menjadikan tuntunan itu sebagai fitrah yang terkontrol oleh syariat, apabila islam mengekang fitrah ini maka dapat dirasakan sebagai bentuk “ pemaksaan “ kepada pemeluknya seperti dalil di Al Qur’an “la iqroha fiddin”.
Ini berarsi merupakan “warning” kepada akal pikiran manusia supaya diperlukan perenungan dan analisis mendalam yang berkitan dengan petunjuk benar.

Entah disadari atau tidak banyak sekali hal–hal kecil yang luput dari pemikiran dan perenungan kita, atau bahkan luput dari pandangan mata kita.
Sebab mengapa ini terjadi .?
sebab manusia mempunyai kecenderungan mencari dan mengamati sesuatu yang nampak besar, yang nampak jelas dan mempunyai keuntungan besar pula.
Mereka seringkali menjelma menjadi kacang yang lupa akan kulitnya, mereka seringkali lupa dan tidak begitu menghargai awal petunjuk dan akibatnya mereka kehilangan pelajaran besar yang terkandung didalamnya.
Yang akhirnya masyarakat saat ini sudah mulai gerah terhadap pola kehidupan mereka.
Mereka menginginkan sesuatu yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan jasmani semata akan tetapi juga rohani ini tentunya dapat dengan tegas kita katakan bahwa dibalik berbagai tujuan hidup yang ada hanya terdapat satu tujuan yang baik dan selaras dengan konsep wahyu.

Saat inilah memang sudah seharusnya kita merenung, mengkaji kembali, nasehat–nasehat ataupun petuah–petuah dari Nabi–Nabi, para Ulama para Wali atau ulama kita yang terlupakan bahwa ada 4 aspek pondasi yang bukan merupakan hal baru dalam islam, sebenarnya para wali dahulu menvisualisasikannya dalam bentuk pujian–pujian sebelum melaksanakan sholat atau ibadah lainnya, karena penyesuaian kultur dizaman itu, namun sesuai dengan perkembangan zaman 4 aspek itu semakin lama semakin luntur maka banyak sekali timbul berbagai aliran–aliran pada saat ini yaitu wajar–wajar saja, namun harus diingat bahwa metode agama “tetap“ tidak ada perubahan, yang akhirnya timbangannya menjadi njomplang karena jiwanya tertekan oleh metode usang.
Mengapa hal itu terjadi .?
itu terjadi karena kita kurang peka terhadap makna pujian–pujian yang diajarkan oleh para wali terdahulu yang sebenarnya adalah 4 aspek pondasi dalam islam yang harus dilakukan.

4 sudut pondasi dalam islam

1. KENAL (Pengetahuan gerak hati (ma’rifat)
Dalam ayat pertama surat al-Alaq : “iqro’ bismirobbikalladzi kholaq”
Dari ayat ini jelas bahwa petunjuk awal manusia harus memperhatikan agar mengenal Tuhan-Nya sebagai hamba Tuhan sang pencipta alam, bahwa Alloh memerintahkan agar manusia membaca nama dan sifat Tuhan sehingga manusia itu bisa mengenal nama dan sifat Tuhan yang akan disembah.

2. SADAR (hakikat)
Dalam ayat kedua surat al-Alaq : “kholaqol insanna min allaq”
Mengarungi kehidupan yang makin keras dan tidak bersahabat ini, tentulah membutuhkan kesadaran yang sangat tinggi, kita tidak mungkin mengarungi hidup dengan keadaan mabuk. Seperti tak mungkin pula orang mabuk menyetir kendaraan dengan benar.
Uraian SADAR ini berarti “Sadarlah dan insyaflah atas hakikat jati dirimu yang tercipta dari segumpal darah yang dikandung oleh ibumu dan diperhatikan bapakmu, artinya berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu.
Sadarlah bahwa kamu manusia banyak lupa dan banyak dosa, artinya mintalah ampunan kepada -Nya, bertaubatlah karena kamu manusia hina penuh noda dan dosa”.
dari keterangan itu akhirnya orang akan mencapai kemampuan untuk sadar, sabar, menghargai, bahkan akan terbentuk sosok manusia yang mampu menjadi pengayom, pemberi penyuluhan kepada orang lain tanpa menimbulkan sikap sombong, egois, menang sendiri dan tidak memamerkan kelebihan–kelebihannya.

3. MENJALANKAN (syariat)
Dalam ayat kedua surat al-Alaq : “iqro’ warobbukal akromulladzi allama bil qolam”
Definisi manusia dituntut membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an yang telah diajarkan oleh Tuhanmu dengan pena artinya yang telah tertulis dalam al-Qur’an yang menjadi akhlaq Nabi, Akhlaq Nabi saw adalah al-Qur’an, akhlaq Nabi atau budi pekerti Nabi adalah syariat.

Dengan sifat akrom Alloh manusia memahami al-Qur’an dan Hadist bisa memunculkan kitab–kitab ilmu fiqih, tasawuf, alat dan pengetahuan yang bermanfa’at, uraian diatas merujuk pada status manusia sebagai “Kholifah Fil Ardh” bahwasannya manusia merupakan makhluk yang memiliki pontensi untuk selalu berikhtiar, berusaha berfikir, mendefinisikan, mengolah dan bertindak.
Sehingga mampu mebedakan mana yang benar dan mana yang salah, manusia juga memiliki potensi memikirkan dan memecahkan rahasia alam dan mampu menempatkan pada posisi yang proporsional tentunya semua itu dengan sifat akrom Alloh.

4. BENAR (hidayah)
“Allamal insana ma lam ya’lam” 
Artian hidayah yang notabene dengan berserah diri kepada Alloh setelah berusaha yaitu membaca, memahi dan mengamalkan nama dan sifat Alloh dan menyadari hakikat jatidirinya dengan melakukan pertaubatan dan melakukan syariat Nabi Muhammad saw dan setelah itu menyerahkan semuanya termasuk garis ketentuan hidup kepada Allah swt .. Disinilah puncak dari usaha kita landasan atau tumpuan akhir dalam suatu perjuangan, memohon pertolongan dari yang Maha Kuasa sebab jika manusia ingin selamat dan mendapatkan thoriqoh dan hidayah yang benar maka harus diperintah IQRO’.

Inilah 4 aspek pondasi yang akhirnya bias mengokohkan pilar – pilar agar umat tidak tergelincir dan terperangkap dengan ilmu tauhid yang hanya mengandalkan “ wahdatul wujud” sehingga tidak menjalankan syariat, ini sering di istilahkan dalam falsafah ajaran hidup jawa yaitu “ piwulan kautaman (pendidikan keutamaan)“ yang harus dilaksanakan karena “ PERINTAH “ dari Alloh swt. IQRO’ inilah jawaban yang pas dan tak terbantahkan ya’ni jawaban tentang pertanyaan “ bagaimana kita menjalani hidup ini dengan benar “.
Semoga sedikit uraian tadi bisa membuka pola pikir kita tentang IQRO’ ( Surat Al – Alaq) sebagai azaz dasar islam agar kita memahami dengan membaca, membaca dan terus membaca yang akhirnya mencapai pada satu titik yaitu sebagai “ INSAN KAMIL “ ..

Iklan

KEBAIKAN MENGHAPUS KEBURUKAN

Setiap manusia tidak lepas dari salah, dosa dan lupa, sehingga dikatakan bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.
Bahkan tidak hanya sekali dua kali manusia itu salah dan lupa, tapi banyak melakukan kesalahan dan sering lupa.
Akan tetapi bukan berarti manusia harus tunduk menyerah dan pasrah terhadap sifat dan kelemahannya ini, justru dia harus bangkit dan bersemangat untuk kembali kepada Alloh ketika dia melakukan suatu kesalahan.
Dia tidak boleh terlena dan terus menerus dalam kesalahannya tersebut. Karena salah satu sifat orang-orang yang bertaqwa adalah ketika dia melakukan suatu kesalahan, dia segera memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh dan tidak terus-menerus dalam kesalahannya.

Alloh swt berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alloh .?
Dan mereka tidak meneruskan (terus menerus dalam) perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imron: 135).

Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
“Setiap anak Adam itu mempunyai banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai banyak kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari Abu Dzar ra dan Mu’adz bin Jabal ra Rosululloh saw bersabda:
“Maka ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya (dosa perbuatan jelek tersebut).”
(HR. Tirmidz)

Hadits diatas menjelaskan, mengikuti kesalahan atau perbuatan buruk adalah yang diikuti, sedangkan perbuatan baik adalah yang mengikuti, ya’ni jadikanlah perbuatan baik di belakang perbuatan buruk, apabila anda melakukan perbuatan salah/buruk maka ikutilah dengan perbuatan baik.

Karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik akan menghapuskan dosa kesalahan dan perbuatan-perbuatan jelek.

Alloh swt berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud:114).

Dari Ibnu Mas’ud ra, Rosululloh saw bersabda:
“sesungguhnya seorang laki-laki dari kalangan shahabat telah mencium seorang perempuan maka dia mendatangi Nabi saw dan memberitahukan kepada beliau saw dengan pemberitahuan yang bersifat membesarkan apa yang telah dia lakukan tersebut, lalu dia menanyakan tentang kaffarot (penghapus) hal tersebut, maka turunlah firman Alloh swt:
“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud :114).
Maka Rosululloh saw bersabda kepadanya:
“Apakah kamu telah sholat bersama kami di masjid ini .?”
Dia menjawab: “Iya..”
Rosululloh saw bersabda:
“Maka itulah kaffarot dari perbuatan kamu.”
(HR. Bukhori).

Ini menunjukkan bahwasanya seorang mukmin wajib atasnya untuk meminta ampun dari perbuatan-perbuatan buruk dan agar dia berusaha dalam menghilangkannya dosa perbuatan-perbuatan tersebut dengan cara mengerjakan perbuatan-perbuatan baik.
Dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik ini, niscaya Alloh swt akan menghapuskan bermacam-macam kesalahan dan keburukannya.

Dan setiap keburukan ada kebaikan yang setara dengannya, jadi tidaklah setiap keburukan itu akan terhapuskan dengan sembarang kebaikan, apabila kejelekan itu besar maka tidak dapat dihapus kecuali dengan kebaikan yang besar pula, sebab tiap-tiap kejelekan mempunyai sesuatu yang setara dengannya dari kebaikan-kebaikan.

Oleh karena inilah, bila seseorang keliru atau terucap dari lisannya satu kalimat (seperti): Demi Ka’bah atau bersumpah dengan selain Alloh maka sesungguhnya kaffarot (penghapus) yang demikian itu hendaknya dia mengucapkan “Laa ilaaha illalloh”, karena hal yang tadi adalah kesyirikan sedangkan kaffarot syirik adalah tauhid dan kalimat tauhid “Laa ilaaha illalloh” ini adalah merupakan kebaikan-kebaikan yang besar.

Kalau begitu, berarti tiap kejelekan ada kebaikan yang Alloh swt akan hapuskan kejelekan-kejelekan itu dengannya.

Di mana hal ini menunjukkan bahwasanya kejelekan itu akan terhapus dan tidak masuk pada muwazanah (penimbangan antara kebaikan dan kejelekan) dan hadits mengindikasikan bahwa ini berlaku bagi yang mengikutinya ya’ni jika melakukan kejelekan, dia ikuti dengan kebaikan dengan niatan/tujuan agar Alloh swt menghapuskan kejelekan-kejelekan itu darinya, karena Rosululloh bersabda: “Maka ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya”. Dengan kata lain, bila melakukan suatu kejelekan, dia berusaha dalam kebaikan agar terhapuskan kejelekan itu darinya.

“Maka ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya” yang selayaknya bagi seorang muslim untuk mengambilnya sebagai pelajaran dan bersemangat dalam melakukan ketaatan kepada Alloh dan tidak berputus asa ketika terjerumus dalam suatu dosa, sebagaimana firman Alloh swt:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الَّهِ ۚإِنَّ الَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh.
Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya (bagi orang yang bertobat). Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar : 53).

Dan hal lain yang perlu diingat adalah jangan sampai kita menunda-nunda taubat dan terlena dengan dosa serta hanya berangan-angan/bersandar terhadap rohmat Alloh tanpa disertai dengan taubat dan perbuatan baik. Karena kita diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya agar bersegera dalam bertaubat kepada-Nya dan jangan terlena/terus menerus dengan dosa yang akan menjadikan hati kita hitam dan keras serta sebelum datangnya adzab-Nya.

Ingatah firman Alloh swt:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kalian (bertobatlah kalian) kepada Tuhan kalian, dan berserah dirilah (ikhlaskanlah di dalam beramal) kepada-Nya sebelum datang kepada kalian adzab kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi (karena adzab itu tidak dapat dicegah jika kalian tidak bertobat kepada-Nya.)”
(QS. Az-Zumar : 54).

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian (yaitu al-Qur’an) sebelum datang azab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadari (akan kedatangannya).”
(QS. Az-Zumar : 55).

ALAM RAYA DICIPTAKAN ALLOH SWT HANYA UNTUK MANUSIA

ALAM RAYA DICIPTAKAN ALLOH SWT HANYA UNTUK MANUSIA

Kita dianjurkan oleh Rosululloh saw untuk mengucapkan: BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
setiap kali akan melakukan suatu perbuatan yang baik.

Rosululloh saw bersabda:

كُلُّ أَمْرٍذِى بَالٍ لَايُبْدَأُ فِيْهِ بسم اللهِ الرحمن الرحيم فَهُوَأَقْطَع

“Setiap pekerjaan (urusan) penting yang tidak dimulai dengan menyebut: BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
maka pekerjaan (urusan) itu akan terputus (dari rohmat Alloh).” (HR. Ibnu Hibban)

Kita biasa menerjemahkan kata ar-Rohmaan dengan “Yang Maha Pengasih” dan kata ar-Rohiim diterjemahkan dengan “Yang Maha Penyayang”.

Pertanyaannya adalah siapakah makhluk di alam semesta ini yang benar-benar menjadi pusat tumpuan kasih sayang Alloh swt .?
Jawabannya, bukan hewan, bukan tumbuhan, bukan jin, tidak juga malaikat. Makhluk yang menjadi tumpuan kasih sayang Alloh swt di alam semesta ini adalah manusia.

Untuk siapakah Alloh swt menciptakan hewan dan tumbuhan .?
Jawabannya adalah untuk manusia.
Untuk siapakah Alloh swt mencipatakan seluruh apa yang ada di atas dan di dalam bumi .?
Jawabannya adalah juga untuk manusia.

Alloh swt berfirman:

هُوَالَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَافِى الْأَرْضِ جَمِيْعًا

“Dialah Alloh, yang menjadikan segala apa yang ada di dalam bumi ini untuk kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 29).

Yang dimaksud dengan kamu adalah manusia. Sorgapun diperuntukkan bagi manusia. Bahkan malaikatpun diciptakan untuk berkhidmat kepada manusia.

Jibril as misalnya, ditugaskan Alloh swt untuk menurunkan wahyu.
Wahyu itu untuk siapa .? Untuk manusia.
Malaikat Mika’il as ditugaskan Alloh swt untuk membagikan rizki, yaitu rizkinya manusia.
Roqib dan Atid tidak pernah lengah bekerja mencatat amal perbuatan manusia.
jadi malaikat-malaikat yang utama ditugaskan Alloh swt untuk kebutuhan manusia.
Namun, adakah manusia di antara kita ini yang diperintahkan Alloh swt untuk memenuhi kebutuhan malaikat .?
Apa ada di antara manusia yang pernah dimintai tolong oleh Roqib dan Atid untuk menuliskan amal perbuatan kita sendiri .? Tidak ada.
Yang ada justru para malaikatlah yang ditugaskan Alloh swt untuk menangani urusan manusia.

Dalam beberapa hadits, Rosululloh saw. mengabarkan kepada kita betapa banyak malaikat yang ditugaskan Alloh swt untuk mendo’akan manusia atau memohonkan ampunan Alloh swt untuk kaum muslimin.

Di antara hadits yang menunjukkan adanya malaikat yang mendo’akan manusia:

مَامِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّوَمَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا:
الَلّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًاخَلَفًا وَيَقُوْلُ الْآخَرَ: الَلّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًاتَلَفًا

“Setiap hari, ketika hamba-hamba Alloh berada di pagi hari, turunlah dua malaikat seraya berdo’a:
“Ya Alloh, gantilah harta yang diinfakkan oleh seseorang dan binasakanlah harta orang yang tidak mau menyedekahkan sebagian hartanya.”

Itulah bukti yang sangat jelas bahwa skenario Alloh Yang Maha Agung dalam menciptakan alam semesta ini adalah dalam rangka memuarakan limpahan cinta kasih-Nya kepada makhluk yang bernama manusia.

Sungguh besar cinta dan kasih sayang Alloh kepada manusia. Sungguh besar ni’mat Alloh yang dikaruniakan kepada manusia. Alloh swt berfirman:

 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

“Dan jika kamu menghitung ni’mat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrohim: 34)

Jarang sekali di antara manusia yang merasa bahwa dirinya adalah sentral dari kasih sayang Alloh swt.
Akibat tidak menyadari misi besar Alloh swt dalam mewujudkan manusia di muka bumi, maka banyaklah di antara manusia yang menyimpang dalam menjalani kehidupan dunia ini.
Banyak pula di antara manusia yang memfokuskan diri pada kepentingan dunia semata, padahal kehidupan dunia ini hanya sementara dan pasti akan berahir.

CARA BERSYUKUR

SYUKUR AL-HAMDULILLAH

Seorang muslim tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu:
1. Bila dia mendapat ni’mat maka dia bersyukur.
2. Bila mendapat kesusahan maka dia bersabar.
3. Bila berbuat dosa maka dia beristighfar.

Syukur tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “al-Hamdulillah”.
Namun hendaknya seseorang bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya.

Adapun bersyukur kepada Alloh swt dengan hati adalah mengakui dan meyakini bahwa segala macam ni’mat semata-mata datangnya dari Alloh swt dan bukan dari selain-Nya.
Alloh swt berfirman:
“Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Alloh-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53).
Meskipun bisa jadi kita mendapatkan ni’mat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan ni’mat.

Adapun bersyukur dengan lisan adalah melalui ucapan “al-Hamdulillah” .. karena ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Alloh Dzat yang telah memberikan ni’mat.
 
Sedangkan dengan anggota badan adalah menggunakan ni’mat Alloh swt pada perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat secara benar, menta’ati aturan-aturan-Nya dalam segala aspek kehidupan dan senantiasa menahan diri agar jangan menggunakan keni’matan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.

MENSYUKURI SEGALA NI’MAT

Tiada keni’matan apapun rupa wujudnya yang dirasakan oleh manusia di dunia ini, melainkan datangnya dari Alloh swt.
Oleh karena itu, Alloh swt mewajibkan atas manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya, yaitu dengan senantiasa mengingat bahwa keni’matan tersebut datangnya dari Alloh swt, dengan mengucapkan:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Selanjutnya ia menafkahkan sebagian dari rizkinyanya di jalan-jalan yang diridhoi Alloh swt.
Orang yang telah mendapatkan karunia lalu dapat bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Alloh swt akan terus menerus menambahkan keni’matan untuknya.

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrohim : 7)

Dan pada ayat lain Alloh swt berfirman:

وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri.” (Qs. an-Naml : 40)

Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya berkata:
“Manfaat syukur akan didapat oleh pelakunya sendiri, di mana dengannya ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari ni’mat yang ia dapat, dan ni’mat tersebut akan kekal dan ditambah.
Sebagaimana syukur juga berfungsi untuk mengikat keni’matan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai.”

SYUKUR YANG SEMPURNA

Alloh swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan):
“Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara.” (QS. Saba’: 15-16).

Tatkala kaum Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tentram, Alloh swt hanya memerintahkan kepada mereka agar “Bersyukur”. 
Ini menunjukkan bahwa dengan syukur, mereka dapat menjaga keni’matan mereka dari bencana, dan mendatangkan keni’matan lain yang belum pernah mereka dapatkan.

Di antara hal yang perlu untuk senantiasa kita ingat dalam hal mensyukuri ni’mat adalah perwujudan rasa syukur itu sendiri.
Kebanyakan kita beranggapan, bahwa mensyukuri ni’mat hanya diwujudkan semata dengan mengucapkan “al-Hamdulillah” dengan lisan. Ini adalah anggapan yang kurang tepat, karena syukur ni’mat memiliki perwujudan yang sangat banyak, di antaranya:

Mengucapkan al-Hamdulillah, atau ucapan yang semakna. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sekian banyak ayat dan hadits, di antaranya pada firman Alloh swt:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Alloh, Tuhan semesta alam.”

Makna ucapan “al-Hamdulillah” adalah bersyukur sepenuhnya hanya kepada Alloh Yang Maha Agung yang tiada sesembahan-sesembahan lain.”

Kita bersyukur kepada Alloh swt atas segala keni’matan yang tiada terhitung jumlahnya dan tiada makhluk yang mampu menghitungnya.
Di antara keni’matan-Nya ialah kita dikaruniai anggota tubuh yang sempurna dan sehat sehingga dengan mudah kita dapat menjalankan ketaatan kepada-Nya.
Berbagai rizki yang telah disiapkan untuk kita dalam kehidupan dunia, kehidupan yang bahagia.

Di tambah lagi, Alloh swt juga telah menurunkan untuk kita syariat agama-Nya untuk kebaikan dan keselamatan kita, yang dengannya kita dapat mencapai keberuntungan, kebahagiaan di dunia dan kekal di dalam sorga yang penuh dengan keni’matan abadi kelak di akhirat.
Oleh karenanya, hanya Alloh swt yang berhak untuk mendapatkan segala ucapan puji syukur kita.

Menggunakan harta untuk mendukung peribadahan kepada Alloh swt bagi dirinya sendiri ataupun orang lain, juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kita.

SHOLAT SYUKUR

Hadits riwayat Hakim dari Ka’ab bin Ajroh ra, sesungguhnya Rosululloh saw memerintahkan Ka’ab bin Malik ketika taubat dia dan shahabatnya diterima agar dia sholat dua roka’at dan sujud dua kali. (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak Alas-Shohihain).

Hadits riwayat Ibnu Majah, dari jalur Salamah bin Roja, telah meriwayatkan kepadaku Sya’tsa, dari Abdulloh bin Abi Aufa ra, bahwa Rosululloh saw melakukan sholat dua roka’at pada saat diberi kabar gembira dengan (tewasnya) Abu Jahal.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw menunaikan sholat malam hingga kedua kaki beliau menjadi bengkak.
Dan tatkala istri beliau tercinta ‘Aisyah ra berkata kepada beliau:

لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رَسُولَ اللَّهِ .؟
وقد غَفَرَ الله لك ما تَقَدَّمَ من ذَنْبِكَ وما تَأَخَّرَ .؟

“Mengapa engkau melakukan ini ya Rosululloh .?
Padahal Alloh telah mengampuni seluruh dosa-dosamu, baik yang terdahulu ataupun yang akan datang .?”
Beliau saw menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah layak bagiku untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur .?”
(HR. Muttafaqun ‘alaih).

Demikianlah Nabi saw dalam mensyukuri karunia Alloh swt yang berupa diampuninya dosa-dosa beliau saw.
Semakin besar keni’matan yang beliau saw terima, semakin gigih dalam menjalankan ibadah mengabdi kepada Alloh swt.

DO’A SYUKUR

رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَ أَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

“Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri ni’mat-Mu yang Engkau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku selalu beramal sholeh yang Engkau ridhoi. Dan dengan rohmat-Mu masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.” (QS. An-Naml : 19).

رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَ أَصلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَ إِنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

“Tuhanku, karuniakan padaku ilham agar aku selalu mensyukuri ni’mat-Mu yang Engkau anugrahkan padaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku selalu beramal sholeh yang Engkau ridhoi. Dan karuniakan padaku kebaikan dalam keturunanku, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqof : 15).

SUJUD SYUKUR

Melakukan sujud syukur setiap kali mendapatkan keni’matan baru atau terhindar dari musibah.

أَنَّهُ كان إذا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أو بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ

“Nabi saw bila mendapatkan suatu hal yang menggembirakan, atau diberi kabar gembira tentangnya, beliau segera bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Alloh.”
(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)

Sujud adalah puncak sikap tawadhu’ seorang hamba terhadap Tuhannya dengan merendahkan diri meletakkan wajahnya di atas tanah. Demikianlah sepantasnya sikap seorang mukmin.
Setiap kali Alloh swt menambahkan kepadanya suatu keni’matan, maka ia semakin bertambah merendah diri dan semakin erat dalam menggantungkan segala kebutuhannya kepada Alloh swt.
Dengan cara inilah keni’matan dipikat dan diupayakan agar menjadi berlipat ganda.
Demikianlah salah satu teladan yang diajarkan Nabi saw kepada kita.

Dalil lain yang menjelaskan bahwa amal ketaatan adalah wujud nyata dari rasa syukur atas keni’matan adalah menampakkan keni’matan yang telah kita dapatkan, yaitu dengan menceritakan keni’matan tersebut kepada orang lain.
Alloh Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun dengan ni’mat-ni’mat Tuhanmu, maka hendaknya engkau sebut-sebut.” (Qs. adh-Dhuha: 11).

Berdasarkan ayat ini, dahulu para sahabat beranggapan bahwa termasuk kesempurnaan sikap syukur seseorang atas suatu keni’matan ialah dengan menyebut-nyebutnya. Oleh karena itu, dahulu Nabi saw menceritakan kepada para sahabatnya keni’matan besar yang telah beliau terima.

أنا سيد ولد آدم ولا فخر

“Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, dan tiada berbangga-banggaan.” (HR. Ahmad dan lainnya).

Pada hadits lain, beliau juga menceritakan akan kenia’matan lain yang telah dikaruniakan Alloh swt kepadanya.

أُعْطِيتُ خَمْسًا لم يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ من أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لي الْمَغَانِمُ ولم تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وكان النبي يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إلى الناس عَامَّةً. متفق عليه

“Aku dikaruniai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku;
Aku ditolong dengan dicampakkannya rasa takut pada musuh-musuhku sejak aku masih berjarak perjalanan satu bulan dari mereka.
Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat sholat (masjid) dan juga alat bersuci.
Maka dari itu barangsiapa dari umatku yang mendapatkan (waktu) sholat, maka hendaknya ia segera mendirikannya (dimanapun ia berada).
Rampasan perang dihalalkan untukku, padahal sebelumku tidak pernah dihalalkan untuk seorang Nabi pun.
Aku dikaruniai syafa’at (kubro’), dan Nabi-Nabi sebelumku senantiasa diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Menceritakan keni’matan semacam ini disyariatkan untuk kita lakukan, bila lawan bicara kita tidak memiliki sifat iri dan hasad.

Akan tetapi bila kita merasa, bahwa lawan bicara kita memiliki sifat hasad atau iri, seyogyanya kita tidak melakukannya, dan lebih baik menyembunyikan keni’matan tersebut tanpa harus berdusta.

استَعِيْنُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةً مَحْسُودٌ

“Berupayalah untuk mewujudkan kebutuhanmu dengan merahasiakannya karena setiap orang yang mendapatkan keni’matan pasti dihasadi oleh orang lain.” (HR. Thobroni)

Di antara bentuk menampakkan keni’matan yang merupakan wujud nyata dari syukur ni’mat ialah dengan menggunakan aneka rizki berupa benda ataupun rasa keni’matan tersebut dengan baik.

Pada suatu hari, Nabi saw menyaksikan seorang sahabat beliau yang berpakaian kusut dan berdebu. Menyaksikan penampilan sahabatnya yang tidak menarik tersebut, Nabi saw bertanya kepadanya:

أَلَكَ مَالٌ .؟ قال: نعم، قد آتَانِي اللَّهُ من كل الْمَالِ، قال: من أَيِّ الْمَالِ .؟ قال: آتَانِي اللَّهُ مِنَ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ، فقال له صلّى الله عليه وسلّم: إذا آتَاكَ اللَّهُ مَالا، فَلْيُرَ عَلَيْكَ أَثَرُ نِعْمَتِهِ وَكَرَامَتِهِ

“Apakah engkau memiliki harta kekayaan .?”
Sahabat itu menjawab:
“Ya, sungguh Alloh telah mengaruniaiku segala harta benda.”
Nabi saw kembali bertanya:
“Harta apa saja yang engkau miliki .?”
Sahabat itu kembali menjawab:
“Alloh telah meberi karunia kepadku kuda, dan budak.”
Maka Nabi saw bersabda kepadanya:
“Bila Alloh telah memberi karunia kepadmu harta kekayaan, maka hendaknya nampak pada dirimu pertanda keni’matan dan karunia-Nya itu.” (HR. Ahmad, Thobroni dan lainnya)

Di antara wujud nyata sikap syukur ni’mat ialah dengan senantiasa menyadari, bahwa segala keni’matan adalah karunia Alloh swt yang wajib untuk disyukuri. Sebagaimana kita juga menyadari, bahwa kita tidak akan pernah kuasa untuk menjalankan kewajiban bersyukur kepada-Nya dengan sepenuhnya. Keni’matan Alloh swt yang kita terima lebih besar dan lebih banyak dibanding sikap syukur yang kita lakukan.

Bahkan, ucapan dan sikap syukur itu sendiri merupakan ken’kmatan baru yang wajib disyukuri.

Diceritakan dalam sebuah riwayat (Isroiliyat), bahwa:
Tatkala Nabi Musa as diperintahkan untuk bersyukur kepada Alloh, ia berkata:
“Ya Alloh, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan sikap syukurku kepada-Mu adalah karunia baru dari-Mu yang aku terima .?”
Alloh swt menjawab ucapan Nabi Musa as ini dengan berfirman:
“Wahai Musa, saat inilah engkau telah mensyukuri keni’matan-Ku’, yaitu tatkala engkau menyadari, bahwa engkau tidak kuasa untuk mensyukuri keni’matan-Nya dengan sepenuhnya.”

Inilah yang mendasari Imam Syafi’i untuk berkata:

الحمد لله الذي لا يؤدى شكر نعمة من نعمه الا بنعمة منه توجب مؤدي ماض نعمه بادائها نعمة حادثة يجب عليه شكره بها

“Segala puji hanya milik Alloh, yang kita tidak akan dapat mensyukuri suatu keni’matan-Nya, kecuali bila kita mendapatkan keni’matan-Nya yang lain. Dan keni’matan yang telah menjadikannya dapat mensyukuri keni’matan yang telah lalu tersebut mengharuskannya untuk kembali bersyukur kepada Alloh karenanya.” (Ar-Risalah : Imam asy-Syafi’i)

KEWAJIBAN ORANG TUA DAN KEWAJIBAN ANAK

KEWAJIBAN ORANG TUA ATAS ANAK

Alloh swt berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

• Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

• Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.
• Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
• Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya,
• dan warispun berkewajiban demikian.
• Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan, maka tidak ada dosa atas keduanya.
• Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
• Bertakwalah kamu kepada Alloh dan ketahuilah bahwa Alloh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

(QS. Al-Baqoroh: 233)

MEMBERI NAMA YANG BAIK

Orang tua khususnya orang tua laki-laki/ayah mempunyai beberpa kewajiaban kepada ahlu amrihi. Dan Ahlu amrihi selain istri adalah sang anak. Salah satu diantara hewajibannya kepada anak adalah memberi nama-nama yang baik.

Setelah anak keluar/lahir dari rahim ibunya, sang ayah mempunyai kewajiban yang pertama yaitu mengazani dilenga kanan dan mengiqomahi ditelinga kiri kemudian memberikan nama yang baik kepada anaknya.

Sehingga dengan nama yang baik tersebut diharapkan bisa menjadi do’a yang baik buat sang anak dan selain itu kelak tidak akan malu saat dipanggil oleh sang pencipta karna menyandang nama yang buruk dan tidak baik, salah satu hadits dalam kitab Ahkamul-Fuqoha’ disebutkan:

أَنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ أَبَائِكُمْ فَحَسِّنُوْا أَسْمَائَكُمْ

“Sesungguhnya kamu akan dipanggil dengan nama nama kamu, maka baguskanlah nama nama kamu.”

di hadits yang lain dalam kitab “Tanwirul-Qulub juga disebutkan
“Akan dipanggil seseorang dengan nama bapak bapakmu (zaydun bin fulan) atau lainnya.“

Membaguskan nama dalam arti atau dengan bahasa arab yang bagus hukumnya sunnah, akan tetapi haram kalau artinya keluar dari syari’ah.

Kewajiban ini bukan kepada ibu tapi kepada ayah, namun sang ayah haruslah hati-hati serta teliti mencarikan nama, karna nama yang tidak baik secara arti, atau menisbatkan kepada orang yang tidak baik juga menimbulkan hal yang tidak baik pula.
karna itu sekali lagi berhati hatilah dalam memberikan nama kepada anak.

Tugas manusia dalam hidup tidak akan bisa terlaksana dn tidak akan dapat mencapai tujuannya bila tidak memperoleh bimbingan dn kekuatan dari Alloh swt.
Oleh sebab itu Alloh swt mengajarkan do’a :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Tuhanku .. yang selalu berbuat baik kepadaku.
Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang-orang yang tetap terus-menerus melaksanakan sholat secara benar dan baik.
Tuhan kami .. perkenankanlah do’aku
Baik yang untuk diriku maupun untuk orang lain.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
 
Tuhan kami .. ampunlah aku dan ampuni pula kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari hisab (hari perhitunan).”

(QS. Ibrohim: 40-41)

KEWAJIBAN ANAK BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA

Dari Mu’awiyah ibnu Jahimah as-Salami ra, bahwasanya dia pernah datang menemui Nabi saw lalu berkata:
“Wahai Rosululloh, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu.”
Maka beliau saw bertanya:
“Adakah engkau masih mempunyai ibu .?”
Orang itu menjawab, “Ya, masih.”
Beliau saw pun kemudian bersabda:
“Baik-baiklah dalam bergaul dengannya, karena sesungguhnya surga itu berada dibawah kedua kakinya.”
(HR. Nasa’i dan Thobroni).

Sabda beliau saw: ”…di bawah kedua kakinya…” adalah kinayah dari puncak ketundukan dan kerendahan diri, yaitu senantiasalah engkau melayani dan memperhatikan kebutuhan dan urusannya, karena sesungguhnya segala sesuatu apabila keadaannya berada di bawah kaki seseorang, maka sungguh ia menguasainya dimana ia tidak dapat sampai kepada yang lain kecuali dari arahnya.

Sebagaimana firman Alloh swt, perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam al-Qur’an kurang lebih berulang sebanyak 13 kali, dalam surat :

Al-Baqaroh : 83.
“Janganlah kamu menyembah selain Alloh, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.”

Al-Baqoroh : 180.
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak.”

Al-Baqoroh : 215.
“Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak.”

An-Nisa’ : 36.
“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.”

Al-An’am : 151.
“Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Alloh), berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.”

Al-Ankabut : 8.
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Luqman : 14.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kamu kembali.”

Lukman : 15.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kamu kembali, maka Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Isro’ : 23.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Isro’ : 24.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih-sayang dan ucapkanlah:
رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا

“Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Nuh : 28.
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dholim itu selain kebinasaan.”

Al-Ahqof ayat 15:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ibrohim : 40-41
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat.
Tuhan Kami, perkenankanlah do’aku.
Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”

AS SALAMU ‘ALAIKUM

AS SALAMU ’ALAIKUM

Sungguh sangat menarik untuk kita cermati, bahwa agama kita dinamakan Islam dan pengikutnya disebut muslim. Kata Islam berasal dari kata salam yang berarti selamat, dan dalam kaidah bahasa Arab muslim berarti aktif, ia bukan hanya selamat dan damai, namun lebih jauh ia mendatangkan keselamatan dan membawa kedamian.

SALAM merupakan kedamaian yang dirasakan dalam hati seseorang. Lawannya adalah keresahan atau kegundahan hati.

Dua macam keresahan hati:
Pertama, jika keresahan tersebut menyangkut apa yang akan terjadi maka hal itu disebut takut.
Kedua, jika keresahan tersebut lahir terhadap apa yang sudah terjadi maka ia disebut sedih.
Oleh karena itulah, muncul ungkapan:
“Dia takut akan kehilangan hartanya atau dia bersedih telah kehilangan hartanya”.

Kepatuhan akan aturan dan perintah Alloh swt akan mendatangkan kedamaian hati pada seseorang.
Sementara itu, pelanggaran terhadap aturan dan perintah Alloh swt akan mendatangkan keresehan hati.
Itulah sebabnya, kenapa Nabi Adam as dan ibu Hawa’ diperintahkan keluar dari sorga dengan bibit permusuhan.
Seperti disebutkan dalam al-Qur’an:

وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ

“Turunlah kalian .! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 36)

Nabi Adam as dan ibu Hawa’ ketika melakukan larangan Alloh swt, mereka dilanda keresahan jiwa. Keresahan itu adalah rasa takut akan mendapatkan hukuman Alloh swt serta sedih karena telah kehilangan ni’mat sorga.
Kondisi jiwa seperti ini membuat mereka tidak harmonis, sehingga lahir sikap saling menyalahkan. Akibat dari sikap saling menyalahkan, maka timbullah permusuhan.

Oleh sebab itu pula, dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Adam as. dan ibu Hawa’ dibuang ke bumi dalam keadaan terpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, demi menghapus rasa ketidak harmonisan.
Begitu pula, sebabnya generasi manusia yang pertama Qobil melakukan pembunuhan terhadap Habil, sebagai gambaran wujud dari cikal-bakal ketidak harmonisan dan permusuhan tersebut.

Untuk memperoleh kedamaian dan menghilangkan keresahan jiwa tersebut berupa ketakutan dan kecemasan hendaklah manusia mengikuti petunjuk dan tuntunan Alloh swt.
Itulah sebabnya, kenapa Nabi Adam as dan ibu Hawa’ diperintahkan untuk mengikuti pentujuk Alloh swt ketika sampai di bumi, agar rasa takut dan cemas hilang dari mereka.
Seperti disebutkan dalam al-Qur’an:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 38)

Dari Abu Umammah ra, Rosululloh saw bersabda:
”Orang yang lebih dekat kepada Alloh swt adalah yang lebih dahulu memberi Salam.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh bersabda:
“Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.”

Dari Imron Ibnu Hushain ra, berkata:
“Sorang laki-laki datang kepada Nabi saw, lalu mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

Nabi saw menjawab salam itu, lalu orang itu duduk dan beliau saw bersabda:
“Sepuluh (kebaikan)”
Kemudian datang orang lain dan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Nabi saw menjawabnya, lalu orang itu duduk dan beliau saw bersabda:
“Dua puluh (kebaikan)”
Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Nabi saw membalas salamnya lalu dia duduk dan beliau bersabda:
“Tiga puluh (kebaikan)”
(HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Coba perhatikan kalimat diatas .! Semuanya merupakan redaksi salam yang disampaikan para sahabat. Rosul saw tidak menyalahkannya, Beliau hanya menyatakan bilangan sepuluh, dua puluh dan tiga puluh. Ini maksudnya adalah pahala untuk masing-masing redaksi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pahala yang banyak ucapkanlah salam secara utuh dan lengkap.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rosululloh saw menerima tamu delegasi kaum Yahudi yang mengucapkan salam dengan kata:
“Assamu ’Alaikum”
(yang artinya adalah:
“semoga kematian ditimpakan kepada kalian semua.”
Perkataan ini sekilas, terdengar mirip dengan kata salam yang biasa diucapkan umat Islam, namun sesungguhnya jika didengar lebih jeli, vokal dan arti kata tersebut berbeda 180 derajat.)
Mendengar itu, istri Nabi saw, ‘Aisyah ra, membalas dengan mengatakan:
“Semoga kematian segera ditimpakan kepada kalian, laknat Alloh akan menimpamu.”
Rosululloh saw memberikan jawaban (yang lebih baik secara diplomatis yaitu):
“Wa’alaikum” (yang berarti ”atas kamu.”)
(HR. Bukhori)

Dalam konteks cerita ini, terlihat betapa lembutnya hati Rosululloh saw, padahal sesungguhnya orang Yahudi itu bermaksud menghina beliau saw, dengan plesetan yang seolah-olah memberikan salam. Beliau saw tidak ingin menyakiti hati kaum Yahudi, namun ketika kaum tersebut mengatakan kata-kata kasar, maka beliau menjawabnya dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh kaum Yahudi itu sendiri.

Begitulah seharusnya seorang yang disebut muslim, hendaklah dia menyelamatkan orang lain serta membawa kedamaian pada siapupun dan di manapun.

Alloh stw berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (minimal dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’: 86)

MANIFESTASI HUBUNGAN SESAMA MUSLIM

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman. Dan, kalian tidak disebut beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlahsalam diantara kalian .!” (HR. Muslim).

Salah satu ajaran pembeda antara Islam dan agama lainnya adalah adanya tuntunan untuk mengucapkan salam yang isinya tiada lain adalah do’a. Salam tidak hanya sebagai simbol atau syi’ar Isam saja, melainkan sebagai suatu hal yang dampaknya besar terhadap ketenangan dan kenyamanan hidup.
Artinya, ucapan salam dari seorang muslim terhadap muslim lainnya mampu menyiram panasnya hati dan menjadi jaminan keamanan dari kejahatan dan kekhilafan sesama. Salam yang dampaknya positif ini merupakan salam yang tulus dari hati, bukan kamuflase dan tipuan.

Definisi
Salam berasal dari kata:
سَلِمَ يَسْلِمُ سَلْمًا وَسَلاَمَةً
“Selamat dari bahaya atau bebas dari cacat.”

Adapun istilah salam sebagai ucapan do’a, dalam hadits dibahasakan dengan kata:
سَلَّمَ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا
“Menyelamatkan, memberi keselamatan.”

Jadi, salam sebagai ucapan atau do’a muncul dari sikap ingin menyelamatkan atau memberi keselamatan kepada sesama muslim. Sehingga, ucapan salam isinya agar sesama muslim mendapatkan keselamatan. Ini merupakan manifestasi dari akar kata salam itu sendiri: menyemalatkan, memberi keselamatan.

Redaksi Salam
Adapun redaksi salam yang diajarkan Rosululloh saw, adalah sebagaimana yang kita kenal saat ini, yaitu:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rohmat Alloh dan barokah-Nya tercurah kepadamu.”

Etika Salam
Dalam hadits-hadits yang masyhur, salam memiliki etika yang harus dipenuhi oleh kita. Diantara etika yang diajarkan oleh Nabi saw sallam sebagai berikut:

1. Waktu Mengucapkan Salam
a. Ketika memasuki rumah
b. Ketika bertemu dan berpisah
c. Ketika hendak memasuki dan keluar dari majlis.

2. Subjek dan Objek Salam
a. Salam hanya untuk sesama muslim
b. Anak mendahului salam kepada yang dewasa
c. Yang berkendaraan lebih dulu mengucapkan salam kepada pejalan kaki
d. Yang berjalan kaki lebih dulu mengucapkan salam kepada yang sedang duduk
e. Kelompok yang sedikit lebih dulu mengucapkan salam kepada yang lebih banyak dan cukup diwakili oleh salah seorang saja
f. Jika kedua belah pihak setara dalam usia atau keadaan, yang paling baik adalah yang pertama mengucapkan salam.
j. Jika orang kafir mengucapkan salam, jawabannya adalah, “Wa’alaika”. Tidak lebih dari itu.

Fadilah Salam
Yang namanya syari’at ya sudah pasti ada keutamaan atau fadhilahnya. Nah, karena salam merupakan bagian dari syari’at, maka salam pun memiliki fadhilah yang cukup banyak, diantaranya:

1. Pahala 10-30 Kali
Ucapan salam memiliki fadilah berupa pahala mulai dari 10-30 kali kebaikan. Sepuluh kebaikan akan didapat jika redaksinya hanya “Assalamu’alaikum”, dua puluh kebaikan bisa diperoleh jika redaksinya “Assalamu’alaikum warohmatulloh”, dan tiga puluh kebaikan dapat dimiliki jika  redaksinya lengkap yakni “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.”

2. Masuk Sorga dengan Selamat
Fadilah salam lainnya adalah sebagai fasilitas masuk sorga dengan selamat. Rosululloh saw bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَام
“Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, dan sholatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur; pasti kalian akan masuk sorga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).

3. Tanda Cinta
Rosululloh saw bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman. Dan, kalian tidak disebut beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai .? Sebarkanlah salam diantara kalian .!” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut dijelaskan secara jelas bahwa masuk sorga itu karena beriman, beriman itu salah satu upaya mencintai sesama, dan mencintai sesama itu manifestasinya adalah ucapan salam. Jadi, mengucapkan salam secara tulus dari hati  mampu menjaga keutuhan cinta terhadap sesama muslim. Saling mencintai sesama muslim akan menyempurnakan keimanan. Dan, keimanan yang  sempurna akan mengantarkan kita ke sorga.  

Esensi Salam
Sebagai sebuah syari’at salam memiliki esensi, yaitu:
1. Komitmen untuk menjaga ukhuwah imaniyah-islamiyah
2. Ta’awun dalam kompetisi meraih sorga
3. Kolektivitas (kebersamaan) dalam kesejahteraan di dunia dan akhirat

Salam merupakan syariat yang fadhilahnya cukup banyak. Oleh karena itu, mari kita jadikan ucapan salam sebagai sebuah tradisi Islami. Tentunya, ucapan salam mesti kuncup dari hati yang ikhlas, murni mengharap ridho Alloh swt. Dan, yang sudah pasti adalah etika salam terjaga dengan baik, tidak diucapkan kepada orang non muslim.

UCAPKAN ASSALAMU’ALAIKUM DENGAN BENAR

Ibnu al-Arobi di dalam Ahkamul-Qur’an mengatakan:
“Orang yang mengucapkan “salam” itu memberikan pernyataan bahwa kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku”

Salam juga berarti:
Dzikir kepada Alloh swt. Pengingat diri. Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim. Pernyataan atau pemberitahuan bahwa “anda aman dari bahaya tangan dan lidahku”. Dan do’a yang istimewa “semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan, kesusahan dan penderitaan, semoga Alloh menjadi pelindungmu, dan semoga Alloh memberi keamanan bagimu.”

Dalam sebuah Hadits dikatakan:
“Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidah dan tangannya”

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS, BBM, FB TWITER dan jejaring sosial lainnya, dengan kalimat salam yang lengkap “Assalamu’alaikum”, solusinya cukup mudah, tulis saja pesan “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya dari yang mudah-mudah selain “Ass” yang berarti “pantat, keledai dan orang bodoh”. Jangan sampai niat baik ingin berdo’a, jadinya malah ucapan kotor dan cacian.

Minimal pengguna’an kalimat adalah “As-Salam” sebagai singkatan bagi “Assalammu’alaikum”
karena “As-Salam” adalam asma Alloh yang mengandung ma’na keselamatan, keamanan dan perlindungan ..

Dari Abdulloh bin Mas’ud ra, Rosululloh saw bersabda:
“Salam adalah salah satu Asma Alloh yang telah Dia turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam.”
(HR. Al Bazar dan Thobroni)

Jangan gunakan “Bye”
kerana“Bye” bermaksud “Di bawah naungan pope.” Bagi orang kristen ..
Jangan gunakan “A’kum”
kerana “A’kum” bermaksud “Binatang” dalam bahasa Yahudi.
Jangan gunakan “Semekom” kerana“Semekom”bermaksud “Celaka Kamu.”
Dan jangan gunakan “Assaamu‘alaikum” (tanpa huruf L / Lam-alif dalam huruf Arab) karena ia berma’na
“Semoga kematian dilimpahkan kepadamu”.

Salam secara harfiyah berarti selamat, damai dan sejahtera. Selamat berarti luput dari aib, cacat, kekurangan atau kebinasaan. Oleh karena itulah, jika terjadi kecelakaan, kemudian ada yang luput dari bencana itu maka dia disebut orang yang selamat.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Kamu tidak akan masuk sorga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Alloh).
Apakah kamu menginginkan jika aku tunjukkan pada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai .?
Sebarkanlah salam di antara kamu.”
(HR. Muslim)

Ucapan “Assalamu’alaikum” adalah kalimat sederhana yang sangat mudah dan ringan di ucapkan sebagai penghormatan dan do’a untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat muslim di seluruh dunia.

UJIAN KESABARAN IBARAT MENANTI HUJAN REDA

Di saat menanti hujan reda, apa yg biasa dirasakan org .? Terasa lama .? Mungkin .. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga puluh jam lamanya atau mungkin malah lebih .. Inilah rasanya ujian kesabaran itu.

Banyak org mengatakan, kesabaran ada batasnya .. Bila ujian kesabaran diibaratkan dgn menanti hujan reda, apakah org akan menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yg tengah menerpa bumi .? Sedang hujan hanyalah merupakan makhluk ‘pendiam’ yg ta’akan mungkin menghiraukan rintihan kekesalan org .. Ia mengguyur ke bumi atas perintah-Nya .. Ta’peduli org mengeluh kesal kepadanya, atau bahkan memaki akan kedatangannya yg tak kunjung pergi.

Bagi hujan sendiri sudah biasa untuk dikeluhkan org, di awal kedatangannya, org akan nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh …!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yg muncul ini sudah menunjukkan betapa awal ujian kesabaran itu sudah terpatahkan oleh rasa tidak bersyukurnya akan turunnya ni’mat hujan.

Belum lagi di benaknya masih membayangkan bagaimana nasib jemuran bajunya di rumah .. Sudah pasti akan basah kuyub, setelah sebelumnya ta’sempat ‘diselamatkan’ dari guyuran air hujan .. Terbetik pula bagaimana nasib kendaraannya yg berkilau lantaran baru dicuci kemarin sore, lagi-lagi harus terkena cipratan air hujan yg bercampur tanah .. al-Hasil, kotorlah sudah ..!

Ini baru contoh sederhana, belum contoh-contoh lain yg amat menguji kesabaran .. Misalnya ketika urusan duniawi yg menurutnya sangat urgen untuk segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda lantaran hujan.

Di saat air hujan semakin deras mengguyur, ta’kunjung reda, saat inilah kesabaran org benar-benar berada di titik kulminasi .. Terbayang di benaknya, berapa kerugian yg didapat karena urusan duniawinya banyak yg terbengkalai .. Saat itu juga, emosi kian ta’terbendung .. Umpatan-umpatan kekesalan pun keluar dari mulutnya .. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan, seolah hujan adalah makhluk serupa dengannya.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rohmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.
Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“
(QS. Al-A’rof: 57)

Hujan diturunkan sebagai pembawa berita gembira, namun yang terjadi justru malah sebaliknya .. Org malah berkeluh kesah dgn hadirnya hujan .. Ta’ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya hujan tengah menghambat urusan duniawinya .. Ta’tahukah org, untuk apa hujan diturunkan …?

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan Alloh menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).”
(QS. An-Nahl: 65)

Bayangkan jika hujan tidak diturunkan ke bumi, tidak akan mungkin ada kehidupan di sini .. Bumi akan mengering, dan semua makhluk hidup akan mati .. Dalam ayat lain Alloh swt juga berfirman.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”
(QS. An-Nahl: 10)

Hujan yg membawa berkah, menghidupkan serta menyuburkan tanaman-tanaman yg hijau lagi banyak buahnya .. Inilah ibarat ujian kesabaran itu, layaknya menanti hujan reda .. Menanti memerlukan kesabaran yg teramat berat, terlebih ketika harus merelakan hal-hal yang menyangkut duniawi.

Hujan yg diduga sebagai penghambat pada urusan duniawi, sesungguhnya merupakan berkah dari-Nya .. Kehadirannya akan menghijaukan tanaman hingga menghasilkan buah yg ranum, menghasilkan mata air yg jernih yg sangat bermanfaat bagi semua makhluk yg hidup di bumi ini.

Demikian halnya dengan ujian kesabaran itu .. Meski diduga sebagai sesuatu yg pahit dirasa, atau bahkan berat didaki, namun sesungguhnya Alloh swt akan menghadiahi sorga bagi para hamba-Nya yg sabar.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali Imron: 142)

Ujian dari Alloh swt ta’hanya berupa kesedihan, tapi juga mencakup kebahagiaan .. Sayangnya, ketika org diuji dgn kebahagiaan, org lupa jika itu hanyalah sebuah ujian .. Ketika mendapat kebahagiaan, org malah berpikir bahwa itu adalah keberuntungan .. Padahal, keberuntungan di dunia ini hanyalah merupakan tipuan ..

لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Al-Hadiid: 23)

Seperti halnya ketika menanti hujan reda .. Meski hujan mengguyur deras, ta’kunjung reda, hingga menyebabkan banjir, tanah longsor ataupun bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa tiap-tiap org yg beriman .. Bagaimanapun hujan adalah berkah dari-Nya, meski kehadirannya terkadang mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para hamba-Nya agar bersyukur.

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً

“Mengapa Alloh akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman .?
Dan Alloh adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisaa’: 147)

Maka bersabarlah .. karena Alloh swt beserta org-org yg sabar .. Ujian kesabaran itu ibarat menanti hujan reda .. Terasa lama untuk dinanti redanya, hingga  terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yg banyak memberi mudharat pada urusan duniawi.

Namun, tidak bagi org-org yg bersabar .. Ia akan mema’nai hujan sebagai berkah dari-Nya, berapapun lamanya dn banyaknya curah hujan yg diturunkan .. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia akan tetap bersabar, karena di balik ujian pastilah mengandung hikmah ..

Dan semestinyalah, org-org yg beriman akan mengambil hikmah di balik cobaan itu .. Ia akan senantiasa bersabar dn bersyukur di kala sedih ataupun bahagia .. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan ujian dari-Nya, agar nyatalah siapa sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang terpilih itu.

Awan Tag