Archive for the ‘IBADAH SHOLAT’ Category

MUSYAWAROH dn ISTIKHOROH

MUSYAWAROH dn ISTIKHOROH

Dalam ajaran Islam, ada sebuah amalan instikhoroh yang bisa menuntun seseorang menjalani kehidupan untuk dapat meraih kesuksesan dunia akherat yang diridhoi oleh Alloh swt.

Kata istikhoroh berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis (lughowi) artinya “meminta pilihan pada sesuatu”.
Dalam istilah ulama fiqih istikhoroh adalah berusaha memilih yang terbaik salah satu di antara dua hal, dengan cara sholat dan berdo’a.

Istikhoroh merupakan permohonan petunjuk kepada Alloh swt yang terus menerus dalam setiap langkah dengan mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

Rosululloh saw bersabda:
“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.” (HR. Ibnu Mubarok)

Hadits diatas mengajarkan kepada agar Selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan. Baik dampaknya bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat.
Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan sikap istikhoroh, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah.
Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut.

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawaroh dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawaroh, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh.

Rosululloh saw bersabda:
“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawaroh, dan tak akan pernah menyesal orang yang mau beristikhoroh.” (HR. Thobroni)

Terlebih lagi, jika musyawaroh itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Alloh swt. Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih luas dan mendalam, serta dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Alloh dan Rosul-Nya.

Alloh swt berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 43)

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah disandarkan kepada Alloh swt. Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

CARA SHOLAT ISTIKHOROH

Syarat sholat sunnah istikhoroh sama dengan sholat sunnah yang lain ya’ni
a) pelaku harus dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar.
b) tempat sholat harus suci dari najis.
c) pakaian sholat harus suci dari najis.
d) sedikitnya jumlah rokaat dalam sholat istikhoroh adalah 2 rokaat.

Niat sholat istikharah:
أصلي سنة الإستخارة ركعتين لله تعالي
Aku niat sholat sunnah istikhoroh dua roka’at karena Alloh Ta’ala.

Rokaat pertama:
membaca surat al-Fatihah dan surah al-Kafirun.
Rokaat kedua:
membaca surat al-Fatihah dan surat al-Ikhlas.
Setelah sholat istikhoroh membacal do’a.

Dari Jabir ra, ia berkata:
“Rosululloh saw mengajarkan kami ber-istikhoroh dalam seluruh perkara sebagaimana beliau saw mengajar kami surat Al-Qur’an. Beliau saw bersabda:

إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila kalian bermaksud sesuatu, maka shalotlah dua raka’at sunnah kemudian berdo’alah…” (HR. Bukhori)

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ

“Ya Alloh aku beristikhoroh (meminta pilihan) dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon keutamaan-Mu.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi mengatakan:
“Jika seseorang melakukan istikhoroh, maka lanjutkanlah apa yang menjadi kelapangan hatinya.”
Maksudnya apa yang menjadi kelapangan hatinya adalah berdzikir kepada Alloh swt dalam rangka memohon petunjuk dan ridho-Nya.

Ibnu hajar mengatakan:
“Setelah melakukan sholat istkhoroh, berpeganglah pada pilihan yang kamu merasa mantap tanpa didasari hawa nafsu.”

Kebanyakan orang menentukan hasil akhir dari istikhoroh adalah melalui mimpi, dan mimpi setelahnya akan dianggap sebagai “keputusan final”.
Sebenarnya hal ini kurang tepat dan tidak ada dasar hadits maupun pendapat ulama salaf.
Memang tidak masalah mengandalkan mimpi setelah sholat istikhoroh kalau dapat mengambil kesimpulan mimpinya dan ternyata baik.
Yang menjadi soal kalau ternyata mimpinya justru mengarah ke hal-hal yang negatif atau tidak membawa maslahat. Apalagi, mimpi tidak lepas dari 3 kemungkinan: dari Alloh, dari setan dan dari diri sendiri.
Karenanya tidak ada jaminan mimpi yang datang setelah sholat istikhoroh adalah mimpi dari Alloh swt.

Berdasarkan hadits dan pendapat ulama, keputusan final setelah sholat istikhoroh hendaknya dilakukan sesuai dengan kelapangan hati dan analisa yang tulus. Dua hal ini hanya dapat dilakukan pada saat bangun, bukan saat sedang tidur.

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawaroh dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawaroh, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh.

Rosululloh saw bersabda:
“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawaroh, dan tidak akan pernah menyesal orang yang mau beristikhoroh.” (HR. Thobroni)

Terlebih lagi, jika musyawaroh itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Alloh.
Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih luas dan lurus serta mendalam, sebab dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Alloh swt dan Rosul-Nya saw.

Alloh swt berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُو

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl; 43)

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah disandarkan (istikhoroh) kepada Alloh swt.
Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

MUSYAWAROH dan ISTIKHOROH sangat erat hubungannya untuk mencapai hasil yang diharapkan ya’ni selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu waspada dalam memilah dan memilih setiap tindakan yang dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan.
Baik dampaknya bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan musyawaroh dan istikhoroh, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah. Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut.

Rosululloh saw bersabda:
“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.” (HR. Ibnu Mubarok)

DO’A SHOLAT ISTIKHOROH

Setelah selesai sholat, tiba waktunya berdo’a. Tata cara berdo’a yang ideal sebagai berikut:

1. Membaca hamdalah dan sholawat ibrohimiyah.

الحمد لله رب العالمين. حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده. يا ربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

2. Dilanjutkan dengan membaca do’a khusus untuk istikhoroh di bawah berdasarkan hadits shohih riwayat Imam Bukhori :

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ

(sebutkan keperluannya)

خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي

أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ

(sebutkan keperluannya)

شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي

أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ

(sebutkan keperluannya)

3. Tutup do’a di atas dengan bacaan sholawat ibrohimiyah seperti di atas, yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Catatan: tentu saja Anda dapat berdo’a dengan bahasa sendiri.

YANG DILAKUKAN SETELAH SHOLAT ISTIKHOROH

Setelah sholat istikhoroh dan do’a rampung hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai kelapangan hatinya.
Imam An-Nawawi mengatakan:

إذا استخار مضى لما شرح له صدره

“Jika seseorang melakukan istikhoroh, maka lanjutkanlah apa yang menjadi kelapangan hatinya.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Bukhori mengatakan:
“Setelah istikhoroh berpeganglah pada pilihan yang Anda merasa mantap tanpa didasari hawa nafsu.”

WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT ISTIKHOROH

Sholat istikhoroh dapat dilakukan kapan saja selain waktu yang dilarang. Waktu yang dilarang adalah setelah subuh sampai kira-kira masuk waktu dhuha dan setelah sholat ashar.

Namun, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang akhir karena ada hadits yang mengatakan waktu tersebut sebagai waktu mustajab untuk berdo’a. Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Iklan

IBADAH HANYA UNTUK ALLOH SWT

IBADAH HANYA UNTUK ALLOH SWT

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam.
Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh).” (QS. Al An’am 162-163).

Ayat ini memerintahkan: Katakanlah wahai Nabi Muhammad saw bahwa sesungguhnya sholatku, dan semua ibadahku termasuk korban dan penyembelihan binatang yang kulakukan dan hidupku bersama segala yang terkait dengannya, baik tempat, waktu, maupun aktivitas dan matiku, yakni iman dan amal sholeh yang akan kubawa mati, kesemuanya kulakukan secara ikhlas dan murni hanyalah semata-mata untuk Alloh, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya antara lain dalam penciptaan alam raya dan kewajaran untuk disembah dan demikian itulah tuntutan yang sangat tinggi kedudukan lagi luhur yang diperintahkan kepadaku oleh nalar yang sehat dan juga oleh Alloh swt dan aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang-orang muslim, yakni orang-orang muslim yang paling sempurna kepatuhan dan penyerahan dirinya kepada Alloh swt.

Ayat ini dapat dipahami sebagai penjelasan tentang agama Nabi Ibrohim as. sekaligus merupakan gambaran tentang sikap Nabi Muhammad saw yang mengajak kaumnya untuk beriman.

Ayat ini juga menjadi semacam bukti bahwa ajakan beliau kepada umat agar meninggalkan kesesatan dan memeluk islam, tidaklah beliau maksudkan untuk meraih keuntungan pribadi dari mereka, karena seluruh aktivitas beliau hanya demi karena Alloh swt semata-mata.

Melalui ayat diatas Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk menyebut 4 hal yang berkaitan dengan wujud dan aktivitas beliau saw yaitu *shalot dan *ibadah, serta *hidup dan *mati.
Dua yang perrtama termasuk dalam aktivitas yang berada dalam pilihan manusia. Kalau dia mau dia dapat beribadah, kalau enggan dia dapat meninggalkannya. Ini berbeda dengan hidup dan mati, keduanya ditangan Alloh swt. Manusia tidak memiliki pilihan dalam kedua hal ini.

Menurut asy-sya’rowi, sebenarnya sholat dan ibadahpun adalah dibawah kekuasaan Alloh swt. Karena Dialah yang menganugerahkan kepada manusia kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Anggota badan kertika melaksanakannya mengikuti perintah Anda dengan menggunakan kekuatan yang Alloh swt anugerahkan kepada jasmani untuk melaksanakannya. Disisi lain, seseorang tidak sholat, kecuali jika dia sadar bahwa Alloh swt yang memerintahkannya sholat. Jika demikian, semuanya ditangan Alloh swt. Karena itu sangat wajar jika sholat dan semua ibadah dijadikan demi karena Alloh swt.

Adapun hidup dan mati, maka keadaannya lebih jelas lagi, karena memang sejak semula kita telah menyadari bahwa keduannya adalah milik Alloh swt dan berada dalam genggaman tangan-Nya.

Kesimpulan kandungan ma’na ayat diatas:

1.  Alloh swt. memerintahkan kepada manusia untuk berserah diri hanya kepada-Nya.
2. Alloh swt. adalah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam Mencipta, Memelihara dalam mengatur alam semesta beserta isinya.
3. Perintah Alloh swt. untuk berlaku ikhlas dalam berakidah, beribadah dan beramal.
4. Perilaku yang sesuai dengan Qs. al-An’am ayat 162-163, antara lain :

a. Berserah diri hanya kepada Alloh swt.
b. Menghambakan diri dan mengabdi hanya kepada-Nya.
c. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
d. Menjauhkan diri dari sikap syirik.
e. Beribadah dengan ikhlas hanya mengharap Ridho-Nya.

IKHLAS DAN SABAR DALAM IBADAH

Ibnu Atho’illah as-Sukandari dalam Hikamnya mengatakan:

اشهدك من قبل ان يستشهدك
فنطقت بإلهيته الطواهر وتحققت بأحديته القلوب والسائر

“Alloh memperlihatkan Dzat-Nya kepadamu sebelum Dia menuntut (memerintah) kepadamu harus mengakui kebesaran-Nya.
Maka anggota lahir mengucapkan (mengakui) sifat ke-Tuhanan-Nya dan hati menyatakan dengan sifat-sifat ke-Esaan-Nya.”

Sebelum Alloh swt menntut hamba-Nya untuk melakuakan ibadah kepada-Nya, Alloh telah lebih dahulu memperhatikan Kebesaran dan Keluhuran-Nya. Untuk itu setiap anggota badan manusia mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Diantara anggota badan tersebut adalah seperti lisan, telinga, mata, indra perasa, indra pencium (hidung), indra peraba, tangan dan kaki. Adapun mengenai perincian tugas-tugas dari anggota badan tersebut adalah sebagai berikut:

1.        TUGAS ibadah LISAN

Tugas atau ibadah lisan kepada Alloh swt, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu :

a.       Ibadah wajib, diantaranya:
– Mengucapkan dua kalimat syahadat.
– Mengucapkan takbir.
– Membaca surah al-Fatihah ketika sholat.
– Membaca dzikir-dzikir yang diwajibkan dalam sholat, seperti membaca tasbih dalam ruku’ dsn sujud.
– Mengucapkan atau menjawab salam.
– Melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
– Mengajar orang yang bodoh.
– Memberikan kesaksian yang jujur.
– Membenarkan perkataan.

b.      Ibadah yang haram (tidak bileh dilakukan) diantaranya:

– Mengucapkan segala sesuatu yang dibenci Alloh swt dan Rosul-Nya saw.
– Mengucapkan atau menyebarkan perkara-perkara aib.
– Menghina atau menuduh orang Islam.
– Berkata bohong.
– Memberikan kesaksian palsu.
– Berkata atas nama Alloh swt tanpa dasar (alasan) yang jelas.

c.       Ibadah yang makruh, diantaranya:

– Membicarakan hal-hal yang tidak perlu (sia-sia) meskipun itu tidak dilarang (tidak berdosa) apabila membicarakannya.

2.        TUGAS ibadah TELINGA

a.       Ibadah yang wajib diantaranya:

– Mendengarkan dan memperhatikan penjelasan-penjelasan akan Alloh swt dan Rosul-Nya saw, seperti penjelasan-penjelasan mengenai keimanan, keislaman besrta ketentuan-ketentuannya.
– Mendengarkan bacaan imam ketika sholat berjama’ah.
– Mendengarkan khutbah jum’at.

b.       Ibadah yang haram, diantaranya:

– Mendengarkan hal-hal yang berkaitan dengan kekufuran dan aib, kecuali bila mendengarkannya itu akan mendatangkan kebaikan, seperti agar bisa mengetahui akibat-akibat buruknya dan sebagainya.
– Mendengarkan rahasia-rahasia orang lain.
– Mendengarkan suara perempuan yang bukan mahromnya (tidak ada kepentingan), kecuali ada keperluan yang memang diperbolehkan oleh syar’i, seperti jual beli, penyaksian, minta nasehat, pengaduan, pengobatan dan sebagainya.

c.       Ibadah yang sunnat diantaranya:

– Mendengarkan keterangan-keterangan mengenai ilmu.
– Mendengarkan bacaan al-Qur’an, dzikir dan segala sesuatu yang disukai Alloh swt yang bukan termasuk perintah wajib.

3.        TUGAS ibadah MATA

a.      Ibadah yang wajib, diantaranya:

– Melihat al-Qur’an dan kitab-kitab ilmu sewaktu harus memmpelajari isinya agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram atau agar pula bisa memberi nasehat kepada keluarganya atau saudaranya berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an.

b.      Ibadah yang haram, diantaranya:

– Memandang wanita yang bukan mahromnya dengan disertai nafsu syahwat.

c.       Ibadah yang sunnat, diantaranya:

– Melhat kitab tentang ilmu agama dan agar bisa menambah pengetahuan dan ketaqwaannya.
– Melihat (membaca) al-Qur’an.
– Memandang wajah para ulama.
– Melhat kepada orang tua.
– Melihat tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan keesaran Alloh swt melalui benda-beda ciptaan-Nya.

d.       Ibadah yang makruh diantaranya:

– Melihat secara berlebih-lebihan sesuatu yang tidak akan mendapatkan manfa’at dari padanya.

e.      Ibadah yang mubah diantarana

– Melihat sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfa’at tetapi tidak pula dapat mendatangkan mudhorot.

4.        Tugas (ibadah) indra perasa

a.      Ibadah yang wajib, diantaranya:
–          Merasakan (memakan dan meminum) sesuatu yang apabila sesuatu itu tidak dimakan atau diminumnya maka akan menyebabkan kematian.

b.      Ibadah yang haram, diantaranya:
–          Mencicipi minuman keras atau racun.
–          Memakan makanan ketika sedang berpuasa wajib.

c.       Ibadah yang makruh, diataranya:
–          Makan atau minum sesuatu yang syubhat.
–          Makan dan minum secara berlebih-lebihan.
–          Makan dan minum didalam walimah yang kita tidak diundang didalamya atau walimah yang diadakan dengan tujuan mendapatkan pujian atau karena malu kepada orang lain.

d.      Ibadah yang sunnat diantaranya:
–          Makan atau minum yang sekiranya dapat membantu untuk beribadah kepada Alloh.
–          Makan atau minum bersama-sama dengan tamu.
–          Makan atau minum adalah suatu walimah yang wajib didatanginya.

e.      Ibadah yang mubah diantaranya:
–          Makan atau minum yang tidak ada dosa didalamnya tetapi juga tidak ada perintahnya.

5.        TUGAS ibadah HIDUNG

a.       Ibadah yang wajib diantaranya:

– Ciuman untuk membedakan antara yang halal dan haram.
– Ciuman untuk membedakan mana racun yang berbahaya dan mana yang tidak.
– Ciuman untuk membedakan sesuatu yang bermanfa’at dengan yang tidak.

b.       Ibadah yang haram diantarana:

– Dengan sengaja mencium wangi-wangian ketika sedang ihrom.
– Mencium wangi-wangian yang bukan miliknya dan merupakan barang pilihan.
– Mencium wanita yang bukan muhrimnya.

c.       Ibadah yang sunnat, diantarana:

– Mencium sesuatu yang dapat meningkatkan ketaatannya kepada Alloh swt.
– Mencium sesuatu yang dapat memperkuat indra-indra yang lain atau yang dapat memberikan semangat untuk beramal.
– Mencium istri (berkasih sayang).

d.       Ibadah yang makruh, diantaranya:

– Mencium wangi-wangian milik orang yang dholim atau yang suka mengerjakan perkara-perkara yang syubhat.
– Mencium sesuatu yang tidak dilarang dan tidak pula diperintahkan atau mencium sesuatu yang tidak mendatangkan kemaslahatan dan yang tidak ada hubungan dengan syara’.

  
6.        TUGAS ibadah PERABA

a.       Ibadah yang wajib, diantaranya:

– Meraba istri ketika akan berjima’ dan kepada hamba sahaya yang wajib dilindunginya.

b.       Ibadah yang haram, diantaranya:

–          Meraba perempuan yang bukan mahromnya (ajnabiyah).

c.       Ibadah yang sunnat diantaranya:

– Meraba sesuatu yang sekiranya dapat menundukkan pandangan. dan mencegah nafsu dari perbuatan yang dilarang.
– Meraba-raba (membelai) istrinya untuk memberikan ketenangan padanya.
– Meraba (mengusap memberikan kasih sayang) anak kandung.
– Meraba (mengusap) kepala anak yatim atau piatu.

d.       Ibadah yang makruh diantaranya:

– Meraba-raba istri ketika dalam keadaan ihrom, ketika i’tikaf dan ketika berpuasa wajib dimana dengan rabaan-rabaan itu dikhawatirkan tidak dapat menahan syahwatnya.
– Meraba tubuh jenazah bukan dengan keperluan memandikannya, karena tubuh jenazah itu mempunyai kedudukan yang sama dengan ketika masih hidup.

e.       Ibadah yang mubah diantaranya:

– Meraba-raba sesuatu yang tidak mendatangkan maslahat atau mudhorot.

7.        TUGAS ibadah TANGAN

a.       Ibadah yang wajib, dianaranya:

– Bekerja ntuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri atau orang-orang yang menjadi hak-haknya (tanggungannya).
– Bekerja (mencari uang) untuk membayar hutang. (Adapun bekerja agar bisa membayar zakat hukumnya tidak wajib. Sedangkan bekerja agar bisa menunaikan ibadah haji atau berkurban hukumnya masih diperselisihkan).
– Menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
– Melempar jumroh ketika melaksanakan iadah haji.
– Membasuhnya dengan air ketika berwudhu’ atau mengusapnya dengan debu ketika bertayammum.
– Menyambut jabat tangan (yang tidak diharamkan) ketika diajak berjabat tangan sesama Muslim.

b.        Ibadah yang haram diantaranya:

– Membunuh jiwa bukan atas dasar yang diperbolehkan oleh agama.
– Merampok atau menganiaya orang yang tidak bersalah.
– Bermain dengan alat-alat (permainan) yang diharamkan oleh nash, seperti bermain dadu, (sedangkan bermain catur, menurut ahli Madinah dan ahli hadits seperti imam Ahmad juga diharamkan meskipun ada sebagian ulama yang mengatakan boleh).
– Menulis yang dapat membawa seseorang kedalam perbuatan maksiat dan permusuhan.

c.         Ibadah yang sunnat diantaranya:

– Menulis sesuatu yang bisa mendatangkan manfa’at.
– Membantu orang lain yang sedang bekerja.
– Menyentuh Hajar Aswad ketika Thowaf.
– Melambaikan tangan ketika di Rukun Yamani.

D.         Ibadah yang makruh diataranya:

– Melakukan permainan yang tidak haram tetapi lebih baik untuk ditinggalkan.
– Menulis sesuatu yang tidak ada manfa’atnya, baik untuk kepentingan dunia maupun untuk kepentingan akhirat.

8.        TUGAS ibadah KAKI

a.      Ibadah yang wajib diantaranya:

– Mandatangi masjid untuk melakukan sholat jum’at.
– Melakukan Thowaf wajib dan Sa’i ketika menunaikan iadah haji.
– Menghadiri suatu pertemuan yang membicarakan hukum-hukum Alloh swt.
– Mendatangi undangan.
– Mendatangi majelis ta’lim yang diwajibkan.
– Pergi menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki jika jaraknya dekat.

b.       Ibadah yang haram diantaranya:

– Mendatangi tempat-tempat maksiat.

9.       TUGAS ibadah HATI

a.    Ibadah yang wajib diantaranya:
Tentang ibadah hati yang wajib ini ada dua macam, yaitu yang sudah disepakati wajibnya dan yang masih diperselisihkan wajibnya, yang sudah disepakati wajibnya antara lain:

– Ikhlas dalam niat.
– Sabar dalam beramal.
– Tawakkal dalam berusaha.
– Mahabbah (cinta) kepada Alloh dan Rosul-Nya.
– Mempunyai harapan yang kuat (optimis).
– Memutuskan niat untuk beribadah.
– Membenarkan segala sesuatu yang sudah pasti kebenarannya.

Adapun yang masih diperselisikan wajibnya, antara lain:

– Ridho dalam menerima segala ketentuan Alloh swt.
– Khusyu’ dalam sholat.

b.       Ibadah yang haram diantaranya:

– Sombong.
– Hasud (dengki).
– Riya’ dalam beramal.
– Ujub.
– Ghoflah (lalai).
– Nifaq (hal ini terbagi dua, yaitu kufur dan maksiat).
– Berputus asa dari rohmat Alloh swt.
– Merasa aman dari hukuman Alloh swt.
– Merasa gembira jika melihat saudaranya sesama muslim kesusahan.
– Mengharapkan kecelakaan atau musibah bagi orang mislim.
– Mempunyai keinginan untuk mengerjakan hal-hal yang dilarang Alloh swt.

Selain itu dalam hal berkendaraan pun ada sangkut pautnya dengan masalah ibadah, karena itu ia pun  dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

a.      Berkendaraan yang wajib, diantaranya:
–          Menuju medan perang untuk membela agama Alloh swt.
–          Menuju Masjidil-Harom untuk menunaikan ibadah haji bila mampu.

b.      Berkendaraan yang sunnat, diantarana:

– Untuk mencari ilmu.
– Untuk bersilaturrohmi.
– Untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

c.        Berkendaraan yang haram, diantaranya:

– Menuju tempat-tempat maksiat.

d. Berkendaraan yang makruh diantarana:

– Berkendaraan dengan tidak ada tujuan hanya main-main saja.

e.       Berkendaraan yang mubah diantaranya:

– Untuk melaksanakan suatu keperluan yang tidak ada kemaslahatan atau kemudhoratan.

Setelah kita mengetahui macam-macam ibadah sebagaimana disebutkan diatas tadi, lalu sekarang ibadah  yang bagaimanakah yang paling afdhol, yang paling dicintai Alloh swt dan paling tinggi kedudukannya di sisi-Nya .!?

Disini disebutkan ada  empat jawaban, yaitu:

1.                  Ibadah yang terasa berat untuk melaksanakannya alias yang dapat memberatkan diri.
Hal ini dikarenakan dengan jalan memberatkan atau memayahkan diri maka akan dapat menjauhkan diri dari godaan nafsu.
Jika hanya bisa lurus dengan melaksanakan ibadah yang berat-berta, sebab tabi’at jiwa adalah pemalas, hina dan cinta kepada dunia. Maka jiwa harus dibebani dengan kesukaran-kesukaran.

2.                  Ibadah yang dapat menjauhkan diri dari kemewahan dunia.
Sehubungan dengan hal ini dikatakan, bahwa seutama-utama ibadah adalah menanggalkan dan menjauhi dari segala kemewahan duniawi dan memperkecilnya semampu mungkin serta berusaha untuk menjauhkan diri dari kecenderungan kepada duniawi.

3.                  Ibadah yang mendatangkan manfa’at kepada orang lain.
Dalam hal ini mereka mengatakan, bahwa amal seorang naffa (orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain) adalah lebih utama daripada amal seorang abid (ahli ibadah). Karena jika serang naffa beramal, maka amalannya itu akan dirasakan oleh orang banyak. Sedangkan seorang abid yang beramal, maka amalannya itu adalah untuk dirinya sendir.
Sehubungan dengan hal ini didalam sebuah hadits riwayat Abu Ya’la disebutkan:
”Manusia itu semuanya adalah tanggung jawab Alloh swt, dan yang lebih dicintai adalah yang lebih memberi manfaat kepada tanggungannya atau keluarganya”.

4.                  Mengerjakan amalan-amalan sesuai dengan waktunya.
Setiap waktu itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri, misalnya:
– Sewaktu ada tamu, ibadah yang paling afdhol adalah melayani dan menghormati haq-haq tamunya dengan sebaik-baiknya.
– Di waktu sahur, ibadah yang paling utama adalah membaca al-Qur’an, do’a, berdzikir, dan memohon ampun kepada Alloh swt.
– Diwaktu sholat fardhu, ibadah-ibadah yang paling utama adalah bersungguh-sungguh membersihkan diri untuk dapat melaksanakan sholat dengan sebaik-baiknya, melaksanakan sholat itu pada awal waktu  dan pergi ketempat sholat (masjid) sekalipun jaraknya jauh.
– Diwaktu membaca al-Qur’an, ibadah yang paling utama adalah mengkonsentrasikan hati dan pikirannya kepada apa yang dibacanya agar dapat memahami isinya serta berazam untuk mengamalkan ajaran-ajaranyang terkandung didalamya dan sebagainya.

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH

Alloh swt telah mensyari’atkan sholat sunnah untuk meningkatkan ganjaran amal manusia dan menutupi segala kekurangan dan kelalaian yang ada, sebagaimana diperintahkan oleh Alloh swt dalam Kitab-Nya yang agung.

Alloh swt berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud : 114).

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyiroh : 7-8).

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اْلإِسْـلاَمِ، فَقَالَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ: لاَ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ.

Seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang (kewajiban-kewajiban) dalam Islam, lalu beliau saw menjawab:
“(Melaksanakan) sholat lima waktu dalam sehari semalam.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah kewajiban lain atas diriku .?”
Beliau saw menjawab:
“Tidak ada, kecuali engkau mengerjakan sholat sunnah.” (HR. Bukhori).

Ibnu Mas‘ud ra berkata:
“Apabila engkau telah selesai melaksanakan sholat-sholat wajib maka laksanakanlah sholat malam.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Sementara Mujahid mengatakan:
“Jika engkau telah menyelesaikan urusan duniamu, maka menghadaplah kepada Tuhan-mu dengan sholat.”

Banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang besarnya keutamaan dan pahala yang diperoleh dari sholat sunnah. Di antaranya adalah:

1. Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِـهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ اَلصَّلاَةُ، قَالَ: يَقُوْلُ رَبُّنَا -جَلَّ وَعَزَّ- لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: اُنْظُرُوْا فِيْ صَلاَةِ عَبْدِيْ، أَتَمَّهَا أَوْ نَقَصَهَا، فَإِنْ كَانَتْ تَامَّـةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كاَنَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا، قَالَ: اُنْظُرُوْا هَلْ لِعَـبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ، قَالَ: أَتِمُّوْا لِعَبْدِيْ فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ اْلأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكَ.

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali akan dihisab kelak pada hari Kiamat adalah sholatnya.”
Beliau saw bersabda:
“Alloh جَلَّ وَعَزَّ berfirman kepada para Malaikat-Nya, sedangkan Dia lebih mengetahui:
“Lihatlah sholat hamba-Ku, sudahkah ia melaksanakannya dengan sempurna ataukah terdapat kekurangan .?”
Bila ibadahnya telah sempurna maka ditulis untuknya pahala yang sempurna pula. Namun bila ada sedikit kekurangan, maka Alloh berfirman:
“Lihatlah apakah hambaku memiliki sholat sunnah.?”
Bila ia memiliki sholat sunnah, maka Alloh berfirman:
“Sempurnakanlah untuk hamba-Ku dari kekurangannya itu dengan sholat sunnahnya.”
Demikianlah semua ibadah akan menjalani proses yang serupa.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawd).

Hadits ini menjelaskan salah satu hikmah tentang disyari’atkan-nya sholat sunnah.

2. Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى فِيْ يَوْمٍ، اِثْنَتَيْ عَشْـرَةَ رَكْعَةً، تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيْضَةٍ، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang melakukan sholat sunnah selain sholat fardhu dalam sehari dua belas roka’at, maka Alloh pasti akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Sorga.” (HR. Mslim).

3. Ruba’iyah bin Ka’ab al-Aslami ra berkata:

كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوْئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْ. فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ ؟ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ .

“Suatu hari aku bersama Rosululloh saw, lalu aku membawakan kepadanya bejana air untuk beliau berwudhu’ dan segala keperluannya. Beliau berkata kepadaku: “Mintalah .!”
Aku berkata: “Aku meminta kepadamu untuk dapat menemanimu di Sorga kelak.”
Beliau bertanya:
“Adakah selain itu .?”
Aku menjawab: “Hanya itu saja.”
Beliau bersabda:
“Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

4. Mi’dan bin Abi Tholhah al-Ya’muri berkata:
“Aku bertemu Tsauban, bekas budak Rosululloh saw, lalu aku berkata kepadanya:
“Beritahukanlah kepadaku tentang amal ibadah yang jika aku lakukan, maka Alloh akan memasukkanku ke dalam sorga karenanya.”
Ia terdiam, lalu aku bertanya lagi. Ia masih terdiam, lalu aku bertanya lagi ketiga kalinya. ia pun berkata:
“Aku telah menanyakan masalah ini kepada Rosululloh saw dan beliau bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُـوْدِ للهِ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ ِللهِ سَجْدَةً، إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ بِهَا عَنْكَ خَطِيْئَةً.

”Perbanyaklah sujud kepada Alloh, karena tidaklah engkau bersujud kepada Alloh dengan satu kali sujud, melainkan Alloh akan mengangkat bagimu satu derajat karenanya dan menghapuskan bagimu satu dosa karenanya.”
Mi’dan berkata:
“Lalu aku bertemu Abu Darda’ dan aku tanyakan masalah ini kepadanya juga. Ia menjawab seperti jawaban yang diberikan Tsauban.” (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan sujud dalam hadits ini adalah melakukan sholat sunnah.

5. Dari Abu Umamah ra, Rosululloh bersabda:

مَا أَذِنَ اللهُ لِعَـبْدٍ فِيْ شَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يُصَلِّيْهِمَا، وَإِنَّ الْبِرَّ لَيُذَرُّ فَوْقَ رَأْسِ الْعَبْدِ مَا دَامَ فِيْ صَلاَتِهِ.

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik yang Alloh izinkan kepada seorang hamba selain melaksanakan sholat dua raka’at dan sesungguhnya kebajikan akan bertaburan di atas kepala seorang hamba selama ia melakukan sholat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan sholat sunnah dan kebaikan yang didapat darinya.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِي مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيْبًا مِنْ صَـلاَتِهِ، فَإِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا.

“Apabila salah seorang di antara kalian sholat di masjid, maka hendaknya ia pun menjadikan sebagian dari sholatnya di rumah, karena Alloh Azza wa Jalla akan memberikan kebaikan dalam rumahnya dari sholatnya itu.” (HR. Muslim).

Dari Zaid bin Tsabit ra, Rosululloh saw bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ، إِلاَّ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوْبَةَ.

“Sholatlah di rumah-rumah kalian karena sebaik-baik sholat seseorang adalah yang dilaksanakan di rumahnya kecuali sholat wajib.” (HR. Bukhori dan Mslim).

Anjuran dalam hadits-hadits ini bersifat umum yang meliputi semua jenis sholat sunnah rowatib dan sholat sunnah secara mutlak kecuali sholat sunnah yang menjadi bagian dari syi’ar Islam, seperti shalat ‘Id, sholat gerhana dan sholat Istisqo’. Demikian apa yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi.

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rosululloh saw bersabda:

اِجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ، وَلاَ تَتَّخِـذُوْا قُبُوْرًا.

“Jadikanlah tempat pelaksanaan sebagian sholatmu di rumah-rumah kalian, dan janganlah jadikan rumah-rumah kalian itu seperti kuburan.” (HR. Muslim).

Hadits-hadits ini menunjukkan tentang disunnahkannya sholat sunnah di rumah dan itu lebih baik daripada melakukannya di masjid sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi:
“Nabi saw menganjurkan melakukan sholat sunnah di rumah, karena hal itu lebih tersembunyi, jauh dari perbuatan riya’, terjaga dari segala hal yang bisa merusak amal, rumah menjadi penuh berkah, rohmat serta Malaikat pun turun dan syaitan pun menjauh darinya.”

 
HUKUM SHOLAT SUNNAT BERJAMAAH

• Jumhur fuqohak: Boleh dilakukan secara berjamaah.
•Sekumpulan ulama Hanafiah: Makruh jika ia dilakukan secara tetap dan berterusan.
•Malikiah: Makruh kalau bersama jamaah yang ramai atau di tempat yang masyhur untuk menghindari riya’.
•Ibnu Taimiyah: Boleh dilakukan sekali-sekali. Jika dilakukan secara berterusan hukumnya bid’ah makruhah.

MACAM-MACAM SHOLAT SUNNAT

Sholat secara lughot artinya  do’a.
Menurut istilah sholat adalah serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbirotul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Praktek sholat harus sesuai dengan  tata cara yang diajarkan Rosululloh saw, seperti dalam sabdanya:

… صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي …

“Sholatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku sholat.” (HR. Bukhori dan Muslim).

1. Sholat Rowatib (Sholat sunnat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari beberapa bagian:
a. 2 Roka’at sebelum subuh
b. 4 Roka’at sebelum Dhuhur (atau Jum’at)
c. 4 Roka’at sesudah Dzuhur (atau Jum’at)
d. 4 Roka’at sebelum Asar
e. 2 Roka’at sebelum Maghrib
f. 2 Roka’at sesudah Maghrib
g. 2 Roka’at sebelum Isya’
h. 2 Roka’at sesudah Isya’

2. Sholat Tahajjud ta’terbatas roka’atnya
3. Sholat Witir 11 roka’at
4. Sholat dhuha 12 roka’at

Dua macam Sholat sunnah:

1. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah
2. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan dilakukan secara berjamaah

A. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah:
1. Sholat Idul-Fitri
2. Sholat Idul-Adha
Dilakukan 2 roka’at. Pada roka’at pertama melakukan tujuh kali takbir (di luar Takbirotul-Ihrom) sebelum membaca al-Fatihah, dan pada roka’at kedua melakukan lima kali takbir sebelum membaca al-Fatihah.

Ibnu Abbas ra. berkata:
“Aku sholat Idul-Fithri bersama Rosululloh saw dan Abu bakar dan Umar, mereka semua melakukan sholat tersebut sebelum khutbah.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Khusuf (Gerhana Matahari)
4. Sholat Khusuf (Gerhana Bulan)

Ibrohim (putra Nabi Muhammad saw) meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran) Alloh swt. Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak juga karena kehidupan (kelahiran) seseorang. Apabila kalian mengalaminya (gerhana), maka sholatlah dan berdo’alah, sehingga (gerhana itu) berakhir.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

Dari Abdulloh ibnu Amr ra, bahwasannya Nabi saw memerintahkan seseorang untuk memanggil dengan panggilan “ashsholaatu jaami’ah” (sholat didirikan dengan berjamaah).” (HR Imam Bukhori dan Muslim)

Dilakukan dua roka’at, membaca Al-Fatihah dan surat dua kali setiap roka’at, dan melakukan ruku’ dua kali setiap raka’at.

5. Sholat Istisqo’

Tata caranya seperti sholat ‘Id.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasannya Nabi saw sholat istisqo’ dua roka’at, seperti sholat ‘Id. (HR. Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

6. Sholat Terawih

Jumlah roka’atnya adalah 20 dengan 10 kali salam, sesuai dengan kesepakatan shahabat mengenai jumlah roka’at dan tata cara sholatnya.

Dari ‘Aisyah ra, bahwasannya Nabi Muhammad saw sholat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang kemudian mengikuti sholat beliau. Nabi sholat (lagi di masjid) pada hari berikutnya, jamaah yang mengikuti beliau bertambah banyak. Pada malam ketiga dan keempat, mereka berkumpul (menunggu Rosululloh saw), namun Rosululloh saw tidak keluar ke masjid. Pada paginya Nabi saw bersabda:
“Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan tadi malam, namun aku tidak keluar karena sesungguhnya aku khawatir bahwa hal (sholat) itu akan difardlukan kepada kalian.”
‘Aisyah ra. berkata:
“Semua itu terjadi dalam bulan Romadhon.” (HR. Imam Muslim).

7. Sholat Witir yang mengiringi Sholat Terawih

Adapun sholat witir di luar Romadhon, maka tidak disunnahkan berjamaah, karena Rosululloh saw tidak pernah melakukannya.

B. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah

1. Sholat Rowatib (Sholat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari 22 Roka’at rowatib tersebut, terdapat 10 roka’at yang sunnah muakkad (karena tidak pernah ditinggalkan oleh Rosululloh saw), berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh saw senantiasa menjaga (melakukan) 10 roka’at (rowatib), yaitu:
2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya.
2 roka’at sesudah Maghrib di rumah beliau.
2 roka’at sesudah Isya’ di rumah beliau, dan
2 roka’at sebelum Subuh …
(HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun 12 roka’at yang lain termasuk sunnah ghoiru muakkad, berdasarkan hadits-hadits berikut:

a. Dari Ummu Habibah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa senantiasa melakukan sholat 4 roka’at sebelum Dhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Alloh mengharamkan baginya api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya ada yang sunnah muakkad dan ada yang ghoiru muakkad.

b. Nabi saw bersabda:
“Alloh mengasihi orang yang melakukan sholat empat roka’at sebelum (sholat) Asar.” (HOUR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Huzaimah).

Sholat sunnah sebelum Asar boleh juga dilakukan dua roka’at berdasarkan Sabda Nabi saw:
“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat sholat.” (HR. Imam Bazzar).

c. Anas ra berkata:
“Di masa Rosululloh saw kami sholat dua roka’at setelah terbenamnya matahari sebelum sholat Maghrib…” (HR. Bukhori dan Muslim).

Nabi saw bersabda:
“Sholatlah kalian sebelum (sholat) Maghrib, dua roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim)

d. Nabi saw bersabda:
“Di antara dua adzan (anta adzan dan iqomah) terdapat sholat.” (HR. Bazzar).

Hadits ini menjadi dasar untuk seluruh sholat sunnah 2 roka’at qobliyah (sebelum sholat fardhu), termasuk 2 roka’at sebelum Isya’.

2. Sholat Tahajjud (Qiyamullail)

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 79, As-Sajdah ayat 16–17, dan Al-Furqon ayat 64. Dilakukan dua roka’at-dua roka’at dengan jumlah roka’at tidak dibatasi.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda:
“Sholat malam itu dua (roka’at)-dua (roka’at), apabila kamu mengira bahwa waktu Subuh sudah menjelang, maka witirlah dengan satu roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Witir di luar Romadhon.

Minimal satu roka’at dan maksimal 11 roka’at. Lebih utama dilakukan 2 roka’at-2 roka’at, kemudian satu roka’at salam. Boleh juga dilakukan seluruh roka’at sekaligus dengan satu kali Tasyahud dan salam.

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rosululloh saw sholat malam 13 roka’at, dengan witir 5 roka’at di mana beliau Tasyahud (hanya) di roka’at terakhir dan salam. (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau saw juga pernah berwitir dengan tujuh dan lima roka’at yang tidak dipisah dengan salam atau pun pembicaraan. (HR. Muslim).

4. Sholat Dhuha

Dari ‘Aisyah ra, adalah Nabi saw sholat Dhuha 4 roka’at, tidak dipisah keduanya (tiap sholat 2 roka’at) dengan pembicaraan.” (HR. Abu Ya’la).

Dari Abu Huroiroh ra, bahwasannya Nabi saw pernah Sholat Dhuha dengan dua roka’at. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ummu Hani’ ra, bahwasannya Nabi saw masuk rumahnya (Ummu Hani’ ra) pada hari Fathu Makkah (dikuasainya Mekkah oleh Muslimin), beliau saw sholat 12 roka’at, maka kata Ummu Hani:
“Aku tidak pernah melihat sholat yang lebih ringan daripada sholat (12 roka’at) itu, namun Nabi tetap menyempurnakan ruku’ dan sujud beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim).

5. Sholat Tahiyyatul Masjid

Dari Abu Qotadah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga sholat dua roka’at.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits).

6. Sholat Taubat

Nabi saw bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang berdosa, kemudian ia bangun berwudhu’ kemudian sholat dua raka’at dan memohon ampunan kepada Alloh, kecuali ia akan diampuni.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain).

7. Sholat Tasbih

Yaitu sholat empat roka’at di mana di setiap roka’atnya setelah membaca Al-Fatihah dan Surat membaca: Subhanalloh walhamdulillah wa laa ilaaha illallohu wallohu akbar sebanyak 15 kali, dan setiap ruku’, i’tidal, dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk istirahah (sebelum berdiri dari roka’at pertama), dan duduk tasyahud (sebelum membaca bacaan tasyahud) membaca sebanyak 10 kali (Total 75 kali setiap roka’at). (HR. Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah)

8. Sholat Istikhoroh.

Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Adalah Rasulullah SAW mengajari kami Istikharah dalam segala hal … beliau SAW bersabda: ‘apabila salah seorang dari kalian berhasrat pada sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di luar shalat fardhu …dan menyebutkan perlunya’ …” (HR Jama’ah Ahli Hadits kecuali Imam Muslim)

9. Sholat Hajat

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa mempunyai hajat kepada Alloh atau kepada seseorang, maka wudhu’lah dan baguskan wudhu’ tersebut, kemudian sholatlah dua roka’at, setelah itu pujilah Alloh, bacalah sholawat, atas Nabi saw, dan berdo’alah …”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

10. Sholat 2 roka’at di masjid sebelum pulang ke rumah

Dari Ka’ab bin Malik ra:
“Nabi saw apabila pulang dari bepergian, beliau menuju masjid dan sholat dulu dua roka’at.” (HR Bukhori dan Muslim).

11. Sholat Awwabiin

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 25.
Dari Ammar bin Yasir ra, Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat setelah sholat Maghrib enam roka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Thobroni).

Dari Abu Huroiroh ra. Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat enam roka’at antara Maghrib dan Isya’, maka Alloh mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun” (HR. Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Huzaimah).

12. Sholat Sunnah Wudhu’

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berwudhu’, ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian sholat dua roka’at, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

13. Sholat Sunnah Mutlaq

Nabi saw berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffari ra:
“Sholat itu sebaik-baik perbuatan, baik sedikit maupun banyak.” (HR. Ibnu Majah).

14. Sholat Sunnah Safar

Sholat safar adalah sholat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhoan, keselamatan dan perlindungan dari Alloh swt.

BACAAN KERAS DAN PELAN DALAM SHOLAT

Disunnahkan mengeraskan bacaan dalam sholat Shubuh dan dua rokaat pertama pada sholat Maghrib dan Isya’. Ini berlaku bagi Imam dan munfarid (orang yang sholat sendirin).

Mengeraskan bacaan ini juga berlaku pada sholat Jum’at, sholat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), sholat gerhana bulan, sholat istisqo’, sholat Terawih dan Sholat nafilah di malam hari. Selain yang disebutkan disunnahkan untuk men-sirri-kannya (memelankannya).

Permasalahan mendhohirkan dan sirri dalam bacaan bukan persoalan fardhu atau sunnah yang diharuskan untuk sujud sahwi saat menyalahinya. Tapi ia salah satu dari bentuk tatacara sholat yang pelakunya diberi pahala atasnya. Sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa.

Disebutkan dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroirih ra, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى بِنَا فَيَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الأُولَى مِنَ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِى الصُّبْحِ

“Rosululloh saw pernah sholat bersama kami. Pada sholat Dhuhur dan Asar, beliau membaca al-Fatihah dan dua surat di rokaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca. Adalah beliau memanjangkan bacaan pada rokaat pertama dari sholat Dhuhur dan memendekkan pada rokaat kedua, begitu juga saat sholat Shubuh.”

Ucapan Abu Huroiroh ra :
“Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca,” menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat keterangan bolehnya mendhohirkan pada sholat sirr (Dhuhur dan Asar). Ini juga menunjukkan bahwa Isror (mensirrikan bacaan) tidak menjadi syarat untuk sahnya sholat.
Terdapat keterangan bahwa sebab turunnya firman Alloh swt:
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isro’: 110).

Saat Rosululloh saw masih di Makkah. Apabila beliau sholat bersama para sahabatnya, beliau meninggikan suaranya saat membaca al-Qur’an. Ketika kaum musyrikin mendengarnya lalu mereka mencaci al-Qur’an, mencaci Dzat yang menurunkannya dan orang yang menyampaikannya.

Lantas Alloh swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu.”
Maksudnya: jangan keraskan bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya.
“Dan janganlah pula merendahkannya”
Maksudnya: dari para sahabatmu sehingga mereka tidak mendengar al-Qur’an.
“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Terdapat dalam sebagian riwayat lain, “Maka saat sudah hijrah ke Madinah perintah tersebut telah gugur. Beliau boleh melakukan yang beliau kehendaki dari keduanya.”

Dari sini menjadi jelas persoalan, mengeraskan bacaan pada sholat Maghrib, Isya’ dan Shubuh serta memelankan bacaan pada sholat Dhuhur dan Asar adalah pengamalan saat pertama disyariatkan. Ya’ni saat kaum muslimin tidak mengeraskan bacaan al-Qur’an di siang hari khawatir atas celaan kaum musyrikin.

Adapun membaca secara dhohir pada sholat Jum’at, dua hari raya, sholat istisqa’ dan selainnya adalah karena sholat-sholat tersebut disyariatkan di Madinah sesudah hijrah, di mana saat itu kaum muslimin memiliki kekuatan dan daulah.

KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

Sholat 5 waktu merupakan ibadah yang Alloh swt syari’atkan kepada Nabi-Nya saw secara langsung tanpa perantara malaikat. Berbeda halnya dengan kewajiban lainnya yang diwajibkan melalui perantara malaikat.

Sholat 5 waktu diwajibkan di langit sementara kewajiban lainnya diwajibkan di bumi. Karenanya sangat pantas kalau sholat 5 waktu dikatakan sebagai ibadah badan yang paling utama.

Selain dari keistimewaan sholat 5 waktu secara umum tersebut diatas, ada beberapa sholat di antaranya secara khusus mempunyai keutamaan yang lain.

diantaranya sholat 5 waktu akan menghapuskan semua dosa dan kesalahan.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat lima waktu dan sholat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.”
(HR. Muslim).

Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:
“Aku mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim mendatangi sholat fardlu, lalu dia membaguskan wudlu’nya dan khusyu’nya dan sholatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.”
(HR. Muslim).

Pada kedua hadits di atas dikecualikan dosa-dosa besar, karena memang dosa besar tidak bisa terhapus dengan sekedar amalan sholeh, akan tetapi harus dengan taubat dan istighfar. Karenanya, yang dimaksud dengan dosa pada kedua hadits di atas adlah dosa-dosa kecil.

Adapun patokan dosa besar adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:

اَلْكَبَائِرُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ الله ُبِنَارٍ أَوْ لَعْنَةٍ أو غَضَبٍ أَوْ عَذَابٍ

“Dosa-dosa besar adalah semua dosa yang Alloh akhiri dengan ancaman neraka atau laknat atau kemurkaan atau adzab.”
(Riwayat Ibnu Jarir dalam tafsirnya surah An-Najm: 32).

Walaupun ada perbedaan antara dosa besar dengan dosa kecil, akan tetapi Ibnu Abbas ra berkata:

لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ, وَلاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa besar jika selalu diikuti dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dia dilakukan terus-menerus.”

Sementara meninggalkan sholat 5 waktu atau salah satunya dengan sengaja karena malas secara terus-menerus adalah kekafiran.

Alloh swt berfirman:

 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
 إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

“(Sesudah kepergian tokoh-tokoh pilihan yang ta’at kepada Alloh swt) Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (generasi-generasi yang buruk sepanjang sejarah kemanusiaan) yang menyia-nyiakan sholat (tidak melaksanakan ibadah sesuai yang di ajarkan Alloh swt melalui para Nabi) dan memperturutkan hawa nafsunya (sehingga mereka bergelimang dalam aneka dosa), maka mereka kelak (di akhirat nanti) akan menemui balasan kesesatan (yang mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini).
Kecuali orang yang bertaubat (menyesali dosa dan meninggalkannya), dan beriman (dengan iman yang benar), serta (membuktikan keimanan mereka dengan) beramal sholeh, maka mereka itu akan masuk sorga dan tidak dianiaya (oleh siapapun dan tidak dirugikan) sedikitpun.
(Sorga yang mereka huni itu adalah) sorga-sorga ´Adn yang telah dijanjikan oleh ar-Rohman (Tuhan Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hamba-Nya yang ta’at, (mereka percaya akan adanya sorga itu) sekalipun (sorga itu ketika mereka hidup didunia) gaib (tidak nampak dan tidak mereka lihat dengan mata kepala). Sesungguhnya ia (janji Alloh itu) pasti akan ditepati.”
(QS.19 Maryam: 59-60).

Ini dipertegas dalam hadits Jabir ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim).

Juga Abdulloh bin Buroidah dari ayahnya ra, dia berkata:
Rosululloh saw bersabda:

بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ تَرْكُ الصَّلَاةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“(Pemisah) di antara kami dan mereka (orang kafir) adalah meninggalkan sholat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.”
(HR. Ahmad).

KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH dan ASAR

Sholat subuh senantiasa dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat, dan menjadi saksi atas kebaikan pelakunya.

Alloh swt berfirman:

 أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isro`: 78).

Sholat asar yang merupakan sholat wustho sebagaimana dalam riwayat al-Bukhori, dikhususkan penyebutannya dibandingkan sholat-sholat lainnya.
ini menunjukkan keistimewaan sholat asar dari satu sisi dibandingkan sholat lainnya.

Alloh swt berfirman:

حافظوا على الصلوات والصلواة الوسطى

“Peliharalah semua sholatmu, dan (peliharalah) sholat wustho.”
(QS. Al-Baqoroh: 238).

Menjaga sholat subuh dan asar merupakan sebab terbesar masuk sorga dan selamat dari neraka.

Dari Imaroh bin Ru’aibah ra, Rosululloh saw bersabda:

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.”
(HR. Muslim)

Dari Abu Musa ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengerjakan sholat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk sorga.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Jundab bin Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa sholat subuh, maka ia berada dalam jaminan Alloh, oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu dari kalian sebagai imbalan jaminan-Nya, sehingga Alloh menangkapnya dan menyungkurkannya ke dalam neraka jahannam.”
(HR. Muslim).

Dari Jarir bin ‘Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu tidak terlewatkan untuk melaksanakan sholat sebelum terbit matahri dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH

Subuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Alloh swt memerintahkan ummat Islam untuk mengerjakan sholat kala itu. Alloh swt:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“ Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(Qs. Al-Isro’: 78).

Betapa banyak kaum muslimin yng lalai dalam mengerjakan sholat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan sholat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang sholat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu sholat lainnya.

Apabila seseorang mengerjakan sholat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan, di antara keutamaannya adalah.

1. Salah satu penyebab masuk sorga

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة

“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain (yaitu sholat shubuh dan asar) maka dia akan masuk sorga .”
(HR. Bukhori dan Muslim).

2. Salah satu penghalang masuk neraka

Rosululloh saw bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan sholat sebelum terbitnya matahari (yaitu sholat shubuh) dan sholat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu sholat asar).”
(HR. Muslim).

3. Berada di dalam jaminan Alloh swt

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yg sholat subuh maka dia berada dalam jaminan Alloh. Oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Alloh menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Alloh pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam .”
(HR. Muslim).

4. Dihitung seperti sholat semalam penuh

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang sholat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah sholat malam selama separuh malam. dan barangsiapa yang sholat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah sholat seluruh malamnya.”
(HR. Muslim).

5. Disaksikan para Malaikat

Rosululloh saw bersabda:

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada sholat fajar (subuh).”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Ancaman bagi yang Meninggalkan Sholat Subuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan sholat subuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan sholat subuh .?
Kebanyakan orang meninggalkan sholat subuh karena aktivitas tidur. Dalam hal ini Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat isya’ dan sholat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.

Semoga Alloh selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan sholat berjama’ah di masjid atau dirumah dengan berjamaah bersama istri dan anak-anak.

RAHASIA SHOLAT LIMA WAKTU

Ali bin Abi Tholib ra. berkata:
“Sewaktu Rosululloh saw duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Anshor, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata:
‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Alloh kepada Nabi Musa as, yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Alloh atau malaikat muqorrobin.’
Lalu Rosululloh saw bersabda:
‘Silahkan bertanya.’

Berkata orang Yahudi:
‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Alloh ke atas ummatmu.’
Rosululloh saw bersabda:
‘Sholat Dhuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya.
Sholat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam as, memakan buah khuldi.
Sholat Maghrib itu adalah saat Alloh menerima taubat Nabi Adam as. Maka setiap mukmin yang bersholat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdo’a meminta sesuatu pada Alloh, maka pasti Alloh akan mengabulkan permintaannya.
Sholat Isya’ itu ialah sholat yang dikerjakan oleh para Rosul sebelumku.
Sholat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syetan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, lalu mereka berkata:
‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang sholat.’

Rosululloh saw bersabda:
‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan. Sholat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

‘Manakala sholat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam as. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’
Lalu Rosululloh saw membaca (firman Alloh swt, yang artinya) ‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sekali sholat yang pertengahan.’

Sholat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam as. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sholat Maghrib kemudian meminta sesuatu kepada Alloh, maka Alloh akan memperkenankan.’

‘Sholat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sholat Isya’ berjamaah, Alloh swt haramkan dirinya dari terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Siroth.’

‘Seorang mukmin yang mengerjakan sholat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Alloh swt dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, maka mereka berkata:
‘Benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan kepada kami semua, kenapakah Alloh swt mewajibkan puasa 30 hari atas umatmu .?’
Rosululloh saw menjawab:
‘Ketika Nabi Adam as memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam as. selama 30 hari. Kemudian Alloh swt mewajibkan atas keturunan Adam as. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizinkan makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Alloh swt kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi:
‘Wahai Muhammad, benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi dari berpuasa itu.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Romadhon dengan ikhlas karena Alloh swt, dia akan diberikan oleh Alloh swt 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dari makanan yang haram).
2. Rohmat Alloh sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Alloh sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Alloh pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Siroth.
7. Alloh swt akan memberinya di sorga.’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang Nabi menggunakan do’a mustajabnya untuk membinasakan ummatnya, tetapi aku tetap menyimpan do’aku (untuk aku gunakan memberi syafaat kepada umatku di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan:
Asyhadu alla illaha illalloh, wa annaka Rosululloh (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Alloh dan engkau utusan Alloh).’

BELAJAR SHOLAT KHUSYU’

A. Pengertian Sholat.

Secara bahasa, kata sholat menurut para pakar bahasa adalah berarti do’a. Sholat diartikan dengan do’a, karena pada hakikatnya sholat adalah suatu hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Sesungguhnya hamba, apabila ia berdiri untuk melaksanakan sholat, tidak lain ia berbisik pada Tuhannya. Maka hendaklah masing-masing di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berbisik.”
Adapun secara istilah, definisi sholat adalah sebuah ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan perbuatan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam.

Lebih jauh, definisi ini merupakan hasil rumusan dari apa yang disabdakan Nabi saw:
“Sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat.”
Dengan demikian, dasar pelaksanaan sholat adalah sholat sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi saw mulai bacaan hingga berbagai gerakan di dalamnya, sehingga tidak ada modifikasi dan inovasi dalam praktik sholat.

B. Posisi Sholat Dalam Islam.

Dalam Islam, sholat menempati posisi penting dan strategis. Ia merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi pembatas apakah seseorang itu mukmin atau kafir. Nabi saw bersabda:
“Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan sholat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir.”

Sedemikian pentingnya sholat, maka ibadah sholat dalam Islam tidak bisa diganti atau diwakilkan. Orang Islam masih diwajibkan sholat, selagi masih ada kesadaran di hatinya. Oleh karena itu, pelaksanaan sholat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada keadaan pelakunya (kalau tidak bisa berdiri boleh duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya.

C. Kandungan Ma’na Sholat.

Berdasarkan paparan mengenai pentingnya posisi sholat dalam Islam di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sholat merupakan faktor terpenting yang menyanga tegaknya agama Islam.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya, umat Islam memahami ma’nanya dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini, secara umum, ada dua dimensi kandungan ma’na sholat yang dapat dipetik, yaitu dimensi individual (sifatnya kedalam) dan dimensi sosial (sifatnya keluar), karena sebagaimana definisi di atas, sholat adalah suatu ibadah yang diawali dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Takbiratul-ihrom menunjuk pada dimensi individual, sedangkan salam menunjuk pada dimensi sosial.

1. Dimensi Individual.

Sholat diawali dengan bacaan “takbirotul-ihrom”, yang mengandung arti “Takbir yang mengharamkan”, ya’ni mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan sholat sebagai peristiwa menghadap Alloh swt.

Takbir pembukaan itu seakan-akan suatu pernyataan resmi seseorang membuka hubungan diri dengan Alloh swt, dan mengharamkan atau memutuskan hubungan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, takbirotul-ihrom merupakan ungkapan pernyataan dimulainya sikap menghadap kepada Alloh swt.

Selanjutnya, sikap menghadap Alloh swt tersebut akan mengantarkan seorang hamba untuk benar-benar menyadari bahwa saat itu (posisi sholat) ia sedang menghadap Kholik-nya. Oleh karenanya, dalam sholat, dianjurkan sedapat mungkin seseorang menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta, sehingga seolah-olah ia melihat-Nya, dan kalaupun ia tidak melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa Sang Maha Pencipta melihat dia.

Dari sini, jelas bahwa dalam sholat, seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Alloh swt, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan dengan sesama makhluk (kecuali dengan keadaan terpaksa). Oleh karena itu, dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, sholat dipandang sebagai “mati sa’njeroning urip” (mati dalam hidup). Di sinilah kemudian sholat juga sering disebut dengan ‘Mi’rojul-mukminin’, dikiyaskan dengan mi’roj Nabi saw, karena sama-sama merupakan peristiwa menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya.

2.Dimensi Sosial.

Sholat diakhiri dengan salam, hal ini maksudnya bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Alloh swt, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak baik kepada hubungan sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Alloh swt pada waktu sholat, maka diharapkan bahwa penghayatan akan kehadiran Alloh swt itu akan mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan pekertinya, kaitannya dengan kehidupan sosial.

Berkenaan dengan ini, salah satu firman Alloh swt yang banyak dikutip adalah QS. Al-Ankabut: 45:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Alloh (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan jelas ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu yang dituju oleh adanya kewajiban sholat adalah bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Hanya saja, dalam hal ini ulama berbeda pendapat ketika melihat kenyataan bahwa masih banyak di antara umat Islam yang sholat, tetapi sholatnya tidak menghalanginya dari melakukan perbuatan keji dan munkar.

Satu pendapat menyatakan bahwa sholat memang dapat mencegah pelakunya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka apabila ada seseorang yang sudah mengerjakan sholat, tetapi ia tetap melakukan perbuatan keji dan munkar, sebenarnya ia telah melakukan kegagalan dan kesia-siaan yang hal itu jauh lebih keji dan munkar.
Orang seperti inilah yang disindir al-Qur’an sebagai orang yang lalai dalam sholat, yang kelak akan mendapatkan siksa. Lihat QS. Al-Ma’un: 4-5:

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.”

Adapun satu pendapat yang lainnya mengatakan bahwa sholat adalah ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat keruhanian dalam diri pelakunya yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Oleh karenanya, orang yang melaksanakan sholat, hati, pikiran, dan fisiknya menjadi bersih. Dengan demikian, sholat adalah cara untuk menggali potensi ruhaniyah dalam rangka membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan tidak terpuji. Akan tetapi hal ini, tentu tidak berlaku secara otomatis.

Maksudnya, jika telah mengerjakan sholat, maka tidak otomatis ia menjadi orang yang baik, sebab boleh jadi dampak dari potensi itu tidak muncul karena adanya hambatan-hambatan, seperti lemahnya penghayatan terhadap kehadiran Alloh swt. Oleh karena itu, setiap pelaku sholat dituntut untuk selalu menghidupkan segala perilaku dan bacaan sholat tidak hanya dalam sholat, tetapi juga di luar sholat, lebih-lebih ditambah dengan bacaan-bacaan dzikir, sehingga penghayatan akan kehadiran Alloh swt senantiasa terpelihara dalam setiap langkah kehidupannya. Di sini jugalah salah satu hikmah mengapa sholat waktunya berbeda-beda; dimulai dari dini hari (Shubuh), diteruskan ke siang hari (Dzuhur), kemudian sore hari (Asar), lalu sesaat setelah matahari terbeam (Maghrib), dan akhirnya di malam hari (Isya’).

Hal ini agar terus terjadi proses pengingatan dan penghayatan kehadiran Alloh swt, sehingga sholat dapat berfungsi sebagai pencegah dari melakukan perbuatan keji dan munkar, yang pada akhirnya tercipta kesejahteraan dan kedamaian antar sesama manusia.

HAKEKAT SHOLAT

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Sholat itu adalah Mi’roj-nya orang-orang mukmin.” Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Alloh swt.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung dengan istilah Mi’roj, yang hanya kita kenal sebagai “peristiwa luar biasa hebat” yang pernah dialami Nabi Muhammad saw dan menghasilkan perintah sholat.

Mengapa Rosullulloh saw mengatakan bahwa sholat merupakan Mi’roj-nya orang mu’min .?
Adakah kaitannya dengan sebab perintah sholat dari hasil perjalanan Mi’roj beliau saw ketika berjumpa dengan Alloh swt di Shidrotul-Muntaha .?
Mungkinkah kita bisa melakukan bertemu dengan Alloh swt melalui sholat .?
Begitu mudahkah bertemu dengan Alloh swt, seperti yang dilakukan Rosululloh saw .?
Atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk sholat .?
Adakah rahasia dibalik sholat .?

Misteri ini hampir ta’terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori, dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Alloh swt di dunia.

Akibatnya, kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada pesholat yang telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai khusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari “kesadaran sholat”.

Alloh swt telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergerser niatnya bukan lagi karena melaksanakan perintah-Nya:
“Maka celakalah orang-orang yang sholat, (tidak kerena Alloh, yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”
(QS.al-Ma’un: 4-6)

Pada ayat kelima firman Alloh tersebut, didahului oleh kalimat Alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya yaitu saahun (orang yang lalai). Celakalah baginya karena dasar perbuatan sholatnya telah bergeser dari “karena Alloh” menjadi karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)”.
Atau, bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Alloh yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Alloh swt.
فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.
“…maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku…”. (QS. Thoha : 14).
وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’rof : 205).

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Alloh swt, bukan sekedar membungkuk bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang ia lakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan selama ini, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushollin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan ingkar.
لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ
“…Janganlah engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar), sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”. (QS. An-Nisa’ : 43).

KEUTAMAAN AIR WUDLU’ DAN MANDI TAUBAT

JALAN MENUJU SORGA DENGAN WUDLU’ DAN TAUBAT

Dari Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berwudlu’ lalu memperbaiki wudlu’nya dengan sebaik-baiknya, kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Alloh, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Alloh)
Maka dibukakan untuknya delapan pintu sorga, dan dia akan masuk melalui pintu manapun yang dia suka dari delapan pintu itu.”
(HR. Muslim, Ibnu majah dan Nasa’i)

MENGHAPUS DOSA DENGAN WUDLU’

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudlu’, ketika membasuh wajah, maka keluarlah dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudlu’ sampai tetesan air terakhir.
Apabila membasuh kedua tangan, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya sampai tetesan air terakhir.
Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya sampai tetesan air terakhir.”
(HR. Muslim).

DO’A DAN MA’NA WUDLU’

1. Do’a membasuh dua telapak tangan sebelum wudlu’:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

“Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.
Segala Puji bagi Alloh yang menjadikan air itu suci.”

Ketika kita mencuci tangan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bersihkanlah perbuatan tanganku dari perbuatan dholim.
Dekatkanlah kedua tanganku kepada perbuatan yang baik dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.”
Dengan begitu seseorang yang wudlu’nya benar tidak akan berbuat kerusakan dengan tangannya, ataupun perbuatan dholim lainnya.

 
2. Do’a ketika berkumur:

اَللَّهُمَّ اَسْـقِـنِى مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهاَ أَبَدًا

“Ya Alloh, curahkan segelas air dari telaga Nabi-Mu Muhammad saw yang tidak akan kehausan setelah itu selama-lamanya.”

Ketika kita berkumur, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jauhkanlah mulutku dari perkataan kotor dan jahat. Berikanlah kebaikan apa yang aku ucapkan. sehingga bermanfaat bagi semuanya.”

3. Do’a membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنِى رَائِحَةَ جَـنَّتِكَ

“Ya Alloh, janganlah Engkau haramkan aku mencium harumnya sorga-Mu.”

Ketika kita membersihkan hidung, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, izinkan hidungku selalu mencium wewangian Nabi-Mu, yang mengantarkan aku mencium wewangian sorga dan haramkan mencium busuknya neraka.”

4. Do’a ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Ya Alloh, cerahkanlah wajahku pada hari bercahaya.”

Ketika kita membasuh muka, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, berikanlah cahaya-Mu agar wajahku tidak nampak gelap di hari akhir nanti. Jangan jadikan wajahku seperti wajah orang yang kafir dan munafik atau yang durhaka kepada-Mu. Jadikan wajahku terang benderang, yaitu wajah hamba-hamba yang Engkau Ridhoi.”
 

5. Do’a saat membasuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

“Ya Alloh, berikanlah buku catatan amalanku dengan tangan kananku dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.”

Ketika kita membasuh tangan kanan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kananku kepada pekerjaan yang mumbuahkan kemanfaatan diri dan linkunganku, yang akan mengantarku selalu dapat menerima anugerah rohmat-Mu.”

Do’a saat membasuh tangan kiri:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى مِنْ يَساَرِىْ وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menerima buku catatan amalanku dengan tangan kiri atau dari sebelah belakangku.”

Ketika kita membasuh tangan kiri, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kiriku untuk selalu menolak keburukan yang bersumber dari setan dan bala tentaranya, sehiangga aku dapat meletakkan setiap pekerjaanku pada tempatnya, dari yang Engkau ridhoi.”

 
6. Do’a saat membasahi rambut kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ مِنَ النَّارِ وَاَظِلَّنِي تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلاَّ ظِلُّكَ

“Ya Alloh, haramkanlah rambutku dan kulitku dari neraka dan naungilah aku di bawah ‘Arsy-Mu pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Mu.”

Ketika kita membasahi rambut kepala, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, terangilah pikiranku untuk terus mengharap ampunan dan ridho-Mu. Hindarkanlah pikiranku dari segala yang kotor dan membahayakan, dan Jadikan setiap helai rambutku saksi kebaikanku kelak di hari perhitungan.”

 
7. Do’a membasuh dua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

“Ya Alloh, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti sesuatu yang baik.”

Ketika kita membasuh dua telinga, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jadikanlah pendengaranku kecintaan kepada bacaan al-Qur’an dan dapat mengamalkan nasihat-nasihatnya sehingga dapat menolak keburukan ajakan-ajakan kemaksiatan, dengan sebab itu aku dapat memenuhi hak-hakku terhadap-Mu.”

8. Do’a saat membasuh dua telapak kaki:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَّي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلاَقْدَامُ

“Ya Alloh, mantapkan kedua kakiku di atas titian (shirothol-mustaqim) pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.”

Ketika kita membasuh dua kaki, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh berikanlah kekuatan kepada kakiku untuk melangkah menuju kebaikan. Jauhkanlah dari langkah syetan yang menjerumuskan kepada dosa dan penderitaan. Mudahkanlah kakiku untuk melewati jembatan Shirothol-Mustaqim agar selamat dari siksa api neraka.”

 
9. Do’a setelah berwudhu:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Alloh, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusan-Nya.
Ya Alloh, Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang sholeh.”

ALLOH MENCINTAI ORANG YANG MEMBERSIHKAN DIRI

Alloh swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu niat hendak mengerjakan sholat, sedangkan pada saat itu kamu dalam keadaan tidak suci, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah sedikit atau sebagian atau seluruh kepalamu dan basuhlah kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub keluar mani dengan sebab apapun maka mandilah.”
(QS.5 al-Ma’idah: 6)

Wudlu’ ( الوضوء ) mengandung ma’na kebersihan dan keindahan ( الحسن والنظافة ) adalah sebuah syari’at kesucian yang telah Alloh swt tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan bagi sholat dan ibadah lainnya.

Di dalam wudlu’ terkandung sebuah hikmah, faedah, keutamaan dan kedudukan yang tinggi, karena itu hendaknya seorang muslim memulai ibadah dalam kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin dalam seluruh kondisi.

Rosululloh saw bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Ta’akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudlu’.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ

“Perhiasan (cahaya) seorang mukmin akan mencapai tempat yang dicapai oleh wudlu’nya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa , dan mengangkat derajat-derajat .?”
Mereka menjawab:
“Mau wahai Rosululloh .!”
Beliau saw bersabda:
“(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudlu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah pos penjagaan.”
(HR. Muslim)

Dari Abu Huroiroh ra berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

Rosululloh saw pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda:
“Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin.
Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami.”
Para sahabat bertanya:
“Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rosululloh .?”
Beliau saw bersabda:
“Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya.”
Mereka berkata:
“Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rosululloh .?”
Beliau saw bersabda:
“Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah dan kakinya diantara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya.”
Mereka berkata:
“Betul, wahai Rosululloh.”
Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya mereka (umat beliau saw) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu’.
Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga.
Ingatlah , sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir.
Aku memanggil mereka:
“Ingat, kemarilah .!”
Lalu dikatakan (kepadaku):
“Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu.”
Lalu aku katakan:
“Semoga Alloh menjauhkan mereka.”
(HR. Muslim)

Rosululloh saw bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci (wudlu’) adalah separuh iman.
Al-Hamdulillah akan memenuhi mizan (timbangan).
Subhanalloh wal hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi.
Sholat adalah cahaya.
Shodaqoh adalah tanda (taqwa).
Kesabaran adalah sinar.
Al-Qur’an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu.
Setiap orang keluar di waktu pagi, maka ada yang menjual dirinya, lalu membebaskannya atau membinasakannya”.
(HR . Muslim)

Dari Abu Huroiroh ra berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Nabi saw pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar :
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam sorga.”
Bilal berkata:
“Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudlu’ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.”
(HR. Buhori dan Muslim).

DI SYARI’ATKAN MANDI TAUBAT

Alloh swt berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh :222).

Mandi Taubat dalam istilah Fiqh diartikan mandinya sesorang setelah ia masuk Islam atau setelah melakukan kefasikan atau dosa.
Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanafi mandi tersebut hukumnya sunah. Sedangkan Imam Maliki dan Imam Ahmad lebih cenderung menghukumi wajib.

Mandi Taubat dalam istilah riyadhoh sering diartikan mandi sebagai awal bentuk penyucian lahir dan bathin seseorang untuk menghadap Alloh swt, sepanjang pelaksanaan tata caranya tidak bertentangan dengan syari’at yaitu tujuannya menyucikan jasmani dan ruhani dari noda dan dosa untuk memulai kehidupan baru yang bersih, mandi semacam ini boleh dan bahkan sunah karena Islam sangat mengedepankan kebersihan dan kerapian.

CARA MANDI TAUBAT

Mandi taubat itu seperti mandi besar atau mandi jinabat, sebelum mandi berwudhu’ terlebih dahulu, lalu niat mandi :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ نَوَيْتُ غُسْلَ التَّوْبَةِ لله تَعَالَ
“Aku niat (sengaja) mandi tobat (dari segala kesalahan dan dosa lahir maupun batin) Lillahi Ta’ala (karena melaksanakan perintah Alloh ta’ala)”.

DO’A MANDI TAUBAT
“Ya Alloh, jadikanlah mandi taubatku sebagai penebus dosa-dosaku, dan sucikanlah agamaku, serta hilangkanlah segala kotoran yang melekat pada diriku.”

DISYARI’ATKAN SHOLAT TAUBAT

Diriwayatkan dari Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk sholat dua roka’at, kemudian memohon ampun kepada Alloh, melainkan Alloh akan mengampuni dosanya.”

Kemudian Nabi saw membaca (QS. Ali Imron: 1365).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alloh .?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang berwudhu’ dan memperbagus wudhu’nya, lalu berdiri sholat dua roka’at atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu’ dalam sholatnya, kemudian beristighfar (meminta ampun) kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, pasti Dia megampuninya.” (HR. Ahmad).

SEBAB DIKERJAKANNYA SHOLAT TAUBAT

Sholat taubat dikerjakan saat seorang muslim terjerumus ke dalam kemakasiatan dosa besar atau kecil. Maka ia wajib bersegera taubat dan disunnahkan baginya untuk mengerjakan sholat dua raka’at.
Dua raka’at ini termasuk bagian dari amal sholeh yang disunnahkan untuk dikerjakan dalam masa taubat. Ia sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh untuk mendapatkan ampunan-Nya atas dosa dan kesalahannya.

WAKTU SHOLAT TAUBAT

Disunnahkan mengerjakan sholat taubat ini saat seorang muslim bertekad untuk bertaubat dari sebuah dosa yang telah diterjangnya, baik taubat ini segera dikerjakan selepas ia melakukan maksiat itu atau mengakhirkannya.
Yang wajib atas seorang yang berdosa adalah agar segera bertaubat. Tapi kalau ia mengakhirkannya/menundanya maka taubat tetap diterima. Karena taubat bisa diterima selama belum datang satu dari dua kondisi :

1. Apabila ruh belum sampai ke kerongkongan. Ya’ni ia yakin akan segera mati sehingga tidak punya pilihan lain kecuali itu, seperti Fir’aun, dikisahkan dalam QS. Yunus: 91-92.

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Alloh tetap menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi).

2. Apabila matahari terbit dari barat, Nabi saw bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Alloh akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

Sholat taubat ini disyariatkan dalam semua waktu, sampai pada waktu terlarang seperti sesudah sholat ‘Ashar. Sebabnya, karena ia termasuk jenis sholat yang memiliki sebab. Maka disyariatkan dan boleh langsung dikerjakan saat datang sebabnya.

Syikhul Islam Ibnu Taymiah berkata:

وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
“Demikian pula sholat taubat (termasuk sholat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalot), jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan sholat dua roka’at. Kemudian ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakar as-Shiddiq.”

SIFAT SHOLAT TAUBAT

Sholat taubat dikerjakan sebanyak dua roka’at. Dikerjakan sendirian, karena ia termasuk nawafil yang tidak disyariatkan secara berjamaah. Dan disunnahkan untuk beristighfar sesudah selesai mengerjakannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Bakar al-Shiddiq di atas.

Tidak ditemukan tuntutan dari sunnah Nabi saw yang menetapkan bacaan tertentu pada dua roka’at sholat taubat. Maka orang yang mengerjakan sholat taubat membaca surat yang dia kehendaki. Selain itu, juga disunnahkan baginya untuk memperbanyak amal sholeh lainnya. Ini didasarkan kepada firman Alloh swt:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholeh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thoha: 82)

Di antara amal-amal utama yang bisa dikerjakan oleh orang yang bertaubat adalah shodaqoh, karena shodaqoh termasuk sebab besar yang menghapuskan dosa.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan shodaqohmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.
Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Terdapat penguat dari kisah Ka’ab bin Malik ra, saat Alloh menerima taubatnya, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, sesungguhnya dengan sebab (diterima) taubatku, aku akan menshodaqohkan semua hartaku kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Rosululloh saw bersabda:
“tahanlah sebagian hartamu, maka itu lebih baik bagimu.”
Ia menjawab:
“Aku tahan sahamku yang ada di Khoibar.” (Muttafaq ‘Alaih)

SYARAT DITERIMANYA TAUBAT

1. Taubatnya harus ikhlas, hanya mengharapkan ampunan dan ridho Alloh swt.
2. Menyesali dosa yang telah dia kerjakan.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi maksiat tersebut.
4. Mengembalikan apa yang diholimi kepada pemiliknya, apabila ia mendholimi seseorang pada darahnya, harta atau kehormatannya, maka ia wajib untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan dan meminta kehalalan darinya atas kedholiman itu.
5. Bertaubat sebelum roh sampai ke tenggorokan (sakratul maut).
6. Matahari belum terbit dari sebelah barat.

Kesimpulan:

Sholat taubat memiliki landasan shohih dari sunnah Nabi Muhammad saw.

Mandi taubat, Sholat taubat dan dzkir taubat disyariatkan saat seorang muslim bertaubat dari dosa besar maupun kecil. Tidak dibedakan, baik dosa itu baru saja dikerjakan atau sudah lama. Diantara tiga amalan tersebut boleh di lakukan dalam waktu dan keadaan terbipisah atau sendiri-sendiri.
Sholat taubat bisa dikerjakan pada semua waktu, sampai pada waktu yang terlarang mengerjakan sholat sunnah.
Selain mengerjakan sholat taubat, orang yang bertaubat juga dianjurkan mengerjakan amal-amal kebajikan, seperti shadaqah dan selainnya.

NIAT SHOLAT TAUBAT

Niat sholat taubat adalah sebagai berikut:

أصلي سنة التوبة ركعتين لله تعالي
“Aku niat sholat sunnah taubat dua rokaat karena Alloh Ta’ala.”

DOA DAN BACAAN SETELAH SHOLAT TAUBAT

Setelah salam, lalu membaca istighfar 70-100 kali

اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Alloh Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk, dan aku bertobat kepada-Nya.”

Setelah istighfar, membaca do’a :

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ تَوْ فِيْقَ اَهْلِ الْهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّ غْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى اَخَافَكَ . اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مَخَا فَةً تَحْجُزُ نِى عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَا عَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ حَتَّى اُنَا صِحَكَ فِىالتَّوْ بَةِ خَوْ فًا مِنْكَ وَحَتَّى اَخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فَ اْلاُمُوْرِ كُلِّهَاوَحُسْنَ ظَنٍّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ نُوْرٍ

“Ya Alloh, sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu pertolongannya (taufiq) orang-orang yang mendapatkan petunjuk (hidayah),dan perbuatannya orang-orang yang bertaubat, dan cita-cita orang-orang yang sabar, dan kesungguhan orang-orang yang takut, dan pencariannya orang-orang yang cinta, dan ibadahnya orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa (waro’), dan ma’rifatnya orang-orang berilmu, sehingga hamba takut kepada-Mu.
Ya Alloh sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu rasa takut yang membentengi hamba dari durhaka kepada-Mu, sehingga hamba menunaikan keta’atan kepada-Mu yang berhak mendapatkan ridho-Mu sehingga hamba tulus kepada-Mu dalam bertaubat karena takut pada-Mu, dan sehingga hamba mengikhlaskan ketulusan untuk-Mu karena cinta kepada-Mu, dan sehingga hamba berserah diri kepada-Mu dalam semua urusan, dan hamba memohon baik sangka kepada-Mu. Maha suci Dzat Yang Menciptakan Cahaya.”

KEUTAMAAN ISTIGFAR DAN TAUBAT

Rosululloh saw bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Seluruh anak Adam (condong) berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits qudsi, Alloh swt berfirman:

يا عبادي! إنَّكم تُخطئون بالليل والنهار، وأنا أغفرُ الذنوبَ جميعاً، فاستغفروني أغفرْ لكم
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berdosa siang dan malam, dan Aku maha mengampuni dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda:

وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً
“Demi Alloh .! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Dalam riwayat lain, Rosululloh saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia .! Bertaubatlah kepada Alloh sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”

ORANG YANG BERTAUBAT MERAIH KECINTAAN ALLOH SWT

Alloh swt berfirman: 

 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222).

ORANG YANG BERTOBAT DIDO’AKAN OLEH PARA MALAIKAT

Alloh swt berfirman :

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):
“Tuhan kami, rohmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ghoofir : 7-8).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN LIMPAHAN RIZKI

Alloh swt berfirman :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Aku katakan kepada mereka:
‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (QS. Nuh : 10-12).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN TAMBAHAN KEKUATAN

Alloh swt berfirman :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Huud : 52)

ORANG YANG BERTAUBAT KEBURUKANNYA DIGANTI DENGAN KEBAIKAN

Alloh swt berfirman :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Furqoon : 70).

Mengomentari ayat diatas, Nabi saw bersabda :

إني لأعلم آخر أهل الجنة دخولا الجنة وآخر أهل النار خروجا منها رجل يؤتى به يوم القيامة فيقال اعرضوا عليه صغار ذنوبه وارفعوا عنه كبارها فتعرض عليه صغار ذنوبه فيقال عملت يوم كذا وكذا كذا وكذا وعملت يوم كذا وكذا كذا وكذا فيقول نعم لا يستطيع أن ينكر وهو مشفق من كبار ذنوبه أن تعرض عليه فيقال له فإن لك مكان كل سيئة حسنة فيقول رب قد عملت أشياء لا أراها ها هنا

“Sesungguhnya aku mengetahui penduduk sorga yang paling terakhir masuk sorga dan penduduk neraka yang paling terakhir keluar dari neraka.
Seorang lelaki yang dihadirkan pada hari kiamat, maka dikatakan :
“Perlihatkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya dan angkatlah (sembunyikanlah dulu) dosa-dosa besarnya .!”
Maka dipelihatkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya, lalu dikatakan:
“Engkau telah melakukan pada hari itu demikian dan demikian, dan pada hari itu demikian dan demikian.”
Maka ia berkata: “Benar .!”
Ia tidak mampu mengelak, sementara ia khawatir jika dibentangkan kepadanya dosa-dosa besarnya. Maka dikatakan kepadanya:
“Sesungguhnya bagimu setiap keburukan yang kamu lakukan digantikan posisinya dengan kebaikan.”
Maka ia berkata:
“Wahai Tuhanku, sungguh aku telah melakukan dosa-dosa yang lain (yaitu dosa-dosa besar) akan tetapi aku tidak melihatnya diperlihatkan kepadaku di sini.”
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi beliau tatkala menceritakan hadits ini. (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda :

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها فأتى شجرة فاضطجع في ظلها قد أيس من راحلته فبينا هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح اللهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح

“Sungguh Alloh lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat kepada-Nya, daripada gembiranya salah seorang dari kalian yang bersama tunggangannya di padang pasir tiba-tiba tunggangannya tersebut hilang, padahal makanan dan minuman (perbekalan safarnya) berada di tunggangannya tersebut.
Ia pun telah putus asa dari tunggangannya tersebut, lalu iapun mendatangi sebuah pohon lalu berbaring dibawah pohon tersebut (menunggu ajal menjemputnya).
Tatkala ia sedang demikian tiba-tiba tunggangannya muncul kembali dan masih ada perbekalannya, maka iapun segera memegang tali kekang tunggangannya, karena sangat gembiranya, lalu ia berkata:
“Ya Alloh sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu”
Ia salah berucap karena sangat gembiranya” (HR. Muslim).

ORANG YANG BERTAUBAT DITUTUPI KEBURUKANNYA DAN DIMASUKKAN KEDALAM SORGA

Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat nasuhaa (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Tuhanmu menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Alloh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:
“Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahriim : 8).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN KESUKSESAN
Alloh swt berfirman :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur : 31).

ORANG YANG BERTAUBAT TIDAK DI ADZAB OLEH ALLOH

Alloh swt berfirman :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Alloh akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal : 33).

Sungguh diantara karunia yang Alloh swt berikan kepada kita adalah Alloh swt mensyari’atkan ibadah yang sangat agung dan mudah… yaitu bertaubat dan beristighfar. Ibadah yang sangat kita andalkan dan kita harapkan bisa menutupi aib-aib kita dan menghapus dosa-dosa kita yang telah bertumpuk-tumpuk.

Rosululloh saw bersabda:

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak” (HR. Ibnu Majah).

Wallohu a’lam bisshowab ..

Awan Tag