Archive for the ‘IBADAH PUASA’ Category

ZAKAT MAL DAN ZAKAT FITHRAH

KEWAJIBAN ZAKAT

Zakat adalah mengeluarkan sebagian dari harta dengan cara dan syarat tertentu yang mencapai nishob kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Zakat hukumnya wajib dan termasuk rukun Islam. Zakat diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah setelah diwajibkannya puasa dan zakat fitrah.

Para Nabi as tidak diwajibkan mengeluarkan zakat karena zakat ditujukan untuk membersihkan harta dan badan, sedangkan para Nabi as sudah dibersihkan Alloh dari kotoran, harta Nabi as adalah titipan Alloh dan mereka tidak memiliki, maka para nabi tidak boleh diwarisi. Masalah zakat dalam al-Qur’an diulas sebanyak 83 kali, ini menunjukkan pentingnya ibadah ini.

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan menjelang di akhir bulan Romadlon. Hukumnya wajib. Karena zakat fitrah termasuk zakat wajib, maka penerima zakat fitrah adalah salam dengan penerima zakat.

Sedangkan shodaqoh adalah mengeluarkan harta, selain yang termasuk zakat, karena Alloh dan karena menolong orang yang memerlukan pertolongan.
Sedekah hukumnya sunnah. Orang-orang yang dianjurkan untuk diberi shodaqoh adalah:
Kerabat
Tetangga
Fakir Miskin
Orang-orang soleh
Shodaqoh boleh diberikan kepada orang berkecukupan dan orang fasiq demi untuk tujuan baik.

Zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang nafkahnya menjadi tanggungan pemberi zakat, seperti anak dan keturunanya, orang tua dan isteri, karena ini tidak bisa merealisasikan maksud pemberian zakat dalam arti sesungguhnya.

Zakat diberikan kepada orang yang memerlukan, sedangkan mereka itu tidak termasuk orang yang memerlukan, karena masih ada yang memberinya nafkah, yaitu pemberi zakat.

Namun para ulama berpendapat, boleh memberikan zakat kepada orang yang menjadi tanggungan tersebut, apabila ia termasuk golongan orang yang terjerat hutang atau anggota pasukan yang berjihad/berjuang di jalan Alloh. Artinya mereka menerima zakat atas nama kelompok ini, bukan atas nama fakir miskin.

Perintah Beribadah Sholat dan Zakat sebagai satu kesatuan yang utuh dalam setiap ayat al-Qur’an, yang bertujuan memurnikan ma’na tauhid dalam diri kita pribadi, dan mensucikan harta benda yang kita punya selama ini.

Antara lain disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an:
 
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, 
dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5).
 
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
dan orang-orang yang menunaikan zakat.”
(QS. Al-Mukminun :1-5).
 
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Alloh. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Alloh, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”
(QS. Ar-Ruum: 39).
 
 
JENIS JENIS ZAKAT
 
PERTAMA : ZAKAT FITRAH
 
Apabila terbenam matahari pada akhir Romadlon, sedang kamu berkelapangan rezeki, maka keluarkanlah zakat fitrah sebanyak 1 sho’ dari bahan makanan yang biasa engkau makan sebelum sholat Id, untuk membersihkan puasamu dan untuk makanan orang-orang miskin.
 
1 sho’ ini setara dengan 4 kati atau kurang lebih 2,5 Kg. Dan perlu diperhatikan bahwa zakat fitrah yang dikeluarkan senilai 2,5 Kg beras yang kita makan sehari-hari. Maksudnya, jika kita makan sehari-hari dengan harga beras 9 ribu rupiah maka zakat fitrah yang kita keluarkan 9.000,- x 2,5 Kg beras = 22.500,- Jadi besarnya zakat fitrah bervariasi setiap orang dan keluarga, tergantung harga beras yang biasa kita makan sehari-harinya. 
 
Dan zakat fitrah ini, dapat dilakukan dari awal Romadhon hingga sebelum sholat Ied. Dan karena esensi nya sebagai penyetara miskin dan kaya, agar orang lain dapat merasakan apa yang kita rasakan pada hari raya Ied. Maka zakat fitrah sepatutnya dibagikan sebelum Lebaran Ied. 
 
Penerima Zakat Fitrah ini hanya KAUM FAKIR DAN MISKIN.
 
 
KEDUA : ZAKAT MAL (HARTA)
  
1.  Zakat Emas dan Perak
 
Apabila barang perakmu sampai kepada nishobnya, yaitu seberat 200 dirham (5 awaq = 672 gram) demikianlah pula hartamu berupa emas seharga nishob perak dan telah menjadi milikmu genap 1 tahun, maka keluarkanlah zakatnya, yaitu 1/40 (seperempat puluh) atau 2,5 % demikian pula dari jenis perhiasanmu yang sejenis dengan hal tersebut.
 
2.  Zakat Tanaman
 
Apabila hasil tanamanmu telah sampai nishobnya, yaitu sebesar 5 wasaq (atau 7,5 Kwintal), maka keluarkanlah zakatnya sebesar 1/10 (sepersepuluhnya atau 10%) jika tanaman dialiri oleh pengairan alami (hujan dan aliran air alami tanpa sarana pengairan dan irigasi). Tetapi jika dialiri oleh pengairan dengan sarana teknologi modern maka keluarkan zakatnya sebesar 1/20 (seperduapuluhnya atau 20 %)
 
3.  Zakat Hewan
 
Apabila kamu mempunyai hewan ternak, yakni onta, kambing atau sapi dan jumlahnya telah sampai nisabnya yaitu 5 ekor untuk onta, 40 ekor untuk kambing, atau 30 ekor untuk sapi, sedang telah menjadi kepunyaanmu selama setahun maka keluarkanlah zakatnya menurut ketentuan berikut ini :
 
Zakat Hewan Ternak Onta :
5 sampai 24 ekor onta tiap 5 ekor dikenakan zakatnya seekor kambing, berlaku kelipatannya sesuai onta yang dimiliki sampai batas 24 ekor.
25 sampai 35 ekor onta dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 2 tahun.
36 sampai 45 ekor onta dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 3 tahun.
46 sampai 60 ekor onta dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 4 tahun.
62 sampai 75 ekor onta dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 5 tahun.
76 sampai 90 ekor onta dikenakan zakatnya 2 ekor anak onta betina umur 3 tahun.
91 sampai 120 ekor onta dikenakan zakatnya 2 ekor anak onta betina umur 4 tahun.
Lebih dari 120 ekor onta, maka tiap-tiap 40 ekor dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 3 tahun dan tiap-tiap 50 ekor dikenakan zakatnya seekor anak onta betina umur 4 tahun.
 
Zakat Hewan Ternak Kambing :
Mulai 40 ekor sampai 120 ekor kambing dikenakan zakatnya seekor kambing.
121 sampai 200 ekor kambing dikenakan zakatnya 2 ekor kambing.
201 sampai 300 ekor kambing dikenakan zakatnya 3 ekor kambing.
Lebih dari 300 ekor kambing, maka tiap 100 ekor kambing dikenakan zakatnya seekor kambing.
 
Zakat Hewan Ternak Sapi : 
Mulai 30 ekor sapi dikenakan zakatnya seekor anak sapi (jantan atau betina) umur 1 tahun.
Dan tiap-tiap 40 ekor dikenakan zakatnya seekor anak sapi umur 2 tahun.
 
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alloh dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Alloh; dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah : 60)
 
YANG BELUM WAJIB DIZAKATKAN DAN MENGELUARKAN ZAKAT :
 
Dari Abu Said Al-Khudri ra, Rosululloh saw bersabda:
“Tidak ada zakat pada hasil bumi yang kurang dari lima Wasaq (tiga ratus sho’), tidak ada zakat pada onta yang kurang dari lima ekor, tidak ada zakat pada perak yang kurang dari lima uqiyah.” (HR. Muslim).
 
Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Tidak ada kewajiban zakat budak dan kuda bagi seorang muslim.” (HR. Muslim).

ZAKAT FITRAH

Alloh swt berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ

“Rohmat-Ku meliputi segala sesuatu.
Maka akan aku tetapkan rohmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.
Yang menunaikan zakat.
Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi.”
(Al A’rof: 156-157)

Dari Ibnu Umar ra, ia mengatakan:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rosululloh saw menfardlukan zakat fitrah satu sho’ korma atau satu sho’ gandum (sejenis makanan yang dikosumsi sehari-hari).
Atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin.
Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju sholat (‘Ied).”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Kewajiban setiap muslim membayar zakat fitrah ini adalah untuk dirinya dan orang yg dalam tanggungannya sebanyak satu sho’  (antara 2.5 – 3 kg) dari bahan makanan yg berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika masih memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam.

Maksud dari ZAKAT ini adalah untuk MEMBERSIHKAN JIWA, yang diambil dari kata FITRAH, ya’ni asal-usul penciptaan manusia dalam keadaan suci (fitroh), sehingga wajib atas setiap jiwa berzakat, agar kembali fitrah (suci).

Sema’na dengan itu bahwa ucapan para ulama “WAJIB FITRAH” maksudnya wajib zakat fitrah atau wajib kembali suci.

Yang lebih populer di kalangan para ulama disebut زَكَاةُ الْفِطْرِ zakat fithri atau صَدَقَةُ الْفِطْرِ shodaqoh fithri.

Kata Fithri di sini kembali kepada ma’na “futhur” berbuka puasa, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Romadlon.

Apapun ma’na dari zakat fitrah yang difardlukan atas setiap jiwa orang-orang islam, Alloh memuji mereka yang menunaikannya dengan berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sungguh telah beruntunglah orang-orang yg (bersungguh-sungguh) menyucikan diri dan mengingat (dengan hati serta menyebut) nama Tuhannya (dengan lidah dan perbuatan) lalu dia sholat (‘Ied).”
(QS. Al-A’la: 14-15)

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata:
“Rosululloh saw telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin.
Beliau saw memerintahkan agar (zakat fitrah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan sholat ‘Ied (hari Raya)” 
(Muttafaq ‘Alaih).

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata:
“Rosululloh saw telah mewajibkan zakat fihrah sebagai penyuci orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, dan sebagai pemberian makan kepada fakir miskin.” (HR. Abu Dawud).

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat ‘Ied, maka zakatnya diterima, dan barang siapa yang membayarkannya setelah sholat ‘Id maka ia adalah shodaqoh biasa.”
(HR. Bukhori, al-Hakim, Abu Daud, Ibnu Majah)

NIAT DAN DO’A ZAKAT FITRAH

Do’a mengeluarkan zakat Fitrah:

أللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلاَ تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا

“Ya Alloh Jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikan ia pemberian yang merugikan.”

Niat zakat fitrah untuk diri sendiri:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِىْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atas diri sendiri, Fardlu karena Alloh Ta’ala.”

Niat zakat Fitrah untuk Istri:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
   
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atas istriku, Fardlu karena Alloh Ta’ala.”

Niat zakat fitrah untuk anak laki-laki atau perempuan:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ … / بِنْتِيْ … فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
   
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-lakiku (sebut namanya) / anak perempuanku (sebut namanya), Fardlu karena Alloh Ta’ala.”

Niat zakat fitrah untuk orang yang ia wakili:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ (…..) فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
   
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atas … (sebut nama orangnya), Fardlu karena Alloh Ta’ala.”

Niat zakat fitrah untuk diri sendiri dan untuk semua orang yang ia tanggung nafkahnya:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّىْ وَعَنْ جَمِيْعِ مَا يَلْزَمُنِىْ نَفَقَاتُهُمْ شَرْعًا فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
   
“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atas diriku dan atas sekalian yang aku dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardlu karena Alloh Ta’aala.”

Do’a menerima zakat

ءَاجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَ اللهُ لَكَ طَهُوْرًا

“Semoga Alloh melimpahkan ganjaran pahala terhadap harta yang telah Engkau berikan dan semoga Alloh memberkahi harta yang masih tersisa padamu, serta semoga Alloh menjadikan dirimu suci bersih.”

8 GOLONGAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Alloh swt berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk :
1. Orang-orang Fakir
2. Orang-orang Miskin
3. Amil Zakat (Pengurus Zakat)
4. Para Muallaf (Orang yang baru memeluk Agama Islam)
5. Para Budak belian yang ingin memerdekakan dirinya
6. Orang-orang yang terlilit oleh Hutang
7. Sabilillah (Para pembela dan penegak agama Alloh)
8. Para Musafir (yang kehabisan bekal dalam perjalanan)
(Qs. At Taubah: 60)

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “innama” ini menunjukkan bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, tidak untuk yang lainnya. Pemberian zakat ini hendaknya mengutamakan orang-orang dalam negri, hususnya lingkungan atau keluarga dan kerabat.
 

YANG HARUS DI PRIORITASKAN

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia, lalu ia diberikan sesuap, dua suap, sebuah dan dua buah korma.”
Para sahabat bertanya:
“Kalau begitu, siapakah orang miskin itu, wahai Rosululloh .?”
Rosululloh saw bersabda:
“Orang yang tidak menemukan harta yang mencukupinya tapi orang-orang tidak tahu (karena kesabarannya, ia menyembunyikan keadaannya), ia menerima shodaqoh (akan tetapi) tanpa meminta sesuatu pun kepada manusia.”
(HR. Muslim).
 
Alloh swt berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Untuk orang-orang fakir -yang membutuhkan bantuan dan terutama yang disibukkan- oleh jihad -berjuang- di jalan Alloh, -sehingga mereka- tidak dapat memperoleh peluang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka- di muka bumi ..

-Mereka adalah orang-orang terhormat, bersih walau miskin, rapi walau sederhana, taat beragama, sangat menghargai diri mereka, dan demikian baik penampilannya sampai-sampai- orang tidak menyangka mereka orang yang tidak butuh, karena mereka memelihara diri mereka dari mengemis .. engkau kenal mereka dengan melihat tanda-tandanya ..

-orang yang tajam penglihatan dan pandangannya mengenal mereka .. Mereka terlihat khusyu’ dan sederhana, ketakwaannya menjadikan mereka penuh wibawa dan kehormatan, apalagi mereka tidak membuang air-muka dengan mendesak orang lain agar mereka diberi sesuatu ..

Seandainya mereka meminta, maka permintaan itu bukan dengan memaksa, tetapi dengan cara yang sangat halus, yang tidak difahami kecuali orang-orang yang mengerti lagi pandai, atau orang-orang yang memiliki firasat yang tajam .. Mereka itulah salah satu kelompok yang perlu mendapat prioritas shodaqoh ..

Apakah yang harus dinafkahkan buat mereka .?
Mereka adalah orang-orang yang butuh, kalau demikian “Apa saja harta yang baik, yang kamu nafkahkan -dijalan Alloh- maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh [2]:273).

BEBERAPA KEUTAMAAN DAN FAEDAH ZAKAT

Membayar Zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqoh memiliki keutamaan dan faedah yang sangat banyak di dunia maupun di akhirat, di antaranya:

1. Membayar zakat merupakan salah satu sifat

Orang-orang baik yang akan menjadi penghuni Sorga.
Alloh swt berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ
آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ
كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (sorga) dan mata air-mata air.
Sambil menerima segala pemberian Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19).

2. Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rohmat (cinta kasih sayang) oleh Alloh swt:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.
Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Alloh dan Rosul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh.
Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah: 71).

3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta shodaqohnya akan ditumbuh kembangkan oleh Alloh swt.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh.” (QS. Al-Baqoroh: 276).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ – وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ – وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa berhodaqoh senilai dengan sebiji korma dari penghasilan yang baik (halal) –dan Alloh hanya menerima shodaqoh yang baik (halal)-, maka sesungguhnya Alloh akan menerima shodaqohnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Bukhori dan Muslim).

4. Membayar Zakat merupakan salah satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan Mu’adz bin Jabal ra, Nabi Muhammad saw bersabda:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

“Dan shodaqoh itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

5. Membayar Zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta shodaqohnya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rizki, sehingga barokahnya akan melimpah.

Alloh swt berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Dari Abu Ghorzah ra, Rosululloh saw pernah berwasiat kepada para pedagang dengan sabdanya:

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

“Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah, oleh karena bersihkanlah ia dengan shodaqoh.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Shodaqoh (Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” (HR. Musim).

6. Membayar Zakat merupakan sebab datangnya segala kebaikan. Sedangkan meninggalkan kewajiban Zakat akan menyebabkan terhalangnya kebaikan-kebaikan.
Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh saw:

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

“Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan).” (HR. Ibnu Majah).

7. Orang yang membayar Zakat (atau shodaqoh) dengan niat ikhlas karena Alloh akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy Alloh di hari kiamat.

Dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وذكر فيه :… وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ …

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyodaqohkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

8. Membayar Zakat atau shodaqoh dapat mencegah atau mengobati berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.

Rosululloh saw bersabda:
“Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shodaqoh.” (Shohih At-Targhib)

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw juga pernah bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya:

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah (dengan kasih sayang) kepala anak yatim.” (HR. Ahmad).

9. Orang yang berinfaq akan dido’akan kebaikan oleh malaikat setiap hari.
Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidaklah seorang hamba berada pada suatu hari melainkan akan turun dua malaikat yang salah satunya mengucapkan (do’a):
“Ya, Alloh berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan.”
dan malaikat yang lain mengucapkan (do’a):
“Ya, Alloh berilah pada orang yang bakhil/kikir kebinasaan (hartanya).” (HR. Bukhori dan Muslim).

10. Shodaqoh merupakan indikasi kebenaran iman seseorang.
Rosululloh saw bersabda:

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

“Shodaqah merupakan bukti (keimanan).” (HR. Muslim).

Demikian beberapa keutamaan dan faedah Zakat atau shodaqoh dan infak. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfa’at, dan dapat menyadarkan kita semua akan penting dan wajibnya Zakat, serta memotivasi kita untuk bersemangat dalam melaksanakan ibadah kepada Alloh swt.

Iklan

‘IDUL FITHRI

PAKAIAN BARU

Merayakan ‘Idul-Fitri tidaklah hanya sekedar ajang berhias diri dengan pakaian baru, tapi yang lebih penting ‘Idul-fitri adalah ajang tasyakkur, refleksi diri untuk mengasah kepekaan jiwa kita kembali mendekatkan diri kepada Alloh swt, dengan mengenakan pakaian taqwa.

Alloh swt berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Wahai anak Adam, seseungguhnya Kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurot kalian, dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian taqwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’rof :26).

اللهم إنا نسألك في الدنيا لباس التقوى وفي الآخرة لباس الجنة
“Ya Alloh, sesunggunya kami memohon kepada-Mu di dunia memakai pakaian taqwa, dan di akherat memakai pakaian sorga.”

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan dari kalian, puasa kami dan puasa kalian.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh kesuksesan -di dunia dan keberuntungan di akherat-.”

Selamat Hari Raya ‘Idul-Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf yang disengaja dan tidak.
Mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam sorga-Nya.

MA’NA ‘IDUL FITRI
 
Kata ‘Ied terambil dari akar kata yang berarti kembali, ya’ni kembali ke tempat atau ke keadaan semula.
Ini berarti bahwa sesuatu yang “kembali” pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu,
lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula.
 
Nah, apakah keadaan atau tempat semula itu .?
Hal ini dijelaskan oleh kata fithri, yang antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian jiwa manusia.
 

FITRAH MANUSIA

Dalam pandangan al-Qur’an, asal kejadian manusia bebas dari dosa dan suci, sehingga ‘iedul fithri antara lain berarti kembalinya manusia kepada keadaan sucinya, atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda, sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian.
 
Dosa memang mengakibatkan manusia menjauh dari posisinya semula. Baik kedekatan posisinya terhadap Alloh maupun sesama manusia.
Demikianlah salah satu kesan yang diperoleh dari sekian banyak ayat al-Qur’an.
 
Ketika Adam dan Hawa berada di sorga, Alloh menyampaikan pesan:
لَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ
“Janganlah mendekati pohon ini”
(QS. Al-Baqoroh: 35).
Namun, begitu keduanya melanggar perintah Alloh (karena berdosa dengan memakan buah pohon itu), al-Qur’an menyatakan:
“Maka Tuhan mereka menyeru keduanya:
أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu .?”
(QS. Al-A’rof: 22).
 
Kesan yang ditimbulkan oleh redaksi ayat-ayat di atas antara lain:
Pertama, bahwa sebelum terjadinya pelanggaran, Alloh bersama Adam dan Hawa berada pada suatu posisi berdekatan, ya’ni masing-masing tidak jauh dari pohon terlarang.
Karena itu, isyarat kata yang dipergunakan untuk menunjuk pohon adalah isyarat dekat, ya’ni “ini”.
Tetapi, ketika Adam dan Hawa melanggar, mereka berdua menjauh dari posisi semula, dan Alloh pun demikian, sehingga Alloh harus “menyeru mereka” (ya’ni berbicara dari tempat yang jauh), dan ini pula yang menyebabkan Tuhan menunjuk pohon terlarang itu dengan isyarat jauh, ya’ni “itu” (perhatikan kembali bunyi ayat-ayat di atas).
Di sini terlihat bahwa baik Adam maupun Alloh masing-masing menjauh, tetapi jika mereka kembali, masing-masing akan mendekat sehingga pada akhirnya akan berada pada posisi semula.

Memang, tegas al-Qur’an:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ

“Jika hamba-hamba-Ku (yang taat dan menyadari kesalahannya) bertanya kepadamu tentang Aku, sesunguhnya Aku dekat, dan memperkenankan permohonan jika mereka bermohon kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqoroh: 186).
 
Kesadaran manusia terhadap kesalahannya mengantarkan Alloh mendekat kepadanya. Pada gilirannya, hal itu akan menyebabkan manusia bertobat.
Perlu diingat, bahwa tobat secara harfiah berarti kembali. Sehingga dengan demikian Alloh pun akan kembali pada posisi semula.

Al-Qur’an memperkenalkan dua pelaku tobat, yaitu manusia dan Alloh swt:

 فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Adam menerima kalimat-kalimat dari Tuhannya, maka Dia (Alloh) menerima tobatnya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”
(QS. Al-Baqoroh: 37).
 
Walau bukan kembali dalam konteks memohon ampun, namun dapat diperoleh kesan dari firman-Nya yang menyatakan:
وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا ۘ
“Jikalau kamu kembali Kami pun akan kembali.”
(QS. Al-Isro’ : 8),
Bahwa Alloh selalu rindu akan kembalinya manusia kepada-Nya.
 
Hadits Nabi saw, dari Anas bin Malik. pun menjelaskan bahwa Alloh berfirman:
“Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.
Bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa.
Bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang menemuinya dengan berlari.”
(HR. Bukhori).
 
Kegembiraan Alloh itu tercermin dari hadis Rosululloh saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik, bahwa Rosululloh saw bersabda:
“Alloh lebih gembira karena tobatnya seseorang, pada saat ia bertobat (seperti) salah seorang di antara kamu yang mengendarai binatang kendaraannya di padang pasir, kemudian binatang itu pergi menjauh padahal di pundak binatang itu terdapat makanan dan minumannya. Dia berputus asa untuk menemukannya kembali, hingga dia berbaring di bawah naungan pohon, dan tiba-tiba saja binatang tadi muncul di hadapannya. Lantas dia pun memegang tali kendalinya sambil berkata saking gembiranya, “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku dan Aku Tuhanmu.”
 
Dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya, dapat ditarik kesan dari penamaan manusia dengan kata “al-Insan”. Kata ini –menurut sebagian ulama– terambil dari kata “uns” yang berarti senang atau harmonis.
Sehingga dari sini dapat dipahami, bahwa pada dasarnya manusia selalu merasa senang dan memiliki potensi untuk menjalin hubungan harmonis antar sesamanya.

Dengan melakukan dosa terhadap sesama manusia, hubungan tersebut menjadi terganggu dan tidak harmonis lagi. Namun manusia akan kembali ke posisi semula (harmonis) pada saat ia menyadari kesalahannya, dan berusaha mendekat kepada siapa yang pernah ia lukai hatinya.
 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ‘IDUL FITRI mengandung pesan agar yang merayakannya mewujudkan kedekatan kepada Alloh swt dan sesama manusia. Kedekatan tersebut diperoleh antara lain dengan kesadaran terhadap kesalahan yang telah diperbuat.

RENUNGAN ‘IDUL-FITHRI

Alloh menjelaskan kesudahan keadaan orang-orang beriman yang menyambut peringatan Alloh dan Rosul-Nya, Alloh swt berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sungguh telah beruntunglah orang-orang yg (bersungguh-sungguh) menyucikan diri dan mengingat (dengan hati serta menyebut) nama Tuhannya (dengan lidah dan perbuatan) lalu dia sholat (‘Iedul-Fithri).” (QS. Al-A’la: 14-15)

Sungguh beruntung orang-orang islam yang beriman yang menyucikan diri, melakukan ketaatan, khusyu’ dalam beribadah, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, memelihara amanat dan janji dalam Romadlon sebulan penuh, kemudian mengeluarkan zakat fitrah.

Lalu menyebut dengan lidah juga menghadirkan sesuatu dalam benak atau memantapkan kehadiran-Nya. dan mengingat dengan hati serta mengumandangkan nama Tuhannya:

اَللَّهُ اَكْبَرُ ،،،
اَللَّهُ اَكْبَرُ ،،،
اَللَّهُ اَكْبَرُ ،،،
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ ،،،
اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ ….

Ini menggambarkan seseorang yang dapat mengambil manfaat dari peringatan-peringatan Alloh swt, selalu menyadari kehadiran Alloh swt dalam jiwanya dengan segala sifat-sifat-Nya yang Maha Agung, menyadari kebesaran dan kesempurnaan-Nya, kesadaran yang pada akhirnya nampak pada sikap dan tingkah lakunya.

“Aflaha” terambil dari kata falah mengandung ma’na memperoleh apa yang diharapkan.

“Tazakka” ya’ni sungguh-sungguh menyucikan diri, melakukan ketaatan, khusyu’ dalam beribadah, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, memelihara amanat dan janji dalam Romadlon sebulan penuh, kemudian mengeluarkan zakat fitrah.

“Dzakaro” berma’na menyebut dengan lidah juga menghadirkan sesuatu dalam benak atau memantapkan kehadiran-Nya. Ini menggambarkan seseorang yang dapat mengambil manfaat dari peringatan-peringatan Alloh swt, selalu menyadari kehadiran Alloh swt dalam jiwanya dengan segala sifat-sifat-Nya yang Maha Agung, menyadari kebesaran dan kesempurnaan-Nya, kesadaran yang pada akhirnya nampak pada sikap dan tingkah lakunya.

“Fasholla” disamping berma’na sholat juga berarti do’a, ini mengandung ma’na bahwa yang melakukannya benar-benar menyadari kebutuhannya kepada Alloh swt, menyadari betapa ia harus menyandarkan diri kepada-Nya dan menyadari pula bahwa hanya Alloh semata yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan-Nya.

Ketika pagi mulai terang dan matahari mulai menampakkan sinarnya melaksanakan sholat ‘Idul-Fitri, hendaknya dalam melakukannya benar-benar menyadari kebutuhannya kepada Alloh swt, menyadari betapa ia harus menyandarkan diri kepada-Nya dan menyadari pula bahwa hanya Alloh semata yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan-Nya.

Keberuntungan terbagi menjadi dua:
Duniawi dan ukhrowi .. Duniawi mencakup “usia panjang, kekayaan dan kemuliaan”. Sedangkan ukhrowi mencakup “kekekalan tanpa kepunahan, kekayaan tanpa kebutuhan dan pengetahuan tanpa kebodohan”.

HALAL BIHALAL  

Dalam al-Qur’an diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan.

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit (sempit).
Dan orang-orang yang menahan amarahnya.
Dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka).
Sesunguhnya Alloh menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang yang bersalah).”
(QS. Ali’ Imron: 134)
 
Di sini terbaca, bahwa;
Tahap pertama adalah MENAFKAHKAN HARTA.
Tahap kedua MENAHAN AMARAH.
Tahap ketiga MEMBERI MAAF.
Tahap empat adalah BERBUAT BAIK terhadap orang yang bersalah.
 
Salah satu ucapan populer dalam konteks ‘IDUL-FITHRI adalah MINAL-A’IDIN WAL-FAIZIN.
 
Kata “A’idin” adalah bentuk pelaku “ ‘Ied”.
Kata “al-Faizin” adalah bentuk jamak dari “Faiz” yang berarti orang yang beruntung. Kata ini terambil dari kata “Fauz” yang berarti KEBERUNTUNGAN

Bagi orang “MUNAFIK” keberuntungan adalah keuntungan material, dan popularitas, dan keberuntungan itu hanya ingin dini’matinya sendiri.
Keberuntungan orang lain bukan merupakan
keberuntungan pula baginya.
Itu antara lain yang menyebabkan dia dikecam oleh Alloh dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Berbeda dengan orang-orang beriman yang mengikuti PETUNJUK al-Qur’an mereka tidak mengaitkan keberuntungan dengan orang tertentu, dan kalaupun dikaitkan dengan orang-orang tertentu tidak ditujukan kepada individu perorangan, melainkan kepada bentuk kolektif (al-faizin atau al-faizun).
 
Yang tidak kurang PENTING nya adalah ma’na KEBERUNTUNGAN, arti ayat-ayat yang berbicara tentang al-fauz dalam berbagai bentuknya itu bermakna PENGAMPUNAN ILAHI , KENI’MATAN SORGAWI sebagai ganjaran ketaatan kepada Alloh swt. Perhatikan misalnya:
 
 لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Penghuni sorga adalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 20).

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ
“Barangsiapa yang dijauhkan –walaupun sedikit– dari neraka, dan dimasukkan ke dalam sorga, maka sungguh dia telah beruntung”
(QS. Ali ‘Imron: 185).  

Dalam konteks ini Nabi saw. berpesan:
“Bertakwalah kepada Alloh di mana pun kamu berada, dan susulkanlah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. At-Tirmidzi melalui Abu Dzar ra).

BULAN SYAWWAL BULAN SILATURROHMI

Dalam suatu riwayat Rosululloh saw bersabda kepada para sahabat ketika mereka akan mendatangi saudara-saudara-nya:
“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian.
Karenanya perbaikilah kendaraan kalian.
Dan pakailah pakaian yang bagus.
Sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia.
Sesungguhnya Alloh tidak menyukai sesuatu yang buruk.”
(HR. Abu Dawud dan Hakim)

Pada bulan itu bermunculan acara HALAL BIHALAL dari lingkungan terbatas hingga lingkungan yg lebih luas.
Ucapan melaui BBM , SMS , FB , TWITER dn kartu dikirimkan dengan suka cita untuk MEMOHON MAAF atas kesalahan yg dilakukan.

Pada BULAN SYAWWAL ini, semua org berjiwa besar mengakui semua kesalahannya dan MEMINTA MAAF kepada org lain, tanpa memperdulikan kedudukan dn tingkatannya, bulan ini menjadi bulan INDAH BAGI KEMANUSIAAN kita.

SALING MEMAAFKAN di bulan Syawal sudah menjadi tuntutan agar manusia TERHAPUSKAN SEMUA DOSANYA.
Seperti yg TELAH DIJANJIKAN OLEH ROSULULLOH:
“Barang siapa menunaikan puasa selama sebulan penuh, dihapuskan dosanya, laksana bayi yang baru lahir.”
Tapi hadis itu dalam kaitannya DOSAN KEPADA ALLOH. Sementara dosa dgn SESAMA MANUSIA tidak termasuk.
Karena itu, diperlukan ajang saling mema’afkan dn SILATURROHMI, dgn tujuan untuk melengkapi KEFITRIAN kita dari DOSA.

HALAL bukan dalam pengertian lawan kata HARAM. Pengertian halal sangat luas, secara bahasa bisa dipahami sebagai saling melepas ganjalan hati, ringan, tanpa persoalan, dn juga mema’afkan.
Bahkan kata -bi- yang menjadi penengah dua kata -halal bi halal- itu menjadi penyeimbang yg sepadan.

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa ingin dipanjangkan umurnya dan diperluas rizkinya, lakukanlah silaturrohmi”.
(HR. Bukhori dan Muslim)

“Silaturrohmi itu menimbulkan contoh kasih sayang dikalangan sanak famili, merupakan sumber kekaya’an, dn menyebabkan panjang umur”.
(HR. Tirmidzi)

Rosululloh menganjurkan juga memperbanyak silaturrohmi dgn saudara, tetangga, kerabat, sahabat, dn tidak terbatas kenalan dirinya, tetapi juga kenalan orang tuanya.
Kita dianjurkan untuk bermasyarakat. Rasululloh saw tidak suka melihat org yg ta’pernah bermasyarakat dn tidak melaksanakan sholat berjamah di masjid.

Islam menganjurkan kita memperbanyak teman dn sahabat.
Alloh melaknat pemutusan hubungan (qothi’urrohim).
Bertemu siapa saja di jalanan disunnahkan mengucapkan salam.

Lakukan jabat tangan, karena didalam sebuah hadits disebutkan, dua org yg berjabat tangan, mereka tak akan dibiarkan oleh Alloh berpisah sebelum dosa-dosa keduanya dihapuskan.

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berjabat tangan denganku, masuk sorga. Barang siapa berjabat tangan dgn org yg pernah berjabat tangan dgn org yg pernah berjabat denganku hingga akhir kiamat, masuk sorga.”

Dn kita memang tidak akan pernah bisa hidup sendirian. Kita memerlukan org lain dn membutuhkan kawan, itulah INDAHNYA SILATURROHMI.
 

JABAT ERAT TANGANKU dengan BASMALAH
LALU LEPASKAN dengan HAMDALAH

Dosa kita ibarat butiran pasir kepada-Nya .. Kita berharap rohmat dn ampunan-Nya ..
Kesalahan kita ibarat buih air di lautan kepada sesama .. Aku mengharap kita saling menutup rapat aib-kejahilan dan saling membuka kemaafan ..

Dari jauh kita bersalam-salaman di hari ‘iedul-fithri ini guna meluruhkan dosa-dosa kita terhadap sesama ..
Biarkanlah Alloh Azza wa Jalla menentukan dosa yang mana yang akan diampuni-Nya ..

Dari Al-Barro bin ‘Azib ra, Rosululloh saw bersabda:
“Jika dua muslim saling bertemu, lalu saling berjabatan tangan, saling memuji Alloh (sama-sama mengucapkan al-Hamdulillah), serta sama-sama beristighfar (memohon ampunan dosa) kepada Alloh, pasti mereka akan diampuni dosanya.” (HR. Abu Dawud).

Ingatlah Alloh saat kamu berhubungan dengan manusia, karena Dia yang menciptakan kita.
Bersalam-salamlah dengan siapapun yang sampai dihadapan kamu walaupun kita merasa tidak melakukan kesalahan padanya, itulah akhlak mulia.

Dari Anas bin Malik ra ia berkata:
“Ketika penduduk Yaman datang, Rosululloh saw bersabda:
“Telah datang kepadamu penduduk Yaman. Mereka adalah orang-orang pertama yang membawa tradisi mushofahah (berjabat tangan / bersalam salaman).”
(HR. Imam Abu Dawud).

UCAPAN “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI” BUKAN KALIMAT MENERIMA DAN MEMINTA MAAF

Dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adha (ya’ni hari raya kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Daruquthni, dan Baihaqi)

Para sahabat Rosululloh saw biasa mengucapkan kalimat “Taqobbalallohu minnaa wa minkum” di antara mereka.
Arti kalimat ini adalah “Semoga Alloh menerima dari kami dan dari kalian”
Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Romadlon.
Para sahabat juga biasa menambahkan “Shiyamana wa shiyamakum” artinya “Semoga juga puasaku dan kalian diterima”

Sedangkan kalimat:
( من العاءدين و الفاءيزين )
“Minal ‘aidin wal-faizin” mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin.
Yang pertama, sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Ied pada Idul Fitri. 
‘Ied itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini perayaan yang datang setiap tahun.
Sedangkan al-Fithri, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh.
Jadi, Idul Fithri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. Ada juga yang menghubungkan al-Fithri dengan Fitroh atau kesucian, asal kejadian manusia.
Yang kedua, Faizin berasal dari kata fauz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridho, ampunan dan ni’mat sorga. Sedangkan kata “min” dalam “minal” menunjukkan bagian dari sesuatu.

Pada potongan kalimat yang pertama ada juga yang menambahkan di depan dengan kalimat: “ja’alanallohu (semoga Alloh menjadikan kita).”
Jadi selengkapnya kalimat “ja’alanallohu Minal ‘aidin wal faizin” bermakna:
“(Semoga Alloh menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridho Alloh).”

LAILATUL-QODAR

LAILATUL-QODAR
Turunnya al-Qur’an

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami (Alloh melalui malaikat Jibril) telah menurunkannya (ya’ni al-Qur’an) pada malam Qodar.”

Diturunkannya al-Qur’an sekaligus dari Lauh-Mahfudh ke langit dunia di hadapan para malaikat Safaroh, sedangkan diturunkannya berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw, yang dibawa malaikat Jibril as selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

“Malam” dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Kita tidak mendapatkan informasi yang pasti, apakah turunnya pada awal malam, pertengahan atau akhir malam.

Benar bahwa ada riwayat yang menyatakan bahwa “Alloh turun” pada sepertiga malam terakhir, untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya atau memperkenankan permohonan mereka, namun itu tidak bisa di jadikan dasar untuk menyatakan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw adalah pada saat tersebut.

Karena itu penentuan saat yang pasti bagi peristiwa yang amat besar itu, sepenuhnya kita serahkan kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Setelah ayat pertama menjelaskan bahwa al-Qur’an turun pada malam Lailatul-Qodar, ayat kedua dan ketiga menguraikan kehebatan malam itu dengan menyatakan:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
 لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Dan apakah yang menjadikan kamu tahu, apakah Lailatul-Qodar itu .?”
Kamu tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan betapa hebat dan mulia malam itu.
Kata-kata yang di gunakan manusia tidak dapat melukiskannya, dan nalarnya sukar menjangkaunya.
Sekedar sebagai gambaran
“Lailatul-Qodar itu lebih baik dari seribu bulan.”

Paling tidak ada 4 ma’na al-Qodar pada ayat di atas:

1. PENETAPAN
Malam al-Qodar adalah malam penetapan Alloh atas perjalanan hidup mahluk selama setahun.
Berdasarkan firman Alloh swt:
 
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya (sekaligus atau salah satu bagiannya) pada AL-LAILAH AL-MUBAROKAH (suatu malam yang diberkahi yaitu Lailatul-Qodar) dan sesungguhnya kami (melalui para rosul Kami) adalah para pemberi peringatan (antara lain dengan membekali para rosul dengan kitab suci).”
(44 : 3)

2. PENGATURAN
Ya’ni pada malam turunnya al-Qur’an, Alloh swt mengatur Khiththoh atau setrategi bagi Nabi-Nya Muhammad saw, guna mengajak manusia kepada kebajikan.

3. KEMULIAAN
Ini berarti bahwa sesungguhnya Alloh swt telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam tersebut menjadi mulia karena kemuliaan al-Qur’an sebagaimana kemuliaan Nabi-Nya Muhammad saw mendapat kemuliaan dengan wahyu yang beliau saw terima, dan kemuliaan ummat beliau saw ya melakukan ibadah di dalamnya. Dalam arti bahwa ibadah pada malam tersebut mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran tersendiri yang berbeda dengan malam-malam yang lain.

Ada pula yang berpendapat bahwa orang-orang yang tadinya tidak memiliki kedudukan yang tinggi, akan mendapat kemuliaan apabila pada malam itu mereka dengan khusyu’ tunduk kepada Alloh, menyadari dosa-dosanya serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

4. SEMPIT
Ya’ni pada malam turun-Nya al-Qur’an, malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak bagaikan sempit.

Kebaikan Lailatul-Qodar jika di kaitkan dengan turunnya al-Qur’an sungguh sangat jelas, karena satu malam dimana cahaya wahyu Ilahi menerangi alam raya, memberi petunjuk kebahagiaan ummat manusia.
“Satu malam itu jauh lebih baik dari seribu bulan”
Bila kebaikan dalam Lailatul-Qodar difahami setiap tahun kepada hamba-hamba Alloh yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya, maka ma’na lebih baik dari seribu bulan antara lain bahwa nilai pahala ibadah pada malam Lailatul-Qodar melebihi nilai pahalanya dibandingkan dengan beribadah pada seribu bulan yang lain.

Itulah malam Lailatul-Qodar yang mulia lagi hebat yang tidak mudah diketahui hakekatnya dan tidak mudah untuk diungkap kecuali dengan bantuan Ilahi.

LAILATUL-QODAR
Turunnya para Malaikat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
 سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“(Pada malam itu) turun (silih berganti dengan mudah dan cepat) malaikat-malaikat dan Ruh (ya’ni malaikat Jibril), padanya (malam Lailatu-Qodar itu) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Salam (kedamaian yang agung dan besar) sampai terbit fajar.”

Tidak usah bertanya ataupun menyelidiki rahasianya, bagaimana cara malaikat malaikat yang dipimpin oleh “Ruh” yaitu malaikat Jibril as turun dari alam ruhani ke alam dunia, cukuplah kita beriman saja.
Yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit sekali sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit” (QS. Al-Isro’ [17] : 85)

Kalimat “bi idzni Robbihim” memberi kesan bahwa turunnya para malaikat itu membawa sesuatu yang sangat istimewa karena mereka turun atas perintah dan restu Alloh Yang Maha Pemurah.

Kalimat “min kulli amr” turunnya para malaikat itu untuk mengatur segala atau banyak urusan, diantaranya membawa segala persoalan yang akan terjadi pada tahun itu, ya’ni sampai Lailatul-Qodar berikutnya, dengan mambawa kedamaian dari segala yang dicemaskan.

Kata “salam” diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuk kekurangan tersebut baik lahir maupun batin, sehingga seseorang yang hidup dalam “salam” akan terbebaskan dari penyakit, kemiskinan, kebodohan dan segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian kekurangan lahir dan batin.

Kata “salam” terulang didalam al-Qur’an sebanyak 42 kali yang digunakan untuk berbagai maksud antara lain:
1. Ucapan salam yang berfungsi sebagai do’a.
2. Keadaan atau sifat sesuatu.
3. Menggambarkan sikap mencari selamat dan damai.
4. Sebagai sifat Alloh swt.

Bila kita memahami kata “salam” sebagai ucapan yang mengandung do’a, maka ayat di atas menginformasikan bahwa para malaikat itu mendo’akan setiap orang yang “ditemuinya” pada malam Lailatul-Qodar itu agar terbebas dari segala kekurangan lahir dan batin.
Dalam hal ini ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa para malaikat mengucapkan “salam” dan mendo’akan orang-orang yang berada di masjid atau orang-orang muslim yang taat ketika itu.

Bila kita memahami kata “salam” sebagai keadaan atau sifat atau sikap, maka kita dapat berkata malam tersebut penuh dengan kedamaian yang dirasakan oleh mereka yang “menemuinya” atau sikap para malaikat yang turun pada malam tersebut adalah sikap yang penuh damai terhadap mereka yang berbahagia ditemuinya.

Terlepas dari dua ma’na salam itu:
“hati yang mencapai kedamaian dan ketentraman mengantarkan pemiliknya, dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri.”
Itulah alamat jiwa yang telah mencapai kedamaian dan itu pula yang dapat dijadikan bukti pertemuan dengan Lailatul-Qodar.

Munculnya cahaya matahari ditengah kegelapan malam di namai “fajar” karena cahaya tersebut bagaikan membelah kegelapan itu.
Fajar adalah waktu terlihatnya cahaya itu, tetapi sebelum hilangnya secara penuh kegelapan malam, ya’ni sebelum terbitnya matahari.
Itu adalah fajar yang kita kenal sehari-hari, waktu sebelum terbitnya matahari. Tentunya yang dimaksud dalam ayat ini adalah “fajar” malam Lailatul-Qodar.

Awal surat ini berbicara tentang turunnya al-Qur’an. Ia dilukiskan oleh Alloh swt sebagai petunjuk menuju jalan-jalan keselamatan yang lurus:

 يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dengan kitab itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ma’idah [5] :16)

Akhir surat inipun berbicara tentang keselamatan serta kedamaian. Itu hanya dapat di raih oleh mereka yang mengikuti tuntunan kitab suci yang diturunkan pada malam al-Qodar itu. Demikian bertemu awal surat ini dan akhirnya.
Maha Benar Alloh dengan segala firman-Nya.

PERISTIWA PERANG BADAR 17 ROMADLON 2.H

PERISTIWA 17 ROMADLON

Pertempuran pertama dalam sejarah Islam adalah perang Badar. Peristiwa ini menjadi garis pemisah antara era penghinaan dan kelemahan, dan dimulainya era kekuatan dan kebangkitan urusan Nabi saw dan orang beriman. Perang Badar menjadi titik tolak dalam penyebaran risalah Nabi saw.

Tentang kisah ini, Alloh mengabadikan dalam Firman-Nya:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Ingatlah .! ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”
Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Alloh dan Rosul-Nya; dan barangsiapa menentang Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya Alloh amat keras siksaan-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 12-13)

Keimanan mereka mencapai titik sempurna, andaikan dada mereka di belah kemudian dikeluarkan hatinya, maka tak akan ada satu ruang-pun yang berisikan kecintaan melebihi kecintaan terhadap Alloh swt dan Rasul-Nya saw.

Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshor-pun saat itu angkat suara Maka, ia pun segera bangkit dan berkata:
“Demi Alloh, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu.
Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar.
Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu.
Kami siap berangkat wahai Rosululoh, jika itu yang engkau kehendaki.
Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.
Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari.
Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran.
Semoga Alloh memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu.
Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Alloh.”

Pada malam itu, malam jum’at 17 Romadlon 2 H. Nabi Muhammad saw lebih banyak mendirikan sholat di dekat pepohonan.
Pada malam itu, Alloh swt menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat.
Sedangkan di pihak lain, Alloh swt menurunkan rasa takut dan cemas kepada kaum musyrikin.

Adapun Nabi Muhammad saw tiada hentinya memanjatkan do’a kepada Alloh swt. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya.
Beliau tau bahwa yang akan ditemui besok adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, beliau khawatir terhadap keteguhan dan semangat para sahabatnya.
Beliau saw sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yang beliau pimpin.
Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian sahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar.
Alloh swt gambarkan kondisi mereka dalam firman-Nya:

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.”
(Qs. Al Anfal: 5)

Di Badar ini, Nabi saw mengangkat tangannya ke langit dan berdo’a kepada Alloh dengan penuh harap hingga menyebabkan selendang (sorban) beliau terjatuh dari pundak.
Di antara do’a yang dibaca beliau saw berulang-ulang adalah:

“Ya Alloh, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku …
Ya Alloh, sesungguhnya aku mengingat-Mu, maka penuhi sumpah dan janji-Mu …
Ya Alloh, jika kelompok ini hancur, tidak akan ada  lagi yang tersisa di bumi itu untuk beribadah kepada-Mu …
Ya Alloh, jika Engkau berkehendak orang kafir menang, Engkau tidak akan disembah …
Ya Alloh, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah …”

Beliau saw mengulang-ulang do’a ini sampai selendangnya tarjatuh karena lamanya berdo’a, kemudian datanglah Abu Bakar Shiddiq ra memakaikan selendang beliau saw yang terjatuh sambil memeluk beliau saw, ia berkata:
“Sudah cukup untuk terus-menerus memohon kepada Tuhanmu wahai Rosululloh, karena Dia pasti memenuhi apa yang Dia telah janjikan …”

Alloh swt berfirman:
“Ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu dikabulkan-Nya bagimu,
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bantuan kepadamu seribu malaikat yang datang bersambungan.”
Dan tidaklah hal itu dijadikan oleh Alloh untukmu kecuali sebagai berita gembira dan untuk menenteramkan hatimu.
Dan tiada lain kemenangan itu kecuali datang dari Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.”
(QS. al-Anfal: 9-10)

Malaikat Jibril as pun datang kepada Rosululloh saw sebelum pertempuran dimulai dan berkata:
”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini .?”
Rosululloh saw menjawab:
“Mereka adalah orang muslim terbaik.”
Maka, Jibril as berkata:
“Begitu pula dengan para malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka adalah termasuk malaikat-malaikat terbaik.“

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Alloh telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Alloh, supaya kamu mensyukuri-Nya.”
(QS. Ali Imron: 123)

**

Sejarah telah mencatat rohmat Alloh yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman

1.    Pasukan Malaikat

Abdulloh bin Abbas meriwayatkan bahwa ketika seorang sahabat mengejar dengan gigih seorang musyrik yang ada di depannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan dan suara penunggang kuda yang menghentakkan kudanya. Lalu sahabat tersebut melihat orang musyrik itu jatuh tewas terkapar dengan keadaan hidung dan wajahnya terluka berat akibat pukulan keras.
Hal tersebut ia ceritaka kepada Rosululloh saw, lalu beliau bersabda:
“Kau benar, itu adalah pertolongan Alloh dari langit ketiga.” (HR. Bukhori dan Muslim)
 
Kemenangan pada perang Badar menjadi pesta di kalangan para malaikat karena peristiwa ini adalah pertama kalinya mereka diizinkan terjun ke gelanggang perang di bawah komando Jibril as dengan seribu pasukan malaikat pilihan.
 
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. An-Anfal: 9)
 
Para Malaikat yang terlibat dalam Perang Badar memiliki kemuliaan di antara semua malaikat seperti yang dikatakan Jibril as kepada Nabi saw. ”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini .?”
Rosululloh saw menjawab:
“Mereka adalah orang muslim terbaik.”
Maka, Jibril as berkata:
“Begitu pula dengan para malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka adalah termasuk malaikat-malaikat terbaik.“
 
2.    Alloh Meneguhkan Hati  
 
“Dan Alloh tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa Maha Perkasa. (QS. Al-Anfal: 10)
 
3.    Rasa Kantuk dan Turunnya Hujan
                 
“Sesungguhnya Allah manjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dari-Nya dan Alloh menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, Alloh Swt. menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh  kedudukanmu.”
(QS. Al-Anfal:11)
 
Rasa kantuk yang melanda para mujahid Badar merupakan salah satu ni’mat. Mengapa demikian .? Karena situasi perang tidak kondusif untuk tidur, guna mengembalikan energi, maka rasa kantuk menjadi suatu terapi dari suasana yang tegang dan mencekam. Karena malam hari bagi kaum musyrikin adalah untuk bersenang-senang, sementara kaum mslimin dikaruniakan rasa kantuk sebagai rangsangan tidur untuk memulihkan tenaga.
 
Saat itu pun turun hujan baik di tempat kaum muslim maupun kafir. Hal ini berdampak ni’mat bagi kaum muslim tetapi menjadi siksaan dan kendala bagi kaum kafir. Contohnya, tanah kaum muslim menjadi padat dan tidak berdebu sehingga menjadi kokoh diinjak dan tidak mengganggu pandangan.

Hujan menjadi salah satu bantuan dalam bentuk rohmat yang Alloh swt turunkan kepada kaum mu’minin dalam pertempuran Badar itu, selain  jundun min jundillah atau tentara Alloh, sepertia para malaikat yang Alloh turunkan untuk mengacaukan pasukan kaum Musyrikin.

Rosululloh saw. dan generasi awal umat ini benar-benar menyadari, bahwa masyarakat paganis ekstrim dari keturunan Quraisy dan semua kelompok yang sejenis dengannya tidak akan pernah membiarkan umat Islam memiliki kebebasan menjalankan Syari’atnya di Kota Yatsrib, setelah sebelumnya mereka diusir beramai-ramai dari Kota Makkah. Dari itu, umat Islam pun mempersiapkan segalanya.

Di Kota Madinah kaum Muslimin mempersiapkan diri dengan membangun kekuatan dengan cara selalu berlatih berperang, agar mereka tidak lagi dilecehkan orang-orang musyrik dan juga kabilah-kabilah Yahudi.
Sadar akan kekuatan Islam yang selama ini tersebunyi. Hal ini menggetarkan musuh, sehingga musuh tidak menyerang umat Islam di Kota Madinah. Bahkan dengan kekuatan yang dimiliki kaum muslimin ini, masyarakat Quraisy paham bahwa orang-orang Muhajirin yang selama ini lari dari tekanan dan penindasannya, bukan lagi pada posisi yang lemah dan hina. Namun kini mereka telah berubah menjadi satu komunitas yang kuat, dan mampu menggetarkan mereka. Dari itu pasukan Rosululoh saw patut diperhitungkan.

Hasil Perang Badar
 
Perang Badar (dengan seluruh hasil yang ia torehkan bagi sejarah harokah Islamiah maupun sejarah umat manusia seluruhnya, telah menjadi sebuah pelajaran yang sangat jelas sekali bagi harokah Islamiah maupun bagi perjalanan sejarah ke depan.

Allah swt. menyebut hari itu dengan nama “yaumul-furqan yaum iltaqol-jam’an” atau hari pembeda, hari dimana dua kekuatan bertemu. Peperangan ini sendiri memberikan beberapa buah hasil penting antara lain:
 
1.    Perang Badar merupakan pembatas di antara dua ikatan dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil. Kekuatan umat Islam semakin kuat sehingga dataran Arab pun turut memperhitungkannya. Kebenaran muncul di permukaan dengan rambu-rambu akidah dan prinsip-prinsip dasar yang dibawanya.
2.    Tergoncangnya kedudukan Quraisy di mata orang Arab serta kegalauan penduduk Makkah di hadapan tamparan yang tak diduga tersebut.
3.     Tampilnya umat Islam sebagai sebuah kekuatan yang memiliki arti dan pengaruh. Hal ini menyebabkan banyak kabilah yang tinggal di sepanjang jalur Makkah dan Syam membuat perjanjian kesepakatan dengan mereka. Dengan demikian kaum muslimin sudah berhasil menguasai jalur tersebut.
4.    Sebelum Perang Badar meletus, kaum muslimin mengkhawatirkan keberadaan orang-orang non muslim yang tinggal di kota Madinah. Namun setelah mereka kembali ternyata kenyataannya justru sebaliknya.
5.    Semakin bertambahnya kebencian orang-orang Yahudi terhadap umat Islam. Sebagian mereka mulai menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan. Sementara yang lainnya menjadi agen yang membawa berita seputar perihal kaum muslimin kepada orang-orang Quraisy serta memprovokasi mereka untuk menyerang umat Islam.
6.    Aktivitas perdagangan Quraisy menjadi semakin sempit. Akhirnya mereka terpaksa menapaki jalur Irak melalui Najd karena takut apabila dikuasai oleh orang-orang islam. Dan jalur ini merupakan jalur yang panjang.
7.    Pada Perang Badar, 14 orang dari kalangan umat Islam gugur sebagai syuhada; 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar. Sementara dari pihak orang musyrikin tewas sebanyak 70 orang dan 70 orang lagi berhasil ditawan. Kebanyakan dari mereka adalah pemuka dan pembesar Quraisy.

SHOLAT LAILATUL-QODAR

PILIH BATU ATAU BERLIAN

Jangan pernah mengabaikan QIYAMUL-LAIL di malam-malam Romadhon, karena suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa kamu telah kehilangan BERLIAN, sementara kamu sibuk mengumpulkan BATU ..

Jika 20 hari Romadhon berlalu tanpa kesan dalam hatimu .. Maka yakinlah 10 hari Romadhon di depanmu ada Alloh yang memperhatikan dan membuka Tangan-Nya untukmu ..

Semakin banyak waktu dipergunakan sese’orang untuk memohon kepada Alloh , semakin dekat ia dengan-Nya , semakin besar pula pahala yang di dapatnya dan kasih sayang Alloh terhadapnya berupa curahan rohmat dan ampunan untuknya di samping sorga yang selalu merindukannya.

ROHMAT ALLOH SWT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala menurunkan pada setiap malam Lailatul-Qodar sebuah rohmat yang merata kepada semua kaum mukmin, mulai dari dunia timur sampai dunia barat, dan masih tersisa sebagian dari rohmat itu.”
Berkatalah malaikat Jibril as :
“Ya Tuhanku, aku telah menyampaikan rohmat-Mu kepada semua orang mukmin, tetapi masih tersisa kelebihan dari rohmat itu.”
Alloh swt berfirman :
“Serahkanlah kepada anak-anak yang dilahirkan pada malam ini.”
Maka malaikat Jibril as menyerahkan kelebihan itu kepada anak-anak yang dilahirkan dari orang-orang islam maupun orang-orang kafir, jadilah rohmat itu untuk anak-anak orang-orang kafir yang mendorong mereka ke negri keselamatan, karena akhirnya mereka mati dalam ke’ada’an mukmin.”

4 ORANG YANG TIDAK MENDAPATKAN ROHMAT
Dimalam Lailatul-Qodar

“Pada malam Lailatul-Qodar berserulah malaikat Jibril as :
“Hai sekalian malaikat , berangkat , berangkat .!”
Meraka bertanya :
“Hai Jibril , apa yang telah diperbuat Alloh Ta’ala dengan kaum muslimin dari ummat Muhammad pada malam ini .?”
Jibril as berkata kepada mereka :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala memandandang mereka dengan penuh rohmat , mema’afkan dan mengampuni mereka kecuai empat golongan.”
Mereka bertanya :
“Siapakah mereka itu .?”
Jibrlil as menjawab :
” 1. Orang yang membiasakan minum khomer.
2. Orang yang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
3. Orang yang memutuskan hubungan famili.
4. Orang yang mendiamkankan saudaranya lebih dari tiga hari.”

KEUTAMAAN SHOLAT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Pada malam Lailatul-Qodar pintu-pintu langit terbuka, tidak se’orangpun hamba yang mengerjakan sholat didalamnya kecuali Alloh swt menjadikan untuknya ;
Setiap takbirnya, sebuah tanaman pohon di sorga, yang se’andainya orang naik dengan kendara’an berjalan dibawah naungannya seratus tahun tidak akan selesai menempuhnya.
Setiap roka’atnya, sebuah gedung di sorga dari mutiara yaqud, zabarjad dan dari lu’lu’.
Setiap ayat yang dibacanya dalam sholat, sebuah mahkota di sorga.
Setiap duduknya, sebuah derajat dari derajat-derajat sorga.
Dan setiap salamnya, sebuah perhiasan dari perhiasam-perhiasan sorga.”

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang berdiri mengerjakan sholat malam Lailatul-Qodar, yaitu kadar waktu orang memerah susu kambing, adalah lebih di cintai Alloh daripada berpuasa setahun penuh.
Demi Tuhan yang mengutusku dengan haq sebagai Nabi, sungguh membaca satu ayat dari Al-Qur’an pada malam Lailatul-Qodar, adalah lebih di cintai Alloh daripada membaca hatam dalam malam selain malam Lailatul-Qodar.”

Dari ibnu Abbas ra, Rosululloh saw bersabda :
“Barang siapa yang mengerjakan sholat dua roka’at pada malam Lailatul-Qodar, membaca pada setiap roka’atnya Fatihatul-kitab (surat al-Fatihah) sekali dan surat al-Ikhlash tujuh kali, dan apabila telah selesai salam dia membaca :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. 70.x
Maka dia tidak berdiri dari tempatnya, kecuali telah di ampuni dosanya oleh Alloh dan dosa kedua orang tuanya, dan Alloh mengutus para malaikat ke sorga untuk menanamkan beberapa pohon untuknya, membagun beberapa gedung dan mengalirkan beberapa sungai, dan dia tidak akan keluar dari dunia ini sehingga dia melihat semua itu lebih dahulu.”

(Tafsir al-Hanafi).

KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID
Dimalam Lailatul-Qodar

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

“Pada malam lailatul-Qodar turun empat macam bendera,
1. Bendera pujian.
2. Bendera rohmat.
3. Bendera ampunan.
4. Bendera kemulia’an.
Setiap bendera di iringi tujuh puluh ribu malaikat, dan pada setiap bendera tertulis :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه

Barang siapa yang membaca pada malam Lailatul-Qodar kalimat :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه. 3.x

Maka
Alloh mengampuninya dengan baca’an sekali.
Alloh menyelamatkannya dari neraka dengan baca’an sekali.
Alloh memasukkannya kedalam sorga dengan baca’an sekali.
Dan Alloh memasang bendera pujian di antara langit dan bumi, bendera ampunan di atas kubur Nabi Muhammad saw, bendera rohmat di atas Ka’bah, dan bendera kemulia’an di atas batu besar di Baitul-Maqdis.
Masing-masing malaikat datang pada malam itu di pintu rumah kaum muslimin tujuh puluh kali, dengan memberi salam kepada mereka.”

wallohu a’lam bish-showab ..

KEPOMPONG ROMADLON DAN KUPU-KUPU

“Jika kerakusan ulat ibarat nafsu angkara .. dan kepompongnya adalah Romadlon .. Maka keindahan kupu-kupu adalah taqwa dan maghfiroh ..”

Pernahkah Anda melihat seekor ulat .?
Bagi kebanyakan orang ulat memang menjijikkan bahkan menakutkan, karena sifat perusaknya.
Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama perjalanannya.

Pada saatnya ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.
Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud yang lain; ia menjelma menjadi seekor kupu–kupu yang sangat indah.
Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu–kupu dengan sayap yang beraneka corak dan warna yang sangat indah .?

Itulah sebuah gambaran perjalanan manusia dengan lika–liku dan lakunya yang menganiaya diri sendiri dan merusak lingkungannya.
Ketika memasuki Romadlon ia menghususkan dirinya bertobat kepada Alloh swt disertai dengan berbagai macam amalan untuk mencari pahala, rohmat demi mencapai sorga dan ridho-Nya. Maka ia keluar dari Romadlon dalam keadaan suci, bersih dan indah dengan pakaian taqwa.

DZIKIR ISTIGHFAR SETIAP PAGI DAN PETANG

Biasa juga dibaca berulang-ulang di bulan Romadhon setiap sore menjelang maghrib sambil menunggu waktu berbuka puasa ..

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. 3x

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku ,, sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ
نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. 3x

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh .. ampunilah aku Ya Alloh ..
Ya Alloh .. kami mohon ridlo-Mu dan sorga .. dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka ..”

أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. 3x
يَا كَرِيْمِ. 1x

“Ya Alloh .. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia .. suka mengampuni .. maka ampunilah kami .. Wahai Yang Maha Mulia ..”

BACAAN ISTIGHFAR KETIKA BERDIRI DARI TEMPAT DUDUK YANG DIBERKATI

Dari Ibnu ‘Umar ra, berkata:
“Sebelum bangkit dalam sebuah majlis, Rosululloh saw (membaca):
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
“Tuhanku .. Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha Pengampun.”
Satu kali, dihitung sebanyak seratus kali.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam bulan Romadhon amal kebaikan digandakan menjadi 70 kali lipat oleh Alloh swt .. Artinya, setiap kali kita berdiri dari suatu majlis yang diberkati dengan membaca kalimat istighfar di atas maka nilainya sama dengan membaca 7000 (tujuh ribu) kali istighfar .. Sungguh Alloh swt sangat luas karunianya ..

ORANG YANG BERPUASA AKAN BERTEMU DENGAN ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَايَدْخُلُه اِلاَّ الصَّائِمُوْنَ وَهُوَمَوْعُوْدٌ بِلِقَاءِاللهِ تَعَالَى فِى جَزَآءِ صَوْمِه .
“Sorga itu mempunyai pintu yang disebut Royyan, dimana pintu itu tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa, dan ia diberi janji untuk bertemu dengan Alloh Yang Maha Tinggi dalam balasan puasanya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SORGA

Rosululloh saw bersabda :

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى اَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْاٰنِ وَحَافِظِ الِّلسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

“Sorga itu merindukan empat golongan:
1. Orang-orang yang membaca al-Qur’an
2. Orang-orang yang menjaga lisan
3. Orang-orang yang memberi makan
4. Orang-orang yang berpuasa di bulan Romadhon.”

(Hadits diriwayatkan oleh Utsman bin Hasan al-Khaubawi dalam kitab Durrotun Nashihin yang di nukil dari kitab al Rounaqul-Majlis).

BERDUSTA DI BULAN ROMADHON AKAN MENGALAMI KERUGIAN

Dari Anas bin Malik ra dan Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat (dalam Romadhon), maka Alloh tidak membutuhkannya (ya’ni Alloh tidak menerima puasanya) walaupun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (HR. Tirmidzi).

HIBURAN MENYAMBUT ROMADHON

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Romadhon, diharamkan Alloh jasadnya menyentuh api neraka.” (HR. Nasa’i).

Kalau kamu bahagia memasuki bulan Romadhon kemudian kamu bergembira, itu berarti kamu termasuk orang yang sangat hebat .!
Ada yang hebat lagi adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankan puasa Romadhon karena semata-mata melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..

Hal yang demikian pernah dialami oleh Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, waktu mencium Hajar Aswad, beliau berkata :
“Kalau tidak karena aku melihat Rosululloh menciummu, tidak akan aku menciummu.
Tapi karena Rosululloh yang aku cintai dan aku imani menciummu, maka aku menciummu.
Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu.”

Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, tentu itu merupakan menu istimewa bagi kamu .?
Tetapi kalau kamu memakan rujak yang tidak kamu sukai itu semata-mata karena Alloh dan Rosul-Nya yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya ..

Seperti yang pernah dikatan Rosululloh saw kepada para sahabatnya tentang perihal membaca al-Qur’an:
“Orang yang mahir membaca al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat.
Dan orang yang terbata-bata di dalam membaca al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).

GANJARAN BERLIPAT GANDA DI BULAN ROMAHON

Dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata, bahwa Rosululloh saw. memberi khutbah kepada kami di hari akhir dari bulan Sya’ban dan bersabda :

اَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ اَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهٗ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعًا مَنْ تَطَوَّعَ (تَقَرَّبَ) فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ اَدَّى الْفَرِيْضَةَ فِيْمَا سِوَاهُ. وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَشَهْرٌ اَوَّلُهٗ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهٗ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهٗ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. (رواه ابن حزيمة)

“Hai sekalian manusia .!
Akan datang bulan yang agung (Romadhon) yaitu bulan yang penuh barokah di dalamnya.
Dalam bulan itu ada malam yang mulia (Lailatul-Qodar) yang lebih utama dari pada seribu bulan.
Alloh telah mewajibkan puasa di bulan itu, dan sholat tarawih di malamnya sebagai ibadah sunah.
Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya.
Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya.
Bulan Romadhon adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan dimana awalnya rohmat, ditengahnya ampunan dan diakhirnya kebebasan dari neraka.” (HR. Ibnu Huzaimah).

KEUTAMAAN SHOLAT MALAM DAN MEMBACA AL-QUR’AN DI BULAN ROMADHON

Rosululloh saw bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barang siapa sholat malam di bulan Romadhon karena beriman kepada Alloh dan mengharap keridhoan-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

اِقْرَؤُاالْقُرْاٰنَ فَاِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلاَصْحَابِه
“Bacalah olehmu sekalian al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas ra, berkata:

وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Beliau (Nabi Muhammad saw) bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Romadhon untuk tadarus al-Qur’an.” (HR. Bukhori).

NILAI BERSHODAQOH DI DALAM BULAN ROMADHON

Menurut al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 261, bershodaqoh (infaq fii sabiilillah) pahalanya dilipatgandakan 700 kali.
Kemudian menurut Hadits Rosululloh keistimewaan beramal didalam bulan Romadhon pahalanya dilipatgandakan menjadi 70 kali.
Jadi bershodaqoh di bulan Romadhon tentu pahalanya akan lebih banyak lagi, misalnya bershodaqoh Rp.1000, maka setara dengan Rp.49.000.000.

Oleh sebab itu Rosululloh saw sangat menganjurkan ummatnya supaya bershodaqoh di dalam bulan Romadhon, beliau saw bersabda :
اَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ.
“Seutama-utama shodaqoh adalah shodaqoh di bulan Romadhon.” (HR. Tirmidzi).

GANJARAN BERLIMPAH DENGAN MEMBERI MAKAN ORANG BERBUKA PUASA

Bulan Romadhon merupakan kesempatan terbaik beramal sholeh untuk menuai ganjaran berlimpah. Misalnya dengan memberi sesuap nasi, secangkir minuman, sebutir kurma, atau makanan ringan lainnya.
Maka sudah sepantasnya kesempatan bulan Romadhon ini tidak terlewatkan begitu saja, karena pahala yang dijanjikan Alloh swt melalui Nabi muhammad saw sangat luar bisa.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

DO’A KETIKA MENERIMA MAKANAN DAN MINUMAN

Ketika Nabi saw diberi makanan atau minuman, beliau mengangkat kepalanya yang suci ke langit dan mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Ya Alloh, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku.” (HR. Muslim).

DO’A ORANG BERPUASA DITERIMA OLEH ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak (oleh Alloh swt) :
(1) Do’a pemimpin yang adil
(2) Do’a orang yang berpuasa ketika dia berbuka
(3) Do’a orang yang terdholimi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Sebab terkabulnya do’a orang yang berbuka puasa adalah karena dia melakukan ketaatan kepada Alloh swt, dan telah menyelesaikan puasanya dengan baik.

KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Makan sahur adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits ini menerangkan barokah itu ada pada makan sahur, dan yang menetapkan barokah seperti ini adalah Alloh swt, sehingga barokah itu bukan datang dari benda itu sendiri, namun dianugerahkan oleh Alloh swt kepada hamba yang melakukannya.
Yang dimaksud dengan barokah adalah tetapnya kebaikan dari Alloh swt pada sesuatu, yaitu bertambahnya kebaikan dan terus tumbuh, yang bisa mendatangkan manfaat serta kebaikan pahala dunia dan akherat.

KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

Alloh swt telah menjelaskan waktu dibolehkannya seseorang yang berpuasa untuk berbuka yaitu pada terbenamnya matahari, sebagaimana firman-Nya:
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam.” (al-Baqoroh: 187).

Demikian pula rosululloh saw telah menjelaskan, Dari ‘Umar bin Khoththob ra, beliau saw bersabda:
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ وَأَدْبَرَ النَّهَارُ وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Apabila malam telah datang dan siang telah pergi serta matahari telah terbenam maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rosululloh saw bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Tidaklah manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan ifthor (berbuka).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Abu ad-Darda’ ra, rosululloh saw bersabda:
ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ؛ تَعْجِيْلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيْرُ السَّحُورِ، وَوَضْعِ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ
“Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat.” (HR. Thobroni).

DO’A BUKA PUASA

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ

“Ya Alloh, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka, dengan rohmat-Mu, wahai Dzat Yang paling welas asih.”

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Alloh menghendaki.”

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ ” بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Alloh Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Alloh Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Dengan nama Alloh pada awal dan akhirnya.”

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

TANGIS PERPISAHAN DI BULAN ROMADHON

“Di malam terakhir Ramadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya.”

Bagi orang-orang sholeh, setiap bulan Romadhon pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah do’a yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Romadhon menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Romadhon, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Romadhon, pada masa Rosululloh saw, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Romadhon akan segera berlalu meninggalkan mereka.

KISAH SEDIH MALAM ‘IDUL-FITHRI

اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ…
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ…
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ…

Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar…
Tiada Tuhan selain Alloh… Alloh Maha Besar dan hanya milik Alloh segala pujian…
Tiada Tuhan selain Alloh dan kami tidak menyembah kecuali Dia dengan memurnikan agama hanya bagi-Nya meskipun kaum musyrikin menentang kami.”

Dalam satu riwayat yang dikisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Alloh lainnya.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:
“Di malam terakhir Romadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya:
“Apakah musibah itu, ya Rosululloh ..?”

“Dalam bulan itu segala do’a mustajab, shodaqoh diterima, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur ditangguhkan, maka apakah musibah yang lebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu ..?”

Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Romadhon, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Betapa tidak ..! Bulan yang penuh keberkahan dan keridhoan Alloh itu akan segera pergi meninggalkan mereka.
Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Alloh bukakan pintu-pintu sorga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bulan yang awalnya adalah rohmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Alloh daripada minyak kesturi.

Bulan ketika Alloh setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Alloh menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat kepada-Nya.

Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfa’at dari Romadhon.
Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan.
Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Romadhon yang akan datang.

Bagaimana dengan kita ..?
Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Romadhon meninggalkan kita ..?
Atau malah sebaliknya, kita yang mengabaikannya saat bersamanya .. bahkan tanpa kesan sama sekali ..?

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh keberuntungan.”

SEMOGA ALLOH SWT MENERIMA AMAL IBADAH KITA DI BULAN ROMADHON INI

Suatu hari, pada sebuah sholat ‘Idul-Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Alloh selama tiga puluh hari, berdiri melakukan sholat selama tiga puluh hari pula, maka pada hari ini kalian keluarlah (sholat ‘Ied) seraya memohon kepada Alloh agar menerima amalan tersebut.”

RENUNGAN ‘IDUL-FITHRI

Salah seorang sholeh ada yang terlihat sedih di hari raya ‘Idul-Fitri, kemudian seseorang bertanya kepadanya:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang .. Kenapa engkau malah bermuram durja ..? Ada apa gerangan ..?”

“Ucapanmu benar, wahai sahabatku” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Tuhan-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

SUKA CITA ‘IDUL FITHRI

Idul Fithri adalah anugerah Alloh kepada umat Nabi Muhammad saw, tak salah bila disambut dengan suka cita. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat sahabat Anas bin Malik ra, bahwa :
“Ketika Rosululloh saw datang, penduduk Madinah memiliki dua hari, dan mereka gunakan dua hari itu untuk bermain di masa Jahiliyah.

Lalu beliau saw bersabda:
“Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa Jahiliyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yaitu hari Nahr (‘Idul-Adha) dan hari Fithri (‘Idul-Fithri).”
Rosululloh saw juga bersabda:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Nasa’i).

LEBARAN ROSULULLOH SAW

Rosululloh saw menyambut Lebaran dengan keriangan yang bersahaja ..
Pagi itu, 1 Syawwal, Rosululloh saw keluar dari tempat i’tikafnya (Masjid Nabawi). Beliau saw bergegas mempersiapkan diri untuk berkumpul bersama ummatnya, melaksanakan salat ‘Ied.
Nabi saw juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan, baik perempuan yang suci maupun yang haid, keluar bersama menuju tempat sholat, supaya mendapat keberkahan pada hari suci tersebut.

Dari Ummu ‘Athiyyah ra, dia berkata:
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita, termasuk yang haid, pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga mendapat do’a dari kaum muslimin. Hanya saja wanita-wanita yang haid diharapkan menjauhi tempat sholat. (maksudnya tidak melaksanakan).” (HR Bukhori dan Muslim).

Ibnu Abbas ra berkata:
“Rosululloh saw keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Majah).

Ibnu Abbas dalam hadits yang diriwayatkannya menuturkan:
“Aku ikut pergi bersama Rosululloh saw (waktu itu Ibnu Abbas masih kecil), menghadiri Hari Raya ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha, kemudian beliau saw sholat dan berkhutbah. Dan setelah itu mengunjungi tempat kaum wanita, lalu mengajar dan menasihati mereka serta menyuruh mereka agar mengeluarkan sedekah.”

Sebelum melaksanakan salat ‘Id, terlebih dahulu Rosululloh saw membersihkan diri. Lalu beliau berdo’a:
“Ya Alloh, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah bathin kami sebagaimana Engkau telah menyucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah menyucikan apa yang tampak dari kami.”

Anas bin Malik ra, berkata:
“Rosululloh saw memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan parfum terbaik yang kita miliki, dan berqurban (bershodaqoh) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.” (HR. Hakim).

Imam Syafi’i rh, mengatakan:
“Rosululloh saw mengenakan kain burdah (jubah) yang bagus pada setiap hari raya.”
Pakain yang bagus dalam hal ini bukan berarti baru dibeli, tetapi terbagus dari yang dimiliki.
Lebih khusus lagi Imam Syafi’i dan Baghowi meriwayatkan, Nabi saw memakai pakaian buatan Yaman yang indah pada setiap hari raya (Pakaian buatan Yaman merupakan standar keindahan busana saat itu).

Pada hari istimewa itu, beliau saw mengenakan hullah, pakaiannya yang terbaik yang biasa beliau kenakan setiap hari raya dan hari Jum’at. Ini merupakan tanda syukur kepada Alloh swt, yang telah memberikan nikmat-Nya.

Kemudian, beliau mengambil beberapa butir korma untuk dimakan, pertanda hari itu ummat Islam menghentikan puasanya.

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat salat ‘Id, Rosululloh tak henti-hentinya mengumandangkan takbir dengan khidmat.
“Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar walillahilhamdu.”

Rosululloh saw selalu melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha di tanah lapang, seperti disebutkan di dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim. Beliau baru melaksanakan sholat ‘Id di masjid kalau hari hujan. Menurut ahli fiqih, tempat salat ‘Id yang sering digunakan Rosululloh dan para sahabat itu terletak di sebuah lapangan di pintu timur kota Madinah.

Rosululloh melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri agak siang. Ini untuk memberi kesempatan kepada para sahabat membayar zakat fithrah mereka.
Sementara sholat ‘Idul-Adha dilakukan lebih awal, agar kaum muslimin bisa menyembelih hewan qurban mereka.

Jundab ra berkata:
“Rosululloh saw sholat ‘Idul-Fitri dengan kami ketika matahari setinggi dua tombak, dan sholat ‘Idul-Adha dengan kami ketika matahari setinggi satu tombak.”

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA ‘IDUL-FITRI

Ucapan selamat “Hari Raya ‘Idul-Fitri” seringkali diakhiri dengan “Minal ‘Âidîn wal-Faizîn” (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat).

Selain sebagai do’a dan harapan, ucapan ini juga sebagai pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Sejak ‘Idul-Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Romadhon.

Bagi muslim yang telah mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Romadhon dan mengoptimalkan berbagai ibadah dengan penuh keikhlasan melaksanakannya, ‘Idul-Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Alloh swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapa pun, yaitu rohmat dan maghfiroh-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya, dan tak satupun kaum muslimin yang beriman berdo’a pada hari raya ‘Idul-Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Merayakan ‘Idul-Fitri tidaklah hanya sekedar ajang berhias diri dengan pakaian baru, tapi yang lebih penting ‘Idul-fitri adalah ajang tasyakkur, refleksi diri untuk mengasah kepekaan jiwa kita kembali mendekatkan diri pada Alloh swt, dengan memperbarui pakaian taqwa.

Alloh swt berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Wahai anak Adam, seseungguhnya Kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurot kalian, dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian taqwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh agar mereka ingat.” (QS. Al-A’rof :26).

اللهم إنا نسألك في الدنيا لباس التقوى وفي الآخرة لباس الجنة
“Ya Alloh, sesunggunya kami memohon kepada-Mu di dunia memakai pakaian taqwa, dan di akherat memakai pakaian sorga.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf yang disengaja dan tidak.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan dari kalian, puasa kami dan puasa kalian.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh kesuksesan -di dunia dan keberuntungan di akherat-.”

SALING BERMA’AFAN

Saat bertemu satu sama lain, kaum muslimin saling bermaafan, seraya saling mendo’akan. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Kholid bin Ma’dan ra, ia mengatakan:
“Aku menemui Watsilah bin al-Asqa’ pada hari ‘Id, lalu aku mengatakan:
“Taqobbalallohu minna wa minka (Semoga Alloh menerima amal ibadahku dan amal ibadahmu).”
Lalu ia menjawab:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Kemudian Watsilah berkata:
“Aku menemui Rosululloh saw pada hari ‘Id, lalu aku mengucapkan:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Lalu Rosululloh saw menjawab:
“Ya, taqobbalallohu minna wa minka.” (HR. Baihaqi).

Selanjutnya, di masa sahabat ra, ucapan ini agak berubah sedikit. Jika sebagian sahabat bertemu dengan sebagian yang lain, mereka berkata:
“Taqobbalallohu minna wa minkum (Semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian).” (HR Ahmad).

Pada hari raya, Rosululloh saw mempersilakan para sahabat ra, untuk bergembira. Seperti mengadakan pertunjukan tari dan musik, makan dan minum, serta hiburan lainnya. Namun semua kegembiraan itu tidak dilakukan secara berlebihan atau melanggar batas keharaman. Karena, hari itu adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Alloh Azza wa Jalla. (HR. Muslim).

Sayyidah ‘Aisyah ra, menceritakan:
“Di Hari Raya ‘Idul Fithri, Rosululloh masuk ke rumahku. Ketika itu, di sampingku ada dua orang tetangga yang sedang bernyanyi dengan nyanyian bu’ats (bagian dari nyayian pada hari-hari besar bangsa Arab ketika terjadi perselisihan antara Kabilah Aush dan Khazraj sebelum masuk Islam). Kemudian Rosululloh berbaring sambil memalingkan mukanya.

Tidak lama setelah itu Abu Bakar masuk, lalu berkata:
“Kenapa membiarkan nyanyian setan berada di samping Rosululloh .?”

Mendengar hal itu, Rosululloh menengok kepada Abu Bakar seraya berkata:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita’.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ada juga riwayat dari Imam Bukhori yang menceritakan:
“Rosululloh saw masuk ke tempatku (‘Aisyah), kebetulan di sana ada dua orang sahaya sedang menyanyikan syair-syair Perang Bu’ats (Bu’ats adalah nama benteng kepunyaan suku Aus; sedang hari Bu’ats ialah suatu hari yang terkenal di kalangan Arab, waktu terjadi pertempuran besar di antara suku Aus dan Khazraj). Beliau terus masuk dan berbaring di ranjang sambil memalingkan kepalanya. Tiba-tiba masuk pula Abu Bakar dan membentakku seraya berkata:
“(Mengapa mereka) mengadakan seruling setan di hadapan Nabi .?”

Maka Nabi pun berpaling kepadanya, beliau berkata:
“Biarkanlah mereka.”

Kemudian setelah beliau terlena, aku pun memberi isyarat kepada mereka supaya keluar, dan mereka pun pergi.

Dan waktu hari raya itu banyak orang Sudan mengadakan permainan senjata dan perisai. Adakalanya aku meminta kepada Nabi saw untuk melihat, dan adakalanya pula beliau sendiri yang menawarkan:
“Inginkah kamu melihatnya .?”
Aku jawab: “Ya.”

Maka disuruhnya aku berdiri di belakangnya, hingga kedua pipi kami bersentuhan, lalu sabdanya:
“Teruskan, hai Bani ‘Arfadah .!”
Demikianlah sampai aku merasa bosan.
Maka beliau bertanya:
“Cukupkah .?”
Aku jawab: “Cukup.”
“Kalau begitu, pergilah .!” kata beliau saw.

HIKMAH KEMENANGAN

Demikianlah, Romadhon telah melewati kita. Tapi kebaikan-kebaikan lain tetap mesti dipertahakan.
Puasa Romadhon memang telah berakhir, tapi puasa-puasa sunnah, misalnya, tidaklah berakhir, tetap menanti kita. Seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan (ayyaamul bidh, tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan), puasa Asyura’ (tanggal 10 Muharram), puasa Tarwiyah dan ‘Arofah (tanggal 8-9 Dzulhijjah), dan lain-lain.

Terawih memang telah berlalu, tapi Tahajjud dan witir misalnya, tetap menanti kita. Juga bermunajat di tengah malam, yang merupakan kebiasaan orang-orang sholeh.
Abu Sulaiman ad-Daroni rohimahulloh berkata:
“Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.”

Zakat fithrah memang telah berlalu, tapi zakat wajib dan pintu shodaqoh masih terbuka lebar pada waktu-waktu yang lain.

Indikator diterimanya puasa Romadhon ..
Seorang penyair Arab mengungkapkan:
“Bukanlah Hari Raya ‘Ied itu
bagi orang yang berbaju baru
Melainkan hakikat ‘Ied itu
bagi orang yang bertambah ta’atnya.”

Semoga dengan latihan yang telah kita lakukan selama bulan Romadhon ini, kita disampaikan oleh Alloh swt kepada ketaqwaan, dan semoga ketaqwaan ini dapat terus kita pertahankan dan kita jadikan sebagai pakaian kita sehari-hari, dan semoga kita masih dapat dipertemukan Alloh swt dengan Romadhon berikutnya.

Wallohu a’lam bisshowab ..

MENGENAL NILAI KENI’MATAN ROMADLON

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak keni’matan yang Alloh berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.
Dapat satu tidak terasa ni’mat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa ni’mat karena menginginkan tiga dn begitulah seterusnya.
Padahal kalau manusia mau memperhatikan dn merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak org yg memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yg kita peroleh.
Maka dengan puasa Romadlon, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dn merenungi tentang keni’matan yg sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya ni’mat yg Alloh berikan kepada kita.

Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dn minum sudah terasa betul penderitaan yg kita alami, dn pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya ni’mat dari Alloh swt, meskipun hanya berupa sebiji korma atau seteguk air.

Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai keni’matan yg Alloh berikan agar kita selanjutnya menjadi org yg pandai bersyukur dn tidak mengecilkan arti keni’matan dari Alloh meskipun dari segi jumlah memang sedikit dn kecil.

Rasa syukur memang akan membuat ni’mat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya.
Alloh berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS 14:7).

MENGINGAT DAN MERASAKAN

Merasakan lapar dn haus juga memberikan pengalaman kpd kita bagaimana beratnya penderitaan yg dirasakan orang lain.
Sebab pengalaman lapar dn haus yg kita rasakan akan segera berakhir hanya dgn beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.

Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dn memantapkan rasa solidaritas kita kpd kaum muslimin lainnya yg mengalami penderitaan yg hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita yg kerap kita lihat di sekitar kita.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Romadlon berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dgn demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yg menderita.

Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yg miskin dn menderita, tapi juga bagi kita yg mengeluarkannya agar dgn demikian, hilang kekotoran jiwa kita yg berkaitan dgn harta seperti gila harta, kikir dn sebagainya.

Alloh swt berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka.
Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah :103).

HAMPARAN BUMI MASIH SANGAT LUAS

Terkadang ujian berupa persoalan dn masalah hidup membuat dunia seakan teramat sangat sempit dn terbatas.
Dalam pandangan mata batin dn mata lahir, hanya ada satu pintu yg tampak, itupun dalam ruang gelap tanpa cahaya.
Padahal sesungguhnya Alloh Yang Maha Rohman dn Rohim telah memyediakan beribu pintu untuk di lalui agar manusia dapat menyelesaikan dn keluar dari masalah.

Saat peperti ini hanya dengan keimanan manusia dapat membuka pintu-pintu itu untuk dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya. Karena sebenarnya kesulitan dn kemudahan selalu berjalan berdampingan.

Berhenti dalam gelapnya suasana hati dn pikiran adalah ‘menganiaya diri sendiri’ yg akan berakibat kehancuran.
Memang manusia diciptakan oleh Alloh swt dalam keadaan lemah, dari seorang bayi yg tidak dapat berbuat apa-apa, namun ia dilatih belajar merangkak, berdiri, berjalan dn berlari untuk menjadi kuat.

Setelah itu ia dituntut untuk terus melangkahkan kaki hingga sampai ke tempat tujuan yg telah ditetapkan, seperti air yg terus mengalir, melewati setiap celah yg dapat dilalui, dgn kekuatannya menghalau setiap rintangan, menerjang setiap penghalang.

Bumi ini masih sangat luas untuk menampung gerak kita.
Bumi ini masih sangat luas untuk menampung beragam upaya untuk mewujudkan keinginan kita.
Jika di sisi bumi ini kita terjerembab, masih ada sisi bumi lain yg menyuguhkan banyak harapan.
Lalu kenapa harus merasa sempit atas semua keluasan ini .?

lbnu Umar memberi nasehat:
“Bekerjalah untuk duniamu seperti engkau hidup selamanya, dan beramal ibadahlah seperti engkau akan mati esok hari.”

MENGHADAPI UJIAN DENGAN IMAN

Apalah arti sebuah kehidupan tanpa adanya sebuah ujian. Ujian merupakan sebuah jalan menuju hidup yg lebih baik. Dgn adanya ujian seseorang akan ditempa menjadi sosok makhluk yg lebih tangguh dn kuat. Ujian menjadi ajang latihan dn tempaan dari segi fisik maupun mental.

Tiada seorangpun yg tiada pernah merasakan ujian. Seorang mahasiswa dalam menjalani masa studi tentu akan dihadapkan dgn berbagai macam ujian sampai ia memperoleh gelar yg ingin dicapainya.
Petani diuji dgn adanya berbagai macam hama, kekurangan pasokan air, hingga harga hasil panen yg jauh dibawah standar.

Demikian pula jika seseorang telah menyatakan beriman, maka untuk membuktikan keimanannya ujian akan terus menyertainya.
Seperti dalam Firman Alloh swt:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
“Kami Telah beriman”
Sedang mereka tidak diuji lagi .?”
(QS. Al-Ankabut: 2).

Jika kita memandang masalah adalah sebuah ujian dari Alloh swt, maka yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Kita akan merasakan manisnya ketika kita mampu mencapai level yg lebih baik.

Semakin tinggi keadaan pohon, maka semakin besar pula angin yang akan menerpanya.

Bagaimana jadinya ketika Rosululloh saw dn para sahabat terdahulu memilih “berhenti” ketika segala makian, siksaan, embargo ekonomi, pengusiran, hinaan hingga pembunuhan dari orang kafir .?
Mungkin  kita tidak akan pernah mengenal Islam.
Tapi dengan Iman yg kokoh, beliau saw dn segenap sahabat tetap bertahan dn yakin bahwa ujian itu adalah awal dari kehidupan yg lebih baik.

TAWAKKAL – SYUKUR – SABAR – IKHTIAR

Pada hakikatnya, guncangan dn ketenangan, kesusahan dn kemudahan, kegagalan dn kesuksesan, semua adalah ni’mat yg patut kita syukuri, karena di sanalah sebenarnya tersimpan banyak hikmah.

Lewat dua keadaan yg berlawanan tersebut, akan ada keseimbangan dalam hidup kita. Keadaan tersebut tentu akan memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mengingat dn mendekatkan diri pada Alloh swt, asalkan kita tidak memutuskan untuk berhenti.

Itulah ma’na sabda Rosululloh saw:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin.
Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya.”
(HR. Muslim).

Kesenangan, kebahagiaan dan keni’matan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dn bergiat dalam beramal dn berbagi, sehingga Alloh swt pun menambahkan ni’mat-Nya lebih banyak lagi.
Sedangkan ujian, cobaan dn kesusahan akan menciptakan kehati-hatian dn memberikan peringatan dini agar tidak larut dalam kemaksiatan.

Saat kita sadar bahwa kita masih memiliki iman di dada, tentu kita akan senantiasa ingat kepada Alloh Yang Maha Kuasa .. Semua yg kita alami terjadi atas izin dn kehendak dari-Nya .. Dialah yg senantiasa memberikan yg terbaik bagi makhluk-Nya .. Karena semua mengandung hikmah dari yg Maha Mulia ..

KEUTAMAAN SHOLAT TERAWEH

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 1:
“Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.”

Do’a puasa hari pertama:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَقِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ وَنَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ وَهَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَاعْفُ عَنِّيْ يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ.

“Ya Alloh, jadikanlah puasa dan ibadahku di bulan ini seperti ibadah puasanya orang-orang sejati, bangunkanlah aku di bulan ini dari kelelapan tidurnya orang-orang yang lupa dan ampunilah segala kesalahanku, Wahai Tuhan semesta alam, dan ampunilah aku, Wahai Pengampun orang-orang yang bersalah.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 2:
“Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.”

Do’a puasa hari kedua:
 
اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَجَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَنَقِمَاتِكَ وَوَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Alloh, dekatkanlah aku di bulan ini kepada ridho-Mu, hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaan-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk membaca ayat-ayat-Mu dengan rohmat-Mu, Wahai Dzat Yang Lebih Pengasih dari para pengasih.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 3:
“Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Alloh mengampuni dosamu yang telah lewat.”

Do’a puasa hari ketiga:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ الذِّهْنَ وَالتَّنْبِيْهَ وَبَاعِدْنِيْ فِيْهِ مِنَ السَّفَاهَةِ وَالتَّمْوِيْهِ وَاجْعَلْ لِيْ نَصِيْبًا مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُ فِيْهِ، بِجُوْدِكَ يَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ.

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kecerdasan dan kesadaran diri, jauhkanlah aku di bulan ini dari ketololan dan kesesatan, dan limpahkanlah kepadaku sebagian dari setiap kebajikan yang Engkau turunkan di bulan ini dengan kedermawanan-Mu, Wahai Dzat Yang Lebih Dermawan dari para dermawan.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 4:
“Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Kitab Taurot, Injil, Zabur, dan al-Furqon (al-Qur’an).”

Do’a Hari Keempat:

اَللَّهُمَّ قَوِّنِيْ فِيْهِ عَلَى إِقَامَةِ أَمْرِكَ وَ أَذِقْنِيْ فِيْهِ حَلاَوَةَ ذِكْرِكَ وَ أَوْزِعْنِيْ فِيْهِ لأدَاءِ شُكْرِكَ بِكَرَمِكَ
وَ احْفَظْنِيْ فِيْهِ بِحِفْظِكَ وَ سِتْرِكَ يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ

“Ya Alloh, kuatkanlah diriku di bulan ini untuk melaksanakan perintah-Mu, anugerahkan kepadaku di bulan ini kemanisan mengingat-Mu, dengan kemurahan-Mu berikanlah kesempatan kepadaku di bulan ini untuk bersyukur kepada-Mu demi kemurahan-Mu, dan dengan penjagaan dan tirai-Mu jagalah diriku di bulan ini, wahai Dzat Yang Lebih Melihat dari orang-orang yang melihat.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 5:
“Pada malam kelima, Alloh Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang sholat di Masjidil-Harom, masjid Madinah dan Masjidil-Aqsho.”

Do’a Hari Kelima:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْقَانِتِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Alloh, jadikanlah aku di bulan ini termasuk dari golongan orang-orang yang memohon pengampunan, jadikanlah aku di bulan ini termasuk dari golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh dan pasrah, dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk dari golongan para kekasih-Mu yang dekat dengan-Mu.
Dengan kasih sayang-mu Wahai Dzat Yang Lebih Pengasih dari para pengasih.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 6:
“Pada malam keenam, Alloh Ta’ala memberikan pahala orang yang berthowaf di Baitul-Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.”

Do’a Hari keenam:

اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ.

“Ya Alloh, janganlah Engkau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu, jangan pula Engkau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu dan jauhkanlah aku dari segala perbuatan yang menyebabkan murka-Mu. Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu Wahai Puncak Harapan para pengharap.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 7:
“Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa as. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.”

Do’a Hari Ketujuh:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ فِيْهِ عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَجَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَآثَامِهِ وَارْزُقْنِيْ فِيْهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ بِتَوْفِيْقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّيْنَ

“Ya Alloh, bantulah aku di bulan ini dalam melaksanakan puasa dan ibadah, jauhkanlah aku di bulan ini dari kesalahan dan dosa-dosa yang tidak pantas dilaksanakan di dalamnya, dan anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kesempatan selalu mengingat-Mu untuk selamanya dalam taufiq-Mu, wahai penunjuk jalan orang-orang yang sesat.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 8:
“Pada malam kedelapan, Alloh Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrohin as.”

Do’a Hari Kedelapan:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ رَحْمَةَ الأَيْتَامِ وَ إِطْعَامَ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءَ السَّلاَمِ وَ صُحْبَةَ الْكِرَامِ بِطَوْلِكَ يَا مَلْجَأَ الآمِلِيْنَ

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini untuk mengasihani anak-anak yatim, memberi makan, menebarkan salam dan bersahabat dengan orang-orang mulia. Dengan keutamaan-Mu, Wahai Tempat Bernaung orang-orang yang berharap.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 9:
“Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadah kepada Alloh Ta’ala sebagaimana ibadahnya Nabi saw.”

Do’a Hari Kesembilan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ نَصِيْبًا مِنْ رَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةِ وَ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِبَرَاهِيْنِكَ السَّاطِعَةِ وَ خُذْ بِنَاصِيَتِيْ إِلَى مَرْضَاتِكَ الْجَامِعَةِ بِمَحَبَّتِكَ يَا أَمَلَ الْمُشْتَاقِيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah kepadaku di bulan ini sebagian dari rohmat-Mu yang luas, tunjukanlah aku di bulan ini kepada tanda-tanda dari-Mu yang terang, dan tuntunlah aku kepada ridho-Mu yang maha luas. Dengan cinta-Mu wahai harapan orang-orang yang rindu.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 10:
“Pada Malam kesepuluh, Alloh Ta’ala memberi karunia kepadanya berupa kebaikan dunia dan akhirat.”

Do’a Hari Kesepuluh:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْفَائِزِيْنَ لَدَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ إِلَيْكَ بِإِحْسَانِكَ يَا غَايَةَ الطَّالِبِيْنَ

“Ya Alloh, jadikanlah aku di bulan ini dari golongan orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu, jadikanlah aku di bulan ini dari golongan orang-orang yang beruntung di sisi-Mu, dan jadikanlah aku di bulan ini dari golongan orang-orang yang telah dekat kepada-Mu. Dengan kebaikan-Mu Wahai tujuan orang-orang yang berharap.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 11:
“Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.”

Do’a Hari Kesebelas:

اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيَّ فِيْهِ الْإِحْسَانَ وَ كَرِّهْ إِلَيَّ فِيْهِ الْفُسُوْقَ وَ الْعِصْيَانَ وَ حَرِّمْ عَلَيَّ فِيْهِ السَّخَطَ وَ النِّيْرَانَ بِعَوْنِكَ يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ

“Ya Alloh, berikanlah kepadaku di bulan ini kecintaan berbuat kebajikan, berikanlah kepadaku di bulan ini kebencian pada kefasikan dan maksiat, dan cegahlah dariku di bulan ini dari kemurkaan dan neraka dengan pertolongan-Mu wahai Penolong para peminta pertolongan.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 12:
“Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah becahaya bagaikan bulan di malam purnama.”

Do’a Hari Kedua belas:

اَللَّهُمَّ زَيِّنِّيْ فِيْهِ بِالسِّتْرِ وَ الْعَفَافِ وَ اسْتُرْنِيْ فِيْهِ بِلِبَاسِ الْقُنُوْعِ وَالْكَفَافِ وَ احْمِلْنِيْ فِيْهِ عَلَى الْعَدْلِ
وَالإِنْصَافِ وَ آمِنِّيْ فِيْهِ مِنْ كُلِّ مَا أَخَافُ بِعِصْمَتِكَ يَا عِصْمَةَ الْخَائِفِيْنَ

“Ya Alloh, hiasilah diriku di bulan ini dengan menutupi (segala kesalahan aibku) dan rasa malu, pakaikanlah kepadaku di bulan ini pakaian qona’ah dan mencegah diri, tuntunlah aku di bulan ini untuk berbuat adil, dan kesadaran, dan jagalah aku di bulan ini dari setiap yang kutakuti. Dengan penjagaan-Mu wahai Penjaga orang-orang yang ketakutan.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 13:
“Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.”

Do’a Hari Ketiga belas:

اَللَّهُمَّ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الدَّنَسِ وَ الْأَقْذَارِ وَ صَبِّرْنِيْ فِيْهِ عَلَى كَائِنَاتِ الْأَقْدَارِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِلتُّقَى وَ صُحْبَةِ الأَبْرَارِ بِعَوْنِكَ يَا قُرَّةَ عَيْنِ الْمَسَاكِيْنِ

“Ya Alloh, sucikanlah aku di bulan ini dari segala jenis kotoran, jadikanlah aku di bulan ini sabar menerima setiap ketetapan-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk meraih taqwa dan bersahabat dengan orang-orang yang bijak dengan pertolongan-Mu, Wahai Kententraman hati orang-orang miskin.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 14:
“Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan sholat terawih, maka Alloh tidak menghisabnya pada hari kiamat.”

Do’a Hari keempat belas:

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ فِيْهِ بِالْعَثَرَاتِ وَ أَقِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْخَطَايَا وَ الْهَفَوَاتِ وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ فِيْهِ غَرَضًا لِلْبَلايَا وَ الآفَاتِ بِعِزَّتِكَ يَا عِزَّ الْمُسْلِمِيْنَ

“Ya Alloh, jangan Engkau siksa aku di bulan ini karena kesalahan-kesalahanku, selamatkanlah aku di bulan ini dari segala kesalahan, dan jangan Engkau jadikan aku di bulan ini tempat persinggahan malapetaka dan bala’ dengan kemuliaan-Mu Wahai Kemuliaan kaum muslimin.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 15:
“Pada malam kelima belas, ia di do’akan oleh para malaikat dan para penjaga/pemikul ‘Arsy dan Kursi.”

Do’a Hari Kelima belas:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ طَاعَةَ الْخَاشِعِيْنَ وَ اشْرَحْ فِيْهِ صَدْرِيْ بِإِنَابَةِ الْمُخْبِتِيْنَ بِأَمَانِكَ يَا أَمَانَ الْخَائِفِيْنَ

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini ketaatan orang-orang yang khusyu’, dan lapangkanlah dadaku di bulan ini karena taubat orang-orang yang mencintai-Mu. Dengan perlindungan-Mu Wahai Pengaman orang-orang yang takut.”
 

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 16:
“Pada malam ke enam belas, Alloh menetapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam sorga.”

Do’a Hari Ke enam belas:

اَللَّهُمَّ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوَافَقَةِ الْأَبْرَارِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مُرَافَقَةَ الْأَشْرَارِ وَ آوِنِيْ فِيْهِ بِرَحْمَتِكَ إِلَى (فِيْ) دَارِ الْقَرَارِ بِإِلَهِيَّتِكَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Alloh, berikanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk berkumpul bersama orang-orang baik, jauhkanlah aku di bulan ini dari bersahabat dengan orang-orang jahat, dan dengan rohmat-Mu tempatkanlah aku di bulan ini di dalam rumah keabadian dengan ketuhanan-Mu Wahai Tuhan semesta alam.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 17:
“Pada malam ke tujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para Nabi.”

Do’a Hari Ke tujuh belas:

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِصَالِحِ الأَعْمَالِ وَ اقْضِ لِيْ فِيْهِ الْحَوَائِجَ وَ الآمَالَ يَا مَنْ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى التَّفْسِيْرِ وَ السُّؤَالِ يَا عَالِمًا بِمَا فِيْ صُدُوْرِ الْعَالَمِيْنَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ

“Ya Alloh, tunjukkanlah aku di bulan ini kepada amal yang sholeh, dan penuhilah di bulan ini segala keperluanku dan wujudkanlah cita-citaku, Wahai Dzat yang tidak membutuhkan penjelasan dan permintaan.
Wahai Dzat yang mengetahui segala rahasia yang ada di hati manusia, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 18:
“Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, “Hai hamba Alloh, sesungguhnya Alloh ridho kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”

Do’a Hari Kedelapan belas:

اَللَّهُمَّ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ وَ نَوِّرْ فِيْهِ قَلْبِيْ بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ وَ خُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِيْ إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ بِنُوْرِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوْبِ الْعَارِفِيْنَ

“Ya Alloh, singkaplah buatku di bulan ini segala berkah yang tersimpan di dua pertiga malamnya, terangkan hatiku di bulan ini dengan cahayanya, dan bimbinglah seluruh anggota tubuhku di bulan ini untuk mengikuti tanda-tanda keagungannya dengan cahaya-Mu Wahai Penerang hati para ‘arif.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 19:
“Pada malam kesembilan belas, Alloh mengangkat derajat-derajatnya dalam sorga Firdaus.”

Do’a Hari Kesembilan belas:

اَللَّهُمَّ وَفِّرْ فِيْهِ حَظِّيْ مِنْ بَرَكَاتِهِ وَ سَهِّلْ سَبِيْلِيْ إِلَى خَيْرَاتِهِ وَ لاَ تَحْرِمْنِيْ قَبُوْلَ حَسَنَاتِهِ يَا هَادِيًا إِلَى الْحَقِّ الْمُبِيْنِ

“Ya Alloh, sempurnakanlah di bulan ini keberkahan yang menjadi bagianku, permudahlah jalanku menempuh kebaikannya, dan janganlah Kau halangi diriku untuk menerima kebaikannya, Wahai Penunjuk Jalan kepada kebenaran yang nyata.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 20:
“Pada malam kedua puluh, Alloh memberi pahala padanya seperti para Syuhada’ (orang-orang yang mati dalam memperjuangkan agama) dan sholihin (orang-orang yang beramal sholeh).”

Do’a Hari Kedua puluh:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّيْ فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Ya Alloh, bukalah bagiku di bulan ini pintu-pintu sorga, tutuplah untukku di bulan ini pintu-pintu neraka, dan berikanlah taufik (berupa terwujudnya amal-amal baik) kepadaku di bulan ini untuk membaca (secara kontinyu mengikuti petunjuk) al-Qur’an, Wahai Penurun ketenangan di hati mukminin.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 21:
“Pada malam kedua puluh satu, Alloh membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.”

Do’a Hari Kedua puluh satu:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ دَلِيْلاً وَ لاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ عَلَيَّ سَبِيْلاً وَ اجْعَلِ الْجَنَّةَ لِيْ مَنْزِلاً وَ مَقِيْلاً يَا قَاضِيَ حَوَائِجِ الطَّالِبِيْنَ

“Ya Alloh, berikanlah kepadaku di bulan ini sebuah petunjuk untuk mencapai keridhoan-Mu, janganlah Engkau beri kesempatan kepada setan di bulan ini untuk menggodaku, dan jadikanlah sorga sebagai naungan tempat tinggalku, Wahai Pemberi segala kebutuhan orang-orang yang meminta.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 22:
“Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.

Do’a Hari Kedua puluh dua:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ فِيْهِ أَبْوَابَ فَضْلِكَ وَ أَنْزِلْ عَلَيَّ فِيْهِ بَرَكَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِمُوْجِبَاتِ مَرْضَاتِكَ وَ أَسْكِنِّيْ فِيْهِ بُحْبُوْحَاتِ جَنَّاتِكَ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ

“Ya Alloh, bukalah bagiku di bulan ini pintu-pintu anugerah-Mu, turunkanlah kepadaku di bulan ini berkah-berkah-Mu, berikanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk mencapai keridhoan-Mu, dan tempatkanlah aku di bulan ini di tengah-tengah sorga-Mu, Wahai Yang Mengabulkan permintaan orang-orang yang ditimpa kesulitan.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 23:
“Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam sorga.”

Do’a Hari Kedua puluh tiga:

اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ وَ طَهِّرْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُيُوْبِ وَ امْتَحِنْ قَلْبِيْ فِيْهِ بِتَقْوَى الْقُلُوْبِ يَا مُقِيْلَ عَثَرَاتِ الْمُذْنِبِيْنَ

“Ya Alloh, sucikanlah aku di bulan ini dari dosa-dosa, bersihkanlah aku di bulan ini dari segala aib, dan ujilah aku di bulan ini dengan ketakwaan, Wahai Yang Maha Pemaaf segala kesalahan orang-orang yang berdosa.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 24:
“Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat do’a yang dikabulkan.”

Do’a Hari Kedua puluh empat:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِيْهِ مَا يُرْضِيْكَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِمَّا يُؤْذِيْكَ وَ أَسْأَلُكَ التَّوْفِيْقَ فِيْهِ لأَنْ أُطِيْعَكَ وَ لاَ أَعْصِيَكَ يَا جَوَّادَ السَّائِلِيْنَ

“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu di bulan ini segala yang mendatangkan keridhoan-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari segala yang dapat menimbulkan murka-Mu, dan aku memohon kepada-Mu taufik untuk mena’ati-Mu dan tidak berma’siat kepada-Mu, Wahai Yang Maha Dermawan terhadap para pemohon.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 25:
“Pada malam kedua puluh lima , Alloh Ta’ala menghapuskan darinya adzab kubur.”

Do’a Hari Kedua puluh lima:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مُحِبًّا لِأَوْلِيَائِكَ وَ مُعَادِيًا لأَعْدَائِكَ مُسْتَنّا بِسُنَّةِ خَاتَمِ أَنْبِيَائِكَ يَا عَاصِمَ قُلُوْبِ النَّبِيِّيْنَ

“Ya Alloh, jadikanlah aku di bulan ini pencinta para kekasih-Mu, pembenci para musuh-Mu, mengikuti sunnah penutup para Nabi-Mu, Wahai Penjaga hati para Nabi.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 26:
“Pada malam keduapuluh enam, Alloh mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.”

Do’a Hari Kedua puluh enam:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ سَعْيِيْ فِيْهِ مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبِيْ فِيْهِ مَغْفُوْرًا وَ عَمَلِيْ فِيْهِ مَقْبُوْلاً وَ عَيْبِيْ فِيْهِ مَسْتُوْرًا يَا أَسْمَعَ السَّامِعِيْنَ

“Ya Alloh, jadikanlah usahaku di bulan ini disyukuri, dosaku diampuni, amal kebajikanku diterima dan seluruh aibku ditutupi, Wahai Dzat Yang Lebih Mendengar dari setiap yang mendengar.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 27:
“Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shiroth pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.”

Do’a Hari Kedua puluh tujuh

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ فَضْلَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَ صَيِّرْ أُمُوْرِيْ فِيْهِ مِنَ الْعُسْرِ إِلَى الْيُسْرِ وَ اقْبَلْ مَعَاذِيْرِيْ وَ حُطَّ عَنِّيَ الذَّنْبَ وَ الْوِزْرَ يَا رَؤُوْفًا بِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini keutamaan Lailatul-Qodar, jadikanlah urusanku yang sulit menjadi mudah, terimalah ketidakmampuanku, dan tutupilah kesalahanku serta hapuskanlah dosaku, Wahai Yang Maha Kasih kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 28:
“Pada malam keduapuluh delapan, Alloh mengangkat baginya seribu derajat dalam sorga.”

Do’a Hari Kedua puluh delapan:

اَللَّهُمَّ وَفِّرْ حَظِّيْ فِيْهِ مِنَ النَّوَافِلِ وَ أَكْرِمْنِيْ فِيْهِ بِإِحْضَارِ الْمَسَائِلِ وَ قَرِّبْ فِيْهِ وَسِيْلَتِيْ إِلَيْكَ مِنْ بَيْنِ الْوَسَائِلِ يَا مَنْ لاَ يَشْغَلُهُ إِلْحَاحُ الْمُلِحِّيْنَ

“Ya Alloh, sempurnakanlah bagiku di bulan ini ibadah-ibadah sunnah, muliakanlah aku di bulan ini dengan memahami setiap masalah (yang kuhadapi), dan dekatkanlah di bulan ini perantaraku menuju ke haribaan-Mu, Wahai Dzat yang tidak disibukkan oleh rintihan para perintih.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 29:
“Pada malam kedua puluh sembilan, Alloh memberinya pahala seribu haji yang diterima.”

Do’a Hari Kedua puluh sembilan:

اَللَّهُمَّ غَشِّنِيْ فِيْهِ بِالرَّحْمَةِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ التَّوْفِيْقَ وَ الْعِصْمَةَ وَ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنْ غَيَاهِبِ التُّهَمَةِ يَا رَحِيْمًا بِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah rohmat-Mu atasku, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini taufik dan penjagaan, dan bersihkan hatiku di bulan ini dari mencela, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih atas hamba-hamba-Nya yang mukmin.”

KEUTAMAAN TERAWEH
Riwayat dari Sayyidina ‘Ali ra.

Keutamaan teraweh malam ke 30:
“Dan pada malam ketiga puluh, Alloh berfirman :
“Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan sorga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.”

Do’a Hari Ketiga puluh:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَ الْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَ يَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ‏

“Ya Alloh, terimalah puasaku di bulan ini sesuai dengan ridho-Mu dan ridho Rosul-Mu (sehingga) cabang-cabangnya kokoh karena pondasinya, demi junjungan kami Muhammad dan keluarganya.
Dan segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan pemelihara semesta alam.”
 

Semoga Alloh mencurahkan rohmat-Nya atas penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga beliau, para shohabat beliau dan semua ummat beliau, berkat rohmat Alloh Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Alloh Tuhan semesta alam.

Akhirnya, semoga amal ibadah kita diterima dan kita mendapatkan pangkat dan derajat dari Alloh swt sebagai seorang yang bertaqwa. Amiiiin ….
Sumber Hadist dari kitab Durrotun-Nasihin. Bab keistimewaan bulan Romadlon.

DO’A-DO’A TERAWEH YANG LAIN MULAI hari. 1 – 30 ROMADHON

DO’A ROMADHON hari ke-01

اللَّهُمَّ يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ اجْعَلْنَا وَجَمِيْعَ المُسْلِمِيْنَ مَمَّنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا فَغُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Alloh, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, jadikanlah kami dan segenap kaum muslimin sebagai orang-orang yang menunaikan ibadah puasa Romadhon dan sholat malam dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala lantas diampuni segala dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, dengan rohmat-Mu Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

DO’A ROMADHON hari ke-02

اللَّهُمَّ يَا دَائِمَ الخَيْرِ وَالإِحْسَانِ، يَا مَنْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ، يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُهُ الطَّاعَةُ وَلاَ يَضُرُّهُ العِصْيَانُ، اجْعَلْنَا فَائِزِيْنَ مِنْكَ بِالمَغْفِرَةَ وَالرِّضْوَانَ، حَائِزِيْنَ لِأَسْبَابِ السَّلاَمَةِ وَالفَوْزِ وَالْعِتْقِ مِنَ النِّيْرَانِ.

“Ya Alloh, Yang Maha Pemberi segala kebaikan, Yang setiap hari mencipta, mematikan, memberi rizki dan mengatur.
Dzat yang tak terpengaruh sedikitpun dengan ketaatan orang-orang yang taat dan kemaksiatan dari para tukang maksiat.
Jadikanlah kami orang-orang yang berhasil menggapai maghfiroh dan ridho-Mu sekaligus memperoleh sebab-sebab keselamatan hingga terbebas dari neraka.”

DO’A ROMADHON hari ke-03

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ المَقْبُوْلِيْنَ فِيْ هَذَا الشَّهْرِ الفَضِيْلِ، وَخُصَّنَا فِيْهِ بِالْأَجْرِ الوَافِرِ وَالعَطَاءِ الجَزِيْلِ

“Ya Alloh, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang diterima segala amalnya pada bulan suci ini, dan berikanlah kepada kami pahala dan anugerah yang melimpah.”

DO’A ROMADHON hari ke-04

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ صَامَ الشَّهْرَ، وَاسْتَكْمَلَ الْأَجْرَ، وَأَدْرَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ، وَفَازَ بِجَائِزَةِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Ya Alloh, jadikan kami golongan orang-orang yang mampu melaksanakan puasa di bulan (Romadhon) ini, dan dapat menyempurnakan amalan berpahala, dan mendapati Lailatul-Qodar serta memperoleh penghargaan dari-Mu Tuhan yang penuh berkah dan maha tinggi.”

DO’A ROMADHON hari ke-06

اللَّهًُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فَوَاتِحَ الخَيْرِ وَخَوَاتِمَهُ، وَجَوَامِعَهُ وَظَاهِرَهُ وَبَاطِنَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ، يَا مَالِكَ المُلْكِ يَا قَادِرًا عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ، يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ المُضَّطَرِّ إِذَا دَعَاكَ

“Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu seluruh pembuka pintu kebajikan dan penutupnya, yang singkat tapi padat, yang tampak dan yang tersembunyi, yang awal dan yang akhir serta yang terlihat dan tersembunyi, wahai Pemilik kerajaan, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, wahai Pengabul do’a orang yang dalam kesulitan.”

DO’A ROMADHON hari ke-07

اللَّهُمَّ يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

“Ya Alloh, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan, kami memohon kepada-Mu petunjuk (jalan yang lebar luas dan lurus), ketakwaan (hingga menghadap kepada-Mu), kesucian diri (terjaga dari perbuatan yang merusak kehormatan) dan kekayaan (yang tidak menjadi sebab penderitaan).”

DO’A ROMADHON hari ke-08

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وِآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ

“Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan di akhirat, baik yang telah kami ketahui maupun yang belum kami ketahui, kami juga memohon perlindungan-Mu dari semua keburukan di dunia dan di akirat, baik yang sudah kami ketahui ataupun yang belum kami ketahu.”

DO’A ROMADHON hari ke-09

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مَحَمَّدٌ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مَحَمَّدٌ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ

“Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan yang telah dimohon Rosul-Mu Muhammad saw dan hamba-hamba-Mu yang sholih. Dan kami memohon perlindungan-Mu dari seluruh keburukan yang dimohon Rosul-Mu Muhammad saw dan hamba-hamba-Mu yang sholih.”

DO’A ROMADHON hari ke-10

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَنَسْأَلُكَ بِوَجْهِكَ الجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِوَجْهِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Alloh, kami mohon kepada-Mu sorga dan semua amal baik, dari perkataan ataupun perbuatan yang dapat mendekatkan diri kami kepadanya, serta kami mohon perlindungan-Mu dari neraka dan murkamu, dan kami mohon dengan ridho-Mu sorga dan mohon dengan ridho-Mu perlindungan dari neraka.”

DO’A ROMADHON hari ke-11

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَل الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَل المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Alloh, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat hidup kami, perbaikilah akherat kami yang merupakan tempat kembali kami, dan jadikan kehidupan kami sebagai penambah kebaikan kami serta jadikanlah kematian kami sebagai istirahat kami dari segala keburukan.”

DO’A ROMADHON hari ke-12

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا مَا أَبْقَيْتَنَا وَآتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

“Ya Alloh, limpahkan kemi’matan untuk kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan lahir batin kami selama Engkau anugerahkan hidup kepada kami, dan berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.”

DO’A ROMADHON hari ke-13

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، أَنْتَ وَلِيِّنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنَا مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنَا بِالصَّا لِحِينَ

“Ya Alloh, anugerahkan kepada kami rasa takut yang bisa membentengi diri kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu, dan ketaatan yang dapat mengantarkan kami ke sorga-Mu, dan keyakinan yang bisa memperingan musibah-musibah duniawi. Engkaulah Pelindung kami di dunia dan di akhirat, wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan gabungkanlah kami dengan golongan orang-orang yang sholeh.”

DO’A ROMADHON hari ke-14

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ، وَمِنْ دَرْكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ سُوْءِ القَضَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ، وَلاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ .

“Ya Alloh, kami memohon perlindungan-Mu dari cobaan yang berat, dari kesusahan yang hebat, dari keputusan yang buruk dan dari kejahatan musuh. Dan Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah (sasaran gangguan apalagi siksa) bagi kaum yang dholim (dan kami mohon lebih dari itu; selamatkanlah kami Ya Alloh.)”

DO’A ROMADHON hari ke-15

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا. سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.

Ya Alloh, segala puji hanya bagi-Mu atas ni’mat Islam, ni’mat Iman, ni’mat al-Qur’an, ni’mat bulan Romadhon, ni’mat keluarga, harta dan kesehatan. Segala puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.
Maha Suci Engkau, kami tidak akan sanggup menghitung dan membatasi pujian bagi-Mu. Keagungan-Mu hanya dapat diungkapkan dengan pujian-Mu kepada diri-Mu sendiri, segala puji hanya bagi-Mu (dari kami) sampai Engkau ridho (kepada kami) dan segala puji bagi-Mu setelah keridhoan-Mu.

DO’A ROMADHON hari ke-16

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَّجَّالِ .

“Ya Alloh, kami memohon perlindungan-Mu dari kehilangan ni’matmu, dari perubahan kesehatan dari-Mu, dari siksa-Mu yang datang mendadak dan dari segala murka-Mu.
Dan kami memohon perlindungan-Mu dari nereka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian serta dari fitnah Dajjal.”

DO’A ROMADHON hari ke-17

اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً، رَحْمَتَكَ نَرْجُو فَلاَ تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

 “Ya Alloh, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan. Hanya rohmat-Mu yang kami harap, maka janganlah Engkau sandarkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap dan perbaikilah seluruh urusan kami, tiada Tuhan yang haq melainkan hanya Engkau.”

DO’A ROMADHON hari ke-18

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

“Ya Alloh, jadikanlah kami pada bulan yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Wahai Tuhan yang memelihara alam semesta.”

DO’A ROMADHON hari ke-19

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خِيَانَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ، وَأَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِيْ الأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Ya Alloh, bersihkan hati kami dari unsur kemunafikan, segala amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, mata kami dari khianat mata. Sesungguhnya hanya Engkau yang mengetahui khianat mata dan segala sesuatu yang tersimpan dalam dada, dan perbaikilah akhir segala urusan kami dan jauhkanlah dari kami kehinaan dunia dan siksa akherat.”

DO’A ROMADHON hari ke-20

اللَّهُمَّ يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ اذَا دَعَاكَ، نَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيْعِ مَوْتَى المُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ شَهِدُوْا لَكَ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، وَلِنَبِيِّكَ بِالرِّسَالَةِ, وَمَاتُوْا عَلَى ذَلِكَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ، وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُمْ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ وَنَقِّهِمْ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَجَازِهِمْ بِالحَسَنَاتِ إِحْسَانًا، وَبِالسَّيِّئَاتِ عَفْوًا وَغُفْرَانًا

“Ya Alloh, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan, Yang Maha mengabulkan permohonan hamba-Nya yang memohon, kami memohon kepada-Mu; ampunilah segala kesalahan kaum mukminin yang telah wafat, mereka telah bersaksi dengan sungguh-sungguh akan ke Esaan-Mu dan risalah Nabi-Mu serta mereka meninggal dalam keadaan demikian. Ya Alloh, ampuni dan rohmatilah mereka, maafkan semua kealpaannya, muliakan tempat tinggalnya, luaskan kediamannya, bersihkan mereka dengan air, es, dan salju. Bersihkan mereka dari berbagai dosa dan kesalahan sebagaimana pakaian putih yang dibersihkan dari kotoran. Dan balaslah amal kebaikan mereka dengan kebaikan pula, dan amal buruk mereka dengan ampunan.”

DO’A ROMADHON hari ke-21

اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ، يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Ya Alloh, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada tuhan selain Engkau, Wahai Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan.”

DO’A ROMADHON hari ke-22

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحِقٌ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.

“Ya Alloh, kepada-Mu kami beribadah, untuk-Mu kami melakukan sholat dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera (melakukan ibadah), kami mengharapkan rohmat-Mu, kami takut kepada siksaan-Mu. Sesungguh-nya siksaan-Mu akan menimpa pada orang-orang kafir.
Ya Alloh, kami minta pertolongan dan memohon ampun kepada-Mu, kami memuji kebaikan-Mu, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada–Mu, kami tunduk kepada-Mu dan meninggalkan orang-orang yang kufur kepada-Mu.”

DO’A ROMADHON hari ke-23

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَاعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَاعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَاعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَنَاعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، وَأَوْسِعْ لَنَا مِنَ الرِّزْقِ الحَلاَلِ، يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Ya Alloh, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kegundahan hati dan kesedihan, dan kami berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan kami berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil, dan kami berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang, lapangkanlah rizki kami yang halal, Wahai Engkau  Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan.”

DO’A ROMADHON hari ke-24

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، كُلَّ رَبَّ شَيْءٍ وَمَلِيْكُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شّرِّ نَا وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَاصْرِفْ عَنَّا فَسَقَةَ الجِنِّ وَالإِنْسِ .

“Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi dan tersirat, Pencipta langit dan bumi. Tuhan segala sesuatu dan penguasanya, aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diri kami dan kejahatan syetan dan sekutunya, jauhkanlah pula dari kami syetan-syetan dari jenis jin dan manusia yang fasik.”

DO’A ROMADHON hari ke-25

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَارِنَا خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لَقَائِكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Alloh, cukupkan bagi kami dengan perkara yang halal dari yang haram, dengan ketaatan kepada-Mu, dari kemaksiatan kepada-Mu, dan dengan karunia-Mu dari selain Engkau, dan jadikanlah amal kami yang terbaik di akhirnya, dan umur terbaik kami di penghujungnya serta jadikanlah hari terbaik kami adalah hari menemui-Mu. Berkat rohmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para Penyayang.”

يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ، يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Wahai Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, serta Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan.”

DO’A ROMADHON hari ke-26

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ ا لعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah (kesalahan-kesalahan) kami.”

DO’A ROMADHON hari ke-27

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَحَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي وَحَرِّمْ وَجْهِي عَلَى النَّارِ، يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ اِغْفِرْلِي ذُنُوْبِى وَذُنُوْبَ جَمِيْعِ
الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ
اِلاَّ اَنْتَ

“Ya Alloh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku dan Haramkan wajahku tersentuh neraka, Wahai Yang Maha Mulia, Wahai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa semua mukminin dan mukminat. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”

DO’A ROMADHON hari ke-28

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، يَا حَيٌّ يَا قَيُّوْمٌ يَا مَالِكَ الْمُلْكِ يَا ذَالجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Ya Alloh, tolonglah kami senantiasa dalam keadaan berdzikir dan bersyukur serta memperbaiki ibadah kami kepada-Mu, Wahai Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Yang Maha Raja Penguasa kerajaan dan Pemilik segala Keagungan dan Kemuliaan.”

DO’A ROMADHON hari ke-29

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ، أَبْلِغْ رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلاَم، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاّمِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَّيْتَ، يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ …

Ya Alloh ..
Engkau Maha Salam.
Dari-Mu datangnya keselamatan.
Kepada-Mu keselamatan kembali.
Maka berilah kami keselamatan hidup Wahai Tuhan kami ..
Sampaikanlah kepada ruh Sayyidina Muhammad, salam penghormatan dari kami.
Masukanlah kami ke dalam sorga Darus Salam ..
Maha Barokah Engkau .. Maha Tinggi Engkau .. Wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan ..

DO’A ROMADHON hari ke-30

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Ya Alloh, Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan (menjadikan) yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh), dan Engkau keluarkan (menjadikan) yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh). Dan Engkau beri rizki, siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.”

Awan Tag