Archive for the ‘IBADAH HAJJI’ Category

ZIAROH MADINAH

ADAB MENZIARAHI MASJID NABAWI

1. Apabila ia masuk hendaknya ia masuk dengan kaki kanan kemudian membaca:

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ ،
اَللّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ .

“Ya Alloh .. semoga sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Muhammad.
Ya Alloh .. bukalah pintu-pintu rohmat-Mu untukku,”

Atau membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

“Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Agung, dengan Wajah-Nya Yang Maha Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk.”

Jika keluar dari masjid menbaca:

اَللََّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Alloh .. aku memohon kepada-Mu di antara karunia-Mu.”

2. Niat I’tikaf :
نَوَيْتُ اَنْ اِعْتِكَفَ فِى هَذَا المَسْجِدِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

“Aku niat I’tikaf di dalam masjid nabawi sunnah lillahi ta’ala.”

3. Sholat Tahiyatul Masjid dua roka’at sebelum duduk:

أُصَلِّيْ سُنَّةً التَّحِيَّاتَ المَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku niat sholat sunnah tahiyatal masjid dua roka’at karena Alloh Ta’ala.”

4. Membaca sholawat Nabi:
 
اللّهُمَّ آتِهِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا َمحْمُوْ دًا اِلَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

“Ya Alloh ..
Berilah al-Wasilah -derajat di sorga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam- dan Fadhilah kepada Nabi Muhammad. Sehingga kebangkitannya menempati maqom terpuji yang telah Engkau janjikan.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

KEUTAMA’AN SHOLAT DI MASJID NABAWI

Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

“Barang siapa mengerjakan sholat secara ikhlas karena Alloh selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan dengan mendapatkan takbirotul-ihrom maka dicatat untuknya dua kebebasan, bebas dari neraka dan bebas dari kemunafikan.”
(HR. Tirmidzi).

Rosululloh saw juga bersabda:

مَنْ صَلَّى فِى مَسْجِدِى أَرْبَعِينَ صَلاَةً لاَ يَفُوتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Orang yang sholat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali sholat tidak terlewat satu kali pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari adzab dan kemunafikan.”
(HR. Ahmad dan At-Thobroni).

Dari Abu Huroiroh ra senada dengan yang diriwayatkan dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Satu kali sholat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali sholat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil-Harom.
Dan satu kali sholat di Masjidil-Harom lebih utama dari seratus ribu kali sholat di masjid lainnya.”
(HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid:
Masjidil-Harom (Makkah), Masjid Rosul (Madinah), dan Masjidil-Aqso (Palestina).”
(HR. Bukhori, Muslim dan Abu Dawud).

SALAM KEPADA ROSULULLOH SAW

“Salam sejahtera untukmu wahai utusan Alloh.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia kepercayaan Alloh.
Salam sejahtera untukmu wahai kekasih Alloh.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia paling suci di sisi Alloh.
Salam sejahtera untukmu wahai Ahmad.
Salam sejahtera untukmu wahai Muhammad.
Salam sejahtera untukmu wahai pemberi syafa’at.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang layak menerima balasan yang baik.
Salam sejahtera untukmu wahai pemberi kabar gembira.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang memberi peringatan.
Salam sejahtera untukmu wahai Thoha.
Salam sejahtera untukmu wahai Yasin.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang paling mulia.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang paling suci.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang paling agung.
Salam sejahtera untukmu wahai utusan bagi seluruh alam.
Salam sejahtera untukmu wahai pemimpin para Rosul.
Salam sejahtera untukmu wahai penutup para Nabi.
Salam sejahtera untukmu wahai pembimbing ke arah kebaikan.
Salam sejahtera untukmu wahai pembimbing jalan lurus.
Salam sejahtera untukmu wahai pembimbing jalan untuk berbakti.
Salam sejahtera untukmu wahai Nabi pembawa rohmat.
Salam sejahtera untukmu wahai pemimpin seluruh ummat.
Salam sejahtera untukmu wahai penuntun ummat yang penuh kilauan cahaya.
Salam sejahtera untukmu dan seluruh keluargamu, yang telah di bersihkan dari kotoran oleh Alloh Yang Maha Suci dan di bersihkan dengan sebersih-bersihnya.
Salam sejahtera untukmu, istri-istrimu yang di sucikan sebagai ibu orang-orang mukmin dan sahabat-sahabatmu yang mulia.

Atas jasamu kepada kami, semoga Alloh swt memberikan balasan yang terbaik, sebaik-baik balasan bagi seorang Nabi yang telah berjasa terhadap kaumnya dan seorang Rosul yang berjasa kepada ummatnya.
Semoga Alloh swt senantiasa melimpahkan rohmat kepadamu ketika orang-orang mengingatmu dan ketika orang-orang lupa kepadamu.

Semoga Alloh swt melimpahkan rohmat kepadamu di awal dan akhir sebagai balasan yang paling utama, paling sempurna, paling tinggi, paling agung, paling baik dan paling suci melebihi yang Alloh berikan kepada seseorang di antara mahluk-Nya, sebagaimana karena engkau telah menyelamatkan kami dari kesesatan, menerangi penglihatan kami dari kegelapan, dan membibimbing kami dari kebodohan.

Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh semata yang tidak memiliki sekutu samasekali. engkau adalah hamba dan utusan-Nya, engkau adalah manusia terbaik yang menjadi pilihan kepercayaan-Nya di antara seluruh mahluk.
Dan aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, melaksanakan amanat, menasehati ummat, berjuang melawan musuh, menunjukkan jalan terbaik kepada ummat dan menyembah Tuhanmu sampai akhir hayat.

Semoga Alloh swt senantiasa melimpahkan rohmat kepadamu berikut segenap keluargamu di bersihkan, di sucikan dan di muliakan.”

SALAM KEPADA ABU BAKAR SHIDDIQ RA

Selamat sejahtera untukmu wahai Abu Bakar As-Shiddiq.
Salam sejahtera untukmu wahai kholifah Rosululloh.
Salam sejahtera untukmu wahai teman Rosululloh dalam gua.
Salam sejahtera untukmu wahai kepercayaan rahasia Alloh.
Semoga Alloh memberikan ganjaran kepadamu dari kami pengikut ummat Nabi Muhammad dengan semulia-mulia ganjaran.
Engkau telah meneruskan kepemimpinannya dengan sebaik-baik pimpinan dan engkau telah mengikuti jalannya dan tuntunannya dengan sebaik-baik jalan.
Engkau telah membela islam, engkau telah menghubungkan silaturahmi dan engkau senantiasa menegakkan kebenaran sampai engkau mendapat keyakinan yang nyata, maka salam sejahtera untukmu dan rohmat serta barokah Alloh atasmu.

SALAM KEPADA UMAR BIN KHOTTHOB RA

Salam sejahtera untukmu wahai penegak kebenaran islam.
salam sejahtera untukmu wahai manusia yang tegas memisahkan haq dari yang batil.
Salam sejahtera untukmu wahai manusia yang berbicara dengan benar.
Engkau telah membela anak yatim.
Engkau telah menghubungkan silaturrohmi dan denganmu Islam telah menjadi teguh dan kuat.
Salam sejahtera untukmu dan rohmat serta barokah Alloh atasmu.

PEKUBURAN BAQI’

Lokasinya 100 meter arah timur / tenggara
dari Masjid Nabawi. Pekuburan Baqi’ telah ada sejak jaman Nabi saw.
Beliau saw sering menziarahinya dan beristighfar untuk penghuninya serta akan memberi mereka syafa’at di hari kiamat.

Pekuburan Baqi’ mengalami tiga kali perluasan.
Pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Bani Umaiyah), serta masa raja Faishol bin Abdul Aziz dan raja Fahd bin Abdul Aziz (kerajaan Arab Saudi).
Saat ini luasnya mencapai 174.962 meter persegi, dengan dikelilingi tembok setinggi 4 meter sepanjang 1.724 meter (hampir 2 km).
Keluarga besar Nabi saw banyak di makamkan di pekuburan ini dan lebih dari 10.000 sahabat. Diantaranya makam Sayyidati ‘Aisyah dan seluruh isteri Nabi saw (selain Sayyidati Khodijah dan Sayyidati Maimunah). putra-putri Nabi saw (Fatimah az-Zahro’, Ruqoiyah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ibrohim); paman dan bibi Nabi (Abbas bin Abdul Mutholib, Sofiyah, ‘Atikah), keluarga sayyidina ‘Ali (ibunya ‘Ali : Fatimah binti Asad, Hasan bin Ali, ‘Aqil bin Abu Tholib, Abdulloh bin Ja’far bin Abi Tholib); sahabat terkenal Nabi (Usman bin Affan, Usman bin Mazh’un, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Sa’id al-Khudri, Abdurrohman bin ‘Auf, Abdulloh bin Mas’ud, Sa’ad bin Mu’adz, dll). Di tempat ini juga terdapat makam Imam Malik.

MAKAM BAQI’

Makam Baqi’ adalah Makam luas yang dikeleilingi tembok marmer disebelah timur Masjid Nabawi yang diperuntukan bagi penduduk Madinah dan juga termasuk Jama’ah haji yang meninggal di Madinah. Nama Baqi‘ diambil dari nama akar tetumbuhan yang tumbuh di makam itu. Sedangkan Al-Ghorqod adalah sejenis pohon berduri yang juga banyak terdapat di makam itu. Nabi Muhammad saw sering mengunjungi makam itu, beliau juga pernah menyatakan :
“Barang siapa meninggal di Madinah dan dikebumikan di makam itu, beliau akan memberi syafa’at kepadanya.”

Ketika Sayyidatina Fathimah ra meninggal dunia dan dikuburkan di baqi’, dengan penuh kesedihan, Sayyidina ‘Ali ra duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian ia mengucapkan salam :
“Salam sejahtera bagimu duhai Rosululloh ..
dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.
Duhai Rosululloh .. Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku .. Salam sejahtera untuk kalian berdua ..!”

SALAM KEPADA AHLI BAQI’

Salam sejahtera atas kalian semua wahai penghuni tempat orang-orang yang beriman.
Sungguhnya kami akan mengikuti kalian.
Kalian adalah orang yang terdahulu dari kami dan kami adalah pengikut kalian.
Salam sejahtera untukmu wahai Fathimah putri tersayang Nabi Muhammad saw, “Sayyidatu Nisa’il Alamin” penghulu wanita alam semesta.
Salam sejahtera untukmu sekalian “Ummahtil Mukminin” ibu orang-orang yang beriman.
Mudah-mudahan Alloh mengampunkan kami juga kamu dan merohmati mereka yang terdahulu dan mereka yang terkemudian.

Ya Alloh Ya Tuhanku ..
Janganlah Engkau haramkan kami untuk mendapatkan pahala amalan mereka dan janganlah Engkau timpakan fitnah kepada kami selepas mereka.
Ampunilah dosa kami dan dosa mereka dan ampunilah dosa ahli Baqi’ semuanya.

SALAM KEPADA ‘UTSMAN BIN ‘AFFAN RA

Salam sejahtera atas engkau wahai yang mempunyai dua cahaya , ‘Usman bin ‘Affan.
Salam sejahtera atas engkau wahai Kholifah Rosululloh yang ketiga.
salam sejahtera atas engkau wahai orang yang telah memperbekalkan senjata , harta benda kepada bala tentera Islam di dalam masa kesusahan dan kepayahan.
Salam sejahtera atas engkau wahai orang yang telah mengumpulkan al-Quranul-Karim.
mudah-mudahan Alloh memberikan balasan ganjaran sebaik-baik pembalasan di atas segala amalanmu , demi untuk kebaikan dan kebajikan ummat Nabi Muhammad saw.

Ya Alloh Ya Tuhanku ..
Limpahkanlah ridlo-Mu kepadanya, tinggikanlah kedudukan derajatnya dan kurniakan balasan pahala kepadanya .. Amin ..

ROUDLOH AL-JANNAH

Roudhoh adalah ruangan yang terletak di
antara kamar (kubur) Nabi Muhammad saw dan mimbar, ditandai dengan pilar-pilar khas, berlapiskan marmer putih susu, dan lantainya ditutup permadani berwarna hijau. Luasnya sekitar lebar 22 x panjang 15 meter.

Keutamaan Roudloh dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi saw :
“Diantara kamarku dan mimbarku terdapat sebuah taman dari beberapa taman sorga.”
(HR. Bukhori, Muslim, Imam Malik dan Syaikhon).

Roudloh merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdo’a, karenanya Rudloh selalu dipadati dan menjadi rebutan jama’ah lelaki dan perempuan.

DO’A DI ROUDLOH

Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Segala puji bagi Alloh Tuhan alam semesta. Pujian yang menyempurnakan ni’mat-Nya, kebaikan untuk seluruh mahluk-Nya.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Bagimu segala pujian yang layak bagi keagungan dan kebesaran kekuasaan-Mu. Sholawat dan salam atas Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabat-sahabatnya serta orang yang mengikutinya.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Ampunilah dosa kami. dosa kedua orang tua kami, nenek moyang kami, semua kerabat kami, saudara-saudara kami, guru-guru kami, orang-orang mukmin mukminat, muslimin muslimat baik yang hidup masa sekarang sampai akhir zaman ataupun yang telah mati dari yang sekarang sampai awal zaman dengan limpahan rohmat-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha penyayang.
Ya Alloh sesunggunhnya firman-Mu adalah benar :
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Sesungguhnya kami memohon syafa’at Nabi-Mu dan Rasul-Mu Muhammad saw, pada hari dimana harta benda dan anak tidak dapat memberi pertolongan dengan sesuatu apapun, kecuali orang yang menyerahkan diri kepada Alloh, bebas dari syirik dan penyakit munafiq.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Berilah kepastian ampunan untuk kami, sebagaimana Engkau telah meastikan memberi ampunan bagi orang yang datang kepada Rasul diwaktu hidupnya.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Jadikanlah Nabi Muhammad saw orang yang pertama, yang paling agung, dan paling mulia memberikan syafa’at dari golongan mereka yang terdahulu dan terakhir dengan pengasih-Mu yang paling pemurah dan kemuliaan-Mu yang paling tinggi.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Kami mohon kepada-Mu keimanan yang sempurna, keyakinan yang benar, sehingga kami dapat mengetahui bahwa tiada sesuatu bencana yang akan menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Kami mohon ilmu yang bermanfa’at hati yang khusu’, lidah yang selalu ingat kepada-Mu, Rizqi yang luas, halal dan baik, amal sholeh yang diterima serta usaha yang tidak mengalami rugi.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Lapangkan dada kami, tutupilah aib kami, ampunilah dosa kami, tenteramkanlah hati kami dari ketakutan, sudahilah amalan kami dengan kebajikan, terimalah riadloh kami, kembalikanlah kami kepada ahli dan keluarga kami di dalam keadaan selamat dan sejahtera tidak kecewa dan tidak mendapat bala bencana.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Jadikan kami golongan hamba-Mu yang sholeh yaitu dari golongan mereka yang tidak takut terhadap musuh dan tidak pula bersedih hati.

Ya alloh Ya Tuhan kami ..
Janganlah Engkau palingkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, limpahkan rohmat-Mu kepada kami. Engkaulah Tuhan yang Maha pemurah yang memberi anugrah.

Ya Alloh Ya Tuhan kami ..
Maha Suci Engkau yang mempunyai keagungan dan kekuasaan dari apa yang mereka sifatkan.
Salam sejahtera untuk semua Nabi dan Rosul serta orang-orang yang mengikutinya.
Segala puji bagi Alloh Tuhan yang memelihara seluruh jagat.
Ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku serta seluruh mukmin dan mukminat pada hari perhitungan segala amal.

TIANG / UTS-HUWANAH

Di Roudhoh terdapat beberapa pilar atau tiang penting yang merupakan tempat mustajabah, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan salafus sholih, dijadikan tempat berdo’a kepada Alloh swt.
Di antara nama-nama tiang tersebut:

1. Tiang harum Mukhollaqoh.
Disebut juga tiang Mush-haf karena menjadi tempat penyimpanan mushaf Al-Imam. Tiang ini dulunya berasal dari batang pohon kurma, terletak menempel di samping kanan mihrob Nabi saw. Beliau saw sering berkhutbah sambil bersandar di tiang ini.

Suatu ketika seorang sahabat ingin membuatkan mimbar untuk Nabi saw berkhutbah, agar semua orang dapat melihat dan mendengar khutbahnya. Beliau saw menyetujui gagasan itu.
Setelah mimbar itu diletakkan ditempat seperti sekarang, beliau saw naik dengan melewati tiang Mukhollaqoh tersebut, tiba-tiba batang pohon kurma ini merengek dan menjerit seperti anak kecil hingga ia terbelah.
Karena jeritannya, beliau saw turun dari mimbar dan mengusap tiang ini hingga menjadi tenang kembali.

2. Tiang Muhajirin, disebut juga tiang ‘Aisyah, merupakan tiang urutan ke-3 dari arah makam, terletak di belakang shof pertama dari Mimbar Nabi saw.
Di samping tiang ini sering digunakan sholat oleh Nabi saw, Abu Bakar ra, Umar ra, Ibnu Zubair ra. Dulu di sekitar tiang ini biasa di tempati para muhajirin duduk-duduk berkumpul.
Nabi saw pernah bersabda bahwa di Masjid Nabawi terdapat sejengkal tanah yang jika orang-orang tahu, tentu akan mengadakan undian untuk memperebutkannya.
Dan orang pertama kali yang menunjukkannya adalah ‘Aisyah ra, sehingga orang-orang menyebutnya tiang ‘Aisyah.

3. Tiang Sarir (tempat tidur).
Tiang ini terletak di dekat kamar ‘Aisyah ra, menempel di ventilasi maqshuroh (pagar makam Nabi saw), di sebelah utara tiang taubat.
Nabi saw sering beri’tikaf dengan menggelar tikar atau kasur beliau saw di samping tiang ini, karenanya tiang ini dinamakan tiang Sarir.

4. Tiang Mahras (tempat penjagaan).
Tiang ini terletak di utara tiang Sarir, menempel di ventilasi maqshuroh (pagar makam Nabi saw).
Tiang ini merupakan tempat para sahabat menjaga Nabi saw ketika sedang sholat, sampai turunnya ayat yang menjamin keamanan Nabi saw.

5. Tiang Taubat atau tiang Abu Lubabah.
Tiang ini menempati urutan ke-4 dari mimbar, ke-2 dari makam Nabi, dan ke-3 dari kiblat.
Dinamakan tiang Taubat , karena Abu Lubabah ra bertaubat atas kesalahannya berkaitan dengan kasus Bani Quroidhoh, dengan cara mengikatkan diri di tiang ini (selama 9 hari hingga pingsan) sampai Alloh swt menerima taubatnya.

6. Tiang Wufud (utusan)
Tiang ini menempel di ventilasi maqshuroh, terletak di utara tiang mahras.
Dinamakan tiang Wufut karena tempat ini biasa digunakan Nabi saw menerima para utusan dari berbagai kabilah arab.

MIHROB

Mihrob artinya ruangan tempat imam
sholat. Di Masjid Nabawi terdapat 4 mihrob, diantaranya:

1. Mihrob Nabi saw.
Adalah tempat Nabi mengimami sholat. Letaknya di samping kanan tiang Mukhollaqoh.
Di zaman Nabi saw dan khulafaur-rosyidin tidak ada ruangan/bangunan khusus mihrob, sampai pada masa Umar bin Abdul Aziz tahun 91 H. dibuatkan bangunan ruangan yang lebih dikenal dengan Mihrob Nabi saw.
Mihrob ini mengalami perbaikan 3 kali, yang pertama oleh para shohabat nabi saw, yang kedua oleh sultan Qoyit Bay dari Mesir dan yang ketiga oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz.

2. Mihrob Utsmani.
Tempat Usman bin Affan ra mengimami sholat, Mihrob ini terletak di selatan Mihrob Nabi saw. disebut juga Musholla Usman.
Dulunya berupa pagar tembok dari batu bata, yang berfungsi sebagai pengaman agar tragedi Umar ra yang terbunuh sewaktu mengimami tidak terulang lagi.
Oleh Umar bin Abdul Aziz (tahun 91 H), mihrob ini diperbaiki dengan bentuk cekung pada temboknya mengarah kiblat.

3. Mihrob Tahajjud.
tempat Nabi saw sholat tahajjud, terletak di utara Al-Maqshuroh.

4. Mihrob Hanafi.
Tempat pengimaman sholat oleh ulama’ Hanafiyah.
Dulu, sholat jamaah dilakukan dengan tiga gelombang berdasarkan madzhab empat.
Sejak tahun 860 H. Tughon syaikh membangun mihrob khusus untuk imam sholat madzhab hanafiyah, sedangkan madzhab lainnya di Mihrob Nabawi.

MIMBAR

Di dalam Masjid Nabawi ada sebuah pohon korma yang biasa dijadikan tempat berdiri ketika Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada setiap Jum’at.
Suatu ketika, datanglah seorang wanita Anshor, dia memiliki se’orang anak laki-laki tukang kayu.
Wanita itu berkata kepada Nabi saw,
“Bolehkah aku buatkan untukmu sebuah mimbar untuk tempat engkau duduk .?
Aku punya seorang anak laki-laki tukang kayu.”
Nabi saw menjawab:
“Silakan kalau kamu mau.”
Maka dibuatlah mimbar untuk Rosululloh saw.

Setelah Mimbar selesai dibuat, tepatnya pada hari Jum’at, ketika Nabi saw duduk di atas mimbar untuk berkhutbah, tiba-tiba menjeritlah pohon korma yang dahulu beliau saw biasa berkhutbah di sisinya, hingga hampir terbelah. Pohon korma itu menangis seperti anak kecil.
Kemudian Rosululloh saw turun dari mimbar dan mendekapnya, beliau saw terus mendekapnya sampai akhirnya dia berhenti dan tenang.
Lalu Nabi saw memberitahukan kepada para shohabat dengan bersabda:
“Pohon korma itu menangis jika ia tidak lagi mendengar dzikir yang biasa ia dengar.”

Mimbar Nabi saw terdiri dari tiga tangga, beliau senantiasa di tangga yang paling atas (ketiga dari bawah).
Abu Bakar ra, adalah kholifah yang terpilih mengantikan Nabi Saw dengan cara demokratis (musyawarah).
Betapa sopannya Abu Bakar ra. ketika khutbah di Masjid Nabawi, dia tidak mau duduk di tangga paling atas yang biasa di tempati Nabi saw, karena dia merasa tidak pantas.
Setelah Abu Bakar ra. wafat, ‘Umar bin Khot-thob ra. mengantikannya dengan cara demokratis pula.
Lagi-lagi, ‘Umar ra tidak mau duduk ditangga yang kedua, karena tempat itu adalah mimbarnya Abu Bakar ra.
Kedua sahabat ini begitu agung budi pekertinya dalam memuliakan junjunganya, sehingga dia tidak mau mengunakan mimbar tempat duduk Nabi Saw.

MASJID NABAWI

Masjid Nabawi, adalah salah satu mesjid terpenting yang terdapat di Kota Madinah, Arab Saudi karena dibangun oleh tangan suci Nabi Muhammad saw. dan menjadi tempat makam beliau saw dan dua sahabatnya Abu Bakar ra dan ‘Umar ra.
Waktu membangun masjid, Nabi saw sendiri yang meletakkan batu pertamanya, selanjutnya kedua oleh sahabat Abu Bakar ra, ketiga sahabat ‘Umar ra, keempat sahabat ‘Utsman ra dan kelima sahabat Ali ra, kemudian dikerjakan dengan gotong royong sampai selesai.
Masjid ini merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil-Harom di Mekkah.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rosululloh saw, setelah Masjid Quba’ yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Makkah ke Madinah.
Masjid Nabawi dibangun sejak pertama Rosululloh saw tiba di Madinah, ketika unta tunggangan beliau saw menghentikan perjalanannya.
Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahal dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rosululloh saw untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau saw.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m.
Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma, sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja.
Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari.
Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Pada sisi timur masjid, dibangun kediaman Nabi saw.
Kediaman Nabi saw ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup.
Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah.
Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas.
Renovasi pertama dilakukan oleh Kholifah Umar bin Khottob di tahun 17 H.
Renofasi kedua oleh Kholifah Utsman bin Affan di tahun 29 H.
Hingga kini Masjid Nabawi terus mengalami pengembangan pembangunan yang luar biasa.

MAQSHUROH DAN KUBBATUL-HADLRO’

Maqshuroh atau pagar makam pertama kali
dibuat oleh sultan Dhohir Ruknuddin Birbis (668 H) dari kayu. Ketika Masjid dan maqshuroh terbakar tahun 886 H, sultan Qoyit Bay mengirimkan pagar maqshuroh dari bahan tembaga dan besi pada tahun 888 H, sekaligus mengganti Qubbah di atas makam Nabi saw, dengan bahan dari batu bata.
Ketika Qubbah ini retak-retak bagian samping dan atasnya, lalu diperbaiki lagi dengan dempul dari negeri Mesir tahun 892 H. Tahun 1233 H ada keretakan lagi di atasnya, lalu dipugar dan dibangun kembali oleh sultan Al-Ghozi Mahmud Khan, serta dicat hijau. Sejak itu disebut Al-Qubbatul-Hadhro’ (Kubah hijau) dan sultan Al-Ghozi adalah orang pertama yang mengecat warna hijau.

TEMPAT BERSEJARAH SEKITAR MASJID NABAWI

1. Tempat Ahlus-Suffah
Pada jaman Nabi saw, di Masjid Nabawi
ada sebuah tempat penginapan bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal seperti para fakir, miskin, musafir, tamu, santri yang datang untuk mencari ilmu.
Jumlah mereka yang menginap di Masjid Nabawi setiap hari berkisar antara 50 – 70 orang, kadang lebih dari itu. Diantaranya Abu Huroiroh, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghiffari, Abdulloh bin Mas’ud, Bilal bin Robah, Abu Sa’id Al-Hudhri.
Posisinya di serambi sebelah utara Masjid Nabawi, searah dengan Babun Nisa’.
Bentuknya berupa lantai yang ditinggikan atau yang disebut Dakkatul Aghwat.

2. Saqifah Bani Sa’idah
Saqifah bani Sa’idah dulunya merupakan
bangunan tempat pertemuan milik Bani Sa’idah. Saqifah ini semacam pendopo, aula atau gedung pertemuan jaman sekarang. Letaknya di sebelah barat laut 200 m dari Masjid Nabawi.
Di Saqifah ini Nabi saw pernah duduk-duduk istirahat, demikian juga para sahabat dari kalangan Bani Sa’idah. Sepeninggal Nabi saw, para tokoh sahabat Anshor mengadakan pertemuan di Saqifah ini untuk menentukan pemimpin pengganti Nabi saw. Namun hal ini diketahui sahabat muhajirin, lalu segeralah Abu Bakar ra, Umar ra dan lainnya ikut menghadirinya, dan pada akhir pertemuan Abu Bakar ra ditetapkan sebagai Kholifah pertama, pengganti Nabi sa untuk memimpin kaum muslimin.

3. Musholla Janaiz
Pada awalnya Nabi saw mensholati jenazah
di pekuburan Baqi’. Pada tahun tahun mendekati wafatnya Nabi saw, para sahabat membawa jenazah ke tanah kosong sebelah timur / belakang kamar Ummahatul-mukminin. Tanah kosong tempat mensholatkan jenazah itulah yang disebut Musholla Janaiz.
Pada masa ‘Umar bin Abdul Aziz, kamar Ummahatul-mukminin dipugar untuk perluasan Masjid Nabawi, sementara Musholla Janaiz tetap di lokasi tanah terbuka. Baru pada masa sultan Abdul Majid al-Utsmani, sebagian Musholla Janaiz masuk kedalam bangunan Makam atau Masjid Nabawi dan sebagian lagi di tanah kosong diluar tembok Masjid bagian timur.

BIR ALI

Masjid Miqot atau Bir Ali letaknya kira-kira 15.km dari Masjid Nabawi. Dinamakan Masjid Miqot karena disitulah miqot untuk penduduk Madinah dan yang melewatinya.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw ketika dalam perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Mekkah, beliau berhenti dan sholat di tempat itu. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasanya Nabi saw jika berangkat ke Mekkah, beliau sholat di Masjid Syajaroh, dan ketika pulangnya beliau sholat di lembah Dzul Hulaifah, dan bermalam disana.
(Shahih Bukhari).

Mengingat kedudukannya yang amat penting dalam sejarah, Masjid ini dibangun dan direnovasi kembali oleh Raja Fahd yang menelan biaya sekitar 170 juta Real Saudi, dengan daya tampung  sekitar 5000 jamaah. Tinggi kubahnya sekitar 28m, sedangkan menaranya sekitar 64m. Masjid ini disebut juga dengan Masjid Dzhul-Hulaifah, Masjid asy-Syajaroh atau Masjid al-Muhrim”.

Berdasarkan keterangan ini, Masjid Bir Ali memiliki sejumlah nama lain, yaitu Masjid Miqod, Masjid Dzul-Hulaifah, Masjid Syajaroh dan Masjid al-Muhrim.

Di namakan Masjid Syajaroh, menurut sejarah ada sebuah pohon akasia di kawasan Zul-hulaifah yang digunakan Rosululloh saw untuk berteduh ketika singgah di kawasan itu dalam perjalanan ke Mekah untuk menunaikan haji dan umroh. Masjid ini dibangun di tempat asal pohon itu. Oleh karena itu dinamakan “Masjid Syajaroh (pohon)”.

Abu Huroiroh ra. meriwayatkan bahwa Rosululloh saw mengerjakan sholat berdekatan dengan tiang di tengah-tengah masjid ini. Pada zaman sekarang masjid ini dikenal dengan masjid Al-Muhrim (tempat niat haji atau umroh bagi penduduk Madinah atau mereka yang datang dari arah Madinah), juga dengan nama Masjid Zhul-hulaifah atau Bir Ali.

Bir Ali berasal dari kata Bi’run artinya sumur.
Dalam sejarah, dulu sahabat Ali ra pernah membuat sumur di dekat masjid yang ada di situ. Sumur tersebut terkenal dengan nama Bi’run Ali, dalam lidah orang Indonesia lebih peraktis di sebut Bir Ali.

Masjid ini sejak zaman Rosululloh saw, telah ditetapkan sebagai tempat miqot penduduk Madinah yang akan menunaikan ibadah umroh maupun haji.
Diriwayatkan: “Tidak berniat (untuk umroh atau haji) Rosululloh Saw kecuali di Masjid Dzil-hulaifah.”
(HR. Abu Daud).

Kini, Masjid Dzul-hulaifah berdiri megah dengan arsitektur yang khas terutama menaranya dan interiornya yang sangat anggun dan mempunyai nilai estetika yang mengagumkan. Di bagian luarnya terdapat areal parkir yang cukup luas. Halaman masjid ditanami dengan pohon pelindung, yaitu pohon kurma.

BIR USMAN

Dikisahkan bahwa sebelum Nabi Muhammad saw datang ke Madinah, di sana ada sumur yang disebut sumur Rowmah yang airnya sangat jernih dan tawar, sumur itu milik orang Yahudi.
Setiap orang yang ingin mengambil air dari sumur itu harus membayarnya.
Ketika umat Islam semakin berat dihimpit kesulitan air yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari, sementara untuk mendapatkannya harus membayar mahal dengan harga yang ditetapkan si Yahudi, Rosululloh saw menyerukan tawaran kepada para sahabatnya:
“Barang siapa yang dapat membeli sumur Rowmah, baginya sorga.”

Mendengar pernyataan itu Utsman ra ingin mendapatkan sumur itu, ia bergegas mendatangi pemilik sumur untuk membelinya.

“Maukah engkau menjual sumur Rowmah ini kepadaku .?” tawar Utsman ra.
Yahudi itu segera menyambut permintaan Utsman ra, dalam benaknya ia berpikir, Utsman adalah orang kaya, ia pasti mau membeli sumurnya berapa pun harga yang ia minta. Namun di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan mata pencahariannya begitu saja.
“Aku bersedia menjual sumur ini, berapa engkau sanggup membayarnya .?”

“Sepuluh ribu dirham” jawab Utsman ra.
Si Yahudi tersenyum sinis sambil berkata:
“Sumur ini hanya akan kujual separuhnya. Kalau kamu bersedia, sekarang juga kamu bayar 18 ribu dirham (2.kg emas lebih), dan sumur kita bagi dua. Sehari untukmu dan sehari untukku, bagaimana .?”
Setelah berpikir sejenak, Utsman ra menjawab:
“Baiklah, aku terima tawaranmu.”
Setelah membayar seharga yang diinginkan, Utsman ra menyuruh pelayannya untuk mengumumkan kepada para penduduk, bahwa mereka bebas mengambil air sumur Rowmah secara gratis.

Sejak itu, penduduk Madinah bebas mengambil air sebanyak mungkin untuk keperluan mereka, seperti perjanjian yang telah disepakati satu hari untuk kaum Muslimin dan satu hari untuk si Yahudi.
Namun pada akhirnya si Yahudi tua kebingungan lantaran tak seorang pun yang membeli airnya setelah adanya pembagian itu.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya orang-orang serta kabilah-kabilah yang berdatangan ke kota Madinah untuk memeluk agama islam, tentu saja air menjadi kebutuhan pokok, hususnya di lingkungan Masjid Nabawi, karena rata-rata mereka setelah bai’at kepada Rosululloh saw tinggal di sekitar Masjid.
Lalu diadakannya musyawaroh untuk mengatasi hal itu, maka diputuskannya membeli sisa separuh sumur Ruwmah guna di alirkan ke Masjid Nabawi.
Kemudian Utsman ra bersama sahabat yang lain datang menemui si Yahudi untuk membeli separuhnya, dan ia tidak bisa menolak.
Sejak saat itu sumur Rowmah dikenal dengan sebutan Bir Usman.

Sumber air Rowmah itu hingga sekarang masih tetap dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan Masjid Nabawi. Atas kekuasaan Alloh swt, sumber itu tidak pernah habis atau berkurang miskipun dipakai setiap saat oleh jutaan jamaah haji dan umroh, dan orang-orang yang berkunjung ke Masjid Rosululloh saw itu.

MASJID ALI

Masjid ini berada di sebelah barat daya dari Masjid Nabawi sekitar 300 meter, 50 meter dari Masjid Abu Bakar, dan 100 meter dari Masjid Ghomamah.
Masjid ini adalah shof sholat tempat dimana Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra ketika mengikuti sholat istisqo’ dan sholat ‘ied bersama Rosululloh saw dan para sahabatnya.
Masjid ini ditutup tidak lagi ditempati sholat wajib, karena sangat dekatnya dengan Masjid Nabawi.

MASJID ABU BAKAR

Masjid Abu Bakar terletak 50 meter dari masjid Ghomamah, atau sekitar 300 meter arah Barat dari mesjid  Nabawi dan 50 meter dari Masjid ‘Ali.
Masjid ini didirikan sebagai monumen dari tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Rosululloh saw sebagai tempat sholat, sehingga dinamakan dengan Masjid.
Menurut riwayat, Rosululloh saw pernah sholat ‘Ied di tempat didirikannya Masjid ini.

Konon Masjid Abu Bakar didirikan oleh Kholifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun 50H. Bangunan yang ada sekarang adalah peninggalan dari Sultan Mahmud Khan Al Utsmani (wafat tahun 1255 H/ 1839) dan direnovasi oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz tahun 1411 H. tanpa mengubah bentuk aslinya.

MASJID GHOMAMAH

Masjid berukuran 26 x 13 meter persegi,
tinggi 12 meter dan dilengkapi 6 buah kubah dan menara ini terletak di sebelah barat daya Madinah, berjarak + 400 meter dari Masjid Nabawi.
Ghomamah artinya mendung atau awan tebal. Dulu di masa Rosuillloh saw, masjid ini merupakan alun-alun di tengah kota Madinah yang setiap datang Idul fitri dan Idul Adh-ha digunakan untuk sholat ‘Id.
Suatu ketika jamaah merasa gelisah karena panjangnya khutbah Nabi saw, karena panasnya sinar matahari yang menyengat, tiba-tiba datanglah arak-arakan mendung atau awan tebal, sehingga cuaca menjadi teduh dan mereka menjadi betah dan tenang mendengarkan khutbah beliau saw sampai selesai.

MASJID IJABAH

Masjid Al-Ijabah (bahasa Arab: مسجد الإجابة), Masjid Bani Muawiyah atau Masjid al-Mubahalah adalah sebuah masjid di Madinah yang dibangun di masa Nabi Muhammad saw di lahan milik Muawiyah bin Malik bin ‘Auf dari suku al-Aus.

Masjid Al-Ijabah berjarak 385 meter di utara Baqi’ dan berada di jalan raya As-Sittin. Jarak dengan Masjid Nabawi (setelah perluasan) hanya sekitar 580 meter. Saat ini, wilayah ini termasuk bagian dari Distrik Bani Muawiyah.

Dalam shohih Muslim, Amir bin Sa’dari menuturkan dari ayahnya:
“Suatu hari Rosululloh datang dari al-Aliyah. Beliau melewati masjid Bani Muawiyah, beliau masuk masjid itu dan sholat dua rokaat, kami pun ikut sholat bersama beliau. Lalu Rosululloh berdo’a lama sekali, lalu beliau menuju kami dan mengatakan:
“Aku meminta tiga hal kepada Robbku. Tetapi, hanya dua hal dikabulkan, dan satu hal tidak diperkenankan.
Aku meminta agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik, permintaanku pun dikabulkan.
Aku memohon agar umatku tidak ditenggelamkan, permohonanku pun dikabulkan.
Aku mengharap agar permusuhan ummatku tidak terjadi antar sesama mereka, tetapi permintaanku ini tidak dikabulkan.”

Malik meriwayatkan dari Abdulloh bin Jabir bin Atik, dia berkata:
“Abdullah bin Umar datang kepada kami di Bani Muawiyah —salah satu desa kaum Anshar— dan bertanya:
“Apakah kalian tahu di mana dulu Rosululloh sholat di masjid kalian ini .?”
Aku menjawab: “Ya ..” Lalu aku menunjuk ke satu arah.
Dia kembali bertanya:
“Apakah engkau tahu tiga hal yang diminta oleh Rosululloh .?”
Aku menjawab: “Ya, aku tahu, beliau memberi tahu aku tiga hal itu .!
Rasulullah berdo’a agar tidak dikalahkan oleh musuh dari golongan orang kafir. Dan agar tidak dibinasakan dengan paceklik. Keduanya dikabulkan oleh Alloh.
Rosululloh juga berdo’a agar permusuhan umatnya tidak terjadi antar sesama mereka. Tetapi, permohonan ini tidak dikabulkan.”
Ibnu Umar berkata:
“Engkau benar, sehingga peperangan, fitnah, dan perselisihan terus berlangsung hingga Hari Kiamat nanti.”

MASJID SAB’AH KHONDAQ

Sab’ah artinya tujuh, Khondaq artinya parit.
Kelompok Masjid yang terletak di kaki bukit Sala’ ± 3 km sebelah barat laut Masjid Nabawi.
Disebut Masjid Tujuh karena jumlahnya ada tujuh yaitu:
Masjid Salman
Masjid Abu Bakar
Masjid Umar
Masjid Usman
Masjid Ali
Masjid Fatimah
Masjid Fatah
Diantara tujuh masjid tersebut Masjid Fatah yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam pada waktu Perang Khondak (perang parit) disitulah Rosulullah saw memanjatkan do’anya selama tiga hari berturut-turut agar musuh yang banyaknya 10.000 orang di hancurkan dengan pertolongan Alloh swt.

Dinamai Khondaq karena untuk menandai peristiwa perang antara umat Islam melawan 10.000 orang “pasukan sekutu kafir” pada tahun 5 H.
Pasukan sekutu yang terdiri dari kafir Quraisy Makkah, kabilah Ghothofan dan kaum Yahudi bani Qoinuqo’ Madinah ini dipimpin Abu Sufyan.
Dalam perang ini, atas saran Salman Al-Farisi ra, Nabi saw membangun sistem pertahanan dengan membuat parit (khondaq) yang lebar dan dalam di sekeliling kota Madinah, yang dilengkapi 7 menara pengintai.
Sesampainya di Madinah, pasukan musuh tidak berhasil membobol pertahanan parit ini, lalu mereka mendirikan tenda-tenda sambil mengepung kota Madinah, sampai pada akhirnya tenda mereka diporak-porandakan angin kencang disertai udara dingin, sehingga mereka hanya mampu bertahan selama kurang lebih 24 hari, kemudian pulang kembali dengan tangan hampa, bahkan mengalami kerugian besar dan banyak diantaranya mengalami stress berat.

MASJID QIBLATAIN

Masjid Qiblatain (dua kiblat) terletak di atas
bukit kecil dekat wadi al-‘aqiq, berjarak 3 km arah barat laut dari Masjid Nabawi.
Masjid ini memiliki dua mihrob, satu menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil-Aqsho – Palestina) dan satunya lagi menghadap ke Ka’bah (Masjidil-Haram – Makkah).
Dulu, masjid ini disebut masjid Banu Salamah.
Pada waktu Nabi saw sholat ‘ashar di masjid ini menghadap ke Masjidil-Aqsho (sebelum di syari’atkan menghadap ke Ka’baitulloh), turunlah wahyu (QS Al-Baqarah : 144) yang memerintahkan agar berpindah kiblat, maka pada saat itu pula Nabi saw berputar balik 180 derajat berkiblat ke Masjidil-Haram, lalu diikuti para sahabat yang bermakmum.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka masjid banu Salamah ini dinamakan Masjid Qiblatain.

Di dekat masjid ini ada sumur yang disebut “Sumur Roumah” dan sampai kini masih berfungsi.
Dulunya, sumur ini merupakan danau kecil berair jernih milik orang Yahudi, kemudian dibeli oleh Usman bin Affan ra dan diwakafkan untuk keperluan masjid.

MASJID QUBA’

Quba’ adalah sebuah perkampungan yang
terletak 5 km dari kota Madinah.
Disini Masjid yang pertama kali dibangun Nabi saw pada bulan Rabiul Awwal tahun 1 Hijriyah (622 M) dalam perjalanan hijrahnya ke Madinah, Masjid ini di bangun di atas sebidang tanah milik Kalsum bin Hadam dari kabilah Amir bin Auf. Di Masjid ini pula beliau pertama kali melakukan sholat berjamaah.

Masjid Quba’ oleh Al-Qur’an surat At-Taubah : 108 disebut “Masjid Taqwa”, memiliki beberapa keutamaan, diantaranya seperti yang disabdakan Nabi saw:
“Satu kali sholat di masjid Quba’ seperti melakukan satu ‘Umroh.”

MASJID JUM’AH

Masjid Jum’at berada di lembah Ronuna
perkampungan Bani Salim bin Auf, tidak jauh dari masjid Quba’ dan berjarak + 4.km dari kota Madinah.
Dinamakan Masjid Jum’at karena di masjid ini Nabi saw melakukan sholat jum’at pertama kali dalam sejarah Islam, yang terjadi pada hari jum’at tanggal 16 Rabiul Awwal tahun 1 H (622 M), dalam perjalanan hijrahnya menuju ke Madinah, setelah beberapa hari menginap di desa Quba’.

Iklan

HUKUM-HUKUM HAJI 4 MADZHAB

PONDOK KH MAS ABDURROHIM

PONDOK KH MAS ABDURROHIM

ASYHURUM-MA’LUMAT 

‘bulan yang telah ditetapkan’  

اَلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ 

“Musim haji adalah beberapa bulan yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Baqoroh: 197). 

Imam Bukhori mengatakan bahwa menurut Ibnu Umar ra, yang dimaksud dengan bulan-bulan haji ialah Syawwal, Dzul-Qo’dah, dan sepuluh hari bulan Dzul-Hijjah. 

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda : 

الْحَجُّ أَشْهَرٌ مَعْلُومَاتٌ: شَوَّالٌ وَذُو الْقِعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ 

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, yaitu bulan Syawwal, bulan Dzul-Qo’dah, dan bulan Dzul-Hijjah.” 

HUKUM-HUKUM HAJI 4 MADZHAB 

1. Haji 

HANAFI — Wajib segera 

MALIKI — Wajib segera 

SYAFI’I — Wajib dn boleh di tunda 

HAMBALI — Wajib segera 

2. Umroh 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Wajib 

HAMBALI — Dua pendapat 1.Wajib  2.Sunnah 

3. Seorang wanita yg berhaji (Haji Rukun) tanpa izin suami 

HANAFI — Boleh 

MALIKI — Boleh 

SYAFI’I — Dua pendapat, paling Shoheh tidak boleh 

HAMBALI — Boleh 

4. Memakai celana bagi yang berihrom ketika tidak ada kain 

HANAFI — Boleh dan wajib Fidyah 

MALIKI — Boleh dan wajib Fidyah 

SYAFI’I — Boleh dan tidak wajib  Fidyah 

HAMBALI — Boleh dan tidak wajib Fidyah 

3. Niat ihrom untuk Haji atau Umroh 

HANAFI — Syarat 

MALIKI — Rukun 

SYAFI’I — Rukun 

HAMBALI — Rukun 

4. Menyertakan ihrom dengan Talbiyah 

HANAFI — Syarat 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

5. Mandi ihrom 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

6. Memakai wangi-wangian sebelum berniat 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Haram apabila wanginya tetap berbau setelah berniat ihrom 

SYAFI’I — Sunnah berwangi-wangian 

HAMBALI — Sunnah berwangi-wangian 

7. Ihrom dari miqot makani (tempat miqot) 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Wajib 

HAMBALI — Wajib 

8. Miqot zamani (bulan-bulan haji) 

HANAFI — Syawal, Dzul-qo’dah dan 10 hari dari Dzul-hijjah 

MALIKI — Syawal, Dzul-qo’dah dan Dzulhijjah 

SYAFI’I — Syawal, Dzul-qo’dah dan 10 malam dari dzul-hijjah 

HAMBALI — Syawal, Dzul-qo’dah dan 10 hari dari Dzulhijjah 

9. Talbiyah 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

10. Thowaf Qudum 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

11. Wajib haji atas orang yang sepuh (tua) dengan syarat-syarat 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Tidak wajib, kecuali mampu atas diri sendiri 

SYAFI’I — Wajib 

HAMBALI — Wajib 

12. Thowaf Ifadhoh 

HANAFI — Empat putaran rukun, dan tiga putaran wajib 

MALIKI — Rukun 

SYAFI’I — Rukun 

HAMBALI — Rukun 

14. Membuka bahu sebelah kanan ketika Thowaf 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Tidak dianjurkan 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

19. Suci ketika Thowaf 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Dua pendapat:  1.Syarat 2.Wajib 

15. Niat Thowaf haji dan umroh 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Disyaratkan sebagian pendapat Ulama Maliki 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Syarat 

18. Memulai Thowaf dari Hajar Al-Aswad 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

17. Berjalan ketika Thowaf bagi orang yang tidak berpenyakit 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Syarat 

20. Thowaf di luar Ka’bah 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

21. Thowaf di dalam Masjid 

HANAFI — Syarat 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

23. Berturut-turut bilangan Thowaf (sekali gus) 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Dua pendapat:  1.Wajib   2.Syarat 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Syarat 

16. Sholat dua raka’at setelah thowaf 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

22. Menyengaja Sujud menghadap ke Hajar Al-aswad 

HANAFI — Bid’ah 

MALIKI — Bid’ah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

24. Sa’i ketika Haji 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Rukun 

SYAFI’I — Rukun 

HAMBALI — Rukun paliang kuat dari tiga pendapat ulama Hambali 

29. Suci dari hadats kecil dan besar ketika Sa’i 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

30. Menutup ‘Aurot ketika Sa’i

HANAFI — Syarat 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Dua pendapat:  1.Sunnah 2.Wajib 

31. Jumlah Sa’i tujuh putaran

HANAFI –Wajib 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

32. Tidak bermaksud yang lain-lain ketika Sa’i 

HANAFI — Syarat 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

25. Niat Sa’i 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Syarat 

26. Sa’i dimulai dari Shofa dan berakhir di Marwah 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Syarat 

SYAFI’I — Syarat 

HAMBALI — Syarat 

27. Berturut-turut putaran Sa’i (sekali gus) 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Dua pendapat: 1.Wajib  2.Syarat 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

13. Lari-lari kecil ketika Sa’i 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

28. Tidak terpisah antara Sa’i dan Thowaf 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Dua pendapat:  1.Sunnah 2.Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

 

33. Bermalam di Mina malam ‘Arofah (Tarwiyah)

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah (Mandub) 

HAMBALI — Sunnah (Mandub) 

34. Hadirnya orang yang berhaji di ‘Arofah pada waktunya 

HANAFI — Rukun 

MALIKI — Rukun 

SYAFI’I — Rukun 

HAMBALI — Rukun 

 

35. Wukuf di tempat yang terbuka 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

36. Naik ke Jabal Rohmah 

HANAFI — Tidak dianjurkan 

MALIKI — Tidak dianjurkan 

SYAFI’I — Tidak dianjurkan 

HAMBALI — Tidak dianjurkan 

37. Menjama’ Sholat Dhuhur dan ‘Asar di ‘Arofah 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah beserta Qoshor 

SYAFI’I — Sunnah bagi yang musafir 

HAMBALI — Dua pendapat:  1.Sunnah 2.Wajib 

38. Bersegera ke tempat Wukuf setelah Sholat Dhuhur dan ‘Asar 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

39. Waktu wukuf di ‘Arofah 

HANAFI — Dari tergelincir Matahari tgl  9 berakhir sampai Fajar tgl 10 Dzulhijjah 

MALIKI — Dari tergelincir Matahari tgl  9 berakhir sampai Fajar tgl 10 Dzulhijjah 

SYAFI’I — Dari tergelincir Matahari tgl  9 berakhir sampai Fajar tgl 10 Dzulhijjah 

HAMBALI — Dari terbit Fajar tgl  9 berakhir sampai terbit Fajar tgl 10 Dzulhijjah 

40. Terhitung Sah Wukuf di ‘Arofah 

HHANAFI — Sebentar dalam waktu yang tersebut di atas 

MALIKI — Sebentar pada malam 10 Dzulhijjah 

SYAFI’I — Sebentar dalam waktu yang tersebut di atas 

HAMBALI — Sebentar dalam waktu yang tersebut di atas 

41. Menghimpun siang dan malam di ‘Arofah 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah menurut pendapat yang paling Shoheh 

HAMBALI — Wajib 

42. Wukuf di Wadi (Lembah) ‘Uronah 

HANAFI — Tidak Sah 

MALIKI — Dua pendapat: 1.Tidak Sah 2.Sah 

SYAFI’I — Tidak Sah 

HAMBALI — Tidak Sah 

43. Wukuf orang yang gila (hilang akal) 

HANAFI — Sah 

MALIKI — Sah 

SYAFI’I — Tidak Sah 

HAMBALI — Tidak Sah 

44. Bermalam di Muzdalifah 

HANAFI — Sunnah walaupun sebentar (ukuran sebentarnya kira-kira 2 roka’at sholat sunat) sebelum terbit fajar waktu Shubuh 

MALIKI — Wajib sekedar memberhentikan kenderaan kapan saja pada malam 10 Dzulhijjah 

SYAFI’I — Wajib walaupun sebentar setelah pertengahan malam 10 Dzulhijjah 

HAMBALI — Wajib walaupun sebentar setelah pertengahan malam 10 Dzulhijjah

45. Berhenti di Muzdalifah pada hari 10 Dzulhijjah  

HANAFI — Wajib sebentar dari terbit fajar sampai terbit Matahari 

MALIKI — Sunnah dari fajar sampai kelihatan warna kuning 

SYAFI’I — Sunnah dari fajar sampai kelihatan benar-benar warna kuning 

HAMBALI — Sunnah dari fajar sampai kelihatan benar-benar warna kuning 

46. Menjama’ Sholat Magrib dan Isya’ (Jama’ Ta’khir) 

HANAFI — Tidak Shah kecuali di Muzdalifah 

MALIKI — Dua pendapat 1.Boleh 2.Sunnah 

SYAFI’I — Boleh

HAMBALI — Boleh

47. Meninggalkan Muzdalifah sebelum terbit Fajar 

HANAFI — Tidak boleh dan wajib Dam 

MALIKI — Boleh 

SYAFI’I — Boleh 

HAMBALI — Boleh 

48. Melontar Jumroh Al-’Aqobah 

HANAFI — Wajib mulai terbit matahari tgl 10 sampai fajar tgl 11 Dzulhijjah 

MALIKI — Wajib dari terbit matahari tgl 10 Dzulhijjah sampai waktu Dhuhur, dan makruh setelah Dhuhur sampai terbenam matahari

SYAFI’I — Wajib setelah pertengahan malam 10 Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyrik

HAMBALI — Wajib dari pertengahan malam 10 sampai akhir hari Tasyrik

49. Waktu melontar Jumroh Ula Wustho dan Aqobah 

HANAFI — Wajib, ba’da zawal sampai matahari terbenam 

MALIKI — Wajib, ba’da zawal sampai menjelang terbit fajar 

SYAFI’I — Wajib, sampai terbenam matahari, sebagian ulama Syafi’i mengatakan boleh mulai terbit matahari sampai menjelang terbit fajar 

HAMBALI — Wajib, sampai terbenam matahari 

50. Afdholnya tempat melontar

HANAFI — Di Lembah, sebelah kanan Mina dan sebelah kiri Makkah 

MALIKI — Di Lembah, sebelah kanan Mina dan sebelah kiri Makkah 

SYAFI’I — Di Lembah, sebelah kanan Mina dan sebelah kiri Makkah 

HAMBALI — Di Lembah, sebelah kanan Mina dan sebelah kiri Makkah 

51. Bercukur atau bergunting ketika Haji dan Umroh 

HAMBALI — MALIKI — Wajib seluruh kepala atau lebih banyak dari bagian kepala 

SYAFI’I — Rukun memotong tiga helai rambut atau mencukur

HAMBALI — Wajib seluruh kepala 

52. Bercukur di Tanah Haram 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Sunnah 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

53. Tertib diantara melontar, menyembelih dan bercukur 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Sunnah, tetapi  mengakhirkan bercukur dari  melontar Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

54. Waktu berhenti Talbiyah 

HANAFI — Ketika masuk waktu melontar Jumroh Al-’Aqobah 

MALIKI — Sebelum Wukuf di ‘Arofah 

SYAFI’I — Ketika waktu melontar Jumroh Al-’Aqobah 

HAMBALI — Setelah selesai melontar 

55. Bermalam di Mina pada hari Tasyrik 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah, sebagian ulama Syafi’i mengatakan Wajib 

HAMBALI — Wajib 

56. Mengakhirkan Thowaf Ifadhoh setelah melontar Jumroh 

HANAFI — Sunnah 

MALIKI — Wajib 

SYAFI’I — Sunnah 

HAMBALI — Sunnah 

57. Binatang yg dibuat Qurban dari Tanah Haram dan disembelih di Tanah Haram 

HANAFI — Boleh 

MALIKI — Harus dibawa dari Tanah Halal ke Tanah Haram 

SYAFI’I — Boleh 

HAMBALI — Boleh 

58. Hubungan suami istri sebelum Tahallul Awal 

HANAFI — Apabila sebelum Wukuf Hajinya rusak, dan apabila setelah Wukuf Hajinya Sah tetapi wajib menyembelih seekor Onta 

MALIKI — Rusak Haji dan Umrohnya 

SYAFI’I — Rusak Haji dan Umrohnya

HAMBALI — Rusak Haji dan

Umrohnya 

59. Orang yg sedang berikhrom menggunting rambut orang yg tidak ikhrom 

HANAFI — Tidak boleh 

MALIKI — boleh 

SYAFI’I — boleh 

HAMBALI — boleh 

60. Waktu menyembelih Dam 

HANAFI — Tidak boleh sebelum hari Nahr, sebagian ulama Hanafi membolehkan 

MALIKI — Tidak boleh sebelum hari Nahr 

SYAFI’I — Boleh setelah seseorang masuk berihrom (umroh) untuk menunaikan haji. 

HAMBALI — Wajib setelah terbitnya fajar hari Nahr atau setelah Jumroh al-‘Aqobah 

61. Waktu berpuasa 10 hari bagi yg tidak mampu membayar dam.

HANAFI — Puasa 10 hari setelah selesai Haji ketika masih berada di Makkah 

MALIKI — SYAFI’I —  HAMBALI — 3 hari di Makkah dan 7 hari apabila telah sampai di kampung halaman. 

62. Ayyamul-Ma’dudat

HANAFI — Hari tasyrik (11,12,13) 

MALIKI — Hari tasyrik (11,12,13) 

SYAFI’I — Hari tasyrik (11,12,13) 

HAMBALI — Hari tasyrik (11,12,13) 

63. Nikah orang yg sedang Ihrom 

HANAFI — Sah 

MALIKI — Batal 

SYAFI’I — Batal 

HAMBALI — Batal 

64. Ruju’ kepada istri yang sudah diceraikan bagi orang yang Ihrom  

HANAFI — Boleh 

MALIKI — Boleh 

SYAFI’I — Boleh 

HAMBALI — Tidak boleh 

65. Thowaf Wada’ 

HANAFI — Wajib 

MALIKI — Mustahab 

SYAFI’I — Wajib 

HAMBALI — Wajib 

catatan__________________

Sebab² keringanan dalam Syara’ ada 7 macam

1. Terpaksa (Ikroh)

2. Lalai (Nisyan)

3. Tidak Mengerti (Jahlun)

4. Kesukaran (‘Usrun)

5. Bepergian (Safarun)

6. Sakit (Marodl)

7. Kurang (Naqsun)

1. Terpaksa ( Al_ikroh ) seperti minum arak / khomr itu hukumnya Haram , akan tetapi bisa mendapat keringan bila keadaan terpaksa .. Kecuali Zina dan Membunuh ..

2. Lalai ( An_nisyan ) seperti seseorang tidak terkena Kifarat / batal puasanya , bila dia bersenggama ( ngesex ) di siang bolong waktu bulan Ramadlan dalam keadaan Lalai ..

3. Tidak mengerti ( Al_jahlu ) seperti berkata dalam sholat , namun karna tidak mengerti , maka sholatnya tidak batal ..

4. Kesukaran ( Al_’usru ) seperti debu yang ada di jalan yang bercampur dengan kotoran hewan itu semestinya Najis , namun karna sulit untuk menghindari , maka di ma’afkan ( mendapat keringanan ) ..

5. Bepergian ( Safar ) seperti diperbolehkan tidak puasa Ramadlon , atao meng_Qosor dan men-Jamak sholat ..

6. Sakit ( Marodl ) seperti berobat dengan menggunakan perkara yang najis atao haram ..

7. Kurang ( Naqsun ) seperti tidak diwajibkan sholat bagi anak anak yang belum baligh atao orang gila ..

Dijelaskan dalam hadis Ibnu Abbas yang artinya : 

“Manusia diperintahkan supaya akhir perjumpaan (dengan Baitulloh) itu dengan menjalankan thowaf di Baitulloh, akan tetapi hal ini diringankan bagi perempuan-perempuan yang sedang Haid.” (HR. Bukhori dan Muslim). 

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyampaikan khutbahnya kepada orang-orang yang haji. Beliau saw bersabda:

“Janganlah seseorang di antara kamu pulang melainkan akhir yang dilakukannya adalah thowaf di Baitulloh.” (HR. Muslim).

MANASIK HAJI PONDOK KH MAS ABDURROHIM SAMPURNAN BUNGAH GRESIK

PERJALANAN DAN PEKERJAAN HAJI

Sesudah kita memasuki kota Makkah dengan mengenakan pakaian Ihrom mengerjakan Umroh, Thowaf, dan Sa’i dan setelah kita memperbanyak ibadah men-dekatkan diri kepada Alloh Ta’ala memper-banyak Thowaf-thowaf sunnat, memper-banyak Umroh, tibalah saatnya memasuki hari-hari pekerjaan haji.

Tanggal 8 DZULHIJJAH
Jam: 08.00 Persiapan Pelaksanaan Hajji
Niat mandi Ihrom

َنوَيْتُ غُسْلَ اْلإِحْرَامَ ِللهِ تَعَالَى.

Bagi laki-laki: memakai pakaian Ihrom dengan 2 kain putih, 1 disarungkan dan 1 diselendangkan.
Bagi wanita: memakai pakaian Ihrom (rukuh atas bawah warna putih dan kaos kaki).
Memakai wewangian sebelum niat Ihrom.
Memakai Ihrom dari miqod (maktab / pondokan).

Sholat sunnat Ihrom 2 roka’at dari miqod

اُصَلِّى سُنَّةَ اْلأِحْرَامِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى.

Niat Ihrom Haji

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
لَبَّيْكَ اَللّهُمَّ حَجًّا. نَوَيْتُ اْلحَجَّ وَاَحْرَمْتُ بِهِ ِللهِ تَعَالَى.

Membaca Talbiyah dengan mengeraskan suara (bagi laki-laki, bagi wanita cukup didengar sendiri):

لَبَّيْكَ اَللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، اِنَّ اْلحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَاْلمُلْكَ، لاَشَرِيْكَ لَكَ .

Berdo’a:

اَللّهُمَّ أُحَرِّمُ لَكَ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَجَسَدِيْ وَجَمِيْعِ جَوَارِحِيْ مِنَ الطِّيْبِ وَالنِّسَاءِ وَكُلِّ شَيْءٍ حَرَّمْتَهُ عَلَى اْلمُحْرِمِ أَبْتَغِيْ بِذَالِكَ وَجْهَكَ اْلكَرِيْمَ. يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

Berangkat menuju Arofah (memper-banyak bacaan talbiyah).

Sesampai di Arofah membaca do’a:

لاَاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَحَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ اْلخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اَللّهُمَّ اِنَّكَ تَرَى مَكَانِي وَتَسْمَعُ كَلاَمِي وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلاَنِيَّتِي، وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْء مِنْ اَمْرِي، اَنَا اْلبَائِسُ اْلفَقِيْرُ، اْلمُسْتَغِيْثُ اْلوَجِلُ، اْلمُشْفِقُ اْلمُقِرُُّ اْلمُعْتَرَفُ بِذَنْبِهِ. اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنَى.
اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَتِكَ وَالنَّارِ.

Menginap di Arofah, sambil menunggu waktu wukuf. Memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, wirid dan do’a-do’a Istighfar lebih diutamakan.

Tanggal 9 DZULHIJJAH
Jam: 12.00 tengah hari memasuki waktu Wukuf.

Niat Wukuf

نَوَيْتُ وُقُوْفَ بِعَرَفَةَ ِللهِ تَعَالَى.

Sholat Dzuhur dan Ashar, jama’ qoshor 2 roka’at :
Niat Sholat Dzuhur jama’ qoshor 2 roka’at:

اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ اْلعَصْرِ تَقْدِيْمًا ِللهِ تَعَالَى.

Niat Sholat Ashar jama’ qoshor 2 roka’at:

اُصَلِّى فَرْضَ اْلعَصْرِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا بِاالظُّهْرِ تَقْدِيْمًا ِللهِ تَعَالَى.

Mengerjakan wirid, dzikir dan do’a-do’a Wukuf (sampai masuk waktu Maghrib).

Jam : 18.00 Sholat Maghrib dan Isya’ jama’ taqdim di qoshor.

Niat sholat Maghrib di jama’ taqdim 3 roka’at:

اُصَلِّى فَرْضَ اْلمَغْرِبِ مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ اْلعِشَاءُ تَقْدِيْمًا ِللهِ تَعَالَى.

Niat sholat Isya’ jama’ qoshor 2 roka’at:

اُصَلِّى فَرْضَ اْلعِشَاءِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا بِاْلمَغْرِبِ تَقْدِيْمًا ِللهِ تَعَالَى.

Persiapan meninggalkan Arofah menuju Muzdalifah.

Sesampai di Muzdalifah membaca do’a:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَارَحْمَنُ يَارَحِيْمُ أَنْ تَفْتَحَ ِلأَدْعِيَّتِنَا أَبْوَابَ اْلإِجَابَةِ، يَامَنْ إِذَا سَأَلَهُ اْلمُضْطَرُّ أَجَابَهُ يَامَنْ يَقُوْلُ لِلشَيْءِ كُنْ فَيَكُوْنُ.

Mengambil 70 butir batu kerikil atau lebih.

Jam : 00.00 tengah malam di Muzdalifah.

Niat Mabit :

نَوَيْتُ اْلمَبِيْتَ بِمُزْدَلِفَةَ ِللهِ تَعَالَى.

Berangkat menuju Mina untuk Jumroh Aqobah.
Jam: 06.00 (Ba’da Sholat Subuh).

Sesampai di Mina membaca do’a:

اَللّهُمَّ هَذِهِ مِنَى، فَأَمْنُنْ عَلَيَّ بِمَا مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ. سُبْحَانَ الَّذِي فِى اْلأَرْضِ سَطْوَتُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي فِى اْلبَحْرِ سَبِيْلُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي فِى النَّارِ سُلْطَانُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي فِى اْلجَنَّةِ رَحْمَتُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاءَ وَوَضَعَ اْلأَرْضَ بِقُدْرَتِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَمَنْجَا وَلاَمَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ.

Kemudian melontar 7 kerikil pada sumur Jumroh Aqobah:
Mengucapkan “Bismillahi Allohu Akbar” di setiap lontaran.
Melontar dengan 2 jari.
Batu kerikil harus masuk ke dalam sumur Jumroh Aqobah.

Sesudah Jumroh Aqobah membaca doa:

اَللّهُمَّ تَصْدِ يْقًا بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَاِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ.
اَللّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا.

Kemudian Tahallul Awal “kecil”. Memotong rambut sedikitnya 3 helai mendahulukan yang kanan kemudian yang kiri lalu yang atas. (tidak boleh memotong rambut yang terjuntai dari kulit kepala).

Do’a Tahallul:

اَللّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَشْهَدُ عِنْدَ الْحِسَابِ.

Bebas dari larangan-larangan yang diharamkan dalam Ihrom, kecuali jima’.
Pulang ke maktab atau kemah yang telah disediakan oleh pemerintah Saudi Arabia (bagi jamaah haji Asia Tenggara bertempat di Al Jadid / Muassim).

Setelah melepas Ihrom (memakai pakaian biasa) kemudian boleh langsung Thowaf Ifadloh dan Sa’i.
Thowaf Ifadloh dan Sa’i sebaiknya dilakukan sampai selesainya pekerjaan melempar Jumroh seluruhnya (tanggal 13 sampai menjelang pulang).
Sedangkan Praktek pekerjaan Thowaf dan Sa’i Haji, cara pelaksanaannya sama dengan Thowaf dan Sa’i Umroh.

Setelah selesai melaksanakan Thowaf dan Sa’i Haji, laluTahallul Tsani (Besar) di Bukit Marwah.
Memotong rambut sedikitnya 3 helai mendahulukan yang kanan kemudian yang kiri lalu yang atas. (tidak boleh memotong rambut yang terjuntai dari kulit kepala).

Dengan berdo’a:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَشْهَدُ عِنْدَ الْحِسَابِ.

Setiap sebelum dan sesudah melempar Jumroh Ula, Wustho, Aqobah, membaca do’a:

اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ أَبْلِغْ رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَّاالتَّحِيَّةَ وَالسَّلاَمَ وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَااْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

TGL. 10 DZULHIJJAH

Sesudah melaksanakan Jumroh Aqobah dan Tahallul, hendaknya memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih, sampai berakhirnya hari tasyrik tanggal 13 Dzulhijjah.
Dan selama di Mina, hendaknya para jamaah haji mengenang kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar ketika melawan setan di tempat tersebut, yang peristiwanya diabadikan Alloh Swt. dalam syari’at pekerjaan haji.

TGL. 11 DZULHIJJAH

Jam : 12.00 siang setelah sholat Dluhur
Berangkat ke Mina untuk melempar Jumroh Ula, Wustho, dan Aqobah, dengan bekal 21 (dua puluh satu) butir kerikil. Sesampainya di Mina membaca do’a seperti tersebut diatas.

Melempar 3 (tiga) jumroh Ula, Wustho, Aqobah. Masing-masing 7 (tujuh) lontaran dengan mengucapkan “Bismillah Allohu Akbar” di setiap lemparan. Melontar dengan 2 (dua) jari, dan batu kerikil harus masuk kedalam sumur jumroh.
Setelah melempar jumroh kembali ke kemah / maktab.

TGL. 12 DZULHIJJAH

Jam : 12.00 siang setelah Sholat Dluhur
Berangkat ke Mina untuk melempar Jumroh Ula, Wustho, dan Aqobah
Dengan bekal 21 (dua puluh satu) butir batu kerikil
Sesampainya di Mina membaca do’a seperti diatas.
Melempar 3 (tiga) jumroh Ula, Wustho, Aqobah.
Masing-masing 7 (tujuh) lontaran.
Mengucapkan “Bismillah Allohu Akbar” di setiap lemparan.
Melontar dengan 2 (dua) jari.
Batu kerikil harus masuk kedalam sumur jumroh.
Setelah melempar jumroh kembali ke kemah / maktab.

TGL. 13 DZULHIJJAH

Jam : 12.00 siang setelah Sholat Dluhur ; Apabila keadaan tidak memungkinkan boleh dilakukan pagi hari setelah terbitnya matahari.
Berangkat ke Mina untuk melempar Jumroh Ula, Wustho, dan Aqobah (Nafar Tsani).
Dengan bekal 21 (dua puluh satu) butir batu kerikil
Sesampainya di Mina membaca do’a seperti diatas.
Melempar 3 (tiga) jumroh Ula, Wustho, Aqobah.
Masing-masing 7 (tujuh) lontaran.
Mengucapkan “Bismillah Allohu Akbar” di setiap lemparan.
Melontar dengan 2 (dua) jari.
Batu kerikil harus masuk kedalam sumur jumroh.

Setelah melaksanakan mabit dan menyempurnakan lempar jumroh di Mina, lalu pulang ke maktab, istirahat secukupnya untuk mempersiapkan diri melaksanakan thowaf ifadloh dan Sa’i. Pada siang atau sore atau malam hari, atau hari-hari yang lain.

Pelaksanakan Thowaf Ifadloh dan Sa’i Hajji tata caranya seperti Thowaf dan Sa’i Umroh, hanya saja dengan memakai pakaian biasa, ya’ni tidak dengan memakai pakaian Ihrom.

Setelah mengerjakan Sa’i melaksanakan Tahallul Tsani atau disebut tahallul besar. Memotong rambut sedikitnya 3 helai mendahulukan yang kanan kemudian yang kiri lalu yang atas. (tidak boleh memotong rambut yang terjuntai dari kulit kepala). Dengan berdo’a:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَشْهَدُ عِنْدَ الْحِسَابِ.

Bebas dari larangan-larangan Ihrom Hajji yang diharamkan termasuk Jima’.

Kini Alloh Ta’ala sudah memberi karunia yang sangat besar kepada kita dengan menaqdirkan berhajji ke Baitulloh Al-Harom dan menunaikan manasiknya dengan sebaik-baiknya.

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ

Kami mohon kepada Alloh Ta’ala agar menaqdirkan kami dan kalian pergi Hajji dan Umroh berkali-kali dan menjadikan Hajji dan Umroh kita Maqbul, Mustajab, dan Mabrur. Insya Alloh. Amien.

PELAKSANAAN THOWAF WADA’

Setelah menyempurnakan semua pekerjaan haji dan ‘umroh, tibalah saatnya untuk pulang ke Tanah Air atau yang akan keluar dari Makkatul-Mukarromah untuk berziaroh ke Madinatul-munawwaroh, hendaknya menyelesaikan lebih dulu segala urusannya dan berkemas menyiapkan semua barang bawaannya, sehingga menjadikan thowaf wada’ (thowaf perpisahan) adalah merupakan pekerjaan yang terahir dari aneka macam aktivitas ibadah di Makkah.

Adapun cara-cara melaksanakan thowaf wada’ (perpisahan dengan Ka’bah) seperti thowaf biasa dan berpakaian biasa pada umumnya.
Setelah selesai dari thowaf hendaklah sholat dua roka’at dibelakang maqom ibrohim dan berdo’alah dengan tunduk dan husyu’ memohon bimbingan, perlidungan, pertolongan dan pertanggungan Alloh swt. dalam segala urusan dunia dan urusan akhirat, dan panggillah sekali lagi untuk orang-orang yang anda cintai, agar Alloh swt. memudahkan mereka semua berhaji.
Setelah itu hadapkan dada dan wajah ke arah multazam dengan berdo’a:

اَللّهُمَّ لاَتَجْعَلْ هَذَا اخرَ عَهْدِيْ بِبَيْتِكَ الْحَرامِ وَ اِنْ جَعَلْتَهُ اخرعَهْدِيْ فعَوَّضْنِ عَنْهُ الْجَنَّةَ

Artinya:
“Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan (ziarohku) ini sebagai saat perjumpaan yang terahir dengan rumah-Mu yang suci. Tetapi sekiranya Engkau telah menetapkannya sebagai saat perjumpaanku yang terahir, maka karuniakanlah sorga bagiku, sebagai penggantinya.”

Sebelum meninggalkan Masjidil-harom minumlah air zam-zam sepuasnya hingga kenyang, kemudian berjalanlah keluar dengan tenang bersama harapan anda akan bisa berziarah lagi di tempat yang berkeberkahan ini .. Amiiien ….

وَالله ُاَعْلَمُ بِصَّوَابْ

MANASIK HAJI PONDOK KH MAS ABDURROHIM SAMPURNAN BUNGAH GRESIK

PEKERJAAN SEJAK PERSIAPAN KEBERANGKATAN SAMPAI BER-IHROM

Ada tiga bagian yang harus diperhatikan oleh para calon haji yaitu:
Yang berkaitan dengan harta:
Apabila telah menetapkan niat untuk berhaji, hendaklah ia bertobat kepada Alloh swt. atas segala dosa-dosa yang pernah diperbuatnya serta mengiringi taubatnya itu dengan mengingat yang mungkin telah terjadi kelainan atau kesalahan dalam mengumpulkan hartanya, antara lain: mengembalikan kepada yang berhak semua harta yang diperoleh secara dholim. Membayar dan menyelesaikan hutang-hutangnya yang telah disepakati perjanjiannya.
Mengembalikan semua uang atau barang yang dititipkan orang lain kepadanya. Menyiapkan nafkah atau biaya hidup bagi semua orang yang berada dibawah tanggung jawabnya sejumlah yang mencukupi kebutuhan hidup mereka selama ditinggalkan sampai ia kembali lagi kerumahnya mengeluarkan sedekah ketika akan berangkat. Hendaknya bekal yang dibawanya berupa barang atau uang dari yang halal dan baik, jangan berlebihan agar tidak terjadi pemborosan, jangan pula terlalu sedikit agar tidak meminta-minta, sebab ada kalanya butuh pengeluaran tambahan untuk dirinya ataupun untuk kaum yang membutuhkan bantuan.
Yang berkaitan dengan teman seperjalanan:
Hendaknya ia mencari teman yang sholeh, senang mengerjakan amal kebaikan, bersedia mengingatkan yang haq dan selalu mengingatkan tentang kesabaran bila orang lain lupa, suka menolong orang lain, dan berusaha membantu bila orang lain membutuhkan, memberi semangat bila ia lemah, menimbulkan keberanian bila ia takut.

Yang berkaitan dengan menjelang keberangkatan:
Hendaklah ia mandi taubat pada malam sebelum keberangkatannya menuju Haromain.
Niat mandi taubat:

نَوَيْتُ غُسْلَ التَّوْبَةِ لله تَعَالَى.

Kemudian sholat sunnat taubat dua roka’at.
Niat sholat:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى.

Roka’at pertama setelah membaca surat “Al-Fatihah” membaca surat “Al-Kafirun”, roka’at kedua setelah membaca surat “Al-Fatihah” membaca surat “Al-Ikhlash”. Setelah selesai sholat membaca do’a istighfar:

رَبِّ اغْفِرْلِى وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التًّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Apabila telah tiba saatnya menjelang berangkat, sebelum keluar dari rumah, terlebih dahulu hendaklah sholat sunnat safar dua roka’at.
Niat sholat sunnat Safar:

اُصَلِِّى سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى.

Setelah selesai sholat membaca do’a:

اَللّهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِى اْلأَهْلِ. اَللّهُمَّ اِ نِّي اَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ اْلمُنْقَلَبِ وَسُوْءِ اْلمَنْظَرِ فِي اْلأَهْلِ وَاْلماَلِ.
اَللّهُمَّ اطْوِ لَنَا اْلأَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ. اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمُ أَبْلِغْ رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلاَمَ, وَأدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَا لَيْتَ ياَ َذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

Lalu membaca surat “Al-Ikhlash” sebelas kali, surat “Al-Mu’awwidzatain” tiga kali dan membaca

اِنَّ الَّذِىْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَالدُّكَ اِلَىَ مَعَاد.
7x
Kemudian menulis satu ayat tersebut di dinding rumah.

اِِنَّ الَّذِىْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَالدُّ كَ اِلَىَ مَعَاد

Setelah selesai semua pekerjaan yang tersebut diatas, janganlah tergesa-gesa keluar dari rumah, berdirilah sejenak dipintu rumah dengan mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ ×3

PEKERJAAN UMROH

TATA CARA BERIHROM

Niat mandi ihrom.

نَوَيْتُ غُسْلَ اْلإِحْرَامِ ِللهِ تَعَالَى.

Bagi laki-laki: memakai pakaian ihrom dengan dua kain putih (1 disarungkan dan 1 diselendangkan).
Memakai wewangian sebelum niat.
Memulai ihrom dari Miqod (Bandara Jeddah) bagi gelombang II dan dari Bir ‘Ali Madinah bagi gelombang I.

Niat Ihrom Umroh:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ عُمْرَةً،
نَوَيْتُ اْلعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا للهِ تَعَالَى. لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَشَرِيْكَ لَكَ.

Membaca do’a:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اَللّهُمَّ اُحَّّرِمُ لَكَ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَجَسَدِيْ وَجَمِيْعِ جَوَارِحِيْ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ حَرَّمْتَهُ عَلَى الْمُحْرِمِ اَبْتَغِيْ بِذَالِكَ وَجْهَكَ الْكَرِيْمَ. ياَرَبَّ الْعاَلَمِيْنَ.

Memperbanyak bacaan Talbiyah, Dzikir, dan do’a.
Memperhatikan dan menjaga larangan-larangan dalam ber-ihrom seperti yang telah disebutkan diatas.

Do’a masuk Masjidil Harom

اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّناَ رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ. أَبْلِغْ رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلاَمَ، وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ اَللّهُمَّ افْتَحْ لِي اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَمَغْفِرَتِكَ وَاَدْخِلْنِيْ فِيْهَا، بِسْم اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

PELAKSANAAN THOWAF

Do’a melihat ka’bah:

اَللّهُمَّ زِدْ بَيْتِكَ تَشْرِيْفاً وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمًا وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Rosululloh saw. Bersabda:
“Thowaf di sekitar Ka’bah seperti halnya sholat, hanya saja diperbolehkan berbicara di dalamnya, maka barang siapa yang ingin berbicara hendaknya tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.”

Pekerjaan thowaf, baik thowaf qudum, thowaf sunnat, thowaf ifadhoh maupun thowaf wada’, hendaknya menghadapkan wajah dan hatinya kepada Alloh swt. Sambil berdo’a memohon kepada-Nya untuk kebaikan dunia dan akhirat dalam bahasa apapun. Dan hendaknya memperhatikan dan memenuhi syarat-syarat keabsahan sholat.

• Thowaf dilakukan di luar ka’bah dan di dalam Masjidil-harom.
• Suci dari hadas besar dan kecil.
• Suci tempat dan pakaian.
• Menutup aurot serta membenarkan letak pakaian ihrom.
• Menjadikan posisi Ka’bah di sebelah kiri.
• Memulai thowaf dari garis lurus Hajar Aswad.
• Berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran.

Niat Thowaf 7 putaran:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ الطَّوَّافََ سَبْعَةَ اَسْوَةٍِ ِللهِ تَعَالَى.

Memulai Thowaf dari garis lurus Hajar Aswad dengan mengangkat tangan kanan (diarahkan ke Ka’bah atau Hajar Aswad) dengan mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ واَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Kemudian mengecup telapak tangan (cium jauh), diteruskan membaca do’a:

اَللَّهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ، وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Ya Alloh, karena iman kepada-Mu, percaya kepada kitab suci-Mu, dan karena memenuhi janji-Mu serta mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasalam.”

Jika sampai di garis lurus rukun Yamani, dianjurkan mengangkat tangan kanan, telapak tangan diarahkan pada rukun Yamani sambil mengucap :

بِسْمِ اللهِ وَالله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ، الله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Lalu mengecup telapak tangan (cium jauh).

Di setiap melintasi antara rukun Yamani dan Hajar Aswad dianjurkan berdoa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ، يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

Tidak boleh menyentuh Ka’bah maupun Hijir Isma’il, karena Hijir Isma’il termasuk bagian dari Ka’bah. Apabila menyentuhnya maka thowafnya dinyatakan batal dalam satu putaran yang dilaluinya, dan harus mengulang dari arah Hajar Aswad pada satu putaran yang batal tersebut. Demikian dilakukan berulang-ulang sampai tujuh kali putaran.

Setelah menyelesaikan ketujuh putaran thowaf, hendaknya menuju “multazam” yaitu dinding Ka’bah antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Hendaknya menempelkan dada serta telapak tangan pada dinding “multazam” demikian juga pipi kanan dan kiri juga bagian jidat. Dalam sikap berdiri seprti itu ucapkanlah pujian–pujian kepada Alloh, bersholawat bagi Nabi Muhammad saw. serta para Nabi dan Rosul semuanya. Kemudian berdo’alah memohon ampunan kepada Alloh swt. atas segala dosa kesalahan yang lalu yang sekarang dan yang akan datang, dan mohonlah bagi segala kebutuhan agar Alloh swt. memenuhinya. Itulah tempat “Mustajab” dikabulkannya do’a-do’a.

Apabila telah selesai mengerjakan itu semua, berjalanlah menuju “Maqom Ibrohim” untuk mengerjakan sholat sunnat mutlak 2 roka’at dibelakang Maqom Ibrohim.

Niat sholat:

اُصَلِِّى سُنَّةَ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى.

Pada roka’at pertama setelah “Al-Fatihah” membaca surat “Al-Kafirun”, dan pada roka’at kedua setelah “Al-Fatihah” membaca surat “Al-Ikhlas”.
Kemudian berdo’alah kepada Alloh swt. untuk pribadi dan untuk orang-orang yang dicintai, serta panggillah mereka untuk melaksanakan “Haji dan Umroh” dari tempat ini sebagai penyambung panggilan Nabi Ibrohim as. dengan mengucapkan :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Wahai anakku / saudaraku ….
Aku menyampaikan kepadamu panggilan:

خَلِيْلُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
عَن مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمُ الحَجُّ فَحَجُّوا

“Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan kalian berhajji”
Maka berhajilah dengan berseru:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ

Semoga Alloh Ta’ala menakdirkan kamu dan seluruh keturunanmu dapat berhajji dengan bekal yang cukup dan bekal ketaqwaan ……”

اَمِيْنَ، يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِيْمٍ

Setelah selesai sholat dua roka’at dan berdo’a, berjalanlah menuju pancuran air “Zam-Zam”, minumlah hingga kenyang, sisakan sedikit air zam-zam dari yang diminum lalu siramkan/usapkanlah di kepala.

Adab minum air “Zam-Zam”

• Boleh minum dengan berdiri atau duduk.
• Mengambil dan minum dengan tangan kanan.
• Sebelum minum membaca Basmalah dan berdo’a.
• Menghadap kiblat.
• Jika ingin minum lagi, berhentilah sejenak lalu bernafas tiga kali.
• Setelah minum membaca Hamdalah.
• Tidak membuang sisa Zam-Zam yang diminumnya.

Setelah mengerjakan itu semua, berjalanlah menuju buki Shofa untuk melaksanakan Sa’i.

PELAKSANAAN SA’I

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam Sa’i ialah:
• Niat.
•Dilakukan setelah thowaf. Dimulai dari Shofa diakhiri di Marwa.
• Tujuh kali putaran.
• Melaksanakan Sa’i tidak wajib suci dari hadas besar maupun kecil.
• Dilakukan sesudah Thowaf ditempat “Mas’a” yaitu jalan yang terbentang antara bukit “Shofa dan Marwah”.

Sesampai di buki Shofa, berdirilah sambil menghadap kearah “Ka’bah”, kemudian membaca do’a:

اِبْدَأْبِمَا بَدَأَ اللهُ وَرَسُولُهُ، إنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيْمَ .
اَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ، الله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

Lalu niat Sa’i 7 lintasan :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ السَّعْيَ سَبْعَةَ اَسْوَةٍ ِللهِ تَعَالَى

Lalu mengangkat kedua tangan diarahkan ke Ka’bah dengan mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ وَالله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Lalu berjalan menuju bukit Marwah, bila sampai di lembah atau pada tanda lampu hijau, bagi laki-laki hendaklah berlari-lari kecil, bagi wanita berjalan biasa, sambil mengucapkan do’a:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ، اِنَّكَ تَعْلَمُ مَا لاَنَعْلَمُ، اِنَّكَ اَنْتَ الله اْلأَعَزُّ اْلاَكْرَمُ.

Sampai tanda lampu hijau berikutnya.

Bila telah dekat bukit Marwah dan mulai menaiki lereng bukit, membaca:

إنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيْمَ . اَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ، الله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Sesampainya di bukit Marwah berhenti sejenak menghadap kearah Ka’bah sambil mengangkat kedua tangan dengan mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ وَالله ُاَكْبَرُ ، اَلله ُاَكْبَرُ، اَلله ُاَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Demikian seterusnya do’a yang di baca pada setiap menaiki tanjakan lereng bukit Shofa dan Marwah, dan disetiap melintasi lembah atau tanda lampu hijau.

Perjalanan dari bukit Shofa ke bukit Marwah terhitung satu kali jalan, dan dari bukit Marwah ke bukit Shofa terhitung satu kali jalan. Demikian dilakukan berturut-turut dari Shofa ke Marwah, dari Marwah ke Shofa, dan seterusnya.

Bila telah selesai tujuh kali perjalanan/putaran dan berakhir di bukit Marwah, maka berdo’alah kepada Alloh swt. dengan sungguh-sungguh:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا، وَعَلَى طَاعَتِكَ وَشُكْرِكَ اَعِنَّا، وَعَلَى غَيْرِكَ لاَتَكِلْنَا، وَعَلَى اْلإِيْمَانِ وَاْلإسْلاَمِ الْكَامِلَيْنِ جَمْعًا تَوَفَّنَا، وَاَنْتَ رَاضٍ عَنَّا. اَللّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي اَبَدًا مَا اَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي اَنْ اَتَكَلَّفَ مَالاَيَُعْنِيْنِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي، يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ.

Kemudian berdo’alah apa saja yang menjadi harapan anda di dunia dan di akhirat.
Semoga Alloh mengabulkan dan menerima semua amal ibadah kita dari awal hingga akhir.

Setelah selesai mengerjakan itu semua, lalu melaksanakan tahallul.

TAHALLUL (MENCUKUR RAMBUT)

Sebab-sebab tahallul ada tiga:
• Setelah melaksanakan Sa’i.
• Setelah melempar jumroh aqobah.
• Setelah melaksanakan Thowaf ifadhoh, bagi yang sudah melaksanakan Sa’i sebelum pekerjaan hajji, ya’ni bagi yang melasanakan Hajji Ifrod.

Tahallul/memotong/mencukur rambut kepala. Sedikitnya menggunting tiga helai rambut yang berada diatas kulit kepala, tidak boleh menggunting rambut yang terjuntai, dengan membaca do’a:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ اجْعَلْ لِكُلِّ شَعْرَةٍ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَشْهَدُ عِنْدَ الْحِسَابِ.

Disunnahkan menghadap kiblat. Dimulai dari rambut kepala bagian kanan lalu yang kiri kemudian yang atas.
Bagi laki-laki dianjurkan mencukur habis seluruh rambut kepala. Sedangkan bagi orang yang tidak punya rambut atau botak, cukup dengan mengusapkan mata pisau diatas kulit kepalanya. Adapaun bagi wanita cukup menggunting beberapa helai saja, sedikitnya tiga helai rambut yang di atas kulit kepala.

Setelah anda bertahallul maka anda bebas dari larangan-larangan Ihrom yang diharamkan.

وَالله ُ اَعْلَمُ بِصَّوَابْ

T A H A L L U L

Alloh swt berfirman:
“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran-kotoran mereka, memotong rambut, mengerat kuku dan memenuhi nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thowaf di rumah yang tua itu.”
(QS. Al-Hajj: 29)

Tahallul berma’na “menjadi halal/boleh” setelah melakukan serangkaian amalan ibadah haji atau umroh. Setelah tahallul, semua yang dilarang dalam berihrom diperbolehkan (dibebaskan). Tahallul bisa dengan mencukur gundul, atau memotong sebagaian rambutnya minimal tiga helai rambut, disunnahkan tiga kali memotong dimulai dari rambut kepala bagian kanan lalu yang kiri kemudian yang atas. Sedangkan bagi wanita cukup hanya tiga helai saja.

Di dalam ilmu hikmah, tahallul bukan hanya sekedar memotong rambut, sebagaimana Nabi saw ajarakan kepada para pengikutnya. Lebih dalam lagi, tahallul itu memiliki falsafah sangat mendalam, yaitu; mennghilangkan pikiran-pikiran kotor yang ada di dalam otak manusia. Dengan mencukur habis rambut kepala hingga pelontos, atau mencukur rambut saja, diharapakan maksiat-maksiat yang bersumber dari kepala “otak” yang berupa angan-angan atau hayalan, bisa hilang bersama rambut yang dibuang.

Melalui Tahallul, Nabi saw ingin menyampaikan kepada para pengikutnya agar supaya otaknya dibersihkan dari segala kotoran yang bisa menodai ibadah-ibadah yang selama ini ia lakukan hususnya ibadah haji yang sedang ditunaikan, sebagaimana memotong dan mencukur rambut yang melekat pada kulit kepala.

Tidaklah berlebihan jika Nabi Muhammad saw kemudian mengatakan bahwa “tidak ada balasan paling tepat bagi mereka yang hajinya mabrur, kecuali balasan sorga.”
Pernyataan itu tentu saja diperuntukkan bagi mereka yang membersihkan niatnya hanya karena melaksanakan perintah Alloh swt semata, yang kemudian ditandai dengan Tahallul.

Semoga dengan rontoknya ribuan rambut di kepala para hujjaj ketika ia bertahallul, maka rontok pula ribuan angan-angan kotor, keangkuhan dan kesombongannya yang dapat menghalangi diterimanya haji, dengan demikian diharapkan pekerjaan ibadahnya menjadi tawadlu’ dan rendah diri, sehingga dapat meraih haji yang mabrur.

MANASIK HAJI PONDOK KH MAS ABDURROHIM SAMPURNAN BUNGAH GRESIK

SYARAT RUKUN WAJIB DAN SUNNAH SUNNAH HAJI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
بِسْمِ اللهِ وَ بِاللهِ وَ بِمُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله.
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله.

Segala puji bagi Alloh, Tuhan semesta alam yang berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji ke Ka’baitulloh adalah kewajiban manusia terhadap Alloh (bagi) yang sanggup mengadakan perjalanan menuju kesana. Barang siapa yang mengingkari, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya dari semesta alam.”
(QS. Ali Imron: 97)

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw. Yang telah bersabda:
خُذُوْا عَنِّيْ مَناَسِكَكُم ْ.

“Ambillah contoh dariku (dalam) pelaksanaan haji kalian.”
Semoga juga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada keluarga beliau yang suci, para sahabat beliau yang terpilih, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik.

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَشَرِيْكَ لَكَ.

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu Yaa Alloh, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu yang tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula segala kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyah adalah jawaban manusia terhadap seruan Alloh swt. Untuk beribadah haji ke rumah-Nya, sebagai ketaatan mengikuti perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya, tunduk dan patuh kepada hukum-hukum-Nya, dan akan demikian seterusnya.

IBADAH HAJI adalah rukun Islam yang kelima dan diwajibkan oleh Alloh swt. Hanya satu kali sepanjang hidup atas orang-orang muslim yang mampu menunaikannya, yakni memiliki kesanggupan biaya serta sehat jasmani dan rohani, untuk mengerjakan perintah tersebut.

 الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan (khususnya ) di dalam masa mengerjakan haji, dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Alloh mengetahuinya. Berbekallah, dan sesung-guhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.”
(QS. Al-Baqoroh, 197).

______________
Keterangan :
Rofas: yaitu bersentuhan, bercumbu, bersetubuh dan segala macam yang menimbulkan syahwat.
Fusuq: yaitu ucapan dan perbuatan yang melanggar norma-norma susila atau agama.
Jidal: yaitu perbuatan-perbuatan yang menimbulkan perselisihan, perpecahan dan permusuhan.

YANG MEMBEDAKAN
HAJI DAN UMROH

PEKERJAAN ‘UMROH
Miqod, Thowaf. Sa’i, dan Tahallul.
Umroh bisa dikerjakan kapan saja, tidak ada batasan waktu.

PEKERJAAN HAJI
Miqod, Wukuf di ‘Arofah, Mabit di Muzdalifah, Mabit dan Jumroh di Mina, Thowaf, Sa’i, Tahallul.
Haji hanya boleh dilakukan dalam bulan-bulan yang telah ditentukan, yaitu satu tahun sekali.

PEKERJAAN HAJI

Pekerjaan haji dan pekerjaan ‘umroh adalah suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
Ada tiga macam cara dalam mengerjakan haji dan ‘umroh.

1. HAJI TAMATTU’ ialah mendahulukan pelaksanaan ‘umroh, kemudian melaksanakan haji. Yaitu dengan cara, “ber-ihrom” dalam bulan-bulan haji, yakni: bulan Syawwal, Dzul-qo’dah sampai tanggal 10 Dzul-hijjah.

Ihrom dilakukan dari miqod, yang telah ditentukan tempatnya. Lalu niat ‘umroh, kemudian melaksanakan “thowaf” mengitari Ka’bah dengan tujuh kali putaran dan melaksanakan “Sa’i” tujuh kali lintasan antara bukit Shofa dan Marwah.

Setelah selesai thowaf dan sa’i, segera melak-sanakan “tahallul” memotong rambut sedikitnya tiga helai dari rambut yang ada di atas kulit kepala. Setelah selesai melaksanakan rangkaian ‘umroh, thowaf dan sa’i maka pekerjaan haji dilaksanakan bila telah tiba waktunya.

2. HAJI IFROD yaitu mengerjakan haji terlebih dahulu secara sempurna, bila telah menyelesaikannya, maka hendaknya melaksanakan ‘umroh, dengan mengambil miqod dari kawasan di luar tanah harom, di antara tempat yang utama ialah: Ji’ronah, Tan’im, dan Hudaibiyah.

Cara melaksanakan Haji Ifrod, masuk Makkah pada bulan haji dengan ber-ihrom haji, mengerjakan “thowaf kudum” thowaf selamat datang, tidak melepas ihrom sampai selesainya pelaksanaan haji atau pada saat selesainya jumroh aqobah yang pertama kemudian tahallul.

3. HAJI QIRON adalah melaksanakan haji dan ‘umroh secara bersamaan dalam satu niat atau satu pekerjaan. Haji Qiron cukup melaksanakan perkerjaan haji saja, sedangkan pekerjaan ‘umroh secara otomatis telah gugur, tergabung dalam pekerjaan-pekerjaan haji. Seperti gugurnya kewajiban berwudlu’ yang secara otomatis tergabung dalam pelaksanaan mandi wajib.

__________________
1. Haji Tamattu’ dikenakan dam (denda) berupa seekor kambing. Bisa diganti dengan puasa di Makkah tiga hari berturut-turut, dan tujuh hari berturut-turut di tanah air.
2. Haji Ifrod tidak dikenakan dam (denda).
3. Haji Qiron diwajibkan membayar dam (denda) seekor kambing.

SYARAT-SYARAT SAHNYA HAJI

Diantara syarat-syarat sahnya haji adalah :
Islam, Tamyis, berihrom di bulan haji, menyempurnakan rukun-rukun haji.

1. ISLAM, haji di anggap sah apabila dilakukan oleh seorang muslim, walaupun belum dewasa.

2. TAMYIZ, walaupun belum dewasa, seorang anak yang “mumayyiz” yaitu kira-kira berusia enam tahun ke atas dan sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

3. BERIHROM DI BULAN HAJI, hendaknya meniatkan “ihrom haji” atas namanya sendiri bagi yang dewasa. Dan bagi yang masih kecil belum tamyiz, hendaknya walinya yang meniatkan “ihrom” untuk-nya, lalu diajak bersama-sama mengerjakan apa yang harus dikerjakan dalam ber-haji.

4. MENYEMPURNAKAN RUKUN-RUKUN HAJI berpakaian ihrom, wukuf di Arofah, thowaf Ifadloh, sa’i, dan tahallul.

SYARAT WAJIBNYA HAJI

Diantara syarat wajibnya haji adalah : Islam, berakal, dewasa, merdeka, Istitho’ah.

1. ISLAM, haji diwajibkan atas setiap muslim satu kali seumur hidupnya.
2. BERAKAL, tidak gila.
3. DEWASA, sudah memasuki masa baligh.
4. MERDEKA, bukan budak.
5. ISTITHO’AH (mampu), kemampuan di bagi menjadi dua, secara jasmani dan rohani :

Pertama: kemampuan untuk melakukannya sendiri berdasarkan kesehatan badan, tidak terhalang oleh penyakit. Dan apabila seorang ibu atau ayah yang menderita penyakit menahun atau lumpuh, hendaklah putranya menawarkan secara sukarela untuk menggantikan atau mewakili dalam melaksanakan ibadah hajinya, maka sang ibu atau ayah sudah dianggap memiliki “kemampuan”. Aman sepanjang perjalanan, tidak melewati lautan atau daratan yang berbahaya atau daerah musuh yang membahayakan keselamatan harta benda dan jiwa. Cukup hartanya untuk biaya perjalanan pergi dan pulangnya, baik yang sudah berkeluarga atau belum. Di samping itu harus pula memiliki harta yang cukup untuk membiayai keluarga yang menjadi tanggungan atau kewajiban selama kepergiannya.
Kedua: Mampu menguasai manasik secara baik dengan mengetahui syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya serta larangan-larangannya.

_____________________
Adapun orang yang meninggal dunia sebelum melaksanakan ibadah haji, padahal dia memiliki kemampuan, maka yang demikian itu merupakan suatu kelalaian yang sangat berat di sisi Alloh swt.

RUKUN-RUKUN HAJI

Ihrom, Wukuf di Arofah, Thowaf Ifadhoh, Sa’i, dan Tahallul.

1. IHROM ialah bagi laki-laki: Pakaian yang terbuat dari dua lembar kain putih yang tidak berjahit, satu lembar disarungkan dan satu lembar diselendangkan. Sedangkan bagi wanita: Pakaian layaknya seperti dalam sholat, (rukuh). Dipakai dari “miqod” yaitu tempat yang telah di tentukan untuk memulai pekerjaan haji.

2. WUKUF DI AROFAH, pada tgl. 9 Dzulhijjah, masuknya waktu wukuf mulai tengah hari “ba’da zawal” sampai waktu subuh “fajar”. Boleh dilakukan sesaat cukup waktu untuk niat bagi yang sedang sakit.

3. THOWAF IFADHOH, mengitari Ka’baitulloh, tujuh kali putaran, dimulai dari Rukun Iroqi “Hajar Aswad” dan diakhiri di “Hajar Aswad” pula.

4. SA’I, berjalan antara bukit “Shofa” dan bukit “Marwah” tujuh kali perjalanan. Dimulai dari bukit “Shofa” diakhiri dibukit “Marwah”. Dari bukit “Shofa” menuju bukit “Marwah” terhitung satu perjalanan, demikian seterusnya.

5. TAHALLUL, memotong rambut yang berada di atas kulit kepala sedikitnya tiga helai.

___________________
Barang siapa meninggalkan rukun-rukun haji, maka hajinya terkatung-katung selama ia belum melaksanakan kembali rukun yang ditinggalkannya itu. Jika meninggalkan wukuf, dikenakan denda seekor kambing, atau puasa 10 hari, dengan cara: Puasa tiga hari berturut-turut, dilaksanakan di Makkah, dan tujuh hari berturut-turut dilaksanakan di tanah air, serta wajib baginya mengkodlo’ hajinya di tahun berikutnya.

WAJIB-WAJIBNYA HAJI

1. NIAT IHROM, memulai melaksanakan haji dari miqod.

2. MABIT DI MUZDALIFAH, bermalam di Muzdalifah. Masuknya waktu “Mabit” mulai tengah malam sampai fajar (subuh). Mabit boleh dilakukan meskipun hanya sesaat, yaitu cukup waktu untuk niat mabit.
3. MABIT DI MINA,5 bermalam di Mina pada malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzul-hijjah.

4. MELEMPAR JUMROH, yaitu melontar jumroh Ula, Wustho, dan Aqobah dengan tujuh buah batu kerikil yang dilontarkan kelubang sumur jumroh. Apabila ada yang tidak masuk ke lubang sumur, maka hendaknya mengulang lontaran sejumlah kerikil yang tidak masuk ke lubang sumur.

pertama: melempar Jumroh ‘Aqobah waktu mulai yang diperbolehkan pada malam tanggal 10 Dzul-hijjah, tengah malam sampai fajar (subuh) tanggal 11 Dzul-hijjah.

Kedua: melempar jumroh Ula, Wustho, dan ‘Aqobah, waktu mulai yang diperbolehkan tanggal 11 Dzul-hijjah, tengah hari sampai fajar (subuh).

Ketiga: melempar jumroh Ula, Wustho, dan ‘Aqobah, waktu mulai yang diperbolehkan tanggal 12 Dzul-hijjah, tengah hari sampai fajar (subuh). Bagi yang mengikuti “nafar awal” hendaknya keluar dari Mina sebelum waktu tenggelamnya matahari (maghrib).

Apabila waktu tenggelamnya matahari masih belum keluar dari tanah Mina, maka harus mengikuti ” nafar tsani ” yaitu menyempurnakan melempar jumroh pada tanggal 13 Dzul-Hijjah, waktu yang diperbolehkan mulai terbitnya matahari sampai tenggelamnya matahari (maghrib).

5. THOWAF WADA’, Thowaf perpisahan, dilakukan sebelum keluar dari kota Makkah atau menjelang pulang. (Thawaf wada’ hukumnya sunnah menurut mazhab Syafi’i).

_______________
Apabila meninggalkan diantara salah satu kewajiban haji, maka dikenakan “dam” seekor kambing, jika tidak mampu membayar “dam”, maka bisa diganti dengan berpuasa di Makkah tiga hari berturut-turut dan dilanjutkan tujuh hari berturut-turut di tanah air.

SUNNAH-SUNNAH HAJI

Mandi sebelum masuk Makkah. Mandi sebelum ber-ihrom. Memakai wewangian sebelum niat ihrom. Mengucapkan niat ihrom dengan lisan. Memperbanyak dzikir dan doa. Kemudian menjaga lisan dari berbicara kotor, serta menjaga sikap dan tingkah laku dari perbuatan buruk.

Masuk Makkah sebelum ke Arofah. Masuk Masjidil-harom melalui pintu “Bani Syaibah” (Babussalam). Melakukan “thowaf qudum” (thowaf baru datang).
Mampir atau menginap di Mina sebelum ke Arofah.
Menginap di Muzdalifah (Masy’aril-harom) sampai fajar. Melaksanakan Jumroh Aqobah setibanya dari Muzdalifah.

Membaca takbir:
بِسْمِ اللهِ وَاَللهُ أَكْبَرُ.

di setiap lemparan. Melempar dengan dua jari (menggunakan jari telunjuk dan jempol).
Melaksanakan Jumroh Aqobah sebelum tergelincirnya matahari (waktu dluhur) pada tanggal 10 Dzul-hijjah.
Berhenti sesaat (berdo’a) di antara dua jumroh.

KETENTUAN MIQOD
IHROM HAJI DAN ‘UMROH

Pelaksanaan ihrom dengan mengambil miqod di Bir ‘Ali Madinah, bagi jamaah haji gelombang I.
Dan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah bagi gelombang II.
Miqod haji Tamattu’ di pondokan (Makkah), dianjurkan melaksanakan ihrom pada tanggal 8 Dzul-hijjah sebelum waktu dhuhur.

CARA BER-IHROM

Mandi ketika akan memulai ihrom di tempat miqod. Niat mandi ihrom:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ غُسْلَ اْلإِحْرَامِ ِِللهِ تَعَالَى.

Bagi laki-laki: memakai pakaian dua lembar kain putih tidak berjahit, satu lembar dipakai sebagai sarung dan satu lembar berikutnya dipakai untuk selendang, dengan cara bagian ujung kiri kain ihrom diletakkan di atas pundak kiri, bagian tengah kain ihrom diletakkan di bawah lengan kanan dan ujungnya diletakkan di atas pundak kiri.

Ihrom bagi wanita: diperbolehkan menggunakan kain yang berjahit, yaitu sejenis pakaian penutup aurot seperti jilbab, kaos kaki, celana dan baju yang longgar, yang tidak tampak bentuk lekuk-lekuk tubuh, atau “rukuh” layaknya pakaian sholat.

Memakai wewangian (parfum) sebelum niat ihrom.

Sholat ihrom dua roka’at:

اُصَلِِّى سُنَّةَ اْلإِحْرَامِ َرَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى.
Jika ihromnya untuk umroh, maka niatnya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ عُمْرَةَ ، نَوَيْتُ اْلعُمْرَةََ وَأَحْرَمْتُ بِهَا للهِ تَعَالَى.

Jika ihromnya untuk haji tamattu’ atau haji ifrod, maka niatnya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ حَجًّا ، نَوَيْتُ اْلحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى.

Jika ihromnya untuk haji qiron, maka niatnya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ حَجًّا وَعُمْرَةً ، نَوَيْتُ اْلحَجَّ وَاْلعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِمَا ِللهِ تَعَالَى.

LARANGAN-LARANGAN
DALAM BER- IHROM

1. Bagi laki-laki: tidak boleh mengenakan pakaian yang berjahit, seperti: celana, baju atau kemeja, sorban, sepatu, atau pakaian yang melingkari badan sejenis sarung dan lain sebagainya. Juga tidak boleh menutup kepala secara langsung yang menyentuh kepala, seperti: kopyah, topi, sorban dan sejenisnya, walaupun dengan kain ihrom yang dipakainya. Yang diperbolehkan baginya hanya kain panjang atau handuk yang dililitkan tubuhnya, juga dibolehkan memakai sandal yang terbuka.

2. Bagi wanita: tidak boleh menutup muka dan menutup telapak tangan seperti: cadar atau masker, dan sarung tangan atau sejenisnya. Juga tidak boleh berhias atau bersolek.

3. Tidak boleh memotong rambut, atau pun menyisir, menggaruk tubuh yang mengakibatkan tercabut atau jatuhnya bulu/rambut.

4. Tidak boleh memotong kuku.

5. Tidak boleh memakai wewangian, sepert: parfum, sabun, sampo, dan lain sebagainya yang berbau harum.

6. Tidak boleh membunuh hewan buruan, dan menyiksa jenis hewan apapun. Boleh membunuh hewan berbisa dan hewan yang membahayakan manusia.

7. Tidak boleh merusak atau mencabut tumbuh-tumbuhan, walaupun tumbuhan yang berduri.

8. Tidak boleh bersentuhan dengan syahwat, yaitu suatu perkataan dan perbuatan yang menimbulkan syahwat.

9. Tidak boleh melaksanakan akad nikah, menikahkan atau menjadi saksi pernikahan.

10. Tidak boleh masturbasi / onani, jimak, atau bersetubuh.

___________________
Apabila melanggar larangan-larangan tersebut, maka dendanya:
a) Menyembelih kambing atau bershodaqoh memberi makan orang miskin pribumi Makkah dengan ukuran setengah so’ per orang (1/2 so’ = 1.75 liter).
b) Jika kuku atau rambut jatuh dengan sebab disengaja, satu helai dendanya (1 mud), dua helai dendanya (2 mud), tiga helai atau lebih dendanya (1 ekor kambing atau bisa diganti dengan puasa 3 hari).
Apabila jatuhnya tidak disengaja, tidak dikenakan denda.
c) Jika melakukan pelanggaran nomor 9 dan 10 maka dendanya seekor onta.

MEMAHAMI DASAR-DASAR HAJI

MEMAHAMI DASAR-DASAR HAJI

ALLOH SWT. telah melimpahkan karunia-Nya atas ummat Nabi Muhammad saw. dengan menjadikan haji sebagai jalan pintas menuju ampunan-Nya, atas dosa-dosa kepada-Nya dan kepada selain-Nya, serta jalan pintas menuju sorga-Nya bagi yang ikhlas mengerjakannya.

Dan Alloh swt. telah memberi kemuliaan kepada Ka’bah dengan menisbahkan kepada diri-Nya, yaitu menyebut ka’bah sebagai Rumah-Nya. Kemudian Alloh swt. menetapkan Ka’bah sebagai tempat tujuan para hamba-Nya, menjadikan daerah sekitarnya sebagai tanah “Haram” untuk berbuat kemaksiatan, dan sebagai tanah “Suci” untuk berbuat kebajikan, demi memberi keagungan kepada Ka’bah.

Dan Alloh swt. menjadikan padang ‘Arofah sebagai bagian dari halaman rumah-Nya, dan menguatkan kesucian ‘Arofah dengan mengharamkan perburuan binatang dan pengerusakan pepohonan, dan dijadikan-Nya ‘Arofah seperti majlis para raja, yang didatangi oleh para pengunjung dari segala penjuru dunia, dengan ketaqwaan serta bertawadhu’ di hadapan Sang Pemilik Rumah, tunduk dan patuh dihadapan keagungan-Nya, merendah pasrah dihadapan keperkasaan-Nya.

Alloh swt. telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berhaji ke Ka’baitulloh dengan melakukan berbagai ritual tertentu yang mungkin tidak berkenan dihati mereka, atau tidak difahami maksud dan ma’nanya, bahkan tidak bisa dinalar oleh seorang profesor ahli fikir sekalipun, misalnya, melempar jumroh dengan batu-batu yang di lemparkan ketiang batu, ada batu yang harus dikelilingi sampai tujuh putaran (thowaf), ada batu yang harus diusap-usap (rukun yamani) atau dicium (hajar aswad), dan ada batu yang harus di injak-injak (sa’i).

Masalah itu adalah sesuatu yang melampaui batas akal manusia untuk di logikakan, karena masalahnya adalah masalah keimanan, yaitu disiplin pada keta’atan kepada Alloh swt. dalam hal ini Dia tidak memberi tugas secara ngawur, tetapi memerintah dengan hikmah yang maha tinggi. Justru dengan pekerjaan-pekerjaan seperti itulah akan tampak sempurnanya ibadah dan penghambaan manusia terhadap Alloh swt.

Sedangkan berbagai kewajiban yang lain, masih bisa dicerna oleh akal manusia, seperti sholat dengan melakukan beberapa gerakan ketika berdiri, ruku’, sujud dan duduk dapat difahami sebagai rasa tunduk, tawadlu’ dan ta’dhim seseorang kepada kekuasaan dan keagungan Alloh swt.

Zakat yang berma’na rasa kasih sayang terhadap sesama. Demikian juga puasa, tujuannya adalah mematahkan sahwat, menguasai hawa nafsu yang merupakan alat setan untuk menggoda dan menipu manusia. Hikmahnya dapat memanfaatkan waktu untuk bisa beribadah secara lebih sempurna dengan menghentikan kesibukan dunia walaupun hanya untuk sementara.

Disamping itu dalam menetapkan syari’at bagi orang-orang yang beriman, Alloh swt mengekang kebebasan hak pilih manusia, baik dalam menentukan tempat maupun waktunya.
Ada ibadah yang tidak ditentukan waktu dan tempatnya, seperti dalam mengucapkan “Syahadat” kita mengucapkannya di pagi hari atau di malam hari, diucapkan di rumah atau diluar rumah, tidak ada ikatan waktu maupun tempatnya.

Lain halnya dengan “Sholat”, Alloh swt telah menetapkan waktunya, akan tetapi tempatnya tidak ditentukan, kita bisa sholat dimana saja, di masjid, di rumah, di kantor maupun di sawah, kita bebas memilih, dengan demikian maka tidak sah apabila sholat wajib dilakukan diluar waktu.

Zakat di wajibkan oleh Alloh swt. waktu dan besarnya, akan tetapi tidak ditentukan tempatnya. Zakat fitrah ditentukan waktunya pada akhir bulan romadlon hingga sebelum sholat ‘Ied.
Zakat hasil bumi ditunaikan seusai dituai, sebelum disimpan dilumbung/gudang atau dijual ke pasar. Zakat Mal wajib ditunaikan apabila sudah mencapai nishob dalm masa setahun penuh.
Begitulah hampir semua jenis zakat terikat waktunya, akan tetapi tidak terikat tempatnya. Dimanapun kita berada, wajib mengeluarkannya.
Puasa diwajibkan oleh Alloh swt. dilakukan dibulan romadlon pada setiap tahun, akan tetapi kita diberi kebebasan untuk melakukannya dimanapun kita berada.

Sedangkan kewajiban haji berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, karena ibadah haji terikat oleh waktu dan tempat, tidak sah apabila kita menunaikan haji di rumah atau di negeri manapun. Ibadah haji hanya wajib ditunaikan di Baitullohil-harom Makkah.
Kita juga tidak boleh wukuf pada tanggal sembilan Dzul-hijjah diluar daerah ‘Arofah, kita wajib melekukan wukuf pada tanggal, bulan dan daerah yang telah ditetapkan, kita tidak boleh menunaikan ibadah haji disembarang tanggal, disembarang bulan dan disembarang tempat.
Dengan demikian tahulah kita bahwa, pekerjaan haji merupakan kewajiban satu-satunya yang terikat oleh waktu dan tempat.

Yang jelas pekerjaan haji merupakan ujian keimanan, sebab musabab keimanan bukan sesuatu yang harus kita fahami atau yang harus diketahui lebih dahulu, akan tetapi yang harus di diketahui adalah,
“Apakah pekerjaan itu perintah Alloh swt. atau tidak.?”

Kita melempar batu itu atau mencium batu ini, tiada lain semata-mata hanya karena mematuhi perintah-Nya, bila kita telah memasuki lingkaran iman yakni membenarkan Alloh dan Rosul-nya, maka kita wajib menta’ati perintah Alloh dan rosul-Nya, kita wajib berpegang teguh pada pendirian, tanpa mencoba-coba untuk berfilsafat dengan akal pikiran kita yang sempit dan lemah.

Jika Alloh swt. yang memerintahkannya, maka pasti ada hikmahnya, baik hikmah itu kita ketahui ataupun tidak, karena memang di alam raya ini banyak rahasia Alloh swt. yang tidak kita ketahui dan kita tidak perlu pula berusaha untuk mengetahuinya.

Pada hakekatnya setiap tahap demi tahap pekerjaan haji, mengandung peringatan dan pelajaran bagi yang mau menerima, mendorong setiap perjalanan menuju kebenaran bagi yang ikhlas, dan isyarat serta tanda tanda bagi setiap pelaku yang tanggap dan cerdas.

Maka dari itu kami mengajak jamaah haji untuk berfikir dan merenungkan dengan mempelajari “Kunci-kunci ibadah haji” sehingga apabila telah terbuka pintu-pintunya dan mengetahui isi dan kandungannya, akan tersingkaplah sebagian dari rahasia-rahasia ibadah haji, agar dapat menambah bersinarnya jiwa, kesucian hati, kejernihan pikiran, serta keluasan dalam wawasannya.

NIAT MENUNAIKAN HAJI

Apabila seseorang telah menetapkan hati ber-niat untuk menunaikan ibadah haji, maka seharusnya menyadari bahwa ia akan meninggalkan keluarga, harta benda, tanah air, dan berhijrah meninggalkan segala syahwat, hawa nafsu dan keni’matan duniawi.
Karena ia bermaksud untuk mengunjungi Rumah Alloh swt. maka hendaknya ia memikirkan kemuliaan Ka’baitulloh, lebih lebih merasakan dalam hatinya ke-Agungan Sang Pemilik Rumah itu.

Hendaknya ia menjadikan niatnya benar benar ikhlas demi Alloh swt semata. jauh dari campuran sifat sombong dan sifat ingin pamer atau dipuji atau yang lainnya.
Dan seburuk-buruk perbuatan ialah apabila ia menyatakan hendak menuju ke Rumah Alloh dan tanah sucinya, sedangkan tujuan sebenarnya bukan untuk menghadapkan hati dan wajah kepada-Nya.
Hendaknya ia meyakinkan dirinya bahwa, hanya niat yang benar-benar tulus yang akan diterima oleh Alloh swt.

Sedangkan untuk mencapai keikhlasan hati ialah, dengan melatih otak untuk tetap sadar setiap hari, meniatkan dalam hati secara teratur disetiap akan memulai segala aktifitas yang lurus dengan mengucapkan:
“Bismillahirrohmanirrohim. Nawaitu lifi’li amrillah wasunnati rosulillah.” artinya “Aku niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh.”
Maka akan terciptalah suatu sikap yang “Sadar,Rela, dan Lurus” dalam diri kita, dimana semua pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan yang kita lakukan hanya demi melaksanakan perintah Alloh swt. semata.

SADAR, karena semua aktifitas yang kita lakukan atau yang tidak kita lakukan adalah memang pilihan kita sendiri.
RELA, karena semua yang kita lakukan adalah untuk sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih mulia.
LURUS, karena kemauan kita mengikuti arah petunjuk rambu-rambu yang akan membimbing kita melewati jalan lebar, luas dan lurus.

Dengan itu semua, perasaan, pikiran dan tindakan kita ubah dan arahkan menjadi do’a dan harapan kepada Alloh swt. untuk mengikuti jejak-jejak lurus yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam pengabdian untuk mencapai ridlo-Nya.

MERINDUKAN IBADAH HAJI

Kerinduan yang sebenarnya untuk orang-orang yang pergi haji hanya akan timbul setelah benar-benar memahami dan meyakini bahwa, “Rumah” yang akan dikunjungi itu adalah “Rumah Alloh swt” dan bahwa Rumah serta halamannya diumpamakan seperti tempat dewan majlis para raja, siapa saja yang menghadirinya, berarti ia menuju kepada Alloh swt dan menjadi tamu kehormatan-Nya.

Oleh aebab itu hendaknya ia tidak menyia-nyiakan waktu kunjungannya itu, dengan sungguh-sungguh menghadapkan hati dan wajahnya, agar ia dapat mencapai maksud dan mewujudkan harapannya, yaitu kelak ketika mendapat kesempatan “Memandang wajah Alloh swt. Yang Maha Mulia” di sorga, tempat kediaman yang abadi.
Hal ini mengingat bahwa indara mata yang fana dan indra perasa kita yang tidak sempurna dalam kehidupan dunia ini tidak akan mampu mencerap cahaya pandangan kearah wajah-Nya, tidak kuat menahan bahkan sama sekali tidak mampu menerimanya disebabkan karena berbagai kelemahan yang kita sandang.
Kelak setelah sampai di kehidupan akhirat, barulah mata dan indara yang lainnya memperoleh keabadian didalam kehidupan akhirat, yang dihindarkan dari segala penyebab kefanaan dan kerusakan, dengan demikian kita menjadi mampu dan siap untuk “Memandang wajah-Nya” secara langsung dan yang sebenarnya.

MEMUSATKAN DIRI HANYA UNTUK BERIBADAH

Hendaknya ia merenungkan segala yang berkaitan dengan sesuatu yang menggangu konsentrasi dalam ibadah haji, yaitu segera menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan diri pribadi, keluarga dan antar sesama, tentang harta yang mungkin diperolehnya dari hasil kedloliman, hutang piutang yang bermasalah, perjanjian yang belum ditepati, dan lain-lain.
Maka segeralah bertobat secara tulus dengan taubatannasuha kepada Alloh swt. dari segala dosa. Sebab, setiap tindak kedloliman terhadap diri sendiri atau orang lain, merupakan penghambat.

Setiap masalah dan persoalan, seakan seperti orang yang punya hutang kemudian ditagih oleh si pemberi hutang dengan memegang leher bajunya erat-erat seraya berteriak:
“Kemana kamu akan pergi .? Apakah kamu akan menuju Rumah Sang Raja Diraja .? Sedangkan kamu melalaikan perintah-Nya ditempat kediaman kamu ini, dan kamu menyia-nyikannya dan meremehkannya .? Apakah kamu tidak merasa malu untuk datang menghadap-Nya .? Atau kamu tidak takut bila dianggap menentang-Nya, lalu ia menolak kamu sebagai tamu-Nya dan mengusir kamu .?”

Agar Alloh swt. menerima kunjungan kita sebagai tamu terhormat-Nya, kita terlebih dahulu harus melaksanakan perintah-Nya yang berkaitan dengan hak-hak diri pribadi dan orang lain, dengan cara membersihkan diri secara lahir dan secara batin memohon ampunan-Nya:
“Ya Alloh, kami dengar apa yang telah Engkau perintahkan kepada kami, melalui wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang disampaikan melalui ucapan Nabi-Mu, serta menta’ati perintah-perintah-Mu dan menjauhi larangan-larangan-Mu. Karena itu kami mohon ampunan-Mu Ya Alloh, dan hanya kepada Engkaulah tempat kami kembali.
Ya Alloh, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Alloh, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Alloh, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Ya Alloh, ma’afkan kami, hapus dosa-dosa kami, lindungi kami, tutupi aib serta kesalahan-kesalahan kami dengan tidak menghukum kami akibat pelanggaran yang kami lakukan.
Ya Alloh, rohmati kami dengan aneka rohmat-Mu yang melebihi penghapusan dosa dan penutupan aib kami.
Ya Alloh, Engkaulah pelindung kami, karena itu menangkan kami dengan argumentasi dan kekuatan fisik menghadapi iblis beserta anak cucunya dan orang-orang kafir, Wahai Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Selanjutnya selesaikanlah urusan yang berkaitan antara sesama dengan meminta maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan yang pernah kita perbuat secara lahir maupun batin, dari awal hingga akhir. Agar kita dapat berkunjung sebagai tamu-Nya dengan tidak ada lagi beban berat yang menghambat langkah kita.
Lakukan semua itu, seakan-akan kita benar-banar akan meninggalkan dunia ini selama-lamanya, karena pada hakekatnya perjalanan haji tidak ubahnya seperti perjalanan menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Dengan demikian diharapkan langkah yang kita tempuh menjadi ringan serta akan merasa puas hati ketika telah sampai di hadapan Rumah Alloh swt. dalam majlis kehormatan-Nya.

MENYIAPKAN DUA BEKAL

Adapun bekal pertama adalah materi, sehingga masing-masing jamaah haji tidak terganggu pikirannya dan tidak resah jiwanya, agar tidak harus malu dengan meminta-minta akibat kekurangan bekal, bahkan kita dituntut untuk saling membantu dan saling memberi.

Dan bekal kedua dalam bidang rohani, yang menuntut kesiapan mental, ilmu pengetahuan, hususnya manasik haji yang akan di laksanakan disamping ilmu-ilmu untuk melaksanakan ibadah yang lain, karena kesempurnaan haji bukan hanya pada gerakan fisik saja, tetapi yang terpenting adalah kebulatan niat mengerjakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh, serta kementapan jiwa menghadap kepada Alloh swt.

Salah satu yang amat penting untuk diketahui, ditegaskan dalam Al-Qur’an, yaitu:
“…. Maka (ketahuilah bahwa) sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa ….” (QS.2:197).
Taqwa adalah melaksanakan perintah Alloh swt. serta meninggalkan larangannya, yakni berupaya menghindari siksa dan sangsi Alloh swt. baik pelanggaran duniawi terhadap hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam (sunnatulloh), maupun pelanggaran hukum-hukum ukhrowi yang ditetapkan-Nya dalam syari’at.

Hendaknya kita membawa bekal yang cukup dan bertaqwa kepada Alloh swt. Jangan jadikan bekal yang kita persiapkan dan kita bawa itu merupakan hasil dari pelanggaran atau harta yang haram.
Jangan pula membawa bekal yang tidak dibenarkan oleh Alloh swt. atau peraturan yang ditetapkan pemerintah yang berwenang mengatur urusan haji, baik aturan pemerintah Indonesia maupun peraturan pemerintah Saudi Arabia.

Oleh sebab itu, agar kita selalu berhati-hati membawa bekal tersebut, jangan sampai amalan-amalan yang pahalanya telah kita raih sebagai bekal menuju akhirat tidak menemaninya setelah mati, karena bercampur dengan kemaksiatan serta pelanggaran atau keburukan oleh kelalaiannya sendiri.

MENYIAPKAN KENDARAAN

Apabila kendaraannya telah disiapkan, hendaklah ia bersyukur kepada Alloh swt. yang telah memudahkan aneka macam urusan baginya, sehingga mampu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hajinya, diantaranya, Alloh swt. berkenan meringankan kesulitan yang dihadapinya, dan memperoleh kendaraan yang mengangkut barang bawaannya.

Ketika “Kendaraan” yang akan ditumpanginya telah siap, pikirkanlah .! bahwa kendaraan itu tidak ubahnya seperti “Keranda” yang akan mengangkut jenazahnya menuju tempat kediamannya di akhirat. Sesungguhnya mengendarai keranda adalah hal yang pasti, sedangkan keberhasilan perjalanan dalam mencapai haji ini masih mengandung ketidak-pastian.

Oleh karena itu setiap pelaku ibadah haji, dituntut bersikap serius dalam menpersiapkan bekal materi, ilmu, fisik dan mental, agar betul-betul dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
Maka hendaknya ia memikirkan bahwa perjalanan menuju hajji ini, adalah suatu gambaran menuju perjalanan yang pasti, yaitu akhirat.

“Adakah bekal yang dibawanya telah mencukupi untuk menuju kehidupan akhirat, kediamannya yang abadi .?”

TENTANG MIQOD

Apabila telah sampai di miqod, setelah mengalami suatu perjalanan yang melelahkan, renungkan.! Apa yang akan terjadi dan dijumpai saat ketika di alam kematian, sampai saat datangnya hari kiamat, serta berbagai peristiwa yang sangat menakutkan dan tuntutan keadilan dari Yang Maha Adil, dan apabila ia pernah mengalami rasa takut pada sesuatu, takut sengsara, takut menderita, takut binatang buas, takut pada penguasa dan takut pada apa saja dalam hidupnya.

Maka ingatlah.! Kengerian dan ketakutan yang akan dialaminya kelak di alam kubur dan kelanjutannya.
Apabila ia takut pada penguasa, maka ingatlah .? ketika ia menghadapi pertanyaan dua malaikat Mungkar dan Nakir.
Apabila ia takut pada binatang buas, maka ingatlah .! Ulat, ular, kelabang, kalajengking dan lain-lain yang semuanya besar-besar dan mengerikan.
Apabila ia merasa risau dan kesepian karena jauh dari anak-anak, saudara dan kerabat, maka ingatlah .! Akan kesepian dan kegelisahan dalam kuburan.
Apabila ia merasa takut, cemas dan gelisah meninggalkan pekerjaan dan harta benda, maka ingatlah .! Bahwa kekuasaan, derajat dan harta benda yang ia miliki didunia pasti akan ia tinggalkan, dan tidak akan ikut memiliki ketika ia mati.

Semua ketekutan, kengerian yang mencekam, kecemasan yang menggelisahankan ini, hendaknya selalu hadir dalam ingatan, ketika ia mengucapkan sesuatu atau berbuat sesuatu, agar dirinya senantiasa memperhitungkan apa saja tentang kehidupan dunia.
Seringan dan sekecil apapun ucapan maupun perbuatannya itu, kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungannya di hadapan Alloh swt. yaitu di hari perhitungan dimana tidak ada sesuatupun bisa menolong, kecuali “Amal kebajikan” yang ia kerjakan ketika masih ada kesempatan dalam hidup.

Hal ini seperti yang difirmankan Alloh dalam Al-Qur’an:

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.16:96).

“Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.16:97).

IHROM DAN TALBIYAH

Apabila telah memulai ihrom dan mengucapkan talbiyah dari miqod yang ditentukan, maka hendaknya ia menyadari bahwa ma’nanya adalah memenuhi panggilan Alloh swt. karena itu berharaplah dengan sangat agar kedatangannya diterima dengan baik, bukan sebaliknya dan mendapatkan jawaban:
“La labbaik wa la sa’daik” artinya “Kedatanganmu tidak diterima”

Maka teruslah senantiasa berharap sambil mengucapkan: “Lahaula wala quwwata illa billah” dengan melepas kedudukan dan kekuasaan, keangkuhan dan kesombongan dari ke-tidak berdayaan untuk mendatangkan keni’matan, kemanfa’atan, kebahagiaan dan keberuntungan serta tidak adanya kemampuan berupaya untuk menolak kemelaratan, penderitaan, kesulitan dan kerugian, kecuali hanya dengan pertolongan Alloh swt. semata.

Diriwayatkan bahwa, setelah Nabi Ibrohim as. menyelesaikan bangunan Ka’bah, beliau diperintahkan oleh Alloh swt. untuk memanggil semua ummat manusia dengan maksud agar setiap orang menunaikan ibadah hajji.

Dalam Al-Qur’an Alloh swt. berfirman:
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS.22:27).

Kemudian Nabi Ibrohim menggunakan “Maqom” sebagai pijakan kaki beliau yang suci untuk naik ke atas sampai lebih tinggi dari pada gunung-gunung yang paling tinggi didunia, pada waktu itu disekitar Makkah adalah lembah yang kering dan tandus tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan ditempat itu masih belum ada seorangpun manusia, beliau menyeru manusia karena mematuhi perintah-Nya semata.

Alloh berfirman:
“Serulah ummat manusia berhaji ke Rumah-Ku, nanti aku yang akan menyampaikan seruanmu kepada mereka yang ditakdirkan menunaikan kewajiban mulia ini hingga hari kiamat.”

Lalu Nabi Ibrohim as. menyeru memanggil semua manusia karena mematuhi perintah-Nya;
“Wahai ummat manusia, penuhilah panggilan Tuhanmu seraya berseru: Labbaik Allohumma labbaik.”

Dengan kehendak dan kekuasaan Alloh swt. suara Nabi Ibrohim as. Dapat di dengar oleh semua manusia yang sudah lahir maupun yang belum lahir, sehingga mereka menjawab:
“Ya … Ya … aku penuhi panggilan-mu.”

Mereka yang menjawab satu kali, dia akan dapat berhaji satu kali, yang menjawab dua kali akan dapat berhaji dua kali, yang menjawab tiga kali akan dapat berhaji tiga kali, dan begitu seterusnya, adapun yang pada saat itu tidak menjawab ia tidak akan dapat melakukan ibadah haji sepanjang umurnya.

Ternyata para calon jamaah haji berbondong-bondong datang ke Baitulloh di Makkah, baik dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan, mereka merasa terpanggil oleh seruan Nabi Ibrohim as. miskipun pada waktu itu mereka masih mendekam dalam tulang belakang nenek moyangnya.

Maka serulah orang-orang yang kalian cintai dari tempat Nabi Ibrohim as. berseru, sebagai penyambung panggilan beliau, dengan ucapan:

“Wahai anakku / saudaraku . . . . (sebutlah namanya) aku menyampaikan kepadamu panggilan Kholilurrohman ‘alaish-sholatu wassalam, ‘an Muhammadirrosulillah shollallohu ‘alaihi wasallam: “Qod farodlo ‘alaikumul-hajju fahajjuu.” Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan kalian berhaji. Maka berhajilah dengan berseru: “Labbaika Allohumma labbaik.”

TALBIYAH

Apabila sudah dapat memenuhi syarat pergi haji, maka kita patut mengungkapkan dan mengucapkan rasa syukur kepada Alloh swt. dengan mengumandangkan:
“Labbaik Allohuma labbaik, innal-hamda wanni’mata laka walmulka la syarikalak.”
“Ya Alloh, aku sambut panggilan-Mu, sesungguhnya puja-puji dan ni’mat dipanjatkan teruntuk Engkau, begitu pula kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu, Ya Alloh.”
“Semua puja-puji diperuntukkan bagi-Mu, Ya Alloh. Engkau telah meluaskan rizkiku dan melapangkan jalan bagiku, untuk menunaikan kewjiban ibadah haji yang telah Engkau perintahkan kepadaku melalui Rosul-Rosul-Mu. Aku tidak berdaya melakukan semua itu tanpa bentuan-Mu, dan tidak ada upaya meksimal dari diriku tanpa bimbingan-Mu, dan aku tidak akan mampu memenuhi kewajibanku bertahmid dan bersyukur dengan sebaik-baiknya tanpa pertolongan-Mu, Ya Alloh.”

Renungkanlah .! ketika kita memanjatkan ucapan tahmid “Labbaik Allohumma labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka….” ini adalah suatu ungkapan atas semua anugrah, karunia dan keni’matan yang pernah kita rasakan selama ini, yang sekarang sedang kita rasakan dan juga akan datang.

Tahmid kita panjatkan terus menerus atas karunia keni’matan dari Alloh swt. dan akan selalu bertambah tiada pernah putus dan bercucuran terus. Semua persiapan yang kita upayakan, baik berupa kesehatan, kekuatan, taufik, hidayah maupun harta benda yang lebih dari sekedar kebutuhan hidup keluarga, adalah merupakan ni’mat karunia dari Alloh swt.

Alloh swt. telah menjadikan Rumah-Nya itu sebagai kiblat ummat islam untuk menunaikan sholat lima kali dalam sehari semalam. Sudah menjadi irodat Alloh swt. bagi setiap mukmin untuk menyibukkan diri menghadap Rumah-Nya, miskipun jaraknya jauh, seolah-olah Alloh swt. memberikan pelatihan mental beberapa tahun lamanya, dengan demikian akan lebih lengkaplah curahan keni’matan iman kepada Alloh swt, ketika kita betul-betul dapat menghadap secara langsung kepada Rumah-Nya, dan menjadi sempurnalah persiapan mental setiap mukmin untuk berhaji.

Ketika mengumandangkan “…. Wal-mulka la syarika laka” Alloh swt. ingin agar hati kita tidak merasa takut, gentar dan ngeri kepada siapapun dan apapun didunia ini, selama kerajaan itu milik Alloh swt. Dan agar hati kita tenang dan tentram karena Alloh Yang Maha Esa tiada sekutu yang bisa menghalang-halangi kehendak dan keinginan-Nya. Kemaha Kuasaan-Nya adalah suatu karunia keni’matan yang besar bagi kita, yang wajib kita syukuri dengan panjatan tahmid sebenyak-banyaknya, sebab kalau saja Alloh swt. mempunyai sekutu, tentu dunia ini akan rusak, dan kepentingan semua orang akan berantakan dan musnah, karena akan menjadi rebutan antara keinginan tuhan yang satu dan ketidak inginan tuhan yang lain.

MEMASUKI KOTA MAKKAH

Adapun ketika memasuki kota Makkah dalam keadaan selamat dan aman, hendaklah kita menyadari bahwa kini kita telah sampai di tanah suci yang di haramkan berbuat maksiat dan kejahatan, maka hendaklah kita berharap:
Semoga dengan memasuki Makkah ini, kita akan diselamatkan dari hukuman Alloh swt.

Bersikaplah waspada dan selalu berhati-hati, jangan sampai kita dinyatakan tidak pantas bahkan ditolak untuk menjadi tamu Alloh swt. sehingga masuknya kita di kawasan suci ini menjadi sia-sia dan kecewa, bahkan kita patut merasa takut dan hawatir yang akan didapatkan justru kemurkaan-Nya.

Maka dari itu tetaplah berharap haji dan umroh kita diterima dan do’a kita dikabulkan, karena Alloh swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih. Kemurahan-Nya sangat luas dan merata dibagikan kepada setiap mahluknya, terutama bagi yang beriman. Rumah-Nya-pun amat mulia bagi pengunjung yang menjadi tamu-Nya.

MEMANDANG KA’BAH

Ketika Ka’baitulloh telah tampak didepan mata, hendaklah kita menghadirkan keagungan Rumah itu di dalam hati, serta memikirkan seolah-olah kita memandang Sang Pemilik Rumah itu sendiri, disebabkan rasa peng-agungan yang amat sangat kepada-Nya.

Maka berharaplah semoga Alloh swt. menganugrahkan kepada kita kesempatan untuk memandang kepada wajah-Nya yang mulia, kelak di akhirat, sebagaimana Dia kini memberi kita kesempatan memandang kepada Rumah-Nya yang agung.

Dan bersyukurlah kepada Alloh swt. atas karunia-Nya, yang telah mengangkat kita ke tingkat terhormat, dengan menggabungkan kita bersama orang-orang yang berkunjung sebagai tamu-Nya.

Dan ingatlah disaat itu bahwa kelak dihari kiamat orang-orang berkelompok-kelompok terbagi menjadi dua rombongan, yang satu secara berduyun-duyun menuju kearah sorga, dan satunya lagi kearah neraka.
Sebagaimana jama’ah haji yang juga terbagi menjadi dua rombongan, yaitu kelompok “Maqbulin” yang diterima dan “Mardudin” yang ditolak.

Demikianlah selanjutnya, janganlah sekali-kali melupakan akhirat dalam hal apa saja yang kita lakukan dan saksikan. Sebab semua keadaan yang dialami oleh seorang yang sedang berhaji, merupakan contoh dan petunjuk tentang keadaan yang akan kita alami kelak dihari akhirat.

Banyak orang tidak mengerti, mengapa ketika memandang Ka’baitulloh, tanpa terasa tiba-tiba menangis .?
Dalam situasi seperti itu air mata mengalir merupakan ungkapan mencairnya rasa sombong dan keangkuhan yang selama ini menyertai kehidupan kita.
Tambah banyak kita meneteskan air mata, semakin banyak pula kesombongan dan keangkuhan yang mencair dan ikut keluar.

Kalau tangisan seseorang biasanya sebagai ungkapan rasa sedih dan kelemahan, dalam ibadah haji tidak demikian. Menangis di Baitulloh merupakan ungkapan rasa kerinduan yang mendalam pada keimanan, ketundukan dan kepatuhan sebagai hamba Alloh swt.
Setiap orang akan menangisi dirinya di Baitulloh karena selama ini kurang mampu mengendalikan gelora nafsu, sehingga banyak melakukan dosa dan berbuat durhaka.

Perasaan hati dan pikiran telah menanggalkan segalanya, menunjukkan bahwa kita sudah mengenali diri yang sebenarnya. Kita datang ketempat ini untuk menyatakan penyesalan atas berbagai perbuatan dosa yang telah kita timbun, atas bermacam-macam ni’mat yang kita lupakan dan memohon kepada Alloh dengan sungguh-sungguh agar Alloh mengampuni kita dari dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang.

Rasa dekat sekali dengan Alloh itulah yang mendorong keluarnya air mata tanpa disadari, ini merupakan ungkapan rasa haru yang amat mendalam, dan luapan kegembiraan dapat menjadi tamu-Nya, juga bahagia seakan-akan terlepas dari berbagai dosa yang selama ini membebani dan mencengkram diri kita.
Suka cita menghangatkan jiwa dan semangat kita, seolah-olah Alloh swt. telah meridloi diri kita, karena kita telah menunaikan tobat nashuha.

Orang-orang yang yang telah merasakan gelora perasaan itu akan menyadari benar, bahwa dirinya merasa amat puas setelah melepaskan tangis, seolah-olah jiwanya tercuci bersih oleh air mata.

THOWAF

Thowaf dimulai dari Hajar aswad dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Besar. Pekerjaan thowaf campur-baur antara laki-laki dan perempuan, bukankan agama mengharamkan, tetapi mengapa campur-baurnya laki-laki dan perempuan dalam mengelilingi Ka’baitulloh tidak dilarang oleh agama .?

Kita melihat mereka masing-masing berusaha keras menerobos kepadatan itu untuk menunaikan thowafnya dengan baik, mereka masing-masing mengurusi kesempurnaan ibadahnya, sehingga naluri hewani dan nafsu birahi pudar bahkan hilang sama sekali, mereka hampir tidak mengenali dan tidak tahu apa dan siapa yang ada disekitarnya. Hati dan pikiran semua orang sibuk dengan Alloh swt.

Itulah ma’na keagungan ibadah ketika di Baitullohil-harom, kita wajib mengagungkan semua tempat dan sudut serta bagian-bagian yang ada di sekitarnya, dan ini bisa dicapai hanya dengan berthowaf mengelilinginya.

Thowaf tidak cukup hanya dilakukan satu kali saja untuk bisa mencapai tujuan kepada Alloh swt. tetapi kita harus melakukannya berkali-kali ketika kita diberi kesempatan waktu dan kesehatan badan, karena dalam menunaikan manasik haji kita melakukan keta’atan dan kepatuhan kepada Alloh swt. sebagai pembuktian keimanan kita kepada-Nya.

Menurut riwayat, bentuk Ka’bah itu seperti Baitul-ma’mur diatas langit ke tujuh, dan kalau kita bertolak tegak lurus dari Ka’bah, kita akan berahir dan mentok pada Baitul-ma’mur.
Dengan demikian sholat yang dilakukan di tingkat ketiga dalam Masjidil-harom, dan diatas ketinggian hotel-hotel atau gunung-gunung yang tertinggi sekalipun dinyatakan sah, karena udara diatas Ka’bah sama dengan ka’bah hingga ke Baitul-ma’mur diatas langit ketujuh.

Langit terdiri dari tujuh buah atau tujuh tingkatan, dengan demikian thowaf di sekitar ka’bah dilakukan tujuh kali putaran, seolah-olah suatu perjalanan Mi’roj kita dari langit pertama ke langit ketujuh, yaitu Baitul-ma’mur.
Jika demikian hendaklah kita memurnikan hati, mencerahkan pikiran dan mensucikan jiwa agar sampai kepada maksud dan tujuan.

Rosululloh saw. bersabda:
“Thowaf disekitar Ka’bah seperti halnya sholat, hanya saja kalian diperbolehkan berbicara di dalamnya, maka barang siapa yang berbicara, hendaknya tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.” (HR. Tirmidzi).

Demikian besar karunia Alloh Subhanahu Wata’ala yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

HIJIR ISMA’IL

Hijir Isma’il adalah bangunan terbuka, berbentuk setengah lingkaran, berada di sebelah sisi utara Ka’bah. Disebut Hijir Isma’il karena merupakan tempat berteduh Nabi Isma’il as dan Sayyidah Hajar.

Hijir yaitu: tempat di mana Nabi Ibrohim sa meletakkan istrinya Hajar dan putranya Isma’il as, ketika ia membawa mereka ke Mekah. Ia memerintahkan Hajar membuat bangsal di tempat tersebut.

Bangsa Quraisy telah memasukkan sebagian dari Ka’bah ke dalam hijir, karena kurangnya anggaran mereka ketika membangunnya kembali setelah dipugar. Di saat Abdulloh bin Zubair ra menguasai Mekah, ia memugar Ka’bah dan membangunnya kembali, dan memasukkan kembali bagian Ka’bah yang dikeluarkan oleh Quraisy ke hijir. Tetapi setelah terbunuhnya Ibnu Zubair ra, Hajjaj mengembalikannya lagi ke dalam hijir, dan membangun dinding di atas pondasi yang dibangun oleh Quraisy, dan demikianlah hingga sekarang.

Maka jadilah sebagian hijir termasuk bagian dari Ka’bah dan sebagian yang lain bukan termasuk Ka’bah. Dalil yang menunjukkan bahwa sebagian hijir termasuk bagian dari Ka’bah, adalah hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah ra:

“Kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kesyirikan (kejahiliyahan), niscaya aku telah menghancurkan ka’bah dan pintunya aku buat menjadi sejajar dengan tandah an aku membuat dua pintu; pintu sebelah timur dan pintu sebelah barat dan aku tambahkan dan hijir sebanyak 6 hasta, karena sesungguhnya Quraisy menguranginya di saat membangun Ka’bah.”

Banyak hadis yang menjelaskan, bahwa masuk ke dalam hijir berarti masuk kedalam Baitulloh. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra, ia berkata:
“Dahulu aku ingin sekali masuk ke Baitulloh dan sholat di dalamnya, maka Rosululloh saw menarik tanganku dan membawaku ke dalam hijir seraya bersabda:
“Jika engkau ingin masuk ke Baitulloh, maka sholatlah di sini (hijir) karena ini adalah bagian dari Baitulloh, karena kaummu menguranginya di saat membangunnya kembali.”

Diriwayatkan dari Abdul Hamid bin Jubair dari Shofiyyah binti Syaibah, ia berkata:
“Aisyah berkata kepada Rosululloh saw
“Wahai Rosululloh, bolehkah aku masuk ke Baitulloh .?”
Beliau saw bersabda:
“Masuklah ke dalam hijir, karena ia masih bagian dari Baitulloh.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra, berkata:
“Lakukanlah sholat di tempat orang-orang pilihan, dan minumlah minuman orang-orang yang baik.”
Lalu ada yang berkata:
“Di mana tempat sholat orang-orang pilihan itu .?”
Ia menjawab:
“Di Bawah Mizab (pancuran emas),”
Ada yang bertanya:
“Apa minuman orang-orang yang baik .?”
Ia menjawab:
“Air zam-zam.”

Hadis di atas menjelaskan keutamaan sholat di hijir.
Adapun hadis yang diriwayatkan dari Atho’, bahwa ia berkata:
“Siapa yang berdiri di bawah pancuran Ka’bah, lalu berdoa, niscaya dikabulkan.”

Banyak hadis yang menjelaskan, bahwa masuk ke dalam Hijir berarti masuk kedalam Baitulloh.
Hijir Isma’il juga merupakan salah satu tempat yang mustajabah untuk berdo’a.
Carilah kesempatan yang baik untuk dapat melakukan sholat sunnat mutlak 2 roka’at di dalam lingkaran Hijir isma’il, dan berdo’a “Sayyidul Istighfar”.

Rosululloh saw bersabda:
“Penghulu istighfar ialah kamu mengucapakan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku .. sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

Barangsiapa yang membaca do’a ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga.
Barangsiapa yang membaca do’a ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (Muttafaq ‘alih).

MA’NA SAYYIDUL-ISTIGHFAR SECARA LUAS

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ …

“Wahai Alloh Engkau adalah Tuhanku, (Engkaulah yang menciptaku, Engkaulah yang mendidikku, Engkaulah yang memeliharaku dan memilikiku, dan Engkaulah yang menjadi Maha Rajaku)”.

Ketika menyebut kata “ROBBI” dapat terbayang dalam benak kita segala sifat-sifat Alloh swt. baik sifat perbuatan maupun sifat Dzat-Nya, baik yg dapat berdampak kpd mahluk-Nya maupun tdk.
Maka makna dlm kandungan kata ROBB, terhimpun semua sifat-sifat ALLOH yg dapat menyentuh makhluk. Pengertian “Rububiyyah” pendidikan dan pemelihara’an Alloh swt. mencakup pemberian rizki, pengampunan dn kasih sayang juga amarah, ancaman, siksa’an dll.

لَاإِلهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ

“Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku (dari tiada menjadi ada)”.

وَأَنَا عَبْدُكَ

“Dan aku adalah hamba (yang berada dalam kekuasa’an)-Mu“

وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ

“Dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu (dalam kalimat Syahadat)”.

. مَااسْتَطَعْتُ

“Dengan segala kemampuanku (aku melaksanakan perintah-Mu)”.

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ

“Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu (dari nafsuku, dari kejahatan setiap makhluk dan dari goda’an rayuan setan yg membisikkan keburukan dalam hati dan pikiranku)”.

أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي

“Engkau telah menganugrahkan (aneka) nikmat-Mu atas diriku, sementara aku senantiasa berbuat (kema’siatan dan) dosa (terhadap-Mu)”.

فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

“Maka (tutupilah aibku) ampunilah dosa-dosaku, sebab tiada yang dapat (menutupi aib) mengampuni dosa kecuali Engkau”.

Demikian tuntunan dan petunjuk Nabi Muhammad saw. bagian dari rohmat dan kasih sayang beliau saw kepada kita, siapa yang mengucapkannya di pagi hari lalu ia mati di siang itu maka ia masuk sorga, jika ia membacanya di malam hari dan ia mati sebelum pagi maka ia masuk sorga. Semoga kita dapat mengamalkannya secara terus menerus (istiqomah) hingga ajal.

HAJAR ASWAD

Pada saat melambaikan tangan atau mengusap atau mencium Hajar-aswad, hendaknya beri’tikad bahwa kita sedang berikrar kepada Alloh swt. untuk senantiasa taat kepada-Nya, dengan memantapkan niat dan menguatkan tekad untuk tetap setia dan memenuhi ikrar tersebut sepanjang hidupnya.
Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa Rosululloh saw. bersabda:
“Hajar Aswad itu adalah tangan kanan Alloh swt. diatas bumi, yang dengannya Alloh menyalami mahluk-Nya sebagaimana seseorang menyalami saudaranya.”

MULTAZAM

Multazam adalah tempat mustajab untuk berdo’a. Multazam adalah dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Rosululloh saw pernah bersabda:
“Antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak seorang pun hamba Alloh yang berdo’a di tempat ini, kecuali dikabulkan do’anya.” 
Rosululloh saw mendekapkan wajah dan dadanya di Multazam sambil memanjatkan do’a. Kisah itu tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah.

Amru bin Syu’aib ra menceritakan dari ayahnya:
“Aku pernah melakukan thowaf bersama Abdulloh bin Amr bin Ash, dan ketika kami sampai ke belakang Ka’bah, aku berkata:
“Tidakkah engkau memohon perlindungan kepada Alloh dari api neraka .?”
Abdulloh lalu mengucapkan:
“Aku berlindung kepada Alloh dari api neraka.”
Kemudian dia berlalu dan menyentuh hajar aswad, selanjutnya dia berdiri antara hijir Isma’il dan pintu, lalu mendekatkan dada, kedua tangan dan pipinya kepada rukun itu, kemudian dia berkata:
“Beginilah aku melihat Rosululloh saw melakukannya.’’

Multazam juga menjadi tempat yang dipilih Rosululloh saw  untuk menunaikan sholat. 
Seorang Quraisy pernah mendengar Saib ra bertanya:
“Dimanakah engkau melihat Rosululloh melakukan sholat .?”
Lalu dia menunjuk ke Ka’bah, dekat rukun (sudut) yang sebelah kiri, yang termasuk di dalamnya hijir Ismail, kira-kira empat atau lima hasta.”

Nabi Adam AS pun pernah memanjatkan do’a di Multazam. Menurut Abdulloh bin Abi Sulaiman – maula bani Makhzum – ketika Nabi Adam as diturunkan dia ber-thowaf di Baitulloh sebanyak tujuh putaran. Lalu sholat dua roka’at di hadapan pintu Ka’bah.

Lalu, Nabi Adam as mendatangi Multazam dan berdoa:
“Ya Alloh engkau mengetahui rahasia dan terang-teranganku, maka terimalah permohonan maafku. Engkau mengetahui apa-apa yang ada dalam jiwaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka berikanlah permintaanku…’’ Menurut riwayat itu, Alloh swt mengabulkan do’a Nabi Adam as itu.

MAQOM IBROHIM

Maqom ibrohim adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan keagungan Alloh swt. Ia adalah batu yang diturunkan oleh Alloh dari sorga, memiliki bukti-bukti nyata sebagai Mu’jizat Nabi Ibrohim as. yang masih tetap ada hingga kini.

Seluruh manusia yang berkunjung ke Ka’baitulloh di ajak untuk membersihkan Rumah Alloh swt. ini, bagi orang-orang yang thowaf, i’tikaf, ruku’, sujud dan ibadah-ibadah yang lain, kapan saja dan dimanapun ia berada disetiap sudut-sudut Masjidil-Harom. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“….Dan jadikanlah sebagian maqom Ibrohim tempat sholat….” (QS.2:125).
Ini adalah merupakan keutamaan dan kemuliaan yang diberikan Alloh swt. pada Maqom Ibrohim. Di tempat inilah do’a dikabulkan menurut Hasan Al-Bashri dan para Ulama’.
Ajakan membersihkan Rumah Alloh dan sekitarnya, serta ajakan sholat di Maqom Ibrohim adalah rangkaian yang tidak terpisahkan, memberi isyarat agar dalam memasukinya kita membersihkan diri secara lahir dan menyucikan jiwa secara batin.

AIR ZAMZAM

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad saw, bersabda:
“Sebaik-baiknya air dipermukaan bumi ialah air zam-zam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.”

Kehadiran air zam-zam tidak terlepas dari keajaiban yang diperlihatkan oleh Alloh swt, sebagai mukjizat kepada umat manusia melalui Nabi Isma’il as dan Ibunya Sayyidatina Hajar ra, dan banyak sekali keistimewaannya, bahwa Alloh swt memang bermaksud menyediakan sumber air ditengah-tengah gunung batu dan padang pasir yang gersang, hal ini sebagai konsekwensi atas perintahnya kepada Nabi Ibrahim as, guna mengundang sebanyak-banyaknya umat manusia ke Baitulloh.

Kesitimewaan air zam-zam diantaranya, meminum Air zam-zam menjadi satu amalan ibadah, dengan niat mengikuti anjuran Rosululloh saw.

Diriwayatkan oleh Abdulloh ibnu Abbas, Aku pernah menyiapkan air zam-zam untuk Rosululloh saw, kemudian beliau meminumnya sambil berdiri.

Makruh hukumnya apabila dipergunakan untuk mencuci najis, atau dipakai untuk membersihkan hadast besar.

Disunahkan membawa air zam-zam pulang ke negerinya bagi jama’ah haji atau umroh yang berasal dari luar Makkah, dan Rosululloh adalah orang pertama yang membawanya keluar kota Mekkah, yaitu ke Madinah.

Mata Airnya tidak pernah kering, meskipun berjuta-juta umat manusia meminumnya setiap hari terutama pada musim haji.

Pada waktu Rosulululloh saw akan melakukan Sa’i, beliau meminum air zam zam sampai kenyang, kemudian menyiram kepalanya dengan air zam zam.

SA’I ANTARA BUKIT SHOFA DAN MARWAH

Di antara perbuatan orang dalam haji dan umroh ada hal-hal yang berkaitan dengan masalah alam, yaitu sesudah melakukan thowaf, lalu mengerjakan sa’i antara bukit shofa dan bukit marwah sebanyak tujuh kali, seperti melakukan thowaf tujuh kali putaran.

Alloh swt ingin agar dalam menunaikan manasik, kaum muslimin membangkitkan keimanan bahwa Alloh swt menciptakan dan menjadikan alam ini berjalan sesuai dengan sebab-musabab. Ada pun orang yang menerapkan hukum kehidupan (baik ia seorang mukmin maupun seorang kafir) dengan baik maka tentu hasilnyapun akan baik. Alloh swt juga ingin menarik perhatian kita untuk menyadari bahwa Alloh swt adalah pencipta sebab-musabab dan Dia juga di atas segala sebab dan akibat.

Alloh swt memberikan rizki kepada siapapun dengan hitungan dan tanpa hitungan. Alloh swt member petunjuk kepada kita cara-cara mendapatkan rizki. Kalau kita melakukanya dengan baik maka kita akan memperolehnya, akan tetapi kalau kita tidak pandai mengelolanya dengan baik maka tentu saja Alloh swt tidak akan memberikan hasil yang dia harapkan. Namun jangan anda salah mengerti, bukan hanya sebab-musabab itu saja yang bisa memberikan rizki kepada Anda, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Hanya dialah yang mampu memberikan rizki kapada Anda.

Disini terdapat perbedaan antara karunia Alloh swt mulai sebab-musabab dan karunia-Nya yang langsung. Dalam manasik haji Alloh swt ingin menyadarkan kita melalui peristiwa sejarah dengan melibatkan kita untuk mengenang dan mengamalkan dan apa yang dilakukan Sayyidatina Hajar ra, Nabi Isma’il as dan Nabi Ibrohim as ketika berada di tempat yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, air, atau sarana hidup lainya.

Di tempat yang gersang dan tandus yang hampa dari berbagi sarana dan syarat-syarat untuk mempertahankan hidup, Nabi Ibrohim as meninggalkan istri dan bayinya. Ketika Nabi Ibrohim as hendak pulang, sang istri bergegas lari memegangi tali kekang kendaraanya seraya bertanya keheranan:
“Apakah kami berdua akan di tinggal pergi di lembah ini .?”
Nabi Ibrohim as tidak bisa menjawab pertanya’an istrinya karna sesungguhnya hatinya risau harus meninggalkan keluarganya. Dan Sayyidatina Hajar ra bertanya lagi:
“Kepada siapa kami di tinggalkan disini .? Apakah Alloh yang memerintahkan kepadamu .?”
Nabi Ibrohim as tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Tenggorokannya kering, kedua bibirnya seakan terkatup rapat, air matanya seolah-olah tertahan pada kelopak matanya.
Untuk memperlihatkan kejantanan dan ketabahanya sesekali matanya dilepaskan ke atas. Ia hanya bisa menjawab pertanyaan istrinya dengan anggukan kepalanya membenarkan tanda tanya istrinya.
Setelah melihat jawaban itu, hati Sayyidatina Hajar ra pun merasa lega, ia menyambutnya dengan penuh keimanan dan ketabahan, ia berkata:
“Kalau begitu kami tidak akan diabaikan oleh-Nya.”

Itulah kisah keimanan yang pertama. Apabila Alloh swt menakdirkan Anda hidup dimanapun, pasti Dia tidak akan mengabaikan Anda, meskipun sarana hidup sudah tidak mampu lagi memberikan kehidupan kepada Anda.

Apa yang di lakukan Sayyidatina Hajar ra dengan kepergian suaminya tersebut .?
Sayyidatina Hajar ra menerima kehendak dan irodat Alloh swt dengan ridlo. Namun tak lama setelah suaminya pergi, isma’il as, putranya menangis sejadi-jadinya karna kehausan. Sayyidatina Hajar ra ingin memberinya minum. Dalam keadaan seperti itu dia sudah berusaha menempuh jalan sebab-musabab, menempuh sarana yang umum. dia mencari sumber mata air di sekitar tempat itu, berlari-lari antara bukit Shofa dan Marwah. Ia berpikir barangkali tidak jauh dari tempatnya ada musafir atau kafilah yang lewat, yang membawa air untuk pemuas dahaga putranya.

Usaha pencarian sudah di lakukan, jerih payah pun sudah di kerahkan. Sayyidatina Hajar ra turun-naik bukit Shofa dan Marwah. Dia sudah malakukan berulang-ulang sebanyak tujuh kali, namun tetap juga belum menemukan air yang dibutuhkan.

Turun-naik bukit Shofa dan Marwah dengan berlari-lari merupakan usaha maksimal yang bisa dilakukannya. Ikhtiar apa lagi yang dilakukannya di lembah tandus itu .?
Kini habislah sudah segala daya-upayanya. Hatinya resah dan gelisah mengenang nasib bayinya. Rasanya segala upaya telah buntu. Dan kini harpanya hanya Alloh swt semata. Dia yakin Alloh tidak akan mengabaikannya.

Subhanallah .! Tib-tiba ia melihat dari tanah yang terkena pukulan kaki bayinya, Isma’il as yang sedang menangis, memancar mata air.

Sayyidatina Hajar ra sudah melakukan ikhtiar yang sebisa dia lakukan, namun tidak berhasil. Sedangkan bayinya yang tidak berdaya, hanya melakukan beberapa pukulan kaki berhasil memancarkan air mata dari dalam bumi.
Kalau sekitarnya ia menemukan kafilah yang membawa air yang bisa dimintanya atau ia dapat menemuka sebuah mata air yang tidak jauh dari tempanya, tentu saja itu masalah tidak sempurna.

Alloh swt sangat ingin menyempurnakan pasal-pasal masalah itu untuk member pemahaman. Pelajaran dan hikmah kepada kita tentang masalah yang alami, ya’ni apabila Anda sudah menempuh berbagai ikhtiar dan ternyata menemui jalan buntu, maka janganlah patah semangat dan berputus asa. Alloh swt tidak akan mengabaikan anda. Bukankah dia yang menyatakan dan pernyataan-Nya pasti benar .?

Ingatlah firman-Nya:
“Siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai kholifah di bumi .? Apakah di samping Alloh ada tuhan (yang lain) .? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya.”
(QS. An-Naml : 26).

Ini merupakan ibroh bagi orang mukmin agar jangan berputus asa dalam situasi bagaimana pun karna kita memiliki andalan yang Maha kuat dan Maha Pemurah. Orang kafir (Na’udzubillah .!) apabila berputus asa banyak yang bunuh diri. Tapi orang mukmin tidak demikian. Orang mukmin yakin Robbnya tidak akan mengabaikan dirinya.

Inilah yang dibawa para haji kembali kenegrinya masing-masing. Masalah itu sudah merupakan keyakinan hatinya. Inilah hikmah peristiwa Sayyidina Hajar ra dan bayinya Isma’il as, yang tidak lain mengandung tujuan agar kaum mukmin mampu menghadapi berbagi gejolak kehidupan dengan tabah dan optimis.

T A H A L L U L

Alloh swt berfirman:
“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran-kotoran mereka, memotong rambut, mengerat kuku dan memenuhi nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thowaf di rumah yang tua itu.”
(QS. Al-Hajj: 29)

Tahallul berma’na “menjadi halal/boleh” setelah melakukan serangkaian amalan ibadah haji atau umroh. Setelah tahallul, semua yang dilarang dalam berihrom diperbolehkan (dibebaskan). Tahallul bisa dengan mencukur gundul, atau memotong sebagaian rambutnya minimal tiga helai rambut, disunnahkan tiga kali memotong dimulai dari rambut kepala bagian kanan lalu yang kiri kemudian yang atas. Sedangkan bagi wanita cukup hanya tiga helai saja.

Di dalam ilmu hikmah, tahallul bukan hanya sekedar memotong rambut, sebagaimana Nabi saw ajarakan kepada para pengikutnya. Lebih dalam lagi, tahallul itu memiliki falsafah sangat mendalam, yaitu; mennghilangkan pikiran-pikiran kotor yang ada di dalam otak manusia. Dengan mencukur habis rambut kepala hingga pelontos, atau mencukur rambut saja, diharapakan maksiat-maksiat yang bersumber dari kepala “otak” yang berupa angan-angan atau hayalan, bisa hilang bersama rambut yang dibuang.

Melalui Tahallul, Nabi saw ingin menyampaikan kepada para pengikutnya agar supaya otaknya dibersihkan dari segala kotoran yang bisa menodai ibadah-ibadah yang selama ini ia lakukan hususnya ibadah haji yang sedang ditunaikan, sebagaimana memotong dan mencukur rambut yang melekat pada kulit kepala.

Tidaklah berlebihan jika Nabi Muhammad saw kemudian mengatakan bahwa “tidak ada balasan paling tepat bagi mereka yang hajinya mabrur, kecuali balasan sorga.”
Pernyataan itu tentu saja diperuntukkan bagi mereka yang membersihkan niatnya hanya karena melaksanakan perintah Alloh swt semata, yang kemudian ditandai dengan Tahallul.

Semoga dengan rontoknya ribuan rambut di kepala para hujjaj ketika ia bertahallul, maka rontok pula ribuan angan-angan kotor, keangkuhan dan kesombongannya yang dapat menghalangi diterimanya haji, dengan demikian diharapkan pekerjaan ibadahnya menjadi tawadlu’ dan rendah diri, sehingga dapat meraih haji yang mabrur.

وَالله ُاَعْلَمُ بِصَّوَابْ

MADINATURROSUL AL-MUNAWWAROH

ZIAROH KE MADINATURROSUL

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrohim telah mengharamkan Makkah dan mendo’akan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdo’a agar setiap sho` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang dido’akan Ibrohim untuk penduduk Makkah.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

barangsiapa yang akan berkunjung ke kota Madinah, hendaklah ia mandi sebelum memasuki kota, memakai wewangian, memakai pakaian yang baik dan bersih dari yang dimilikinya, hendaklah memperbanyak bacaan sholawat dalam perjalanannya.

Apabila telah memasuki kota Madinah dan tampak baginya dinding-dinding bangunan, pohon-pohon korma, dan pepohonan hendaklah membaca do’a:

اَللّهُمَّ هَذَا حَرَامُ رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْهُ لِيْ وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَاَمَانًا مِنَ الْعَذَابِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.

Apabila telah turun dari kendaraan dan telah menginjak tanah Harom-madani hendaklah membaca do’a:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبِّ اَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِى مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا.

“Dengan nama Alloh dan diatas jalan agama yang dibawa oleh Rasululloh. Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengancara yang baik pula, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuatan yang menolong.”

Setelah sampai di pemondokan / maktab, hendaknya segera berkunjung ke masjid Nabawi melakukan sholat dua roka’at, kemudian setelah selesai sholat segera berziaroh menuju ke makam Nabi Muhammad saw. dengan cara berdiri berhadapan dengan wajah beliau, (menghadap dinding makam), jangan terlalu mendekat, berdiri agak jauh itu lebih menunjukkan rasa ta’dhim dan penghormatan kepada beliau, disaat berdiri ucapkanlah salam kepada beliau, setelah itu bergeserlah sedikit ke kanan dan ucapkanlah salam kepada kholifah pertama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. kemudian bergeserlah sedikit lagi ke kanan dan ucapkanlah salam kepeda kholifah kedua Sayyidina ‘Umar ibnu Khothob ra. Keduanya adalah sahabat-sahabat terdekat yang mendampingi perjuangan Rosululloh saw. dan keduanya dimakamkan disamping beliau saw.

Berupayalah dengan sungguh-sungguh agar bisa sholat di masjid lama yang di bangun sendiri dengan tangan beliau yang suci, karena didalamnya ada “Roudloh” yaitu taman sorga. Rosululloh saw. bersabda:
“Tempat antara kuburku dan mimbarku adalah taman (roudloh) dari taman-taman sorga.”
Perbanyaklah baca Sholawat, Istighfar, Tahlil dan Tasbih ditempat ini, dan berdo’alah, semoga Alloh swt. tiada henti-hentinya mencurahkan rohmat-Nya kepada kita dan Rosul pun berkenan memberikan syafa’atnya kepada kita kelak di hari akherat.

Bila berjalan di tanah suci Madinah hendaklah dengan tawadhu’ dan ta’dhim, karena tidak ada sejengkal tanahpun di kota ini yang tidak pernah di injak kaki suci Nabi Muhammad saw. dan tidak ada udara yang tidak pernah dihirup oleh beliau.

Di anjurkan untuk berziarah ke pemakaman Baqi’, disinilah kholifah ketiga Sayyidina ‘Utsman bin Affan ra. dimakamkan, dan makam Sayyidatina Fathimatuz-zahro ra. dan makam anak cucu Rosululloh saw, dan ummahatul-mukminin ‘Aisyah ra, juga para sahabat-sahabat beliau, ucapkan salam untuk mereka semua yang telah mendahului kita.

Di anjurkan pula untuk mengunjungi gunung Uhud, yaitu tempat pemakaman para syuhada’, dipemakaman ini ada paman Rosululloh saw. yang gugur dalam perang uhud yaitu Sayyidus-syuhada’ Hamzah ra. ucapkanlah salam untuknya dan untuk para syuhada’ yang lain.

Berziarahlah ke masjid Kuba, karena Rosululloh saw. bersabda:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci (dari hadats) mengunjungi masjid Quba dan melakukan sholat didalamnya, maka baginya pahala sama dengan umroh.”

Setelah selesainya kegiatan berbagai macam ibadah, sebelum meninggalkan kota suci Madinah hendaklah berpamitan kepada Rosululloh saw. Ucapkan salam kepada beliau seperti ketika anda ziaroh pada pertama kalinya, lalu ucapkan dengan rasa tunduk dan dengan suara perlahan penuh rasa haru:
“Ya sayyidi ya rosulalloh, yang memberi syafa’at serta rohmat untuk seluruh alam, berilah aku syafa’at serta rohmatmu, sebagai bekal hidupku didunia dan diakhirat.
Aku berdiri dihadapanmu mohon pamit kepadamu, dan sebelum aku meninggalkan kotamu yang suci penuh barokah ini, aku mohon engkau berkenan menerima kesaksianku:
اَشْهدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
agar engkau membawa kalimat ini kepada Tuhan semesta alam raya, sebagai bukti ke-imananku kepadamu dan kepada Tuhanmu.”

Kemudian bacalah do’a:

اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ أَخِرَ عَهْدِيْ مِنْ قَبْرِ نَبِيِّكَ وَمِنْ حَرَامِكَ وَاجْمَعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ فِى دَارِ الْقَرَارِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

“Ya Alloh janganlah engkau jadikan kunjunganku ini sebagai kunjunganku yang terahir kepada makam Nabi-Mu serta kawasan suci ini. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara semua yang pengasih.”

KEUTAMAAN MENGUNJUNGI ROSULULLOH SAW

Dari Ibnu Umar ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa yang datang menziarahi aku, niscaya aku punya hak atas Alloh sebagai pemberi syafa’at.”
(HR. Thobroni)

Alloh swt berfirman:

أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri (berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Sungguh , Alloh dan Rosul-Nya telah menentramkan jiwa orang-orang Islam yang tidak sempat hidup di masa beliau saw, melalui sabdanya:
“Barang siapa menziarahiku sepeninggalku, seakan-akan ia menziarahi aku semasa aku masih hidup.”
(HR. Thobroni melalui Ibnu Umar)

Beliau saw telah menenangkan hati orang-orang yang beriman sepanjang masa dengan sabdanya:
“Kehidupanku baik untuk kamu, maka bila aku wafat, wafatku baik untuk kamu, dipaparkan kepadaku amal-amal kamu, kalau kutemukan amal itu baik, aku memuji Alloh, dan bila buruk, aku beristighfar memohonkan pengampunan untuk kamu.”
(HR. Ibnu Sa’ad melalui Bakar bin Abdillah)

Dengan demikian, permohonan ampunan Rosul saw kepada Alloh swt, bagi ummatnya ada, dan berlanjut terus.
Dengan demikian yang di tuntut dari diri kita yang hidup setelah masa Rosul saw, tidak lain kecuali menziarahi “Datang kepada beliau” dengan memohon ampun kepada Alloh swt dan mengikuti sunnah yang beliau saw tinggalkan buat kita seperti yang beliau nyatakan:
“Aku tinggalkan buat kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Alloh dan sunnahku, keduanya tidak terpisah hingga keduanya menemuiku di sorga.”
(HR. Al-Hakim melalui Abu Huroiroh)

Mengapa permohonan ampun Rosul saw kita butuhkan .?
1. Pelanggaran pada hukum yang telah ditetapkan Rosul saw mengandung pelecehan terhadap beliau saw, sehingga mereka harus memohon maaf kepada beliau saw dan beliau saw harus memaafkan.
2. Mereka yang melanggar itu tidak rela pada hukum yang ditetapkan Rosul saw, dan ini mengandung pembangkangan.
Karena itu taubat mereka harus disertai sesuatu yang membuktikan penyesalan mereka atas pembangkangan tersebut, maka mereka harus datang kepada Rosul saw.
3. Boleh jadi taubat mereka tidak sempurna atau mengandung kekurangan, maka dengan bergabungnya taubat mereka dengan permohonan ampun Rosul saw buat mereka, diharapkan mereka dapat memperoleh pengampunan Alloh swt.

Dalam hal ini Rosululloh saw menegaskan dengan sabdanya:
“Barang siapa memiliki kemudahan, namun tidak menziarahi aku, berarti ia sengaja menjauhi aku.”
(HR. Ibnu Hibban, Imam Malik, Ibnu ‘Adi, Imam ad-Daruquthni, melalui Ibnu ‘Umar)

KISAH BADUWI BERZIARAH KE KUBUR NABI SAW

Sepeninggal Rosululloh saw, seorang Baduwi datang ke Madinah, ia bermaksud menjumpai beliau saw.
Sesampainya di Madinah, ia bertanya kepada sahabat yg dijumpainya, di mana ia bisa bertemu Rosululloh saw.
Tapi dikatakan kepadanya bahwa Rosululloh saw telah wafat, dan di makamkan di samping masjid, di kamar Sayyidati ‘Aisyah ra.

Mendengar berita tersebut, Baduwi itu sangat bersedih, air matanya bercucuran, karena tidak sempat berjumpa dengan Rosululloh saw.
Segera ia menuju makam, di hadapan makam beliau saw, ia duduk bersimpuh, mengadukan dan mengutarakan kegelisahan dn kegundahan hatinya.
Dgn linangan air mata, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, engkau Rosul pilihan, makhluk paling mulia di sisi Alloh.
Aku datang untuk berjumpa denganmu untuk mengadukan segala penyesalanku dan kegundahan hatiku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku, namun engkau telah pergi meninggalkan kami.
Aku datang karena Alloh telah berfirman melalui lisanmu yang suci:
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri
(berpaling dari tuntunan Alloh, atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus, lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati, dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64).

Kini aku datang kepadamu untuk mengadukan halku, penyesalanku atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat di masa laluku, agar engkau mohonkan ampunan kepada Alloh bagiku.”

Setelah mengadukan segala keluh kesah yang ada di hatinya, Baduwi itu pun meninggalkan makam Rosululloh saw.

Ketika itu di Masjid Nabawi ada seorang sahabat Rosululloh saw tengah tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi Nabi saw.
Beliau saw bersabda:
“Wahai Fulan , bangunlah dan kejarlah orang yang tadi datang kepadaku.
Berikan kabar gembira kepadanya bahwa Alloh telah mendengar permohonannya dan Alloh telah mengampuninya atas segala kesalahan dan dosanya.”

Sahabat tadi terbangun seketika itu juga, tanpa berpikir panjang ia pun segera mengejar orang yang dikatakan Rosululloh saw dalam mimpinya.
Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud pun terlihat olehnya, sahabat itu memanggilnya dan menceritakan apa yang dipesankan Rosululloh saw dalam mimpinya.

Alloh berfirman:
“Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
(QS. Al-Baqoroh: 143).

MADINAH YANG DIRINDUKAN SETIAP MUSLIM

Begitu banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dengan nilai-nilai keimanan tinggi terkumpul di kota Madinah. Keutamaan dan kemuliaan kota Madinah menghiasi pendengaran dan penglihatan.

Alloh swt menjadikan kota Madinah sebaik-baik tempat setelah Makkah al-Mukarramah. Tempat diturunkannya wahyu dan tempat bertemunya antara Muhajirin dan Anshor, dan di dalamnya ditegakkan bendera jihad fi sabilillah dan tersebarnya al-Islam keseluruh penjuru alam. Banyak hadist Nabi saw menjelaskan sisi-sisi keutamaan kota Madinah.

MADINAH SEBAGAI KOTA SUCI

Madinah oleh Rosululloh saw dijadikan sebagai kota suci, di sinilah Islam tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, sehingga semesta yang pada waktu itu tertutup oleh kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya Islam.

Diriwayatkan dari Abdulloh bin Zaid bin `Ashim ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ
وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrohim telah mengharamkan Makkah dan mendo’akan penduduknya, dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim telah mengharamkan Makkah.
Dan sesungguhnya aku juga berdo’a agar setiap sho’ dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang dido’akan Ibrohim untuk penduduk Makkah.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:  

إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ. وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا.
لاَ يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلاَ  يُصَادُ صَيْدُها

“Sesungguhnya Ibrohim menjadikan Makkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah Tanah Suci di antara tepinya.
Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya.”
(HR. Bukhori)

Dan Rosululloh saw telah menjelaskan batasan-batasan tanah haram di Madinah. Wilayah haram membentang dari Gunung Tsur (yang merupakan perbatasan sebelah utara) hingga Gunung ‘Ier (yang merupakan perbatasan sebelah selatan).
Dan dari Harroh Waqim (yang merupakan perbatasan sebelah timur) hingga Harroh Wabroh (yang merupakan perbatasan sebelah barat).

JAMINAN SYAFA’AT ROSULULLOH

Ini merupakan sebuah kehormatan bagi penduduk Madinah atau yang menziarahinya apabila meninggal di dalamnya.
Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana.”
(HR. Tirmizi dan Ahmad)

Diriwayatkan, Abu Sa’id maula Al-Mahri datang kepada Abu Sa’id Al Khudri ra, di malam peristiwa Al-Harroh untuk meminta nasehatnya dia hendak keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi, sedangkan ia mempunyai banyak tanggungan, dia menyampaikan, sudah tidak mampu lagi menanggung cobaan dan kesulitan hidup di kota Madinah.
Lalu Abu Sa’id Al-Khudri ra menjawab:
“Celakalah engkau .! aku tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa’at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”
(HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar ra, ia pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa bersabar dengan  kesukaran di Madinah, maka aku akan memberi syafa’at atau menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat.”
(HR. Muslim)

Beliau saw juga bersabda:

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

“Siapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia berusaha ke arah itu. Karena sesungguhnya aku menjadi saksi bagi siapa yang meninggal di sana.”
(HR. Muslim melalui Ibnu Umar ra)

Sayyidina ‘Umar bin Khoththob ra, pernah berkeinginan meninggal di kota Madinah, beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ya Alloh, karuniakanlah aku syahid di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Rosul-Mu saw (Madinah).”
(HR. Bukhori)

MADINAH TEMPAT KEMBALINYA IMAN

Tidak diragukan lagi, Madinah adalah ibukota pertama umat Islam dan darinya tersebar Islam keseluruh penjuru alam. Dan setiap muslim menyimpan rasa rindu untuk menziarahinya dan karena kecintaannya kepada Rosululloh saw.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh ra, bahwa Rosululloh saw bersabda,

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

MADINAH BEBAS DARI THO’UN DAN DAJJAL

Salah satu keutamaan kota Madinah lainnya adalah ia dijaga oleh para Malaikat sehingga Tho’un—yaitu wabah penyakit menular yang bisa memusnahkan semua penduduk suatu negeri— dan Dajjal tidak bisa dapat memasukinya.
Banyak hadits-hadits shohih yang menjelaskan tentangnya.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat sehingga wabah Tho’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Anas ra, Rosululloh saw bersabda:  
“Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Makkah dan Madinah. Dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Lalu Dajjal singgah di Shopha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal.”
(HR. Bukhori  dan Muslim)

MADINAH TEMPAT YANG BERKEBERKAHAN

Dari Zaid bin Tsabit ra, Rosululloh saw bersabda tentang kota Madinah:

إِنَّهَا طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ وَإِنَّهَا تَنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ

“Ia Thoibah, yaitu Madinah. Ia menghilangkan segala keburukan sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada perak.”
(HR. Muslim).

Dari Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:
“Kami tiba di Madinah ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu.
Ketika Rosululloh saw menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

“Ya Alloh, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sho` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah.”
(HR. Muslim).

Awan Tag