TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN RAMBUT DAN KUKU NABI MUHAMMAD SAW

1. Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shohihnya pada Kitab al-libas (bab pakaian) dalam pasal berjudul “Tentang rambut abu-abu”, bahwasanya ‘Usman ibn Abdulloh ibn Mawhab ra mengatakan: “Keluargaku mengirim diriku pergi ke Ummu Salama dengan secangkir air. Ummu Salama membawa keluar suatu botol perak yang berisi sehelai rambut Nabi saw, dan biasanya jika seseorang memiliki penyakit mata atau kesehatannya terganggu, mereka mengirimkan secangkir air kepadanya (Ummu Salama) agar ia mengalirkan air itu lewat rambut tersebut (dan diminum). Kami biasa melihat ke botol perak itu dan berkata, ‘Aku melihat beberapa rambut kemerahan’”.

2. Anas ra berkata:
“Ketika Rosululloh saw mencukur kepalanya (setelah hajji), Abu Tholha adalah orang pertama yang mengambil rambutnya” (HR. Bukhori).

3. Anas ra juga berkata:
“Nabi saw melempar batu di al-Jamro, kemudian ber-qurban, dan menyuruh seorang tukang cukur untuk mencukur rambut beliau di bagian kanan lebih dulu, lalu memberikan rambut tersebut pada orang-orang” (HR. Muslim).

Dia (Anas ra) berkata:
“Tholha adalah orang yang membagi-bagikannya”. (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Dia (Anas ra) juga berkata:
“Ketika Rosululloh saw mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau saw memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda:
“Hai Anas, bawa ini ke Ummu Sulaim (ibunya).”
Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rosululloh saw berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau saw yang berasal dari sisi kiri kepala beliau saw, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (HR. Ahmad).

4. Ibn al-Sakan meriwayatkan lewat Sofwan ibn Hubairo dari ayah Sofwan: Tsabit al-Bunani berkata:
Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya):
“Ini adalah sehelai rambut Rasulullah saw. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku.”
Tsabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya.”

5. Abu Bakar ra berkata:
“Aku melihat Kholid ibn Walid meminta gombak (rambut bagian depan/ubun-ubun) Nabi saw, dan dia menerimanya. Dia biasa menaruhnya di atas matanya, dan kemudian menciumnya.”
Diketahui bahwa kemudian dia menaruhnya di qolansuwa (tutup kepala yang dikelilingi sorban) miliknya, dan selalu memenangkan perang.” (riwayat Al-Waqidi di Maghozi dan Ibn Hajar di Isaba).

Ibn Abi Zaid al-Qoirowani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata:
“Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qolansiyya yang berisi beberapa helai rambut Rosululloh saw, dan itulah yang dipakainya pada perang Yarmuk.

6. Ibn Sirin (seorang tabi’in) berkata:
“Sehelai rambut Nabi saw yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi.” (HR. Bukhori, Bayhaqi dalam Sunan Kubro, dan Ahmad).

7. Dalam Shohih Bukhori, vol 7, kitab 72, no. 784, Utsman bin Abdulloh ibn Mawhab berkata:
“Orang-orangku mengirim semangkuk air ke Ummu Salama.” Isra’il memberikan ukuran tiga jari yang menunjukkan kecilnya ukuran wadah yg berisi beberapa helai rambut Nabi saw.
Utsman menambahkan:
“Jika seseorang sakit karena suatu penyakit mata atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salama (dan dia akan mencelupkan rambut Nabi saw ke dalamnya dan air tersebut akan diminum).

Aku melihat ke wadah (yang berisi rambut Nabi saw) dan melihat beberapa helai rambut kemerahan di dalamnya.”

Hafiz Ibn Hajar dalam Fathul-Bari, Vol. 10, hlm, 353, mengatakan:
“Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi saw itu sebagai jiljalan dan botol itu disimpan di rumah Ummu Salama.”

Hafiz al-’Ayni berkata dalam ‘Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79:
“Ummu Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi saw dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Ummu Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Ummu Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal.”

8. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya (4:42) dari Abdulloh ibn Zaid ibn ‘Abd

Robih dengan sanad yang shohih seperti yang dinyatakan oleh Haitami dlm Majma’ al-Zawaid, bahwa Nabi saw memotong kukunya dan membagikannya ke orang-orang.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KERINGAT ROSULULLOH SAW

1. Anas bin Malik ra berkata:
“Nabi saw tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan keringatnya dalam suatu bejana. Nabi saw terbangun dan bertanya,
“Wahai Ummu Sulaim, apa yang kau lakukan .?”
Dia (Ummu Sulaim) menjawab:
“Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami dan itu adalah parfum terbaik.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Ketika Anas bin Malik ra, terbaring menjelang wafatnya dia menyuruh agar sebagian dari bejana itu digunakan saat upacara sebelum penguburannya, dan memang dipakai seperti yang ia suruh.” (HR. Bukhori).

Ibn Sirin juga diberikan sebagian dari bejana milik Ummu Sulaim. (HR. Ibn Sa’id)

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN SALIVA (AIR LUDAH SUCI) NABI SAW DAN AIR WUDHU’ BELIAU SAW

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang ini amatlah banyak. Antara lain dapat dilihat di karya Syaikhul Muhadditsiin Imam Ibn Hajar al-Asqolany, Fathul-Bari 1989 ed. 10:255-256.

1. Dalam riwayat Bukhori dan Muslim:
Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi saw untuk digunakan membasuh muka mereka.

Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim berkata:
“Riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihit-tabarruk bi atsaris-sholihin).

2. Nabi saw biasa menggunakan saliva-nya untuk menyembuhkan penyakit, saliva beliau dicampur dengan sedikit tanah, dan diikuti kata-kata.

“Bismillah, tanah dari bumi kita ditambah dengan air liur dari orang-orang yaqin di antara kita akan menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Nabi saw pernah menyuruh setiap orang di Madinah kemudian Makkah untuk membawa bayi-bayi mereka yang baru lahir, kepada siapa beliau saw membacakan do’a dan memasukkan campuran nafas dan ludah (nafs wa tifl) beliau ke dalam mulut bayi-bayi itu. Beliau kemudian memerintahkan pada ibu-ibu mereka untuk tidak menyusui sampai malam.
(HR. Bukhori, Abu Dawud, Ahmad, Bayhaqi dalam Dala’il Nubuwwah, Waqidi, dll).

Nama-nama lebih dari 100 orang Ansor dan Muhajirin yang menerima barokah khusus ini diketahui lengkap dengan isnadnya.

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: