Archive for Januari, 2016

MAAFKANLAH ..!

MAAFKANLAH ..!

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Nabi Yûsuf as, menjawab kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya :
“Tidak apa-apa .. Hari ini kalian tidak terhina. Kalian aku maafkan karena alasan menghormati keturunan dan hak saudara. Aku akan memohon kepada Alloh agar memaafkan dan mengampuni kalian. Sesungguhnya Dia adalah pemilik kasih sayang yang amat luas.”
Hal ini merupakan sifat ihsan yang sangat tinggi, Beliau as memaafkan kedholiman saudara-saudaranya, tidak mencela, bahkan mendo’akan ampunan dan rohmat untuk mereka.

Berjanjilah kamu kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mencintai dan berkasih sayang kepada saudara-mukmin dan saudara muslimmu, berlaku lemah lembut terhadap mereka dan siapa pun, baik yang merahasiakan dan membongkar atau menunjukkan kebenciannya kepadamu, sebab mereka itu sesungguhnya hanya mengekpresikan rasa cinta yang mereka dustakan dengan kedengkian mereka atas kebodohannya.

Jika kamu membalas kedholiman mereka oleh sebab perbuatan yang mereka lakukan terhadapmu, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba Tuhan-Mu, sama seperti dirimu ..
Dan, jika kamu memaafkan mereka, maka sesungguhnya hanya Tuhan-mulah yang Maha Perkasa, sangat Bijaksana dalam setiap ketentuan yang Engkau buat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sampaikanlah -wahai Rosululloh- kepada orang-orang yang beriman -kepada Alloh dan mereka yang mengikutimu- hendaklah mereka memaafkan orang-orang -bodoh- yang tidak mempercayai adanya hari-hari pembalasan Alloh, karena -sesungguhnya- Dia akan membalas setiap kaum -dengan kebaikan dan keburukan- sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Jasiyah :14).

إِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan -menampilkan- yang lebih baik -yaitu budi pekerti yang baik, bersikap lapang dada dan berpaling dari mereka yang buruk dan perlakuan mereka yang menyakitkan dirimu itu-.
Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan -kedustaan dan buat-buatan mereka, maka kelak Kami akan membalaskan buatmu atas perbuatan mereka-.” (QS. Al-Mukminun : 96).

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf -mudah memaafkan di dalam menghadapi perlakuan mereka, dan janganlah engkau membalas perbuatan mereka- dan suruhlah orang mengerjakan makruf -perkara kebaikan dengan ucapan yang lembut dan sikap yang halus- serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh -janganlah engkau melayani kebodohan mereka-.” (QS. Al-A’rof :199).

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Dan -bagi- orang-orang yang menjauhi -atau ingin dijauhkan dari catatan hisab- dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji -dihari perhitungan nanti, ialah apabila mereka -dalam keadaan- marah -karena gangguan- mereka -cepat-cepat- memberi maaf.” (QS. Asy-Syuro : 37).

ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ
“Barang siapa memaafkan -orang yang berbuat dholim kepadanya- dan berbuat baik -kepada orang yang telah mendholiminya- maka pahalanya atas tanggungan Alloh -dan Alloh pasti akan membalas dengan sempurna pahalanya-.” (QS. Asy-Syuro : 40).

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Maha Suci Engkau -tidak sepatutnya kami akan menyanggah kehendak-Mu, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana -hingga tidak seorang pun yang lepas dari pengetahuan serta hikmah kebijaksanaan-Mu-.” (QS. Al-Baqoroh : 32).

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“-Tuhanku- Jika Engkau menyiksa mereka -orang-orang yang melakukan kekafiran di antara mereka-, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau .. -Engkau lah Yang Menguasai mereka, Engkau lah yang berhak memperlakukan mereka menurut apa yang Engkau kehendaki, tak ada yang bisa menghalang-halangi,- dan jika Engkau mengampuni mereka -orang-orang yang beriman di antara mereka-, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ma’idah :118).

رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ ۖ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ
“Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini.
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami .?
Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.
Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rohmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’rof : 55).

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
“-kepada- mereka, mudah-mudahan Alloh memaafkannya. Dan adalah Alloh Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’ : 99).
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
“Dan janganlah Engkau hinakan aku -dan janganlah Engkau jelekkan aku- pada hari semua manusia dibangkitkan,” (QS. As-syu’aro’ : 87).

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Tuhan kami .. Janganlah Engkau hukum kami
jika kami lupa atau kami tersalah ..

Tuhan kami .. Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami ..

Tuhan kami .. Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya ..

Beri ma’aflah kami .. Tutupilah kesalahan-kesalahan kami, dan rohmatilah kami. Engkaulah Penolong kami ..

Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (yang menutupi kebenaran dan mengingkari tuntunan-Mu).” (QS. Al-Baqoroh :286).

Ya Alloh .. kami benar-benar menyucikan-Mu dengan kesucian yang sesuai dengan Dzat-Mu .. Kami mengakui kelemahan kami dan tidak akan membantah-Mu. Tidak ada yang kami ketahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami .. Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana atas segala yang Engkau lakukan.

Iklan

SHOLAWAT SHAKTI


SHOLAWAT SHAKTI ini terdiri dari 56 huruf hijaiyah .. 5 + 6 = 11 ..

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ ..
”Ya Alloh, limpahkanlah sholawat atas sayyidina Muhammad dan atas Ummat sayyidina Muhammad laki-laki dan wanita yang beriman.”

Sholawat Shakti ini, bila kita hitung dengan nilai numerik abajadun, maka kita akan menemukan rahasia Sholawat Shakti dalam bilangan angka-angka yg SANGAT LUAR BIASA ..

Sholawat Shakti ini di awali dengan Lafadh الله Alloh, lalu Lafadh محمد Muhammad, kemudian Lafadh مؤْمن Mukmin .. semuanya memiliki unsur 11 ..

Lafadh الله yang terdiri dari huruf Alif = 1, Lam = 30, Lam = 30 dan Ha = 5 .. maka akan diperoleh hasil 1 + 30 + 30 + 5 = 66 yaitu 6 + 6 = 12 yaitu 11 x 6 = 66 .. Berarti lafadh Alloh memiliki unsur bilangan 11 .. Sebelas.

Sedangkan Lafadh utusan-Nya Nabi محمد yang terdiri dari huruf Mim = 40, Ha = 8, Mim = 40 dn Dal = 4 .. maka akan diperoleh hasil 40 + 8 + 40 + 4 = 92 yaitu 9 + 2 = 11 .. Dengan demikian lafadh Muhammad memiliki unsur bilangan 11 .. Sebelas.

Surat Muhammad dalam al-Qur’an adalah urutan surat yang ke 47 .. yaitu 4 + 7 = 11 .. yang terdiri dari 38 ayat 3 + 8 = 11 .. memiliki unsur bilangan sebelas ..

Demikian juga dengan surat al-Muddatstsir, yang berhubungan dengan kehidupan Nabi Muhammad saw, merupakan surat ke-74, yaitu 7 + 4 = 11, yang terdiri dari 56 ayat, dan berahir dengan jumlah hurufnya Sholawat Shakti, 56 .. 5 + 6 = 11 .. Sebelas.

Sedangkan lafadh مؤمن yang berarti orang-orang beriman juga memiliki unsur 11 .. Mim = 40, Wau = 6, Hamzah = 1, Mim = 40, dan Nun = 50 .. maka diperoleh hasil .. 40 + 6 + 1 + 40 + 50 = 137. yaitu 1 + 3 + 7 = 11 .. Sebelas.

Jika ketiga unsur 11 ini kita hitung .. 11 + 11 + 11 = 33 .. maka kita akan ketahui bahwa urutan surat-surat dalam al-Qur’an yg ke 33 adalah surat al-Ahzab, terdapat di ayat ke 56 .. yaitu ayat yg menerangkan secara tegas tentang perintah sholawat .. Sedangkan jumlah huruf pada ayat tersebut 65 huruf, yg juga memiliki unsur bilangan 11 ..

Alloh swt berfirman :
 إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi .. Hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33] : 56).

SHOLAWAT SHAKTI yg satu ini hurufnya berjumlah 47 .. 4 + 7 = 11 ..

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَيْنَا أُمَّتِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
“Ya Alloh, curahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan kepada sayyidina Muhammad, dan atas kami ummatnya sayyidina Muhammad.”

Langsung saja kita buka al-Qur’an lihat surat yg ke-47 .. Masya Alloh .. Ia adalah surat Muhammad .. Surat ini terdiri dari 38 ayat .. 3 + 8 = 11 .. Memiliki unsur sebelas ..

Sholawat Shakti yg pertama kita ketahui jumlah hurufnya 56 dn sholawat Shakti yg kedua jumlah hurufnya 47, jika kita hitung 56 + 47 = 103 .. Coba kita lihat ayat dimana Alloh swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk bersholawat kepada ummatnya .. Alloh swt berfirman :

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin itu.
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka,
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (QS. At-Taubah : 103).

Jumlah huruf sholawat ini juga sama persis dengan surat al-Ikhlas, yg terdiri dari 47 huruf .. Sedangkan Jumlah ayat dalam surat yg berjumlah 11 adalah surat Yasin 83 .. 8 + 3 = 11 .. Surat ini disebut sebagai hati atau jantung nya al-Qur’an.

Apa artinya sholawat yg jumlah hurufnya sama persis dgn surat 47, surat MUHAMMAD .. dn apa hubungannya dengan surat Ikhlas yg jumlah hurufnya 47 .. jg dgn hatinya al-Qur’an yg memiliki unsur bilangan 11 .. Monggo direnungkan ..!!

SURAT 47 AYAT 11 :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لا مَوْلَى لَهُمْ
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Alloh adalah pelindung orang-orang yang beriman, dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung’.”

SURAT 33 AYAT 47 :

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya, bagi mereka karunia yang besar dari Alloh.”

Coba kita mengkaji ayat lain yg unsurnya 11, dari 2 ayat yaitu surat as-Sajadah ayat 5 dn 6 .. yg jumlah huruf 2 ayat tersebut adalah 63 ..
Anda perhatikan ..!
11 dn 2 = 112 adalah surat al-Ikhlas yg jumlah hurufnya 47 .. Selanjutnya bilangan angka 63 adalah usia Nabi Muhammad ..

Kita mulai dari sebuah riwayat hadits .. Suatu saat Nabi saw mendengar seseorang berdo’a dalam sholatnya dan tidak bersholawat kepadanya, beliau saw berkata: “Secepat itukah .!”
Lalu beliau saw bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu sholat dan berdo’a maka ucapkanlah kalimat hamdalah/tahmid kemudian bersholawatlah dan setelah itu berdo’alah sesuka hatimu.” (HR. Abu Dawud).

Islam mengajarkan pola pola hubungan yang sangat indah dan menawan antara kita sesama muslim … Nabi Muhammad saw … dn Alloh swt …
Alloh swt memerintahkan kita untuk berinteraksi berhubungan dengan-Nya melalui dzikir sholawat kepada Nabi Muhammad, dan memberikan manfaat satu sama lain .. kita diperintahkan untuk bergerak seirama dengan irama semesta, melakukan putaran (sunnatulloh) yg sama/seirama dgn yg dilakukan oleh jagat raya, kita disuruh untuk menjaga dan memelihara agar dapat mencapai tujuan seperti yg dikehendaki oleh Sang Pencipta .. ya’ni hubungan antara penghuni langit dan penghuni bumi.

Alloh swt berfirman :

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dia Yang Maha Kuasa senantiasa mengatur dengan sangat baik semua urusan dari langit ke bumi ..
Kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitungan kamu ..
Itulah Alloh , Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata , Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang ..” (QS. As-Sajadah :5-6)

Bila kita memahami kata sama’/langit sebagai tempat , maka kadar seribu tahun itu dapat di fahami sebagai masa yg ditempuh untuk mencapai tempat itu ..
Tetapi jika kita memahaminya dalam arti sama’/maqom yg tinggi merupakan sesuatu yg mempunyai kedudukan yg sangat terhormat , maka ia bukan tempat ..

Jika itu adalah tempat, maka itu memberi ilustrasi bahwa :
Bila tempat itu diukur dgn ukuran gerak manusia atau benda-benda yg terjadi di dunia, maka ia membutuhkan waktu untuk naik selama kurun waktu 1000 tahun ..

Kita emahami informasi ini sebagai ilustrasi tentang kerja dn pengaturan Alloh yg demikian banyak ..
Sehingga kalau manusia yg mengerjakannya, maka dia membutuhkan waktu seribu tahun guna menempuh jarak yg demikian panjang ..
Apapun maksudnya, yg jelas mengingatkan kita tentang betapa besar dn luas kuasa kerajaan Alloh swt, serta betapa hebat pengaturan-Nya dn betapa besar kebesaran-Nya ..

Sahabat ‘Umar bin Khotthob ra, berkata :
إنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، لاَيَصْعَدُ مِنْهُ شَيْئٌ حَتَّى تُصَلِّى عَلَى نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم
“Sesungguhnya do’a itu dihentikan di antara langit dan bumi, tidak akan naik sedikitpun darinya, sehingga kamu bersholawat atas Nabimu saw.” (HR. Tirmidzi, dalam At-Targhib wa At-Tarhib, dan Tuhfah Ad-Dzakirin dan Al-Adzkar).

SURAT 11 AYAT 47 :
رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Tuhan-ku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, (terhadap) suatu permohonan yang aku tiada mengetahui hakekatnya.
Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi’.”

JANJI NABI MUHAMMAD SAW

Beliau saw bersabda :
من صلي علي كنت شفيعه يوم القيامة
“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku, maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat.” (Hadits riwayat Ibnu Syahiin dalam at-Targhib dan Ibnu Basykawal).

Kabar tentang syafa’at dari Nabi Muhammad saw telah lama terdengar .. Sumber kemuliaan disamping Nabi Muhammad saw adalah hasrat yang sangat kuat pada sholawat .. Dengan bersholawat akan tercapailah segala keinginan dunia dan akherat .. Sebab sholawatlah segala kesulitan berbalik menjadi kemudahan, penderitaan menjadi kebahagiaan ..

Ketahuilah ..! bahwa sholawat adalah bentuk ibadah, pujian, do’a keselamatan, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, keberuntungan, kebahagiaan, kesuksesan dan segala kebaikan dunia akherat yang semuanya bersumber dari Alloh swt.

Sholawat kepada Nabi Muhammad saw sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya melaksanakan perintah Alloh swt untuk mencintai Rosululloh saw.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّتِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ya Alloh, curahkanlah terus-menerus sholawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina Muhammad .. dan kepada ummatnya Sayyidina Muhammad ..

Sholawat kepada Nabi Muhammad saw ini berarti do’a, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama .. dengan mengharapkan ganjaran dari Alloh swt, sebagaimana telah dijanjikan Rosululloh saw, bahwa orang yang bersholawat kepadanya akan mendapat ganjaran yang besar, baik sholawat itu dalam bentuk tulisan maupun ucapan lisan .. dan do’a seorang muslim untuk saudaranya yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Alloh swt ..

Maka Demi Yang Maha Pemilik Kebaikan Sholawat .. Tuhannya Nabi Muhammad saw .. Bermurah hatilah pada diri sendiri wahai orang-orang yang beriman .. Tiadalah orang kikir selain orang yang tidak bersholawat .. Tiadalah orang paling rugi kelak selain orang tidak bersholawat

صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ
“Semoga sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para utusan-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, dan keluarga Nabi Muhammad, dan kepada ummatnya sayyidina Muhammad, dan semoga keselamatan, rohmat Alloh dan barokah-Nya dilimpahkan kepada mereka semua.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ نَوَيْتُ بِالصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ اِمْتِثَالاً لِأَمْرِكَ وَتَصْدِيْقًا لِنَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَمَحَبَّةً فِيْهِ وَشَوْقًا إِلَيْهِ وَتَعْظِيْمًا لِقَدْرِهِ وَلِكَوْنِهِ أَهْلاً لِذَلِكَ،
”Ya Alloh, sesungguhnya aku niat dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk menjalankan perintah-Mu, membenarkan Nabi-Mu Sayyidina Muhammad, sebagai wujud cinta dan rindu kepadanya, sebagai pengagungan bagi ketinggian derajatnya karena beliau pantas menerimanya.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
”Ya Alloh, curahkanlah terus-.enerus sholawat kepada sayyidina Muhammad dan kepada Ummat sayyidina Muhammad, dari kaum laki-laki dan wanita yang beriman.”

فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ ، وَأَزِلْ حِجَابَ اْلغَفْلَةِ عَنْ قَلْبِيْ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. وَوَفِّقْنِيْ لِقِرَائَتِهَا عَلَى الدَّوَامِ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عِنْدَكَ دَرَجَتَهُ.
Maka terimalah sholawatku ini dengan anugrah dan ihsan-Mu. Hilangkanlah tabir kelalaian yang menutupi hatiku. Jadikanlah aku dalam kelompok hamba yang sholeh. Dan berikanlah aku kekuatan untuk selalu membaca sholawat dengan kedudukan derajat Nabi Muhammad di sisi-Mu.”

KASIH SAYANG ALLOH TERHADAP ORANG² MUKMIN

Alloh swt menugaskan sebagian dari malaikat-Nya, bahkan yang termulia dari mereka para pemikul ‘Arsy, untuk memintakan ampunan bagi orang-orang beriman di muka bumi.

Alloh swt berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ العَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):
“Tuhan kami, rohmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mukmin : 7).

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللهَ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Alloh Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. As-Syuro : 5).

Istighfarnya para malaikat untuk kaum mukminin menunjukkan bukti bahwa sesungguhnya Alloh lebih sayang kepada manusia daripada manusia terhadap dirinya sendiri maupun terhadap selainnya.
Para Malaikat itu bukan hanya beristghfar, tapi juga mendo’akan kebaikan untuk mendapatkan rohmat masuk sorga, dan agar dihindarkan dari keburukan-keburukan, malaikat² itu berdo’a:

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Tuhan kami ..
dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.
Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari (hisab) itu, maka sesungguhnya (merekalah yang) telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Mukmin : 8-9).

Berbeda dengan manusia, sebagian mereka bermusuhan dengan sebagian yang lain, sebagian lagi mendo’akan keburukan atas lainnya, bahkan, terkadang mendo’akan keburukan bagi dirinya, pasangannya, anaknya dan kadang juga orang tuanya ..

Maka boleh jadi istighfar para malaikat memiliki keutamaan yang lebih tinggi daripada istighfar manusia itu sendiri, karena mereka mendo’akan dari tempat yang tidak dilihat dan tidak diketahui manusia yang dido’akannya. Dan do’a semaca ini, dalam hadits disebutkan lebih berpeluang dikabulkan.

Dari Abu Darda’ ra, Nabi saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Alloh.
Di atas kepala orang muslim yang berdo’a tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendo’akan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata:
“Amin (semoga Alloh mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim).

Semua itu tidak lain, karena kemurahan dan kasih sayang Alloh swt, yang Maha Mengetahui dampak buruk akibat dari dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia. Sehingga istighfar para malaikat untuk kaum yang beriman diperlukan, juga do’a-do’a kebaikan untuk mendapatkan rohmat-Nya.

Di antara sebab supaya mendapat istghfar dan do’a dari malaikat adalah menjenguk saudaranya sesama muslim. Bukan satu atau dua malaikat, tapi puluhan ribu malaikat memintakan ampunan untuknya.

Dari Ali bin Abi Tholib ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di sorga.” (HR. Tirmidzi).

Amalan ringan tapi memiliki keutamaan yang sangat luar biasa besar, ganjaran yang diperoleh ini karena seseorang telah menunjukkan sifat rohmat (kasih sayang) kepada sesamanya sehingga Alloh juga melimpahkan rohmat-Nya kepadanya.

Hal yang demikian itu juga telah ditegaskan Rosululloh saw, dalam sabdanya :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أهل الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهل السَّمَاء
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi oleh ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih).
Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penghuni langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Ahmad).

Maka orang yang banyak istighfar ;
أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
dan bersholawat serta mendo’akan kebaikan untuk saudara seiman ;
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ ..
tentu akan lebih banyak mendapatkan istighfar dan do’a kebaikan dari malaikat-malaikat Alloh swt.

Bahkan do’a seorang muslim untuk saudaranya tanpa diketahuinya tidak hanya diaminkan oleh Malaikat yang ada di sisinya. Alloh swt juga telah menyiapkan pahala melalui setiap mukmin yang dido’akan ampunan olehnya, melalui lisan sucinya Rosululloh saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk setiap orang beriman laki-laki dan perempuan maka Alloh mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.” (HR. Thobroni).

Masihkah kita pelit dan kikir untuk memberikan kebaikan kepada suadara muslim yang seiman .?
Masihkah kita enggan memintakan ampunan atas kesalahan-kesalahan mereka ummat Nabi Muhammad saw .?

PAHALA YANG MALAIKAT TAK DAPAT MENGHITUNG

Dalam peristiwa perjalanan isro’ mi’roj Nabi Muhammad saw mendapatkan banyak pesan dari langit diantaranya berupa sholat yang lima, terdapat pula hikmah dan pelajaran berkaitan dengan peningkatan spiritualitas, khususnya yang bersifat amaliah harian, diantaranya membaca sholawat atas Nabi saw.

Dikisahkan dalam peristiwa perjalanan isro’ mi’roj itu Nabi Muhammad saw, bertemu dengan seorang malaikat yang bertubuh besar dan sedang memegang buku induk yang sangat besar.
Setelah mengucap salam, Nabi saw bertanya tentang buku yang dipegangnya. Malaikat itu mengatakan bahwa ini buku catatan tetesan air hujan dari sejak bumi tercipta sampai hari kiamat nanti. Semua tetesan hujan dan di mana letak hujan menetes tidak ada yang luput dari buku catatan tersebut.

Nabi Muhammad saw bertanya:
“Adakah sesuatu yang tak mampu dicatat dan tak terhitung .?”
Malaikat yang ditanya menjawab: “Ada .!”
“Apa itu .?” Tanya Rosululloh saw.
Jawab malaikat:
“Kami tidak mampu mencatat limpahan pahala, berkah, dan rohmat dari Alloh untuk orang-orang yang mengucapkan sholawat kepadamu, Ya… Rosulalloh.”
Maha Suci Alloh .. Maha Luas Karunia Alloh .. dengan balasan sholawat kepada kekasih-Nya Nabi Rohmat saw, bagi ummat beliau yang beriman kepadanya ..

SAYAP SAYAP SHOLAWAT _1

Suatu ketika terjadilah peristiwa yang sangat aneh. Matahari tidak bersinar seperti biasanya, redup meski tiada mendung.  Ada apakah gerangan .?

Sahabat Anas bin Malik mengisahkan:

Suatu pagi Nabi Muhammad saw merasakan suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya. Tak lama Nabi Muhammad saw dalam keheranan, malaikat Jibril as datang menghampiri beliau saw, lalu beliau saw bertanya:
“Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup .? Padahal tidak mendung .?”
Jawab Jibril as:
“Ya Rosulalloh, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.”
Rosululloh saw bertanya:
“Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari .?”
Jibril as menjawab:
“Ketahuilah wahai Rosululloh, sesungguhnya Alloh swt telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan sholawat kepada salah satu ummatmu.”
Rosululloh saw bertanya:
“Siapakah dia wahai Jibril .?”
Jibril as menjawab:
“Dia adalah Mu’awiyah bin Mu’awiyah al-Laitsi telah meninggal dunia, apakah engkau ingin mensholatkannya .?”
Rosululloh saw menjawab: “Ya”

Lalu Malaikat Jibril as meletakkan sayapnya ke tanah, maka tiada sebuah pohon maupun gundukan tanah, melainkan menjadi rata, dan Malaikat Jibril as meminta Rosululloh saw untuk naik ke sayapnya sehingga dapat melihat jenazah Mu’awiyah.

Maka Rosululloh saw bertakbir untuk menyolatkannya, sedang dibelakang beliau saw terdapat dua shof malaikat yang setiap shof nya terdiri dari tujuh puluh ribu malaikat.

Setelah selesai Rosululloh saw bertanya:
“Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan ini .?”
Jibril as menjawab :
“Berkat kecintaannya kepada Qul Huwallohu Ahad (surah al-Ikhlas) yang selalu dia baca, baik saat berpergian maupun ketika berada di tempat tinggal, baik sedang berdiri maupun sedang duduk, dan dalam semua keadaannya, sebab itulah Alloh swt mengutus 70.000 malaikat untuk membacakan sholawat kepada Muawiyah.”

Hadits riwayat Baihaqi melalui Umamah al-Bahili, bahwa Malaikat Jibril as bersama dengan 70.000 Malaikat telah mendatangi Rosululloh saw di Tabuk, kemudian Malaikat Jibril as meminta Rosululloh saw menyaksikan jenazah Muawiyah dari Tabuk bersama Jibril dan sejumlah Malaikat lain. Rosululloh saw bertanya kepada Malaikat Jibril as:
”Wahai Jibril, apa sebabnya Mu’awiyah memperoleh martabat seperti itu .?”
Malaikat Jibril as menjawab:
”Dia memperoleh kehormatan itu karena ia selalu membaca “Qul Huwallohu Ahad” setiap hari, sedang berdiri, duduk, diam dan berjalan.”

SAYAP SAYAP SHOLAWAT _2

Dalam suatu riwayat disebutkan:
Ketika Nabi Muhammad saw dalam kesedihan yang mendalam memikirkan ummatnya yang banyak melakukan maksiat, mengumbar hawa nafsu dan bergelimang dosa, Malaikat Jibril as datang kepada Nabi saw dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Alloh mengirimkan salam kepadamu, dan berfirman:
“Barang siapa yang bertaubat dari umatmu, setahun sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima.”

Setelah menjawab salam-Nya, Nabi saw bersabda:
“Wahai Jibril, setahun itu sangat banyak (lama), karena kelalaian dan panjang angan-angannya (tulul-‘amal) umatku itu sangat mendominasi kehidupan mereka!!”
Jibril as berkata:
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Alloh, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…”

Tidak berapa lama Jibril as datang lagi kepada Nabi saw, dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman:
Siapa yang bertaubat sebelum kematiannya, berselang satu bulan, maka taubatnya akan diterima.”
Nabi saw bersabda:
“Wahai Jibril, satu bulan itu masih terlalu lama untuk umatku.”
Jibril as berkata:
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Alloh, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…”

Tidak berapa lama Jibril as datang lagi kepada Nabi saw, dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman:
“Siapa yang bertaubat dari umatmu, sehari sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima.”
Nabi saw bersabda:
“Wahai Jibril, satu hari itu masih terlalu lama untuk umatku.”
Jibril as berkata:
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Alloh, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…”

Tidak berapa lama Jibril as datang lagi kepada Nabi saw, dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman:
“Siapa yang bertaubat dari umatmu, satu jam sebelum kematiannya, tentu taubatnya akan diterima.”
Nabi saw bersabda:
“Wahai Jibril, satu jam itu masih terlalu lama untuk umatku.”
Jibril as berkata:
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Alloh, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…”

Tidak berapa lama Jibril as datang lagi kepada Nabi saw dan berkata:
“Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan Dia berfirman:
“Barang siapa dari umatmu yang melalui semua umurnya dengan kemaksiatan, dan ia belum kembali (bertaubat) kepada-Ku kecuali setahun sebelum kematiannya, atau sebulan, atau sehari, atau satu jam sebelum kematiannya, atau bahkan sebelum ruhnya sampai di tenggorokannya, dan tidak memungkinkan baginya untuk bertaubat atau meminta maaf dengan lidahnya, kecuali hatinya yang menyesal (atas dosa-dosa yang telah dilakukannya), maka sungguh Aku akan mengampuninya.”

Alloh swt berfirman:
“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga hatimu menjadi ridho (puas, senang).” (QS. Ad-Dhuha: 5)
Nabi saw sangat gembira dengan kemurahan-Nya atas umat beliau tersebut, dan tidak henti-hentinya bersyukur kepada Alloh swt.
Ketika ‘Aisyah ra ‘mempertanyakan’ gencarnya ibadah dan istighfar beliau itu, Nabi saw bersabda:
“Apakah tidak selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur. .?”

Dalam suatu kesempatan, Nabi saw mengunjungi seorang lelaki dari kalangan Anshor yang sakit dan dalam keadaan sakaratul maut (naza’).
Melihat keadaannya tersebut, beliau bersabda:
“Bertaubatlah kamu kepada Alloh .!”
Sahabat Anshor tersebut sepertinya memahami perkataan Rosululloh saw, tetapi anggota tubuhnya tidak bisa bereaksi. Mulutnya tidak bisa mengucap istighfar atau kalimat tauhid, laa ilaaha illalloh, tangannya tidak bisa diangkat untuk mengisyaratkan do’a dan istighfarnya, hanya saja tampak bola matanya bergerak ke atas, seakan-akan memandang ke langit.

Tidak lama kemudian tampak Nabi saw tersenyum, padahal saat itu kebanyakan yang hadir dalam keadaan bersedih dan khawatir karena orang Anshor tersebut sama sekali tidak menanggapi perintah Nabi saw.

‘Umar bin Khoththob ra yang menyertai beliau saw dan meriwayatkan peristiwa ini berkata:
“Apa yang membuat engkau tersenyum, ya Rosululloh .?”
Masih dengan tersenyum, beliau bersabda:
“Orang yang sakit ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya. Tetapi ia bertaubat dengan isyarat matanya ke langit dan hatinya melakukan penyesalan. Dan Jibril baru saja memberitahukan kepadaku bahwa Alloh berfirman:
“Wahai malaikat-Ku, hamba-Ku ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya, namun ia sangat menyesal di dalam hatinya. Dan Aku tidak menyia-nyiakan taubat dan penyesalan di dalam hatinya, dan saksikanlah bahwa Aku memberikan pengampunan kepadanya.”  

Sesungguhnya kita tidak pernah tahu, kapan ajal kita tiba. Dan ajal bisa saja datang menjemput dengan tiba-tiba tanpa peringatan atau sakit terlebih dahulu. Karena itu, sebaiknya kita segera bertaubat dalam kesempatan pertama.
Kalau di kemudian terjatuh lagi dalam maksiat, segera saja bertaubat. Alloh swt tidak pernah bosan menerima taubat hamba-Nya, selama nyawa seorang hamba belum lepas dari raganya.

Alloh swt mencintai orang-orang yang mau bertobat dan berkasih sayang kepada orang-orang yang menyucikan diri. Alloh Yang Maha Sabar senantiasa menanti datangnya hamba-hamba-Nya yang bergelimang dosa untuk menjadi tamu agung-Nya.

SAYAP SAYAP SHOLAWAT _3

اللهمّ صلِّ على سيدِنَا محمّدٍ طِبِّ القلوبِ ودوائِهَا وعافيةِ الأبدانِ وشفائِهَا ونورِ الأبصارِ وضيائِهَا وعلى ءالِهِ وصحبِه وسلِّم

Suatu hari datanglah saudaranya sesusuan Nabi Muhammad menemui Halimah Sa’diyah sambil menangis dan berteriak ketakutan, dan berkata: “Muhammad telah dibunuh .! Muhammad diambil oleh dua orang laki-laki yang memakai baju putih putih lalu kedua orang itu membaringkannya dan membelah dadanya.”

Mendengar hal itu, Halimah Sa’diyah sangat kaget dan terpukul. Maka Ia segera pergi sambil berlari mencari Nabi Muhammad saw, dengan mengikuti petunjuk saudara sesuan Nabi Muhammad saw, ketika mereka menemukan Nabi Muhammad saw sedang duduk di atas tanah di mana wajahnya tampak pucat.

Halimah Sa’diyah lalu datang menghampiri, memeluk Nabi Muhammad saw, lalu mereka bertanya: 
“Engkau kenapa .?” 
Nabi Muhammad saw menjawab:
“Ketika aku memperhatikan domba-domba yang sedang bermain aku dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang memakai pakaian yang putih. Mula-mula aku menyangka bahwa mereka adalah burung yang besar, ternyata bukan.
Mereka adalah dua orang (Jibril as dan Mikail as) yang tidak aku kenal, yang memakai pakaian warna putih, salah seorang dari mereka (Mikail) berkata kepada temannya dengan menunjuk ke arahku:
“Apakah ini anaknya .?”
Jibril menjawab: “benar.!”
Aku merasakan ketakutan yang luar biasa.
Lalu mereka mengambilku dan menidurkan aku serta membelah dadaku dan mereka mengambil sesuatu darinya hingga mereka mendapatinya dan mengambilnya. Setelah itu, mereka pergi laksana bayangan.” 

Juga telah dijelaskan sendiri oleh Rosululloh saw dalam sebuah hadits. Beliau saw bersabda :

… فَبَيْنَمَا أَنَا مَعَ أَخٍ لِي خَلْفَ بُيُوْتِنَا نَرْعَى بِهِمَا لَنَا إِذْ أتَانِي رَجُلاَنِ – عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ بِيْضٌ- بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءٍ ثَلْجًا ثُمَّ أَخَذَانِي فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَاستخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً سَوْدَاءَ فَطَرَحَاهُ ثُمَّ غَسَلاَ قَلْبِي وبَطْنِي بِذَلِكَ الثَّلْجِ حَتَّى أَنْقَيَاه ُ…

“Ketika aku sedang berada di belakang rumah bersama saudaraku (saudara angkat) menggembalakan anak kambing, tiba-tiba aku didatangi dua orang lelaki-mereka mengenakan baju putih- dengan membawa baskom yang terbuat dari emas penuh dengan es. Kedua orang itu menangkapku, lalu membedah perutku. Keduanya mengeluarkan hatiku dan membedahnya, lalu mereka mengeluarkan gumpalan hitam darinya dan membuangnya. Kemudian keduanya membersihkan dan menyucikan hatiku dengan air itu sampai bersih”.
Peristiwa ini telah dijelaskan oleh Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim.

Sedangkan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

فَأَقْبَلاَ يَبْتَدِرَانِي فَأَخَذَانِي فَبَطَحَانِي إِلَى الْقَفَا فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَتَيْنِ سَوْدَاوَيْنِ

“… keduanya (Jibril dan Mika’il) lalu bersegera mendekati dan memegangiku. Kemudian aku ditelentangkan, kemudian membedah perutku. Kedua malaikat itu mengeluarkan hati dari tempatnya dan membedahnya. Selanjutnya mereka mengeluarkan dua gumpalan darah hitam darinya …”

Setelah perisiwa itu Nabi Muhammad saw lalu di kembalikan ke Ibunya karena Halimah khawatir akan keselamatan Nabi Muhammad saw.

SAYAP SAYAP SHOLAWAT _4

Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab ayat 56).

Suatu kerugian besar melepaskan peluang untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. Dimana Alloh swt mamerintahkan kepada manusia, sedangkan Dia sendiri juga mengerjakan bersama para malaikat-malaikat-Nya.

4 malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bersholawat kepada Rosululloh saw.

Rosululloh saw bersabda:
“Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail telah berkata kepadaku:

Berkata Jibril:
“Ya Rosululloh, barang siapa yang membaca sholawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan aku bimbing tangannya dan akan aku bawa dia melintasi titian (sirothol-mustaqim) seperti kilat menyambar.”

Berkata Mika’il:
“Mereka yang bersholawat kepadamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.”

Berkata Isrofil:
“Mereka yang bersholawat kepadamu aku akan bersujud kepada Alloh dan aku tidak mengangkat kepalaku sehingga Alloh mengampuni orang itu.”

Malaikat Izra’il berkata:
“Mereka yang bersholawat kepadamu, akan aku cabut ruh mereka dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para Nabi-Nabi.”

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Bersholawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku dimana saja kamu berada.” (HR. An-Nasai, Abu Dawud dan Ahmad).

Ketika Rosululloh saw mi’roj, beliau saw bertemu dengan seorang malaikat yang bertubuh besar sedang memegang buku induk yang sangat besar.
Setelah mengucap salam, beliau saw bertanya tentang buku yang dipegangnya. Malaikat itu bilang bahwa itu buku catatan tetesan air hujan dari sejak bumi tercipta sampai hari kiamat. Setiap tetesan air hujan dimuka bumi tidak satupun luput dari buku catatan tersebut.

Rosululloh saw bertanya:
“Adakah sesuatu yang tak mampu dicatat dan tak terhitung .?”

Malaikat itu menjawab, “Ada”
“Apa itu .?” tanya Rosululloh saw.
Jawab malaikat:
“Kami tidak mampu mencatat limpahan pahala, berkah, dan rohmat dari Alloh untuk orang-orang yang membaca sholawat kepadamu ya… Rosulalloh,”

SAYAP SAYAP MALAIKAT _5

Diriwayatkan:
“Tatkala Alloh swt menciptakan malaikat Jibril as, dipilihlah wujud yang paling indah dan rupawan ia dilengkapi dengan 600 sayap, masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur dengan penjuru paling barat. Begitu penciptaan selesai, berdirilah malaikat Jibril as memandangi dirinya yang rupawan, seraya berkata :

“Tuhanku, adakah Engkau menciptakan makhluk yang lebih indah dari pada diriku ..?”
Alloh swt menjawab: “Tidak .!”

Mendengar jawaban Alloh swt, Jibril as teramat sangat senang dan sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam ia mengerjakan shalat 2 roka’at, yang setiap roka’atnya dilakukan selama 20.000 tahun dan setiap sujudnya selama 20.000 tahun.

Alloh swt berfirman padanya:
“Hai Jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan sholat, engkau telah menyembah kepada-Ku denagn sujud yang tiada bandingnya.
Tetapi ketahuilah hai Jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi termulia yang Aku mencintainya, dia bernama Muhammad, dia memiliki umat yang lemah yang banyak melakukan dosa.
Sekiranya ummat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan sholat dua rakaat, sekalipun sholatnya banyak kekurangan, waktunya pun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka Dem Kemuliaan dan keagungan-KU, sungguh sholat mereka itu lebih Aku sukai dari pada sholatmu .!
Karena sholat mereka atas dasar melaksanakan perintah-Ku, sedangkan sholatmu bukan berdasarkan perintah -Ku .!”

Jibril as berkata:
“Tuhanku, lalu apakah balasan yang bakal Engkau berikan atas ibadah mereka .?”

Allou swt berfirman:
“Balasan yang bakal Aku berikan adalah sorga Ma’wa.”

Begitu mendengar kata-kata sorga Ma’wa, Jibril as memohon izin kepada Alloh swt agar diperkenankan melihatnya, maka Alloh swt pun mengabulkan permohonannya, sehingga dia segera berangkat menuju sorga tersebut, dia bentangkan sayapnya lalu terbang untuk menempuh jarak yang sangat jauh.

Setiap kali dia membuka (menggepakkan) sepasang sayapnya maka dia menempuh jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu tahun perjalanan). Begitu juga setiap menutupkan sayapnya, padahal ia terbang selama tiga ratus tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau (sayap kanan dan kiri) enam ratus buah.

Namun sejauh itu ia belum mencapai tujuan (ujungnya sorga Ma’wa), setelah merasa begitu letih diapun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada Alloh swt seraya mengadu:
“Tuhanku, apakah perjalananku telah sampai separuhnya ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya .?”

Alloh swt berfirman:
“Hai jibril walaupun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan Aku tambah lagi enam ratus sayap, niscaya tidak kau bisa mencapai seper seratusnya (1%).
Itulah anugrah yang akan Aku berikan kepada ummat Muhammad yang mau (melestarikan) mengerjakan sholat .!”

Dari kitab:
“Durrotun-Nasihin”
Karya:
Usman bin Hasan bin Ahmad asy-syakir al-Haubawi.

SAYAP SAYAP SHOLAWAT -6

Sesungguhnya Malaikat Jibril as datang kepada Rosululloh saw dan berkata:
“Ya Rosululloh, aku telah melihat seorang malaikat di langit berada di atas singgasananya, sekitarnya terdapat 70.000 malaikat berbaris melayaninya, pada setiap hembusan nafasnya Alloh swt menciptakan darinya seorang malaikat.
Dan sekarang ini kulihat malaikat itu berada di atas Gunung Qof dengan sayapnya yang patah sedang menangis.

Ketika dia melihat aku (jibril as), dia berkata:
“Adakah engkau mau menolongku .?”
Aku berkata:
“Apa salahmu .?”
Dia berkata:
“Ketika aku berada di atas singgasana pada malam Mi’roj, lewatlah padaku Muhammad Kekasih Alloh, lalu aku tidak berdiri menyambutnya dan Alloh menghukumku dengan hukuman ini, serta menempatkanku di sini seperti yang kau lihat.”

Malaikat Jibril as berkata:
“Seraya aku merendah diri di hadapan Alloh swt, aku memberinya pertolongan.”
Maka Alloh swt berfirman:
“Hai Jibril, katakanlah agar dia membaca sholawat atas Kekasih-Ku Muhammad.” Malaikat Jibril as berkata lagi:
“Kemudian malaikat itu membaca sholawat kepadamu dan Alloh swt mengampuninya serta menumbuhkan kedua sayapnya, lalu menempatkannya lagi di atas singsananya.”

Dari kitab:
“Mukasyafatul-Qulub”
Karya:
Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghozali Ath-Thusy.

Fahamilah…! Dengan ini kita dapat mengerti betapa keagungan sholawat, dan betapa pentingnya kita berdiri untuk menyambut dan menghormati saat Mahalul-Qiyam atas kedatangan Rosululloh saw dan para Ahlubait serta pewaris-pewarisnya ..

SAYAP SAYAP SHOLAWAT -7

Pada malam Mi’roj, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadist qudsi, saat Rosululloh sedang melakukan perjalanan di dampingi Malaikat Jibril as, tiba-tiba ada sesosok malaikat yang jatuh didepan beliau. Bulu-bulu malaikat itu telah rontok dan bentuk amat berbeda dengan kebanyakan malaikat lain.

Beliau saw pun terkejut, dan bertanya pada Jibril as:
“Ya Jibril, siapa malaikat ini .?
Jibril as menjawab:
“Ia adalah malaikat yang termasuk dalam golongan malaikat muqorrobin,”
(Malaikat muqorrobin merupakan malaikat-malaikat yang sangat dekat dengan Alloh swt)
Rosululloh saw bertanya:
“Apa yang telah terjadi padanya .?”
Lalu Jibril as pun berkata:
”Suatu saat, malaikat yang termasuk dalam golongan malaikat muqorrobin  itu di utus oleh Alloh untuk menghancurkan suatu kaum yang durhaka pada Alloh, namun ia menolaknya.”
Malaikat itu berkata:
“Aku tak kuasa melakukannya, Tuhanku. Aku kasihan pada mereka. Di antara mereka ada anak-anak kecil dan kaum wanita yang tak berdaya. Aku tak sanggup melakukannya, Tuhanku. Maafkan aku,” ujarnya sambil menangis.

Mendengar penolakannya itu Alloh pun murka. Hal itu berlangsung hingga empat ribu tahun lamanya. Keadaanya pun cukup menyedihkan, seperti telah di saksikan Rosululloh saw dalam perjalanan Mi’roj-nya itu.

Rosululloh saw pun trenyuh mendengarnya. Lalu beliau bertanya:
“Apakah tak ada taubat baginya, wahai Jibril .?”
Jibril as menjawab:
“Ada, wahai Muhammad. Alloh telah mewahyukan padaku, bahwa taubatnya akan diterima jika ia menyampaikan shalowat untukmu sebanyak sepuluh kali”

Maka malaikat itupun bersholawat untuk Rosululloh sebanyak 10 kali. Sesaat kemudian, malaikat itu kembali ke tempat semula. Dan ia dikaruniai 70 ribu wajah. Pada setiap wajahnya terdapat 70 ribu mulut. Sedangkan pada tiap mulut itu masing-masing terdapat 70 ribu lisan. Lisan-lisan itu bertasbih pada Alloh sebanyak 70 ribu tasbih.
Tidak hanya itu, dari tasbih-tasbih yang dilantunkan oleh lisan-lisan itu terciptalah malaikat, dimana malaikat-malaikat itu akan memohonkan ampunan Alloh untuk orang-orang yang bersholawat padamu.”

Demikianlah, orang-orang yang membaca sholawat untuk Rosululloh saw akan dimintakan ampunan oleh malaikat. Betapa besar karunia Alloh swt pada yang melantunkan sholawat untuk kekasih-Nya itu.
Dari kitab:
“Khozinatul Asror”
Karya:
Muhammad Haqqi an-Naziliy

 
ASAL-USUL SHOLAWAT TARHIM

كاَنَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَطُوْفُ فِي الْكَعْبَةْ فَرَأَى أَعْرَابِيًّا يَطُوْفُ بِهاَ وَيَقُوْلُ : ياَ كَرِيْم , فَقَالَ النَّبِيُ صلى الله عليه وسلم وَرَاءَهُ : ياَ كَرِيْم – فاَنْتَقَلَ الْأَعْرَابِيُّ اِلَى رُكْنِ الثَّانِيْ وقاَلَ: يا كريم, فَقاَلَ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وسلم) – فَقَالَ الْحَبِيْبُ (صلى الله عليه وسلم) وَرَاءَهُ : يا كريم, فَانْتَقَلَ الْأَعْرَابِيُّ اِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَقاَلَ : يا كريم- فقال النبي (صلى الله عليه وسلم) – فقال الحبيب (صلى الله عليه وسلم) وراءه : يا كريم, فَالْتَفَتَ الْأَعْرَاِبي فَقاَلَ: أَتَمْزَحُوْنَنِيْ ياَ أَخَ الْعَرَبِ.؟ وَاللهِ لَوْلاَ صَباَحَةُ وَجْهِكَ وَبَلَغَ طاَ لِقَتكَ لَشَكَوْت اِلَى حَبِيْبِيْ مُحَمَّداً- فَقاَلَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَوَلاَ تَعْرِفُ نَبِيَّكَ يا أخ العرب.؟ قَالَ وَاللهِ أَمَنْتُ بِهِ وَلَمْ أَرَهُ وَدَخَلْتُ مَكَّةَ وَلَمْ أَلْقَهُ – قاَلَ لَهُ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وسلم) اَنَا نَبِيُّكَ يا أخ العرب – فَانْكَبَّ الأعرابي عَلىَ يَدِ النَّبِيِّ يُقَبِّلُهاَ وَيَقُوْلُ: فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ ياَ حَبِيْبَ اللهِ – فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ الْأَمِيْنُ عَلىَ النَّبِيِّ وَقاَلَ لَهُ : ياَ حَبِيْبَ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) – اللهُ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَيَقُوْلُ لَكَ : قُلْ لِهَذاَ الأعرابي : أَيَظُنُّ إِنْ قاَلَ ياَ كَرِيْم أَنَّناَ لاَ نُحاَسِبُهُ؟ فَقاَلَ الأعرابي : وَاللهِ ياَ نَوْرَ الْعَيْنِ ياَ جَدَّ الْحَسَنَيْنِ , لَوْ حَاسَبَنِيْ رَبِّيْ لَأُحاَسِبَنَّهُ – قَالَ لَهُ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وسلم) : وَكَيْفَ تُحاَسِبُ رَبَّكَ يا أخ العرب؟ قاَلَ: لَئِنْ حاَسَبَنِيْ عَلىَ ذَنْبِيْ حاَسَبْتُهُ عَلىَ مَغْفِرَتِهِ – وَإِنْ حاَسَبَنِيْ عَلىَ تَقْصِيْرِيْ حاَسَبْتُهُ عَلىَ جُوْدِهِ وَكَرَمِهِ – فَقاَلَ جِبْرِيْلُ الْأِمِيْنُ: ياَ حَبِيْبَ اللهِ , اللهُ يَقُوْلُ لَكَ – قُلْ لِهَذاَ الْأَعْرَابِيّ أَنْ لاَ يَحاَسِبَناَ وَلاَ نُحاَسِبُهُ – الله أكبر…!!!

Penjelasan Hadits :
Suatu saat Nabi Muhammad saw melakukan Thowaf mengelilingi Ka’bah. Tiba-tiba beliau melihat seorang Arab Badui juga sedang Thowaf sambil menyeru: “Ya- Kariim ..!”
Maka Nabi saw pun mengukuti dibelakangnya sambil menirukan mengucap: “Ya Kariim ..!”
Arab Badui itu meneruskan berpindah ke Rukun Tsani dan berdo’a: “Ya Kariim ..!”
Nabi saw pun mengikutinya dan meniru mengucapkan “Ya Kariim ..!”
Maka berpindahlah Arab Badui itu ke dekat Hajar Aswad dan berdo’a: “Ya Kariim ..!”
Nabi saw pun menirukan berdo’a: “Ya Karim ..!”
Merasa diikuti dan selalu ditirukan Sang Arab Badui itu pun menoleh dan berkata: “Adakah kamu mentertawakan aku ..?
Seandainya bukan karena memandang wajahmu yang bercahaya dan penuh keramahan, pasti sudah kuadukan kepada kekasihku Muhammad ..!”

Maka Nabi saw berkata kepadanya:
”Apakah engkau belum mengenal Nabimu wahai saudara Arabku ..?”
Orang Badui itu berkata: ”Demi Alloh aku beriman padanya walaupun aku belum pernah mengenalnya sejak aku memasuki Mekah dan aku belum pernah menjumpainya.”
Maka Nabi pun berkata padanya: “Aku ini (Muhammad) Nabimu wahai saudara Arabku ..”
Begitu Sang Badui mengetahui dihadapannya adalah Nabi saw, ia pun segera memeluk dan mencium tangan beliau seraya berkata: ”Bapak dan Ibuku sebagai penebusmu wahai kekasihku ..”

Peristiwa itu tidak luput dari penglihatan dan pengetahuan Alloh swt, maka Alloh memerintahkan malaikat Jibril turun kepada Nabi saw dan berkata: ”Wahai Kekasih Alloh, Alloh mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu:
”Katakanlah pada orang Badui itu apakah ia menyangka Aku tak akan menghisabnya ketika ia mengucapkan Ya Kariim ..?”
Maka Orang Badui itu berkata: ”Demi Alloh wahai cahaya mataku, kakek dari Hasan dan Husain, Seandinya Tuhanku menghisabku, maka akupun akan menghisab-Nya .!”
Maka bersabdalah Nabi saw: ”Bagaimana engkau akan menghisab Tuhanmu .?”
Badui itu berkata: ”Jika Tuhan menghisabku atas dosa- dosaku, maka aku akan menghisab segala ampunan-Nya, dan jika Dia menghisabku atas segala keteledoranku, maka aku akan menghisab anugerah dan kemuliaan-Nya.”
Maka berkatalah Jibril al-Amin: “Katakanlah pada orang ini: ”Janganlah ia menghisab-Ku, maka Aku pun tak akan menghisabnya ..”
Allohu Akbar wa Lillahil-Hamd …!!!

Riwayat ini oleh masyarakat mesir sering dibaca dengan lagu yang indah pada waktu menjelang subuh untuk TARHIM :

اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا
نِلْتَ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ ۞ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ
كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ ۞ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا
وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ
يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ 
صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ

Terjemahan sholawat tarhim:
Sholawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Duhai pemimpin para pejuang, ya Rosulalloh
Sholawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik.
Sholawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rosulalloh
Sholawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan sholat di belakangmu dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sidrotul-Muntaha karena kemuliaanmu
Dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rosululloh
Semoga sholawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

MUSYAWAROH dn ISTIKHOROH

MUSYAWAROH dn ISTIKHOROH

Dalam ajaran Islam, ada sebuah amalan instikhoroh yang bisa menuntun seseorang menjalani kehidupan untuk dapat meraih kesuksesan dunia akherat yang diridhoi oleh Alloh swt.

Kata istikhoroh berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis (lughowi) artinya “meminta pilihan pada sesuatu”.
Dalam istilah ulama fiqih istikhoroh adalah berusaha memilih yang terbaik salah satu di antara dua hal, dengan cara sholat dan berdo’a.

Istikhoroh merupakan permohonan petunjuk kepada Alloh swt yang terus menerus dalam setiap langkah dengan mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

Rosululloh saw bersabda:
“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.” (HR. Ibnu Mubarok)

Hadits diatas mengajarkan kepada agar Selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan. Baik dampaknya bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat.
Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan sikap istikhoroh, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah.
Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut.

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawaroh dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawaroh, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh.

Rosululloh saw bersabda:
“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawaroh, dan tak akan pernah menyesal orang yang mau beristikhoroh.” (HR. Thobroni)

Terlebih lagi, jika musyawaroh itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Alloh swt. Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih luas dan mendalam, serta dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Alloh dan Rosul-Nya.

Alloh swt berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 43)

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah disandarkan kepada Alloh swt. Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

CARA SHOLAT ISTIKHOROH

Syarat sholat sunnah istikhoroh sama dengan sholat sunnah yang lain ya’ni
a) pelaku harus dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar.
b) tempat sholat harus suci dari najis.
c) pakaian sholat harus suci dari najis.
d) sedikitnya jumlah rokaat dalam sholat istikhoroh adalah 2 rokaat.

Niat sholat istikharah:
أصلي سنة الإستخارة ركعتين لله تعالي
Aku niat sholat sunnah istikhoroh dua roka’at karena Alloh Ta’ala.

Rokaat pertama:
membaca surat al-Fatihah dan surah al-Kafirun.
Rokaat kedua:
membaca surat al-Fatihah dan surat al-Ikhlas.
Setelah sholat istikhoroh membacal do’a.

Dari Jabir ra, ia berkata:
“Rosululloh saw mengajarkan kami ber-istikhoroh dalam seluruh perkara sebagaimana beliau saw mengajar kami surat Al-Qur’an. Beliau saw bersabda:

إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila kalian bermaksud sesuatu, maka shalotlah dua raka’at sunnah kemudian berdo’alah…” (HR. Bukhori)

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ

“Ya Alloh aku beristikhoroh (meminta pilihan) dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon keutamaan-Mu.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi mengatakan:
“Jika seseorang melakukan istikhoroh, maka lanjutkanlah apa yang menjadi kelapangan hatinya.”
Maksudnya apa yang menjadi kelapangan hatinya adalah berdzikir kepada Alloh swt dalam rangka memohon petunjuk dan ridho-Nya.

Ibnu hajar mengatakan:
“Setelah melakukan sholat istkhoroh, berpeganglah pada pilihan yang kamu merasa mantap tanpa didasari hawa nafsu.”

Kebanyakan orang menentukan hasil akhir dari istikhoroh adalah melalui mimpi, dan mimpi setelahnya akan dianggap sebagai “keputusan final”.
Sebenarnya hal ini kurang tepat dan tidak ada dasar hadits maupun pendapat ulama salaf.
Memang tidak masalah mengandalkan mimpi setelah sholat istikhoroh kalau dapat mengambil kesimpulan mimpinya dan ternyata baik.
Yang menjadi soal kalau ternyata mimpinya justru mengarah ke hal-hal yang negatif atau tidak membawa maslahat. Apalagi, mimpi tidak lepas dari 3 kemungkinan: dari Alloh, dari setan dan dari diri sendiri.
Karenanya tidak ada jaminan mimpi yang datang setelah sholat istikhoroh adalah mimpi dari Alloh swt.

Berdasarkan hadits dan pendapat ulama, keputusan final setelah sholat istikhoroh hendaknya dilakukan sesuai dengan kelapangan hati dan analisa yang tulus. Dua hal ini hanya dapat dilakukan pada saat bangun, bukan saat sedang tidur.

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawaroh dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawaroh, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh.

Rosululloh saw bersabda:
“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawaroh, dan tidak akan pernah menyesal orang yang mau beristikhoroh.” (HR. Thobroni)

Terlebih lagi, jika musyawaroh itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Alloh.
Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih luas dan lurus serta mendalam, sebab dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Alloh swt dan Rosul-Nya saw.

Alloh swt berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُو

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl; 43)

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah disandarkan (istikhoroh) kepada Alloh swt.
Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

MUSYAWAROH dan ISTIKHOROH sangat erat hubungannya untuk mencapai hasil yang diharapkan ya’ni selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu waspada dalam memilah dan memilih setiap tindakan yang dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan.
Baik dampaknya bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan musyawaroh dan istikhoroh, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah. Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut.

Rosululloh saw bersabda:
“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.” (HR. Ibnu Mubarok)

DO’A SHOLAT ISTIKHOROH

Setelah selesai sholat, tiba waktunya berdo’a. Tata cara berdo’a yang ideal sebagai berikut:

1. Membaca hamdalah dan sholawat ibrohimiyah.

الحمد لله رب العالمين. حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده. يا ربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

2. Dilanjutkan dengan membaca do’a khusus untuk istikhoroh di bawah berdasarkan hadits shohih riwayat Imam Bukhori :

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ

(sebutkan keperluannya)

خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي

أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ

(sebutkan keperluannya)

شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي

أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ

(sebutkan keperluannya)

3. Tutup do’a di atas dengan bacaan sholawat ibrohimiyah seperti di atas, yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Catatan: tentu saja Anda dapat berdo’a dengan bahasa sendiri.

YANG DILAKUKAN SETELAH SHOLAT ISTIKHOROH

Setelah sholat istikhoroh dan do’a rampung hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai kelapangan hatinya.
Imam An-Nawawi mengatakan:

إذا استخار مضى لما شرح له صدره

“Jika seseorang melakukan istikhoroh, maka lanjutkanlah apa yang menjadi kelapangan hatinya.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Bukhori mengatakan:
“Setelah istikhoroh berpeganglah pada pilihan yang Anda merasa mantap tanpa didasari hawa nafsu.”

WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT ISTIKHOROH

Sholat istikhoroh dapat dilakukan kapan saja selain waktu yang dilarang. Waktu yang dilarang adalah setelah subuh sampai kira-kira masuk waktu dhuha dan setelah sholat ashar.

Namun, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang akhir karena ada hadits yang mengatakan waktu tersebut sebagai waktu mustajab untuk berdo’a. Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Awan Tag