Archive for Agustus, 2015

SEPERCIK KISAH MASA DEPAN

SEPERCIK KISAH MASA DEPAN

Ahlus-sunnah wal-jamaah sepakat, bahwa Syafa’at akan ada pada hari kiamat, syafa’at ini Alloh berikan kepada mereka yang dikehendaki dan diridhoi-Nya.

Hari kiamat adalah kehidupan di akherat yang 1 harinya sabanding dengan 50.000 tahun dunia. Di sana tidak terdapat bangunan, pohon untuk berlindung, dan tidak ada pula pakaian yang menutupi badan. Keadaan pada saat itu saling berdesakan. Alloh swt mengisahkan kejadian pada saat itu:

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ ۖوَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا
“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thoha [20] : 108)

Hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Banyak manusia pada saat itu menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihilangkan selain dengan meminta pertolongan kepada Alloh swt melalui syafa’at, orang-orang saat itu mendapatkan bisikan (ilham) untuk meminta syafa’at kepada para Nabi untuk menghilangkan kesulitan mereka saat itu.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖيُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖمَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚأَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.
Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya, yang demikian itulah Alloh, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran .?” (QS. Yunus [10]: 3).

Kesepakatan juga bahwa Nabi Muhammad saw adalah pemberi syafa’at yang pertama dan paling utama, disebut syafa’at kubro, syafa’at terbesar. Sesuai dengan sabda beliau saw:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ يَدْعُو بِهَا ، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى فِى الآخِرَةِ
“Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi ummatku di akhirat nanti.” (HR. Bukhori).

Senada dengan hadits diatas, Rosululloh saw bersabda:
“Setiap Nabi mempunyai do’a yang mustajab, dan setiap Nabi mohon disegerakan untuk mendapatkan do’anya, dan aku menyembunyikan do’aku sebagai syafa’at bagi ummatku pada hari kiamat.
Sesungguhnya syafa’atku akan sampai kepada orang yang meninggal dari ummatku, sementara ia tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu.” (HR. Muslim).

Apakah Syafa’at itu ..?
Ibnul Atsir mengatakan: “Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akherat. Yang dimaksud dengan syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.
Dalam Tajul ‘Urus, asy syafi’u ( الشَّفِيْـعُ ) adalah orang yang mengajukan syafa’at, bentuk jama’/pluralnya adalah syufa’a’u ( شُفَعَاءُ ) yaitu orang yang meminta untuk kepentingan orang lain agar keinginannya terpenuhi.”

Syafa’at secara bahasa diambil dari kata ( الشَفْعُ ) yang merupakan lawan kata dari ( الوِتْرُ ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata ( الشَفْعُ ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan ( الشَفْعُ ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’.
Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.

Agar lebih memahami syafa’at dapat kita ambil contoh sebagai berikut:
Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi. Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. Sedangkan syafa’at ketika hari kiamat nanti di antaranya adalah melalui syafa’at (perantara) Nabi Muhammad saw.

KETIKA UMMAT MANUSIA MENCARI WASILAH DAN MINTA SYAFA’AT DI HARI KIAMAT

Kisah ini disampaikan oleh Rosululloh kepada para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Alloh swt mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan.

Hadits berikut membicarakan faedah tauhid. Di dalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Nabi Muhammad) dan kemulian beliau saw.

Kisah dalam hadits ini terjadi ketika berkumpulnya manusia di padang masyhar, dimana pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.

Dari Abu Huroiroh ra, beliau berkata, bahwa pada suatu hari Nabi saw disuguhi daging, lalu ditawarkan kepadanya sebesar satu hasta (dari daging tersebut). Kemudian beliau saw memakannya dengan satu gigitan, lalu beliau saw bersabda:

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ يَجْمَعُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِى وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لاَ يُطِيقُونَ وَمَا لاَ يَحْتَمِلُونَ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ أَلاَ تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ أَلاَ تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ أَلاَ تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ ائْتُوا آدَمَ.

“Aku adalah sayyid (pemimpin) manusia pada hari kiamat nanti. Apakah kalian tahu mengapa bisa demikian .?”
(Nabi saw meneruskan) :
“Alloh mengumpulkan seluruh makhluk pada hari kiamat di satu tempat yang luas. Pada saat itu memanggil orang yang jauh dan yang dekat sama saja. Demikian pula, melihat yang jauh sama dengan melihat suatu yang dekat. Matahari (pada saat itu) didekatkan. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu. Lalu ada sebagian orang mengatakan kepada yang lainnya:
“Apakah kalian tidak melihat kesusahan yang menimpa kalian .? Apakah kalian tidak melihat apa yang kalian alami .? Apakah kalian tidak melihat ada orang yang akan memberi syafa’at untuk kalian kepada Tuhan kalian .?”
Maka sebagian orang berkata kepada yang lainnya supaya mendatangi Nabi Adam ‘alaihis salam.

Akhirnya mereka mendatangi Nabi Adam as lalu berkata:
“Wahai Adam, Anda bapak manusia, Alloh menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di sorga. Tidakkah engkau syafa’ati kami kepada Tuhanmu .? Apakah tidak engkau saksikan apa yang menimpa kami .?”

Maka Adam berkata:
“Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi-nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh as.”

Lalu mereka segera pergi menemui Nabi Nuh as dan berkata:
“Wahai Nuh, engkau adalah Rosul pertama yang diutus ke bumi, dan Alloh telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami .? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap Tuhanmu .?”

Maka Nuh berkata:
“Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya do’a, yang telah aku gunakan untuk mendo’akan (celaka) atas kaumku. Nafsi-nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrohim as.”

Lalu mereka segera menemui Nabi Ibrohim dan berkata:
“Wahai Ibrohim, engkau adalah Nabi dan kekasih Alloh dari penduduk bumi, syafa’atilah kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau lihat apa yang menimpa kami .?”

Maka Ibrohim berkata:
“Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Nafsi-nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa as.”

Lalu mereka segera pergi menemui Nabi Musa, dan berkata:
“Wahai Musa, engkau adalah utusan Alloh. Alloh telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau lihat apa yang kami alami .?”

Lalu Musa berkata:
“Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi-nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa as.”

Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Alloh dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Tuhanmu. Tidakkah kau lihat apa yang kami alami .?”

Maka Isa berkata:
“Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi-nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad saw.”

Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad saw, dan berkata:
“Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Alloh dan penutup para Nabi. Alloh telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami kepada Tuhanmu, tidakkah engkau lihat apa yang kami alami .?”

Lalu Nabi Muhammad saw pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Tuhan, kemudian Alloh membukakan kepadanya dari puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad saw.

Nabi saw berkata:
“Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lantas meminta izin kepada Tuhanku. Alloh pun memberikan izin padaku. Aku mendapatkan ilham untuk bisa memuji-Nya yang tak bisa kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud di hadapan-Nya.”

Kemudian Alloh swt berfirman kepada Nabi Muhammad:
“Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya engkau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan.”
Maka Nabi Muhammad saw mengangkat kepalanya dan berkata:
“Ummatku wahai Tuhanku, ummatku wahai Tuhanku, ummatku wahai Tuhanku.”

Lalu disampaikan dari Alloh kepadanya:
“Wahai Muhammad, masukkan ke sorga di antara ummatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu sorga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu sorga.”

Alloh swt berfirman:
“Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.”
Aku pun berkata:
“Wahai Tuhanku, umatku, umatku.”

Lalu disebutkan:
“Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.”

Nabi saw berkata:
“Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.”
Alloh swt berfirman:
“Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.”

Aku pun berkata:
“Wahai Tuhanku, umatku, umatku.”
Lalu disebutkan:
“Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.”
Nabi saw berkata:
“Lalu hal itu terlaksana.”

ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى وَكِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya. Aku memuji-Nya dengan pujian tadi. Aku pun sujud di hadapan-Nya.”
Lalu disebutkan:
“Wahai Muhammad. Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.”
Aku pun berkata:
“Wahai Tuhanku, izinkanlah aku memberikan syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘Laa ilaha illalloh’.”
Alloh swt berfirman:
“Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaha illalloh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

SYAFA’AT YANG DIBERIKA ALLOH KEPADA SELAIN NABI

Syafa’at bagi para pendosa dan ahli maksiyat pada hari kiamat tidak khusus diberikan pada Nabi, tetapi juga diberikan kepada yang lainnya dengan syarat tertentu. Diantaranya :

Alloh swt berfirman:
يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
“Pada hari itu tidak berguna syafa`at, kecuali (syafa`at) orang yang Alloh Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhoi perkataannya.” (QS. Thoha [20] : 109)

1. Para Malaikat. 
Lihat An-Najm : 26, Al-Anbiya : 26-28. Dari sini disimpulkan bahwa para malaikat dapat memberi syafa’at buat orang-orang yang berbuat dosa.

2. Para Syahid.
Mati syahid merupakan sesuatu yang agung dan tinggi derajatnya. Bahwa Rosululloh saw bersabda:
“Bagi orang yang mati syahid disisi Alloh mendapatkan enam keutamaan, diampuni dosanya saat pertama kali darahnya mengalir, dan ditunjukkan tempatnya di sorga, diselamatkan dari siksa kubur dan diamankan dari guncangan kubur, dan dihias-hiasi dengan perhiasan iman, dan dinikahkan dengan bidadari yang cantik jelita, dapat mensyafaati tujuh puluh orang keluarganya.” (HR. Ibnu Majah).

Arti Syahadah, apakah hanya sekedar jihad untuk berperang .?
… Rosululloh saw menjenguk (seorang sahabat yang sedang sakit) maka salah seorang keluarganya berkata:
”Sesungguhnya kami berharap bila kakek kami wafatnya syahid berperang dalam Sabilillah.”
Rosululloh saw menjawab:
Sesungguhnya mati syahidnya ummatku jika begitu –ya’ni hanya mati dalam peperangan– niscaya sedikit sekali (yang mati syahid), berperang di jalan Alloh itu syahid, mati karena sakit itu syahid, dan wanita mati melahirkan itu syahid –ya’ni ketika hamil dan selama menyusui– dan tenggelam, dan terbakar dan majnub –yaitu yang mati sakit lambung– itu mati syahid…” (HR. Ibnu Majah).

Syahadah dapat diminta dengan do’a …sesungguhnya Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa memohon kepada Alloh mati syahid dengan sungguh-sungguh dalam hatinya, Alloh akan mendatangkannya pada tempat mati syahid, meskipun ia meninggal di atas tempat tidur.”

Nikmat yang berlimpah bagi para syahid, dalam riwayat Ibnu Majah bahwa orang yang mati syahid arwahnya dijelmakan burung hijau yang sarangnya digantung di Arsynya Alloh. Burung itu setiap hari terbang mencari makan sesukanya di dalam Surga.”

3. Syafa’at Al-Qur’an bagi pembacanya dan mengamalkannya di dunia. Rosululloh saw bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” (HR. Muslim).

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia adalah pemberi syafa’at dan dapat dimintai syafa’atnya. Ia adalah saksi yang dibenarkan. Dan sesungguhnya tiap ayat darinya akan menjadi cahaya pada hari kiamat…” (HR. Baihaqi).

4. Bahkan bagian dari Al-Qur’an sendiri juga dapat menjadi syafa’at. Semisal surat Al Baqoroh dan Ali Imron. Rosululloh saw bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Az-Zahrawain, yakni Al-Baqoroh dan surah Ali-Imron, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqorohh, karena membacanya adalah berkah dan tidak membacanya adalah penyesalan. Dan para penyihir tidak akan dapat membacanya.” (HR. Muslim).

“Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan adalah surah Al-Baqorohh dan Ali Imron, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” (HR. Muslim).

“Ada surat dari Al-Qur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi shohibnya sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladzi bi yadihil mulku.“ (HR. Abu Dawud).

5. Puasa Pemberi Syafa’at.
Rosululloh saw bersabda:
“Puasa dan Al-Qur’an akan datang memberi syafa’at bagi seorang hamba. Puasa berkata:
“Tuhan, aku larang dia dari makan dan syahwat pada siang hari, maka jadikan aku pemberi syafa’at baginya…”

6. Para Tetangga.
Rosululloh saw bersabda:
“tiada seorang muslim yang meninggal lalu 40 dari tetangganya menyaksikan bahwa mereka tidak tahu tentang si mayyit kecuali kebaikan, kecuali Alloh akan berkata:
“Aku terima persaksian kalian, dan Aku ampuni apa yang kalian tidak tahu…” (HR. Ibnu Hibban)

7. Anak-anak muslim yang meninggal sebelum baligh.
Bahwa jika seorang anak, ada dua atau tiga orang anak muslim meninggal sebelum mereka baligh, maka mereka akan memberi syafa’at bagi orang tuanya pada hari kiamat. Dalam Hadits kudsi disebutkan, Alloh swt brfirman kepada mereka:
“Masuklah kalian ke dalam sorga .!
Mereka menjawab:
“Tetapi (bagaimana) orang tua kami .?”
Alloh pun berfirman:
“Masuklah kalian ke dalam sorga bersama orang tua kalian.” (HR. Ahmad).

8. Janin usia 4 bulan yang meninggal karena keguguran.
Jika janin meninggal dan dia telah ditiupkan kepadanya nyawa maka ketika meninggal, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat.
“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya janin akan menarik ibunya ke sorga dengan placentanya jika si ibu bersabar dan mengharap pahala dari Alloh”. (HR. Ibnu Majah).
Imam Nawawi berkata: ‘Kematian seorang anak akan menjadi hijab dari neraka, begitu juga dengan janin.”

9.Pengiring Jenazah.
“Tiada seorang mayyit lalu disholati 100 orang, dan mereka semua berdo’a, kecuali do’a mereka akan menjadi syafa’at baginya.” (HR. Muslim).
Riwayat lain:
“Tiada seorang mayyit, dan ia disholati 40 orang yang tidak syirik, kecuali Alloh akan memberikan syafa’at baginya”.
Dalam riwayat lain “tiga shof.” (HR. Ashabus-sunan).

10. Amalan Sholeh.
Lihat Al-Furqon: 70, Al-Insan: 8-12.
Membantu orang yang membutuhkan, menafkahi yatim dan janda-janda, mempermudah dalam berjual beli dan hutang piutang, memberi minum dan makanan kepada orang yang kelaparan, dll.

11. Teman dan Sahabat yang sholeh.
Lihat Az-Zukhruf : 67.

12. Anak-anak perempuan termasuk yang akan dapat mendatangkan syafa’at pada hari kiamat.
“Barang siapa yang menafkahi tiga anak perempuan, lalu ia didik mereka, ia nikahkan mereka, dan ia berbuat baik terhadap mereka, maka baginya sorga.” (HR. Abu Dawud).
“Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan, ia asuh dan lindungi, ia cukupi dan sayangi, maka wajib baginya sorga.”
Seorang laki-laki berkata: “dan dua ya Rasul .?”
Rosul bersabda: “dan dua juga” (HR. Bukhori).

SYAFA’AT KUBRO (TERBESAR)
 
Syafa’at kubro, yaitu bantuan yang diproyeksikan kepada orang-orang istimewa (ulul-azmi) yang dengan pelan-pelan dan teliti dalam penyaluran proyek syafa’atnya, karena harus rata membagikannya dan sampai habis biji-biji syafa’at tersebut.
Dan pada saat manusia berbondong-bondong mencari nabi masing-masing yang diharapkan akan dapat menolong dan menyelematkan mereka, Nabi Muhammad saw akan tampil, lalu menyampaikan bahwa syafa’at itu ada padaku. 
Seperti kisah diatas mereka datang kepada Nabi Adam as untuk meminta syafaat, tapi ia menolak, mereka datang kepada Nabi Nuh as, Nabi Ibrohim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, tetepi semua menolak. Lalu datang kepada Nabi Muhammad saw, beliau berkata: “Syafa’at itu untukku, itu untukku.“

SYAFA’AT ROBBUL-‘ALAMIN …

Dalam Hadits Qudsy, Alloh berfirman:
“Para malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi telah memberi syafa’at, kaum mukminin juga memberi syafa’at, tiada tersisa kecuali Yang Maha Penyayang, lalu Dia mengambil satu genggam dari neraka, dan keluar darinya kaum yang tidak berbuat kebaikan sama sekali …” (HR. Muslim).

Senada dengan riwayat imam Bukhori.
“Hingga akhirnya Al-Jabbar berfirman
‘Yang tersisa tinggal syafa’at-Ku’.
Selanjutnya Alloh Menggenggam dari neraka satu genggaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka diletakkan di sungai bernama `Ma’ul-Hayat` air kehidupan yang berada di mulut-mulut sorga.
Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah matahari menjadi hijau; sementara yang condong ke arah teduh memutih.
Akhirnya mereka keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicap-kan di pundak-pundak mereka. Akhirnya mereka masuk sorga.” (HR. Bukhori).

Itulah sekelumit kisah masa depan ketika hari kiamat. Pada hari dimana para Nabi dan Rosul, para wali, para syuhada’ dan orang-orang sholeh, memberi syafa’at di hari akherat.

Allohu Robbi, jadikanlah Nabi Muhammad saw pemberi syafa’at bagi kami, janganlah engkau haramkan atas kami syafa’atnya .. dan izinkanlah kami untuk memberikan syafa’at kepada oarang-orang yang kami cintai serta saudara mukmin dan muslim kami .. Amiiiin ….

Iklan

ADAB BERPAKAIAN DALAM ISLAM

Pengertian pakaian, syarat-syarat berpakaian, fungsi pakaian, warna pakaian yang disukai Rosululloh saw serta etika dalam berpakaian.

Orang Muslim meyakini bahwa berpakaian itu diperintahkan Alloh swt, seperti dalam firman-Nya:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.
Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’rof: 26).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.
“Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rof: 31).

Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Alloh swt, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah, ia pun mengikuti aturan yang ditetapkan Alloh swt dalam berpakaian.

Manusia dengan segala peradabannya memiliki naluri untuk mengembangkan apa yang ada, termasuk dalam perkembangan model pakaian. Tidak bisa dipungkiri lagi model pakaian yang ada di era globalisasi ini banyak menyadur dari dunia barat. Tapi umat Islam haruslah tetap bercermin terhadap syari’at Islam yang Rosululloh saw menjadi suri tauladannya, tidak mengabaikan apa yang menjadi batasan-batasan berpakaian sesuai syari’at Islam.

Dari Ibnu Abbas ra, Rosululloh saw bersabda:

الْبَسُوْمِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ؛
فَاِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِياَبِكُمْ, وَكَفِّنُوْافِيْهَا مَوْتاَكُمْ
“Pakailah pakaian berwarna putih, karena pakaian putih adalah pakaian yang  paling baik.
Dan kafanilah orang yang meninggal dengan kain putih.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Abu Rimtsah Rifaah at-taimiy ra, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ـ
 صَلَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَم ـ وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ أخْضَرَانِ.
“Aku pernah melihat Rosululloh saw. memakai dua baju yang hijau.” (HR.  Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Jabir ra, ia berkata:

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم دَخَلَ عَامَ الْفَتْحِ  مَكَّةَ وَعَلَيْهِ عِمَا مَةٌ سَوْدَاءُ
”Ketika Rosululloh saw memasuki kota makkah pada hari penaklukannya, beliau memakai sorban hitam.” (HR. Abu Daud).

Dari Abdul Aziz bin Abu Ruwad, dari Salim bin Abdulloh, dari ayahnya, dari Nabi saw bersabda:

الْإِسْبَالُ فِيْ الْاِزَارِوَالْقَمِيْصِ وَالْعِمَا مَةِ مِنْ جَرَّمِنْهَا شَيأخيَلاَءِ لَمْ يَنْظُرُاللهِ اَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ
”Hendaknya dipanjangkaan sarung, baju, dan sorban, barang siapa memanjangkan sesuatu darinya karena sombong, Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud).

Dari al-Barro bin Azib ra, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلًيْهِ وَسَلَمَ مَرْبُوْعًا
 وَلَقَدْ رَاَيْتُهُ فِيْ حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَاَيْتُ شَيْأً قَطُّ اَحْسَنَ مِنْهُ
“Tubuh Rosululloh saw. berukuran sedang, aku pernah melihat beliau mengenakan kain merah, dan belum pernah aku melihat orang yang lebih tampan dari beliau.” (HR. Abu Daud).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ : اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم قَالَ اِذَا اَنْتَعَلَ اَحَدْكُمْ فَلْيَبْدَأ بِا لْيَمِيْنِ وَإِذَانَزَعَ فَالْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ وَالْتَكُنُ الْيَمِنِى أَوْ لَهُماَ يُنْتَعَلُ وَآخِرَهُمَايُنْزَعُ
”Kalau kamu memakai sandal, pasang yang kanan terlebih dahulu tetapi kalau membukanya yang kiri buka dahulu, jadi yang kanan adalah pertama dipasang dan yang kiri terakhir dibuka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Pengertian pakaian :
Huruf lam  ل , ba’ ب dan sin  س adalah tiga huruf asli yang menunjuk pada pengertian tutup atau menutupi. Secara denotatif kata al-libas   الباس berarti pakaian yang dikenakan.

PENGERTIAN AUROT

Aurot adalah bagian tubuh yang tidak boleh dibuka untuk diperlihatkan, karena aurat adalah sesuatu yang harus dijaga dan ditutupi oleh setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan, maka ini adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan oleh setiap ummat Islam. Sesuatu yang baik akan tetap apik ketika dapat dijaga.
           

SYARAT BERPAKAIAN

Pakaian merupakan salah satu ni’mat dan penghormatan yang diberikan Alloh kepada anak cucu Adam. Barang siapa mensyukuri ni’mat ini, maka dia telah berada dalam batas-batas aturan yang diperbolehkan kepadanya.

Hukumnya wajib jika untuk menutupi aurat, hukumnya Sunnah jika dengan berpakaian itu menjadikannya lebih menarik dan indah dan Haram hukumnya karena ada larangan dari Rosululloh saw.

DUA MACAM PAKAIAN

Pakaian perempuan:
Adapun syarat  yang harus dipenuhi dalam mengenakan pakaian bagi perempuan, yaitu:
1.      Menutupi seluruh anggota tubuh kecuali bagian-bagian tertentu yang boleh diperlihatkan.
2.      Pakaian itu tidak menjadi fitnah pada dirinya.
3.      Pakaian itu tebal dan tidak transparan sehingga bagian dalam tubuh tidak terlihat.
4.      Pakaian tersebut tidak ketat atau sempit sehingga tidak membentuk lekukan-lekukan tubuh yang dapat menimbulkan daya rangsang bagi laki-laki.
5.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
6.      Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
7.      Tidak terlalu berlebihan atau mewah.

Pakaian laki-laki:
Mengenai pakaian laki-laki juga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Pakaian tidak terbuat dari sutera murni.
2.      Tidak berlebihan atau mewah.
3.      Tidak menyerupai pakaian wanita.
4.      Tidak memberikan gambaran bentuk tubuh atau aurot.
5.      Hendaknya panjang pakaian tidak melebihi kedua mata kaki.

FUNGSI PAKAIAN

1. Busana Sebagai Penutup Aurot.
Aurot dalam al-Qur’an disebut “sau’at” yang terambil dari kata sa’a, yasu’u yang berarti buruk, tidak menyenangkan. Kata ini sama ma’nanya dengan aurot yang terambil dari kata “aurot” yang berarti onar, aib tercela.
Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkannya buruk.
Tidak satu pun dari bagian tubuh yang buruk karena semuanya baik dan bermanfaat termasuk aurot. Tetapi bila dilihat orang, maka “keterlihatan” itulah yang buruk.

2. Fungsi Busana sebagai Perhiasan.
Perhiasan merupakan sesuatu yang dipakai untuk memperelok (memperindah). Tentunya pemakaiannya sendiri harus lebih dahulu menganggap bahwa perhiasan tersebut indah, kendati orang lain tidak menilai indah atau pada hakikatnya memang tidak indah.

Al-Qur’an tidak menjelaskan atau merinci apa yang disebut perhiasan, atau sesuatu yang elok/indah. Sebagian pakar menjelaskan bahwa sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian.
Kebebasan haruslah disertai tanggung jawab, karena keindahan harus menghasilkan kebebasan yang bertanggung jawab.
Tentu saja pendapat tersebut dapat diterima atau ditolak sekalipun keindahan merupakan dambaan manusia.
Namun harus diingat pula bahwa keindahan sangat relatif, tergantung dari sudut pandang masing-masing penilai.
Hakikat ini merupakan salah satu sebab mengapa al-Qur’ân tidak menjelaskan secara rinci apa yang dinilainya indah atau elok.

ETIKA BERPAKAIAN

Etika atau adat kebiasaan berhubungan erat dengan konsep penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Dalam berpakaian ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang muslim, diantaranya:
1.      Membaca do’a
2.      Disunnahkan untuk mendahulukan anggota tubuh yang bagian kanan dalam mengenakan pakaian.
3.      Memakai pakaian yang rapi dan sopan yang sesuai dengan tempat.
4.      Disunnahkan melepaskan pakaian dari sebelah kiri.

Jadi dalam mengenakan pakaian tidak hanya sekedar langsung memakai pakaian tersebut, melainkan ada beberapa aturan-aturan yang harus diperhatikan sebelumnya.

Sangat dianjurkan memakai pakaian dari sebelah kanan lalu sebelah kiri, dan melepaskannya dari sebelah kiri lalu kanan. Dan sebenarnya tidak hanya dalam hal berpakaian saja tapi dalam mengerjakan semua hal sanagat dianjurkan melakukannya dengan yang kanan terlebih dahulu, seperti, makan, wudlu’, hingga memakai sandal pun harus didahulukan yang kanan, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi tentang tata cara mengenakan sandal. Bahwa itu merupakan mengarahkan segala sesuatunya, menuju ke yang sebelah kanan. Dimana sebelah kanan, merupakan perlambang dari “Ash habul-yamin”, golongan kanan, atau golongan yang baik. Dan sebelah kiri umumnya adalah perlambang dari “Ash habush-shimal”, atau golongan kiri, atau golongan yang menjadi lawan dari baik.

Pahamilah perlambang “KANAN” dan “KIRI” ini, bahwa itu merupakan pemahaman secara tersirat, bahwa semua tindakan kita, laku kita, akhlak kita, haruslah diarahkan pada hal-hal yang baik, yaitu golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk Alloh swt dan Nabi Muhammad saw lalu mengerjakannya.

KEINDAHAN DAN KEBERSIHAN

Wahyu kedua yang dinilai oleh ulama sebagai ayat-ayat yang mengandung informasi pengangkatan Nabi Muhammad saw. sebagai Rosul antara lain menuntunnya agar menjaga dan terus-menerus meningkatkan kebersihan pakaiannya, Alloh swt berfirman:
“Dan pakaianmu bersihkanlah.“
(QS.74 al-Mudatstsir: 4).

Memang salah satu unsur mutlak keindahan adalah kerbersihan. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. senang memakai pakaian putih, bukan saja karena warna ini lebih sesuai dengan iklim Jazirah Arab yang panas, melainkan juga karena warna putih segera menampakkan kotoran, sehinga pemakaiannya akan segera terdorong untuk mengenakan pakaian lain yang bersih.

Nabi Muhammad saw juga sangat menyukai warna hijau karena warna ini merupakan warna pakaian disorga. Ada yang mengatakan bahwa memandang kehijauan dan air yang mengalir dapat menguatkan pengllihatan. Karena itulah, warna putih dan hijau menjadi warna yang paling dsukai oleh Rosululloh saw.

Wallohu A’lam

Awan Tag