Archive for Januari, 2015

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

PUJIAN ALLOH KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Di dalam al-Qur`an terdapat begitu banyak ayat pujian dan sanjungan Alloh swt kepada Sayyidina Muhammad saw .. Ibarat seorang professor yang membuat suatu karya yang monumental dan memuji hasil karyanya sendiri ..

Pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad menjadi tolak ukur pujian kita kepada beliau saw, sementara yang paling popular pujian Alloh swt di dalam al-Qur`an:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau Muhammad memiliki budi pekerti yang sangat agung.” (Al-Qolam :4).

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari bangsamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah :128).

Perhatikanlah, Ketika menyifati Nabi Muhammad saw, Alloh swt berfirman:
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sangat pengasih dan sangat penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Dan ketika menyifati Diri-Nya, Alloh juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Alloh `Maha Pengasih lagi Maha Penyayang` kepada manusia.” (Al-Boqoroh :143).

Diantara pujian Alloh swt kepada Nabi Muhammad saw yang termaktub dalam ayat diatas `pengasih dan penyayang`, Alloh swt tidak pernah menggunakan dua Nama-Nya tersebut untuk memuji seorang Nabi pun, kecuali untuk memuji Nabi Muhammad saw.

Diantara keistimewaan lain yang dimiliki Nabi Muhammad saw yang tidak dimiliki oleh Para Nabi lain adalah; Alloh swt mengajarkan kepada kita untuk memanggil atau menyapa Nabi Muhammad saw dengan sopan dan adab yang tinggi. Alloh swt melarang kita memanggil namannya secara langsung seperti kita memanggil teman kita.

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul (Nabi Muhammad) diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” (An-Nur: 63).

Alloh swt sendiri dalam al-Qur’an memanggil Nabi Muhammad saw tidak secara langsung melainkan dengan lemah lembut atau dengan jabatan beliau, “wahai Rosul … wahai Nabi … wahai orang yang berselimut … dll”

Bahkan karena sangat memuliakan kekasih Nya, Alloh bersumpah dengan umur Nabi Muhammad saw :

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Demi Umurmu (wahai Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (Al-Hijr :72).
Para ahli tafsir sepakat, dalam ayat ini Alloh swt bersumpah dengan umur (masa hidup) Nabi Muhammad saw.

Tidak ada satu makhluk pun yang dapat merendahkan derajat Nabi Muhammad saw disisi Alloh swt :

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.“ (Al-Insyiroh :4).

Dalam tafsir al-Qur’an disebutkan : Maksudnya Alloh swt meeninggikan atau memuliakan sebutan nama Nabi Muhammad saw, di langit di kalangan para malaikat, di bumi di kalangan kaum mukminin dan di akhirat dengan memberinya maqom (kedudukan) al-Mahmud (tempat terpuji) dan berbagai kemuliaan lain. Wallohu a’lam…

“Allohu Robbi … melalui Sayyidina Muhammad cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian anugerah karunia -Mu yang terus menerus tak pernah putus, kumpulkanlah kami dengan Sayyidina Muhammad dan kekasih pilihan-Mu di setiap zaman.
صَلَوَاتُ اللَّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَأَنْبِيَآئِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاَتُهُ
Sholawat Alloh, para malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para Rosul-Nya dan semua makhluk-Nya dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, dan keluarga Sayyidina Muhammad … dan kepada semua ummatnya, semoga keselamatan, rohmat dan barokah Alloh dilimpahkan kepada mereka semua.”

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

ALLOH Yang Maha Tinggi mengistimewakan ummat islam dengan kesempurnaan sholawat kepada Nabi Muhammad

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Alloh swt Tuhan pemelihara alam semesta raya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Lalu Alloh swt mengajak para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Kemudian menyeru ummat yang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad
Setelah itu Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membalas sholawat mereka

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (at-Taubah : 103).

Nabi Muhammad pun bersholawat dengan do’a:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

“Tuhanku berilah ampunan dan berilah rohmat -kepada ummatku yang mukmin-,
dan hanya Engkau-lah pemberi rohmat yang paling baik.” (Al-Mu’minuun: 118).

Dan para malaikat pun ikut mendo’akan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw:

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنِ نِالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ج وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ج وَذَالِك هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Tuhan kami, maka masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang sholeh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan
dan orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min: 8-9).

Maka Alloh swt berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan
Kami pertemukan -kumpulkan- anak cucu mereka dengan mereka
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari masing-masing pahala amal mereka
-sebab- Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya -sewaktu mereka di dunia-.” (At-Thur: 21)

Ada dua pendapat ulama berkaitan ayat QS. At-Thur: 21 diatas :

Pertama, Bahwa Alloh swt memberikan keni’matan yang lebih kepada orang mukmin yang menduduki derajat yang tinggi di sorga, dimana Alloh kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya.
Sehingga Alloh swt mengangkat derajat penduduk sorga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi, agar lebih menyenangkan hati mereka, sedangkan Alloh swt tidak mengurangi sedikitpun kedudukan derajatnya.

Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk sorga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Alloh swt akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan orang tuanya, agar orang tua merasa lebih senang berkumpul dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat orang tua sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya, maka derajat orang tua akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dan berkumpul dengan anaknya cucunya.

Kedua, ayat diatas berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh, ia masih belum memiliki amal, sedangkan amalan memelihara dan merawat adalah milik ayah dan ibunnya. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Alloh mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.

Menurut hemat penulis kedua pendapat ini tidak berselisih jauh, sehingga boleh jadi ma’na ayat diatas mencakup kedua-duanya.

أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

MENGENAL SEJARAH AGAR TUMBUH CINTA

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.

Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).

Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.

Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”

Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ
“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)

BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.

“Tali keimanan yang paling kokoh adalah patuh karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).

Dalam sabda beliau saw yang lain:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).

Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas ra berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”

Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.

Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas ra melanjutkan:
“Sungguh aku mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar aku bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun aku tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

CINTA KEPADA NABI DAN PARA ULAMA

Alloh swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki (para Nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” – (QS.16:43).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi).

Meninggalnya seorang yang ‘alim akan menimbulkan bahaya bagi ummat, keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt, terlebih Rosululloh saw mengistilahkan para ulama’ dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLOH swt kecuali melalui keta’atan kepada Rosululloh saw.
Dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ROSULULLOH saw kecuali melalui keta’atan kepada ULAMA’, kepada hamba-hamba Alloh -yang ahli dalam perkara al-Qur’an, as-Sunnah.

Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya .?

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Jika mampu jadilah kamu orang berilmu
jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu
jika tidak mampu jadilah pencinta ulama’
jika tidak mampu janganlah kamu membenci ulama’.”

Seorang ulama di era setelah sahabat, Ikrimah rohimahulloh mengatakan:
“Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena siapa yang menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rosululloh saw.
Sebab kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para Nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.”

ULAMA PENERUS NABI DAN ROSUL

Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Tirmidzi).

Para ulama semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama ..

Di samping ulama sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rohmat dan pertolongan-Nya, Alloh swt juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syari’at terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi kaum muslimin. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi saw.

Dari Abdulloh bin ‘Amr ibnul ‘Ash ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Alloh tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Dari Abdulloh bin ‘Amr ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (HR. Hakim).

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt. Terlebih Rosululloh saw mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Tuhan mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para Nabi sedangkan para Nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Oleh sebab itu kita kaum muslimin wajib memuliakan ulama karena mereka adalah pewaris para Nabi, meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan ilmu dan warisan yang mereka bawa dari Rosululloh saw. Dan barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin.
Sebuah ungkapan mengatakan: “Kalau kita tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa lagi kita percaya .?” Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin menyelesaikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syari’at, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya kerusakan.

Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Alloh swt berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ
“Kemudian (Kami menjadikan orang-orang yang mengamalkan) kitab (Al-Qur’an yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami (mereka adalah dari umat ini).” (QS. Fathir: 32).

Mengomentari ayat diatas, Asy-Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan:
“Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu … dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para sahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Alloh telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Alloh swt menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat Nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.”

Ibnu Hajar rh mengatakan:
“Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama warotsatul anbiya (ulama adalah pewaris para Nabi).”

Rosululloh saw bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban).

Ulama mengatakan:
“Kebijaksanaan Alloh atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Alloh dan bentuk rohmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Alloh dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut Nabi dan Rosul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal sholih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para Nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Alloh telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Alloh merohmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan do’a-do’a yang barokah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Alloh melimpahkan rohmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.”

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهاَ دِيْنَهاَ
“Sesungguhnya Alloh akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbarui (mengangkat ulama pada tiap generasi yang akan menjadi pembimbing) agama umat ini.” (HR. Abu Dawud).

Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit yang menerangi jalan, dan bila kegelapan memenuhi cakrawala, maka manusia akan mengalami kebingungan dan kesesatan.

Iklan

Awan Tag