MADINATURROSUL AL-MUNAWWAROH

ZIAROH KE MADINATURROSUL

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrohim telah mengharamkan Makkah dan mendo’akan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdo’a agar setiap sho` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang dido’akan Ibrohim untuk penduduk Makkah.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

barangsiapa yang akan berkunjung ke kota Madinah, hendaklah ia mandi sebelum memasuki kota, memakai wewangian, memakai pakaian yang baik dan bersih dari yang dimilikinya, hendaklah memperbanyak bacaan sholawat dalam perjalanannya.

Apabila telah memasuki kota Madinah dan tampak baginya dinding-dinding bangunan, pohon-pohon korma, dan pepohonan hendaklah membaca do’a:

اَللّهُمَّ هَذَا حَرَامُ رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْهُ لِيْ وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَاَمَانًا مِنَ الْعَذَابِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.

Apabila telah turun dari kendaraan dan telah menginjak tanah Harom-madani hendaklah membaca do’a:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبِّ اَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِى مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا.

“Dengan nama Alloh dan diatas jalan agama yang dibawa oleh Rasululloh. Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengancara yang baik pula, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuatan yang menolong.”

Setelah sampai di pemondokan / maktab, hendaknya segera berkunjung ke masjid Nabawi melakukan sholat dua roka’at, kemudian setelah selesai sholat segera berziaroh menuju ke makam Nabi Muhammad saw. dengan cara berdiri berhadapan dengan wajah beliau, (menghadap dinding makam), jangan terlalu mendekat, berdiri agak jauh itu lebih menunjukkan rasa ta’dhim dan penghormatan kepada beliau, disaat berdiri ucapkanlah salam kepada beliau, setelah itu bergeserlah sedikit ke kanan dan ucapkanlah salam kepada kholifah pertama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. kemudian bergeserlah sedikit lagi ke kanan dan ucapkanlah salam kepeda kholifah kedua Sayyidina ‘Umar ibnu Khothob ra. Keduanya adalah sahabat-sahabat terdekat yang mendampingi perjuangan Rosululloh saw. dan keduanya dimakamkan disamping beliau saw.

Berupayalah dengan sungguh-sungguh agar bisa sholat di masjid lama yang di bangun sendiri dengan tangan beliau yang suci, karena didalamnya ada “Roudloh” yaitu taman sorga. Rosululloh saw. bersabda:
“Tempat antara kuburku dan mimbarku adalah taman (roudloh) dari taman-taman sorga.”
Perbanyaklah baca Sholawat, Istighfar, Tahlil dan Tasbih ditempat ini, dan berdo’alah, semoga Alloh swt. tiada henti-hentinya mencurahkan rohmat-Nya kepada kita dan Rosul pun berkenan memberikan syafa’atnya kepada kita kelak di hari akherat.

Bila berjalan di tanah suci Madinah hendaklah dengan tawadhu’ dan ta’dhim, karena tidak ada sejengkal tanahpun di kota ini yang tidak pernah di injak kaki suci Nabi Muhammad saw. dan tidak ada udara yang tidak pernah dihirup oleh beliau.

Di anjurkan untuk berziarah ke pemakaman Baqi’, disinilah kholifah ketiga Sayyidina ‘Utsman bin Affan ra. dimakamkan, dan makam Sayyidatina Fathimatuz-zahro ra. dan makam anak cucu Rosululloh saw, dan ummahatul-mukminin ‘Aisyah ra, juga para sahabat-sahabat beliau, ucapkan salam untuk mereka semua yang telah mendahului kita.

Di anjurkan pula untuk mengunjungi gunung Uhud, yaitu tempat pemakaman para syuhada’, dipemakaman ini ada paman Rosululloh saw. yang gugur dalam perang uhud yaitu Sayyidus-syuhada’ Hamzah ra. ucapkanlah salam untuknya dan untuk para syuhada’ yang lain.

Berziarahlah ke masjid Kuba, karena Rosululloh saw. bersabda:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci (dari hadats) mengunjungi masjid Quba dan melakukan sholat didalamnya, maka baginya pahala sama dengan umroh.”

Setelah selesainya kegiatan berbagai macam ibadah, sebelum meninggalkan kota suci Madinah hendaklah berpamitan kepada Rosululloh saw. Ucapkan salam kepada beliau seperti ketika anda ziaroh pada pertama kalinya, lalu ucapkan dengan rasa tunduk dan dengan suara perlahan penuh rasa haru:
“Ya sayyidi ya rosulalloh, yang memberi syafa’at serta rohmat untuk seluruh alam, berilah aku syafa’at serta rohmatmu, sebagai bekal hidupku didunia dan diakhirat.
Aku berdiri dihadapanmu mohon pamit kepadamu, dan sebelum aku meninggalkan kotamu yang suci penuh barokah ini, aku mohon engkau berkenan menerima kesaksianku:
اَشْهدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
agar engkau membawa kalimat ini kepada Tuhan semesta alam raya, sebagai bukti ke-imananku kepadamu dan kepada Tuhanmu.”

Kemudian bacalah do’a:

اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ أَخِرَ عَهْدِيْ مِنْ قَبْرِ نَبِيِّكَ وَمِنْ حَرَامِكَ وَاجْمَعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ فِى دَارِ الْقَرَارِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

“Ya Alloh janganlah engkau jadikan kunjunganku ini sebagai kunjunganku yang terahir kepada makam Nabi-Mu serta kawasan suci ini. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara semua yang pengasih.”

KEUTAMAAN MENGUNJUNGI ROSULULLOH SAW

Dari Ibnu Umar ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa yang datang menziarahi aku, niscaya aku punya hak atas Alloh sebagai pemberi syafa’at.”
(HR. Thobroni)

Alloh swt berfirman:

أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri (berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Sungguh , Alloh dan Rosul-Nya telah menentramkan jiwa orang-orang Islam yang tidak sempat hidup di masa beliau saw, melalui sabdanya:
“Barang siapa menziarahiku sepeninggalku, seakan-akan ia menziarahi aku semasa aku masih hidup.”
(HR. Thobroni melalui Ibnu Umar)

Beliau saw telah menenangkan hati orang-orang yang beriman sepanjang masa dengan sabdanya:
“Kehidupanku baik untuk kamu, maka bila aku wafat, wafatku baik untuk kamu, dipaparkan kepadaku amal-amal kamu, kalau kutemukan amal itu baik, aku memuji Alloh, dan bila buruk, aku beristighfar memohonkan pengampunan untuk kamu.”
(HR. Ibnu Sa’ad melalui Bakar bin Abdillah)

Dengan demikian, permohonan ampunan Rosul saw kepada Alloh swt, bagi ummatnya ada, dan berlanjut terus.
Dengan demikian yang di tuntut dari diri kita yang hidup setelah masa Rosul saw, tidak lain kecuali menziarahi “Datang kepada beliau” dengan memohon ampun kepada Alloh swt dan mengikuti sunnah yang beliau saw tinggalkan buat kita seperti yang beliau nyatakan:
“Aku tinggalkan buat kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Alloh dan sunnahku, keduanya tidak terpisah hingga keduanya menemuiku di sorga.”
(HR. Al-Hakim melalui Abu Huroiroh)

Mengapa permohonan ampun Rosul saw kita butuhkan .?
1. Pelanggaran pada hukum yang telah ditetapkan Rosul saw mengandung pelecehan terhadap beliau saw, sehingga mereka harus memohon maaf kepada beliau saw dan beliau saw harus memaafkan.
2. Mereka yang melanggar itu tidak rela pada hukum yang ditetapkan Rosul saw, dan ini mengandung pembangkangan.
Karena itu taubat mereka harus disertai sesuatu yang membuktikan penyesalan mereka atas pembangkangan tersebut, maka mereka harus datang kepada Rosul saw.
3. Boleh jadi taubat mereka tidak sempurna atau mengandung kekurangan, maka dengan bergabungnya taubat mereka dengan permohonan ampun Rosul saw buat mereka, diharapkan mereka dapat memperoleh pengampunan Alloh swt.

Dalam hal ini Rosululloh saw menegaskan dengan sabdanya:
“Barang siapa memiliki kemudahan, namun tidak menziarahi aku, berarti ia sengaja menjauhi aku.”
(HR. Ibnu Hibban, Imam Malik, Ibnu ‘Adi, Imam ad-Daruquthni, melalui Ibnu ‘Umar)

KISAH BADUWI BERZIARAH KE KUBUR NABI SAW

Sepeninggal Rosululloh saw, seorang Baduwi datang ke Madinah, ia bermaksud menjumpai beliau saw.
Sesampainya di Madinah, ia bertanya kepada sahabat yg dijumpainya, di mana ia bisa bertemu Rosululloh saw.
Tapi dikatakan kepadanya bahwa Rosululloh saw telah wafat, dan di makamkan di samping masjid, di kamar Sayyidati ‘Aisyah ra.

Mendengar berita tersebut, Baduwi itu sangat bersedih, air matanya bercucuran, karena tidak sempat berjumpa dengan Rosululloh saw.
Segera ia menuju makam, di hadapan makam beliau saw, ia duduk bersimpuh, mengadukan dan mengutarakan kegelisahan dn kegundahan hatinya.
Dgn linangan air mata, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, engkau Rosul pilihan, makhluk paling mulia di sisi Alloh.
Aku datang untuk berjumpa denganmu untuk mengadukan segala penyesalanku dan kegundahan hatiku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku, namun engkau telah pergi meninggalkan kami.
Aku datang karena Alloh telah berfirman melalui lisanmu yang suci:
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri
(berpaling dari tuntunan Alloh, atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus, lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati, dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64).

Kini aku datang kepadamu untuk mengadukan halku, penyesalanku atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat di masa laluku, agar engkau mohonkan ampunan kepada Alloh bagiku.”

Setelah mengadukan segala keluh kesah yang ada di hatinya, Baduwi itu pun meninggalkan makam Rosululloh saw.

Ketika itu di Masjid Nabawi ada seorang sahabat Rosululloh saw tengah tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi Nabi saw.
Beliau saw bersabda:
“Wahai Fulan , bangunlah dan kejarlah orang yang tadi datang kepadaku.
Berikan kabar gembira kepadanya bahwa Alloh telah mendengar permohonannya dan Alloh telah mengampuninya atas segala kesalahan dan dosanya.”

Sahabat tadi terbangun seketika itu juga, tanpa berpikir panjang ia pun segera mengejar orang yang dikatakan Rosululloh saw dalam mimpinya.
Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud pun terlihat olehnya, sahabat itu memanggilnya dan menceritakan apa yang dipesankan Rosululloh saw dalam mimpinya.

Alloh berfirman:
“Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
(QS. Al-Baqoroh: 143).

MADINAH YANG DIRINDUKAN SETIAP MUSLIM

Begitu banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dengan nilai-nilai keimanan tinggi terkumpul di kota Madinah. Keutamaan dan kemuliaan kota Madinah menghiasi pendengaran dan penglihatan.

Alloh swt menjadikan kota Madinah sebaik-baik tempat setelah Makkah al-Mukarramah. Tempat diturunkannya wahyu dan tempat bertemunya antara Muhajirin dan Anshor, dan di dalamnya ditegakkan bendera jihad fi sabilillah dan tersebarnya al-Islam keseluruh penjuru alam. Banyak hadist Nabi saw menjelaskan sisi-sisi keutamaan kota Madinah.

MADINAH SEBAGAI KOTA SUCI

Madinah oleh Rosululloh saw dijadikan sebagai kota suci, di sinilah Islam tumbuh, berkembang, dan menyebar luas, sehingga semesta yang pada waktu itu tertutup oleh kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya Islam.

Diriwayatkan dari Abdulloh bin Zaid bin `Ashim ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ
وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrohim telah mengharamkan Makkah dan mendo’akan penduduknya, dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim telah mengharamkan Makkah.
Dan sesungguhnya aku juga berdo’a agar setiap sho’ dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang dido’akan Ibrohim untuk penduduk Makkah.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:  

إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ. وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا.
لاَ يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلاَ  يُصَادُ صَيْدُها

“Sesungguhnya Ibrohim menjadikan Makkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah Tanah Suci di antara tepinya.
Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya.”
(HR. Bukhori)

Dan Rosululloh saw telah menjelaskan batasan-batasan tanah haram di Madinah. Wilayah haram membentang dari Gunung Tsur (yang merupakan perbatasan sebelah utara) hingga Gunung ‘Ier (yang merupakan perbatasan sebelah selatan).
Dan dari Harroh Waqim (yang merupakan perbatasan sebelah timur) hingga Harroh Wabroh (yang merupakan perbatasan sebelah barat).

JAMINAN SYAFA’AT ROSULULLOH

Ini merupakan sebuah kehormatan bagi penduduk Madinah atau yang menziarahinya apabila meninggal di dalamnya.
Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana.”
(HR. Tirmizi dan Ahmad)

Diriwayatkan, Abu Sa’id maula Al-Mahri datang kepada Abu Sa’id Al Khudri ra, di malam peristiwa Al-Harroh untuk meminta nasehatnya dia hendak keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi, sedangkan ia mempunyai banyak tanggungan, dia menyampaikan, sudah tidak mampu lagi menanggung cobaan dan kesulitan hidup di kota Madinah.
Lalu Abu Sa’id Al-Khudri ra menjawab:
“Celakalah engkau .! aku tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa’at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”
(HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar ra, ia pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa bersabar dengan  kesukaran di Madinah, maka aku akan memberi syafa’at atau menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat.”
(HR. Muslim)

Beliau saw juga bersabda:

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

“Siapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia berusaha ke arah itu. Karena sesungguhnya aku menjadi saksi bagi siapa yang meninggal di sana.”
(HR. Muslim melalui Ibnu Umar ra)

Sayyidina ‘Umar bin Khoththob ra, pernah berkeinginan meninggal di kota Madinah, beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ya Alloh, karuniakanlah aku syahid di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Rosul-Mu saw (Madinah).”
(HR. Bukhori)

MADINAH TEMPAT KEMBALINYA IMAN

Tidak diragukan lagi, Madinah adalah ibukota pertama umat Islam dan darinya tersebar Islam keseluruh penjuru alam. Dan setiap muslim menyimpan rasa rindu untuk menziarahinya dan karena kecintaannya kepada Rosululloh saw.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh ra, bahwa Rosululloh saw bersabda,

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

MADINAH BEBAS DARI THO’UN DAN DAJJAL

Salah satu keutamaan kota Madinah lainnya adalah ia dijaga oleh para Malaikat sehingga Tho’un—yaitu wabah penyakit menular yang bisa memusnahkan semua penduduk suatu negeri— dan Dajjal tidak bisa dapat memasukinya.
Banyak hadits-hadits shohih yang menjelaskan tentangnya.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat sehingga wabah Tho’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Anas ra, Rosululloh saw bersabda:  
“Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Makkah dan Madinah. Dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Lalu Dajjal singgah di Shopha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal.”
(HR. Bukhori  dan Muslim)

MADINAH TEMPAT YANG BERKEBERKAHAN

Dari Zaid bin Tsabit ra, Rosululloh saw bersabda tentang kota Madinah:

إِنَّهَا طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ وَإِنَّهَا تَنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ

“Ia Thoibah, yaitu Madinah. Ia menghilangkan segala keburukan sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada perak.”
(HR. Muslim).

Dari Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:
“Kami tiba di Madinah ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu.
Ketika Rosululloh saw menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

“Ya Alloh, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sho` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah.”
(HR. Muslim).

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: