AL-WAHHAAB

ASMAUL HUSNA | 16
Al-Wahhaab: ( الوهاب ) Maha Pemberi, Maha Menganugerahi, yang memberi banyak keni’matan dan selalu memberi karunia.

الوهاب

AL WAHHAB | YANG MAHA PEMBERI
Karunia ALLOH merupakan hadiah yang bebas dari imbalan dan kepentingan .. DIA-lah yang memberi setiap manusia apa yang dibutuhkannya .. bukan untuk mendapatkan balasan atau kepentingan tertentu .. sekarang ataupun dimasa yang akan datang ..
Jika karunia yang bersifat seperti ini dimiliki manusia, pihak yang memberikannya dapat disebut sebagai pemberi atau dermawan ..
Akan tetapi siapapun yang memberikan sesuatu dengan maksud agar kepentingannya terwujud cepat atau lambat .. dia bukanlah pemberi dan juga dermawan ..
Apa saja yang belum dapat dicapai, tetapi bermaksud mencapainya dengan bermurah hati memberikan sesuatu, hal tersebut dianggap mengharapkan balasan ..
 
Kedermawanan sejati adalah memberikan keuntungan-keuntungan kepada orang lain, namun bukan bertujuan agar si pemberi mendapat imbalan keuntungan ..
Sesungguhnya siapapun yang melakukan sesuatu karena akan dicela kalau tidak melakukannya, dia sedang membebaskan dirinya dengan jalan melakukan sesuatu, hal itu adalah kepentingan dan mengharapkan imbalan ..
 
“Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rohmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi.” (QS. Shood: 9)
 
Ma’na lafazh ‘AL-WAHHAAB’ menekankan bahwa pada hakikatnya tidak mungkin tergambar dalam benak, mengenai adanya yang memberi ..
Siapapun yang membutuhkan dan mengharapkan imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrowi hanya kepada ALLOH .. maka dia disebut telah meneladani AL-WAHHAAB .. Mereka berkata:
 
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Tuhan kami, janganlah ENGKAU jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah ENGKAU memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-MU karena sesungguhnya ENGKAU-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8).
 
Karena siapa yang memberi disertai dengan tujuan duniawi atau ukhrowi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan dan hinaan atau mendapatkan kehormatan, dia bukanlah ‘WAHHAAB’ ..
Makhluk tidak mungkin memberi secara berkesinambungan sedang ALLOH dapat memberi secara berkesinambungan dan tanpa batas ..
 
“(Nabi Sulaiman) ia berkata :
“Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (QS. Shood: 35)
 
Murah hati adalah mengorbankan milik dan jiwanya, “demi ALLOH semata” .. bukan demi tercapainya keni’matan sorga atau bukan demi terhindarnya dari siksa neraka .. atau bukan demi keuntungan yang ingin disegerakan .. atau keuntungan dimasa yang akan datang ..
 Setingkat dibawahnya adalah orang yang memberi dengan sukarela demi tercapainya keni’matan sorgawi dan tingkat dibawahnya adalah orang yang memberi untuk mendapat pujian ..

Karena tujuan dari kemurahan hati (kedermawanan) adalah ‘keridhoan ALLOH Azza wa Jalla .. kesempatan bertemu dengan-NYA dan dapat mencapai-NYA ..
Karena inilah kebahagiaan yang hakiki dari kemurahan hati (kedermawanan) dan terlihat secara dhohir bahwa dia tidak mendapat apa-apa dari kedermawanannya’ ..
 
Perhatikan hubungan orang tua kepada anak-anaknya .. mereka perduli kepada mereka bukan karena keuntungan yang akan didapatkan dari anaknya .. dan apabila anak-anaknya tidak memberikan keuntungan kepada orang tua mereka maka para orang tua tidak merubah keperdulian mereka kepada anak-anaknya ..
 
Apabila orang mencari sesuatu demi sesuatu yang lain dan bukan demi sesuatu itu sendiri .. seakan-akan dia tidak mencari AL WAHHAAB .. karena hal itu bukan tujuan yang hendak dicapainya ..
 
Ini seperti orang yang mencari emas, dia tidak mencari emas demi emas, namun demi mendapatkan makanan atau pakaian melalui emas ..
Makanan dan pakaianpun tidak dicari demi makanan dan pakaian, tetapi sebagai alat demi memuaskan keni’matan atau untuk menghilangkan penderitaan ..
 
Maka siapapun yang beribadah kepada ALLOH demi mendapatkan keni’matan sorga, berarti dia telah menjadikan AL-WAHHAAB sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan yang hendak dicapainya ..
Tanda bahwa sesuatu itu merupakan sarana adalah tidak ada seorangpun yang mencari sesuatu itu jika keuntungannya dapat diperoleh tanpa sesuatu itu ..
 
Jika sesuatu itu dapat dicapai tanpa emas, maka emas tidak akan disukai dan tidak akan dicari, karena sesungguhnya yang disukai adalah manfaat yang dicari bukan emas .. Dan jika merasa sorga dapat dicapai oleh orang yang beribadah kepada ALLOH demi sorga itu, maka sesungguhnya dia tidak beribadah, karena yang dicari dan yang disukainya adalah sorga itu sendiri ..
 
Barangsiapa yang hanya mencintai ALLOH semata dan hanya mencari kedekatan dengan-NYA, maka dialah yang disebut orang yang beribadah kepada-NYA, bukan mencari keuntungan, karena ALLOH itu sendirilah keuntungan dan selain DIA bukanlah keuntungan ..
 
Maka ALLOH-lah yang sesungguhnya tujuan akhir seseorang sejak dari awalnya .. Kebanyakan makhluk berbuat dholim kepada dirinya ketika beribadah kepada ALLOH Azza wa Jalla .. yaitu seperti orang upahan, yang bekerja demi upah yang diharapkannya .. maka sikap seperti ini tidak akan memahami keni’matan menatap wajah ALLOH Azza wa Jalla, karena mereka hanya mempercayai-NYA sebatas ucapan-ucapan ..
 
AL-WAHHAAB .. DIA adalah Maha Pemberi ..
Pemberian-NYA tanpa syarat, juga tanpa batas .. Ta’terukur, juga ta’ternilai .. Ta’ada satupun yang mampu menyamai pemberian-NYA .. Ta’pula satupun yang mampu menghitung anugerah-NYA ..
 
AL-WAHHAAB .. DIA adalah Maha pemberi ..
Langit diberi-NYA awan, agar manusia di bumi ternaungi .. Langit diberi-NYA awan, agar air kembali turun ke bumi dan menyuburkan tanah .. Langit diberi-NYA awan, agar para sastrawan juga mendapat inspirasi ..
 
AL-WAHHAAB .. DIA adalah Maha Pemberi ..
Burung dengan merdu berkicau, singa dengan gagah  mengaum .. Bukankah begitu indah dan penuh harmoni semua yang dianugerahkan ..?
 
AL-WAHHAB .. DIA adalah Maha Pemberi ..
Diberikan manusia sebaik-baik rupa .. Diberikan manusia setinggi-tinggi akal untuk menalar .. Diberikan manusia sedalam-dalamnya hati untuk merasa .. Diberikan manusia daya untuk berusaha sekuat-kuatnya mencapai rohmat dan ridho-NYA .. Diberikan manusia upaya untuk menghindari murka-NYA ..
 
Maha Suci ALLOH yang Maha Pemberi. DIA yang selalu menjawab do’a dan memberikan segala yang dipinta hamba .. Sungguh luas karunia-NYA .. Cacing di dalam tanah, mendapatkan jatahnya .. Burung yang ta’tahu akan terbang kemana, juga mendapatkan rezekinya .. Apalagi manusia, makhluk yang sangat dicintai-NYA, atas izin-NYA dan dengan segala usaha, ada banyak anugerah dan karunia yang mampu didapatkan manusia ..
 
Wahai hamba yang mendamba .. jika ingin segala hasrat baik dikabulkan .. dzikirkan selalu dari bibirmu, YA WAHHAAB .. tiada henti, tiada lelah .. Insya ALLOH, Tuhan yang Maha Memberi akan mengabulkan segala ..
 
Tapi ada satu pertanyaan yang tersisa, tidakkah kita malu dengan segala pemberian-NYA yang tidak sebanding dengan ketaatan yang kita sembahkan ..?
Sungguh .. Maha Suci ALLOH yang selalu memberi, meski dengan segala kealpaan kita yang selalu terjadi .. Semoga ALLOH senantiasa memberi ampunan dan rohmat-NYA ..
   
“Ya Tuhan kami, janganlah ENGKAU jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah ENGKAU beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi ENGKAU; karena sesungguhnya ENGKAU-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 08).

RIDHO ALLOH ADALAH TUJUAN

Alloh swt menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai kholifah-Nya diatas dunia ini. Tugas kekholifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dengan dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya, maka akan menjadi ibadah buat kita.

Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatulloh atau hukum alam-Nya, terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna, itupun baru pada tahapan bayi kecil ta’berdaya.

Kemudin kita tunduk pada kaidah sunnatulloh yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua. Demikian seterusnya. Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman kita terhadap segala sesuatunya.

Jika awalnya kita bertindak hanya karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran.

Demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya kita beribadah hanya karena mengharap sorga atau takut karena neraka, maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena sorga dan neraka sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Alloh swt.

Dengan demikian, maka tingkat keikhlasan kita beribadah pun secara berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya. Karena yang ada dipikiran kita selama ini, ibadah itu untuk mencintai Alloh dan bukan untuk mencintai diri beserta dunia kita.

Salah atau tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh niat ikhlas kita melakukannya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan sorga dan nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqom lebih tinggi dari sekedar itu. Anggaplah ibadah karena mengharap pahala tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita. Demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam al-Qur’an

Katakanlah:
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLOH, Tuhan semesta alam.”
(Qs. al-An’am 6:162)

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: