KEUNIKAN NAMA ALLOH

SIAPA ATAU APA TUHAN ..?

Jika Anda ingin berinteraksi dengan seseorang, tentulah Anda perlu mengenalnya, siapa dia serta apa nama maupun sifat-sifatnya .?
Tuhan yang mencipta, yang diharapkan bantuan-Nya serta yang kepada-Nya bertumpu segala sesuatu, pastilah lebih perlu dikenal.

“Yang melihat/mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi hati yang bersih.

Mampukah Anda dengan membaca kumpulan syair seorang penyair, atau mendengar gubahan seorang komposer .. dengan melihat lukisan pelukis atau pahatan pemahat, –
Mampukah Anda dengan melihat hasil karya seni mereka, mengenal mereka tanpa melihat mereka secara langsung .?

Memang Anda bisa mengenal selayang pandang tentang mereka, bahkan boleh jadi melalui imajinasi, Anda dapat membayangkannya sesuai dengan kemampuan Anda membaca karya seni, namun Anda sendiri pada akhirnya akan sadar bahawa gambaran yang dilukiskan oleh imajinasi Anda menyangkut para seniman itu, adalah bersifat pribadi dan merupakan ekspresi dari perasaan Anda sendiri.

Demikian juga yang dialami orang lain yang berhubungan dengan para seniman itu, masing-masing memiliki pandangan pribadi yang berbeda dengan yang lain.

Kalaupun ada yang sama, maka persamaan itu dalam bentuk gambaran umum menyangkut kekaguman dalam berbagai tingkat.
Kalau demikian itu adanya dalam memandang seniman melalui karya-karya mereka, maka bagaimana dengan Tuhan, sedang Anda adalah setetes dari ciptaan-Nya .?”

Kalau Anda masih berkeras untuk mengenalnya maka lakukanlah apa yang dikemukakan di atas tetapi yakinlah bahwa hasilnya akan jauh lebih sedikit dari apa yang Anda peroleh ketika ingin mengenal para seniman itu.
Bukankah hasil karya mereka terbatas, itupun belum tentu semuanya dapat Anda jangkau sedang hasil karya Tuhan sedemikian banyak sehingga mana mungkin Anda akan mampu mengenal-Nya walau pengenalan yang serupa dengan pengenalan terhadap seniman-seniman itu.

Sebenarnya jika Anda mau, ada jalan yang tidak berliku-liku, tidak pula jauh jaraknya.
Pandanglah matahari ketika akan terbenam, bentangkanlah mata ke samudera lepas, Anda akan terkagum-kagum oleh keindahan dan keagungannya dan pada akhirnya Anda akan sampai kepada pengenalan Ilahi. Atau ambillah satu makhluk Tuhan, lihat dan cermaati dengan baik. Alloh swt menjelaskan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Wahai umat manusia, inilah diberikan satu misal perbandingan maka dengarlah mengenainya dengan bersungguh-sungguh.
Sebenarnya mereka yang kamu seru dan sembah, selain dari Alloh itu, tidak akan dapat mencipta seekor lalat walaupun mereka berhimpun beramai-ramai untuk membuatnya; dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu lemahlah yang menyembah, dan yang disembah”. (QS. Al-Hajj [22]:73).

Apakah setelah ini, Anda masih akan menjawab terus dengan akal fikiran Anda apa dan siapa Tuhan .?
Tapi yakinlah bahawa apa yang diinformasikan oleh akal Anda hanya setetes dari samudera. Kalaulah semua hasil pemikiran manusia dikumpul, maka itupun hanya bagaikan sedetik dari waktu yang terbentang ini.

Kerana itu ketika Abu Bakar ra ditanya:
“Bagaimana Engkau mengenal Tuhanmu?” 
Beliau menjawab:
“Aku mengenal Tuhan melalui Tuhanku. Seandainya Dia tidak ada, Aku tidak mengenal-Nya”.
Selanjutnya ketika beliau ditanya:
“Bagaimana Anda mengenal-Nya .?”
Beliau menjawab:
“Ketidakmampuan mengenalnya adalah pengenalan”.

Tetapi apakah dengan demikian persoalan telah selesai .? Jelas tidak, kerana kita ingin berinteraksi dengan-Nya, kita tidak hanya ingin patuh, tetapi juga kagum dan cinta. Jika demikian, dibutuhkan proses pengenalan.

Dalam al-Qur’an, Alloh tidak diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat materi, kerana jika demikian pastilah ia berbentuk, dan bila berbentuk pasti terbatas dan memerlukan tempat, dan ini menjadikan Dia bukan Tuhan kerana Tuhan tidak memerlukan sesuatu dan tidak pula terbatas. Disisi lain pasti juga bila demikian Dia ada di satu tempat dan tidak ada di tempat lain. Pasti Dia dapat dilihat oleh sebahagian dan tidak terlihat oleh sebahagian yang lain. Semua ini akan mengurangi kebesaran dan keagungan-Nya, bahkan bertentangan dengan idea tentang Tuhan yang ada dalam benak manusia.

Tapi ini bukan berarti bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat idea atau immaterial, yang tidak dapat diberi sifat atau digambarkan dalam kenyataan, atau dalam keadaan yang dapat dijangkau akal manusia. Karena jika demikian, bukan saja hati manusia tidak akan tenteram terhadap-Nya, akalnya pun tidak dapat memahami-Nya, sehingga keyakinan tentang wujud dan sifat-sifat-Nya tidak akan berpengaruh pada sikap dan tingkah laku manusia.

Kerana itu al-Qur’an menempuh cara pertengahan dalam memperkenalkan Tuhan.
Dia, menurut al-Qur’an antara lain Maha Mendengar, Maha Melihat, Hidup, Berkehendak, Menghidupkan dan Mematikan, dan bersemayam di atas Arsy, Tangan Alloh diatas tangan mereka (manusia) bahkan Nabi saw menjelaskan bahawa Dia bergembira, berlari dan sebagainya yang kesemuanya mengantar manusia kepada pengenalan yang dapat terjangkau oleh akal, atau potensi-potensi manusia. Namun demikian ada juga penjelasan al-Qur’an yang menyatakan bahwa :

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi, Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi bintang-binatang itu); dengan jalan yang demikian dikembangkan-Nya (dzuriat keturunan) kamu semua. Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan pentadbiran-Nya) dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Sehingga, jika demikian ‘apapun yang tergambar dalam benak, atau imajinasi siapa pun tentang Alloh, maka Alloh tidak demikian’. Dengan membaca dan menyedari ma’na ayat ini, luluh semua gambaran yang dapat dijangkau oleh indra dan imajinasi manusia tentang Dzat Yang Maha Sempurna itu.

‘Ali bin Abu Tholib ra pernah ditanya oleh sahabatnya Zi’lib Al-Yamani:
“Amirul-mukminin, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu .? Apakah aku menyembah apa yang tidak kulihat .?”
Jawab beliau:
“Bagaimana engkau melihat-Nya ..? Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakikat keimanan”.

KEUNIKAN NAMA ALLOH

Alloh adalah nama Tuhan yang paling popular.
Para ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak.

Sekian banyak ulama yang berpendapat bahawa kata “Alloh” tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah nama yang menunjuk kepada dzat yang wajib wujud-Nya, yang menguasai seluruh hidup dan kehidupan dan yang kepadaNya seharusnya seluruh makhluk mengabdi dan bermohon.

Tetapi banyak ulama berpendapat bahwa kata “Alloh” asalnya adalah “Ilah” yang dibubuhi huruf alif dan lam, dan dengan demikian Alloh merupakan nama khusus kerana itu tidak dikenal bentuk jamaknya sedang Ilah adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jamak (plural) Alihah.

Dalam bahasa Melayu, keduanya dapat diterjemahkan dengan tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Yang bersifat umum ditulis dengan huruf kecil t_tuhan, dan yang bermakna khusus ditulis dengan huruf besar T_Tuhan.

Alif dan lam yang dibubuhkan pada kata Ilah berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi itu (dalam hal ini kata Ilah) merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua huruf tersebut disini sama dengan The dalam bahasa Inggris. Kedua huruf tambahan itu menjadikan kata yang diletak menjadi ma’rifat atau definite (diketahui/dikenal).

Pengguna bahasa Arab mengakui bahwa Tuhan yang dikenal oleh benak mereka adalah Tuhan Pencipta, berbeda dengan tuhan-tuhan alihah (bentuk jamak dari Ilah) yang lain. Selanjutnya dalam perkembangan lebih jauh dan dengan alasan mempermudah, hamzat yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata Al-Ilah tidak dibaca lagi sehingga berbunyi Alloh dan sejak itulah kata ini seakan-akan telah merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata sekaligus sejak itu pula kata Alloh menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur Alam raya yang wajib wujud-Nya.

Sementara ulama berpendapat bahwa kata “Ilah” yang darinya terbentuk kata “Alloh”, berakar dari kata Al-Ilahah, Al-Uluhah, dan Al-Uluhiyah yang kesemuanya menurut mereka bermakna ibadah/penyembahan, sehingga “Alloh” secara harfiah berma’na “Yang Disembah”.

Ada juga berpendapat bahawa kata tersebut berakar dari kata “alaha” dalam arti mengherankan atau “menakjubkan” karena segala perbuatan/ciptaan-Nya menakjubkan atau karena bila dibahas hakekatnya akan mengherankan akibat ketidaktahuan makhluk tentang hakekat Dzat Yang Maha Agung itu. Apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut hakekat Dzat Alloh maka Alloh tidak demikian “kamtslihi syai’un”.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata “Alloh” terambil dari akar kata “Aliha Ya’lahu” yang berarti “tenang”, karena hati menjadi tenang bersama-Nya, atau dalam arti “menuju” dan “bermohon”, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya dan kepada-Nya jua makhluk bermohon.

Memang setiap yang dipertuhan pasti disembah, dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan ciptaannya,
tetapi apakah itu berarti bahwa kata “Ilah” dan juga “Alloh” secara harfiah bema’na demikian .?
Apakah al-Qur’an menggunakannya untuk ma’na “yang disembah” .?

Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “yang disembah” menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam; seperti terhadap matahari, bintang, bulan manusia atau berhala; maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, ya’ni dzat yang wajib wujud-Nya ya’ni Alloh swt.

Karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan “laa ilaha illa Alloh” maka dia telah menafikan segala tuhan kecuali Tuhan yang nama-Nya, Alloh.
QS. Al-A’rof. [7]:127 yang dibaca ‘wayazaroka wa ilahataka’. Kata (Ilahataka) dalam bacaan ini adalah ganti dari kata Alihataka yang berarti sesembahan dan yang merupakan bacaan yang syah dan populer.

Ada juga yang berpendapat Ilah adalah “Pencipta, Pengatur, Penguasa alam raya, yang di dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu”.
Misalnya firman Alloh dalam surat al-Anbiya’. [22]:122.

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Kalau ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain dari Alloh, nescaya rusaklah pentadbiran kedua-duanya. Maka Maha suci Alloh, Tuhan yang mempunyai Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.”

Pembuktian kebenaran pernyataan ayat di atas, baru dapat dipahami dengan benar apabila kata Ilah diartikan sebagai Pengatur serta Penguasa Alam Raya yang di dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu.

Betapapun terjadi perbedaan pendapat itu namun agaknya dapat disepakati bahwa kata “Alloh” mempunyai kekhususan yang tidak memiliki oleh kata selainnya; ia adalah kata yang sempurna huruf-hurufnya, sempurna ma’nanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya,… sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai “ismulloh al-a’dhom” (nama Alloh yang paling mulia), yang bila diucapkan dalam do’a, Alloh akan mengabulkannya.

Dari segi lafadh terlihat keistimewaannya ketika dihapus huruf-hurufnya.
Bacalah kata Alloh dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi “Lillah” dalam arti (milik/bagi Alloh). Kemudian hapus huruf awal dari kata “Lillah” itu akan terbaca “Lahu..” dalam arti (bagi-Nya). Selanjutnya hapus lagi huruf awal dari “lahu” akan terdengar dalam ucapan “Hu” yang berarti “Dia” (menunjuk Alloh) dan bila inipun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung ma’na keluhan tetapi pada hakekatnya adalah seruan permohonan kepada Alloh. Karena itu pula sementara ulama berkata bahwa kata “Alloh” terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak.
Itulah salah satu bukti adanya fitrah dalam diri manusia sebagaimana diuraikan pada bagian awal tulisan ini.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik;

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Sesungguhnya, jika engkau bertanya kepada mereka:
Siapakah yang mencipta langit dan bumi .? Sudah tentu mereka akan menjawab: “Alloh”.
Katakanlah:
“Bagaimana pikiran kamu tentang apa yang kamu sembah selain Alloh itu .? Jika Alloh hendak menimpakan aku sesuatu bahaya, dapatkah mereka menghapuskan bahaya-Nya itu, atau jika Alloh hendak memberi rohmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rohmatnya itu .?
Katakanlah: Cukuplah Alloh bagiku, kepada-Nyalah hendaknya berserah orang yang mau berserah diri”. (QS. Az-Zumar [39]:38).

Dari segi ma’na dapat dikemukakan bahwa kata Alloh mencakup segala sifat-sifat-Nya, bahkan Dia-lah yang menyandang sifat-sifat tersebut, karena itu jika Anda berkata: “Ya Alloh” maka semua nama-nama/sifat-sifat-Nya telah dicakup oleh kata tersebut. Di sisi lain jika Anda berkata ar Rohiim (Yang Maha Pengasih) maka sesungguhnya yang Anda maksud adalah Alloh demikian juga jika Anda berkata : al-Muntaqim (yang membalas kesalahan) namun kandungan ma’na ar-Rohiim tidak mencakup pembalasan-Nya, atau sifat-sifat-Nya yang lain.

Itulah salah satu sebab mengapa dalam syahadat seseorang harus menggunakan kata “Alloh” ketika mengucapkan Asyhadu an La Ilaha Illa Alloh dan tidak dibenarkan mengganti kata Alloh tersebut dengan nama-nama-Nya yang lain, seperti Asyhadu An La Ilaha illa ar-Rohman ar-Rohim.

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: