JALAN MENGENAL ALLOH

JALAN MENGENAL ALLOH

“Salah satu cara mengenal Alloh adalah dengan memahami nama-nama-Nya yang terindah dan terbagus. Tujuan itu tidak lain agar kita meneladani nama dan sifat Alloh itu. Sebagaimana Rosululloh saw memberi petunjuk agar setiap muslim berakhlak dengan akhlak Alloh,
“Takhollaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah kalian dengan akhlak Alloh).” (Quraisy shihab).

Rasanya memang tidak mungkin kita patuh kepada hal yang tidak kita kenal, tidak mungkin ..! bagaimana mau patuh sedangkan kita tidak kenal Dia, karenanya dari sisi ibadah, tidak sah ibadah kalau diperintahkan oleh yang tidak kita kenal, itu sebabnya dalam Islam semua ibadah yang tidak diperintahkan Alloh tidak boleh.

Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa kaum musyrik menyembah berhala-berhala, padahal berhala itu sendiri tidak memerintahkan mereka untuk menyembahnya atau dengan kata lain berhala itu tidak mengenal mereka dan tidak memerintahkan mereka untuk menyembahnya.

Hal ini penting untuk kita sadari mengingat dalam kontek ibadah kepada Alloh kita diharuskan mengenal Alloh, walaupun nanti tingkat pengetahuan atau pengenalan itu berbeda- beda antara satu dengan yang lainnya.

Pengenalan terhadap Alloh pun telah dipersiapkan-Nya dari sejak penciptaan manusia dengan adanya fitrah yang disematkan dalam diri manusia, baik dahulu maupun sekarang. Atau yang diistilahkan dengan god spot/Nashiyah (ubun-ubun kepala) yang mendorong kita untuk mengenal Tuhan pencipta kita.

Ketika kita menemukan kesulitan dan berusaha mencari penyelasaaian ke mana-mana tidak kita temukan pada akhirnya kita akan kembali kepada Alloh. Persis ketika kita terombang-ambing di atas perahu sendirian tanpa tahu arah tujuan maka fitrah ini akan menuntunnya untuk meminta pertolongan kepada Tuhan pencipta alam semesta.

Ada banyak konsep yang menunjukan kita untuk mengenal Alloh. Dintaranya adalah dengan akal. Karenanya di dalam Al Qur`an tidak ada pembahasan tentang wujud Tuhan. Orang yang tidak meyakini wujud Tuhan maka hatinya akan galau dan gelisah.

Namun akal ini terbatas untuk mengenal Alloh, yang terpenting jangan kelewat batas sampai ingin mengenal Dzatnya, karena hal ini dipastikan tidak akan bisa. Seperti kita melihat matahari atau bulan, apakah yang kita lihat itu dzat matahari dan bulan, tidak, yang kita lihat justru pantulan sinar dari matahari dan bulan.

Karenanya cukup  bagi kita mengenal Alloh dengan cara memikirkan ciptaan-Nya. Sebagaimana Sabda Nabi saw,
“Berpikirlah tentang ciptaan-Nya dan jangan kalian berpikir tentang dzat-Nya”. Karena kita tidak mungkin sampai pada dzat Alloh.
Memikirkan ciptaan-Nya saja sunguh mengagumkan dan bahkan tidak sampai pada hakikat ciptaan-Nya. Jadi cukup dengan lihat bekas-bekas yang ditinggalkan Alloh di alam semesta ini untuk menunjukkan eksistensi Tuhan.

Dulu orang-orang badui berkata,
“saya lihat ada jejak kaki onta, jika demikian pasti pernah ada onta lewat disini,”
jadi dengan melihat bekasnya, sekalipun kita tidak sempat melihat wujud atau eksistensi onta tersebut.

Tetapi kita perlu kenal tuhan, kita disuruh patuh dan untuk itu perlu kenal, bahkan kita disuruh cinta itu perlu kenal, maka Alloh memperkenalkan dirinya, Aku itu wujud .. Aku itu begini dan begitu.

ALLOH MENGENALKAN DIRINYA PADA MANUSIA

Pengenalan Alloh terhadap dirinya kepada kita itu unik, keunikannya karena keterbatasan kita dan tidak keterbatasan Dia. Alloh seringkali memperkenalkan nama dan sifat-Nya dalam Al Qur`an  dengan hal yang dikenal nalar kita, bahwa Dia maha mendengar, Melihat dan lain-lainya, namun harus kita yakini bahwa mendengar dan melihat-Nya Alloh berbeda dengan mendengar dan melihatnya kita yang penuh keterbatasan. 
Sehinga nama dan sifat Alloh itu jangan kita pikir materinya, berarti Alloh memiliki telinga dan mulut, hal itu mustahil kita katakan, karena Alloh tidak bertempat dan bukan materi.

Setelah Alloh memperkenalkan nama dan sifat-Nya Alloh juga menegaskan bahwa Dia
“LAISA KAMITSLIHI SYAI’UN” (tidak ada sesuatupun yang seperti-sepertinya).
yang seperti dengan seprtinya saja tidak ada apalagi yang sama sepertinya.

Alloh memperkenalkan diri-Nya, jika kita merujuk kepada Al Qur`an, Alloh memperkenalkan dirinya pertama kali di surat Iqro`, ada dua sifat Alloh disini, Kholak dan Akrom, dua nama itu yang pertama diperkenalkan Alloh.
Memang ada kata Robb, apa artinya robb, kita ambil contoh, si A gagah, wanita itu cantik, Atau si A peramah, pemurah, kikir, ini ada dua macam sifat kalau dia cantik itu sifat pribadinya, yang tidak bisa menular kepada kita, tetapi kalau pemarah dan pemurah ini bisa menular kepada kita .?
Jadi Robb itu Tuhan yang memelihara, mencipta, pokoknya semuanya itu, tetapi ada sifat-nya yang tidak bisa menular kepada kita, kita ambil misalnya, sifat Keesaannnya dan  Wujudnya Langgeng. **

Ada sifat-sifat Alloh yang melekat pada diri-Nya tapi tidak bisa menyentuh makhluk, ada juga sifat-sifatnya yang menyentuh makhluk. Hal itu terdapat dalam sifat dzat dan sifat perbuatannya,  
jadi yang mana lebih luas Alloh atau Robb, karena Alloh qudus, Alloh wahid, Alloh rozzaq, semuanya itu.

Kita kembali bahasa Alloh, Dia memperkanalkan diri-Nya, Kholak dan Akrom, kalau di asmaul husna yang diriwayatkan dalam satu riwayat itu ada 99;

إِنَّ للهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَ تِسْعِيْنَ اسْمًا مِائَةٌ إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesunggunya Alloh itu memilki 99 nama, siapa yang ahshoha maka dia masuk sorga”

Banyak orang salah dalam memahami kata ahshoha.  Kata ini berarti mengetahui secara rinci, jadi bukan hanya sekdar mengahapalnya satu demi satu sampai 99. Sebab kalau hanya sekedar meyebutkan jumlahnya hingga mengahpalnya maka ada binatang yang bisa melakukan itu semua, akan tetapi tidak ada binatang yang bisa memahaminya. Karenaya kita harus lebih tinggi dari sekdar menghapalnya yaitu memhaminya secra dalam dan rinci.

Seperti setiap kita bisa mengucapkan kata ar-Rohman dan bahkan tahu artinya, tetapi untuk mencapai artinya secara rinci dan dalam kita berbeda-beda. Tetapi untuk memahami lebih jauh apa arti ar-Rohman membutuhkan pengetahuan yang lebih dalam dari sekedar menghapal.

Menghayati ma’na itu lebih tinggi, dan orang yang menghayatinya, bisa jadi dia sekedar menghayatinya tetapi tidak merasakan ni’matnya,

contoh, ada seorang murid sangat kagum pada gurunya, sangat senang mendengar pelajaran-pelajarannya, sangat ingin menjadi seperti dia, bisa saja suatu waktu dia tidak perhatikan gurunya .? Bearrti boleh jadi ada sesuatu yang menghalanginya untuk memperhatikannya, boleh jadi karena dia lapar, jadi orang yang sudah menghayati pun itu bisa jadi suatu waktu tidak merasakan keni’matannya sehingga dia lengah, itu sebabnya apa yang dinamai pengenalan itu bertingkat-tingkat,

contoh, apakah Anda kenal SBY .?
Kalau Anda menjawab kenal itu benar .!,
Tapi kalau Anda menjawab tidak kenal itu lebih benar .! Karena tidak pernah bertemu dan tatap muka.

Contoh lain, seandainya, Alloh memperkenalkan dirinya melalui sifat Kholak (yang maha mencipta), saya berikan contoh melalui buku ini, Anda baca, judulnya menyingkap tabir ilahi, dalam perspektif Al Qur’an pengarangnya ini… lalu ada yang bertanya kenal pengarangnya .? kalau pun Anda sudah baca buku ini, belum tentu Anda kenal saya (pengarangnya), kalau pun Anda sudah baca semua buku saya Anda belum tahu saya dengan pengenalan yang benar.
Ketika kalaupun Anda sudah tahu semua ciptaan Alloh sampai mendetail Anda belum tahu Dia, tetapi Anda sudah dinamai makrifatulloh.
Itu sebabnya imam Al Ghozali berkata:
Kita harus beristighfar kepada Alloh bukan karena kita memberi kepada Alloh sifat yang tidak sempurna, tetapi memberi-Nya sifat yang sempurna pun kita mesti harus istighfar,  karena kesempurnaan kita itu sebenarnya belum sampai kepada tingkat kesempurnaan Alloh, itu sebabnya Rosul mengajarkan do’a,

سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

“Ya Alloh Maha Suci Engkau, kami tidak bisa memuji-Mu, kalau begitu pujian terhadap-Mu adalah pujian-Mu atas diri-Mu.”

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: