KEAJAIBAN MEMBACA

“ KEAJAIBAN IQRO’ “

Pembahasan mengenai hidup dan kehidupan adalah suatu anugerah yang begitu besar dari Alloh swt dan ni’mat yang seharusnya disyukuri.
Warna warni kehidupan merupakan bagian yang tidak mungkin kita pisahkan dalam diri kita, kehidupan adalah masalah ghaib, yang nampaknya sukar untuk dijelaskan apa rahasia dibaliknya, hakikatnya belum bisa digali bahkan bisa jadi merupakan hayalan semata seperti dalam firman Alloh swt:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap (tubuh) yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” – (QS. 21:35)

Faktanya manusia sering kali dalam hidupnya seperti meraba–raba dalam kegelapan, hanya mengira–ngira dan tidak dapat memastikan dimana obyek yang akan di raba itu berada.
Mereka selalu diliputi perasaan tidak puas dan tidak senang mengerjakan satu pekerjaan atau hal–hal lainnya, segala sesuatu yang mereka kerjakan seolah tidak memberikan kepuasan yang memadai terhadap kehidupan mereka karena belum mengetahui aturan hidup.

Mereka mempunyai kecenderungan memilih hal–hal yang enak menurut selera mereka, mengapa demikian .? mungkin saja mereka tidak memiliki pengetahuan yaitu pengetahuan tentang tujuan hidup yang benar, memang tujuan hidup kita itu berbeda–beda, tetapi walau begitu ada satu tujuan yang benar–benar mengantarkan kita kepada kesempurnaan hidup yaitu tujuan mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menyikapi problema seperti ini bila kita telah mempunyai tujuan hidup, maka lebih lanjut kita harus mengetahui ataupun menciptakan arah, prinsip, bahkan tindakan yang jelas dalam menjalani kehidupan secara benar, baik dan tepat / pas.

Dari sini penulis ingin membawa para pembaca sedikit untuk mengikuti dan memahami atau bahkan merenungi dan mempunyai rasa kepekaan bahwa islam memberikan corak sebagai “aturan hidup” guna mengemudikan manusia kearah yang terbaik ( pada jalan yang benar ) kekayaan petunjuk dan syariat yang dimilikinya tidak terasa mengapung dan saling melengkapi tanpa ada pertentangan sekecil apapun.

Sekali lagi disini alur pembicaraan penulis agak berbeda yang memunculkan pertanyaan.
Bagaimana kita menjalani hidup ini dengan benar .?
Islam adalah agama Universal yang membangun keberadaannya dengan syariat yang seimbang dalam memahami suasana dan masa yang sedang dihadapi.
Memang kita tahu, kebebasan dan keterbatasan merupakan gejala yang selalu membayangi kehidupan manusia.
Islam tidak ingin menghapus secara paksa fitrah itu akan tetapi islam berupaya untuk menjadikan tuntunan itu sebagai fitrah yang terkontrol oleh syariat, apabila islam mengekang fitrah ini maka dapat dirasakan sebagai bentuk “ pemaksaan “ kepada pemeluknya seperti dalil di Al Qur’an “la iqroha fiddin”.
Ini berarsi merupakan “warning” kepada akal pikiran manusia supaya diperlukan perenungan dan analisis mendalam yang berkitan dengan petunjuk benar.

Entah disadari atau tidak banyak sekali hal–hal kecil yang luput dari pemikiran dan perenungan kita, atau bahkan luput dari pandangan mata kita.
Sebab mengapa ini terjadi .?
sebab manusia mempunyai kecenderungan mencari dan mengamati sesuatu yang nampak besar, yang nampak jelas dan mempunyai keuntungan besar pula.
Mereka seringkali menjelma menjadi kacang yang lupa akan kulitnya, mereka seringkali lupa dan tidak begitu menghargai awal petunjuk dan akibatnya mereka kehilangan pelajaran besar yang terkandung didalamnya.
Yang akhirnya masyarakat saat ini sudah mulai gerah terhadap pola kehidupan mereka.
Mereka menginginkan sesuatu yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan jasmani semata akan tetapi juga rohani ini tentunya dapat dengan tegas kita katakan bahwa dibalik berbagai tujuan hidup yang ada hanya terdapat satu tujuan yang baik dan selaras dengan konsep wahyu.

Saat inilah memang sudah seharusnya kita merenung, mengkaji kembali, nasehat–nasehat ataupun petuah–petuah dari Nabi–Nabi, para Ulama para Wali atau ulama kita yang terlupakan bahwa ada 4 aspek pondasi yang bukan merupakan hal baru dalam islam, sebenarnya para wali dahulu menvisualisasikannya dalam bentuk pujian–pujian sebelum melaksanakan sholat atau ibadah lainnya, karena penyesuaian kultur dizaman itu, namun sesuai dengan perkembangan zaman 4 aspek itu semakin lama semakin luntur maka banyak sekali timbul berbagai aliran–aliran pada saat ini yaitu wajar–wajar saja, namun harus diingat bahwa metode agama “tetap“ tidak ada perubahan, yang akhirnya timbangannya menjadi njomplang karena jiwanya tertekan oleh metode usang.
Mengapa hal itu terjadi .?
itu terjadi karena kita kurang peka terhadap makna pujian–pujian yang diajarkan oleh para wali terdahulu yang sebenarnya adalah 4 aspek pondasi dalam islam yang harus dilakukan.

4 sudut pondasi dalam islam

1. KENAL (Pengetahuan gerak hati (ma’rifat)
Dalam ayat pertama surat al-Alaq : “iqro’ bismirobbikalladzi kholaq”
Dari ayat ini jelas bahwa petunjuk awal manusia harus memperhatikan agar mengenal Tuhan-Nya sebagai hamba Tuhan sang pencipta alam, bahwa Alloh memerintahkan agar manusia membaca nama dan sifat Tuhan sehingga manusia itu bisa mengenal nama dan sifat Tuhan yang akan disembah.

2. SADAR (hakikat)
Dalam ayat kedua surat al-Alaq : “kholaqol insanna min allaq”
Mengarungi kehidupan yang makin keras dan tidak bersahabat ini, tentulah membutuhkan kesadaran yang sangat tinggi, kita tidak mungkin mengarungi hidup dengan keadaan mabuk. Seperti tak mungkin pula orang mabuk menyetir kendaraan dengan benar.
Uraian SADAR ini berarti “Sadarlah dan insyaflah atas hakikat jati dirimu yang tercipta dari segumpal darah yang dikandung oleh ibumu dan diperhatikan bapakmu, artinya berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu.
Sadarlah bahwa kamu manusia banyak lupa dan banyak dosa, artinya mintalah ampunan kepada -Nya, bertaubatlah karena kamu manusia hina penuh noda dan dosa”.
dari keterangan itu akhirnya orang akan mencapai kemampuan untuk sadar, sabar, menghargai, bahkan akan terbentuk sosok manusia yang mampu menjadi pengayom, pemberi penyuluhan kepada orang lain tanpa menimbulkan sikap sombong, egois, menang sendiri dan tidak memamerkan kelebihan–kelebihannya.

3. MENJALANKAN (syariat)
Dalam ayat kedua surat al-Alaq : “iqro’ warobbukal akromulladzi allama bil qolam”
Definisi manusia dituntut membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an yang telah diajarkan oleh Tuhanmu dengan pena artinya yang telah tertulis dalam al-Qur’an yang menjadi akhlaq Nabi, Akhlaq Nabi saw adalah al-Qur’an, akhlaq Nabi atau budi pekerti Nabi adalah syariat.

Dengan sifat akrom Alloh manusia memahami al-Qur’an dan Hadist bisa memunculkan kitab–kitab ilmu fiqih, tasawuf, alat dan pengetahuan yang bermanfa’at, uraian diatas merujuk pada status manusia sebagai “Kholifah Fil Ardh” bahwasannya manusia merupakan makhluk yang memiliki pontensi untuk selalu berikhtiar, berusaha berfikir, mendefinisikan, mengolah dan bertindak.
Sehingga mampu mebedakan mana yang benar dan mana yang salah, manusia juga memiliki potensi memikirkan dan memecahkan rahasia alam dan mampu menempatkan pada posisi yang proporsional tentunya semua itu dengan sifat akrom Alloh.

4. BENAR (hidayah)
“Allamal insana ma lam ya’lam” 
Artian hidayah yang notabene dengan berserah diri kepada Alloh setelah berusaha yaitu membaca, memahi dan mengamalkan nama dan sifat Alloh dan menyadari hakikat jatidirinya dengan melakukan pertaubatan dan melakukan syariat Nabi Muhammad saw dan setelah itu menyerahkan semuanya termasuk garis ketentuan hidup kepada Allah swt .. Disinilah puncak dari usaha kita landasan atau tumpuan akhir dalam suatu perjuangan, memohon pertolongan dari yang Maha Kuasa sebab jika manusia ingin selamat dan mendapatkan thoriqoh dan hidayah yang benar maka harus diperintah IQRO’.

Inilah 4 aspek pondasi yang akhirnya bias mengokohkan pilar – pilar agar umat tidak tergelincir dan terperangkap dengan ilmu tauhid yang hanya mengandalkan “ wahdatul wujud” sehingga tidak menjalankan syariat, ini sering di istilahkan dalam falsafah ajaran hidup jawa yaitu “ piwulan kautaman (pendidikan keutamaan)“ yang harus dilaksanakan karena “ PERINTAH “ dari Alloh swt. IQRO’ inilah jawaban yang pas dan tak terbantahkan ya’ni jawaban tentang pertanyaan “ bagaimana kita menjalani hidup ini dengan benar “.
Semoga sedikit uraian tadi bisa membuka pola pikir kita tentang IQRO’ ( Surat Al – Alaq) sebagai azaz dasar islam agar kita memahami dengan membaca, membaca dan terus membaca yang akhirnya mencapai pada satu titik yaitu sebagai “ INSAN KAMIL “ ..

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: