MACAM-MACAM SHOLAT SUNNAT

Sholat secara lughot artinya  do’a.
Menurut istilah sholat adalah serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbirotul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Praktek sholat harus sesuai dengan  tata cara yang diajarkan Rosululloh saw, seperti dalam sabdanya:

… صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي …

“Sholatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku sholat.” (HR. Bukhori dan Muslim).

1. Sholat Rowatib (Sholat sunnat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari beberapa bagian:
a. 2 Roka’at sebelum subuh
b. 4 Roka’at sebelum Dhuhur (atau Jum’at)
c. 4 Roka’at sesudah Dzuhur (atau Jum’at)
d. 4 Roka’at sebelum Asar
e. 2 Roka’at sebelum Maghrib
f. 2 Roka’at sesudah Maghrib
g. 2 Roka’at sebelum Isya’
h. 2 Roka’at sesudah Isya’

2. Sholat Tahajjud ta’terbatas roka’atnya
3. Sholat Witir 11 roka’at
4. Sholat dhuha 12 roka’at

Dua macam Sholat sunnah:

1. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah
2. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan dilakukan secara berjamaah

A. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah:
1. Sholat Idul-Fitri
2. Sholat Idul-Adha
Dilakukan 2 roka’at. Pada roka’at pertama melakukan tujuh kali takbir (di luar Takbirotul-Ihrom) sebelum membaca al-Fatihah, dan pada roka’at kedua melakukan lima kali takbir sebelum membaca al-Fatihah.

Ibnu Abbas ra. berkata:
“Aku sholat Idul-Fithri bersama Rosululloh saw dan Abu bakar dan Umar, mereka semua melakukan sholat tersebut sebelum khutbah.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Khusuf (Gerhana Matahari)
4. Sholat Khusuf (Gerhana Bulan)

Ibrohim (putra Nabi Muhammad saw) meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran) Alloh swt. Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak juga karena kehidupan (kelahiran) seseorang. Apabila kalian mengalaminya (gerhana), maka sholatlah dan berdo’alah, sehingga (gerhana itu) berakhir.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

Dari Abdulloh ibnu Amr ra, bahwasannya Nabi saw memerintahkan seseorang untuk memanggil dengan panggilan “ashsholaatu jaami’ah” (sholat didirikan dengan berjamaah).” (HR Imam Bukhori dan Muslim)

Dilakukan dua roka’at, membaca Al-Fatihah dan surat dua kali setiap roka’at, dan melakukan ruku’ dua kali setiap raka’at.

5. Sholat Istisqo’

Tata caranya seperti sholat ‘Id.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasannya Nabi saw sholat istisqo’ dua roka’at, seperti sholat ‘Id. (HR. Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

6. Sholat Terawih

Jumlah roka’atnya adalah 20 dengan 10 kali salam, sesuai dengan kesepakatan shahabat mengenai jumlah roka’at dan tata cara sholatnya.

Dari ‘Aisyah ra, bahwasannya Nabi Muhammad saw sholat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang kemudian mengikuti sholat beliau. Nabi sholat (lagi di masjid) pada hari berikutnya, jamaah yang mengikuti beliau bertambah banyak. Pada malam ketiga dan keempat, mereka berkumpul (menunggu Rosululloh saw), namun Rosululloh saw tidak keluar ke masjid. Pada paginya Nabi saw bersabda:
“Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan tadi malam, namun aku tidak keluar karena sesungguhnya aku khawatir bahwa hal (sholat) itu akan difardlukan kepada kalian.”
‘Aisyah ra. berkata:
“Semua itu terjadi dalam bulan Romadhon.” (HR. Imam Muslim).

7. Sholat Witir yang mengiringi Sholat Terawih

Adapun sholat witir di luar Romadhon, maka tidak disunnahkan berjamaah, karena Rosululloh saw tidak pernah melakukannya.

B. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah

1. Sholat Rowatib (Sholat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari 22 Roka’at rowatib tersebut, terdapat 10 roka’at yang sunnah muakkad (karena tidak pernah ditinggalkan oleh Rosululloh saw), berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh saw senantiasa menjaga (melakukan) 10 roka’at (rowatib), yaitu:
2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya.
2 roka’at sesudah Maghrib di rumah beliau.
2 roka’at sesudah Isya’ di rumah beliau, dan
2 roka’at sebelum Subuh …
(HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun 12 roka’at yang lain termasuk sunnah ghoiru muakkad, berdasarkan hadits-hadits berikut:

a. Dari Ummu Habibah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa senantiasa melakukan sholat 4 roka’at sebelum Dhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Alloh mengharamkan baginya api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya ada yang sunnah muakkad dan ada yang ghoiru muakkad.

b. Nabi saw bersabda:
“Alloh mengasihi orang yang melakukan sholat empat roka’at sebelum (sholat) Asar.” (HOUR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Huzaimah).

Sholat sunnah sebelum Asar boleh juga dilakukan dua roka’at berdasarkan Sabda Nabi saw:
“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat sholat.” (HR. Imam Bazzar).

c. Anas ra berkata:
“Di masa Rosululloh saw kami sholat dua roka’at setelah terbenamnya matahari sebelum sholat Maghrib…” (HR. Bukhori dan Muslim).

Nabi saw bersabda:
“Sholatlah kalian sebelum (sholat) Maghrib, dua roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim)

d. Nabi saw bersabda:
“Di antara dua adzan (anta adzan dan iqomah) terdapat sholat.” (HR. Bazzar).

Hadits ini menjadi dasar untuk seluruh sholat sunnah 2 roka’at qobliyah (sebelum sholat fardhu), termasuk 2 roka’at sebelum Isya’.

2. Sholat Tahajjud (Qiyamullail)

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 79, As-Sajdah ayat 16–17, dan Al-Furqon ayat 64. Dilakukan dua roka’at-dua roka’at dengan jumlah roka’at tidak dibatasi.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda:
“Sholat malam itu dua (roka’at)-dua (roka’at), apabila kamu mengira bahwa waktu Subuh sudah menjelang, maka witirlah dengan satu roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Witir di luar Romadhon.

Minimal satu roka’at dan maksimal 11 roka’at. Lebih utama dilakukan 2 roka’at-2 roka’at, kemudian satu roka’at salam. Boleh juga dilakukan seluruh roka’at sekaligus dengan satu kali Tasyahud dan salam.

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rosululloh saw sholat malam 13 roka’at, dengan witir 5 roka’at di mana beliau Tasyahud (hanya) di roka’at terakhir dan salam. (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau saw juga pernah berwitir dengan tujuh dan lima roka’at yang tidak dipisah dengan salam atau pun pembicaraan. (HR. Muslim).

4. Sholat Dhuha

Dari ‘Aisyah ra, adalah Nabi saw sholat Dhuha 4 roka’at, tidak dipisah keduanya (tiap sholat 2 roka’at) dengan pembicaraan.” (HR. Abu Ya’la).

Dari Abu Huroiroh ra, bahwasannya Nabi saw pernah Sholat Dhuha dengan dua roka’at. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ummu Hani’ ra, bahwasannya Nabi saw masuk rumahnya (Ummu Hani’ ra) pada hari Fathu Makkah (dikuasainya Mekkah oleh Muslimin), beliau saw sholat 12 roka’at, maka kata Ummu Hani:
“Aku tidak pernah melihat sholat yang lebih ringan daripada sholat (12 roka’at) itu, namun Nabi tetap menyempurnakan ruku’ dan sujud beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim).

5. Sholat Tahiyyatul Masjid

Dari Abu Qotadah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga sholat dua roka’at.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits).

6. Sholat Taubat

Nabi saw bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang berdosa, kemudian ia bangun berwudhu’ kemudian sholat dua raka’at dan memohon ampunan kepada Alloh, kecuali ia akan diampuni.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain).

7. Sholat Tasbih

Yaitu sholat empat roka’at di mana di setiap roka’atnya setelah membaca Al-Fatihah dan Surat membaca: Subhanalloh walhamdulillah wa laa ilaaha illallohu wallohu akbar sebanyak 15 kali, dan setiap ruku’, i’tidal, dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk istirahah (sebelum berdiri dari roka’at pertama), dan duduk tasyahud (sebelum membaca bacaan tasyahud) membaca sebanyak 10 kali (Total 75 kali setiap roka’at). (HR. Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah)

8. Sholat Istikhoroh.

Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Adalah Rasulullah SAW mengajari kami Istikharah dalam segala hal … beliau SAW bersabda: ‘apabila salah seorang dari kalian berhasrat pada sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di luar shalat fardhu …dan menyebutkan perlunya’ …” (HR Jama’ah Ahli Hadits kecuali Imam Muslim)

9. Sholat Hajat

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa mempunyai hajat kepada Alloh atau kepada seseorang, maka wudhu’lah dan baguskan wudhu’ tersebut, kemudian sholatlah dua roka’at, setelah itu pujilah Alloh, bacalah sholawat, atas Nabi saw, dan berdo’alah …”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

10. Sholat 2 roka’at di masjid sebelum pulang ke rumah

Dari Ka’ab bin Malik ra:
“Nabi saw apabila pulang dari bepergian, beliau menuju masjid dan sholat dulu dua roka’at.” (HR Bukhori dan Muslim).

11. Sholat Awwabiin

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 25.
Dari Ammar bin Yasir ra, Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat setelah sholat Maghrib enam roka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Thobroni).

Dari Abu Huroiroh ra. Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat enam roka’at antara Maghrib dan Isya’, maka Alloh mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun” (HR. Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Huzaimah).

12. Sholat Sunnah Wudhu’

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berwudhu’, ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian sholat dua roka’at, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

13. Sholat Sunnah Mutlaq

Nabi saw berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffari ra:
“Sholat itu sebaik-baik perbuatan, baik sedikit maupun banyak.” (HR. Ibnu Majah).

14. Sholat Sunnah Safar

Sholat safar adalah sholat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhoan, keselamatan dan perlindungan dari Alloh swt.

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: