Disunnahkan mengeraskan bacaan dalam sholat Shubuh dan dua rokaat pertama pada sholat Maghrib dan Isya’. Ini berlaku bagi Imam dan munfarid (orang yang sholat sendirin).

Mengeraskan bacaan ini juga berlaku pada sholat Jum’at, sholat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), sholat gerhana bulan, sholat istisqo’, sholat Terawih dan Sholat nafilah di malam hari. Selain yang disebutkan disunnahkan untuk men-sirri-kannya (memelankannya).

Permasalahan mendhohirkan dan sirri dalam bacaan bukan persoalan fardhu atau sunnah yang diharuskan untuk sujud sahwi saat menyalahinya. Tapi ia salah satu dari bentuk tatacara sholat yang pelakunya diberi pahala atasnya. Sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa.

Disebutkan dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroirih ra, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى بِنَا فَيَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الأُولَى مِنَ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِى الصُّبْحِ

“Rosululloh saw pernah sholat bersama kami. Pada sholat Dhuhur dan Asar, beliau membaca al-Fatihah dan dua surat di rokaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca. Adalah beliau memanjangkan bacaan pada rokaat pertama dari sholat Dhuhur dan memendekkan pada rokaat kedua, begitu juga saat sholat Shubuh.”

Ucapan Abu Huroiroh ra :
“Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca,” menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat keterangan bolehnya mendhohirkan pada sholat sirr (Dhuhur dan Asar). Ini juga menunjukkan bahwa Isror (mensirrikan bacaan) tidak menjadi syarat untuk sahnya sholat.
Terdapat keterangan bahwa sebab turunnya firman Alloh swt:
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isro’: 110).

Saat Rosululloh saw masih di Makkah. Apabila beliau sholat bersama para sahabatnya, beliau meninggikan suaranya saat membaca al-Qur’an. Ketika kaum musyrikin mendengarnya lalu mereka mencaci al-Qur’an, mencaci Dzat yang menurunkannya dan orang yang menyampaikannya.

Lantas Alloh swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu.”
Maksudnya: jangan keraskan bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya.
“Dan janganlah pula merendahkannya”
Maksudnya: dari para sahabatmu sehingga mereka tidak mendengar al-Qur’an.
“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Terdapat dalam sebagian riwayat lain, “Maka saat sudah hijrah ke Madinah perintah tersebut telah gugur. Beliau boleh melakukan yang beliau kehendaki dari keduanya.”

Dari sini menjadi jelas persoalan, mengeraskan bacaan pada sholat Maghrib, Isya’ dan Shubuh serta memelankan bacaan pada sholat Dhuhur dan Asar adalah pengamalan saat pertama disyariatkan. Ya’ni saat kaum muslimin tidak mengeraskan bacaan al-Qur’an di siang hari khawatir atas celaan kaum musyrikin.

Adapun membaca secara dhohir pada sholat Jum’at, dua hari raya, sholat istisqa’ dan selainnya adalah karena sholat-sholat tersebut disyariatkan di Madinah sesudah hijrah, di mana saat itu kaum muslimin memiliki kekuatan dan daulah.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: