KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

Sholat 5 waktu merupakan ibadah yang Alloh swt syari’atkan kepada Nabi-Nya saw secara langsung tanpa perantara malaikat. Berbeda halnya dengan kewajiban lainnya yang diwajibkan melalui perantara malaikat.

Sholat 5 waktu diwajibkan di langit sementara kewajiban lainnya diwajibkan di bumi. Karenanya sangat pantas kalau sholat 5 waktu dikatakan sebagai ibadah badan yang paling utama.

Selain dari keistimewaan sholat 5 waktu secara umum tersebut diatas, ada beberapa sholat di antaranya secara khusus mempunyai keutamaan yang lain.

diantaranya sholat 5 waktu akan menghapuskan semua dosa dan kesalahan.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat lima waktu dan sholat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.”
(HR. Muslim).

Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:
“Aku mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim mendatangi sholat fardlu, lalu dia membaguskan wudlu’nya dan khusyu’nya dan sholatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.”
(HR. Muslim).

Pada kedua hadits di atas dikecualikan dosa-dosa besar, karena memang dosa besar tidak bisa terhapus dengan sekedar amalan sholeh, akan tetapi harus dengan taubat dan istighfar. Karenanya, yang dimaksud dengan dosa pada kedua hadits di atas adlah dosa-dosa kecil.

Adapun patokan dosa besar adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:

اَلْكَبَائِرُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ الله ُبِنَارٍ أَوْ لَعْنَةٍ أو غَضَبٍ أَوْ عَذَابٍ

“Dosa-dosa besar adalah semua dosa yang Alloh akhiri dengan ancaman neraka atau laknat atau kemurkaan atau adzab.”
(Riwayat Ibnu Jarir dalam tafsirnya surah An-Najm: 32).

Walaupun ada perbedaan antara dosa besar dengan dosa kecil, akan tetapi Ibnu Abbas ra berkata:

لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ, وَلاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa besar jika selalu diikuti dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dia dilakukan terus-menerus.”

Sementara meninggalkan sholat 5 waktu atau salah satunya dengan sengaja karena malas secara terus-menerus adalah kekafiran.

Alloh swt berfirman:

 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
 إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

“(Sesudah kepergian tokoh-tokoh pilihan yang ta’at kepada Alloh swt) Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (generasi-generasi yang buruk sepanjang sejarah kemanusiaan) yang menyia-nyiakan sholat (tidak melaksanakan ibadah sesuai yang di ajarkan Alloh swt melalui para Nabi) dan memperturutkan hawa nafsunya (sehingga mereka bergelimang dalam aneka dosa), maka mereka kelak (di akhirat nanti) akan menemui balasan kesesatan (yang mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini).
Kecuali orang yang bertaubat (menyesali dosa dan meninggalkannya), dan beriman (dengan iman yang benar), serta (membuktikan keimanan mereka dengan) beramal sholeh, maka mereka itu akan masuk sorga dan tidak dianiaya (oleh siapapun dan tidak dirugikan) sedikitpun.
(Sorga yang mereka huni itu adalah) sorga-sorga ´Adn yang telah dijanjikan oleh ar-Rohman (Tuhan Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hamba-Nya yang ta’at, (mereka percaya akan adanya sorga itu) sekalipun (sorga itu ketika mereka hidup didunia) gaib (tidak nampak dan tidak mereka lihat dengan mata kepala). Sesungguhnya ia (janji Alloh itu) pasti akan ditepati.”
(QS.19 Maryam: 59-60).

Ini dipertegas dalam hadits Jabir ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim).

Juga Abdulloh bin Buroidah dari ayahnya ra, dia berkata:
Rosululloh saw bersabda:

بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ تَرْكُ الصَّلَاةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“(Pemisah) di antara kami dan mereka (orang kafir) adalah meninggalkan sholat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.”
(HR. Ahmad).

KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH dan ASAR

Sholat subuh senantiasa dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat, dan menjadi saksi atas kebaikan pelakunya.

Alloh swt berfirman:

 أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isro`: 78).

Sholat asar yang merupakan sholat wustho sebagaimana dalam riwayat al-Bukhori, dikhususkan penyebutannya dibandingkan sholat-sholat lainnya.
ini menunjukkan keistimewaan sholat asar dari satu sisi dibandingkan sholat lainnya.

Alloh swt berfirman:

حافظوا على الصلوات والصلواة الوسطى

“Peliharalah semua sholatmu, dan (peliharalah) sholat wustho.”
(QS. Al-Baqoroh: 238).

Menjaga sholat subuh dan asar merupakan sebab terbesar masuk sorga dan selamat dari neraka.

Dari Imaroh bin Ru’aibah ra, Rosululloh saw bersabda:

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.”
(HR. Muslim)

Dari Abu Musa ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengerjakan sholat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk sorga.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Jundab bin Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa sholat subuh, maka ia berada dalam jaminan Alloh, oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu dari kalian sebagai imbalan jaminan-Nya, sehingga Alloh menangkapnya dan menyungkurkannya ke dalam neraka jahannam.”
(HR. Muslim).

Dari Jarir bin ‘Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu tidak terlewatkan untuk melaksanakan sholat sebelum terbit matahri dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH

Subuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Alloh swt memerintahkan ummat Islam untuk mengerjakan sholat kala itu. Alloh swt:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“ Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(Qs. Al-Isro’: 78).

Betapa banyak kaum muslimin yng lalai dalam mengerjakan sholat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan sholat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang sholat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu sholat lainnya.

Apabila seseorang mengerjakan sholat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan, di antara keutamaannya adalah.

1. Salah satu penyebab masuk sorga

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة

“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain (yaitu sholat shubuh dan asar) maka dia akan masuk sorga .”
(HR. Bukhori dan Muslim).

2. Salah satu penghalang masuk neraka

Rosululloh saw bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan sholat sebelum terbitnya matahari (yaitu sholat shubuh) dan sholat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu sholat asar).”
(HR. Muslim).

3. Berada di dalam jaminan Alloh swt

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yg sholat subuh maka dia berada dalam jaminan Alloh. Oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Alloh menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Alloh pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam .”
(HR. Muslim).

4. Dihitung seperti sholat semalam penuh

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang sholat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah sholat malam selama separuh malam. dan barangsiapa yang sholat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah sholat seluruh malamnya.”
(HR. Muslim).

5. Disaksikan para Malaikat

Rosululloh saw bersabda:

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada sholat fajar (subuh).”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Ancaman bagi yang Meninggalkan Sholat Subuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan sholat subuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan sholat subuh .?
Kebanyakan orang meninggalkan sholat subuh karena aktivitas tidur. Dalam hal ini Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat isya’ dan sholat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.

Semoga Alloh selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan sholat berjama’ah di masjid atau dirumah dengan berjamaah bersama istri dan anak-anak.

RAHASIA SHOLAT LIMA WAKTU

Ali bin Abi Tholib ra. berkata:
“Sewaktu Rosululloh saw duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Anshor, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata:
‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Alloh kepada Nabi Musa as, yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Alloh atau malaikat muqorrobin.’
Lalu Rosululloh saw bersabda:
‘Silahkan bertanya.’

Berkata orang Yahudi:
‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Alloh ke atas ummatmu.’
Rosululloh saw bersabda:
‘Sholat Dhuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya.
Sholat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam as, memakan buah khuldi.
Sholat Maghrib itu adalah saat Alloh menerima taubat Nabi Adam as. Maka setiap mukmin yang bersholat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdo’a meminta sesuatu pada Alloh, maka pasti Alloh akan mengabulkan permintaannya.
Sholat Isya’ itu ialah sholat yang dikerjakan oleh para Rosul sebelumku.
Sholat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syetan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, lalu mereka berkata:
‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang sholat.’

Rosululloh saw bersabda:
‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan. Sholat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

‘Manakala sholat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam as. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’
Lalu Rosululloh saw membaca (firman Alloh swt, yang artinya) ‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sekali sholat yang pertengahan.’

Sholat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam as. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sholat Maghrib kemudian meminta sesuatu kepada Alloh, maka Alloh akan memperkenankan.’

‘Sholat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sholat Isya’ berjamaah, Alloh swt haramkan dirinya dari terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Siroth.’

‘Seorang mukmin yang mengerjakan sholat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Alloh swt dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, maka mereka berkata:
‘Benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan kepada kami semua, kenapakah Alloh swt mewajibkan puasa 30 hari atas umatmu .?’
Rosululloh saw menjawab:
‘Ketika Nabi Adam as memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam as. selama 30 hari. Kemudian Alloh swt mewajibkan atas keturunan Adam as. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizinkan makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Alloh swt kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi:
‘Wahai Muhammad, benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi dari berpuasa itu.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Romadhon dengan ikhlas karena Alloh swt, dia akan diberikan oleh Alloh swt 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dari makanan yang haram).
2. Rohmat Alloh sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Alloh sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Alloh pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Siroth.
7. Alloh swt akan memberinya di sorga.’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang Nabi menggunakan do’a mustajabnya untuk membinasakan ummatnya, tetapi aku tetap menyimpan do’aku (untuk aku gunakan memberi syafaat kepada umatku di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan:
Asyhadu alla illaha illalloh, wa annaka Rosululloh (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Alloh dan engkau utusan Alloh).’

BELAJAR SHOLAT KHUSYU’

A. Pengertian Sholat.

Secara bahasa, kata sholat menurut para pakar bahasa adalah berarti do’a. Sholat diartikan dengan do’a, karena pada hakikatnya sholat adalah suatu hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Sesungguhnya hamba, apabila ia berdiri untuk melaksanakan sholat, tidak lain ia berbisik pada Tuhannya. Maka hendaklah masing-masing di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berbisik.”
Adapun secara istilah, definisi sholat adalah sebuah ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan perbuatan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam.

Lebih jauh, definisi ini merupakan hasil rumusan dari apa yang disabdakan Nabi saw:
“Sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat.”
Dengan demikian, dasar pelaksanaan sholat adalah sholat sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi saw mulai bacaan hingga berbagai gerakan di dalamnya, sehingga tidak ada modifikasi dan inovasi dalam praktik sholat.

B. Posisi Sholat Dalam Islam.

Dalam Islam, sholat menempati posisi penting dan strategis. Ia merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi pembatas apakah seseorang itu mukmin atau kafir. Nabi saw bersabda:
“Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan sholat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir.”

Sedemikian pentingnya sholat, maka ibadah sholat dalam Islam tidak bisa diganti atau diwakilkan. Orang Islam masih diwajibkan sholat, selagi masih ada kesadaran di hatinya. Oleh karena itu, pelaksanaan sholat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada keadaan pelakunya (kalau tidak bisa berdiri boleh duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya.

C. Kandungan Ma’na Sholat.

Berdasarkan paparan mengenai pentingnya posisi sholat dalam Islam di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sholat merupakan faktor terpenting yang menyanga tegaknya agama Islam.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya, umat Islam memahami ma’nanya dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini, secara umum, ada dua dimensi kandungan ma’na sholat yang dapat dipetik, yaitu dimensi individual (sifatnya kedalam) dan dimensi sosial (sifatnya keluar), karena sebagaimana definisi di atas, sholat adalah suatu ibadah yang diawali dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Takbiratul-ihrom menunjuk pada dimensi individual, sedangkan salam menunjuk pada dimensi sosial.

1. Dimensi Individual.

Sholat diawali dengan bacaan “takbirotul-ihrom”, yang mengandung arti “Takbir yang mengharamkan”, ya’ni mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan sholat sebagai peristiwa menghadap Alloh swt.

Takbir pembukaan itu seakan-akan suatu pernyataan resmi seseorang membuka hubungan diri dengan Alloh swt, dan mengharamkan atau memutuskan hubungan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, takbirotul-ihrom merupakan ungkapan pernyataan dimulainya sikap menghadap kepada Alloh swt.

Selanjutnya, sikap menghadap Alloh swt tersebut akan mengantarkan seorang hamba untuk benar-benar menyadari bahwa saat itu (posisi sholat) ia sedang menghadap Kholik-nya. Oleh karenanya, dalam sholat, dianjurkan sedapat mungkin seseorang menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta, sehingga seolah-olah ia melihat-Nya, dan kalaupun ia tidak melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa Sang Maha Pencipta melihat dia.

Dari sini, jelas bahwa dalam sholat, seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Alloh swt, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan dengan sesama makhluk (kecuali dengan keadaan terpaksa). Oleh karena itu, dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, sholat dipandang sebagai “mati sa’njeroning urip” (mati dalam hidup). Di sinilah kemudian sholat juga sering disebut dengan ‘Mi’rojul-mukminin’, dikiyaskan dengan mi’roj Nabi saw, karena sama-sama merupakan peristiwa menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya.

2.Dimensi Sosial.

Sholat diakhiri dengan salam, hal ini maksudnya bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Alloh swt, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak baik kepada hubungan sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Alloh swt pada waktu sholat, maka diharapkan bahwa penghayatan akan kehadiran Alloh swt itu akan mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan pekertinya, kaitannya dengan kehidupan sosial.

Berkenaan dengan ini, salah satu firman Alloh swt yang banyak dikutip adalah QS. Al-Ankabut: 45:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Alloh (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan jelas ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu yang dituju oleh adanya kewajiban sholat adalah bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Hanya saja, dalam hal ini ulama berbeda pendapat ketika melihat kenyataan bahwa masih banyak di antara umat Islam yang sholat, tetapi sholatnya tidak menghalanginya dari melakukan perbuatan keji dan munkar.

Satu pendapat menyatakan bahwa sholat memang dapat mencegah pelakunya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka apabila ada seseorang yang sudah mengerjakan sholat, tetapi ia tetap melakukan perbuatan keji dan munkar, sebenarnya ia telah melakukan kegagalan dan kesia-siaan yang hal itu jauh lebih keji dan munkar.
Orang seperti inilah yang disindir al-Qur’an sebagai orang yang lalai dalam sholat, yang kelak akan mendapatkan siksa. Lihat QS. Al-Ma’un: 4-5:

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.”

Adapun satu pendapat yang lainnya mengatakan bahwa sholat adalah ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat keruhanian dalam diri pelakunya yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Oleh karenanya, orang yang melaksanakan sholat, hati, pikiran, dan fisiknya menjadi bersih. Dengan demikian, sholat adalah cara untuk menggali potensi ruhaniyah dalam rangka membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan tidak terpuji. Akan tetapi hal ini, tentu tidak berlaku secara otomatis.

Maksudnya, jika telah mengerjakan sholat, maka tidak otomatis ia menjadi orang yang baik, sebab boleh jadi dampak dari potensi itu tidak muncul karena adanya hambatan-hambatan, seperti lemahnya penghayatan terhadap kehadiran Alloh swt. Oleh karena itu, setiap pelaku sholat dituntut untuk selalu menghidupkan segala perilaku dan bacaan sholat tidak hanya dalam sholat, tetapi juga di luar sholat, lebih-lebih ditambah dengan bacaan-bacaan dzikir, sehingga penghayatan akan kehadiran Alloh swt senantiasa terpelihara dalam setiap langkah kehidupannya. Di sini jugalah salah satu hikmah mengapa sholat waktunya berbeda-beda; dimulai dari dini hari (Shubuh), diteruskan ke siang hari (Dzuhur), kemudian sore hari (Asar), lalu sesaat setelah matahari terbeam (Maghrib), dan akhirnya di malam hari (Isya’).

Hal ini agar terus terjadi proses pengingatan dan penghayatan kehadiran Alloh swt, sehingga sholat dapat berfungsi sebagai pencegah dari melakukan perbuatan keji dan munkar, yang pada akhirnya tercipta kesejahteraan dan kedamaian antar sesama manusia.

HAKEKAT SHOLAT

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Sholat itu adalah Mi’roj-nya orang-orang mukmin.” Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Alloh swt.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung dengan istilah Mi’roj, yang hanya kita kenal sebagai “peristiwa luar biasa hebat” yang pernah dialami Nabi Muhammad saw dan menghasilkan perintah sholat.

Mengapa Rosullulloh saw mengatakan bahwa sholat merupakan Mi’roj-nya orang mu’min .?
Adakah kaitannya dengan sebab perintah sholat dari hasil perjalanan Mi’roj beliau saw ketika berjumpa dengan Alloh swt di Shidrotul-Muntaha .?
Mungkinkah kita bisa melakukan bertemu dengan Alloh swt melalui sholat .?
Begitu mudahkah bertemu dengan Alloh swt, seperti yang dilakukan Rosululloh saw .?
Atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk sholat .?
Adakah rahasia dibalik sholat .?

Misteri ini hampir ta’terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori, dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Alloh swt di dunia.

Akibatnya, kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada pesholat yang telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai khusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari “kesadaran sholat”.

Alloh swt telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergerser niatnya bukan lagi karena melaksanakan perintah-Nya:
“Maka celakalah orang-orang yang sholat, (tidak kerena Alloh, yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”
(QS.al-Ma’un: 4-6)

Pada ayat kelima firman Alloh tersebut, didahului oleh kalimat Alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya yaitu saahun (orang yang lalai). Celakalah baginya karena dasar perbuatan sholatnya telah bergeser dari “karena Alloh” menjadi karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)”.
Atau, bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Alloh yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Alloh swt.
فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.
“…maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku…”. (QS. Thoha : 14).
وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’rof : 205).

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Alloh swt, bukan sekedar membungkuk bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang ia lakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan selama ini, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushollin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan ingkar.
لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ
“…Janganlah engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar), sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”. (QS. An-Nisa’ : 43).

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: