Archive for Februari, 2014

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH

KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH

Alloh swt telah mensyari’atkan sholat sunnah untuk meningkatkan ganjaran amal manusia dan menutupi segala kekurangan dan kelalaian yang ada, sebagaimana diperintahkan oleh Alloh swt dalam Kitab-Nya yang agung.

Alloh swt berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud : 114).

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyiroh : 7-8).

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اْلإِسْـلاَمِ، فَقَالَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ: لاَ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ.

Seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang (kewajiban-kewajiban) dalam Islam, lalu beliau saw menjawab:
“(Melaksanakan) sholat lima waktu dalam sehari semalam.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah kewajiban lain atas diriku .?”
Beliau saw menjawab:
“Tidak ada, kecuali engkau mengerjakan sholat sunnah.” (HR. Bukhori).

Ibnu Mas‘ud ra berkata:
“Apabila engkau telah selesai melaksanakan sholat-sholat wajib maka laksanakanlah sholat malam.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Sementara Mujahid mengatakan:
“Jika engkau telah menyelesaikan urusan duniamu, maka menghadaplah kepada Tuhan-mu dengan sholat.”

Banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang besarnya keutamaan dan pahala yang diperoleh dari sholat sunnah. Di antaranya adalah:

1. Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِـهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ اَلصَّلاَةُ، قَالَ: يَقُوْلُ رَبُّنَا -جَلَّ وَعَزَّ- لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: اُنْظُرُوْا فِيْ صَلاَةِ عَبْدِيْ، أَتَمَّهَا أَوْ نَقَصَهَا، فَإِنْ كَانَتْ تَامَّـةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كاَنَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا، قَالَ: اُنْظُرُوْا هَلْ لِعَـبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ، قَالَ: أَتِمُّوْا لِعَبْدِيْ فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ اْلأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكَ.

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali akan dihisab kelak pada hari Kiamat adalah sholatnya.”
Beliau saw bersabda:
“Alloh جَلَّ وَعَزَّ berfirman kepada para Malaikat-Nya, sedangkan Dia lebih mengetahui:
“Lihatlah sholat hamba-Ku, sudahkah ia melaksanakannya dengan sempurna ataukah terdapat kekurangan .?”
Bila ibadahnya telah sempurna maka ditulis untuknya pahala yang sempurna pula. Namun bila ada sedikit kekurangan, maka Alloh berfirman:
“Lihatlah apakah hambaku memiliki sholat sunnah.?”
Bila ia memiliki sholat sunnah, maka Alloh berfirman:
“Sempurnakanlah untuk hamba-Ku dari kekurangannya itu dengan sholat sunnahnya.”
Demikianlah semua ibadah akan menjalani proses yang serupa.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawd).

Hadits ini menjelaskan salah satu hikmah tentang disyari’atkan-nya sholat sunnah.

2. Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى فِيْ يَوْمٍ، اِثْنَتَيْ عَشْـرَةَ رَكْعَةً، تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيْضَةٍ، بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang melakukan sholat sunnah selain sholat fardhu dalam sehari dua belas roka’at, maka Alloh pasti akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Sorga.” (HR. Mslim).

3. Ruba’iyah bin Ka’ab al-Aslami ra berkata:

كُنْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوْئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْ. فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ ؟ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ .

“Suatu hari aku bersama Rosululloh saw, lalu aku membawakan kepadanya bejana air untuk beliau berwudhu’ dan segala keperluannya. Beliau berkata kepadaku: “Mintalah .!”
Aku berkata: “Aku meminta kepadamu untuk dapat menemanimu di Sorga kelak.”
Beliau bertanya:
“Adakah selain itu .?”
Aku menjawab: “Hanya itu saja.”
Beliau bersabda:
“Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

4. Mi’dan bin Abi Tholhah al-Ya’muri berkata:
“Aku bertemu Tsauban, bekas budak Rosululloh saw, lalu aku berkata kepadanya:
“Beritahukanlah kepadaku tentang amal ibadah yang jika aku lakukan, maka Alloh akan memasukkanku ke dalam sorga karenanya.”
Ia terdiam, lalu aku bertanya lagi. Ia masih terdiam, lalu aku bertanya lagi ketiga kalinya. ia pun berkata:
“Aku telah menanyakan masalah ini kepada Rosululloh saw dan beliau bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُـوْدِ للهِ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ ِللهِ سَجْدَةً، إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ بِهَا عَنْكَ خَطِيْئَةً.

”Perbanyaklah sujud kepada Alloh, karena tidaklah engkau bersujud kepada Alloh dengan satu kali sujud, melainkan Alloh akan mengangkat bagimu satu derajat karenanya dan menghapuskan bagimu satu dosa karenanya.”
Mi’dan berkata:
“Lalu aku bertemu Abu Darda’ dan aku tanyakan masalah ini kepadanya juga. Ia menjawab seperti jawaban yang diberikan Tsauban.” (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan sujud dalam hadits ini adalah melakukan sholat sunnah.

5. Dari Abu Umamah ra, Rosululloh bersabda:

مَا أَذِنَ اللهُ لِعَـبْدٍ فِيْ شَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يُصَلِّيْهِمَا، وَإِنَّ الْبِرَّ لَيُذَرُّ فَوْقَ رَأْسِ الْعَبْدِ مَا دَامَ فِيْ صَلاَتِهِ.

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik yang Alloh izinkan kepada seorang hamba selain melaksanakan sholat dua raka’at dan sesungguhnya kebajikan akan bertaburan di atas kepala seorang hamba selama ia melakukan sholat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan sholat sunnah dan kebaikan yang didapat darinya.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِي مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيْبًا مِنْ صَـلاَتِهِ، فَإِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا.

“Apabila salah seorang di antara kalian sholat di masjid, maka hendaknya ia pun menjadikan sebagian dari sholatnya di rumah, karena Alloh Azza wa Jalla akan memberikan kebaikan dalam rumahnya dari sholatnya itu.” (HR. Muslim).

Dari Zaid bin Tsabit ra, Rosululloh saw bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ، إِلاَّ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوْبَةَ.

“Sholatlah di rumah-rumah kalian karena sebaik-baik sholat seseorang adalah yang dilaksanakan di rumahnya kecuali sholat wajib.” (HR. Bukhori dan Mslim).

Anjuran dalam hadits-hadits ini bersifat umum yang meliputi semua jenis sholat sunnah rowatib dan sholat sunnah secara mutlak kecuali sholat sunnah yang menjadi bagian dari syi’ar Islam, seperti shalat ‘Id, sholat gerhana dan sholat Istisqo’. Demikian apa yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi.

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rosululloh saw bersabda:

اِجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ، وَلاَ تَتَّخِـذُوْا قُبُوْرًا.

“Jadikanlah tempat pelaksanaan sebagian sholatmu di rumah-rumah kalian, dan janganlah jadikan rumah-rumah kalian itu seperti kuburan.” (HR. Muslim).

Hadits-hadits ini menunjukkan tentang disunnahkannya sholat sunnah di rumah dan itu lebih baik daripada melakukannya di masjid sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi:
“Nabi saw menganjurkan melakukan sholat sunnah di rumah, karena hal itu lebih tersembunyi, jauh dari perbuatan riya’, terjaga dari segala hal yang bisa merusak amal, rumah menjadi penuh berkah, rohmat serta Malaikat pun turun dan syaitan pun menjauh darinya.”

 
HUKUM SHOLAT SUNNAT BERJAMAAH

• Jumhur fuqohak: Boleh dilakukan secara berjamaah.
•Sekumpulan ulama Hanafiah: Makruh jika ia dilakukan secara tetap dan berterusan.
•Malikiah: Makruh kalau bersama jamaah yang ramai atau di tempat yang masyhur untuk menghindari riya’.
•Ibnu Taimiyah: Boleh dilakukan sekali-sekali. Jika dilakukan secara berterusan hukumnya bid’ah makruhah.

Iklan

MACAM-MACAM SHOLAT SUNNAT

Sholat secara lughot artinya  do’a.
Menurut istilah sholat adalah serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbirotul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Praktek sholat harus sesuai dengan  tata cara yang diajarkan Rosululloh saw, seperti dalam sabdanya:

… صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي …

“Sholatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku sholat.” (HR. Bukhori dan Muslim).

1. Sholat Rowatib (Sholat sunnat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari beberapa bagian:
a. 2 Roka’at sebelum subuh
b. 4 Roka’at sebelum Dhuhur (atau Jum’at)
c. 4 Roka’at sesudah Dzuhur (atau Jum’at)
d. 4 Roka’at sebelum Asar
e. 2 Roka’at sebelum Maghrib
f. 2 Roka’at sesudah Maghrib
g. 2 Roka’at sebelum Isya’
h. 2 Roka’at sesudah Isya’

2. Sholat Tahajjud ta’terbatas roka’atnya
3. Sholat Witir 11 roka’at
4. Sholat dhuha 12 roka’at

Dua macam Sholat sunnah:

1. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah
2. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan dilakukan secara berjamaah

A. Sholat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah:
1. Sholat Idul-Fitri
2. Sholat Idul-Adha
Dilakukan 2 roka’at. Pada roka’at pertama melakukan tujuh kali takbir (di luar Takbirotul-Ihrom) sebelum membaca al-Fatihah, dan pada roka’at kedua melakukan lima kali takbir sebelum membaca al-Fatihah.

Ibnu Abbas ra. berkata:
“Aku sholat Idul-Fithri bersama Rosululloh saw dan Abu bakar dan Umar, mereka semua melakukan sholat tersebut sebelum khutbah.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Khusuf (Gerhana Matahari)
4. Sholat Khusuf (Gerhana Bulan)

Ibrohim (putra Nabi Muhammad saw) meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran) Alloh swt. Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak juga karena kehidupan (kelahiran) seseorang. Apabila kalian mengalaminya (gerhana), maka sholatlah dan berdo’alah, sehingga (gerhana itu) berakhir.” (HR Imam Bukhori dan Muslim).

Dari Abdulloh ibnu Amr ra, bahwasannya Nabi saw memerintahkan seseorang untuk memanggil dengan panggilan “ashsholaatu jaami’ah” (sholat didirikan dengan berjamaah).” (HR Imam Bukhori dan Muslim)

Dilakukan dua roka’at, membaca Al-Fatihah dan surat dua kali setiap roka’at, dan melakukan ruku’ dua kali setiap raka’at.

5. Sholat Istisqo’

Tata caranya seperti sholat ‘Id.

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasannya Nabi saw sholat istisqo’ dua roka’at, seperti sholat ‘Id. (HR. Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

6. Sholat Terawih

Jumlah roka’atnya adalah 20 dengan 10 kali salam, sesuai dengan kesepakatan shahabat mengenai jumlah roka’at dan tata cara sholatnya.

Dari ‘Aisyah ra, bahwasannya Nabi Muhammad saw sholat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang kemudian mengikuti sholat beliau. Nabi sholat (lagi di masjid) pada hari berikutnya, jamaah yang mengikuti beliau bertambah banyak. Pada malam ketiga dan keempat, mereka berkumpul (menunggu Rosululloh saw), namun Rosululloh saw tidak keluar ke masjid. Pada paginya Nabi saw bersabda:
“Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan tadi malam, namun aku tidak keluar karena sesungguhnya aku khawatir bahwa hal (sholat) itu akan difardlukan kepada kalian.”
‘Aisyah ra. berkata:
“Semua itu terjadi dalam bulan Romadhon.” (HR. Imam Muslim).

7. Sholat Witir yang mengiringi Sholat Terawih

Adapun sholat witir di luar Romadhon, maka tidak disunnahkan berjamaah, karena Rosululloh saw tidak pernah melakukannya.

B. Sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah

1. Sholat Rowatib (Sholat yang mengiringi Sholat Fardlu), terdiri dari 22 Roka’at rowatib tersebut, terdapat 10 roka’at yang sunnah muakkad (karena tidak pernah ditinggalkan oleh Rosululloh saw), berdasarkan hadits:

Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh saw senantiasa menjaga (melakukan) 10 roka’at (rowatib), yaitu:
2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya.
2 roka’at sesudah Maghrib di rumah beliau.
2 roka’at sesudah Isya’ di rumah beliau, dan
2 roka’at sebelum Subuh …
(HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun 12 roka’at yang lain termasuk sunnah ghoiru muakkad, berdasarkan hadits-hadits berikut:

a. Dari Ummu Habibah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa senantiasa melakukan sholat 4 roka’at sebelum Dhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Alloh mengharamkan baginya api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

2 roka’at sebelum Dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya ada yang sunnah muakkad dan ada yang ghoiru muakkad.

b. Nabi saw bersabda:
“Alloh mengasihi orang yang melakukan sholat empat roka’at sebelum (sholat) Asar.” (HOUR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Huzaimah).

Sholat sunnah sebelum Asar boleh juga dilakukan dua roka’at berdasarkan Sabda Nabi saw:
“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat sholat.” (HR. Imam Bazzar).

c. Anas ra berkata:
“Di masa Rosululloh saw kami sholat dua roka’at setelah terbenamnya matahari sebelum sholat Maghrib…” (HR. Bukhori dan Muslim).

Nabi saw bersabda:
“Sholatlah kalian sebelum (sholat) Maghrib, dua roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim)

d. Nabi saw bersabda:
“Di antara dua adzan (anta adzan dan iqomah) terdapat sholat.” (HR. Bazzar).

Hadits ini menjadi dasar untuk seluruh sholat sunnah 2 roka’at qobliyah (sebelum sholat fardhu), termasuk 2 roka’at sebelum Isya’.

2. Sholat Tahajjud (Qiyamullail)

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 79, As-Sajdah ayat 16–17, dan Al-Furqon ayat 64. Dilakukan dua roka’at-dua roka’at dengan jumlah roka’at tidak dibatasi.

Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda:
“Sholat malam itu dua (roka’at)-dua (roka’at), apabila kamu mengira bahwa waktu Subuh sudah menjelang, maka witirlah dengan satu roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Sholat Witir di luar Romadhon.

Minimal satu roka’at dan maksimal 11 roka’at. Lebih utama dilakukan 2 roka’at-2 roka’at, kemudian satu roka’at salam. Boleh juga dilakukan seluruh roka’at sekaligus dengan satu kali Tasyahud dan salam.

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rosululloh saw sholat malam 13 roka’at, dengan witir 5 roka’at di mana beliau Tasyahud (hanya) di roka’at terakhir dan salam. (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau saw juga pernah berwitir dengan tujuh dan lima roka’at yang tidak dipisah dengan salam atau pun pembicaraan. (HR. Muslim).

4. Sholat Dhuha

Dari ‘Aisyah ra, adalah Nabi saw sholat Dhuha 4 roka’at, tidak dipisah keduanya (tiap sholat 2 roka’at) dengan pembicaraan.” (HR. Abu Ya’la).

Dari Abu Huroiroh ra, bahwasannya Nabi saw pernah Sholat Dhuha dengan dua roka’at. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ummu Hani’ ra, bahwasannya Nabi saw masuk rumahnya (Ummu Hani’ ra) pada hari Fathu Makkah (dikuasainya Mekkah oleh Muslimin), beliau saw sholat 12 roka’at, maka kata Ummu Hani:
“Aku tidak pernah melihat sholat yang lebih ringan daripada sholat (12 roka’at) itu, namun Nabi tetap menyempurnakan ruku’ dan sujud beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim).

5. Sholat Tahiyyatul Masjid

Dari Abu Qotadah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga sholat dua roka’at.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits).

6. Sholat Taubat

Nabi saw bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang berdosa, kemudian ia bangun berwudhu’ kemudian sholat dua raka’at dan memohon ampunan kepada Alloh, kecuali ia akan diampuni.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain).

7. Sholat Tasbih

Yaitu sholat empat roka’at di mana di setiap roka’atnya setelah membaca Al-Fatihah dan Surat membaca: Subhanalloh walhamdulillah wa laa ilaaha illallohu wallohu akbar sebanyak 15 kali, dan setiap ruku’, i’tidal, dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk istirahah (sebelum berdiri dari roka’at pertama), dan duduk tasyahud (sebelum membaca bacaan tasyahud) membaca sebanyak 10 kali (Total 75 kali setiap roka’at). (HR. Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah)

8. Sholat Istikhoroh.

Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Adalah Rasulullah SAW mengajari kami Istikharah dalam segala hal … beliau SAW bersabda: ‘apabila salah seorang dari kalian berhasrat pada sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di luar shalat fardhu …dan menyebutkan perlunya’ …” (HR Jama’ah Ahli Hadits kecuali Imam Muslim)

9. Sholat Hajat

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa mempunyai hajat kepada Alloh atau kepada seseorang, maka wudhu’lah dan baguskan wudhu’ tersebut, kemudian sholatlah dua roka’at, setelah itu pujilah Alloh, bacalah sholawat, atas Nabi saw, dan berdo’alah …”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

10. Sholat 2 roka’at di masjid sebelum pulang ke rumah

Dari Ka’ab bin Malik ra:
“Nabi saw apabila pulang dari bepergian, beliau menuju masjid dan sholat dulu dua roka’at.” (HR Bukhori dan Muslim).

11. Sholat Awwabiin

Al-Qur’an surah Al-Isro’ ayat 25.
Dari Ammar bin Yasir ra, Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat setelah sholat Maghrib enam roka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Thobroni).

Dari Abu Huroiroh ra. Nabi saw bersabda:
“Barang siapa sholat enam roka’at antara Maghrib dan Isya’, maka Alloh mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun” (HR. Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Huzaimah).

12. Sholat Sunnah Wudhu’

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berwudhu’, ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian sholat dua roka’at, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

13. Sholat Sunnah Mutlaq

Nabi saw berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffari ra:
“Sholat itu sebaik-baik perbuatan, baik sedikit maupun banyak.” (HR. Ibnu Majah).

14. Sholat Sunnah Safar

Sholat safar adalah sholat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhoan, keselamatan dan perlindungan dari Alloh swt.

BACAAN KERAS DAN PELAN DALAM SHOLAT

Disunnahkan mengeraskan bacaan dalam sholat Shubuh dan dua rokaat pertama pada sholat Maghrib dan Isya’. Ini berlaku bagi Imam dan munfarid (orang yang sholat sendirin).

Mengeraskan bacaan ini juga berlaku pada sholat Jum’at, sholat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), sholat gerhana bulan, sholat istisqo’, sholat Terawih dan Sholat nafilah di malam hari. Selain yang disebutkan disunnahkan untuk men-sirri-kannya (memelankannya).

Permasalahan mendhohirkan dan sirri dalam bacaan bukan persoalan fardhu atau sunnah yang diharuskan untuk sujud sahwi saat menyalahinya. Tapi ia salah satu dari bentuk tatacara sholat yang pelakunya diberi pahala atasnya. Sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa.

Disebutkan dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroirih ra, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى بِنَا فَيَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الأُولَى مِنَ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِى الصُّبْحِ

“Rosululloh saw pernah sholat bersama kami. Pada sholat Dhuhur dan Asar, beliau membaca al-Fatihah dan dua surat di rokaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca. Adalah beliau memanjangkan bacaan pada rokaat pertama dari sholat Dhuhur dan memendekkan pada rokaat kedua, begitu juga saat sholat Shubuh.”

Ucapan Abu Huroiroh ra :
“Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca,” menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat keterangan bolehnya mendhohirkan pada sholat sirr (Dhuhur dan Asar). Ini juga menunjukkan bahwa Isror (mensirrikan bacaan) tidak menjadi syarat untuk sahnya sholat.
Terdapat keterangan bahwa sebab turunnya firman Alloh swt:
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isro’: 110).

Saat Rosululloh saw masih di Makkah. Apabila beliau sholat bersama para sahabatnya, beliau meninggikan suaranya saat membaca al-Qur’an. Ketika kaum musyrikin mendengarnya lalu mereka mencaci al-Qur’an, mencaci Dzat yang menurunkannya dan orang yang menyampaikannya.

Lantas Alloh swt berfirman kepada Nabi-Nya saw:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu.”
Maksudnya: jangan keraskan bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya.
“Dan janganlah pula merendahkannya”
Maksudnya: dari para sahabatmu sehingga mereka tidak mendengar al-Qur’an.
“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Terdapat dalam sebagian riwayat lain, “Maka saat sudah hijrah ke Madinah perintah tersebut telah gugur. Beliau boleh melakukan yang beliau kehendaki dari keduanya.”

Dari sini menjadi jelas persoalan, mengeraskan bacaan pada sholat Maghrib, Isya’ dan Shubuh serta memelankan bacaan pada sholat Dhuhur dan Asar adalah pengamalan saat pertama disyariatkan. Ya’ni saat kaum muslimin tidak mengeraskan bacaan al-Qur’an di siang hari khawatir atas celaan kaum musyrikin.

Adapun membaca secara dhohir pada sholat Jum’at, dua hari raya, sholat istisqa’ dan selainnya adalah karena sholat-sholat tersebut disyariatkan di Madinah sesudah hijrah, di mana saat itu kaum muslimin memiliki kekuatan dan daulah.

KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

KEUTAMAAN SHOLAT 5 WAKTU

Sholat 5 waktu merupakan ibadah yang Alloh swt syari’atkan kepada Nabi-Nya saw secara langsung tanpa perantara malaikat. Berbeda halnya dengan kewajiban lainnya yang diwajibkan melalui perantara malaikat.

Sholat 5 waktu diwajibkan di langit sementara kewajiban lainnya diwajibkan di bumi. Karenanya sangat pantas kalau sholat 5 waktu dikatakan sebagai ibadah badan yang paling utama.

Selain dari keistimewaan sholat 5 waktu secara umum tersebut diatas, ada beberapa sholat di antaranya secara khusus mempunyai keutamaan yang lain.

diantaranya sholat 5 waktu akan menghapuskan semua dosa dan kesalahan.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat lima waktu dan sholat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.”
(HR. Muslim).

Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:
“Aku mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim mendatangi sholat fardlu, lalu dia membaguskan wudlu’nya dan khusyu’nya dan sholatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.”
(HR. Muslim).

Pada kedua hadits di atas dikecualikan dosa-dosa besar, karena memang dosa besar tidak bisa terhapus dengan sekedar amalan sholeh, akan tetapi harus dengan taubat dan istighfar. Karenanya, yang dimaksud dengan dosa pada kedua hadits di atas adlah dosa-dosa kecil.

Adapun patokan dosa besar adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:

اَلْكَبَائِرُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ الله ُبِنَارٍ أَوْ لَعْنَةٍ أو غَضَبٍ أَوْ عَذَابٍ

“Dosa-dosa besar adalah semua dosa yang Alloh akhiri dengan ancaman neraka atau laknat atau kemurkaan atau adzab.”
(Riwayat Ibnu Jarir dalam tafsirnya surah An-Najm: 32).

Walaupun ada perbedaan antara dosa besar dengan dosa kecil, akan tetapi Ibnu Abbas ra berkata:

لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ, وَلاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa besar jika selalu diikuti dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dia dilakukan terus-menerus.”

Sementara meninggalkan sholat 5 waktu atau salah satunya dengan sengaja karena malas secara terus-menerus adalah kekafiran.

Alloh swt berfirman:

 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
 إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

“(Sesudah kepergian tokoh-tokoh pilihan yang ta’at kepada Alloh swt) Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (generasi-generasi yang buruk sepanjang sejarah kemanusiaan) yang menyia-nyiakan sholat (tidak melaksanakan ibadah sesuai yang di ajarkan Alloh swt melalui para Nabi) dan memperturutkan hawa nafsunya (sehingga mereka bergelimang dalam aneka dosa), maka mereka kelak (di akhirat nanti) akan menemui balasan kesesatan (yang mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini).
Kecuali orang yang bertaubat (menyesali dosa dan meninggalkannya), dan beriman (dengan iman yang benar), serta (membuktikan keimanan mereka dengan) beramal sholeh, maka mereka itu akan masuk sorga dan tidak dianiaya (oleh siapapun dan tidak dirugikan) sedikitpun.
(Sorga yang mereka huni itu adalah) sorga-sorga ´Adn yang telah dijanjikan oleh ar-Rohman (Tuhan Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hamba-Nya yang ta’at, (mereka percaya akan adanya sorga itu) sekalipun (sorga itu ketika mereka hidup didunia) gaib (tidak nampak dan tidak mereka lihat dengan mata kepala). Sesungguhnya ia (janji Alloh itu) pasti akan ditepati.”
(QS.19 Maryam: 59-60).

Ini dipertegas dalam hadits Jabir ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan sholat.”
(HR. Muslim).

Juga Abdulloh bin Buroidah dari ayahnya ra, dia berkata:
Rosululloh saw bersabda:

بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ تَرْكُ الصَّلَاةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“(Pemisah) di antara kami dan mereka (orang kafir) adalah meninggalkan sholat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.”
(HR. Ahmad).

KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH dan ASAR

Sholat subuh senantiasa dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat, dan menjadi saksi atas kebaikan pelakunya.

Alloh swt berfirman:

 أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isro`: 78).

Sholat asar yang merupakan sholat wustho sebagaimana dalam riwayat al-Bukhori, dikhususkan penyebutannya dibandingkan sholat-sholat lainnya.
ini menunjukkan keistimewaan sholat asar dari satu sisi dibandingkan sholat lainnya.

Alloh swt berfirman:

حافظوا على الصلوات والصلواة الوسطى

“Peliharalah semua sholatmu, dan (peliharalah) sholat wustho.”
(QS. Al-Baqoroh: 238).

Menjaga sholat subuh dan asar merupakan sebab terbesar masuk sorga dan selamat dari neraka.

Dari Imaroh bin Ru’aibah ra, Rosululloh saw bersabda:

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.”
(HR. Muslim)

Dari Abu Musa ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengerjakan sholat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk sorga.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Jundab bin Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa sholat subuh, maka ia berada dalam jaminan Alloh, oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu dari kalian sebagai imbalan jaminan-Nya, sehingga Alloh menangkapnya dan menyungkurkannya ke dalam neraka jahannam.”
(HR. Muslim).

Dari Jarir bin ‘Abdulloh ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu tidak terlewatkan untuk melaksanakan sholat sebelum terbit matahri dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH

Subuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Alloh swt memerintahkan ummat Islam untuk mengerjakan sholat kala itu. Alloh swt:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“ Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(Qs. Al-Isro’: 78).

Betapa banyak kaum muslimin yng lalai dalam mengerjakan sholat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan sholat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang sholat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu sholat lainnya.

Apabila seseorang mengerjakan sholat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan, di antara keutamaannya adalah.

1. Salah satu penyebab masuk sorga

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة

“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain (yaitu sholat shubuh dan asar) maka dia akan masuk sorga .”
(HR. Bukhori dan Muslim).

2. Salah satu penghalang masuk neraka

Rosululloh saw bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan sholat sebelum terbitnya matahari (yaitu sholat shubuh) dan sholat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu sholat asar).”
(HR. Muslim).

3. Berada di dalam jaminan Alloh swt

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yg sholat subuh maka dia berada dalam jaminan Alloh. Oleh karena itu jangan sampai Alloh menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Alloh menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Alloh pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam .”
(HR. Muslim).

4. Dihitung seperti sholat semalam penuh

Rosululloh saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang sholat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah sholat malam selama separuh malam. dan barangsiapa yang sholat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah sholat seluruh malamnya.”
(HR. Muslim).

5. Disaksikan para Malaikat

Rosululloh saw bersabda:

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada sholat fajar (subuh).”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Ancaman bagi yang Meninggalkan Sholat Subuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan sholat subuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan sholat subuh .?
Kebanyakan orang meninggalkan sholat subuh karena aktivitas tidur. Dalam hal ini Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat isya’ dan sholat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.

Semoga Alloh selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan sholat berjama’ah di masjid atau dirumah dengan berjamaah bersama istri dan anak-anak.

RAHASIA SHOLAT LIMA WAKTU

Ali bin Abi Tholib ra. berkata:
“Sewaktu Rosululloh saw duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Anshor, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata:
‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Alloh kepada Nabi Musa as, yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Alloh atau malaikat muqorrobin.’
Lalu Rosululloh saw bersabda:
‘Silahkan bertanya.’

Berkata orang Yahudi:
‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Alloh ke atas ummatmu.’
Rosululloh saw bersabda:
‘Sholat Dhuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya.
Sholat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam as, memakan buah khuldi.
Sholat Maghrib itu adalah saat Alloh menerima taubat Nabi Adam as. Maka setiap mukmin yang bersholat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdo’a meminta sesuatu pada Alloh, maka pasti Alloh akan mengabulkan permintaannya.
Sholat Isya’ itu ialah sholat yang dikerjakan oleh para Rosul sebelumku.
Sholat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syetan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, lalu mereka berkata:
‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang sholat.’

Rosululloh saw bersabda:
‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan. Sholat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

‘Manakala sholat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam as. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan sholat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’
Lalu Rosululloh saw membaca (firman Alloh swt, yang artinya) ‘Jagalah waktu-waktu sholat terutama sekali sholat yang pertengahan.’

Sholat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam as. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sholat Maghrib kemudian meminta sesuatu kepada Alloh, maka Alloh akan memperkenankan.’

‘Sholat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sholat Isya’ berjamaah, Alloh swt haramkan dirinya dari terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Siroth.’

‘Seorang mukmin yang mengerjakan sholat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Alloh swt dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rosululloh saw, maka mereka berkata:
‘Benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan kepada kami semua, kenapakah Alloh swt mewajibkan puasa 30 hari atas umatmu .?’
Rosululloh saw menjawab:
‘Ketika Nabi Adam as memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam as. selama 30 hari. Kemudian Alloh swt mewajibkan atas keturunan Adam as. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizinkan makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Alloh swt kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi:
‘Wahai Muhammad, benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi dari berpuasa itu.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Romadhon dengan ikhlas karena Alloh swt, dia akan diberikan oleh Alloh swt 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dari makanan yang haram).
2. Rohmat Alloh sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Alloh sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Alloh pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Siroth.
7. Alloh swt akan memberinya di sorga.’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’
Jawab Rosululloh saw:
‘Seorang Nabi menggunakan do’a mustajabnya untuk membinasakan ummatnya, tetapi aku tetap menyimpan do’aku (untuk aku gunakan memberi syafaat kepada umatku di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi:
‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan:
Asyhadu alla illaha illalloh, wa annaka Rosululloh (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Alloh dan engkau utusan Alloh).’

BELAJAR SHOLAT KHUSYU’

A. Pengertian Sholat.

Secara bahasa, kata sholat menurut para pakar bahasa adalah berarti do’a. Sholat diartikan dengan do’a, karena pada hakikatnya sholat adalah suatu hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Sesungguhnya hamba, apabila ia berdiri untuk melaksanakan sholat, tidak lain ia berbisik pada Tuhannya. Maka hendaklah masing-masing di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berbisik.”
Adapun secara istilah, definisi sholat adalah sebuah ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan perbuatan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam.

Lebih jauh, definisi ini merupakan hasil rumusan dari apa yang disabdakan Nabi saw:
“Sholatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku sholat.”
Dengan demikian, dasar pelaksanaan sholat adalah sholat sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi saw mulai bacaan hingga berbagai gerakan di dalamnya, sehingga tidak ada modifikasi dan inovasi dalam praktik sholat.

B. Posisi Sholat Dalam Islam.

Dalam Islam, sholat menempati posisi penting dan strategis. Ia merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi pembatas apakah seseorang itu mukmin atau kafir. Nabi saw bersabda:
“Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan sholat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir.”

Sedemikian pentingnya sholat, maka ibadah sholat dalam Islam tidak bisa diganti atau diwakilkan. Orang Islam masih diwajibkan sholat, selagi masih ada kesadaran di hatinya. Oleh karena itu, pelaksanaan sholat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada keadaan pelakunya (kalau tidak bisa berdiri boleh duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya.

C. Kandungan Ma’na Sholat.

Berdasarkan paparan mengenai pentingnya posisi sholat dalam Islam di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sholat merupakan faktor terpenting yang menyanga tegaknya agama Islam.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya, umat Islam memahami ma’nanya dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini, secara umum, ada dua dimensi kandungan ma’na sholat yang dapat dipetik, yaitu dimensi individual (sifatnya kedalam) dan dimensi sosial (sifatnya keluar), karena sebagaimana definisi di atas, sholat adalah suatu ibadah yang diawali dengan takbiratul-ihrom dan diakhiri dengan salam. Takbiratul-ihrom menunjuk pada dimensi individual, sedangkan salam menunjuk pada dimensi sosial.

1. Dimensi Individual.

Sholat diawali dengan bacaan “takbirotul-ihrom”, yang mengandung arti “Takbir yang mengharamkan”, ya’ni mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan sholat sebagai peristiwa menghadap Alloh swt.

Takbir pembukaan itu seakan-akan suatu pernyataan resmi seseorang membuka hubungan diri dengan Alloh swt, dan mengharamkan atau memutuskan hubungan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, takbirotul-ihrom merupakan ungkapan pernyataan dimulainya sikap menghadap kepada Alloh swt.

Selanjutnya, sikap menghadap Alloh swt tersebut akan mengantarkan seorang hamba untuk benar-benar menyadari bahwa saat itu (posisi sholat) ia sedang menghadap Kholik-nya. Oleh karenanya, dalam sholat, dianjurkan sedapat mungkin seseorang menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta, sehingga seolah-olah ia melihat-Nya, dan kalaupun ia tidak melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa Sang Maha Pencipta melihat dia.

Dari sini, jelas bahwa dalam sholat, seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Alloh swt, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan dengan sesama makhluk (kecuali dengan keadaan terpaksa). Oleh karena itu, dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, sholat dipandang sebagai “mati sa’njeroning urip” (mati dalam hidup). Di sinilah kemudian sholat juga sering disebut dengan ‘Mi’rojul-mukminin’, dikiyaskan dengan mi’roj Nabi saw, karena sama-sama merupakan peristiwa menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya.

2.Dimensi Sosial.

Sholat diakhiri dengan salam, hal ini maksudnya bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Alloh swt, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak baik kepada hubungan sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Alloh swt pada waktu sholat, maka diharapkan bahwa penghayatan akan kehadiran Alloh swt itu akan mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan pekertinya, kaitannya dengan kehidupan sosial.

Berkenaan dengan ini, salah satu firman Alloh swt yang banyak dikutip adalah QS. Al-Ankabut: 45:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Alloh (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan jelas ayat di atas menunjukkan bahwa salah satu yang dituju oleh adanya kewajiban sholat adalah bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Hanya saja, dalam hal ini ulama berbeda pendapat ketika melihat kenyataan bahwa masih banyak di antara umat Islam yang sholat, tetapi sholatnya tidak menghalanginya dari melakukan perbuatan keji dan munkar.

Satu pendapat menyatakan bahwa sholat memang dapat mencegah pelakunya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka apabila ada seseorang yang sudah mengerjakan sholat, tetapi ia tetap melakukan perbuatan keji dan munkar, sebenarnya ia telah melakukan kegagalan dan kesia-siaan yang hal itu jauh lebih keji dan munkar.
Orang seperti inilah yang disindir al-Qur’an sebagai orang yang lalai dalam sholat, yang kelak akan mendapatkan siksa. Lihat QS. Al-Ma’un: 4-5:

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.”

Adapun satu pendapat yang lainnya mengatakan bahwa sholat adalah ibadah yang pelaksanaannya membuahkan sifat keruhanian dalam diri pelakunya yang menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Oleh karenanya, orang yang melaksanakan sholat, hati, pikiran, dan fisiknya menjadi bersih. Dengan demikian, sholat adalah cara untuk menggali potensi ruhaniyah dalam rangka membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan tidak terpuji. Akan tetapi hal ini, tentu tidak berlaku secara otomatis.

Maksudnya, jika telah mengerjakan sholat, maka tidak otomatis ia menjadi orang yang baik, sebab boleh jadi dampak dari potensi itu tidak muncul karena adanya hambatan-hambatan, seperti lemahnya penghayatan terhadap kehadiran Alloh swt. Oleh karena itu, setiap pelaku sholat dituntut untuk selalu menghidupkan segala perilaku dan bacaan sholat tidak hanya dalam sholat, tetapi juga di luar sholat, lebih-lebih ditambah dengan bacaan-bacaan dzikir, sehingga penghayatan akan kehadiran Alloh swt senantiasa terpelihara dalam setiap langkah kehidupannya. Di sini jugalah salah satu hikmah mengapa sholat waktunya berbeda-beda; dimulai dari dini hari (Shubuh), diteruskan ke siang hari (Dzuhur), kemudian sore hari (Asar), lalu sesaat setelah matahari terbeam (Maghrib), dan akhirnya di malam hari (Isya’).

Hal ini agar terus terjadi proses pengingatan dan penghayatan kehadiran Alloh swt, sehingga sholat dapat berfungsi sebagai pencegah dari melakukan perbuatan keji dan munkar, yang pada akhirnya tercipta kesejahteraan dan kedamaian antar sesama manusia.

HAKEKAT SHOLAT

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Sholat itu adalah Mi’roj-nya orang-orang mukmin.” Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Alloh swt.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung dengan istilah Mi’roj, yang hanya kita kenal sebagai “peristiwa luar biasa hebat” yang pernah dialami Nabi Muhammad saw dan menghasilkan perintah sholat.

Mengapa Rosullulloh saw mengatakan bahwa sholat merupakan Mi’roj-nya orang mu’min .?
Adakah kaitannya dengan sebab perintah sholat dari hasil perjalanan Mi’roj beliau saw ketika berjumpa dengan Alloh swt di Shidrotul-Muntaha .?
Mungkinkah kita bisa melakukan bertemu dengan Alloh swt melalui sholat .?
Begitu mudahkah bertemu dengan Alloh swt, seperti yang dilakukan Rosululloh saw .?
Atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk sholat .?
Adakah rahasia dibalik sholat .?

Misteri ini hampir ta’terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori, dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Alloh swt di dunia.

Akibatnya, kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada pesholat yang telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai khusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari “kesadaran sholat”.

Alloh swt telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergerser niatnya bukan lagi karena melaksanakan perintah-Nya:
“Maka celakalah orang-orang yang sholat, (tidak kerena Alloh, yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.”
(QS.al-Ma’un: 4-6)

Pada ayat kelima firman Alloh tersebut, didahului oleh kalimat Alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya yaitu saahun (orang yang lalai). Celakalah baginya karena dasar perbuatan sholatnya telah bergeser dari “karena Alloh” menjadi karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)”.
Atau, bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Alloh yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Alloh swt.
فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.
“…maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku…”. (QS. Thoha : 14).
وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’rof : 205).

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Alloh swt, bukan sekedar membungkuk bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang ia lakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan selama ini, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushollin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan ingkar.
لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ
“…Janganlah engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar), sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”. (QS. An-Nisa’ : 43).

Awan Tag