Archive for Januari, 2014

MAKNA HADITS ” JANGAN PUJI AKU SECARA BERLEBIHAN “

ALLOH swt MEMUJI NABI MUHAMMAD saw

Alloh swt memuji Nabi Muhammad saw dengan berfirman:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al-Insyiroh : 4)

Disamping itu Alloh juga menghibur Nabi Muhammad saw dengan memerintahkan kaum muslimin agar mentaati perintah beliau, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Muhammad).”
(QS. An-Nisa’ : 59).

Alloh swt sangat mengagungkan dan memuliakan Nabi Muhammad saw. dengan pujian yang tidak sesuatu pun akan dapat melampaui pujian-Nya, ini dinyatakan dalam firmannya:
إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS.Al-Qolam: 4)

Nabi Muhammad saw adalah sosok manusia yang dicipta secara khusus oleh Alloh swt. Ia dipilih dari seluruh makhluk untuk menjadi Nabi dan Rosul-Nya yang utama dan penghabisan. Ia diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak memiliki cacat atau cela sedikitpun.

Pada ayat yang lain, Alloh swt kembali memuji dan menyanjung sifat-sifatnya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah:128).

Dari ayat diatas, Alloh swt menjelaskan bahwa Rosululloh saw mempunyai tenggang rasa yang tinggi dan kepedulian yang sangat besar kepada semua umatnya.

Beliau saw merasa berat atas penderitaan yang kita alami. Beliau saw amat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kita semua. Beliau saw amat belas kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Tingginya pujian dan sanjungan Alloh swt bisa kita lihat dari pengujung ayat diatas, dimana Alloh swt menyematkan dua asma-Nya yang agung, Ar-Ro’uf (Dzat Yang Maha Pelimpah Kasih) dan Ar-Rohman (Dzat Yang Maha Pengasih) menjadi sifat pribadi Rosululloh saw.

Keagungan yang dimiliki oleh Rosululloh saw tidak hanya berupa keagungan budi pekerti tetapi juga keagungan fisik. Disamping aspek kejiwaannya yang sempurna, aspek fisik Rosululloh saw juga sempurna dan luar biasa. Tubuh beliau saw bercahaya, bersinar terang dan cerah. Beliau saw adalah nur yang sejati dan hakiki. Beliau saw adalah bulan purnama dan juga matahari yang selalu menyinari bumi.

Seorang sahabat, Hasan bin Tsabit melukiskan keagungan fisik Rosululloh dalam bait-bait syair berikut ini:

“Dan yang lebih indah dari engkau tidak pernah mata melihatnya sama sekali.
Dan yang lebih sempurna dari engkau tidak pernah ada wanita-wanita melahirkannya.
Engkau diciptakan lepas dari segala cela, seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana engkau kehendaki.”

Saam bin Hisyam bin Amr ra berkata kepada Sayyidah ‘Aisyah ra:
“Wahai Ummul Mukminin, beritahu aku tentang akhlak Rosululloh .?
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Apakah kamu membaca al-Qur’an .?”
Jawab Saam: “Iya”
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Sesungguhnya akhlak Rosululloh adalah al-Qur’an.” (HR. Ibnu Jarir, Abu Dawud dan Nasa’i)

Maha Suci Alloh dari sifat tercala yang telah memuji Rosul-Nya Nabi Muhammad saw, dengan pujian keagungan pribadinya.
Bagaimana mungkin seorang manusia dapat memuji Aklak beliau saw melampaui pujian Alloh swt .?
Bagaiman mungkin manusia dapat menguraikan pujian yang melebihi uraian al-Qur’an sebagai akhlak Nabi Muhammad saw .?

Al-Bushiri dalam Burdah bersya’ir:
“Dialah yang sempurna jiwa dan raganya, kemudian dipilih oleh Sang Pencipta makhluk sebagai Kekasih-Nya.
Tidak ada yang menandingi keindahan dan keelokannya.
Dia tidak ada duanya.
Mutiara keindahan yang ada padanya tidak pernah dimiliki siapapun.”

Sementara itu Sultan Abdul Hamid Khan bin Sultan Ahmad Khan menggubah syair berikut ini:
“(Nabi Muhammad saw) dialah segala pemilik keindahan.
Alloh swt yang menciptakannya.
Orang yang seperti dia tidak akan aku temukan di seluruh makhluk.”

Keagungan Rosululloh selain diakui oleh para sahabat dan seluruh umat muslim juga diakui oleh orang-orang non muslim, misalnya:

George Bernard Shaw (1856-1950): “Pribadi Muhammad (saw) sangat agung, aku mengaguminya dan aku penganut pandangan hidupnya. Sekiranya Nabi Muhammad (saw) dibangunkan di abad ini, niscaya dunia ini terhindar dari kesulitan dan bencana, dan manusia akan hidup aman dan tentram.”
(Riwayat Kehidupan Nabi besar Muhammad saw, Al-Hamid Al-Husaini).

Prof Montet:
“Ia (Nabi Muhammad saw) seorang mulia budi pekertinya, baik pergaulannya, manis tutur katanya, adil pertimbangannya, benar ucapannya dan serasi perbuatan dan perkataannya.”
(Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Moenawar Cholil).

Annie Bessant (1847-1933) dalam The Life and Teachings of Muhammad:
“Mustahil bagi siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad, hanya akan mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau (saw) adalah seorang Nabi terbesar dari Sang Pencipta.”
(Wawasan al-Qur’an, M. Quraish Shihab).

Michael H.Hart dalam bukunya yang berjudul The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History menempatkan Rosululloh saw pada urutan pertama diantara tokoh-tokoh dunia yang paling berpengaruh:
“Dialah (saw) satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik dititik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal dari keluarga sederhana, Muhammad (saw) menegakkan dan menyebarkan salah satu agama terbesar di dunia, agama Islam. Dan pada saat bersamaan, ia (saw) tampil sebagai pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini 13 abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta mengakar.”

PERINTAH ALLOH MEMUJI NABI MUHAMMAD

“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

ALLOH SWT MEMUJI NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt telah mengagungkan beliau saw, memuji beliau saw, menghormati beliau saw dan memuliakan beliau saw. Nama beliau saw diangkat tinggi-tinggi. Didudukkannya beliau saw dalam kedudukan yang tinggi.
Beliau saw adalah mutiara diantara pasir yang bertebaran. Beliau saw adalah permata di antara bebatuan berserakan.
Beliau saw memang manusia seperti kita, beliau saw makan, minum, menikah, pergi ke pasar, juga mengalami sakit dan seterusnya, tapi sejatinya beliau saw bukanlah manusia biasa, karena beliau saw Nabi dan Rosul. Beliau saw adalah manusia terbaik dan manusia pilihan diantara seluruh makhluk.

MAKNA HADIST ” JANGAN PUJI AKU SECARA BERLEBIHAN “

Sering kita mendengar propaganda yang melarang umat Islam memuji Nabi Muhammad saw. Di antara ucapan mereka yang tidak suka dengan amalan kita adalah, “Kita umat Islam tidak boleh mengkultuskan Rosululloh saw, tidak boleh memuji dan menyanjungnya secara berlebihan. Karena perbuatan itu merupakan bentuk kemusyrikan.

Mereka berpendapat seperti itu karena melihat hadist hanya sekilas teks sehingga terjadi pemahaman yang salah tentang itu. Rosululloh saw bersabda:
“Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Abduhu warosuluhu (hamba Alloh dan Rosul-Nya).”
(HR. Bukhori dan Ahmad).

Dari ucapan itu kita memahami, kalau memuji Nabi Muhammad itu menurut mereka adalah mengkultuskan atau mendewakan beliau saw. Sehingga mereka menganggap memuji-muji beliau (yang menurut mereka berlebihan) adalah termasuk musyrik.
Ini adalah tuduhan keji dan fitnah yang berat bagi para pecinta Nabi Muhammad saw. Orang-orang itu tidak mengetahui makna dan tujuan hadist, sehingga pemahamannya salah.

MEMUJI NABI MUHAMMAD SAW

NABI MUHAMMAD saw adalah yang paling agung dan mulia di antara seluruh manusia, sedangkan manusia yang paling mulia adalah yang paling taqwa.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.“ (QS. Hujurot :13).
Dan tentu saja Nabi Muhammad saw adalah yang paling taqwa di antara manusia.

Batasan memuji Nabi Muhammad saw yang tidak diperbolehkan adalah memuji seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan.

Nabi Isa as dipuji oleh ummat Nasrani sudah sangat melewati batas, menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan ya’ni disetarakan dengan Tuhan, bahkan menurut mereka, sebenarnya Yesus (Nabi Isa as) itu ya wujud Tuhan Alloh itu sendiri. Bedanya, Yesus itu Alloh yang ditampilkan dalam bentuk manusia.

Kalau Nabi Muhammad saw semua muslim sadar bahwa beliau itu Nabi dan Rosul Alloh, bukan Tuhan. Jadi mau dipuji setinggi langit pun kedudukan beliau saw ya tetap sebagai manusia.
Jadi kenapa harus takut syirik dengan memuji beliau saw dengan ungkapan sayidinna dan maulana… toh…! ummat beliau saw ga’ada yang mengkultuskan ke derajat Tuhan.

Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam sya’ir Burdahnya:
“Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka…
Pujilah beliau (Nabi Muhammad saw) sesukamu dengan sempurna…
Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya…
Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…
Karena sesungguhnya kemuliaan Rosululloh tidak ada batasnya…
Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya…”

PARA PENYA’IR MASA SAHABAT RA

Pada zaman Nabi saw. terdapat banyak penya’ir yang terkenal dan hebat datang kepada Rosulalloh saw. dan mempersembahkan kepada beliau saw berhalaman-halaman sya’ir mereka yang memuji dan mengagungkan beliau saw.

Didalam sya’irnya menceritakan mengenai dakwah dan peperangan yang beliau saw. pimpin serta sya’ir mengenai para sahabat. Ini dibuktikan dengan banyaknya sya’ir yang dikutip di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain.

Penyair-penyair tekenal mengagung-agungkan Rosulalloh saw dihadapan beliau saw dan para sahabat, tidak dilarang oleh Rosulalloh saw. dan tidak ada para sahabat yang mencela atau mengatakan hal tersebut berlebih-lebihan (ghuluw) dan sebagainya.

Rosululloh saw. amat menyenangi sya’ir yang indah, beliau saw bersabda:
“Terdapat hikmah didalam syair.”
(HR. Bukhori)

Paman Nabi saw al-‘Abbas ra mengarang sya’ir memuji kelahiran Nabi saw. diantara bait terjemahannya sebagai berikut:
“Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran cahaya sinar jalan yang terpimpin.”
(Imam as-Suyuti dalam Husnal-Maqosid dan Ibnu Katsir dalam kitab Maulid : 30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).

Ibnu Katsir menerangkan didalam kitabnya bahwa diantara para sahabat ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. memuji nama dan nasabnya serta membaca sya’ir mengenai diri beliau saw semasa peperangan Hunain untuk menambah semangat para sahabat ra dan menakutkan para musuh.

Pada hari itu beliau saw berkata:
“Aku adalah Rosululloh ..!
Ini bukanlah dusta.
Aku anak ‘Abdul Mutholib.”

Beliau saw. juga sering berkata:
“Akulah ash-habul-yamin yang terkemuka
Akulah khoirus-sabiqin
Akulah anak Adam yang paling bertaqwa
Dan paling mulia di sisi Alloh
Dan aku tidak sombong ..”
(Dalam Syarhul-Mawahib 1:62. dan (HR. At-Thobroni dan Al-Baihaqi didalam Dala’ilun Nubuwwah).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur, dan aku adalah orang pertama diberi syafa’at dan orang pertama pemberi syafa’at.”
(HR. Muslim dan Ahmad).

“Aku adalah sayyid semua manusia di hari kiamat.”
(HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

“Aku adalah sayyid (orang yang paling mulia) anak Adam di hari Kiamat nanti.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat di tanganku terdapat Liwaaul-Hamdi/panji pujian dan aku tidak sombong.
Tidak seorang Nabi pun pada hari itu baik Adam dan yang lainnya terkecuali dibawah naungan panji-panjiku dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur dan aku tidak sombong.”
(HR. Tirmidzi).

Masih banyak lagi kata-kata beliau saw. untuk dirinya. Kalau pujian-pujian ini semuanya dilarang maka tidak akan diucapkan dari lisan orang yang paling taqwa dan mulia Rosulalloh saw. serta dari lisan para sahabat yang ditujukan kepada beliau saw.

Hadits-hadits yang meriwayatkan pernyataan bahwa Rosulalloh saw sendiri yang menerangkan betapa mulia dan tingginya kedudukan beliau saw. disisi Alloh swt, itu tidak lain agar kita kaum muslimin dapat membedakan serta mengakui bahwa Alloh swt memberi kedudukan kepada Rosulalloh saw. paling tinggi dan mulia daripada makhluk-makhluk Alloh swt lainnya, dan sabda beliau tersebut sesuai dengan firman Alloh swt untuk beliau saw.
Dengan demikian kita tidak boleh menyamakan kedudukan dan kemuliaan beliau saw.dengan manusia biasa .!

Hasan bin Tsabit ia mendendangkan sya’ir yang bunyinya antara lain :
“Andalah (Rosulalloh saw) makhluk suci pilihan Alloh…
Andalah (Rosululloh saw) seorang Nabi dan keturunan terbaik Adam, keagungannya bagaikan ombak samudra… dan seterusnya…”
Beliau ra. sering melagukan dan membacakan sya’ir-sya’irnya didepan Sayyidul Mursalin Muhammad saw. dan didepan para sahabat beliau ra, dan tidak ada satupun yang mencela atau mengatakan berlebih-lebihan (ghuluw).

Tertera dibatu nisan Hasan ibnu Tsabit beliau menulis mengenai Nabi saw.:
“Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan didalam diriku, Aku hanya seorang yang telah hilang segala derita rasa,
Aku tidak akan berhenti daripada memujinya (nabi saw.), karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam sorga bersama-sama ‘Yang Terpilih’, yang daripadanya aku meng- harapkan syafa’at, dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu”.

Menurut riwayat yang berasal dari Abu Bakar Ibnul Anbari, ketika Ka’ab bin Zuhair dalam mendendangkan sya’ir pujiannya sampai kepada beliau saw.
“(Muhammad saw adalah) sinar cahaya yang menerangi dunia dan beliau laksana pedang Alloh yang ampuh terhunus. Sebagai tanda kegembiraan beliau saw., maka beliau saw menanggalkan kain burdahnya (kain penutup punggung) dan diberikan pada Ka’ab. Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pada masa kekuasaannya berusaha membeli burdah itu dari Ka’ab dengan harga 10.000 ribiu dirham, tetapi Ka’ab menolaknya. Setelah Ka’ab wafat, Mu’awiyyah membeli burdah pusaka Nabi saw. itu dari ahli waris Ka’ab dengan harga 20.000 ribu dirham.”

Banyak sekali hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi saw. tentang bagaimana mereka memuliakan dan mengagungkan Nabi saw. seperti Amr bin ‘Ash ra, Anas bin Malik ra, Usamah bin Syarik ra dan lain-lain. Semua pujian dan syair-syair ini tidak dilarang oleh beliau saw. Juga syair-syair tersebut boleh dilagukan dan diiringi dengan bermain gendang.

Seorang ahli hadits, Ibnu ‘Abbad telah memberikan fatwa tentang hadits Rosulalloh saw:
“Seorang wanita telah datang menemui Nabi saw diwaktu beliau saw. baru pulang dari medan peperangan, dan wanita itupun berkata:
“Ya Rosulalloh, aku telah bernadzar jika sekiranya, Alloh menghantarkan engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendang disebelahmu.”
Nabi saw pun bersabda:
“Tunaikanlah nadzarmu.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Dari Sayyidati ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw, telah membenarkannya untuk mengundang dua orang perempuan untuk menyanyi pada hari Raya, beliau saw memberitahu Abu Bakar ra:
“Biarkan mereka menyanyi karena untuk setiap ummat ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Maka berfikirlah… fahamilah… dgn pengertian yg mendalam… jangan menelan sebuah faham yg datang dari orang-orang jahil ..

    Iklan

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

NABI MUHAMMAD BERSHOLAWAT

ALLOH Yang Maha Tinggi mengistimewakan ummat islam dengan kesempurnaan sholawat kepada Nabi Muhammad

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Alloh swt Tuhan pemelihara alam semesta raya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Lalu Alloh swt mengajak para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad
Kemudian menyeru ummat yang beriman untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad
Setelah itu Alloh memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membalas sholawat mereka

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Bersholawatlah -wahai Nabi Muhammad- untuk mereka orang-orang mukmin
Sesungguhnya sholawat kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka
dan Alloh Maha Mendengar segala yang mereka ucapkan lagi Maha Mengetahui segala apa yang mereka perbuat.” (at-Taubah : 103).

Nabi Muhammad pun berdo’a:

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

“Tuhanku berilah ampunan dan berilah rohmat -kepada ummatku yang mukmin-,
dan hanya Engkau-lah pemberi rohmat yang paling baik.” (Al-Mu’minuun: 118).

Dan para malaikat serentak ikut mendo’akan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw:

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنِ نِالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ج وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ج وَذَالِك هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Tuhan kami, maka masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka
dan orang-orang yang sholeh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan
dan orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min: 8-9).

Maka Alloh swt berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan
Kami pertemukan -kumpulkan- anak cucu mereka dengan mereka
Kami tiada mengurangi sedikit pun dari masing-masing pahala amal mereka
-sebab- Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya -sewaktu mereka di dunia-.” (At-Thur: 21)

Ada dua pendapat ulama berkaitan ayat QS. At-Thur: 21 diatas :

Pertama, Bahwa Alloh swt memberikan keni’matan yang lebih kepada orang mukmin yang menduduki derajat yang tinggi di sorga, dimana Alloh kumpulkan keturunannya yang derajatnya di bawah mereka bersama orang tuanya.
Sehingga Alloh swt mengangkat derajat penduduk sorga yang kedudukannya lebih rendah menuju derajat yang lebih tinggi, agar lebih menyenangkan hati mereka, sedangkan Alloh swt tidak mengurangi sedikitpun kedudukan derajatnya.

Oleh karena itu, jika ada orang tua masuk sorga bersama anaknya, dan derajat orang tua lebih tinggi dari pada derajat anaknya, maka Alloh swt akan mengangkat derajat anaknya sampai sederajat dengan orang tuanya, agar orang tua merasa lebih senang berkumpul dengan anak-anaknya. Tanpa mengurangi derajat orang tua sedikit pun.
Demikian pula sebaliknya, ketika derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya, maka derajat orang tua akan dinaikkan, sehingga bisa berjumpa dan berkumpul dengan anaknya cucunya.

Kedua, ayat diatas berbicara tentang orang beriman yang ditinggal mati anaknya yang belum menginjak usia baligh, ia masih belum memiliki amal, sedangkan amalan memelihara dan merawat adalah milik ayah dan ibunnya. Agar lebih menyenangkan hati ayah dan ibunya, Alloh mengangkat derajatnya, sehingga bisa berjumpa dengan orang tuanya.

Menurut hemat penulis kedua pendapat ini tidak berselisih jauh, sehingga boleh jadi ma’na ayat diatas mencakup kedua-duanya.

أَلتَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً الرَسُولُ اللَّه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

MENGENAL SEJARAH AGAR TUMBUH CINTA

Mencintai Alloh dan Rosul-Nya berarti ta’at kepada keduanya. Melaksanakan syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam kehidupan kita.
لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
Maka dari itu, amal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mengetahui maksud Alloh swt yang terkandung dalam al-Qur’an

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ
Katakanlah -kepada ummatmu wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Dengan mempelajari dan senantiasa mengingat sejarah dan cara hidup Nabi muhammad saw kita akan mengetahui bagaimana kepribadian beliau saw, betapa mulia akhlaq beliau saw, betapa zuhudnya beliau saw yang lebih mementingkan akherat daripada dunia, dan bagaimana syari’at yang dibawa oleh beliau saw, sehingga kita akan mencintainya dan kemudian mengikutinya secara baik dan sempurna.

Sungguh, mencintai Alloh dan Rosul-Nya di atas kecintaan kita kepada semua makhluk adalah kunci kebahagiaan setiap insan.
Karena hanya dengan itu, hidup selalu tersinari oleh pancaran cinta dan ridho Alloh dan Rosul-Nya, dan hati pun menjadi tenang dan tentram.
Sebaliknya, tidak memahami syari’at Alloh dan Rosul-Nya akan menciptakan kegelapan hati dan kemudhorotan dunia-akhirat.

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (kepada semua manusia hai Muhammad):
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati).
Anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai).
Saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu).
Isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu).
Kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu).
Harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya).
Perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai.
(Semuanya) lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya.
Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu.
Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi).
Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (ya’ni tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).” (QS. At-Taubah: 24).

Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 24 diatas telah mewajibkan seorang hamba untuk menempatkan kecintaanya kepada Alloh dan Rosul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain.
Bahkan Alloh swt memurkai siapa saja yang lebih mencintai segala sesuatu melebihi kecintaannya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Sehingga cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan faham agama islam, karena cinta tersebut telah diwajibkan oleh Alloh swt.

Dalam amal ubudiyah, cinta “mahbbah” menempati derajat yang paling tinggi. Nabi Muhammad saw menjajikan sorga kepada kita yang mencintainya, beliau saw bersabda:
“Barang siapa yang mengikuti sunnahku, berarti dia cinta kepadaku, dan barang siapa yang cinta kepadaku, maka akan masuk sorga bersamaku.”

Alloh swt juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ
“Dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul.”
(9:120)
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”
(2:165)

BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

Nabi Muhammad saw mengarahkan agar mencintai sesuatu karena Alloh dan membenci juga karena Alloh. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, juga membenci apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya benci.
Tujuan Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Alloh dan Rosul-Nya agar mendapat rohmat kasih sayang dan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abdulloh bin ‘Abbas ra, Nabi bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.

“Tali keimanan yang paling kokoh adalah; berloyal karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HR. Thobroni).

Dalam sabda beliau saw yang lain:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

“Siapa yang cinta karena Alloh, benci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menahan pemberian karena Alloh, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud).

Nabi saw bersabda:
“Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; 1. Apabila Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya (dunia dan isinya), 2. Mencintai seseorang hanya karena Alloh, dan 3. Benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh, membela karena Alloh dan memusuhi karena Alloh, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Alloh dengan itu.
Dan seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun ia sholat dan puasanya banyak.”

Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya.
Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.

Nabi saw bersabda:
“seseorang bersama dengan siapa yang dicintainya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari sayyidina ‘Ali ra, Nabi saw bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan (dari alam kuburnya) bersama mereka.” (HR. Thobroni).

Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata:
“Ada seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat.
Ia berkata, “Kapankah kiamat itu .?”
Beliau saw menjawab:
“Apa yang sudah engkau siapakan untuknya .?”
Ia menjawab:
“Tidak ada, kecuali aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya.”
Lalu Nabi saw bersabda:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”
Anas bin Malik ra berkata:
“Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rosululloh:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas melanjutkan:
“Sungguh kau mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

CINTA KEPADA NABI DAN PARA ULAMA’

Alloh swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki (para Nabi), yang Kami beri wahyu kepada mereka,
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” – (QS.16:43).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi).

Meninggalnya seorang yang ‘alim akan menimbulkan bahaya bagi ummat, keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rohmat dan barokah dari Alloh swt, terlebih Rosululloh saw mengistilahkan para ulama’ dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Maka tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ALLOH swt kecuali melalui keta’atan kepada Rosululloh saw.
Dan tak ada jalan bagi kita untuk dapat dikatakan ta’at kepada ROSULULLOH saw kecuali melalui keta’atan kepada ULAMA’, kepada hamba-hamba Alloh -yang ahli dalam perkara al-Qur’an, as-Sunnah.

Lantas siapa kita ini, seandainya tak mengenal ulama atau senantiasa menjauh dari ulama dan enggan mendekatinya .?

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Jika mampu jadilah kamu orang berilmu
jika tidak mampu jadilah penuntut ilmu
jika tidak mampu jadilah pencinta ulama’
jika tidak mampu janganlah kamu membenci ulama’.”

Seorang ulama di era setelah sahabat, Ikrimah rohimahulloh mengatakan:
“Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena siapa yang menyakitinya, berarti dia telah menyakiti Rosululloh saw.
Sebab kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para Nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.”

MENGUNDANG KEHADIRAN MALAIKAT ROHMAT

Alloh swt menugaskan sebagian dari malaikatnya, bahkan yang termulia dari mereka para pemikul ‘Arsy, untuk memintakan ampunan bagi orang-orang beriman di muka bumi.

Alloh swt berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ العَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):
“Tuhan kami, rohmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mukmin : 7).

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللهَ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Alloh Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. As-Syuro : 5).

Istighfarnya para malaikat untuk kaum mukminin bukti bahwa malaikat lebih sayang kepada manusia daripada manusia kepada sesamanya. Bukan hanya istghfar, malaikat juga mendoakan kebaikan untuk mereka dengan rohmat, masuk sorga, dan agar dihindarkan dari keburukan-keburukan.

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn, yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana,” – (QS. Al-Mukmin : 8).

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu (hari kiamat), maka sesungguhnya, telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar’.” – (QS. Al-Mukmin : 9).

Berbeda dengan manusia, seringnya, sebagian manusia bermusuhan kepada sebagian yang lain. Sebagian mendo’akan keburukan atas lainnya. Bahkan, terkadang mendo’akan keburukan dirinya, istrinya, anaknya dan kadang juga orang tuanya ..

Maka tentunya, istighfar para malaikat memiliki keutamaan yang lebih tinggi daripada istighfar manusia untuk sesamanya. Istighfar para malaikat lebih kuat dikabulkan karena mereka mendo’akan dari tempat yang tidak dilihat dan tidak diketahui manusia yang dido’akannya. Dan do’a semaca ini, dalam hadits shohih, lebih kuat dikabulkan.

Dari Abu Darda’ ra, Nabi saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Alloh.
Di atas kepala orang muslim yang berdo’a tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya.
Setiap kali orang muslim itu mendo’akan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata:
“Amin (semoga Alloh mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim).

Ini tidak lain, karena malaikat melihat dosa-dosa yang dilakukan manusia dan mereka juga tahu dampak buruk akibat dari dosa-dosa tersebut. Sehingga istighfar untuk kaum mukminin yang lebih dahulu mereka lakukan, kemudian do’a-do’a kebaikan untuk mereka.

Di antara sebab supaya mendapat istghfar dari malaikat adalah menjenguk saudaranya sesama muslim. Bukan satu atau dua malaikat, tapi puluhan ribu malaikat memintakan ampunan untuknya.

Dari Ali bin Abi Tholib ra, Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendo’akannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di sorga.” (HR. Tirmidzi).

Amalan ringan tapi memiliki keutamaan yang sangat luar biasa besar, ganjaran yang diperoleh ini karena seseorang telah menunjukkan sifat rohmat (kasih sayang) kepada sesamanya sehingga Alloh juga mencurahkan rohmat-Nya kepadanya.

Hal yang demikian itu juga telah ditegaskan Rosululloh saw, dalam sabdanya :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أهل الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهل السَّمَاء
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rohman (Alloh swt).
Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penghuni langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Ahmad).

Maka orang yang banyak memintakan ampunan ;
أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
dan mendo’akan kebaikan untuk saudara muslim yang seiman dengan menyarkan sholawat kepada Nabi Muhammad saw ;
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَيْنَا أُمَّتِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
tentu akan lebih banyak mendapatkan istighfar dan do’a kebaikan dari malaikat-malaikat Alloh swt.

Bahkan do’a seorang muslim untuk saudaranya tanpa diketahuinya tidak hanya diaminkan oleh Malaikat yang ada di sisinya. Alloh swt juga telah menyiapkan pahala melalui setiap mukmin yang dido’akan ampunan olehnya. Rosululloh saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk setiap orang beriman laki-laki dan perempuan maka Alloh mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.” (HR. Thobroni).

Masih pelit dan kikir untuk memberikan kebaikan kepada suadara muslim yang seiman .?
Masih enggan memintakan ampunan atas kesalahan-kesalahan saudara seislam dan seiman .?
Pikirkanlah ..!! dan Renungkanlah ….!!!!

ARTI NAMA AHMAD

Alloh swt berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ ۚ يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

”Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalowat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-Nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as telah memberi kabar kepada ummatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam.

Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Alloh swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Isra’il, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS. As-Shof : 6).

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Alloh swt yang tentunya ada ma’na yang terkandung didalamnya.

Nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filosof tentang adanya gerakan dalam sholat.
Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri.
Huruf cha’ (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk.
Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud.
Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat sholat.

Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighot mubalaghoh (bentuk yang mempunyai arti banyak), dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad saw, nama dari Nabi Muhammad saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt. 

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)”
Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Alloh swt yang sangat unik.
Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Alloh swt dalam diri Nabi Muhammad saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta.
Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Alloh swt dengan sang kekasihnya yang mutlak.
Dengan kata lain, Nabi Muhammad saw merupakan mediator antara makhluk dengan Kholiq (Yang Maha Pencipta). 

Menurut Iqbal seorang ulama pakistan mengatakan:
“Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Alloh swt dalam kehidupan manusia. Dialah “dhohir”nya Alloh; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Kholiqnya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran Alloh dalam diri anda, hadirkan Muhammad ketika anda ingin disapa oleh Alloh, sapalah Muhammad ketika anda ingin dicintai Alloh, cintailah Muhammad “Apabila kalian cinta kepada Alloh maka ikutilah aku (Muhammad) Alloh akan cinta kepada kalian.”
Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Seperti kata Nabi saw: “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad saw, Rosululloh saw juga mempunyai nama Muhammad saw. Nama ini pemberian dari Alloh swt yang dibisikkan malaikat Jibril as kepada Aminah ibunda Nabi saw.

Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Ali Maksum Krapyak Yogya dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rosululloh saw dengan membaca sholawat untuknya.

Nama Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  cha’ (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

Selain itu, ada juga ma’na-ma’na yang tersembunyi lagi. Yaitu:
Huruf mim menunjukan kata “Minnah” (anugerah). Alloh swt memberi anugerah kepada Rosululloh saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya.
Huruf cha’ menunjukan kata “Hubbun” (cinta). Alloh swt mencintai Nabi Muhammad saw dan ummatnya melebihi cintanya kepada Nabi dan Rosul yang lain beserta ummatnya.
Huruf mim yang kedua menunjukan kata “Maghfiroh” (ampunan). Alloh swt mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk ummatnya, maka  Alloh swt akan mengampuni dosa-dosa ummat Nabi Muhammad saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Alloh swt.
Huruf dal menunjukan kata “Dawaamuddin” (abadinya agama Islam). Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.

Kesimpulan dari semua ini, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah sholat. Sebab, sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-Nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw.
Jika seseorang sudah menjalankan sholat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan anugrah rohmat dan dimasukkannya oleh Alloh swt ke dalam sorga-Nya. Karena ummat Nabi Muhammad saw yang masuk ke sorga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian .?
Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka.

IKHLAS SHOLAT

Sebuah pengalaman Spiritual dalam iman seorang guru besar mengatakan bahwasanya di dalam setiap ibadah yang kita kerjakan harus bisa menyentuh dan memasuki dimensi spritual. Dimensi spiritual itu tidak lain adalah ihsan:
“An ta’budalloh ka annaka taroohu waillam yakun taroohu fainnahu yarooka”. Kita beribadah kepada Alloh seakan kita melihat-Nya, apabila kita tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita”.

Ulama-ulama dahulu sering berdebat seputar masalah “MELIHAT ALLOH” di akhirat nanti.
Menurut paham sebagian besar ulama, di akhirat nanti Alloh swt dapat dilihat, “yang tak dapat terlihat itu hanyalah yang tak mempunyai wujud”. Yang mempunyai wujud mesti dapat dilihat. Sedangkan Alloh swt “mempunyai wujud”.

Sementara argumen ulama yang lain, “Alloh swt tidak dapat dilihat” Argumen mereka, dikatakan “Alloh swt tak mengambil tempat dan dengan demikian tidak dapat dilihat karena yang dapat dilihat hanya yang mengambil tempat.”

Kedua paham yang saling bertolak belakang ini pun memakai dalil-dalil Al-Qur’an untuk menegaskan pendapatnya, di antaranya surat al-Qiyamah ayat 22-23 :
“Wajah-wajah orang mukmin pada waktu itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka nadhirah (melihat).”  
Menurut paham ulama yang pertama kata nadhirah dalam ayat itu harus diartikan melihat, bukan berpikir, sebab akhirat bukan tempat berpikir. Kata itu juga tidak bisa diartikan menunggu karena wujuh, ya’ni muka atau wajah, tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia.
Sedangkan menurut ulama kedua kata nadhoro harus di artikan menunggu. “nadhora bukan berarti ru’yah (Arab : Melihat),”
Itulah teolog-teolog dahulu, mereka punya argumen masing-masing untuk meneguhkan keyakinannya.

Tapi, yang lebih penting sebenarnya bukan bisa atau tidak bisanya kita melihat Tuhan di akhirat nanti, melainkan bagaimana di dalam setiap beribadah kita seakan-akan ada di hadapan-Nya, “melihat”-Nya, atau meyakini bahwa kita “dilihat-Nya”, supaya ibadah kita benar-benar bisa memasuki satu pengalaman spritual yang indah dan menakjubkan.

Misalnya, ketika kita berdzikir atau sholat. 
Sholat yang ihsan bisa membawa kita pada satu pengalaman yang sepenuhnya terjadi komunikasi dan dialog langsung dengan Alloh swt, yang pada akhirnya akan membekas pada hati dan akal pikiran kita, dan akan memberikan dorongan untuk mencegah dan menjauhi perbuatan keji dan munkar.

Sholat tanpa pengalaman spritual di dalamnya hanya akan menggugurkan kewajiban kita semata, tidak akan menjadi satu perisai untuk menghadapi perbuatan keji dan munkar. Sholat yang tidak mencapai ihsan tidak akan menimbulkan satu komitmen moral dan tindakan aktual dalam memperjuangkan kebenaran. 
Salah besar jika ada orang yang mengatakan bahwa sholat itu tidak penting .. Tetapi SHOLAT SANGATLAH PENTING.

Kata mereka yang lupa, “Yang penting adalah perjuangan membela golongan orang-orang kaum kecil,” Justru dengan sholat yang ihsan akan membimbing kita dalam perjuangan itu, supaya tidak anarkis dan brutal, kita akan dituntun oleh NAFSUL-MUTHMAINNAH.

An-Nafs Al-Muthmainnah artinya Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa mengingat Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram karena senantiasa gemar berdekatan dengan Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam ketaatan kepada Alloh swt. Jiwa/nafsu yang tenang dan tentram baik ketika ditimpa musibah maupun mendapatkan ni’mat.

Jika mendapatkan musibah, ia ridho terhadap taqdir Alloh swt. Jika kehilangan sesuatu, ia tidak putus asa, dan jika ia mendapatkan ni’mat, ia tidak lupa daratan. Inilah jiwa/nafsu yang tenang dan tentram dalam iman. Tidak tergoyahkan oleh keragu-raguan dan syubhat. Jiwa/nafsu yang rindu untuk bertemu dengan Tuhannya. 
Dan inilah jiwa/nafsu yang ketika wafat dikatakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (QS Al-Fajr: 27-28)

Pengalaman Iman akan membawa seseorang pada perkenalan dengan Alloh swt secara pribadi. Ia mengenal Alloh swt karena imannya sanggup membawanya pada “perjumpaan” dengan-Nya. Yang namanya pengalaman pastinya objektif, pengalaman iman pun seperti itu adanya, namun terjadi secara spiritual.

DUNIA SUFI

Puncak dari perjalanan iman yang bersifat spiritual yang ada di dunia yang fana ini adalah Pengalaman “PERJALANAN” Isro’ Mi’roj nya Nabi kita Muhammad saw dan kembalinya beliau saw ke dunia yang brutal ini. Itulah Rosul kita.

Kita tahu bahwa tujuan kita hidup di dunia ini ingin bertemu dengan Alloh swt, namun Rosululloh saw berbeda beliau saw kembali lagi ke dunia untuk memberikan pencerahan bagi umat manusia.
Seorang Sufi mengatan:
“Demi Alloh, seandainya aku Muhammad saw, aku tidak ingin kembali lagi ke dunia karena sudah bertemu dengan Tuhan, sedangkan Tuhan adalah tujuan terakhir hidupku, mengapa ketika aku sampai ke puncak tujuanku aku harus kembali lagi ke dunia yang fana ini.”

Kembalinya Rosululloh saw ini pun bisa kita pahami dari bahasa-bahasa beliau saw. Bahasa-bahasa hadits ini tidak membuat kita bingung tujuh lapis. Berbeda dengan bahasa para sufi, “Aku adalah al-Haqq,” kata al-Halaj.
Para sufi begitu asyik di dunianya yang telah “berjumpa” Alloh swt. Mereka mabuk dalam keindahan Alloh swt. Ketika mereka mabuk, mereka tidak mampu dan bisa kembali lagi ke dunia manusia; dalam pema’naan bahasa, mereka tak turun ke bahasa manusia biasa seperti kita.

Rosululloh tidak akan membingungkan umatnya.
Bahkan Beliau swt sendiri berkata dalam hadits shohih, “Saya bukan Tuhan dan Anak Tuhan”.
Kembalinya Rosululloh saw. ke dunia setelah bertemu dengan Tuhan mengisyaratkan bahwa pengalaman spiritual kita pun harus kembali membumi dalam kehidupan sehari-hari dengan terus menerus tak kenal lelah memperjuangkan kebajikan dan kebenaran.

Wallohu a’lam bish-showab.

MENGUNJUNGI ROSULULLOH SAW

Dari Ibnu Umar ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa yang datang menziarahi aku, niscaya aku punya hak atas Alloh sebagai pemberi syafa’at.”
(HR. Thobroni)

Alloh swt berfirman:

أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri (berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian , pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Dari Ibnu Umar ra Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menziarahiku sepeninggalku, seakan-akan ia menziarahi aku semasa aku masih hidup.”
(HR. Thobroni)

Beliau saw juga bersabda:
“Kehidupanku baik untuk kamu, maka bila aku wafat, wafatku baik untuk kamu, dipaparkan kepadaku amal-amal kamu, kalau kutemukan amal itu baik, aku memuji Alloh, dan bila buruk, aku beristighfar memohonkan pengampunan untuk kamu.”
(HR. Ibnu Sa’ad melalui Bakar bin Abdillah)

Dengan demikian permohonan ampunan Rosul saw kepada Alloh swt, bagi ummatnya ada, dan berlanjut terus, maka yang di tuntut dari diri kita yang hidup setelah masa Rosul saw, tidak lain kecuali menziarahi “Datang kepada beliau” dengan memohon ampun kepada Alloh swt dan mengikuti sunnah yang beliau saw tinggalkan buat kita seperti yang beliau saw nyatakan melalui Abu Huroiroh bahwa Rosululloh saw bersabda:
“Aku tinggalkan buat kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Alloh dan sunnahku, keduanya tidak terpisah hingga keduanya menemuiku di sorga.”
(HR. Al-Hakim)

Mengapa permohonan ampun Rosul saw kita butuhkan .?
1. Pelanggaran pada hukum yang telah ditetapkan Rosul saw mengandung pelecehan terhadap beliau saw, sehingga mereka harus memohon maaf kepada beliau saw dan beliau harus memaafkan.
2. Mereka yang melanggar itu tidak rela pada hukum yang ditetapkan Rosul saw, dan ini mengandung pembangkangan.
Karena itu taubat mereka harus disertai sesuatu yang membuktikan penyesalan mereka atas pembangkangan tersebut, maka mereka harus datang kepada Rosul saw.
3. Boleh jadi taubat mereka tidak sempurna atau mengandung kekurangan, maka dengan bergabungnya taubat mereka dengan permohonan ampun Rosul saw buat mereka, diharapkan mereka dapat memperoleh pengampunan Alloh swt.

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rosululloh saw menegaskan dengan sabdanya:
“Barang siapa memiliki kemudahan, namun tidak menziarahi aku, berarti ia sengaja menjauhi aku.”
(HR. Ibnu Hibban, Imam Malik, Ibnu ‘Adi, Imam ad-Daruquthni)

KISAH BADUWI BERZIARAH KE KUBUR NABI SAW

Sepeninggal Rosululloh saw , seorang Baduwi datang ke Madinah, ia bermaksud menjumpai beliau saw.
Sesampainya di Madinah, ia bertanya kepada sahabat yg dijumpainya, di mana ia bisa bertemu Rosululloh saw.
Tapi dikatakan kepadanya bahwa Rosululloh saw telah wafat, dn di makamkan di samping masjid , di kamar Sayyidati ‘Aisyah ra.

Mendengar berita tersebut, Badwi itu sangat bersedih, air matanya bercucuran, karena tidak sempat berjumpa dgn Rosululloh saw.
Segera ia menuju makam, di hadapan makam beliau saw, ia duduk bersimpuh, mengadukan dn mengutarakan kegelisahan dn kegundahan hatinya.
Dgn linangan air mata, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, engkau Rosul pilihan, makhluk paling mulia di sisi Alloh.
Aku datang untuk berjumpa denganmu untuk mengadukan segala penyesalanku dan kegundahan hatiku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku, namun engkau telah pergi meninggalkan kami.
Aku datang karena Alloh telah berfirman melalui lisanmu yang suci:
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri
(berpaling dari tuntunan Alloh , atau mencari hukum diluar hukum yang Alloh tetapkan) kemudian masing-masing datang kepada dirimu secara tulus , lalu memohon ampun kepada Alloh dengan sepenuh hati , dan pastilah Rosul pun memohonkan ampun kepada Alloh untuk mereka atas kesalahan mereka.
Maka tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan demikian, pastilah Alloh akan mengampuni mereka.”
’(Qs. An-Nisa’ : 64)

Kini aku datang kepadamu untuk mengadukan halku, penyesalanku atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat di masa laluku, agar engkau mohonkan ampunan kepada Alloh bagiku.”

Setelah mengadukan segala keluh kesah yg ada di hatinya, Badwi itu pun meninggalkan makam Rosululloh saw.

Ketika itu di Masjid Nabawi ada seorang sahabat Rosululloh saw tengah tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi Nabi saw.
Beliau saw bersabda:
“Wahai Fulan, bangunlah dan kejarlah orang yang tadi datang kepadaku.
Berikan kabar gembira kepadanya bahwa Alloh telah mendengar permohonannya dan Alloh telah mengampuninya atas segala kesalahan dan dosanya.”

Sahabat tadi terbangun seketika itu juga, tanpa berpikir panjang ia pun segera mengejar orang yang dikatakan Rosululloh saw dalam mimpinya.
Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud pun terlihat olehnya, sahabat itu memanggilnya dan menceritakan apa yang dipesankan Rosululloh saw dalam mimpinya.

ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW
Oleh As-Syekh KH Ali Ma’shum krapyak.

Nabi saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ

“Barang siapa menulis sholawat kepadaku dalam sebuah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kepada Alloh pada orang itu selama namaku masih tertulis dalam buku itu.”

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

  
A.   PENDAHULUAN

          Pada suatu ketika Nabi Muhammad saw membaca ayat berisi keluhan Nabi Isa as sebagai berikut :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚ  وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“ Jika Ebgkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Maidah : 118).

Dan beliau membaca lagi ayat berisi keluhan Nabi Ibrohim as sebagai berikut :

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, barang siapa yang mengikutiku maka ia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
(QS. Ibrohim : 36)

Lalu Nabi Muhammad saw berdo’a, mengangkat kedua tangannya dan bersabda :

اَلّلهُمَّ أُمَّتِي …

“Ya Alloh .. Umatku ………… “

Beliau bersujud dan menangis , memohon dikabulkan do’anya ..

          Selanjutnya. Alloh Yang Maha Mendengar do’a keluhan itu mengutus malaikat Jibril as untuk menanyakan apa sebab Nabi Muhammad saw menangis.
Setelah Malaikat Jibril as melakukan tugasnya, ia lalu melaporkan kembali kepada Alloh Ta’ala.
Lalu Alloh memerintahkan kembali Malaikat Jibril as untuk menyampaikan keputusan-Nya kepada Nabi sebagai berikut :

إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ
(رواه المسلم)

“Sesungguhnya Aku meluluskan kerelaanmu buat umatmu, dan Aku tidak menimpakan kejelekan atasmu.“
(Semua ini dari Hadts riwayat Imam Muslim)

          Melihat kisah tersebut kita mengetahui betapa besar tanggung jawab Nabi saw untuk menyelamatkan umatnya kaum Muslimin, dan betapa besar anugerah Alloh yang dilimpahkan kepada kita lantaran permohonan beliau saw itu.
           
Nabi Muhammad saw benar-benar agung jasanya buat kita bahkan amat sangat agung ..
Tidakkah kita perlu membalas jasanya itu .?
Dalam batas yang paling kecil saja, misalnya ;
Seberapa besar kecintaan (mahabbah) kita  kepada Nabi Muhammad saw .?
           
Mahabbah kepada Nabi saw adalah pertanda keimanan. Nabi saw pernah mendo’akan Harmalah bin Yazid yang datang menghadapnya, sebagai berikut :

اَلّلهُمَّ اجْعَلْ لَّهُ لِسَانًا صَادِقًا وَقَلْبًا شَاكِرًا وَاْرزُقْهُ حُبِّي وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي
َ (رواه الطبراني)

“Ya Alloh jadikanlah lisan Harmalah berkata jujur, hatinya syukur, dan anugerahilah kecintaannya kepadaku dan kepada sekalian orang yang mencintaiku ………… “
(HR. Ath-Thobroni)

Dari hadits ini bisa kita petik suatu hikamah, yaitu betapa besarnya nilai mahabbah kepada Nabi saw.

          Mahabbah atau rasa cinta bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan tetapi yang terpenting adalah sikap hati.
Setelah hati cinta, maka lisan akan menyatakan dan dengan sendirinya perbuatan anggota badan akan siap mengabdi dan berkorban.
Apabila kita benar-benar mencintai Nabi saw, maka hati kita selalu tertambat pada beliau saw, lisan kita selalu menyebut asma beliau saw, dan kita kerahkan diri kita untuk memenuhi petunjuk beliau saw.

          Tuntutan rasa cinta murni selalu ingin duduk berdampingan, melihat beliau saw dan mengunjungi kediaman beliau saw. Seperti inilah cinta yang sejati.
Hal ini tidak beda dari sebait sya’ir yang di gubah oleh seseorang yang mencintai nona leyla sebagai berikut :

أَرَاْلأَرْضَ تُطْوَى لِي وَ يَدْ نُوْ بَعِيْدُهَا
وَكُنْتُ إِذَا مَا جِئْتُ ليلي أَزُرُوْهَا

“Dan jika aku berkunjung kepada Leyla  Kurasakan sang bumi terlipat kecil, Jarak jauh terasa dekat.“

          Dengan demikian kita bisa mengukur seberapa kadar Mahabbah kita kepada Nabi Muhammad saw. .?
Berapa menit sehari hati kita tertambat kepada Nabi saw. .?
Berapa puluh kali sehari lisan kita membaca Sholawat Nabi saw. .?
Dan berapa banyak tuntunan Nabi saw telah kita kerjakan. .?
Demikian pula, berapa kali kita telah mengunjungi Nabi saw –tempat kediaman makam Nabi saw– .?
Atau berapa kali kita telah niat untuk ziarah kepada Nabi saw, dan seterusnya. .?

B.   ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

          Ziarah makam Nabi saw adalah salah satu bentuk ekspresi rasa mahabbah kepada beliau saw. Selain itu, Nabi saw sendiri telah bersabda :

ّ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِى بَعْدَ وَفَاِتي فَكَأنَّمَا زَارَنىِ فِى حَيَاتى
(رواه البيهقى والطبراني وغيرهما)

“Barang siapa pergi untuk berhaji lalu ziarah ke kuburku setelah aku mati, maka bagaikan mengunjungiku ketika aku masih hidup.“
( Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thobroni, dan lainnya )

مَنْ زَارَ قَبْرِى وجبت له شفِاعتى.   
(رواه البيهقى والدارقطنى)

“Barang siapa ziarah ke kuburku, maka pastilah mendapat syafa’atku.“
(Riwayat Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

مَنْ جَاءَنِى زَائِراً لَايَعْلَمُ حَاجَةً إِلاَّزِيَارَتِى كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.  
(رواه الطبراني والدارقطنى)

“Barang siapa datang ziarah kepadaku dan hanya itu saja keperluannya, maka kewajiban atasku untuk mensyafa’atinya di hari kiamat.“
(Riwayat Ath-Thobroni dan Ad-Daruquthni)

          Demikianlah tiga dalil hadits secara tegas menerangkan keutamaan ziarah ke makam Nabi saw.
Dalam Hadits berikut bisa kita ketahui adanya anjuran untuk kita melakukannya.

مَامِنْ أَحَدٍ مِنْ اُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِى فَلَيْسَ لَهُ عُدْرٌ
(رواه ابن النجار)

“Tidak seseorangpun dari umatku yang telah berkesempatan (untuk ziarah) kemudian tidak mau melakukan ziarah kepadaku, melainkan tiada lagi alasan baginya.“
(HR. Ibnu Najjar)

C.   KEUTAMAAN ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

          Dari Hadits di atas kita telah mengetahui bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad saw adalah sama utamanya dengan ziarah kepada Nabi saw sewaktu masih hidup.

          Dalam Hadits riwayat Al-Bukhori dan Muslim menyebutkan sebagai berikut :

لاَتُشَدُّالرَّجَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى 
(رواه البحاري ومسلم)

“Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga Masjid ;
Masjidil-Harom, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil-Aqsho.“
(HR. Imam Al-Bukhori dan Muslim)

          Hadits ini menegaskan bahwa ada tiga masjid yang mempunyai keutamaan. Selain yang tiga itu tingkat keutamaannya sama saja ; masjid besar terletak di kota besar dan dihuni oleh orang-orang besar, tingkat keutamaannya sama saja dengan masjid kecil di kota kecil  di bangun  dan di huni oleh orang-orang kecil.

1.    Masjidil-Harom di Makkah mempunyai keutamaan Sholat di dalamnya bernilai 100.000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungan nya sebagai Baitulloh dan disini pula terletak Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin.
3.    Masjid Nabawi mempunyai keutamaan Sholat didalamnya bernilai 1000 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid yang dibangun oleh Nabi saw, tempat beribadahnya Nabi saw, pusat pennyiaran Islam di hari-hari pertamanya, dan bahkan di situ pula Nabi saw dikuburkan. Jadi keutamaan yang besar yang dimiliki Masjid Nabawi adalah semata-mata karena diri Nabi saw. Nabi lah yang menjadi sumber keutamaan masjid tersebut. Kalau bukan karena Nabi saw ada disitu, maka niscaya sama saja dengan masjid-masjid yang lain.
Sekarang kita sudah mengetahui masjid Nabawi mempunyai keutamaan sebesar itu dikarenakan ada Nabi saw, hal ini berarti sumber keutamaannya adalah Nabi saw dan Masjid Nabawi tersebut dapat menimbulkan curahan rohmat dan berkah bagi orang yang mengunjunginya dan beribadah didalamnya.
3.    Masjidil-Aqsho di Palestina mempunyai keutamaan Sholat di dana bernilai 500 kali lipat. Keutamaan ini adalah merupakan pancaran dari keagungannya sebagai masjid tempat peribadatan para Nabi Bani Israil dan bahkan disini pula mereka disemayamkan.

Ada sautu pertanyaan dari sekelompok orang yang salah memahami dalil. Bahwa “Memang benar ziarah ke Masjid Nabawi akan memperoleh berkah, tetapi ziarah ke makam Nabi saw yang menjadi sumber berkah masjid tersebut justru tidak memperoleh berkah, dan bahkan dilarang melakukannya.“

Menurut pembaca risalah ini, benarkah logika kaum yang salah paham tersebut .?

Kami yakin, anda sepakat dengan kami dan bahwa logika sekelompok orang itu salah. Anak yang baru tingkat ibtidaiyyah / Sekolah Dasar pun akan mampu mwnunjukkan kesalahan logika tersebut.

Syaik Abu Said Al-Hammami seorang Ulama Al-Azhar Mesir menilai bahwa logika itu hanya mungkin diucapkan oleh :

المَجَانِيُن اْلَّذِيْنَ لاَيَعُوْنَ مَا يَقُوْلُوْنَ أَوْ يَقُوْلُهُ عَدَوُّالإِسْلاَمَ وَرَسُوْلِ اْلإِسْلاَمِ
“Orang-orang gila yang tidak paham lagi perkataannya sendiri atau perkataan itu dikemukakan oleh musuh Islam dan musuh Rosululloh“ *

D.   ADA YANG SALAH PAHAM

          Seperti telah kami singgung di atas ada sekelompok orang yang melarang untuk ziarah ke makam Nabi saw. Mereka berdalil pada hadits :

لاَتُشَدُّالرِّحَلُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةٍ مَسَاجِدَ : المَسْجِدِ الحَرَامِ  وَمَسْجِِدِي هَذَا، والمَسْجِدِاْلأَقْصَى  (رواه البحاري ومسلم
“ Tidak perlu mengadakan pemberangkatan kecuali untuk menuju tiga ( 3 ) Masjid ; Masjidil-Harom, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjidil-Aqsho“
(Riwayat Imam Al-Bukhori dan Muslim)

Kami merasa aneh bin ajaib. Mengapa Hadits tersebut dikatakan menunjukkan adanya larangan ziarah ke makam Nabi .? Uraian lebih lanjut dan lebih lengkap terlalu panjang di tulis disini. Kami persilahkan anda membaca buku kami yaitu:
“Hujjatu Ahlissunnah wal Jama’ah“ halaman 27 – 35.

PUJIAN ALLOH SWT KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt memuji Nabi Muhammad saw dengan berfirman:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al-Insyiroh : 4)

Disamping itu Alloh juga menghibur Nabi Muhammad saw dengan memerintahkan kaum muslimin agar mentaati perintah beliau, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Muhammad).”
(QS. An-Nisa’ : 59).

Alloh swt sangat mengagungkan dan memuliakan Nabi Muhammad saw. dengan pujian yang tidak sesuatu pun akan dapat melampaui pujian-Nya, ini dinyatakan dalam firmannya:
إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS.Al-Qolam: 4)

Nabi Muhammad saw adalah sosok manusia yang dicipta secara khusus oleh Alloh swt. Ia dipilih dari seluruh makhluk untuk menjadi Nabi dan Rosul-Nya yang utama dan penghabisan. Ia diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak memiliki cacat atau cela sedikitpun.

Pada ayat yang lain, Alloh swt kembali memuji dan menyanjung sifat-sifatnya:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah:128).

Dari ayat diatas, Alloh swt menjelaskan bahwa Rosululloh saw mempunyai tenggang rasa yang tinggi dan kepedulian yang besar kepada semua umatnya.

Beliau saw merasa berat atas penderitaan yang kita alami. Beliau saw amat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kita semua. Beliau saw amat belas kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Tingginya pujian dan sanjungan Alloh swt bisa kita lihat dari pengujung ayat diatas, dimana Alloh swt menyematkan dua asma-Nya yang agung, Ar-Ro’uf (Dzat Yang Maha Pelimpah Kasih) dan Ar-Rohman (Dzat Yang Maha Pengasih) menjadi sifat pribadi Rosululloh saw.

Keagungan yang dimiliki oleh Rosululloh saw tidak hanya berupa keagungan budi pekerti tetapi juga keagungan fisik. Disamping aspek kejiwaannya yang sempurna, aspek fisik Rosululloh saw juga sempurna dan luar biasa. Tubuh beliau saw bercahaya, bersinar terang dan cerah. Beliau saw adalah nur yang sejati dan hakiki. Beliau saw adalah matahari dan juga bulan purnama yang selalu menyinari bumi.

Seorang sahabat, Hasan bin Tsabit melukiskan keagungan fisik Rosululloh dalam bait-bait syair berikut ini:

“Dan yang lebih indah dari engkau tidak pernah mata melihatnya sama sekali.
Dan yang lebih sempurna dari engkau tidak pernah ada wanita-wanita melahirkannya.
Engkau diciptakan lepas dari segala cela, seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana engkau kehendaki.”

Saam bin Hisyam bin Amr ra berkata kepada Sayyidah ‘Aisyah ra:
“Wahai Ummul Mukminin, beritahu aku tentang akhlak Rosululloh .?
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Apakah kamu membaca al-Qur’an .?”
Jawab Saam: “Iya”
Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“Sesungguhnya akhlak Rosululloh adalah al-Qur’an.” (HR. Ibnu Jarir, Abu Dawud dan Nasa’i)

Maha Suci Alloh dari sifat tercala yang telah memuji Rosul-Nya Nabi Muhammad saw, dengan pujian keagungan pribadinya.
Bagaimana mungkin seorang manusia dapat memuji Aklak beliau saw melampaui pujian Alloh swt .?
Bagaiman mungkin manusia dapat menguraikan pujian yang melebihi uraian al-Qur’an sebagai akhlak Nabi Muhammad saw .?

Al-Bushiri dalam Burdah bersya’ir:
“Dialah yang sempurna jiwa dan raganya, kemudian dipilih oleh Sang Pencipta makhluk sebagai Kekasih-Nya.
Tidak ada yang menandingi keindahan dan keelokannya.
Dia tidak ada duanya.
Mutiara keindahan yang ada padanya tidak pernah dimiliki siapapun.”

Sementara itu Sultan Abdul Hamid Khan bin Sultan Ahmad Khan menggubah syair berikut ini:
“(Nabi Muhammad saw) dialah segala pemilik keindahan.
Alloh swt yang menciptakannya.
Orang yang seperti dia tidak akan aku temukan di seluruh makhluk.”

Keagungan Rosululloh selain diakui oleh para sahabat dan seluruh umat muslim juga diakui oleh orang-orang non muslim, misalnya:

George Bernard Shaw (1856-1950): “Pribadi Muhammad (saw) sangat agung, aku mengaguminya dan aku penganut pandangan hidupnya. Sekiranya Nabi Muhammad (saw) dibangunkan di abad ini, niscaya dunia ini terhindar dari kesulitan dan bencana, dan manusia akan hidup aman dan tentram.”
(Riwayat Kehidupan Nabi besar Muhammad saw, Al-Hamid Al-Husaini).

Prof Montet:
“Ia (Nabi Muhammad saw) seorang mulia budi pekertinya, baik pergaulannya, manis tutur katanya, adil pertimbangannya, benar ucapannya dan serasi perbuatan dan perkataannya.”
(Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Moenawar Chalil).

Annie Bessant (1847-1933) dalam The Life and Teachings of Muhammad:
“Mustahil bagi siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad, hanya akan mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau (saw) adalah seorang Nabi terbesar dari Sang Pencipta.”
(Wawasan al-Qur’an, M. Quraish Shihab).

Michael H.Hart dalam bukunya yang berjudul The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History menempatkan Rosululloh saw pada urutan pertama diantara tokoh-tokoh dunia yang paling berpengaruh:
“Dialah (saw) satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik dititik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal dari keluarga sederhana, Muhammad (saw) menegakkan dan menyebarkan salah satu agama terbesar di dunia, agama Islam. Dan pada saat bersamaan, ia (saw) tampil sebagai pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini 13 abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta mengakar.”

Alloh swt telah mengagungkan beliau saw, memuji beliau saw, menghormati beliau saw dan memuliakan beliau saw. Nama beliau saw diangkat tinggi-tinggi. Didudukkannya beliau saw dalam kedudukan yang tinggi.
Beliau saw adalah mutiara diantara pasir yang bertebaran. Beliau saw adalah permata di antara bebatuan berserakan.
Beliau saw memang manusia seperti kita, beliau saw makan, minum, menikah, pergi ke pasar, juga mengalami sakit dan seterusnya, tapi sejatinya beliau saw bukanlah manusia biasa, karena beliau saw Nabi dan Rosul. Beliau saw adalah manusia terbaik dan manusia pilihan diantara seluruh makhluk.

“Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Bentuk kecintaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad saw dapat diungkapkan dalam berbagai ekspresi. Salah satu yang populer yakni ekspresi melalui karya sastra atau syair. Gubahan syair, diyakini bisa lebih baik dalam mencoba menjelaskan kesucian Nabi Muhammad saw. Sebab, sebait syair bisa dipaparkan menjadi puluhan lembar penjelasan.

PARA PENYA’IR MASA SAHABAT RA

Pada zaman Nabi saw. terdapat banyak penya’ir yang terkenal dan hebat datang kepada Rosulalloh saw. dan mempersembahkan kepada beliau saw berhalaman-halaman sya’ir mereka yang memuji dan mengagungkan beliau saw.

Didalam sya’irnya menceritakan mengenai dakwah dan peperangan yang beliau saw. pimpin serta sya’ir mengenai para sahabat. Ini dibuktikan dengan banyaknya sya’ir yang dikutip di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain.

Penyair-penyair tekenal mengagung-agungkan Rosulalloh saw dihadapan beliau saw dan para sahabat, tidak dilarang oleh Rosulalloh saw. dan tidak ada para sahabat yang mencela atau mengatakan hal tersebut berlebih-lebihan (ghuluw) dan sebagainya.

Rosululloh saw. amat menyenangi sya’ir yang indah, beliau saw bersabda:
“Terdapat hikmah didalam syair.”
(HR. Bukhori)

Paman Nabi saw al-‘Abbas ra mengarang sya’ir memuji kelahiran Nabi saw. diantara bait terjemahannya sebagai berikut:
“Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran cahaya sinar jalan yang terpimpin.”
(Imam as-Suyuti dalam Husnal-Maqosid dan Ibnu Katsir dalam kitab Maulid : 30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).

Ibnu Katsir menerangkan didalam kitabnya bahwa diantara para sahabat ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. memuji nama dan nasabnya serta membaca sya’ir mengenai diri beliau saw semasa peperangan Hunain untuk menambah semangat para sahabat ra dan menakutkan para musuh.

Pada hari itu beliau saw berkata:
“Aku adalah Rosululloh ..!
Ini bukanlah dusta.
Aku anak ‘Abdul Mutholib.”

Beliau saw. juga sering berkata:
“Akulah ash-habul-yamin yang terkemuka
Akulah khoirus-sabiqin
Akulah anak Adam yang paling bertaqwa
Dan paling mulia di sisi Alloh
Dan aku tidak sombong ..”
(Dalam Syarhul-Mawahib 1:62. dan (HR. At-Thobroni dan Al-Baihaqi didalam Dala’ilun Nubuwwah).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur, dan aku adalah orang pertama diberi syafa’at dan orang pertama pemberi syafa’at.”
(HR. Muslim dan Ahmad).

“Aku adalah sayyid semua manusia di hari kiamat.”
(HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

“Aku adalah sayyid (orang yang paling mulia) anak Adam di hari Kiamat nanti.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

“Aku adalah penghulu putra Adam pada hari kiamat di tanganku terdapat Liwaaul-Hamdi/panji pujian dan aku tidak sombong.
Tidak seorang Nabi pun pada hari itu baik Adam dan yang lainnya terkecuali dibawah naungan panji-panjiku dan aku adalah orang pertama yang keluar dari kubur dan aku tidak sombong.”
(HR. Tirmidzi).

Masih banyak lagi kata-kata beliau saw. untuk dirinya. Kalau pujian-pujian ini semuanya dilarang maka tidak akan diucapkan dari lisan orang yang paling taqwa dan mulia Rosulalloh saw. serta dari lisan para sahabat yang ditujukan kepada beliau saw.

Hadits-hadits yang meriwayatkan pernyataan bahwa Rosulalloh saw sendiri yang menerangkan betapa mulia dan tingginya kedudukan beliau saw. disisi Alloh swt, itu tidak lain agar kita kaum muslimin dapat membedakan serta mengakui bahwa Alloh swt memberi kedudukan kepada Rosulalloh saw. paling tinggi dan mulia daripada makhluk-makhluk Alloh swt lainnya, dan sabda beliau tersebut sesuai dengan firman Alloh swt untuk beliau saw.
Dengan demikian kita tidak boleh menyamakan kedudukan dan kemuliaan beliau saw.dengan manusia biasa .!

Hasan bin Tsabit ia mendendangkan sya’ir yang bunyinya antara lain :
“Andalah (Rosulalloh saw) makhluk suci pilihan Alloh…
Andalah (Rosululloh saw) seorang Nabi dan keturunan terbaik Adam, keagungannya bagaikan ombak samudra… dan seterusnya…”
Beliau ra. sering melagukan dan membacakan sya’ir-sya’irnya didepan Sayyidul Mursalin Muhammad saw. dan didepan para sahabat beliau ra, dan tidak ada satupun yang mencela atau mengatakan berlebih-lebihan (ghuluw).

Tertera dibatu nisan Hasan ibnu Tsabit beliau menulis mengenai Nabi saw.:
“Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan didalam diriku, Aku hanya seorang yang telah hilang segala derita rasa,
Aku tidak akan berhenti daripada memujinya (nabi saw.), karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam sorga bersama-sama ‘Yang Terpilih’, yang daripadanya aku meng- harapkan syafa’at, dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu”.

Menurut riwayat yang berasal dari Abu Bakar Ibnul Anbari, ketika Ka’ab bin Zuhair dalam mendendangkan sya’ir pujiannya sampai kepada beliau saw.
“(Muhammad saw adalah) sinar cahaya yang menerangi dunia dan beliau laksana pedang Alloh yang ampuh terhunus. Sebagai tanda kegembiraan beliau saw., maka beliau saw menanggalkan kain burdahnya (kain penutup punggung) dan diberikan pada Ka’ab. Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pada masa kekuasaannya berusaha membeli burdah itu dari Ka’ab dengan harga 10.000 ribiu dirham, tetapi Ka’ab menolaknya. Setelah Ka’ab wafat, Mu’awiyyah membeli burdah pusaka Nabi saw. itu dari ahli waris Ka’ab dengan harga 20.000 ribu dirham.”

Banyak sekali hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi saw. tentang bagaimana mereka memuliakan dan mengagungkan Nabi saw. seperti Amr bin ‘Ash ra, Anas bin Malik ra, Usamah bin Syarik ra dan lain-lain. Semua pujian dan syair-syair ini tidak dilarang oleh beliau saw. Juga syair-syair tersebut boleh dilagukan dan diiringi dengan bermain gendang.

Seorang ahli hadits, Ibnu ‘Abbad telah memberikan fatwa tentang hadits Rosulalloh saw:
“Seorang wanita telah datang menemui Nabi saw diwaktu beliau saw. baru pulang dari medan peperangan, dan wanita itupun berkata:
“Ya Rosulalloh, aku telah bernadzar jika sekiranya, Alloh menghantarkan engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendang disebelahmu.”
Nabi saw pun bersabda:
“Tunaikanlah nadzarmu.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Dari Sayyidati ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw, telah membenarkannya untuk mengundang dua orang perempuan untuk menyanyi pada hari Raya, beliau saw memberitahu Abu Bakar ra:
“Biarkan mereka menyanyi karena untuk setiap ummat ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhori dan Muslim).

CAHAYA NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil perjanjian dari para nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”
Alloh berfirman:
“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu .?”
Mereka menjawab: “Kami mengakui”
Alloh berfirman:
“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”  
(QS. Ali Imron: 81).

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Aku adalah Sayyid (Pemimpin) manusia di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

‘Ali ibn Abu Tholib ra dan Ibn ‘Abbas ra keduanya meriwayatkan bahawa Nabi saw bersabda:
“Alloh tidak pernah mengutus seorang Nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad saw.
Seandainya Muhammad saw diutus di masa hidup Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau dan mendukung beliau dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.”

Diriwayatkan bahawa ketika Alloh swt menciptakan Nur Nabi-Nabi, Alloh swt memerintahkan kepada mereka untuk memandang pada Nur Nabi Muhammad saw, lalu mereka melihat Nur beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Alloh swt membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata:
“Wahai Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya .?”
Alloh swt berfirman:
“Ini adalah cahaya dari Muhammad ibnu ‘Abdulloh; jika kalian beriman padanya akan Aku jadikan kalian sebagai Nabi-Nabi.”
Mereka menjawab:
“Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.”
Alloh swt berfirman:
“Apakah Aku menjadi saksimu .?”
Mereka menjawab: “Ya..”
Alloh swt berfirman:
“Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai pengikat dirimu .?”
Mereka menjawab: “Kami setuju..”
Alloh swt berfirman:
“Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”

Ma’na dari kalimat “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.” bahwa janji Nabi-Nabi yang telah disepakati bersama itu telah dipersaksikan oleh masing-masing pihak, dan Alloh swt menjadi saksi pula atas ikrar mereka itu.
Disamping itu apabila terkemudian diutusnya mereka di dunia, dia yang telah mengambil perjanjian dengan Alloh swt, memberitahukan kepada ummatnya bahwa bilamana datang seorang Rosul yang bernama Ahmad (Muhammad) membenarkan kitab dan hikmah yang ada padanya, mereka akan beriman dengan dia dan akan menolongnya, mereka itu akan mempercayainya, meskipun mereka sendiri telah diberi Al-Kitab dan diberi pula hikmah, mereka tetap akan mempercayai dan mendukungnya.
Hal itu disebabkan karena maksud dari diutusnya Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul itu adalah satu. Yaitu menyampaikan ajaran Alloh swt. Oleh karena itu para Nabi dan Rosul itu harus menguatkan tolong-menolong.

Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi mengatakan:
“Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi saw dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-Nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam as hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau saw. Jadi, sabda Nabi Muhammad saw:
“Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia”
bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya.”

Hal ini dijelaskan lebih jauh oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi:
Maysaro al-Dhobbi ra berkata bahawa ia bertanya pada Nabi saw:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau saw menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Berpijak dari hal ini, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isro’ Mi’roj, saat mana para Nabi melakukan sholat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau saw.”

As-Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.”

Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi saw bersabda:
“Aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”

Dalam Shohih Muslim, Nabi saw bersabda bahwa Alloh swt telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan 1 hari di sisi Alloh adalah 50.000. tahun dunia) sebelum Dia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Ummul-Kitab (induk Kitab), bahawa Nabi Muhammad saw adalah Penutup para Nabi.

Demikianlah Alloh swt telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi Muhammad saw sebelum penciptaan Nabi Adam as, bahkan sebelum menciptakan alam semesta. dan Alloh swt limpahkan barokah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad saw pada ‘Arsy-Nya, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Alloh (Yang Maha Agung lagi Yang Maha Kuasa yang menghimpun segala sifat terpuji) dan (demikian pula) malaikat-malaikat-Nya (yang merupakan mahluk-mahluk suci) bersholawat untuk Nabi.
(Alloh melimpahkan rohmat dan aneka anugrah kepada Nabi Muhammad saw, dan para malaikat bermohon kiranya dipertinggi lagi derajat dan dicurahkannya maghfiroh atas beliau saw, yang merupakan mahluk Alloh termulia dan paling banyak jasanya kepada ummat manusia dalam memperkenalkan Alloh swt, dan menunjukkan jalan lurus menuju kebahagia’an).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

(Karena itu) Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu (semua) untuknya (dengan memohon kepada Alloh swt, kiranya sholawat kepada beliau saw lebih dicurahkan lagi, dan di samping itu wahai orang-orang yang beriman, hindarkanlah dari beliau saw, segala aib dan kekurangan, serta sebut-sebutlah keistimewa’an dan jasa-jasa beliau) dan bersalamlah yang sempurna (ya’ni ucapkankanlah salam penghormatan kepada beliau dan penuhi tuntunan beliau)”
(QS. Al-Ahzab : 56).

Kata SHOLLU terambil dari kata SHOLAH yang berma’na “menyebut-nyebut yang baik serta ucapan yang mengandung kebajikan” dan tentu saja do’a dan curahan rohmat merupakan sebagian ma’nanya.

Sedangkan kata SALLIMU terambil dari kata SALAM yang terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf SIN LAM MIM ma’na dasar dari kata yang terangkai dari huruf-huruf ini adalah “luput dari kekurangan, kerusakan dan aib”.

Dari sini boleh jadi orang yang mengucapkan kata SELAMAT namun si pengucap tidak menginginkan terjadinya keselamatan atau tidak mengharap yang mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan, SALAM atau DAMAI semacam ini adalah ucapan salam atau damai PASIF.
Ada juga SALAM atau DAMAI POSITIF ketika anda mengucapkan selamat kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, maka ucapan itu adalah cermin dari keselamatan positif.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat, rohmat dan berkahmu pada pemimpin para utusan, pemimpin orang-orang yang bertaqwa dan pamungkas para Nabi.” (HR. Ibnu Majah)

Awan Tag