Archive for November, 2013

HARI JUM’AT

HARI JUM’AT

Jum’at adalah hari keenam dalam satu pekan. Kata Jumat diambil dari Bahasa Arab, Jumu’ah yang berarti ramai, yaitu ramai orang (kaum Muslim) di masjid karena pada hari Jumat umat Islam beribadah sholat Jum’at yang harus dilakukan di masjid secara berjamaah.

Nama lain lagi untuk hari ini adalah Sukro, yang diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti planet Venus, mirip dengan pengertian dalam bahasa-bahasa di Eropa.

Nama-nama hari dalam bahasa Indonesia semuanya diambil dari bahasa Arab, kecuali Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Minggu dari Domingo (Portugis). Sabtu dari “Sabbath”, hari ibadah Bani Israil.
1. Minggu = Ahad = Pertama = Hari Pertama
2. Senin = Itsnain = Dua = Hari Kedua
3. Selasa = Tsalatsa = Tiga = Hari Ketiga
4. Rabu = ‘Arba’ah = Empat = Hari Keempat
5. Kamis = Khomsah = Lima = Hari Kelima
6. Jumat = Jama’ah = Kumpulan = berkumpul di masjid/
7. Sabtu = Sabbat = hari ibadah Bani Israel.

Hari Jum’at adalah sayyidul ayyam, yaitu penghulu semua hari. Hari Jum’at mempunyai keistemewaan dibandingkan hari lain. Menurut sebagian riwayat, kata Jum’at diambil dari kata jama’a yang artinya “berkumpul”, yaitu hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rohmah.

Kata Jum’at juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan –sholat Jum’at. Itulah Asal Nama Hari Jumat.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya sholat Jum’at, yaitu sholat Zhuhur berjamaah pada hari Jum’at –dikenal juga dengan sebuta Jum’atan. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah.

Konon pada masa sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw , kaum Quraisy belum mengenal hari jum’at ..
Hari Jum’at dimasa Jahiliyah dikenal dengan nama الْعَرُوبَة al ‘arubah . karena mereka mengagungkannya , dan orang pertama yang menyebut al-‘arubah adalah seorang tokoh besar bangsa Arab bernama Ka’ab bin Luai ..
Pada hari ‘arubah itu , orang-orang Quraisy biasa berkumpul di tempatnya untuk mendengarkan apa saja yang disampaikan olehhnya ..
Suatu ketika ia ceramah seraya memberikan nasihat dan memerintahkan mereka untuk mengagungkan Tanah Haram , dan ia juga mengabarkan kepada mereka bahwa , dari sana akan ada Nabi yang diutus , dan ketika pada masanya sudah diutus kelak , ia memerintahkan kepada kaumnya untuk taat dan beriman kepada Nabi itu ..

Dari sini jelaslah bahwa hari Jum’at belum masyhur pada masa jahiliyah ..
Maka tepatlah yang diungkapkan oleh Ibnu Hazim rohimahulloh bahwa:
“Jum’at adalah nama Islami yang tidak dikenal pada masa jahiliyah. Pada masa itu, hari Jum’at dinamakan dengan al-‘arubah.”

HAKIKAT JUM’AT

Kata (الْجُمُْعَة) dalam bahasa Arab berasal dari kata (جَمَعَ الشَّيْءَ) yang berarti mengumpulkan sesuatu yang terpisah menjadi satu. Dan kata (الْجَمْعُ) bisa bermakna jama’ah, yakni kumpulan manusia. Dan Muzdalifah disebut (الْجَمْعُ) karena manusia (orang-orang yang berhaji) berkumpul di tempat tersebut. Demikian pula hari dikumpulkannya manusia pada hari kiamat disebut (يَوْم الْجَمْعِ).

Semua yang berasal dari kata ini, kembali kepada makna “mengumpulkan” atau “berkumpul”. Dan hari Jum’at –yang sebelumnya oleh orang-orang Arab disebut ‘Arubah- dinamakan (الْجُمُعَة) karena manusia (kaum muslimin) berkumpul untuk menunaikan sholat Jum’at. Kata (الْجُمُعَةُ) juga sering digunakan untuk mengungkapkan kata sholat yang dilakukan pada hari Jum’at (waktu Dhuhur).[1]

Yang dimaksud dengan Jum’at di sini, yaitu nama salah satu hari dari tujuh hari dalam satu pekan yang berada antara hari Kamis dan hari Sabtu. Hari Jum’at ini adalah hari yang agung dan termulia diantara hari-hari lain. Pada hari itu terdapat keistimewaan dan keutamaan serta keterkaitan dengan sebagian hukum-hukum dan adab-adab syari’at sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.

KEUTAMAAN HARI JUM’AT

Hari Jum’at memiliki beberapa keutamaan sebagaimana tertuang dalam beberapa hadits Nabi saw, diantaranya:

1. Hari Jum’at adalah hari yang paling utama diantara hari-hari lainnya.

2. Nabi Adam as diciptakan pada hari Jum’at dan pada hari ini pula diwafatkan.
Pada hari ini ia dimasukkan ke dalam sorga dan pada hari ini pula dikeluarkan dari sorga.

3. Hari kiamat akan terjadi pada hari Jum’at.
Abu Huroiroh ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقَوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَة .
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at; pada hari ini Adam diciptakan, pada hari ini (Adam Alaihissalam) dimasukkan ke dalam sorga, dan pada hari ini pula ia dikeluarkan dari sorga. Dan tidaklah kiamat akan terjadi kecuali pada hari ini (jum’at).” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Aus bin Aus ra dengan lafal:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ .
“Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at ; pada hari ini Adam diciptakan, pada hari ini pula ia dimatikan, pada hari ini ditiupkan sangkakala (tanda kiamat), dan pada hari ini pula hari kebangkitan.”

4. Hari Jum’at merupakan keistimewaan dan hidayah yang Alloh berikan kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat lain sebelumnya.

Abu Huroiroh ra, meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:

نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فَهَدَانَا اللهُ لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ هَدَانَا اللهُ لَهُ –قَالَ: يَوْمُ الْجُمْعَةِ-، فَالْيَوْمُ لَنَا وَغَداً لِلْيَهُوْدِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى.
“Kita adalah umat yang datang terakhir tapi paling awal datang pada hari kiamat, dan kita yang pertama kali masuk sorga, cuma mereka diberi Kitab sebelum kita sedangkan kita diberi Kitab setelah mereka.
Kemudian mereka berselisih, lalu Alloh memberi kita hidayah terhadap apa yang mereka perselisihkan. Inilah hari yang mereka perselisihkan, dan Alloh berikan hidayah berupa hari ini kepada kita.
Maka hari (Jum’at) ini untuk kita (ummat Islam), besok (Sabtu) untuk umat Yahudi dan lusa (Ahad) untuk umat Nasrani.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dari Hudzaifah ra dengan lafadz:

أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ اْلأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَاْلأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَاْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيَّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ.
“Alloh telah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jum’at, maka umat Yahudi memperoleh hari Sabtu, umat Nasrani memperoleh hari Ahad. Lalu Alloh mendatangkan kita dan memberi kita hidayah untuk memperoleh hari Jum’at.
Maka Alloh menjadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad, dan mereka (umat sebelum kita) berada di belakang kita pada hari kiamat. Kita datang paling akhir di dunia, tetapi paling awal datang di hari kiamat yang telah ditetapkan untuk mereka sebelum diciptakan seluruh makhluk” (HR. Muslim).

5. Pada hari Jum’at ini terdapat saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir-akhir siangnya setelah Ashar.

Berdasarkan riwayat dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللهَ خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيْفَةٌ.
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat, yaitu seorang muslim tidaklah ia berdiri sholat dan meminta kebaikan kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya.”
Lalu Beliau berkata:
”Dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Jabir ra, Nabi saw bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada saat-saat ini meminta sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya.
Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud).

PERKARA-PERKARA YANG DISYARI’ATKAN PADA HARI JUM’AT

Hari Jum’at, disamping memiliki keutamaan sebagaimana telah disebutkan di atas, Alloh swt telah menetapkan syari’at khusus untuk hari itu, yaitu:

1. Sholat Jum’at.

Mengenai sholat Jum’at ini akan dikupas beberapa hal berikut ini:
a). Kewajiban menunaikan sholat Jum’at.
Hal itu berdasarkan firman Alloh swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah : 9).

Kewajiban ini bersifat fardhu ‘ain atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali lima golongan yaitu:
1.hamba sahaya, 2.wanita, 3.anak kecil (yang belum baligh), 4.orang sakit dan 5.musafir.

Hal ini berdasarkan beberapa riwayat berikut.

Dari Thoriq bin Syihab ra, Nabi saw bersabda:

الْجُمْعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ.
“(Sholat) Jum’at itu adalah wajib atas setiap muslim secara berjama’ah, kecuali empat (golongan) yaitu: 1.hamba sahaya, 2.wanita, 3.anak kecil (yang belum baligh) atau 4.orang sakit.”
(HR. Abu Dawud, Daruquthni, Baihaqi, Hakim dan Abu Dawud).

Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمْعَةٌ
“Tidak ada kewajiban atas musafir (untuk menunaikan) sholat Jum’at.” (HR. Daruquthni).

b). Keutamaan menunaikan sholat Jum’at.
Tidaklah syari’at memerintahkan suatu perkara, melainkan diiringi dengan janji berupa balasan kebaikan, keutamaan dan pahala sebagai pendorong bagi orang-orang yang mau menunaikan perintah tersebut.
Nabi saw bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَخْلُوَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ.
“Barangsiapa mandi (sunnat) kemudian mendatangi (sholat) Jum’at, lalu ia sholat –sunnat- (sebelum imam datang) sekuat kemampuannya, kemudian diam (mendengarkan imam berkhuthbah) dengan seksama sampai selesai dari khuthbahnya, lalu sholat bersamanya, maka akan diampuni (dosanya) antara Jum’at tersebut dengan Jum’at lainnya (sebelumnya) ditambah tiga hari.” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lain Nabi saw bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.
“(Antara) sholat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Romadhon ke Romadhon, terdapat penghapus dosa-dosa, selama tidak melanggar dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

c). Ancaman terhadap orang yang meninggalkan sholat Jum’at.
Disamping menjelaskan tentang keutamaan menunaikan sholat Jum’at, syari’at juga menjelaskan ancaman terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at karena meremehkannya.
Dalam hal ini terdapat beberapa hadits dari Nabi Muhammad saw diantaranya:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِن الْغَافِلِيْنَ.
“Sungguh hendaknya orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jum’at atau (kalau tidak maka) Alloh akan mengunci hati-hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim).

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أَحْرَقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.
“Sunguh aku bertekad untuk memerintahkan seseorang mengimami sholat bagi manusia, kemudian aku bakar rumah orang-orang yang meninggalkan (sholat) Jum’at.” (HR. Muslim).

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُناً بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan sholat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, maka Alloh akan mengunci hatinya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali sholat Jum’at tanpa udzur, maka dia tercatat sebagai golongan orang-orang munafik.” (HR. Thobaroni).

d). Waktu pelaksanaannya.
Waktu pelaksanaannya adalah pada waktu Dhuhur, berdasarkan riwayat dari Anas ra:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ.
“Bahwa Nabi saw menunaikan sholat Jum’at ketika matahari tergelincir (yakni masuk waktu Dhuhur).” (HR. Bukhori).

Sebagian ulama membolehkan pelaksanaannya –beberapa saat- sebelum masuk waktu Dhuhur (sebelum matahari benar-benar tergelincir). Mereka berdalil dengan riwayat dari Jabir bin Abdulloh ra, ketika ia ditanya:
“Kapan Rosululloh saw menunaikan sholat Jum’at .?”
Dia menjawab:
”(Nabi saw) pernah menunaikan sholat Jum’at, kemudian (selesai sholat) kami pergi menuju onta-onta kami untuk mengistirahatkannya ketika matahari tergelincir.” (HR. Muslim).
Ini berarti Nabi saw pernah sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir. (wallohu a’lam bisshowab).

Kedua. Khuthbah Jum’at.

a). Hukumnya.
Khutbah Jum’at hukumnya wajib, karena Nabi saw tidak pernah meninggalkannya, dan berdasarkan keumuman sabda beliau saw:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.
“Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori).

Khuthbah Jum’at ini termasuk dalam rangkaian pelaksanaan sholat Jum’at yang dilakukan oleh Nabi saw dan beliau melakukannya sebelum sholat.

ADAB-ADAB HARI JUM’AT

Adab-adab hari Jum’at ini meliputi adab-adab hari Jum’at secara umum maupun yang bersifat khusus terkait dengan sholat dan khuthbah pada hari ini, diantaranya:

1. Mandi jum’at (seperti mandi junub).

Dari Abdulloh bin mas’ud ra, Nabi saw bersabda:

إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ.
“Jika seorang dari kalian ingin mendatangi (sholat) Jum’at, maka hendaklah dia mandi.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang baligh.” (HR. Muslim).

Sebagian ulama mewajibkan mandi Jum’at ini berdalil, diantaranya berdasarkan dengan dua hadits di atas. Dan sebagian berpendapat, bahwa mandi Jum’at adalah sunnah muakkadah, tidak wajib, berdalil dengan kisah Utsman bin Affan ra dan Umar ra, sebagaimana diceritakan oleh Abu Huroiroh ra:

بَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ دَخَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ فَعَرَضَ بِهِ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَأَخَّرُوْنَ بَعْدَ النِّدَاءِ؟! فَقَالَ عُثْمَانُ: يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، مَا زِدْتُ حِيْنَ سَمِعْتُ النِّدَاءَ أَنْ تَوَضَّأْتُ ثُمَّ أَقْبَلْتُ، فَقَالَ عُمَرُ: وَالْوُضُوْءُ أَيْضاً، أَلَمْ تَسْمَعُوْا رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ.
“Ketika Umar bin Khoththob berkhuthbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, seketika Utsman bin Affan masuk (masjid), karena itu Umar kemudian berkata:
”Apakah gerangan yang menyebabkan orang-orang terlambat (datang) setelah panggilan (adzan) .?”
Utsman ra menjawab:
”Wahai, Amirul Mukminin. Aku tidak lebih sedang berwudhu’ ketika aku mendengar panggilan (adzan), kemudian aku datang.”
Umar ra berkata:
”Cuma berwudhu .? Tidakkah engkau mendengar Rosululloh bersabda: ’Jika salah seorang dari kalian mendatangi (sholat) Jum’at, maka hendaklah dia mandi .?” (HR. Muslim).

Pada kisah tersebut Umar ra, tidak kemudian menyuruh Utsman ra mandi, tetapi membiarkannya dalam keadaannya, dan ini menunjukkan bahwa perintah dalam hadits-hadits di atas hanyalah bersifat anjuran.
Namun yang lebih selamat bagi kita, hendaknya kita mandi. Dengan demikian kita telah keluar dari perselisihan. (Wallahu a’lam).

Dan bagi wanita yang ingin ikut hadir dalam sholat Jum’at, juga dianjurkan untuk mandi, tetapi tidak memakai wewangian ketika keluar menuju masjid.

2. Memakai wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki.

Nabi saw bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يَفْرُقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.
“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, dan menggosok (badannya) dengan minyak (sabun dan semisalnya), atau memakai wewangian dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid) dan tidak memisahkan antara dua orang (melangkahi orang-orang yang sedang duduk), kemudian mengerjakan sholat sesuai kesanggupannya.” (HR. Muslim). “Kemudian diam seksama saat imam berkhuthbah, melainkan akan diampuni dosanya antara hari Jum’at tersebut dengan Jum’at yang lain (sebelumnya).” (HR. Bukhori).

Beliau saw juga bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ وَمَسَّ مِنْ طِيْبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَلَمْ يَتَخَطَّ أَعْنَاقَ النَّاسَ ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يَخْلُوَ مِنْ صَلاَتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ الَّتِيْ قَبْلَهَا.
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, memakai pakaiannya yang terbagus dan memakai wewangian jika punya, kemudian mendatangi (sholat) Jum’at tanpa melangkahi orang-orang (yang sedang duduk), kemudian sholat (sunnah mutlak*) sekuat kemampuan (yang Alloh berikan padanya), kemudian diam seksama apabila imamnya datang (untuk berkhuthbah) sampai selesai sholatnya, maka itu menjadi penghapus dosa-dosa antara hari Jum’at tersebut dengan Jum’at yang sebelumnya.”
*Ya’ni sholat sunnat mutlak sebelum datangnya imam, bukan sholat sunnah qobliyah (rowatib) Jum’at. Dan yang ada hanya sholat sunnah (rowatib) ba’diyah (setelah) Jum’at dua roka’at, atau empat roka’at atau maksimal enam roka’at.

3. Menyegerakan diri datang ke masjid sebelum tiba waktu sholat.

Nabi saw bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشاً أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
“Barangsiapa mandi pada hari jum’at seperti mandi junub kemudian bersegera (menuju masjid), maka seolah-olah berkurban dengan seekor unta; barangsiapa datang pada saat kedua, maka seolah-olah berkurban dengan seekor sapi; barangsiapa yang datang pada saat ketiga, maka seolah-olah berkurban dengan domba jantan (yang bertanduk besar); barangsiapa datang pada saat keempat, maka seolah-olah berkurban dengan seekor ayam; dan barangsiapa datang pada saat kelima, maka seolah-olah berkurban dengan sebutir telur; kemudian jika imam datang para malaikat hadir untuk mendengarkan peringatan (khutbah).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ طَوَوا الصُّحُفَ وَجَاؤُوا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ.
“Bila datang hari Jum’at, maka para malaikat (berdiri) di setiap pintu masjid mencatat yang datang pertama dan berikutnya. Kemudian bila imam duduk (di atas mimbar) mereka menutup lembaran-lembaran catatan tersebut, dan hadir mendengarkan peringatan (khuthbah).” (HR. Bukhori dan Muslim).

4. Berjalan menuju masjid dengan tenang dan perlahan (tidak terburu-buru).

Nabi saw bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالْوَقَارِ.
“Jika kalian mendengar iqomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan perlahan-lahan (tidak terburu-buru.” (HR. Abu Dawud).

5. Menunaikan sholat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid sebelum duduk, meskipun imam sedang berkhuthbah.

Nabi saw bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ.
“Jika seorang dari kalian masuk masjid, maka sholatlah dua roka’at sebelum ia duduk.” (HR. Bukhori dan Muslim).

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا.
“Jika seorang dari kalian datang (untuk) pada hari Jum’at sementara imam sedang berkhuthbah, maka sholatlah dua roka’at, dan ringankanlah sholat tersebut.” (HR. Bukhori dan Muslim).

6. Mendekati imam untuk mendengarkan khutbahnya.

Nabi saw bersabda:

احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوْا مِنَ اْلإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرُ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا.
“Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam (khotib), karena seseorang yang terus menjauh (dari imam), sehingga dia akan diakhirkan (masuk) ke dalam sorga miskipun ia (akan) memasukinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Dan ketika imam sedang berkhutbah, hendaknya seseorang mendengar dengan seksama, tidak berbicara dengan yang lain atau disibukkan dengan selain mendengar khutbah. Sebagaimana Nabi saw bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.
“Jika kamu berkata kepada temanmu “diam” ketika imam berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia (yakni rusak pahala Jum’atnya).” (HR. Bukhori dan Muslim).

7. Memperbanyak sholawat dan salam atas Nabi saw.

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ –إلى قوله- فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ؛ قَالَ: قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ –يَقُوْلُوْنَ: بَلَيْتَ؛ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ.
“Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at” -sampai sabdanya- “Maka perbanyaklah sholawat atasku pada hari ini, karena sholawat kalian akan disampaikan kepadaku.”
Para sahabat bertanya:
”Wahai Rosululloh, bagaimana sholawat kami akan disampaikan kepadamu, padahal engkau telah menjadi tanah .?”
Rosululloh menjawab:
”Sesungguhnya Alloh mengharamkan bumi (memakan) jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud).

8. Membaca Surat al-Kahfi.

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ.
“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya diantara dua Jum’at.” (HR. Hakim).

9. Memperbanyak do’a dengan mengharap saat-saat terkabulnya do’a, terutama pada akhir siang hari Jum’at setelah Ashar, sebagaimana dalam hadits yang telah lalu:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئاً إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.
“(Siang) hari Jum’at itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba muslim pada jam-jam ini meminta sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberinya. Maka carilah pada akahir saat-saat tersebut setelah Ashar.”

Demikianlah ulasan seputar hari Jum’at. Mudah-mudahan menggugah kita untuk lebih menghormati dan mengagungkan hari ini dengan berbagai amalan yang disyari’atkan.
Wallohu a’lam bisshowab.

10. Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad saw.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبيِّ الأُمِّيِّ
Imam Ghozali pernah mengisahkan, ada seseorang melihat satu makhluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu ia bertanya ”Siapakah kamu .?”
“Aku amalan jelekmu.” jawab mahluk itu.
“Apa yang dapat menyelamatkan aku dari mu .?” Tanya al-Ghozali.
Jawab makhluk itu: “Sholawat kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana sabda beliau:
“Sholawat itu berada di atas cahaya, di atas shirot, barang siapa yang bersholawat kepadaku pada (malam atau hari) jum’at sebanyak delapan puluh kali, Alloh akan hapuskan dosa-dosanya selama delapan puluh tahun.”

Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, bab: Sholat Jum’at disebutkan bahwa, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan sholat ashar pada hari jum’at, lalu dia bersholawat
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا
sebelum berdiri dari tempat duduknya delapan puluh kali, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun, dan dicatat baginya pahala ibadah selama delapan puluh tahun.” (HR. Baihaqi).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:
“Barang siapa bersholawat kepadaku pada hari jum’at sebanyak delapan puluh kali, maka akan diampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun tahun.”
Seorang sahabat bertanya:
”Ya Rosulalloh, bagaimanakah sholawat yang engkau maksudkan itu .?”
Rosululloh saw menjawab, Bacalah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍعَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبيِّ الأُمِّيِّ

JUM’AT ADALAH MILIKMU UNTUK NABIMU SAW

Bagi dunia mungkin kmu hanyalah seorang makhluk pada umumnya, tetapi bagi sang Nabi saw, kmu bisa jadi adalah kekasihnya, ummat dunia akhirat kesayangannya, sehingga kmu menjadi makhluk pilahan yg dicintai Alloh swt.

Malam ini dn sehari esok adalah milikmu untuk Nabimu saw, jangan sia-siakan bermajlis dn berdialog dgn bersholawat kepada beliau sebanyak-banyaknya ..

التَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهُ
.
Nabi Muhammad saw adalah manusia paling utama, sebaik-sebaik makhluk, pemimpin para Nabi dn Rosul .. Hari jum’at disebut oleh beliau saw `sayyidul-ayyam` (pemimpin hari).

Memperbanyak sholawat untuk beliau saw pada hari Jum’at yang menjadi sayyidul ayyam merupakan amal sholeh yang sangat afdhol .. Yang demikian itu menunjukkan kemuliaan pribadi beliau saw sebagai `sayyidul anam` (pemimpin manusia).

Hari Jum’at yang memiliki keistimewaan dibandingkan hari yang lain, dn melaksakan amal yang afdhol pada waktu yang afdhol untuk manusia yang paling agung diantara seluruh makhluk, tentu lebih utama, lebih mulia, dn lebih tinggi derajatnya disisi Alloh swt, daripada hari-hari dn waktu-waktu yang lain.

Iklan

7 MANUSIA DALAM NAUNGAN ALLOH SWT

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh golongan yang dalam naungan Alloh pada hari yang tidak ada tempat bernaung, kecuali naungan-Nya,

1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang giat beribadah kepada Alloh.
3. Orang yang berdzikir kepada Alloh di tempat yang sunyi sampai air matanya mengalir karena rasa takutnya kepada Alloh.
4. Orang yang hatinya selalu terkait (terikat) dengan masjid saat ia keluar sampai kembali lagi masuk ke masjid.
5. Orang yang bershodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sehingga orang lain yang ada di kanan-kirinya tidak mengetahuinya.
6. Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, maka mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Alloh.
7. Lelaki yang diajak berbuat mesum (berzina) oleh wanita cantik, tetapi ia menolaknya dengan berkata:
“Aku takut kepada Alloh.”
(HR. Bukori)

Beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadits di atas:

1.      Seorang pemimpin (Imam) yang adil.
Pemimpin adil bukan hanya dicintai rakyatnya, melainkan dicintai pula oleh Alloh dan berhak mendapatkan naungan-Nya di hari kiamat nanti.
Pemimpin di sini bisa saja presiden, gubernur, bupati, camat, lurah atau kepala rumah tangga.
Karena setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai Alloh swt. Pertanggung jawabannya kelak.
Untuk itu, seorang pemimpin harus bertindak adil sehingga semua orang yang dipimpinya bisa merasakan pelayanan yang maksimal dan penegakan ketentuan yang benar.

2.      Pemuda maupun pemudi yang tumbuh dalam keadaan selalu beribadah kepada Alloh.
Jiwa seorang pemuda maupun pemudi cenderung suka ‘bersenang-senang’. Karena itu, jika ia ‘memaksa’ hati dan raganya untuk sibuk beribadah kepada-Nya, itu pertanda betapa kuat ketakwaan pada dirinya. Maka pantaslah baginya naungan Alloh swt kelak.
Masa muda adalah masa di mana syahwat sedang memuncak sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan.
Pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah adalah yang terselamatkan di hari kiamat.
Sebagaimana kisah Ashabul-Kahfi (Para pemuda Kahfi) yang menghindari kedholiman penguasa untuk menyelamatkan aqidah mereka.

3.      Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.
Berkata Imam Nawawi:
“Ma’nanya adalah sangat mencintai masjid dan selalu menjaga sholat jamaah di dalamnya. Dan ma’nanya bukanlah hanya duduk-duduk di masjid.”
Karena itu, siapa yang menjaga sholat jamaah di masjid, selalu merasa rindu dengan masjid, senantiasa rindu beribadah di dalamnya, bergembiralah … naungan Alloh swt akan ia dapatkan di hari kiamat nanti.

Orang yang tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk memakmurkan masjid dengan ibadah dan amal-amal sholeh, terutama sholat fardhu berjama’ah. Hatinya selalu ‘risau’ bila jauh dari masjid, dan merasa sedih bila tak bisa mendatanginya di waktu-waktu sholat berjama’ah dan ketika majelis ta’lim diadakan.

4.      Dua orang yang saling mencintai karena Alloh swt dan berpisah karena Alloh swt.
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata:
“Maksudnya yaitu mereka berdua senantiasa dalam kecintaan karena agama. Mereka tidak memutus kecintaan itu karena alasan duniawi, baik mereka berkumpul berdekatan atau berpisah (bejauhan), sampai maut memisahkan mereka berdua.”
Inilah cinta yang dimiliki para pecinta di jalan-Nya. Cinta yang dibangun di atas kecintaan karena-Nya. Bukan cinta yang tumbuh karena tujuan duniawi dan jauh dari tendensi pribadi. “Berkumpul dan berpisah karena Alloh”

Tingkatan hubungan keimanan tertinggi adalah cinta karena Alloh swt dan benci karena Alloh swt. Bila dua orang saling mencintai karena masing-masing selalu menjaga kecintaannya pada Alloh swt, bertemu dalam kerangka mengingat Alloh swt dan berpisah dengan tetap dalam dzkir kepada Alloh swt maka keduanya akan selamat di hari kiamat.

5.      Seorang lelaki yang diajak wanita cantik untuk berzina dan menjawab:
“Sesungguhnya aku takut kepada Alloh”.
Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam lah teladan terbaik dalam hal ini.

Coba kita bayangkan jika ada seorang pemuda, bukan tua renta, tinggal di tempat yang asing, jauh dari kampung halaman, dirayu seorang wanita cantik jelita, kaya raya dan berkedudukan tinggi di suatu tempat yang sepi ta’ada seorang pun kecuali mereka berdua, lantas apa yang akan terjadi .?
Bukankah Nabi Yusuf as bisa melewati ujian seperti ini .?

Karena itu, siapa yang mengalami peristiwa seperti yang beliau as alami, lalu ia berhasil melewatinya, berarti itu pertanda betapa kuat ketakwaan dan keimanan dirinya kepada Alloh swt. Maka pantaslah baginya naungan Alloh swt kelak.

Mungkin ada yang bertanya:
“Keutamaan ini bagi pria yang dirayu seorang wanita, bagaimana kalau wanita yang dirayu seorang pria, apakah ia mendapatkan pula keutamaan dalam hadits di atas .?“

Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa keutamaan dalam hadits di atas mencakup pria dan wanita. Beliau berkata:
“Karena sesungguhnya kejadian itu bisa saja terjadi pada perempuan yang diajak (berbuat zina) oleh seorang raja yang tampan, misalnya, lalu ia menolak ajakan tersebut karena takut kepada Alloh swt walaupun ia memiliki hasrat untuk itu.”
Alloh swt berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isro’ : 32)

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf as. yang digoda oleh Zulaikha, keduanya saling cenderung sehingga jika bukan karena tanda dari Alloh swt maka keduanya akan bermaksiat sehingga Yusuf berkata:
“Ya Alloh, lebih baik hamba dipenjara daripada harus bermaksiat kepadamu.”

6.      Shodaqoh secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tau apa yang dilakukan tangan kanan.

Sabda Nabi saw:
“Hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya”
maksudnya sangat merahasiakan shodaqoh dan menjauhkannya dari kemungkinan timbulnya riya’ (ingin dilihat dan dipuji)”.

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan menyembunyikan shodaqoh dibandingkan menampakkannya, kecuali jika tahu dengan menampakkannya mendorong orang lain untuk menirunya sedangkan ia bisa menjaga batinnya dari dorongan berbuat riya’.”

Imam An-Nawawi berkata:
“Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang keutamaan shodaqoh secara sembunyi-sembunyi.”
Para ulama berkata:
“Ini pada shodaqoh tathowu’ (bukan wajib). Sembunyi-sembunyi pada shodaqoh jenis ini lebih utama, sebab itu lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riya’.
Adapun zakat yang wajib, menampakkannya justru lebih utama.
Dan begitu pula dalam sholat. Menampakkan sholat-sholat yang wajib lebih utama (daripada menyembunyikannya) dan menyembunyikan sholat-sholat nafilah (tidak wajib)  lebih utama (daripada menampakkannya), berdasarkan sabda Nabi saw:
“Sholat yang paling utama adalah sholat seseorang di rumahnya, kecuali sholat yang wajib. ”
(HR. Muslim).

Amal yang disertai dengan keikhlasan adalah salah satu syarat diterimanya amal oleh Alloh swt. Keikhlasan adalah pekerjaan hati dan karenanya hanya orang-orang yang berilmu saja yang dapat melakukan dan hanya orang-orang yang bertaqwa saja yang tidak akan disesatkan oleh syaitan.

7.      Seseorang yang menangis karena Mengingat Alloh swt dan Rasa takut-Nya hanya kepada Alloh swt.
Inilah orang yang dalam hatinya terkumpul rasa takut dan cinta kepada-Nya. Inilah orang yang benar-benar mengikuti Nabi-Nya saw.

Alloh swt berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap-harap cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”
(QS. Al-Anbiya’ : 90)

Rosululloh saw bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Ada dua mata yang tidak akan dijilat api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Alloh dan mata yang terjaga di jalan Alloh.”
(HR. Tirmidzi)

Dzikir bagi orang beriman ibarat nafas bagi makhluk hidup, ketika seseorang tidak lepas dari dzikir baik di siang maupun di malam hari maka seolah makhluk hidup yang selalu bisa bernafas bebas.

Mengingat Alloh swt hingga meneteskan air mata adalah sesuatu yang dicintai-Nya, ini adalah kehususan bagi orang yang hatinya telah dianugrahi hidayah oleh Alloh swt. Sebagaimana sabda Rosululloh saw
“Tanda Orang beriman, ketika mendengar kalimat Alloh maka bergetarlah hatinya dan ketika mendengar al-Qur’an maka bertambahlah iman mereka.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Semoga kita termasuk di dalamnya, yang pada hari kiamat kelak mendapatkan naungan Alloh swt. Dan semoga Alloh swt memudahkan kita melakukan ibadah-ibadah yang dapat mengantarkan kita kepada ridho-Nya. Amin ..

MANUSIA YANG TERBAIK

Paling tidak ada 3 ayat dalam Al-Qur’an yang diberitakan oleh Alloh swt yang berbeda tetapi mempunyai satu sudut persamaan yaitu tentang bagaimana menjadi pribadi yang unggul.

Yang pertama kita bisa lihat pada surat at-Tiin ayat 4 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk penamplian terbaik.”

Dalam ayat ini Alloh swt tidak menggunakan istilah “hasan” tetapi menggunakan istilah “ahsan” dan itu artinya adalah terbaik “the best” ..
Bukan sekadar baik tetapi terbaik, dari surat ini Alloh swt menciptakan manusia, aku, kamu dn kita semua dengan bentuk yang terbaik, bukan sekadar bentuk yang paling baik.

Jadi sebagai rasa syukur kita kepada Alloh swt, semestinya kita melakukan apa yang disebut “penampilan yang terbaik”, bukan hanya dari penampilan wajah tetapi sikap dan tingkah laku, kita harus berpenampilan yang terbaik seperti posisi tubuh dan ekspresi wajah yang menggambarkan sesorang yang memiliki “penampilan yang terbaik”.

Kemudian yang kedua pada surat Fushshilat ayat 33 :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapa yang paling baik perkataannya dari seorang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholeh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Dalam ayat ini terkandung ma’na bahwa pribadi yang baik itu memiliki “Sikap yang terbaik”. Bukan hanya berpenampilan yang terbaik akan tetapi juga harus bersikap yang terbaik sebagaimana seruan pada ayat tersebut.

Sikap terbaik disini terdiri dari dua hal:
Pertama, orang yang mempunyai sikap terbaik selalu berpikiran positive yaitu dengan memandang setiap peristiwa dari sisi yang tepat atau positive thinking.
Contohnya seorang juru foto walaupun obyek yang diphotonya bagus belum tentu hasilnya bagus karena di sini yang jadi kekuatan adalah sudut pandang. Disinilah pentingnya kita memandang sesuatu dari posisi yang tepat.
Itulah yg dikatakan Alloh swt di dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 191 :
“Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Yang kedua, orang yang memiliki “sikap” yang terbaik adalah bersifat proaktif.
Pada umumnya ketika seseorang di landa musibah, bukan tidak mungkin menghadapi musibah tersebut secara emosional, beda dengan orang yang berpikir proaktif, ketika dilanda musibah mereka tidak akan langsung memberikan respon secara emosional, mereka cara berpikirnya akan menggunakan hati nurani dn kedewasaanya untuk menghadapi berbagai macam persoalan. Jadi kesimpulan dari surat Fushshilat ayat 33 kita harus memiliki sikap yang tebaik dalam kehidupan tidak di dorong oleh nafsu dan emosional.

Dan yang ketiga menjadi pribadi yang baik menurut al-Qur’an surat al-Mulk ayat 2 :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah (Alloh) yang menjadikan mati dan hldup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling balk amalnya.
Dia Maha Pengampun lagi Maha Perkasa.”

Alloh swt tidak mengatakan “aktsaru amala”. Disini yg ditekankan bukan pada kuantitas perbuatan kita tetapi pada kualitas perbuatan kita, itu yg disebut mempunyai “Prestasi yg terbaik”. Jadi dalam ayat tersebut Alloh swt menekankan kita memiliki prestasi dari segi kualitas amal kita bukan dari banyaknya amal kita. Dari itu Alloh swt memerintahkan kita supaya menjadi orang yang di atas rata-rata bukan hanya rata-rata.  

Dari tiga ayat al-Qur’an di atas dapat di simpulkan untuk menjadi pribadi yang unggul itu harus mempunyai tiga hal yaitu:

1. Penampilan yang terbaik
2. Sikap yang tebaik
3. Prestasi yang terbaik

Semoga kita menjadi pribadi yang unggul, dari yang baik menjadi lebih baik sehingga menjadi yang terbaik.

Awan Tag