AS SALAMU ‘ALAIKUM

AS SALAMU ’ALAIKUM

Sungguh sangat menarik untuk kita cermati, bahwa agama kita dinamakan Islam dan pengikutnya disebut muslim. Kata Islam berasal dari kata salam yang berarti selamat, dan dalam kaidah bahasa Arab muslim berarti aktif, ia bukan hanya selamat dan damai, namun lebih jauh ia mendatangkan keselamatan dan membawa kedamian.

SALAM merupakan kedamaian yang dirasakan dalam hati seseorang. Lawannya adalah keresahan atau kegundahan hati.

Dua macam keresahan hati:
Pertama, jika keresahan tersebut menyangkut apa yang akan terjadi maka hal itu disebut takut.
Kedua, jika keresahan tersebut lahir terhadap apa yang sudah terjadi maka ia disebut sedih.
Oleh karena itulah, muncul ungkapan:
“Dia takut akan kehilangan hartanya atau dia bersedih telah kehilangan hartanya”.

Kepatuhan akan aturan dan perintah Alloh swt akan mendatangkan kedamaian hati pada seseorang.
Sementara itu, pelanggaran terhadap aturan dan perintah Alloh swt akan mendatangkan keresehan hati.
Itulah sebabnya, kenapa Nabi Adam as dan ibu Hawa’ diperintahkan keluar dari sorga dengan bibit permusuhan.
Seperti disebutkan dalam al-Qur’an:

وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ

“Turunlah kalian .! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 36)

Nabi Adam as dan ibu Hawa’ ketika melakukan larangan Alloh swt, mereka dilanda keresahan jiwa. Keresahan itu adalah rasa takut akan mendapatkan hukuman Alloh swt serta sedih karena telah kehilangan ni’mat sorga.
Kondisi jiwa seperti ini membuat mereka tidak harmonis, sehingga lahir sikap saling menyalahkan. Akibat dari sikap saling menyalahkan, maka timbullah permusuhan.

Oleh sebab itu pula, dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Adam as. dan ibu Hawa’ dibuang ke bumi dalam keadaan terpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, demi menghapus rasa ketidak harmonisan.
Begitu pula, sebabnya generasi manusia yang pertama Qobil melakukan pembunuhan terhadap Habil, sebagai gambaran wujud dari cikal-bakal ketidak harmonisan dan permusuhan tersebut.

Untuk memperoleh kedamaian dan menghilangkan keresahan jiwa tersebut berupa ketakutan dan kecemasan hendaklah manusia mengikuti petunjuk dan tuntunan Alloh swt.
Itulah sebabnya, kenapa Nabi Adam as dan ibu Hawa’ diperintahkan untuk mengikuti pentujuk Alloh swt ketika sampai di bumi, agar rasa takut dan cemas hilang dari mereka.
Seperti disebutkan dalam al-Qur’an:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 38)

Dari Abu Umammah ra, Rosululloh saw bersabda:
”Orang yang lebih dekat kepada Alloh swt adalah yang lebih dahulu memberi Salam.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh bersabda:
“Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.”

Dari Imron Ibnu Hushain ra, berkata:
“Sorang laki-laki datang kepada Nabi saw, lalu mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

Nabi saw menjawab salam itu, lalu orang itu duduk dan beliau saw bersabda:
“Sepuluh (kebaikan)”
Kemudian datang orang lain dan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Nabi saw menjawabnya, lalu orang itu duduk dan beliau saw bersabda:
“Dua puluh (kebaikan)”
Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Nabi saw membalas salamnya lalu dia duduk dan beliau bersabda:
“Tiga puluh (kebaikan)”
(HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Coba perhatikan kalimat diatas .! Semuanya merupakan redaksi salam yang disampaikan para sahabat. Rosul saw tidak menyalahkannya, Beliau hanya menyatakan bilangan sepuluh, dua puluh dan tiga puluh. Ini maksudnya adalah pahala untuk masing-masing redaksi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pahala yang banyak ucapkanlah salam secara utuh dan lengkap.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rosululloh saw menerima tamu delegasi kaum Yahudi yang mengucapkan salam dengan kata:
“Assamu ’Alaikum”
(yang artinya adalah:
“semoga kematian ditimpakan kepada kalian semua.”
Perkataan ini sekilas, terdengar mirip dengan kata salam yang biasa diucapkan umat Islam, namun sesungguhnya jika didengar lebih jeli, vokal dan arti kata tersebut berbeda 180 derajat.)
Mendengar itu, istri Nabi saw, ‘Aisyah ra, membalas dengan mengatakan:
“Semoga kematian segera ditimpakan kepada kalian, laknat Alloh akan menimpamu.”
Rosululloh saw memberikan jawaban (yang lebih baik secara diplomatis yaitu):
“Wa’alaikum” (yang berarti ”atas kamu.”)
(HR. Bukhori)

Dalam konteks cerita ini, terlihat betapa lembutnya hati Rosululloh saw, padahal sesungguhnya orang Yahudi itu bermaksud menghina beliau saw, dengan plesetan yang seolah-olah memberikan salam. Beliau saw tidak ingin menyakiti hati kaum Yahudi, namun ketika kaum tersebut mengatakan kata-kata kasar, maka beliau menjawabnya dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh kaum Yahudi itu sendiri.

Begitulah seharusnya seorang yang disebut muslim, hendaklah dia menyelamatkan orang lain serta membawa kedamaian pada siapupun dan di manapun.

Alloh stw berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (minimal dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’: 86)

MANIFESTASI HUBUNGAN SESAMA MUSLIM

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman. Dan, kalian tidak disebut beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlahsalam diantara kalian .!” (HR. Muslim).

Salah satu ajaran pembeda antara Islam dan agama lainnya adalah adanya tuntunan untuk mengucapkan salam yang isinya tiada lain adalah do’a. Salam tidak hanya sebagai simbol atau syi’ar Isam saja, melainkan sebagai suatu hal yang dampaknya besar terhadap ketenangan dan kenyamanan hidup.
Artinya, ucapan salam dari seorang muslim terhadap muslim lainnya mampu menyiram panasnya hati dan menjadi jaminan keamanan dari kejahatan dan kekhilafan sesama. Salam yang dampaknya positif ini merupakan salam yang tulus dari hati, bukan kamuflase dan tipuan.

Definisi
Salam berasal dari kata:
سَلِمَ يَسْلِمُ سَلْمًا وَسَلاَمَةً
“Selamat dari bahaya atau bebas dari cacat.”

Adapun istilah salam sebagai ucapan do’a, dalam hadits dibahasakan dengan kata:
سَلَّمَ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا
“Menyelamatkan, memberi keselamatan.”

Jadi, salam sebagai ucapan atau do’a muncul dari sikap ingin menyelamatkan atau memberi keselamatan kepada sesama muslim. Sehingga, ucapan salam isinya agar sesama muslim mendapatkan keselamatan. Ini merupakan manifestasi dari akar kata salam itu sendiri: menyemalatkan, memberi keselamatan.

Redaksi Salam
Adapun redaksi salam yang diajarkan Rosululloh saw, adalah sebagaimana yang kita kenal saat ini, yaitu:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rohmat Alloh dan barokah-Nya tercurah kepadamu.”

Etika Salam
Dalam hadits-hadits yang masyhur, salam memiliki etika yang harus dipenuhi oleh kita. Diantara etika yang diajarkan oleh Nabi saw sallam sebagai berikut:

1. Waktu Mengucapkan Salam
a. Ketika memasuki rumah
b. Ketika bertemu dan berpisah
c. Ketika hendak memasuki dan keluar dari majlis.

2. Subjek dan Objek Salam
a. Salam hanya untuk sesama muslim
b. Anak mendahului salam kepada yang dewasa
c. Yang berkendaraan lebih dulu mengucapkan salam kepada pejalan kaki
d. Yang berjalan kaki lebih dulu mengucapkan salam kepada yang sedang duduk
e. Kelompok yang sedikit lebih dulu mengucapkan salam kepada yang lebih banyak dan cukup diwakili oleh salah seorang saja
f. Jika kedua belah pihak setara dalam usia atau keadaan, yang paling baik adalah yang pertama mengucapkan salam.
j. Jika orang kafir mengucapkan salam, jawabannya adalah, “Wa’alaika”. Tidak lebih dari itu.

Fadilah Salam
Yang namanya syari’at ya sudah pasti ada keutamaan atau fadhilahnya. Nah, karena salam merupakan bagian dari syari’at, maka salam pun memiliki fadhilah yang cukup banyak, diantaranya:

1. Pahala 10-30 Kali
Ucapan salam memiliki fadilah berupa pahala mulai dari 10-30 kali kebaikan. Sepuluh kebaikan akan didapat jika redaksinya hanya “Assalamu’alaikum”, dua puluh kebaikan bisa diperoleh jika redaksinya “Assalamu’alaikum warohmatulloh”, dan tiga puluh kebaikan dapat dimiliki jika  redaksinya lengkap yakni “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.”

2. Masuk Sorga dengan Selamat
Fadilah salam lainnya adalah sebagai fasilitas masuk sorga dengan selamat. Rosululloh saw bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَام
“Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, dan sholatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur; pasti kalian akan masuk sorga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).

3. Tanda Cinta
Rosululloh saw bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman. Dan, kalian tidak disebut beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai .? Sebarkanlah salam diantara kalian .!” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut dijelaskan secara jelas bahwa masuk sorga itu karena beriman, beriman itu salah satu upaya mencintai sesama, dan mencintai sesama itu manifestasinya adalah ucapan salam. Jadi, mengucapkan salam secara tulus dari hati  mampu menjaga keutuhan cinta terhadap sesama muslim. Saling mencintai sesama muslim akan menyempurnakan keimanan. Dan, keimanan yang  sempurna akan mengantarkan kita ke sorga.  

Esensi Salam
Sebagai sebuah syari’at salam memiliki esensi, yaitu:
1. Komitmen untuk menjaga ukhuwah imaniyah-islamiyah
2. Ta’awun dalam kompetisi meraih sorga
3. Kolektivitas (kebersamaan) dalam kesejahteraan di dunia dan akhirat

Salam merupakan syariat yang fadhilahnya cukup banyak. Oleh karena itu, mari kita jadikan ucapan salam sebagai sebuah tradisi Islami. Tentunya, ucapan salam mesti kuncup dari hati yang ikhlas, murni mengharap ridho Alloh swt. Dan, yang sudah pasti adalah etika salam terjaga dengan baik, tidak diucapkan kepada orang non muslim.

UCAPKAN ASSALAMU’ALAIKUM DENGAN BENAR

Ibnu al-Arobi di dalam Ahkamul-Qur’an mengatakan:
“Orang yang mengucapkan “salam” itu memberikan pernyataan bahwa kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku”

Salam juga berarti:
Dzikir kepada Alloh swt. Pengingat diri. Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim. Pernyataan atau pemberitahuan bahwa “anda aman dari bahaya tangan dan lidahku”. Dan do’a yang istimewa “semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan, kesusahan dan penderitaan, semoga Alloh menjadi pelindungmu, dan semoga Alloh memberi keamanan bagimu.”

Dalam sebuah Hadits dikatakan:
“Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidah dan tangannya”

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS, BBM, FB TWITER dan jejaring sosial lainnya, dengan kalimat salam yang lengkap “Assalamu’alaikum”, solusinya cukup mudah, tulis saja pesan “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya dari yang mudah-mudah selain “Ass” yang berarti “pantat, keledai dan orang bodoh”. Jangan sampai niat baik ingin berdo’a, jadinya malah ucapan kotor dan cacian.

Minimal pengguna’an kalimat adalah “As-Salam” sebagai singkatan bagi “Assalammu’alaikum”
karena “As-Salam” adalam asma Alloh yang mengandung ma’na keselamatan, keamanan dan perlindungan ..

Dari Abdulloh bin Mas’ud ra, Rosululloh saw bersabda:
“Salam adalah salah satu Asma Alloh yang telah Dia turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam.”
(HR. Al Bazar dan Thobroni)

Jangan gunakan “Bye”
kerana“Bye” bermaksud “Di bawah naungan pope.” Bagi orang kristen ..
Jangan gunakan “A’kum”
kerana “A’kum” bermaksud “Binatang” dalam bahasa Yahudi.
Jangan gunakan “Semekom” kerana“Semekom”bermaksud “Celaka Kamu.”
Dan jangan gunakan “Assaamu‘alaikum” (tanpa huruf L / Lam-alif dalam huruf Arab) karena ia berma’na
“Semoga kematian dilimpahkan kepadamu”.

Salam secara harfiyah berarti selamat, damai dan sejahtera. Selamat berarti luput dari aib, cacat, kekurangan atau kebinasaan. Oleh karena itulah, jika terjadi kecelakaan, kemudian ada yang luput dari bencana itu maka dia disebut orang yang selamat.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Kamu tidak akan masuk sorga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Alloh).
Apakah kamu menginginkan jika aku tunjukkan pada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai .?
Sebarkanlah salam di antara kamu.”
(HR. Muslim)

Ucapan “Assalamu’alaikum” adalah kalimat sederhana yang sangat mudah dan ringan di ucapkan sebagai penghormatan dan do’a untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat muslim di seluruh dunia.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: