Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak keni’matan yang Alloh berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.
Dapat satu tidak terasa ni’mat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa ni’mat karena menginginkan tiga dn begitulah seterusnya.
Padahal kalau manusia mau memperhatikan dn merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak org yg memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yg kita peroleh.
Maka dengan puasa Romadlon, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dn merenungi tentang keni’matan yg sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya ni’mat yg Alloh berikan kepada kita.

Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dn minum sudah terasa betul penderitaan yg kita alami, dn pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya ni’mat dari Alloh swt, meskipun hanya berupa sebiji korma atau seteguk air.

Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai keni’matan yg Alloh berikan agar kita selanjutnya menjadi org yg pandai bersyukur dn tidak mengecilkan arti keni’matan dari Alloh meskipun dari segi jumlah memang sedikit dn kecil.

Rasa syukur memang akan membuat ni’mat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya.
Alloh berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS 14:7).

MENGINGAT DAN MERASAKAN

Merasakan lapar dn haus juga memberikan pengalaman kpd kita bagaimana beratnya penderitaan yg dirasakan orang lain.
Sebab pengalaman lapar dn haus yg kita rasakan akan segera berakhir hanya dgn beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.

Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dn memantapkan rasa solidaritas kita kpd kaum muslimin lainnya yg mengalami penderitaan yg hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita yg kerap kita lihat di sekitar kita.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Romadlon berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dgn demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yg menderita.

Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yg miskin dn menderita, tapi juga bagi kita yg mengeluarkannya agar dgn demikian, hilang kekotoran jiwa kita yg berkaitan dgn harta seperti gila harta, kikir dn sebagainya.

Alloh swt berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka.
Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah :103).

HAMPARAN BUMI MASIH SANGAT LUAS

Terkadang ujian berupa persoalan dn masalah hidup membuat dunia seakan teramat sangat sempit dn terbatas.
Dalam pandangan mata batin dn mata lahir, hanya ada satu pintu yg tampak, itupun dalam ruang gelap tanpa cahaya.
Padahal sesungguhnya Alloh Yang Maha Rohman dn Rohim telah memyediakan beribu pintu untuk di lalui agar manusia dapat menyelesaikan dn keluar dari masalah.

Saat peperti ini hanya dengan keimanan manusia dapat membuka pintu-pintu itu untuk dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya. Karena sebenarnya kesulitan dn kemudahan selalu berjalan berdampingan.

Berhenti dalam gelapnya suasana hati dn pikiran adalah ‘menganiaya diri sendiri’ yg akan berakibat kehancuran.
Memang manusia diciptakan oleh Alloh swt dalam keadaan lemah, dari seorang bayi yg tidak dapat berbuat apa-apa, namun ia dilatih belajar merangkak, berdiri, berjalan dn berlari untuk menjadi kuat.

Setelah itu ia dituntut untuk terus melangkahkan kaki hingga sampai ke tempat tujuan yg telah ditetapkan, seperti air yg terus mengalir, melewati setiap celah yg dapat dilalui, dgn kekuatannya menghalau setiap rintangan, menerjang setiap penghalang.

Bumi ini masih sangat luas untuk menampung gerak kita.
Bumi ini masih sangat luas untuk menampung beragam upaya untuk mewujudkan keinginan kita.
Jika di sisi bumi ini kita terjerembab, masih ada sisi bumi lain yg menyuguhkan banyak harapan.
Lalu kenapa harus merasa sempit atas semua keluasan ini .?

lbnu Umar memberi nasehat:
“Bekerjalah untuk duniamu seperti engkau hidup selamanya, dan beramal ibadahlah seperti engkau akan mati esok hari.”

MENGHADAPI UJIAN DENGAN IMAN

Apalah arti sebuah kehidupan tanpa adanya sebuah ujian. Ujian merupakan sebuah jalan menuju hidup yg lebih baik. Dgn adanya ujian seseorang akan ditempa menjadi sosok makhluk yg lebih tangguh dn kuat. Ujian menjadi ajang latihan dn tempaan dari segi fisik maupun mental.

Tiada seorangpun yg tiada pernah merasakan ujian. Seorang mahasiswa dalam menjalani masa studi tentu akan dihadapkan dgn berbagai macam ujian sampai ia memperoleh gelar yg ingin dicapainya.
Petani diuji dgn adanya berbagai macam hama, kekurangan pasokan air, hingga harga hasil panen yg jauh dibawah standar.

Demikian pula jika seseorang telah menyatakan beriman, maka untuk membuktikan keimanannya ujian akan terus menyertainya.
Seperti dalam Firman Alloh swt:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
“Kami Telah beriman”
Sedang mereka tidak diuji lagi .?”
(QS. Al-Ankabut: 2).

Jika kita memandang masalah adalah sebuah ujian dari Alloh swt, maka yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Kita akan merasakan manisnya ketika kita mampu mencapai level yg lebih baik.

Semakin tinggi keadaan pohon, maka semakin besar pula angin yang akan menerpanya.

Bagaimana jadinya ketika Rosululloh saw dn para sahabat terdahulu memilih “berhenti” ketika segala makian, siksaan, embargo ekonomi, pengusiran, hinaan hingga pembunuhan dari orang kafir .?
Mungkin  kita tidak akan pernah mengenal Islam.
Tapi dengan Iman yg kokoh, beliau saw dn segenap sahabat tetap bertahan dn yakin bahwa ujian itu adalah awal dari kehidupan yg lebih baik.

TAWAKKAL – SYUKUR – SABAR – IKHTIAR

Pada hakikatnya, guncangan dn ketenangan, kesusahan dn kemudahan, kegagalan dn kesuksesan, semua adalah ni’mat yg patut kita syukuri, karena di sanalah sebenarnya tersimpan banyak hikmah.

Lewat dua keadaan yg berlawanan tersebut, akan ada keseimbangan dalam hidup kita. Keadaan tersebut tentu akan memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mengingat dn mendekatkan diri pada Alloh swt, asalkan kita tidak memutuskan untuk berhenti.

Itulah ma’na sabda Rosululloh saw:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin.
Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya.”
(HR. Muslim).

Kesenangan, kebahagiaan dan keni’matan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dn bergiat dalam beramal dn berbagi, sehingga Alloh swt pun menambahkan ni’mat-Nya lebih banyak lagi.
Sedangkan ujian, cobaan dn kesusahan akan menciptakan kehati-hatian dn memberikan peringatan dini agar tidak larut dalam kemaksiatan.

Saat kita sadar bahwa kita masih memiliki iman di dada, tentu kita akan senantiasa ingat kepada Alloh Yang Maha Kuasa .. Semua yg kita alami terjadi atas izin dn kehendak dari-Nya .. Dialah yg senantiasa memberikan yg terbaik bagi makhluk-Nya .. Karena semua mengandung hikmah dari yg Maha Mulia ..

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: