SHOLAT LAILATUL-QODAR

PILIH BATU ATAU BERLIAN

Jangan pernah mengabaikan QIYAMUL-LAIL di malam-malam Romadhon, karena suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa kamu telah kehilangan BERLIAN, sementara kamu sibuk mengumpulkan BATU ..

Jika 20 hari Romadhon berlalu tanpa kesan dalam hatimu .. Maka yakinlah 10 hari Romadhon di depanmu ada Alloh yang memperhatikan dan membuka Tangan-Nya untukmu ..

Semakin banyak waktu dipergunakan sese’orang untuk memohon kepada Alloh , semakin dekat ia dengan-Nya , semakin besar pula pahala yang di dapatnya dan kasih sayang Alloh terhadapnya berupa curahan rohmat dan ampunan untuknya di samping sorga yang selalu merindukannya.

ROHMAT ALLOH SWT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala menurunkan pada setiap malam Lailatul-Qodar sebuah rohmat yang merata kepada semua kaum mukmin, mulai dari dunia timur sampai dunia barat, dan masih tersisa sebagian dari rohmat itu.”
Berkatalah malaikat Jibril as :
“Ya Tuhanku, aku telah menyampaikan rohmat-Mu kepada semua orang mukmin, tetapi masih tersisa kelebihan dari rohmat itu.”
Alloh swt berfirman :
“Serahkanlah kepada anak-anak yang dilahirkan pada malam ini.”
Maka malaikat Jibril as menyerahkan kelebihan itu kepada anak-anak yang dilahirkan dari orang-orang islam maupun orang-orang kafir, jadilah rohmat itu untuk anak-anak orang-orang kafir yang mendorong mereka ke negri keselamatan, karena akhirnya mereka mati dalam ke’ada’an mukmin.”

4 ORANG YANG TIDAK MENDAPATKAN ROHMAT
Dimalam Lailatul-Qodar

“Pada malam Lailatul-Qodar berserulah malaikat Jibril as :
“Hai sekalian malaikat , berangkat , berangkat .!”
Meraka bertanya :
“Hai Jibril , apa yang telah diperbuat Alloh Ta’ala dengan kaum muslimin dari ummat Muhammad pada malam ini .?”
Jibril as berkata kepada mereka :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala memandandang mereka dengan penuh rohmat , mema’afkan dan mengampuni mereka kecuai empat golongan.”
Mereka bertanya :
“Siapakah mereka itu .?”
Jibrlil as menjawab :
” 1. Orang yang membiasakan minum khomer.
2. Orang yang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
3. Orang yang memutuskan hubungan famili.
4. Orang yang mendiamkankan saudaranya lebih dari tiga hari.”

KEUTAMAAN SHOLAT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Pada malam Lailatul-Qodar pintu-pintu langit terbuka, tidak se’orangpun hamba yang mengerjakan sholat didalamnya kecuali Alloh swt menjadikan untuknya ;
Setiap takbirnya, sebuah tanaman pohon di sorga, yang se’andainya orang naik dengan kendara’an berjalan dibawah naungannya seratus tahun tidak akan selesai menempuhnya.
Setiap roka’atnya, sebuah gedung di sorga dari mutiara yaqud, zabarjad dan dari lu’lu’.
Setiap ayat yang dibacanya dalam sholat, sebuah mahkota di sorga.
Setiap duduknya, sebuah derajat dari derajat-derajat sorga.
Dan setiap salamnya, sebuah perhiasan dari perhiasam-perhiasan sorga.”

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang berdiri mengerjakan sholat malam Lailatul-Qodar, yaitu kadar waktu orang memerah susu kambing, adalah lebih di cintai Alloh daripada berpuasa setahun penuh.
Demi Tuhan yang mengutusku dengan haq sebagai Nabi, sungguh membaca satu ayat dari Al-Qur’an pada malam Lailatul-Qodar, adalah lebih di cintai Alloh daripada membaca hatam dalam malam selain malam Lailatul-Qodar.”

Dari ibnu Abbas ra, Rosululloh saw bersabda :
“Barang siapa yang mengerjakan sholat dua roka’at pada malam Lailatul-Qodar, membaca pada setiap roka’atnya Fatihatul-kitab (surat al-Fatihah) sekali dan surat al-Ikhlash tujuh kali, dan apabila telah selesai salam dia membaca :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. 70.x
Maka dia tidak berdiri dari tempatnya, kecuali telah di ampuni dosanya oleh Alloh dan dosa kedua orang tuanya, dan Alloh mengutus para malaikat ke sorga untuk menanamkan beberapa pohon untuknya, membagun beberapa gedung dan mengalirkan beberapa sungai, dan dia tidak akan keluar dari dunia ini sehingga dia melihat semua itu lebih dahulu.”

(Tafsir al-Hanafi).

KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID
Dimalam Lailatul-Qodar

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

“Pada malam lailatul-Qodar turun empat macam bendera,
1. Bendera pujian.
2. Bendera rohmat.
3. Bendera ampunan.
4. Bendera kemulia’an.
Setiap bendera di iringi tujuh puluh ribu malaikat, dan pada setiap bendera tertulis :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه

Barang siapa yang membaca pada malam Lailatul-Qodar kalimat :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه. 3.x

Maka
Alloh mengampuninya dengan baca’an sekali.
Alloh menyelamatkannya dari neraka dengan baca’an sekali.
Alloh memasukkannya kedalam sorga dengan baca’an sekali.
Dan Alloh memasang bendera pujian di antara langit dan bumi, bendera ampunan di atas kubur Nabi Muhammad saw, bendera rohmat di atas Ka’bah, dan bendera kemulia’an di atas batu besar di Baitul-Maqdis.
Masing-masing malaikat datang pada malam itu di pintu rumah kaum muslimin tujuh puluh kali, dengan memberi salam kepada mereka.”

wallohu a’lam bish-showab ..

KEPOMPONG ROMADLON DAN KUPU-KUPU

“Jika kerakusan ulat ibarat nafsu angkara .. dan kepompongnya adalah Romadlon .. Maka keindahan kupu-kupu adalah taqwa dan maghfiroh ..”

Pernahkah Anda melihat seekor ulat .?
Bagi kebanyakan orang ulat memang menjijikkan bahkan menakutkan, karena sifat perusaknya.
Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama perjalanannya.

Pada saatnya ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.
Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud yang lain; ia menjelma menjadi seekor kupu–kupu yang sangat indah.
Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu–kupu dengan sayap yang beraneka corak dan warna yang sangat indah .?

Itulah sebuah gambaran perjalanan manusia dengan lika–liku dan lakunya yang menganiaya diri sendiri dan merusak lingkungannya.
Ketika memasuki Romadlon ia menghususkan dirinya bertobat kepada Alloh swt disertai dengan berbagai macam amalan untuk mencari pahala, rohmat demi mencapai sorga dan ridho-Nya. Maka ia keluar dari Romadlon dalam keadaan suci, bersih dan indah dengan pakaian taqwa.

DZIKIR ISTIGHFAR SETIAP PAGI DAN PETANG

Biasa juga dibaca berulang-ulang di bulan Romadhon setiap sore menjelang maghrib sambil menunggu waktu berbuka puasa ..

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. 3x

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku ,, sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ
نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. 3x

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh .. ampunilah aku Ya Alloh ..
Ya Alloh .. kami mohon ridlo-Mu dan sorga .. dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka ..”

أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. 3x
يَا كَرِيْمِ. 1x

“Ya Alloh .. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia .. suka mengampuni .. maka ampunilah kami .. Wahai Yang Maha Mulia ..”

BACAAN ISTIGHFAR KETIKA BERDIRI DARI TEMPAT DUDUK YANG DIBERKATI

Dari Ibnu ‘Umar ra, berkata:
“Sebelum bangkit dalam sebuah majlis, Rosululloh saw (membaca):
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
“Tuhanku .. Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha Pengampun.”
Satu kali, dihitung sebanyak seratus kali.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam bulan Romadhon amal kebaikan digandakan menjadi 70 kali lipat oleh Alloh swt .. Artinya, setiap kali kita berdiri dari suatu majlis yang diberkati dengan membaca kalimat istighfar di atas maka nilainya sama dengan membaca 7000 (tujuh ribu) kali istighfar .. Sungguh Alloh swt sangat luas karunianya ..

ORANG YANG BERPUASA AKAN BERTEMU DENGAN ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَايَدْخُلُه اِلاَّ الصَّائِمُوْنَ وَهُوَمَوْعُوْدٌ بِلِقَاءِاللهِ تَعَالَى فِى جَزَآءِ صَوْمِه .
“Sorga itu mempunyai pintu yang disebut Royyan, dimana pintu itu tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa, dan ia diberi janji untuk bertemu dengan Alloh Yang Maha Tinggi dalam balasan puasanya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SORGA

Rosululloh saw bersabda :

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى اَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْاٰنِ وَحَافِظِ الِّلسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

“Sorga itu merindukan empat golongan:
1. Orang-orang yang membaca al-Qur’an
2. Orang-orang yang menjaga lisan
3. Orang-orang yang memberi makan
4. Orang-orang yang berpuasa di bulan Romadhon.”

(Hadits diriwayatkan oleh Utsman bin Hasan al-Khaubawi dalam kitab Durrotun Nashihin yang di nukil dari kitab al Rounaqul-Majlis).

BERDUSTA DI BULAN ROMADHON AKAN MENGALAMI KERUGIAN

Dari Anas bin Malik ra dan Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat (dalam Romadhon), maka Alloh tidak membutuhkannya (ya’ni Alloh tidak menerima puasanya) walaupun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (HR. Tirmidzi).

HIBURAN MENYAMBUT ROMADHON

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Romadhon, diharamkan Alloh jasadnya menyentuh api neraka.” (HR. Nasa’i).

Kalau kamu bahagia memasuki bulan Romadhon kemudian kamu bergembira, itu berarti kamu termasuk orang yang sangat hebat .!
Ada yang hebat lagi adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankan puasa Romadhon karena semata-mata melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..

Hal yang demikian pernah dialami oleh Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, waktu mencium Hajar Aswad, beliau berkata :
“Kalau tidak karena aku melihat Rosululloh menciummu, tidak akan aku menciummu.
Tapi karena Rosululloh yang aku cintai dan aku imani menciummu, maka aku menciummu.
Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu.”

Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, tentu itu merupakan menu istimewa bagi kamu .?
Tetapi kalau kamu memakan rujak yang tidak kamu sukai itu semata-mata karena Alloh dan Rosul-Nya yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya ..

Seperti yang pernah dikatan Rosululloh saw kepada para sahabatnya tentang perihal membaca al-Qur’an:
“Orang yang mahir membaca al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat.
Dan orang yang terbata-bata di dalam membaca al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).

GANJARAN BERLIPAT GANDA DI BULAN ROMAHON

Dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata, bahwa Rosululloh saw. memberi khutbah kepada kami di hari akhir dari bulan Sya’ban dan bersabda :

اَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ اَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهٗ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعًا مَنْ تَطَوَّعَ (تَقَرَّبَ) فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ اَدَّى الْفَرِيْضَةَ فِيْمَا سِوَاهُ. وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَشَهْرٌ اَوَّلُهٗ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهٗ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهٗ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. (رواه ابن حزيمة)

“Hai sekalian manusia .!
Akan datang bulan yang agung (Romadhon) yaitu bulan yang penuh barokah di dalamnya.
Dalam bulan itu ada malam yang mulia (Lailatul-Qodar) yang lebih utama dari pada seribu bulan.
Alloh telah mewajibkan puasa di bulan itu, dan sholat tarawih di malamnya sebagai ibadah sunah.
Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya.
Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya.
Bulan Romadhon adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan dimana awalnya rohmat, ditengahnya ampunan dan diakhirnya kebebasan dari neraka.” (HR. Ibnu Huzaimah).

KEUTAMAAN SHOLAT MALAM DAN MEMBACA AL-QUR’AN DI BULAN ROMADHON

Rosululloh saw bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barang siapa sholat malam di bulan Romadhon karena beriman kepada Alloh dan mengharap keridhoan-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

اِقْرَؤُاالْقُرْاٰنَ فَاِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلاَصْحَابِه
“Bacalah olehmu sekalian al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas ra, berkata:

وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Beliau (Nabi Muhammad saw) bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Romadhon untuk tadarus al-Qur’an.” (HR. Bukhori).

NILAI BERSHODAQOH DI DALAM BULAN ROMADHON

Menurut al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 261, bershodaqoh (infaq fii sabiilillah) pahalanya dilipatgandakan 700 kali.
Kemudian menurut Hadits Rosululloh keistimewaan beramal didalam bulan Romadhon pahalanya dilipatgandakan menjadi 70 kali.
Jadi bershodaqoh di bulan Romadhon tentu pahalanya akan lebih banyak lagi, misalnya bershodaqoh Rp.1000, maka setara dengan Rp.49.000.000.

Oleh sebab itu Rosululloh saw sangat menganjurkan ummatnya supaya bershodaqoh di dalam bulan Romadhon, beliau saw bersabda :
اَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ.
“Seutama-utama shodaqoh adalah shodaqoh di bulan Romadhon.” (HR. Tirmidzi).

GANJARAN BERLIMPAH DENGAN MEMBERI MAKAN ORANG BERBUKA PUASA

Bulan Romadhon merupakan kesempatan terbaik beramal sholeh untuk menuai ganjaran berlimpah. Misalnya dengan memberi sesuap nasi, secangkir minuman, sebutir kurma, atau makanan ringan lainnya.
Maka sudah sepantasnya kesempatan bulan Romadhon ini tidak terlewatkan begitu saja, karena pahala yang dijanjikan Alloh swt melalui Nabi muhammad saw sangat luar bisa.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

DO’A KETIKA MENERIMA MAKANAN DAN MINUMAN

Ketika Nabi saw diberi makanan atau minuman, beliau mengangkat kepalanya yang suci ke langit dan mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Ya Alloh, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku.” (HR. Muslim).

DO’A ORANG BERPUASA DITERIMA OLEH ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak (oleh Alloh swt) :
(1) Do’a pemimpin yang adil
(2) Do’a orang yang berpuasa ketika dia berbuka
(3) Do’a orang yang terdholimi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Sebab terkabulnya do’a orang yang berbuka puasa adalah karena dia melakukan ketaatan kepada Alloh swt, dan telah menyelesaikan puasanya dengan baik.

KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Makan sahur adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits ini menerangkan barokah itu ada pada makan sahur, dan yang menetapkan barokah seperti ini adalah Alloh swt, sehingga barokah itu bukan datang dari benda itu sendiri, namun dianugerahkan oleh Alloh swt kepada hamba yang melakukannya.
Yang dimaksud dengan barokah adalah tetapnya kebaikan dari Alloh swt pada sesuatu, yaitu bertambahnya kebaikan dan terus tumbuh, yang bisa mendatangkan manfaat serta kebaikan pahala dunia dan akherat.

KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

Alloh swt telah menjelaskan waktu dibolehkannya seseorang yang berpuasa untuk berbuka yaitu pada terbenamnya matahari, sebagaimana firman-Nya:
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam.” (al-Baqoroh: 187).

Demikian pula rosululloh saw telah menjelaskan, Dari ‘Umar bin Khoththob ra, beliau saw bersabda:
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ وَأَدْبَرَ النَّهَارُ وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Apabila malam telah datang dan siang telah pergi serta matahari telah terbenam maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rosululloh saw bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Tidaklah manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan ifthor (berbuka).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Abu ad-Darda’ ra, rosululloh saw bersabda:
ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ؛ تَعْجِيْلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيْرُ السَّحُورِ، وَوَضْعِ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ
“Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat.” (HR. Thobroni).

DO’A BUKA PUASA

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ

“Ya Alloh, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka, dengan rohmat-Mu, wahai Dzat Yang paling welas asih.”

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Alloh menghendaki.”

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ ” بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Alloh Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Alloh Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Dengan nama Alloh pada awal dan akhirnya.”

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

TANGIS PERPISAHAN DI BULAN ROMADHON

“Di malam terakhir Ramadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya.”

Bagi orang-orang sholeh, setiap bulan Romadhon pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah do’a yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Romadhon menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Romadhon, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Romadhon, pada masa Rosululloh saw, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Romadhon akan segera berlalu meninggalkan mereka.

KISAH SEDIH MALAM ‘IDUL-FITHRI

اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ…
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ…
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ…

Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar…
Tiada Tuhan selain Alloh… Alloh Maha Besar dan hanya milik Alloh segala pujian…
Tiada Tuhan selain Alloh dan kami tidak menyembah kecuali Dia dengan memurnikan agama hanya bagi-Nya meskipun kaum musyrikin menentang kami.”

Dalam satu riwayat yang dikisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Alloh lainnya.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:
“Di malam terakhir Romadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya:
“Apakah musibah itu, ya Rosululloh ..?”

“Dalam bulan itu segala do’a mustajab, shodaqoh diterima, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur ditangguhkan, maka apakah musibah yang lebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu ..?”

Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Romadhon, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Betapa tidak ..! Bulan yang penuh keberkahan dan keridhoan Alloh itu akan segera pergi meninggalkan mereka.
Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Alloh bukakan pintu-pintu sorga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bulan yang awalnya adalah rohmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Alloh daripada minyak kesturi.

Bulan ketika Alloh setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Alloh menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat kepada-Nya.

Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfa’at dari Romadhon.
Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan.
Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Romadhon yang akan datang.

Bagaimana dengan kita ..?
Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Romadhon meninggalkan kita ..?
Atau malah sebaliknya, kita yang mengabaikannya saat bersamanya .. bahkan tanpa kesan sama sekali ..?

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh keberuntungan.”

SEMOGA ALLOH SWT MENERIMA AMAL IBADAH KITA DI BULAN ROMADHON INI

Suatu hari, pada sebuah sholat ‘Idul-Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Alloh selama tiga puluh hari, berdiri melakukan sholat selama tiga puluh hari pula, maka pada hari ini kalian keluarlah (sholat ‘Ied) seraya memohon kepada Alloh agar menerima amalan tersebut.”

RENUNGAN ‘IDUL-FITHRI

Salah seorang sholeh ada yang terlihat sedih di hari raya ‘Idul-Fitri, kemudian seseorang bertanya kepadanya:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang .. Kenapa engkau malah bermuram durja ..? Ada apa gerangan ..?”

“Ucapanmu benar, wahai sahabatku” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Tuhan-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

SUKA CITA ‘IDUL FITHRI

Idul Fithri adalah anugerah Alloh kepada umat Nabi Muhammad saw, tak salah bila disambut dengan suka cita. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat sahabat Anas bin Malik ra, bahwa :
“Ketika Rosululloh saw datang, penduduk Madinah memiliki dua hari, dan mereka gunakan dua hari itu untuk bermain di masa Jahiliyah.

Lalu beliau saw bersabda:
“Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa Jahiliyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yaitu hari Nahr (‘Idul-Adha) dan hari Fithri (‘Idul-Fithri).”
Rosululloh saw juga bersabda:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Nasa’i).

LEBARAN ROSULULLOH SAW

Rosululloh saw menyambut Lebaran dengan keriangan yang bersahaja ..
Pagi itu, 1 Syawwal, Rosululloh saw keluar dari tempat i’tikafnya (Masjid Nabawi). Beliau saw bergegas mempersiapkan diri untuk berkumpul bersama ummatnya, melaksanakan salat ‘Ied.
Nabi saw juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan, baik perempuan yang suci maupun yang haid, keluar bersama menuju tempat sholat, supaya mendapat keberkahan pada hari suci tersebut.

Dari Ummu ‘Athiyyah ra, dia berkata:
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita, termasuk yang haid, pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga mendapat do’a dari kaum muslimin. Hanya saja wanita-wanita yang haid diharapkan menjauhi tempat sholat. (maksudnya tidak melaksanakan).” (HR Bukhori dan Muslim).

Ibnu Abbas ra berkata:
“Rosululloh saw keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Majah).

Ibnu Abbas dalam hadits yang diriwayatkannya menuturkan:
“Aku ikut pergi bersama Rosululloh saw (waktu itu Ibnu Abbas masih kecil), menghadiri Hari Raya ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha, kemudian beliau saw sholat dan berkhutbah. Dan setelah itu mengunjungi tempat kaum wanita, lalu mengajar dan menasihati mereka serta menyuruh mereka agar mengeluarkan sedekah.”

Sebelum melaksanakan salat ‘Id, terlebih dahulu Rosululloh saw membersihkan diri. Lalu beliau berdo’a:
“Ya Alloh, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah bathin kami sebagaimana Engkau telah menyucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah menyucikan apa yang tampak dari kami.”

Anas bin Malik ra, berkata:
“Rosululloh saw memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan parfum terbaik yang kita miliki, dan berqurban (bershodaqoh) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.” (HR. Hakim).

Imam Syafi’i rh, mengatakan:
“Rosululloh saw mengenakan kain burdah (jubah) yang bagus pada setiap hari raya.”
Pakain yang bagus dalam hal ini bukan berarti baru dibeli, tetapi terbagus dari yang dimiliki.
Lebih khusus lagi Imam Syafi’i dan Baghowi meriwayatkan, Nabi saw memakai pakaian buatan Yaman yang indah pada setiap hari raya (Pakaian buatan Yaman merupakan standar keindahan busana saat itu).

Pada hari istimewa itu, beliau saw mengenakan hullah, pakaiannya yang terbaik yang biasa beliau kenakan setiap hari raya dan hari Jum’at. Ini merupakan tanda syukur kepada Alloh swt, yang telah memberikan nikmat-Nya.

Kemudian, beliau mengambil beberapa butir korma untuk dimakan, pertanda hari itu ummat Islam menghentikan puasanya.

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat salat ‘Id, Rosululloh tak henti-hentinya mengumandangkan takbir dengan khidmat.
“Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar walillahilhamdu.”

Rosululloh saw selalu melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha di tanah lapang, seperti disebutkan di dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim. Beliau baru melaksanakan sholat ‘Id di masjid kalau hari hujan. Menurut ahli fiqih, tempat salat ‘Id yang sering digunakan Rosululloh dan para sahabat itu terletak di sebuah lapangan di pintu timur kota Madinah.

Rosululloh melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri agak siang. Ini untuk memberi kesempatan kepada para sahabat membayar zakat fithrah mereka.
Sementara sholat ‘Idul-Adha dilakukan lebih awal, agar kaum muslimin bisa menyembelih hewan qurban mereka.

Jundab ra berkata:
“Rosululloh saw sholat ‘Idul-Fitri dengan kami ketika matahari setinggi dua tombak, dan sholat ‘Idul-Adha dengan kami ketika matahari setinggi satu tombak.”

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA ‘IDUL-FITRI

Ucapan selamat “Hari Raya ‘Idul-Fitri” seringkali diakhiri dengan “Minal ‘Âidîn wal-Faizîn” (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat).

Selain sebagai do’a dan harapan, ucapan ini juga sebagai pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Sejak ‘Idul-Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Romadhon.

Bagi muslim yang telah mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Romadhon dan mengoptimalkan berbagai ibadah dengan penuh keikhlasan melaksanakannya, ‘Idul-Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Alloh swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapa pun, yaitu rohmat dan maghfiroh-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya, dan tak satupun kaum muslimin yang beriman berdo’a pada hari raya ‘Idul-Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Merayakan ‘Idul-Fitri tidaklah hanya sekedar ajang berhias diri dengan pakaian baru, tapi yang lebih penting ‘Idul-fitri adalah ajang tasyakkur, refleksi diri untuk mengasah kepekaan jiwa kita kembali mendekatkan diri pada Alloh swt, dengan memperbarui pakaian taqwa.

Alloh swt berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Wahai anak Adam, seseungguhnya Kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurot kalian, dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian taqwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh agar mereka ingat.” (QS. Al-A’rof :26).

اللهم إنا نسألك في الدنيا لباس التقوى وفي الآخرة لباس الجنة
“Ya Alloh, sesunggunya kami memohon kepada-Mu di dunia memakai pakaian taqwa, dan di akherat memakai pakaian sorga.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf yang disengaja dan tidak.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan dari kalian, puasa kami dan puasa kalian.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh kesuksesan -di dunia dan keberuntungan di akherat-.”

SALING BERMA’AFAN

Saat bertemu satu sama lain, kaum muslimin saling bermaafan, seraya saling mendo’akan. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Kholid bin Ma’dan ra, ia mengatakan:
“Aku menemui Watsilah bin al-Asqa’ pada hari ‘Id, lalu aku mengatakan:
“Taqobbalallohu minna wa minka (Semoga Alloh menerima amal ibadahku dan amal ibadahmu).”
Lalu ia menjawab:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Kemudian Watsilah berkata:
“Aku menemui Rosululloh saw pada hari ‘Id, lalu aku mengucapkan:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Lalu Rosululloh saw menjawab:
“Ya, taqobbalallohu minna wa minka.” (HR. Baihaqi).

Selanjutnya, di masa sahabat ra, ucapan ini agak berubah sedikit. Jika sebagian sahabat bertemu dengan sebagian yang lain, mereka berkata:
“Taqobbalallohu minna wa minkum (Semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian).” (HR Ahmad).

Pada hari raya, Rosululloh saw mempersilakan para sahabat ra, untuk bergembira. Seperti mengadakan pertunjukan tari dan musik, makan dan minum, serta hiburan lainnya. Namun semua kegembiraan itu tidak dilakukan secara berlebihan atau melanggar batas keharaman. Karena, hari itu adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Alloh Azza wa Jalla. (HR. Muslim).

Sayyidah ‘Aisyah ra, menceritakan:
“Di Hari Raya ‘Idul Fithri, Rosululloh masuk ke rumahku. Ketika itu, di sampingku ada dua orang tetangga yang sedang bernyanyi dengan nyanyian bu’ats (bagian dari nyayian pada hari-hari besar bangsa Arab ketika terjadi perselisihan antara Kabilah Aush dan Khazraj sebelum masuk Islam). Kemudian Rosululloh berbaring sambil memalingkan mukanya.

Tidak lama setelah itu Abu Bakar masuk, lalu berkata:
“Kenapa membiarkan nyanyian setan berada di samping Rosululloh .?”

Mendengar hal itu, Rosululloh menengok kepada Abu Bakar seraya berkata:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita’.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ada juga riwayat dari Imam Bukhori yang menceritakan:
“Rosululloh saw masuk ke tempatku (‘Aisyah), kebetulan di sana ada dua orang sahaya sedang menyanyikan syair-syair Perang Bu’ats (Bu’ats adalah nama benteng kepunyaan suku Aus; sedang hari Bu’ats ialah suatu hari yang terkenal di kalangan Arab, waktu terjadi pertempuran besar di antara suku Aus dan Khazraj). Beliau terus masuk dan berbaring di ranjang sambil memalingkan kepalanya. Tiba-tiba masuk pula Abu Bakar dan membentakku seraya berkata:
“(Mengapa mereka) mengadakan seruling setan di hadapan Nabi .?”

Maka Nabi pun berpaling kepadanya, beliau berkata:
“Biarkanlah mereka.”

Kemudian setelah beliau terlena, aku pun memberi isyarat kepada mereka supaya keluar, dan mereka pun pergi.

Dan waktu hari raya itu banyak orang Sudan mengadakan permainan senjata dan perisai. Adakalanya aku meminta kepada Nabi saw untuk melihat, dan adakalanya pula beliau sendiri yang menawarkan:
“Inginkah kamu melihatnya .?”
Aku jawab: “Ya.”

Maka disuruhnya aku berdiri di belakangnya, hingga kedua pipi kami bersentuhan, lalu sabdanya:
“Teruskan, hai Bani ‘Arfadah .!”
Demikianlah sampai aku merasa bosan.
Maka beliau bertanya:
“Cukupkah .?”
Aku jawab: “Cukup.”
“Kalau begitu, pergilah .!” kata beliau saw.

HIKMAH KEMENANGAN

Demikianlah, Romadhon telah melewati kita. Tapi kebaikan-kebaikan lain tetap mesti dipertahakan.
Puasa Romadhon memang telah berakhir, tapi puasa-puasa sunnah, misalnya, tidaklah berakhir, tetap menanti kita. Seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan (ayyaamul bidh, tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan), puasa Asyura’ (tanggal 10 Muharram), puasa Tarwiyah dan ‘Arofah (tanggal 8-9 Dzulhijjah), dan lain-lain.

Terawih memang telah berlalu, tapi Tahajjud dan witir misalnya, tetap menanti kita. Juga bermunajat di tengah malam, yang merupakan kebiasaan orang-orang sholeh.
Abu Sulaiman ad-Daroni rohimahulloh berkata:
“Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.”

Zakat fithrah memang telah berlalu, tapi zakat wajib dan pintu shodaqoh masih terbuka lebar pada waktu-waktu yang lain.

Indikator diterimanya puasa Romadhon ..
Seorang penyair Arab mengungkapkan:
“Bukanlah Hari Raya ‘Ied itu
bagi orang yang berbaju baru
Melainkan hakikat ‘Ied itu
bagi orang yang bertambah ta’atnya.”

Semoga dengan latihan yang telah kita lakukan selama bulan Romadhon ini, kita disampaikan oleh Alloh swt kepada ketaqwaan, dan semoga ketaqwaan ini dapat terus kita pertahankan dan kita jadikan sebagai pakaian kita sehari-hari, dan semoga kita masih dapat dipertemukan Alloh swt dengan Romadhon berikutnya.

Wallohu a’lam bisshowab ..

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: