Archive for Juli, 2013

LAILATUL-QODAR

LAILATUL-QODAR
Turunnya al-Qur’an

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami (Alloh melalui malaikat Jibril) telah menurunkannya (ya’ni al-Qur’an) pada malam Qodar.”

Diturunkannya al-Qur’an sekaligus dari Lauh-Mahfudh ke langit dunia di hadapan para malaikat Safaroh, sedangkan diturunkannya berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw, yang dibawa malaikat Jibril as selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

“Malam” dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar. Kita tidak mendapatkan informasi yang pasti, apakah turunnya pada awal malam, pertengahan atau akhir malam.

Benar bahwa ada riwayat yang menyatakan bahwa “Alloh turun” pada sepertiga malam terakhir, untuk menerima taubat hamba-hamba-Nya atau memperkenankan permohonan mereka, namun itu tidak bisa di jadikan dasar untuk menyatakan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw adalah pada saat tersebut.

Karena itu penentuan saat yang pasti bagi peristiwa yang amat besar itu, sepenuhnya kita serahkan kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Setelah ayat pertama menjelaskan bahwa al-Qur’an turun pada malam Lailatul-Qodar, ayat kedua dan ketiga menguraikan kehebatan malam itu dengan menyatakan:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
 لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Dan apakah yang menjadikan kamu tahu, apakah Lailatul-Qodar itu .?”
Kamu tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan betapa hebat dan mulia malam itu.
Kata-kata yang di gunakan manusia tidak dapat melukiskannya, dan nalarnya sukar menjangkaunya.
Sekedar sebagai gambaran
“Lailatul-Qodar itu lebih baik dari seribu bulan.”

Paling tidak ada 4 ma’na al-Qodar pada ayat di atas:

1. PENETAPAN
Malam al-Qodar adalah malam penetapan Alloh atas perjalanan hidup mahluk selama setahun.
Berdasarkan firman Alloh swt:
 
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya (sekaligus atau salah satu bagiannya) pada AL-LAILAH AL-MUBAROKAH (suatu malam yang diberkahi yaitu Lailatul-Qodar) dan sesungguhnya kami (melalui para rosul Kami) adalah para pemberi peringatan (antara lain dengan membekali para rosul dengan kitab suci).”
(44 : 3)

2. PENGATURAN
Ya’ni pada malam turunnya al-Qur’an, Alloh swt mengatur Khiththoh atau setrategi bagi Nabi-Nya Muhammad saw, guna mengajak manusia kepada kebajikan.

3. KEMULIAAN
Ini berarti bahwa sesungguhnya Alloh swt telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam tersebut menjadi mulia karena kemuliaan al-Qur’an sebagaimana kemuliaan Nabi-Nya Muhammad saw mendapat kemuliaan dengan wahyu yang beliau saw terima, dan kemuliaan ummat beliau saw ya melakukan ibadah di dalamnya. Dalam arti bahwa ibadah pada malam tersebut mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran tersendiri yang berbeda dengan malam-malam yang lain.

Ada pula yang berpendapat bahwa orang-orang yang tadinya tidak memiliki kedudukan yang tinggi, akan mendapat kemuliaan apabila pada malam itu mereka dengan khusyu’ tunduk kepada Alloh, menyadari dosa-dosanya serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

4. SEMPIT
Ya’ni pada malam turun-Nya al-Qur’an, malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak bagaikan sempit.

Kebaikan Lailatul-Qodar jika di kaitkan dengan turunnya al-Qur’an sungguh sangat jelas, karena satu malam dimana cahaya wahyu Ilahi menerangi alam raya, memberi petunjuk kebahagiaan ummat manusia.
“Satu malam itu jauh lebih baik dari seribu bulan”
Bila kebaikan dalam Lailatul-Qodar difahami setiap tahun kepada hamba-hamba Alloh yang mempersiapkan diri untuk menyambutnya, maka ma’na lebih baik dari seribu bulan antara lain bahwa nilai pahala ibadah pada malam Lailatul-Qodar melebihi nilai pahalanya dibandingkan dengan beribadah pada seribu bulan yang lain.

Itulah malam Lailatul-Qodar yang mulia lagi hebat yang tidak mudah diketahui hakekatnya dan tidak mudah untuk diungkap kecuali dengan bantuan Ilahi.

LAILATUL-QODAR
Turunnya para Malaikat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
 سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“(Pada malam itu) turun (silih berganti dengan mudah dan cepat) malaikat-malaikat dan Ruh (ya’ni malaikat Jibril), padanya (malam Lailatu-Qodar itu) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Salam (kedamaian yang agung dan besar) sampai terbit fajar.”

Tidak usah bertanya ataupun menyelidiki rahasianya, bagaimana cara malaikat malaikat yang dipimpin oleh “Ruh” yaitu malaikat Jibril as turun dari alam ruhani ke alam dunia, cukuplah kita beriman saja.
Yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit sekali sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit” (QS. Al-Isro’ [17] : 85)

Kalimat “bi idzni Robbihim” memberi kesan bahwa turunnya para malaikat itu membawa sesuatu yang sangat istimewa karena mereka turun atas perintah dan restu Alloh Yang Maha Pemurah.

Kalimat “min kulli amr” turunnya para malaikat itu untuk mengatur segala atau banyak urusan, diantaranya membawa segala persoalan yang akan terjadi pada tahun itu, ya’ni sampai Lailatul-Qodar berikutnya, dengan mambawa kedamaian dari segala yang dicemaskan.

Kata “salam” diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuk kekurangan tersebut baik lahir maupun batin, sehingga seseorang yang hidup dalam “salam” akan terbebaskan dari penyakit, kemiskinan, kebodohan dan segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian kekurangan lahir dan batin.

Kata “salam” terulang didalam al-Qur’an sebanyak 42 kali yang digunakan untuk berbagai maksud antara lain:
1. Ucapan salam yang berfungsi sebagai do’a.
2. Keadaan atau sifat sesuatu.
3. Menggambarkan sikap mencari selamat dan damai.
4. Sebagai sifat Alloh swt.

Bila kita memahami kata “salam” sebagai ucapan yang mengandung do’a, maka ayat di atas menginformasikan bahwa para malaikat itu mendo’akan setiap orang yang “ditemuinya” pada malam Lailatul-Qodar itu agar terbebas dari segala kekurangan lahir dan batin.
Dalam hal ini ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa para malaikat mengucapkan “salam” dan mendo’akan orang-orang yang berada di masjid atau orang-orang muslim yang taat ketika itu.

Bila kita memahami kata “salam” sebagai keadaan atau sifat atau sikap, maka kita dapat berkata malam tersebut penuh dengan kedamaian yang dirasakan oleh mereka yang “menemuinya” atau sikap para malaikat yang turun pada malam tersebut adalah sikap yang penuh damai terhadap mereka yang berbahagia ditemuinya.

Terlepas dari dua ma’na salam itu:
“hati yang mencapai kedamaian dan ketentraman mengantarkan pemiliknya, dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri.”
Itulah alamat jiwa yang telah mencapai kedamaian dan itu pula yang dapat dijadikan bukti pertemuan dengan Lailatul-Qodar.

Munculnya cahaya matahari ditengah kegelapan malam di namai “fajar” karena cahaya tersebut bagaikan membelah kegelapan itu.
Fajar adalah waktu terlihatnya cahaya itu, tetapi sebelum hilangnya secara penuh kegelapan malam, ya’ni sebelum terbitnya matahari.
Itu adalah fajar yang kita kenal sehari-hari, waktu sebelum terbitnya matahari. Tentunya yang dimaksud dalam ayat ini adalah “fajar” malam Lailatul-Qodar.

Awal surat ini berbicara tentang turunnya al-Qur’an. Ia dilukiskan oleh Alloh swt sebagai petunjuk menuju jalan-jalan keselamatan yang lurus:

 يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dengan kitab itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ma’idah [5] :16)

Akhir surat inipun berbicara tentang keselamatan serta kedamaian. Itu hanya dapat di raih oleh mereka yang mengikuti tuntunan kitab suci yang diturunkan pada malam al-Qodar itu. Demikian bertemu awal surat ini dan akhirnya.
Maha Benar Alloh dengan segala firman-Nya.

Iklan

PERISTIWA PERANG BADAR 17 ROMADLON 2.H

PERISTIWA 17 ROMADLON

Pertempuran pertama dalam sejarah Islam adalah perang Badar. Peristiwa ini menjadi garis pemisah antara era penghinaan dan kelemahan, dan dimulainya era kekuatan dan kebangkitan urusan Nabi saw dan orang beriman. Perang Badar menjadi titik tolak dalam penyebaran risalah Nabi saw.

Tentang kisah ini, Alloh mengabadikan dalam Firman-Nya:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Ingatlah .! ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”
Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Alloh dan Rosul-Nya; dan barangsiapa menentang Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya Alloh amat keras siksaan-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 12-13)

Keimanan mereka mencapai titik sempurna, andaikan dada mereka di belah kemudian dikeluarkan hatinya, maka tak akan ada satu ruang-pun yang berisikan kecintaan melebihi kecintaan terhadap Alloh swt dan Rasul-Nya saw.

Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshor-pun saat itu angkat suara Maka, ia pun segera bangkit dan berkata:
“Demi Alloh, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu.
Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar.
Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu.
Kami siap berangkat wahai Rosululoh, jika itu yang engkau kehendaki.
Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.
Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari.
Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran.
Semoga Alloh memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu.
Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Alloh.”

Pada malam itu, malam jum’at 17 Romadlon 2 H. Nabi Muhammad saw lebih banyak mendirikan sholat di dekat pepohonan.
Pada malam itu, Alloh swt menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat.
Sedangkan di pihak lain, Alloh swt menurunkan rasa takut dan cemas kepada kaum musyrikin.

Adapun Nabi Muhammad saw tiada hentinya memanjatkan do’a kepada Alloh swt. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya.
Beliau tau bahwa yang akan ditemui besok adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, beliau khawatir terhadap keteguhan dan semangat para sahabatnya.
Beliau saw sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yang beliau pimpin.
Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian sahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar.
Alloh swt gambarkan kondisi mereka dalam firman-Nya:

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.”
(Qs. Al Anfal: 5)

Di Badar ini, Nabi saw mengangkat tangannya ke langit dan berdo’a kepada Alloh dengan penuh harap hingga menyebabkan selendang (sorban) beliau terjatuh dari pundak.
Di antara do’a yang dibaca beliau saw berulang-ulang adalah:

“Ya Alloh, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku …
Ya Alloh, sesungguhnya aku mengingat-Mu, maka penuhi sumpah dan janji-Mu …
Ya Alloh, jika kelompok ini hancur, tidak akan ada  lagi yang tersisa di bumi itu untuk beribadah kepada-Mu …
Ya Alloh, jika Engkau berkehendak orang kafir menang, Engkau tidak akan disembah …
Ya Alloh, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah …”

Beliau saw mengulang-ulang do’a ini sampai selendangnya tarjatuh karena lamanya berdo’a, kemudian datanglah Abu Bakar Shiddiq ra memakaikan selendang beliau saw yang terjatuh sambil memeluk beliau saw, ia berkata:
“Sudah cukup untuk terus-menerus memohon kepada Tuhanmu wahai Rosululloh, karena Dia pasti memenuhi apa yang Dia telah janjikan …”

Alloh swt berfirman:
“Ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu dikabulkan-Nya bagimu,
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bantuan kepadamu seribu malaikat yang datang bersambungan.”
Dan tidaklah hal itu dijadikan oleh Alloh untukmu kecuali sebagai berita gembira dan untuk menenteramkan hatimu.
Dan tiada lain kemenangan itu kecuali datang dari Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.”
(QS. al-Anfal: 9-10)

Malaikat Jibril as pun datang kepada Rosululloh saw sebelum pertempuran dimulai dan berkata:
”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini .?”
Rosululloh saw menjawab:
“Mereka adalah orang muslim terbaik.”
Maka, Jibril as berkata:
“Begitu pula dengan para malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka adalah termasuk malaikat-malaikat terbaik.“

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Alloh telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Alloh, supaya kamu mensyukuri-Nya.”
(QS. Ali Imron: 123)

**

Sejarah telah mencatat rohmat Alloh yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman

1.    Pasukan Malaikat

Abdulloh bin Abbas meriwayatkan bahwa ketika seorang sahabat mengejar dengan gigih seorang musyrik yang ada di depannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan dan suara penunggang kuda yang menghentakkan kudanya. Lalu sahabat tersebut melihat orang musyrik itu jatuh tewas terkapar dengan keadaan hidung dan wajahnya terluka berat akibat pukulan keras.
Hal tersebut ia ceritaka kepada Rosululloh saw, lalu beliau bersabda:
“Kau benar, itu adalah pertolongan Alloh dari langit ketiga.” (HR. Bukhori dan Muslim)
 
Kemenangan pada perang Badar menjadi pesta di kalangan para malaikat karena peristiwa ini adalah pertama kalinya mereka diizinkan terjun ke gelanggang perang di bawah komando Jibril as dengan seribu pasukan malaikat pilihan.
 
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. An-Anfal: 9)
 
Para Malaikat yang terlibat dalam Perang Badar memiliki kemuliaan di antara semua malaikat seperti yang dikatakan Jibril as kepada Nabi saw. ”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini .?”
Rosululloh saw menjawab:
“Mereka adalah orang muslim terbaik.”
Maka, Jibril as berkata:
“Begitu pula dengan para malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka adalah termasuk malaikat-malaikat terbaik.“
 
2.    Alloh Meneguhkan Hati  
 
“Dan Alloh tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa Maha Perkasa. (QS. Al-Anfal: 10)
 
3.    Rasa Kantuk dan Turunnya Hujan
                 
“Sesungguhnya Allah manjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dari-Nya dan Alloh menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, Alloh Swt. menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh  kedudukanmu.”
(QS. Al-Anfal:11)
 
Rasa kantuk yang melanda para mujahid Badar merupakan salah satu ni’mat. Mengapa demikian .? Karena situasi perang tidak kondusif untuk tidur, guna mengembalikan energi, maka rasa kantuk menjadi suatu terapi dari suasana yang tegang dan mencekam. Karena malam hari bagi kaum musyrikin adalah untuk bersenang-senang, sementara kaum mslimin dikaruniakan rasa kantuk sebagai rangsangan tidur untuk memulihkan tenaga.
 
Saat itu pun turun hujan baik di tempat kaum muslim maupun kafir. Hal ini berdampak ni’mat bagi kaum muslim tetapi menjadi siksaan dan kendala bagi kaum kafir. Contohnya, tanah kaum muslim menjadi padat dan tidak berdebu sehingga menjadi kokoh diinjak dan tidak mengganggu pandangan.

Hujan menjadi salah satu bantuan dalam bentuk rohmat yang Alloh swt turunkan kepada kaum mu’minin dalam pertempuran Badar itu, selain  jundun min jundillah atau tentara Alloh, sepertia para malaikat yang Alloh turunkan untuk mengacaukan pasukan kaum Musyrikin.

Rosululloh saw. dan generasi awal umat ini benar-benar menyadari, bahwa masyarakat paganis ekstrim dari keturunan Quraisy dan semua kelompok yang sejenis dengannya tidak akan pernah membiarkan umat Islam memiliki kebebasan menjalankan Syari’atnya di Kota Yatsrib, setelah sebelumnya mereka diusir beramai-ramai dari Kota Makkah. Dari itu, umat Islam pun mempersiapkan segalanya.

Di Kota Madinah kaum Muslimin mempersiapkan diri dengan membangun kekuatan dengan cara selalu berlatih berperang, agar mereka tidak lagi dilecehkan orang-orang musyrik dan juga kabilah-kabilah Yahudi.
Sadar akan kekuatan Islam yang selama ini tersebunyi. Hal ini menggetarkan musuh, sehingga musuh tidak menyerang umat Islam di Kota Madinah. Bahkan dengan kekuatan yang dimiliki kaum muslimin ini, masyarakat Quraisy paham bahwa orang-orang Muhajirin yang selama ini lari dari tekanan dan penindasannya, bukan lagi pada posisi yang lemah dan hina. Namun kini mereka telah berubah menjadi satu komunitas yang kuat, dan mampu menggetarkan mereka. Dari itu pasukan Rosululoh saw patut diperhitungkan.

Hasil Perang Badar
 
Perang Badar (dengan seluruh hasil yang ia torehkan bagi sejarah harokah Islamiah maupun sejarah umat manusia seluruhnya, telah menjadi sebuah pelajaran yang sangat jelas sekali bagi harokah Islamiah maupun bagi perjalanan sejarah ke depan.

Allah swt. menyebut hari itu dengan nama “yaumul-furqan yaum iltaqol-jam’an” atau hari pembeda, hari dimana dua kekuatan bertemu. Peperangan ini sendiri memberikan beberapa buah hasil penting antara lain:
 
1.    Perang Badar merupakan pembatas di antara dua ikatan dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil. Kekuatan umat Islam semakin kuat sehingga dataran Arab pun turut memperhitungkannya. Kebenaran muncul di permukaan dengan rambu-rambu akidah dan prinsip-prinsip dasar yang dibawanya.
2.    Tergoncangnya kedudukan Quraisy di mata orang Arab serta kegalauan penduduk Makkah di hadapan tamparan yang tak diduga tersebut.
3.     Tampilnya umat Islam sebagai sebuah kekuatan yang memiliki arti dan pengaruh. Hal ini menyebabkan banyak kabilah yang tinggal di sepanjang jalur Makkah dan Syam membuat perjanjian kesepakatan dengan mereka. Dengan demikian kaum muslimin sudah berhasil menguasai jalur tersebut.
4.    Sebelum Perang Badar meletus, kaum muslimin mengkhawatirkan keberadaan orang-orang non muslim yang tinggal di kota Madinah. Namun setelah mereka kembali ternyata kenyataannya justru sebaliknya.
5.    Semakin bertambahnya kebencian orang-orang Yahudi terhadap umat Islam. Sebagian mereka mulai menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan. Sementara yang lainnya menjadi agen yang membawa berita seputar perihal kaum muslimin kepada orang-orang Quraisy serta memprovokasi mereka untuk menyerang umat Islam.
6.    Aktivitas perdagangan Quraisy menjadi semakin sempit. Akhirnya mereka terpaksa menapaki jalur Irak melalui Najd karena takut apabila dikuasai oleh orang-orang islam. Dan jalur ini merupakan jalur yang panjang.
7.    Pada Perang Badar, 14 orang dari kalangan umat Islam gugur sebagai syuhada; 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar. Sementara dari pihak orang musyrikin tewas sebanyak 70 orang dan 70 orang lagi berhasil ditawan. Kebanyakan dari mereka adalah pemuka dan pembesar Quraisy.

KEUTAMAAN AIR WUDLU’ DAN MANDI TAUBAT

JALAN MENUJU SORGA DENGAN WUDLU’ DAN TAUBAT

Dari Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa berwudlu’ lalu memperbaiki wudlu’nya dengan sebaik-baiknya, kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Alloh, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Alloh)
Maka dibukakan untuknya delapan pintu sorga, dan dia akan masuk melalui pintu manapun yang dia suka dari delapan pintu itu.”
(HR. Muslim, Ibnu majah dan Nasa’i)

MENGHAPUS DOSA DENGAN WUDLU’

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudlu’, ketika membasuh wajah, maka keluarlah dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudlu’ sampai tetesan air terakhir.
Apabila membasuh kedua tangan, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya sampai tetesan air terakhir.
Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya sampai tetesan air terakhir.”
(HR. Muslim).

DO’A DAN MA’NA WUDLU’

1. Do’a membasuh dua telapak tangan sebelum wudlu’:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

“Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.
Segala Puji bagi Alloh yang menjadikan air itu suci.”

Ketika kita mencuci tangan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bersihkanlah perbuatan tanganku dari perbuatan dholim.
Dekatkanlah kedua tanganku kepada perbuatan yang baik dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.”
Dengan begitu seseorang yang wudlu’nya benar tidak akan berbuat kerusakan dengan tangannya, ataupun perbuatan dholim lainnya.

 
2. Do’a ketika berkumur:

اَللَّهُمَّ اَسْـقِـنِى مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهاَ أَبَدًا

“Ya Alloh, curahkan segelas air dari telaga Nabi-Mu Muhammad saw yang tidak akan kehausan setelah itu selama-lamanya.”

Ketika kita berkumur, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jauhkanlah mulutku dari perkataan kotor dan jahat. Berikanlah kebaikan apa yang aku ucapkan. sehingga bermanfaat bagi semuanya.”

3. Do’a membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنِى رَائِحَةَ جَـنَّتِكَ

“Ya Alloh, janganlah Engkau haramkan aku mencium harumnya sorga-Mu.”

Ketika kita membersihkan hidung, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, izinkan hidungku selalu mencium wewangian Nabi-Mu, yang mengantarkan aku mencium wewangian sorga dan haramkan mencium busuknya neraka.”

4. Do’a ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Ya Alloh, cerahkanlah wajahku pada hari bercahaya.”

Ketika kita membasuh muka, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, berikanlah cahaya-Mu agar wajahku tidak nampak gelap di hari akhir nanti. Jangan jadikan wajahku seperti wajah orang yang kafir dan munafik atau yang durhaka kepada-Mu. Jadikan wajahku terang benderang, yaitu wajah hamba-hamba yang Engkau Ridhoi.”
 

5. Do’a saat membasuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

“Ya Alloh, berikanlah buku catatan amalanku dengan tangan kananku dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.”

Ketika kita membasuh tangan kanan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kananku kepada pekerjaan yang mumbuahkan kemanfaatan diri dan linkunganku, yang akan mengantarku selalu dapat menerima anugerah rohmat-Mu.”

Do’a saat membasuh tangan kiri:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى مِنْ يَساَرِىْ وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menerima buku catatan amalanku dengan tangan kiri atau dari sebelah belakangku.”

Ketika kita membasuh tangan kiri, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kiriku untuk selalu menolak keburukan yang bersumber dari setan dan bala tentaranya, sehiangga aku dapat meletakkan setiap pekerjaanku pada tempatnya, dari yang Engkau ridhoi.”

 
6. Do’a saat membasahi rambut kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ مِنَ النَّارِ وَاَظِلَّنِي تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلاَّ ظِلُّكَ

“Ya Alloh, haramkanlah rambutku dan kulitku dari neraka dan naungilah aku di bawah ‘Arsy-Mu pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Mu.”

Ketika kita membasahi rambut kepala, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, terangilah pikiranku untuk terus mengharap ampunan dan ridho-Mu. Hindarkanlah pikiranku dari segala yang kotor dan membahayakan, dan Jadikan setiap helai rambutku saksi kebaikanku kelak di hari perhitungan.”

 
7. Do’a membasuh dua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

“Ya Alloh, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti sesuatu yang baik.”

Ketika kita membasuh dua telinga, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jadikanlah pendengaranku kecintaan kepada bacaan al-Qur’an dan dapat mengamalkan nasihat-nasihatnya sehingga dapat menolak keburukan ajakan-ajakan kemaksiatan, dengan sebab itu aku dapat memenuhi hak-hakku terhadap-Mu.”

8. Do’a saat membasuh dua telapak kaki:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَّي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلاَقْدَامُ

“Ya Alloh, mantapkan kedua kakiku di atas titian (shirothol-mustaqim) pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.”

Ketika kita membasuh dua kaki, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh berikanlah kekuatan kepada kakiku untuk melangkah menuju kebaikan. Jauhkanlah dari langkah syetan yang menjerumuskan kepada dosa dan penderitaan. Mudahkanlah kakiku untuk melewati jembatan Shirothol-Mustaqim agar selamat dari siksa api neraka.”

 
9. Do’a setelah berwudhu:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Alloh, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusan-Nya.
Ya Alloh, Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang sholeh.”

ALLOH MENCINTAI ORANG YANG MEMBERSIHKAN DIRI

Alloh swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu niat hendak mengerjakan sholat, sedangkan pada saat itu kamu dalam keadaan tidak suci, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah sedikit atau sebagian atau seluruh kepalamu dan basuhlah kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub keluar mani dengan sebab apapun maka mandilah.”
(QS.5 al-Ma’idah: 6)

Wudlu’ ( الوضوء ) mengandung ma’na kebersihan dan keindahan ( الحسن والنظافة ) adalah sebuah syari’at kesucian yang telah Alloh swt tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan bagi sholat dan ibadah lainnya.

Di dalam wudlu’ terkandung sebuah hikmah, faedah, keutamaan dan kedudukan yang tinggi, karena itu hendaknya seorang muslim memulai ibadah dalam kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin dalam seluruh kondisi.

Rosululloh saw bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Ta’akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudlu’.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ

“Perhiasan (cahaya) seorang mukmin akan mencapai tempat yang dicapai oleh wudlu’nya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa , dan mengangkat derajat-derajat .?”
Mereka menjawab:
“Mau wahai Rosululloh .!”
Beliau saw bersabda:
“(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudlu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah pos penjagaan.”
(HR. Muslim)

Dari Abu Huroiroh ra berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

Rosululloh saw pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda:
“Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin.
Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami.”
Para sahabat bertanya:
“Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rosululloh .?”
Beliau saw bersabda:
“Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya.”
Mereka berkata:
“Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rosululloh .?”
Beliau saw bersabda:
“Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah dan kakinya diantara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya.”
Mereka berkata:
“Betul, wahai Rosululloh.”
Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya mereka (umat beliau saw) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu’.
Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga.
Ingatlah , sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir.
Aku memanggil mereka:
“Ingat, kemarilah .!”
Lalu dikatakan (kepadaku):
“Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu.”
Lalu aku katakan:
“Semoga Alloh menjauhkan mereka.”
(HR. Muslim)

Rosululloh saw bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci (wudlu’) adalah separuh iman.
Al-Hamdulillah akan memenuhi mizan (timbangan).
Subhanalloh wal hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi.
Sholat adalah cahaya.
Shodaqoh adalah tanda (taqwa).
Kesabaran adalah sinar.
Al-Qur’an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu.
Setiap orang keluar di waktu pagi, maka ada yang menjual dirinya, lalu membebaskannya atau membinasakannya”.
(HR . Muslim)

Dari Abu Huroiroh ra berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Nabi saw pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar :
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam sorga.”
Bilal berkata:
“Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudlu’ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.”
(HR. Buhori dan Muslim).

DI SYARI’ATKAN MANDI TAUBAT

Alloh swt berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh :222).

Mandi Taubat dalam istilah Fiqh diartikan mandinya sesorang setelah ia masuk Islam atau setelah melakukan kefasikan atau dosa.
Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanafi mandi tersebut hukumnya sunah. Sedangkan Imam Maliki dan Imam Ahmad lebih cenderung menghukumi wajib.

Mandi Taubat dalam istilah riyadhoh sering diartikan mandi sebagai awal bentuk penyucian lahir dan bathin seseorang untuk menghadap Alloh swt, sepanjang pelaksanaan tata caranya tidak bertentangan dengan syari’at yaitu tujuannya menyucikan jasmani dan ruhani dari noda dan dosa untuk memulai kehidupan baru yang bersih, mandi semacam ini boleh dan bahkan sunah karena Islam sangat mengedepankan kebersihan dan kerapian.

CARA MANDI TAUBAT

Mandi taubat itu seperti mandi besar atau mandi jinabat, sebelum mandi berwudhu’ terlebih dahulu, lalu niat mandi :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ نَوَيْتُ غُسْلَ التَّوْبَةِ لله تَعَالَ
“Aku niat (sengaja) mandi tobat (dari segala kesalahan dan dosa lahir maupun batin) Lillahi Ta’ala (karena melaksanakan perintah Alloh ta’ala)”.

DO’A MANDI TAUBAT
“Ya Alloh, jadikanlah mandi taubatku sebagai penebus dosa-dosaku, dan sucikanlah agamaku, serta hilangkanlah segala kotoran yang melekat pada diriku.”

DISYARI’ATKAN SHOLAT TAUBAT

Diriwayatkan dari Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk sholat dua roka’at, kemudian memohon ampun kepada Alloh, melainkan Alloh akan mengampuni dosanya.”

Kemudian Nabi saw membaca (QS. Ali Imron: 1365).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alloh .?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:
“Siapa yang berwudhu’ dan memperbagus wudhu’nya, lalu berdiri sholat dua roka’at atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu’ dalam sholatnya, kemudian beristighfar (meminta ampun) kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, pasti Dia megampuninya.” (HR. Ahmad).

SEBAB DIKERJAKANNYA SHOLAT TAUBAT

Sholat taubat dikerjakan saat seorang muslim terjerumus ke dalam kemakasiatan dosa besar atau kecil. Maka ia wajib bersegera taubat dan disunnahkan baginya untuk mengerjakan sholat dua raka’at.
Dua raka’at ini termasuk bagian dari amal sholeh yang disunnahkan untuk dikerjakan dalam masa taubat. Ia sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh untuk mendapatkan ampunan-Nya atas dosa dan kesalahannya.

WAKTU SHOLAT TAUBAT

Disunnahkan mengerjakan sholat taubat ini saat seorang muslim bertekad untuk bertaubat dari sebuah dosa yang telah diterjangnya, baik taubat ini segera dikerjakan selepas ia melakukan maksiat itu atau mengakhirkannya.
Yang wajib atas seorang yang berdosa adalah agar segera bertaubat. Tapi kalau ia mengakhirkannya/menundanya maka taubat tetap diterima. Karena taubat bisa diterima selama belum datang satu dari dua kondisi :

1. Apabila ruh belum sampai ke kerongkongan. Ya’ni ia yakin akan segera mati sehingga tidak punya pilihan lain kecuali itu, seperti Fir’aun, dikisahkan dalam QS. Yunus: 91-92.

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Alloh tetap menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi).

2. Apabila matahari terbit dari barat, Nabi saw bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Alloh akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

Sholat taubat ini disyariatkan dalam semua waktu, sampai pada waktu terlarang seperti sesudah sholat ‘Ashar. Sebabnya, karena ia termasuk jenis sholat yang memiliki sebab. Maka disyariatkan dan boleh langsung dikerjakan saat datang sebabnya.

Syikhul Islam Ibnu Taymiah berkata:

وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
“Demikian pula sholat taubat (termasuk sholat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalot), jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan sholat dua roka’at. Kemudian ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakar as-Shiddiq.”

SIFAT SHOLAT TAUBAT

Sholat taubat dikerjakan sebanyak dua roka’at. Dikerjakan sendirian, karena ia termasuk nawafil yang tidak disyariatkan secara berjamaah. Dan disunnahkan untuk beristighfar sesudah selesai mengerjakannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Bakar al-Shiddiq di atas.

Tidak ditemukan tuntutan dari sunnah Nabi saw yang menetapkan bacaan tertentu pada dua roka’at sholat taubat. Maka orang yang mengerjakan sholat taubat membaca surat yang dia kehendaki. Selain itu, juga disunnahkan baginya untuk memperbanyak amal sholeh lainnya. Ini didasarkan kepada firman Alloh swt:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholeh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thoha: 82)

Di antara amal-amal utama yang bisa dikerjakan oleh orang yang bertaubat adalah shodaqoh, karena shodaqoh termasuk sebab besar yang menghapuskan dosa.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan shodaqohmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.
Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Terdapat penguat dari kisah Ka’ab bin Malik ra, saat Alloh menerima taubatnya, ia berkata:
“Wahai Rosululloh, sesungguhnya dengan sebab (diterima) taubatku, aku akan menshodaqohkan semua hartaku kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Rosululloh saw bersabda:
“tahanlah sebagian hartamu, maka itu lebih baik bagimu.”
Ia menjawab:
“Aku tahan sahamku yang ada di Khoibar.” (Muttafaq ‘Alaih)

SYARAT DITERIMANYA TAUBAT

1. Taubatnya harus ikhlas, hanya mengharapkan ampunan dan ridho Alloh swt.
2. Menyesali dosa yang telah dia kerjakan.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi maksiat tersebut.
4. Mengembalikan apa yang diholimi kepada pemiliknya, apabila ia mendholimi seseorang pada darahnya, harta atau kehormatannya, maka ia wajib untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan dan meminta kehalalan darinya atas kedholiman itu.
5. Bertaubat sebelum roh sampai ke tenggorokan (sakratul maut).
6. Matahari belum terbit dari sebelah barat.

Kesimpulan:

Sholat taubat memiliki landasan shohih dari sunnah Nabi Muhammad saw.

Mandi taubat, Sholat taubat dan dzkir taubat disyariatkan saat seorang muslim bertaubat dari dosa besar maupun kecil. Tidak dibedakan, baik dosa itu baru saja dikerjakan atau sudah lama. Diantara tiga amalan tersebut boleh di lakukan dalam waktu dan keadaan terbipisah atau sendiri-sendiri.
Sholat taubat bisa dikerjakan pada semua waktu, sampai pada waktu yang terlarang mengerjakan sholat sunnah.
Selain mengerjakan sholat taubat, orang yang bertaubat juga dianjurkan mengerjakan amal-amal kebajikan, seperti shadaqah dan selainnya.

NIAT SHOLAT TAUBAT

Niat sholat taubat adalah sebagai berikut:

أصلي سنة التوبة ركعتين لله تعالي
“Aku niat sholat sunnah taubat dua rokaat karena Alloh Ta’ala.”

DOA DAN BACAAN SETELAH SHOLAT TAUBAT

Setelah salam, lalu membaca istighfar 70-100 kali

اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Alloh Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk, dan aku bertobat kepada-Nya.”

Setelah istighfar, membaca do’a :

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ تَوْ فِيْقَ اَهْلِ الْهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّ غْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى اَخَافَكَ . اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مَخَا فَةً تَحْجُزُ نِى عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَا عَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ حَتَّى اُنَا صِحَكَ فِىالتَّوْ بَةِ خَوْ فًا مِنْكَ وَحَتَّى اَخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فَ اْلاُمُوْرِ كُلِّهَاوَحُسْنَ ظَنٍّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ نُوْرٍ

“Ya Alloh, sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu pertolongannya (taufiq) orang-orang yang mendapatkan petunjuk (hidayah),dan perbuatannya orang-orang yang bertaubat, dan cita-cita orang-orang yang sabar, dan kesungguhan orang-orang yang takut, dan pencariannya orang-orang yang cinta, dan ibadahnya orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa (waro’), dan ma’rifatnya orang-orang berilmu, sehingga hamba takut kepada-Mu.
Ya Alloh sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu rasa takut yang membentengi hamba dari durhaka kepada-Mu, sehingga hamba menunaikan keta’atan kepada-Mu yang berhak mendapatkan ridho-Mu sehingga hamba tulus kepada-Mu dalam bertaubat karena takut pada-Mu, dan sehingga hamba mengikhlaskan ketulusan untuk-Mu karena cinta kepada-Mu, dan sehingga hamba berserah diri kepada-Mu dalam semua urusan, dan hamba memohon baik sangka kepada-Mu. Maha suci Dzat Yang Menciptakan Cahaya.”

KEUTAMAAN ISTIGFAR DAN TAUBAT

Rosululloh saw bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Seluruh anak Adam (condong) berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits qudsi, Alloh swt berfirman:

يا عبادي! إنَّكم تُخطئون بالليل والنهار، وأنا أغفرُ الذنوبَ جميعاً، فاستغفروني أغفرْ لكم
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berdosa siang dan malam, dan Aku maha mengampuni dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda:

وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً
“Demi Alloh .! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Dalam riwayat lain, Rosululloh saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia .! Bertaubatlah kepada Alloh sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”

ORANG YANG BERTAUBAT MERAIH KECINTAAN ALLOH SWT

Alloh swt berfirman: 

 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222).

ORANG YANG BERTOBAT DIDO’AKAN OLEH PARA MALAIKAT

Alloh swt berfirman :

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):
“Tuhan kami, rohmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ghoofir : 7-8).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN LIMPAHAN RIZKI

Alloh swt berfirman :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Aku katakan kepada mereka:
‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (QS. Nuh : 10-12).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN TAMBAHAN KEKUATAN

Alloh swt berfirman :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Huud : 52)

ORANG YANG BERTAUBAT KEBURUKANNYA DIGANTI DENGAN KEBAIKAN

Alloh swt berfirman :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Furqoon : 70).

Mengomentari ayat diatas, Nabi saw bersabda :

إني لأعلم آخر أهل الجنة دخولا الجنة وآخر أهل النار خروجا منها رجل يؤتى به يوم القيامة فيقال اعرضوا عليه صغار ذنوبه وارفعوا عنه كبارها فتعرض عليه صغار ذنوبه فيقال عملت يوم كذا وكذا كذا وكذا وعملت يوم كذا وكذا كذا وكذا فيقول نعم لا يستطيع أن ينكر وهو مشفق من كبار ذنوبه أن تعرض عليه فيقال له فإن لك مكان كل سيئة حسنة فيقول رب قد عملت أشياء لا أراها ها هنا

“Sesungguhnya aku mengetahui penduduk sorga yang paling terakhir masuk sorga dan penduduk neraka yang paling terakhir keluar dari neraka.
Seorang lelaki yang dihadirkan pada hari kiamat, maka dikatakan :
“Perlihatkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya dan angkatlah (sembunyikanlah dulu) dosa-dosa besarnya .!”
Maka dipelihatkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya, lalu dikatakan:
“Engkau telah melakukan pada hari itu demikian dan demikian, dan pada hari itu demikian dan demikian.”
Maka ia berkata: “Benar .!”
Ia tidak mampu mengelak, sementara ia khawatir jika dibentangkan kepadanya dosa-dosa besarnya. Maka dikatakan kepadanya:
“Sesungguhnya bagimu setiap keburukan yang kamu lakukan digantikan posisinya dengan kebaikan.”
Maka ia berkata:
“Wahai Tuhanku, sungguh aku telah melakukan dosa-dosa yang lain (yaitu dosa-dosa besar) akan tetapi aku tidak melihatnya diperlihatkan kepadaku di sini.”
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi beliau tatkala menceritakan hadits ini. (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda :

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها فأتى شجرة فاضطجع في ظلها قد أيس من راحلته فبينا هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح اللهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح

“Sungguh Alloh lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat kepada-Nya, daripada gembiranya salah seorang dari kalian yang bersama tunggangannya di padang pasir tiba-tiba tunggangannya tersebut hilang, padahal makanan dan minuman (perbekalan safarnya) berada di tunggangannya tersebut.
Ia pun telah putus asa dari tunggangannya tersebut, lalu iapun mendatangi sebuah pohon lalu berbaring dibawah pohon tersebut (menunggu ajal menjemputnya).
Tatkala ia sedang demikian tiba-tiba tunggangannya muncul kembali dan masih ada perbekalannya, maka iapun segera memegang tali kekang tunggangannya, karena sangat gembiranya, lalu ia berkata:
“Ya Alloh sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu”
Ia salah berucap karena sangat gembiranya” (HR. Muslim).

ORANG YANG BERTAUBAT DITUTUPI KEBURUKANNYA DAN DIMASUKKAN KEDALAM SORGA

Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat nasuhaa (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Tuhanmu menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Alloh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:
“Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahriim : 8).

ORANG YANG BERTAUBAT MENDAPATKAN KESUKSESAN
Alloh swt berfirman :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur : 31).

ORANG YANG BERTAUBAT TIDAK DI ADZAB OLEH ALLOH

Alloh swt berfirman :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Alloh akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal : 33).

Sungguh diantara karunia yang Alloh swt berikan kepada kita adalah Alloh swt mensyari’atkan ibadah yang sangat agung dan mudah… yaitu bertaubat dan beristighfar. Ibadah yang sangat kita andalkan dan kita harapkan bisa menutupi aib-aib kita dan menghapus dosa-dosa kita yang telah bertumpuk-tumpuk.

Rosululloh saw bersabda:

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak” (HR. Ibnu Majah).

Wallohu a’lam bisshowab ..

ISTIGHFAR DALAM BULAN ROMADLON

Dibaca setiap selesai sholat:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. 3x

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku ,, sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ
نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. 3x 

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh .. ampunilah aku Ya Alloh ..
Ya Alloh .. kami mohon ridlo-Mu dan sorga .. dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka ..”

أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. 3x 
يَا كَرِيْمِ . 1x

“Ya Alloh .. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia .. suka mengampuni .. maka ampunilah kami ..
Wahai Yang Maha Mulia ..

KEUTAMAAN SAYYIDUL-ISTIGHFAR

TAUBAT SEBAGAI SEBAB MERAIH SUKSES

Alloh swt berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah (pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan) kalian kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman seluruhnya. Agar kamu beruntung”. (QS. An Nuur [24] : 31)”

Kedudukan/derajat taubat adalah kedudukan awal, pertengahan dan akhir dari kehidupan seorang hamba.
Maka seorang hamba yang berjalan menuju keridhoan Alloh swt, janganlah meninggalkannya.
Ia harus senantiasa bertaubat hingga ruh meninggalkan jasadnya (mati).
Sehingga ketika dia berpindah dari satu kedudukan dalam hidupnya maka taubat pun akan senantiasa menyertainya.

Alloh swt kaitkan taubat sebagai sebab dan kesuksesan sebagai akibat, redaksi ayat ini menggunakan kata لَعَلَّ yang memberikan kesan adanya harapan.

Alloh swt mengingatkan kita melalui ayat ini, jikalau kalian bertaubat maka kalian memiliki harapan untuk sukses, beruntung dan bahagia.
Sehingga tidaklah orang-oranng yang berharap kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan yang diridhoi Alloh swt, melainkan orang-orang yang bertaubat.

Rosululloh saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Alloh. Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari 100 kali.” (HR. Muslim).

وَاللَّهِ إنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ فِي اليَومِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Alloh, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhori).

Mudah-mudahan Alloh swt menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaubat 70 sampai 100 kali dalam sehari dan mendapat kesuksesan, keberuntungan dan bahagia seperti yang dijanjikan oleh Alloh Yang Maha menerima taubat lagi Maha Pemurah memberi kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan .. Amiiiin ….

SAYYIDUL ISTIGHFAR

Do’a istighfar yang di anjurkan untuk dibaca siang dan malam hari oleh Rosululloh saw kepada kita adalah “Sayyidul-Istighfar”, (raja dari semua permohonan ampunan). Ia adalah do’a yang sangat agung dn utama.

Rosululloh saw bersabda:
“Penghulu istighfar ialah kamu mengucapakan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku ,, sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

Barangsiapa yang membaca do’a ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga.
Barangsiapa yang membaca do’a ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (Muttafaq ‘alih).

KANDUNGAN MA’NA SAYYIDUL-ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ …

“Wahai Alloh Engkau adalah Tuhanku, (Engkaulah yang menciptaku, Engkaulah yang mendidikku, Engkaulah yang memeliharaku dan memilikiku, dan Engkaulah yang menjadi Maha Rajaku)”.

Ketika menyebut kata “ROBBI” dapat terbayang dalam benak kita segala sifat-sifat Alloh swt. baik sifat perbuatan maupun sifat Dzat-Nya, baik yg dapat berdampak kpd mahluk-Nya maupun tdk.
Maka makna dlm kandungan kata ROBB, terhimpun semua sifat-sifat ALLOH yg dapat menyentuh makhluk. Pengertian “Rububiyyah” pendidikan dan pemelihara’an Alloh swt. mencakup pemberian rizki, pengampunan dn kasih sayang juga amarah, ancaman, siksa’an dll.

لَاإِلهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ

“Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku (dari tiada menjadi ada)”.

وَأَنَا عَبْدُكَ

“Dan aku adalah hamba (yang berada dalam kekuasa’an)-Mu“

وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ

“Dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu (dalam kalimat Syahadat)”.

. مَااسْتَطَعْتُ

“Dengan segala kemampuanku (aku melaksanakan perintah-Mu)”.

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ

“Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu (dari nafsuku, dari kejahatan setiap makhluk dan dari goda’an rayuan setan yg membisikkan keburukan dalam hati dan pikiranku)”.

أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي

“Engkau telah menganugrahkan (aneka) nikmat-Mu atas diriku, sementara aku senantiasa berbuat (kema’siatan dan) dosa (terhadap-Mu)”.

فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

“Maka (tutupilah aibku) ampunilah dosa-dosaku, sebab tiada yang dapat (menutupi aib) mengampuni dosa kecuali Engkau”.

Demikian tuntunan dan petunjuk Nabi Muhammad saw. bagian dari rohmat dn kasih sayang beliau saw kepada kita, siapa yang mengucapkannya di pagi hari lalu ia mati di siang itu maka ia masuk sorga, jika ia membacanya di malam hari dan ia mati sebelum pagi maka ia masuk sorga. Semoga kita dapat mengamalkannya secara terus menerus (istiqomah) hingga ajal. Amiiiin ….

MENGENAL PERINTAH ALLOH SWT

Alloh swt memerintahkan kepada kita agar meneladani Nabi Muhammad saw .. agar kita berpegang teguh bahkan meningkatkan pengetahuan tentang Alloh dan ke-Esa-an-Nya .. mengagungkan-Nya, sehingga hati selalu terbuka untuk menerima hidayah dan meningkat amal-amal kita.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah -berpegang teguhlah dengan pengetahuanmu-, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan -pengatur dan pengendali alam raya yang wajib disembah- melainkan Alloh ..
dan mohonlah ampunan bagi dosamu .. dan -ampunan dosa- bagi orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan ..

( أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ )

dan Alloh -senantiasa- mengetahui hilir-mudik kehidupan dunia kamu -dalam usaha kamu di dunia mengetahui pula waktu serta rinciannya- dan -mengetahui pula tempat- kediaman kamu -di akherat beserta rincian pahalanya- ..
-Alloh mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kamu, baik sewaktu kamu bergerak maupun diam, karena itu berhati-hatilah jangan sampai kamu durhaka sehingga dikunci mati hati kamu ..” – (QS.47:19).

Ayat diatas menuntut seseorang untuk mengetahui Alloh sekuat kemampuannya .. Mengenal-Nya dari dekat, dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta mempelajari pengenalan diri-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw, al-Qur’an yang terbaca dan terhampar.

Perintah memohonkan pengampunan bagi kaum mukminin dan mukminah mengisyaratkan perlunya memberi perhatian kepada pihak lain.
Seseorang hendaknya tidak hanya menyempurnakan diri, tetapi juga berusaha menyempurnakan dan membimbing dengan cinta dan kasih sayang kepada orang lain untuk menuju kesempurnaan hidup dunia dan akherat.

BERDZIKIR DENGAN DZIKIR YANG BANYAK

Laki-laki yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh .. Alloh telah menyediakan untuk tiap-tiap orang dari mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dzikir mengingat Alloh dengan hati dan menyebut dengan lisan, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, menghadirkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung ..

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari ..
Mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadhilah dan keutamaan ibadah tertentu .. maka pastinya akan menyebabkan ia lapang hatinya melakukan ibadah tersebut ..
Begitu pun orang yang mengetahui mengenai keutamaan dzikir (mengingat Alloh), ia akan terdorong untuk rajin dan istiqomah mengerjakan dzikir tersebut ..

Alloh swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan dengan lidahnya bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH ..”
Mengatakannya sebagai cerminan kepercayaan mereka tentang kekuasaan dan ke-Maha-Esa-an Alloh ..
Kemudian mereka sungguh-sungguh beristiqomah meneguhkan pendirian mereka dengan melaksanakan tuntunan-Nya ..
Maka akan turun malaikat-malaikat mengunjungi mereka dari waktu ke waktu secara bertahap hingga menjelang ajal, untuk meneguhkan hati mereka sambil berkata ..:
“Janganlah kamu takut menghadapi masa depan, dan janganlah kamu bersedih atas apa yang telah berlalu ..
Dan bergembiralah dengan perolehan sorga yang telah di janjikan Alloh melalui Nabi Muhammad kepada kamu.”

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Setalah para malaikat itu menenangkan orang-orang beriman ..
mereka melanjutkan bicara guna menunjukkan hubungan keakraban ..
Mereka berkata: ..
“Atas perintah Alloh kamilah yang menjadi pelindung-pelindung kamu ..
Yang sangat dekat kepada kamu dan selalu siap menolong dan membantu kamu dalam kehidupan dunia dan demikian juga di akhirat ..
Dan yakinlah bahwa bagi kamu di dalam sorga sana, apa pun yang kamu inginkan dari aneka keni’matan, dan bagi kamu juga di sana apa yang kamu minta ..
Itu sebagai hidangan pendahuluan bagi kamu sebelum anugrah lainnya yang lebih jauh daripada yang kamu angan-angankan ..

نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Semua itu adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” ..
(41:30-32).

Istiqomah ialah konsisten dan setia melaksanakan apa yang di ucapkan ..
Konsistensi dalam kepercayaan tentang ke-Esa-an Alloh serta konsekuensinya pengamalan hingga datangnya ajal ..
Dan itu memerlukan taufik, hidayah dan bantuan Alloh ..
Karena itu bermohonlah agar istiqomah tersebut tetap terus terpelihara .. ya’ni tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun, berhala, manusia, malaikat, iblis, setan, jin, binatang, benda dll ..
Ibadahpun tidak di lakukan dengan riya’, bahkan beramal sesuai yang di ridhoi-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya ..

Turunnya malaikat kepada seseorang dalam kehidupan ini di tandai dengan terbetiknya dalam hati yang bersangkutan atas dorongan untuk berbuat baik, serta adanya optimisme ..
Berbeda dengan peranan setan yang selalu mengajak kepada kedurhakaan dan menanamkan pesimisme dan keputus-asaan ..

Perlu di ketahui bahwa malaikat-malaikat yang dimaksud bukanlah malaikat pengawas manusia dalam kehidupan ini, atau malaikat pembawa rizki, tetapi malaikat husus yang ditugaskan Alloh mendukung dan menemani orang-orang beriman ..

Disebutkan dua macam pengabulan ..
Yang pertama:
Dengan menggunakan kalimat:
“Apa yang kamu inginkan”
Yang di inginkan adalah hal-hal yang terhampar dalam kenyataan ..
Bisa juga difahami dalam arti pengabulan keinginan syahwat jasmani dan tertuju kepada yang bersangkutan ..
Dan yang kedua:
“Apa yang kamu minta”
Adalah hal-hal yang terbetik dalam benak ..
Bisa juga di artikan permohonan apapun baik untuk diri sendiri maupun orang lain , baik berkaitan dengan syahwat jasmani maupun rohani ..

Sufyan ats-Tsaqofi pernah memohon kepada Nabi Muhammad saw untuk diberi jawaban yang menyeluruh tentang islam, sehingga dia tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain ..
Nabi saw menjawab singkat:
“Qul amantu billah tsumma istaqim – Ucapkanlah .! Aku beriman kepada Alloh , lalu konsistenlah.”
(HR. Muslim).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya, daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholeh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.41:33).

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan secara tulus dan benar bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH .. Pencipta, Pemelihara dan yang terus berbuat baik kepada kami adalah Alloh yang tiada Tuhan Penguasa Dan pengatur alam raya selain-Nya”
Kemudian miskipun berlalu sekian lama dari ucapan dan keyakinan itu, mereka tidak digoyahkan oleh aneka godaan, cobaan serta ujian dan mereka tetap istiqomah, bersungguh-sungguh konsisten dalam ucapan juga perbuatannya ..
Maka tidak ada kehawatiran atas mereka, dan tidak ada rasa takut menguasai jiwa mereka pada hal-hal yang bakal terjadi, betapapun hebatnya peristiwa itu ..
Dan mereka tiada pula berduka cita atas apa saja yang telah terjadi, betapapun besarnya yang terjadi ..
Ini di sebabkan karena hati mereka sudah demikian tenang dengan kehadiran Alloh bersama mereka ..

أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni sorga, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sebagai imbalan atas apa yang telah senantiasa mereka kerjakan ..”
(QS.46:13-14).

Kalimat: “ALLOHU ROBBI” merupakan sistem yang menyeluruh bagi kehidupan ..
Mencakup semua kegiatan dan arah ..
Semua gerak detak dan detik hati serta pikiran ..

“ALLOHU ROBBI” yang menegakkan tolak ukur bagi pikiran dan perasaan ..
Bagi manusia dan segala sesuatu ..
Bagi amal perbuatan dan peristiwa-peristiwa ..
Bagi hubungan-hubungan pada seluruh wujud ini ..
Sehingga hanya kepada-Nya tertuju suatu ibadah ..
Hanya kepada-Nya kita mengarah ..
Hanya kepada-Nya kita takut ..
Hanya kepada-Nya kita dapat mengandalkan ..

Tidak ada sesuatu dan perhitungan selain-Nya ..
Tidak ada rasa takut dan harapan terhadap selain-Nya ..
Sehingga semua kegiatan, pemikiran, pengagungan hanya tertuju kepada-Nya ..
Semua mengharapkan ridho hanya kepada-Nya ..
Tidak ada penyelesaian hukum kecuali dari-Nya ..
Tidak ada kekuasaan kecuali syari’at-Nya ..
Tidak ada petunjuk kecuali petunjuk-Nya ..

MATAHARI SINGGAH DIATAS KA’BAITULLOH

Sekedar berbagi dan saling mengingatkan kita semua .. cara mudah mencari arah kiblat yang tepat dan akurat. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 wib dan 16 Juli pukul 16:27 wib. Kecuali pada tahun kabisat.

Setiap tahun matahari singgah dua kali tepat diatas Ka’bah. Dalam bahasa arab peristiwa matahari singgah diatas Ka’baitulloh ini disebut “Istiwa A’dhom” (persinggahan utama), maka siapapun yang bisa melihat matahari pada saat ini sama dengan telah menghadap kearah kiblat, dengan cara melihat bayangan suatu benda.

Benda apapun yang terletak tegak lurus diatas tanah maka bayangnnya akan membawa kita kearah kiblat. Bisa juga dengan melihat sinar matahari yang masuk dari celah pintu atau jendela rumah. Kemiringan cahaya itu juga mengarah ke Ka’bah karena pada saat itu matahari tepat berada diatasnya.

Arah dari Indonesia ke Ka’bah di Makkah Arab Saudi adalah ke barat laut bukan arah lurus kebarat, tetapi bergeser lebih kurang 20 derajat kekanan dari arah barat.

Tahun kabisat merupakan tahun dimana bulan Februari mempunyai jumlah hari 29 hari (bukan 28 hari). Maka pada tahun-tahun tersebut matahari akan tepat berada di atas Ka’bah pada tanggal 27 Mei pukul 16.18 WIB dan pada tanggal 15 Juli pukul 16.27 WIB.

Jika mendung atau hujan pada saat itu maka kita masih dapat melihat satu atau dua hari sesudahnya, namun tentu saja hasilnya tidak tepat seakurat pada tanggal peristiwa tersebut.

اَللّهُمَّ زِدْ بَيْتَ تَشْرِيْفاً وَتَكْرِيْماً وَتَعْظِيْماً وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ اَوِاعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفاً وَتَكْرِيْماً وَتَعْظِيْماً وَبِرّاً ..

“Ya Alloh, tambahkanlah pada Baitulloh kehormatan, kemuliaan dan keagungan, dan kehebatan, dan tambahkanlah pada orang-orang yang memuliakan dan mengagungkannya dari orang-orang yang berhaji dan umroh, kehormatan, kemuliaan, keagungan, dan kebaikan.”

SHOLAT LAILATUL-QODAR

PILIH BATU ATAU BERLIAN

Jangan pernah mengabaikan QIYAMUL-LAIL di malam-malam Romadhon, karena suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa kamu telah kehilangan BERLIAN, sementara kamu sibuk mengumpulkan BATU ..

Jika 20 hari Romadhon berlalu tanpa kesan dalam hatimu .. Maka yakinlah 10 hari Romadhon di depanmu ada Alloh yang memperhatikan dan membuka Tangan-Nya untukmu ..

Semakin banyak waktu dipergunakan sese’orang untuk memohon kepada Alloh , semakin dekat ia dengan-Nya , semakin besar pula pahala yang di dapatnya dan kasih sayang Alloh terhadapnya berupa curahan rohmat dan ampunan untuknya di samping sorga yang selalu merindukannya.

ROHMAT ALLOH SWT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala menurunkan pada setiap malam Lailatul-Qodar sebuah rohmat yang merata kepada semua kaum mukmin, mulai dari dunia timur sampai dunia barat, dan masih tersisa sebagian dari rohmat itu.”
Berkatalah malaikat Jibril as :
“Ya Tuhanku, aku telah menyampaikan rohmat-Mu kepada semua orang mukmin, tetapi masih tersisa kelebihan dari rohmat itu.”
Alloh swt berfirman :
“Serahkanlah kepada anak-anak yang dilahirkan pada malam ini.”
Maka malaikat Jibril as menyerahkan kelebihan itu kepada anak-anak yang dilahirkan dari orang-orang islam maupun orang-orang kafir, jadilah rohmat itu untuk anak-anak orang-orang kafir yang mendorong mereka ke negri keselamatan, karena akhirnya mereka mati dalam ke’ada’an mukmin.”

4 ORANG YANG TIDAK MENDAPATKAN ROHMAT
Dimalam Lailatul-Qodar

“Pada malam Lailatul-Qodar berserulah malaikat Jibril as :
“Hai sekalian malaikat , berangkat , berangkat .!”
Meraka bertanya :
“Hai Jibril , apa yang telah diperbuat Alloh Ta’ala dengan kaum muslimin dari ummat Muhammad pada malam ini .?”
Jibril as berkata kepada mereka :
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala memandandang mereka dengan penuh rohmat , mema’afkan dan mengampuni mereka kecuai empat golongan.”
Mereka bertanya :
“Siapakah mereka itu .?”
Jibrlil as menjawab :
” 1. Orang yang membiasakan minum khomer.
2. Orang yang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
3. Orang yang memutuskan hubungan famili.
4. Orang yang mendiamkankan saudaranya lebih dari tiga hari.”

KEUTAMAAN SHOLAT
Dimalam Lailatul-Qodar

Rosululloh saw bersabda :
“Pada malam Lailatul-Qodar pintu-pintu langit terbuka, tidak se’orangpun hamba yang mengerjakan sholat didalamnya kecuali Alloh swt menjadikan untuknya ;
Setiap takbirnya, sebuah tanaman pohon di sorga, yang se’andainya orang naik dengan kendara’an berjalan dibawah naungannya seratus tahun tidak akan selesai menempuhnya.
Setiap roka’atnya, sebuah gedung di sorga dari mutiara yaqud, zabarjad dan dari lu’lu’.
Setiap ayat yang dibacanya dalam sholat, sebuah mahkota di sorga.
Setiap duduknya, sebuah derajat dari derajat-derajat sorga.
Dan setiap salamnya, sebuah perhiasan dari perhiasam-perhiasan sorga.”

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang berdiri mengerjakan sholat malam Lailatul-Qodar, yaitu kadar waktu orang memerah susu kambing, adalah lebih di cintai Alloh daripada berpuasa setahun penuh.
Demi Tuhan yang mengutusku dengan haq sebagai Nabi, sungguh membaca satu ayat dari Al-Qur’an pada malam Lailatul-Qodar, adalah lebih di cintai Alloh daripada membaca hatam dalam malam selain malam Lailatul-Qodar.”

Dari ibnu Abbas ra, Rosululloh saw bersabda :
“Barang siapa yang mengerjakan sholat dua roka’at pada malam Lailatul-Qodar, membaca pada setiap roka’atnya Fatihatul-kitab (surat al-Fatihah) sekali dan surat al-Ikhlash tujuh kali, dan apabila telah selesai salam dia membaca :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. 70.x
Maka dia tidak berdiri dari tempatnya, kecuali telah di ampuni dosanya oleh Alloh dan dosa kedua orang tuanya, dan Alloh mengutus para malaikat ke sorga untuk menanamkan beberapa pohon untuknya, membagun beberapa gedung dan mengalirkan beberapa sungai, dan dia tidak akan keluar dari dunia ini sehingga dia melihat semua itu lebih dahulu.”

(Tafsir al-Hanafi).

KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID
Dimalam Lailatul-Qodar

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

“Pada malam lailatul-Qodar turun empat macam bendera,
1. Bendera pujian.
2. Bendera rohmat.
3. Bendera ampunan.
4. Bendera kemulia’an.
Setiap bendera di iringi tujuh puluh ribu malaikat, dan pada setiap bendera tertulis :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه

Barang siapa yang membaca pada malam Lailatul-Qodar kalimat :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدُ رَسُولُ اللَّه. 3.x

Maka
Alloh mengampuninya dengan baca’an sekali.
Alloh menyelamatkannya dari neraka dengan baca’an sekali.
Alloh memasukkannya kedalam sorga dengan baca’an sekali.
Dan Alloh memasang bendera pujian di antara langit dan bumi, bendera ampunan di atas kubur Nabi Muhammad saw, bendera rohmat di atas Ka’bah, dan bendera kemulia’an di atas batu besar di Baitul-Maqdis.
Masing-masing malaikat datang pada malam itu di pintu rumah kaum muslimin tujuh puluh kali, dengan memberi salam kepada mereka.”

wallohu a’lam bish-showab ..

KEPOMPONG ROMADLON DAN KUPU-KUPU

“Jika kerakusan ulat ibarat nafsu angkara .. dan kepompongnya adalah Romadlon .. Maka keindahan kupu-kupu adalah taqwa dan maghfiroh ..”

Pernahkah Anda melihat seekor ulat .?
Bagi kebanyakan orang ulat memang menjijikkan bahkan menakutkan, karena sifat perusaknya.
Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama perjalanannya.

Pada saatnya ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.
Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud yang lain; ia menjelma menjadi seekor kupu–kupu yang sangat indah.
Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu–kupu dengan sayap yang beraneka corak dan warna yang sangat indah .?

Itulah sebuah gambaran perjalanan manusia dengan lika–liku dan lakunya yang menganiaya diri sendiri dan merusak lingkungannya.
Ketika memasuki Romadlon ia menghususkan dirinya bertobat kepada Alloh swt disertai dengan berbagai macam amalan untuk mencari pahala, rohmat demi mencapai sorga dan ridho-Nya. Maka ia keluar dari Romadlon dalam keadaan suci, bersih dan indah dengan pakaian taqwa.

DZIKIR ISTIGHFAR SETIAP PAGI DAN PETANG

Biasa juga dibaca berulang-ulang di bulan Romadhon setiap sore menjelang maghrib sambil menunggu waktu berbuka puasa ..

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ، وَوَعْدِكَ، مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. 3x

Ya Alloh ..
Engkau adalah Tuhanku ..
Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku ..
Aku adalah hamba-Mu .. dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu .. dengan segala kemampuanku .. perintah-Mu aku laksanakan ..
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadap-Mu ..
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku ,, sementara aku senantiasa berbuat dosa ..
Maka ampunilah dosa-dosaku .. sebab tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau ..

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ
نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. 3x

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh .. ampunilah aku Ya Alloh ..
Ya Alloh .. kami mohon ridlo-Mu dan sorga .. dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka ..”

أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. 3x
يَا كَرِيْمِ. 1x

“Ya Alloh .. sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia .. suka mengampuni .. maka ampunilah kami .. Wahai Yang Maha Mulia ..”

BACAAN ISTIGHFAR KETIKA BERDIRI DARI TEMPAT DUDUK YANG DIBERKATI

Dari Ibnu ‘Umar ra, berkata:
“Sebelum bangkit dalam sebuah majlis, Rosululloh saw (membaca):
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
“Tuhanku .. Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha Pengampun.”
Satu kali, dihitung sebanyak seratus kali.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam bulan Romadhon amal kebaikan digandakan menjadi 70 kali lipat oleh Alloh swt .. Artinya, setiap kali kita berdiri dari suatu majlis yang diberkati dengan membaca kalimat istighfar di atas maka nilainya sama dengan membaca 7000 (tujuh ribu) kali istighfar .. Sungguh Alloh swt sangat luas karunianya ..

ORANG YANG BERPUASA AKAN BERTEMU DENGAN ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَايَدْخُلُه اِلاَّ الصَّائِمُوْنَ وَهُوَمَوْعُوْدٌ بِلِقَاءِاللهِ تَعَالَى فِى جَزَآءِ صَوْمِه .
“Sorga itu mempunyai pintu yang disebut Royyan, dimana pintu itu tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa, dan ia diberi janji untuk bertemu dengan Alloh Yang Maha Tinggi dalam balasan puasanya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

4 GOLONGAN YANG DIRINDUKAN SORGA

Rosululloh saw bersabda :

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى اَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْاٰنِ وَحَافِظِ الِّلسَانِ وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

“Sorga itu merindukan empat golongan:
1. Orang-orang yang membaca al-Qur’an
2. Orang-orang yang menjaga lisan
3. Orang-orang yang memberi makan
4. Orang-orang yang berpuasa di bulan Romadhon.”

(Hadits diriwayatkan oleh Utsman bin Hasan al-Khaubawi dalam kitab Durrotun Nashihin yang di nukil dari kitab al Rounaqul-Majlis).

BERDUSTA DI BULAN ROMADHON AKAN MENGALAMI KERUGIAN

Dari Anas bin Malik ra dan Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat (dalam Romadhon), maka Alloh tidak membutuhkannya (ya’ni Alloh tidak menerima puasanya) walaupun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (HR. Tirmidzi).

HIBURAN MENYAMBUT ROMADHON

Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Romadhon, diharamkan Alloh jasadnya menyentuh api neraka.” (HR. Nasa’i).

Kalau kamu bahagia memasuki bulan Romadhon kemudian kamu bergembira, itu berarti kamu termasuk orang yang sangat hebat .!
Ada yang hebat lagi adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankan puasa Romadhon karena semata-mata melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..

Hal yang demikian pernah dialami oleh Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, waktu mencium Hajar Aswad, beliau berkata :
“Kalau tidak karena aku melihat Rosululloh menciummu, tidak akan aku menciummu.
Tapi karena Rosululloh yang aku cintai dan aku imani menciummu, maka aku menciummu.
Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu.”

Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, tentu itu merupakan menu istimewa bagi kamu .?
Tetapi kalau kamu memakan rujak yang tidak kamu sukai itu semata-mata karena Alloh dan Rosul-Nya yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya ..

Seperti yang pernah dikatan Rosululloh saw kepada para sahabatnya tentang perihal membaca al-Qur’an:
“Orang yang mahir membaca al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat.
Dan orang yang terbata-bata di dalam membaca al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).

GANJARAN BERLIPAT GANDA DI BULAN ROMAHON

Dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata, bahwa Rosululloh saw. memberi khutbah kepada kami di hari akhir dari bulan Sya’ban dan bersabda :

اَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ اَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ فِيْهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهٗ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعًا مَنْ تَطَوَّعَ (تَقَرَّبَ) فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ اَدَّى الْفَرِيْضَةَ فِيْمَا سِوَاهُ. وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ وَهُوَشَهْرٌ اَوَّلُهٗ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهٗ مَغْفِرَةٌ وَاٰخِرُهٗ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. (رواه ابن حزيمة)

“Hai sekalian manusia .!
Akan datang bulan yang agung (Romadhon) yaitu bulan yang penuh barokah di dalamnya.
Dalam bulan itu ada malam yang mulia (Lailatul-Qodar) yang lebih utama dari pada seribu bulan.
Alloh telah mewajibkan puasa di bulan itu, dan sholat tarawih di malamnya sebagai ibadah sunah.
Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya.
Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya.
Bulan Romadhon adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan dimana awalnya rohmat, ditengahnya ampunan dan diakhirnya kebebasan dari neraka.” (HR. Ibnu Huzaimah).

KEUTAMAAN SHOLAT MALAM DAN MEMBACA AL-QUR’AN DI BULAN ROMADHON

Rosululloh saw bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barang siapa sholat malam di bulan Romadhon karena beriman kepada Alloh dan mengharap keridhoan-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

اِقْرَؤُاالْقُرْاٰنَ فَاِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلاَصْحَابِه
“Bacalah olehmu sekalian al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas ra, berkata:

وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Beliau (Nabi Muhammad saw) bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Romadhon untuk tadarus al-Qur’an.” (HR. Bukhori).

NILAI BERSHODAQOH DI DALAM BULAN ROMADHON

Menurut al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 261, bershodaqoh (infaq fii sabiilillah) pahalanya dilipatgandakan 700 kali.
Kemudian menurut Hadits Rosululloh keistimewaan beramal didalam bulan Romadhon pahalanya dilipatgandakan menjadi 70 kali.
Jadi bershodaqoh di bulan Romadhon tentu pahalanya akan lebih banyak lagi, misalnya bershodaqoh Rp.1000, maka setara dengan Rp.49.000.000.

Oleh sebab itu Rosululloh saw sangat menganjurkan ummatnya supaya bershodaqoh di dalam bulan Romadhon, beliau saw bersabda :
اَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ.
“Seutama-utama shodaqoh adalah shodaqoh di bulan Romadhon.” (HR. Tirmidzi).

GANJARAN BERLIMPAH DENGAN MEMBERI MAKAN ORANG BERBUKA PUASA

Bulan Romadhon merupakan kesempatan terbaik beramal sholeh untuk menuai ganjaran berlimpah. Misalnya dengan memberi sesuap nasi, secangkir minuman, sebutir kurma, atau makanan ringan lainnya.
Maka sudah sepantasnya kesempatan bulan Romadhon ini tidak terlewatkan begitu saja, karena pahala yang dijanjikan Alloh swt melalui Nabi muhammad saw sangat luar bisa.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

DO’A KETIKA MENERIMA MAKANAN DAN MINUMAN

Ketika Nabi saw diberi makanan atau minuman, beliau mengangkat kepalanya yang suci ke langit dan mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Ya Alloh, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku.” (HR. Muslim).

DO’A ORANG BERPUASA DITERIMA OLEH ALLOH SWT

Rosululloh saw bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak (oleh Alloh swt) :
(1) Do’a pemimpin yang adil
(2) Do’a orang yang berpuasa ketika dia berbuka
(3) Do’a orang yang terdholimi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Sebab terkabulnya do’a orang yang berbuka puasa adalah karena dia melakukan ketaatan kepada Alloh swt, dan telah menyelesaikan puasanya dengan baik.

KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Makan sahur adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits ini menerangkan barokah itu ada pada makan sahur, dan yang menetapkan barokah seperti ini adalah Alloh swt, sehingga barokah itu bukan datang dari benda itu sendiri, namun dianugerahkan oleh Alloh swt kepada hamba yang melakukannya.
Yang dimaksud dengan barokah adalah tetapnya kebaikan dari Alloh swt pada sesuatu, yaitu bertambahnya kebaikan dan terus tumbuh, yang bisa mendatangkan manfaat serta kebaikan pahala dunia dan akherat.

KEUTAMAAN BERBUKA PUASA

Alloh swt telah menjelaskan waktu dibolehkannya seseorang yang berpuasa untuk berbuka yaitu pada terbenamnya matahari, sebagaimana firman-Nya:
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam.” (al-Baqoroh: 187).

Demikian pula rosululloh saw telah menjelaskan, Dari ‘Umar bin Khoththob ra, beliau saw bersabda:
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ وَأَدْبَرَ النَّهَارُ وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Apabila malam telah datang dan siang telah pergi serta matahari telah terbenam maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rosululloh saw bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Tidaklah manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan ifthor (berbuka).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Abu ad-Darda’ ra, rosululloh saw bersabda:
ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ؛ تَعْجِيْلُ الْإِفْطَارِ، وَتَأْخِيْرُ السَّحُورِ، وَوَضْعِ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ
“Tiga (perkara) termasuk akhlak kenabian (yaitu): menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat.” (HR. Thobroni).

DO’A BUKA PUASA

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ

“Ya Alloh, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka, dengan rohmat-Mu, wahai Dzat Yang paling welas asih.”

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Alloh menghendaki.”

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ ” بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Alloh Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Alloh Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Dengan nama Alloh pada awal dan akhirnya.”

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

ORANG-ORANG YANG RUGI KETIKA ROMADHON BERLALU

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Semoga kembali fitrah dan semoga memperoleh keberuntungan.”

Rosululloh saw bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Rugilah seseorang yang menemui bulan Romadhon kemudian sampai berpisahnya (dengan Romadhon) dia belum mendapat ampunan (Alloh swt).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kata ROGHIMA ANFU artinya adalah hidungnya menempel dengan debu .. Ini maksudnya adalah kata kiasan tentang adanya kehinaan dan kerendahan yang luar biasa .. maksudnya adalah Celakalah orang yang mengetahui bahwa diwajibkan mengerjakan puasa serta sholat di bulan Romadhon, NAMUN ia melalaikan dan tidak melakukan sampai bulan Romadhon berakhir dan berlalu, padahal telah ada jaminan dari Alloh dan Rosul-Nya, rohmat, ampunan, dan keterhindaran dari adzab neraka, serta memulikannya dengan sorga-Nya.

MENGHIDUPKAN MALAM ‘IDUL-FITHRI

Dari Abu Umamah ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa melaksanakan Qiyamul-Lail pada dua malam ‘Ied (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha) dengan ikhlas karena Alloh swt, hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain dari Udah bin Shomit ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam ‘Ied dengan beribadah kepada Alloh, niscaya hatinya tidak akan pernah mati dimana hati-hati manusia dihari itu mati.” (HR. Thobroni).

TANGIS PERPISAHAN DI BULAN ROMADHON

“Di malam terakhir Ramadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya.”

Bagi orang-orang sholeh, setiap bulan Romadhon pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah do’a yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Romadhon menghampiri diri mereka.

Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Romadhon, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Romadhon, pada masa Rosululloh saw, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Romadhon akan segera berlalu meninggalkan mereka.

KISAH SEDIH MALAM ‘IDUL-FITHRI

اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ…
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاَللَّهُ اَكْبَرُ… اَللَّهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ…
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ…

Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar… Alloh Maha Besar…
Tiada Tuhan selain Alloh… Alloh Maha Besar dan hanya milik Alloh segala pujian…
Tiada Tuhan selain Alloh dan kami tidak menyembah kecuali Dia dengan memurnikan agama hanya bagi-Nya meskipun kaum musyrikin menentang kami.”

Dalam satu riwayat yang dikisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Alloh lainnya.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:
“Di malam terakhir Romadhon, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Romadhon, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya:
“Apakah musibah itu, ya Rosululloh ..?”

“Dalam bulan itu segala do’a mustajab, shodaqoh diterima, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur ditangguhkan, maka apakah musibah yang lebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu ..?”

Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Romadhon, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Betapa tidak ..! Bulan yang penuh keberkahan dan keridhoan Alloh itu akan segera pergi meninggalkan mereka.
Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Alloh bukakan pintu-pintu sorga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bulan yang awalnya adalah rohmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Alloh daripada minyak kesturi.

Bulan ketika Alloh setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Alloh menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat kepada-Nya.

Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfa’at dari Romadhon.
Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan.
Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Romadhon yang akan datang.

Bagaimana dengan kita ..?
Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Romadhon meninggalkan kita ..?
Atau malah sebaliknya, kita yang mengabaikannya saat bersamanya .. bahkan tanpa kesan sama sekali ..?

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَ الفَائِزِيْنَ

“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan darimu, puasa kami dan puasamu.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh keberuntungan.”

SEMOGA ALLOH SWT MENERIMA AMAL IBADAH KITA DI BULAN ROMADHON INI

Suatu hari, pada sebuah sholat ‘Idul-Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Alloh selama tiga puluh hari, berdiri melakukan sholat selama tiga puluh hari pula, maka pada hari ini kalian keluarlah (sholat ‘Ied) seraya memohon kepada Alloh agar menerima amalan tersebut.”

RENUNGAN ‘IDUL-FITHRI

Salah seorang sholeh ada yang terlihat sedih di hari raya ‘Idul-Fitri, kemudian seseorang bertanya kepadanya:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang .. Kenapa engkau malah bermuram durja ..? Ada apa gerangan ..?”

“Ucapanmu benar, wahai sahabatku” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Tuhan-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

SUKA CITA ‘IDUL FITHRI

Idul Fithri adalah anugerah Alloh kepada umat Nabi Muhammad saw, tak salah bila disambut dengan suka cita. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat sahabat Anas bin Malik ra, bahwa :
“Ketika Rosululloh saw datang, penduduk Madinah memiliki dua hari, dan mereka gunakan dua hari itu untuk bermain di masa Jahiliyah.

Lalu beliau saw bersabda:
“Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa Jahiliyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yaitu hari Nahr (‘Idul-Adha) dan hari Fithri (‘Idul-Fithri).”
Rosululloh saw juga bersabda:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Nasa’i).

LEBARAN ROSULULLOH SAW

Rosululloh saw menyambut Lebaran dengan keriangan yang bersahaja ..
Pagi itu, 1 Syawwal, Rosululloh saw keluar dari tempat i’tikafnya (Masjid Nabawi). Beliau saw bergegas mempersiapkan diri untuk berkumpul bersama ummatnya, melaksanakan salat ‘Ied.
Nabi saw juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan, baik perempuan yang suci maupun yang haid, keluar bersama menuju tempat sholat, supaya mendapat keberkahan pada hari suci tersebut.

Dari Ummu ‘Athiyyah ra, dia berkata:
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita, termasuk yang haid, pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga mendapat do’a dari kaum muslimin. Hanya saja wanita-wanita yang haid diharapkan menjauhi tempat sholat. (maksudnya tidak melaksanakan).” (HR Bukhori dan Muslim).

Ibnu Abbas ra berkata:
“Rosululloh saw keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Majah).

Ibnu Abbas dalam hadits yang diriwayatkannya menuturkan:
“Aku ikut pergi bersama Rosululloh saw (waktu itu Ibnu Abbas masih kecil), menghadiri Hari Raya ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha, kemudian beliau saw sholat dan berkhutbah. Dan setelah itu mengunjungi tempat kaum wanita, lalu mengajar dan menasihati mereka serta menyuruh mereka agar mengeluarkan sedekah.”

Sebelum melaksanakan salat ‘Id, terlebih dahulu Rosululloh saw membersihkan diri. Lalu beliau berdo’a:
“Ya Alloh, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah bathin kami sebagaimana Engkau telah menyucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah menyucikan apa yang tampak dari kami.”

Anas bin Malik ra, berkata:
“Rosululloh saw memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan parfum terbaik yang kita miliki, dan berqurban (bershodaqoh) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.” (HR. Hakim).

Imam Syafi’i rh, mengatakan:
“Rosululloh saw mengenakan kain burdah (jubah) yang bagus pada setiap hari raya.”
Pakain yang bagus dalam hal ini bukan berarti baru dibeli, tetapi terbagus dari yang dimiliki.
Lebih khusus lagi Imam Syafi’i dan Baghowi meriwayatkan, Nabi saw memakai pakaian buatan Yaman yang indah pada setiap hari raya (Pakaian buatan Yaman merupakan standar keindahan busana saat itu).

Pada hari istimewa itu, beliau saw mengenakan hullah, pakaiannya yang terbaik yang biasa beliau kenakan setiap hari raya dan hari Jum’at. Ini merupakan tanda syukur kepada Alloh swt, yang telah memberikan nikmat-Nya.

Kemudian, beliau mengambil beberapa butir korma untuk dimakan, pertanda hari itu ummat Islam menghentikan puasanya.

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat salat ‘Id, Rosululloh tak henti-hentinya mengumandangkan takbir dengan khidmat.
“Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar walillahilhamdu.”

Rosululloh saw selalu melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adha di tanah lapang, seperti disebutkan di dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim. Beliau baru melaksanakan sholat ‘Id di masjid kalau hari hujan. Menurut ahli fiqih, tempat salat ‘Id yang sering digunakan Rosululloh dan para sahabat itu terletak di sebuah lapangan di pintu timur kota Madinah.

Rosululloh melaksanakan sholat ‘Idul-Fithri agak siang. Ini untuk memberi kesempatan kepada para sahabat membayar zakat fithrah mereka.
Sementara sholat ‘Idul-Adha dilakukan lebih awal, agar kaum muslimin bisa menyembelih hewan qurban mereka.

Jundab ra berkata:
“Rosululloh saw sholat ‘Idul-Fitri dengan kami ketika matahari setinggi dua tombak, dan sholat ‘Idul-Adha dengan kami ketika matahari setinggi satu tombak.”

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA ‘IDUL-FITRI

Ucapan selamat “Hari Raya ‘Idul-Fitri” seringkali diakhiri dengan “Minal ‘Âidîn wal-Faizîn” (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat).

Selain sebagai do’a dan harapan, ucapan ini juga sebagai pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Sejak ‘Idul-Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Romadhon.

Bagi muslim yang telah mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Romadhon dan mengoptimalkan berbagai ibadah dengan penuh keikhlasan melaksanakannya, ‘Idul-Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Alloh swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapa pun, yaitu rohmat dan maghfiroh-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya, dan tak satupun kaum muslimin yang beriman berdo’a pada hari raya ‘Idul-Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Merayakan ‘Idul-Fitri tidaklah hanya sekedar ajang berhias diri dengan pakaian baru, tapi yang lebih penting ‘Idul-fitri adalah ajang tasyakkur, refleksi diri untuk mengasah kepekaan jiwa kita kembali mendekatkan diri pada Alloh swt, dengan memperbarui pakaian taqwa.

Alloh swt berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Wahai anak Adam, seseungguhnya Kami telah menurunkan pada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurot kalian, dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian taqwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh agar mereka ingat.” (QS. Al-A’rof :26).

اللهم إنا نسألك في الدنيا لباس التقوى وفي الآخرة لباس الجنة
“Ya Alloh, sesunggunya kami memohon kepada-Mu di dunia memakai pakaian taqwa, dan di akherat memakai pakaian sorga.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf yang disengaja dan tidak.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
“Semoga Alloh menerima ibadah dari kami dan dari kalian, puasa kami dan puasa kalian.
Selamat kembali fitrah dan selamat memperoleh kesuksesan -di dunia dan keberuntungan di akherat-.”

SALING BERMA’AFAN

Saat bertemu satu sama lain, kaum muslimin saling bermaafan, seraya saling mendo’akan. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Kholid bin Ma’dan ra, ia mengatakan:
“Aku menemui Watsilah bin al-Asqa’ pada hari ‘Id, lalu aku mengatakan:
“Taqobbalallohu minna wa minka (Semoga Alloh menerima amal ibadahku dan amal ibadahmu).”
Lalu ia menjawab:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Kemudian Watsilah berkata:
“Aku menemui Rosululloh saw pada hari ‘Id, lalu aku mengucapkan:
“Taqobbalallohu minna wa minka.”

Lalu Rosululloh saw menjawab:
“Ya, taqobbalallohu minna wa minka.” (HR. Baihaqi).

Selanjutnya, di masa sahabat ra, ucapan ini agak berubah sedikit. Jika sebagian sahabat bertemu dengan sebagian yang lain, mereka berkata:
“Taqobbalallohu minna wa minkum (Semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian).” (HR Ahmad).

Pada hari raya, Rosululloh saw mempersilakan para sahabat ra, untuk bergembira. Seperti mengadakan pertunjukan tari dan musik, makan dan minum, serta hiburan lainnya. Namun semua kegembiraan itu tidak dilakukan secara berlebihan atau melanggar batas keharaman. Karena, hari itu adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Alloh Azza wa Jalla. (HR. Muslim).

Sayyidah ‘Aisyah ra, menceritakan:
“Di Hari Raya ‘Idul Fithri, Rosululloh masuk ke rumahku. Ketika itu, di sampingku ada dua orang tetangga yang sedang bernyanyi dengan nyanyian bu’ats (bagian dari nyayian pada hari-hari besar bangsa Arab ketika terjadi perselisihan antara Kabilah Aush dan Khazraj sebelum masuk Islam). Kemudian Rosululloh berbaring sambil memalingkan mukanya.

Tidak lama setelah itu Abu Bakar masuk, lalu berkata:
“Kenapa membiarkan nyanyian setan berada di samping Rosululloh .?”

Mendengar hal itu, Rosululloh menengok kepada Abu Bakar seraya berkata:
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita’.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ada juga riwayat dari Imam Bukhori yang menceritakan:
“Rosululloh saw masuk ke tempatku (‘Aisyah), kebetulan di sana ada dua orang sahaya sedang menyanyikan syair-syair Perang Bu’ats (Bu’ats adalah nama benteng kepunyaan suku Aus; sedang hari Bu’ats ialah suatu hari yang terkenal di kalangan Arab, waktu terjadi pertempuran besar di antara suku Aus dan Khazraj). Beliau terus masuk dan berbaring di ranjang sambil memalingkan kepalanya. Tiba-tiba masuk pula Abu Bakar dan membentakku seraya berkata:
“(Mengapa mereka) mengadakan seruling setan di hadapan Nabi .?”

Maka Nabi pun berpaling kepadanya, beliau berkata:
“Biarkanlah mereka.”

Kemudian setelah beliau terlena, aku pun memberi isyarat kepada mereka supaya keluar, dan mereka pun pergi.

Dan waktu hari raya itu banyak orang Sudan mengadakan permainan senjata dan perisai. Adakalanya aku meminta kepada Nabi saw untuk melihat, dan adakalanya pula beliau sendiri yang menawarkan:
“Inginkah kamu melihatnya .?”
Aku jawab: “Ya.”

Maka disuruhnya aku berdiri di belakangnya, hingga kedua pipi kami bersentuhan, lalu sabdanya:
“Teruskan, hai Bani ‘Arfadah .!”
Demikianlah sampai aku merasa bosan.
Maka beliau bertanya:
“Cukupkah .?”
Aku jawab: “Cukup.”
“Kalau begitu, pergilah .!” kata beliau saw.

HIKMAH KEMENANGAN

Demikianlah, Romadhon telah melewati kita. Tapi kebaikan-kebaikan lain tetap mesti dipertahakan.
Puasa Romadhon memang telah berakhir, tapi puasa-puasa sunnah, misalnya, tidaklah berakhir, tetap menanti kita. Seperti puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan (ayyaamul bidh, tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan), puasa Asyura’ (tanggal 10 Muharram), puasa Tarwiyah dan ‘Arofah (tanggal 8-9 Dzulhijjah), dan lain-lain.

Terawih memang telah berlalu, tapi Tahajjud dan witir misalnya, tetap menanti kita. Juga bermunajat di tengah malam, yang merupakan kebiasaan orang-orang sholeh.
Abu Sulaiman ad-Daroni rohimahulloh berkata:
“Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.”

Zakat fithrah memang telah berlalu, tapi zakat wajib dan pintu shodaqoh masih terbuka lebar pada waktu-waktu yang lain.

Indikator diterimanya puasa Romadhon ..
Seorang penyair Arab mengungkapkan:
“Bukanlah Hari Raya ‘Ied itu
bagi orang yang berbaju baru
Melainkan hakikat ‘Ied itu
bagi orang yang bertambah ta’atnya.”

Semoga dengan latihan yang telah kita lakukan selama bulan Romadhon ini, kita disampaikan oleh Alloh swt kepada ketaqwaan, dan semoga ketaqwaan ini dapat terus kita pertahankan dan kita jadikan sebagai pakaian kita sehari-hari, dan semoga kita masih dapat dipertemukan Alloh swt dengan Romadhon berikutnya.

Wallohu a’lam bisshowab ..

Awan Tag