Archive for Juni, 2013

KEUTAMAAN MENUTUPI AIB SESAMA MUSLIM

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Alloh akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.”
(HR. Muslim)

Dari Abdulloh bin ‘Umar ra, Rosululloh saw bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak boleh berbuat dholim dan aniaya kepada saudaranya.
Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Alloh akan memenuhi kebutuhannya.
Barangsiapa yang membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Alloh akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat.
Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak.”
(HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata:
“Rosululloh saw menaiki mimbar lalu menyeru dengan suara yang lantang:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang hanya berislam dengan lisannya namun keimanan belum tertancap di dalam hatinya.
Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok mereka, dan jangan pula kalian menelusuri mencari-cari aib mereka.
Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Alloh niscaya Alloh akan mempermalukan dia meskipun dia berada di dalam rumahnya sendiri.”
(HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Penjelasan ringkas:
Alloh swt senang menutupi kesalahan hamba-hamba-Nya, dan Dia menganjurkan agar para hamba-Nya juga melakukannya di antara sesama mereka.
Untuk itu Alloh swt telah menyediakan bagi mereka pahala yang sesuai dengan amalan baik mereka, yaitu dengan menyembunyikan aib dan mengampuni dosa mereka pada hari kiamat karena mereka telah menyembunyikan aib saudaranya di dunia.

Al-Qodhi bin Iyadh rohimahullohu berkata:
“Tentang ditutupnya aib si hamba pada hari kiamat, maka ada dua kemungkinan makna:
Pertama: Alloh swt akan menutupi kemaksiatan dan aibnya dengan cara tidak mengumumkannya kepada manusia di padang mahsyar.
Kedua: Alloh swt tidak akan menghisab aibnya dan tidak akan menyebut aibnya tersebut.”
(Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim).

Ma’na pertama di atas di dukung oleh hadits dari Abdulloh bin ‘Umar ra, Rosululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ

“Sesungguhnya (pada hari kiamat) Alloh akan mendekatkan seorang mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupinya. Lalu Alloh berfirman:
“Apakah kamu mengetahui dosa ini .?
Apakah engkau tahu dosa itu .?”
Dia menjawab:
“Ya, betul aku tahu wahai Tuhanku.”
Hingga ketika Alloh telah membuat dia mengakui semua dosanya dan dia mengira dirinya sudah akan binasa, Alloh berfirman kepadanya:
“Aku telah menutupi dosa-dosa ini di dunia, maka pada hari ini Aku mengampuni dosa-dosamu itu.”
Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya.”
(HR. Bukhori)

Sebaliknya, Alloh swt telah melarang dan mengharamkan untuk memata-matai dan mencari-cari aib seorang muslim, walaupun itu dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, dan Alloh swt telah mempersiapkan hukuman yang menghinakan bagi pelakunya di dunia dan di akhirat.
Adapun di dunia maka Alloh swt pasti akan menghinakan dirinya walaupun dia tengah bersembunyi di dalam rumahnya. Adapun di akhirat, maka siksaan akhirat lebih besar dan lebih hina, yaitu Alloh akan membukan secara terang-terangan semua dosa dan aibnya ketika di dunia, agar seluruh makhluk di padang mahsyar bisa melihatnya, (nadzu billah).

Ini dosa jika dia sekedar mencari-cari aib sesama muslim, walaupun dia tidak menceritakannya kepada orang lain. Akan tetapi jika setelah dia mencari-cari tahu aib saudaranya lalu dia menceritakannya kepada orang lain, maka dia telah terjatuh ke dalam dosa besar kedua yang tidak kalah kecil dosanya dibandingkan dosa yang pertama, yaitu dosa ghibah.

Karena sungguh, barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia adalah termasuk orang-orang yang menghendaki kejelekan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin. Dan jika demikian keadaannya, maka atasnya firman Alloh swt:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya kekejian di tengah-tengah orang-orang yang beriman, mereka akan memperoleh adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.”
(QS. An-Nur: 19)

Iklan

Awan Tag