SYUKUR

Alloh mengingatkan kepada hamba-Nya tentang aneka macam keni’matan lahir dan keni’matan batin :
“Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian.” (Al-Baqoroh: 40).

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 16: 18).

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ..! tatkala TUHAN-mu menetapkan:
`Sesungguhnya jika kamu BERSYUKUR, pasti KAMI akan menambah ni’mat kepadamu.
Dan jika kamu mengingkari ni’mat-KU, maka sesungguhnya adzab-KU sangat pedih`.” – (QS. Ibrohim : 7).

BERAMAL TANPA ILMU ADALAH SIA-SIA

Rosululloh saw sangat menekankan kita untuk selalu menuntut ilmu sejak lahir hingga ajal menjemput, agar amal-amal kita mendapat `feedback`/`ashobah` imbal balik kepada kita berupa kebaikan dan manfaat serta keberkahan dari Alloh swt.

Ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati, atau mendapat materi hasil kerja, kita wajib bersyukur, mengucapakan pujian kepada Alloh swt.
Rasa bangga sangat rawan mempengaruhi jiwa seseorang, ia akan merubahnya menjadi sebuah kesombongan, seakan-akan apa yang kita dapat, benar-benar adalah hasil kerja kita murni tanpa adanya ikut campur Alloh swt didalamnya.

Hanya dengan kalimat Al-Hamdulillah lah yang dapat meng-clear-kan rasa bangga ini supaya tidak akan menjadikan kesombongan, dengan cara mengembalikan pujian itu kepada pemiliknya yaitu Alloh swt, bahwa kita tak mungkin mendapatkan semua itu tanpa bantuan atau kehendak-Nya, kita tak punya kekuatan apa-apa tanpa kekuasaan-Nya.

Jadi saat kita merasa bangga, cepat-cepat kembalikan rasa itu kepada Alloh swt. karena Dialah yang lebih berhak untuk dibanggakan.

Pujian itu akan mengantarkan kita kedalam kebanggaan dan kebanggaan akan menjerat kita pada kesombongan, sedangkan kesombongan adalah ‘pakaian Alloh’, kita tak layak memakainya, begitulah dijelaskan dalam sebuah hadits qudsi.

Ketika seseorang dipuji tentang kedudukannya, tentang kewibawaannya, kekayaannya, ketampanan atau kecantikannya, ketika seseorang dihormati, disanjung-sanjung, dikagumi, diidolakan, bukanlah karena pangkat yang disandangnya, bukan karena harta yang dimilikinya, bukan juga karena hasil karya-karyanya. Pada hakekatnya semua itu adalah karena Alloh swt telah menutupi keburukannya, kemaksiatannya, kekurangannya dan aib-aibnya.

Coba bayangkan ..
Apakah seorang istri akan menghargai suaminya lagi ketika semua aib dan keburukan suaminya diketahui .?
Apakah seorang pemimpin akan di hormati lagi rakyatnya ketika aib dan kejelekannya sudah terbuka didepan umum .?
Apakah seorang Kiyai akan berwibawa lagi ketika aib dan kemaksiatannya sudah menganga terbuka .?
Masing-masing tentu tau jawabannya ..

Maka dari itu ketika kita dihargai dan dihormati orang cepatlah kembalikan pujian itu kepada Alloh swt Sang Pemilik Pujian, karena semata bukan karena jabatan, pangkat dan wibawa yang kita miliki, semua semata karena Alloh telah menutupi aib dan keburukan kita.

Itulah diantara sebab mengapa Alloh swt melarang kita mencari-cari kesalahan orang lain, melarang menggunjing, menghina dan menjelekkan orang lain, karena Alloh swt sudah menutupinya .. Eh..! malah kita berani-beraninya membuka-buka nya, bahkan menyebarkannya.

Memang tidak kita pungkiri, setiap diri manusia suka dan senang dipuji, namun kita jangan sampai larut dalam pujian itu sehingga lupa siapa sebenarnya yang menjadikan kita dipuji orang, maka agar supaya tidak larut dalam pujian itu cepat-cepat kita mengembalikan pujian itu kepada Alloh Yang Maha Terpuji.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rohmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh”. (QS. An-Naml: 19).

BAGAIMANA KITA MENSYUKURI NI’MAT

Seseorang harus mengetahui untuk apa ni’mat tersebut diciptakan/dianugerahkan Alloh swt. Jika telah ditemukan jawabnya, maka gunakanlah ni’mat itu sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Karena itu, defenisi syukur adalah menggunakan segala apa yang dianugerahkan Alloh sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu.

Kesadaran yang bermula dari lubuk hati yang terdalam itu, mengantar seseorang untuk menyampaikan pujian kepada-Nya dalam bentuk lisan, disusul dengan menggunakan semua anugerah/ni’mat yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan-Nya. Melalui syukur ini, maka terpenuhilah janji Alloh yang mengatakan :
“Kalau kamu bersyukur, pasti Aku tambah ni’mat-Ku untukmu” (QS. Ibrohim : 7).

Jika kita cermati, ayat di atas, menunjukkan dimensi syukur dua arah, ya’ni dari hamba dan dari Tuhan, dari makhluk dan dari Kholiq. Manusia beryukur kepada Alloh swt, dan Alloh juga “bersyukur” kepada manusia.

Syukurnya hamba kepada Alloh swt, adalah dengan memuji kepada-Nya dan dengan mengingat kebaikan-Nya; sedangkan syukurnya Alloh swt kepada hamba bermakna Alloh memuji kepadanya dan mengingat kebaikannya.

Perbuatan baik hamba adalah ta’at kepada Alloh swt, sedangkan perbuatan baik Alloh swt adalah dengan memberikan tambahan keni’matan dan pertolongan. Karena itulah, pada hakikatnya kita tak mampu mensyukuri seluruh ni’mat Alloh,seperti diungkapkan al-Qur’an :
“Kalau kamu mencoba-coba menghitung ni’mat Alloh , niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” 

Karena itu setiap syukur kita, membutuhkan syukur lagi, dan kesadaran mensyukuri ni’mat Alloh juga merupakan bagian dari keni’matan itu sendiri.

MENSYUKURI NI’MAT ALLOH SWT

Apabila direnungkan secara mendalam, banyak ni’mat Alloh yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya, dan hampir dirinya tidak melihat dan merasakannya, se’akan yang tampak hanya ada pada diri orang lain ..
Alloh swt berfirman: ‘
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 16: 18).

Hakikat syukur adalah menampakkan ni’mat dengan menggunakan pada tempatnya dan sesuai dengan kehendak pemberinya .. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan ni’mat.

Alloh swt berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu menetapkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS 14: 7).

Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Alloh .. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara ni’mat Alloh .. Ini bisa dipahami dari perintah Alloh untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia.
Alloh swt berfirman:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.” (QS 31: 14).

Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan menjadi perantara ni’mat Alloh. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia tidak mampu pula bersyukur kepada Alloh swt.
Nabi saw bersabda:
“Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka ia tidak mensyukuri Alloh.” (HR Tirmidzi).

Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Alloh tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Alloh swt berfirman:
“Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. 27: 40).

Ada beberapa cara mensyukuri ni’mat Alloh swt. 

Pertama, syukur dengan hati.
Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun ni’mat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit ni’mat Alloh yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan.
Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua ni’mat berasal dari Alloh swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Alloh melalui ucapan al-Hamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Alloh swt.

Ketiga, syukur dengan perbuatan.
Hal ini dengan menggunakan ni’mat Alloh pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syari’at , menta’ati aturan Alloh swt dalam segala aspek kehidupan.

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi ni’mat (ya’ni Alloh) dan perantara ni’mat yang diperolehnya (ya’ni manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas ni’mat Alloh yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat ni’mat lain yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas ni’mat yang diberikan Alloh swt merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Alloh, alias kufur ni’mat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Alloh swt.

Alloh swt telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengingat dan bersyukur atas ni’mat-ni’mat-Nya:
“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari ni’mat-Ku”. (QS. 2:152)

Ahli Tafsir, Ali Ash-Shobuni menjelaskan bahwa yang dimaksud “Ingat kepada Alloh” itu adalah dengan Ibadah dan Ta’at, maka Alloh akan ingat kepada kita, artinya memberikan pahala dan ampunan. Selanjutnya kita wajib bersyukur atas ni’mat Alloh dan jangan mengingkarinya dengan berbuat dosa dan maksiat.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya:
“Ya Robb, bagaimana aku bersyukur kepada Engkau .?”
Tuhan menjawab:
“Ingatlah Aku, dan janganlah kamu lupakan Aku.  Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepada-Ku. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmat-Ku.”

Di zaman sekarang ini, betapa banyak orang merefleksikan rasa bersyukur, namun dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar, ya’ni dengan cara beribadah dan memupuk keta’atan kepada Alloh swt dan meninggalkan maksiat.

Alloh swt telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang mau bersyukur atas ni’mat yang diberikan-Nya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap ni’mat yang diberikan Alloh kepada mereka.
“Sesungguhnya Alloh benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas ummat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS. Yunus: 60).

“Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan):
“Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”  
Katakanlah: “Alloh menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, (akan tetapi) kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An’aam: 63-64).

MEMINTA YANG SEDIKIT UNTUK MENDAPATKAN YANG BANYAK

Diceritakan bahawa ada seorang pemuda pada zaman Sayyidina ‘Umar bin Khotthob ra, yang sering berdo’a di sisi Baitulloh dengan do’a :

“Ya Alloh .. masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit.”

Do’a pemuda ini didengar oleh Sayyidina ‘Umar ra, ketika beliau sedang berthowaf di Ka’bah. Sayyidina ‘Umar ra, merasa heran, kenapa pemuda ini berdo’a memohon sedemikian rupa ..
 
Selesai melakukan thowaf, Sayyidina ‘Umar memanggil pemuda itu lalu bertanya:

“Kenapa engkau berdo’a sedemikian rupa (Ya Alloh .. masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tiada permintaan lain selain yang engkau mohon kepada Allah .?”

Pemuda itu menjawab:

“Ya Amirul Mukminin .. Aku membaca do’a demikian kerana aku merasa takut dengan apa yang dijelaskan Alloh seperti firman-Nya dalam surah al-A’rof ayat 10 yang artinya:
“Sesungguhnya Kami (Alloh) telah menempatkan kamu sekelian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”
Karena itu aku memohon agar Alloh memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, lantaran terlalu sedikit orang yang bersyukur kepada Alloh.”

Mendengar jawapan pemuda itu, Sayyidina ‘Umar ra, menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri:

“Wahai ‘Umar, alangkah bodohnya engkau, banyak orang lebih alim daripadamu yang tidak kau ketahui.”
 

SELAMATKAN DIRI ANDA DARI AZDAB DENGAN BERSYUKUR

Tidak perlu diragukan lagi akan keutamaan syukur dn ketinggian derajatnya, ya’ni syukur kepada Alloh swt atas ni’mat-ni’mat-Nya yg datang terus menerus dn tiada habis-habisnya.
Di dalam al-Qur’an Alloh swt menyuruh bersyukur dn melarang kebalikannya.
Alloh swt memuji orang-orang yg mau bersyukur dn menyebut mereka sebagai makhluk-makhluk-Nya yang istimewa.
Alloh swt menjadikan syukur sebagai tujuan penciptaan-Nya, dn menjanjikan orang-orang yg mau melakukannya dgn balasan yg sangat baik.
Alloh swt menjadikan syukur sebagai sebab untuk menambahkan karunia dn pemberian-Nya, dn sebagai sesuatu yang memelihara ni’mat-Nya.
Alloh swt memberitahukan bahwa orang-orang yg mau bersyukur adalah orang-orang yg dapat memanfaatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Alloh memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat al-Qur’an.

Alloh swt berfirman:

 وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“… dan syukurilah ni’mat Alloh, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
(QS. An-Nahl: 114).

 فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.”
(QS. Al-Baqoroh: 152).

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“… maka mintalah rizki itu di sisi Alloh dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“
(QS. Al-Ankabut: 17).

Alloh menggantungkan tambahan ni’mat dengan syukur. Dan tambahan ni’mat dari-Nya itu tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya.
Alloh swt berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrohim: 7).

Alloh swt mengabarkan bahwa yang menyembah Diri-Nya hanyalah orang yang bersyukur pada-Nya. Dan siapa yang tidak mau bersyukur kepada-Nya berarti ia bukan termasuk orang-orang yang mengabdi kepada-Nya. Alloh swt berfirman:

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“… dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar hanya kepada Alloh saja kamu menyembah.”
(QS. Al-Baqoroh: 172).

Alloh mengabarkan keridhoan-Nya terletak pada mensyukuri-Nya. Alloh swt berfirman:

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“… dan jika kamu bersyukur niscaya Alloh meridhoi bagimu kesyukuranmu itu …”
(QS. Az-Zumar: 7).

Alloh swt mengabarkan bahwa musuh-Nya iblis selalu berusaha menggoda manusia agar tidak bersyukur, karena ia tau kedudukan syukur yang sangat tinggi dan nilainya yang sangat agung, Alloh swt menginformasikan dalam al-Qur’an, perkataan iblis :

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“… kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
(QS. Al-A’rof: 17).

Alloh membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia tidak punya keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Alloh berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Alloh akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman .? Dan Alloh adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“
(QS. An-Nisa’: 147).
Artinya, kalau kalian mau bersyukur dan beriman yang menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Alloh menyiksa kalian .?

MENSYUKURI NI’MAT DAN MENI’MATI SYUKUR

Fungsi utama dari bersyukur adalah agar kita betul-betul merasa tenang, bahagia, dan sukses dikarenakan Alloh telah memberikan keni’matan yang luar biasa dahsyat dalam kehidupan kita.

Orang yang besyukur hatinya lapang, wajahnya cerah, pikirannya terbuka, motivasinya tinggi, ibadahnya khusyu’, hidupnya bermanfaat, banyak mengeluarkan/memberikan/membagikan pada orang lain dan semesta di sekitarnya.

Kalaulah kita hari ini mengaku sudah bersyukur tapi masih sering stress, mudah marah, cepat khawatir, takut kehilangan, dan perasaan negatif lainnya, berarti TEHNIK BERSYUKUR kita masih perlu diperbaiki.
Katanya sudah bersyukur .. lha kok saben hari masih stress ..?

Bukankah dalam al-Qur’an dikatakan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrohim: 7).

Dan, lambang dari adzab yang pedih itu adalah diawali hadirnya stress yang istiqomah dalam kehidupan kita .. Hmmm stress kok istiqomah ..!
Nah .. apa betul kita ini sudah bersyukur .?
Kalau sudah bersyukur .. Lalu kenapa masih sering stress .?

Contoh, misalnya anda pada faktanya memiliki rumah yang kecil dan sempit, lalu anda bersyukur dalam kalimat al-Hamdulillah :
“Ya Alloh, terimakasih atas  rumah yang telah engkau berikan ini, walau sempit dan pengap, aku tetap bersyukur ..”
Nah .. apakah setelah anda mengucapkan rasa syukur itu hati anda menjadi lapang .?

Contoh lain, kita mendapatkan sebuah proyek yang kita anggap nilainya 10 juta, tapi ternyata setelah proyek itu selesai kita hanya mendapatkan uang senilai 3 juta. Lalu kita berusaha untuk bersyukur dengan kalimat :
“Al-Hamdulillaaaah,
masih dapet 3 juta,
masih untung ada proyek ..” ..
Tapi tengoklah hati kita, ternyata kita belum tentu bersyukur sesuai dengan ucapan yang kita katakan. Hati kita masih saja bertanya dan kesal
“kenapa hanya 3 juta .? .. apa salah ku .?”

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad).

Nah .. inilah salah satu kesalahan bersyukur ..
Bersyukur itu seharusnya ni’mat sehingga menambah keni’matan yang ada. Istilahnya :
“Mensyukuri ni’mat dengan cara meni’mati syukur itu sendiri ..”

Ni’mat itu tidak harus dikaitkan dengan fakta yang ada, tapi keni’matan sejati bisa melampaui sang fakta .. Fakta itu terbatas, sedangkan ni’mat itu tak terbatas.

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Ni’mat dari Tuhan kamu yang mana lagikah yang kalian dustakan .?” 

Kalau faktanya rumah kita kecil, maka lampauilah fakta itu, dan bersyukurlah, al-Hamdulillah :
“Ya Alloh, terimakasih atas rumah yang besar, bertingkat, luas, dan indah ini ..”
Bukankah fakta itu di luar, sedangkan persepsi itu di dalam .?
Bukankah persepsi lebih penting dari pada fakta yang menipu .?
Bukankah dunia ini kesenangan yang menipu .?
Bukankah yang di dalam itu realita dan yang di luar itu hanya ilusi .?
Bukankah yang kelak Anda pertanggungjawabkan di hadapan Alloh adalah apa yang ada di dalam diri Anda dan bukan apa yang ada di luar diri Anda .?

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. 57:20).

Ketika kita sedang melatih Pikiran dan Perasaan dalam bersyukur yang berkualitas ni’mat, maka tak perlu heran jika setiap hari latihan bersyukur yang dilakukan sepertinya semakin tidak mudah. Sebab dibenturkan oleh berbagai fakta yang sulit untuk disyukuri.

Itu sebabnya, teruslah tetap dalam kesadaran yang dalam. Dan tetaplah bersyukur dalam sikap yang “melampaui fakta” yang ada, walaupun fakta yang hadir sangat tidak indah atau bahkan sudah begitu sangat indahnya.

Jangan batasi diri kita dalam fakta indrawi, sebab semua keindahan dan kesulitan dunia adalah fana.

Maka, tidak perlu menunggu ni’mat baru bersyukur, tapi bersyukurlah senantiasa maka ALLOH akan menambahkan ni’mat itu pada diri kita .. sebab KUNCI dari mensyukuri ni’mat adalah meni’mati syukur ..

Mari luaskan persepsi anda, positifkan persepsi anda, tingkatkan kesadaran proses pengetahuan, pengertian dan pemahaman anda, maka anda akan betul-betul meni’mati yang namanya bersyukur .. Tenggelam dalam keni’matan syukur kepada-Nya ..

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: