Archive for Mei, 2013

DO’A DAN MA’NA WUDLU’

ALLOH MENCINTAI ORANG YANG MEMBERSIHKAN DIRI

Manusia diciptakan oleh Alloh tiada lain hanya untuk ibadah.
Ibadah kepada-Nya dimulai dengan sholat, karena sholat adalah ibadah yang paling mulia setelah iman (syahadatain).

Tentu saja untuk bertemu dan mengenal-Nya, diperlukan aneka persiapan jiwa, badan, tempat dan waktu.

Persiapan jiwa dengan ilmu, persiapan badan dengan bersuci, persiapan waktu dengan waktu-waktu sholat, persiapan tempat dengan tempat suci dan arah kiblat (Ka’baitulloh).

Alloh swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu niat hendak mengerjakan sholat, sedangkan pada saat itu kamu dalam keadaan tidak suci, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah sedikit atau sebagian atau seluruh kepalamu dan basuhlah kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub keluar mani dengan sebab apapun maka mandilah.” (QS. al-Maidah: 6)

Wudhu’ ( الوضوء ) mengandung ma’na kebersihan dan keindahan ( الحسن والنظافة ) adalah sebuah syari’at kesucian yang telah Alloh swt tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan bagi sholat dan ibadah lainnya.

Di dalam wudlu’ terkandung sebuah hikmah, faedah, keutamaan dan kedudukan yang tinggi, karena itu hendaknya seorang muslim memulai ibadah dalam kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin dalam seluruh kondisi.

Rosululloh saw bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Ta’akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudlu’.” (HR. Bukhori dan Muslim)

تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ

“Perhiasan (cahaya) seorang mukmin akan mencapai tempat yang dicapai oleh wudlu’nya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Alloh menghapuskan dosa-dosa , dan mengangkat derajat-derajat .?”
Mereka menjawab:
“Mau wahai Rosululloh .!”
Beliau saw bersabda:
“(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudlu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah pos penjagaan.” (HR. Muslim)

“Alloh tidak akan menerima sholat seseorang di antara kalian apabila kalian berhadats, sehingga dia berwudlu’.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

DO’A DAN MA’NA WUDLU’

1. Do’a membasuh dua telapak tangan sebelum wudlu’ :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

“Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.
Segala Puji bagi Alloh yang menjadikan air itu suci.”

Ketika kita mencuci tangan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bersihkanlah perbuatan tanganku dari perbuatan dholim.
Dekatkanlah kedua tanganku kepada perbuatan yang baik dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.”
Dengan begitu seseorang yang wudhu’nya benar tidak akan berbuat kerusakan dengan tangannya, ataupun perbuatan dholim lainnya.

 
2. Do’a ketika berkumur:

اَللَّهُمَّ اَسْـقِـنِى مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهاَ أَبَدًا

“Ya Alloh, curahkan segelas air dari telaga Nabi-Mu Muhammad saw yang tidak akan kehausan setelah itu selama-lamanya.”

Ketika kita berkumur, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jauhkanlah mulutku dari perkataan kotor dan jahat. Berikanlah kebaikan apa yang aku ucapkan. sehingga bermanfaat bagi semuanya.”

3. Do’a membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنِى رَائِحَةَ جَـنَّتِكَ

“Ya Alloh, janganlah Engkau haramkan aku mencium harumnya sorga-Mu.”

Ketika kita membersihkan hidung, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, izinkan hidungku selalu mencium wewangian Nabi-Mu, yang mengantarkan aku mencium wewangian sorga dan haramkan mencium busuknya neraka.”

4. Do’a ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Ya Alloh, cerahkanlah wajahku pada hari bercahaya.”

Ketika kita membasuh muka, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, berikanlah cahaya-Mu agar wajahku tidak nampak gelap di hari akhir nanti. Jangan jadikan wajahku seperti wajah orang yang kafir dan munafik atau yang durhaka kepada-Mu. Jadikan wajahku terang benderang, yaitu wajah hamba-hamba yang Engkau Ridhoi.”
 

5. Do’a saat membasuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

“Ya Alloh, berikanlah buku catatan amalanku dengan tangan kananku dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.”

Ketika kita membasuh tangan kanan, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kananku kepada pekerjaan yang mumbuahkan kemanfaatan diri dan linkunganku, yang akan mengantarku selalu dapat menerima anugerah rohmat-Mu.”

Do’a saat membasuh tangan kiri:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى مِنْ يَساَرِىْ وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menerima buku catatan amalanku dengan tangan kiri atau dari sebelah belakangku.”

Ketika kita membasuh tangan kiri, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, bimbinglah tangan kiriku untuk selalu menolak keburukan yang bersumber dari setan dan bala tentaranya, sehingga aku dapat meletakkan setiap pekerjaanku pada tempatnya, dari yang Engkau ridhoi.”

 
6. Do’a saat membasahi rambut kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ مِنَ النَّارِ وَاَظِلَّنِي تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلاَّ ظِلُّكَ

“Ya Alloh, haramkanlah rambutku dan kulitku dari neraka dan naungilah aku di bawah ‘Arsy-Mu pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Mu.”

Ketika kita membasahi rambut kepala, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, terangilah pikiranku untuk terus mengharap ampunan dan ridho-Mu. Hindarkanlah pikiranku dari segala yang kotor dan membahayakan, dan Jadikan setiap helai rambutku saksi kebaikanku kelak di hari perhitungan.”

 
7. Do’a membasuh dua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

“Ya Alloh, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti sesuatu yang baik.”

Ketika kita membasuh dua telinga, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh, jadikanlah pendengaranku kecintaan kepada bacaan al-Qur’an dan dapat mengamalkan nasihat-nasihatnya sehingga dapat menolak keburukan ajakan-ajakan kemaksiatan, dengan sebab itu aku dapat memenuhi hak-hakku terhadap-Mu.”

8. Do’a saat membasuh dua telapak kaki:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَّي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلاَقْدَامُ

“Ya Alloh, mantapkan kedua kakiku di atas titian (shirothol-mustaqim) pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.”

Ketika kita membasuh dua kaki, secara tersirat mengandung ma’na:
“Ya Alloh berikanlah kekuatan kepada kakiku untuk melangkah menuju kebaikan. Jauhkanlah dari langkah syetan yang menjerumuskan kepada dosa dan penderitaan. Mudahkanlah kakiku untuk melewati jembatan Shirothol-Mustaqim agar selamat dari siksa api neraka.”

 
9. Do’a setelah berwudhu:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Alloh, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusan-Nya.
Ya Alloh, Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang sholeh.”

MANDI TAUBAT, SHOLAT TAUBAT DAN DZIKIR TAUBAT

Dari Sayyidina ‘Ali ra, Rosululloh saw bersabda:
“Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa, lalu dia bangun dan bersuci (mandi), kemudian mengerjakan sholat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Alloh (istighfar), melainkan Alloh akan memberikan ampunan kepadanya.”
(HR. Tirmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Niat mandi tobat :
نَوَيْتُ غُسْلَ التَّوْبَةِ لِلّهِ تَعَالَى

Niat sholat sunnat tobat dua roka’at :

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالَى

Roka’at pertama setelah membaca surat “al-Fatihah” membaca surat “al-Kafirun”, roka’at kedua setelah membaca surat “al-Fatihah” membaca surat “al-Ikhlash”.

Setelah selesai sholat membaca dzkir tobat (istighfar) :

رَبِّ اغْفِرْلِى وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التًّوَّابُ الرَّحِيْمُ 100.x

Do’a setelah dzikir taubat :

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ تَوْ فِيْقَ اَهْلِ الْهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّ غْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى اَخَافَكَ . اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ مَخَا فَةً تَحْجُزُ نِى عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَا عَتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ حَتَّى اُنَا صِحَكَ فِىالتَّوْ بَةِ خَوْ فًا مِنْكَ وَحَتَّى اَخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَحَتَّى اَتَوَ كَّلَ عَلَيْكَ فَ اْلاُمُوْرِ كُلِّهَاوَحُسْنَ ظَنٍّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ نُوْرٍ

“Ya Alloh sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu Taufiq (pertolongan) nya orang-orang yang mendapatkan petunjuk (hidayah), dan perbuatannya orang-orang yang bertaubat, dan cita-cita orang-orang yang sabar, dan kesungguhan orang-orang yang takut, dan pencariannya orang-orang yang cinta, dan ibadahnya orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa (wara’), dan ma’rifatnya orang-orang berilmu sehingga hamba takut kepada-Mu. Ya Alloh sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu rasa takut yang membentengi hamba dari durhaka kepada-Mu, sehingga hamba menunaikan keta’atan kepada-Mu yang berhak mendapatkan ridho-Mu sehingga hamba tulus kepada-Mu dalam bertaubat karena takut pada-Mu, dan sehingga hamba mengikhlaskan ketulusan untuk-Mu karena cinta kepada-Mu, dan sehingga hamba berserah diri kepada-Mu dalam semua urusan, dan hamba memohon baik sangka kepada-Mu. Maha suci Dzat Yang Menciptakan Cahaya.”

Sesungguhnya diantara rohmat Alloh swt terhadap hamba-hamba-Nya adalah terbukanya pintu taubat yang tidak akan tertutup sehingga roh telah sampai di tenggorokan atau matahari terbit dari barat, dan termasuk rohmat-Nya pula disyari’atkannya sebuah ibadah yang sangat agung, yang dengannya seorang hamba ditutup aneka aib kemaksiatannya dan diampuni segala dosa-dosanya dengan mandi serta menyempurnakan wudlu’, lalu mendirikan sholat dan beristghfar memohon ampunan kepada Alloh swt.

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Sayyidina Abu Bakar ra, Rosululloh saw bersabda:
“Tidak ada seorang hamba yang berbuat suatu dosa, kemudian membaguskan wudhu’nya, lalu berdiri sholat dua roka’at, kemudian beristighfar (memohon ampun) kepada Alloh kecuali Alloh pasti mengampuninya.”
Kemudian beliau saw membaca firman Alloh swt:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
أُوْلَئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan sorga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imron : 135 – 136)

Dari Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:
“Barangsiapa membaguskan waudhu’nya, kemudian dia berdiri sholat dua roka’at atau empat roka’at, pada kedua roka’at itu dia memperbagus dzikir dan khusyu’nya, kemudian dia beristighfar (memohon ampun) kepada Alloh, maka Alloh pasti mengampuninya.“ (HR. Ahmad).

Disunnahkan bagi orang yang bertobat bersungguh-sungguh dalam melakukannya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh swt untuk mendapatkan ridhonya dengan amal shaleh.
Alloh swt berfirman:
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholeh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thoha: 82).

Diantara amal sholeh yang paling utama diamalkan oleh orang yang bertobat adalah bershodaqoh, dikarenakan shodaqoh adalah termasuk sebab terbesar untuk dihapuskannya dosa-dosa.
Alloh swt berfirman:
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali, dan jika kamu merahasiakannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka merahasiakan itu lebih baik bagimu, dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Mandi taubat, sholat taubat dan dzikir taubat ini disyari’atkan pada setiap waktu. Termasuk dibolehkan sholat taubat yang pada waktu-waktu terlarang seperti, setelah sholat ashar atau setelah sholat subuh.

________________

Iklan

AYAT AYAT PILIHAN

SABAR DAN SHOLAT SEBAGAI PENOLONG

Jangan hanya menjadikan diri kalian muslim yang baik tetapi jadilah juga orang yang beriman, maka bertakwalah kepada Alloh dan ikutilah Rosululloh ..

Alloh swt berfirman:
 
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdo’a kepada Alloh, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan ridho-Nya.” (QS. al-Kahfi : 28).

Ayat diatas menuntut seseorang berbuat sabar duduk satu majlis bersama orang-orang ahli dzikir ..

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya, yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” – (QS.2:45).

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (di Hari Kiamat).” – (QS.2:46).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya, Alloh beserta orang-orang yang sabar.” – (QS.2:153).

TA’AT KEPADA ALLOH DAN ROSULULLOH

Alloh swt berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Alloh (ya’ni apa yang telah dibebankan oleh Alloh kepada kalian) dan taatlah kepada Rosul-Nya (ya’ni segala apa yang telah disampaikan oleh Rosul dari Alloh), jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rosul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Alloh) dengan terang (sejelas-jelasnya).” (At-Taghbun: 12).

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan ta’atilah Alloh dan Rosul (dalam setiap perintah dan larangan), supaya kamu diberi rohmat.” (Al-imron: 132).

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang (perintah) Alloh dan Rosul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina (mencapai puncak kehinaan).” (Al-Mujadilah: 20).

ۖ وَمَنْ يُشَاقِّ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Barangsiapa menentang Alloh dan Rosul-Nya (maka ia tidak akan terhindar dari siksa-Nya). Sesungguhnya (siksa Alloh benar-benar pasti akan terjadi, dan) Alloh sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr:4. dn Al-Anfal:13).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman (kepada Alloh, ikhlaskan dirimu kepada-Nya. Percayalah kepada Nabi Muhammad dan apa yang dibawa dalam al-Qur’ân yang diturunkan kepadanya, lalu laksanakanlah dan ikutilah sunnahnya),
Tetaplah beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan kepada kitab yang Alloh turunkan kepada Rosul-Nya serta kitab yang Alloh turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (An-Nisa’ : 136).

DO’A MALAIKAT UNTUK ORANG BERIMAN

Setelah Alloh swt mennjukkan kepada para malaikat bahwa Dia sangat benci orang-orang kafir, dan betapa cinta Alloh swt terhadap orang-orang beriman, maka keimanan kaum muslimin itu mngundang para malaikat mennjukkan betapa kasih sayangnya mereka terhadap kaum yang beriman, sehingga mereka mengajukan permohonan kepada Alloh swt.

Alloh swt mengisahkan hal tersebut melalui firman-Nya:

 الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا :

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ´Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih memuji Tuhan pemelihara mereka dan mereka senantiasa beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Tuhan kami, Engkau telah meliputi segala sesuatu dengan rohmat (bagi segala sesuatu) dan (Engkau mengetahui pula segala sesuatu dengan) ilmu-Mu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang telah bertaubat dan (dengan tulus) mengikuti jalan-Mu (yang lurus) dan hindarkanlah mereka dari siksaan neraka jahim (yang apinya menyala-nyala.)” (40:7)

 رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ´Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (40:8)

 وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rohmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (40:9)

SIFAT KIKIR DAN TAMAK

Sifat `syuh` merupakan tabiat manusia sebagaimana firman Alloh swt:
وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ

“Manusia itu menurut tabiatnya kikir.”
(QS. An-Nisa’: 128)

وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS.At-Taghobun: 16)

Rosululloh saw bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ:
أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا.

“Waspadalah sifat ‘syuh’ (tamak lagi pelit) karena sifat ‘syuh’ yang membinasakan orang-orang sebelum kalian.
Sifat itu memerintahkan mereka untuk bersifat bakhil (pelit), maka mereka pun bersifat bakhil.
Sifat itu memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan, maka mereka pun memutuskan hubungan kekerabatan.
Dan Sifat itu memerintahkan mereka berbuat dosa, maka mereka pun berbuat dosa”
(HR. Ahmad)

اَللَّهُمَّ قِنِيْ شُحَّ نَفْسِيْ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ.

“Ya Alloh, hilangkanlah dariku sifat pelit lagi tamak, dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung.”

DO’A SEORANG MUSLIM

Keutamaan mendo’akan kebaikan untuk sesama mukmin tanpa sepengetahuannya.

Salah satu tanda eratnya persaudaraan dengan sesama muslim adalah mendo’akan muslim lainnya yang tidak berada di hadapannya, atau tanpa sepengetahuannya .. Saat seorang muslim mendo’akan muslim lainnya yang berada jauh dari tempatnya, tanpa sepengetahuannya, dengan do’a-do’a yang baik, niscaya do’a tersebut akan dikabulkan Alloh swt dan secara otomatis do’a tersebut juga untuk dirinya sendiri.

Dari Ummu Darda’ dan Abu Darda’ ra, Rosululloh saw bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah do’a mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdo’a) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendo’akan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin .. dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hadits ini merupakan sebuah modal berharga bagi seorang muslim untuk banyak mendo’akan kebaikan bagi saudara-saudara mukmin mukminat seluruh jagad .. Selain mendapatkan pahala mendo’akan mereka, kita juga akan mendapatkan kebaikan dari do’a yang kita panjatkan tersebut.

Misalnya dengan do’a istighfar :

أَستَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Aku memohon ampun kepada Alloh Yang Maha Agung untuk mukmin laki-laki dan mukmin perempuan.”

Mendo’akan kebaikan untuk sesama mukmin sama halnya dengan mendo’akan kebaikan untuk diri sendiri, sebagaimana dijelaskan di akhir hadits di atas .. Malaikat mengamini do’a kita dan Rosululloh saw menjamin bahwa Alloh swt akan mengabulkannya.

Dalam hadts yang lain Rosululloh saw bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendo’akan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim).

Mendo’akan sesama muslim tanpa sepengatahuan orangnya termasuk dari sunnah hasanah yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi dan Rosul, para ulama, para wali juga orang-orang sholeh dan yang mengikuti mereka .. Mereka senang kalau kaum muslimin dan mukminin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun menyertakan do’a untuk saudaranya di dalam setiap do’a mereka sendiri.

Dari anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda :
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

SAUDARA MUKMIN ADALAH CERMIN BAGI YANG LAINNYA

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (HR. Bukhori dan Abu Dâwud).

Coba kita perhatikan ketika kita melihat kaca, lalu melihat ada sesuatu yang kotor di tubuh kita di cermin tersebut, maka tentu kita akan bersihkan. Hasil cerminan itulah saudara kita. Jadi salinglah menghendaki kebaikan satu dan yang lain, bukan malah ingin mengotori.

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.”

المؤمن مرآة أخيه، والمؤمن أخو المؤمن؛ يكف عليه ضيعته، ويحوطه من ورائه
“Seorang Mu’min adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Dia tidak merusak harta miliknya dan menjaga kepentingannya.”

من أكل بمسلم أكلة؛ فإن الله يطعمه مثلها من جهنم،
“Siapa yang mencari makan dengan (mengorbankan) seorang muslim, maka Alloh akan memberinya makan dengan yang semisal dari neraka Jahannam.
ومن كُسِيَ برجل مسلم، فإن الله عز وجل يكسوه من جهنم،
Dan siapa yang mencari pakaian dengan (mengorbankan) seorang muslim, sesungguhnya Alloh akan memberinya pakaian dari Jahannam.
ومن قام برجل مقام رياء وسمعة؛ فإن الله يقوم به مقام رياء وسمعة يوم القيامة
Dan siapa yang menempati suatu kedudukan dengan tujuan riya’ dan sum’ah, maka Alloh akan menempatkannya pada kedudukan orang yang riya’ dan sum’ah di hari kiamat.”

Hadits-hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam `Adabul Mufrod` dan Abu Dawud dalam `Al-Adab`.

Seorang Mukmin ketika menimbang saudaranya seperti ia sedang memandang di cermin, ya’ni ia melihat dirinya sendiri. Sehingga ia tidak suka menimpa saudaranya apa yang tidak ia suka jika menimpa dirinya. Hal ini seperti sabda Nabi shollallahu alaihi wa salam :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaqun alaih).

Seorang Mukmin ketika melihat aib saudaranya, hendaknya menutupi dan memperbaikinya dengan nasehat yang baik. Bukankah dirinya tidak suka jika aibnya tersebar di tengah masyarakat. Nabi saw bersabda :
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Alloh akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (Muttafaqun alaih).

Seorang Mukmin tidak layak melakukan ghibah dibelakang saudaranya, karena ia berarti seperti memakan bangkai saudaranya. Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati .? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot : 12).

Seorang Mukmin tidak boleh mengambil harta saudaranya secara dholim, Alloh swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS. An-Nisaa’ : 29).

Apabila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri seserang, maka artinya jiwanya masih perlu untuk dibina .. Sebab hal tersebut selain merusak amal juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah dilakukannya.

Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita .. Oleh karena itu, Rosululloh saw menegaskan bahwa

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما
“Tiada dua orang yang saling mencintai karena Alloh ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya.” (HR. Bukhori).

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam .. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Alloh swt. Pintu-pintu sorga tertutup bagi mereka sebagaimana Rosululloh saw bersabda:

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا
“Pintu-pintu sorga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai .. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai .. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim).

Abu Darda’ ra berkata :
“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada shodaqoh dan puasa .?
(yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berbusuhan .. dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Bukhori).

SEORANG MUSLIM YANG BAIK

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain ..
Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendholimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rosululloh saw :
وكونوا عباد الله إخوانا
“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Seorang muslim yang baik tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.

Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih.
Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Alloh, kitab-Nya dan Rosul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tali persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang baik juga memiliki watak setia kepada saudaranya.
Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dholim atau di dholimi .. Pada saat berbuat dholim maka ia mencegah dan saat didholimi maka ia melakukan pembelaan.
Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok.
Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Alloh swt.

Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang baik akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya.
Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya.
Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang baik selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.

jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendo’akan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka).
Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian.

Dalam setiap kesempatan ia selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Alloh sebagaimana yang diinginkan Islam. Semoga Alloh senantiasa membekali kita dengan akhlak mulia.

UJIAN KESABARAN IBARAT MENANTI HUJAN REDA

Di saat menanti hujan reda, apa yg biasa dirasakan org .? Terasa lama .? Mungkin .. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga puluh jam lamanya atau mungkin malah lebih .. Inilah rasanya ujian kesabaran itu.

Banyak org mengatakan, kesabaran ada batasnya .. Bila ujian kesabaran diibaratkan dgn menanti hujan reda, apakah org akan menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yg tengah menerpa bumi .? Sedang hujan hanyalah merupakan makhluk ‘pendiam’ yg ta’akan mungkin menghiraukan rintihan kekesalan org .. Ia mengguyur ke bumi atas perintah-Nya .. Ta’peduli org mengeluh kesal kepadanya, atau bahkan memaki akan kedatangannya yg tak kunjung pergi.

Bagi hujan sendiri sudah biasa untuk dikeluhkan org, di awal kedatangannya, org akan nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh …!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yg muncul ini sudah menunjukkan betapa awal ujian kesabaran itu sudah terpatahkan oleh rasa tidak bersyukurnya akan turunnya ni’mat hujan.

Belum lagi di benaknya masih membayangkan bagaimana nasib jemuran bajunya di rumah .. Sudah pasti akan basah kuyub, setelah sebelumnya ta’sempat ‘diselamatkan’ dari guyuran air hujan .. Terbetik pula bagaimana nasib kendaraannya yg berkilau lantaran baru dicuci kemarin sore, lagi-lagi harus terkena cipratan air hujan yg bercampur tanah .. al-Hasil, kotorlah sudah ..!

Ini baru contoh sederhana, belum contoh-contoh lain yg amat menguji kesabaran .. Misalnya ketika urusan duniawi yg menurutnya sangat urgen untuk segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda lantaran hujan.

Di saat air hujan semakin deras mengguyur, ta’kunjung reda, saat inilah kesabaran org benar-benar berada di titik kulminasi .. Terbayang di benaknya, berapa kerugian yg didapat karena urusan duniawinya banyak yg terbengkalai .. Saat itu juga, emosi kian ta’terbendung .. Umpatan-umpatan kekesalan pun keluar dari mulutnya .. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan, seolah hujan adalah makhluk serupa dengannya.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rohmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.
Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“
(QS. Al-A’rof: 57)

Hujan diturunkan sebagai pembawa berita gembira, namun yang terjadi justru malah sebaliknya .. Org malah berkeluh kesah dgn hadirnya hujan .. Ta’ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya hujan tengah menghambat urusan duniawinya .. Ta’tahukah org, untuk apa hujan diturunkan …?

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan Alloh menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).”
(QS. An-Nahl: 65)

Bayangkan jika hujan tidak diturunkan ke bumi, tidak akan mungkin ada kehidupan di sini .. Bumi akan mengering, dan semua makhluk hidup akan mati .. Dalam ayat lain Alloh swt juga berfirman.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”
(QS. An-Nahl: 10)

Hujan yg membawa berkah, menghidupkan serta menyuburkan tanaman-tanaman yg hijau lagi banyak buahnya .. Inilah ibarat ujian kesabaran itu, layaknya menanti hujan reda .. Menanti memerlukan kesabaran yg teramat berat, terlebih ketika harus merelakan hal-hal yang menyangkut duniawi.

Hujan yg diduga sebagai penghambat pada urusan duniawi, sesungguhnya merupakan berkah dari-Nya .. Kehadirannya akan menghijaukan tanaman hingga menghasilkan buah yg ranum, menghasilkan mata air yg jernih yg sangat bermanfaat bagi semua makhluk yg hidup di bumi ini.

Demikian halnya dengan ujian kesabaran itu .. Meski diduga sebagai sesuatu yg pahit dirasa, atau bahkan berat didaki, namun sesungguhnya Alloh swt akan menghadiahi sorga bagi para hamba-Nya yg sabar.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali Imron: 142)

Ujian dari Alloh swt ta’hanya berupa kesedihan, tapi juga mencakup kebahagiaan .. Sayangnya, ketika org diuji dgn kebahagiaan, org lupa jika itu hanyalah sebuah ujian .. Ketika mendapat kebahagiaan, org malah berpikir bahwa itu adalah keberuntungan .. Padahal, keberuntungan di dunia ini hanyalah merupakan tipuan ..

لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Al-Hadiid: 23)

Seperti halnya ketika menanti hujan reda .. Meski hujan mengguyur deras, ta’kunjung reda, hingga menyebabkan banjir, tanah longsor ataupun bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa tiap-tiap org yg beriman .. Bagaimanapun hujan adalah berkah dari-Nya, meski kehadirannya terkadang mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para hamba-Nya agar bersyukur.

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً

“Mengapa Alloh akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman .?
Dan Alloh adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisaa’: 147)

Maka bersabarlah .. karena Alloh swt beserta org-org yg sabar .. Ujian kesabaran itu ibarat menanti hujan reda .. Terasa lama untuk dinanti redanya, hingga  terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yg banyak memberi mudharat pada urusan duniawi.

Namun, tidak bagi org-org yg bersabar .. Ia akan mema’nai hujan sebagai berkah dari-Nya, berapapun lamanya dn banyaknya curah hujan yg diturunkan .. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia akan tetap bersabar, karena di balik ujian pastilah mengandung hikmah ..

Dan semestinyalah, org-org yg beriman akan mengambil hikmah di balik cobaan itu .. Ia akan senantiasa bersabar dn bersyukur di kala sedih ataupun bahagia .. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan ujian dari-Nya, agar nyatalah siapa sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang terpilih itu.

YANG DITAMPAKKAN DAN DISEMBUNYIKAN

YANG DITAMPAKKAN DAN DISEMBUNYIKAN

Menyembunyikan amalan dan menampakkan amalan, keduanya adalah suatu kebaikan selama seseroang mengikhlashkan niat dan menjaganya ..

Alloh swt berfirman:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari, secara TERSEMBUNYI maupun TERANG-TERANGAN, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh: 274)

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ

“Jika kamu MENAMPAKKAN shodaqohmu, maka itu adalah BAIK.”

وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir (membutuhkan), maka menyembunyikan itu LEBIH BAIK BAGIMU.”
(QS. Al-Baqoroh: 271)

Maka keduanya adalah KEBAIKAN, akan tetapi, yang satu LEBIH UTAMA daripada yang lain, selama ia melakukannya karena IKHLASH mengerjakan perintah Alloh swt dan sunnah Rosululloh saw dan MENJAGA DIRINYA DARI TUJUAN DUNIAWI.

Seorang sahabat berkata kepada Rosululloh saw
“Ya Rosululloh, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).”
Rosululloh saw bersabda:

لَهُ أَجْرَانِ أَجْرُ السِّرِّ وَأَجْرُ الْعَلَانِيَةِ

“Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala ditampakkannya.” (HR. Tirmidzi).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy ra, Rosululloh saw bersabda:

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

“Orang yang mengeraskan bacaan al-Qur’an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bershodaqoh. Orang yang melirihkan bacaan al-Qur’an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bershodaqoh.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Setelah menyebutkan hadits di atas, Tirmidzi mengatakan:
“Hadits ini berma’na bahwa melirihkan bacaan al-Qur’an itu lebih utama daripada mengeraskannya karena shodaqoh secara sembunyi-sembunyi lebih utama dari shodaqoh yang terang-terangan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Mereka mema’nakan demikian agar supaya setiap orang terhindar dari ujub. Seseorang yang menyembunyikan amalan tentu saja lebih mudah terhindar dari ujub daripada orang yang terang-terangan dalam beramal.”

al-Fudhail bin iyadh mengatakan:
“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya`, sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.”

Maksudnya adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya`, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri.
Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan kebaikan itu walaupun di sekitarnya ada orang, dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut, berdasarkan sabda Rosululloh saw:
“Niat (ikhlas dalam hati) lebih baik daripada amal (pekerjan lahir).”

Janganlah mencela orang yang terang-terangan beramal, karena ENGKAU TIDAK MENGETAHUI ISI HATINYA

Dari Abu Mas’ud ra dia berkata:
“Setelah Rosululloh saw memerintahkan kami untuk bershodaqoh, maka Abu Uqail bershodaqoh dengan satu sho’, dan datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata:
“Alloh Azza Wa Jalla benar-benar tidak membutuhkan shodaqoh orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya’.”

Lalu turun ayat QS. At-Taubah 9: 79 :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

“Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shodaqoh dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk dishodaqohkan) selain sekadar kesanggupannya.”
(HR. Bukhori dan Nasa’i).

Alloh swt juga menjelasakan dalam firmanNya:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Rosululloh saw bersabda:

‎أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا

“Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak .?” (HR. Muslim).

Dari Abu Sa’id al Khudri ra, Rosululloh saw juga bersabda:

‎…إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُمْ…

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad).

‘Umar bin Khotthob ra mengatakan:
“Barangsiapa menampakkan kebaikan, kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dengan itu.
Dan orang yang menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik.”

Maka hendaknya kita tidak bersifat seperti sifat kaum munafiqin, yang MENUDUH seseorang berbuat RIYA’ padahal ia TIDAK MENGETAHUI apa yang ada dalam dada orang yang dituduhnya.

Setelah mengetahui hal diatas, maka kita, TIDAK BOLEH mencela seseorang yang beramal secara TERANG-TERANGAN, karena TELAH JELAS keutamaan orang yang melakukannya.

Bisa jadi, dia niatnya IKHLASH, dan ia berniat agar orang-orang menirunya, sehingga ia bisa menjadi PELOPOR kebaikan, sehingga karenanya orang termotivasi beramal sepertinya.
“orang yang berinfaq ditengah-tengah manusia.”

BAHKAN jika ia SAMPAI MENYEBUT AMALnya, maka ini tidak ada celaan.
Bukankah Rosululloh saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia.
Bertaubatlah kepada Alloh, karena aku juga bertaubat kepada Alloh sehari seratus kali.” (HR. Muslim).

Bukankah pekataan beliau diatas MENYEBUTKAN AMALANnya .?!

Jika ada yang berkata:
“Tapi kita telah mengetahui, bahwa beliau adalah seorang yang ikhlash. sedangkan kita .?!”
Maka jawabannya:
“Benar, itu untuk PENERAPAN DIRI SENDIRI. akan tetapi untuk orang lain .? apakah kita akan menghukuminya sebagaimana kita menghukumi diri kita sendiri .?
APAKAH KITA SUDAH MEMBEDAH HATINYA sehingga kita tahu bahwa ucapannya tersebut mengandung SUM’AH .?!”

Maka, kita hendaknya BERPRASANGKA BAIK, kepada orang tersebut, akan tetapi SEMBARI MENGINGATKANNYA, agar ia bisa tetap menjaga keikhlashannya. dan juga MENDO’AKANNYA agar ia tidak sum’ah dalam amalannnya. disamping itu kita MENGINGATKANNYA tentang keutamaan menyembunyikan amal yang mungkin belum diketahuinya.

Terlepas dari itu, bisa kita usulkan kepadanya:
“Yaa Akhiy, menyebutkan atau mengajak kepada suatu amalan, tidak harus menyebutkan antum mengamalkan amalan tersebut (seperti ucapan ‘saya sholat malam lho.! mari kita sholat malam’..).
karena menyembunyikan amalan itu lebih dekat dari keikhlashan dan menyebutkan amalan lebih dekat daripada ujub, sum’ah dan riya’, akan tetapi aku tidak menuduhmu riya’, sum’ah ataupun ujub.”

BUKANKAH PERKATAAN tersebut LEBIH BAIK .?!

Ingatlah Kita TIDAK MENGETAHUI isi hati seseorang, akan tetapi kita HANYA MENGHUKUMI secara dhohirnya saja. urusan hati, kita kembalikan kepada individu masing-masing.

Bagaimana jika seseorang yang telah berusaha menyembunyikan amalannya, namun ketahuan juga .?!

Dari Abu Huroiroh dia berkata:
“Seseorang berkata:
“Wahai Rosululloh ada seseorang yang berbuat suatu amal kemudian dia rahasiakan namun apabila diketahui oleh orang dia menjadi takjub karenanya.”
Rosululloh saw bersabda:

لَهُ أَجْرَانِ أَجْرُ السِّرِّ وَأَجْرُ الْعَلَانِيَةِ

“Baginya dua pahala; pahala dia merahasiakan dan pahala dia menampakkan.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi berkata:
“Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini dan berkata:
“Apabila diketahui dan dia takjub karenanya maka itu artinya dia takjub dengan pujian baik orang-orang kepadanya, karena sabda Rosululloh saw:

أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Kalian adalah saksi-saksi Alloh di bumi.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Alhasil, pujian manusia terhadapnya, memang hanyalah sekedar untuk syahadat (persaksian manusia) yang diharapkan.

Adapun jika dia ta’jub agar orang orang tahu kebaikannya tersebut, dan supaya ia dihormati karenanya dan diagungkan karenanya, maka ini namanya riya’.

Dan sebagian ahli ilmu berpendapat jika diketahui amalnya oleh orang lalu dia takjub dengan harapan orang melakukan apa yang dia lakukan sehingga dia mendapatkan seperti pahala mereka, maka ini ada pendapat lain lagi.”

–selesai perkataan at tirmidzi–

Hadits MAKNANYA BENAR, ketika kita dalam kondisi yang serupa, dapat mengharapkan pahala secara sembunyi-sembunyi dan juga pahala secara terang-terangan, dan tetap mengusahakan ikhlash dan tidak riya’ dalam kondisi tersebut.

Kita mengharapkan pahala sembunyi-sembunyi, karena kita telah mengusahakan amalan kita secara sembunyi-sembunyi. dan kita mengharapkan pahala terang-terangan, karena -bukan berdasarkan kemauan kita-, orang lain melihat/mendengar amalan kita. sehingga kita mengharapkan dua pahala dalam amalan kita tersebut.

Maka, jika kita telah mengusahakan dari menyembunyikan amal, tapi kepergok (terlihat atau terdengar, bukan atas dasar kemauan kita); maka pertahankanlah keikhlashan, jauhilah ujub, riya’ dan sum’ah; dan harapkanlah DUA PAHALA, pahala sembunyi-sembunyi, dan pahala terang-terangan.

Bahkan keutamaannya sangat besar, Rosululloh bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan yang akan Alloh naungi dengan naungan-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

(diantaranya) …dan seorang yang bersehodaqoh lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…”

‎وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“dan Seseorang yang berdzikir kepada Alloh secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.”

Sikap ini merupakan tanda kuatnya iman seseorang di mana cukup baginya bahwa Alloh mengetahui amalannya sehingga tidak butuh diketahui oleh orang lain. Dan hal ini menunjukkan sikap menyelisihi hawa nafsu, karena hawa nafsu ingin agar dirinya memperlihatkan shodaqohnya dan ingin dipuji oleh manusia. Oleh karenanya sikap menyembunyikan shodaqoh membutuhkan keimanan yang sangat kuat untuk melawan hawa nafsu.

Disebutkan tangan kiri dengan tangan kanan karena tangan kiri sangat dekat dengan tangan kanan, dan dimana ada tangan kanan maka disitu tangan kiri menyertainya.
Meskipun demikian, tangan kanan tetap menyembunyikan shodaqohnya hingga temannya yang paling dekat sekalipun tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.
Kalimat menyenbunyikan seakanakan hingga malaikat yang ada disis kirinya tidak mengetahui apa yang telah ia shodaqohkan.

Ibnu hajar mengatakan:
Diantara bentuk pengamalan hadits ini yaitu jika seseorang ingin bershodaqoh kepada saudaranya pedagang yang miskin maka iapun membeli barang dagangan saudaranya tersebut tanpa menawar harga barang tersebut bahkan dengan harga jual yang tinggi atau untuk melariskan barang dagangan saudaranya tersebut.
Maksud dari tangan kiri yaitu dirinya sendiri, artinya ia bershodaqoh dan menyembunyikan infaqnya sampai-sampai dirinya sendiri tidak tahu lupa dengan shodaqoh yang telah ia keluarkan.”

Yang kedua adalah seseorang yang berdzikir mengingat Alloh tatkala ia bersendirian lantas iapun mengalirkan air matanya.

Dua penafsiran ulama tentang sabda Nabi saw خَالِيًا “bersendirian” yang kedua tafsiran tersebut menunjukan keikhlasan,

Maksudnya ia berdzikir kepada Alloh tatkala bersendirian dan jauh dari keramaian sehingga tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ibnu Hajr berkata, “Karena ia dalam kondisi seperti ini lebih jauh dari riya’.

Maksudnya yaitu meskipun ia berdzikir di hadapan orang banyak dan dilihat oleh orang banyak akan tetapi hatinya seakan-akan bersendirian dengan Alloh, yaitu hatinya kosong dari memperhatikan manusia, kosong dari memperhatikan pandangan dan penilaian manusia.

Juga keutamaan-keutamaan seperti sabda Rosululloh saw:

صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعاً حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ

“Sholat sunnahnya seseorang yang dikerjakan tanpa dilihat oleh manusia nilainya sebanding dengan dua puluh lima sholat sunnahnya yang dilihat oleh mata-mata manusia” (HR. Abu Ya’la).

Dalam hadits yang lain Rosululloh saw bersabda :

تَطَوُّعُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ يَزِيْدُ عَلَى تَطَوُّعِهِ عِنْدَ النَّاسِ، كَفَضْلِ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ عَلَى صَلاَتِهِ وَحْدَهُ

“Sholat sunnahnya seseorang di rumahnya lebih bernilai dari pada sholat sunnahnya di hadapan manusia, sebagaimana keutamaan sholat seseorang bersama jama’ah dibandingkan jika ia sholat munfarid (tidak berjamaah).”

DI ANTARA KEUTAMAAN IKHLAS DAN BUAHNYA

1. Orang yang ikhlas akan ditolong oleh Alloh swt dari penyesatan iblis. (QS. Shod : 82-83).

2. Orang yang ikhlas akan ditambah petunjuk Alloh swt. (QS. Al-Kahfi : 13).

3. Orang yang berdzikir dengan ikhlas, maka ia akan diberi ketenangan hati. (QS. Ro’d : 28).

4. Seseorang yang mengucapkan kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Dengan ikhlas, akan dibukakan pintu-pintu langit, dihapus dosa-dosanya, dan diharamkan Allah Azza wa Jalla masuk neraka.

5. Ummat ini akan ditolong oleh Alloh dengan do’anya orang-orang yang lemah, karena keikhlasan mereka. Rosululloh saw bersabda :

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا : بِدَعْوَتِهِمْ وَ صَلاَتِهِمْ وَ إِخْلاَصِهِمْ

“Sesungguhnya Alloh menolong ummat ini dengan do’anya orang-orang yang lemah, sholat dan keikhlasan mereka.” (HR. Nasa’i).

6. Orang yang ikhlas dalam bershodaqoh, ia termasuk tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Alloh pada hari kiamat kelak. (HR. Bukhori dan Muslim).

7. Orang yang ikhlash ridho bahwa Alloh adalah Tuhannya, islam sebagai agamanya dan Muhammad adalah Nabi dan Rosul-Nya, di akherat kelak dia akan dapat melihat wajah Alloh, dimasukkan kedalam sorga-Nya bersama Nabi Muhammad saw.

8. Seorang sahabat berkata kepada Rosululloh:
“Ya Rosululloh, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).”
Rosululloh saw berkata:
“Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan.” (HR. Tirmidzi).

9. Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Alloh, maka Alloh akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka Alloh akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan). (HR. Hakim).

10. Barangsiapa membuat marah Alloh untuk meraih keridhoan manusia, maka Alloh murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Alloh (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Alloh akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Alloh memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandangan-Nya. (HR. Thobroni).

11. Orang yang tawadhu` dengan ikhlas karena Alloh, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah. (HR. Muslim).

12. Ada tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak menjadi seorang pengkhianat, yaitu:
Ikhlas beramal karena Alloh, memberikan nasehat yang baik kepada kaum muslimin, dan senantiasa komitmen kepada jama’ah kaum Muslimin. (HR. Bazzar).

13. Barangsiapa memberi karena Alloh, menolak karena Alloh, mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, dan menikah karena Alloh, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)

14. Dari sahabat Abdulloh bin ‘Umar bin Khotthob ra, dikisahkan tentang tiga orang yang bermalam di dalam gua, kemudian tiba-tiba ada sebuah batu besar jatuh dari atas gunung hingga menutup pintu gua itu.
Lalu mereka berkata, bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka, melainkan mereka harus berdo’a kepada Alloh dengan (menyebutkan) amal mereka yang paling sholeh.
Kemudian mereka menyebutkan amal mereka masing-masing yang ikhlas karena Alloh, agar batu itu bergeser dan mereka dapat keluar.
Dengan pertolongan Alloh saw, mereka dapat keluar dari gua tersebut. (HR. Bukhori dan Imam Muslim).

15. Orang yang ikhlas membangun masjid, maka ia akan dibangunkan rumah di sorga. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad dan lainnya).

16. Orang yang berwudhu’ dengan ikhlas akan dihapuskan dosa-dosanya. (HR. Muslim).

17. Orang yang bersujud dengan ikhlas, ia akan diangkat derajatnya oleh Alloh dan dihapuskan satu kesalahan. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’I).

18. Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu. (HR. Bukhori).

19. Orang yang pergi sholat berjama’ah di masjid dengan ikhlas, maka setiap langkahnya menuju masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya sampai masuk masjid. Dan bila ia masuk masjid, maka malaikat bersholawat atasnya dan mendo’akannya:

“Ya Alloh, berilah rohmat kepadanya. Ya Alloh, ampunilah dosa-dosanya. Ya Alloh, terimalah taubatnya.”

Selama di tempat sholat itu ia tidak mengganggu orang lain dan selama belum hadats (belum batal). (HR. Bukhori dan Muslim. Secara lengkap lihat Riyadhus-Sholihin).

Mudah-mudahan Alloh menjadikan kita orang yang ikhlas, sehingga seluruh amal kita diterima sebagai simpanan yang bermanfaat kelak di akherat.. Amin ..

JIWA ADALAH SISI BATIN DIRI KITA

Tiga hal, Hati Akal dn Nafsu, memiliki tempat dn cara kerja yg berbeda dgn fungsi yg sama.

• Hati ada di dada, tidak memiliki wujud biologis, apakah di lever atau di jantung atau di paru-paru atau yg lainnya, yg pasti kita menyadari bahwa ia ada di dalam dada, cara kerjanya dengan merasakan.

• Akal pikiran ada di otak, secara biologis bekerja dgn cara mengolah informasi yg diperoleh melalui getaran-getaran “listrik” yg diterima oleh panca indera yaitu mata, lidah, hidung, telinga dn kulit, kemudian menyesuaikan atau membanding-bandingkannya dgn memori informasi yg telah ada di otak itu sendiri.

• Nafsu ada di sisi luar dalam.
Cara kerjanya dari dalam mendorong dari luar menarik, segala hal-hal yg menyenangkan atau memuaskan Ego.

Ketiganya memiliki fungsi yg sama, yaitu untuk melayani Jiwa, dgn cara memberikan solusi, baik solusi murni dari Pikiran, murni dari Hati, murni dari Nafsu atau solusi kombinasi dari Akal dn Hati, Pikiran dn Nafsu, Hati dn Nafsu, atau hasil kerjasama dari ketiganya.
Yg pasti, Jiwalah yg menentukan kesimpulan, pilihan atau keputusan yg akan digunakan.

memikirkan diri sendiri saja sudah serumit ini, apakah kita masih sempat memikirkan org lain …?

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK

KARENA ALLOH

Rosululloh saw bersabda:
“Barang siapa
Memberi karena Alloh
Menolak karena Alloh
Mencintai karena Alloh
Membenci karena Alloh, dan
Menikah karena Alloh
Maka sempurnalah imannya.”
(HR. Abu Dawud).

KEWAJIBAN SHODAQOH

Rosululloh saw bersabda:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ، يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ ، فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bershodaqoh setiap harinya mulai matahari terbit.
Berbuat adil antara dua orang adalah shodaqoh.
Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shodaqoh.
Berkata yang baik adalah shodaqoh.
Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah shodaqoh.
Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shodaqoh.”
(HR. Bukhori.)

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK

Rosululloh saw bersabda: :
“Barang siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Alloh akan memperhatikan kepentingannya.
Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan sesama muslim, maka Alloh akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan dihari kiamat.
Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Alloh akan menutupi kejelekannya dihari kiamat.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

HAK SEORANG MUSLIM

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
“Hak se’orang muslim terhadap se’orang muslim ada 6 perkara.
Lalu beliau saw ditanya:
“Apa yang 6 perkara itu, ya Rasululloh .?”
Jawab beliau:
1. Bila kamu bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya.
2. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
3. Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat.
4. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, do’akanlah semoga dia beroleh rohmat.
5. Bila dia sakit, kunjungilah dia.
6. Dan bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.”
(HR. Muslim).

MUSLIM YANG BERUNTUNG

Dari Abdulloh bin Amru bin Ash ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sungguh amat beruntunglah se’orang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qona’ah (menerima) terhadap apa yang diberikan Alloh.”
(HR. Muslim).

BERSAMA YANG DICINTAI

Anas bin Malik ra menceritakan, bahwa suatu ketika dia bersama Nabi saw sedang keluar dari Masjid ada seorang Arab Badui di depan pintu masjid, yang bertanya kepada Rosululloh saw
“Kapankah hari kiamat terjadi .?”
Maka, Rosululloh saw bersabda kepadanya:
“Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya .?”
Ia menjawab:
“Kecintaan kepada Alloh dan Rosul-Nya.”
Nabi saw bersabda:
“Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.”

Anas ra berkata:
“Tidaklah kami merasa sangat bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi saw,
“Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”
Maka aku mencintai Alloh, cinta Rosul-Nya, Abu Bakar dan Umar. Aku pun berharap akan bersama mereka di akhirat meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

ISTIQOMAH

Dari sayyidati ‘Aisyah ra Rosululloh saw bersabda:

خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ يَقُولُ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan, karena Alloh tidak akan bosan hingga kalian sendirilah yang bosan.
Dan amalan yang paling disukai Alloh adalah amalan yang terus-menerus/kontinyu dilakukan meskipun sedikit.”
(HR. Muslim).

Awan Tag