02 QI SANAK

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW

INILAH IHSAN

Pada suatu hari ketika Rosululloh saw di antara kaum muslimin, datang seseorang dan bertanya:
“Wahai Rosululloh, apakah Iman itu .?” Rosululloh saw bersabda:
“Yaitu engkau beriman kepada Alloh, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir.”

Orang itu bertanya lagi:
“Wahai Rosululloh, apakah Islam itu .?”
Rosululloh saw bersabda:
“Islam, yaitu engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan sholat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Romadhon.”

Orang itu kembali bertanya:
“Wahai Rosululloh, apakah Ihsan itu .?” Rosululloh saw bersabda:
“Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu.”

Orang itu bertanya lagi:
“Wahai Rosululloh, kapankah Hari Kiamat itu .?”
Rosululloh saw bersabda:
“Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya.
Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya.
Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya.
Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya.
Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Alloh.”
Lalu Rosululloh saw membaca Surat Luqman ayat 34:
“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat.
Dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.
Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.
Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rosululloh saw bersabda:
“Panggillah orang itu kembali .!”
Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rosululloh saw bersabda:
“Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka.”

(Hadits riwayat Muslim melalui jalur ‘Umar bin Khotthob dan Abu Huroiroh ra).

MENGENAL AHMAD MUHAMMAD SAW

Ketika Rosululloh saw belum dilahirkan, Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Isa as, telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya Nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu ..
Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah ke kota Madinah dan wafat di kota Madinah .. dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rosululloh saw kalau di Kitab Injil adalah AHMAD ..

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi kabar gembira dengan -datangnya- seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya AHMAD -Muhammad-.”
Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
“Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shof [61]:6).

Perlu diketahui, bahwa nama AHMAD yang dikemukakan al-Qur’an itu bukan sekedar nama .. Akan tetapi merupakan pemberian “kekhususan” dari Alloh swt bagi Nabi Muhammad saw, yang ada ma’na hikmah terkandung didalamnya.

Di dalam nama AHMAD huruf Arab أحمد jika ditulis secara terpisah melambangkan simbol gerakan sholat ..
Huruf Alif أ menggambarkan orang yang sedang berdiri.
Huruf Ha ح menggambarkan orang yang sedang rukuk.
Huruf Mim م menggambarkan orang yang sedang sujud.
Huruf Dal د   menggambarkan orang yang sedang duduk tahiyat.

Selain ma’na tersebut, ada juga ma’na yang tersembunyi di balik nama AHMAD .. secara Gramatika Arab, kata AHMAD itu termasuk sighot mubalaghoh -bentuk yang mempunyai arti banyak- dari kata “Hamdu” -memuji- .. Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi AHMAD, nama dari Nabi MUHAMMAD saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Alloh swt. 

Nabi MUHAMMAD saw bersabda:
“Aku adalah AHMAD tanpa Mim م ”
AHMAD tanpa huruf Mim م akan mempunyai arti AHAD -Esa-, yang merupakan sifat Alloh yang sangat agung tempat bergantung.

Mim م yang merupakan simbol manusia -personifikasi- dan perwujudan bentuk dari sesuatu yang ghaib -manifestasi- ALLOH dalam diri Nabi MUHAMMAD saw .. pada hakikatnya adalah bayangan AHAD yang ada di alam semesta.

Mim م MUHAMMAD adalah wasilah antara makhluk dengan Kholiqnya .. Mim م MUHAMMAD adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih ALLOH dengan sang kekasihnya yang mutlak .. dengan kata lain, Nabi MUHAMMAD saw merupakan mediator antara makhluk dengan ALLOH swt. 

Menurut Dr Muhammad Iqbal seorang pemikir islam pakistan:
“MUHAMMAD benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” ALLOH dalam kehidupan manusia .. dialah “Dhohir”nya ALLOH .. dialah Syafi’ -yang memberikan syafa’at, pertolongan dan rekomendasi- antara makhluk dengan Tuhannya.
Ketika anda ingin merasakan kehadiran ALLOH dalam diri anda, hadirkan MUHAMMAD.
Ketika anda ingin disapa oleh ALLOH, sapalah MUHAMMAD ..
Ketika anda ingin dicintai ALLOH, cintailah MUHAMMAD ..”

“Apabila kamu benar-benar mencintai ALLOH, ikutilah AKU -Muhammad-, niscaya ALLOH cinta kepada kamu”

Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon kepada ALLOH swt untuk selalu bersamanya, di dunia dan di akherat .. seperti kata beliau saw “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Nama MUHAMMAD kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maf’ul -obyek- dari asal kata Hammada .. Menurut KH Ali Maksum rh, dalam kitab Amsilatut-Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid pada huruf Mim mempunyai faedah Taksir -banyak- artinya adalah orang yang banyak dipuji .. Sejalan yang diperintahkan ALLOH swt dalam firman-Nya:
”Sesungguhnya ALLOH dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi -MUHAMMAD- ..
Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi -MUHAMMAD- dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56).

Disamping nama AHMAD yang mengandung simbol orang sholat .. Nama MUHAMMAD apabila ditulis dengan huruf Arab محمد juga berma’na .. menunjukan kerangka manusia ..
Huf Mim pertama م yang bundar menunjukan kepala manusia ..
Huruf Ha’ ح menunjukan dua tangan manusia.
Huruf Mim م yang kedua menunjukan tentang perut manusia.
Huruf dal د menunjukan kedua kaki manusia.

Nama MUHAMMAD yang melambangkan kerangka tersebut mengandung hikmah bahwa, kematian manusia akan menghancur lumatkan tulang-belulang dan seluruh jasadnya, akan tetapi kelak akan di susun kembali oleh ALLOH dalam bentuk semula seperti bentuk manusia .. Ini karena keagungan nama Nabi MUHAMMAD saw ..

Selain itu, ma’na-ma’na yang tersembunyi dalam kandungan setiap huruf-hurufnya kalimat nama محمد ..
Huruf Mim yang pertama mengandung ma’na Minnah -anugerah- .. ALLOH memberi anugerah kepada Nabi MUHAMMAD saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada seluruh makhluk-NYA.
Huruf Ha’ mengandung ma’na Hubbun -cinta- .. ALLOH mencintai Nabi MUHAMMAD saw dan umatnya melebihi cintanya kepada Nabi-nabi yang lain beserta umatnya.
Huruf Mim yang kedua mengandung ma’na Maghfirah -ampunan- .. ALLOH mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi MUHAMMAD saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang .. Nabi MUHAMMAD saw adalah Nabi yang ma’sum -terjaga dari melakukan dosa- .. Adapun umat beliau saw, bagi yang bertaubat, ALLOH mengampuni dosa-dosanya miskipun sebanyak butiran pasir dimuka bumi.
Huruf Dal mengandung ma’na Dawaamuddin -abadinya agama Islam- .. agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman, apabila agama Islam lenyap dari muka bumi, maka terjadilah kehancuran dunia -kiamat-.

Kesimpulannya adalah .. Sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengaku pemeluk agama Islam .. hendaknya sekali-kali jangan meninggalkan sholat .. karena sholat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran Nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi MUHAMMAD saw.

Apabila seseorang muslim sudah menjalankan sholat, zakat, puasa, haji -jika mampu- dan tuntunan Islam lainnya, maka dia termasuk orang yang beruntung yang dijanjikan ALLOH mendapatkan sorga ..

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH

Pada tanggal 12 Robiul-awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi, 14 abad yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan menyandang derajat KETERPUJIAN yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Manusia tersebut adalah AHMAD yang kemudian menyandang nilai-nilai yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar MUHAMMAD yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi ROHMATAN LIL’ALAMIN dan USWATUN HASANAH bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta raya ini.

Kata MUHAMMAD apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah.
MUHAMMAD secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh ALLOH untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.

Abbas Mahmud al-Aqqod dalam kitabnya “Abqoriyat Muhammad” menjelaskan:
“Ada empat tipe manusia yaitu 1.Pemikir 2.pekerja 3.Seniman dan 4.Yang jiwanya selalu larut dalam ibadah.
Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat kecenderungan atau tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul dalam diri seseorang.
Namun yang mempelajari pribadi Nabi Muhammad saw akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau saw.”
Al-Qur’an telah menegaskan kemanusiaan Nabi Muhammad saw, diberbagai tempat dan Alloh memerintahkan menyampaikan hal itu kepada manusia dalam berbagai surat, antara lain:

قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلا بَشَرًا رَسُولا

Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rosul .?” (QS. Al-Isro’ [17]: 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau saw adalah manusia seperti manusia-manusia lainnya, tetapi dari segi risalah dan hidayah-Nya, maka beliau adalah cahaya Alloh dan pelita yang amat terang.

Alloh swt menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا

“Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.
Untuk menjadi penyeru pada agama Alloh dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya, bagi mereka karunia yang besar dari Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 45-47).

Alloh swt berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 15).
“Cahaya” dalam ayat ini adalah Rosululloh saw, sebagaimana al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau saw adalah juga cahaya.

Alloh swt berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya serta cahanya -al-Qur’an- yang telah Kami turunkan, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
At-Taghobun [64]: 8).

Alloh swt juga menentukan tugasnya kepada Nabi Muhammad saw:

لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“… Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang…” (QS. Ibrohim [14]: 1).

هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“-al-Qur’an- Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar -Ulul-Albab- orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” – (QS. Ibrohim [14]: 52).

Nabi Muhammad saw. menegaskan ma’na kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Alloh, dan mengajarkan agar seluruh umatnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan beliau saw yang telah diwahyukan oleh Alloh swt.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku; bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]:110).

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad saw merupakan pribadi manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia.
Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalah artikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya.
Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun.
Demikian dengan kita, diharapkan ketika dapat menyesuaikan diri dengan Nabi Muhammad, akan terjadi keserasian hubungan, maka akan menjadilah kita “Manusia Sempurna”.

Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Alloh swt itu sendiri. Apa yang diciptakan Alloh di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang .?” (QS. Al-Mulk [67]:3).

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya -dan tentu tidak juga Kami menciptakan kamu semua- sia-sia tanpa hikmah, yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir.
-dan karenanya mereka berkata bahwa hidup akan berahir di dunia ini, tidak akan ada perhitungan, juga tidak ada sorga dan neraka-, maka celakalah orang-orang kafir -akibat dugaannya- itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shod [38]:27).

“Dan Kami tidak menciptaka langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main.” (QS. Ad-Dukhon [44]:38).

Alloh swt menciptakan langit dan bumi juga segala yang ada diantara keduanya dengan tata aturan yang demikian rapi, indah serta harmonis, ini menunjukkan bahwa Alloh tidak bermain-main, tidak menciptakannya secara sia-sia tanpa arah dan tujuan yang benar.
Karena hal itu bukan permainan, bukan juga tanpa tujuan, maka pasti Alloh Yang Maha Kuasa ini membedakan antara yang berbuat baik dan buruk, lalu memberi ganjaran balasan sesuai amal perbuatan masing-masing.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“…Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]:191).

Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurna’an, baik sifat maupun bentuknya.
Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya.

Jadi suatu kesempurna’an adalah satu keseimbangan dan keharmonisan antara dua sifat atau unsur yang bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.

Nabi Muhammad saw, adalah sosok yang sangat sederhana dan sempurna, sehingga siapapun dan dari kalangan manapun akan mampu mencontoh setiap gerak dan diam beliau saw, karena beliau memang diciptaka sebagai teladan.
Bila yang meneladaninya dengan niat mengikuti beliau saw, maka niat meneladinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

Di dalam Al Qur’an, Alloh swt telah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh yang paling baik bagi ummat manusia pada saat ia masih hidup di atas dunia, yang menghendaki perjumpaan dengan Alloh swt kelak di hari akhir .. Hal ini sesuai dengan firman Alloh swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh -Nabi Muhammad- itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang senantiasa mengharapkan -rohmat kasih sayang- Alloh dan kebahagiaan Hari akhir dan berdzikir kepada Alloh sebanyak-banyaknya -baik dalam keadaan susah maupun senang-” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ayat ini berbicara tentang `uswah` yang dirangkai dengan kata `Rosululloh`
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu, pada diri Rosululloh”.
Tidak mudah memisahkan atau memilah, mana pekerjaan mana ucapan yang bersumber dari kedudukan beliau sebagai Rosul dan mana pula kedudukan-kedudukan lainya .. misalanya sebagai pemimpin ummat, lingkungan, keluarga atau sebagai suami dari istri-istrinya dan ayah bagi anak-anaknya .. Maka timbul pertanya’an ..!

Jika kepribadian Nabi Muhammad saw secara totalitasnya adalah teladan .. maka pakah itu berarti bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pribadi yang baik, benar dan lurus ini -diucapkan atau diperagakan- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya ..?
Jawabannya .. Selaku pribadi, hal ini dapat dibagi dalam dua kategori.

Pertama, kekhususan-kekhususan beliau saw yang tidak boleh dan atau tidak harus diteladani, karena kekhususan tersebut berkaitan dengan fungsi beliau sebagai seorang Rosul.
Misalnya kebolehan menghimpun lebih dari empat orang istri dalam saat yang sama, atau kewajiban sholat malam, atau larangan menerima zakat dan lain-lain.

Kedua, sebagai manusia biasa -terlepas dari kerosulannya- segala sesuatu yang bersumber dari pribadi beliau saw – dari setiap gerak dan diamnya- wajar diteladani mencakup dalam perinciannya-perinciannya. Hal ini menunjukkan bahwa yang demikian dapat diikuti “mana yang kamu dapat mengikuti maka lakukanlah.” karena semua adalah Uswatun Hasanah -contoh yang paling baik-. Bila mengikutinya dengan meneladani Nabi Muhammad maka niat mengikutinya itu mendapat ganjaran dari Alloh swt.

DI DALAM DIRI MANUSIA ADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW

Alloh swt berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rosululloh …” (QS. Al-Hujurot [49]:7).

Ayat ini bertujuan mendorong manusia untuk mawas diri dengan mengamati keagungan Rosul dan amal-amal beliau yang harus di tanam dalam hati dan diperagakan dalam kehidupnya dari waktu ke waktu, diantaranya yang memberi manfaat berupa rohmat kepada semua makhluk Alloh swt.

Alloh yang memiliki rohmat ta’terbatas, menjadikan Rosul “rohmatan lil’alamin” dan dalam diri manusia ada Rosul, ya’ni -unsur Muhammad ada dalam diri kita- maka sudah menjadi kelaziman bagi kita untuk memberikan rohmat itu kepada ummat Muhammad, khususnya saudara muslim kita .. karena “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya -sesama muslim- seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Alloh swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah -wahai Nabi Muhammad- :
“Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imron [3]:31).

Nabi Muhammad saw adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Nabi Muhammad saw atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela. Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat meneyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian dalam dirinya, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh”.

Sesungguhnya kalimat Syahadat tersebut mempunyai ma’na yang sangat dalam sekali, yaitu “saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi.” Secara hakikat, ma’na simbolis dari “wa asyhadu anna Muhammad Rosululloh” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan yang di firmankan Alloh swt :

NABI MUHAMMAD SAW ADALAH “AYAH” YANG SANGAT CINTA KEPADA ANAK-ANAKNYA

Alloh swt berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki -dewasa- di antara kamu tetapi dia adalah Rosululloh -bapak ummat yang membimbing mereka dan yang harus di agungkan serta dihormati- dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segalanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:40).

Ayat diatas menyebut “laki-laki” akan tetapi disusul dengan kalimat “Rosululloh” tidak lain untuk mengisyaratkan bahwa bukan berarti hubungan dengan wanita terputus. Nabi Muhammad saw, buat mereka adalah bapak ruhani, pembimbing, pemberi petunjuk, pelindung, dan penanggung jawab, dan pastinya beliau pula yang paling wajar mendapat penghormatan dan keta’atan dari anak-anaknya. Sungguh kasih sayangnya kepada ummat melebihi cinta dan kasih sayang orang tua kandung.

Ayat diatas merupakan penyempurnaan dan ketinggian beliau saw, sekaligus sebagai isyarat bahwa ketiadaan anak-anak beliau saw, merupakan hikmah yang telah ditetapkan Alloh swt, ya’ni agar beliau menjadi bapak teladan bagi ummatnya yang betakwa.

Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita yang baginya sangat berat dan menderita demi menanggung kita ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”

Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?

Beliau saw bersabda :
“Aku bagaikan seorang yang menyalakan api, setelah menyala menerangi sekeliling, laron mengitarinya dan terjerumus ke dalam api itu .. Kalian seperti itu, tetapi aku menghalangi kalian terjerumus ke api, tetapi sebagian kalian terjerumus juga.”
Beliau juga bersabda :
“Aku memegang ikat pinggang kalian, tetapi sebagian kalian terlepas dari pinggangku.”
Demikian Rosul saw mengilustrasikan diri beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui Abu Huroiroh ra.

Kalaulah beliau saw bersikap tegas agar mematuhi hukum-hukumnya, atau ada tuntunan yang sepintas terlihat sangat berat, maka ini tidak lain hanya untuk kemaslahatan ummatnya jua.
Sebenarnya hati beliau saw lebih dahulu teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang kita alami ..

Alloh swt berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Demi -kebesaran dan keagungan Tuhan- sesungguhnya telah datang kepada kamu -wahai seluruh manusia- seorang Rosul -pesuruh Alloh- dari diri kamu sendiri -yang mengenal kamu dan kamu mengenal dia, sangat- berat terasa olehnya apa yang telah menderitakan kamu -baik lahir maupun batin-,
Sangat menginginkan -keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan- bagi kamu semua, baik mukmin maupun kafir , dan- terhadap orang mukmin amat belas kasih lagi penyayang -buat mereka yang diharapkan suatu ketika akan beriman, bahkan kepada seluruh alam.
Jika mereka -memaksakan diri menentang fitrah mereka, sehingga- berpaling lagi enggan mengikuti tuntunanmu wahai Nabi Muhammad- maka katakanlah kepada mereka dan kepada selain mereka, sambil bermohon kepada Alloh-:
“Cukuplah -untuk segala urusanku- Alloh -Yang Maha Kuasa- bagiku.
-Dan yang akan membela dan menganugrahkan kepadaku kebutuhan dan harapanku-.
Tidak ada Tuhan yang menguasai alam raya, tumpuan semua makhluk serta wajib disembah- selain Dia.
Hanya kepada-Nya -bukan kepada yang selain-Nya- aku bertawakkal -berserah diri setelah aku berusaha sekuat kemampuanku-.
dan Dia adalah Tuhan Pemilik -Pencipta dan pengatur- ‘Arsy yang agung.”
(QS. At-Taubah [9]: 128-129).

Kata ANFUSAKUM memberi kesan bahwa Rosul adalah sejiwa dengan kamu, mengetahui detak-detik jantung kamu .. merasakan getaran jiwamu serta menyukai kamu sebagaimana apa yang disukainya ..
Demikian kesan yang terkandung dalam kalimat “seorang Rosul dari diri kamu sendiri” .. keberadaan Nabi Muhammad saw begitu dekat hadir dalam jiwa kamu ya’ni anak-anaknya, hususnya yang istiqomah meneruskan perjuangan beliau saw, merohmati kaum yang beriman.

Hal ini sejalan dengan fitrah kejadian manusia. Alloh swt berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

“-Dialah- Yang membuat sebaik baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan -sehingga semua berpotensi berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaan-.
Dan Dia telah memulai penciptaan manusia -Adam as- dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari -sedikit- saripati air mani yang diremehkan -lemah tidak berdaya karena sedikitnya bila dilihat kadarnya atau menjijikkan bila dipandang-.
Kemudian -yang lebih hebat dari itu- Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam -tubuh-nya, ruh -dari-Nya,
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran -agar kamu dapat mendengar kebenaran-, dan penglihatan -agar kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya- dan hati -agar kamu dapat berfikir dan beriman-, -tetapi- sedikit sekali kamu bersyukur.
Namun banyak diantara kamu yang kufur, tidak memfungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Alloh kehedaki, tetapi memfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya-.” – (QS. As-Sajadah[32]:7-9).

Kata AHSAN berarti membuat sesuatu menjadi baik .. Kebaikan sesuatu itu diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut dari sesuatu itu .. contoh :
Pisau yang baik adalah yang tajam, karena dia diciptakan untuk memotong .. Kursi yang baik adalah yang dapat diduduki dengan nyaman .. kendaraan yang baik adalah yang dapat mengantar pada tujuan .. Demikian seterusnya.

Ayat diatas menyatakan bahwa Alloh swt, telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik .. diciptakan-Nya secara sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Malaikat diciptakan Alloh swt sebagai makhluk sempurna untuk tugas-tugas yang seharusnya mereka emban.
Masing-masing binatang telah diciptakan Alloh swt dengan sempurna untuk tujuan penciptaannya .. ada yang dapat dimakan, ada juga yang tidak .. ada yang jinak ada pula yang liar dan buas .. ada pula yang untuk keindahan dan hiburan,
Semua diciptakan sebaik-baiknya dan sempurna.

Manusia dan jin pun demikian .. hanya saja untuk makhluk mukallaf ini, Alloh swt memberi mereka tugas, dengan potensi sempurna untuk menyukseskan tugas masing-masing .. tetapi dalam saat yang sama, mereka diuji .. dan untuk ujian itu mereka pun diberi potensi, sehingga pada akhirnya manusia dan jin berpotensi untuk menjadi baik dan buruk.

Manusia dan jin yang mengabaikan potensi baiknya dan mengikuti potensi buruk, akan gagal dalam ujian dan itulah yang menjadi setan .. Sebaliknya adalah manusia yang ahsan yang berhasil lulus dalam ujian.

Demikian Alloh swt menciptakan semua makhluk dalam keadaan sempurna sesuai dengan tujuan dan fungsi yang diembannya.
Dengan demikian tidaklah benar jika dikatakan bahwa manusia adalah makluk yang paling sempurna sebelum ia menjadi pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk Alloh swt.

Semua makhluk-Nya sempurna, manusia adalah makhluk yang ditundukkan kepadanya alam raya, sebagai sarana untuk mengemban tugasnya.
Manusia telah dimuliakan Alloh swt, tetapi bukan makhluk manusia ini yang termulia .. dalam kontek ini Alloh swt berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sesungguhnya, telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan dari siapa yang telah kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” – (QS. Al-Isro’ [17]:70).

Perhatikan ayat ini, tidak menyatakan: “melebihkan atas semua” tetapi “melibihkan atas kebanyakan” artinya manusia tertentu dari kebanyakan manusia yang di lebihkan oleh Alloh dengan sempurna.

Kata MIN RUCHIHI dari ruh-Nya, ya’ni ruh Alloh. ini bukan berarti ada “bagian” ruh Ilahi yang dianugrahkan kepada manusia .. karena Alloh tidak terbagi, tidak juga terdiri unsur-unsur .. DIA adalah SHOMAD Esa/Tunggal, tidak terbagi dan tidak berbilang .. yang dimaksud adalah ruh ciptaan-Nya .. Penisbahan ruh itu kepada Alloh adalah penisbahan PEMULIAAN DAN PENGHORMATAN ayat ini bagaikan berkata: “Dia meniupkan kedalam tubuh manusia, ruh yang mulia dan terhormat dari ciptaan-Nya”

“Manusia terdiri dari tanah dan ruh Ilahi”
Karena tanah, manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam .. sama halnya dengan makhluk-makhluk hidup di bumi lainnya .. ia butuh makan, minum, tidur, jaga, hubungan sex dll.

Dengan ruh, ia meningkat dari dimensi kebutuhan tanah itu .. walupun ia tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya, karena tanah adalah bagian dari substansi kejadiannya .. Ruh pun memiliki kebutuhan-kebutuhan, agar dapat terus menghiasi manusia.

Dengan ruh manusia diantar menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga dikenal oleh alam materi .. dimensi spiritual inilah yang mengantar manusia untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dll.

Itulah yang mengantar manusia menuju suatu realitas Yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas, dan tanpa akhir.
“Sesungguhnya kepada Tuhanmu lah kembalinya segala sesuatu.” (QS.96:8).
“Hai manusia sesungguhnya engkau bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS.84:6).

Demikian manusia yang diciptakan Alloh swt, disempurnakan ciptaan-Nya dan dihembuskan kepadanya ruh ciptaan-Nya.
Dengan gabungan unsur kejadiannya itu, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup dan berma’na, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi tanah dan dimensi matreal.

NABI MUHAMMAD SAW ROHMAT SEMESTA ALAM RAYA

Alloh swt berfirman:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu -wahai Nabi Muhammad- melainkan untuk -menjadi- rohmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung ma’na yang sangat luas.
Hanya dengan 5 -lima- kata .. Terdiri dari 25 -dua puluh lima- huruf.
Ayat ini menyebut 4 -empat- hal pokok :
1. Rosul -utusan Alloh- dalam hal ini Nabi Muhammad saw.
2. Yang mengutus Nabi Muhammad saw, dalam hal ini Alloh swt.
3. Yang diutus kepada mereka -al-’alamin-.
4. Risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, ya’ni “rohmat” yang sifatnya sangat besar.

Nabi Muhammad saw adalah rohmat .. bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran agama, tetapi sosok dan kepribadian beliau adalah cerminan rohmat ALLOH yang bersifat AR-ROHMAN dan ARROHIM yang dianugerahkan Alloh swt kepada beliau saw.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa:
“Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rohmat, tetapi sebaga rohmat atau angkau menjadi rohmat bagi seluruh alam”

Firman Alloh swt dalam surat Ali Imron 159
“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
Penggalan ayat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa Alloh swt sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana sabda beliau saw:
“Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.”

Kepribadian Nabi Muhammad saw dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Alloh limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu al-Qur’an, tetapi juga hati beliau disinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rohmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana pengakuan beliau saw adalah “rohmatun-muhdab” -rohmat yang dihadiahkan oleh Alloh kepada seluruh alam-.

Pemnbentukan kepribadian Nabi Muhammad saw, menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, gerak dan diam, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rohmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran islam yang beliau sampaikan, karena itu pula Nabi Muhammad adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-Qur’an sebagaimana dilukiskan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra.

Kata “alam” dalam arti kumpulan sejenis makhluk Alloh yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas .. Jadi ada alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan, alam tumbuhan dan bintang-bintang -planet-. Semua itu memperoleh rohmat dengan kehadiran Nabi Muhammad saw.

Dengan rohmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman, serta pengakuan atas wujud, hak, bakat dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar, menyangkut bimbingan, perlindungan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.

Jangankan manusia .. binatang dan tumbuhan pun memperoleh rohmat beliau saw.
Sebelum bangsa Eropa mengenal organesasi pecinta binatang, Nabi Muhammad saw telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang.

Banyak sekali pesan beliau saw, menyagkut hal ini, dimulai dari perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menyembeleh -HR Muslim-.
Beliau saw juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan, dan tidak pula melepaskannya untuk mencari makan sendiri. -HR Bukhori Muslim-.

Dalam ajaran Nabi Muhammad saw sebagai Rohmat itu, terlarang memetik bunga sebelum mekar, atau buah sebelum matang, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaan. .. … …. ….. …… ……. …….. ………

Kembang diciptakan antara lain agar mekar sehingga lebah datang menghisap sarinya dan mata menjadi senang memandangnya, disamping lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan pengobatan.

Bahkan benda-benda tak bernyawa pun mendapat kasih sayang beliau saw. Antara lain terlihat ketika beliau memnberi nama-nama bagi benda-benda husus beliau.
Pedang beliau saw diberi nama : dzul-fiqor
Perisai beliau saw diberi nama : dzul-fadhul
Pelana beliau saw diberi nama : ad-daj
Tikar beliau saw diberi nama : al-kuz
Cermin beliau saw diberi nama : al-midallah
Gelas minum beliau saw diberi nama : al-mamsyuk, dan lain-lain.
itu semua untuk mengesankan bahwa benda-benda tak bernyawa itu bagaikan memiliki kepribadian yang juga membutuhkan rohmat kasih sayang dan persahabatan.

TUGAS “ANAK” SEBAGAI PENERUS NABI MUHAMMAD SAW DENGAN MEMBERI ROHMAT KASIH SAYANG KEPADA SAUDARA MUKMIN

Alloh swt berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“Dan HAMBA-HAMBA ARROHMAN yang baik itu, -ialah- orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan lemah-lembut -dan rendah hati-.
Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, MEREKA MENGUCAPKAN SALAM -kata-kata yang mengandung keselamatan-.”
– (QS.25:63).

Mereka yang disifati sebagai hamba-hamba ar-Rohman adalah yang ta’at dan dipilih Alloh swt, yaitu yang ikhlas dan sabar serta berdzikir dan bersyukur dengan memberikan rohmat kasih sayang kepada saudara mukmin.

Salah satu dari sifat kelemah-lembutan dan kerendahan hati mereka adalah terhadap orang-orang jahil. “dan apabila ornag-orang jahil menyapa mereka” dengan sapaan tidak wajar atau yang mengandung amarah atau yang membuat sakit hati, “mereka berucap salam” ya’ni mereka membiarkan dan meninggalkannya, bahkan mereka berdo’a untuk keselamatan semua pihak.

Menurut Hujjatul-islam al-Ghozali:
Buah yang dihasilkan oleh peneladanan sifat ar-Rohman pada diri seseorang akan menjadikannya memercikkan rohmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Alloh yang lengah, dan ini mengantarnya mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Alloh secara lemah lembut, tidak dengan kekerasan.

Dia akan memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang -rohmat- serta menilai setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya bagaikan kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia dalam pertaubatannya tidak menyisihkan sedikit pun upaya memohonkan ampunan bagi orang lain seperti bagi dirinya sendiri.
“Mereka itulah orang-orang yang akan dibalas dengan martabat yang sangat tinggi karena kesabaran mereka” – (QS.25:75).

Seseorang yang menghayati bahwa Alloh adalah ar-Rohman -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan dunia- dan ar-Rohim -pemberi rohmat kepada makhluk-makhluk-Nya dalam kehidupan akhirat- akan berusaha memantapkan dirinya sifat rohmat dan kasih sayang sehingga menjadi ciri kepribadiannya.

Dia tidak akan ragu atau segan mencurahkan rohmat kasih sayang itu kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, ras maupun tingkat keimanan, dengan memberi rohmat kasih sayang, baik yang hidup maupun yang mati.

Dia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapapun dan dimanapun.

Kata SALAMAN terambil dari akar kata SALIMA yang ma’nanya berkisar pada KESELAMATAN dan keterhindaran dari segala yang tercela.
Keselamatan adalah batas antara keharmonisan, kedekatan dengan perpisahan serta rohmat dengan siksaan.

Ciri sifat kepribadian mereka yang kedua adalah:

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang-orang yang -penuh rohmat juga mereka yang senantiasa- memasuki malam hari -beribadah secara tulus-, demi untuk Tuhan -pemelihara- mereka -tanpa pamrih- dalam bersujud dan berdiri -sholat-.” – (QS.25:64).

Ayat diatas menyatakan betapa pentingnya mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan melakukan sholat malam, dalam satu riwayat dinyatakan bahwa siapa yang sholat sunnah dua roka’at setelah sholat isya’, maka telah dapat dinilai melaksanakan kandungan ayat ini.

Quraisy Syihab mengatakan bahwa, sifat pertama yang disandang oleh hamba-hamba Alloh itu yang disebut oleh ayat 63 adalah sifat mereka yang berkaitan dengan makhluk, sedang di ayat 64 ini adalah yang berkaitan dengan al-Kholiq. Ini mengisyaratkan pentingnya interaksi antar sesama makhluk serta pelunya mendahulukan kepentingan mereka dari pada ketaatan kepada Alloh yang bersifat sunnah.

MENGENAL PERINTAH ALLOH SWT

Alloh swt memerintahkan kepada kita agar meneladani Nabi Muhammad saw .. agar kita berpegang teguh bahkan meningkatkan pengetahuan tentang Alloh dan ke-Esa-an-Nya .. mengagungkan-Nya, sehingga hati selalu terbuka untuk menerima hidayah dan meningkat amal-amal kita.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah -berpegang teguhlah dengan pengetahuanmu-, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan -pengatur dan pengendali alam raya yang wajib disembah- melainkan Alloh ..
dan mohonlah ampunan bagi dosamu .. dan -ampunan dosa- bagi orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan ..
dan Alloh -senantiasa- mengetahui hilir-mudik kehidupan dunia kamu -dalam usaha kamu di dunia mengetahui pula waktu serta rinciannya- dan -mengetahui pula tempat- kediaman kamu -di akherat beserta rincian pahalanya- ..
-Alloh mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kamu, baik sewaktu kamu bergerak maupun diam, karena itu berhati-hatilah jangan sampai kamu durhaka sehingga dikunci mati hati kamu ..” – (QS.47:19).

Ayat diatas menuntut seseorang untuk mengetahui Alloh sekuat kemampuannya .. Mengenal-Nya dari dekat, dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta mempelajari pengenalan diri-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw, al-Qur’an yang terbaca dan terhampar.

Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu bukan sekedar pengetahuan tenteang sesuatu, tetapi ia adalah cahaya yang menghiasi hati seseorang dan mendorongnya untuk melakukan aktivitas positif sesuai dengan ilmunya itu, di sisi lain ia baru dinamai ilmu kalau bermanfaat, dengan demikian apabila pengetahuan tidak mengantar kepada amal yang bermanfaat, maka ia sama saja dengan kebodohan.

Pengetahuan tentang ke-Esa-an Alloh, mengantar kepada keyakinan tentang keniscayaan kiamat, karena Alloh adalah Wujud Yang Maha Sempurna. Dia tidak mungkin menyi-nyiakan amal seseorang, tidak mungkin juga merestui ketidak adilan.
Sedang kesempurnaan balasan dan ganjara di dunia ini, tidak dapat dicapai sehingga keadilan pun belum tegak, karena itu pula perlu ada hari selain hari duniawi untuk menyempurnakan dan menegakkannya.

Perintah memohonkan pengampunan bagi kaum mukminin dan mukminah mengisyaratkan perlunya memberi perhatian kepada pihak lain.
Seseorang hendaknya tidak hanya menyempurnakan diri, tetapi juga berusaha menyempurnakan dan membimbing dengan cinta dan kasih sayang kepada orang lain untuk menuju kesempurnaan hidup dunia dan akherat.

BERDZIKIR DENGAN DZIKIR YANG BANYAK

Laki-laki yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut nama Alloh .. Alloh telah menyediakan untuk tiap-tiap orang dari mereka ampunan dan pahala yang besar.

Dzikir mengingat Alloh dengan hati dan menyebut dengan lisan, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, menghadirkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung ..

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari ..
Mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadhilah dan keutamaan ibadah tertentu .. maka pastinya akan menyebabkan ia lapang hatinya melakukan ibadah tersebut ..
Begitu pun orang yang mengetahui mengenai keutamaan dzikir (mengingat Alloh), ia akan terdorong untuk rajin dan istiqomah mengerjakan dzikir tersebut ..

Alloh swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan dengan lidahnya bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH ..”
Mengatakannya sebagai cerminan kepercayaan mereka tentang kekuasaan dan ke-Maha-Esa-an Alloh ..
Kemudian mereka sungguh-sungguh beristiqomah meneguhkan pendirian mereka dengan melaksanakan tuntunan-Nya ..
Maka akan turun malaikat-malaikat mengunjungi mereka dari waktu ke waktu secara bertahap hingga menjelang ajal, untuk meneguhkan hati mereka sambil berkata ..:
“Janganlah kamu takut menghadapi masa depan, dan janganlah kamu bersedih atas apa yang telah berlalu ..
Dan bergembiralah dengan perolehan sorga yang telah di janjikan Alloh melalui Nabi Muhammad kepada kamu.”

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Setalah para malaikat itu menenangkan orang-orang beriman ..
mereka melanjutkan bicara guna menunjukkan hubungan keakraban ..
Mereka berkata: ..
“Atas perintah Alloh kamilah yang menjadi pelindung-pelindung kamu ..
Yang sangat dekat kepada kamu dan selalu siap menolong dan membantu kamu dalam kehidupan dunia dan demikian juga di akhirat ..
Dan yakinlah bahwa bagi kamu di dalam sorga sana, apa pun yang kamu inginkan dari aneka keni’matan, dan bagi kamu juga di sana apa yang kamu minta ..
Itu sebagai hidangan pendahuluan bagi kamu sebelum anugrah lainnya yang lebih jauh daripada yang kamu angan-angankan ..

نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Semua itu adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” ..
(41:30-32).

Istiqomah ialah konsisten dan setia melaksanakan apa yang di ucapkan ..
Konsistensi dalam kepercayaan tentang ke-Esa-an Alloh serta konsekuensinya pengamalan hingga datangnya ajal ..
Dan itu memerlukan taufik, hidayah dan bantuan Alloh ..
Karena itu bermohonlah agar istiqomah tersebut tetap terus terpelihara .. ya’ni tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun, berhala, manusia, malaikat, iblis, setan, jin, binatang, benda dll ..
Ibadahpun tidak di lakukan dengan riya’, bahkan beramal sesuai yang di ridhoi-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya ..

Turunnya malaikat kepada seseorang dalam kehidupan ini di tandai dengan terbetiknya dalam hati yang bersangkutan atas dorongan untuk berbuat baik, serta adanya optimisme ..
Berbeda dengan peranan setan yang selalu mengajak kepada kedurhakaan dan menanamkan pesimisme dan keputus-asaan ..

Perlu di ketahui bahwa malaikat-malaikat yang dimaksud bukanlah malaikat pengawas manusia dalam kehidupan ini, atau malaikat pembawa rizki, tetapi malaikat husus yang ditugaskan Alloh mendukung dan menemani orang-orang beriman ..

Disebutkan dua macam pengabulan ..
Yang pertama:
Dengan menggunakan kalimat:
“Apa yang kamu inginkan”
Yang di inginkan adalah hal-hal yang terhampar dalam kenyataan ..
Bisa juga difahami dalam arti pengabulan keinginan syahwat jasmani dan tertuju kepada yang bersangkutan ..
Dan yang kedua:
“Apa yang kamu minta”
Adalah hal-hal yang terbetik dalam benak ..
Bisa juga di artikan permohonan apapun baik untuk diri sendiri maupun orang lain , baik berkaitan dengan syahwat jasmani maupun rohani ..

Sufyan ats-Tsaqofi pernah memohon kepada Nabi Muhammad saw untuk diberi jawaban yang menyeluruh tentang islam, sehingga dia tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain ..
Nabi saw menjawab singkat:
“Qul amantu billah tsumma istaqim – Ucapkanlah .! Aku beriman kepada Alloh , lalu konsistenlah.”
(HR. Muslim).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya, daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholeh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” – (QS.41:33).

ALLOHU ROBBI .. الله ربي
“Tuhan kami hanyalah Alloh ..”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang percaya dan mengatakan secara tulus dan benar bahwa:
“TUHAN KAMI HANYALAH ALLOH .. Pencipta, Pemelihara dan yang terus berbuat baik kepada kami adalah Alloh yang tiada Tuhan Penguasa Dan pengatur alam raya selain-Nya”
Kemudian miskipun berlalu sekian lama dari ucapan dan keyakinan itu, mereka tidak digoyahkan oleh aneka godaan, cobaan serta ujian dan mereka tetap istiqomah, bersungguh-sungguh konsisten dalam ucapan juga perbuatannya ..
Maka tidak ada kehawatiran atas mereka, dan tidak ada rasa takut menguasai jiwa mereka pada hal-hal yang bakal terjadi, betapapun hebatnya peristiwa itu ..
Dan mereka tiada pula berduka cita atas apa saja yang telah terjadi, betapapun besarnya yang terjadi ..
Ini di sebabkan karena hati mereka sudah demikian tenang dengan kehadiran Alloh bersama mereka ..

أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni sorga, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, sebagai imbalan atas apa yang telah senantiasa mereka kerjakan ..”
(QS.46:13-14).

Kalimat: “ALLOHU ROBBI” merupakan sistem yang menyeluruh bagi kehidupan ..
Mencakup semua kegiatan dan arah ..
Semua gerak detak dan detik hati serta pikiran ..

“ALLOHU ROBBI” yang menegakkan tolak ukur bagi pikiran dan perasaan ..
Bagi manusia dan segala sesuatu ..
Bagi amal perbuatan dan peristiwa-peristiwa ..
Bagi hubungan-hubungan pada seluruh wujud ini ..
Sehingga hanya kepada-Nya tertuju suatu ibadah ..
Hanya kepada-Nya kita mengarah ..
Hanya kepada-Nya kita takut ..
Hanya kepada-Nya kita dapat mengandalkan ..

Tidak ada sesuatu dan perhitungan selain-Nya ..
Tidak ada rasa takut dan harapan terhadap selain-Nya ..
Sehingga semua kegiatan, pemikiran, pengagungan hanya tertuju kepada-Nya ..
Semua mengharapkan ridho hanya kepada-Nya ..
Tidak ada penyelesaian hukum kecuali dari-Nya ..
Tidak ada kekuasaan kecuali syari’at-Nya ..
Tidak ada petunjuk kecuali petunjuk-Nya ..

PENGERTIAN BAI’AT
      
AL-BAI’AH secara etimologis berasal dari kata “by‘a” menjadi -ba’a- yang berarti -menjual- .. BAI’AT adalah kata jadian yang mengandung arti “perjanjian” atau “janji setia” atau “saling berjanji dan saling setia”, karena dalam pelaksanaannya selalu melibatkan dua pihak secara sukarela .. BAI’AT juga berarti “berjabat tangan untuk bersedia menjawab akad transaksi barang atau hak dan kewajiban, saling setia dan taat” .. Bai’at juga dapat diartikan perjanjian, penyumpahan, pengukuhan, pengangkatan, penobatan.

Bai’at merupakan tiang pancang bagi sistem hukum dalam sejarah Islam pada zaman Rosululloh saw, bahkan bai’at mendahului pendirian suatu negara.
Bai’at merupakan dasar masyarakat politik Islam dan perangkat untuk menyatakan kelaziman kepada jalan dan syari’at Islam, bahkan bai’at merupakan sisi kegiatan politik paling menonjol yang dilakukan oleh umat islam pada saat itu.

Bai’at juga dikenal dengan suatu perjanjian atau sumpah setia untuk meyakinkan orang agar `orang itu berbuat yang baik lagi benar`sesuai tuntunan agama. juga untuk kepercanyaan seseorang atau masyarakat yang dibai’at oleh pemimpinnya dalam hal untuk memajukan agama dan meningkatkan iman dan taqwanya.

Ambillah contoh BAI’AT NABI MUHAMMAD SAW KEPADA PARA SAHABAT beliau ..

Suatu ketika Nabi Muhammad saw membai’at sahabat untuk tidak meminta kepada manusia secara mutlak.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِي قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ : أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ؟ وَكُنَّا حَدِيْثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا : قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ تُبَايِعُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَعَلاَمَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ : عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَتُطِيْعُوا وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً :
“وَلاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا”

Dari ‘Auf bin Maalik al-Asyja’iy berkata:
“Kami di sisi Rosulullalloh saw, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang. Maka Nabi berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Tatkala itu kami baru saja membai’at beliau. Maka kami berkata:
“Kami telah membai’at engkau wahai Rosululloh.”
Kemudian beliau berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Lalu beliau berkata:
“Kenapa kalian tidak membai’at Rosululloh .?”
Maka kamipun membentangkan tangan-tangan kami dan kami berkata:
“Kami telah membai’at engkau wahai Rosululloh .. kami membai’at engkau -lagi- atas apa wahai Rosululloh .?”
Beliau berkata: “-Kalian membai’atku- atas kalian beribadah kepada Alloh dan kalian sama sekali tidak berbuat kesyirikan, untuk sholat lima waktu dan untuk tetap ta’at.”
dan beliau mengucapkan dengan pelan perkataan yang samar:
“Dan janganlah kalian meminta -balasan- apapun kepada manusia.” (HR. Muslim).

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. -bukan kepada selain Alloh dari kalangan makhluk-makhluk-Nya-.” (QS.94:8).
             
Dari hadits diatas bisa dipetik pengertian bahwa bagi masyarakat yang berbai’at itu harus memiliki pengetahuan, pengertian yang sefaham dengan pemimpinnya .. dalam hal agama islam kefahaman itu penting karena memahamkan orang itu sangat sulit .. agar segala sesuatunya atau perjanjiannya menjadi sesuatu yang baik dan benar yang akan mengantar kedua belah pihak atau masyarakat merasa tenang dan merasa puas dalam hatinya.
 
Hukum bai’at -janji setia- itu sendiri tidak hanya belaku untuk laki-laki saja, tetapi juga berlaku untuk perempuan-perempuan yang beriman .. Bebera ayat ayat al-Qur’an menjelaskan terjadinya hukum bai’at -janji setia- antara Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dan antara hamba dengan Tuhannya .. diantaranya :

“Sesungguhnya orang-orang yang يُبَايِعُونَكَ berjanji setia kepadamu, mereka berjanji setia kepada Alloh.
TANGAN ALLOH DI ATAS TANGAN MEREKA.”
(QS. Al-Fath [48]:10).

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu, perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan يُبَايِعْنَكَ JANJI SETIA kepadamu.”
(QS. Al-Mumtahanah [60]:12),

“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka يُبَايِعُونَكَ berjanji setia kepadamu.”
(QS. Al-Fath [48]:18).

BAI’AT PARA NABI

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan -ingatlah .!-, ketika Alloh mengambil perjanjian dari para Nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”
Alloh berfirman:
“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu .?”
Mereka menjawab: “Kami mengakui”
Alloh berfirman:
“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”  
(QS. Ali Imron [3]: 81).

Nabi Muhammad saw bersabda:
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ
“Aku adalah Sayyid -Pemimpin- manusia di hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

‘Ali ibn Abu Tholib ra, dan Ibn ‘Abbas ra keduanya meriwayatkan bahawa Nabi saw bersabda:
“Alloh tidak pernah mengutus seorang Nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad saw.
Seandainya Muhammad saw diutus di masa hidup Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau dan mendukung beliau dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.”

Diriwayatkan bahawa ketika Alloh swt menciptakan Nur Nabi-Nabi, Alloh swt memerintahkan kepada mereka untuk memandang pada Nur Nabi Muhammad saw, lalu mereka melihat Nur beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Alloh swt membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata:
“Wahai Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya .?”
Alloh swt berfirman:
“Ini adalah cahaya dari Muhammad ibnu ‘Abdillah; jika kalian beriman padanya akan Aku jadikan kalian sebagai Nabi-Nabi.”
Mereka menjawab:
“Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.”
Alloh swt berfirman:
“Apakah Aku menjadi saksimu .?”
Mereka menjawab: “Ya..”
Alloh swt berfirman:
“Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai pengikat dirimu .?”
Mereka menjawab: “Kami setuju..”
Alloh swt berfirman:
“Maka saksikanlah -hai para Nabi-, dan Aku menjadi saksi -pula- bersamamu.”

Ma’na dari kalimat “Maka saksikanlah -hai para Nabi-, dan Aku menjadi saksi -pula- bersamamu.” bahwa janji Nabi-Nabi yang telah disepakati bersama itu telah dipersaksikan oleh masing-masing pihak, dan Alloh swt menjadi saksi pula atas ikrar mereka itu.

Disamping itu apabila terkemudian diutusnya mereka di dunia, dia yang telah mengambil perjanjian dengan Alloh swt, memberitahukan kepada ummatnya bahwa bilamana datang seorang Rosul yang bernama Ahmad -Muhammad- membenarkan kitab dan hikmah yang ada padanya, mereka akan beriman dengan dia dan akan menolongnya, mereka itu akan mempercayainya, meskipun mereka sendiri telah diberi Al-Kitab dan diberi pula hikmah, mereka tetap akan mempercayai dan mendukungnya.

Hal itu disebabkan karena maksud dari diutusnya Nabi-Nabi dan Rosul-Rosul itu adalah satu. Yaitu menyampaikan ajaran Alloh swt. Oleh karena itu para Nabi dan Rosul itu harus menguatkan tolong-menolong.

Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi mengatakan:
“Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi saw dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-Nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam as hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau saw.

Jadi, sabda Nabi Muhammad saw:
“Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia”
bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya.”
Hal ini dijelaskan lebih jauh oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Subkhi:
Maysaro al-Dhobbi ra, berkata bahawa ia bertanya pada Nabi saw:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau saw menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”

Berpijak dari hal ini, Nabi Muhammad saw adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isro’ Mi’roj, saat mana para Nabi melakukan sholat berjama’ah di belakang beliau saw -yang bertindak selaku Imam-. Keunggulan beliau saw ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau saw.”

As-Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya:
“Ya Rosululloh, bilakah Anda menjadi seorang Nabi .?”
Beliau menjawab:
“Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.”

Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi saw bersabda:
“Aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”

Dalam Shohih Muslim, Nabi saw bersabda bahwa Alloh swt telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun dan 1 hari di sisi Alloh adalah 50.000. tahun -dunia- sebelum Dia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Ummul-Kitab (induk Kitab), bahawa Nabi Muhammad saw adalah Penutup para Nabi.

Demikianlah Alloh swt telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi Muhammad saw sebelum penciptaan Nabi Adam as, bahkan sebelum menciptakan alam semesta. dan Alloh swt limpahkan barokah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad saw pada ‘Arsy-Nya, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Alloh -Yang Maha Agung lagi Yang Maha Kuasa yang menghimpun segala sifat terpuji- dan -demikian pula- malaikat-malaikat-Nya -yang merupakan mahluk-mahluk suci- bersholawat untuk Nabi.
-Alloh melimpahkan rohmat dan aneka anugrah kepada Nabi Muhammad saw, dan para malaikat bermohon kiranya dipertinggi lagi derajat dan dicurahkannya maghfiroh atas beliau saw, yang merupakan mahluk Alloh termulia dan paling banyak jasanya kepada ummat manusia dalam memperkenalkan Alloh swt, dan menunjukkan jalan lurus menuju kebahagia’an-.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

-Karena itu- Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu -semua- untuknya -dengan memohon kepada Alloh swt, kiranya sholawat kepada beliau saw lebih dicurahkan lagi, dan di samping itu wahai orang-orang yang beriman, hindarkanlah dari beliau saw, segala aib dan kekurangan, serta sebut-sebutlah keistimewa’an dan jasa-jasa beliau- dan bersalamlah yang sempurna -ya’ni ucapkankanlah salam penghormatan kepada beliau dan penuhi tuntunan beliau-.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Kata SHOLLU terambil dari kata SHOLAH yang berma’na “menyebut-nyebut yang baik serta ucapan yang mengandung kebajikan” dan tentu saja do’a dan curahan rohmat merupakan sebagian ma’nanya.
Sedangkan kata SALLIMU terambil dari kata SALAM yang terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf SIN LAM MIM ma’na dasar dari kata yang terangkai dari huruf-huruf ini adalah “luput dari kekurangan, kerusakan dan aib”.

Dari sini boleh jadi orang yang mengucapkan kata SELAMAT namun si pengucap tidak menginginkan terjadinya keselamatan atau tidak mengharap yang mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan, SALAM atau DAMAI semacam ini adalah ucapan salam atau damai PASIF.
Ada juga SALAM atau DAMAI POSITIF ketika anda mengucapkan selamat kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, maka ucapan itu adalah cermin dari keselamatan positif.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِاْلمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ

“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat, rohmat dan berkahmu pada pemimpin para utusan, pemimpin orang-orang yang bertaqwa dan pamungkas para Nabi.” (HR. Ibnu Majah).

BAI’AT MANUSIA DI ALAM RUH

Alloh swt berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan -ingatlah .!-, ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka -seraya berfirman-: ‘Bukankah Aku ini Tuhan kamu’. Mereka menjawab: ‘Betul .! -Engkau Tuhan kami-, kami menjadi saksi’. -Kami lakukan yang demikian itu-, agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini’.” –
(QS. al-A’rof [7]:172).

Seperti dalam banyak hal, segala kejadian minimal memiliki dua dimensi yang saling berhimpitan, yaitu dimensi jasmaniah dan dimensi rohaniah. Ada dimensi fakta dan dimensi hikmah, atau ada yang menyebut hal tersurat dan hal yang tersirat. Kedua dimensi tersebut bersama-sama membentuk karakter dan tingkah laku manusia dalam tugasnya memenuhi hak Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Pertanggung jawaban manusia sebagai makhluk Tuhan sesungguhnya tidak saja baru dimulai ketika kita dilahirkan dari Rahim ibu, tetapi jauh sebelum itu, yaitu ketika ruh-ruh manusia (Bani Adam) di baiat oleh Allah untuk dipersaksikan terhadap keberadaan Allah sebagai Sang Kholik.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung sulbi orang tua mereka, kemudian meletakkannya di rahim ibu-ibu mereka sampai menjadikannya keturunan meraka manusia sempurna.
Dan Alloh mempersaksikan mereka putra-putra Adam serta mengambil kesaksian atas jiwa mereka sendiri, meminta pengakuan mereka masing-masing melalui potensi yang dianugrahkan Alloh kepada mereka, berupa hati akal mereka,
Seraya berfirman:
“Bukankah Aku Tuhan Pememelihara kamu .?”
Masing-masing jiwa mereka menjawab:
“Ya betul .! kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhanku dan aku menyaksilksikan pula bahwa Engkau Maha Esa.”
Seakan-akan ada yang bertanya:
“Mengapa Engkau lakukan ini Tuhanku .?”
Alloh menjawab:
“Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat, kamu yang mengingkari ke-Esaan-Ku tidak mengatakan: `sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap persaksian ke-Esaan Tuhan yang selalu berbuat baik ini, yang menghamparkan bukti ke-Esaan-Nya di alam raya dan pengutusan para Nabi dan Rosul`.”
(QS.7:172)
 
Ketika peristiwa yang terjadi di alam ruh itu diceritakan secara ilmiah dengan Firman-Nya, maka berarti dengan ayat ini Alloh swt tidak sekedar memberi kabar akan siapa sesungguhnya “Tuhan manusia” itu, namun juga menegaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ibunya di dunia, sesungguhnya telah melaksanakan bai’at kepada Tuhannya.
– “Bukankah Aku Tuhan kamu .?”, dan dia saat itu telah menjawab: “Ya betul .! Engkau Tuhanku dan aku menyaksikan.” –
Dengan perjanjian itu, supaya di hari kiamat manusia tidak bisa mengingkari dan berkata: “Sesungguhnya kami orang-orang yang lupa terhadap persaksian ini.” ^
 
Sungguh ini merupakan bagian keajaiban al-Qur’an, rahasia kejadian di alam ghaib yang terkuak dari lembar perjalanan hidup anak manusia. Dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya di alam ruh itu, peristiwa itu bukan sekedar perkenalan antara seorang hamba dengan Tuhannya saja, namun juga penegasan, bahwa Sang Pencipta dan Sang Pemelihara alam semesta ini adalah Alloh swt. Dengan ayat ini seharusnya manusia tidak ragu lagi, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Alloh swt. ^

inilah awal mula segala prilaku terhadap naik dan turunnya kadar ketauhidan manusia selalu dimonitoring, bahkan kemudian Alloh swt menguji kadar ketauhidan tersebut dengan menyatukan ruh-ruh manusia ke dalam sebuah jasad.

Mulai dari masa Pra-Dunia -alam arham-, yaitu ketika masa pembentukan jasad manusia di dalam rahim ibu, manusia terus menerus diberi pelajaran oleh Alloh lalu di uji. Setiap kali manusia lulus dalam setiap ujian, maka bertambahlah derajat ke tauhidannya satu derajat dan begitulah terus menerus hingga akhirnya manusia mulai masuk ke alam kubur -alam barzakh-.

Saat di alam kubur inilah segala pengujian atas ruh manusia kemudian dihentikan, dan saat-saat sakaratul maut merupakan ujian terakhir yang menentukan manusia apakah meninggal dalam keadaan “Khusnul Khotimah” atau “Su’ul Khotimah” .. Kemudian pada akhirnya manusia di wisuda pada masa Yaumul-Hisab dengan menerima ijazah dengan tangan kanan atau tangan kiri.

Ruh dan Jasad manusia memiliki kecenderungan sifat yang saling bertolak belakang .. Jasad berasal dari tanah dan cenderung untuk selalu luruh ke bawah berkelompok dengan komunitasnya di bumi, sedangkan ruh manusia akan cenderung naik ke atas menuju ke alam arwah dimana asal kejadiannya ruh diciptakan oleh Alloh swt.
Keduanya, ruh dan jasad akan saling berbaur dan berusaha saling mengendalikan satu sama lain .. Manusia yang jasadnya lebih berkuasa terhadap ruh akan senantiasa menyukai hal-hal keduniaan, cenderung mengikuti hawa nafsu yang rendah dan berderajat melata, sedangkan ruh manusia cenderung untuk kembali ke fitrahnya yaitu selalu berusaha kontak dengan Sang Maha Pencipta.
Karena makanan bagi ruh manusia adalah bukan makanan secara fisik, tetapi makanan bagi ruh manusia adalah cahaya ilahi yang hanya diperoleh jika ruh itu terkoneksi secara langsung ke sumber cahaya.

Maka untuk memperkuat ruh manusia agar mampu mengendalikan rekan kerjanya -jasad- adalah dengan mempekuat ruh .. Caranya adalah memperbanyak makanan ruh, yaitu dengan “Sholat”, sehingga ruh mempunyai asupan gizi yang lebih banyak dan pada akhirnya memiliki kedudukan yang lebih kuat dan mampu mengendalikan jasadnya, yang berarti pula mampu mengendalikan hawa nafsunya.
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari -perbuatan- perbuatan- keji dan mungkar.” (QS.29:45).

Dengan Shiyam -puasa, agar tubuh fisik tidak akan pernah mampu mempunyai cukup daya untuk mengendalikan ruh .. dengan mengamputasi kepemilikan fisik yaitu dengan melepaskan sebagian kepemilikan, zakat, shodaqoh kepada mereka yang membutuhkannya .. lebih lanjut dengan melakukan ibadah pamungkas yaitu “Haji”.
Dengan ibadah ini, upaya memperkuat ruh dan melemahkan jasad dilakukan secara serentak .. sehingga jika hakekat “ibadah haji” benar-benar telah dapat digapai, maka tugas ruh sebagai “Waliulloh” benar-benar bisa terlaksana dengan benar.

Semakin kuat ruh mengendalikan jasad, maka akan semakin terbuka hijab -penghalang- yang menutup penglihatan ruh atas petunjuk-petunjuk Alloh dan mengingatkan kembali atas “Janji sebelum segala janji” atau “Janji Tauhid” yang pernah di ikrarkan pada saat berada di alam arwah.
Dengan semakin terbukanya hijab maka manusia bisa kembali ke “track” asalnya dan akan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan “orang-orang yang memenuhi janji” .. Sehingga secara bersama-sama ruh dan jasad selalu berada dalam bimbingan Alloh swt. dengan pemeliharaan dan bimbingan belajar dari Alloh Sang pembuat soal-soal Ujian, maka ujian mana lagi yang tidak akan mampu diselesaikan dengan baik .?

BAI’AT BAPAK KEPADA ANAKNYA

Dalam suatu riwayat disebutkan dari Abu Rofi’, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

“Aku melihat Rosululloh shollallohu ‘alihi wasallam, mengumandangkan adzan pada telinganya Hasan dan Husain, ketika dilahirkan Fatimah.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy, Al-Baihaqy, Ath-Thobrony dan Al-Hakim).

Dari Husain bin Ali bin Abi Tholib ra, Nabi saw bersabda:
“Barang siapa mempunyai anak yang baru dilahirkan, bacakanlah ia adzan pada telinga yang kanan, dan iqomah pada yang kiri, tidak bisa diganggu oleh syetan.” (HR. Abu Ya`la).

Suatu kelaziman masyarakat Islam pada umumnya, apabila anak baru lahir dibacakan adzan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kirinya .. Inilah bai’at pertama ketika manusia mulai menghirup nafas segar di muka bumi, oleh seorang bapak ..

Mari kita perhatikan uraian kalimat-kalimat adzan dan iqomah dibisikkan .. :

ADZAN

اَللهُ أَكْبَرُ.. اَللهُ أَكْبَرُ.. اَللهُ أَكْبَرُ .. اَللهُ أَكْبَرُ ..

Wahai anakku ..
Dalam kehidupan ini hendaknya engkau senantiasa mengawalinya dengan mengagungkan Alloh Yang Maha Besar.
Karena segala sesuatu yang ada di alam raya ini adalah hasil karya Alloh Yang Maha Besar.
Hanya milik Alloh Yang Maha Besar pengetahuan yang maha luas.
Kenalilah Alloh Yang Maha Besar melalui Kitab-Nya dan yang terbentang di alam raya ..

Setelah engkau mengawali kehidupan dengan mengagungkan Allohu Akbar, maka tulus ikhlas kita ikrarkan dalam hati melalui pendengaranmu dari lisan bapakmu .. diri ini bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Alloh.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh .. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh ..

Ikrar ini adalah ikrar ketauhidan kita dihadapan Alloh.
Dengan itu kita menjalani kehidupan ini penuh kepastian, bahwa hanya Alloh-lah tujuan akhir dari kehidupan ini.

Risalah Alloh tidak diturunkan-Nya secara langsung kepada seluruh manusia didunia.
Tetapi Alloh menurunkan risalah-Nya melalui seseorang.
Dialah Muhammad .. Nabi dan Rosul yang dipilih oleh Alloh sebagai pembawa risalah dari langit melalui malaikat Jibril as.
Maka diri ini pun bersaksi dengan tulus ikhlas ..

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh .. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh ..

Wahai anakku ..
Apabila dikumandangkan panggilan Alloh ..

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Marilah sholat .. Marilah sholat ..

Maka bergegaslah melaksanakannya, jangan sekali-kali menunda-nundanya.
Ingatlah ..! Betapa agung nilai derajat sholat dihadapan Alloh.
Saking agungya perintah sholat ini, sehingga ia disampaikan secara langsung oleh Alloh kepada Nabi Muhammad tidak melalui malaikat Jibril as.
Maka sholat merupakan rukun Islam, dan kewajiban setiap pribadi muslim untuk istiqomah, sebagai identitas keimanan kita.
Bukan saat hidup saja kita harus sholat, bahkan saat matipun kita di sholatkan.
Betapa ruginya diri kita bila sampai meninggalkan sholat.

Apabila baik sholat kita, maka akan baik pula amalan-amalan kita .. Apabila buruk sholat kita maka akan buruk pula amalan-amalan kita.
Dalam kesempatan hidup ini, hendaknya kita selalu menegakkan sholat yang lima waktu dan yang sunah, hingga akhir hayat.
Dengan menegakkan sholat kita menuju kepada Alloh, -seakan- melihat Alloh dalam sholat, sebelum melihat Alloh kelak di akhirat.

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Marilah menuju kemenangan .. Marilah menuju kemenangan.

5 kali sehari kita diingatkan untuk selalu mencari kemenangan, keuntungan serta kebahagiaan, hanya dengan sholat kita dapat meraihnya.
Kemenangan bukanlah ketika tujuan tidak tercapai dalam waktu yang telah direncanakan, akan tetapi kemenangan adalah ketika kita dapat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

Alloh Maha Besar .. Alloh Maha Besar ..

Maha Besar Alloh, yang berhak memuliakan dan menghinakan hambanya ..
Dalam sholat kita berdialog dengan Alloh Yang Maha Besar.
Hendaknya kita dalam sholat maupun dalam dzikir, meresapi ada plus (+) dan minus (-).
Plus di sisi Alloh dan minus di sisi kita, sebagai hamba-Nya Yang Maha Besar.

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Alloh …

Wahai anakku ..
Ingatlah ..! Akhir dari kehidupan kita jangan sampai melupakan Alloh yang tiada tuhan selain-Nya. Inilah kalimat yang harus selalu kita pegang teguh sampai akhir kehidupan.
Itulah hakekat ibadah -pengabdian- kepada Alloh ..

IQOMAH

Wahai anakku .. Apabila diserukan kalimat :

اَللهُ أَكْبَرُ .. اَللهُ أَكْبَرُ

Sedang engkau sibuk mengurusi harta duniawi, berhentilah sejenak, sambutlah seruan ini.
Istirahatkanlah badanmu dengan sholat, dan segeralah beramal baik, demi kepentingan dan keuntungan dirimu sendiri.

Apabila diserukan kalimat :

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Maka katakanlah “Aku mohon persaksian semua masyarakat langit dan bumi, bagiku di sisi Alloh kelak di hari kiamat bahwa: aku telah bersaksi
`Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh`..”

Apabila diserukan kalimat :

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Maka katakanlah : “Aku mohon persaksian dari para Nabi dan Rosul, -hususnya- Nabi Muhammad saw. kelak di hari kiamat, bahwa `Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh` ..”

Apabila diserukan kalimat :

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Sungguh Alloh telah memerintahkankan sholat bagi kalian, maka tegakkanlah sholat itu.

Apabila diserukan kalimat :

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Masuklah engkau dalam rohmat Alloh, maka tetaplah teguh melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh. dengan ikhlas hati, dan tetaplah lurus berjalan dimuka bumi menuju Ilahi.

Apabila diserukan kalimat :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

Maka “Bertaqwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlaq yang baik.”

Lalu seruan terahir kalimat:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Wahai anakku ..
Inilah amanat tujuh lapisan bumi dan langit, sudah berada dipundakmu, maka terserah engkau .. akan
Engkau laksanakan atau tidak .!

Tuhanku ..
Saksikanlah .. aku telah memberitahu anakku, dan telah menyampaikan amanat-Mu kepadanya ..
Maka terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahu ..

BAI’AT MANUSIA KEPADA ALLOH SWT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّه

AKU NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh.
Janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan Al-Qur’an.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya -selain- daripada Alloh .?
Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” – (QS.9:111).

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji -Alloh-, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu.” – (QS.9:112).

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Ayat Bai’at ini menjelaskan fungsi Rosululloh saw serta apa yang dituntut dari ummat manusia terhadap Alloh dan terhadap Rosul-Nya, maka ayat ini menguraikan sikap terpuji dari sekelompok manusia yang mendukung Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat yang mendukung beliau dan berjanji setia membela beliau sampai titik darah penghabisan atau selama nyawa masih dikandung badan ..

Ayat ini menyatakan:
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu -janji setia membela risalah yang engkau sampaikan- sebenarnya mereka BERJANJI KEPADA ALLOH ..”
-(Karena seluruh kegiatanmu baik ucapan maupun perbuatan adalah demi karena melaksanakan perintah Alloh dan demi karena sunnah Rosululloh)-
-(Karena biasanya yang melakukan janji setia atau persepakatan melakukannya dengan berjabat tangan, maka ayat ini melanjutkan)-
“TANGAN ALLOH -ya’ni kekuasaan, kekuatan dan anugrah-Nya- DI ATAS TANGAN MEREKA -Dia yang akan menyertai dan membantu yang berjaji itu-.
Barang siapa yang telah melanggar -janji setia itu-, maka akibat pelanggarannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, dan barang siapa menepati janjinya kepada Alloh -dengan menyempurnakan bai’atnya- maka Alloh akan menganugrahinya pahala yang agung -yang tidak terlukiskan keagungannya-.” – (QS.48:10)

Pengguna’an bentuk kata kerja “masa kini” pada firman-Nya يُبَايِعُونَكَ -berjanji setia- padahal peristiwa ini telah terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, adalah bertujuan menghadirkan peristiwa yang sangat mengagumkan itu ke benak ummat beliau saw di masa kini, agar dapat diteladani ..

BAI’AT YANG BAIK DIANTARA BAI’AT BAI’AT YANG PALING BAIK

Alloh swt berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
“Alloh memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak.
Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” – (QS.2:269).
وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“Dan berikanlah kepada mereka HARTA ALLOH, yang diberikan-Nya kepadamu.” – (QS.24:33).
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Alloh telah membeli -berjanji dengan janji yang pasti-.
-Menerima- dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan -memberikan- sorga untuk mereka.” – (QS.9:111).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولَا
“Aku ridho Alloh sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rosul ..”
إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku -kesemuanya- demi karena Alloh Pemelihara seluruh alam semesta raya.”
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sebenarnya mereka BERJANJI KEPADA ALLOH .. TANGAN ALLOH DI ATAS TANGAN MEREKA ”
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ .. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللَّهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh .. dan .. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Alloh ..
Demi nama Alloh .. hanya kepada Alloh aku bertawakkal menyerahkan diri segala persoalan urusan dunia dan akhirat ..
Tiada daya untuk mendatangkan manfa’at .. dan tiada upaya untuk menolak mudhorot .. Melainkan atas pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung ..

“Allohu Robbi .. Nawaitu .. semua pahala amal kebajikan dalam hidupku yang telah Engkau tetapkan bagiku sejak lahir hingga ajalku, aku hadiahkan dan shodaqohkan kepada semua orang mukmin-mukminat dan muslimin-muslimat yang hidup masa sekarang hingga akhir zaman dan yang wafat saat sekarang hingga Nabi Adam as ..”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ بِرَحْمَتِكَ يَاآرحَمَ الرَّاحِمِينَ
Tuhan kami .. terimalah setiap amal kebaikan sekecil apapun dari kami yang masih jauh dari sempurna .. kabulkanlah do’a-do’a dan harapan kami serta
Rohamatilah kami Wahai Yang Maha Penyayang .. dengan limpahan cinta dan kasih sayang serta aneka anugrah-Mu yang husus .. sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pemberi rohmat ..

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” – (QS.14:27).

Dengan memeberi hadiah pahala kesemua orang-orang mukmin-mukminat dan muslimin-muslimat , jiwa mereka akan merasa tenang, bahwa mereka akan merasa selalu dibantu selama si pemberi memiliki kemampuan, dengan demikian mereka akan ikut menjaga harta tersebut.

Dari sini lahirlah ketenangan bagi semua pihak termasuk si pemberi hadiah dan shodaqoh yang dijanjikan oleh Alloh pelipat-gandaan pahalanya, dan hal ini pada gilirannya melahirkan kegiatan positif dan menjadikan si pemilik pahala berkonsentrasi dalam usahanya untuk memproleh keuntungan yang lebih banyak.

ALLOH MENGAMBIL DAN MENERIMA SHODAQOH

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Alloh menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.
-Dan sebagai imbalannya-, Dia mengambil shodaqoh-shodaqoh -dari mereka-
Dan -ketahuilah- bahwa Alloh Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang.” (QS.9:104).

Nabi Muhammad saw mendapat perintah Alloh dari swt untuk disampaikan kepada ummatnya ..
Alloh swt berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah -atas nama Alloh- shodaqoh dari sebagian harta mereka.
Hendaknya mereka serahkan -dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan hati- dari sebagian harta mereka.
Dengannya -ya’ni harta yang engkau ambil itu- engkau membersihkan dan menyucikan jiwa mereka.
Dan berdo’alah untuk mereka -guna menunjukkan restumu terhadap mereka dan memohonkan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka-.
Sesungguhnya do’amu itu adalah sesuatu yang dapat menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan -sampaikanlah kepada mereka bahwa- Alloh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.9:103).

INGATKAN KAMI YA ROBB ..!

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا .. الْحُسْنَى .. وَزِيَادَةٌ ..
”Bagi orang-orang yang berbuat baik .. ada pahala yang paling baik .. dan tambahannya -yang terbaik- ..”. (QS. Yunus [10]: 26).

وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan .. akan kami tambahkan baginya kebaikan .. pada kebaikan itu -pahala yang sangat besar-.
Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syuro [42]: 23).

Ingatkan kami ya Alloh .. bahwa rohmat dan ridho-Mu lebih besar daripada dunia dan segala isinya yang akan kami tinggalkan pada waktu yang Engkau tetapkan ..

اللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ .. وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ .. وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ .. وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ
“Ya Alloh, aku mohon ridho sesudah keputusan-Mu .. kesejukan hidup setelah kematian .. kelezatan memandang wajah-Mu .. dan kerinduan berjumpa dengan-Mu ..” (HR. Ahmad).

Alloh swt berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا .. الْحُسْنَى .. وَزِيَادَةٌ .. وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik .. ada pahala yang lebih baik .. dan tambahannya ..
Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni sorga, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Yunus [10]: 26)

Alloh swt, menginformasikan bahwa orang-orang yang dapat memahami petunjuk dan mengambil manfaat dari petunjuk itu serta mengamalkannya .. Alloh swt akan memberikan pahala sesuai dengan amal perbuatan mereka, bahkan menganjurkan mereka agar lebih giat beramal kebaikan .. Alloh swt menjanjikan pahala sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus atau lebih banyak daripada itu.

Orang-orang yang melakukan amal yang baik akan mendapat imbalan pahala melebihi pahala yang seharusnya diterima .. Mereka itu akan menerima pahala yang lebih baik .. Mereka hidup bahagia, dari wajah mereka tampak cahaya yang berseri-seri, sedikit pun tidak terlihat kemurungan dan kemuraman lantaran mereka itu tidak merasa kecewa atas keyakinannya yang telah dipegang kuat-kuat, dan tidak merasa bersusah hati.

Dan mereka juga akan mendapat ZIADAH (tambahan) pahala lagi, yang tidak ternilai harganya, yaitu ridho Ilahi.
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan keridhoan Alloh adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang agung.” – (QS.9:72).
Sungguh tinggi kedudukan dan derajat mereka. Kedudukan ini adalah yang paling tinggi karena mereka mengetahui tujuan yang sebenarnya Pencipta alam semesta .. Ridho Alloh Yang Maha Mulia.

Kalimat “Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan.” Memberi kesan kecepatan langkah mereka, sehingga tidak dapat disusul oleh debu hitam. sebagaimana tergambar dalam surat ‘Abasa ayat 40 “Dan banyak muka pada hari itu tertutup debu ..”

Di akhir ayat ini Alloh swt. menegaskan bahwa “mereka inilah orang-orang yang berhak menjadi penghuni sorga” Mereka akan bertempat tinggal di dalamnya selama-lamanya. Di situlah mereka mengalami kebahagiaan yang abadi, karena tidak akan merasa bosan dan jemu akan keni’matan yang mereka rasakan dan tidak pula mereka takut akan berkurangnya keni’matan atau dikeluarkan dari sana.

SHODAQOH SIRRIYAH

Setiap orang pasti akan berusaha menjaga sesuatu yang dianggapnya berharga.
Ada orang yang menganggap bahwa emas, perak, berlian adalah harta yang paling berharga, maka ia akan berusaha menjaga menyimpannya di tempat yang aman.
Ada sebagian lagi yang menganggap binatang ternak, tanah dan ladang adalah harta yang paling berharga, maka ia merawatnya dengan penuh hati-hati lagi sepenuh hati.
Ada lagi anak sebagai harta yang paling berharga dalam hidupnya, maka ia akan berusaha melindungi dan menjaganya.
Dan istri juga adalah harta yang ta’ternilai, maka ia berdaya upaya memelihara dengan ekstra perhatian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Munafiqun: 9).

Begitulah seterusnya : rumah, kendaraan, perhiasan, pangkat, jabatan, kedudukan, penghormatan, dan segala sesuatu yang dianggap berharga, akan berusaha dilindungi, dijaga, dipelihara dan disimpan ditempat yang aman.

Sebagian besar manusia menganggap bahwa yang paling berharga hanyalah yang berkaitan dengan perkara dunia.
Sayangnya, tidak setiap orang mengetahui bahwa yang sesungguhnya paling berharga didunia ini adalah pahala.
Maka, pemeliharaan mutu ibadah dan perawatan, hendaknya lebih diutamakan, sebelum menjaga dan melindungi yang lainnya.
Karena kepemilikan apa pun di dunia ini tidak akan pernah mempunyai nilai apa-apa setelah seseorang meninggalkannya, jika tidak diiringi oleh ibadah yang bernilai pahala.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfaal [8]: 28).

Bagaimana Anda bisa meni’mati hasil yang baik bila tujuannya saja tidak tepat sasaran .?
Ibarat orang mau ke mall untuk berbelanja, bagaimana ia bisa belanja kalo yang dituju ternyata balai kota ..? Bukankah sangat jauh dari harapan …

Anda bekerja, lalu berpenghasilan, maka itulah yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya, baik dengan shodaqoh, infaq, zakat, amal jariyah, dsb.
Bukan bekerja dengan penghasilan yang setinggi-tingginya yang menjadi tujuan hidup Anda, yang kemudian malah terjebak dalam berbagai penyakit hati, kikir, sombong, ujub, riya’, dsb.
Pun demikian halnya dengan keluarga, teman dan lingkungan, semuanya hanya alat belaka.

Hanya berkat rohmat dari Alloh swt dan syafa’at Nabi Muhammad saw saja Anda mampu ikhlas melakukannya ..
Karena waktu Anda telah tiba .. maka memberikan harta hasil kerja Anda berupa pahala pada setiap saudara mukmin adalah hadiah yang ta’ternilai keutamaannya ..
Anda ta’kan dapat melukiskan betapa hebatnya bershodaqoh itu .. Anda boleh bersyukur merasa bahagia menjadi yang beruntung dengan hadiah untuk mereka itu ..

Anda sangatlah beruntung ..! Ya .. amat sangat beruntung .. Anda tidak akan dapat membayangkannya sama sekali betapa besar dan banyaknya keberuntungan itu ..
Tiada seorang pun yang akan dapat menghitungnya .. tiada sesuatu apapun yang dapat Anda tukarkan dengan harta ini dari mereka ..
dan tiada suatu apapun yang dapat Anda peroleh meskipun Anda beribadah dan berdo’a selama seribu tahun, maka Anda pun tetap tidak akan dapat memperoleh apa pun dari mereka .. kecuali hanya Alloh swt saja yang mampu membalasnya ..

Inilah hal terhebat yang pernah dapat Anda miliki di manapun di alam semesta .. Siapapun tidak dapat merempas atupun memilikinya .. karena ia disimpan oleh Alloh Yang Maha Memelihara .. Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana mengatur pembagian atas kehendak-Nya .. bahkan sebagian makhluk yang berkedudukan tinggi sangat iri kepada Anda .. Mereka sangat iri karena Anda berada di jalan menuju keberuntungan ridho-Nya .. sedangkan mereka masih tetap menjadi makhluk ahli ibadah saja atau hanya sebagai malaikat ..

Semua makhluk akan meninggal suatu saat .. tetapi jejak-jejak yang Anda tinggalkan tetap abadi tidak pernah mati ataupun musnah .. Bisa jadi mereka akan semakin turun, tetapi Anda tidak .. Anda akan terus naik ke atas melampaui mereka .. lebih tinggi daripada mereka .. menjadi semakin dimuliakan .. dan semakin berkilau ..

Anda akan memiliki apapun dan segalanya di sana .. Anda akan berada di sisi Alloh sebagai kekasihnya .. sedangkan mereka akan mencari Anda entah ke mana di dalam mencari .. untuk memperoleh penghargaan ini ..

Saat Anda membayangkannya .. wow ..! bagaimana Anda memenangkan undian senilai sebilyun ..? inilah perumpamaannya ..
Jika Anda tahu terlalu banyak, maka Anda mungkin akan tersiksa dan menderita .. Tetapi betapa beruntungnya Anda ..! Alloh swt hanya memberitahu sedikit hal saja kepada Anda.

Di antara makhluk seluruh alam semesta, Andalah yang terpilih, dan yang sangat beruntung .. Sungguh, Anda tidak tahu sampai saatnya tiba ..

Anda memang harus bekerja di dunia ini untuk Alloh saw dan Nabi saw, sehingga tak peduli seberapa banyak harta yang Anda berikan untuk kenyamanan mereka ketika Anda masih terbelenggu berada di dalam penjara dunia .. sementara mereka tidak dapat memberikan suatu apapun terhadap Anda ..

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap. -bukan kepada selain Alloh dari kalangan makhluk-makhluk-Nya-.” (QS.94:8).
             

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Awan Tag