01 QI SANAK

KATA PENGANTAR

“…. jika kamu bersabar dan bertakwa
Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
(QS. Ali Imron [3]: 186).

Setiap orang muslim diantara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh saw tatkala beliau ditanya:
Siapakah orang yang paling baik itu .?
Beliau saw menjawab:
“Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Rosululloh saw telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, tidak seperti umur-umur umat sebelumnya. Akan tetapi Beliau saw telah menunjukkan kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu kalau dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya.

Dan inilah yang dinamakan dengan “Al-‘Amaal Al-Mudho’afah” (amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda) yang tentu saja tidak semua orang mengetahuinya.

Harapan kita agar setiap orang diantara kita menambah umurnya dengan amalan yang produktif dalam kehidupan dunia ini. Agar dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya.
Kita memilih dari amalan-amalan yang paling ringan dikerjakan oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain -hanya- mendapatkan ombaknya saja.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangan engkau jadikan hati kami `mempunyai sifat` dengki kepada orang-orang yang beriman. Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-hasyr [59]:10).

MUQODDIMAH

Kepada Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang kami menuju ridho-Nya .. Sesungguhnya segala pujaan dan pujian hanya milik Alloh.
Kami memuji dan memohon pertolongan-Nya .. Kami berlindung kepada Alloh swt. dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kami ..
Barang siapa yang diberi hidayah oleh Alloh swt, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya .. dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh swt, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk ..

Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya .. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imron [3]: 102).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Alloh menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Alloh memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan -menyeru- nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan -peliharalah- hubungan silaturrohmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa` [4]: 1).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan Katakanlah Perkataan yang benar, Niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalan kamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan.
Barangsiapa ment’aati Alloh dan Rosul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw.
Dialah suri tauladan yang baik dan paling baik dari yang terbaik.

AMMA BA’DU

اَلنِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلِ فِيْهَا الصَّلاَحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلِ
“Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, hanya pada Niatlah benar atau rusaknya amalan.”

Ini adalah risalah singkat tentang pokok amal Islam dan hakikat Niat, Ibadah, Bai’at, Shodaqoh dan Do’a beserta dalil-dalilnya dari al-Qur’an al-’Adhim dan As-Sunnah asy-Syarifah .. Kami beri judul :
YANG BAIK DIANTARA YANG PALING BAIK

YANG PALING BAIK AGAMANYA

Alloh swt berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang Niat ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh ..?” (QS. An-Nisa’ [4]:125).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk beribadah -menyembah- Alloh dengan Niat ikhlas -memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan- agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]:5).

Dari ‘Umar bin Khotthob ra, Nabi Muhammad saw bersabda:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan Niat-Niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan …
Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya …
dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya …”
(HR. Bukhori, Muslim dan lain-lain).

Dari Abdulloh bin Abbas ra, Rosululloh saw bersabda :
“Sesunguhnya Alloh mencatat hasanat -kebaikan- dan sayyi’at -kejahatan-, kemudian menjelaskan keduanya.
Maka siapa yang berniat akan berbuat hasanat kemudian tidak dikerjakannya, Alloh mencatat untuknya satu hasanat, dan jika berniat kebaikan kemudian dikerjakan dicatat sepuluh hasanat mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu.
Dan apabila berniat akan berbuat sayyi’at dan tidak dikerjakan, Alloh mencatat baginya satu hasanat. Dan jika niat itu dilaksanakan, maka ditulis baginya satu sayyi’at.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

GENGGAM ERAT ERAT
JANGAN PERNAH KAU LEPASKAN

Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan Rosul-Nya .. siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita dan terasa berat penderitaan kita baginya ..
Demi Alloh .. hanyalah Rosululloh saw tercinta .. tidak ada yang beliau saw harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya ..
Dan tidak ada yang beliau hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat ..

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya .. tetapi kita ummatnya .. manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya ..

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita .. Apakah kekurangan harta .. atau  pula derita dunia .. bukan, bukan itu .. akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang beliau saw risaukan dan beliau pun memberikan solusinya bagi kita ..
sehingga pada suatu saat beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya .. Kitab Alloh dan sunah Rosul-Nya.”

Tidak ada yang beliau saw inginkan dari kita sebagai ummatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan ..
Bukan untuk kebahagiaannya .. bukan pula untuk keselamatannya .. tidak sepeserpun uang yang beliau saw minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya ..
Yang beliau inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai ummatnya .. lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ..?

MULTI NIAT MULTI PAHALA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله
“Aku Niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh ..”

NIAT KUNCI IBADAH

Paling tidak, ada dua kriteria tentang ibadah yang diterima oleh Alloh swt.
Pertama– melakukan suatu amal dengan Niat semata-mata hanya karena melaksanakan perintah Alloh swt, dengan mengharap ridlo-Nya.
Kedua– melakukan ibadah secara benar dan baik yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh saw.

Setiap ibadah yang dilakukan seseorang harus menghasilkan penilaian yang positif.
Jika Niat seseorang sudah benar, akan tetapi melakukan amalanya dengan cara yang tidak baik, ataupun sebaliknya, Niat seseorang sudah baik akan tetapi melakukan amalannya tidak benar, maka bisa jadi hal itu tidak diterima oleh Alloh swt.

Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena Niat, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil karena Niat ..

Rosululloh saw bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal-amal perbuatan tergantung Niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”
(HR. Bukhori).

Niat adalah pokok pangkal sahnya suatu amalan dan ujung pencapaian tujuan ..
Maka hendaknya sebagai muslim yang baik senantiasa mengingat keutamaan niat disetiap gerak dan diam kita ..

NIAT ADALAH RUHNYA IBADAH

Ikhlas adalah beramal karena Alloh swt dan benar adalah sesuai dengan sunnah Rosululloh saw.
Adapun hakikat Niat adalah hasrat hati dalam menjalankan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Alloh swt, yaitu dengan memurnikan tujuan ibadahnya hanya untuk Alloh swt semata, tidak kepada selain-Nya.

Sebuah amal bisa memperoleh pahala yang berlipat karena kecermatan menata Niatnya. Selain meraih pahala yang berlipat, Niat yang benar akan melahirkan hasrat yang kuat untuk melakukan ketaatan secara maksimal, dan dapat mencegah seseorang merasa malu untuk melakukan maksiat.

Memperbanyak Niat melakukan kebaikan, sebab Rosululloh saw bersabda:
“Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya.” karena Niat adalah amaliah batin yang tidak satupun mahluk mengetahuinya, sedangkan amaliah lahir, dalam pelaksanaannya bisa saja diketahui orang lain yang berdampak ujub, riya’, sum’ah dll.
Maka amalan Niat dalam hati akan tetap lebih baik dan lebih besar pahalanya di sisi Alloh swt, walau pun dalam pelaksanaan lahirnya ada unsur-unsur yang lain.

Orang-orang yang beriman apabila melakukan suatu amal kebaikan .. Alloh swt melipat gandakan pahalanya menjadi sepuluh, tujuh-ratus hingga lebih banyak dari itu, tergantung dari kadar ketulusan niat dan benarnya dalam melaksanakan pekerjaan itu .. Rosululloh saw menegaskan dalam hal ini dengan sabdanya:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal-amal perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang -akan dibalas- berdasarkan apa yang dia Niatkan.” (HR. Bukhori).

“Niat seorang mukmin -secara ikhlas dalam hati- lebih baik daripada amalnya -pekerjaan dengan anggota badan-.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Robi’).

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian.” (HR. Muslim).

“Manusia dibangkitkan kembali -dari alam kubur- kelak sesuai dengan niat-niat mereka.”
(HR. Muslim).

RAHASIA MERAIH KEUTAMAAN DENGAN NIAT

Niat adalah kehendak, dan tujuan adalah ungkapan-ungkapan yang mempunyai satu arti, yaitu keadaan dari sifat hati yang mengandung kaitan antara ilmu dan amal. Ilmu terhadap Niat adalah seperti pendahuluan sedangkan syarat dan amal mengikutinya.

Niat adalah ibarat kehendak yang berada di tengah antara pengetahuan yang mendahuluinya dan amal yang menyusul. Maka ia mengetahui sesuatu, lalu timbul kehendaknya untuk beramal sesuai pengetahuannya.

Rosululloh saw bersabda:
“Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya dan Niat orang fasik lebih buruk daripada amalnya.”

Mengomentari hadits ini seorang ulama berpendapat bahwa setiap orang mukmin yang melakukan kebaikan, ia akan berniat untuk melakukan Niatnya yang lebih baik dari perbuatannya.
Niat orang mukmin melakukan kebaikan tidak akan pernah berahir. Sebaliknya ketika orang fasik melakukan keburukan, ia berniat melakukan yang lebih keburukan pun tidak terbatas.

Jika dibandingkan amal tanpa Niat dan Niat tanpa amal, maka tidaklah diragukan bahwa Niat tanpa amal lebih baik daripada amal tanpa Niat.
Jika amal yang mendahului Niat ditimbang dengan Niat yang didahului amal, maka Niat pun lebih baik, karena ia adalah kehendak yang timbul dari dasar pengetahuan dan ia lebih dekat pada hati.
Maka dalam setiap keadaan, Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya sebagaimana dikatakan oleh hadits diatas.

Menurut al-Imam Abdur Ro’uf al-Munawi :
“Niat orang mukmin lebih baik dari pada amalnya dan Niat orang fasik lebih buruk daripada amalnya.” diriwayatkan dari beberpa jalur sehingga dapat menutupi kekurangannya;
karena Alloh swt mengekalkan hamba-Nya di sorga bukan karna amalnya, namun karena Niatnya .. Sebab seandainya karena amal, ia akan berada di sorga sesuai dengan jangka waktu amal yang dilakukan berikut pelipat-gandaannya, namun kedudukannya melampaui semua itu karena Niatnya.
“IA BERNIAT MENTA’ATI ALLOH SELAMANYA DAN MENGIKUTI NABI MUHAMMAD SELAMANYA”
Demikian pula orang kafir, seandainya ia dibalas dengan amal perbuatannya, ia tidak akan layak kekal di neraka, namun sesuai dengan jangka waktu kekufurannya, tetapi karena ia berniat tetap dalam kekufuran selamanya, dan itulah yang menyebabkan kekekalannya di neraka.”

Ibnu Rojab mengomentari hadits diatas :
“Keutamaan tidaklah diraih dengan banyaknya amal badan, tetapi dengan keikhlasan hati dan benar caranya mengikuti sunnah, serta dengan banyaknya pengetahuan hati dan bayaknya niat dalam hati.
Jadi siapa yang paling mengetahui tentang perintah Alloh, agama-Nya, hukum-hukum-Nya, serta syari’at-Nya, dan dia paling takut kepada-Nya, paling mencintai-Nya, serta paling besar harapan kepada-Nya, maka dia lebih utama dibandingkan seseorang yang keadaannya tidak demikian, walaupun dia lebih banyak beramal dengan anggota badannya.”

Menurut Abul-Hakam ‘Umar bin Abdur Rohman bin Ahmad bin Ali al-Kirmani
“Niat orang mukmin lebih baik dari pada amalnya -yang tidak disertai niat” .. sebab kalau yang dimaksud .. “Niat orang mukmin lebih baik daripada amal -yang disertai niat” .. berarti sesuatu yang lebih baik dari dirinya sendiri adalah yang disertai yang lain.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw menyatakan “Niat orang mukmin lebih baik dari pada amal”, karena Niat adalah ibadah hati, sedangkan amal merupakan ibadah tubuh .. tentu saja amal hati lebih utama daripada amal tubuh .. tentu saja amal hati lebih berbekas dan lebih bermanfaat .. karena hati adalah pimpinan sedangkan tubuh adalah rakyat .. tentu saja amal pimpinan atau raja lebih mulia derjatnya dan lebih agung kedudukannya .. selain itu amal bersifat tebatas, sedangkan Niat tidak terbatas, sebab orang yang beriman berjanji mentaati Alloh swt dan Rosululloh saw sepanjang hidupnya.”

Bisa juga ma’nanya “Niat lebih baik daripada bagian yang berupa amal”, karena tidak dicampuri riya’, atau “Niat lebih baik daripada sejumlah kebaikan yang diwujudkan dalam amal” karena Niat perbuatan hati .. Sedangkan perbuatan yang paling mulia tentu derajatnya lebih mulia, karena tujuan ketaatan adalah menyinari hati, maka sinar dari Niat lebih terang karena merupakan sifatnya hati.

GIGITLAH NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH DENGAN GIGI GERAHAMMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ الله

Niat tidak cukup hanya berupa keinginan dalam hati .. tapi harus diikuti tindakan yang sungguh-sungguh dengan mencerminkan keinginannya ..
Niat .. eksistensinya tidak hanya berada di awal pekerjaan tapi tetap terus terjaga sampai akhir pekerjaan ..

Pernahkah anda mengikuti atau melihat lomba bawa kelereng dalam sendok yang digigit ..?
Jika anda hanya mengikuti, tanpa disertai usaha untuk membawanya secara hati-hati, dengan berjalan sembarangan atau bahkan berlari cepat, apa yang terjadi ..?
Kelerengnya pasti jatuh .. Dan anda dinyatakan gagal ..!
Demikian pula dengan niat .. jika anda niat hanya di awal saja, sementara di tengah perjalanan anda tidak menjaga niatnya .. bahkan anda sampai lupa sedang mengerjakan apa .. maka inipun tentu akan berakibat kegagalan ..

Sebelum berlomba kita harus mengerti benar aturan mainnya dan tau persis apa yang akan kita lakukan .. Dan tau pula hadiah yang bakal kita terima jika berhasil ..
Setelah perlombaan dimulai .. kita harus tetap sadar bahwa kita sedang mengikuti lomba kelereng dan harus sabar serta hati-hati membawanya sampai perlombaan selesai ..

Agar tetap dapat menghayati niat kita perlu memahami hakikatnya .. merasakan dengan penuh kesadaran dan meni’matinya dengan penuh harapan hadiah sorga ..

IBADAH MERUPAKAN KEBUTUHAN MANUSIA LEBIH DARI PADA KEWAJIBAN

Bagi seorang muslim, setiap amal yang dilakukanya tentu harus didasari pada ilmu, semakin banyak ilmu yang diketahui, dimengerti dan dipahami, akan mengantarkan seseorang dapat mewujudkan amal ibadah yang bisa mendekatkan dirinya kepada Alloh swt.

Ibadah adalah sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke Maha Sucian Alloh baik yang berupa perintah, larangan, anjuran maupun informasi-informasi, serta bersikap penuh kasih-sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

“Manusia diciptakan tiada lain hanya untuk beribadah kepada-Nya.”
ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya dilakukan sebagai wujud penghambaan kepada Alloh swt.

Maka seorang mukmin yang sejati ialah dia yang selalu sadar akan hakekat penciptaannya ini, dari kesadarannya ini memancar ke dalam cara berpikir dan prilaku kepribadiannya.

Setiap helai pemikiran, ucapan dan perilakunya mengandung ketundukan tulus kepada Alloh swt.
Mandi, berpakaian, makan, minum, olahraga, bekerja, tegur-sapa, berkeluarga dan seluruh aktifitas dima’nakan serupa dengan sholat, puasa, zakat dan ritual lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari.

Dengan begitu, tidak akan ada ruang, atau paling tidak sedikit ruang bagi aktifitas-aktifitas yang bukan ibadah.
Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan.

Jadi, nilai setiap aktifitas kita di hadapan Alloh swt tergantung pada pema’naannya secara filosofis, baik sebelum, sekarang maupun sesudah pelaksanaannya.
Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh saw:
“Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya.”

Jika dia beraktifitas dengan Niat rela untuk melaksanakan perintah Alloh swt dan Rosul-Nya saw, maka demikianlah Alloh dan Rosul akan menilainya.
Namun jika ia beraktifitas karena perkara duniawi atau karena menuruti kehendak nafsu pribadinya, maka nilai aktifitasnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja.

IBADAH HANYA UNTUK ALLOH

Alloh swt berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah–Ku.”
(QS.51:56).

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu -waktu- yang diyakini -ajal-.” (QS Al-Hijr [15]:99 )

Ibadah adalah menyembah, mengabdi dengan ta’at kepada Alloh swt, apabila seseorang menjadi “abdi” seorang hamba atau hamba sahaya tentu saja ia tidak memiliki sesuatu .. Apa yang dimilikinya adalah milik tuannya, dia adalah anak panah yang dapat digunakan tuannya untuk tujuan yang dikehendaki sang tuan, dan dalam saat yang sama dia juga harus mampu memberi aroma yang harum pada lingkungannya.

Pengabdian bukan hanya sekedar keta’atan dan ketundu’an, tetapi ia adalah satu bentuk ketundu’an dan keta’atan yang mencapai puncaknya, akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi, serta sebagai dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakekatnya.

Empat unsur pokok yang merupakan hakekat ibadah:
1. Si pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak memiliki sesuatu. Apa yang “dimiliknya” adalah milik tuannya.
2. Segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi.
3. Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya ia mengabdi.
4. Si pengabdi yakin bahwa jiwa raganya dikuasai oleh siapa yang dia mengabdi kepada-Nya.

Quraisy Shihab dalam tafsirnya berpendapat bahwa, ibadah atau pengabdian yang dimaksud dalam surat al-Fatihah ayat ke lima:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.”
Kalimat ini tidak terbatas pada hal-hal yang diungkapkan oleh ahli hukum islam “fiqih” ya’ni sholat, zakat, puasa, dan haji .. tapi mencakup segala macam aktifitas manusia, baik pasif maupun aktif, sepanjang tujuan dari setiap gerak dan langkah itu adalah Alloh swt. Sebagaimana tercermin dalam pernyataan yang di ajarkan oleh Alloh swt:

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku -kesemuanya- demi karena Alloh Pemelihara seluruh alam semesta raya.” (QS.[6]:162).

Kaum sufi menjelaskan bahwa ada perbedaan antara “ibadah”-pengabdian- dan “ubudiyah”-penghambaan diri- kepada Alloh swt.
Ibadah adalah melakukan hal-hal yang dapat membuat ridho Alloh .. sedang “ubudiyah” adalah meridhoi apa yang dilakukan Alloh swt.

Ibnu Sina membagi motifasi ibadah menjadi tiga :
1. Pertama yang terendah adalah karena takut akan siksa-Nya, di ibaratkan dengan seorang hamba sahaya yang melakukan aktifitas karena dorongan takut bila merasa dilihat oleh tuannya.
2. Karena mengharap sorga-Nya, ini diibaratkan sebagai pedagang yang tidak melakukan aktifitas kecuali guna meraih keuntungan.
3. Karena dorongan cinta, bagaikan Ibu terhadap bayinya. Inilah yang dinamakan ubudiyah.

Alloh swt berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh ..?” (QS. 4:125).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk -Niat- beribadah -menyembah- Alloh dengan ikhlas -memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan- agama dengan lurus.” (QS:98:5).

KEBERSAMAAN DALAM IBADAH

Alloh swt berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.” (QS.1:5)

Kata “kami” atau “kekamian” artinya “kebersamaan” yang digunakan ayat ini mengandung beberapa pesan :

1. Untuk menggambarkan bahwa ciri has ajaran islam adalah kebersamaan .. Seorang muslim harus selalu merasa bersama orang lain, tidak sendirian, atau dengan kata lain, setiap muslim harus memiliki kesadaran sosial.

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Hendaklah kamu selalu bersama-sama -bersama jama’ah- karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.”

Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya, sehingga setiap muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw: “bagaikan satu jasad yang merasakan keluhan, bila satu organ merasakan penderitaan.”

Kesadaran secara -khusus- akan kebersamaan -sesama saudara muslim- ini tidak terbatas hanya pada lahiriyahnya saja, akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah pada bathiniyahnya, karena “kekamian” disini secara bathin tidak bisa ditampakkan ke permukaan, karena menyangkut ibadah kepada Alloh swt .. Kesadaran tersebut wajib ditanamkan dalam kepribadiannya.

Secara -umum- kesadaran juga perlu ditanamkan dalam diri setiap pribadi muslim atas dasar prinsip bahwa seluruh manusia adalah satu kesatuan.
“Kamu semua berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah.”
Rasa inilah yang menghasilkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”

Seseorang yang diperkaya dengan kesadaran keterikatannya dengan sesamanya, tidak akan merasakan apa pun kecuali derita ummat manusia.
Ia akan berkawan dengan sahabat manusia, seperti pengetahuan, kesehatan, kemerdekaan, keadilan, keramahan dan sebagainya, dan dia akan bersetru dengan musuh manusia, seperti kebodohan penyakit, kemiskinan, prasangka, dan sebagainya.

2. Sesorang yang membaca “iyyaka na’budu” -Hanya kepada-Mu kami mengabdi- dengan menonjolkan kekamiannya, pada hakekatnya menanamkan kedalam jiwanya sambil mengadu kepada Tuhan bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih melum mencapai kesempurnaan .. Sholatnya nelum khusyu’, pikirannya masih melayang, ruku’ dan sujudnya belum sempurna, bacaan-bacaanya belum terhayati dan lain sebagainya.
Namun demikian ia seakan-akan berkata kepada Alloh :
“Ya Alloh .. Aku datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada aku .. Gabungkanlah ibadahku dengan ibadah mereka .. Agar Engkau menerima pula ibadahku ..”

Salah satu hakekat ibadah adalah menyadari bahwa apa yang berada dibawah genggaman tangan si pengabdi atau yang menjadi -miliknya- pada hakekatnya adalah milik siapa yang kepada-Nya ia mengabdi.

Dalam hal ini bagi pengucap: “iyyaka na’budu” -adalah hanya kepada Alloh-, jika demikian, maka si pengucap dengan menghayati ma’na ibadah yang diucapkannya itu, telah menjadikan diri dan segala apa yang berada dalam genggaman tangannya menjadi milik Alloh swt semata-mata, tidak sedikitpun yang tersisa .. Bukankah ia telah menyatakan “hanya kepada-Mu ..?”

Alloh “pemilik“ hari perhitungan, “Maliki yaumiddin” mempunyai kekuasaan, kemampuan dan wewenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya .. berbeda dengan kepemilikan manusia.
Nah , ketika kita berkata “iyyaka na’budu” arti pemilkan Alloh seperti yang tersebut diatas -pemilik mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, di kritik atau dikecam- .. karena kita telah menyatakan -dihadapan-Nya- “iyyaka” .. Lalu disni muncul kalimat “na’budu” -hanya kepada-Mu- .. ini berarti “penyerahan hak milik” .. Bukankah “na’budu” mengandung arti “kami milik-Mu .?”

Demikian “kehadiran diri” si pengabdi yang kecil, lemah, tidak berdaya ini, dan “kehadiran Alloh” Yang Maha Besar lagi Agung itu, dicakup oleh kalimat yang sungguh sangat singkat “iyyaka na’budu”, tetapi tidak heran karena ia adalah firman-Nya yang diajarkan untuk kita ucapkan sehari-hari.

WA IYYAKA NASTA’IN -Hanya kepadamu kami memohon pertolongan-.
Mengandung ma’na bahwa kepada selain Alloh, si pengucap tidak memohon pertolongan.

Penggalan ayat ini tidak bertentangan dengan sekian banyak ayat dan hadits yang memerintahkan manusia untuk saling tolong menolong, seperti firman-Nya:
“Tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa.” (QS.5:3)
Atau sabda Nabi Muhammad saw:
“Alloh akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.”
Ayat dan hadits ini tidak bertentangan dengan kandungan ayat 5 surat al-fatihah, yang membetasi permohonan bantuan hanya kepada Alloh semata .. ini karena ada pertolongan yang berada dalam wilayah kemampuan manusia, dan ada pula yang diluar batas wilayah kemampuannya.

Dalam kehidupan ini, ada yang dinamai hukum-hukum alam atau “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Alloh-, yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata, seperti hukum-hukum sebab dan akibat.

Manusia mengetahui sebagian dari hukum-hukum tersebut .. ambillah contoh seorang yang sakit, ia lazimnya dapat sembuh apabila berobat dan mengikuti saran dokter .. tetapi jangan diduga bahwa dokter atau obat yang diminum yang menyembuhkan penyakit yang diderita itu .. Tidak .! Yang menyembuhkan adalah Alloh swt.

Kenyataan menunjukkan bahwa sering kali dokter telah “menyerah” dalam mengobati seorang pasien, bahkan telah memperkirakan batas waktu kemampuannya bertahan hidup. Namun dugaan dokter tersebut meleset, bahkan si pasien tak lama kemudian segar-bugar.
Apa arti semua itu .? Apa yang terjadi bukan sesuatu yang lazim. Ia tidak berkaitan dengan hukum sebab akibat yang selama ini kita ketahui.

Jika demikian, dalam kehidupan kita disamping ada yang dinamai “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Ilahi yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata seperti hukum sebab-akibat, dan ada juga yang dinamai “innayatulloh” -pertolongan dan bimbingan Alloh diluar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Ini dalam bahasa al-Qur’an dinamai dengan “madad”. Hanya saja perlu diketahui bahwa “madad” itu pun datang setelah ada upaya sebelumnya dari manusia.

Berkenaan dengan sunnatulloh atau hukum alam seperti hukum sebab dan akibat ..
Siapakah yang mengaturnya ..? Siapakah yang menjadikan ..? Siapakah yang mewujudkannya ..?
Kesembuhan seorang penderita, apakah disebabkan oleh obat yang diminumnya atau petunjuk dokter yang dita’atinya ..? Keduanya tidak .!
Ucapan Nabi Ibrohim as yang diabadikan oleh al-Qur’an:
“Kalau aku sakit, maka Dia -Alloh- yang menyembuhkan aku.” (QS.26:80)

Manusia atau alat yang digunakan, seperti obat bagi kesembuhan atau senjata untuk kemenangan atau alat apa saja untuk mencapai tujuan, kesemuanya hanyalah “perantara-perantara” dan pada akhirnya adalah ALLOH ALQOWIYYUL -’ALIM -Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ini berarti kita dituntut, sebelum ke dokter agar terlebih dahulu menghadapkan wajah dan jiwa kepada Alloh swt, memohon kiranya Dia memberikan pertolongan berupa kemudahan kepada dokter agar dapat mendiagnosa penyakit dan memberi obat yang sesuai .. sambil mengharapkan pula agar obat yang diberikannya itu sesuai, sehingga penyakit yang dideritanya dapat sembuh.

Demikian juga sebelum melangkahkan kaki ke rumah teman untuk meminjam sesuatu, maka hadapkanlah jiwa kepada Alloh, semoga Dia memberi kemampuan kepada teman yang dituju untuk bisa membantu, dan semoga Alloh melunakkan hatinya, sehingga ia tergugah untuk meringankan beban kita .. Demikian seterusnya ..

Tidak ada alasan untuk meragukan adanya “innayatulloh” ini, karena tidak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dengan peristiwa yang terjadi berulang-ulang kali, selama kita percaya bahwa yang mewujudkannya adalah Alloh, Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Nah , kalau demikian halnya, maka menjadi sangat logis apabila ayat ke lima ini mengajarkan kepada kita untuk menegaskan “dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan, baik bantuan itu termasuk dalam hukum sebab dan akibat yang telah kita ketahui, atau “sunnatulloh”, maupun diluar “sunnatulloh” yang dinamai “innayatulloh”.

Namun sekali lagi harus di ingat bahwa pertolongan Alloh yang berada diluar wilayah hukum sebab-akibat itu tidak dapat terjadi atau diperoleh tanpa mengikuti petunjuk yang telah digariskan oleh Alloh swt dan Nabi Muhammad saw.
“Mintalah bantuan -kepada Alloh- melalui kesabaran dan sholat.” (QS.2:45).

Salah satu aspek kesabaran tersebut adalah kesabaran dan ketabahan dalam melaksanakan peranan yang dituntut dari si pemohon, ya’ni ketabahan dalam melaksanakan tugas atau menanggulangi problema.
Tetapi kerja keras dan ketabahan saja belum cukup untuk mencapai bantuan Ilahi .. masih dibutuhkan lagi sholat, baik dalam arti do’a maupun dalam arti gerak dan bacaan tertentu yang dimulai dengan tulus NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH ..

Kehidupan bermasyarakat yang sehat adalah pada saat setiap anggotanya betapa pun terdapat perbedaan pendapat, semua harus menghargai aturan yang berlaku.
Demikian juga semua indifidu harus menghargai aturan, kode etik, batasan serta memberikan cinta dan kasih sayang kepada indifidu yang lain atau anggota masyarakatnya .. Kalau ini dapat diwujudkan, maka syarat pertama dari “kehadiran Ilahi” terpenuhi .. Itulah bantuan Alloh yang didambakan datang melalui kerja sama antara manusia ..

Manusia ebagai makhluk sosial, setiap orang harus sadar bahwa ia bergantung kepada pihak lain, dimana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, atau usaha kelompoknya bahkan usaha bangsanya sendiri ..
“Hidup .. baru mungkin akan terasa nyaman apabila dibagi dan berbagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama ..”

Ayat lima ini mendahulukan “iyyaka na’budu” atas “iyyaka nasta’in” merupakan upaya ibadah mendekatkan diri kepada Alloh, lebih wajar untuk didahulukan daripada meminta pertolongan-nya.
Bukankah sebaiknya anda mendekat lebih dulu sebelum meminta ..?
Disisi lain ibadah dilakukan oleh yang bermohon, sedang meminta bantuan adalah mengajak fihak lain untuk ikut serta.
Memulai dengan upaya yang dilakukan sendiri, lebih wajar didahulukan daripada upaya meminta bantuan fihak lain.

Selanjutnya salah satu hal yang diharapkan bantuan-Nya adalah menyangkut -pahala- ibadah itu sendiri, sehingga menjadi sangat wajar menyebut ibadah terlebih dahulu yang merupakan tujuan .. Baru kemudian membulatkan tekad mewujudkannya agar dibantu antara lain dalam meraih kesempurna’an ibadah itu sendiri ..
Bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih belum mencapai kesempurna’an, maka ia datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada dirinya .. Sehingga Alloh menggabungkan ibadahnya dengan ibadah mereka .. Agar Alloh menerima pula ibadahnya ..

“Permohonan bantuan kepada Alloh adalah agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang bermohon dengan upaya sendiri.”

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag