CINTA DAN HARAPAN

DO’A NABI MUHAMMAD SAW

Nabi Muhammad Rosululloh saw berdo’a kepada Robb-Nya:
“Yaa Alloh ..
Sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai Mu, dan amal yang dapat membuatku memperoleh cinta-Mu ..
Yaa Alloh ..
Jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cinta terhadap diriku sendiri, keluargaku, dan melebihi cintanya orang yang kehausan terhadap air yang dingin.” (HR. Tirmidzi)

Dalam catatan sejarah, kaum muslimin telah menempuh perjalanan cinta yang sangat indah dan mengagumkan ..
Mereka mengenal dengan baik liku-liku cinta yang mengantarkan mereka pada kemuliaan serta kebahagiaan dunia dan akherat ..
Dengan penuh percaya diri mereka meniti jalan cinta itu dengan kekuatan yang luar biasa .. Hal itu karena mereka memiliki kekuatan cinta yang luar biasa ..

Mereka mengenal dengan cermat rambu-rambu cinta yang mereka tempuh ..
Seolah-olah mereka memiliki peta lengkap yang tersimpan dalam kekuatan cinta sebagai kunci “harta_karun” untuk mencapai tujuan sekaligus untuk dapat memiliki kekuatan arus aliran “amal yang bermuara” ..
Kendati demikian mereka tetap sadar bahwa tidak ada daya dan upaya serta kekuatan sama sekali tanpa adanya pertolongan Alloh swt ….

CINTA dn kehendak hati yg murni didasari ilmu Ilahi,
tidak terkotori nafsu adalah kekuatan kaum penjelajah cinta,
sekaligus kunci keberhasilan mereka mengungguli ummat-ummat yang lain ..

DO’A MALAIKAT UNTUK ORANG YANG BERIMAN

Alloh swt berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih memuji Tuhan (pemelihara mereka) dan mereka (semuanya senantiasa) beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya berdo’a):
“Tuhan kami, engkau telah meliputi segala sesuatu dengan rohmat dan ilmu-Mu, maka ampunilah orang-orang yang telah bertaubat (dengan tulus) dan mengikuti jalan-Mu (yang lurus), dan peliharalah mereka dari siksaan neraka jahim (yang menyala-nyala).
Tuhan kami .. masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang telah engkau janjikan kepada mereka (melalui rosul-rosul-Mu, dan masukkan juga) siapa yang sholeh (dan siapa yang wajar masuk sorga) di antara bapak-bapak mereka, dan pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-kerturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa (tidak ada yang menolak ketetapanmu) lagi Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Mu.
Dan (disamping permohonan permohonan kami agar orang-orang beriman memperoleh pengampunan-Mu dan ni’mat sorgawi serta bergabung dengan keluarga mereka, kami juga memohon) Hindarkanlah mereka dari balasan keburukan.
Dan orang-orang yang Engkau hindarkan darinya balasan keburukan pada hari (akhirat) itu, maka sesungguhnya (itu berati) Engkau telah merohmatinya, dan itulah dia kemenangan yang agung.” (QS. Al-Mukmin [40]: 7-9).

قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Alloh berfirman (menyampaikan informasi kepada seluruh manusia bahwa):
“Siksa-Ku akan Kutimpakan (baik di dunia maupun di akhirat) kepada siapa yang Aku kehendaki (masing-masing sesuai pelanggaran yang di lakukannya) dan rohmat-Ku meliputi segala sesuatu (yang wujud di jagad raya ini, masing-masing memperoleh sesuai dengan kebijaksanaan-Ku).
Maka akan Aku tetapkan rohmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa (yang melaksanakan perintah-perintah-Ku dan menjauhi larangan-larangan-Ku).
Yang menunaikan zakat (yang membantu meringankan beban orang-orang lemah melalui zakat dan shodaqoh) dan mereka (yang membenarkan) ayat-ayat Kami, terus-menerus beriman (dengan hati dan perbuatan mereka).” (QS. Al-A’roof. [7]: 156)

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ
فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa (yang mantab ketakwaanya) berada dalam taman-taman (sorga yang sangat indah dan amat luas dan meni’mati aneka) keni’matan (ukhrowi yang tidak terlukiskan kata-kata, di sana mereka selalu dalam keadaan) suka ria, (berbangga dan berbahagia) dengan apa yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan (pemelihara dan pencurah rohmat buat) mereka.
(Jangan duga keni’matan itu didahului oleh siksa atau kesusahan. Tidak .! Alloh senantiasa memperhatikan mereka) dan Tuhan mereka itu, memelihara mereka dari siksa neraka, (sehingga sesaatpun mereka tidak disentuh oleh kepanasan dan siksanya).
(Di dalam sorga yang mereka huni selalu tersedia aneka hidangan dan selalu dikatakan kepada mereka):
“Makan dan minumlah dengan enak (tanpa sedikitpun kekurangan atau dampak buruk dari hidangan yang tersedia itu, itu semua) sebagai balasan dari apa yang (dahulu di dunia) telah kamu kerjakan.”
Mereka bertelekan diatas dipan-dipan berderetan, dan Kami jadikan mereka berpasangan dengan (bidadari) Hurin ‘In.” (QS. Ath-Thur : 17-20)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman (yang berhak masuk ke dalam sorga) dan anak cucu mereka (atau ibu bapak mereka) yang mengikuti mereka dalam keimanan (walaupun anak cucu atau ibu bapak itu tidak mencapai derajat ketakwaan yang dicapai ibu bapak atau anak mereka), Kami hubungkan anak cucu (dan orang tua) mereka dengan mereka (sebagai anugerah kepada ibu bapak atau anak itu berkat ketaatan mereka), dan kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka (ya’ni pahala ibu bapak atau anak-anak tersebut disebabkan karena anugerah penghubungan itu). Setiap manusia terikat (bertanggung jawab) dengan apa yang dia kerjakan sendiri (dan seseorang tidak dihukum dengan dosa orang lain).” (QS. Ath-Thur : 21)

Ayat di atas merupakan suatu penyampaian berita gembira tentang anugerah Alloh kepada orang-orang beriman, bahwa anak-cucu mereka akan mengikuti mereka masuk ke sorga, sehingga lebih sempurna lagi kegembiraan mereka.
Atas dasar itu maka pengertian harokat tanwin pada kata `bi iman-in` bukan menunjukkan kebesaran iman itu, tetapi `kesederhanaannya dalam mencapai batas minimal` walau tidak mencapai peringkat iman orang tua mereka.

Sementara ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan anak-cucu yang diikutkan itu adalah anak-anak yang belum dewasa. Tetapi pendapat ini kurang tepat, karena yang belum dewasa belum lagi dituntut dari mereka satu taklif (kewajiban keagamaan), sehingga mereka secara otomatis dinilai beriman mengikuti iman orang tuanya.
Karena itu penyebutan kata bi iman pada ayat diatas justru menunjukkan bahwa yang di maksud adalah anak keturunan yang telah dewasa dan yang telah memikul taklif atau beban.

Perbedaan antara kata ittaba’athum dengan alhaqna bihim. Yang pertama menunjukkan adanya kesamaan antara yang mengikuti dan yang diikuti dalam bidang keikutan tersebut, ya’ni keduanya beriman dengan obyek iman yang sama dan sah, sedang alhaqna mengandung ma’na keikutan tetapi yang mengikuti tidak mencapai apa yang dicapai oleh yang diikutinya.
Kata alhaqna ini sengaja digunakan karena kata ini dapat mengadung isyarat `kesegeraan atau keterlambatan`.

Kata alatna terambil dari kata walata atau al-ata yang berati `mengurangi`. Pernyataan ayat diatas tentang tidak dikuranginya ganjaran orang tua, untuk menghindarkan kesan bahwa pengikutan anak cucu mereka bersama mereka, mengakibatkan berkurangnya ganjaran mereka.

Sementara ulama juga berpendapat bahwa termasuk yang dihubungkan juga dengan orang-orang beriman yang mencintai mereka, berdasarkan sabda Rosululloh saw: “seseorang akan bergabung bersama siapa yang dia cintai.” (HR. Bukhori Muslim melalui Anas bin Malik).

Kata rohin terambil dari kata rohn berma’na `gadai`. Jika anda menggadaikan sesuatu, maka anda memberinya untuk menerima sesuatu yang lain.
Sementara ulama memahami penggalan ayat diatas dalam arti, `setiap manusia akan mengambil sesuatu sesuai dengan kadar yang berhak diterimanya`.
Seorang yang sholeh akan mengambil anaknya disebabkan oleh kesholehannya, karena anak adalah bagian dari apa yang telah diusahakannyaan ini sebagai dampak dari keimanan sang anak, karena itu dia digabungkan dengan orang tuanya.
Adapun jika seseorang melakukan kejahatan, maka itu hanya berdampak buruk pada dirinya sendiri. Dia akan terikat dalam arti terhalangi dari perolehan keni’matan oleh dosanya.

Disisi lain kata rohn juga mengandung ma’na `menitipkan sesuatu kepada pihak yang dipercaya guna memperoleh yang lain`, namun sesuatu yang anda berikan itu pada saatnya anda akan terima kembali secara utuh, bila anda mampu menebus apa yang tadinya anda terima. Anda menerimanya kembali karena anda telah menyerahkannya kepada yang terpercaya.
Dengan ma’na tersebut, ayat diatas bagaikan menyatakan bahwa semua manusia terpelihara disisi Alloh swt, sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya. Jika tiba masanya, maka Alloh akan mengembalikan amal masing-masing dalam substansi dan buah amal-amal itu berupa ganjaran atau siksa.

Kesimpulannya, setiap manusia telah tergadai disisi Alloh swt, ia baru dapat melepaskan dirinya yang tergadai itu, bila ia menebusnya dengan amal-amal sholeh. Jika ia tidak beramal sholeh yang cukup untuk menebus dirinya, maka ia akan terjerumus ke neraka.
Ini sesuai dengan firma Alloh swt:
“Tiap-tiap diri tergadai atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali kelompok kanan.” (74:38)
Ya’ni penghuni sorga yang berhasil menebus jiwa yang tergadai itu dengan amal-amal sholehnya.

Keberadaan bersama keluarga sebagaimana diuraikan oleh ayat yang lalu, walaupun merupakan ni’mat yang besar, namun itu bukanlah satu-satunya ni’mat Alloh swt buat orang-orang yang bertakwa.

وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ
يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لا لَغْوٌ فِيهَا وَلا تَأْثِيمٌ
وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ

“Dan (disamping anugerah tempat tinggal yang nyaman, serta hidup bersama anak-anak itu) Kami (juga) memberi mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan.
Didalam sorga itu mereka (senantiasa bersenda gurau kerena keakraban dan kemesraan mereka dan sebagai bukti kemesraan itu mereka (saling memperebutkan (atau saling memberi dan menerima) piala (gelas minum yang penuh dengan khomer ukhrowi) yang (kandungannya tidak memabokkan atau mengurangi daya kontrol peminumnya, dan karena itu pula) tidak ada sesuatu sikap dan kata-kata) yang tidak berfaedah yang di sebabkan olehnya, dan tidak ada pula perbuatan dosa (sebagaimana halnya minuman keras di dunia ini. _misalnya perkelahian dan caci maki), dan (bersamaan dengan itu) berkeliling (datang bolak-balik juga) disekitar mereka anak-anak muda (yang merupakan pelayan-pelayan sorgawi) untuk (melayani) mereka (secara husus. Pelayan-pelayan itu sungguh tampan dan cantik, berpenampilan indah dan bersih) seakan-akan mereka mutiara yang tersimpan (dalam tempatnya, sehingga tidak dikeruhkan oleh polusi udara dan kotoran lainnya.
(52:22-24)

Kata `amdadnahum` biasa digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan `anugrah yang silih berganti dari saat ke saat`. Berbeda dengan `madda` yang digunakan untuk `kedatangan bencana` atau `hal-hal yang tidak menyenangkan`.

Penyebutan dua jenis makanan secara husus ya’ni daging dan buah-buahan, karena kebiasaan masyarakat Arab adalah memakan kedua jenis itu sambil minum arak, dengan keduanya mereka berusaha mengurangi dampak kehangatan minuman keras dengan daging dan menghilangkan bau arak dengan buah-buahan.

Kata `yatana za’una` digunakan dalam arti `saling memberi dan menyodorkan`, dapat juga difahami dalam arti saling berebut karena mereka begitu akrab dan selalu bersenda gurau.

Kata `ghilman` adalah bentuk kata dari `gholam` yang ma’nanya adalah `anak muda` bertugas melayani seseorang , dengan kata `lahum` `untuk mereka , ayat di atas bermaksud menyatakan bahwa para `ghilaman itu diperuntukkan secara husus buat mereka.
Ayat di atas tidak menyatakan `ghilmanuhum` agar tidak timbul kesan bahwa para pelayan itu adalah mereka yang pernah melayani orang-orang bertakwa dalam kehidupan dunia. Kesan ini dapat muncul karena sebelumnya telah dinyatakan bahwa anak-anak mereka dihubungkan dengan orang tuanya.

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

“Dan sebagian merka datang kepada sebagian yang lain (untuk bercengkrama dan) saling tanya menanya (tentang keadaan mereka serta amalan yang mengantar mereka meraih anugerah Alloh itu) mereka (semua) berkata:
“sesungguhnya kami dahulu (sebelum memperoleh keni’matan ini, sewaktu kami masih berada ) di tengah-tengah keluarga kami (dalam kehidupan dunia, kami) adalah orang-orang yang (benar-benar merasa) takut (dan prihatin ditimpa siksa Alloh, dan inilah yang mendorong kami untuk terus-menerus melakukan kebajikan dan mendekatkan diri kepada-Nya, sambil senantiasa membimbing dan menasehati keluarga kami)”.
Maka (sebagai imbalan atas sikap dan amalan itu, berkat kemurahan-Nya) Alloh telah mengkaruniakan kepada kami (aneka keni’matan) dan memelihara kami dari siksa neraka (yang panasnya menusuk ke dalam bagaikan racun yang menembus kekebalan tubuh).
Sesungguhnya kami dahulu sebelum (memperoleh ni’mat) ini (ketika masih di dunia, kami senantiasa) menyembah (dan berdo’a kepada)-Nya (agar kami bersama keluarga kami dianugerahi keselamatan dan kebahagiaan duniawi dan ukrowi. Al-Hamdulillah Dia mengabulkannya, karena) sesungguhnya Dialah (tiada selain-Nya) Yang Maha Luas kebajikan-Nya lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Thur [52]:25-28).

MENGENAL ROHMAT ALLOH

SALAMUN ‘ALAIKUM .. Semoga kesejahteraan selalu menyertai kamu, serta keselamatan dan keterhindaran dari segala bencana ..
كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
“Tuhan -Pemelihara dan Pembimbing- kamu -wahai seluruh makhluk- telah menetapkan atas diri-Nya rohmat -yang Dia janjikan untuk seluruh hamba-Nya, dan ketetapan itu tidak akan pernah berubah-
Bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu -apapun jenisnya- disebabkan oleh kejahilan -kecerobohan, dorongan nafsu atau amarah dan semacamnya- kemudian dia bertaubat setelah mengerjakan-Nya -menyadari dan menyesali kesalahannya, dan memohon ampun kepada Alloh- serta mengadakan perbaikan -terhadap jiwa dan aktifitasnya-,
maka -kejahatannya akan di hapus, karena- sesungguhnya Alloh Maha Pengampun -bahkan akan menganugerahkan kepadanya rohmat, karena Dia Pengampun- lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-An’am [6]: 54)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katatakanlah (pesan dari Alloh bahwa) :
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (akibat telah terlalu banyak dosanya), janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh (yang rohmat-Nya mencakup segala sesuatu serta mengalahkan amarah-Nya.
Sesungguhnya Alloh senantiasa mengampuni dosa-dosa semuanya (apapun dosa itu, selama yang berdosa bertaubat, menyesali perbuatannya, bertekad tidak akan mengulanginya dan memohon ampun kepada Alloh).
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)

Alloh swt amat cinta dan bergembira terhadap orang-orang yang segera bertobat dari dosa dan kemaksiatannya. Bahkan Alloh swt menegaskan, bahwa ampunan-Nya bagi orang-orang yang mau bertobat adalah selalu lebih besar dari dosa-dosanya. Namun sebaliknya, Alloh swt benci terhadap hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya.

Dalam hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda, bahwa Alloh swt berfirman:
“Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah sesuai dengan apa yang kamu panjatkan dan harapkan kepada Diri-Ku. Aku mengampuni kamu atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan dan Aku rela.
Hai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, lalu kamu memohon ampunan-Ku, pasti Aku mengampuni kamu.
Hai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu mendatangi Aku dengan memikul dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan suatu apapun, pasti Aku akan mendatangi kamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi dan ibnu Majah).

Dalam nada yang sama sebagaimana dituturkan Abu Dzar ra, Rosululloh saw bersabda, bahwa Alloh swt berfirman: 
“Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sedepa, Aku mendekat kepadanya sejengkal. Siapa saja yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari. Siapa saja yang menjumpai-Ku dengan memikul dosa sepenuh bumi selama dia tidak menyekutukan Aku dengan apapun maka aku akan menjumpainya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Muslim).

Anas juga berkata:
“Aku pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian berbuat dosa hingga dosa-dosa kalian memenuhi langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampunan kepada Alloh, maka pasti Alloh mengampuni kalian.” (HR. Ahmad).

Abu Huroiroh ra juga menuturkan bahwa Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jala, saat menciptakan makhluk, Dia menuliskan pada makhkuk itu di atas ‘Arsy-nya: 
Sesungguhnya rohmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Muslim).

Karena itulah Rosululloh saw memberikan petunjuknya secara berulang kepada manusia untuk segara bertobat dari dosa-dosa. Ampunan Alloh swt kepada mereka merupakan rohmat-Nya kepada mereka.
Di antara petunjuk Rosululloh saw tersebut, sebagaimana dituturkan oleh Abu Dzar bahwa beliau saw bersabda, bahwa Alloh saw berfirman: 
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena itu, mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim).

Abu Huroiroh ra menuturkan, Rosululloh saw bersabda bahwa Alloh swt berfirman: 
“Hamba-Ku berbuat suatu dosa. Ia lalu berdo’a,
“Ya Alloh ampunilah aku atas dosa-dosaku.” 
Alloh swt berfirman: 
“Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang maha mengampuni dan menghapus dosa-dosa. Lalu dia kembali berbuat dosa. Kemudian ia pun kembali berkata:
“Ya Alloh ampunilah aku atas dosa-dosaku.”
Alloh swt berfirman:
“Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa. Lakukanlah apa pun sekehendak kamu maka sesungguhnya Aku pasti mengampunimu.” (HR Muslim).

Karena itulah, Rosululloh saw menyuruh kita untuk banyak bertobat kepada Alloh swt, sebagaimana sabdanya:
“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Alloh swt dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Alloh dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Muslim).

Tentu, Rosul saw bertobat bukan karena dosa-dosanya, karena beliau terpelihara dari dosa-dosa. Tobat beliau saw tidak lain merupakan bentuk makrifat beliau kepada Alloh swt.

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, Rosululloh saw bersabda:  
“Sesungguhnya Alloh melapangkan tangannya pada malam hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada siang harinya dan melapangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada malam harinya.” (HR. Muslim).

Dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:  
“Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, Alloh pasti menerima tobatnya.” (HR. Muslim).

Selain itu, sesungguhnya dosa yang diiringi dengan istighfar akan menambah makrifat kepada Alloh, pengakuan atas penghambaan kepada-Nya dan menambah upaya merendahkan diri di hadapan-Nya. Hal demikian lebih Alloh cintai daripada ketaatan yang diiringi dengan sikap ujub dan lalai.

JANJI JANJI ALLOH

BUMI DAN MANUSIA DICIPTAKAN
TIDAKLAH SIA-SIA

Alloh swt berfirman:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dia yang telah menciptakan langit berlapis tujuh dengan segala isinya, dan bumi yang terhampar dengan segala penghuninya dengan tujuan yang haq, dan disamping itu Dia telah membentuk kamu dengan satu bentuk yang unik, maka Dia telah membaguskan bentuk kamu sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian kamu semua berpotensi untuk berfungsi sesuai dengan fungsi yang merupakan tujuan Alloh menciptakan kamu ya’ni beribadah kepada-Nya dan hanya kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu.”
(QS. At-Taghobun [64]:3).

Penciptaan langit dan bumi dengan haq antara lain berarti dengan tujuan yang benar, ia tidak diciptakan Alloh secara sia-sia tanpa tujuan yang benar.
Manusiapun yang merupakan salah satu mahluk yang terdapat di bumi tidak diciptakan sia-sia tampa tujuan.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka apakah kamu durhaka dan melecehkan tuntunan Kami .? karena kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia tanpa hikmah dan kamu menyatakan bahwa kamu tidak akan di kembalikan kepada Kami, guna mempertanggung jawabkan semua amal kamu .? Sungguh kamu keliru jika mengira demikian.
Maka Maha Tinggi Alloh, Raja Penguasa Tunggal Yang Haq, yang tidak disentuh oleh kebatilan, kekurangan dan kepunahan, tidak ada Tuhan penguasa dan pengendali alam raya lagi yang berhak disembah selain Dia, Tuhan Pemilik dan Pengendali ‘Arsy yang mulia.”
(QS. Al-Mukminun [23]:115-116).

Pernyataan ayat di atas menunjukkan keniscayan adanya hari pembalasan.
Karena dalam kehidupan dunia ini, terbukti ada manusia yang baik dan berlaku adil dan ada pula yang sebaliknya.
Seandainya Alloh tidak memberi balasan kepada masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya, maka tentu hal tersebut mengakibatkan sia-sianya kebaikan yang berbuat baik.
Demikian juga harapan mereka yang belum terbalas kekejaman para penganiaya.

Firmannya:
“Maha Tinggi Alloh” ya’ni ketetapan-Nya pasti terlaksana , karena Dia adalah al-Maalik ya’ni Penguasa Tunggal.
Dan apa yang ditetapkan-Nya pastilah benar, karena Dia adalah al-Haq.
Selanjutnya karena Dia al-Haq maka sumber dari-Nya tidak ada yang sia-sia atau tanpa ma’na, antara lain bumi dan manusia.
Jangan duga ada yang dapat menyaingi dan membatalkan kehendak-Nya, Dia adalah Robbul ‘Arsy, ya’ni penguasa alam raya, yang bersumber dari-Nya segala ketetapan, dan yang kepada-Nya segala sesuatu akan kembali, termasuk manusia yang di ciptakan-Nya itu.

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Selanjutnya Alloh mengingatkan bahwa:
“Barang siapa yang menyembah Alloh Yang Maha Esa semata-mata, maka mereka itulah yang akan berbahagia dan mewarisi sorga.
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Alloh, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang penyembahan itu, apalagi demikian banyak bukti yang menunjukkan keesaan-Nya, maka sesungguhnya balasan perhitungannya di sisi Tuhannya akan dihitung dengan sangat teliti, dan itu akan di beritakan kepada masing-masing.
Oleh karenanya, katakanlah dengan berdo’a:
“Tuhanku , ampunilah aku dan ummat Nabi Muhammad , dan rohmatilah kami semua , Engkau adalah pengampun yang paling sempurna , dan Engkaulah adalah pemberi rohmat Yang Paling Baik.”
(QS. All-Mukminun [23]:117-118)

MANUSIA TERBAIK DAN TERENDAH

Alloh swt berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (fisik dan psikis) yang sebaik-baiknya (Ahsani taqwim).”
Arti yang sbaik-baiknya ya’ni dalam fungsi sebagai hamba Alloh dan kholifah di muka bumi.
Karena satu dan lain hal sehingga:
“Selajutnya Kami (Alloh bersama dengan manusia itu sendiri) mengembalikannya ke tingkat serendah-rendahnya (Asfala safilin).”
(QS. At-Tin [95]: 4-5)

Fisik, darah dan daging mendorong manusia melakukan aktifitas untuk mempertahankan hidup jasmani dan keturunannya, seperti makan minum dan hubungan seksual.
Sedangkan “RUH ILAHI” mengantarnya berhubungan dengan Penciptanya, karena jiwa tersebut bersumber langsung dari-Nya, menurut informasi al-Qur’an Alloh swt menyatakan: “MIN RUHY” ya’ni jiwa manusia itu dari Ruh-Nya. Dan inilah yang mengantar manusia berusaha menundukkan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Ruh Ilahi adalah daya tarik yang mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan “Ahsani taqwim”. Apabila manusia melepaskan diri dari daya tarik tersebut, ia akan jatuh meluncur ke tempat sebelum daya tarik tadi berperan dan ketika itu terjadilah kejatuhan manusia, asalnya dari tanah dikembalikan menjadi tanah, atau ketempat yang terendah. Sedangkan Ruhnya kembali kepada Pemilik-Nya.

Manusia yang mencapai tingkat setinggi-tingginya “Ahsani taqwim”, apabila terjadi perpaduan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kebutuhan fisik dan jiwa.
Tetapi apabila ia hanya memperhatikan dan melayani kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, maka ia akan kembali atau di kembalikan kepada proses awal kejadiannya, sebelum “Ruh Ilahi” itu menyentuh fisiknya, ia kembali ke “Asfala safilin”

ANUGRAH SORGA dan ANCAMAN NERAKA

Alloh menggembirakan dan mengancam dengan menyatakan:

وَعَدَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

“Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman yang ucapannya sesuai dengan isi hati mereka dan yang membuktikannya dengan beramal sholeh, bahwa untuk mereka ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan pahala yang besar, baik di dunia lebih-lebih di akhirat sebagai buah dan imbalan amal-amal baik mereka.” (5:9)

وَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Adapun orang-orang yang kafir yang menolak ajaran Rosul dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu jauh dari rohmat Alloh, mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka.” (5:10)

Biasanya .. sesesorang tidak memenuhi janji-janjinya , karena ia tidak tau apa yg akan terjadi , atau memang tidak mampu memenuhi janjinya , atau takut dn ada kepentingan yang lain ..
Hal-hal tersebut tidak mungkin menyentuh Alloh sedikit pun , karena sebab-sebab pengingkaran janji tidak ada pada diri-Nya ..
Karena itu Janji Alloh pasti terpenuhi dn ditepati-Nya ..

Memang janji-Nya yg berupa ancaman dapat tidak dipenuhi-Nya karena kasih sayang-Nya ..
Bukankah “Rohmat-Nya lebih besar daripada murka-Nya”
Ancaman-Nya pun ketika di sampaikan-Nya antara lain sekedar bertujuan menakut-nakuti , agar manusia menghindari apa yang di larang-Nya ..
Bukankah “Ancaman yg di batalkan , pada saat seseorang mampu menjatuhkannya adalah merupakan salah satu hal yg terpuji ..”
Hanya Alloh swt yg memiliki pujian dn berhak dipuji .. Segala Puji bagi Alloh yang memelihara alam semesta ..
Al-Hamdulillahirobbil-‘alamin ..

PERHITUNGAN ALAM DAN MANUSIA

 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
 
“Dan Kami jadikan malam dan siang dengan segala bentuk perputaran silih berganti antara keduanya sebagai dua tanda yang menunjukkan ke-Esa-an dan kekuasaan Kami.
Lalu Kami hapuskan tanda malam dengan mengusik terang sehingga kamu dapat beristirahat, dan Kami jadikan tanda siang terang benderang agar kamu dapat melihat dengan jelas guna mencari karunia dari Tuhan kamu.
Demikian jugalah hidup didunia ini silih berganti, karena itu tidak perlu tergesa-gesa karena semua ada waktunya, dan semua harus dipikirkan dan dipilih yang terbaik untuk masa depan yang cerah.
Dan supaya dipetik manfaat dari kehadiran malam dan siang agar kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dn perhitungan bulan, hari hari serta masa transaksi kamu dan segala sesuatu yang mendatangkan maslahat.
Dan segala sesuatu telah kami rinci dan terangkan dengan jelas supaya segalanya menjadi bukti yang meyakinkan kamu semua.”
(QS. Al-Isro’ [17]: 12)

“Diantara ayat-ayat-Nya adalah malam dan siang serta matahari dan bulan.”
(QS. At-Taghobun [64]: 37)

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا. اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Dan setiap manusia itu telah Kami tetapkan sehingga tidak berpisah dengannya amal perbuatannya sebagaimana tetapnya kalung yang menggantung pada lehernya, dengan demikian ia tidak dapat mengelak atau mengabaikannya.
Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang menampakkan semua amalnya dan kitab itu dijumpainya terbuka sehingga dengan mudah dan segera dapat dibacanya, tidak ada yang tetutupi dan tersembunyi.
Ketika itu dikatakannya:
“Bacalah kitabmu ..!
Dengan kuasa Alloh kamu dapat membacanya walau didunia kamu ta’dapat membaca atau buta.
Cukuplah dirimu sendiri sekarang menghitung dan menilai atas amal perbuatan dirimu.
Kamu tidak dapat mengingkarinya karena amal-amal kamu “hadir” di hadapan kamu masing-masing.”
(QS. Al-Isro’ [17]: 13-14)

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

“Pada hari ketika setiap jiwa menemukan apa yang telah dikerjakannya, dari sedikit kebaikan pun dihadirkan dihadapannya, dan apa yang telah dikerjakannya dari kejahatan.”
(QS. Ali Imron [3]: 30)

Jangan duga apa yang ditetapkan Alloh itu mendholimi manusia atau mencabut kebebasannya. Tidak .!
Alloh swt hanya menetukan takdir ya’ni kadar ukuran segala sesuatu, itu berlaku bagi semua manusia.
Seseorang dipersilahkan memilih sesuai dengan kehendak dan kemampuannya, mana diantara takdir tkadar ukuran) dan ketentuan Alloh itu yang dipilihnya.

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Barang siapa meraih petunjuk sehingga berbuat sesuai dengan hidayah Alloh yang diraihnya itu, maka sesungguhnya dia meraih hidayah untuk dirinya, ya’ni dia berbuat untuk keselamatan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Dan barang siapa sesat, ya’ni kehilangan arah sehingga menyimpang dari jalan kebenaran, maka sesungguhnya dia tersesat, rugi dan celaka atas dirinya sendiri.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain siapapun walau sekecil sekecil apapun.
Dengan demikian yang berdosa tidak dapat membebankan kecelakaan dan kerugian itu kepada orang lain, dan disamping itu hendaklah diketahui bahwa Kami bukanlah Penyiksa-penyiksa sebelum kami mengutus seorang Rosul yang bertugas menunjukkan kebenaran dan mencegah kebatilan, karena itu kebatilan dan kecelakaan yang menimpa itu adalah karena ulah dan kesalahan masing-masing.”
(QS. Al-Isro’ [17]: 15)

Firman-Nya:
“Seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”
Merupakan salah salah satu prinsip utama ajaran islam dalam bidang tanggung jawab pribadi.
Prinsip ini tidak bertentangan dengan ayat yang menyatakan:
“Sehingga mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan.”

Bahwa mereka memikul “sebagian” dosa-dosa orang-orang yang mengikuti mereka, karena merekalah yang mengajarkan dan menjadi penyebab dilakukannya dosa-dosa itu oleh orang lain, atau dengan kata lain mereka memikul dosa-dosa kepemimpinan dan keteladanan mereka.

Nabi Muhammad saw bersabda:
“Barang siapa yang memulai merintis dalam islam suatu kebaikan, maka dia akan memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang-orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa sedikitpun berkurang ganjaran orang-orang yang mengerjakan sesudah perintis itu.
Dan barang siapa yang yang memulai dalam islam suatu dosa, maka dia akan memperoleh dosanya dan dosa-dosa orang-orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa sedikitpun berkurang dosa mereka yang mengerjakan sesudah perintis itu.”
(HR. Muslim)

Hadits lain menyatakan:
“Tidak seorangpun yang terbunuh secara aniaya, kecuali atas putra Adam yang pertama (Qobil yang membunuh audaranya Habil) tanggung jawab dari dosa pembunuhan itu, karena dia adalah yang pertama melakukan pembunuhan secara aniaya.”
(HR. Bukori dan Muslim)

Dengan demikian ganjaran dari pengajaran atau rintisan amal yang dilakukan seseorang akan diperolehnya pula walau yang bersngkutan sendiri tidak mengamalkannya lagi.

Firman-Nya:
“Kami bukanlah Penyiksa-penyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rosul”
Difahami oleh banyak ulama sebagai kemurahan Alloh swt, sehingga siapa yang tidak dapat mengetahui tentang kehadiran Rosul utusan Alloh, maka ia tidak dituntut untuk mempertanggung jawabkan amal-amalnya yang melanggar, karena kesalahan yang dilakukannya lahir dari ketidak tauhan dan ketidak mampuan untuk mengetahui.
Adapun yang tidak mengetahui tetapi ia berpotensi untuk tau, maka ia tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab.

Sedangkan ulama memahami kata “Rosul” pada ayat diatas dalam arti “akal” sehingga seseorang yang memiliki potensi untuk mengetahui tetapi enggan menggunakan potensi itu untuk mengetahui dan mengamalkan kebenaran, maka ia tetap akan dituntut pertanggung jawabannya walaupun ia tidak mengetahui tentang kehadiran Rosul yang membawa ajaran-ajaran kebenaran.

NI’MAT YANG SEMPURNA

Alloh swt berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الأنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

“Dan Alloh menjadikan bagi kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat tinggal yang dapat memberi ketenangan menghadapi gangguan lahir dan batin.
Dan Dia menjadikan bagi kamu dari kulit binatang ternak seperti onta, sapiAn kambing dan sebagainya sebagai rumah-rumah ya’ni kemah-kemah berdampingan yang kamu merasakannya ringan membawanya pada hari diwaktu kamu bepergian dan pada hari diwaktu kamu bermukim.
Dan dijadikan-Nya untuk kamu dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, serta aneka alat-alat rumah tangga.
Dan dijadikan-Nya pula kesenangan perhiasan serta hal-hal lain yang menyenangkan untuk kamu pakai dan ni’mati sampai waktu tertantu yang singkat.”
(QS. An-Nahl [16]: 80-81)

Firman-Nya:
“Dan Alloh menjadikan bagi kamu rumah-rumah kamu ..”
Mengandung arti bahwa Alloh swt menciptakan bagi manusia bahan-bahan untuk dijadikan rumah serta mengilhami mereka cara pembuatannya.
Ilham membuat rumah merupakan tangga pertama bagi bangunnya peradaban ummat manusia, sekaligus merupakan upaya paling dini dalam membentengi diri manusia guna memelihara kelanjutan hidup pribadi, bahkan jenisnya.
Dengan demikian, ini adalah ni’mat yang sangat besar.

“Rumah” pada mulanya berarti tempat berada diwaktu malam, baik tempat itu berupa bangunan tetap maupun sementara seperti kemah-kemah.
Ma’na tersebut kemudian berkembang menjadi tempat tinggal, baik digunakan diwaktu malam maupun siang, penamaan demikian karena pada dasarnya seseorang bisa saja terus berkeliaran disiang hari tanpa kembali kerumah, namun jika malam tiba ia merasa sangat perlu kembali ketempat tinggalnya untuk tidur.

“Sakanan” yang berma’na tenang setelah sebelumnya bergejolak, rumah berfungsi memberikan ketenangan kepada penghuninya setelah seharian bergulat dengan aneka problem diluar rumah.
Keberadaan dirumah menjadikan seseorang dapat melepaskan lelah dan merasa tenang tidak terganggu bukan saja oleh binatang buas tetapi juga oleh pengunjung yang masuk tanpa izin.

Itu sebabnya al-Qur’an memerintah siapa pun yang akan memasuki rumah walau pemiliknya sendiri untuk mengucapkan salam sebagai tanda sekaligus do’a kedamaian bagi yang berada dirumah.
Disisi lain Rosululloh saw, mengingatkan para tamu untuk kembali bila salamnya tidak terjawab setelah tiga kali mengucapkannya.

Disisi lain rumah tangga yang minimal terdiri dari suami istri, juga bertugas menciptakan “sakan” ya’ni “sakinah” ketenangan bagi seluruh anggota keluarga.

MENERIMA KETETAPAN ALLOH

Iman kepada al-Qur’an adalah mengembalikan segala sesuatu kepada Alloh swt, dan bahwa tidak ada yang menimpa seseorang baik atau buruk kecuali atas izin Alloh swt. Dengan demikian seseorang akan merasa “tangan Tuhan” menyentuh pada setiap peristiwa yang terjadi, dan melihat “Tangan-Nya” pada setiap gerak, sehingga menjadi tenanglah pikirannya dan tentramlah hatinya terhadap apa yang menimpanya, baik kesulitan maupun kemudahan, kesempitan maupun kelapangan, kesusahan maupun kesenangan dan penderitaan maupun kebahagiaan.

Ketika kaum musyrikin berkata:
“Kalau memang kaum muslimin berada dalam kebenaran tentu Alloh tidak akan menjatuhkan bencana atas mereka.” termasuk bencana yang terjadi melalui upaya kaum musyrikin.

Untuk menyingkirkan keresahan kaum muslimin itu, Alloh menyatakan dengan firman-Nya:
“Tidak menimpa seseorang satu musibahpun berkaitan urusan dunia atau agama kecuali atas izin Alloh melalui sistem yang telah di tetapkan dan selalu di bawah kontrol dan pengawasan-Nya.
Siapa yang kufur kepada Alloh, maka Dia akan membiarkan hatinya dalam kesesatan, dan siapa yang beriman kepada Alloh dan percaya bahwa tidak ada yang terjadi kecuali atas izin-Nya, niscaya Dia akan memberi petunjuk batinnya, sehingga dari saat ke saat ia akan semakin percaya, serta tabah dan rela atas musibah yang menimpanya. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dan Menyangkut segala sesuatu Alloh Maha mengetahui, karena itu sabarlah menghadapi aneka cobaan serta lakukanlah introspeksi dan taatlah kepada Alloh di setiap tempat dan waktu, dan taatlah kepada Rosul dalam segala hal yang diperintahkan karena beliau saw selalu dalam bimbingan-Nya.
Jika kamu memaksakan diri berpaling dari fitrah kesucian yang mengantar kepada pengakuan keesaan Alloh dan dorongan beramal sholeh, maka itu tidak akan merugikan kecuali dirimu sendiri, Rosul saw sedikitpun tidak akan rugi karena yang berada di atas pundak Rosul hanya kewajiban menyampaikan yang jelas tentang pesan-pesan Alloh swt.
Alloh tiada Tuhan yang berhak disembah, selain Yang Maha Kuasa, pengendali alam raya, karena itu hendaknya hanya kepada-Nya kamu mengabdi dan minta perlindungan menghadapi aneka musibah, dan memang hanya kepada Alloh tidak kepada selain-Nya orang-orang mukmin bertawakkal, berserah diri secara maksimal.”
(QS. At-Taghoobun [64] : 11-13)

Perlu di catat bahwa izin Alloh bagi terjadinya sesuatu tidak otomatis menandai restu dan ridlo-Nya, karena itu izin-Nya ada yang bersifat “syar’iy” dalam arti direstui atau di bolehkannya untuk di lakukan tanpa sangsi apapun, dan ada juga yang bersifat “takwini” dalam arti Alloh tidak menghalangi terjadinya, karena itu bagian dari sistem yang diberlakukan-Nya bagi semua pihak.
Atas dasar itu pula bisa jadi ada musibah atau petaka yang menimpa seseorang yang tentu saja di izinkan-Nya, tetapi tidak di restui-Nya.
Bisa juga ada musibah yang menimpa yang dituntut oleh-Nya untuk di bendung dan di atasi.
Seperti kodholiman yang menimpa seseorang, itu adalah atas izin-Nya melalui sistem yang Dia tetapkan, tetapi Dia juga mendorong untuk menanggulangi musibah atau kedholiman itu, dengan menggunakan bagian dari sistem yang di tetapkan-Nya, dan keberhasilan atau kegagalan mananggulanginya adalah bagian dari sistem.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: