Archive for April, 2013

TIDAK ADA YANG DAPAT DISEMBUNYIKAN  

NABI MUHAMMAD SAW
MENYAKSIKAN AMALAN UMMATNYA

Alloh swt berfirman :

قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ ۚ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah -hai Nabi Muhammad-
“Sesungguhnya Alloh telah memberitahukan kepada kami -ya’ni Rosul, menyangkut- sebagian berita-berita -dan keadaan- kamu -yang sebenarnya, maka berbuat baiklah ..!
Dan Alloh akan melihat pekerjaan kamu -yang akan datang, apakah kamu bertaubat atau dalam kedurhakaan, Dia telah melihat pekerjaanmu yang dahulu-, dan Rosul-Nya -Nabi Muhammad juga melihat dan mengetahui pekerjaan dan sifat kamu-.
Kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Lalu Dia memberitakah kepada kamu berita -pasti lagi jelas- apa yang telah kamu kerjakan -selama hidup kamu, baik amal nyata yang muncul ke permukaan maupun yang tersembunyi dalam hati kamu-.” (QS.9:94)

Ayat diatas berbicara tentang hakekat amal dan tujuan yang sangat tersembunyi, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh swt dan Rosululloh saw.

SEMUA DITAMPILKAN

Seluruh amal manusia dalam hidup, selalu dilihat dan diperhatikan oleh Alloh swt dan akan diperlihatkan Alloh kepada Rosululloh saw dan kaum muslimin.
Apakah selagi mereka yang beramal itu masih hidup ataupun ketika mereka sudah di dalam kubur, dan juga saat hari berbangkit setelah hari kiamat kelak.
Alloh swt berfirman:

 وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ.
“Dan katakanlah:
“Bekerjalah kamu (Lillahi Ta’ala demi karena melaksanakan perintah Alloh semata dengan aneka amal sholeh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk orang lain), maka Alloh akan melihat (menilai dan memberi ganjaran) amal kamu itu, dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin (akan melihat dan menilainya juga) pekerjaan kalian itu, dan (selanjutnya) kamu akan dikembalikan (melalui kematian) kepada Alloh, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Lalu diberitakan-Nya kepada kamu (sangsi dan ganjaran atas) apa yang telah kerjakan (baik yang nampak ke permukaan maupun yang kamu sembunyikan dalam hati).”
(QS. At-Taubah: 105)

 وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ
“Dan demikian pula, Kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi-saksi atas perbuatan manusia, dan agar Rosul (Muhammad saw) menjadi saksi atas perbuatan kamu.”
(QS.2 al-Baqoroh: 143)

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ.
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dalam hal ini, maka Kami singkapkan tabir (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”
(QS.50 Qof: 22)

Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa amal yang kita kerjakan sebagai hamba Alloh, pasti akan ditampilkan kembali di hadapan Alloh swt, di hadapan Rosululloh saw dan di hadapan orang-orang yang beriman. Tidak terkecuali apakah amal itu baik atau buruk, semuanya akan ditampilkan.

Hal ini juga sesuai dengan Firman Alloh swt:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.
“Pada hari itu kamu sekalian akan di hadapkan (kepada Tuhan kamu untuk diperiksa dan dimintai pertanggungan jawab atas segala amal perbuatan kamu), tiada sesuatupun dari keadaan kamu yang tersembunyi (bagi Alloh betapapun ia kamu rahasiakan).”
(QS.69 Al-Haqqoh: 18)

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ.
“Pada hari (manusia dikembalikan kepada Alloh itu) dinampakkan (dengan sangat mudah dan jelas) segala rahasia (yang terpendam dalam hati).”
(QS.86 At-Thoriq ayat: 9)

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ.
“Dan dilahirkan (serta dipisahkan) apa yang di dalam dada (dari segala kebaikan dan keburukan.”
(QS.100 Al-’Adiyat: 10)

Adapun mengenai dinampakkannya amal itu terbagi dalam 3 keadaan :

1. Pada keadaan yang beramal itu masih hidup, dan dinampakkan kepada orang yang masih hidup pula.

Rosululloh saw bersabda :
“Seandainya seseorang di antara kalian beramal di dalam sebuah batu besar, sebuah benda mati, tanpa ada pintu atau lubangnya, niscaya Alloh akan mengeluarkan amalnya kepada semua orang seperti apa yang diamalkannya di tempat tersembunyi itu.”

Rosullulloh saw bersabda:
”Barangsiapa yang membuka aib saudaranya muslim, maka Alloh akan membuka aibnya sehingga semua orang tahu akan aibnya, dan dia menjadi malu walaupun sudah tinggal berkurung di rumahnya.”

Sayyidah ‘Aisyah ra pernah berkata:
“Apabila kamu merasa kagum akan amal kebaikan seorang yang muslim, maka ucapkanlah Firman Alloh swt :
اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ
“Beramallah kamu sekalian, maka Alloh dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalan kamu itu.“
(HR. Bukhori).

2. Pada keadaan orang  yang beramal itu masih hidup, tapi amalnya diperlihatkan kepada orang orang yang sudah mati.
Dalam hadits hadits Nabi saw juga ada disebutkan bahwa amal orang yang hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang sudah mati dari kerabat dan keluarga orang yang beramal itu, di alam barzakh atau alam kubur.

Dari Jabir ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal kamu sekalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan keluarga kamu yang ada di dalam kubur. Jika amal pebuatan kamu itu baik, maka mereka merasa gembira dengan amal-amal itu. Namun jika amal kamu itu sebaliknya, yaitu amal yang buruk, maka mereka saudaramu yang di dalam kubur itu berdo’a:
“Ya Alloh berilah mereka ilham (kekuatan) untuk mengamalkan amalan ta’at kepada-Mu.”
(HR. Abu Dawud).

Dari Anas bin Malik ra, Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya amalan-amalan kamu sekalian ditampilkan kepada kaum kerabatmu dan keluargamu yang telah mati. Jika amal itu baik, maka mereka bergembira karenanya, namun jika hal itu sebaliknya, amalan itu buruk, maka mereka berdo’a:
“Ya Alloh janganlah Engkau matikan mereka sebelum Engkau beri mereka hidayah, sebagaimana Engkau telah memberi kami hidayah.”
(HR. Ahmad).

Hadits-hadits di atas dengan gamblang menjelaskan bahwa hubungan orang hidup dan orang mati masih ada. Bahkan orang-orang mukmin yang sudah mati masih bisa mendo’akan orang yang masih hidup agar diberi hidayah oleh Alloh swt.

Keterangan hadits-hadits ini mematahkan pendapat orang yang mengatakan hubungan orang hidup dengan orang mati sudah putus, tidak ada lagi manfa’at dan hubungan sama sekali.

Apalagi ada banyak hadits-hadits shohih lainnya yang menyuruh kita memberi salam jika masuk kompleks kuburan kepada ahli kubur. Kalaulah hubungan orang yang masih hidup dengan orang mati sudah terputus, dan mereka ahli kubur tidak bisa lagi  memberikan respons kepada orang -orang yang masih hidup, lantas untuk apa Nabi saw memerintahkan kita yang masih hidup memberi salam kepada ahli kubur ketika memasuki kompleks kuburan .?
Sebuah perintah yang sia-sia tentunya .!

Oleh karena itu kita mestilah memahami bahwa bagaimanapun hubungan orang hidup dengan orang yang mati tidaklah otomatis terputus dengan kematian itu. Masih ada hubungan, amal dan do’a antara si hidup dan si mati.

3. Pada Keadaan Setelah Kiamat
Alloh swt berfirman:
“Pada hari  itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya  diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”
(QS.99 Az-Zalzalah: 6-8)

Pada hari setelah kiamat ini semua amal akan diperlihatkan oleh Alloh swt, kepada Rosululloh saw, dan seluruh manusia. Semuanya akan melihat amal perbuatan manusia satu persatu, sebagai wujud keadilan Alloh swt. 

Pada saat itu orang yang beramal sholeh merasa sangat gembira wajah mereka putih bersih karena melihat amal kebajikan mereka sewaktu di dunia dahulu serta melihat balasan amal mereka yang telah disediakan oleh Alloh berupa sorga dengan segala keni’matannya.

Adapun orang yang banyak mengerjakan amal keji ketika hidup di dunia akan tertunduk malu. Mereka akan menundukkan wajah mereka serendah-rendahnya bahkan sampai berjalan dengan mempergunakan muka mereka menyusur tanah sebab malu dan kecewa.

Dunia adalah tempat bercocok tanam sementara hasil panen akan diperoleh di akhirat. Rosululloh bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menjadikan nafsunya pendorong taat kepada Alloh serta beramal untuk persiapan setelah mati.
Orang yang bodoh adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tapi berangan-angan muluk mendapatkan ridho Alloh”.
(HR. Imam Abu Dawud)

Sungguh beruntung orang yang beramal sholeh ketika hidup di dunia.
Celaka besar orang yang lalai dan durhaka kepada Alloh swt .!

Iklan

ROHMAT ALLOH SWT

ARTI DAN MA’NA ROHMAT ALLOH

Rohmat berasal dari akar kata “rohima”, yang berarti “karunia”, atau “pemberian” dan kata ini sangat berdekatan dengan kata “ni’mat”.
Setiap ni’mat Alloh yang dikaruniakan kepada hamba-Nya, baik yang bersifat umum ataupun khusus, semua itu buah dari “rohmat”.

Dari rumusan ini dapat disimpulkan bahwa rohmat itu ibarat pohon dan ni’mat ibarat buahnya.
Rohmat meliputi segala bidang kehidupan, bertemu dalam setiap keadaan dan situasi.
Rohmat menimbulkan sikap ridho dan ikhlas menerima bencana yang menimpa.
Pada umumnya kita memahami rohmat hanya berupa kesenangan atau kebahagiaan lahiriah belaka dan tidak pernah terpikirkan bahwa rohmat juga dapat berupa musibah atau bencana.

Alloh swt memberikan keuntungan atau kerugian, tetapi keduanya merupakan ujian untuk menguji hamba-Nya, sehingga apa yang menurut pandangan manusia seakan-akan berupa kebaikan, padahal dibaliknya terdapat kejelekan, atau suatu yang dipandang baik oleh manusia padahal menurut pandangan Alloh ternyata sebaliknya.

Ma’na dari rohmat Alloh swt adalah seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Muhammad Asy-Sya’rowi Mutawali dalam kitabnya tafsir Asy-Sya’rowi :
“Alloh swt disebut Dzat Yang Maha Penyayang di dunia karena banyaknya makhluk Alloh yang tercakup oleh sifat rohmat-Nya ini.
Rohmat Alloh swt di dunia berlaku umum kepada makhluk-Nya, baik orang mukmin, pelaku maksiat, maupun orang kafir.
Di dunia Alloh swt memenuhi semua kebutuhan mereka secara merata tanpa memperhitungkan dosa-dosa mereka.
Dia memberi rezeki dan ampunan kepada mukmin dan non-mukmin.”

Dengan demikian, semua manusia di dunia mendapat rohmat-Nya tanpa memandang apakah mereka beriman atau tidak. Akan tetapi, di akhirat Alloh swt hanya memberikan rohmat kepada orang mukmin saja, sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak akan memperoleh Rohmat-Nya. Oleh karenanya penerima rohmat di akhirat jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan saat berada di dunia.

Rohmat -kasih sayang- Alloh harus kita cari atau diminta/dimohonkan kepada Alloh, agar kita tidak menjadi seperti setan yang menjauh dari Alloh dan Iblis yang berputus asa dari rohmat Alloh swt.

Rohmat tidak selalu datang dari apa yang kita suka. Namun dari yang kita tidak suka pun merupakan rohmat Alloh swt.
Orang yang beruntung adalah orang yang mencari rohmat Alloh karena akan mampu menerima apapun yang diberikan Alloh kepadanya dan dapat menjadi orang yang bertawakkal berserah diri kepada-Nya).

Manusia dalam do’anya sering memohon agar hasrat keinginannya dikabulkan/diberi, namun melupakan takdir Alloh, padahal kehidupan ini berada diantara ikhtiar insani dan takdir Ilahi. Itulah pentingnya rohmat.
Jadi paradigmanya harus di rubah.
Kita harus yakin dulu akan takdir Ilahi kemudian berdo’a dan berikhtiar agar apa yang kita inginkan terjadi, sehingga kalau pun apa yang kita inginkan tidak terjadi, kita sudah menyadari itu merupakan takdir Ilahi.
Dan kesimpulannya orang yang sukses adalah orang yang mendapatkan keinginannya yang sesuai dengan takdir Ilahi.

Lantas bagaimana caranya agar apa yang kita inginkan dapat sesuai dengan takdir Ilahi .?
Berharaplah kepada Alloh supaya memberikan inspirasi atau ilham agar apa yang Alloh kehendaki/takdirkan terwujud.
Dengan kata lain berharap agar Alloh memberikan ilham/inspirasi sebuah rencana pada kita yang sesuai rancangan/takdir-Nya.
Yaitu menyandarkan keinginan kita dengan Kehendak Alloh swt.

Kandungan kata Rohmat :
·          Alloh sudah memberi sebelum diminta
·          Alloh selalu memberi kepada yang meminta
·          Pemberian-Nya melebihi dari yang diminta
·          Alloh tak pernah berharap kembali dari yang telah diberikan-Nya
·     Pemberian-Nya meliputi kebutuhan, keinginan dan yang tak pernah terbayangkan.

Siapapun yang telah berbuat sesuatu yang tidak disukai Alloh, maka seketika hilanglah rasa ketidaksukaan Alloh itu apabila segera bertobat kepada-Nya.
Andaikan setiap pelaku perbuatan maksiat secara langsung mendapat balasan atas perbuatannya, maka Alloh telah menyalahi sifat-Nya sebagai al-Afuw. Itulah salah satu rohmat Alloh swt.
Kita diperintahkan oleh Alloh agar bersegera mengejar ampunan-Nya, sebelum waktu kematian yang telah ditetapkan-Nya diberlakukan.  

NAMA ALLOH AR-ROHMAN DAN AR-ROHIM

Dalam Ensiklopedia ar-Rohman ar-Rohim, berasal dari kata rohmat dari segi bentuknya, yang berarti suatu ungkapan dari sekumpulan perasaan yang memiliki hubungan yang tidak terputuskan -saling berhubungan erat- saat menghadapi suatu kejadian atau orang tertentu. Dengan demikian rohmat Alloh dalam ar-Rohman ar-Rohim, mengantarkan kita pada adanya sifat perasaan dalam diri manusia dengan manusia lain.

Pertanyaan :
“Apa yang dimaksud dengan perasaan .?”
Jawabannya:
“Perasaan adalah suatu emosi yang muncul sebagai hasil dari proses kimiawi dalam otak manusia.”
Pertanyaan berikutnya:
“Apakah yang disebut dengan otak .?”
Jawabannya :
“Otak adalah sebuah laboratorium kimia yang rumit.”
Pertanyaan berikutnya :
“Apa yang disebut dengan laboratorium kimia -yang terjadi dalam otak manusia- .?”
Jawabannya :
“Suatu piranti lunak yang menjadi inti dari segala perubahan (transformasi) kimiawi yang terjadi terus menerus tanpa henti dengan kerja yang sangat menakjubkan. Aktivitas ini menghasilkan pemikiran, perasaan takut, ambisi, cita-cita, rencana dan lain sebagainya.”

Sesungguhnya Alloh swt telah menciptakan kehidupan di atas bumi ini dengan rohmat-Nya, dan berkat rohmat-Nya pula kehidupan terus berjalan, sehingga sekalipun bumi ini kering dan tandus, maka berkat rohmat-Nya hujan pun turun sebagai sumber kehidupan atas anugerah-Nya.

Kehidupan diatas muka bumi ini sama dengan kehidupan di dalam hati. Alloh swt telah menciptakan hati, lalu Dia menghiasinya dengan keindahan Rohmat-Nya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin [95] : 4) .

Alloh swt meninggikan derajat manusia dengan memberikannya akal dan hikmah, mengistimewakan nya dengan pendengaran serta penglihatan yang baik, dan bentuk tubuh yang indah, menjadikan struktur tubuhnya berfungsi dengan aturan-aturan yang harmonis dan penuh keindahan.

Kata Rohmat yang asal katanya Rohmah, merupakan kata yang istimewa, yang didalam al-Qur’an, Alloh swt mengenalkan diri-Nya kepada ummat manusia dengan sifat ar-Rohman dan ar-Rohim, sebagai yang Maha Pengasih dan yang Maha Penyayang.

Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Alloh swt. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Alloh swt memiliki sifat rohmat yang artinya kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Alloh dan sesuai dengan kebesaran-Nya.”

Kedua nama Alloh ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi Muhammada saw, diantaranya :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah : 1)
الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah : 3)

Maknanya Ar-Rohman artinya yang memiliki rohmat, kasih sayang yang luas, karena wazan -bentuk kata- fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan ma’na luas dan penuh. -Wazan -timbangan- فَعْلَانُ fa’lan; kata yang sesuai dengan timbangan ini seperti رَحْمَانُ ,غَضْبَانُ عَطْشَانُ, dan lain-lain-. Misalnya kata ‘Seorang laki-laki ghodhbaan,’ artinya penuh kemarahan.

Sementara, Ar-Rohim adalah nama Alloh swt yang memiliki makna kata kerja dari rohmat yaitu yang merahmati atau yang mengasihi, karena wazan fa’iil فَعِيْلٌ berma’na faa’il فَاعِلٌ pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan untuk merohmati atau mengasihi. -Wazan (timbangan- فَعِيلٌ fa’iil; kata yang sesuai dengan timbangan ini seperti رَحِيمٌ, حَلِيمٌ, كَرِيمٌ, dan lain-lain.

Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rohman dan Ar-Rohim bermakna “Rohmat Alloh swt itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Alloh swt, Ar-Rohman dan Ar-Rohim .? Al-Arzami rh mengatakan:
“Ar-Rohman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rohim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thobari, Tafsir Basmalah).

Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rohman adalah yang rohmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rohim, yang rohmat-Nya khusus terhadap kaum mukminin di akhirat. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya.

Ibnul Qoyyim rh memandang bahwa Ar-Rohman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Alloh swt -yakni Alloh memiliki sifat kasih sayang-, sedangkan Ar-Rohim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya, sehingga seakan-akan nama Ar-Rohman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rihim mengandung arti perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rohmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya.

Perhatikanlah firman Alloh swt :
…وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
“…Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 43)
إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah : 117)

Alloh swt tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rohman sama sekali. Dengan demikian kita tahu bahwa makna Ar-Rohman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rohim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa).

Orang yang memperhatikan nama Alloh swt Ar-Rohman, yaitu bahwa Alloh Maha Luas rohmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat. Mari kita mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan ma’na semacam ini dalam sub bab bagaimana bentuk rohmat Alloh di bawah ini.

BENTUK RAHMAT ALLOH

Rohmat Alloh meliputi Semua Ciptaan-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
… وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ …
“…Dan rohmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS. Al-A’raf : 156).
فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
“Maka jika mereka mendustakan kamu, katakanlah, Tuhanmu mempunyai rohmat yang luas, dan siksa-Nya kepada orang-orang yang berdosa tidak dapat dielakkan.” (QS. Al-Ana’m, 147).

Rohmat Alloh berupa Waktu Siang dan Malam
Alloh swt berfirman :
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan karena rohmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya -pada siang hari- dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qoshos : 73).

Tafakkur Sejenak tentang Penciptaan Siang dan Malam ..
Sebuah peristiwa yang rutin terjadi setiap hari adalah saling bergantinya antara keadaan siang dan malam hari .. Mayoritas manusia, termasuk diri kita menganggap hal itu adalah kejadian biasa.

Tidak perlu mendapatkan perhatian khusus, karena hal itu berlangsung terus menerus dan setiap hari kita pasti menjumpainya .. Seperti sarapan, makan siang, makan malam, berangkat tidur, bangun dari tidur, siang dan malam adalah suatu kebiasaan .. Sebuah kebiasaan yang selalu berlalu tanpa adanya kesan yang mendalam.

Siang pasti datang, demikian juga malam .. kita menyambut siang dengan persiapan kegiatan. Sebuah kegiatan yang monoton seperti berangkat kerja, sekolah, ke pasar atau main-main untuk anak usia dini ..

Dari ke hari kita menghadapi hal yang hampir sama .. dan sering pula kita mengawali semua kegiatan tersebut dengan “sarapan” atau makan pagi .. sebuah kegiatan yang terkesan itu itu saja .. atau sebuah rutinitas yang sebenarnya “membosankan” tapi kita sangat meni’matinya. Entah dengan suka rela atau terpaksa ..

Hal seperti itu berlangsung terus selama kita masih bernafas .. Paling tidak untuk lima atau enam hari dari hari Senin sampai hari Jum`at atau sabtu .. Sedangkan hari minggu kita bisa merencanakan sesuatu yang lain .. mungkin refreshing .. dengan mengunjungi sanak keluarga yang berada jauh dari tempat tinggal kita atau mengunjungi tempat-tempat rekreasi .. atau memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dengan menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan situasi dan kondisi dalam rumah.

Jika malam mulai menampakkan gelapnya, kita menyambutnya dengan kilauan cahaya lampu .. menyelesaikan sedikit urusan di luar rumah atau memanjakan diri dengan hiburan .. ada beberapa pilihan dalam menghibur diri di malam hari .. keluar rumah dengan mengeluarkan biaya yang besar kecilnya relatif .. tergantung pilihan hiburan dalam bentuk dan kemasannya .. atau justru diam dirumah dengan memelototi “setan kotak” alias televisi .. sampai beberapa saat kemudian menyusul gelapnya malam dengan mata yang terpejam .. tidur .. Demikian setiap harinya, siang dan malam kita lalui dengan variasi-variasi kegiatan yang beraneka ragam tergantung pada kepentingan masing-masing orang.

Apa sebenarnya siang dan malam itu .?

Siang adalah situasi di bagian permukaan bumi yang mendapatkan cahaya dari matahari akibat dari rotasi atau perputaran bumi pada porosnya .. Situasi dimana manusia memanfaatkan terangnya alam untuk mencari karunia Alloh berupa rizqi yang bersifat materi .. suatu keadaan dimana manusia menyibukkan diri dengan kepentingan masing-masing .. Muara dari masing-masing kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar manusia juga berbeda-beda ..

Ada yang bermuara pada “ilmu”, seperti mereka yang memanfaatkan waktu untuk belajar di sekolah .. Ada pula yang bermuara pada “materi” seperti mereka yang bekerja atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari .. juga sekalian untuk menunjang kehidupan esok harinya atau masa yang akan datang .. dengan menyisihkan sebagian rizqi atau hasil berupa materi yang di dapat setelah sebagian yang lain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pada hari yang sama.

Sedangkan malam adalah situasi dimana sebagian permukaan bumi berada dibalik matahari sehingga tidak mendapatkan cahaya .. situasi dimana manusia memanfaatkannya untuk beristirahat setelah seharian bergelut dengan urusannya masing-masing .. Ada yang bermuara pada “istirahat” total .. yaitu mereka yang memanfaatkan malam untuk “tidur” .. Ada yang bermuara pada “hiburan”, untuk meni’mati malam setelah seharian dalam kelelahan .. Ada yang bermuara pada “pengabdian”. yaitu mereka yang memanfaatkan malam dengan banyak menyebut nama Allah melalui media shalat malam atau tahajud.

Bagaimana proses peristiwa itu terjadi .?

Matahari adalah sebuah bola gas yang berpijar .. Bentuknya tidak padat tapi berbentuk plasma .. yang terus bersinar dengan menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui sebuah proses yang disebut dengan “fusi” nuklir ..

Setiap saat matahari “bershodaqoh” untuk alam dengan massa sebesar 4 juta ton .. dengan shodaqoh sebesar itu setiap saat, matahari telah memberikan cahaya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di permukaan bumi ..

Sedangkan bumi adalah sebuah planet yang mempunyai massa sebesar 59.760 milyar ton, dan diameter 12.756 km .. Jaraknya dengan matahari adalah 149.680.000 km atau dibulatkan 150 juta km .. Bentuk dari bumi ini adalah bulat pipih di atas dan bawahnya yang disebut kutub utara dan kutub selatan .. Bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan sekitar 1.669 km/jam .. Sambil berputar bumi “berjalan” mengitari matahari pada garis edarnya -orbit- atau manzilah dengan kecepatan 107.000 km/jam .. Dalam perjalanan “hidup”nya bumi ditemani oleh sebuah satelit, yaitu bulan yang senantiasa setia mengikuti dan mengitarinya.

Kita adalah sebuah parasit bumi. Kita adalah sekelompok penumpang “pesawat” bulat yang melesat dengan kecepatan luar biasa, 107.000 km/jam .. Karena besarnya “pesawat” atau “kapal” yang kita tumpangi, hingga kecepatan yang jauh melebihi larinya motor di moto GP dan mobil formula 1 tak bisa kita rasakan layaknya seperti melesatnya sebuah motor dengan kecepatan tinggi .. Begitu tenangnya “pesawat” bumi ini sehingga kita bisa leluasa untuk bergerak kemanapun kita mau tanpa harus takut terlempar ..

Berputarnya bumi pada porosnya itulah yang menyebabkan terjadinya gelap dan terang di sebagian permukaan bumi .. kita menyebutnya dengan kata “siang dan malam” .. Sebuah peristiwa yang menyebabkan kita bisa memisahkan kapan kita harus beraktifitas dan kapan kita harus beristirahat .. Untuk merasakan hangatnya sinar matahari dan indahnya bulan dan bintang .. Untuk bisa merasakan hiruk pikuknya kehidupan dan kesunyian di kegelapan malam.

Dan berjalannya bumi dan bulan pada “jalur”nya menyebabkan kita mengetahui hitungan bulan dan tahun .. Waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengitari matahari adalah 1 tahun atau 365 hari.

Semua peristiwa tersebut mempunyai kegunaan dalam kehidupan di bumi dan demi menyempurnakan umur manusia dari lahir hingga ajalnya .. Dan sebuah kepastian akan adanya Dzat yang mempunyai kemampuan mengatur kesemuanya itu demi bergulirnya sebuah kata, yaitu “kehidupan”.

Alloh swt berfirman :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah -tempat-tempat- bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan -waktu-.
Alloh tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus : 5).

Mengapa harus ada siang dan malam. .?

Siang dan malam adalah sebutan untuk dua bagian dari permukaan bumi .. dimana pada saat-saat tertentu tersinari cahaya matahari dan pada saat yang lain tidak mendapatkan sinar kecuali hanya cahaya yang dipantulkan bulan .. Sedang dua keadaan itu pasti terjadi akibat dari berputarnya bumi dalam perjalanannya mengitari matahari .. Karena dua keadaan yang saling bergantian inilah kita sekarang masih bisa meni’mati hidup kita .. Kita bisa meni’mati indahnya alam di siang hari dan indahnya bintang-bintang di malam hari ..

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ
”Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku, jika Alloh menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat.
Siapakah Tuhan selain Alloh yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu .?
Maka apakah kamu tidak mendengar .?” (QS. Al Qoshosh : 71).

Jika malam berlangsung terus menerus, yang terjadi adalah membekunya air yang ada di seluruh bagian bumi yang gelap .. Jika berlangsung lebih lama lagi bahkan semua akan membeku termasuk cairan yang ada dalam tubuh kita .. sehingga diperkirakan dalam hitungan hari semua makhluk di bumi akan mati .. Tidak ada kehidupan .. bahkan untuk diri bumi sendiri .. karena hidupnya bumi ditandai dengan bergeraknya bumi pada porosnya dan berjalannya bumi pada orbit yang telah di tentukan oleh Alloh swt.

Peristiwa seperti ini harusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita kalau kita masih menginginkan sebuah kehidupan .. terutama untuk kehidupan diri kita sendiri .. Karena semua gerakan dan lalu lintas dari semua planet tersebut sudah di atur oleh Allah.
Bumi sudah diperintahkan oleh Alloh untuk berjalan dengan sudut kemiringan tertentu agar masing-masing bagian dari bumi mendapatkan sinar dengan adil .. sesuai dengan kebutuhannya.

Alloh swt berfirman :
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
”Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku, jika Alloh menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat.
Siapakah Tuhan selain Alloh yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya .?
Maka apakah kamu tidak memperhatikan .?” (QS. Al Qashash : 72)

Alloh memberikan pertanyaan itu pada kita, sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita sadar .. bahwa peristiwa siang dan malam adalah sebuah kesengajaan dari Alloh swt untuk membuat segala apa yang ada di bumi bisa hidup .. Panas yang terus menerus bisa menguapkan seluruh air yang ada di permukaan bumi .. tidak terkecuali cairan yang ada di tubuh kita.

Dalam sebuah buku, pakar ilmiah meginformasikan .. hanya dalam beberapa jam saja panas di permukaan bumi bisa meningkat tajam .. Jika panas puncak terjadi terus menerus selama lebih dari 100 jam, bisa di pastikan seluruh air yang ada di permukaan bumi, termasuk dalam tubuh kita akan menguap .. dan hanya membutuhkan waktu sekitar 200 jam, seluruh kehidupan di permukaan bumi akan musnah .. Tapi Alloh swt memelihara kondisi panas di permukaan bumi tetap dalam batas-batas panas tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup bumi dan semua yang ada di atasnya.

Alloh swt sengaja menjadikan siang untuk manusia, agar di siang hari itu mereka mencari sebagian karunia-Nya .. dan pada malam harinya mereka memanfaakan waktu untuk beristirahat .. dan Alloh menciptakan semua itu tak lain hanyalah agar manusia bersyukur .. Dengan mentaati semua perintah Alloh swt dan menjauhi semua yang dilarang-Nya .. Selalu berusaha untuk menjadikan dirinya seorang yang hanya menghamba kepada Alloh .. Dan selalu berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai seorang yang bertaqwa.

Alloh swt berfirman :
وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
”Dan karena rohmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya -pada siang hari- dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al Qoshosh : 73).

Siang dan malam adalah sebuah tanda .. yaitu tanda-tanda bahwa Alloh kuasa untuk memerintahkan kepada semua makhluk untuk tunduk kepada-Nya .. Termasuk bumi, bulan dan matahari .. Cukup banyak ayat-ayat mengenai kuasanya Alloh swt untuk menundukkan siang dan malam agar selalu bergantian dalam kemunculannya .. Dan menerangkan bahwa peristiwa siang dan malam adalah tanda-tanda kemaha kuasaan dan kemaha agungan Alloh bagi mereka yang mau berpikir.

Kita bisa meneliti di beberapa ayat diantaranya QS. Al Isroo’ 12; QS. Ar Ruum 23; QS. An Naml 86; QS. Al Furqon 47 dan 62; QS. An Nuur 44; QS. Yunus 6 dan 67; QS. Ali Imroon 190; QS. Al Mu`min 61; QS. Al Baqoroh 164 dan ayat-ayat lain yang masih berkaitan dengan siang dan malam.

Demikianlah, siang dan malam adalah sebuah tanda bagi manusia yang mau berfikir, yang mau melihat, yang mau mendengarkan, yang mau bersyukur kepada Alloh swt .. Tetapi kenyataannya banyak manusia yang tidak mau bersyukur .. Tidak mau melihat, tidak mau berfikir tidak mau mendengar dan melihat tentang tanda-tanda kuasanya Alloh ini .. Kita hanya mau berfikir tentang kebutuhan materi untuk hidup kita .. Kita tidak perduli dengan Iman dan kehidupan setelah kematian kita .. Kita cenderung “cuek” atau tidak perduli dengan semua kejadian alam ini .. Kita hanya cenderung untuk meni’mati dan tidak mau mengambil pelajaran yang ada pada diri siang dan malam yang hampir tiap hari kita jumpai .. Kita membiarkan berlalu begitu saja pelajaran hidup berupa tanda-tanda yang diberikan oleh Alloh dengan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita .. Dan kita menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Alloh kepada kita yang sebenarnya dipakai untuk memahami tanda-tanda kebenaran tentang kehidupan akhirat dengan segala apa yang akan terjadi di dalamnya.

Hanya kekaguman yang kita ungkapkan, bukannya sebuah kesadaran akan arti pentingnya Iman yang sebenarnya .. Sebuah kekaguman yang hanya berguna untuk melepaskan dahaga kita tentang keindahan alam .. Untuk memanjakan hati dengan rasa senang dengan indahnya sebuah penciptaan .. Bukan sebuah kesadaran tentang kuasanya Sang Pencipta .. Bukan pula sebuah kesadaran akan pasti datangnya hari kiamat dan hari kebangkitan kita untuk menuju sebuah pengadilan dunia akhirat.

Mudah-mudahan Alloh segera memberikan cahayanya kepada kita semua agar masing-masing diri kita memperoleh sebuah pencerahan batin untuk mensyukuri semua ni’mat yang telah diberikan oleh Alloh swt kepada kita .. Dan mudah-mudahan pula Alloh swt selalu memberikan bimbingan dan petunjuknya dalam memahami ayat-ayat atau tanda-tanda-Nya .. Baik yang ada dalam al-Qur`an maupun yang terserak di diseluruh alam semesta.

Rohmat Alloh berupa Keluarga dan Kegembiraan
Alloh swt berfirman :
وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Dan Kami anugerahi dia -dengan mengumpulkan kembali- keluarganya dan -Kami tambahkan rohmat- kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rohmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shood : 43).

Alloh swt berfirman :
وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rohmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rohmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah -bahaya- disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (QS. Ar-Rum : 36)

Alloh swt menjadikan hidup tenang bersama keluarga .. Setiap diri kita mempunyai keluarga, baik keluarga dalam rumah kita ataupun tetangga kita .. Betapa indahnya hidup ini ketika bersama istri dan anak-anak .. kita sering bergembira ria bersama keluarga .. disamping banyak lagi yang menggembirakan diluar lingkungan keluarga .. Sungguh besar rohmat Alloh swt ..  Bolehlah diambil beberapa contoh seperti makanan, pangkat, kemewahan, kesehatan, kekuasaan dan kekayaan, maka semua itu adalah rohmat Alloh swt.

Kita juga sering mendengar orang berkata, bila hujan turun, mereka akan berkata hujan itu rohmat .. pendek kata apa saja yang disediakan oleh Alloh swt untuk kebaikan dan kegembiraan manusia adalah rohmat-Nya .. ALLOHU AKBAR …!

AYAT AYAT SYAFA’AT

AYAT AYAT SYAFA’AT

Jika kita menginginkan Alloh swt memberikan rohmat dan manfa’at di dunia dan akhirat pada kita .. Maka ikhlaskan niat karena melaksanakan perintah Alloh swt dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw ..
Dan bersabarlah ..! karena, Alloh swt selalu memperhatikan setiap gerak dan diam kita untuk dianugerahi derajat yang tinggi dan pahala yang besar di sisi-Nya ..

Pada hari hisab, tak seorang pun yang mendapat syafa’at, kecuali orang yang mendapat izin dari Alloh karena adanya suatu perjanjian, Alloh swt berfirman:
لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا
“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam : 87).

Mereka manusia semuanya tidak dapat memberi syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah ya’ni kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan berkat pertolongan Alloh swt.

Maksud mengadakan perjanjian dengan Alloh adalah beriman (bersyahadat) dan bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan mengikuti sunnah Rosul-Nya. Iman kepada Alloh dan Rosul-Nya disebut oleh Alloh suatu perjanjian, karena Alloh swt berjanji dalam Kitab-Nya melalui lisan Rosul-Nya balasan yang baik bagi mereka.

*

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Alloh Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhoi perkataannya (ya’ni ucapan niat dan perbuatannya sesuai syari’at)” (QS. Thoha : 109).

Pada hari kiamat itu syafa’at dari seseorang menjadi tak berguna lagi, kecuali dari orang yang mendapat kemuliaan, izin dan perkenan dari Alloh untuk memberikan syafa’at mengucapkan kata syafa’at .. Hari itu syafa’at juga menjadi tak berguna lagi, kecuali bagi orang yang mendapat izin dari Sang Maha Pengasih untuk memperolehnya. Yaitu orang yang dahulunya beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya yang perkataan dan perbuatanya bertujuan mendapat ridho Alloh.

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Alloh mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi.” (QS. An-Najm : 26;

Banyak di antara malaikat di langit, kecuali sesudah mendapat izin dari Allah untuk diberikan kepada orang yang diperkenankan oleh Alloh.

Banyak di antara para Malaikat di langit yang sangat dimuliakan oleh Alloh di sisi-Nya. Meskipun derajatnya tinggi, mereka sama sekali tidak dapat memberi syafa’at sedikit pun kecuali sesudah mendapat izin dari Alloh untuk memberikan syafa’at bagi orang yang dikehendaki-Nya di antara orang-orang yang diridhoi-Nya ..

Di lain ayat Alloh swt berfirman: “.. dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh.” (QS. Al-Anbiya’ : 28).

Sudah kita maklumi bahwa syafa’at para malaikat itu baru ada setelah terlebih dahulu mendapat izin dari Alloh, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Alloh tanpa izin-Nya .?” (QS. Al-Baqoroh, 255).

*

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid mengucapkan kalimat La ilaha illalloh Muhammdurrosululloh) dan mereka meyakini (dalam hati yang diucapkan lisannya, merakalah yang akan dapat memberikan syafa’at terhadap orang-orang Mukmin yang dikehendaki oleh Alloh). (QS. Az-Zukhruf : 86).

*

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Alloh mengetahui segala sesuatu (seluruh keadaan dan perbuatan mereka, baik yang telah lalu maupun yang akan datang) dihadapan mereka dan yang di belakang mereka (ada malaikat), dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh (untuk mendapatkannya).” (QS. Al-Anbiya : 28).

Ayat diatas termasuk dalil adanya bahwa para malaikat dapat memberi syafa’at .. Atas ucapan orang yang ikhlas karena melaksanakan perintah Alloh dan amalnya yang mengikuti sunnah Rosul-Nya .. Alloh swt memberikan syafa’at melalui para malaikatnya sebagai ganjaran dari apa yang telah mereka kerjakan dan yang sedang mereka kerjakan ..

*

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ يَوْمَ لَا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Sesungguhnya hari keputusan (hari pengadilan antara orang yang berbuat kebenaran dan orang yang berbuat kebatilan), itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan.” (QS. Ad-Dukhon : 40-41).

Yang disebut karib ayat diatas, baik karib karena hubungan kerabat atau karib karena hubungan persahabatan yang dekat. Ia tidak akan dapat membelanya sedikit pun dari azab itu dan mereka tidak akan mendapat pertolongan maksudnya tidak dapat dicegah dari azab itu. Begitu juga seorang sekutu terhadap sekutu lainnya. Mereka pun tidak dapat menolong diri sendiri di hadapan Alloh swt.

إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
“kecuali orang yang diberi rohmat oleh Alloh Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Ad-Dukhon : 42).

Tetapi, orang-orang Mukmin yang memperoleh rohmat Alloh swt akan mendapat ampunan dan ridho-Nya untuk menerima syafaat, dan sebagian dari mereka dapat memberikan syafa’at kepada sebagian lainnya dengan seizin Alloh swt. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa Maha Menang di dalam pembalasan-Nya terhadap orang-orang kafir lagi Maha Penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Sedangkan terhadap orang-orang kafir Alloh swt menyatakan dengas tegas tidak ada pertolongan yang dapat menyelamatkan mereka :
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at. (baik dari kalangan malaikat, para Nabi atau pun orang-orang sholeh).” (QS. Al-Muddassir : 48).

Dan perkataan mereka pada hari itu digambarkan oleh Alloh swt:
وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ
“Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa (maka kami pun tidak mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan kami dari siksa, seperti yang kami duga sebelumnya).
فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ
“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun (tidak sebagaimana orang-orang Mukmin; mereka memiliki para Malaikat, para Nabi dan orang-orang Mukmin lainnya yang dapat memberi syafa’at kepada mereka).” (QS. Asy-Syu’aro’ : 99 -100).

*

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah (wahai Nabi Muhammad):
“Hanya kepunyaan Alloh syafa’at itu semuanya.
(Maksudnya, hak memberi segala macam syafa’at husus hanya milik Alloh. Tak seorang pun dapat memperolehnya dan tak seorang pun yang dapat memberikannya kecuali atas perkenan ridho-Nya).
Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (lalu Dia akan menghisab seluruh amal perbuatan kalian).” (QS. Az-Zumar : 44).

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak karena dicekam rasa takut) hingga (sesaknya sampai terasa) di kerongkongan dengan menahan (kedukaan penuh) kesedihan.
Orang-orang yang dholim tidak mempunyai teman setia seorangpun (yang dapat diterima syafaatnya), dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.
(Seandainya pun mereka memberi syafa’at, niscaya syafa’at mereka tidak akan diterima).“ (QS. Al-Mu’min : 18).

*

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Dan takutlah kamu (akan siksa Alloh) pada suatu hari ketika tidak seorang pun mampu menolong diri sendiri, dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa’at suatu syafa’at kepadanya dan tidak pula mereka akan ditolong.” (QS. Al-Baqoroh : 123).

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
“Dan jagalah dirimu dari (adzab) hari (perhitungan yang sangat mengerikan, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong (karena tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan siksa bagi orang yang mendapat siksa).” (QS. Al-Baqoroh : 48).

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ
“Orang-orang musyrik yang membuat-buat kebohongan tentang Alloh dengan kesyirikan itu menyembah berhala-berhala yang batil, yang tidak memberikan mudhorot atau pun manfa’at kepada mereka. Mereka berkata:
هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ
“Berhala-berhala itu akan memberi syafaat kepada kami di sisi Alloh di akherat nanti.”
قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Katakanlah kepada mereka, wahai Rosululloh:
“Apakah kalian memberitahukan kepada Allah tentang adanya sekutu bagi-Nya, yang tidak Dia ketahui keberadaannya di langit dan bumi. Allah Mahasuci dari sekutu dan dari prasangka serta peribadatan kalian kepada sekutu-sekutu itu.” (QS. Yunus : 18).

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami (dalam keadaan) sendiri-sendiri (terpisah dari keluarga, harta benda dan anak) sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya (dalam keadaan telanjang bulat dan masih belum disunatkan).
dan kamu tinggalkan (dunia) di belakangmu apa yang telah Kami anugrahkan kepadamu (berupa harta benda).
(dikatakan kepada mereka sebagai cemoohan) dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah (hilang) lenyap dari kamu apa yang dahulu (sewaktu hidup di dunia) kamu anggap (dapat memberikan syafa’atnya).” (QS. Al-An’am : 94).

وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا
“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman:
“Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan (dapat memberi syafa’at) itu.”
Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan.” (QS. Al-Kahf : 52).

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Ikutilah orang yang tiada minta balasan (atas misi risalah yang disampaikannya) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (dan mendatangkan kebaikan bagi kalian, jika kalian mengikuti petunjuk mereka, maka kalian akan memperoleh kebaikan dan kemenangan.)

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
(Lalu laki-laki itu berkata) :
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan aku (tidak ada yang mencegahku untuk menyembah-Nya, karena ada bukti-buktinya yang jelas, seharusnya kalian juga menyembah Dia)
dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan .?”

Setelah kita mengetahui ayat-ayat syafa’at .. Apakah layak kita menyembah tuhan-tuhan selain Alloh ..! Yang andaikan Dia berkehendak menimpakan keburukan kepada kita di dunia ini mau pun di akherat kelak, maka pertolongannya sudah tidak berguna lagi sedikit pun untuk menyelamatkan kita .?

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ
“Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Alloh, jika Dia Yang Maha Pemurah menghendaki kemudhorotan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfa’at sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku.” (QS. Ya Sin : 21-23).

NIAT LILLAHI TA’ALA

Niat Lillhi Ta’ala secara sederhana dapat diartikan dengan niat “Semata-mata hanya karena melaksanakan perintah Alloh Yang Maha Tinggi” Kalimat ini bukan hanya menjadi ungkapan lisan tapi seharusnya menjadi prinsip dalam hidup dan kehidupan setiap hamba kepada Alloh swt, dengan mengawali niat LILLAHI TA’ALA disetiap aktifitas yang menuju kepada ridlo-Nya.

Kalimat LILLAHI TA’ALA kerap muncul dalam setiap ibadah dalam Islam; sholat, zakat, puasa dan hajji, termasuk juga amalan-amalan wajib dan sunnah-sunnah lainnya. Dan biasanya kalimat LILLAHI TA’ALA selalu diucapkan pada saat awal-awal melakukan suatu pekerjaan ibadah, dalam hal ini disebut NIAT ..

Rosululloh saw bersabda:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang memperoleh menurut apa yang diniatkannya.
Barangsiapa hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya.“
(HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i).

Alloh swt berfirman:
“Barangsiapa yang (niat) menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang (niat) menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.“
(QS. Asy-Syuro: 20).

Rosululloh saw juga bersabda:
“Sesungguhnya Alloh tidak menerima amal kecuali jika (pelaku) amal itu ikhlas dengan (niat) mencari keridhoan Alloh dengannya.“
(HR. Nasa’i).

Sebagai seorang mukmin, hendaknya pendorongnya dalam beramal itu adalah semata-mata melaksanakan perintah Alloh Ta’ala, menghendaki keridhoan Alloh dan demi akhirat, tidak mencampuri suatu amal dengan kecenderungan dunia, misalnya karena menghendaki harta dunia, menghendaki kedudukan, mencari sanjungan, tidak ingin dicela, dll, dan inilah yang disebut niat dengan ikhlas “Lillahi Ta’ala” semata-mata hanya karena melaksanakan perintah Alloh swt.

Ikhlas dengan pengertian seperti di atas merupakan buah tauhid yang sempurna kepada Alloh swt yaitu mentauhidkan ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada Alloh swt, seperti yang sering kita ungkapkan di dalam sholat ketika membaca Al-Fatihah ayat ke 5
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Dengan ikhlas yang murni inilah, kita bisa membebaskan diri kita dari segala bentuk perbudakan, melepaskan diri dari segala penyembahan selain Alloh swt, seperti penyembahan kepada dinar, dirham, perhiasan, wanita, kedudukan, tahta, kehormatan, nafsu, dll, dan dapat menjadikan kita seperti yang diperintahkan oleh Alloh swt kepada Rosul-Nya;

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh).”
(QS. Al-An’am: 162-163).

Riya’ merupakan lawan dari ikhlas adalah kedurhakaan yang sangat berbahaya terhadap diri dan amal, juga termasuk dosa yang merusak, sebagaimana firman Alloh swt:

“… seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“
(QS. Al Baqoroh: 264)

Di ayat lain Alloh swt berfirman:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang (meninggalkan) sholat, orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang beruat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.“
(QS. Al-Ma’un: 5-7).

Tentang riya’ ini di dalam hadits, Rosululloh saw pun bersabda:
“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka diapun mengakuinya.
Alloh bertanya:
“Apa yang engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu .?”
Dia menjawab:
“Aku berperang kepada Engkau hingga aku mati syahid”
Alloh berfirman:
“Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan ‘Dia adalah orang yang gagah berani.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)“
Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya yang diadili adalah seseorang yang memperlajari ilmu dan mengajarkan serta membaca al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka diapun mengakuinya.
Alloh bertanya:
“Apa yang engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu .?”
Dia menjawab:
“Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur’an karena-Mu”
Alloh berfirman:
“Engkau dusta, tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu,’ dan engkau membaca al-Qur’an agar dikatakan,’Dia adalah qori’ (pandai membaca).’ Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)“
Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya yang diadili adalah orang yang diberi kelapangan oleh Alloh dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka diapun mengakuinya.
Alloh bertanya:
“Apa yang engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu .?”
Dia menjawab:
“Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku menafkahkannya karena-Mu”
Alloh berfirman:
“Engkau dusta, tetapi engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)“
Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.“
(HR. Muslim, Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Hiban).

Tatkala Mu’awiyah mendengar hadits ini, maka ia pun menangis hingga pingsan. Setelah siuman dia berkata:
“Alloh dan Rosul-Nya benar. Alloh telah berfirman:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka itu di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan merugi. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka.“
(QS. Huud: 15-16)

NIAT YANG KUAT

Orang Muslim meyakini bahwa niat adalah rukun amal perbuatan dan syaratnya, ia meyakini bahwa niat tidaklah sekadar dengan lisan, misalnya mengatakan:
“Allohumma nawaitu kadza wa kadza”
Ya Alloh, aku berniat melakukan amal perbuatan ini dan itu.
Dan tidak pula hanya sekedar pembicaraan jiwa, namun, niat adalah kebangkitan hati kepada amal perbuatan yang baik untuk tujuan mulia mendatangkan manfaat, menolak madhorot yang terjadi sekarang, atau masa mendatang.

Niat juga merupakan keinginan yang diarahkan kepada amal perbuatan untuk mencari keridhoan Alloh swt, atau melaksanakan perintah-Nya, dn meninggalkan larangan-Nya.

Niat yang sempurna pada gilirannya akan memberikan kebahagiaan yang hakiki kepada seorang hamba. Untuk mencapai tujuan paling luhur tersebut tidak ada jalan pertama yang harus ditempuh kecuali dengan keyakinan yang mantap dan niat secara ikhlas dengan mengucapkan :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ
“Aku niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh” Kemudian mengamalkan aktifitas sesuai petunjuk jalan yang benar.

Niat yang tulus ikhlas melaksanakan perintah Alloh swt, demi cintanya kepada Rosululloh saw itu tidak akan pernah berhenti pada selain Alloh dan Rosul-Nya, tidak akan dapat ditukar oleh suatu apa pun, tidak akan pernah merasa puas pada yang lain sebagai ganti, dan tidak akan menjual segala karunia dan anugrah Alloh swt berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang hina dan fana.

Semangat itu laksana seekor burung yang terbang tinggi, ia tidak mau turun sebelum sampai tujuannya.
Semakin tinggi ia terbang, akan semakin jauh dari hal-hal yang menghalanginya.
Karena jika ia terbang rendah, maka berbagai rintangan akan menghampirinya dari berbagai arah, dan akibatnya ia tidak akan bisa terbang tinggi karena kepayahan oleh halangan, atau ia tidak terbang tinggi karena tertarik kesenangan yang berada di tempat rendah.

NIAT MERUPAKAN RUH DAN KUNCI KEBERHASILAN SUATU PEKERJAAN

Niat tidak cukup hanya berupa keinginan dalam hati, tapi harus diikuti tindakan yang sungguh-sungguh dengan mencerminkan keinginannya.
Niat, eksistensinya tidak hanya berada di awal pekerjaan tapi tetap terus terjaga sampai akhir pekerjaan.

Pernahkah anda mengikuti atau melihat lomba bawa kelereng dalam sendok yang digigit .?
Jika anda hanya mengikuti, tanpa disertai usaha untuk membawanya secara hati-hati, dengan berjalan sembarangan atau bahkan berlari cepat, apa yang terjadi .? Kelerengnya pasti jatuh, bukan .?
Dan anda dinyatakan gagal .!
Demikian pula dengan niat, jika anda niat hanya di awal saja, sementara di tengah perjalanan anda tidak menjaga niatnya, bahkan anda sampai lupa sedang mengerjakan apa, maka inipun tentu akan berakibat kegagalan.

Sebelum berlomba kita harus mengerti benar aturan mainnya dan tau persis apa yang akan kita lakukan. Dan tau pula hadiah yang bakal kita terima jika berhasil.
Setelah perlombaan dimulai, kita harus tetap sadar bahwa kita sedang mengikuti lomba kelereng dan harus hati-hati membawanya sampai perlombaan selesai.

Agar tetap dapat menghayati niat kita perlu memahami hakikatnya, merasakan dengan penuh kesadaran dan meni’matinya dengan penuh harapan hadiah kebahagiaan.

Niat adalah salah satu rukun sholat. Inilah yang merupakan ruh dan kunci keberhasilan sholat yang kita lakukan. Niat memiliki sesuatu yang diinginkan kemudian diikuti dengan tindakan yang sungguh-sungguh untuk meraihnya. Karena itu, niat dalam sholat harus benar-benar mendapat perhatian husus sehingga kita dapat menghayati.

Saat mengerjakan sholat, pastikan kita mengetahui hakikat sholat, tahu tata caranya yang benar dan tahu manfaatnya bagi kita. Setelah sholat dimulai, kita harus tetap sadar bahwa kita sedang sholat dan terus disadarinya pada setiap gerakan dan bacaan sampai sholat selesai.

Inilah yang dimaksud dengan menghayati niat. Niat tidak hanya tumbuh di awal sholat, kemudian mati di tengah perjalanan. Tapi, niat harus tetap hayat (hidup) sepanjang kita mengerjakan sholat.

NIAT YANG KUAT

Orang Muslim meyakini bahwa niat adalah rukun amal perbuatan dan syaratnya, ia meyakini bahwa niat tidaklah sekadar dengan lisan, misalnya mengatakan:
“Allohumma nawaitu kadza wa kadza”
Ya Alloh, aku berniat melakukan amal perbuatan ini dan itu.
Dan tidak pula hanya sekedar pembicaraan jiwa, namun, niat adalah kebangkitan hati kepada amal perbuatan yang baik untuk tujuan mulia mendatangkan manfaat, menolak madhorot yang terjadi sekarang, atau masa mendatang.

Niat juga merupakan keinginan yang diarahkan kepada amal perbuatan untuk mencari keridhoan Alloh swt, atau melaksanakan perintah-Nya, dn meninggalkan larangan-Nya.

Niat yang sempurna pada gilirannya akan memberikan kebahagiaan yang hakiki kepada seorang hamba. Untuk mencapai tujuan paling luhur tersebut tidak ada jalan pertama yang harus ditempuh kecuali dengan keyakinan yang mantap dan niat secara ikhlas dengan mengucapkan :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
نَوَيْتُ لِفِعْلِ اَمْرِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ
“Aku niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh” Kemudian mengamalkan aktifitas sesuai petunjuk jalan yang benar.

Niat yang tulus ikhlas melaksanakan perintah Alloh swt, demi cintanya kepada Rosululloh saw itu tidak akan pernah berhenti pada selain Alloh dan Rosul-Nya, tidak akan dapat ditukar oleh suatu apa pun, tidak akan pernah merasa puas pada yang lain sebagai ganti, dan tidak akan menjual segala karunia dan anugrah Alloh swt berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang hina dan fana.

Semangat itu laksana seekor burung yang terbang tinggi, ia tidak mau turun sebelum sampai tujuannya.
Semakin tinggi ia terbang, akan semakin jauh dari hal-hal yang menghalanginya.
Karena jika ia terbang rendah, maka berbagai rintangan akan menghampirinya dari berbagai arah, dan akibatnya ia tidak akan bisa terbang tinggi karena kepayahan oleh halangan, atau ia tidak terbang tinggi karena tertarik kesenangan yang berada di tempat rendah.

NIAT MERUPAKAN RUH DAN KUNCI KEBERHASILAN SUATU PEKERJAAN

Niat tidak cukup hanya berupa keinginan dalam hati, tapi harus diikuti tindakan yang sungguh-sungguh dengan mencerminkan keinginannya.
Niat, eksistensinya tidak hanya berada di awal pekerjaan tapi tetap terus terjaga sampai akhir pekerjaan.

Pernahkah anda mengikuti atau melihat lomba bawa kelereng dalam sendok yang digigit .?
Jika anda hanya mengikuti, tanpa disertai usaha untuk membawanya secara hati-hati, dengan berjalan sembarangan atau bahkan berlari cepat, apa yang terjadi .? Kelerengnya pasti jatuh, bukan .?
Dan anda dinyatakan gagal .!
Demikian pula dengan niat, jika anda niat hanya di awal saja, sementara di tengah perjalanan anda tidak menjaga niatnya, bahkan anda sampai lupa sedang mengerjakan apa, maka inipun tentu akan berakibat kegagalan.

Sebelum berlomba kita harus mengerti benar aturan mainnya dan tau persis apa yang akan kita lakukan. Dan tau pula hadiah yang bakal kita terima jika berhasil.
Setelah perlombaan dimulai, kita harus tetap sadar bahwa kita sedang mengikuti lomba kelereng dan harus hati-hati membawanya sampai perlombaan selesai.

Agar tetap dapat menghayati niat kita perlu memahami hakikatnya, merasakan dengan penuh kesadaran dan meni’matinya dengan penuh harapan hadiah kebahagiaan.

Niat adalah salah satu rukun sholat. Inilah yang merupakan ruh dan kunci keberhasilan sholat yang kita lakukan. Niat memiliki sesuatu yang diinginkan kemudian diikuti dengan tindakan yang sungguh-sungguh untuk meraihnya. Karena itu, niat dalam sholat harus benar-benar mendapat perhatian husus sehingga kita dapat menghayati.

Saat mengerjakan sholat, pastikan kita mengetahui hakikat sholat, tahu tata caranya yang benar dan tahu manfaatnya bagi kita. Setelah sholat dimulai, kita harus tetap sadar bahwa kita sedang sholat dan terus disadarinya pada setiap gerakan dan bacaan sampai sholat selesai.

Inilah yang dimaksud dengan menghayati niat. Niat tidak hanya tumbuh di awal sholat, kemudian mati di tengah perjalanan. Tapi, niat harus tetap hayat (hidup) sepanjang kita mengerjakan sholat.

WAHAI DIRI RENUNGANKANLAH ..!

TANYAKANLAH ….!?

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ
وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ
وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

“Tanyakanlah .. Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi ..?
Atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan ..?
Dan siapakah yang mampu mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup ..?
Dan siapakah yang mengatur segala urusan ..?
Maka pasti mereka akan menjawab `ALLOH` ..
Maka tanyakanlah :
“Lantas mengapa kalian tidak mau bertakwa .?”
Setelah mengetahui mengapa kamu belum juga sadar dengan memelihara diri kamu dari murka dan siksa-Nya .? (QS. Yunus [10]: 31).

RENUNGAN IBADAH

Betapa kita telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Nabi Muhammad adalah utusan Alloh, namun betapa seringnya kita melakukan pembangkangan dan penghianatan.
Mungkin saat itu dinding barzakh yang kuat lagi kokoh telah siap menghimpit tubuh kita.

Sebenarnya sholat kita akan membela, tetapi sholat kita terlalu lemah, karena tidak pernah khusyu’.

Mungkin shodaqoh kita akan membantu, tapi shodaqoh kita terlalu lemah karena kita terlampau kikir.

Mungkin puasa kita akan menolong, tapi puasa kita hanya puasa perut, telinga tidak pernah puasa, mata tidak pernah puasa, mulut tidak pernah puasa, ahlak kita hanya bisa menyakiti orang lain.

Mungkin haji kita akan menutupi segala kekurangan tapi haji kita haji mardud, tertolak karena niatnya tidak ikhlas dan melaksanakannya tidak benar.

Tinggallah kerugian yang didapatkan, paling hanya do’a dari anak dan keluarga yang di tunggu-tunggu, tapi mereka tidak bisa berdo’a karena kita tidak pernah mengajarkan dengan baik ilmu mengenal Alloh dan Rosul-Nya serta ulama .?

Padahal, siksa kubur terhenti apabila anak kita berdo’a atau orang lain menebarkan salam rohmat keberkahan untuk kita.
Sesungguhnya do’a bagai cahaya yang masuk dalam barzakh, sehingga menjadi terang benderang dan salam rohmat keberkahan menjadi hidangan keni’matan dan kebahagiaan.

Berbahagialah orang-orang yang cukup bekal didunia, ikhlas niat melaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosul, mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, memberikan sesuatu yg paling dicintai untuk saudaranya, sehingga akherat menjadi salah satu tujuan wisata indah penuh kebahagiaan.

Keimanan dalam hati dan islam yg diamalkan menjadi ihsan, rohmat mengalir terus menerus tiada putus.

Kesaksiannya menjadi kunci sorga. Sholatnya menjadi cahaya terang benderang. shodaqohnya menjadi ganjaran yang ta’terbilang. Puasanya menjadi harta simpanan Alloh. Hajjinya mejadi pahala sorga.

Orang-orang yang ditolong menjadi pembela yang selalu mendo’akan, dan ilmu yang diajarkan mengalir ganjaran menempati derajat paling tinggi, dan pemberian yang terbaik menjadi simpanan abadi disisi Alloh swt.

SEMUA AKAN BERCERITA

Semua akan angkat bicara, tangan kaki, mata, telinga, hidung, rambut, kulit dan seluruh anggota tubuh kita .. Bersaksi dan bercerita tentang hidup yang telah kita gunakan.

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Robb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu):
1. tentang umurnya untuk apa ia habiskan,
2. tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan,
3. tentang hartanya dari mana ia dapatkan,
4. bagaimana (hartanya tersebut) ia belanjakan dan
5. apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.”
(HR. Tirmidzi).

Dalam lima perkara yang akan ditanya, harta ditanya dua kali .. Darimana kita mendapatkan .. dan untuk apa dibelanjakan .? Betapa harta menjadi perhatian serius dalam hal ini.
Pada hakekatnya kita semua tau bahwa kaya bukanlah tujuan, tapi merupakan tahapan untuk bisa berbuat banyak kebaikan .. Tapi kita sendiri sering terjebak kebutuhan dan terjebak oleh banyak keinginan.

Kalau kita lihat satu persatu kekayaan yang kita miliki, mungkin kita akan bingung memilah dan memilih mana kebutuhan dan mana keinginan.

Tapi hal ini tidaklah membuat kita surut untuk menjadi kaya, sebab Alloh swt memerintahkan kita untuk berjuang dengannya.
“Berjuanglah kalian dengan harta dan jiwa di jalan Alloh.” (At-Taubah : 41).
Kita harus kaya supaya kita bisa banyak berjuang dengan harta kita, dan kita pun harus kaya hati supaya banyak membantu. Sebab kekayaan Rosululloh saw dan para sahabatnya pun diperuntukan untuk berjuang di jalan Alloh swt. []

RENUNGAN PAHALA

Alloh swt telah menjanjikan , jika manusia mau bershodaqoh , maka Alloh swt pasti akn menggantinya dgn jumlah sedikitnya 10 kali lipat , sampai 700 kali lipat , bahkan lebih dari itu ..

Gambaran hitungan shodaqoh dgn matematika , sungguh sangat berbeda dengan ilmu matematika yg dulu pernah kita pelajari di sekolah ..

Ilustrasinya hitungan yg bisa kita dapat sebagai berikut:
10 – 1 = 9 .. ini ilmu matematika yg kita terima di sekolah ..

Perhatikan dgn seksama ilmu matematika shodaqoh berikut ini:
Ketika anda memiliki uang sepuluh , hasil dari yg baik , kemudian anda ambil satu untuk dishodaqohkan maka hasilnya adalah sembilan belas ..
10 – 1 = 19 .. ini menggunakan dasar , bahwa Alloh membalas 10 x lipat pemberian kita ..

Sehingga kalau dilanjutkan , maka akn seperti berikut ini:

10 – 2 = 28

10 – 3 = 37

10 – 4 = 46

10 – 5 = 55

10 – 6 = 64

10 – 7 = 73

10 – 8 = 82

10 – 9 = 91

10 – 10 = 100

Sungguh sangat menarik ..
Lihatlah hasil akhirnya ..
Kita tinggal mengkalikan dengan angka mulai 10 , 100 , 200 hingga 700 bahkan lebih ..
Berapa pun yg kita shodaqohkan dgn ikhlas kpd org lain ..
Ingatlah ..! balasan 10 x lipat dari Alloh itu adalah balasan minimal ..
Sedangkan selanjutnya tergantung dari seberapa tulus keikhlasan seseorang dalam memberikannya ..
Semakin banyak bershodaqoh , maka pasti semakin banyak pula Alloh swt mengembalikannya ..

SIAPA YANG KAMU CINTAI .?

Kecintaan seseorang kepada keluarga, harta, kedudukan adalah suatu yang lumrah. Siapapun akan berkorban untuk menjaga keluarganya, hartanya, dan kedudukanya dikarenakan besarnya rasa cinta.

Tetapi waspadalah akan kecintaan terhadap mereka, jangan sampai menjauhkan atau bahkan sampai melupakan cintanya kepada Alloh swt Sang Pemilik Cinta.

Alloh swt menjelaskan cinta itu dalam Kitab-Nya:
“Jika bapak-bapak kamu (yang merupakan orang yang seharusnya paling kamu hormati dan taati), anak-anak kamu (yang biasanya paling kamu cintai), saudara-saudara kamu (yang sedarah daging dengan kamu dan selalu membela kamu), isteri-isteri kamu (yang menjadi pasangan hidup kamu), kaum keluarga kamu (yang paling kamu andalkan dalam mendukung kamu), harta kekayaan yang kamu usahakan (dengan membanting tulang untuk memperolehnya), perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya, (yang tidak dapat kamu elakkan, ya’ni menjatuhkan sangsi atas sikap burukmu itu. Jika itu yang terus kamu lakukan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi orang-orang fasik yang keluar dan menyimpang dari tuntunan Ilahi). Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (tidak membimbing dan memberi kemampuan untuk mengamalkan pesan-pesan-Nya).”
(QS At-Taubah:  24)

Rosululloh saw pun menegaskan dengan bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang, sehingga ia mencintai Alloh dan Rosul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain.”

Seseorang yang mencintai Alloh dan Rosul-Nya maka dia juga akan mencintai mahluk yg lain. karena cinta kepada Alloh tidak akan membuat seseorang merusak cintanya kpd yg lain.
Tetapi ingatlah .! cinta yang berlebihan kepada mahluk bisa jadi melupakan cinta kpd Alloh dn Rosul-Nya.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa, Sayyidina Husain ra cucu Rosululloh saw. sewaktu masih kecil bertaya kepada ayahnya, Sayyidina ‘Ali ra:
“Apakah ayah mencintai Alloh .?”
Sayyidina ‘Ali ra menjawab:
“Ya.”
Lalu sayyidina Husain ra bertanya lagi:
“Apakah ayah mencintai kakek dari Ibu .?”
Sayyidina ‘Ali ra kembali menjawab:
“Ya.”
Sayyidina Husain ra bertanya lagi:
“Apakah ayah mencintai Ibuku .?”
Lagi-lagi Sayyidina ‘Ali ra menjawab:
“Ya.”
Sayyidina Husain ra kecil kembali bertanya:
“Apakah ayah mencintaiku .?”
Sayyidina ‘Ali ra menjawab:
“Ya.”
Terakhir Sayyidina Husain ra yang masih polos itu bertanya:
“Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu .?”
Kemudian Sayyidina ‘Ali ra menjelaskan:
“Anakku, pertanyaanmu sungguh hebat .!
Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi saw), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cintaku kepada Alloh.
Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Alloh Swt.”
Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Sayyidina Husain ra jadi mengerti dan diapun tersenyum.

“Ya Alloh ..
Karuniakanlah kpd kami kecintaan kepada-Mu ..
Kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu ..
Kecintaan apa saja yang mendekatkan diri kami pada kecintaan-Mu ..
Jadikanlah dzat-Mu lebih kami cintai dari pada air yang dingin bagi orang yang dahaga ..”

Awan Tag